Nalanda Versi India & Kerajaan Mouro Jambi Sriwijaya
Sebelas abad lalu, Sriwijaya dan Nalanda membangun hubungan diplomasi budaya yang saling menguntungkan. Nalanda dikenal sebagai universitas kuno dan kota kuno di India. Ia pernah menjadi pusat pendidikan agama Budha dari tahun 427-1197 M di bawah Kerajaan Pala.
Mengenang Sejarah Berdirinya Universitas Nalanda University – Universitas tertua di dunia resmi login ini semula didirikan pada zaman keemasan India pada abad ke-5 M. Raja-raja Kerajaan Gupta, yang beragama Hindu, mendirikan kampus ini dengan simpati atas ajaran Buddha, perkembangan semangat intelektual Buddhis, dan tulisan filosofis di masa itu, dikutip dari laman BBC.
Mengenang Sejarah Berdirinya Universitas Nalanda University
Magadha, lokasi kampus saat itu, menjadi kawasan intelektual Mahjong Ways mendorong terjadinya kegiatan pertukaran pelajar hingga dosen saat itu. Sebab, kampus ini merangkul pengetahuan secara keseluruhan dan memadukan banyak wacana, yang juga mendorong tersebarnya ajaran Buddha di Asia. Pihak kampus mencatat, kampus ini semula kenamaan selama 800 tahun, hingga abad ke-12 M. Diperkirakan ada 10.000 mahasiswa, 9 juta teks, dan 2.000 pengajar saat itu, seperti dikutip dari laman Nalanda University.
Kampus Ivy League Kuno, Perpustakaan Kampus hingga 9 Lantai.
Dari berbagai catatan tentang universitas slot rajamahjong tertua di dunia ini dan pembelajarannya, catatan paling terkenal berasal dari mahasiswa sekaligus biksu Xuan Zhang.Ia kelak membawa pulang 657 kitab suci Buddha dari Nalanda ke tanah asalnya pada 645 M dan menerjemahkannya ke bahasa Mandarin. Karena itu, dia mendapat julukan biksu yang membawa agama Buddha ke Timur.
Penulis Mishi Saran yang berbasis di Shanghai menelusuri perjalanan Xuan Zang melintasi benua untuk menuntut ilmu, sebagaimana ditulisnya dalam Chasing the Monk’s Shadow.Saran menulis, Xua Zang ingin belajar dengan orang yang paling paham dengan teks Buddhism. Saat itu, kampus Nalanda University dikenal dengan reputasi tersebut hingga ke Jepang dan Korea lewat jalur perdagangan Asia.
Untuk masuk kampus ini juga tidak mudah. Para calon mahasiswa diwawancara lisan oleh dosen. Jika lolos, maka mahasisw akan diajari sekelompok dosen ekletik yang bekerja di bawah Dharmapala dan Silabhadra, guru Buddha paling dihormati saat itu. “Saat Xuan Zang di Nalanda, kampusnya semarak penuh cendekiawan, seminar, kelas, dan debat. Nalanda University saat itu layaknya kampus Ivy League versi Buddhis–semua ide terdalam tentang Buddhisme dieksplorasi dan dibedah di Nalanda,” jelas Saran
Pendirian Kembali Universitas Tertua di Dunia.
Pada 2006, mantan Presiden India APJ Abdul Kalam https://www.diklatsatpambandung.com/ mengutarakan wacana menghidupkan kembali Nalanda University di depan Majelis Legislatif Negara Bagian Bihar. Pemerintah Singapura juga mendorong pembentukan Nalanda kembali lewat “Proposal Nalanda”.
Mencontoh semangat kolektif Nalanda University kuno, pendirian kampus barunya bekerja sama dengan Laos, Vietnam, Thailand, India, Sri Lanka, Singapura, Portugal, Selandia Baru, Myanmar, Indonesia, Cina, Kamboja, Korea Selatan, Bhutan, Bangladesh, Australia, Brunei Darussalam, dan Mauritus. Atas kerja sama dengan berbagai negara di Asia, Nalanda University baru berdiri di Rajgir Hills, kawasan dengan tanah seluas 450 hektare. Versi penerus universitas tertua di dunia ini menerima mahasiswa baru sejak September 2014.
Kehancuran dan Penemuan Nalanda University
Nalanda University diserang orang Hun untuk dijarah. Kampus yang dibangun seperti benteng dan menyimpan harta benda antik ini juga rusak parah karena invasi Raja Gauda Bengal pada abad ke-8.Lalu pada 1197, universitas ini diserang dan dibakar selama 3 bulan oleh pasukan jenderal militer Turki-Afghanistan Bakhtiyar Khilji. Serangan tersebut diduga sebagai upaya mematikan pusat pengetahuan Buddhis dalam penaklukan India bagian utara dan timur.”Sulit untuk menetapkan alasan pasti atas serangan tersebut,” kata Shankar Sharma, Direktur Archaeological Museum Nalanda yang memajang 350 artefak kampus dari 13.000-an barang antik hasil penggalian reruntuhannya.
Kampus Nalanda University menyisakan reruntuhan bangunan bata merah yang menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO. Situs seluas 23 hektare ini diperkirakan hanya sebagian kecil dari area kampus Nalanda aslinya.Sembilan juta manuskrip dari daun dan tulisan tangan habis dilalap api, kecuali yang dibawa lari para mahasiswa dan biksu. Manuskrip yang selamat kini dapat ditemukan di Los Angeles Country Museum, Amerika Serikat dan Museum Yarlung, Tibet.
