KIDUNGAN SEMAR (Karya Sunan Kalijaga sebagai mantra/doa Mujarab Tolak Pagebluk)

0

 KIDUNGAN SEMAR

(Karya Sunan Kalijaga sebagai mantra/doa Mujarab Tolak Pagebluk)



https://syehhakediri.blogspot.com/2021/10/kidungan-semar.html





Masa wabah pageblug seperti saat ini ternyata pernah dialami nenek moyang kita di masa Kerajaan Demak sekitar tahun 1409. 
Saat itu muncul wabah penyakit disebut Lelepah yang membuat banyak orang meninggal dengan cepat hitungan jam saja. Kebingungan melanda seluruh penduduk, mereka gempar lantaran tak tahu harus berbuat apa.  Apalagi, tanpa adanya pengetahuan obat-obatan apa yang bisa menyembuhkan. Kanjeng Sultan Syah Alam Akbar Patah Jimbun Sirullah pun bergerak meminta Para Wali Sanga, guru-guru suci penyebar Islam di Tanah Jawa untuk bersidang.  Hasilnya, saat itu Sunan Kalijaga membuat syair kidungan sebagai sarana tolak bala. 

Bunyi mantra Kidungan Semar yang dibuat oleh Sunan Kalijaga :

Singgah singgah kala singgah. 

Pan suminggah Durga kala sumingkir. 

Singa ama singa wulu. 

Singa suku singa sirah. 

Singa tenggak kalawan singa buntut.

Padha sira sumingkira. 

Muliha mring asalneki.


Kidung Semar ini diciptakan Sunan Kalijaga pada 20 Juli 1409. Bahwa dunia pasti diciptakan oleh Allah dengan keadaan seimbang. Filsafat Cina mengenal ajaran Yin Yang.  Pujangga Jawa menyebut gambuhing jagat gumelar dan jagat gumulung.  Ekuilibrium antara makrokosmos dan mikrokosmos. Kesadaran spiritual yang terpantul dalam serat kidungan itu yang kemudian digunakan dalam upacara ruwatan. Biasanya dalam mengalunkan syair mantra sakti diiringi dengan senggrengan rebab dan gender. Mirip dengan lantunan Gendhing Tawang Rujit, pada waktu itulah bibit pengganggu kehidupan kalah wibawa. Wabah penyakit pun sirna seketika.



YANG DAN YING

Yin-Yang atau Yin dan Yang adalah konsep dalam filosofi Tionghoa yang biasanya digunakan untuk mendeskripsikan sifat kekuatan yang saling berhubungan dan berlawanan di dunia ini dan bagaimana mereka saling membangun satu sama lain. Konsep tersebut didasarkan pada asal muasal dari banyaknya cabang ilmu pengetahuan klasik dah filosofi Tionghoa serta dapat digunakan sebagai pedoman pengobatan Cina dan menjadi prinsip dari seni bela diri yang ada di Tiongkok, sebagai contoh Baguazhang, Taijiquan (Tai Chi), dan qigong (Chi Kung) dan ramalan Ching.


Taiji adalah lambang tradisional untuk kekuatan Yin dan Yang.

Yin dan Yang saling berlawanan dalam interaksi dengan dunia yang lebih luas dan sebagai bagian dari sistem yang dinamis. Semua hal memiliki kedua aspek tersebut yakni Yin dan Yang, tetapi tidak setiap aspek tersebut memiliki perwujudan yang jelas pada objek dan mungkin pasang surut atau mengalir dari waktu ke waktu. Konsep Yin dan Yang sering dilambangkan dengan berbagai bentuk yang bervariasi dari simbol Taijitu, yang mana lebih umum dikenal pada kebudayaan barat. Ada beberapa persepsi (terutama di barat) yang mengatakan bahwa Yin dan Yang selalu dihubungkan dengan sesuatu yang baik dan jahat. Namun, filsafat Taoist biasanya tidak memperhitungkan sesuatu yang baik atau jahat dan penilaian moral, dalam kaitannya dengan konsep keseimbangan. Konfusianisme tidak melampirkan dimensi moral dari Yin dan Yang. Tapi dalam istilah modern, istilah ini sebagian besar telah teradaptasi oleh filosofi Buddha Taoist.


