SERAT WEDHATAMA
ꦱꦺꦫꦠ꧀ꦮꦺꦝꦠꦩ
(Pintu Pembuka Rahasia Spiritual Raja-Raja Mataram)
Isi Serat Wedhatama adalah ajaran luhur tentang budi pekerti, spiritualitas, dan pengembangan diri untuk mencapai kehidupan yang mulia dan bahagia, menekankan pengendalian hawa nafsu, pentingnya ilmu pengetahuan (wirya, arta, winasis), mawas diri, tawadhu, dan berserah diri kepada Tuhan, disampaikan melalui 5 pupuh tembang macapat (Pangkur, Sinom, Pocung, Gambuh, Kinanti).
Pokok-Pokok Ajaran Utama
- Pengendalian Hawa Nafsu: Mengajarkan agar tidak terlena oleh kesenangan duniawi (harta, kekuasaan) dan fokus pada akhlak mulia.
- Mawas Diri & Introspeksi: Pentingnya mengenal diri sendiri, menghilangkan keraguan, dan waspada terhadap penghalang dalam hidup.
- Pencarian Ilmu (Winasis): Manusia harus terus belajar ilmu baik abstrak maupun nyata untuk menyelaraskan hidup.
- Keseimbangan Hidup (Wirya, Arta, Winasis): Mencapai kesempurnaan hidup dengan memiliki kewibawaan (wirya), kekayaan (arta), dan kecerdasan (winasis).
- Spiritualitas & Tasawuf: Mengandung ajaran seperti tawadhu (rendah hati), zuhud (tidak mabuk dunia), mujahadah (mengendalikan diri), dan tawakal (berserah diri).
- Budi Pekerti Luhur: Menghindari sifat jahat seperti iri dengki, serta mengembangkan keikhlasan dan kesabaran.
Struktur dan Isi (Berdasarkan Pupuh)
- Pupuh Pangkur: Mengajarkan cara menjadi pribadi yang baik dan mengendalikan diri.
- Pupuh Sinom: Menekankan pentingnya mencari guru yang baik dan menghindari keserakahan.
- Pupuh Pocung: Membahas tentang kematian dan keabadian, mengingatkan agar tidak lupa tujuan akhir hidup.
- Pupuh Gambuh: Mengajarkan empat jenis sembah (raga, cipta, jiwa, rasa) untuk menyucikan diri lahir batin.
- Pupuh Kinanthi: Mengajak untuk meneladani kebaikan dan mencapai kemuliaan.
Secara keseluruhan, Serat Wedhatama adalah panduan etika dan spiritualitas Jawa yang relevan untuk membangun karakter kuat dan kehidupan yang selaras dengan Tuhan dan lingkungan.
Serat Wedhatama (asal kata dalam bahasa
Jawa; Wredhatama) merupakan salah satu karya agung pujangga sekaligus seniman
besar pencipta berbagai macam seni tari (beksa) dan tembang. Wayang orang,
wayang madya, pencipta jas Langendriyan (sering digunakan sebagai pakaian
pengantin adat Jawa/Solo). Beliau adalah enterpreneur sejati yang sangat sukses
memakmurkan rakyat pada masanya dengan membangun pabrik bungkil, pabrik gula
Tasikmadu dan Colomadu di Jateng (1861-1863) dengan melibatkan masyarakat,
serta perkebunan kopi, kina, pala, dan kayu jati di Jatim dan Jateng. Masih
banyak lagi, termasuk merintis pembangunan Stasiun Balapan di kota Solo. Beliau
juga terkenal gigih dalam melawan penjajahan Belanda. Hebatnya, perlawanan
dilakukan cukup melalui tulisan pena, sudah cukup membuat penjajah mundur
teratur. Cara inilah menjadi contoh sikap perilaku utama, dalam menjunjung
tinggi etika berperang (jihad ala Kejawen); “nglurug tanpa bala” dan “menang
tanpa ngasorake”.
Kemenangan diraih secara kesatria, tanpa
melibatkan banyak orang, tanpa makan korban pertumpahan darah dan nyawa, dan
tidak pernah mempermalukan lawan. Begitulah kesatria sejati.
Selain terkenal kepandaiannya akan ilmu pengetahuan, juga terkenal karena
beliau tokoh yang amat sakti mandraguna. Beliau terkenal adil, arif dan
bijaksana selama dalam kepemimpinannya. Beliau adalah Ngarsa Dalem Ingkang
Wicaksana Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Sri Mangkunegoro IV. Raja di
keraton Mangkunegaran Solo. Berkat “laku” spiritual yang tinggi beliau
diketahui wafat dengan meraih kesempurnaan hidup sejati dalam menghadap Tuhan
Yang Mahawisesa; yakni “warangka manjing curiga” atau meraih kamuksan;
menghadap Gusti (Tuhan) bersama raganya lenyap tanpa bekas.
Wedhatama merupakan ajaran luhur untuk membangun budi
pekerti dan olah spiritual bagi kalangan raja-raja Mataram, tetapi diajarkan
pula bagi siapapun yang berkehendak menghayatinya.
Wedhatama menjadi salah satu dasar penghayatan bagi
siapa saja yang ingin “laku” spiritual dan bersifat universal lintas
kepercayaan atau agama apapun. Karena ajaran dalamWedhatama bukan lah dogma
agama yang erat dengan iming-iming surga dan ancaman neraka, melainkan suara
hati nurani, yang menjadi “jalan setapak” bagi siapapun yang ingin menggapai
kehidupan dengan tingkat spiritual yang tinggi. Mudah diikuti dan dipelajari
oleh siapapun, diajarkan dan dituntun step by step secara rinci. Puncak dari
“laku” spiritual yang diajarkan serat Wedhatama adalah; menemukan kehidupan
yang sejati, lebih memahami diri sendiri,manunggaling kawula-Gusti, dan
mendapat anugrah Tuhan untuk melihat rahasia kegaiban.
Serat yang berisi ajaran tentang budi pekerti atau akhlak
mulia, digubah dalam bentuk tembang agar mudah diingat dan lebih “membumi”.
Sebab sebaik apapun ajaran itu tidak akan bermanfaat apa-apa, apabila hanya
tersimpan di dalam “menara gadhing” yang megah.
Mudah-mudahan hakikat yang tersirat di dalam pelajaran
ini dapat diserap secara mudah Harapan saya mudah-mudahan tulisan ini
bermanfaat bagi siapa saja, tanpa memandang latar belakang agama dan
kepercayaannya. Bagi siapapun yang lebih winasis pada sastra Jawa
PANGKUR (Sembah Raga/Syariat)
1.Mingkar mingkuring angkara,Akarana karanan mardi siwi,Sinawung resmining
kidung,Sinuba sinukarta,Mrih kretarta pakartining ngelmu luhung Kang tumrap
neng tanah Jawa,Agama ageming aji.
