SERAT DARMOGANDUL

0

SERAT DARMOGANDUL

 










Serat Darmagandhul adalah suatu karya Sastra Jawa Baru berbentuk puisi tembang macapat yang menceritakan jatuhnya Majapahit karena serbuan tentara Demak yang dibantu oleh Walisongo.

Darmagandhul ditulis oleh Ki Kalamwadi, dengan waktu penulisan hari Sabtu Legi, 23 Ruwah 1830 Jawa (atau sangkala Wuk Guneng Ngesthi Nata, sama dengan 16 Desember 1900). Sebagian ada yang berpendapat bahwa pengarang sesungguhnya adalah Ronggowarsito dengan nama samaran Kalamwadi, yang dalam bahasa Jawa dapat pula berarti kabar (kalam) yang dirahasiakan (wadi). Karya ini ditulis dalam bentuk dialog yang terjadi antara Ki Kalamwadi dan muridnya Darmagandhul. Namun teori itu mudah terbantah, karena Ronggowarsito telah meninggal 29 tahun sebelumnya. Sampai saat ini penulisnya masih perlu diteliti identitas sebenarnya.

Dialog diawali dari pertanyaan Darmagandhul kepada gurunya mengenai kapan terjadinya perubahan agama di Jawa. Disebutkan bahwa Ki Kalamwadi kemudian memberikan keterangan-keterangan berdasarkan penjelasan dari gurunya, yang bernama Raden Budi. Cerita dan ajaran yang diuraikan oleh Ki Kalamwadi memuat berbagai hal; antara lain jatuhnya kerajaan Majapahit, berbagai peranan Walisongo dan tokoh-tokoh lainnya pada awal masa peralihan Majapahit-Demak, topik-topik dalam ajaran agama Islam, serta terjadinya benturan berbagai budaya baru dengan kepercayaan lokal masyarakat Jawa saat itu.

Hampir seluruh isi Serat Darmagandul merupakan bentuk turunan dari cerita babad yang telah ada sebelumnya.

Kitab yang dimaksud adalah Babad Kadhiri yang ditulis pada tahun 1832 oleh Mas Ngabehi Purbawijaya dan Mas Ngabehi Mangunwijaya. GWJ. Drewes, seorang orientalis Belanda, mengungkapkan bahwa Babad Kadhiri menyediakan tema utama dan ide bagi penulisan Serat Darmagandul

Ingatlah ketika kerajaan Majapahit diserang Raden Patah Prabu Brawijaya melarikan diri bersama Sabdo Palon

Kemudian Sunan Kalijaga berhasil menemukannya

Setelah berdebat maka Prabu Brawijaya masuk agama Islam.

Serat Darmogandul merupakan serat yang berisi cerita tentang dialog antara tokoh-tokoh pada jaman dulu kala di Indonesia.

Dalam serat ini pula didapatkan cerita berubahnya keyakinan Prabu Brawijaya dari agama Buddha beralih ke agama Islam.

Akan tetapi karena serat Darmogandul dinilai banyak pihak sebagai naskah yang bermuatan penghinaan terhadap Islam, maka serat tersebut dilarang beredar.

Larangan inilah yang membuat Serat Darmogandul susah untuk diperoleh kembali. Kalaupun ada yang menemukan serat tersebut, biasanya masih asli berbahasa jawa dan belum diterjemahkan ataupun sudah diterjemahkan namun hanya potongan pendek saja. Akan tetapi alangkah senangnya karena kini telah ditemukan terjemahan lengkap Serat Darmogandul tersebut.

Berikut saya cuplikkan sedikit yang ada dalam Serat Darmogandul pada bagian dialog antara Sunan Kalijaga dengan Prabu Brawijaya dan Sabdo Palon di bawah ini :

Ganti yang diceritakan, perjalanan Sunan Kalijaga dalam mencari Prabu Brawijaya, hanya diiringkan dua sahabat. Perjalanannya terlunta-lunta. Tiap desa dihampiri untuk mencari informasi.

Perjalanan Sunan Kalijaga melewati pesisir timur Pulau Jawa, menurutkan bekas jalan-jalan yang dilalui Prabu Brawijaya.

 

Sunan Kalijaga sang negosiator ulung

Perjalanan Prabu Brawijaya sampailah di Blambangan, Karena merasa lelah kemudian berhenti di pinggir mata air.

Waktu itu pikiran Sang Prabu benar-benar gelap. Yang ada di hadapannya hanya abdi berdua, yaitu Nayagenggong dan Sabdapalon. Kedua abdi tadi tidak pernah bercanda, dan memikirkan peristiwa yang baru saja terjadi.

Tidak lama kemudian Sunan Kalijaga berhasil menjumpainya. Sunan Kalijaga bersujud menyembah di kaki Sang Prabu. Sang Prabu kemudian bertanya kepada Sunan Kalijaga, Sahid!

Kamu datang ada apa ?

Apa perlunya mengikuti aku ?

Sunan Kalijaga berkata, Hamba diutus putra Paduka, untuk mencari dan menghaturkan sembah sujud kepada Paduka dimanapun bertemu.

Beliau memohon ampun atas kekhilafannya, sampai lancang berani merebut tahta Paduka, karena terlena oleh darah mudanya yang tidak tahu tata krama ingin menduduki tahta memerintah negeri, disembah para bupati.

Sekarang putra Paduka sangat merasa bersalah.

Adapun ayahanda Raja Agung yang menaikkan dan memberi derajat Adipati di Demak, tak mungkin bisa membalas kebajikan Paduka, Kini putra Paduka ingat, bahwa Paduka lolos dari istana tidak karuan dimana tinggalnya.

Karena itu putra Paduka merasa pasti akan mendapat kutukan Tuhan.

Karena itulah hambah yang lemah ini diutus untuk mencari dimana Paduka berada. Jika bertemu mohon kembali pulang ke Majapahit, tetaplah menjadi raja seperti sedia kala, memangku mahligai istana dijunjung para punggawa, menjadi pusaka dan pedoman yang dijunjung tinggi para anak cucu dan para sanak keluarga, dihormati dan dimintai restu keselamatan semua yang di bumi. Jika Paduka berkenan pulang, putra Paduka akan menyerahkan tahta Paduka Raja. Putra Paduka menyerahkan hidup dan mati.

Itu pun jika Paduka berkenan. Putra Paduka hanya memohon ampunan Paduka atas kekhilafan dan memohon tetap sebagai Adipati Demak saja.

Adapun apabila Paduka tidak berkenan memegang tahta lagi, Paduka inginkan beristirahat dimana, menurut kesenangan Paduka, di gunung mana Paduka ingin tinggal, putra Paduka memberi busana dan makanan untuk Paduka, tetapi memohon pusaka Kraton di tanah Jawa, diminta dengan tulus.

Sang Prabu Brawijaya bersabda, Aku sudah dengar kata-katamu, Sahid!

Tetapi aku tidak gagas! Aku sudah muak bicara dengan santri!

Mereka bicara dengan mata tujuh, lamis semua, maka blero matanya!

Menunduk di muka tetapi memukul di belakang.

Kata-katanya hanya manis di bibir, batinnya meraup pasir ditaburkan ke mata, agar buta mataku ini.

Dulu-dulu aku beri hati, tapi balasannya seperti kenyang buntut!

Apa coba salahku?

Mengapa negaraku dirusak tanpa kesalahan?

Tanpa adat dan tata cara manusia, mengajak perang tanpa tantangan!

Apakah mereka memakai tatanan babi, lupa dengan aturan manusia yang utama!

Setelah mendengar bersabda Sang Prabu demikian, Sunan Kalijaga merasa sangat bersalah karena telah ikut menyerang Majapahit.

Ia menarik nafas dalam dan sangat menyesal.

Namun yang semua telah terjadi.

Maka kemudian ia berkata lembut, Mudah-mudahan kemarahan Paduka kepada putra Paduka, menjadi jimat yang dipegang erat, diikat dipucuk rambut, dimasukkan dalam ubun-ubun, menambahi cahaya nubuwat yang bening, untuk keselamatan putra cucu Paduka semua.

Karena semua telah terjadi, apalagi yang dimohon lagi, kecuali hanya ampunan Paduka.

Sekarang paduka hendak pergi ke mana?

Sang Prabu Brawijaya berkata, Sekarang aku akan ke Pulau Bali, bertemu dengan yayi Prabu Dewa Agung di Kelungkung.

Aku akan beri tahu tingkah si Patah, menyia-nyiakan orang tua tanpa dosa, dan hendak kuminta menggalang para raja sekitar Jawa untuk mengambil kembali tahta Majapahit.

Adipati Palembang akan kuberi tahu bahwa kedua anaknya sesampai di tanah Jawa yang aku angkat menjadi Bupati, tetapi tidak tahu aturan. Ia berani memusuhi ayah dan rajanya.

Aku akan minta kerelaannya untuk aku bunuh kedua anaknya sekaligus, sebab pertama durhaka kepada ayah dan kedua kepada raja.

Aku juga hendak memberitahu kepada Hongte di Cina, bahwa putrinya yang menjadi istriku punya anak laki-laki satu, tetapi tidak tahu jalan, berani durhaka kepada ayah raja.

Ia juga kuminta kerelaan cucunya hendak aku bunuh, aku minta bantuan prajurit Cina untuk perang.

Akan kuminta agar datang di negeri Bali.

Apabila sudah siap semua prajurit, serta ingat kepada kebaikanku, dan punya belas kasih kepada orang tua ini, pasti akan datang di Bali siap dengan perlengkapan perang. Aku ajak menyerang tanah Jawa merebut istanaku. Biarlah terjadi perang besar ayah melawan anak.

Aku tidak malu, karena aku tidak memulai kejahatan dan meninggalkan tata cara yang mulia.

Sunan Kalijaga sangat prihatin. Ia berkata dalam hati, Tidak salah dengan dugaan Nyai Ageng Ampelgading, bahwa Eyang Bungkuk masih gagah mengangkangi negara, tidak tahu diri, kulit kisut punggung wungkuk. Jika beliau dibiarkan sampai menyeberang ke Pulau Bali, pasti akan ada perang besar dan pasukan Demak pasti kalah karena dalam posisi salah, memusuhi raja dan bapa, ketiga pemberi anugerah, Sudah pasti orang Jawa yang belum Islam akan membela raja tua, bersiaga mengangkat senjata.

Pasti akan kalah orang Islam tertumpas dalam peperangan.

Akhirnya Sunan Kalijaga berkata pelan, Aduh Gusti Prabu!

Apabila Paduka nanti tiba di Bali, kemudian memanggil para raja, pasti akan terjadi perang bear.

Apakah tidak sayang Negeri Jawa rusak.

Sudah dapat dipastikan putra Paduka yang akan celaka, kemudian Paduka bertahta kembali menjadi raja, tapi tidak lama kemudian lengser keprabon.

Tahta Jawa lalu diambil oleh bukan darah keturunan Paduka.

Jika terjadi demikian ibarat serigala berebut bangkai, yang berkelahi terus berkelahi hingga tewas dan semua daging dimakan serigala lainnya.

Ini semua kehendak Dewata Yang Maha Lebih.

Aku ini raja bintara, menepati sumpah sejati, tidak memakai dua mata, hanya menepati satu kebenaran, menurut Hukum dan Undang-Undang para leluhur. Seumpamanya si Patah menganggap aku sebagai bapaknya, lalu ingin menjadi raja, diminta dengan baik-baik, istana tana Jawa ini akan kuberikan dengan baik-baik pula. Aku sudah tua renta, sudah kenyang menjadi raja, menerima menjadi pendeta bertafakur di gunung.

Sedangkan si Patah meng-aniaya kepadaku. Pastilah aku tidak rela tanah Jawa dirajainya.

Bagaimana pertanggungjawabanku kepada rakyatku di belakang hari nanti ?

Mendengar kemarahan Sang Prabu yang tak tertahankan lagi, Sunan Kalijaga merasa tidak bisa meredakan lagi, maka kemudian beliau menyembah kaki Sang Prabu sambil menyerahkan kerisnya dengan berkata, apabila Sang Prabu tidak bersedia mengikuti sarannya, maka ia mohon agar dibunuh saja, karena akan malu mengetahui peristiwa yang menjijikkan itu.

Sang Prabu melihat tingkah Sunan Kalijaga yang demikian tadi, hatinya tersentuh juga.

Sampai lama beliau tidak berkata selalu mengambil nafas dalam-dalam dengan meneteskan air mata.

Berat sabdanya, Sahid! Duduklah dahulu.

Kupikirkan baik-baik, kupertimbangkan saranmu, benar dan salahnya, baik dan buruknya, karena aku khawatir apabila kata-katamu itu bohong saja.

Ketahuilah Sahid! Seumpama aku pulang ke Majapahit, si patah menghadap kepadaku, bencinya tidak bisa sembuh karena punya ayah Buda kawak kafir kufur. Lain hari lupa, aku kemudian ditangkap dikebiri, disuruh menunggu pintu belakang. Pagi sore dibokongi sembahyang, apabila tidak tahu kemudian dicuci di kolam digosok dengan ilalang kering.

Sang Prabu mengeluh kepada Sunan Kalijaga, Coba pikirkanlah, Sahid! Alangkah sedih hatiku, orang sudah tua-renta, lemah tidak berdaya koq akan direndam dalam air.

Sunan Kalijaga memendam senyum dan berkata, Mustahil jika demikian, besok hamba yang tanggung, hamba yakin tidak akan tega putra Paduka memperlakukan sia-sia kepada Paduka.

Akan halnya masalah agama hanya terserah sekehendak Paduka, namun lebih baik jika Paduka berkenan berganti syariat rasul, dan mengucapkan asma Allah. Akan tetapi jika Paduka tidak berkenan itu tidak masalah.

Toh hanya soal agama.

Pedoman orang Islam itu syahadat, meskipun salat dingklak-dingkluk jika belum paham syahadat itu juga tetap kafir namanya.

 

PERDEBATAN TEOLOGIS PRABU BRAWIJAYA

Sang Prabu berkata, Syahadat itu seperti apa, aku koq belum tahu, coba ucapkan biar aku dengarkan Sunan Kalijaga kemudian mengucapkan syahadat, asyhadu alla ilaaha ilallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasuulullah, artinya aku bersaksi, tiada Tuhan selain Allah, dan bersaksi bahwa Kanjeng Nabi Muhammad itu utusan Allah.

Sunan Kalijaga berkata kepada Sang Prabu, Manusia yang menyembah kepada angan-angan saja tapi tidak tahu sifat-Nya maka ia tetap kafir, dan manusia yang menyembah kepada sesuatu yang kelihatan mata, itu menyembah berhala namanya, maka manusia itu perlu mengerti secara lahir dan batin.

Manusia mengucap itu harus paham kepada apa yang diucapkan.

Adapun maksud Nabi Muhammad Rasulullah adalah itu Muhammad itu makam kuburan. Jadi badan manusia itu tempatnya sekalian rasa yang memuji badan sendiri, tidak memuji Muhammad di Arab.

Badan manusia itu bayangan Dzat Tuhan.

Badan jasmani manusia adalah letak rasa.

Rasul adalah rasa kang nusuli. Rasa termasuk lesan, rasul naik ke surga, lullah, luluh menjadi lembut.

Disebut Rasulullah itu rasa ala ganda salah.

Diringkas menjadi satu Muhammad Rasulullah.

Yang pertama pengetahuan badan, kedua tahu makanan. Kewajiban manusia menghayati rasa, rasa dan makanan menjadi sebutan Muhammad Rasulullah, maka sembahyang yang berbunyi ushali itu artinya memahami asalnya.

Ada pun raga manusia itu asalnya dari ruh idhafi, ruh Muhamad Rasul, artinya Rasul rasa, keluarnya rasa hidup, keluar dari badan yang terbuka, karena asyhadu alla, jika tidak mengetahui artinya syahadat, tidak tahu rukun Islam maka tidak akan mengerti awal kejadian.

Sunan Kalijaga berkata banyak-banyak sampai Prabu Brawijaya berkenan pindah Islam, setelah itu minta potong rambut kepada Sunan Kalijaga, akan tetapi rambutnya tidak mempan digunting.

Sunan Kalijaga lantas berkata, Sang Prabu dimohon Islam lahir batin, karena apabil hanya lahir saja, rambutnya tidak mempan digunting.

Sang Prabu kemudian berkata kalau sudah lahir batin, maka rambutnya bisa dipotong.

 

Perdebatan dengan Sabdapalon dan Nayageggong

Sang Prabu setelah potong rambut kemudian berkata kepada Sabdapalon dan Nayagenggong, Kamu berdua kuberitahu mulai hari ini aku meninggalkan agama Buddha dan memeluk agama Islam.

Aku sudah menyebut nama Allah yang sejati. Kalau kalian mau, kalian berdua kuajak pindah agama rasul dan meninggalkan agama Buddha.

Sabdapalon berkata dengan sedih, Hamba ini Ratu Dang Hyang yang menjaga tanah Jawa, Siapa yang bertahta menjadi asuhan hamba.

Mulai dari leluhur Paduka dahulu, Sang Wiku Manumanasa, Sakutrem dan Bambang Sakri, turun-temurun sampai sekarang.

Hamba mengasuh penurun raja-raja Jawa. Hamba jika ingin tidur sampai 200 tahun. Selama hamba tidur selalu ada peperangan saudara musuh saudara, yang nakal membunuh manusia bangsanya sendiri.

Sampai sekarang umur hamba sudah 2000 lebih 3 tahun dalam mengasuh raja-raja Jawa, tidak ada yang berubah agamanya, sejak pertama menempati agama Buddha, Baru Paduka yang berani meninggalkan pedoman luhur Jawa. Jawa artinya tahu. Mau menerima berarti Jawan.

Kalau hanya ikut-ikutan, akan membuat celaka muksa Paduka kelak, Kata Wikutama yang kemudian disambut halilintar bersahutan.

Prabu Brawijaya disindir oleh Dewata, karena mau masuk agama Islam, yaitu dengan perwujudan keadaan di dunia ditambah tiga hal :

1.     Rumput Jawan.

2.     Padi Randanunut, dan.

3.     Padi Mriyi.

Sang Prabu bertanya, Bagaimana niatanmu, mau apa tidak meninggalkan agama Buddha masuk agama Rasul, lalu menyebut Nabi Muhammad Rasullalah dan nama Allah Yang Sejati?

Sabdopalon berkata dengan sedih, Paduka masuklah sendiri.

Hamba tidak tega melihat watak sia-sia, seperti manusia Arab itu. Menginjak-injak hukum, menginjak-injak tatanan.

Jika hamba pindah agama, pasti akan celaka muksa hamba kelak.

Yang mengatakan mulia itu kan orang Arab dan orang Islam semua, memuji diri sendiri.

Kalau hamba mengatakan kurang ajar, memuji kebaikan tetangga mencelakai diri sendiri.

Hamba suka agama lama menyebut Dewa Yang Maha Lebih. Dunia itu tubuh Dewata yang bersifat budi dan hawa, sudah menjadi kewajiban manusia itu menurut budi kehendaknya, menjadi tuntas dan tidak mengecewakan, jika menyebut Nabi Muhammad Rasulullah, artinya Muhammad itu makam kubur, kubur rasa yang salah, hanya men-Tuhan-kan badan jasmani, hanya mementingkan rasa enak, tidak ingat karma dibelakang.

Maka nama Muhammad adalah tempat kuburan sekalian rasa.

Ruh idafi artinya tubuh, jika sudah rusak kembali kepada asalnya lagi.

Prabu Brawijaya nanti akan pulang kemana.

Adam itu sama dengan Hyang Ibrahim, artinya kebrahen ketika hidupnya, tidak mendapatkan rasa yang benar.

Tetapi bangunnya rasa yang berwujud badan dinamai Muhammadun, tempat kuruban rasa.

Jasa budi menjadi sifat manusia.

Jika diambil Yang Maha Kuasa, tubuh Paduka sifatnya jadi dengan sendirinya.

Orang tua tidak membuat, maka dinamai anak, karena adanya dengan sendirinya, jadinya atas suatu yang ghaib, atas kehendak Lata wal Hujwa, yang meliputi wujud, wujudi sendiri, rusak-rusaknya sendiri, jika diambil oleh Yang Maha Kuasa, hanya tinggal rasa dan amal yang Paduka bawa ke mana saja.

Jika nista menjadi setan yang menjaga suatu tempat.

Hanya menunggui daging basi yang sudah luluh menjadi tanah.

Demikian tadi tidak ada perlunya.

Demikian itu karena kurang budi dan pengetahuannya.

Ketika hidupnya belum makan buah pohon pengetahuan dan buah pohon budi. Pilih mati menjadi setan, menunggu batu mengharap-harap manusia mengirim sajian dan selamatan.

Kelak meninggalkan mujizat Rahmat memberi kutukan kiamat kepada anak cucunya yang tinggal.

Manusia mati tidak dalam aturan raja yang sifatnya lahiriah.

Sukma pisah dengan budi, jika tekadnya baik akan menerima kemuliaan.

Akan tetapi jika tekadnya buruk akan menerima siksaan.

Coba Paduka pikir kata hamba itu!

Prabu berkata Kembali kepada asalnya, asal Nur bali kepada Nur.

Sabdapalon bertutur Itu pengetahuan manusia yang bingung, hidupnya merugi, tidak punya pengetahuan ingat, belum menghayati buah pengetahuan dan budi, asal satu mendapat satu.

Itu bukan mati yang utama.

Mati yang utama itu sewu satus telung puluh.

Artinya satus itu putus, telu itu tilas, puluh itu pulih, wujud kembali, wujudnya rusak, tetapi yang rusak hanya yang berasal dari ruh idhafi lapisan, bulan surup pasti dari mana asalnya mulai menjadi manusia.

Surup artinya sumurup purwa madya wasana, menepati kedudukan manusia.

Sang Prabu menjawab, Ciptaku menempel pada orang yang lebih.

Sabdopalon berkata, Itu manusia tersesat, seperti kemladeyan menempel di pepohonan besar, tidak punya kemuliaan sendiri hanya numpang.

Itu bukan mati yang utama.

Tapi matinya manusia nista, sukanya hanya menempel, ikut-ikutan, tidak memiliki sendiri, jika diusir kemudian gentayangan menjadi kuntilanak, kemudian menempel kepada awal mulanya lagi.

Sang Prabu berkata lagi, Aku akan kembali kepada yang suwung, kekosongan, ketika aku melum mewujud apa-apa, demikianlah tujuan kematianku kelak.

Itu matinya manusia tidak berguna, tidak punya iman dan ilmu, ketika hidupnya seperti hewan, hanya makan, minum, dan tidur.

Demikian itu hanya bisa gemuk kaya daging.

Penting minum dan kencing saja, hilang makna hidup dalam mati.

Sang Prabu, Aku menunggui tempat kubur, apabila sudah hancur luluh menjadi debu.

Sabdopalon menyambung, Itulah matinya manusia bodoh, menjadi setan kuburan, menunggui daging di kuburan, daging yang sudah luluh menjadi tanah, tidak mengerti berganti ruh idhafi baru. Itulah manusia bodoh, ketahuliah. Terima kasih!

Sang Prabu berkata, Aku akan muksa dengan ragaku.

Sabdopalon tersenyum, Kalau orang Islam terang tidak bisa muksa, tidak mampu meringkas makan badannya, gemuk kebanyakan daging.

Manusia mati muksa itu celaka, karena mati tetapi tidak meninggalkan jasad. Tidak bersyahadat, tidak mati dan tidak hidup, tidak bisa menjadi ruh idhafi baru, hanya menjadi gunungan demit.

Sang Prabu, Aku tidak punya kehendak apa-apa, tidak bisa memilih, terserah Yang Maha Kuasa.

Sabdopalon, Paduka meninggalkan sifat tidak merasa sebagai titah yang terpuji, meninggalkan kewajiban sebagai manusia.

Manusia diwenangkan untuk menolak atau memilih.

Jika sudah menerima akan mati, sudah tidak perlu mencari ilmu kemuliaan mati.

Sang Prabu, Keinginanku kembali ke akhirat, masuk surga menghadap Yang Maha Kuasa.

Sabdopalon berkata, Akhirat, surga, sudah Paduka kemana-mana, dunia manusia itu sudah menguasai alam kecil dalam bear.

Paduka akan pergi ke akhirat mana ?

Apa tidak tersesat ?

Padahal akhirat itu artinya melarat, dimana-mana ada akhirat.

Bila mau hamba ingatkan, jangan sampai Paduka mendapat kemelaratan seperti dalam pengadilan negara. Jika salah menjawabnya tentu dihukum, ditangkap, dipaksa kerja berat dan tanpa menerima upah.

Masuk akhirat Nusa Srenggi. Nusa artinya manusia, sreng artinya berat sekali, enggi artinya kerja.

Jadi maknanya manusia dipaksa bekerja untuk Ratu Nusa Srenggi.

Apa tidak celaka, manusia hidup di dunia demikian tadi, sekeluarganya hanya mendapat beras sekojong tanpa daging, sambal, sayur.

Itu perumpamaan akhirat yang kelihatan nyata.

Jika akhirat manusia mati malah lebih dari itu, Paduka jangan sampai pulang ke akhirat, jangan sampai masuk ke surga, malah tersesat, banyak binatang yang mengganggu, semua tidur berselimut tanah, hidupnya berkerja dengan paksaan, tidak salah dipaksa.

Paduka jangan sampai menghadap Gusti Allah, karena Gusti Allah itu tidak berwujud tidak berbentuk.

Wujudnya hanya asma, meliputi dunia dan akhirat, Paduka belum kenal, kenalnya hanya seperti kenalnya cahaya bintang dan rembulan.

Bertemunya cahaya menyala menjadi satu, tidak pisah tidak kumpul, jauhnya tanpa batasan, dekat tidak bertemu.

Saya tidak tahan dekat apalagi Paduka, Kanjeng Nabi Musa toh tidak tahan melihat Gusti Allah.

Maka Allah tidak kelihatan, hanya Dzatnya yang meliputi semua makhluk. Paduka bibit ruhani, bukan jenis malaikat.

Manusia raganya berasal dari nutfah, menghadap Hyang Lata wal Hujwa. Jika sudah lama, minta yang baru, tidak bolak-balik. Itulah mati hidup.

Orang yang hidup adalah jika nafasnya masih berjalan, hidup yang langgeng, tidak berubah tidak bergeser, yang mati hanya raganya, tidak merasakan kenikmatan, maka bagi manusia Buda, jika raganya sudah tua, sukmanya pun keluar minta ganti yang baik, melebihi yang sudah tua.

Nutfah jangan sampai berubah dari dunianya.

Dunia manusia itu langgeng, tidak berubah-ubah, yang berubah itu tempat rasa dan raga yang berasal dari ruh idhafi.

Prabu Brawijaya itu tidak muda tidak tua, tetapi langgeng berada di tengah dunianya, berjalan tidak berubah dari tempatnya di gua hasrat cipta yang hening.

Bawalah bekalmu, bekal untuk makan raga.

Apapun milik kita akan hilang, berkumpul dan berpisah.