Sifat Yang dan Yin

Tidak mungkin kita berbicara tentang Yin dan Yang tanpa referensi dari seseorang yang berpendapat lain, karena Yin dan Yang terikat bersama sebagai bagian dari keseluruhan (misalnya Anda tidak dapat melihat bagian bawah sebelum melihat bagian atasnya). Sebuah ilustrasi menjelaskan ide tentang pendalilan antara kehidupan pria saja atau wanita saja. Ras ini akan punah dalam satu generasi. Namun, pria dan wanita menciptakan generasi baru yang memungkinkan mereka untuk bertahan hidup. Interaksi dari keduanya dapat melahirkan ide-ide baru. Yin dan Yang mengubah satu sama lain seperti arus di dalam laut. Setiap yang hidup akan mati, benih akan tumbuh dan kemudian akan mati.


Penggunaan nama Yin dan Yang sebagai nama tempat.

Banyak tempat di Tiongkok, seperti Luoyang, mengandung kata Yang, dan beberapa tempat seperti Huayin, mengandung kata Yin. Ini adalah cara yang sangat tradisional untuk menempatkan nama-nama tempat. Yang berarti tempat ini berada di lereng bagian selatan gunung atau di tepi utara sungai. Misalnya, Luoyang berada di tepi utara Sungai Luo. Yin berarti berada di lereng utara gunung atau berada di tepi selatan. Misalnya, Huayin berada di lereng utara Gunung Hua.


Simbolisme Yin dan Yang.

Yin adalah sisi hitam dengan titik putih pada bagian atasnya dan Yang adalah sisi putih dengan titik hitam pada bagian atasnya. Hubungan antara Yin dan Yang sering digambarkan dengan bentuk sinar matahari yang berada di atas gunung dan di lembah. Yin (secara harafiah yaitu tempat yang teduh) adalah daerah gelap yang merupakan bayangan dari gunung, sementara Yang (secara harafiah yaitu tempat yang terang atau cerah) adalah bagian yang tidak terhalang oleh gunung. Saat matahari bergerak, Yin dan Yang secara bertahap bertukar tempat satu sama lain, mengungkapkan apa yang tidak jelas dan menyembunyikan yang sudah terungkap. Yin ditandai dengan sesuatu yang lambat, lembut, menghasilkan, menyebar, dingin, basah, dan pasif. Berhubungan dengan air, bumi, bulan, feminitas dan malam hari. Yang sebaliknya ditandai dengan cepat, keras, padat, fokus, panas, kering, dan agresif. Berhubungan dengan api, langit, matahari, maskulinitas dan siang hari. 


Religius dan Filosofis.

Para Taijitu dan konsep dari periode Zhou telah diterapkan dalam keluarga dan hubungan relasi. Yin sebagai wanita dan Yang sebagai pria. Mereka menjadi satu sebagai dua bagian dari keseluruhan. Praktisi Yoga Zen, sebuah sistem pelatihan yang diciptakan pada tahun 2007, berpendapat bahwa Yin dan Yang merupakan suatu aliran. Taijitu adalah salah satu simbol yang tertua dan paling terkenal di dunia, tetapi masih banyak orang yang tidak memahami arti dari Yin dan Yang. Hal tersebut menggambarkan salah satu teori filsafat Tao kuno yang paling mendasar dan mendalam. Inti dari hal tersebut adalah dua unsur keberadaan yang berlawanan tetapi saling melengkapi. Cahaya yaitu Yang digambarkan dengan warna putih, bergerak naik berpadu dengan kegelapan yaitu Yin yang digambarkan dengan warna hitam dan bergerak turun. Yin dan Yang adalah kekuatan yang berlawanan, tergantung dari aliran siklus alami. Mereka selalu mencari keseimbangan meskipun mereka bertentangan, tetapi mereka tidak selalu bertentangan satu sama lain. Sebagai bagian dari Tao, mereka hanyalah dua aspek realitas yang sebenarnya berdiri sendiri. Masing-masing mengandung unsur dari yang lainnya, karena itu terdapat titik hitam dari Yin pada bagian putih dan begitu pula sebaliknya. Mereka tidak hanya sekadar saling menggantikan, namum mereka menjadi bersatu sama lain melalui aliran konstan alam semesta.