Meredam nafsu angkara dalam diri,Hendak berkenan mendidik putra-putri Tersirat
dalam indahnya tembang,dihias penuh variasi,agar menjiwai hakekat ilmu
luhur,yang berlangsung di tanah Jawa (nusantara)agama sebagai “pakaian”
kehidupan.
2.Jinejer neng Wedatama ,Mrih tan kemba kembenganing pambudiMangka nadyan tuwa
pikun
Yen tan mikani rasa,yekti sepi asepa lir sepah, samun,Samangsane pasamuanGonyak
ganyuk ngliling semi.
Disajikan dalam serat Wedhatama,agar jangan miskin pengetahuan walaupun sudah
tua pikun
jika tidak memahami rasa sejati (batin) niscaya kosong tiada berguna bagai
ampas, percuma sia-sia,di dalam setiap pergaulan sering bertindak ceroboh
memalukan.
3.Nggugu karsaning priyangga,Nora nganggo peparah lamun angling,Lumuh ing
ngaran balilu,Uger guru aleman,Nanging janma ingkang wus waspadeng semu Sinamun
ing samudana,Sesadon ingadu manis
Mengikuti kemauan sendiri,Bila berkata tanpa dipertimbangkan (asal
bunyi),Namun tak mau dianggap bodoh,Selalu berharap dipuji-puji.(sebaliknya)
Ciri orang yang sudah memahami (ilmu sejati) tak bisa ditebak berwatak rendah
hati,selalu berprasangka baik.
4.Si pengung nora nglegawa,Sangsayarda deniro cacariwis,Ngandhar-andhar
angendhukur,
Kandhane nora kaprah,saya elok alangka longkanganipun, Si wasis waskitha
ngalah,
Ngalingi marang si pingging.
(sementara) Si dungu tidak menyadari,Bualannya semakin menjadi jadi,ngelantur
bicara yang tidak-tidak,Bicaranya tidak masuk akal,makin aneh tak ada
jedanya.Lain halnya, Si Pandai cermat dan mengalah,Menutupi aib si bodoh.
5.Mangkono ngelmu kang nyata,Sanyatane mung weh reseping ati,Bungah ingaran
cubluk,
Sukeng tyas yen denina,Nora kaya si punggung anggung gumrunggung Ugungan sadina
dina
Aja mangkono wong urip.
Demikianlah ilmu yang nyata,Senyatanya memberikan ketentraman hati,Tidak merana
dibilang bodoh,Tetap gembira jika dihina Tidak seperti si dungu yang selalu
sombong,Ingin dipuji setiap hari.Janganlah begitu caranya orang hidup.
6.Urip sepisan rusak,Nora mulur nalare ting saluwir,
Kadi ta guwa kang sirung,Sinerang ing maruta,Gumarenggeng anggereng Anggung
gumrunggung,Pindha padhane si mudha,Prandene paksa kumaki.
Hidup sekali saja berantakan,Tidak berkembang, pola pikirnya carut marut.Umpama
goa gelap menyeramkan,Dihembus angin,Suaranya gemuruh menggeram,berdengung
Seperti halnya watak anak muda masih pula berlagak congkak
7.Kikisane mung sapala,Palayune ngendelken yayah wibi,Bangkit tur bangsaning
luhur,
Lha iya ingkang rama,Balik sira sarawungan bae during Mring atining tata
krama,Nggon anggon agama suci.
Tujuan hidupnya begitu rendah,Maunya mengandalkan orang tuanya,Yang terpandang
serta bangsawan Itu kan ayahmu ! Sedangkan kamu kenal saja belum,akan
hakikatnya tata krama
dalam ajaran yang suci
8.Socaning jiwangganira,Jer katara lamun pocapan pasthi,Lumuh asor kudu
unggul,Semengah sesongaran,Yen mangkono keno ingaran katungkul,Karem ing reh
kaprawiran,Nora enak iku kaki.
Cerminan dari dalam jiwa raga mu,Nampak jelas walau tutur kata halus,Sifat
pantang kalah maunya menang sendiri Sombong besar mulut Bila demikian itu,
disebut orang yang terlena
Puas diri berlagak tinggi Tidak baik itu nak !
9.Kekerane ngelmu karang,Kekarangan saking bangsaninggaib,Iku boreh
paminipun,Tan rumasuk ing jasad, Amung aneng sajabaning daging kulup,Yen
kapengok pancabaya,Ubayane mbalenjani.
Di dalam ilmu yang dikarang-karang(sihir/rekayasa)Rekayasa dari hal-hal gaib
Itu umpama bedak.Tidak meresap ke dalam jasad, Hanya ada di kulitnya saja nak
Bila terbentur marabahaya,
bisanya menghindari
10. Marma ing sabisa-bisa,Bebasane muriha tyas basuki,Puruita-a kang patut,Lan
traping angganira,Ana uga angger ugering kaprabun,Abon aboning panembah,Kang
kambah ing siyang ratri.
Karena itu sebisa-bisanya,Upayakan selalu berhati baik Bergurulah secara
tepatYang sesuai dengan dirimu Ada juga peraturan dan pedoman bernegara,Menjadi
syarat bagi yang berbakti,
yang berlaku siang malam.
11. Iku kaki takok-eno,marang para sarjana kang martapi Mring tapaking tepa
tulus,Kawawa nahen hawa,Wruhanira mungguh sanyataning ngelmu Tan mesthi neng
janma wredha
Tuwin mudha sudra kaki.
Itulah nak, tanyakan Kepada para sarjana yang menimba ilmu Kepada jejak hidup
para suri tauladan yang benar,dapat menahan hawa nafsu Pengetahuanmu adalah
senyatanya ilmu,Yang tidak harus dikuasai orang tua,Bisa juga bagi yang muda
atau miskin, nak !
12. Sapantuk wahyuning Gusti Allah,Gya dumilah mangulah ngelmubangkit,Bangkit
mikat reh mangukut,Kukutaning jiwangga,Yen mengkono kena sinebutwong sepuh,
Lire sepuh sepi hawa,Awas roroning atunggil
Siapapun yang menerima wahyu Tuhan,Dengan cermat mencerna ilmu tinggi,Mampu
menguasai ilmukas am pur nan,Kesempurnaan jiwa raga,Bila demikian pantas
disebut“orang tua”.Arti “orang tua” adalah tidak dikuasai hawa nafsu,Paham akan
dwi tunggal (menyatunya sukma
dengan Tuhan)
13. Tan samar pamoring sukma,Sinuksmaya winahya ing ngasepi,Sinimpen telenging
kalbu,
Pambukaning warana,Tarlen saking liyep layaping aluyup,Pindha pesating
sumpena,Sumusuping rasa jati.