Denyut jantung sebelah kiri adalah rasa, cipta letaknya di langit-langit mulut. Itu akhir pengetahuan.

Pengetahuan manusia beragama Buda. Ruh berjalan lewat langit-langit mulut, berhenti di kerongkongan, keluar lewat kemaluan, hanyut dalam lautan rahmat, kemudian masuk ke gua garbha perempuan. Itulah jatuhnya nikmat di bumi rahmat.

Di situ budi membuat istana baitullah yang mulia, terjadi lewat sabda kun fayakun.

Di tengah rahim ibu itu takdir manusia ditentukan, rizkinya digariskan, umurnya juga dipastikan, tidak bisa dirubah, seperti tertulis dalam Lauh Mahfudz. Keberuntungan dan kematiannya tergantung pada nalar dan pengetahuan, yang kurang ikhtiarnya akan kurang beruntung pula.

 

Awal mula Kiblat empat

Awal mula kiblat empat, yaitu :

1.     Timur (Wetan).

2.     Barat (Kulon).

3.     Selatan(Kidul) dan.

4.     Utara (Lor).

Wetan artinya wiwitan asal manusia mewujud,  kulon artinya bapa kelonan, kidul artinya istri didudul di tengah perutnya, lor artinya lahirnya jabang bayi. Tanggal pertama purnama, tarik sekali tenunan sudah selesai.

Artinya pur : jumbuh, na: ana wujud; ma: madep kepada wujud. Jumbuh itu artinya lengkap, serba ada, menguasai alam besar kecil, tanggal manusia, lahir dari ibunya, bersama dengan saudaranya kakang mbarep (kakak tertua) adi ragil (adik terkecil). Kakang mbarep itu kawah, adi itu ari-ari.

Saudara ghaib yang lahir bersamaan, menjaga hidupnya selama matahari tetap terbit di dunia, berupa cahaya, isinya ingat semuanya. Siang malam jangan khawatir kepada semua rupa, yang ingat semuanya, surup, dan tanggalnya pun sudah jelas, waktu dulu, sekarang atau besok, itu pengetahuan manusia Jawa yang beragama Buddha.

Raga itu diibaratkan perahu, sedangkan sukma adalah orang yang ada di atas perahu tadi, yang menunjukkan tujuannya.

Jika perahunya berjalan salah arah, akhirnya perahu pecah, manusia rebah. Maka harus bertujuan, senyampang perahu masih berjalan, jika tidak bertujuan hidupnya, dan matinya tidak akan bisa sampai tujuan, menepati kemanusiaannya.

Jika perahu rusak maka akan pisah dengan orangnya.

Artinya sukma juga pisah dengan budi, itu namanya syahadat, pisahnya kawula dengan Gusti.

Sah artinya pisah dengan Dzat Tuhan, jika sudah pisah raga dan sukma, budi kemudian berganti baitullah, nafas memuji kepada Gusti.

Jika pisah sukma dan budi, maka manusia harus yang waspada, ingatlah asal-usul manusia, dan wajib meminta kepada Tuhan baitullah yang baru, yang lebih baik dari yang lama.

Raga manusia itu namanya baitullah itu perahu buatan Allah, terjadi dari sabda kun fayakun. Jika perahu manusia Jawa bisa berganti baitullah lagi yang lebih baik, perahu orang Islam hidupnya tinggal rasa, perahunya sudah hancur.

Jika sukma itu mati di alam dunia kosong, tidak ada manusia.

Manusia hidup di dunia dari muda sampai tua.

Meskipun sukma manusia, tetapi jika tekadnya melenceng, matinya tersesat menjadi kuwuk, meskipun sukmanya hewan, tetapi bisa menjelma menjadi manusia.

Ketika Batara Wisnu bertahta di Medang Kasapta, binatang hutan dan makhluk halus dicipta menjadi manusia, menjadi rakyat Sang Raja.

Ketika Eyang Paduka Prabu Palasara bertahta di Gajahoya, binatang hutan dan makhluk halus juga dicipta menjadi manusia.

Maka bau manusia satu dan yang lainnya berbeda-beda, baunya seperti ketika masih menjadi hewan.

Serat Tapak Hyang menyebut Sastrajendra Hayuningrat, terjadi dari sabda kun, dan menyebut jituok artinya hanya puji tok.

Dewa yang membuat cahaya bersinar meliputi badan.

Cahaya artinya incengan aneng cengelmu.

Jiling itu puji eling kepada Gusti.

Punuk artinya panakna.

Timbangan artinya salang.

Pundak itu panduk, hidup di dunia mencari pengetahuan dengan buah kuldi, jika beroleh buah kuldi banyak, beruntungnya kaya daging, apabila beroleh buah pengetahuan banyak, bisa untuk bekal hidup, hidup langgeng yang tidak bisa mati. Tepak artinya tepa-tapa-nira, Walikat, walikaning urip.

Ula-ula, ulatana, laleren gegermu kang nggligir.

Sungsum artinya sungsungen. Labung, waktu Dewa menyambung umur, alam manusia itu sampungan, ingat hidup mati.

Lempeng kiwa tengen artinya tekad yang lahir batin, purwa benar dan salah, baik dan buruk.

Mata artinya lihatlah batin satu, yang lurus kiblatmu, keblat utara benar satu. Tengen artinya tengenen kang terang, di dunia hanya sekedar memakai raga, tidak membuat tidak memakai.

Kiwa artinya, raga iki isi hawa kekajengan, tidak wenang mengukuhi mati. Demikian itu bunyi serat tadi.

Jika Paduka mencela, siapa yang membuat raga?

Siapa yang memberi nama?

Hanya Lata wal Hujwa, jika Paduka mencaci, Paduka tetap kafir, cela mati Paduka, tidak percaya kepada takdir Gusti, dan murtad kepada leluhur Jawa semua, menempel pada besi, kayu batu, menjadi iblis menunggu tanah. Jika Paduka tidak bisa membaca sasmita yang ada di badan manusia, mati Paduka tersesat seperti kuwuk.

Adapun jika bisa membaca sasmita yang ada pada raga tadi, dari manusia menjadi manusia.

Disebut dalam Serat Anbiya, Kanjeng Nabi Musa waktu dahulu manusia yang mati di kubur, kemudian bangun lagi, hidupnya ganti ruh baru, ganti tempat baru.

 

Tuhan yang Sejati

Jika Paduka memeluk agama Islam, manusia Jawa tentu kemudian Islam semua. Badan halus hamba sudah tercakup dan manunggal menjadi tunggal, lahir batin, jadi tinggal kehendak hamba saja.

Adam atau wujud bisa sama, jika saya ingin mewujud, itulah wujud hamba, kehendak Adam, bisa hilang seketika.

Bisa mewujud dan bisa menghilang seketika.

Raga hamba itu sifat Dewa, badan hamba seluruhnya punya nama sendiri-sendiri.

Coba Paduka tunjuk, badan Sabdapalon. Semua sudah jelas, jelas sampai tidak kelihatan Sabdopalon, tinggal asma meliputi badan, tidak muda tidak tua, tidak mati tidak hidup.

Hidupnya meliputi dalam matinya.

Adapun matinya meliputi dalam hidupnya, langgeng selamanya.

Sang Prabu bertanya, Di mana Tuhan yang Sejati?

Sabdopalon berkata,  Tidak jauh tidak dekat, Paduka bayangannya. Paduka wujud sifat suksma. Sejati tunggal budi, hawa, dan badan.

Tiga-tiganya itu satu, tidak terpisah, tetapi juga tidak berkumpul. Paduka itu raja mulia tenti tidak akan khilaf kepada kata-kata hamba ini.

Apa kamu tidak mau masuk agama Islam? tanya Prabu

Sabdopalon berkata dengan sedih, Ikut agama lama, kepada agama baru tidak!Kenapa Paduka berganti agama tidak bertanya hamba?

Apakah Paduka lupa nama hamba, Sabdapalon? Sabda artinya kata-kata, Palon kayu pengancing kandang.

Naya artinya pandangan, Genggong artinya langgeng tidak berubah. Jadi bicara hamba itu, bisa untuk pedoman orang tanah Jawa, langgeng selamanya.

Bagaimana ini, aku sudah terlanjur masuk agama Islam, sudah disaksikan Sahid, aku tidak boleh kembali kepada agama Buddha lagi, aku malu apabila ditertawakan bumi langit.

Iya sudah, silahkan Paduka jalani sendiri, hamba tidak ikut-ikutan.

Sunan Kalijaga kemudian berkata kepada Sang Prabu, yang isinya jangan memikirkan yang tidak-tidak, karena agama Islam itu sangat mulia.

Ia akan menciptakan air yang di sumber sebagai bukti, lihat bagaimana baunya.

Jika air tadi bisa berbau wangi, itu pertanda bahwa Sang Prabu sudah mantap kepada agama Rasul, tetapi apabila baunya tidak wangi, itu pertanda jika Sang Prabu masih berpikir Buddha.

Sunan Kalijaga kemudian mengheningkan cipta. Seketika air sumber menjadi berbau wangi. Sunan Kalijaga berkata kepada Sang Prabu, seperti yang sudah dikatakan, bahwa Sang Prabu nyata sudah mantap kepada agama Rasul, karena air sumber baunya wangi.

Sabdopalon berkata kepada Sang Prabu, Itu kesaktian apa?

Kesaktian kencinghamba kemarin sore dipamerkan kepada hamba. Seperti anak-anak, jika hamba melawan kencing hamba sendiri.

Paduka dijerumuskan, hendak menjadi jawan, suka menurut ikut-ikutan, tanpa guna hamba asuh.

Hamba wirang kepada bumi langit, malu mengasuh manusia tolol, hamba hendak mencari asuhan yang satu mata.

Hamba menyesal telah mengasuh Paduka.

Jika hamba mau mengeluarkan kesaktian, air kencing hamba, kentut sekali saja, sudah wangi, Jika paduka tidak percaya, yang disebut pedoman Jawa, yang bernama Manik Maya itu hamba, yang membuat kawah air panas di atas Gunung Mahameru itu semua hamba, Adikku Batara Guru hanya mengizinkan saja.

Pada waktu dahulu tanah Jawa gonjang-ganjing, besarnya api di bawah tanah.

Gunung-gunung hamba kentuti.

Puncaknya pun kemudian berlubang, apinya banyak yang keluar, maka tanah Jawa kemudian tidak bergoyang, maka gunung-gunung tinggi puncaknya, keluar apinya serta ada kawahnya, berisi air panas dan air tawar.

Itu hamba yang membuat.

Semua tadi atas kehendak Lata wal Hujwa, yang membuat bumi dan langit. Apa cacadnya agama Buddha, manusia bisa memohon sendiri kepada Yang Maha Kuasa.

Sungguh jika sudah berganti agama Islam, meninggalkan agama Buddha, keturunan Paduka akan celaka, Jawa tinggal Jawan, artinya hilang, suka ikut bangsa lain. Besok tentu diperintah oleh orang Jawa yang mengerti.

Coba Paduka saksikan, bulan depan bulan tidak kelihatan, biji mati tidak tumbuh, ditolak oleh Dewa.

Walaupun tumbuh kecil saja, hanya untuk makanan burung, padi seperti kerikil, karena paduka yang salah, suka menyembah batu.

Paduka saksikan besok tanah Jawa berubah udaranya, tambah panas jarang hujan. Berkurang hasil bumi, banyak manusia suka menipu.

Berani bertindak nista dan suka bersumpah, hujan salah musim, membuat bingung para petani.

Sejak hari ini hujan sudah berkurang, sebagai hukuman banyak manusia berganti agama.

Besok apabila sudah bertaubat, ingat kepada agama Buddha lagi, dan kembali mau makan buah pengetahuan, Dewa kemudian memaafkan, hujan kembali seperti jaman Buddha.

Sang Prabu mendengar kata-kata Sabdapalon dalam batin merasa sangat menyesal karena telah memeluk agama Islam dan meninggalkan agama Buddha, Lama beliau tidak berkata.

Kemudian ia menjelaskan bahwa masuknya agama Islam itu karena terpikat kata putri Cempa, yang mengatakan bahwa orang agama Islam itu kelak apabila mati, masuk surga yang melebihi surganya orang kafir.

Sabdapalon berkata sambil meludah, Sejak jaman kuno, bila laki-laki menurut perempuan, pasti sengsara, karena perempuan itu utamanya untuk wadah, tidak berwewenang memulai kehendak. Sabdapalon banyak-banyak mencaci Sang Prabu.

Kamu cela sudah tanpa guna, karena sudah terlanjur, sekarang hanya kamu kutanya, masihkah tetapkah tekadmu?

Aku masuk agama Islam, sudah disaksikan oleh si Sahid, sudah tidak bisa kembali kepada Buddha lagi.

Sabdapalon berkata bahwa dirinya akan memisahkan diri dengan beliau.

Ketika ditanya perginya akan ke mana?

Ia menjawab tidak pergi, tetapi tidak berada di situ, hanya menepati yang namanya Semar, artinya meliputi sekalian wujud, anglela kalingan padang.

Sang Prabu bersumpah, besok apabila ada orang Jawa tua, berpengetahuan, yaitulah yang akan diasuh Sabdapalon.

Orang Jawa akan diajari tahu benar salah.

Sang Prabu hendak merangkul Sabdapalon dan Nayagenggong, tetapi kedua orang tersebut musnah.

Sang Prabu kemudian menyesal dan meneteskan air mata.

Kemudian berkata kepada Sunan Kalijaga, Besok Negara Blambangan gantilah nama dengan Negara Banyuwangi agar menjadi pertanda kembalinya Sabdapalon ke tanah Jawa membawa asuhannya.

Adapun kini Sabdopalon masih dalam alam Ghaib.

 

SERAT DARMOGANDUL

Carita adege nagara Islam ing Demak bedhahe nagara Majapahit kang salugune wiwite wong Jawa ninggal agama Buddha banjur salin agama Islam.

Serat Darmagandul merupakan kitab yang cukup dikenal dalam kesusasteraan Jawa. Tidak sedikit yang menggunakannya sebagai bahan studi sejarah, terutama terkait keruntuhan Majapahit.

Serat Darmogandul merupakan serat yang berisi cerita tentang dialog antara tokoh-tokoh pada jaman dulu kala di Indonesia.

Dalam serat ini pula didapatkan cerita berubahnya keyakinan Prabu Brawijaya dari agama Buddha beralih ke agama Islam.

Akan tetapi karena serat Darmogandul dinilai banyak pihak sebagai naskah yang bermuatan penghinaan terhadap Islam, maka serat tersebut dilarang beredar.

Tapi kini kita bisa menemukan serat Darmogandul di banyak blog baik dalam naskah berbahasa jawa, maupun terjemahannya.

Untuk terjemahan Darmogandul bisa dilihat di indo forum atau disini.

Serat Darmagandul merupakan kitab kontroversial yang mengambil ide cerita dari Serat Babad Kadhiri.

Meskipun merupakan hasil plagiasi dari Babad Kadhiri, namun Serat Darmagandul tampaknya ditulis berdasarkan motif tertentu yaitu keberpihakan pengarangnya terhadap pemerintah kolonialis Belanda dan kecenderungan terhadap keberadaan misi Kristen di tanah Jawa.

Unsur Kristen dalam Serat ini boleh dikatakan dominan dengan menggunakan simbolisasi wit katvruh dan berbagai cerita yang berasal dari Bibel.

Serat Babad Kadhiri ditulis berdasarkan perintah Belanda.

Sedangkan serat Darmagandul menunjukkan wujud apresiasi yang baik terhadap Belanda, bukan dalam pandangan sebagai musuh atau penjajah namun justru sebagai kawan.

Mengingat pengarang Darmagandul tidak jelas identitasnya, maka kemiripannya dengan Babad Kadhiri ini jelas menimbulkan sebuah pertanyaan besar.

Dapat diduga bahwa Babad Kadhiri yang ditulis atas perintah dari Belanda, kemudian dimanfaatkan untuk membuat Serat Darmagandul dengan tujuan memarginalkan ajaran Islam dan sekaligus memanipulasi sejarah Islam.

Secara umum buku Darmagandul banyak memiliki kesalahan data dalam mengungkapkan fakta sejarah.

Oleh karena itu sulit dipastikan bahwa buku tersebut benar-benar ditulis pada masa peralihan antara keruntuhan Majapahit dan berdirinya Demak.

Bukti lebih kuat justru menekankan bahwa buku tersebut di tulis di era belakangan pasca penjajahan bangsa Eropa di Bumi Nusantara.

Oleh karena itu cerita sejarah dalam serat tersebut boleh diabaikan dari kedudukannya sebagai sebuah fakta.

Buku Darmagandul merupakan tulisan yang sebagian besar mengisahkan tentang keruntuhan kerajaan Majapahit dan berdirinya kesultanan Demak. Dalam versi Darmagandul Majapahit runtuh akibat serangan dari Adipati Demak yang bernama Raden Patah.

Sebenarnya Raden Patah masih merupakan putra Prabu Brawijaya, raja Majapahit terakhir, dengan seorang putri dari China. Namun, menurut buku Darmagandul, para ulama yang dipimpin sunan Giri dan Sunan Benang (Bonang) yang tergabung dalam majlis dakwah wali sanga, memprovokasi Raden Patah agar merebut tahta kerajaan dari ayahnya yang masih memeluk agama Hindu Budha, karena memeluk agama Budha.

Bujukan para wali berhasil, sehingga pada akhirnya Majapahit dapat dibumi hanguskan dan Prabu Brawijaya berhasil meloloskan diri.

Buku darmagandul juga mengupas tentang budi buruk para ulama yang oleh Prabu Brawijaya diberi kebebasan untuk berdakwah diwilayah Majapahit, namun pada saat Islam telah menjadi besar mereka berbalik melawan Majapahit dan melupakan budi baik sang raja Brawijaya.

Hal ini ditunjukkan dengan ekspresi penulis Darmagandul ketika mengartikan wali adalah walikan (kebalikan).

Artinya diberi kebaikan namun membalas dengan keburukan.

 

Darmogandul.

Di telinga orang Jawa pun hal itu terdengar lucu. Tapi buku ini, Serat Darmogandul, memang dimaksud sebagai ejekan yang lucu, yang dikaitkan dengan hal-hal porno.

Judul buku fiksi yang mengisahkan masuknya Islam ke Jawa dan runtuhnya Kerajaan Majapahit ini juga menimbulkan gambaran yang tak jauh dari (maa kelamin pria. Pada 1920-an, Darmogandul pernah diprotes masyarakat Islam dan Cina ketika pertama kali dimuat dalam sebuah almanak.

Darmogandul, yang ditulis dalam bahasa Jawa dan dalam bentuk sekar atau puisi Jawa itu, memang mencemooh orang Cina, orang Arab, dan menyerang Islam.

Siapa pengarang Darmogandul, tak jelas.

Pada terbitan Dahara Prize memang disebutkan namanya: Ki Kalamwadi.

Tapi ini nama samaran (kalam adalah pena, wadi berarti rahasia: penulis yang merahasiakan namanya).

Pengarang yang sesungguhnya mungkin Raden Budi Sukardi, yang beberapa kali disebut oleh Ki Kalamwadi (pencerita dalam buku itu) sebagai guru yang dapat dipercaya.

Beberapa ahli juga tak berhasil menemukan nama dan identitas pengarangnya.

Menurut M. Hari Soewarno dalam Serat Darmogandul dan Suluk Gatoloco tentang Islam, pengarangnya adalah Ronggowarsito (1802-1873), sastrawan Jawa terkenal dari Keraton Surakarta.

Menurut Simuh, dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Yogya, buku itu ditulis pada zaman Kerajaan Surakarta antara tahun 1755 dan 1881.

Tapi doktor yang disertasinya mengenai karya Ronggowarsito Wirid Hidayat Jati itu tidak tahu persis siapa penulisnya.

Dalam pada itu, menurut Prof. Dr. G.W.J. Drewes, dalam The Struggle between Javanism and Islam as Illustrated by the Serat Dermogandul dan Javanese Poems Dealing with or Attributed to the Saint of Bonang, buku itu karangan seorang bangsawan tinggi di Kediri, dan bersumber dari Babad Kediri yang ditulis sekitar 1873.

Sementara itu, menurut Prof. Dr. H.M. Rasjidi, dalam Islam dan Kebatinan, pengarang Darmogandul adalah Pangeran Suryonegoro, putra Hamengku Buwono VII. Menteri Agama RI yang pertama itu yakin bahwa Darmogandul ditulis pada zaman penjajahan Belanda, terbukti dari adanya beberapa kata Belanda seperti kelah (klacht) dan puisi.

Sebelum Dahara Prize menerbitkannya, pada tahun 1954 (sekitar tiga puluh tahun setelah heboh), penerbit buku-buku Jawa di Kediri yang ketika itu sangat terkenal, Tan Koen Swie, sudah menerbitkannya sebagai cetakan kedua.

Sampai kini, buku itu hanya dikenal kalangan terbatas: generasi tua dan para ilmuwan yang khusus mempelajari literatur Jawa yang berkaitan dengan paham kebatinan.

Darmogandul memang pernah jadi salah satu acuan para penganut kepercayaan. Tapi, menurut tokoh kejawen almarhum Mr. Wongsonagoro, Darmogandul kemudian tidak menjadi pedoman para penghayat Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Isi Darmogandul sebenarnya mengenai penyebaran Islam di Jawa (dari kawasan pesisir utara) dan runtuhnya Kerajaan Majapahit (di pedalaman), yang dituturkan secara fiktif.

Paham keagamaan di dalamnya merupakan cerminan perbenturan nilai setelah datangnya agama baru, juga antara kerajaan pesisir yang Islam dengan kerajaan pedalaman yang masih Budha-Hindu.

Orang Jawa, ketika itu, hanya menerima nilai-nilai Islam yang rada-rada cocok dengan paham lama lalu mencampur-adukkannya yang belakangan melahirkan paham kepercayaan yang sinkretis.

Yang mengundang keresahan masyarakat Islam ialah penyajian pikiran pikiran tentang seks dalam buku itu, yang dipakai sebagai usaha untuk meletakkan penafsiran materi ajaran Islam pada kedudukan pornografis yang tidak lepas dari kerangka pertentangan politik dan budaya antara kedua kerajaan itu, antara Jawa dan Islam.

Semangat anti-Islam muncul akibat trauma keruntuhan Majapahit yang diserang oleh Raden Patah, putra raja Majapahit Brawijaya V sendiri yang sebelumnya diangkat sebagai adipati di Demak.

Raden Patah dinilai sebagai anak durhaka, apalagi ia sebenarnya bukan Jawa asli tapi lahir dari rahim ibundanya yang berdarah Cina (tepatnya: Campa,Kamboja).

Sampai sekarang kambing hitam keruntuhan Majapahit adalah Raden Patah.

Padahal, menurut Tardjan Hadidjaja dan Kamajaya dalam Serat Centhini Dituturkan dalam Bahasa Indonesia Jilid I-A, sesungguhnya Raden Patah hanyalah merebut kekuasaan Girindrawardhana, yang sebelumnya telah lebih dahulu memporak-porandakan Majapahit dari dalam.

Darmogandul juga melukiskan, meski Brawijaya V akhirnya dibaiat sebagai muslim oleh Sunan Kalijaga secara lahir batin, banyak rakyat dipaksa masuk Islam. Ini tentu penilaian sepihak, sebab para wali di Jawa selama ini dikenal sebagai penyebar Islam yang akulturatif.

Seperti digambarkan oleh Dojosantosa dalam buku Unsur Religius dalam Sastra Jawa, meski agama Budha dan Hindu sudah berakar berabad-abad, orang Jawa menerima Islam dengan senang hati untuk memperkaya peradaban. Gara-gara protes masyarakat Islam, menurut Anung Tejo Wirawan, dosen sastra Jawa UGM yang meneliti Darmogandul, buku yang kontroversial ini beberapa kali disunat oleh penerbitnya.

Pada terbitan Dahara Prize kali ini, misalnya, pendapat bahwa babi dan anjing lebih baik dari kambing curian sudah dihapus. Begitu pula cara penghinaan dengan gaya jarwodosok terhadap Quran. Jarwodosok atau plesedan adalah gaya bahasa dalam penulisan sastra maupun dalam bahasa lisan para pelawak Jawa, dengan mencari persamaan bunyi yang cenderung lucu dan porno.

Dalam Darmogandul (edisi lama), misalnya, disebut syari’at atau sarengat diartikan kalau sare (tidur) anunya njengat (ereksi).

Beberapa kata dalam surah al-Baqarah juga dipeleset-pelesetkan. Misalnya, huda dalam huda lilmuttaqien diartikan wuda alias telanjang.

Dan banyak lagi. Dalam penelitian itu Anung menemukan, hanya 10% isi buku itu yang menghina Islam atau porno.

Sementara itu, menurut dosen sastra Jawa UGM yang lain, Dr. Kuntara Wiryamartana, Darmogandul bukanlah sastra Jawa yang punya arus yang kuat. Karena itu, beberapa ilmuwan, termasuk Simuh, kurang setuju buku itu dilarang beredar.

Kalaupun diedarkan secara luas, penerbit hendaknya memberikan pengantar dan catatan, sehingga pembaca mengerti duduk soalnya, katanya Namun, bagi A.R. Fachruddin, ketua PP Muhammadiyah, betapapun yang 10% itu tetap berarti penghinaan.

Mengapa Dahara Prize berani menerbitkannya?

Karena masyarakat kita sudah maju, dan saya yakin umat Islam tidak tersinggung membaca Darmogandul, yang hanya merupakan imajinasi pengarang itu, ujar Deradjat Harahap, direktur Dahara Prize.

Dalam kata pengantar buku itu, pembaca memang diimbau oleh penerjemah (yang tidak menyebutkan namanya) agar kritis, sehingga tidak gampang terpengaruh oleh isi buku ini.

Prof. HM Rasjidi, Menteri Agama Pertama RI, juga pernah menulis dan menerjemahkan Darmogandul yang banyak memuat pelecehan terhadap Islam. Dalam salah satu bait Pangkur-nya serat ini menulis “Akan tetapi bangsa Islam, jika diperlakukan dengan baik, mereka membalas jahat. Ini adalah sesuai dengan zikir mereka. Mereka menyebut nama Allah, memang Ala (jahat) hati orang Islam. Mereka halus dalam lahirnya saja, dalam hakekatnya mereka itu terasa pahit dan masin.

Ada lagi ungkapan dalam serat ini Adapun orang yang menyebut nama Muhammad, Rasulullah, nabi terakhir.

Ia sesungguhnya melakukan zikir salah. Muhammad artinya Makam atau kubur.

Ra-su-lu-lah, artinya rasa yang salah.

Oleh karena itu ia itu orang gila, pagi sore berteriak-teriak, dadanya ditekan dengan tangannya, berbisik-bisik, kepala ditaruh di tanah berkali-kali.

Semua makanan dicela, umpamanya masakan cacing, dendeng kucing, pindang kera, opor monyet, masakan ular sawah, sate rase (seperti luwak), masakan anak anjing, panggang babi atau rusa, kodok dan tikus goreng.

