SULUK

0

Suluk

 


Suluk secara harfiah berarti menempuh (jalan). Dalam kaitannya dengan agama Islam dan sufisme, kata suluk berarti menempuh jalan (spiritual) untuk menuju Allah. Menempuh jalan suluk (bersuluk) mencakup sebuah disiplin seumur hidup dalam melaksanakan aturan-aturan eksoteris agama Islam (syariat) sekaligus aturan-aturan esoteris agama Islam (hakikat). Ber-suluk juga mencakup hasrat untuk Mengenal Diri, Memahami Esensi Kehidupan, Pencarian Tuhan, dan Pencarian Kebenaran Sejati (ilahiyyah), melalui penempaan diri seumur hidup dengan melakukan syariat lahiriah sekaligus syariat batiniah demi mencapai kesucian hati untuk mengenal diri dan Tuhan.

Kata suluk berasal dari terminologi Al-Qur'an, Fasluki, dalam Surat An-Nahl [16] ayat 69, Fasluki subula rabbiki zululan, yang artinya Dan tempuhlah jalan Rabb-mu yang telah dimudahkan (bagimu). Seseorang yang menempuh jalan suluk disebut salik.

Suluk secara harfiah berarti me nempuh (jalan). Kata suluk berasal dari terminologi Alquran, fasluki, yang terdapat dalam surah an-Nahl ayat ke-69, fasluki subula rabbiki dzululan, yang artinya, dan tempuhlah jalan Rabbmu yang telah dimudahkan (bagimu).

Dalam kaitannya dengan Islam https:id.wikipedia.org/wiki/Islam dan sufisme https:id.wikipedia.org/wiki/Sufis me, kata suluk berarti menempuh jalan (spiritual) untuk menuju Allah. Menempuh jalan suluk (bersuluk) berarti disiplin seumur hidup dalam melaksanakan aturan-aturan eksoteris Islam (syariat) sekaligus atur an-aturan esoteris Islam (hakikat).

Bersuluk juga mencakup hasrat untuk mengenal diri, memahami esensi kehidupan, pencarian Tuhan, dan pen carian kebenaran sejati (Ilahiah), melalui penempaan diri seumur hidup dengan melakukan syariat la hiriah sekaligus syariat batiniah demi mencapai kesucian hati untuk mengenal diri dan Tuhan. Seseorang yang menempuh jalan suluk disebut salik. Dalam komunitas tarekat, pengertian suluk cenderung bersifat mistis dan aplikasi ritual tasawuf untuk mencapai kehidupan rohani.

Syekh Muhammad Ali Ba'athiyah, seorang ulama Yaman kontemporer melalui kitabnya as-Suluk al-Asasiyyah (2015: 2-3) menerangkan hakikat suluk adalah jalan yang ditempuh oleh seorang mukmin yang dilaluinya, baik pada waktu malam, siang, maupun pada seluruh waktu dan jam. Suluk juga berarti cara atau metode yang ditempuh oleh seorang mukmin yang saleh, bertakwa, yang hatinya wara' (hati-hati), bersih dan lurus, yang de kat kepada Allah dan jauh dari setan dalam setiap detik perjalanan umurnya bersama Allah SWT tidak untuk selain-Nya.

 

Sastra Jawa

Dalam perspektif lain, dalam sastra Jawa, suluk berarti ajaran falsafah untuk mencari hubungan dan persatuan manusia dengan Tuhan. Sedangkan, dalam seni pedalangan, suluk dapat diartikan sebagai nyanyian dalang untuk menimbulkan suasana tertentu (Abimanyu, 2014: 191).

Para wali penyebar Islam di Ja wa atau Wali Songo dikenal kerap menggunakan suluk sebagai media dalam mendakwahkan Islam. Barangkali sebab masyarakat Jawa kala itu masih sangat akrab dengan sastra, para wali dengan ide cerdasnya menggunakan media suluk ketika berdakwah.

Sunan Bonang dikenal banyak mengasilkan banyak karya sastra, seperti contoh Suluk Wali, Suluk wragul, Suluk Wujil, Suluk Regol, Suluk Kaderesan, dan lain-lain. Ada pula Su nan Kalijaga seperti pada suluk ter kenalnya, yakni Suluk Linglung.

Sebagaimana suluk pada umumnya, dalam Suluk Linglung pun berisikan pepeling (nasihat) yang sarat akan nilai dakwah untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah. Di antara aspek yang tersirat maupun tersurat dalam Suluk Linglung di antaranya, yakni berupa nasihat mengenai pengendalian nafsu, berserah diri, tafakur, dan menjalankan syariat Islam.

Selain dalam suluk dalam bentuk karya sastra, Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga juga banyak menggubah su luk menjadi karya seni lain berupa tem bang (nyanyian). Budayawan Em ha Ainun Nadjib adalah salah se orang yang rajin menggunakan tem bang suluk dalam setiap dakwah-dakwahnya.

 

Suluk profetik

Ihwal karya sastra digunakan se bagai suluk untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, penyair bernama Di mas Indiana Senja barangkali tengah menempuhnya. Melalui buku kumpulan puisi bertajuk Suluk Senja (Pustaka Senja, 2015), Dimas ingin menjadi pesalik dan puisi-puisinya menjadi suluknya. Melalui puisi-puisi apiknya, ia berusaha memaknai suluk dari yang filosofis.