Tidak lah samar sukma menyatu meresap terpatri dalam keheningan
semadi,Diendapkan dalam lubuk hati menjadi pembuka tabir,berawal dari keadaan
antara sadar dan tiada Seperti terlepasnya mimpi Merasuknya rasa yang sejati.
14. Sejatine kang mangkana,Wus kakenan nugrahaning Hyang Widhi,Bali alaming
ngasuwung,
Tan karem arameyan,Ingkang sipat wisesa winisesa wus, Mulih mula ulanira.
Mulane wong anom sami
Sebenarnya ke-ada-an itu merupakan anugrah Tuhan,Kembali ke alam yang
mengosongkan,
tidak mengumbar nafsu duniawi,yang bersifat kuasa menguasai. Kembali ke asal
muasalmu
Oleh karena itu,wahai anak muda sekalian…
SINOM (Sembah Cipta/Kalbu/Tarekat)
15. Nulada laku utama,Tumrape wong Tanah jawi,Wong agung ing
Ngeksiganda,Panembahan Senopati,Kepati amarsudi,Sudane hawa lan nepsu,Pinepsu
tapa brata,
Tanapi ing siyang ratri,Amamangun karyenak tyasing sesama.
Contohlah perilaku utama bagi kalangan orang Jawa (Nusantara),orang besar dari
Ngeksiganda (Mataram),Panembahan Senopati,yang tekun, mengurangi hawa nafsu,
dengan jalan prihatin (bertapa),serta siang malam selalu berkarya membuat
hati tenteram bagi sesama (kasih sayang)
16. Samangsane pasamuan, mamangun marta martani,Sinambi ing saben mangsa,Kala
kalaning asepi,Lelana teki-teki,Nggayuh geyonganing kayun,Kayungyun eninging
tyas,Sanityasa pinrihatin,Puguh panggah cegah dhahar lawan nendra.
Dalam setiap pergaulan,membangun sikap tahu diri.Setiap ada kesempatan,Di saat
waktu longgar,mengembara untuk bertapa,menggapai cita-cita hati,hanyut dalam
keheningan kalbu.
Senantiasa menjaga hati untuk prihatin(menahan hawa nafsu),dengan tekad kuat,
membatasi makan dan tidur.
17. Saben mendra saking wisma,Lelana lalading sepi,Ngingsep sepuhing
supana,Mrih pana pranaweng kapti,Tis tising tyas marsudi,Mardawaning budya
tulus, Mesu reh kasudarman,Neng tepining jalanidhi,Sruning brata kataman wahyu
dyatmika
Setiap mengembara meninggalkan rumah(istana),berkelana ke tempat yang sunyi
(dari hawa
nafsu),menghirup tingginya ilmu,agar jelas apa yang menjadi tujuan
(hidup)sejati.Hati bertekad selalu berusaha dengan tekun,memperdayakan akal
budi menghayati cinta kasih,
ditepinya samudra.Kuatnya bertapa diterimalah wahyu dyatmika(hidup yang
sejati).
18. Wikan wengkoning samodra,Kederan wus den ideri,Kinemat kamot hing
driya,Rinegan segegem dadi,Dumadya angratoni,Nenggih Kangjeng Ratu Kidul,Ndedel
nggayuh nggegana,
Umara marak maripih,Sor prabawa lan wong agung Ngeksiganda
Memahami kekuasaan di dalam samodra seluruhnya sudah dijelajahi,“kesaktian”
melimputi indera Ibaratnya cukup satu genggaman saja sudah jadi, berhasil
berkuasa,Kangjeng Ratu Kidul,
Naik menggapai awang-awang,(kemudian) datang menghadap dengan penuh
hormat,kepada Wong Agung Ngeksigondo.
19 Dahat denira aminta,Sinupeket pangkat kanthi,Jroning alam palimunan, ing
pasaban saben sepi,Sumanggem anyanggemi,Ing karsa kang wus tinamtu,Pamrihe mung
aminta,Supangate teki-teki,Nora ketang teken janggut suku jaja.
Memohon dengan sangat lah beliau,agar diakui sebagai sahabat setia, di dalam
alam gaib, tempatnya berkelana setiap sepi.Bersedialah menyanggupi,kehendak
yang sudah digariskan.
Harapannya hanyalah meminta restu dalam bertapa,Meski dengan susah payah.
20. Prajanjine abipraya,Saturun-turuning wuri,Mangkono trahing ngawirya,Yen
amasah mesu budi,Dumadya glis dumugi,Iya ing sakarsanipun,Wong agung
Ngeksiganda,Nugrahane prapteng mangkin,Trah tumerah dharahe padha wibawa.
Perjanjian sangat mulia,untuk seluruh keturunannya di kelak kemudian
hari.Begitulah seluruh keturunan orang luhur,bila mau mengasah akal budi akan
cepat berhasil,apa yang diharapkan orang besar Mataram,anugerahnya hingga kelak
dapat mengalir di seluruh darah keturunannya, dapat memiliki wibawa.
21. Ambawani tanah Jawa,Kang padha jumeneng aji,Satriya dibya sumbaga,Tan lyan
trahing Senopati,Pan iku pantes ugi,Tinelad labetipun,Ing sakuwasanira,Enake
lan jaman mangkin,
Sayektine tan bisa ngepleki kuna.
Menguasai tanah Jawa (Nusantara),yang menjadi raja (pemimpin),satria sakti
tertermasyhur,tak lain keturunan Senopati,hal ini pantas pula sebagai tauladan
budi pekertinya,Sebisamu, terapkan di zaman nanti,Walaupun tidak bias persis
sama seperti di masa silam.
22. Lowung kalamun tinimbang,Ngaurip tanpa prihatin,Nanging ta ing jaman
mangkya,Pra mudha kang den karemi,Manulad nelad nabi,Nayakengrat gusti rasul,
Anggung ginawe umbag,Saben seba mampir masjid,Ngajab-ajab tibaning mukjijat
drajat.
Mending bila dibanding orang hidup tanpa prihatin,namun di masa yang akan
datang (masa kini),yang digemari anak muda,meniru-niru nabi, rasul utusan
Tuhan,yang hanya dipakai untuk menyombongkan diri,setiap akan bekerja singgah
dulu di masjid,Mengharap mukjizat agar mendapat derajat(naik pangkat).
23. Anggung anggubel sarengat,Saringane tan den wruhi,Dalil dalaning
ijemak,Kiyase nora mikani,Ketungkul mungkul sami,Bengkrakan mring masjid
agung,Kalamun maca kutbah,
Lelagone Dandanggendis,Swara arum ngumandhang cengkok palaran
Hanya memahami sariat (kulitnya) saja,sedangkan hakekatnya tidak
dikuasai,Pengetahuan untuk memahami makna dan suri tauladan tidaklah mumpuni
Mereka lupa diri, (tidak sadar)
bersikap berlebih-lebihan di masjid besar,Bila membaca khotbah berirama gaya
dandanggula (menghanyutkan hati),suara merdu bergema gaya palaran (lantang
bertubi-tubi).
