HABLUM MINALLAH HABLUM MINANNAS DAN HABLUM MINAL 'ALAM

0

Hablum Minallah

Hablum Minannas dan

Hablum Minal 'Alam

 


Imajiner Nuswantoro



Dalam menjalani kehidupan sebagai Muslim, kita harus memperhatikan dua hal, yakni hubungan dengan Allah SWT dan hubungan dengan sesama manusia.

Hubungan dengan Allah SWT terkait kesalehan individu sebagai hamba Allah. Hubungan dengan sesama mansia terkait dengan kesalehan sosial sebagai makhluk sosial yang bermasyarakat.

Perilaku kita terhadap Allah dan manusia adalah amal perbuatan yang akan dicatat oleh malaikat Kiraman Katibin, sekecil apa pun perbuatan kita, baik atau buruk.

 


Pengertian Hablum Minallah dan Hablum Minannas

Hubungan dengan Allah sering disebut Hablum Minallah (حَبْلٍ مِّنْ اللَّهِ). Hubungan dengan sesama manusia sering disebut Hablum Minannas (حَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ).

Secara bahasa, hablum minallah artinya adalah hubungan dengan Allah dan hablum minan-nas adalah hubungan dengan manusia.


Kedua istilah ini tercantum dalam Al-Qur'an surat Ali Imron: 112


ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُواْ إِلاَّ بِحَبْلٍ مِّنْ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَآؤُوا بِغَضَبٍ مِّنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُواْ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الأَنبِيَاء بِغَيْرِ حَقٍّ ذَلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُواْ يَعْتَدُونَ

Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh Para Nabi tanpa alasan yang benar. yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.

Dalam ayat di atas, hablum minallah maknanya perjanjian dari Allah, yaitu masuk Islam atau beriman-Islam dan siap melaksanakan rukun iman dan Islam.

Hablum minan-nas bermakna erjanjian dari kaum Mukminin dalam bentuk jaminan keamanan bagi orang kafir dzimmi dengan membayar upeti bagi kaum Mukminin melalui pemerintahnya untuk hidup sebagai warga negara Islam dari kalangan minoritas non-Muslim. (Tafsir At-Thabari , Tafsir Al-Baghawi , dan Tafsir Ibnu Katsir).

 


Pengertian Hablum Minallah : 'Ubudiyah

Hablum minallah menurut bahasa berarti hubungan dengan Allah.

Namun, dalam pengertian syariah, makna hablum minallah sebagaimana yang dijelaskan di dalam tafsir At-Thabari, Al-Baghawi, dan tafsir Ibnu Katsir adalah "Perjanjian dari Allah, maksudnya adalah masuk Islam atau beriman dengan Islam sebagai jaminan keselamatan bagi mereka di dunia dan di akhirat"

Hablum minallah dilaksanakan dengan ibadah. Dengan kata lain, hablum minallah adalah aspek 'ubudiyah (عبودية) atau ritual ibadah kita kepada Allah SWT.

Ibadah atau ubudiyah sering diartikan sebagai penghambaan dengan melaksanakan perintah Allah SWT, menghambakan diri kepada-Nya, atau menyembah Allah SWT.

Ibadah/Ubudiyah berasa dari kata'abada yang artinya hamba.


Imam Ghazali pernah ditanya mengenai 'ubudiyah. Ia menjawab: ubudiyah adalah kumpulan dari tiga hal :

1.     Menunaikan perintah syariat.

2.     Rela dengan ketentuan dan takdir serta pembagian rezeki dari Allah SWT.

3.     Meninggalkan kehendak nafsunya untuk mencari keridhoan Allah SWT.”


Ibadah adalah tujuan penciptaan manusia oleh Allah SWT.


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku" (QS. Adz-Dzariyat : 56) 


وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus” (QS Al-Bayyinah :5).

 


Pengertian hablum minannas

Pengertian populernya, hablum minannas yaitu hubungan dengan sesama manusia dalam bentuk mu'amalah.

Dari segi bahasa, muamalah berasal dari kata aamala, yuamilu, muamalat  yang berarti perlakuan atau tindakan terhadap orang lain.