Simaklah puisi berjudul "Suluk Senja", filosofis ketika mengar tikulasikan diri sebagai pesalik. Ia menulis, "Aku tak pernah mengeja bahasa malam demi amanat yang tak putus sanadnya, demi moyang yang selalu kudus namanya. Menekuri setiap kharakat cinta yang disabdakan semesta." Kesadaran penyair sebagai hamba Tuhan yang terus mengeja kehidupan sungguh hadir. Penyair pun seolah begitu menggamblangkan diri sebagai amanat yang harus ditekuni setiap kharakatnya dengan cinta kepada semesta.

Jika puisi berjudul Suluk Senja begitu filosofis dalam menggambarkan perjalanan dalam hal vertikal (hablummi nallah), berbeda dengan puisinya berjudul "Dalam Zikir Senja; Saat Kau Mengajariku Cara Menasbihkan Cinta kepada Semesta" yang lebih kepada kesadaran penyair berkonteks horizontal (hablumminannas).

Ia menulis, "Yah, dalam dekap angin pantai sore itu, saat matahari/tiba-tiba muncul dari balik bukit di dadamu, tempat/ bersemayam penantian dan kesetiaan, tiba-tiba/ ombak menggulung, dan aku mendengar lantunan tasbih dari gedebur di hatimu. Sesekali kau mengajakku untuk menik mati buih-buih putih yang mengingatkanku pada pertemuan sunyi, yang kunamai percintaan paling puisi.

Puisi di atas merupakan puisi yang dipersembahkan kepada penyair Acep Zamzam Noor. Persembahan tersebut tak lain adalah wujud kesadaran penyair sebagai pesalik yang hakikatnya makhluk sosial. Maka, dalam perjumpaan-perjumpaan penyair dengan manusia lain pada waktu kapan pun, muaranya adalah puisi atau menuju kebaikan. Dua konsep vertikal dan horizontal sebagaimana tersirat pada dua puisi di atas, barangkali Dimas sebagai pesalik tengah menjajaki melalui suluk yang sufistik sekaligus profetik.

 