24 Lamun sira paksa nulad,Tuladhaning Kangjeng Nabi,O, ngger kadohan
panjangkah,
Wateke tan betah kaki,Rehne ta sira Jawi,Sathithik bae wus cukup,Aywa guru
aleman,
Nelad kas ngepleki pekih,Lamun pangkuh pangangkah yekti karahmat.
Jika kamu memaksa meniru,tingkah laku `Kanjeng Nabi,Oh, nak terlalu
naif,Biasanya tak akan betah nak,Karena kamu itu orang Jawa,sedikit saja sudah
cukup.Janganlah sekedar mencari sanjungan,Mencontoh-contoh mengikuti fiqih,apabila
mampu,memang ada harapan mendapat rahmat.
25 Naging enak ngupa boga,Reh ne ta tinitah langip, Apata suweting Nata,Tani
tanapi agrami,Mangkono mungguh mami,Padune wong dahat cubluk,Durung wruh cara
arab,Jawaku wae tan ngenting,Parandene paripaksa mulang putra.
Tetapi seyogyanya mencari nafkah,Karena diciptakan sebagai makhluk lemah,Apakah
mau mengabdi kepada raja,Bercocok tanam atau berdagang,Begitulah menurut
pemahamanku, Sebagai orang yang sangat bodoh,Belum paham cara Arab,Tata cara
Jawa saja tidak mengerti,Namun memaksa diri mendidik anak.
26. Saking duk maksih taruna,Sadhela wus anglakoni,Aberag marang agama,Maguru
anggering kaji,Sawadine tyas mami,Banget wedine ing mbesuk,Pranatan ngakir
jaman,Tan tutug kaselak ngabdi,Nora kober sembahyang gya tinimbalan.
Dikarenakan waktu masih muda,Keburu menempuh belajar pada agama,Berguru menimba
ilmu pada yang haji, maka yang terpendam dalam hatiku, menjadi sangat takut
akan hari kemudian,
Keadaan di akhir zaman,Tidak tuntas keburu “mengabdi”Tidak sempat sembahyang
terlanjur dipanggil.
27. Marang ingkang asung pangan,Yen kesuwen den dukani,Abubrah kawur tyas
ingwang,
Lir kiyamat saben ari,Bot Allah apa Gusti,Tambuh tambuh solahingsun,Lawas lawas
nggraita, Rehne ta suta priyayi,Yen mamriha dadi kaum temah nistha.
Kepada yang memberi makan,Jika kelamaan dimarahi,Menjadi kacau balau
perasaanku,
Seperti kiyamat saban hari,Berat “Allah” atau “Gusti”,Bimbanglah
sikapku,Lama-lama berfikir,
Karena anak turun priyayi,Bila ingin jadi juru doa (kaum) dapatlah nista,
28 Tuwin ketip suragama,Pan ingsun nora winaris,Angur baya ngantepana,Pranatan
wajibing urip,Lampahan angluluri,Kuna kumunanira,Kongsi tumekeng
samangkin,Kikisane tan lyan amung ngupa boga.
begitu pula jika aku menjadi pengurus dan juru dakwah agama.Karena aku bukanlah
keturunannya,Lebih baik memegang teguh aturan dan kewajiban hidup,Menjalankan
pedoman hidup warisan leluhur dari zaman dahulu kala hingga kelak kemudian
hari.Ujungnya tidak lain hanyalah mencari nafkah.
29. Bonggan kan tan merlok-na,Mungguh ugering ngaurip,Uripe lan tri
prakara,Wirya arta tri winasis,Kalamun kongsi sepi,Saka wilangan tetelu,Telas
tilasing janma,Aji godhong jati aking,
Temah papa papariman ngulandara.
Salahnya sendiri yang tidak mengerti,Paugeran orang hidup itu demikian
seyogyanya,hidup dengan tiga perkara; Keluhuran(kekuas aan),
harta(kemakmuran),ketiga ilmu pengetahuan.
Bila tak satu pun dapat diraih dari ketigaperkara itu,habis lah harga diri
manusia.Lebih berharga daun jati kering, akhirnyamendapatlah derita, jadi
pengemis dan terlunta.
30. Kang wus waspadha ing patrap,Manganyut ayat winasis,Wasana wosing
jiwangga,Melok tanpa aling-aling, Kang ngalingi kalingling,Wenganing rasa
tumlawung,Keksi saliring jaman,Angelangut tanpa tepi,Yeku ingaran tapa tapaking
Hyang Suksma.
Yang sudah paham tata caranya,Menghayati ajaran utama,Jika berhasil merasuk ke
dalam jiwa,akan melihat tanpa penghalang,Yang menghalangi tersingkir,Terbukalah
rasa sayup menggema.Tampaklah seluruh cakrawala,Sepi tiada bertepi,Yakni
disebut“tapa tapaking HyangSukma”.
31 Mangkono janma utama,Tuman tumanem ing sepi,Ing saben rikala mangsa,Masah
amemasuh budi,Laire anetepi,Ing reh kasatriyanipun,Susilo anor raga,Wignya met
tyasing sesami,Yeku aran wong barek berag agama.
Demikianlah manusia utama,Gemar terbenam dalam sepi (meredam nafsu),Di
saat-saat tertentu,
Mempertajam dan membersihkan budi,Bermaksud memenuhi tugasnya sebagai
satria,berbuat susila rendah hati,pandai menyejukkan hati pada sesama,itulah
sebenarnya yang disebut menghayati agama.
32 Ing jaman mengko pan ora,Arahe para taruni,Yen antuk tuduh kang nyata,Nora
pisan den lakoni,Banjur njujurken kapti,Kakekne arsa winuruk,Ngandelken
gurunira,Panditane praja sidik, Tur wus manggon pamucunge Mring makripat
Di zaman kelak tiada demikian,sikap anak muda bila mendapat petunjuk
nyata,tidak pernah dijalani,Lalu hanya menuruti kehendaknya,Kakeknya akan
diajari,dengan mengandalkan gurunya,yang dianggap pandita negara yang
pandai,serta sudah menguasai makrifat.
PUCUNG (Sembah Jiwa/Hakekat)
33 Ngelmu iku Kalakone kanthi laku Lekase lawan kas Tegese kas nyantosani Setya
budaya pangekese dur angkara
Ilmu (hakekat) itu diraih dengan cara menghayati dalam setiap perbuatan,dimulai
dengan kemauan.Artinya, kemauan membangun kesejahteraan terhadap sesama,Teguh
membudi daya Menaklukkan semua angkara
34 Angkara gung Neng angga anggung gumulung Gegolonganira Triloka lekeri kongsi
Yen den umbar ambabar dadi rubeda.