Makanan lintah yang belum dimasak, makanan usus anjing kebiri, kare kucing besar, bistik gembluk (babi hutan), semua itu dikatakan haram.

Lebih-lebih jika mereka melihat anjing, mereka pura-pura dirinya terlalu bersih.

Saya mengira, hal yang menyebabkan santri sangat benci kepada anjing, tidak sudi memegang badannya atau memakan dagingnya, adalah karena ia suka bersetubuh dengan anjing di waktu malam.

Baginya ini adalah halal walaupun dengan tidak pakai nikah.

Inilah sebabnya mereka tidak mau makan dagingnya.

Kalau bersetubuh dengan manusia tetapi tidak dengan pengesahan hakim, tindakannya dinamakan makruh.

Tetapi kalau partnernya seekor anjing, tentu perkataan najis itu tidak ada lagi.

Sebab kemanakah untuk mengesahkan perkawinan dengan anjing?.

Mencermati bahwa Babad Kadhiri merupakan produk dari proyek penjajah, maka tidak menutup kemungkinan bahwa Serat Darmagandul adalah kelanjutan langkah Belanda dalam menjinakkan perlawanan Islam. Pada sekitar 1900-an politik Belanda banyak diarahkan untuk mengantisipasi kekuatan Islam yang dianggap berbahaya bagi pemerintah kolonial (Steenbrink, 1984:241-242). Kebijakannya dilakukan dengan kristenisasi dan pemunculan apa yang disebut sebagai kaum adat (Benda, 1980:40-46). Kebijakan politik Belanda pasca 1850-an bukan sekedar bermotif ekonomi, beberapa kasus menunjukkan bahwa imperialisme Belanda adalah manifestasi idealisme yang bersifat politik dan agama (Kartodirdjo,1999:4-5).

Antara misi Kristen dengan penjajahan Belanda memang satu paket. Dan untuk melakukan pelemahan terhadap Islam yang saat itu begitu gigih melakukan perlawanan terhadap kolonialisme, menghasut dengan membuat cerita-cerita negatif dan melecehkan adalah salah satu cara yang mereka gunakan. Tak tertutup kemungkinan, mereka melakukan politik pecah belah, memukul dengan menggunakan tangan kelompok kebatinan, yang memang sudah dari dulu menyimpan dendam dengan umat Islam akibat jatuhnya Mojopahit ke tangan kerajaan Demak.

 

Sekilas Serat Darmogandul

Serat Darmogandul adalah salah satu karya Jawa baru yang kontroversial. Bersama Suluk Gatoloco dan Babad Kadhiri, Serat Darmogandul dipandang sebagai karya anti Islam.  Kebetulan ketiganya muncul dari wilayah Kediri, pada peralihan abad ke-20. Wisnu, Alrianingrum dan Artono (2017) mencatat bahwa Serat Darmogandul diterbitkan oleh penerbit Tan Khoen Swie tahun 1922, namun penulisannya diduga tahun 1908 Masehi.

Mereka melihat kesamaan Serat Darmogandul dengan Babad Kadhiri sehingga menduga bahwa Serat Darmogandul adalah plagiasi atas Babad Kadhiri. Sebaliknya, dalam catatan belakang Babad Kadhiri, Mangunwijaya berpendapat bahwa Babad Kadhiri bersama dengan Serat Kalamwadi (Darmogandul) adalah cerita pedhalangan yang berakar kepada karya-karya semacam Pustaka Raja, Babad Tanah Jawi dan Babad Demak. Babad Kadhiri ditulis Mas Ngabehi Purbawijaya (Jaksa Agung Kota Kediri) dan diselesaian oleh Mas Ngabehi Mangunwijaya dari Wanagiri. Cetakan kedua Babad Kediri dicetak oleh Tan Khoen Swie pada tahun 1932. Sementara itu, Serat Darmogandul tidak jelas siapa penulisnya. Bagian awal Serat Darmogandul memang mirip bagian awal Babad Tanah Jawi atau Pustaka Raja. Bagian pertemuan antara Sunan Bonang dan Butha Locaya serta bagian bedhah (runtuhnya) Majapahit menunjukkan kesamaan dengan bagian akhir Babad Kedhiri.

Percakapan Prabu Brawijaya dan Sabdo Palon menunjukkan kesamaan dengan Ramalan Sabdo Palon dan Naya Genggong, namun percakapan teologis dan tentang agama berbeda.

Ada pun percakapan antara Istri Sunan Ampel dengan Raden Patah sangat mungkin adalah kreasi penulis Serat Darmogandul.

Penulis Darmogandul tampak cukup familier dengan karya-karya Jawa, yang tampak pada acuannya di dalam narasi kepada Serat Ambiya dan Serat Manik Maya. Serat Darmogandul yang menjadi acuan tulisan ini adalah Darmogandul terbitan Tan Khoen Swie Kediri tahun 1957. Di halaman sampul diterangkan bahwa Darmogandul menceritakan ringkasan sejarah jatuhnya Kraton Majapahit, dengan perbandingan Serat Walisana.  

Versi berbahasa Indonesia diterjemahkan oleh Purwadi dengan judul: Ramalan Gaib Sabdo Palon dan Naya Genggong. Versi ini langsung dimulai dengan pertanyaan Darmogandul  kepada Kyai Kalamwadi tentang bagaimana orang Jawa berubah menjadi muslim. Bagian awal tentang asal usul raja dan berbagai keyakinan tidak dimasukkan dalam versi terjemahnya. Sementara itu, Damar Sashangka, seorang penulis tentang kebatinan Jawa, membuat terjemahan dan ulasan atas Serat Darmogandul berdasarkan Babon (Induk) peninggalan K.RT. Tandhsnegara Surkarta dengan penjelasan bahwa serat tersebut berisi kisah mengenai berdirinya Kerajaan Islam Demak, runtuhnya Majapahit dan awal mula orang Buda (sebutan bagi pemeluk agama India pra-Islam di Jawa) masuk Islam. Keberadaan naskah Darmogandul di lingkaran priyayi bukan hal aneh. Ricklefs menyebut bahwa Serat tersebut diajarkan di sekolah-sekolah priyayi di Probolinggo, Magelang dan Bandung pada tahun 1879-1880.

 

Isi Serat Darmogandul

Serat Darmogandul berisi percakapan Ki Kalamwadi dan Ki Darmogandul. Ki Kalamwadi bercerita berdasarkan tuturan gurunya, yaitu Raden Budi Sukardi. Tuturan itu disebut tanpa ada sumber tertulis yang menjadi dasar.

Serat Darmogandul versi terjemah mulai dengan pertanyaan mengapa orang Jawa berubah agama menjadi pemeluk Islam.

Bagian ini mirip dengan bagian akhir Babad Kadhiri. Kisah dimulai dengan perjalan Sunan Bonang dan muridnya untuk mengunjungi Kediri.

Di Kertosono,  sudah tiba waktu shalat ashar dan juga mereka haus. Sungai kebetulan banjir sehingga airnya kotor Sunan Bonang menyuruh muridnya untuk meminta air bersih pada warga.

Si murid bertemu seorang gadis dan minta simpanan air bersih.

Si gadis mengira si santri menggodanya dan menjawab kasar bahwa air simpanan yang ada air kencing.

Mendengar laporan muridnya Sunan Bonang marah sehingga memindahkan aliran sungai dan mengutuk remaja desa setempat akan sulit menikah. Pemindahan sungai oleh Sunan Bonang ini didengar ratu makhluk halus, Nyai Plencing.

Nyai Plencing ingin mengingatkan Sunan Bonang, tetapi tidak kuat karena merasa panas. Akhirnya ia meminta bantuan Butha Locaya, makhluk halus mantan patih Raja Jayabaya. Butha Locaya mengingatkan kutukan Sunan Bonang yang berlebihan. Sunan Bonang tidak peduli dan melanjutkan perjalanan. Ia bertemu patung kuda yang kemudian ia hancurkan dan bertemu patung lain yang ia potong kepalanya. Konon, patung Totok Kerot di dekat Pagu Menang tangannya patah karena perbuatan Sunan Bonang, meski menurut versi masyarakat patahnya tangan Totok Kerot karena usaha pemindahan masa modern ini. Butha Locaya marah.

Ia mengingatkan agar Sunan Bonang menjaga perilakunya dan tidak merusak. Masyarakat Jawa meski lebih banyak penganut agama Kalang dibandingkan agama India adalah penganut Agama Budi yang memperhatikan sopan santun. Ia menuduh ulama-ulama bangsa Arab suka mengambil air tanah Jawa dan menyuruh Sunan Bonang pun pergi.

Berita kejadian di Kertasana didengar Prabu Brawijaya.

Ia memerintahkan mencari Sunan Bonang tapi tidak ketemu sehingga memerintahkan pengusiran orang Arab kecuali di Demak dan Ampel.

Daerah Giri yang tiga tahun tidak mau menghadap dicurigai hendak memberontak juga sehingga diserang tentara Majalengka / Majapahit sehingga Giri kalah, meskipun sudah dibantu para pendekar Tionghoa.

Sunan Bonang, yang merasa bersalah, bersama Sunan Giri menghadap ke Demak. Sunan Bonang menyampaikan penglihatan gaibnya bahwa Majapahit sudah waktunya hancur. Awalnya Raden Patah keberatan untuk melawan ayahnya.

Namun, atas bujukan Sunan Bonang dan Sunan Giri, Adipati Demak itu bersedia menyerang Majapahit. Ia menyurati Adipati Terung, saudaranya yang menjadi panglima di Majapahit untuk membantunya.

Adipati Terung setuju. 

Prabu Brawijaya terkejut mendengar laporan bahwa anaknya bersama para Sunan dan Bupati Pantura menyerang Majapahit.

Ia menyesal telah terpikat bujukan Ratu Campa dan mengijinkan para ulama menyebarkan Islam dan mengutuk mereka.

Prabu Brawijaya memilih untuk meninggalkan kraton dan memerintahkan untuk menghadapi pasukan Demak sekedarnya.

Konon hanya 3000 pasukan Majapahit yang menghadapi 30.000 pasukan Demak.

Hanya Patih Nayaka dan Lembu Pangarsa (anak Brawijaya) yang mempertahankan kraton, berhadapan dengan Sunan Kudus, Sunan Ngudung, dan Patih Demak.

Alkisah setelah tewasnya patih Majapahit, para Sunan masuk dan menjarah istana. Putri Cempa dipindahkan ke Bonang.

Adipati Terung membakar buku-buku Budha. Orang-orang Majapahit yang tidak mau takluk mengungsi ke gunung. Setelah tiga hari, Sultan Demak menghadap ke Ampel bersama para Sunan dan Bupati untuk minta restu. Ia bertemu isteri Sunan Ampel, yang masih putri Bupati Tuban.

Raden Patah dimarahi habis-habisan atas perilaku tidak terpujinya, sebagai anak yang tidak tahu balas budi.

Raden Patah menyesal tapi semua sudah terjadi.

Raden Patah diminta untuk mencari ayahnya, Prabu Brawijaya.

Pangeran Jimbun menghadap Sunan Bonang.

Sunan Bonang memintanya untuk tidak memikirkan perkataan Nyai Ampel dan sebaiknya menyelesaikan penaklukan Majapahit.

Pangeran Jimbun disarankan untuk meminta ampun jika Raja Brawijaya pulang, tapi jangan sampai Raja bertahta lagi.

Nasehat Sunan Bonang didukung Sunan Giri.

Sunan Kalijaga yang diutus menemui Raja.

Ia menemukan Raja di Blambangan, bersama abdinya Sabdo Palon dan Naya Genggong.

Sunan Kalijaga mencegah niat Raja untuk menyeberang ke Bali dan memobilisasi kekuatan.

Sunan Kalijaga mengingatkan bahwa peperangan lanjutan akan mengakibatkan korban rakyat dan keturunan Raja sendiri.

Raja bahkan bersedia masuk Islam. 

Setelah masuk Islam, Sabdo Palon dan Naya Genggong menolak ikut Raja kembali ke Majapahit.

Sabdo Palon menegur tindakan Raja yang meninggalkan agama Budi.

Setelah berdebat dengan Raja, Sabdo Palon meninggalkan Raja.

Raja kembali ke Majapahit dan ditemui anaknya dari Tarub, Bondan Kejawan. Ia melarang putranya di Ponorogo dan Pengging untuk melawan.

Pangeran Jimbun diperkenankan menjadi penguasa hanya berhenti sampai keturunan ketiga. Setelah itu Raja Brawijaya meninggal. 

Serat Darmogandul ditutup dengan ringkasan peristiwa jatuhnya Majapahit yang disamarkan dalam pasemon (kisah ibarat) saja.

Di antara ibarat iru adalah bahwa keris Sunan Giri mengeluarkan ribuan tawon yang menyerang tentara Majapahit dan mahkota Sunan Gunung Jati mengeluarkan tikus yang menggerogoti pelana kuda pasukan Majapahit. Sementara itu, peti dari Palembang membuat orang Majapahit geger karena mengeluarkan makhluk halus.

Setelah menyinggung agama Srani/ Nasrani dan kitab Manik Maya, Serat Darmogandul ditutup dengan nasehat kepada Endang Perjiwati. Serat Darmogandul dalam Tinjauan Akademis Beberapa waktu lalu, ada video beredar di WA yang berisi seorang gadis bercerita tentang peristiwa jatuhnya Majapahit. Ia menggambarkan jatuhnya Majapahit sebagai peristiwa duka, saat 3000 orang Majapahit harus menghadapi 30.000 orang Demak.

Singkat kata Sultan Demak, Pangeran Jimbun menjadi sosok antagonis.

Sumber cerita itu bisa ditebak dari Serat Darmogandul.

Serat Darmogandul mampu memantik emosi tentang  kejatuhan Majapahit dan derita Raja Brawijaya yang sudah sepuh, terusir dari istana karena ulah anaknya.

Secara umum, Majapahit memang jatuh di tangan Demak.

Hal demikian wajar dalam dunia kerajaan, di mana satu kerajaan jatuh digantikan lainnya. Seperti Kerajaan Kediri jatuh di tangan Singosari, Singosari dikalahkan Kediri lagi.

Akhirnya kerajaan Kediri dikalahkan Majapahit.

Pertikaian yang melibatkan Kediri versus Singasari dan kemudian melahirkan Majapahit, menurut Pramoedya Ananta Toer dalam Arok-Dedes, tidak lepas dari dukungan tokoh agama yang beda aliran, antara pemuja Siwa dan pemuja Wisnu. Majapahit sendiri besar karena menyerang dan menaklukkan kerajaan-kerajaan lain yang kemudian penaklukkan itu dipuji sebagai upaya mempersatukan Nusantara.

Kerajaan Demak pun eksis setelah Majapahit runtuh, meski orang berbeda pendapat apakah runtuhnya Majapahit karena serangan Demak atau karena pertikaian internal Majapahit yang diakhiri oleh Demak dengan mengalahkan sisa kekuasaan Majapahit di Kediri (Lihat Guillot dan Kalus, 2008).

Berdirinya Demak dan runtuhnya Majapahit tidak terjadi dalam proses singkat. Demak sudah eksis pada tahun 1478, namun sisa  Majapahit di Kediri dikalahkan Demak tahun 1527 Masehi. Slamet Muljana menyebut bahwa Raja Majapahit terakhir, Prabu Kertabhumi yang berkuasa tahun 1474-1478.

Raja ini dikalahkan Demak lalu ditawan dengan hormat di Demak. Kota Majapahit tidak dihancurkan tapi diperintah oleh orang Tionghoa Noo Lay Wa sampai tahun 1486 dan digantikan oleh Girindrawardhana, menantu Kertabhumi, yang berkuasa di Majapahit, Dhaha dan Jenggala.

Namun Girindrawardhana kemudian membuat persekutuan dengan Portugis dan Tiongkok sehingga diserang Demak hingga Majapahit runtuh tahun 1527 Masehi.

Namun, Tome Pires dalam kunjungannya ke Tuban tahun 1513 bertemu dengan pejabat Tuban dan mendengar kisah kehebatan Patih Majapahit dengan 200 ribu tentara. Informasi tersebut menyangkut beberapa kali konflik bersenjata antara Majapahit dengan penguasa-penguasa muslim di Pantura tanpa spesifik menyebut Demak. Pada tahun 1513, pasukan Majapahit masih mampu mengalahkan Juwana, sebagai salah satu kekuatan lokal selain Demak.

De Graaf juga melihat bahwa penaklukan atas Majapahit tahun 1927 tidak hanya dilakukan oleh Demak, tetapi oleh para penguasa muslim lokal dengan komandan penghulu Masjid Demak ke-4 dan dilanjut Penghulu ke-5, yaitu Sunan Kudus.

Sultan Trenggana, yang mengangkat diri sebagai Sultan pada tahun 1524, ditahbiskan sebagai raja Demak pengganti kekuasaan Majapahit. Pires juga menceritakan bahwa pada saat ia berkunjung ke Tuban, Raja Majapahit yang bergelar Bhatara masih ada.

Raja tersebut digambarkan sebagai sosok yang gagah dan jarang terlihat di muka umum.

Tugas-tugas kerajaan diemban oleh Panglimanya. Jadi, pada tahun 1513, kerajaan Majapahit masih eksis dan kuat.

Dalam Serat Darmogandul disebutkan bahwa Raja Majapahit tergoda oleh putri Campa.

Karena itulah ia lalai dengan ancaman para pendatang muslim dan memberi tempat pada mereka. Menurut Denys Lombard, Raden Rahmat sudah datang lebih awal dari Putri Campa.

Putri Campa sendiri makamnya di Trowulan berasal dari tahun 1448 M, atau 40 tahun sebelum Kertabhumi bertahta jika dilihat dari versi Slamet Muljana. Sumber Serat Darmgandul Serat Darmogandul bukanlah sebuah sejarah dalam pengertian akademik.

Dalam Serat itu sendiri dijelaskan bahwa cerita Raden Budi Sukardi kepada Ki Kalamwadi, yang oleh Ki Kalamwadi diteruskan kepada Darmogandul tidak didasarkan pada sumber tertentu.

Tidak mudah membuktikan cerita dalam Darmogandul. Beberapa pokok latar sejarah yang dipakai berasal dari Babad Tanah Jawi atau turunannya.

Tetapi detail dan alur narasi yang dipakai Darmogandul bukan dari Babad Tanah Jawi, melainkan dari Babad Kadhiri. Babad Kadhiri lahir dari keingintahuan orang Belanda akan sejarah Kediri dan bertanya kepada Ngabehi Purbawijaya.

Karena tidak tahu, Jaksa Ngabehi Purbawijaya mencari dalang Dermakandha dari Majarata. Sayangnya, Dalang Dermakandha hanya tahu kisah Panji ke bawah, tidak ke era selanjutnya.

Ia punya ide untuk bertanya kepada jin penunggu gua di Gunung Klothok, yaitu Butha Locaya. Caranya Ki Dermakandha akan memanggil Butha Locaya yang akan merasuki Ki Sondong, abdi Ngabehi Purbawijaya. Baru dilakukan wawancara. Jadi, Babad Kadhiri disusun dari wawancara dengan orang kesurupan.

Serat Darmogandul juga menyatakan bahwa cerita yang disampaikan tidak didasarkan sumber tertulis tertentu, melainkan dari tuturan Raden Budi Sukardi. Tidak diketahui secara jelas apakah Raden Budi Sukardi menceritakan Babad Kadhiri atau penulis Babad Kadhiri sama dengan penulis Serat Darmogandul. Tetapi uraian tentang pikiran keagamaan dalam Darmogandul tampak berasal dari orang yang cukup mengenal Islam, meski punya rasa tidak suka.

Penulis cukup pandai dalam berdialog untuk menunjukkan keunggulan agama Budi. Dalam dialog itu, penulis Darmogandul tidak mempertentangkan antara tokoh Islam dengan tokoh lain, melainkan  dengan meminjam satu tokoh Islam. Baca Juga  Haji Bilal, Muhammadiyah, dan NU Saat memprotes Raden Patah, penulis mempergunakan tokoh Nyai Ampel, istri Sunan Ampel.

Saat mengkritik ajaran Islam dan memuji agama Budi, ia meminjam Prabu Brawijaya sebagai pembela ajaran Islam untuk berdebat keyakinan dengan Sabdo Palon.  Proses peminjaman tokoh Islam ini ada kalanya terasa dipaksakan atau dipelesetkan. Prabu Brawijaya saat masuk Islam mendapatkan pengajaran syahadat dari Sunan Kalijaga.

Muhammad Rasulullah dimaknai sebagai makam kuburan tempat rasa memuji badan sendiri. Rasulullah sebagai rasa ganda salah.

Singkatnya Muhammad Rasulullah adalah pengetahuan badan dan tahu makanan.

Darmogandul dan Sejarah Lokal Apakah Serat Darmogandul didasarkan atas Sejarah Lokal atau Sejaah Lisan? Untuk menjawab hal tersebut ada baiknya dibandingkan dengan Sejarah Jawa karya Thomas Stamford Raffles.

Karya Raffles ditulis dengan mengumpulkan sumber-sumber lokal. Raffles memerintah sebagai Gubernur Jenderal di Jawa pada 1811-1816.

Kecintaan Raffles akan sastra dan budaya Jawa melahirkan karya Monumental The History of Java dan Musium Etnografi Batavia.

Ia menjelajahi daerah-daerah di Jawa dan mengumpulan berbagai data tentang budaya dan sejarah. Salah satu kisah yang ia muat adalah Raja Majapahit Angka Wijaya, putra dari Kencana Wungu, dalam hubungannya dengan putri Campa dan orang-orang muslim. Angka Wijaya diceritakan bertahta tahun 1300 thun Jawa atau 1378 Masehi.

Kisahnya dalam beberapa hal banyak sama dengan Babad Tingkir, menyangkut anak dan istri Raja.

Raden Patah adalah anak putri Cina yang saat hamil dikirim ke Palembang bersama anak raja dari keturunan makhluk halus Gunung Lawu yang bernama Aria Damar.

Raden Patah bersama adiknya Raden Husein pergi ke Gresik. Raden Husein langsung menuju Majapahit, sedangkan Raden Patah ke Ampel karena trauma pada perlakuan Raja pada ibunya.

Setelah menikah dengan cucu Sunan Ampel ia membuka wilayah ke Barat yang terdapat rerumputan harum bernama Bintara.

Wilayah itu disebut Demalakan (disingkat Demak), yaitu wilayah kering di tengah rawa-rawa yang luas.

Setelah berdiri Demak, Raja mengutus Husen untuk menghancurkannya kecuali mau mengakui Majapahit.

Raden Patah dibawa ke istana lalu diberi gelar Adipati karena kemiripannya dengan raja.

Raden Patah mengadu pada Sunan Ampel bahwa ia merasa marah dan terhina dan bertekad untuk menghancurkan Majapahit.

Setelah membangun masjid (1390 J/ 1468 M) Raden Patah mendengar Sunan Ampel  wafat. Ia pergi ke Ampel dan sepulang dari Ampel mendapatkan pendamping delapan penyebar agama.

Ia mulai menghimpun persekutuan melalui pemuka agama untuk melawan Majapahit dengan Panglima Sunan Undang atau Sunan Kudus.

Pasukan Majapahit di bawah pimpinan Husen selalu menghindar sampai terjadi perang di Sedayu yang mengakibatkan Sunan Undang wafat.

Namun Husen tidak melanjutkan serangan dan Majapahit ingin membujuk Raden Patah untuk datang dan tunduk ke Majapahit secara damai.

Raden Patah lalu minta dukungan Aria Damar dari Palembang.

Ia diberi kotak yang bisa mengeluarkan ribuan tikus. Sunan Gunung Jati memberi baju besi. Sunan Giri memberi keris yang bisa mengeluarkan kumbang.

Sunan Bonang memberi tongkat yang bisa mengeluarkan tentara. Di bawah pimpinan Pangeran Kudus (anak Sunan Undang), Demak menyerang Majapahit. Dengan bantuan berbagai senjata dari para tokoh di atas, Majapahit berhasil ditaklukkan.

Raja dan pengikutnya dibuang ke Timur. 

Pangeran Kudus lalu menyerang pasukan terakhir di bawah pimpinan Husen hingga akhirnya Husen menyerah. Hal itu terjadi tahun 1400 Jawa atau 1478 Masehi.

Pangeran Kudus bersama Husen lalu melakukan penyerbuan kembali setelah Raja Brawijaya mendapatkan dukungan dari propinsi-propinsi sebelah Timur. Pasukan Majapahit kalah dan lari sampai Palembang.

Raja Brawijaya berhasil menyeberang ke Bali tahun 1481 M. Meski menceritakan kisah tersebut, Raffles menunjukkan kritik akan lamanya Angka Wijaya berkuasa yaitu dari sebelum tahun 1398 M hingga 1478 M.

Usia putri Campa yang lebih dari 100 tahun saat mendapat perlindungan Sunan Bonang, tapi nisannya sendiri bertahun 1398 M.

Sejarah versi lokal yang ditulis oleh Raffles menunjukkan pokok narasi yang berbeda dengan versi Serat Darmogandul.

Hal itu dapat dipahami karena Serat Darmogandul sendiri mengakui bahwa isinya tidak didasarkan sumber-sumber tertentu.

Tentu saja tidak mungkin narasi seperti Darmogandul berangkat dari ruang kosong, tetapi pengarangnya memberikan tafsir sendiri sesuai dengan cara ia melihat pengaruh Islam sebagai faktor yang merusak di Jawa.

 

Isi Serat Darmogandul

Menceritakan perpindahan agama orang jawa Hindu / Budha ke Islam (Muslim)

Carita adege nagara Islam ing Demak bedhahe nagara Majapahit kang salugune wiwite wong Jawa ninggal agama Buddha banjur salin agama Islam.

(Kisah mengenai berdirinya Kerajaan Islam Demak dan runtuhnya Kerajaan Majapahit yang sebenarnya.

Awal mulanya Orang Jawa meninggalkan Agama Buddha dan Beralih pada Agama Islam).

Gancaran basa Jawa ngoko. Babon asli tinggalane K.R.T.Tandhanagara, Surakarta.

Cap-capan ingkang kaping sekawan 1959 Toko Buku Sadu-Budi Sala.

Sinarkara sarjunireng galih, myat carita dipangikitira, kiyai Kalamwadine, ing nguni anggiguru, puruhita mring Raden Budi,mangesthi amiluta, duta rehing guru, sru sityanglampahi dhawah/panggusthine tan mamang ing lair batin, pinindha lirjawata. Satuduhe Raden Budi ining, pan ingimbun pinusthi ing cipta, sumungkim lair batine, tanetung libur luluh, pangesthine ing awal akhir, tinarimeng Bathara, sasidyanya kabul,agung nugraheng Hyang Suksma, sinung ilham ing alam sahir myang kabir, dumadyaauliya. Angawruhi sasmiteng Hyang Widdhi, pan biyasa mituhu susitya, mring dhawuh wiling gurune, kidah midhavkin kawruh, karya suka pirineng jalmi, mring sagung ahli sastra, tuladhaning kawruh, kyai Kalamwadi ngarang, sinung aran srat Darmagandhul jinilid, sinung timbang macapat.