Suluk dan Wirid

Istilah suluk dalam khasanah sastra Jawa ada dua macam, yakni suluk pedalangan dan suluk yang berisi ajaran tasawuf. Suluk pedalangan ialah jenis puisi tembang, yang sering dilantunkan oleh seorang dalang dalam seni pewayangan, baik wayang kulit purwa atau jenis pertunjukan wayang lainnya. Suluk jenis ini berfungsi sebagai pendukung latar suasana pada bagian-bagian cerita tertentu, misalnya untuk suasana sedih akan dilantunkan jenis suluk yang disebut tlutur. Pada umumnya, suluk pedalangan ini diambilkan dari jenis tembang gedhe yang merupakan pengaruh dari kakawin atau dari bentuk seloka dari sastera Sansekerta. Tidak berlebihan bila teks cakepan suluk pedalangan ini sering kali telah bergeser dari sumbernya, bahkan sebagian lagi sulit untuk diterjemahkan atau bahkan tidak dapat dilacak lagi dari mana sumber awalnya.. Dalam pedalangan di Jawa, isi teks cakepan suluk pedalangan tidak harus sesuai dengan cerita pokoknya, karena semata-mata hanya menekankan kesamaan suasana ceritanya. Berbeda dengan suluk pedalangan di Bali, yang isi teksnya banyak diambil dari bagian seloka-seloka Sansekerta atau kakawin Jawa Kuna yang sama dengan bagian cerita pedalangan yang dilakonkan oleh dalang yang bersangkutan. Adapun jenis sastra suluk yang berisi ajaran tasawuf, kata suluk di sini berasal dari kata salaka atau sulukun bahasa Arab yang berarti pengembaraan atau perjalanan. Kata ini kemudian dihubungkan dengan makna hidup manusia, yakni perjalanan hidup yang harus ditempuh, atau pengembaraan hidup untuk mencari kebenaran Ilahi. Dari pandangan lain, sering juga terdengar penelusuran dari etimologi tradisional Jawa, yakni yang sering disebut kerata basa atau jarwadhosok. Keratabasa atau Jarwadhosok adalah memaknai kata dengan cara mencari kemungkinan kepanjangan kata tersebut. Dalam hubungannya dengan kata suluk, dinyatakan bahwa kata suluk berasal dari kata yen sinusul muluk yang berarti kalau dikejar semakin membubung tinggi. Maksudnya, keilmuan dalam suluk, bila semakin dipikirkan akan semakin jauh untuk dijangkau pikiran atau logika awam. Hal ini dikarenakan, permasalahan dalam suluk ini berhubungan erat dengan hal-hal gaib yakni hal supranatural dalam hubungannya dengan Tuhan dan 54 kehidupan manusia. Oleh karena itu wajar bila sebagian besar karya suluk memiliki struktur yang tidak mudah dipahami maknanya atau relatif membingungkan, terutama bagi yang tidak biasa menggelutinya. Jenis sastra suluk ini berisi tentang ajaran kesempurnaan hidup dalam hubungannya dengan ajaran tasawuf Islam atau Islam-kejawen. Dalam ajaran ini pada umumnya dibicarakan tentang sangkan paraning dumadi yakni asal dan tujuan hidup manusia. Di dalamnya, sering kali dijumpai idiom-idiom yang berhubungan dengan falsafah hidup dan masalah kemanusiaan dalam hubungannya dengan ketuhanan, atau bentuk isbat seperti nggoleki susuhing angin, nggoleki galihing kangkung, atau nggoleki tapaking kuntul nglayang mencari sarang angin, mencari hati atau batang keras pada pohon kangkung, mencari jejak burung kuntul yang melayang dan sebagainya. Sebagian sastra suluk ditulis dalam bentuk dialog, baik antara guru dengan murid, antara sahabat, antara orang tua dengan anak atau cucu, atau antara suami dengan isteri. Di Jawa, ajaran suluk ini dapat dibedakan menjadi suluk Islam dan Islam- kejawen. Suluk Islam pada umumnya merupakan suluk yang berasal dari daerah Pesisiran pantai yang kental dengan pengaruh Islam. Suluk Pesisiran ini merupakan hasil gubahan dari masyarakat pesantren di pantai utara Jawa, sehingga cenderung menekankan ajaran transendensi Tuhan. Untuk menuju kesempurnaan hidup manusia harus menjalankan syariat Islam sehingga dapat dekat dengan Tuhan. Kemanunggalan manusia sebagai hamba dengan Tuhan tetap ada batas-batasnya. Manusia tetap berada pada kemanusiaannya dan tidak pernah menyatu luluh dengan Tuhan. Tuhan tetap di atas segala-galanya dan tak terjangkau oleh akal pikir dan jiwa-raga manusia. Eksistensi Tuhan semacam ini dalam suluk sering disebut tan kena kinaya ngapa yang berarti ‘tidak dapat diandai-andaikan’, atau adoh tanpa wangenan celak tanpa sesenggolan yang berarti ‘jauhnya tak berbatas dan meskipun dekat sekali tetapi tak dapat bersentuhan’. Adapun suluk Islam-kejawen, pada umumnya berasal dari daerah pedalaman, terutama pengaruh kraton. Suluk ini merupakan hasil olahan yang menekankan panteisme dan monisme, atau mengajarkan immanensi Tuhan Tuhan bisa hadir dalam diri manusia. Oleh karena itu, di dalamnya sering berisi idiom- idiom seperti manunggaling kawula-Gusti atau jumbuhing kawula-Gusti bersatunya hamba dengan Tuhannya. Kemanunggalan ini pada suatu saat dapat 55 benar-benar luluh atau jumbuh, sehingga dapat mengaburkan batas-batas antara manusia dengan Tuhannya. Kemanunggalan itu sering digambarkan seperti curiga manjing warangka, warangka manjing curiga bilah keris yang berada di dalam sarungnya dan sarung yang berada di dalam bilahnya atau kodhok ngemuli lenge katak menyelimuti liangnya, dengan makna bahwa Tuhan yang berada dalam diri manusia menguasai dan melindungi manusia yang bersangkutan. Pada jenis suluk ini, sebagiannya menafikan syariat Islam dengan mengajarkan bahwa manusia harus selalu ingat kepada Tuhan dan bersembahyang setiap saat seiring dengan aktivitas keluar dan masuknya nafas. Ajaran suluk semacam ini dianggap menyimpang oleh kelompok Wali Sanga, dan beberapa tokoh yang mengajarkannya dihukum mati. Suluk semacam ini antara lain terdapat dalam ajaran Seh Sitijenar dalam berbagai suluk yang menceritakan tokoh Seh Sitijenar dan ajaran Ki Amongraga dalam Suluk Tambangraras atau Serat Centhini. Sastra suluk pada umumnya ditulis dalam bentuk tembang macapat. Namun juga ada yang berbentuk prosa, yang biasanya disebut wirid. Pada umumnya judul sastra suluk dimulai dengan kata suluk, atau wirid untuk prosanya. Contoh jenis suluk antara lain: Suluk Wujil 1529 AJ, Suluk Sukarsa, Suluk Malang Sumirang, Suluk Residriya, Suluk Seh Malaya, Suluk Tekawardi, Suluk Purwadaksina, Suluk Gontor, Suluk Luwang, dan masih banyak lagi.

Adapun judul-judul wirid antara lain :

1.     Wirid Hidayat Jati dan.

2.     Wirid Maklumat Jati.

 

Salik

Seorang salik adalah seseorang yang menjalani disiplin spiritual dalam menempuh jalan sufisme Islam untuk membersihkan dan memurnikan jiwanya, yang disebut juga dengan jalan suluk. Dengan kata lain, seorang salik adalah seorang penempuh jalan suluk.

Untuk menjadi seorang salik, seorang muslim selama seumur hidupnya harus menjalani disiplin dalan melaksanakan syariat lahiriah sekaligus juga disiplin dalam menjalani syariat batiniah agama Islam. Seseorang tidak disebut sebagai seorang salik jika hanya menjalani salah satu disiplin tersebut.

Seorang salik juga disebut sebagai seorang murid ketika ia menjalani disiplin spiritual tersebut di bawah bimbingan guru sufi tertentu, atau dalam tarekat tertentu.