Nafsu angkara yang besarada di dalam diri, kuat menggumpal,menjangkau hingga
tiga zaman, jika dibiarkanberkembang akan berubah menjadi gangguan.
35 Beda lamun kang wus sengsem Reh ngasamun Semune ngaksama Sasamane bangsa
sisip
Sarwa sareh saking mardi martatama
Berbeda dengan yang sudah menyukai dan menjiwai,Watak dan perilaku memaafkan
pada sesame selalu sabar berusaha menyejukkan suasana,
36 Taman limut Durgameng tyas kang weh limput,Karem ing karamat Karana karoban
ing sih Sihing sukma ngrebda saardi pengira
Dalam kegelapan.Angkara dalam hati yang menghalangi,Larut dalam kesakralan
hidup,Karena temggelam dalam samodra kasih sayang, kasih sayang sukma (sejati)
tumbuh berkembang sebesar gunung
37 Yeku patut tinulat tulat tinurut Sapituduhira,Aja kaya jaman mangkin Keh pra
mudha mundhi diri Rapal makna
Itulah yang pantas ditiru, contoh yang patut diikuti seperti semua nasehatku.
Jangan seperti zaman nanti Banyak anak muda yang menyombongkan diri dengan
hafalan ayat
38 Durung becus kesusu selak besus Amaknani rapal Kaya sayid weton mesir
Pendhak pendhak angendhak Gunaning jalma
Belum mumpuni sudah berlagak pintar.Menerangkan ayat seperti sayid dari Mesir
Setiap saat meremehkan kemampuan orang lain.
39 Kang kadyeku Kalebu wong ngaku aku akale alangka Elok Jawane denmohi Paksa
langkah ngangkah met Kawruh ing Mekah
Yang seperti itu termasuk orang mengaku-aku Kemampuan akalnya dangkal Keindahan
ilmu Jawa malah ditolak.Sebaliknya, memaksa diri mengejar ilmu di
Mekah,
40 Nora weruh rosing rasa kang rinuruh lumeketing angga anggere padha marsudi
kana kene kaanane nora beda
tidak memahami hakekat ilmu yang dicari,sebenarnya ada di dalam diri.Asal mau
berusaha
sana sini (ilmunya) tidak berbeda,
41 Uger lugu,Den ta mrih pralebdeng kalbuYen kabul kabuki Ing drajat kajating
urip Kaya kang wus winahya sekar srinata
Asal tidak banyak tingkah agar supaya merasuk ke dalam sanubari.Bila berhasil,
terbuka derajat kemuliaan hidup yang sebenarnya. Seperti yang telah tersirat
dalam tembang sinom (di atas).
42 Basa ngelmu Mupakate lan panemune Pasahe lan tapa Yen satriya tanah Jawi
Kuna kuna kang ginilut tripakara
Yang namanya ilmu, dapat berjalan bila sesuai dengan cara pandang kita.Dapat
dicapai dengan usaha yang gigih.Bagi satria tanah Jawa,dahulu yang menjadi
pegangan adalah tiga perkara yakni;
43 Lila lamun kelangan nora gegetun, Trima yen ketaman Sakserik sameng dumadi
Tri,
legawa nalangsa srah ing Bathara
Ikhlas bila kehilangan tanpa menyesal,Sabar jika hati disakiti sesama,Ketiga ;
lapang dada sambil berserah diri pada Tuhan.
44 Bathara gung Inguger graning jajantung Jenek Hyang wisesa Sana pasenedan
suci Nora kaya si mudha mudhar angkara
Tuhan Maha Agung diletakkan dalam setiap hela nafas Menyatu dengan Yang
Mahakuasa Teguh mensucikan diri Tidak seperti yang muda,mengumbar nafsu
angkara.
45 Nora uwus Kareme anguwus uwus Uwose tan ana Mung janjine muring muring Kaya
buta buteng betah anganiaya
Tidak henti hentinya gemar mencaci maki.Tanpa ada isinya kerjaannya marah-marah
seperti raksasa; bodoh, mudah marah dan menganiaya sesama.
46 Sakeh luput Ing angga tansah linimput Linimpet ing sabda Narka tan ana udani
Lumuh ala ardane ginawa gada
Semua kesalahan dalam diri selalu ditutupi,ditutup dengan kata-kata mengira tak
ada yang mengetahui,bilangnya enggan berbuat jahat padahal tabiat buruknya
membawa kehancuran.
47 Durung punjul Ing kawruh kaselak jujul Kaseselan hawa Cupet kapepetan pamrih
tangeh nedya anggambuh mring Hyang Wisesa
Belum cakap ilmu Buru-buru ingin dianggap pandai.Tercemar nafsu selalu
merasa kurang,
dan tertutup oleh pamrih,sulit untuk manunggal pada Yang Mahakuasa.
GAMBUH (Langkah Catur Sembah)
48 Samengko ingsun tutur Sembah catur supaya lumuntur Dhihin raga, cipta, jiwa,
rasa,kaki
Ing kono lamun tinemu Tandha nugrahaning Manon Kelak saya bertutur,
Empat macam sembah supaya dilestarikan;
Pertama; sembah raga,
kedua; sembah cipta,
ketiga; sembah jiwa, dan
keempat; sembahrasa, anakku !
Di situlah akan bertemu dengan pertanda anugrah Tuhan.
49 Sembah raga punika Pakartine wong amagang laku Susucine asarana saking warih
Kang wus lumrah limang wektu Wantu wataking weweton
Sembah raga adalah Perbuatan orang yang lagi magang “olah batin”Menyucikan diri
dengan sarana air,Yang sudah lumrah misalnya lima waktu Sebagai rasa menghormat
waktu
50 Inguni uni during Sinarawung wulang kang sinerung Lagi iki bangsa kas
ngetokken anggit
Mintokken kawignyanipun Sarengate elok elok
Zaman dahulu belum pernah dikenal ajaran yang penuh tabir, Baru kali ini ada
orang menunjukkan hasil rekaan,memamerkan ke-bisa-an nya amalannya aneh aneh
51 Thithik kaya santri Dul Gajeg kaya santri brai kidul Saurute Pacitan pinggir
pasisir Ewon wong kang padha nggugu Anggere padha nyalemong
Kadang seperti santri “Dul” (gundul) Bila tak salah, seperti santri wilayah
selatan Sepanjang Pacitan tepi pantai Ribuan orang yang percaya.Asal-asalan
dalam berucap
52 Kasusu arsa weruh Cahyaning Hyang kinira yen karuh Ngarep arep urub arsa den
kurebi
Tan wruh kang mangkono iku Akale kaliru enggon
Keburu ingin tahu,cahaya Tuhan dikira dapat ditemukan,Menanti-nanti besar
keinginan (mendapatkan anugrah) namun gelap mata Orang tidak paham yang
demikian itu Nalarnya sudah salah kaprah
53 Yen ta jaman rumuhun Tata titi tumrah tumaruntun Bangsa srengat tan winor
lan laku batin Dadi nora gawe bingung Kang padha nembah Hyang Manon
Bila zaman dahulu, Tertib teratur runtut harmonis sariat tidak dicampur aduk
dengan olah batin,
jadi tidak membuat bingung bagi yang menyembah Tuhan
54 Lire sarengat iku Kena uga ingaran laku Dhingin ajeg kapindone ataberi
Pakolehe putraningsun Nyenyeger badan mrih kaot
Sesungguhnya sariat itu dapat disebut olah, yang bersifat ajeg dan tekun.