Pan katimben amaos kinteki, timbang raras rum siya prasaja, triwaca w’jang raose,mring tyas gung kumacilu, yun darbeya miwah nimpini, pinirit tinuladha, lilipiyanipun, sawusnya winaos tamat, Vmaksanan tinidhak tinurun sungging, kinarya nglipur manah.

Pan sinambi-sambijagi panti, sasilanira ngupaya tidha, kinarya cagak linggahe, nggennya dama cinubluk, mung kinarya ngarim-arimi, tarimanireng badan, anganggurngithikur, ngibun-bun pasihaning Hyang, suprandene tan kalirin wayah siwi, sagotra minulyarja. Wus pinupus sumendhe ing takdir, pan sumarah kumambang karseng Hyang,ing lokhilmakful tulise, panitranira nuju, ping trilikur ri Tumpak manis, Ruwah Jewarsanira, Sancaya kang windu, masa Nim ringkilnya Aryang, wuku Wukir sangkalanira ing warsi: wuk guna ngesthi Nata (taunJawa 1830).

 

DARMO GANDHUL

Ing sawijining dina Darmagandhul matur marang Kalamwadi mangkene Mau-maune kepriye dene wong Jawa kok banjur padha ninggal agama Buddha salin agama Islam?

(Pada suatu hari bertanyalah Darmagandhul pada Kalamwadi sebagai berikut, Asal mulanya bagaimana, kok orang Jawa meninggalkan Agama Buddha dan berubah menganut Agama Islam?)

Wangsulane Ki Kalamwadi : Aku dhewe iya ora pati ngreti, nanging aku wis tau dikandhani guruku, ing mangka guruku kuwi iya kena dipracaya, nyaritakake purwane wong Jawa padha ninggal agama Buddha banjur salin agama Rasul.

(Jawabannya Ki Kalamwadi, Saya sendiri juga tidak begitu mengerti, tapi saya sudah pernah diberi tahu oleh guru saya, selain itu guru saya itu juga bisa dipercaya beliau, menceritakan asal mulanya orang Jawa meninggalkan Agama Buddha dan bergantimenganut agama Rasul (Islam).

Ature Darmagandhul: Banjur kapriye dongengane?

(Darmagandhul bertanya, Bagaimana kalau begitu ceritanya?)

Ki Kalamwadi banjur ngandika maneh: Bab iki satemene iya prelu dikandhakake, supaya wong kang ora ngreti mula-bukane kareben ngreti.

(Ki Kalamwadi lalu berkata lagi, Hal ini sesungguhnya juga perlu diungkapkan agar orang yang tidak tahu asal mulanya menjadi tahu).

 

Ing jaman kuna nagara Majapahit iku jenenge nagara Majalengka, dene enggone jeneng Majapahit iku, mung kanggo pasemon, nanging kang durung ngreti dedongengane iya Majapahit iku wis jeneng sakawit. Ing nagara Majalengka kang jumeneng Nata wekasan jejuluk Prabu Brawijaya. (Pada zaman kuno, Kerajaan Majapahit itu namanya Kerajaan Majalengka, sedangkan nama Majapathit itu, hanya sebagai perumpamaan, tetapi bagi yang belum tahu ceritanya, Majapahit itu telah merupakan namanya semenjak awal. Di Kerajaan Majapahit yang berkuasa sebagai Raja adalah Prabu Brawijaya.

Ing wektu iku, Sang Prabu lagi kalimput panggalihe, Sang Prabu krama oleh Putri Cempa,

Ing mangka Putri Cempa mau agamane Islam, sajrone lagi sih-sinihan, Sang Retna tansah matur marang Sang Nata, bab luruhe agama Islam, saben marak, ora ana maneh kang diaturake, kajaba mung mulyakake agama Islam, nganti njalari katariking panggalihe Sang Prabu marang agama Islam mau.

(Pada saat itu, Sang Prabu sedang dimabuk asmara, ia menikah dengan Putri Cempa, karena Putri Cempa itu beragama Islam, maka saat sedang berdua-duaan, Sang Putri selalu berbicara pada sang Raja, mengenai agama Islam. Tiap kali berkata- kata, tidak ada hal lain yang dibicarakan, selain mengagung-agungkan agama Islam, sehingga menyebabkan tertariknya hati Sang Prabu akan agama Islam)

Ora antara suwe kaprenah pulunane Putri Cempa kang aran Sayid Rakhmat tinjo menyang Majalengka, sarta nyuwun idi marang Sang Nata, kaparenga anggelarake sarengate agama Rasul.

(Tidak berama lama datanglah pengikut Putri Cempa yang bernama Sayid Rakhmat ke Majalengka. Ia minta izin pada sang raja, untuk menggelar penyebaran syariat agama Rasul (Islam).

Sang Prabu iya marengake apa kang dadi panyuwune Sayid rakhmat mau. Sayid Rakhmat banjur kalakon dhedhukuh ana Ngampeldenta ing Surabaya (3) anggelarake agama Rasul. Ing kono banjur akeh para ngulama saka sabrang kang padha teka, para ngulama lan para maulana iku padha marek sang Prabu ing Majalengka, sarta padha nyuwun dhedhukuh ing pasisir.

(Sang Prabu juga mengabulkan apa yang diminta oleh Sayid Rakhmat itu. Sayid Rakhmat lalu mendirikan sebuah desa kecil (dukuh) di Ngampeldenta, Surabaya. Ia mengajar agama Islam di sana. Selanjutnya makin banyak para ulama dari seberang yang datang. Para ulama dan para maulana itu beramai-ramai menghadap sang raja di Majalengka, serta sama-sama meminta desa kecil di daerah pesisir.)

Panyuwunan mangkono mau uga diparengake dening Sang Nata. Suwe-suwe pangidhep mangkono mau saya ngrebda, wong Jawa banjur akeh banget kang padha agama Islam.(Permintaan tersebut juga dikabulkan oleh Sang Raja. Lama-lama perkampungan kecil semacam itu makin menjamur, orang Jawa makin banyak yang beragama Islam.)

Sayid Kramat dadi gurune wong-wong kang wis ngrasuk agama Islam kabeh, dene panggonane ana ing Benang bawah Tuban.

Sayid Kramat iku maulana saka ing ‘Arab tedhake Kanjeng Nabi Rasulu’llah, mula bisa dadi gurune wong Islam. Akeh wong Jawa kang padha kelu maguru marang Sayid Kramat.

Wong Jawa ing pasisir lor sapangulon sapangetan padha ninggal agamane Buddha, banjur ngrasuk agama Rasul.

Ing Blambangan sapangulon nganti tumeka ing Banten, wonge uga padha kelu rembuge Sayid Kramat.

(Sayid Kramat menjadi gurunya orang-orang yang sudah menganut agama Islam. Tempat menetapnya berada di Benang (juga disebut Bonang – penterjemah) , Tuban.

Sayid Kramat itu adalah pemuka agama yang berasal dari Arab, atau tempat kelahirannya Nabi Muhammad, sehingga dapat menjadi gurunya para penganut agama Islam. Banyak orang Jawa yang berguru pada Sayid Kramat. Orang Jawa di pesisir utara, baik bagian barat maupun timur, sama-sama meninggalkan agama Buddha dan berpindah masuk Islam.

Dari Blambangan ke arah barat hingga Banten, banyak orang yang telah mematuhiperkataan Sayid Kramat.)

Mangka agama Buddha iku ana ing tanah Jawa wis kelakon urip nganti sewu taun, dene wong-wonge padha manembah marang Budi Hawa.

Budi iku Dzate Hyang Widdhi, Hawa iku kareping hati, manusa ora bisa apa- apa, bisane mung sadarma nglakoni, budi kang ngobahake.

(Pada saat itu agama Buddha telah dianut di tanah Jawa selama seribu tahun, para penganutnya menyembah pada Budi Hawa.

Budi adalah Zat dari Hyang Widdhi, sedangkan Hawa itu adalah kehendak hati.

Manusia itu tidak dapat berbuat apa-apa selain berusaha menjalankan, tetapi budi yang mengubah segalanya)

Sang Prabu Brawijaya kagungan putra kakung kang patutan saka Putri Bangsa Cina, miyose putra mau ana ing Palembang, diparingi tetenger Raden Patah.

(Raja Brawijaya memiliki putra dari seorang putri berkebangsaan Cina. Putranya itu lahir di Palembang, dan diberi nama Raden Patah)

Bareng Raden Patah wis diwasa, sowan ingkang rama, nganti sadhereke seje ramatunggal ibu, arane Raden Kusen.

Satekane Majalengka Sang Prabu kewran panggalihe enggone arep maringi sesebutan marang putrane, awit yen miturut leluri saka ingkangrama, Jawa Buddha agamane, yen ngleluri leluhur kuna, putraning Nata kang pambabare ana ing gunung, sesebutane Bambang.

(Tatkala Raden Patah sudah dewasa, ia mengunjungi ayahnya.

la memiliki saudara lain ibu yang bernama Raden Kusen.

Setibanya di Majalengka Sang Prabu bingung hatinya untuk memberi nama pada puteranya. Sebab menurut tradisi leluhur Jawa yang beragama Buddha, putra raja yang lahir di gunung, disebut Bambang)

Yen miturut ibu, sesebutane: Kaotiang, dene yen wong ‘Arab sesebutane Sayid utawa Sarib. Sang Prabu banjur nimbali patih sarta para nayaka, padha dipundhuti tetimbangan enggone arep maringi sesebutan ingkang putra mau. Saka ature Patih, yen miturut leluhur kuna putrane Sang Prabu mau disebut Bambang, nanging sarehne ibune bangsa Cina, prayoga disebut Babah, tegese pambabare ana nagara liya.

(Kalau menurut ibunya, namanya adalah Kaotiang, yaitu kalau dalam bahasa Arab disebut Sayid atau Sarib. Sang Prabu lalu memanggip para patih dan pegawai kerajaan. Mereka diminta pendapatnya di dalam memberikan nama bagi putranya itu. Patih berkata bahwa kalau menurut leluhur zaman dahulu, anak raja itu seharusnya diberi nama Bambang, tetapi karena ibunya berkembangsaan Cina, maka seharusnya disebut Babah, yang artinya lahirnya ada di negara lain)

Ature Patih kang mangkono mau, para nayaka uga padha mupakat, mula Sang Nata iya banjur dhawuh marang padha wadya, yen putra Nata kang miyos ana ing Palembang iku diparingi sesebutan lan asma Babah Patah. Katelah nganti tumeka saprene, yen blasteran Cina lan Jawa sesebutane Babah.

(Pendapat sang patih tersebut juga disepakati oleh para pegawai kerajaan. Oleh karenanya sang raja mengumumkan bahwa putranya itu yang lahir di Palembang, diberi nama Babah Patah. Hingga sampai sekarang, orang yang berdarah campuran Cina dan Jawa diberi nama Babah)

Ing nalika samana, Babah Patah wedi yen ora nglakoni dhawuhe ingkang rama, mulane katone iya seneng, senenge mau amung kanggo samudana bae, mungguh satemene ora seneng banget enggone diparingi sesebutan Babah iku.

(Babah Patah, takut kalau tidak mematuhi sabda bapaknya, karena itu bersikap seolah-olah senang. Padahal ia tidak benar-benar senang- senang diberi nama Babah)

Ing nalika iku Babah Patah banjur jinunjung dadi Bupati ing Demak, madanani para bupatiurut pasisir Demak sapangulon, sarta Babah Patah dipalakramakake oleh ing Ngampelgadhing, kabener wayahe kiyai Ageng Ngampel. (Kemudian Babah Patah diangkat menjadi bupati di Demak, untuk mengepalai para bupatidi pesisir Demak ke arah barat. Babah Patah lalu diperintahkan untuk berguru diNgampelgadhing, yang kebetulan dikepalai oleh Kyai Ageng Ngampel)

Bareng wis sawatara masa, banjur boyong marang Demak, ana ing desa Bintara, sarta sarehne Babah Patah nalika ana ing Palembang agamane wis Islam, anane ing Demak didhawuhi nglestarekake agamane, dene Raden Kusen ing nalika iku

jinunjung dadi Adipatiana ing Terung (5), pinaringan nama sarta sesebutan Raden Arya Pecattandha. (Ketika waktunya telah tiba, ia pindah ke Demak, yakni ke desa Bintara. Sebetulnya Babah Patah telah beragama Islam saat di Palembang. Oleh sebab itu, tatkala telah berada di Demak, ia diperintahkan untuk melestarikan agamanya. Sedangkan Raden Kusen diangkat menjadi adipati di Terung, dan diberi gelar Raden Arya Pecattandha)

Suwening suwe sarak Rasul saya ngrebda, para ngulama padha nyuwun pangkat sarta padha duwe sesebutan Sunan, Sunan iku tegese budi, uwite kawruh kaelingan kang becik lan kang ala, yen wohe budi ngreti marang kaelingan becik, iku wajib sinuwunan kawruhe ngelmu lair batin. Ing wektu iku para ngulama budine becik-becik, durung padha duwe karep kang cidra, isih padha cegah dhahar sarta cegah sare. (Makin lama agama Rasul makin menyebar luas, para ulama menjadi ingin memiliki gelar, dimana kemudian mereka digelari Sunan. Sunan itu artinya budi, pohon pengetahuan kesadaran pada yang baik dan buruk. Jika buah budi itu menyadari akan kebaikan, maka ia wajib menuntut ilmu lahir dan bathin. Pada saat itu para ulama masih memiliki hati yang baik, belum memiliki keinginan buruk, masih menahan diri dari makan dan tidur)

Sang Prabu Brawijaya kagungan panggalih, para ngulama sarake Buddha, kok nganggo sesebutan Sunan, lakune isih padha cegah mangan, cegah turu. Yen sarak rasul, sirik cegah mangan turu, mung nuruti rasaning lesan lan awak. Yen cegah mangan rusak, Prabu Brawijaya uga banjur paring idi. Suwe-suwe agama Rasul saya sumebar.

(Sang Prabu Brawijaya jadi jatuh hati, para ulama itu dikiranya Buddha, tetapi kok disebut Sunan. Tingkah laku mereka masih menahan diri dari makan dan tidur. Apabila mengikuti rasul, maka mereka [seharusnya] bukan menahan diri dari makan dan tidur, melainkan hanya menuruti hawa nafsu keinginan. Tatkala kebiasaan menahan diri dari makan dan tidur telah rusak, tetapi Prabu Brawijaya telah terlanjur memberikan angin. Makin lama agama rasul makin menyebar)

Ing wektu iku ana nalar kang aneh, ora kena dikawruhi sarana netra karna sarta lesan, wetune saka engetan, jroning utek iku yen diwarahi budi nyambut gawe, kang maca lan kang krungu nganggep temen lan ora, iya kudu ditimbang ing sabenere, saiki isih anawujuding patilasane, isih kena dinyatakake, mula saka pangiraku iya nyata.

(Pada saat itu ada peristiwa-peristiwa yang aneh yang tidak masuk akal. Peristiwa- peristiwa tersebut diketahui dari ingatan semata. Apabila membaca atau mendengar,maka perlu dipertimbangkan benar dan tidaknya. Tetapi karena sampai sekarang masihada peninggalannya, maka menurut pendapatku hal tersebut benar- benar terjadi)

Dhek nalika samana Sunan Benang sumedya tindak marang Kadhiri, kang ndherekakemung sakabat loro. Satekane lor Kadhiri, iya iku ing tanah Kertasana, kepalangan banyu, kali Brantas pinuju banjir. Sunan Benang sarta sakabate loro padha nyabrang, satekane wetan kali banjur niti- niti agamane wong kono apa wis Islam, apa isih agama Budi.

(Pada saat itu Sunan Benang bersiap-siap untuk mengunjungi Kediri, yang mengantarnya hanya dua orang sahabat. Ketika tiba di utara Kediri, yaitu di tanah Kertasana, mereka terhalang oleh air. Sungai Brantas saat itu kebetulan sedang banjir. Sunan Benang dan dua orang sahabatnya sama-sama menyeberang, dan ketika telah tiba di seberang iamencari tahu apakah orang di sana telah beragama Islam, ataukah masih menganutagama Budi)

Ature Ki Bandar wong ing kono agamane Kalang, sarak Buddha mung sawatara, denekang agama Rasul lagi bribik-bribik, wong ing kono akeh padha agama Kalang, mulyakakeBandung Bandawasa. Bandung dianggep Nabine, yen pinuji dina Riyadi, wong-wong padha bebarengan mangan enak, padha seneng-seneng ana ing omah. Sunan Benang ngandika: “Yen ngono wong kene kabeh padha agama Gedhah, Gedhah iku ora ireng ora putih, tanah kene patut diarani Kutha Gedhah.

(Menurut Ki Bandar, orang di sana agamanya Kalang, bukan Buddha namun mirip, sedangkan agama Rasul masih sedikit sekali tersebarnya. Orang di sana yang sebagian besar beragama Kalang memuliakan Bandung Bandawasa. Bandung dianggap nabi mereka. Pada saat hari perayaan keagamaan mereka bersama-sama makan enak dan bersenang-senang di rumah. Sunan Benang berkata, Jika begitu maka orang di sini sama- sama beragama Gedhah, Gedhah itu tidak hitam ataupun putih. Tempat ini pantas disebut Kutha Gedhah)

 

Ki Bandar matur: “Dhawuh pangandika panjenengan, kula ingkang nekseni”. Tanah saloring kutha kadhiri banjur jeneng Kutha Gedhah, nganti tekane saiki isih karan Kutha Gedhah, nanging kang mangkono mau arang kang padha ngreti mula-bukane. (Ki Bandar menjawab, Baik, yang mulia, saya yang menjadi saksi. Tempat di bagianutara Kediri namanya mulai sekarang adalah Kutha Gedhah. Hingga saat ini masih disebut dengan Kutha Gedhah, tetapi orang jarang mengetahui asal mula nama tersebut)

Sunan Benang ngandika marang sakabate: “Kowe goleka banyu imbon menyang padesan,kali iki isih banjir, banyune isih buthek, yen diombe nglarani weteng, lan maneh iki wancine luhur, aku arep wudhu, arep salat”.

(Sunan Benang berkata pada sahabatnya, “Carilah air minum di desa, sungai masih banjir dan airnya keruh. Jika diminum maka akan menyebabkan sakit perut. Selain itu sudah waktunya salat Lohor. Saya mau wudhu untuk salat”)

Sakabate siji banjur lunga menyang padesan arep golek banyu, tekan ing desa Pathukana omah katone suwung ora ana wonge lanang, kang ana mung bocah prawan siji,wajah lagi arep mepeg birahi, ing wektu iku lagi nenun. Sakabat teka sarta alon calathune: “mBok Nganten, kula nedha toya imbon bening resik”. mBok Prawan kaget krungu swarane wong lanang, bareng noleh weruh lanang sajak kaya santri, MBok Prawan salah cipta, pangrasane wong lanang arep njejawat, mejanani marang dheweke, mula enggonemangsuli nganggo tembung saru: “nDika mentas liwat kali teka ngangge ngarani njalukbanyu imbon, ngriki boten enten carane wong ngimbu banyu, kajaba uyuh kula niki imbon bening, yen sampeyan ajeng ngombe”.

(Salah seorang sahabatnya lalu pergi ke desa mencari air minum. Ia sampai di desa Pathuk dan menjumpai rumah yang nampaknya tidak ada prianya. Yang ada hanya seorang gadis perawan menjelang dewasa, dimana saat itu ia sedang menenun. Sahabat Sunan Benang mendekat serta berkata perlahan, “Mbok Nganten (panggilan terhadap wanita dalam bahasa Jawa), saya minta air minum yang bening dan bersih.” Gadis perawan itu terkejut mendengar suara pria, ketika menoleh ia melihat seorang pria yang nampaknya mirip santri. Gadis perawan tersebut salah sangka, ia mengira orang tersebut ingin menggodanya, maka dijawabnya dengan perkataan kotor, “Anda menyeberang sungai datang kemari untuk minta air minum. Di sini tidak ada air minum, selain air kencing saya yang bening, jika Anda ingin meminumnya.” )

Santri krungu tetembungan mangkono banjur lunga tanpa pamit lakune dirikatake sarta garundelan turut dalan, satekane ngarsane Sunan Benang banjur ngaturake lelakone nalika golek banyu. Sunan Benang mireng ature sakabate, banget dukane, nganti kawetu pangandikane nyupatani, ing panggonan kono disabdakake larang banyu, prawane aja lakiyen durung tuwa, sarta jakane aja rabi yen durung dadi jaka tuwa, bareng kena dayaningpangandika mau, ing sanalika kali Brantas iline dadi cilik, iline banyu kang gedhe nyimpang nrabas desa alas sawah lan pategalan, akeh desa kang padha rusak, awit katrajang ilining banyu kali kang ngalih iline, kali kang maune iline gedhe sanalika dadi asat. Nganti tumeka saprene tanah Gedhah iku larang banyu, jaka lan prawane iya nganti kasep enggone omah-omah. Sunan Benang terns tindak menyang Kadhiri.

(Sang santri yang mendengar ucapan kotor itu pergi tanpa pamit dan jalannya dicepatcepatkan. Ia menggerutu dalam hati dan menceritakan pengalamannya di hadapan Sunan Bonang. Ketika mendengar hal itu Sunan Bonang marah sekali, ia kemudianmengucapkan sumpah serapah pada warga desa tersebut. Tempat itu dikutuk agar susah mendapatkan air, para gadisnya akan terlambat menikah dan demikian pula kaum perjakanya. Sesudah kutukan tersebut diucapkan aliran Sungai Brantas menjadi kecil. Aliran sungai yang pada mulanya besar itu menyimpang dan membanjiri desa, sawah, dan ladang. Banyak desa yang rusak karena diterjang aliran sungai yang berpindah alirannya. Sungai yang pada mulanya deras alirannya itu menjadi surut. Hingga saat ini tempat tersebut menjadi susah air serta gadis dan perjakannya terlambat menikah. Sunan Benang melanjutkan perjalanannya ke Kediri.)

Ing wektu iki ana dhemit jenenge Nyai Plencing, iya iku dhemit ing sumur Tanjungtani,tansah digubel anak putune, padha wadul yen ana wong arane Sunan Benang, gawene nyikara marang para lelembut, ngendel- endelake kaprawirane, kali kang saka Kadhiri disotake banjur asat sanalika, iline banjur salin dalan kang dudu mesthine, mula akeh desa, alas, sawah sarta pategalan, kang padha rusak, iya iku saka Panggawene Sunan Benang

(Pada waktu itu ada seorang makhluk halus bernama Nyai Plencing, yakni makhluk halus yang berdiam di sumur Tanjungtani. Anak cucunya para berkeluh kesah padanya, mereka melaporkan tindakan orang bernama Sunan Benang yang kegemarannya menyiksa para makhluk halus serta memamerkan kesaktiannya. Sungai yang mengalir di Kediri dijadikan surut airnya serta berpindah alirannya ke arah lain yang tidak seharusnya. Sehingga banyak desa, hutan, sawah, dan ladang yang rusak. Semua itu akibat ulah Sunan Bonang.)

Sunan Benang, kang uga ngesotake wong ing kono, lanang wadon ngantiya kasep enggone omah-omah, sarta kono disotake larang banyu sarta dielih jenenge tanah aran Kutha Gedhah, Sunan Benang dhemene salah gawe. Anak putune Nyai Plencing padha ngajak supaya Nyai Plencing gelema neluh sarta ngreridhu Sunan Benang, bisaa tumeka ing pati, dadi ora tansah ganggu gawe. Nyai Plencing krungu wadule anak putune mangkono mau, enggal mangkat methukake lakune Sunan Benang, nanging dhemit-dhemit mau ora bisa nyedhaki Sunan Benang, amarga rasane awake padha panas banget kaya diobong.

(Sunan Bonang juga mengutuk orang di sana, gadis dan perjaka akan terlambat kawin. Sunan Benang itu kegemarannya bertindak salah. Anak cucu Nyai Plencing bersama-sama memohon Nyai Plencing agar bersedia menyantet Sunan Benang sampai mati dan tidak menganggu mereka lagi. Nyai Plencing yang mendengar keluh kesan anak cucunya itu, segera pergi menjumpai Sunan Benang. Tetapi makhluk- makhluk halus tersebut tidak dapat mendekati Sunan Benang, karena tubuh mereka serasa panas terbakar.)

Dhemit-dhemit mau banjur padha mlayu marang Kadhiri, satekane ing Kadhiri, matur marang ratune, ngaturake kahanane kabeh. Ratune manggon ing Selabale. (6) Jenenge Buta Locaya, dene Selabale iku dununge ana sukune gunung Wilis. Buta Locaya iku patihe Sri Jayabaya, maune jenenge kiyai Daha, duwe adhi jenenge kiyai Daka. Kiyai daha iki cikal-bakal ing Kadhiri, bareng Sri Jayabaya rawuh, jenenge kiyai Daha dipundhut kanggo jenenge nagara, dheweke diparingi Buta Locaya, sarta banjur didadekake patihe Sang Prabu Jayabaya.

(Makhluk-makhluk halus itu lalu lari ke Kediri. Ketika tiba di sana mereka melaporkan pada rajanya segala hal yang mereka alami. Raja makhluk halus itu berdiam di Selabale, namanya adalah Buta Locaya. Selabale itu letaknya ada di kaki gunung Wilis. Buta Locaya itu adalah patih Sri Jayabaya, dulu namanya adalah kyai Daha dan memiliki adik bernama Kyai Daka. Kyai Daha itu asal usulnya ada di Kediri. Pada saat Sri Jayabaya tiba di sana, nama Kyai Daha itu dijadikan nama negara dan ia kemudian diberi nama Buta Locaya dan dijadikan patih oleh Sang Prabu Jayabaya.)

Buta iku tegese: buteng utawa bodho, Lo tegese kowe, caya tegese: kena dipracaya, kiyai Buta Locaya iku bodho, nanging temen mantep setya ing Gusti, mulane didadekake patih. Wiwite ana sebutan kiyai, iya iku kiyai daha lan kiyai Daka, kiyai tegese: ngayahi anak putune sarta wong-wong ing kanan keringe.

(Buta itu artinya buteng atau bodoh, Lo itu artinya kamu, caya artinya bisa dipercaya. Sehingga Kyai Buta Locaya itu artinya bodoh, tetapi kawan yang setia dan patuh pada pimpinannya. Oleh karena itu ia dijadikan patih. Yang pertama kali bergelar kyai adalah Kyai Daha dan Kyai Daka. Kyai itu artinya mengayomi anak cucu dan orang- orang yang berada di kanan-kirinya. )

Jengkare Sri Narendra anjujug ing omahe kiyai Daka, ana ing kono Sang Prabu sawadyabalane disugata, mula sang Prabu asih banget marang kiyai Daka, jenenge kiyai Daka dipundhut kanggo jeneng desa, dene kiyai Daka banjur diparingi jeneng kiyai Tunggulwulung, sarta dadi senapatining perang.