Kata suluk dan salik biasanya berhubungan dengan tasawuf, tarekat dan sufisme.

 

Sufisme / Tasawuf

Sufisme / shufiyyah‎ atau tasawuf / tashawwuf‎) adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlak, membangun lahir dan batin serta untuk memperoleh kebahagian yang abadi. Tasawuf pada awalnya merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi) dalam Islam, dan dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisme Islam. Tarekat (pelbagai aliran dalam Sufi) sering dihubungkan dengan Syiah, Sunni, cabang Islam yang lain, atau gabungan dari beberapa tradisi[butuh rujukan]. Pemikiran Sufi muncul di Timur Tengah pada abad ke-8, sekarang tradisi ini sudah tersebar ke seluruh belahan dunia. Sufisme merupakan sebuah konsep dalam Islam, yang didefinisikan oleh para ahli sebagai bagian batin, dimensi mistis Islam; yang lain berpendapat bahwa sufisme adalah filosofi perenial yang telah ada sebelum kehadiran agama, ekspresi yang berkembang bersama agama Islam.

Ada beberapa sumber perihal etimologi dari kata Sufi. Pandangan yang umum adalah kata itu berasal dari Suf (صوف), bahasa Arab untuk wol, merujuk kepada jubah sederhana yang dikenakan oleh para asetik Muslim. Namun tidak semua Sufi mengenakan jubah atau pakaian dari wol. Ada juga yang berpendapat bahwa sufi berasal dari kata saf, yakni barisan dalam sholat. Suatu teori etimologis yang lain menyatakan bahwa akar kata dari Sufi adalah Safa (صفا), yang berarti kemurnian. Hal ini menaruh penekanan pada Sufisme pada kemurnian hati dan jiwa. Teori lain mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata Yunani theosofie artinya ilmu ketuhanan.

Banyak ulama jaman dahulu dan sarjana modern mencoba memberikan definisi tentang tasawuf atau sufisme. Buya Hamka, salah satu ulama nasional, mendefinisikan tasawuf sebagai "kehendak memperbaiki budi dan men-shifa'-kan (membersihkan) batin, yang mana hal ini mudah dipahami karena tasawuf identik dengan tazkiyatun-nafs (pembersihan jiwa). Annemarie Schimmel memberikan definisi tasawuf yang lebih ringkas, yakni dimensi mistik dalam Islam. Definisi ini sejalan dengan yang dikemukakan Seyyed Hossein Nasr, bahwa sufisme merupakan dimensi batin (esoteris) Islam yang memiliki dasar di dalam Al-Quran dan Sunnah Nabi.

Sementara itu ulama-ulama masa awal juga memberikan beragam pengertian atau definisi. Dimyati Sajari mengidentifikasi bahwa hingga abad ke-3 Hijriah, sebagaimana disitir oleh Ibrahim Basyuni dalam Nasy'at at-Tashawwuf al-Islami, sudah terdapat empat puluh definisi. Beberapa definisi dari ulama-ulama terkemuka dirangkum oleh Abu Nashr al-Thusi (w. 377 H/988 M) di dalam kitab Al-Luma' sebagai berikut :

Muhammad bin Ali al-Qashshab: tasawuf adalah akhlak mulia, yang tampak jelas di zaman yang mulia, yang berasal dari orang mulia, beserta kaum yang mulia.

Junaid al-Baghdadi (w. 298 H/911 M): tasawuf adalah hendaknya engkau bersama Allah tanpa menyertakan yang selain-Nya.

Ruwaim bin Ahmad (w. 303 H/915 M): tasawuf adalah mengarahkan diri bersama Allah atas apa yang dikehendaki-Nya.

Sumnun bin Hamzat: tasawuf adalah hendaknya engkau merasa tidak memiliki sesuatu dan tidak dimiliki oleh sesuatu.

Abu Muhamad al-Jariri (w. 311 H/921 M): tasawuf adalah masuk ke dalam setiap akhlak yang mulia dan keluar dari setiap akhlak yang hina.

Amr bin Utsman al-Makki: tasawuf adalah hendaknya seorang hamba melakukan sesuatu yang utama di suatu waktu tertentu.

Ali bin Abdul Rahman al-Qannad: tasawuf adalah menempuh maqam-maqam (tahapan-tahapan) dan mempertahankannya dengan melanggengkan berkomunikasi dengan Allah.

Berbagai pengertian dan definisi tentang tasawuf pun bermunculan, namun terdapat benang merah yang menghubungkannya, yaitu akhlak, sebagaimana dinukil Al-Hujwiri yang mengaitkan tasawuf dengan akhlak. Terkait hal ini, Abu Hasan al-Nuri mengatakan bahwa tasawuf itu bukan bentuk dan bukan pulai ilmu, melainkan akhlak, atau dalam kalimat berbeda Abu Muhammad Murta'isy mengatakan at-tashawwuf husnul-khuluq (tasawuf adalah penghalusan akhlak).