MAKROKOSMOS DAN MIKROKOSMOS

Makrokosmos dan mikrokosmos adalah skema Neo-Platonik Yunani kuno yang melihat pengulangan pola yang sama di setiap tingkatan kosmos, mulai dari ukuran terbesar (makrokosmos atau tingkat semesta) sampai ukuran terkecil (mikrokosmos atau tingkat sub-sub-atomik atau bahkan metafisik). Dalam sistem ini, penengahnya adalah manusia yang meringkas seluruh kosmos. Makrokosmos/mikrokosmos adalah kata majemuk Yunani yang terdiri dari Makro dan Mikro, masing-masing berarti besar,dan kecil, dan kata kósmos yang berarti tatanan sekaligus dunia atau dunia tertata. Kini, konsep mikrokosmos didominasi oleh sosiologi untuk menyebut sekelompok kecil individu yang perilakunya sama seperti badan sosial yang lebih besar yang menyelubunginya. Suatu mikrokosmos dapat dipandang sebagai semacam epitom istimewa. Sebaliknya, makrokosmos adalah badan sosial yang terbentuk dari himpunan-himpunan kecil. 


Lelepah

Konon katanya memang mahluk sebangsa jin, lelembut, setan dan lainnya memiliki hobi mengkonsumsi darah dan daging terutama yang sudah menjadi busuk. Seperti salah satu mahluk mitologi yang ceritanya sudah terkenal di daerah Jawa, yakni Lelepah.



Menurut kisahnya yang tenar di daerah Jawa, sosok Lelepah ini memiliki ukuran tubuh seperti raksasa yang sangat besar karena bisa 2 kali lebih besar dari manusia. Selain sosoknya yang mengerikan karena bentuknya yang menyerupai siluman, konon katanya Lelepah memiliki menu makanan favorit daging manusia segar. Lelepah sering menelan hidup-hidup siapa saja yang tidak beruntung dan berpapasan dengannya. Tidak banyak yang tahu dimakan secara fisik atau hanya ruhnya, namun sosok ini mampu membuat warga ketakutan terutama jika memasuki waktu malam, biasanya warga akan mengunci rapat-rapat rumah mereka dan melarang keluarganya keluyuran sendirian di luar. Mitosnya selain suka memakan daging manusia, Lelepah konon katanya juga sering memakan daging atau darah sisa makanan yang tidak dibersihkan bekas kelakuan manusia. Jika digambarkan secara detail, sosok Lelepah memang memiliki tinggi hampir 3 meter, dan memiliki tubuh yang bulat mirip ular tetapi diameternya besar. Lelepah juga memiliki banyak gigi taring guna mengunyah kepala manusia mirip dengan karakter badut Pennywise dalam film.

  

BERIKUT DOA-DOA YANG BERKAITAN DENGAN PAGEBLUK DENGAN BERBAGAI VERSI

KIDUNG LINGSIR ING WENGI (Karya asli Sunan Kalijogo / R. Said)

Meniko release mocopat Kidung Lingsir Ing Wengi versi suguhan gubahan tampilan yang update zaman.

1. Ana kidung rumekso ing wengi

2. Teguh hayu luputa ing lara

3. Luputa bilahi kabeh

4. Jim setan datan purun

5. Paneluhan tan ana wani

6. Niwah panggawe ala

7. Gunaning wong luput

8. Geni atemahan tirta

9. Maling adoh tan ana ngarah ing mami

10. Guna duduk pan sirno

Artinya : Ada sebuah kidung doa permohonan di tengah malam. Yang menjadikan kuat selamat terbebas dari semua penyakit. Terbebas dari segala petaka. Jin dan setan pun tidak mau mendekat. Segala jenis sihir tidak berani. Apalagi perbuatan jahat, guna-guna tersingkir. Api menjadi air. Pencuri pun menjauh dariku. Segala bahaya akan lenyap.

11. Sakehing lara pan samya bali

12. Sakeh ngama pan sami mirunda

13. Welas asih pandulune

14. Sakehing braja luput

15. Kadi kapuk tibaning wesi

16. Sakehing wisa tawa

17. Sato galak tutut

18. Kayu aeng lemah sangar

19. Songing landhak guwaning

20. Wong lemah miring

21. Myang pakiponing merak

Artinya : Semua penyakit pulang ke tempat asalnya. Semua hama menyingkir dengan pandangan kasih. Semua senjata tidak mengena. Bagaikan kapuk jatuh di besi. Segenap racun menjadi tawar. Binatang buas menjadi jinak. Pohon ajaib, tanah angker, lubang landak, gua orang, tanah miring dan sarang merak.

22. Pagupakaning warak sakalir

23. Nadyan arca myang segara asat

24. Temahan rahayu kabeh

25. Apan sarira ayu

26. Ingideran kang widadari

27. Rineksa malaekat

27. Lan sagung pra rasul

28. Pinayungan ing Hyang Suksma

28. Ati Adam utekku baginda Esis

29. Pangucapku ya Musa

Artinya : Kandangnya semua badak. Meski batu dan laut mengering. Pada akhirnya semua selamat. Sebab badannya selamat dikelilingi oleh bidadari, yang dijaga oleh malaikat, dan semua rasul dalam lindungan Tuhan. Hatiku Adam dan otakku Nabi Sis. Ucapanku adalah Nabi Musa.