(Sang raja lalu menuju ke rumah Kyai Daka. Di sana Sang Prabu Jayabaya beserta seluruh pengikut dan pengawalnya disambut dengan meriah, sehingga sang raja sangat mengasihi Kyai Daka. Nama Kyai Daka dijadikan nama desa dan selain itu ia diberi gelar Kyai Tunggulwulung serta diangkat menjadi panglima perang.)

Samuksane Sang Prabu Jayabaya lan putrane putri kang aran Ni Mas Ratu Pagedhongan, Buta Locaya lan kiyai Tunggulwulung uga padha muksa; Ni Mas Ratu Pagedhongan dadi ratuning dhemit nusa Jawa, kuthane ana sagara kidul sarta jejuluk Ni Mas Ratu Anginangin. Sakabehe lelembut kang ana ing lautan dharatan sarta kanan keringe tanah Jawa, kabeh padha sumiwi marang Ni Mas Ratu Anginangin. Buta Locaya panggonane ana ing Selabale, dene kiyai Tunggulwulung ana ing gunung Kelut, rumeksa kawah sarta lahar, yen lahar metu supaya ora gawe rusaking desa sarta liya-liyane.

(Ketika Sang Prabu Jayabaya dan putrinya yang bernama Ni Mas Ratu Pagedhongan telah moksha, maka Buta Locaya dan Kyai Tunggulwulung juga ikut moksha. Ni Mas Ratu Pagedhongan menjadi ratu makhluk halus seluruh Jawa. Pusat kerajannya ada di laut selatan dan digelari Ni Mas Ratu Anginangin. Seluruh makhluk halus yang ada di lautan dan daratan serta juga kanan kiri Tanah Jawa bersama-sama takluk pada Ni Mas Ratu Anginangin. Buta Locaya kediamannya ada di Selabale, sedangkan Kyai Tunggulwulung ada di Gunung Kelut. Ia mengawasi dan dan lahar agar supaya saat lahar keluar tidak merusak desa dan lain sebagainya.)

Ing wektu iku kiyai Buta Locaya lagi lenggah ana ing kursi kencana kang dilemeki kasur babut isi sari, sarta kinebutan elaring merak, diadhep patihe aran Megamendhung, lan putrane kakung loro uga padha ngadhep, kang tuwa arane Panji Sektidiguna, kang anom aran panji Sarilaut.

(Waktu itu Kyai Buta Locaya sedang duduk di singgasananya yang dialasi kasur permadani. Datang menghadap patihnya bernama Megamendhung dan dua putra tertuanya juga hadir. Yang lebih tua bernama Panji Sektiguna dan adiknya bernama Sarilaut.)

Buta Locaya lagi ngandikan karo kang padha ngadhep, kaget kasaru tekane Nyai Plencing, ngrungkebi pangkone, matur bab rusake tanah lor Kadhiri, sarta ngaturake yen kang gawe rusak iku, wong saka Tuban kang sumedya lelana menyang Kadhiri, arane Sunan Benang. Nyai Plencing ngaturake susahe para lelembut sarta para manusa.

(Buta Locaya sangat terkejut dengan laporan Nyai Plencing mengenai tingkah polah Sunan Benang yang merusak tanah di utara Kediri. Ia mengatakan bahwa Sunan Benang yang merusak itu orang dari Tuban yang berkelana ke Kediri. Nyai Plencing mengisahkan penderitaan para makhluk halus dan manusia.)

Buta Locaya krungu wadule Nyai Plencing mangkono mau banget dukane, sarirane ngantikaya geni, sanalika banjur nimbali putra-wayahe sarta para jin peri parajangan, didhawuhinglawan Sunan Benang. Para lelembut mau padha sikep gegaman perang, sarta lakune bareng karo angin, ora antara suwe lelembut wis tekan ing saeloring desa Kukum, ing kono Buta Locaya banjur maujud manusa aran kiyai Sumbre, dene para lelembut kangpirang-pirang ewu mau padha ora ngaton, kiyai Sumbre banjur ngadeg ana ing tengah dalan sangisoring wit sambi, ngadhang lakune Sunan Benang kang saka elor.

(Buta Locaya mendengar laporan Nyai Plencing itu menjadi sangat marah. Wajahnya menjadi merah padam bagaikan api. Ia segera memanggil anak-anaknya dan juga para makhluk halus jin serta peri. Ia mengajak mereka melawan Sunan Benang. Para makhluk halus itu bersiap-siap untuk perang. Mereka berjalan secepat angin, tidak berapa lama mereka tiba di utara desa Kukum, di sana Buta Locaya beralih wujud menjadi manusia yang bernama Kyai Sumbre. Ia kemudian berdiri di tengah jalan, di bawah pohon sambi, menghadang perjalanan Sunan Benang dari utara.)

Ora antara suwe tekane Sunan Benang saka lor, Sunan Benang wis ora kasamaran yen kang ngadeg ana sangisoring wit sambi iku ratuning dhemit, sumedya ganggu gawe,katitik saka awake panas kaya mawa. Dene lelembut kang pirang-pirang ewu mau padha sumingkir adoh, ora betah kena prabawane Sunan Benang. Mangkono uga Sunan Benang uga ora betah cedhak karo kiyai Sumbre, amarga kaya dene cedhak mawa, kiyai Sumbre mangkono uga.

(Tidak lama kemudian, Sunang Bonang datang dari arah utara. Ia sudah mengetahui bahwa yang berdiri di bawah pohon itu rajanya makhluk halus yang terlah bersiap- siapuntuk menganggu dirinya. Dimana hal itu diketahui dari hawa panas yang keluar dari makhluk halus tersebut. Para makhluk halus yang berjumlah banyak tersebut bersama-sama menyingkir jauh-jauh karena tidak tahan dengan hawa kekuatan Sunan Bonang.Namun Sunan Bonang juga tidak tahan berada di dekat Kyai Sumbre, karena kemanapunSunan Bonang menyingkir, maka Kyai Sumbre ada di tempat itu pula.)

Sakabat loro kang maune padha sumaput, banjur padha katisen, amarga kena daya prabawane kiyai Sumbre.

(Dua orang sahabat Sunan Bonang pingsan, karena kedinginan. Mereka tidak tahan terkena hawa kekuatan Kyai Sumbre.)

Sunan Benang andangu marang kiyai Sumbre: “Buta Locaya! Kowe kok methukake lakuku, sarta nganggo jeneng Sumbre, kowe apa padha slamet?”.

(Sunan Bonang menegur Kyai Sumbre, “Buta Locaya! Kamu menghadang jalanku, serta menyamar sebagai Sumbre. Apa kamu cari mati?”)

Buta Locaya kaget banget dene Sunan Benang ngretos jenenge dheweke, dadi dheweke kawanguran karepe, wusana banjur matur marang Sunan Benang: “Kados pundi dene paduka saged mangretos manawi kula punika Buta Locaya?”.

(Buta Locaya terkejut bukan main, karena Sunan Bonang mengetahui namanya, sehingga ia merasa ketahuan rahasianya. Lalu bertanyalah ia pada Sunan Bonang, “Darimana Anda dapat mengetahui bahwa saya adalah Buta Locaya?”)

Sunan Benang ngandika: “Aku ora kasamaran, aku ngreti yen kowe ratuning dhemit Kadhiri, jenengmu Buta Locaya.”.

(Sunan Bonang berkata, “Aku tidak tertipu, aku tahu bahwa engkau adalah rajanya para makhluk halus di Kediri, namamu adalah Buta Locaya.”)

Kiyai Sumbre matur marang Sunan Benang: “Paduka punika tiyang punapa, dene mangangge pating gedhabyah, dede pangagem Jawi. Kados wangun walang kadung?”.

(Kyai Sumbre menjawab pada Sunan Bonang, “Anda itu orang mana, kok tingkah lakunya tidak sopan, beda dengan adat istiadat Jawa. Seperti belalang saja [loncat sini loncat sana.”)

Sunan Benang ngandika maneh: “Aku bangsa ‘Arab, jenengku Sayid Kramat, dene omahku ing Benang tanah Tuban, mungguh kang dadi sedyaku arep menyang Kadhiri, perlu nonton patilasan kadhatone Sang Prabu Jayabaya, iku prenahe ana ing ngendi?”.

(Sunan Bonang berkata lagi, “Aku orang Arab, namaku adalah Sayid Kramat, sedangkan rumah saya ada di Bonang, Tuban. Aku ke Kediri karena ingin melihat peninggalan istana Sang Prabu Jayabaya. Istana tersebut dulunya berada di mana?”)

Buta Locaya banjur matur: “Wetan punika wastanipun dhusun Menang (9), sadaya patilasan sampun sami sirna, kraton sarta pasanggrahanipun inggih sampun boten wonten, kraton utawi patamanan Bagendhawati ingkang kagungan Ni Mas Ratu Pagedhongan inggih sampun sirna, pasanggrahan Wanacatur ugi sampun sirna, namung kantun namaning dhusun, sadaya wau sirnanipun kaurugan siti pasir sarta lahar saking redi Kelut. (Buta Locaya menjawab, “Di sebelah timur itu, yakni di desa Menang, semua peninggalan telah musnah, istana serta tempat pesanggrahan juga telah tiada lagi. Istana dan taman istana Bagendhawati milik Ni Mas Ratu Pagedhongan juga telah musnah, pesanggrahan Wanacatur juga telah sirna, yang tertinggal adalah nama desa itu. Semua itu musnah tertimbun tanah pasir dan lahar dari gunung Kelut.)

Kula badhe pitaken, paduka gendhak sikara dhateng anak putu Adam, nyabdakaken ingkang boten patut, prawan tuwa jaka tuwa, sarta ngelih nami Kutha Gedhah, ngelih lepen, lajeng nyabdakaken ing ngriki awis toya, punika namanipun siya-siya boten surup, sikara tanpa dosa, saiba susahipun tiyang gesang laki rabi sampun lungse, lajeng boten gampil pencaripun titahing Latawalhujwa, makaten wau saking sabda paduka, sepinten susahipun tiyang ingkang sami kebenan, lepen Kadhiri ngalih panggenan mili nrajang dhusun, wana, sabin, pinten-pinten sami risak, ngriki paduka- sotaken, selaminipun awis toya, lepenipun asat, paduka sikara boten surup, nyikara tanpa prakara”

(Sekarang saya hendak bertanya, Anda menyiksa anak cucu Adam, mengucapkansesuatu yang tidak patut diucapkan. [Mengutuk] orang menjadi perawan dan perjaka tua, dan juga mengubah nama menjadi Kutha Gedhah, memindah aliran sungai, dan selanjutnya mengutuk bahwa di daerah ini akan susah air. Itu namanya tindakan yang tidak berguna, menyiksa orang lain yang tak bersalah, menyebabkan susahnya kehidupan orang lain. Lelaki susah menemukan jodohnya. Tindakan itu bertentangan dengan titah dari Latawalhujwa. Semua itu berasal dari kutukan Anda, begitu besarnya kesusahan

orang yang kebanjiran. Sungai Kediri berubah alirannya dan menerjang desa, hutan, sawah, berapa banyak yang rusak. Sedangkan di sini, Anda kutuk selamanya susah air, sungainya surut. Anda itu hanya menyiksa orang lain yang tidak bersalah.”)

Sunan Benang ngandika: “Mula ing kene tak-elih jeneng Kutha Gedhah, amarga wonge kene agamane ora ireng ora putih, tetepe agama biru, sabab agama Kalang, mula tak-sotake larang banyu, aku njaluk banyu ora oleh, mula kaline banjur tak-elih iline, kene kabeh tak sotake larang banyu, dene enggonku ngesotake prawan tuwa jaka tuwa, amarga kang tak jaluki banyu ora oleh iku, prawan baleg.”

(Sunan Bonang berkata, “Tempat ini aku ganti namanya menjadi Kutha Gedhah, karena orang di sini agamanya tidak hitam tidak putih, tepatnya agama biru, yakni agama Kalang. Aku kutuk susah air, karena saya minta air minum tidak boleh. Oleh karenanya, air sungainya saya rubah alirannya. Semua yang berada di sini saya kutuk susah air. Saya mengutuk agar orang di sini menjadi perawan dan perjaka tua, karena tidak bersedia memberikan saya air minum, yaitu gadis perawan kurang ajar itu.”)

Buta Locaya matur maneh: “Punika namanipun boten timbang kaliyan sot panjenengan, boten sapinten lepatipun, tur namung tiyang satunggal ingkang lepat, nanging ingkang susah kok tiyang kathah sanget, boten timbang kaliyan kukumipun, paduka punika namanipun damel mlaratipun tiyang kathah, saupami konjuk Ingkang Kagungan Nagari, paduka inggih dipunukum mlarat ingkang langkung awrat, amargi ngrisakaken tanah, lah sapunika mugi panjenengan-sotake n wangsulipun malih, ing ngriki sageda mirah toya malih, saged dados asil panggesangan laki rabi taksih alit lajeng mencaraken titahipun Hyang Manon. Panjenengan sanes Narendra teka ngarubiru agami, punika namanipun tiyang dahwen”.

(Buta Locaya berkata lagi, “Itu namanya orang yang tanpa pertimbangan. Kesalahan tidak seberapa, dan selain itu hanya satu orang yang bersalah, tetapi Anda telah membuat susah orang banyak sekali. Tidak sesuai dengan hukumannya. Anda itu namanya membuat susah orang banyak. Seandainya diketahui yang memiliki negara, maka Anda akan dihukum melarat sekali, karenanya merusak tanah. Sudah begini saja, Anda tarik kembali kutukan Anda. Di sini menjadi melimpah air kembali, sehingga bisa untuk bercocok tanah. Pria dan wanita dapat kembali menikah pada usia mudah, sesuai dengan titah dari Hyang Manon. Anda itu bukan Narendra (gelar Wisnu, mungkin yang dimaksud

Tuhan – penterjemah) , tetapi kok datang-datang mengharubiru agama. Itu namanya orang berengsek.”)

Sunan Benang ngandika: “Sanadyan kok-aturake Ratu Majalengka aku ora wedi”.(Sunan Bonang berkata, “Meskipun kamu laporkan Raja Majalengka saya tidak takut.”)

Buta Locaya bareng krungu tembung ora wedi marang Ratu Majalengka banjur metunepsune, calathune sengol: “Rembag paduka niki dede rembage wong ahli praja, patute rembage tiyang enten ing bambon, ngendelake dumeh tiyang digdaya, mbok sampun sumakehan dumeh dipun kasihi Hyang Widdhi, sugih sanak malaekat, lajeng tumindak sakarsa-karsa boten toleh kalepatan, siya dahwen sikara boten ngangge prakara,sanadyan ing tanah Jawi rak inggih wonten ingkang nglangkungi kaprawiran paduka,nanging sami ahli budi sarta ajrih sesikuning Dewa, tebih saking ahli budi yen ngantos siya dhateng sesami nyikara tanpa prakara, punapa paduka punika tiyang tunggilipun AjiSaka, muride Ijajil.

(Buta Locaya setelah mendengar bahwa Sunan Bonang tidak takut pada Raja Majalengka menjadi makin marah, kata-katanya menjadi keras, “Anda itu jelas sekali tidak mencerminkan seseorang yang bijaksana dan berbudi luhur, melainkan lebih

tepat lagidisebut dengan gelandangan (bahasa asli apabila diterjemahkan secara harafiah adalah orang yang tinggal dalam rumah bambu- penterjemah). Beraninya hanya mengandalkan kesaktiannya. Bersikaplah rendah hati sehingga dikasihi oleh Hyang Widdhi, dikasihi oleh sahabat, dan bukannya bertindak semau-maunya sendiri dengan tidak melihat kesalahannya. Itu namanya orang jahat yang tidak menimbang dulu permasalahannya. Di tanah Jawa ini, khan banyak orang yang kesaktiannya melebihi Anda, namun semuanya itu berbudi luhur dan tidak berusaha mengungguli para dewa. Mereka sama sekali tidak menyiksa orang lain tanpa melihat kesalahannya terlebih dahulu. Mengapa Anda meniru Aji Saka, muridnya Ijajil?)

Aji Saka dados Ratu tanah Jawi namung tigang taun lajeng minggat saking tanah Jawi, sumber toya ing Medhang saurutipun dipun bekta minggat sadaya, Aji Saka tiyang saka Hindhu, paduka tiyang saking ‘Arab, mila sami siya-siya dhateng sesami, sami damel awising toya, paduka ngaken Sunan rak kedah simpen budi luhur, damel wilujeng dhateng tiyang kathah, nanging kok jebul boten makaten, wujud paduka niki jajil belis katingal, boten tahan digodha lare, lajeng mubal nepsune gelis duka, niku Sunan napa?

(Aji Saka menjadi raja tanah Jawa, tetapi tiga tahun kemudian pergi meninggalkannya, sumber air yang ada di Medhang juga dibawanya pergi. Aji Saka orang dari India,sedangkan Anda adalah orang Arab, karena itu sama-sama tidak menghargai sesama manusia. Sama-sama membuat sulit air. Anda itu mengaku-ngaku sebagai Sunan, khanseharusnya berbudi luhur, menciptakan kebajikan bagi orang banyak, tetapi kok malah tingkah lakunya seperti itu. Anda itu seperti iblis tingkah lakunya. Tidak tahan digoda oleh anak kecil, lalu bangkit nafsu angkara murkanya. Sunan macam apa itu?)

Yen pancen Sunaning jalma yektos, mesthi simpen budi luhur. Paduka niksa wong tanpa dosa, nggih niki margi paduka cilaka, tandhane paduka sapunika sampun jasa naraka jahanam, yen sampun dados, lajeng paduka-enggeni piyambak, siram salebeting kawah wedang ingkang umob mumpal-mumpal. Kula niki bangsaning lelembut, sanes alam kaliyan manusa, ewadene kula taksih enget dhateng wilujengipun manusa. Inggih sampun ta, sapunika sadaya ingkang risak kula-aturi mangsulaken malih, lepen ingkang asat lan panggenan ingkang sami katrajang toya kula-aturi mangsulaken kados sawaunipun, manawi panjenengan boten karsa mangsulaken, sadaya manusa Jawi ingkang Islam badhe sami kula- teluh kajengipun pejah sadaya, kula tamtu nyuwun bantu wadya bala dhateng Kanjeng Ratu Ayu Anginangin ingkang wonten samodra kidul”.

(Kalau memang Anda sudah Sunan secara lahir bathin, maka seharusnya berbudi luhur. Anda menyiksa orang tanpa dosa, yaitu karena Anda dihina. Sehingga dengan demikian setelah ini Anda pantas masuk neraka jahanam. Kalau sudah mati, Anda akan tinggal di sana. Dimasukkan kawah air panas yang asapnya melimpah-limpah. Saya ini termasuk golongan makhluk halus, dan berbeda dengan kalian yang manusia. Karenanya saya ini masih ingat dengan kesejahteraan umat manusia. Ya sudah, apa yang sudah rusak saya minta untuk diperbaikik kembali. Sungai yang surut dan tempat yang rusak diterjang banjir, saya minta dikembalikan seperti asal mulanya. Jika Anda tidak bersedia mengembalikannya, semua orang Jawa yang sudah masuk Islam akan saya santet agar mati semua. Saya tentu juga akan minta bala bantuan dari Ratu Ayu Anginangin di laut selatan.”)

Sunan Benang bareng mireng nepsune Buta Locaya rumaos lupute, dene gawe kasusahan warna-warna, nyikara wong kang ora dosa, mula banjur ngandika: “Buta Locaya! aku iki bangsa Sunan, ora kena mbaleni caturku kang wus kawetu, besuk yen wus limang atus taun, kali iki bisa bali kaya mau-maune”.

(Sunan Bonang setelah mendengar nasehat Buta Locaya jadi menyadari kesalahannya karena telah menyebabkan kesengsaraan banyak orang, maka berkatalah ia, “Buta Locaya, saya ini Sunan, tidak dapat menarik kembali ucapanku yang sudah keluar, besok jika telah genap lima ratus tahun, maka sungai ini kembali seperti semula.”)

Buta Locaya bareng krungu kesagahane Sunan Benang, banjur nepsu maneh, nuli maturmarang Sunan Benang: “Kedah paduka-wangsulna sapunika, yen boten saged, paduka kula-banda”.

(Buta Locaya setelah mendengar penolakan Sunan Bonang menjadi marah kembali, ia mengancam Sunan Bonang, “Harus dikembalikan sekarang juga, jika tidak bisa, maka Anda saya tahan di sini.”)

Sunan Benang ngandika marang Buta Locaya: “Wis kowe ora kena mangsuli, aku pamit nyimpang mangetan, woh sambi iki tak-jenengake cacil, dene kok kaya bocah cilik padha tukaran, dhemit lan wong pecicilan rebut bener ngadu kawruh prakara rusaking tanah, sarta susahe jalma lan dhemit, dak-suwun marang Rabbana, woh sambi dadi warna loro kanggone, daginge dadiya asem, wijine metuwa lengane, asem dadi pasemoning ulat kecut, dene dhemit padu lan manusa, lenga tegese dhemit mleleng jalma lunga. Ing besuk dadiya paseksen, yen aku padu karo kowe, lan wiwit saiki panggonan tetemon iki, kang lor jenenge desa Singkal, ing kene desa ing Sumbre, dene panggonane balamu kangana ing kidul iku jenenge desa Kawanguran”.(Sunan Bonang berkata pada Buta Locaya, “Sudah, kamu tidak perlu mengajari aku, aku pamit mau ke Magetan, buah sambi ini aku sebut cacil, karena kok seperti anak kecil berkelahi. Makhluk halus dan manusia berkelahi mengadu pengetahuan masalah rusaknya tanah, serta kesengsaraan manusia dan makhluk halus. Saya akan minta pada Tuhan, buah sambi akan menjadi dua warna, dagingnya menjadi masam, bijinya agar keluar minyaknya. Asam itu menjadi lambang ulat masam, karena makhluk halus bertengkar dengan manusia. Minyak artinya makhluk halus menghalangi perginya manusia. Pada masa mendatang jadilah saksi kalau saya bertengkar dengan kamu. Dan mulai saat ini, tempat ini yang utara namanya desa Singkah, sedangkan yang di sini namanya Sumbre. Sedangkan tempat berkumpulnya pasukanmu di bagian selatan namanya dewa Kawanguran.” )

Sunan Benang sawuse ngandika mangkono banjur mlumpat marang wetan kali, katelah nganti tumeka saprene ing tanah Kutha Gedhah ana desa aran Kawanguran, Sumbre sarta Singkal, Kawanguran tegese kawruhan, Singkal tegese sengkel banjur nemu akal.

(Setelah berkata demikian, Sunan Bonang lalu melompat ke timur sungai. Hingga saat ini di Kutha Gedhah ada desa bernama Kawanguran, Sumbre, dan Singkal. Kawanguran artinya pengetathuan. Singkah artinya menemukan akal budi.)

Buta Locaya nututi tindake Sunan Bonang. Sunan Bonang tindake tekan ing desa Bogem, ana ing kono Sunan Benang mriksani reca jaran, reca mau awak siji endhase loro, deneprenahe ana sangisoring wit trenggulun, wohe trenggulun mau akeh banget kang padha tiba nganti amblasah, Sunan Benang ngasta kudhi, reca jaran endhase digempal.

(Buta Locaya mengikuti perginya Sunan Bonang. Sunan Bonang tiba di desa Bogem, disana ia melihat ada patung kuda yang berbadan satu tetapi berkepala dua. Letaknya ada di bawah pohon trenggulun. Buah trenggulun itu banyak sekali hingga menggunung tinggi. Sunan Bonang lalu menghancurkan kepala patung kuda itu.)

Buta Locaya bareng weruh patrape Sunan Benang anggempal endhasing reca jaran, saya wuwuh nepsune sarta mangkene wuwuse: “Punika yasanipun sang Prabu Jayabaya, kangge pralambang ing tekadipun wanita Jawi, benjing jaman Nusa Srenggi, sinten ingkang sumerep reca punika, lajeng sami mangretos tekadipun para wanita Jawi”

(Setelah melihat Sunan Bonang menghancurkan kepala patung kuda, maka bangkit kembali kemarahan Buta Locaya. Ia berkata, “Itu adalah peninggalan sang Prabu Jayabaya, sebagai lambang tekadnya wanita Jawa. Besok di jaman Nusa Srenggi, siapa saja yang melihat patung itu akan sama-sama memahami tekad para wanita Jawa.”)

Sunan Benang ngandika: “Kowe iku bangsa dhemit kok wani padu karo manusa, jenenge dhemit kementhus”.

(Sunan Bonang menjawab, “Kamu itu bangsa makhluk halus, kok berani bertengkar dengan manusia. Itu namanya makhluk halus sombong.”)

Buta Locaya mangsuli: “Inggih kaot punapa, ngriku Sunan, kula Ratu”.

(Buta Locaya berkata, “Lalu kenapa memangnya? Anda Sunan, saya raja.”)

Sunan Benang ngandika: “Woh trenggulun iki tak-jenengake kenthos, dadiya pangeling-eling ing besuk, yen aku kerengan karo dhemit kumenthus, prakara rusaking reca”.

(Sunan Bonang berkata, “Buah trenggulun ini aku namakan kenthos, sehingga menjadi peringatan di masa mendatang kalau aku bertengkar dengan makhluk halus sombong masalah rusaknya patung.”)

Ki Kalamwadi ngandika: “Katelah nganti saprene, woh trenggulun jenenge kenthos, awit saka sabdane Sunan Benang, iku pituture Raden Budi Sukardi, guruku”.

(Ki Kalamwadi menjelaskan, “Hingga sekarang, buah trenggulun namanya kenthos, karena berasal dari sabda Sunan Bonang. Itu adalah pemberitahuan dari guruku Raden Budi Sukardi.”)

Sunan Benang banjur tindak mangalor, bareng wis wanci asar, kersane arep salat, sajabane desa kono ana sumur nanging ora ana timbane, sumure banjur digolingake, dene Sunan Benang sawise, nuli saged mundhut banyu kagem wudhu banjur salat. (Sunan Bonang lalu pergi ke arah utara. Pada saat itu telah waktunya salat asar dan ia hendak menunaikan ibadah salat. Di luar desa itu ada sumur, tetapi tidak ada ember untuk menimba air, karena itu Sunan Bonang menggulingkan sumur itu sehingga ia bisa menggambil air dari dalamnya.)

Ki Kalamwadi ngandika: “Katelah nganti saprene sumur mau karane sumur Gumuling, Sunan Benang kang anggolingake, iku pituture Raden Budi guruku, embuh bener lupute”.

(Ki Kalamwadi menjelaskan, “Hingga saat ini sumur itu disebut sumur Gumuling. Sunan Bonang yang menggulingkannya. Itu katanya Raden Budi guruku, entah benar entah tidak.”)