Meskipun secara esensi dipraktikan sejak awal mula Islam, namun terminologi tasawuf sebagaimana fiqh dan kalam tidak dikenal pada masa kehidupan Nabi Muhammad saw dan para sahabat. Istilah ini baru dikenal ketika Abu Hasyim al-Kufi (w. 160 H/776 M) mencantumkan kata al-Sufi di belakang namanya, namun bukan berarti dia adalah sufi pertama karena sebelumnya sudah ada tokoh-tokoh sufi terkenal seperti Hasan al-Basri (w. 110 H/728 M). Sebelum istilah tasawuf dikenal di masa awal, menurut Reynold A. Nicholson sebagaimana dikutip Dimyati Sajari, bentuk-bentuk tasawuf pada mulanya adalah gerakan kejuhudan (asketis) yang merupakan bentuk tertua dari sufisme.

Hasan al-Bashri (w. 110 H/728 M), seorang tabi'in yang hidup di abad ke-8 Hijriah, merupakan murid dari Huzaifah bin al-Yaman yang merupakan sahabat sekaligus kepercayaan Nabi Muhammad saw dengan julukan Shahibu Sirri Rasulullah (Pemegang Rahasia Rasulullah). Hasan al-Bashri, yang sangat terkenal dengan kehidupannya yang sederhana dan zuhud, membuatnya didaulat dikenal sebagai tokoh awal sufisme. Namun, hidup sederhana dan zuhud bukanlah hal asing di masa itu, karena Nabi Muhammad saw dan para sahabat adalah tokoh-tokoh awal yang menjalani kehidupan seperti demikian. Bahkan di masa-masa sebelum Islam, Muhammad muda kerap berkhalwat di Gua Hira untuk mensucikan dirinya dan menjauh dari masyarakat jahiliyah.

Tokoh sufi lainnya yang hidup sejaman dengan Abu Hasyim al-Kufi adalah Ibrahim bin Adham (w. 165 H/782 M). Kisah pertobatan Ibrahim bin Adham sangatlah terkenal dan menjadi legenda sufi, dari seorang Pangeran Balkh menjadi seorang yang hidupnya sangat zuhud. Sebagaimana diceritakan oleh Abu Nuaim, Ibrahim bin Adham sangat menekankan pentingnya uzlah dan tafakur.

Seiring dengan munculnya berbagai cabang ilmu dalam Islam di abad ke-2 dan ke-3 Hijriah, maka berkembang pula Ilmu Tasawuf. Berbagai ajaran tentang tasawuf pun bermunculan, namun akhlak adalah benang merah dari semua ajaran yang ada, dan hal ini dapat dipahami sebagai akhlak kepada diri sendiri, akhlak kepada sesama, dan akhlak kepada Allah. Hal ini dikembangkan dari tiga pilar agama dalam Islam, yakni iman-islam-ihsan; di mana yang terkahir, ihsan, merupakan landasan sekaligus tujuan dari praktik sufisme yang ingin dicapai ketika seorang sufi berserah diri seutuhnya kepada Allah.

Banyak pendapat yang pro dan kontra mengenai asal usul ajaran tasawuf, apakah ia berasal dari luar atau dari dalam agama Islam sendiri. Sebagian pendapat mengatakan bahwa paham tasawuf merupakan paham yang sudah berkembang sebelum Nabi Muhammad menjadi Rasulullah, sedangkan sebagian lainnya berpendapat bahwa asal usul ajaran tasawuf berasal dari zaman Nabi Muhammad saw.

Ada juga pendapat lain yang menyebutkan tasawuf muncul karena faktor politik, ketika terjadi pertikaian antar umat Islam pada zaman Khalifah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib yang berlanjut terus hingga beberapa abad kemudian. Lalu munculah gerakan tasawuf sebagai perlawanan atas pertikaian yang ada, yang di pelopori oleh Hasan Al-Bashiri pada abad kedua Hijriyah, dan kemudian diikuti oleh figur-figur lain seperti Sufyan ats-Tsauri dan Rabi’ah al-‘Adawiyah.

 

Sufisme Berasal dari Islam

Asal usul ajaran sufi didasari pada sunnah Nabi Muhammad. Keharusan untuk bersungguh-sungguh terhadap Allah merupakan aturan di antara para muslim awal, yang bagi mereka adalah sebuah keadaan yang tak bernama, kemudian menjadi disiplin tersendiri ketika mayoritas masyarakat mulai menyimpang dan berubah dari keadaan ini. (Nuh Ha Mim Keller, 1995)

Seorang penulis dari mazhab Maliki, Abd al-Wahhab al-Sha'rani mendefinisikan Sufisme sebagai berikut: "Jalan para sufi dibangun dari Qur'an dan Sunnah, dan didasarkan pada cara hidup berdasarkan moral para nabi dan yang tersucikan. Tidak bisa disalahkan, kecuali apabila melanggar pernyataan eksplisit dari Qur'an, sunnah, atau ijma." [11. Sha'rani, al-Tabaqat al-Kubra (Kairo, 1374), I, 4.].

Sufi tidak lain adalah ajaran untuk mencapai maqam Ihsan (sebagaimana tersebut dalam hadist) atau mencapai status muqarrabun (orang-orang yang didekatkan kepada Allah).