Jadi, Muamalah adalah hubungan manusia dalam interaksi sosial, termasuk masalah harta, waris, dan jual-beli.

Muamalah mempunyai banyak cabang, di antaranya politik, ekonomi, dan sosial. 

Secara umum muamalah mencakup dua aspek, yakni aspekadabiyah danmadaniyah .

1.     Aspek adabiyah yakni kegiatan muamalah yang berhubungan dengan akhlak, seperti kejujuran, sopan-santun, dan sebagainya.

2.     Aspek madaniyah adalah aspek yang berhubungan dengan kebendaan, seperti halal haram, syubhat, madaratan, dan lainnya

 


Pengertian Kesalehan Individu dan Sosial

Hablum minallah dikenal juga dengan istilah kesalehan individu atauibadah mahdhah . Hablum minannas dikenal dengan istilah kesalehan sosial atau ibadahghair mahdhah .

Keduanya harus seimbang. Kesalehan individu harus sama baiknya dengan kesalehan sosial. Jika rajin sholat, zakat, puasa, dzikir, doa, alias hubungan dengan Allah baik, namun hubungan dengan sesama manusia buruk, maka bisa-bisa jadi orang bangkrut di akhirat nanti.

Pada suatu kesempatan, baginda Nabi Muhammad SAW bertanya kepada para sahabatnya. Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu (al-muflis)? Mereka menjawab, Menurut kami, yang bangkrut itu adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta kekayaan.

Lalu Beliau bersabda, Sesungguhnya umatku yang bangkrut adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan membawa shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia selalu mencaci-maki, menuduh, memakan harta, membunuh, dan menyakiti orang lain.

Setelah itu, pahalanya diambil untuk diberikan kepada setiap orang yang dianiayanya sampai habis, sementara tuntutan masih banyak yang belum terpenuhi. Lalu, sebagian dosa mereka dibebankan kepadanya hingga ia dilemparkan ke neraka. (HR Muslim).


Manusia itu ada empat macam :

1.     Orang yang beramal ritual dan tidak berdosa sosial. Ia disebut orang yang beruntung (QS 28:67).

2.     Orang yang tidak beramal ritual dan tidak pula berdosa sosial, ia disebut orang merugi (QS 18:103-104).

3.     Orang yang tidak beramal ritual, tetapi beramal sosial, ia disebut orang yang tertipu (QS 4:142).

4.     Orang yang beramal ritual, tapi banyak mela ku kan dosa sosial, ia disebut orang yang bangkrut secara ha kiki (49:11-12).


Demikian ulasan tentang Pengertian Hablum Minallah, Hablum Minannas, Kesalehan Individu, Kesalahen Sosial, ibadah mahdhoh, ibadah ghoir mahdhah, ibadan dan mu'amalah yang harus kita lakukan seimbang, sama-sama baiknya.

Dalam menjalani kehidupan, seorang Muslim harus memperhatikan hablum minallah, hablum minannas, dan hablum minal 'alam. Tiga perkara ini bernilai ibadah dan merupakan misi kehidupan manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Selain itu, tiga kategori tersebut juga harus diamalkan secara seimbang, meskipun pada hakikatnya hablum minannas dan hablum minal ‘alam memiliki tujuan vertikal, yakni mendapat ridha Allah SWT.

 


Hablum Minallah

Hablum minallah adalah bagaimana manusia berhubungan dengan Sang Pencipta dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi larangannya.

Makna hablum minallah dalam tafsir At-Thabari, Al-Baghawi, dan tafsir Ibnu Katsir adalah Perjanjian dari Allah, maksudnya adalah masuk Islam atau beriman dengan Islam sebagai jaminan keselamatan bagi mereka di dunia dan di akhirat.

Makna Hablum Minallah, Hablum Minannas, dan Hablum Minal 'Alam (76378)

Hablum minallah dilaksanakan dengan ubudiyah atau ibadah. Hidup manusia di dunia pada hakikatnya adalah hanya untuk beribadah kepada Allah SWT. Allah berfirman, Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Qs. Ad-Dzuriat : 56).