Anakku, hasil sariat adalah dapat menyegarkan badan agar lebih baik,
55 Wong seger badanipun Otot daging kulit balung sungsum Tumrah ing rah memarah
Antenging ati Antenging ati nunungku Angruwat ruweding batos
badan, otot, daging, kulit dan tulang sungsumnya menjadi segar, Mempengaruhi
darah, membuat tenang di hati. Ketenangan hati membantu Membersihkan kekusutan
batin
56 Mangkono mungguh ingsun Ananging ta sarehne asnafun Beda beda panduk
pandhuming dumadi Sayektine nora jumbuh Tekad kang padha linakon
Begitulah menurut ku ! Tetapi karena orang itu berbeda-beda, Beda pula garis
nasib dari Tuhan.
Sebenarnya tidak cocok tekad yang pada dijalankan itu
57 Nanging ta paksa tutur Rehne tuwa tuwase mung catur Bok lumuntur lantaraning
reh utami
Sing sapa temen tinemu Nugraha geming kaprabon
Namun terpaksa memberi nasehat Karena sudah tua kewajibannya hanya memberi
petuah. Siapa tahu dapat lestari menjadi pedoman tingkah laku utama.Barang
siapa bersungguh-sungguh akan mendapatkan anugrah kemuliaan dan kehormatan.
58 Samengko sembah kalbu Yen lumintu uga dadi laku Laku agung kang kagungan
Narapati
Patitis tetesing kawruh Meruhi marang kang momong
Nantinya, sembah kalbu itu jika berkesinambungan juga menjadi olah spiritual.
Olah (spiritual) tingkat tinggi yang dimiliki Raja. Tujuan ajaran ilmu ini;
untuk memahami yang mengasuh diri (guru sejati/pancer)
59 Sucine tanpa banyu Mung nyunyuda mring hardaning kalbu Pambukane tata titi
ngati ati
Atetep telaten atul Tuladan marang waspaos
Bersucinya tidak menggunakan air Hanya menahan nafsu di hati Dimulai dari
perilaku yang tertata, teliti dan hati-hati (eling dan waspada) Teguh, sabar
dan tekun,semua menjadi watak dasar,Teladan bagi sikap waspada.
60 Mring jatining pandulu Panduk ing ndon dedalan satuhu Lamun lugu legutaning
reh maligi
Lageane tumalawung Wenganing alam kinaot
Dalam penglihatan yang sejati,Menggapai sasaran dengan tata cara yang benar.
Biarpun sederhana tatalakunya dibutuhkan konsentrasi Sampai terbiasa mendengar
suara sayup-sayup
dalam keheningan Itulah, terbukanya “alam lain”
61 Yen wus kambah kadyeku Sarat sareh saniskareng laku Kalakone saka eneng
ening eling
Ilanging rasa tumlawung Kono adiling Hyang Manon
Bila telah mencapai seperti itu, Saratnya sabar segala tingkah laku.Berhasilnya
dengan cara;Membangun kesadaran, mengheningkan cipta,pusatkan fikiran kepada
energi Tuhan.Dengan hilangnya rasa sayup-sayup, di situlah keadilan Tuhan
terjadi. (jiwa memasuki alam gaib rahasia Tuhan)
62 Gagare ngunggar kayun Tan kayungyun mring ayuning kayun Bangsa anggit yen
ginigit nora
Marma den awas den emut Mring pamurunging kalakon
Maka awas dan ingat lah dengan yang membuat gagal tujuan Gugurnya jika menuruti
kemauan jasad (nafsu) Tidak suka dengan indahnya kehendak rasasejati,Jika
merasakan keinginan yang tidak-tidak akan gagal.
63 Samengko kang tinutur Sembah katri kang sayekti katur Mring Hyang Sukma
sukmanen saari ari Arahen dipun kacakup Sembaling jiwa sutengong
Nanti yang diajarkan Sembah ketiga yang sebenarnya diperuntukkan kepada Hyang
sukma (jiwa). Hayatilah dalam kehidupan sehari-hari Usahakan agar mencapai
sembah jiwa ini
anakku !
64 Sayekti luwih perlu Ingaranan pepuntoning laku Kalakuwan tumrap kang
bangsaning batin
Sucine lan awas emut Mring alaming lama maot
Sungguh lebih penting, yang disebut sebagai ujung jalan spiritual, Tingkah laku
olah batin, yakni
menjaga kesucian dengan awas dan selalu ingat akan alam nan abadi kelak.
65 Ruktine ngangkah ngukut Ngiket ngruket triloka kakukut Jagad agung ginulung
lan jagad alit
Den kandel kumadel kulup Mring kelaping alam kono
Cara menjaganya dengan menguasai, mengambil, mengikat, merangkul erat tiga
jagad yang dikuasai. Jagad besar tergulung oleh jagad kecil, Pertebal
keyakinanmu anakku !
Akan kilaunya alam tersebut.
66 Kaleme mawi limut Kalamatan jroning alam kanyut Sanyatane iku kanyatan kaki
Sejatine yen tan emut Sayekti tan bisa awor
Tenggelamnya rasa melalui suasana “remang berkabut”,Mendapat firasat dalam alam
yang menghanyutkan,Sebenarnya hal itu kenyataan, anakku !Sejatinya jika tidak
ingat Sungguh tak bisa “larut”
67 Pamete saka luyut Sarwa sareh saliring panganyut Lamun yitna kayitnan kang
mitayani Tarlen mung pribadinipun Kang katon tinonton kono
Jalan keluarnya dari luyut (batas antara lahir dan batin)Tetap sabar mengikuti
“alam yang menghanyutkan”Asal hati-hati dan waspada yang menuntaskan tidak lain
hanyalah diri pribadinya yang tampak terlihat di situ
68 Nging away salah surup Kono ana sajatining urub Yeku urub pangareb uriping
budi Sumirat sirat narawung Kadya kartika katonton
Tetapi jangan salah mengerti Di situ ada cahaya sejati Ialah cahaya
pembimbing,energi penghidup akal budi. Bersinar lebih terang dan cemerlang,
tampak bagaikan bintang
69 Yeku wenganing kalbu Kabukane kang wengku winengku Wewengkone wis
kawengkuneng sireki Nging sira uga kawengku Mring kang pindha kartika byor
Yaitu membukanya pintu hati Terbukanya yang kuasa-menguasai (antara cahaya/nur
dengan jiwa/roh). Cahaya itu sudah kau (roh) kuasai Tapi kau (roh) juga
dikuasai oleh cahaya yang seperti bintang cemerlang.