Tasawuf adalah penafsiran bathin (psikologis) dari ayat-ayat Quran seperti: Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui (Quran, 29:41). Dalam Tasawuf, yang dimaksud pelindung dalam ayat ini juga termasuk pelindung secara psikologis, sebagaimana kita ketahui manusia banyak menggantungkan keberhargaan dirinya kepada dunia (seperti harta, jabatan, pasangan, teman, dan lain-lain). Dalam Tasawuf, keberhargaan diri hanya boleh digantungkan kepada Allah. Karena jika memang mereka percaya Allah adalah yang paling kuat dan berharga, maka menggantungkan kepada selain Allah adalah taghut (sesembahan). Inilah kenapa dalam tareqahnya, seorang Sufi (penempuh Tasawuf) harus bisa menjadikan Allah sebagai satu-satunya sumber kekuatan dan penghargaan dirinya. Dalam istilah lain, Tasawuf adalah ajaran untuk mencapai Tauhid secara bathin (psikologis).

Sisi psikologis (bathin) yang terdapat dalam ajaran-ajaran Kristen, Budha, dan lain-lain sebaiknya tidak menafikan keberadaan Tasawuf sebagai sisi psikologis (bathin) dalam ajaran Islam. Hal ini karena Islam adalah ajaran penyempurna sehingga tidak harus sepenuhnya baru dari ajaran-ajaran yang terdahulu. Adanya sisi bathin dalam ajaran-ajaran yang sebelumnya ada malahan memperkuat status Tasawuf karena tentunya harus ada garis merah antara agama-agama yang besar, karena kemungkinan besar ajaran-ajaran tersebut dulunya sempat benar, sehingga masih ada sisa-sisa kebenaran yang mirip dengan Tasawuf sebagai sisi bathin (psikologis) dari ajaran Islam.

Sufisme Pengaruh di Luar Islam

Sufisme berasal dari bahasa Arab suf, yaitu pakaian yang terbuat dari wol pada kaum asketen (yaitu orang yang hidupnya menjauhkan diri dari kemewahan dan kesenangan). Dunia Kristen, neo platonisme, pengaruh Persi dan India ikut menentukan paham tasawuf sebagai arah asketis-mistis dalam ajaran Islam (Mr. G.B.J Hiltermann & Prof. Dr. P. Van De Woestijne).

(Sufisme) yaitu ajaran mistik (mystieke leer) yang dianut sekelompok kepercayaan di Timur terutama Persi dan India yang mengajarkan bahwa semua yang muncul di dunia ini sebagai sesuatu yang khayali (als idealish verschijnt), manusia sebagai pancaran (uitvloeisel) dari Tuhan selalu berusaha untuk kembali bersatu dengan DIA (J. Kramers Jz).

Al Quran pada permulaan Islam diajarkan cukup menuntun kehidupan batin umat Muslimin yang saat itu terbatas jumlahnya. Lambat laun dengan bertambah luasnya daerah dan pemeluknya, Islam kemudian menampung perasaan-perasaan dari luar, dari pemeluk-pemeluk yang sebelum masuk Islam sudah menganut agama-agama yang kuat ajaran kebatinannya dan telah mengikuti ajaran mistik, keyakinan mencari-cari hubungan perseorangan dengan ketuhanan dalam berbagai bentuk dan corak yang ditentukan agama masing-masing. Perasaan mistik yang ada pada kaum Muslim abad 2 Hijriyah (yang sebagian diantaranya sebelumnya menganut agama Non Islam, semisal orang India yang sebelumnya beragama Hindu, orang-orang Persia yang sebelumnya beragama Zoroaster atau orang Siria yang sebelumnya beragama Masehi) tidak ketahuan masuk dalam kehidupan kaum Muslim karena pada mereka masih terdapat kehidupan batin yang ingin mencari kedekatan diri pribadi dengan Tuhan. Keyakinan dan gerak-gerik (akibat paham mistik) ini makin hari makin luas mendapat sambutan dari kaum Muslim, meski mendapat tantangan dari ahli-ahli dan guru agamanya. Maka dengan jalan demikian berbagai aliran mistik ini yang pada permulaannya ada yang berasal dari aliran mistik Masehi, Platonisme, Persi dan India perlahan-lahan memengaruhi aliran-aliran di dalam Islam (Prof. Dr. H. Abubakar Aceh).

Paham tasawuf terbentuk dari dua unsur, yaitu :

1.     Perasaan kebatinan yang ada pada sementara orang Islam sejak awal perkembangan Agama Islam.

2.     Adat atau kebiasaan orang Islam baru yang bersumber dari agama-agama non Islam dan berbagai paham mistik. Oleh karenanya, paham tasawuf itu bukan ajaran Islam walaupun tidak sedikit mengandung unsur-unsur ajaran Islam. Dengan kata lain, dalam agama Islam tidak ada paham Tasawuf walaupun tidak sedikit jumlah orang Islam yang menganutnya (MH. Amien Jaiz, 1980).