Sunan Benang sawise salat banjur nerusake tindake, satekane desa Nyahen (10) ing kona ana reca buta wadon, prenahe ana sangisoring wit dhadhap, wektu iku dhadhape pinuju akeh banget kembange, sarta akeh kang tiba kanan keringe reca buta mau, ngantikaton abang mberanang, saka akehe kembange kang tiba, Sunan Benang priksa reca mau gumun banget, dene ana madhep mangulon, dhuwure ana 16 kaki, ubenge bangkekane 10 kaki, saupama dielih saka panggonane, yen dijunjung wong wolung atus ora kangkat, kajaba yen nganggo piranti, baune tengen reca mau disempal dening Sunan Benang, bathuke dikrowak.

(Setelah salat maka Sunan Bonang meneruskan perjalanannya, dan tiba di desa Nyahen.Di sana ada patung raksasa wanita yang terletak di bawah pohon dadap. Pada saat itu kebetulan pohon dadapnya sedang banyak bunganya dan banyak yang berjatuhan di kanan dan kirinya patung raksasa itu sehingga nampak merah merona. Sunan Bonang melihat arca yang tingginya 16 kaki dan lingkarnya 10 kaki. Apabila diangkat orang 800 juga masih belum terangkat. Bahu kanan patung tersebut dihancurkan oleh Sunan Bonang dan selain itu dahinya juga dirusak.)

Buta Locaya weruh yen Sunan Benang ngrusak reca, dheweke nepsu maneh, calathune: “Panjenengan nyata tiyang dahwen, reca buta becik-becik dirusak tanpa prakara, sa-niki awon warnine, ing mangka punika yasanipun Sang Prabu Jayabaya, lah asilipun punapa panjenengan ngrisak reca?”

(Buta Locaya mengetahui tindakan Sunan Bonang merusak patung itu, timbul amarahnya kembali, “Anda itu benar-benar orang brengsek. Patung bagus-bagus kok dirusak tanpa sebab. Patung itu adalah peninggalan Sang Prabu Jayabaya, lalu mengapa Anda rusak?”)

Pangandikane Sunan Benang: “Mulane reca iki tak-rusak, supaya aja dipundhi-pundhi dening wong akeh, aja tansah disajeni dikutugi, yen wong muji brahala iku jenenge kapir kupur lair batine kesasar.”

(Jawaban Sunan Bonang, “Arca ini saya rusak supaya jangan disembah-sembah oleh orang banyak, supaya jangan dimantrai. Yang menyembah patung itu namanya kafir. Lahir dan bathinnya tersesat.”)

Buta Locaya calathu maneh: “Wong Jawa rak sampun ngretos, yen punika reca sela, boten gadhah daya, boten kuwasa, sanes Hyang Labawalhujwa, mila sami dipun ladosi, dipun kutugi, dipun sajeni, supados para lelembut sampun sami manggen wonten ing siti utawi kajeng, amargi siti utawi kajeng punika wonten asilipun, dados tedhanipun manusa, mila para lelembut sami dipun sukani panggenan wonten ing reca, panjenengan-tundhungdhateng pundi?

(Buta Locaya mengomel lagi, “Orang Jawa itu khan sudah tahu, bahwa itu hanya sebuah arca batu, tidak punya daya apa-apa, tidak punya kekuasaan apa, bukan Hyang Labawalhujwa, karena itu dimantrai dan diberi sesajian, supaya para makhluk halus yang dulunya tinggal di tanah atau kayu – karena tanah dan kayu itu dimanfaatkan bagi manusia – maka para makhluk halus itu diberi tempat tinggal di dalam arca. Anda itu tahu nggak sih?)

Sampun jamakipun brekasakan manggen ing guwa, wonten ing reca, sarta nedha ganda wangi, dhemit manawi nedha ganda wangi badanipun kraos sumyah, langkung seneng malih manawi manggen wonten ing reca wetah ing panggenan ingkang sepi edhum utawi wonten ngandhap kajeng ingkang ageng, sampun sami ngraos yen alamipun dhemit punika sanes kalayan alamipun manusa, manggen wonten ing reca teka panjenengan sikara, dados panjenengan punika tetep tiyang jail gendhak sikara siya-siya dhateng sasamining tumitah, makluking Pangeran. Aluwung manusa Jawa ngurmati wujud reca ingkang pantes simpen budi nyawa, wangsul tiyang bangsa ‘Arab sami sojah Ka’batu’llah, wujude nggih tugu sela, punika inggih langkung sasar”.

(Sudah wajar kalau para makhluk halus tinggal di gua dan patung. Selain itu mereka makan bau harum. Makhluk halus itu apabila makan bau harum, badannya terasa segar. Mereka betah tinggal di patung-patung batu yang berada di tempat sepi atau yang berada di depan pohon besar. Apakah Anda sudah pernah merasakan hidup di alam makhluk halus yang berbeda dengan alam manusia? Mereka yang hidup di dalam patung baru, Anda siksa, jadi karena itu Anda patut disebut orang jahil. Orang yang gemar berbuat seenaknya sendirinya terhadap sesama makhluk Tuhan. Lebih baik orang Jawa yang menghormati patung demi menguntungkan para makhluk halus, dibandingkan dengan orang Arab yang menyembah Ka’bah. Wujudnya juga tugu batu, sehingga seharusnya mereka juga sesat.”)

Pangandikane Sunan Benang: Ka’batu’llah iku kang jasa Kangjeng Nabi Ibrahim, ing kono pusering bumi, didelehi tugu watu disujudi wong akeh, sing sapa sujud marang Ka’batu’llah, Gusti Allah paring pangapura lupute kabeh salawase urip ana ing ‘alam pangumbaran”.

(Sunan Bonang menjawab, “Ka’bah itu ada karena jasanya Nabi Ibrahim, di situ terletakpusatnya bumi. Dibangun tugu dan disembah orang banyak. Siapa saja yang bersujud pada Ka’bah, Allah akan mengampuni dosanya selama hidup di dunia.”)

Buta Locaya mangsuli karo nepsu: “Tandhane napa yen angsal sihe Pangeran, angsal pangapunten sadaya kalepatanipun, punapa sampun angsal saking Pangeran Kang Maha Agung tapak asta mawi cap abrit?

(Buta Locaya menjawab dengan marah, “Buktinya apa kalau mereka beroleh pengampunan dosa dari Tuhan, memperoleh pengampunan dari semua kesalahan.Apakah sudah memperoleh tanda tangan dan cap dari Tuhan?”)

Sunan Benang ngandika maneh: “Kang kasebut ing kitabku, besuk yen mati oleh kamulyan”.

(Sunan Bonang berkata lagi, “Itu semua disebut dalam kitabku. Besok kalau meninggal akan beroleh kemuliaan.”)

Buta Locaya mangsuli karo mbekos: “Pejah malih yen sumerepa, kamulyan sanyata wonten ing dunya kemawon sampun korup, sasar nyembah tugu sela, manawi sampun nrimah nembah curi, prayogi dhateng redi Kelut kathah sela ageng-ageng yasanipun Pangeran, sami maujud piyambak saking sabda kun, punika wajib dipun sujudi. Saking dhawuhipun Ingkang Maha Kuwaos, manusa sadaya kedah sumerep ing Baitu’llahipun, badanipun manusa punika Baitu’llah ingkang sayektos, sayektos yen yasanipun Ingkang Maha Kuwaos, punika kedah dipunreksa, sinten sumerep asalipun badanipun, sumerep budi hawanipun, inggih punika ingkang kenging kangge tuladha.

(Buta Locaya menjawab dengan tidak senang hati, “Ketahuilah, kemuliaan yang ada di dunia ini sudah ternoda, orang tersesat menyembah tugu batu, ketika mereka sudah melakukan kejahatan. Di Gunung Kelut banyak batu besar-besar hasil ciptaan Tuhan, kesemuanya itu terwujud berdasarkan Sabda Allah, itulah yang sesungguhnya lebih pantas disembah. Berdasarkan izin Yang Maha Kuasa, seluruh umat manusia harus mengetahui mengenai Ka’bah sejati, tubuh manusia itulah Ka’bah sejati. Sejati karena ciptaannya Yang Maha Kuasa. Inilah yang harus diperhatikan. Siapa yang sadar akan asal usulnya, mengetahui akal budinya, yaitu yang sanggup dijadikan suri tauladan.)

Sanadyan rinten dalu nglampahi salat, manawi panggenanipun raga peteng, kawruhipun sasar-susur, sasar nembah tugu sela, tugu damelan Nabi, Nabi punika rak inggih manusa kekasihipun Gusti Allah, ta, pinaringan wahyu nyata pinter sugih engetan, sidik paningalipun terus, sumerep cipta sasmita ingkang dereng kalampahan. Dene ingkang yasa reca punika Prabu Jayabaya, inggih kekasihipun Ingkang Kuwaos, pinaringan wahyu mulya, inggih pinter sugih engetan sidik paningalipun terus, sumerep saderengipun kalampahan, paduka pathokan tulis, tiyang Jawi pathokan sastra, betuwah saking leluhuripun. sami- sami nyungkemi kabar, aluwung nyungkemi kabar sastra saking leluhuripun piyambak, ingkang patilasanipun taksih kenging dipuntingali. Tiyang nyungkemi kabar ‘Arab, dereng ngretos kawontenanipun ngrika, punapa dora punapayektos, anggega ujaripun tiyang nglempara.

(Meskipun siang dan malam menjalankan salat, tetapi apabila pikirannya gelap, pengetahuannya amburadul, menyembah tugu batu yang dibuat nabi. Nabi itu khan jugamanusia kekasih Allah, diberi wahyu sehingga menjadi pandai dan sanggup mengetahui apa yang akan terjadi. Sedangkan yang membangun arca batu itu adalah Prabu Jayabaya, yang juga merupakan kekasih Allah. Ia juga menerima wahyu mulia, jugabanyak pengetahuannya dan sanggup mengetahui apa yang akan terjadi. Anda berpedoman pada kitab, sedangkan orang Jawa berpedoman pada sastra kuno, petuah dari leluhur sendiri. Lebih baik mempercayai sastra kuno dari leluhur sendiri yangpeningggalannya masih dapat disaksikan. Orang mempercayai kitab Arab, padahal belum tahu keadaan di sana, entah benar entah salahnya, hanya percaya perkataannya para penipu.)

Mila panjenengan anganjawi, nyade umuk, nyade mulyaning nagari Mekah, kula sumerep nagari Mekah, sitinipun panas, awis toya, tanem-tanem tuwuh boten saged medal, benteripun banter awis jawah, manawi tiyang ingkang ahli nalar, mastani Mekah punika nagari cilaka, malah kathah tiyang sade tinumbas tiyang, kangge rencang tumbasan. Panjenengan tiyang duraka, kula-aturi kesah saking ngriki, nagari Jawi ngriki nagari suci lan mulya, asrep lan benteripun cekapan, tanah pasir mi rah toya, punapa ingkang dipuntanem saged tuwuh, tiyangipun jaler bagus, wanitanipun ayu, madya luwes wicaranipun. Rembag panjenengan badhe priksa pusering jagad, inggih ing ngriki ingkang kula-linggihi punika, sapunika panjenengan ukur, manawi kula lepat panjenengan jotos.

(Anda menjual kemuliaannya negeri Mekah. Padahal saya tahu seperti apa sebenarnya Mekah. Tanahnya panas, susah air, tanaman tidak bisa tubuh, serta jarang hujan. Orang yang sanggup bernalar akan menyebut Mekah itu negeri celaka. Malah banyak orang yang diperjual-belikan sebagai budak. Anda itu orang durhaka. Saya minta untuk pergi dari sini, negeri Jawa yang suci dan mulia, cukup hujan dan air, apa yang ditanam dapat tumbuh, yang pria tampan, yang wanita cantik. Bicaranya juga luwes. Kalau Anda bicara masalah pusatnya jagad, maka tempat yang saya duduki inilah yang merupakan pusat jagad. Silakan Anda ukur, bila salah pukullah saya.)

Rembag panjenengan punika mblasar, tandha kirang nalar, kirang nedha kawruh budi, remen niksa ing sanes. Ingkang yasa reca punika Maha Prabu Jayabaya, digdayanipun ngungkuli panjenengan, panjenengan punapa saged ngepal lampahing jaman? Sampun ta, kula-aturi kesah kemawon saking ngriki, manawi boten purun kesah sapunika, badhe kula-undhangake n adhi-kula ingkang wonten ing redi Kelut, panjenengan kula-kroyok punapa saged menang, lajeng kula-bekta mlebet dhateng kawahipun redi Kelut, panjenengan punapa boten badhe susah, punapa panjenengan kepengin manggen ing sela kados kula? Mangga dhateng Selabale, dados murid kula!”.

(Anda itu seperti orang tidak waras, pertanda kurang nalar, kurang memakan pengetahuan akal budi, senang menyiksa orang lain. Yang membuat arca itu Maha Prabu Jayabaya, yang kesaktiannya melebihi Anda. Anda apa sanggup mengetahui apa yang akan terjadi? Sudahlah, saya minta Anda pergi saja dar sini. Jika tidak mau pergi dari sini, maka akan saya panggilkan adik saya dari Gunung Kelut. Anda saya keroyok apa bisa menang? Lalu akan saya bawa ke dalam kawah Gunung Kelut. Apakah Anda tidak sengsara? Apakah Anda ingin berdiam dalam batu seperti saya? Kalau mau silakan datang ke Selabale, jadi murid saya!”)

Sunan Benang ngandika: “Ora arep manut rembugmu, kowe setan brekasakan”.(Sunan Bonang berkata, “Saya tidak mau mengikuti perkataanmu, wahai setan iblis.”)

Buta Locaya mangsuli: “Sanadyan kula dhemit, nanging dhemit raja, mulya langgeng salamine, panjenengan dereng tamptu mulya kados kula, tekad panjenengan rusuh, remen nyikara niaya, mila panjenengan dhateng tanah Jawi, wonten ing ‘Arab nakal kalebet tiyang awon, yen panjenengan mulya tamtu boten kesah saking ‘Arab, mila minggat, saking lepat, tandhanipun wonten ing ngriki taksih krejaban, maoni adating uwong, maoni agama, damel risak barang sae, ngarubiru agamane leluhur kina, Ratu wajib niksa, mbucal dhateng Menadhu”.

(Buta Locaya menjawab, “Meskipun saya makhluk halus, tetapi raja makhluk halus. Mulia dan abadi selamatnya. Anda belum tentu mulia seperti saya. Niat Anda buruk, gemar menyiksa orang lain. Oleh karena itu Anda datang ke tanah Jawa. Di Arab Anda tergolong orang hina. Jika Anda orang mulia maka tidak akan pergi meninggalkan Arab, karena salah maka melarikan diri dari sana. Buktinya di sni membuat onar, menghina adatistiadat orang lain, menghina agama, merusak barang yang bagus, mengharubiru agama leluhur kuno. Raja wajib menyiksa dan membuang Anda.”)

Sunan Benang ngandika: “Dhadhap iki kembange tak jenengake celung, uwohe kledhung, sabab aku kecelung nalar lan keledhung rembag, dadiya paseksen yen aku padu lan ratu dhemit, kalah kawruh kalah nalar”.

(Sunan Bonang berkata, “Pohon dadap ini bunganya aku beri nama celung, buahnya kledhung, karena aku kalah nalar dan kalah pembicaraan. Jadilah saksi bila aku bertengkar dengan raja makhluk halus dan kalah pengetahuan serta nalar.”)

Mula katelah nganti tumeka saprene, woh dhadhap jenenge kledhung, kembange aran celung.

(Oleh karena itu hingga sekarang, buah dadap, namanya kledhung, bunganya dinamakan celung.)

Sunan Benang banjur pamitan: “Wis aku arep mulih menyang Benang”.

(Sunan Bonang lalu berpamitan, “Sudah saya akan pulang ke Bonang.”)

Buta Locaya mangsuli karo nepsu: “Inggih sampun, panjenengan enggala kesah, wontening ngriki mindhak damel sangar, manawi kadangon wonten ing ngriki mindhak damel susah, murugaken awis wos, nambahi benter, nyudakaken toya”.

Sunan Benang banjur tindak, dene Buta Locaya sawadya-balane uga banjur mulih. (Buta Locaya menjawab dengan marah, “Ya sudah, pergilah cepat-cepat. Di sini membuat susah saja. Makin lama makin membuat susah saja. Membuat susah air, menyebabkan kekeringan.” Sunan Bonang meninggalkan tempat itu dan Buta Locaya beserta pasukannya juga pulang meninggalkan tempat itu.)

 

Gatoloco dan Darmogandul: Sinisme Terhadap Islam di Awal Abad 20

kontroversi soal penghinaan ajaran Islam yang kini ramai karena menyikapi soal isi video pidato Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Kepulauan Seribu, bila ditelisik dalam perkembangan sejarah penyebaran Islam di Nusantara—terutama Jawa—sudah berlangsung sangat lama. Semenjak dulu selalu ada sikap dan tindakan pejoratif , sinis, atau bahkan anti-Islam seperti itu.

Salah satu kenyataan itu akan terlihat jelas bila membaca kembali beberapa buku klasik di dalam kesusteraan ‘Jawa baru’, yakni Dermagandul (ada yang menulis Darmogandul) dan Gatoloco (ada juga yang menulis dengan Gato Lotjo).

Pada zaman silam sebelum tahun 1970-an buku ini di Jawa tersebar luas. Orang membicarakan dari mulut ke mulut. Ajaran Islam, fiqh, hingga sosok ulama dan haji jadi bahan olokan. Saking kesalnya, pihak yang tersinggung kerap menyebut olok-olokan  Gatoloco sebagai sebutan ‘kothak-kathik gathuk’ (permaian kata-kata) dengan arti: ‘Digathuk-gathue dadine lucu”  (dihubung-hubungkan yang jadinya lucu).

Buku-buku  ini masih ditemukan pada era Soekarno, tetapi di larang selama Orde Baru. Namun pada 2005 dan 2006,  Dermagandhul diterbitkan ulang di Surakarta dan Yogyakarta oleh pengarang yang tampaknya berbeda, yang merupakan nama samaran (noms de plume)  dari satu penulis yang lebih suka namanya anonim karena takut masih adanya larangan resmi penerbitan.

Namun,  sekitar dua tahun silam, stensilan buku Gatoloco versi penerbit Tan Khoen Swie, Kediri, Tjetakan ke V tahun 1958 masih gampang di dapatkan. Di  kios buku antik yang berada di pinggiran Alun-Alun Utara Surakarta (tak jauh dari Kraton dan Masjid Besar Surakarta) buku ini masih dijual belikan.

Sampul gambar buku sangat sederhana, namun menarik karena terasa antik. Gambar nya memakai lukisan sketsa seorang lelaki yang duduk bersimpuh di depan seorang perempuan yang berdiri di depan sebuah gua. Perempuan itu digambarkan dengan memakai kebaya dan kain. Lekuk tubuh keperempuannya terkesan ditonjolkan. Bahasa buku ini terkesan ‘asli’ karena memakai bahasa Jawa baru.

Jalinan cerita buku ini mengisahkan tentang perdebatan antara tiga sosok kyai (ulama) dengan seorang  lelaki bernama Gatoloco digambarkan sebagai orang yang berpenampilan buruk, berbau busuk, bermulut kotor, penghisap candu, pembantah, filosofis, dan berpikiran seksual. Gatoloco pun tak sendirian. Dia ditemani  bujangnya yang bernama Darmogandu

Sikap ingin menista atau sinis terhadap Islam, tercermin dalam percakapan antara tiga orang ulama dengan Gatoloco. Dalam Bab ke IV, buku Gatholco tebritan Tan Khoen Swie Kediri hal 1958 (Gambuh, 26). Perdebatan ini terkait dengan soal haramnya kaum Muslim memakan daging babi :

Gambuh 26 :

Den ingu kawit kuntjung, lah tah sapa wani ganggu-ganggu, luwih kalal saking iwak wedhus pithik, jen asale iwak wedhus, sakko anggone anjenjolong.

(Sudah dipelihara semenjak kecil (babi), lalu siapakah yang berani mengganggu, (karena) lebih halal daging babi itu dari pada kambing ayam, bila asalnya daging kambing  itu didapat dari mencuri,red).

Mengkaji buku Gatoloco tersebut, sejarawan Australia, MC Ricklefs, (Mengislamkan Jawa, Serambi, Cet 1 November 2013), menyatakan, di antara kaum priyayi di Jawa pada masa itu memang tumbuh sentiment anti-Islam . Mereka beranggapan bahwa peralihan keyakinan ke Islam adalah sebuah kesalahan dan bahwa kunci modernitas yang sesungguhnya  terletak  kesalahan peradaban.

Selain itu,  mereka pun percaya bila kunci modernitas yang sesunguhnya itu terletak pada penggabungan pengetahuan moderen ala Eropa dengan restorasi kebudayaan Hindu –Jawa. Islam dalam hal ini dipandang sebagai penyebab mundurnya wujud paling agung dari kebudayaan tersebut: Kerajaan Majapahit.

Pada tahun 1870-an, para penulis dari Kediri memang telah meramu gagasan-gagasan semacam ini di dalam tiga karya sastra yang ‘mengagumkan’, Babad Kedhiri, Suluk Gatholoco, dan Serial Dermagandul, dan mengolok-olok Islam. Karya tersebut ini meramalkan bahwa penolakan terhadap Islam akan terjadi empat abad setelah kejatuhan Majapahit.

Jadi buku ini mungkin ditulis untuk memperingati berdirinya sebuah sekolah milik pemerintah kolonial bagi kaum elite di Probolinggo pada 1878, atau 400 tahun setelah runtuhnya Majapahit sebagaimana secara tradisional diyakini dan bahkan orang Jawa akan menjadi pemeluk agama Kristen.

Pada bagian lain dalam buku itu, Ricklefs lebih lanjut menyatakan  bila Babad Kediri , yang ditulis pada 1873, itu  menampilkan satu sejarah yang konon rahasia tentang kemenangan Islam di Jawa, kabarnya terjadi karena pengkhianatan Sultan Demak pertama yang memerangi ayahnya senditi dengan para wali di sekitarnya. Di sinilah muncul Sabdo Palon, penasihat Raja Majapahit, yang mendesak Sultan mempertahankan keyakinan Budhanya. Ternyata Sabda Palon adalah dewa punakawan Semar. Pelindung 'adi dunia' bagi semua orang Jawa.

Dalam kajiannya itu Ricklefs juga menyatakan Suluk Gatholoco benar-benar kasar dan gila-gilaan ditulis tidak lebih lama dari tahun 1872. Karya ini menghina Islam dari berbagai segi, bahkan menafsirkan ulang kalimat syahadat sebagai metafora hubungan seksual.

 

 

Sedangkan buku ketiga, Serat Dermagandhul, menggabungkan revisionesme Babad Kedhiri dan Kegilaan cabul Gotholoco. Karya ini meramalkan bahwa setelah tiga tahun (yaitu pada 1970-an) orang Jawa akan mengabdikan diri mereka pada pembelajaran moderen dan menjadi orang Jawa sejati kembali, dan kemudian pindah agama ke Kristiani.

Buku-buku luar  ini masih ditemukan pada era Soekarno, tetapi di larang selama Orde Baru. Namun pada 2005 dan 2006,  Dermagandhul diterbitan ulang di Surakarta dan Yogyakarta oleh pengarang yang tampaknya berbeda, yang merupakan nama samaran (noms de plume) dari satu penulis yang lebih suka namanya anonym karena takut masih adanya larangan resmi penerbitan.

Namun, beberapa waktu silam stensilan buku Gatoloco versi penerbit Tan Khoen Swie, Kediri, Tjetakan ke V tahun 1958 memang terbukti masih bisa di dapatkan. Di  kios buku antik yang berada di pinggiran Alun-Alun Utara Surakarta (tak jauh dari Kraton dan Masjid Besar Surakarta). Sampul gambar buku ini memakai lukisan sketsa seorang lelaki yang duduk bersimpuh di depan seorang perempuan yang berdiri di depan sebuah gua. Perempuan itu digambarkan dengan memakai kebaya dan kain. Lekuk tubuh keperempuannya terkesan ditonjolkan.

 

SERAT DARMO GANDUL & SULUK GATOLOCO ISINYA MENGKRITIK ISLAM PADA WAKTU ITU

Sebagian besar aliran kebatinan berpegang teguh pada kitab-kitab yang dianggap suci dan disucikan, yaitu kitab Darmo Gandul, Gatoloco, dan Hidayat Jati. Bila dikaji secara mendalam, kitab Darmo Gandul dan Gatoloco isinya bukan semata-mata sinkritisme, mencari kesamaan dan persamaan di antara ajaran agama-agama, seperti Hindu, Budha, dan Islam, melainkan membuat penafsiran dan penakwilan ajaran agama Islam. Dalam buku Darmo Gandul, misalnya, terdapat kesan bahwa zikir cara Budha itu lebih daripada zikir cara Islam. Dan, berikut sedikit uraian tentang buku Darmo Gandul, pada sebuah pangkur yang isinya menghina Islam. Di antara isinya adalah sebagai berikut :

1.             Orang yang beragama Islam itu jahat. Buktinya, diperlakukan dengan baik-baik malah membalas dengan kejahatan.

2.             Orang Islam mementingkan formalitas belaka, salat dengan gerakan-gerakan tertentu, azan dengan suara keras, doa dengan mengangkatkedua tangan (menadahkan kedua tangan) seperti orang edan (gila), berteriak-teriak lima kali dalam sehari semalam.

3.             Orang Islam mengharamkan makanan-makanan yang lezat, seperti sate babi, opor monyet, gorengan cacing, kare anjing, sup tikus, bistik kodok, gulai ular, dendeng luwak, dan lain-lain. Orang Islam yang mengharamkan makanan yang lezat itu adalah keblinger.

4.             Yang penting dalam Islam itu adalah syahadat, bukan shalat (sembahyang).

5.             Syahadat orang Islam adalah syahadat syaringat (syariat), atau hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan, hubungan seksual itu sangat penting bagi umat Islam.

6.             Permulaan surat Al-Baqarah, "Alif laam miim, dzalikal kitabu laa raiba fiihi hudal lilmuttaqin." Menurut versi Darmo Gandul artinya, ;Dzalikal ( ….disensor dan tidak dpt ditulis disini karena sangat jorok) Kitaabu laa (………….) Raiba fiihi hudan :(ditafsirkan wanita telanjang bulat )Lil muttaqin (………..)

7.             Penulis Darmo Gandul kemudian menyebutkan yang dalam bahasa Indonesianya adalah, "Itu adalah bahasa Arab yang sampai ke tangan kita (Jawa), aku tafsirkan menurut interpretasi Jawa, agar artinya dapat dipahami. Artinya, bahwa bahasa Arab tersebut di pulau Jawa saya ceritakan dengan mata kebatinan sehingga seperti yang tersebut di atas."

8.             Berdasarkan keterangan di atas, nampak jelas bahwa tujuan utama buku Darmo Gandul ditulis bukanlah untuk sinkritisme, melainkan untuk menghina, mencela, merendahkan, dan merongrong ajaran Islam.

9.             Adapun kitab suci aliran kebatinan yang lain adalah Gatoloco. Gatoloco sendiri adalah nama kemaluan laki-laki. Di antara isi kitab tersebut telah disebutkan oleh Prof. DR. Rasyidi dalam bahasa Indonesia, yang salinannya di tulis dalam bukunya yang berjudul Islam dan Kebatinan antara lain sebagai berikut.