70 Samengko ingsun tutur Gantya sembah ingkang kaping catur Sembah rasa karasa
wosing dumadi Dadine wis tanpa tuduh Mung kalawan kasing batos
Nanti ingsun ajarkan,Beralih sembah yang ke empat.Sembah rasa terasalah hakekat
kehidupan.Terjadinya sudah tanpa petunjuk,hanya dengan kesentosaan batin
71 Kalamun durung lugu Aja pisan wani ngaku aku Antuk siku kang mangkono iku
kaki Kena uga wenang muluk Kalamun wus padha melok
Apabila belum bisa membawa diri, Jangan sekali-kali berani mengaku-aku,
mendapat laknat yang demikian itu anakku ! Artinya, seseorang berhak berkata
apabilasudah mengetahui dengan nyata.
72 Meloke ujar iku Yen wus ilang sumelanging kalbu Amung kandel kumandel
Amarang ing takdir Iku den awas den emut Den memet yen arsa momot
Menghayati pelajaran ini Bila sudah hilang keragu-raguan hati.Hanya percaya
dengan sungguh-sungguh kepada takdir itu harap diwaspadai, diingat,dicermati
bila ingin menguasai seluruhnya.
73 Pamoting ujar iku Kudu santosa ing budi teguh sarta sabar tawekal legaweng
ati Trima lila ambeg sadu Weruh wekasing dumados
Melaksanakan petuah itu Harus kokoh budipekertinya Teguh serta sabar tawakal
lapang dada
Menerima dan ikhlas apa adanya sikapnya dapat dipercaya Mengerti “sangkan
paraning dumadi”.
74 Sabarang tindak tanduk Tumindake lan sakadaripun, Den ngaksama kasisipaning
sesami,
Sumimpanga ing laku dur,Hardaning budi kang ngrodon.
Segala tindak tanduk dilakukan ala kadarnya,memberi maaf atas kesalahan sesama,
menghindari perbuatan tercela,(dan) watak angkara yang besar.
75 Dadya weruh iya dudu,Yeku minangka pandaming kalbu,Ingkang buka ing kijab
bullah
agaib,Sesengkeran kang sinerung, Dumunung telenging batos.
Sehingga tahu baik dan buruk,Demikian itu sebagai ketetapan hati,Yang membuka
penghalang/tabir antara insane dan Tuhan,Tersimpan dalam rahasia,Terletak di
dalam batin.
76 Rasaning urip iku,Krana momor pamoring sawujud,Wujudollah sumrambah ngalam
sakalir,
Lir manis kalawan madu,Endi arane ing kono.
Rasa hidup itu dengan cara manunggal dalam satu wujud,Wujud Tuhan meliputi alam
semesta,
bagaikan rasa manis dengan madu. Begitulah ungkapannya.
77 Endi manis endi madu,Yen wis bisa nuksmeng pasang semu,Pasamoaning hebing
kang Mahasuci,Kasikep ing tyas kacakup,Kasat mata lair batos.
Mana manis mana madu,apabila sudah bisa menghayati gambaran itu,Bagaimana
pengertian sabda Tuhan,Hendaklah digenggam di dalam hati, sudah jelas dipahami
secara lahir dan batin.
78 Ing batin tan kaliru Kedhap kilap liniling ing kalbu,Kang minangka colok
celaking Hyang Widhi, Widadaning budi sadu,Pandak panduking liru nggon.
Dalam batin tak keliru,Segala cahaya indah dicermati dalam hati,Yang menjadi
petunjuk dalam memahami hakekat Tuhan,Selamatnya karena budi (bebuden) yang
jujur (hilang nafsu),Agar dapat merasuk beralih “tempat”.
79 Nggonira mrih tulus,Kalaksitaning reh kang rinuruh,Nggyanira mrih wiwal
warananing gaib,
Paranta lamun tan weruh,Sasmita jatining endhog.
Agar usahamu berhasil,Dapat menemukan apa yang dicari,upayamu agar dapat
melepas penghalang kegaiban,Apabila kamu tidak paham ; lihatlah
tentangbagaimana terjadinya telur.
80 Putih lan kuningipun,Lamun arsa titah,titah teka mangsul,Dene nora
mantra-mantra yen ing lair, Bisa aliru wujud,Kadadeyane ing kono.
Putih dan kuningnya,bila akan mewujud (menetas),wujud datang berganti,tak
disangka-sangka,bila kelahirannya dapat berganti wujud,Kejadiannya di situ !
81 Istingarah tan metu,Lawan istingarah tan lumebu,Dene ing njro wekasane dadi
njawi,
Rasakna kang tuwajuh,Aja kongsi kabasturon.
Dipastikan tidak keluar,juga tidak masuk,Kenyataannya yang di dalam akhirnya
menjadi di luar,Rasakan sunguh-sungguh,Jangan sampai terlanjur tak bisa
memahami.
82 Karana yen kebanjur,Kajantaka tumekeng saumur,Tanpa tuwas yen tiwasa ing
dumadi,
Dadi wong ina tan weruh,Dheweke den anggep dayoh.
Sebab apabila sudah terlanjur,akan tak tenang sepanjang hidup, tidak ada
gunanya bila kelak mati,Menjadi orang hina yang bodoh,dirinya sendiri malah
dianggap tamu.
83 Mangka kanthining tumuwuh,Salami mung awas eling,Eling lukitaning alam,Dadi
wiryaning dumadi,Supadi nir ing sangsaya,Yeku pangreksaning urip.
Padahal bekal hidup,selamanya waspada dan ingat,Ingat akan pertanda yang ada di
alam ini,Menjadi kekuatannya asal-usul, supaya lepas dari sengsara.Begitulah
memelihara hidup.
84 Marma den taberi kulup,Anglung lantiping ati,Rina wengi den anedya,Pandak
panduking pambudi,Bengkas kahardaning driya,Supaya dadya utami.`
Maka rajinlah anak-anakku,Belajar menajamkan hati,Siang malam berusaha,merasuk
ke dalam sanubari,melenyapkan nafsu pribadi,Agar menjadi (manusia) utama.
85 Pangasahe sepi samun,Aywa esah ing salami,Samangsa wis kawistara,Lalandhepe
mingis mingis,Pasah wukir reksamuka,Kekes srabedaning budi.