Tasawuf dan sufi berasal dari kota Bashrah di negeri Irak. Dan karena suka mengenakan pakaian yang terbuat dari bulu domba (Shuuf), maka mereka disebut dengan "Sufi". Soal hakikat Tasawuf, hal itu bukanlah ajaran Rasulullah SAW dan bukan pula ilmu warisan dari Ali bin Abi Thalib Radiyallahu ‘anhu. Menurut Asy Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir rahimahullah berkata : “Tatkala kita telusuri ajaran Sufi periode pertama dan terakhir, dan juga perkataan-perkataan mereka baik yang keluar dari lisan ataupun yang terdapat di dalam buku-buku terdahulu dan terkini mereka, maka sangat berbeda dengan ajaran Al Qur’an dan As Sunnah. Dan kita tidak pernah melihat asal usul ajaran Sufi ini di dalam sejarah pemimpin umat manusia Muhammad SAW, dan juga dalam sejarah para sahabatnya yang mulia, serta makhluk-makhluk pilihan Allah Ta’ala di alam semesta ini. Bahkan sebaliknya, kita melihat bahwa ajaran Sufi ini diambil dan diwarisi dari kerahiban Nashrani, Brahma Hindu, ibadah Yahudi dan zuhud Buddha" - At Tashawwuf Al Mansya’ Wal Mashadir, hal. 28.(Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc).

 

Tarekat

Tarekat / Tharīqah merupakan sebuah istilah yang merujuk kepada aliran-aliran dalam dunia tasawuf atau sufisme Islam. Secara bahasa berarti "jalan" atau "metode", dan secara konseptual bermakna "jalan kering di tengah laut" merujuk kepada sebuah ayat dalam Alquran: "Dan sungguh, telah Kami wahyukan pada Musa, ‘Tempuhlah perjalanan di malam hari bersama para hamba-hamba-Ku, [dan] buatlah untuk mereka jalan kering di tengah laut'." (Q.S. Thāhā [20]: 77).

Pemimpin sebuah tarekat biasa disebut sebagai Mursyīd (dari akat kata rasyada, yang artinya: "penuntun"). Adapun para pengikut tarekat biasa disebut sebagai Murīd (dari akar kata arāda, yang artinya: "yang menginginkan"), yang bermakna orang yang menginginkan untuk mendekat kepada Tuhan; atau Sālik (dari akar kata salaka, yang artinya "yang memasuki"), yang bermakna orang yang memasuki atau menempuh jalan menuju Tuhan.

Metafora tarekat sebagai jalan harus dipahami secara khusus, sehubungan dengan istilah syariat yang juga memiliki arti jalan. Dalam hal ini tarekat bermakna sebagai jalan yang khusus atau individual, yang merupakan fase kedua dari skema umum tahapan perjalanan keagamaan: syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat.

Ada banyak aliran tarekat yang berkembang di dunia Islam, beberapa diantaranya lahir dan besar di Indonesia.

Kata tarekat atau tharīqah (Arab: طريقة) berasal dari kata tharīq (Arab: طريق) yang memiliki bebeberapa arti :

1.     Jalan atau petunjuk jalan atau cara.

2.     Metode atau sistem (uslub).

3.     Mazhab, aliran, atau haluan (mazhab).

4.     Keadaan (halah).

5.     Tiang tempat berteduh, tongkat, atau payung (‘amud al-mizalah). Menurut Mulyadi Kartanegara, dalam konteks tradisi Arab, kata tarekat dimaknai sebagai: jalan kecil (jalan pintas) menuju wadi (oase) di gurun dan sulit dilalui karena terkadang sudah tertutup pasir.

 

Dalam konteks agama, Alwi Shihab mendefinisikan tarekat merupakan suatu metode tertentu yang ditempuh seseorang secara kontinyu untuk membersihkan jiwanya dengan mengikuti jalur dan tahapan-tahapan dalam upayanya mendekatkan diri kepada Allah Swt. Hal ini senada dengan pendapat Al-Jurjani ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali (740-816 M) bahwa tarekat ialah metode khusus yang dipakai oleh salik (para penempuh jalan) menuju Allah Ta’ala melalui berbagai maqamat (tahapan-tahapan).

Dengan demikian tarekat memiliki dua pengertian :

1.     Pertama, merupakan metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan diri dengan Tuhan.

2.     Kedua, tarekat sebagai persaudaraan kaum sufi (sufi brotherhood) yang ditandai dengan adannya lembaga formal seperti zawiyah, ribath, atau khanaqah.

Bila ditinjau dari sisi lain tarekat itu mempunyai tiga sistem, yaitu :

1.     Sistem kerahasiaan.

2.     Sistem kekerabatan (persaudaraan).

3.     Sistem hierarki seperti khalifah tawajjuh atau khalifah suluk, syekh atau mursyid, wali atau qutub. Kedudukan guru tarekat diperkokoh dengan ajaran wasilah dan silsilah. Keyakinan berwasilah dengan guru dipererat dengan kepercayaan karamah, barakah atau syafa’ah atau limpahan pertolongan dari guru.

Pengertian di atas menunjukkan Tarekat sebagai cabang atau aliran dalam paham tasawuf. Pengertian itu dapat ditemukan pada berbagai tarekat yang ada, seperti al-Ahadiyyah, Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Rifa'iah, Samaniyah, dan lain-lain. Untuk di Indonesia ada juga yang menggunakan kata tarekat sebagai sebutan atau nama paham mistik yang dianutnya, dan tidak ada hubungannya secara langsung dengan paham tasawuf yang semula atau dengan tarekat besar dan kenamaan.