Menurut Imam Ghazali, ubudiyah terdiri dari tiga hal, yakni:

Menunaikan perintah syariat

Rela dengan ketentuan dan takdir serta pembagian rezeki dari Allah SWT

Meninggalkan kehendak nafsunya untuk mencari keridhaan Allah SWT.

 


Hablum Minannas

Jika hablum minallah dikenal sebagai kesalehan individu atau ibadah mahdhah, hablum minannas merupakan kesalehan sosial atau ibadah ghair mahdhah. Sebab hablum minannas adalah konsep di mana manusia menjaga hubungan baik dengan manusia lainnya.

Pada hakikatnya, manusia merupakan makhluk sosial. Allah SWT menekankan hal ini dalam surat Al Hujurat ayat 13 yang artinya:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Makna Hablum Minallah, Hablum Minannas, dan Hablum Minal 'Alam (76379)

Dalam ayat tersebut, Allah SWT mengingatkan bahwa keberagaman merupakan suatu keniscayaan, namun umat manusia diperintahkan untuk saling mengenal dan berbuat baik kepada sesama. Ini juga ditekankan dalam surat An-Nisa ayat 36 yang berbunyi :

Sembahlah Allah SWT dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. An-Nisa Ayat: 36).

 


Hablum Minal 'Alam

Arti hablum minal alam adalah hubungan manusia dengan alam. Selain ditugaskan untuk beribadah dan menjaga persaudaraan, manusia juga diberi tugas untuk memakmurkan bumi. Allah SWT bahkan secara tegas mengancam manusia yang berbuat kerusakan di muka bumi.

 Hablum minal Alam adalah hubungan manusia dan alam. kegiatan dapat berupa menjaga kebersihan lingkungan, mencegah penebangan liar, dll.

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)  (Q.S. Ar Rum:41).


Ar-Rum · Ayat 41


ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ ۝٤١

dhaharal-fasâdu fil-barri wal-baḫri bimâ kasabat aidin-nâsi liyudzîqahum ba‘dlalladzî ‘amilû la‘allahum yarji‘ûn

Artinya : Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).


Tafsir Wajiz / Tafsir Tahlili :

Bila pada ayat-ayat sebelumnya Allah menjelaskan sifat buruk orang musyrik Mekah yang menuhankan hawa nafsu, melalui ayat ini Allah menegaskan bahwa kerusakan di bumi adalah akibat mempertuhankan hawa nafsu. Telah tampak kerusakan di darat dan di laut, baik kota maupun desa, disebabkan karena perbuatan tangan manusia yang dikendalikan oleh hawa nafsu dan jauh dari tuntunan fitrah. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan buruk mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar dengan menjaga kesesuaian perilakunya dengan fitrahnya.


Sebagian ciri dari perusak bumi yaitu mereka yang bersikap sombong, mengingkari adanya Tuhan, merusak tanaman, membunuh binatang ternak, mencemari lingkungan, dan lain sebagainya. (Al-Baqarah ayat 11, 12, 205 serta At-taubah ayat 47).


Al-Baqarah · Ayat 11


وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِۙ قَالُوْٓا اِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُوْنَ ۝١١

wa idzâ qîla lahum lâ tufsidû fil ardli qâlû innamâ naḫnu mushliḫûn

Artinya : Apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi,” mereka menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah orang-orang yang melakukan perbaikan.”


Tafsir Wajiz / Tafsir Tahlili :

Dan apabila dikatakan dan dinasihatkan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi,” dengan melanggar nilai-nilai yang ditetapkan agama, menghalangi orang dari jalan Allah, menyebar fitnah, dan memicu konflik, mereka justru mengklaim bahwa diri mereka bersih dari perusakan dan tidak bermaksud melakukan kerusakan. Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.” Itu semua akibat rasa bangga diri mereka yang berlebihan. Begitulah perilaku setiap perusak yang tertipu oleh dirinya: selalu merasa kerusakan yang dilakukannya sebagai kebaikan. 