30. Napasku nabi Ngisa linuwih

31. Nabi Yakup pamiryarsaningwang

32. Dawud suwaraku mangke

33. Nabi brahim nyawaku

34. Nabi Sleman kasekten mami

35. Nabi Yusuf rupeng wang

36. Edris ing rambutku

37. Baginda Ngali kuliting wang

38. Abubakar getih daging Ngumar singgih

39. Balung baginda ngusman

Artinya : Nafasku Nabi Isa yang teramat mulia. Nabi Yakub pendengaranku. Nabi Daud menjadi suaraku. Nabi Ibrahim sebagai nyawaku. Nabi Sulaiman menjadi kesaktianku. Nabi Yusuf menjadi rupaku. Nabi Idris menjadi  rupaku. Ali sebagai kulitku. Abu Bakar darahku dan Umar dagingku.  Sedangkan Usman sebagai tulangku.

40. Sumsumingsun Patimah linuwih

41. Siti aminah bayuning angga

42. Ayup ing ususku mangke

43. Nabi Nuh ing jejantung

44. Nabi Yunus ing otot mami

45. Netraku ya Muhammad

45. Pamuluku Rasul

46. Pinayungan Adam Kawa

47. Sampun pepak sakathahe para nabi

48. Dadya sarira tunggal

Artinya : Sumsumku adalah Fatimah yang amat mulia. Siti Aminah sebagai kekuatan badanku. Nanti Nabi Ayub ada di dalam ususku. Nabi Nuh di dalam jantungku. Nabi Yunus di dalam otakku. Mataku ialah Nabi Muhammad. Air mukaku rasul dalam lindungan Adam dan Hawa. Maka lengkaplah semua rasul, yang menjadi satu badan.

 

LIRIK LAGU PAGEBLUK  (Cak Sodiq)

Lagu 1

Dino iki, dinone pagebluk, para manungsa pating gelimpang

Isu loro sorene mati

Pekarangan dadi kuburan

Lagu 2

zaman edan, dinone pegebluk

Kenikmatan nanging bubrahing dunyo

Wong Jowo kari mengincar,

wong Cino kari sejodo

Paduan suara

Wong lugu keblenggu, wong mulyo dikunjoro, wong jujur ​​ancur

Wong bener keblinger

Gebluk..

Ref

Pagebluk pagebluk

Pagebluk halamanbkuk

Lagu 3

Akeh bapak lali anake Akeh anak nglawan wong tuwone

Seduluran eker-ekeran

Mati siji mati kabeh

Lagu 4

Pagebluk, edan-edane zaman

Wong wadon ilang wirange

Wong lanang ilang drajat

Wong judi ndadi nang endi-endi

Paduan suara

Wong tuwo ngedol anak, wong wadon ngedol awak, wong dungu digugu,

Wong bejat munggah

Gebluk

Ref

Pagebluk pagebluk

Pagebluk halamanbkuk

 


TANDA-TANDA ZAMAN KALABNEDU

Iki sing dadi tandane zaman kalabendu (Ini yang menjadi tandanya jaman kalabendu) :

1. Lindu ping pitu sedina (getaran gempa 7 kali sehari)

2. Lemah Lemah bengkah (tanah tanah pecah)

3. Manungsa pating galuruh, akeh kang nandang lara (manusia pada gemuruh (berteriak), banyak yang terkena penyakit)

4. Pagebluk rupa-rupa (musibah bermacam macam)

5. Mung setitik sing mari akeh-akehe pada mati (Cuma sedikit yang sembuh kebanyakan pada mati)


Zaman kalabendu iku wiwit yen, (jaman kalabendu itu dimulai jika) :

1. Wis ana kreta mlaku tanpa jaran (Sudah ada kendaraan berjalan tanpa kuda)

2. Tanah jawa kalungan wesi (Pulau jawa berkalungan besi)

3. Prau mlaku ing nduwur awang-awang (Kapal berjalan di atas awan)

4. Kali ilang kedunge (sungai hilang batasnya)

5. Pasar ilang kumandange (pasar hilang kumandangnya)

6. Wong nemoni wolak-walik ing zaman (orang menemui bolak balik pada jaman)

7. Jaran doyan sambel (kuda suka sambal)

8. Wong wadon menganggo lanang (wanita berpakaian pria)


Zaman kalabendu iku koyo-koyo zaman kasukan, zaman kanikmatan donya, nanging zaman iku sabenere zaman ajur lan bubrahing donya. (jaman kalabendu itu seperti jaman kesenangan, jaman kenikmatan dunia, namun jaman itu sebenarnya jaman hancur dan rusaknya dunia) :