 

Empat Fase Perjalanan

Bagan yang menggambarkan kedudukan tarekat dalam empat tingkatan spiritual (syari'ah, tariqah, haqiqah, dan ma'rifah yang dianggap tidak terlihat)

Kaum sufi berpendapat bahwa terdapat empat tingkatan spiritual umum dalam Islam, yaitu syari'ah (syariat), tariqah (tarekat), haqiqah (hakikat), dan ma'rifah (makrifat). Tingkatan keempat dianggap merupakan inti dari wilayah hakikat, sebagai esensi dari seluruh tingkatan kedalaman spiritual beragama tersebut. Dalam kitab Sirr al-Asrar, Syeikh Abdul Qadir al-Jailani memberikan penjelasan seraya mengutip sebuah hadits dan ayat berikut :

Rasulullah saw pernah bersabda : Tidurnya orang alim jauh  lebih mulia daripada ibadah orang bodoh. ... Firman-Nya: Allah mewafatkan jiwa-jiwa ketika ajalnya tiba, adapun bagi yang belum sampai ajalnya, (Allah mewafatkannya) dalam  tidur mereka. Kemudian Dia menahan jiwa-jiwa yang ajalnya telah tiba, dan membebaskan jiwa-jiwa yang lain (yang belum sampai ajalnya) hingga batas waktu yang telah ditentukan. (Q.S. Az-Zumar: 42). Inilah yang dimaksud orang alim dalam hadits Nabi s.a.w. di atas. Mereka termasuk insan ruhani, manusia khusus, yang sekalipun ajal belum tiba tetapi mereka sudah kembali ke negeri asali sang jiwa, yakni negeri hakikat di semesta al-qurbah yang dekat dengan Allah Ta'ala. Negeri ini tidak akan dapat dicapai oleh mereka yang masih hidup kecuali dengan Ilmu Hakikat; dan ilmu ini tidak dapat diperoleh kecuali dengan menempuh jalan Syariat, Thariqat, dan Makrifat.

Di dalam kitab tersebut Syeikh Abdul Qadir al-Jailani juga mengutip sebuah hadits: (Ilmu) syariat itu pohon, rantingnya thariqat, daunnya makrifat, dan buahnya hakikat.

 

Mempelajari tarekat

Muhammad Hasyim Asy'ari sebagaimana dikutip oleh Mohammad Sholikhin, seorang penganalisis tarekat dan sufi, mengatakan bahwa ada delapan syarat dalam mempelajari tarekat :

Qashd shahih, menjalani tarekat dengan tujuan yang benar. Yaitu menjalaninya dengan sikap ubudiyyah, dan dengan niatan menghambakan diri kepada Tuhan.

Shidq sharis, haruslah memandang gurunya memiliki rahasia keistimewaan yang akan membawa muridnya ke hadapan Ilahi.

Adab murdhiyyah, orang yang mengikuti tarekat haruslah menjalani tata-krama yang dibenarkan agama.

Ahwal zakiyyah, bertingkah laku yang bersih/sejalan dengan ucapan dan tingkah-laku Nabi Muhammad SAW.

Hifz al-hurmah, menjaga kehormatan, menghormati gurunya, baik ada maupun tidak ada, hidup maupun mati, menghormati sesama saudaranya pemeluk Islam, hormat terhadap yang lebih tua, sayang terhadap yang lebih muda, dan tabah atas permusuhan antar-saudara.

Husn al-khidmah, mereka-mereka yang mempelajari tarekat haruslah mempertinggi pelayanan kepada guru, sesama, dan Allah SWT dengan jalan menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Raf' al-himmah, orang yang masuk tarekat haruslah membersihkan niat hatinya, yaitu mencari khashshah (pengetahuan khusus) dari Allah, bukan untuk tujuan duniawi.

Nufudz al-'azimah, orang yang mempelajari tarekat haruslah menjaga tekad dan tujuan, demi meraih makrifat khashshah tentang Allah.

Tujuan

Tujuan tarekat adalah membersihkan jiwa dan menjaga hawa-nafsu untuk melepaskan diri dari pelbagai bentuk ujub, takabur, riya', hubbud dunya (cinta dunia), dan sebagainya. Tawakal, rendah hati/tawadhu', ridha, mendapat makrifat dari Allah, juga menjadi tujuan tarekat.

Ada yang menganggap mereka yang menganggap orang-orang sufi dan tarekat sebagai orang yang bersih (shafa) dari kekotoran, penuh dengan pemikiran "dan yang baginya sama saja antara nilai emas dan batu-batuan," tulis Muhammad Sholikhin dalam bukunya. Ada pula yang menganggap mereka mencapai makna orang yang berkata benar, semulia-mulianya manusia setelah para Nabi sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nisa (4):69. Namun, Ibnu Taimiyah mengatakan pendapat ini salah sama sekali. Yang benar, adalah "orang-orang yang berijtihad dalam ketaatannya kepada Allah."

 

Beberapa contoh suluk, yakni:

1.     Suluk Sukarsam, mengenai hakikat kepemimpinan.

2.     Suluk Syarab al Asyiqin, berisi ajaran wahdat al-wujud dan tahap pencapaian makrifat.

 

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)