Al-Baqarah · Ayat 12


اَلَآ اِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُوْنَ وَلٰكِنْ لَّا يَشْعُرُوْنَ ۝١٢

alâ innahum humul-mufsidûna wa lâkil lâ yasy‘urûn

Artinya : Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari.


Tafsir Wajiz / Tafsir Tahlili :

Karena kelakuan mereka yang selalu menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekufuran serta menganggap kerusakan mereka sebagai kebaikan, Allah mengingatkan orang-orang mukmin agar tidak tertipu dengan itu semua. Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan. Diri mereka telah rusak karena keyakinan yang batil dan perbuatan yang jahat. Mereka pun telah merusak orang lain dengan menyebar fitnah dan memicu konflik di tengah masyarakat. Tetapi, karena hati yang telah tertutup dan rasa bangga diri yang berlebihan, mereka tidak menyadari kerusakan tersebut dan akibat buruk yang akan menimpa mereka oleh sebab kemunafikan.


Al-Baqarah · Ayat 205


وَاِذَا تَوَلّٰى سَعٰى فِى الْاَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيْهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَۗ وَ اللّٰهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ ۝٢٠٥

wa idzâ tawallâ sa‘â fil-ardli liyufsida fîhâ wa yuhlikal-ḫartsa wan-nasl, wallâhu lâ yuḫibbul-fasâd

Artinya : Apabila berpaling (dari engkau atau berkuasa), dia berusaha untuk berbuat kerusakan di bumi serta merusak tanam-tanaman dan ternak. Allah tidak menyukai kerusakan.


Tafsir Wajiz / Tafsir Tahlili :

Dan di antara perbuatannya ialah apabila dia berpaling dari engkau, tidak lagi bersama engkau, dia berusaha untuk berbuat kerusakan di bumi, melakukan berbagai kejahatan seperti merusak tanam-tanaman, dan membunuh binatang ternak, kepunyaan orang-orang yang beriman, sedang Allah tidak menyukai hamba-Nya berbuat kerusakan di muka Bumi.


At-Taubah · Ayat 47


لَوْ خَرَجُوْا فِيْكُمْ مَّا زَادُوْكُمْ اِلَّا خَبَالًا وَّلَاَوْضَعُوْا خِلٰلَكُمْ يَبْغُوْنَكُمُ الْفِتْنَةَۚ وَفِيْكُمْ سَمّٰعُوْنَ لَهُمْۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌۢ بِالظّٰلِمِيْنَ ۝٤٧

lau kharajû fîkum mâ zâdûkum illâ khabâlaw wa la'audla‘û khilâlakum yabghûnakumul-fitnah, wa fîkum sammâ‘ûna lahum, wallâhu ‘alîmum bidh-dhâlimîn

Artinya : Seandainya mereka keluar bersamamu, niscaya mereka tidak akan menambah (kekuatan)-mu, malah hanya akan membuat kekacauan dan mereka tentu bergegas maju ke depan di celah-celah barisanmu untuk mengadakan kekacauan (di barisanmu), sedang di antara kamu ada orang-orang yang sangat suka mendengarkan (perkataan) mereka. Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim.


Tafsir Wajiz / Tafsir Tahlili :

Bahkan seandainya mereka berangkat berperang bersamamu, niscaya mereka tidak akan menambah kekuatan-mu, malah keberadaan mereka hanya akan membuat kekacauan serta melemahkan mental kaum muslim, dan seandainya mereka memiliki kesempatan, tentu mereka akan bergegas maju ke depan dan menyusup di celah-celah barisanmu untuk mengadakan kekacauan serta menciptakan permusuhan di antara kamu; sedang di antara kamu, wahai kaum muslimin, ada orang-orang yang sangat suka mendengarkan perkataan mereka, baik karena keluguan atau ketidaktahuan mereka, disebabkan sikap baik mereka; padahal mereka suka berlaku zalim. Jika demikian, pasti Allah mengetahui orang-orang yang zalim.





Imajiner Nuswantoro 



 

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)