10.        Semua barang halal asalkan diperoleh dengan cara baik, seperti babi, anjing, kucing, luwak, tikus, ular, kodok, bekicot, (keong racun), semuanya halal asal diperoleh dari cara baik, seperti membeli, diberi, atau menangkap sendiri, dan bahkan lebih halal daripada kambing, sapi, kerbau, dan yang lainnya yang diperoleh lewat mencuri.

11.        Pedoman hidupku adalah bahrul qalbi, yaitu lautan hatiku untuk minum madat. Rasulullah itu bukanlah orang yang ada di Arab sana, dia sudah mati, lebih-lebih Saudi Arabia sangatlah jauh, maka orang kita menyembah Rasulullah di Arab itu tidak ada gunanya, dan aku menyembah Rasul yang ada dalam dadaku.

12.        Aku ini Tuhan berada di sentrum wujud. Rasulullah adalah hatiku, agamaku adalah agama rasa.

13.        Pedoman hidupku adalah bahrul qalbi yaitu lautan hatiku yang luas lagi dalam.

14.        Aku selalu sembahyang, tidak pernah putus-putus, sembahyangku adalah nafsuku ini, nafsu yang dari ubun-ubun adalah sembahyangku terhadap tuhan. Nafsu yang dari mulut adalah sembahyangku untuk Muhammad saw.

15.        Ada nafas yang keluar dari hidung itu adalah tali kehidupanku, oleh karena itu nafasku berbunyi Allah-Allah.

16.        Qiblatku adalah diriku sendiri yang dinamakan Baitullah. Arti lafad "baitun" adalah baito (perahu, kapal) yang berarti baitullah adalah perahu buatan Allah. Sedang ka'bah hanyalah buatan nabi Ibrahim. Maka lebih bagus kapal buatan Allah daripada kapal buatan nabi Ibrahim, oleh karena itu, berkiblat dengan hati lebih baik daripada berkiblat kepada Ka’bah yang hanya buatan Nabi Ibrahim.

17.        Sebelum dunia ini ada, sebelum ada binatang dan matahari, yang ada hanyalah nur Muhammad, yaitu yang berada di bintang johar yang menjadi pusar (pusat) atau wudel (bhs Jawa) Nabi Muhammad .

18.        Lanang (laki-laki) artinya adalah kemaluan laki-laki.

19.        Wadon (perempuan) artinya adalah kemaluan perempuan.

20.        Dua kalimah syahadat artinya adalah laki-laki dan perempuan yang sedang berhubungan badan Allah artinya adalah olo (jelek) yang berarti kedua kemaluan laki-laki dan perempuan itu buruk dan jelek rupa dan bentuknya.

21.        Dua kalimah syahadat menurut kebatinan artinya aku menyaksikan bahwa hidupku dan cahaya Tuhan serta rasa Nabi Muhammad adalah karena persetubu han bapak dan ibu, karena itu saya juga ingin melakukan persetubuhan itu.

22.        Mekah (Makkah) artinya adalah bersetubuh, yaitu (………………)

 

Itu di antara sebagian isi dari buku Gatoloco yang merupakan buku dan kitab suci aliran kebatinan. Buku itu jelas-jelas menghina ajaran Islam.Na'udzubillahi min dzalik

Sama dengan Darmogandul dan Gatoloco dalam Menolak Syari’at Islam

Generasi awal penolak syari’at Islam di Jawa telah dipelopori oleh Darmogandul dan Gatoloco.

Gatoloco menolak syari’at dengan qiyas/ analog yang dibuat-buat sebagai berikut:

“Santri berkata: Engkau makan babi. Asal doyan saja engkau makan, (engkau) tidak takut durhaka."

Gatoloco berkata: "Itu betul, memang seperti yang engkau katakan, walaupun daging anjing, ketika dibawa kepadaku, aku selidiki. Itu daging anjing baik. Bukan anjing curian."

Anjing itu kupelihara dari semenjak kecil. Siapa yang dapat mengadukan aku? Daging anjing lebih halal dari daging kambing kecil. Walaupun daging kambing kalau kambing curian, adalah lebih haram. Walaupun daging anjing, babi atau rusa kalau dibeli adalah lebih suci dan lebih halal.

Itulah penolakan syari’ah dengan qiyas/ analogi yang sekenanya, yang bisa bermakna mengandung tuduhan. Untuk menolak hukum haramnya babi, lalu dibikin analog: Babi dan anjing yang dibeli lebih halal dan lebih suci dibanding kambing hasil mencuri.

Ungkapan Gatoloco yang menolak syari’at Islam berupa haramnya babi itu bukan sekadar menolak, tetapi disertai tuduhan, seakan hukum Islam atau orang Islam itu menghalalkan mencuri kambing. Sindiran seperti itu sebenarnya baru kena, apabila ditujukan kepada orang yang mengaku tokoh Islam namun mencuri kambing seperti Imam bahkan pendiri LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) yakni Nur Hasan Ubaidah. Karena dia memang pernah mencuri kambing ketika di Makkah hingga diuber polisi, dan kambingnya disembunyikan di kolong tempat tidur. Tetapi zaman Gatoloco tentunya belum ada aliran Nur Hasan Ubaidah itu. Jadi Gatoloco itu (sebagaimana ditiru oleh penolak syari’ah Islam belakangan) telah melakukan dua hal:

1.     Menolak syari’at Islam

2.     Menuduh umat Islam sekenanya.

Penolakan syari’at Islam disertai tuduhan ada yang lebih drastis lagi, yaitu yang dilakukan oleh Darmogandul. Mari kita simak kecaman dan tuduhan Darmogandul terhadap Umat Islam berikut ini:

“Semua makanan dicela, umpamanya: masakan cacing, dendeng kucing, pindang kera, opor monyet, masakan ular sawah, sate rase (seperti luwak), masakan anak anjing, panggang babi atau babi rusa, kodok dan tikus goreng."

"Makanan lintah yang belum dimasak, makanan usus anjing kebiri, kare kucing besar, bestik gembluk (babi hutan) semua itu dikatakan haram. Lebih-lebih jika mereka melihat anjing, mereka pura-pura dirinya terlalu bersih."

"Saya mengira, hal yang menyebabkan santri sangat benci kepada anjing, tidak sudi memegang badannya atau makan dagingnya, adalah karena ia suka bersetubuh dengan anjing di waktu malam. Baginya ini adalah halal walaupun dengan tidak pakai nikah. Inilah sebabnya mereka tak mau makan dagingnya.”

 

Ungkapan Darmogandul yang menuduh umat Islam sampai sedrastis itu, sebenarnya intinya sama juga.

1.     Menolak syari’at Islam.

2.     Menuduh secara semaunya terhadap umat Islam ataupun syari’atnya

Jadi sebenarnya polanya sama, antara penolak syari’at model lama dan model baru. Intinya ya dua perkara itu. Hanya saja kalau penolak syari’at Islam model baru, pakai putar-putar sana sini, lalu tuduhannya pun dicanggih-canggihkan. Diberondongkanlah ungkapan-ungkapan negatif terhadap umat Islam, bahkan syari’at Islam. Maka diluncurkanlah kepada umat Islam, kata-kata: inferiority complex, fikihisme, legalisme, pikiran apologetis sampai pada ungkapan fikih telah kehilangan relevansinya.

Sebenarnya Darmogandul dan Gatoloco pun telah mencari-cari perkataan yang secanggih-canggihnya untuk menuduh Umat Islam dan Syari’at Islam. Jadi ungkapan Inferiority complex yang dilontarkan orang sekarang, itu sebenarnya nilainya ya sama saja dengan ungkapan dendeng kucing, pindang kera, opor monyet yang dilontarkan orang masa lalu yaitu Darmogandul dan Gatoloco.

Masih ada satu ciri yang sama, yaitu mengembalikan istilah kepada pemaknaan secara bahasa, tetapi semaunya dan tidak sesuai dengan Islam.

Darmogandul mengatakan:

” … bangsa Islam, jika diperlakukan dengan baik, mereka membalas jahat. Ini adalah sesuai dengan zikir mereka. Mereka menyebut nama Allah, memang Ala (jahat) hati orang Islam. Mereka halus dalam lahirnya saja, dalam hakekatnya mereka itu merasa pahit dan masin."

"Adapun orang yang menyebut nama Muhammad, Rasulullah, nabi terakhir, ia sesungguhnya melakukan zikir salah. Muhammad artinya Makam atau kubur, Ra su lu lah, artinya rasa yang salah. Oleh karena itu ia itu orang gila, pagi sore berteriak-teriak, dada ditekan dengan tangannya, berbisik-bisik, kepala ditaruh di tanah berkali-kali.”

"Di situ lafal “Allah” oleh Darmogandul diartikan Ala yaitu jahat. Lalu lafal “Muhammad” diartikan “makam” atau kuburan. Dan lafal “Rasulullah” diartikan “rasa yang salah”.

Lalu Darmogandul menuduh orang Islam sebagai orang gila, waktu pagi dan sore mereka adzan maka dibilang berteriak-teriak; sedang ketika Muslimin menjalankan shalat maka dia anggap bersedekap itu menekan dada, membaca bacaan shalat itu dia anggap bisik-nisik, sedang sujud dia anggap kepala ditaruh di tanah berkali-kali.

Demikianlah ungkapan Darmogandul. Sebenarnya banyak kata-kata dari ayat Al-Qur’an ataupun istilah Islam yang oleh Darmogandul diartikan dengan arti-arti jorok sekitar hubungan badan lelaki perempuan. Tetapi tidak usah kami kutip di sini.

Berikut ini model yang sama dari ungkapan Gatoloco:

“Baitullah, baitu artinya baito (perahu), jadi perahu buatan Allah, dalam perahu ada samodranya. Adapun Baitullah yang ada di Mekkah telah dibikin oleh Nabi Ibrahim."

"Pikirlah, baik mana kiblat bikinan manusia atau kiblat bikinan Tuhan, yakni badanku ini. Kiblatmu di Mekkah hanya buatan Nabi.”

Gatoloco mengartikan lafal “Baitullah” (Ka’bah) dengan “baito” yaitu perahu. Tetapi susunan pemaknaan itu tidak kosnisten, sehingga Gatoloco beralih kilah, tidak jadi pakai penerjemahan lewat bahasa, tetapi pilih pakai klaim, bahwa kiblat di Makkah itu bikinan manusia, Nabi Ibrahim. Sedang kiblat Gatoloco adalah badannya yang dibikin oleh Tuhan. Lantas Gatoloco dalam menolak Syari’at Islam menyuruh orang Islam berpikir, lebih baik yang mana: kiblat bikinan manusia ataukah yang bikinan Tuhan.

Maksud Gatoloco, mengartikan Baitullah dengan Ka’bah di Makkah itu salah. Yang benar, Baitullah itu adalah baito Allah, (perahu bikinan Allah) yaitu badan manusia. Sehingga orang yang berkiblat ke Ka’bah di Makkah itu disalahkan oleh Gatoloco dengan cara mengalihkan arti secara bahasa. Dan penyalahan arti itu kemudian diplesetkan ke arah yang sangat jorok-jorok, tentang hubungan badan lelaki-perempuan, tapi tidak usah saya kutip di sini.

Darmogandul dan Gatoloco itu menempuh jalan: Mengembalikan istilah kepada bahasa, kemudian bahasa itu diberi makna semaunya, lalu dari makna bikinannya itu dijadikan hujjah/ argument untuk menolak syari’at Islam.

Coba kita bandingkan dengan yang ditempuh oleh Nurcholish Madjid: Islam dikembalikan kepada al-Din, kemudian dia beri makna semau dia yaitu hanyalah agama (tidak punya urusan dengan kehidupan dunia, bernegara), lalu dari pemaknaan yang semaunya itu untuk menolak diterapkannya syari’at Islam dalam kehidupan.

Sama bukan?

Kalau dicari bedanya, maka Darmogandul dan Gatoloco menolak syari’at Islam itu untuk mempertahankan Kebatinannya, sedang Nurcholish Madjid menolak syari’at Islam itu untuk mempertahankan dan memasarkan Islam Liberal dan faham Pluralismenya. Dan perbedaan lainnya, Darmogandul dan Gatoloco adalah orang bukan Islam, sedang Nurcholish Madjid adalah orang Islam yang belajar Islam di antaranya di perguruan tinggi Amerika, Chicago, kemudian mengajar pula di perguruan tinggi Islam negeri di Indonesia. Hanya saja cara-cara menolak Syari’at Islam adalah sama, hanya beda ungkapan-ungkapannya, tapi caranya sama.

Meskipun akar masalahnya sudah bisa dilacak, namun masih ada hal-hal yang perlu ditanggapi sebagaimana berikut ini.

Kutipan:

“…sudah jelas, bahwa fikih itu, meskipun telah ditangani oleh kaum reformis, sudah kehilangan relevansinya dengan pola kehidupan zaman sekarang. Sedangkan perubahan secara total, agar sesuai dengan pola kehidupan modern, memerlukan pengetahuan yang menyeluruh tentang kehidupan modern dalam segala aspeknya, sehingga tidak hanya menjadi kompetensi dan kepentingan umat Islam saja, melainkan juga orang-orang lain. Maka, hasilnya pun tidak perlu hanya merupakan hukum Islam, melainkan hukum yang meliputi semua orang, untuk mengatur kehidupan bersama.” (Artikel Nurcholish Madjid).

Tanggapan:

Kalau Gatoloco menolak syari’at dengan cara mengkambing hitamkan kambing curian, maka sekarang generasi Islam Liberal menolak syari’ah dengan meganggap fiqh sudah kehilangan relevansinya. Sebenarnya, sekali lagi, sama saja dengan Gatoloco dan Darmogandul itu tadi.

Tuduhan bahwa fiqh telah kehilangan relevansinya, itu adalah satu pengingkaran yang sejati.

Dalam kenyataan hidup ini, di masyarakat Islam, baik pemerintahnya memakai hukum Islam (sebut saja hukum fiqh, karena memang hukum praktek dalam Islam itu tercakup dalam fiqh) maupun tidak, hukum fiqh tetap berlaku dan relevan. Bagaimana umat Islam bisa berwudhu, sholat, zakat, puasa, nikah, mendapat bagian waris, mengetahui yang halal dan yang haram; kalau dia anggap bahwa fiqh sudah kehilangan relevansinya? Hatta di zaman modern sekarang ini pun, manusia yang mengaku dirinya Muslim wajib menjaga dirinya dari hal-hal yang haram. Untuk itu dia wajib mengetahui mana saja yang haram. Dan itu perinciannya ada di dalam ilmu fiqh.

Seorang ahli tafsir, Muhammad Ali As-Shobuni yang jelas-jelas menulis kitab Tafsir Ayat-ayat Hukum, Rowaai’ul Bayan, yang dia itu membahas hukum langsung dari Al-Qur’an saja masih menyarankan agar para pembaca merujuk kepada kitab-kitab fiqh untuk mendapatkan pengetahuan lebih luas lagi. Tidak cukup hanya dari tafsir ayat ahkam itu.

Kalau mau mengingkari Islam yang jangkauannya mengurusi dunia termasuk negara, mestinya cukup merujuk kepada Barat sekuler yang terkena kedhaliman pihak gereja. Tidak usah merujuk kepada kondisi Islam yang akibatnya hanya akan menuduh umat Islam, fiqh Islam, syari’at Islam dan bahkan Islam itu sendiri. Hingga terseretlah oleh hawa nafsu tanpa dilandasi paradigma ilmu: Islam disempitkan jadi al-din yang dia maknakan sebagai agama belaka alias ritual/ ubudiah belaka. Ini namanya menabrak-nabrak, hanya untuk menguat-nguatkan pendapatnya. Akibatnya justru menuduh sana-sini (unsur-unsur dalam Islam) tanpa dalil yang pasti.

Dalam hal ini, Nurcholish Madjid di samping pemikirannya sederhana, masih pula mengingkari realitas dan sejarah. Hingga Nurcholish menganggap,“sudah jelas, bahwa fikih itu, meskipun telah ditangani oleh kaum reformis, sudah kehilangan relevansinya dengan pola kehidupan zaman sekarang.”

Sangat disayangkan, realitas yang belum hilang sama sekali dalam kenyataan, telah diingkari oleh Nurcholish Madjid. Teman sejawat Nurcholish Madjid dalam hal keliberalan, atau istilahnya waktu itu Islam kontekstual, yaitu Pak Munawir Sjadzali yang pernah dijuluki sebagai trio pembaruan (Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, dan Munawir Sjadzali) di tahun 1985-1990-an, Pak Munawir telah berpayah-payah membuat kompilasi hukum Islam dari kitab-kitab fiqh Islam sekitar (26 kitab) dengan mengumpulkan para rektor, dosen, dan para ulama se-Indonesia untuk membuat kompilasi hukum Islam selama 2 tahun-an, dengan mengadakan studi banding ke berbagai tempat. Ternyata kini upaya Menteri Agama Munawir Sjadzali MA itu diingkari mentah-mentah oleh Nurcholish Madjid. Memang kompilasi hukum Islam itu hanya mengenai hukum keluarga (ahwalus syahsyiyah) yaitu hukum waris, hibah, sedekah, nikah , talak, dan rujuk. Namun pelaksanaan dalam pengadilan agama yang telah disahkan lewat undang-undang peradilan agama, tetap merujuk kepada hukum fiqh Islam.

Kenyataan yang masih ada di depan mata pun diingkari oleh Nurcholish Madjid. Dan setelah mengadakan pengingkaran, lalu dia nyatakan:

Kutipan:

“Maka, hasilnya pun tidak perlu hanya merupakan hukum Islam, melainkan hukum yang meliputi semua orang, untuk mengatur kehidupan bersama.”

Tanggapan:

Ungkapan Nurcholish Madjid itu tidak usah manusia yang menjawab, tetapi kita serahkan kepada Allah SWT yang telah berfirman:

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maaidah: 50).

Agaknya pantas kita mengingat pepatah:

·        Anak di pangkuan dilepaskan

·        Beruk di hutan disusukan

Hukum Islam yang jelas dari Allah SWT, mau dia buang, sedang hukum rimba yang belum ketahuan juntrungannya mau diterapkan. Ini secara akal sudah menyalahi akal sehat. Sedang secara keyakinan sudah mengingkari hukum Allah SWT. Sehingga keyakinannya terhadap Islam pun dipertanyakan.

Barang yang masih ada di depan mata pun diingkari. Ayat yang masih tertulis di seluruh dunia pun diingkari. Dua hal ini saja sudah menjadikan lemahnya bobot pemikiran itu. Maka pantas, dulu Pak Rasyidi menyebutnya, pemikirannya itu berbahaya karena sederhana. Satu ungkapan yang perlu diresapi dengan arif.

Itu belum tentang masalah orang Hindu, Budha, Sinto oleh Nurcholish Madjid dimasukkan sebagai Ahli Kitab sebagaimana Yahudi dan Nasrani. Belum lagi tentang musyrikat (wanita musyrik, menyekutukan Tuhan) hanya dia anggap musyrikat Arab saja, bukan yang lainnya. Jadi arahnya ke mana?

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

 

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى {123} وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. (Q.S Thaha: 123, 124).

Dalam menjelaskan kedua ayat ini, Abdullah bin Abbas berkata, “Allah menjamin kepada siapa saja yang membaca Alquran dan mengikuti apa-apa yang ada di dalamnya, bahwa dia tidak akan sesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat.” [Tafsir ath Thabari, 16/225].

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. (Hadits Shahih Lighairihi, H.R. Malik; al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Dishahihkan oleh Syaikh Salim al-Hilali di dalam At Ta’zhim wal Minnah fil Intisharis Sunnah, hlm. 12-13).

 

 

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى {123} وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. (Q.S Thaha: 123, 124).

Dalam menjelaskan kedua ayat ini, Abdullah bin Abbas berkata, “Allah menjamin kepada siapa saja yang membaca Alquran dan mengikuti apa-apa yang ada di dalamnya, bahwa dia tidak akan sesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat.” [Tafsir ath Thabari, 16/225].

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. (Hadits Shahih Lighairihi, H.R. Malik; al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Dishahihkan oleh Syaikh Salim al-Hilali di dalam At Ta’zhim wal Minnah fil Intisharis Sunnah, hlm. 12-13).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

 

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى {123} وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. (Q.S Thaha: 123, 124).

Dalam menjelaskan kedua ayat ini, Abdullah bin Abbas berkata, “Allah menjamin kepada siapa saja yang membaca Alquran dan mengikuti apa-apa yang ada di dalamnya, bahwa dia tidak akan sesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat.” [Tafsir ath Thabari, 16/225].

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. (Hadits Shahih Lighairihi, H.R. Malik; al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Dishahihkan oleh Syaikh Salim al-Hilali di dalam At Ta’zhim wal Minnah fil Intisharis Sunnah, hlm. 12-13).

 

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

 

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى {123} وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. (Q.S Thaha: 123, 124).

Dalam menjelaskan kedua ayat ini, Abdullah bin Abbas berkata, “Allah menjamin kepada siapa saja yang membaca Alquran dan mengikuti apa-apa yang ada di dalamnya, bahwa dia tidak akan sesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat.” [Tafsir ath Thabari, 16/225].

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. (Hadits Shahih Lighairihi, H.R. Malik; al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Dishahihkan oleh Syaikh Salim al-Hilali di dalam At Ta’zhim wal Minnah fil Intisharis Sunnah, hlm. 12-13).

 

MENGOLOK-OLOK ISLAM DALAM SASTRA ANONIM KEJAWEN (SERAT DARMOGANDUL DAN GATOLOCO)

Cara Pujangga Jawa Mengkritik Praktik Beragama Islam

Kritik Sukarno dalam esai legendaris Islam Sontoloyo yang terbit di berkala Pandji Islam (1940), juga gema yang terdengar lebih verbal dari puisinya Sukmawati Sukarnoputri, bukanlah pikiran tanpa preseden. Kritik terhadap lelaku agama Islam formal atau Arab Islamic Orthodoxy dalam istilahnya Ben Anderson sudah berlangsung lama.

Hal itu bisa dilacak dari sejumlah karya sastra Jawa, seperti Suluk Gaṭolojo dan Serat Darmogandul yang mengkritik dengan terang lagi tajam maupun Serat Wedhatama anggitan KGPAA Mangkunegaran IV yang kritiknya lebih samar. Tulisan ini mencoba menukil sejumlah bagian yang terdapat dalam kitab-kitab di atas, memaparkan muatan kritiknya, dan terakhir melihatnya dalam konteks kekinian.

 

Suluk Gatoloco

Suluk Gatoloco merupakan sebentuk suluk mistisisme Jawa yang diperkirakan berasal dari awal abad ke-19, berbahasa Jawa Baru. Sejak pertama kali dikaji oleh orang Belanda, suluk ini sudah mengejutkan karena gaya penulisannya yang sangat terbuka dan di beberapa bagian vulgar, jauh berbeda dengan karya-karya semasanya. Sebagai karya sastra tampaknya suluk ini dibuat sebagai serangan balik dari pihak-pihak yang tidak setuju dengan aplikasi aturan-aturan fiqh yang ketat, yang dicoba diterapkan pada masa itu. Oleh kalangan Islam revivalis Indonesia masa kini, kitab ini sering kali digunakan sebagai contoh gerakan menentang penerapan fiqh.

Gatoloco merupakan nama tokoh utama dalam kitab ini, yang digambarkan sebagai orang yang berpenampilan buruk, berbau busuk, bermulut kotor, penghisap candu, pembantah, filosofis, dan berpikiran seksual. Ia ditemani oleh bujangnya yang bernama Darmogandul. Adanya tokoh Darmogandul ini menimbulkan spekulasi keterkaitan antara suluk ini dengan Serat Darmagandhul, kitab yang juga kritis terhadap penyebaran Islam di Jawa. Arti kata gatholoco dalam bahasa Jawa (gatho: barang tersembunyi, loco: mengocok, mengelus) sudah berasosiasi ke penis karena memang dimaksudkan sebagai simbol seksual kelelakian.

Nama gatoloco juga digunakan sebagai nama kesenian rakyat daerah Kedu. Nama itu dipakai sebagai singkatan dari digathuk-gathuke dadine lucu, memanfaatkan kepopuleran nama Gatoloco yang dipakai sebagai judul suluk populer ini. Kesenian ini tidak ada hubungan dengan suluk, kecuali kesamaan nama.

 

Kritik yang Samar Tajam

Wedhatama adalah puisi yang disenandungkan melalui aturan konvensi pelaguan yang memuat tuntunan moral (a didactic poem) yang ditulis pada akhir 1870an. Ia memang diniatkan sebagai kitab tuntunan moral seperti tercermin dalam bait pertama yang menjelaskan tujuan dianggitnya Wedhatama. Pada bait itu, muncul frase mardi siwi yang kira-kira berarti "untuk menuntun anakku" (Robson 1990).

Selain itu, Wedhatama juga kaya dengan kritik terhadap perilaku agama Islam yang lebih sering merujuk Arab daripada Jawa itu sendiri. Atas dasar tersebut, sosok panembahan Sénapati layak menjadi suri tauladan bagi orang Jawa daripada menghadirkan tokoh asing yang berasal dari Arab atau lainnya. Hal itu didasari atas laku asketik yang ditempuh Panembahan Senapati dalam keseluruhan hidupnya.

 

Hal itu diuraikan dalam pupuh II (canto) metrum Sinom:

Nulada laku utama

Tumrap ing wong tanah Jawi

Wong Agung ing Ngèksiganda

Panembahan Sénapati.

Mencontoh laku hidup utama

Bagi orang yang hidup di Jawa

Orang mulia dari Mataram

Yakni Panembahan Senapati.

Secara implisit, teks ini menganjurkan bahwa tokoh panutan haruslah memiliki jarak referen yang dekat dan sesuai dengan ruh budaya Jawa. Maka, dalam serat tersebut, ditampilkanlah sosok Panembahan Senapati sebagai figur yang dekat dengan orang Jawa. Figur yang berasal dari Arab atau lainnya memiliki jarak referen yang jauh sehingga kesulitan untuk dijangkau.

 

Hal itu diuraikan dalam baris ke-10:

Lamun sira paksa nulad

Tuladhaning Kangjeng Nabi

O nggèr kadohan panjangkah .

Tatkala dirimu membutuhkan panutan

Lantas dirimu mengikuti Kanjeng Nabi)

Oalah, Nak, apa yang kamu lakukan tersebut terlalu jauh.

Selain itu, metrum sinom baris sembilan juga menggambarkan perilaku orang yang memegang aturan fikih (hukum tuhan), tetapi tidak memahami esensi hukum tersebut. Hal ini mungkin yang paling cocok dengan kondisi Indonesia hari ini.

 

Deskripsi detailnya sebagai berikut

Anggung anggubel saréngat

Saringané tan dén-wruhi

Dalil dalaning ijemak

Kiyasé nora mikani

Katungkul mungkul sami

Béngkrakan mring masjid agung

Kalamun maca kutbah

Lalagone dhandang gendhis

Swara arum ngumandang céngkok palaran.