Mengasahnya di alam sepi (semedi),Jangan berhenti selamanya,Apabila sudah
kelihatan,
tajamnya luar biasa,mampu mengiris gunung penghalang,Lenyap semua penghalang
budi.
86 Dene awas tegesipun,Weruh warananing urip,Miwah wisesaning tunggal,Kang
atunggil rina wengi,Kang mukitan ing sakarsa,Gumelar ngalam sakalir.
Awas itu artinya,tahu penghalang kehidupan,serta kekuasaan yang tunggal,yang
bersatu siang malam,Yang mengabulkan segala kehendak,terhampar alam semesta.
87 Aywa sembrana ing kalbu,Wawasen wuwus sireki,Ing kono yekti karasa,Dudu
ucape pribadi,
Marma den sembadeng sedya,Wewesen praptaning uwis.
Hati jangan lengah,Waspadailah kata-katamu,Di situ tentu terasa,bukan ucapan
pribadi,Maka tanggungjawablah, perhatikansemuanya sampai tuntas.
88 Sirnakna semanging kalbu,Den waspada ing pangeksi,Yeku dalaning
kasidan,Sinuda saka sethithik,Pamothahing nafsu hawa,Linalantih mamrih titih.
Sirnakan keraguan hati,waspadalah terhadap pandanganmu,Itulah caranya
berhasil,Kurangilah sedikit demi sedikit godaanhawa nafsu,Latihlah agar
terlatih.
89 Aywa mematuh nalutuh,Tanpa tuwas tanpa kasil,Kasalibuk ing srabeda,Marma
dipun ngati-ati,Urip keh rencananira,Sambekala den kaliling.
Jangan terbiasa berbuat aib,Tiada guna tiada hasil,terjerat oleh aral,Maka
berhati-hatilah,Hidup ini banyak rintangan,Godaan harus dicermati.
90 Umpamane wong lumaku,Marga gawat den liwati,Lamun kurang ing
pangarah,Sayekti karendhet ing ri.Apese kasandhung padhas, Babak bundhas
anemahi.
Seumpama orang berjalan,Jalan berbahaya dilalui,Apabila kurang
perhitungan,Tentulah tertusuk duri,celakanya terantuk batu,Akhirnya penuh luka.
91 Lumrah bae yen kadyeku,Atetamba yen wus bucik,Duweya kawruh sabodhag,Yen tan
nartani ing kapti,Dadi kawruhe kinarya,Ngupaya kasil lan melik.
Lumrahnya jika seperti itu,Berobat setelah terluka,Biarpun punya ilmu
segudang,bila tak sesuai tujuannya,ilmunya hanya dipakai mencari nafkah dan
pamrih.
92 Meloke yen arsa muluk,Muluk ujare lir wali,Wola wali nora nyata,Anggepe
pandhita luwih,
Kaluwihane tan ana,Kabeh tandha tandha sepi.
Baru kelihatan jika keinginannya muluk-muluk,Muluk-muluk bicaranya seperti
wali,Berkali-kali tak terbukti,merasa diri pandita istimewa,Kelebihannya tak
ada,
Semua bukti sepi.
93 Kawruhe mung ana wuwus,Wuwuse gumaib gaib,Kasliring thithik tan
kena,Mancereng alise gathik,Apa pandhita antiga,Kang mangkono iku kaki,
Ilmunya sebatas mulut,Kata-katanya di gaib-gaibkan,Dibantah sedikit saja tidak
mau, mata membelalak alisnya menjadi satu,Apakah yang seperti itu pandita
palsu,..anakku ?
94 Mangka ta kang aran laku,Lakune ngelmu sejati,Tan dahwen pati openan,Tan
panasten nora jail,Tan njurungi ing kahardan,Amung eneng mamrih ening.
Padahal yang disebut “laku”,sarat menjalankan ilmu sejati tidak suka omong
kosong dan tidak sukamemanfaatkan hal-hal sepele yang bukan haknya,Tidak iri
hati dan jail,Tidak melampiaskan hawa nafsu.Sebaliknya, bersikap tenang
agarmenggapai keheningan jiwa.
95 Kaunanging budi luhung,Bangkit ajur ajer kaki,Yen mangkono bakal
cikal,Thukul wijining utami,Nadyan bener kawruhira,Yen ana kang nyulayani.
Luhurnya budipekerti,pandai beradaptasi, anakku !Demikian itulah awal
mula,tumbuhnya benih keutamaan,Walaupun benar ilmumu,bila ada yang
mempersoalkan..
96 Tur kang nyulayani iku,Wus wruh yen kawruhe nempil,Nanging laire
angalah,Katingala angemori,Mung ngenaki tyasing liyan,Aywa esak aywa serik.
Walau orang yang mempersoalkan itu,sudah diketahui ilmunya dangkal,tetapi
secara lahir kita mengalah,berkesanlah persuasif,sekedar menggembirakan hati
orang lain.Jangan sakit hati dan dendam.
97 Yeku ilapating wahyu,Yen yuwana ing salami,Marga wimbuh ing nugraha,Saking
heb Kang mahasuci,Cinancang pucuking cipta,Nora ucul ucul kaki.
Begitulah sarat turunnya wahyu,Bila teguh selamanya,dapat bertambah
anugrahnya,dari sabda Tuhan Mahasuci,terikat di ujung cipta,tiada
terlepas-lepas anakku.
98 Mangkono ingkang tinamtu,Tampa nugrahaning Widhi,Marma ta kulup den
bisa,Mbusuki ujaring janmi,Pakoleh lair batinnya,Iyeku budi premati.
Begitulah yang digariskan,Untuk mendapat anugrah Tuhan.Maka dari itu
anakku,sebisanya, kalian pura-pura menjadi orangbodoh terhadap perkataan orang
lain,nyaman lahir batinnya,yakni budi yang baik.
99 Pantes tinulat tinurut,Laladane mrih utami,Utama kembanging mulya,Kamulyan
jiwa dhiri, Ora ta yen ngeplekana,Lir leluhur nguni-uni.
Pantas menjadi suri tauladan yang ditiru,Wahana agar hidup mulia,kemuliaan jiwa
raga.
Walaupun tidak persis, seperti nenek moyang dahulu.
100.Ananging ta kudu kudu,Saka darira pribadi,Aywa tinggal tutuladan,Lamun tan
mangkono kaki,Yekti tuna ing tumitah,Poma kaestokna kaki.
Tetapi harus giat berupaya, sesuai kemampuan diri,Jangan melupakan suri
tauladan,Bila tak berbuat demikian itu anakku,pasti merugi sebagai manusia.Maka
lakukanlah anakku !
SERAT WEDHATAMA – Sri Mangkunegoro IV
Imajiner Nuswantoro
ꦆꦩꦗꦶꦤꦺꦂꦤꦸꦱ꧀ꦮꦤ꧀ꦠꦺꦴꦫꦺꦴ