1. Mulane akeh bapak lali anak (awalnya banyak bapak lupa akan anak)

2. Akeh anak wani ngalawan ibu lan nantang bapak (banyak anak berani melawan ibu dan menantang bapak)

3. Sedulur pada cidro cinidro (saudara saling melukai)

4. Wong wadon ilang kawirangane, wong lanang ilang kaprawirane (perempuan kehilangan rasa malu, lelaki gilang keperwiraannya)

5. Akeh wong lanang ora duwe bojo (banyak pria tidak memiliki istri)

6. Akeh wong wadon ora setia karo bojone (banyak wanita tidak setia dg suaminya)

7. Akeh ibu pada ngedol anake (banyak ibu menjual anaknya)

8. Akeh wong wadon ngedol awake (banyak wanita menjual dirinya)

9. Akeh wong ijol bojo (banyak orang menukar istri/suami nya)

10. Akeh udan salah mangsa (banyak hujan tidak pada musim nya)

11. Akeh prawan tuwa (banyak perawan tua)

12. Akeh randa ngalairake anak (banyak janda melahirkan anak)

13. Akeh jabang bayi nggoleki bapake (banyak bayi mencari ayahnya)

14. Wong wodan ngalamar wong lanang (perempuan melamar pria)

15. Wong lanang ngasorake, drajate dewe (orang lelaki merendahkan derajatnya sendiri)

16. Akeh bocah kowar (banyak anak terlantar)

17. Randa murah regane (janda murah harganya)

18. Randa ajine mung sak sen loro (janda harganya cuma satu sen dua)

19. Prawan rong sen loro (perawan dua sen dua)

20. Dudo pincang payu sangang wong (duda pincang berharga sembilan orang)


Zamane zaman edan (jamannya jaman gila) :

1. Wong wadon nunggang jaran (perempuan naik kuda)

2. Wong lanang lungguh plengki (orang lelaki duduk di pemerintahan)

3. Wong bener tenger-tenger (orang benar kebingungan)

4. Wong salah bungah-bungah (orang salah bersenang-senang)

5. Wong apik ditampik-tampik (orang baik terlunta lunta)

6. Wong bejat munggah pangkat (orang bejat naik pangkat)

7. Akeh dandhang diunekake kuntul (banyak dandhang dikatakan kuntul)

8. Wong salah dianggap bener (orang salah dianggap benar)

9. Wong lugu kebelenggu (orang lugu terbelenggu)

10. Wong mulya dikunjara (orang mulia dipenjara)

11. Sing culika mulya, sing jujur kojur (yang mencuri mulia, yang jujur hancur)

12. Para laku dagang akeh sing keplanggrang (para penjual banyak yang terhambat)

13. Wong main akeh sing ndadi (orang berjudi semakin menjadi)

14. Linak lijo linggo lico, lali anak lali bojo, lali tonggo lali konco ( lupa anak lupa istri lupa tetangga lupa teman)

15. Duwit lan kringet mug dadi wolak-walik kertu (uang dan keringat hanya menjadi bolak balik kartu)

16. Kertu gede dibukake, ngguyu pating cekakak (kartu besar dibuka, ketawa cekakakan)

17. Ning mulih main kantonge kempes (kalau pulang judi kantongnya kempes)

18. Krungu bojo lan anak nangis ora di rewes (mendengar istri dan anak menangis tidak di pedulikan)

19. Abote kaya ngapa sa bisa-bisane aja nganti wong kelut, keli ing zaman kalabendu iku. (Seberat apapun janganlah ikut, hanyut di jaman kalabendu itu)

20. Amargo zaman iku bakal sirna lan gantine yoiku zaman ratu adil, zaman kamulyan. Mula sing tatag, sing tabah, sing kukuh, ojo kepranan ombyak ing zaman Entenana zamane kamulyan zamaning ratu adil (karena jaman itu akan berakhir dan gantinya yaitu jaman ratu adil, jaman kemuliaan. Makanya yang tegar, yang tabah, yang kuat, jangan senang hati terbawa arus jaman tunggulah jaman kemuliaan jaman ratu adil)



Imajiner Nuswantoro 



 


Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)