Mereka senantiasa melilitkan diri pada hukum Islam

Tetapi esensinya tidak mereka tangkap

Dalil hukum sebagai dasar kesepakatan

Analogi sebagai dasar pengambilan hukum mereka tidak paham

Mereka terlalu berlebihan dalam banyak hal

Berjalan gagah ke masjid agung

Tatkala membaca khutbah

Pelantunannya melalui metrum dhandanggula

Dengan suara manis menggelegar dengan gaya palaran.

Gambaran di atas adalah kritik terhadap praktik ber-Islam yang terjadi pada awal abad ke-19 yang ditandai banyaknya orang yang melilitkan diri (anggubel) pada hukum Islam (fikih), tetapi tidak memahami inti dari hukum tersebut. Mereka bersikukuh memegang dalil, menguasai cara-cara pengambilan hukum melalui qiyas dan ijma’, tetapi mereka tidak menyadari Jawa sangat berbeda dengan Arab. Maka, apa yang mereka lakukan cenderung mengganggap agama sebagai festival atas ketimpangan dan ketidakselarasan atas yang terjadi.

 

Kritik yang Terang Tajam

Berbeda dengan Serat Wedhatama, Serat Gatolojo terang-terangan mengkritik praktik Islam. Tidak hanya terang-terangan, malahan disebut memiliki daya ungkap yang kasar. Secara jelas ia memuat daya ungkap yang jorok dan tabu sehingga hal ini membuat priyayi Jawa malu dan merasa marwahnya turun (Anderson 1981). Saking kontroversial isinya, dan memungkinkan menimbulkan kegaduhan di masyarakat, serat ini pernah dilarang peredarannya, dan hanya diedarkan melalui jaringan bawah tanah.

Saya menggunakan sumber dari Serat Balsafah Gaṭolotjo: Ngemot Balsafah Kawruh Kawaskiṭan yang ditulis ulang oleh R. Tanojo bertarikh awal abad XX yang diterbitkan S. Muljo, Solo. Saya akan menukil bagian yang terdapat dalam bab tentang bebantahan ilmu (perdebatan ilmu) yang menggunakan metrum dhandanggula.

 

Berikut nukilannya :

Gaṭolotjo anauri aris

Rasul Mekah ingkang sira-sembah

Ora nana ing wudjude

Wes séda séwu taun

Panggonané ing tanah ‘Arbi

Lelakon pitung wulan

Tur kadangan laut

Mung kari kubur kewala

Sira-sembah djungkar-djungkir saben ari

Apa bisa tumeka

 

Gaṭolotjo menjawab dengan bijak

Rasul di Mekah yang kamu sembah

Sudah tidak berwujud lagi

Sudah meninggal seribu tahun lamanya

Tempatnya berada di tanah Arab

Ditempuh perjalanan selama tujuh bulan

Dan terhadang laut

Hanya tinggal makamnya saja

kamu sembah jungkir balik setiap hari

Memangnya yang kamu lakukan bakal sampai?

Teks di atas menggambarkan perdebatan sengit antara Gatolotjo dan Abduljabar tentang tauhid Islam. Bagian di atas adalah jawaban atas pertanyaan tentang kedudukan Nabi dalam Islam yang harus ditiru semua tingkah lakunya oleh umat Islam. Gatolotjo kemudian menyodorkan jawaban yang lugas sekaligus memicu pertanyaan dan perdebatan yang tak berkesudahan.

Apa yang saya paparkan di atas menunjukkan bahwa kritik terhadap Islam tersaji secara gamblang dalam teks klasik Jawa. Di sana terdapat pertarungan memperebutkan wacana dan kuasa seperti diulas oleh Drewes (1966) dalam “The struggle between Javanism and Islam as illustrated by the sĕrat dĕrmagandul”.

Menilik dua serat di atas, Wedhatama memiliki komposisi puitik yang indah dan proposisi kalimat yang tertata sehingga mengakibatkan kritiknya bisa diterima oleh priyayi Jawa dan umat Islam. Setidaknya, serat tersebut masih banyak dilantunkan dan diproduksi hingga sekarang.

Berbeda nasibnya dengan Suluk Gatolotjo dan Serat Darmogandul yang memiliki komposisi kurang indah (ditakar dari sudut pakem) dan cenderung jorok bahkan sejak dari judul. Hal ini mengakibatkan dua teks itu sempat dilarang pada 1963 karena isinya dianggap anti-Islam dan bermuatan pornografis (“Kitab Lelaki Sejati”, Historia).

Poin pentingnya adalah bahwa penyampaian kritik harus dibarengi dengan kejernihan berpikir atau ketuntasan proposisi, apalagi bentuk kritiknya melalui piranti kesusasteraan. Maka, kompetensi kebahasaan dan kesusasteraan yang memadai menjadi prasyarat penting untuk membangun kritik. Dengan demikian, kritik dalam bentuk puisi itu bisa lebih elegan secara bentuk dan makna sehingga substansi kritik dapat terus bergema.

Yang tidak kalah penting adalah efek politik yang ditimbulkan. Di balik produksi teks dan kritik, terselip secara halus pertarungan memperebutkan kuasa dan wacana publik. Pujangga Jawa abad ke-19 memahami dengan baik ihwal kuasa kata yang terselip dalam sastra. Adakah generasi sekarang memahami hal yang sama?

 

“Dallikal, yen turu nyengkal wadine nyengkal, tegesipun kitabulla, natap mlebu ala wadi, tegese rahabapi, rahaba kang gawe sampur, hudan lil muttakina, yen wis wuda jalu estri, den mutena jroning ala-jroning ala.”

(Dzalikal: jika tidur kemaluannya nyengkal (bangkit), kitabu la,kemaluan lelaki masuk di kemaluan perempuan dengan tergesa-gesa, raiba fihi : perempuan yang pakai kain, hudan :telanjang (wuda), lil muttaqien : sesudah telanjang, kemaluan lelaki termuat dalam kemaluan wanita [diterjemahkan oleh Prof. Dr. H.M. Rasyidi dalam Islam dan Kebatinan, hal. 17])

 Kalimat diatas adalah penggalan isi Serat Darmagandul. Menjadikan Islam sebagai bahan olok-olokan adalah ciri utama dalam Serat Darmagandul tersebut, sebuah sastra anonim yang ditulis abad Misi, sebuah masa dimana politik asosiasi atau yang lebih tepat westernisasi dan politik kristenisasi berjalan sangat intens. Istilah-istilah kunci dalam agama Islam, diputar balikkan maknanya oleh Darmagandul dengan metode othak-athik gathuk (mengait-ngaitkan) seperti istilah sadat sarengat (syhadat dan syari’at) di artikan dengan yen sare wadine njengat (kalau tidur kemaluannya berdiri), tarekat itu taren kang estri (mengajak istri bersetubuh), sedangkan lafal Muhammad diartikan sebagai makam, kuburan segala rasa, yang berarti memuja diri sendiri, bukan memuji Muhammad yang lahir di tanah arab.

Selain Darmagandul, juga ada serat Gatoloco, dimana dalam serat yang juga anonim ini, istilah-istilah inti dalam Islam diasosiasikan dengan hal-hal yang bersifat cabul. Seperti kata Allah diartikan ala, yang rupanya jelek, yang dimaksud adalah wujud kemaluan laki-laki, sedangkan naik haji ke Makkah diartikan sebagai proses persetubuhan dimana poisisi istri saat bersetubuh mekakah (Rasjidi, 1967 : hal. 9-39).

Merebaknya sastra anonim di kalangan elit Jawa, tidak terlepas dari kekalahan Pangeran Diponegoro pada perang Jawa 1825 – 1830. Meskipun Belanda memenangkan perang besar ini, namun biaya yang ditanggung sangat besar. Kondisi keuangan Kerajaan Belanda hampir bangkrut karenanya. Untuk menutupi kerugian tersebut, pemerintah Belanda menerapkan kebijakan politik tanam paksa (Cultuur Stelsel). Sistem tanam paksa mengharuskan para menanami seperlima lahan yang dimiliki dengan tanaman komersial yang sudah ditentukan pemerintah Belanda. Untuk menjalankan politik tanam paksa ini, pemerintah kolonial Belanda menaikkan derajat para bupati mejadi ningrat, dengan syarat para bupati harus melaksanakan kehendak residen Belanda. Sedangkan penduduk pribumi dituntut kepatuhan mutlak sebagai budak (Kahin, 2013 : 12). Belanda menangguk untuk yang besar dengan politik tanam paksa ini, utang VOC sebesar 35.500.000 gulden berhasil dilunasi, bahkan kas negeri Belanda bertambah sebesar 664.500.000 gulden.

Proses penganakemasan kalangan bupati dan para ningrat yang lazim disebut priyayi ini, akhirnya menjadikan para priyayi sebagai kelas tersendiri dalam masyarakat Jawa. Bukan hanya kelas sosial tetapi juga orientasi spiritualnya. Berkaca dari kekalahan Pangeran Diponegoro, bagi para priyayi tersebut, menandakan takluknya seluruh Jawa kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda, sehingga ketaatan bukan lagi tertuju pada kewibawaan Islam, melainkan kepada apa yang disebut kewibawaan Kristen (Akkeren, 1995 : 56).

Benih-benih sentimen anti Islam pun mulai bermunculan. Para priyayi tersebut beranggapan bahwa peralihan keyakinan masyarakat Jawa ke agama Islam Islam adalah sebuah kesalahan peradaban dan bahwa kunci kepada modernitas yang sesungguhnya terletak pada penggabungan pengetahuan modern ala eropa dengan restorasi kebudayaan Hindu Jawa. Apa yang menjadi pandangan kaum priyayi Jawa tersebut berasal dari Snouck Hurgronje, dimana menurut Snouck dengan penetrasi pendidikan model Baratlah pengaruh Islam di Indonesia bisa disingkirkan atau sedikitnya dikurangi. Pendidikan juga akan menghilangkan jarak kultural orang Belanda dengan para bangsawan dan kaum aristokrat Indonesia. Selain itu posisi mereka yang relatif “bersih” dari pengaruh Islam, para priyayi tersebut merupakan kelompok sosial yang paling cocok untuk ditarik masuk ke dalam orbit kebudayaan Barat dan dijadikan sebagai rekanan (Shihab, 1998 : 86)

Islam dipandang sebagai penyebab mundurnya wujud paling agung dari kebudayaan tersebut, Kerajaan Majapahit. Pada tahun 1870-an para penulis dari Kediri meramu gagasan-gagasan semacam ini di dalam tiga karya sastra yang mengagumkan, Babad Kedhiri, Suluk Gatholoco dan Serat Darmogandhul, yang merendahkan dan mengolok-olok Islam. Karya yang disebut terakhir ini meramalkan bahwa penolakan terhadap Islam akan terjadi empat abad setelah kejatuhan Majapahit –ini mungkin ditulis untuk memperingati sebuah sekolah milik pemerintah bagi kaum elite di Probolinggo pada tahun 1878, atau 400 tahun setelah runtuhnya Majapahit sebagaimana secara tradisional diyakini dan bahkan orang Jawa akan menjadi pemeluk Kristen. (Ricklefs, 2012 : 53-54).

Pemilihan Kejawen bukannya Kristen sebagai jalan spiritual oleh para priyayi tersebut disebabkan dalam pandangan masyarakat Jawa pada umumnya, kekristenan identik dengan penjajahan yang menyengsarakan rakyat banyak. Orang-orang Kristen Jawa sering dicemooh dengan ungkapan londo wurung jowo tanggung (belum berhasil menjadi Belanda dan tanggung/tidak sepenuhnya menjadi orang Jawa, lali jawane (orang jawa yang lupa akan kejawaannya), dan sebagainya. Mereka juga sering dijuluki toewan gendjah (tuan yang belum matang) (Aritonang, 2006 : 99). Agar tidak berhadapan dengan masyarakat pada umumnya, para priyayi tersebut menolak untuk dikristenkan, seperti yang digambarkan Ricklefs;

“Sekitar tahun 1870, seorang Bupati menegaskan komitmennya untuk tetap memeluk Islam dalam pengertian yang lebih instrumentalis daripada spiritual. Dia telah menunjukkan antusiasismenya terhadap segala sesuatu yang berbau Belanda. Karenanya seorang kenalan Belanda bertanya kepadanya, bilakan ini berarti bahwa dia akan beralih menjadi Kristen. Bupati tersebut menjawab, “Ah, ….. sejujurnya, saya lebih senang memiliki empat orang istri dan satu Tuhan dariapada satu istri dan tiga Tuhan.” (Ricklefs, 2012:52)

Sastra Kejawen, Penginjilan Jalan Memutar

Sistem tanam paksa dijalankan pada era Gubernur Jendral Van den Bosch. Selain sebagai gubernur, ia juga merupaka ketua di Nederland Bijbelgenootschap. Pada tanggal 27 Februari 1932, Van den Bosch mendirikan Instituut voor het Javaansche Taal (Lembaga Bahasa Jawa). pada 27 Februari 1832. Selain untuk mempelajari bahasa dan seluk beluk Jawa, lembaga ini diharapkan berfungsi sebagai institusi pendamping penerjemahan Bible ke dalam Bahasa Jawa. (Simbolon, 2007 :127). Lembaga ini merupakan tempat berkumpul para ahli-ahli Jawa berkebangsaan Belanda. Para javanolog Belanda ini lebih jauh menggali kesusastraan, bahasa dan sejarah Jawa kuno yang telah lama menghilang di kalangan orang Jawa. Para Javanolog Belanda mengembalikan tradisi Jawa kuno (Jawa pra Islam) dan menghubungkannya dengan Surakarta.  Javanolog Belanda lah yang “menemukan”, “mengembalikan” dan “memberikan makna terhadap Jawa masa lalu. Jika orang Jawa ingin kembali ke masa lalunya, mereka harus melalui screening pemikiran Javanolog Belanda (Shiraishi, 1997 : 7-9)

Apa yang dilakukan oleh para Javanolog Belanda dalam mengolah sastra Jawa tersebut mirip dengan kisah pertemuan Flaubert dengan Kuchuk Hanum, pelacur Mesir yang dikisahkan oleh Erward Said, dalam magnum opusnya, Orientalisme.

Sastra Jawa sekedar menjadi boneka timur para Javanolog, dan semuanya dibuat tanpa ada kesepakatan bersama. Kuchuk Hanum, si pelacur, tidak pernah berbicara tentang dirinya, tidak pernah mengungkapkan perasaannya, kehadirannya, atau riwayat hidupnya kepada Flaubert. Akan tetapi, kondisi Kuchuk Hanum yang lemah dan miskin secara material tidak berdaya, menjadikan Falubertlah yang justru berbicara atas nama dan mewakili dirinya. (Said, 2010 : 8) Kartini memandang resah fenomena ini, sebagaimana tertuang dalam salah satu suratnya kepada temannya di Eropa.

“Ada banyak, ya banyak, pejabat (Belanda) yang membiarkan para pemimpin pribumi mencium kaki dan dengkul mereka. Dalam banyak cara yang halusm mereka menjadikan kami merasa bahwa kami berbeda dari mereka. Seakan-akan mereka berkata “Saya orang Eropa, kamu orang Jawa,” atau “Saya tuan, kamu hamba.” Dan bahkan banyak orang Belanda yang tidak begitu suka berbicara kepada kami dalam bahasa mereka. Bahasa Belanda terlalu indah untuk diucapkan oleh mulut berwarna coklat” (Alwi Shihab, 1998 : 96)

Dan arah dari sastra anonim seperti Darmagandhul ini, oleh Susiyanto, dosen IAIN Surakarta yang meneliti serat Darmagandul menunjukkan beberapa paragraf yang secara eksplisit mencita-citakan kekristenan orang-orang Jawa.

Serat ‘Arab djaman wektu niki,sampun mboten kanggo,resah sija adil lan kukume, ingkang kangge mutusi prakawis, Serate Djeng Nabi,Isa Rahu’llahu.(Anonim, 1955:6) (Serat Arab jaman waktu ini sudah tidak terpakai, hukumnya meresahkan dan tidak adil, yang digunakan untuk memutusi perkara Serat Kanjeng Nabi Isa Rahullah).

 ”Wong Djawa ganti agama,  akeh tinggal agama Islam bendjing,  aganti agama kawruh, ….”(Anonim, 1955:93). (Artinya, “Orang Jawa ganti agama, besok banyak yang meninggalkan Islam, berganti (menganut) agama kawruh (agama budi, nasrani)”)

Kecenderungan menjadikan Islam sebagai bahan hinaan dalam karya sastra, memang ciri khas orientalis yang pada abad XVII – XIX yang didominasi kalangan teolog Kristen. Di Eropa misalnya, kita bisa  mengambil contoh karya Dante, The Divine Comedy. Maometto –Muhammad- oleh Dante ditempatkan pada lapisan kesembilan dan sepuluh lapisan Bogias of Maleboge, gugusan parit kelam yang mengelilingi kubu setan di neraka. Dalam pandangan Dante, Muhammad dikategorikan penyebar skandal dan perpecahan, dengan hukuman tubuhnya terus menerus dibelah dua dari dagu hingga ke anus, bagaikan, kata Dante, sepotong kayu yang papan-papannya dirobek-robek. (Said, 2010 : 101-102).

 

Meskipun sebagai sastra anonim yang tentu saja tidak bisa dipertanggung jawabkan, akan tetapi sampai hari ini, baik Darmagandul maupun Gatoloco masih terus direproduksi. Bukan hanya bukunya yang terus mengalami cetak ulang, namun tasfir atas kedua serat tersebut juga ditulis oleh banyak pihak.

Pebenturan antara Jawa dengan Islam dalam kedua serat tersebut, menjadi patokan dalam karya-karya para misionaris seperti Hendrik Kreamer, Schuurman, Van Lith dan Ten Berge di masa kolonial, dan beberapa nama penting di masa sekarang seperti Jan Bakker, Frans Magnis Suseno, J.B. Banawiratmaja, SJ dan Harun Hadiwiyono. Hal ini menurut Azyumardi Azra merupakan strategi misionaris Kristen untuk menghadapi Islam di Indonesia. Dengan menggali unsur pra Islam dalam kebudayaan lokal, untuk kemudian memisahkannya secara oposisional, seperti Syari’at dengan kebatinan, etika Islam dengan etika Jawa, mengikuti argumen William Roff, guru besar Emiritus Columbia University, bukan hanya untuk menjadikan Islam menjadi kabur (obscure) tapi juga memberi peluang lebih besar bagi keberhasilan misionaris (Steenbrink, 1995 :xxii).

Namun, sayangnya, bidang sastra dan kebudayaan, menjadi anak tiri dalam wacana dakwah Islam. Umat Islam, baik awam maupun para cendekiawannya, tidak mempunyai skema relasi Islam dengan kebudayaan lokal, ataupun strategi Islamisasi kebudayaan sebagaimana para pendahulunya. Dari hari ke hari, kebudayaan Jawa makin menjauh dari kaum muslimin, sehingga dari hari ke hari, kebudayaan makin menjadi milik kaum Kejawen dan Kristen. Proses kreatif Islamisasi budaya Jawa seperti mandeg, Kemandegan ini akan merugikan dakwah Islam di tanah Jawa. Karena itu, dakwah di bidang kebudayaan harus menjadi agenda serius mulai sekarang, bila umat Islam tetap ingin sebagai tuan rumah di tanah Jawa.

 

Serat Darmogandul Sebuah Bentuk Kontroversi Terhadap Islam

 

Serat Darmogandul

Serat Darmogandul adalah serat yang berisi dialog tokoh-tokoh jaman dahulu berbentuk puisi tembang macapat. Serat ini biasanya digunakan sebagai bahan studi sejarah, terutama terkait keruntuhan Majapahit. Selain itu, terdapat juga cerita tentang Prabu Brawijaya yang berubah kepercayaan dari agama Buddha ke agama Islam.

Serat Darmogandul ini mengambil ide cerita dari serat Babad Kadhiri. Meskipun merupakan plagiasi dari serat Babad Kadhiri, namun tampaknya serat ini ditulis dengan motif tertentu yaitu keberpihakan penulisnya terhadap pemerintah kolonial Belanda serta kecenderungan terhadap misi Kristen di tanah Jawa. Akan tetapi, Serat Darmogandul ini dilarang untuk beredar karena dianggap bermuatan penghinaan terhadap Islam.

 

Penulis Serat Darmogandul

Serat Darmogandul pertama kali diterbitkan Redaksi Almanak H. Bunning, Yogyakarta, pada tahun 1920. Lalu pada tahun 1959, T.B Sadu Budi Solo menerbitkan Serat Darmogandul versi prosa. Tidak jelas siapa penulis dari Darmogandul. Pada seri yang diterbitkan oleh Dahara Prize disebutkan nama penulisnya adalah Ki Kalamwadi, namun itu merupakan nama samaran (kalam berarti pena, wadi berarti rahasia : penulis yang merahasiakan namanya).

Menurut M. Hari Soewarno penulis dari Darmogandul adalah Ronggowarsito, sastrawan Jawa terkenal dari Keraton Surakarta. Namun klaim ini diragukan, karena Ronggowarsito akan mencantumkan kalimat yang digunakan untuk menyiratkan namanya atau disebut “Sandi Asma” dalam setiap karyanya. Sedangkan pada Darmogandul tidak ditemukan “Sandi Asma” seperti pada karya-karya yang lainnya. Terlebih, terdapat bukti yang menyatakan bahwa Ronggowarsito adalah seorang santri. Sehingga mustahil bagi serang santri untuk menulis hal yang berbau porno di dalam karyanya.

Selain itu, menurut Prof. Dr. G.W.J. Drewes (The Struggle between Javanism and Islam as Illustrated by the Serat Dermogandul dan Javanese Poems Dealing with or Attributed to the Saint of Bonang) kitab Darmogandul merupakan buah tulisan seorang bangsawan tinggi di Kediri dan bersumber dari Babad Kadhiri (1873).

Sementara, menurut Prof. Dr. H.M. Rasjidi, dalam Islam dan kebatinan, Pangeran Suryonegoro selaku putra dari Hamengkubuwana VII adalah penulis serat Darmogandul. Rasjidi mengatakan bahwa terdapat beberapa kata Belanda seperti klacht (kelah) dalam serat. Ia berfikir bahwa Darmogandul ditulis pada zaman penjajahan Belanda.

 

Isi Serat Darmogandul

Isi Serat Darmogandul menceritakan tentang perubahan kepercayaan orang Jawa dari agama Budha ke agama Islam. Serta kisah berdirinya Kerajaan Islam Demak dan runtuhnya Kerajaan Majapahit.

Sebagai awalan, terdapat dialog antara Darmogandul dan Ki Kalamwadi. Darmogandul bertanya kepada Kalamwadi tentang bagaimana orang Jawa meninggalkan agama Budha dan berubah menganut agama Islam. Ki Kalamwadi memberikan informasi berdasarkan penjelasan dari gurunya (Raden Budi). Kalamwadi mulai menceritakan kepada Darmogandul bagaimana sejarahnya, mulai dari awal kerajaan Majapahit yang sebelumnya bernama Majalengka hingga keruntuhan Majapahit dan berdirinya Kesultanan Demak.

Bermula dari raja Kerajaan Majapahit yaitu Prabu Brawijaya yang jatuh hati terhadap Putri Cempa yang pada saat itu menganut agama Islam. Prabu Brawijaya pun mulai tertarik dan penasaran terhadap agama Islam setelah beberapa kali Sang Putri bercerita kepadanya. Setelah itu, pengikut Putri Cempa bernama Sayid Rakhmat datang ke Majalenka. Ia meminta izin kepada Raja untuk menggelar penyebaran syariat agama Islam. Sang Raja pun mengabulkan permintaannya. Penyebaran agama Islam terus berkembang, dan semakin banyak orang yang berpindah kepercayaan dari agama Budha ke agama Islam.

Selain itu, di ceritakan juga tentang keruntuhan Kerajaan Majapahit yang disebabkan oleh serangan dari Adipati Demak bernama Raden Patah yang sebenarnya masih merupakan putra dari Prabu Brawijaya. Menurut kitab Darmogandul, Raden Patah diprovokasi oleh para ulama yang dipimpin Sunan Giri dan Sunan Bonang yang tergabung dalam majlis dakwah wali sangah untuk merebut takhta kerajaan dari ayahnya yang masih kafir, karena memeluk agama Buddha. Rencana ini berhasil dan Majapahit berhasil runtuh. Sayangnya, Prabu Brawijaya berhasil meloloskan diri. Hingga akhirnya digantikannya Majapahit dengan berdirinya Kesultanan Demak.

Hampir seluruh isi Serat Darmogandul ini merupakan turunan dari cerita Babad Kadhiri yang ditulis pada 1832. Hal ini  juga disetujui oleh G.W.J Drewes, seorang orientalis Belanda, ia mengungkapkan bahwa Babad Kadhiri menyiapkan tema utama dan ide bagi penulisan buku Darmogandul.

 

Kontroversi Sinisme Terhadap Islam

Serat Darmogandul adalah buku yang banyak mengandung kontroversi. Terutama tentang pembahasan masuknya Islam ke tanah Jawa. Buku Darmogandul ini banyak memiliki kesalahan data dalam mengungkap fakta sejarah. Seperti, cerita keruntuhan Kerajaan Majapahit yang disebabkan oleh serangan Raden Patah yang masih merupakan anak dari Prabu Brawijaya dan dianggap sebagai anak durhaka. Yang pada kenyataanya Raden Patah hanyalah merebut kekuasan Girindrawardana yang sebelumnya telah memporak-porandakan Majapahit.

 

Selain itu, pada buku ini juga membahas tentang “budi buruk” para ulama yang diberi izin untuk menyebarkan Islam di wilayah Majapahit, namun saat Islam sudah menjadi besar mereka balik menyerang Majapahit dan melupakan budi baik sang Raja. Hal itu diperjelas dengan ekspresi penulisan Darmogandul dalam mengartikan kata wali adalah walikan (balikan) yang artinya diberi kebaikan namun membalas dengan keburukan.

Kontroversi yang lain yaitu penyajian pikiran-pikiran tentang seks yang digunakan sebagai penafsiran materi ajaran Islam pada kedudukan pornografis. Didalam buku ini juga sebelumnya menyatakan pendapat bahwa babi dan anjing lebih baik dari kambing curian dan penghinaan dengan gaya jarwodosok terhadap quran. Jarwodosok merupakan gaya bahasa penulisan atau bahasa lisan khas para pelawak jawa (mencari persamaan bunyi yang cenderung lucu atau porno). Terdapat kalimat-kalimat lain yang juga menunjukan penghinaan terhadap Islam.

Karena itu, Buku Darmogandul ini dilarang beredar. Namun, pada akhirnya diterbitkan kembali dengan menghapus beberapa bagian yang dapat menimbulkan kontroversi serta diberikan kata pengantar atau catatan agar pembaca mengerti dan tidak menyalah artikan isi dari buku tersebut.

 

 

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)