Nalanda Versi India Kuno
Di India kuno, nama Universitas Nalanda sangat terkenal dan dihormati di seluruh dunia. Alasan utamanya adalah universitas ini memberikan dimensi baru bagi dunia dalam mempelajari sains, agama, kedokteran, dan disiplin ilmu modern lainnya. Universitas Nalanda awalnya disebut Mahavihara, sebuah biara Buddha. Bahkan, cakupan pengajaran Universitas Nalanda pada waktu itu sangat maju dan ilmiah. Namun, satu hal yang terlintas di benak kita adalah bagaimana universitas terkenal ini hancur menjadi reruntuhan. Universitas Nalanda didirikan oleh Kumar Gupta I dari dinasti Gupta pada abad ke-5 Masehi. Seiring waktu, universitas ini mendapat dukungan dari dinasti lain seperti Raja Harshavardhana dari Kannauj (abad ke-7 Masehi) dan penguasa Pala (abad ke-8—12 Masehi).
Sepanjang sejarahnya, Universitas Nalanda dihancurkan oleh berbagai penjajah sebanyak tiga kali. Penghancuran pertama disebabkan oleh bangsa Hun di bawah pemerintahan Mihirakula. Penghancuran kedua terjadi pada abad ke-7 oleh bangsa Gouda. Serangan ketiga terhadap Universitas Nalanda oleh pemimpin Turki Bakhtiyar Khilji pada tahun 1193 merupakan yang paling merusak dan mematikan, sehingga Universitas Nalanda tidak mampu menahan kerusakannya dan hancur berkeping-keping. Masa hidup Universitas Nalanda berlangsung dari tahun 427 hingga 1197 M. Dari segi lokasi geografis, Universitas Nalanda terletak 95 kilometer di sebelah tenggara Patna, dekat kota Bihar Sharif. Universitas Nalanda merupakan universitas residensial lengkap di mana sekitar 2.000 dosen dan 10.000 mahasiswa tinggal pada waktu itu. Ditemukan bahwa bukan hanya invasi Turki oleh Khilji yang menjadi penyebab kehancuran Universitas Nalanda, melainkan ada banyak faktor lain yang menyebabkan keruntuhannya. Sekarang ikuti alasannya dan dapatkan jawaban atas pertanyaan pembaca tentang penghancuran Universitas Nalanda.
1. Invasi Turki : Sudah diterima secara luas bahwa Muhammad bin Bakhtiyar Khilji bertanggung jawab atas penghancuran Universitas Nalanda. Namun, ada dua alasan yang dibisikkan. Alasan pertama adalah Bakhtiyar Khilji sedang mencari Al-Quran di perpustakaan Universitas Nalanda dan tidak dapat menemukannya. Akibatnya, ia merasa kesal dan membakar perpustakaan tersebut hingga hancur. Alasan kedua adalah ia merasa jengkel ketika seorang biksu Buddha bernama Rahul Sri Bhadra mampu menyembuhkan penyakit Khilji sementara dokter-dokter Islamnya tidak mampu. Setelah itu, Sultan memutuskan untuk mengakhiri sumber kemampuan tersebut dengan membakar perpustakaan Universitas Nalanda, menghancurkan sekitar 9 juta buku, dan secara efektif menekan agama Buddha. Butuh waktu 3 bulan untuk membakar perpustakaan tersebut.
2. Hilangnya Dukungan Kerajaan: Catatan sejarah menunjukkan penurunan yang stabil dalam dukungan kerajaan, yang memengaruhi keuangan universitas dan menyebabkan ketidakstabilan ekonomi dalam menjalankan universitas.
3. Eksodus Fakultas: Terdapat lebih banyak universitas pada masa Universitas Nalanda. Universitas-universitas tersebut adalah Vikramashila, Somapura, Odantapurā, dan Jaggadala. Dikatakan bahwa invasi dan penjarahan manuskrip secara berkala menyebabkan para dosen meninggalkan Universitas Nalanda, yang juga melemahkan ekosistem pengajarannya. Hal ini seperti pengurasan intelektual dari Universitas Nalanda.
4. Persaingan dari Pusat-Pusat Baru: Pada masa Universitas Nalanda, Vikramshila adalah pesaing pengajaran utama saat itu. Ditemukan bahwa para penyerbu selalu mengincar sumber daya pengajaran yang kaya di Universitas Nalanda. Tetapi mereka tidak pernah mengincar mahavihara lain untuk menjarah manuskrip-manuskripnya. Seiring waktu, Universitas Nalanda terus kehilangan manuskrip-manuskripnya secara berkala. Oleh karena itu, pesaing lain mendapatkan keuntungan tambahan darinya.
5. Manuskrip yang Dijarah: Penjarahan manuskrip secara berkala tidak hanya terjadi di tangan para pen invaders, melainkan juga dilakukan oleh pen invaders lain seperti berbagai sekte agama.
6. Penurunan Jumlah Mahasiswa: Invasi terus-menerus di Universitas Nalanda secara berkala menyebabkan penurunan jumlah mahasiswa karena rasa takut dan ketidakamanan yang ada di benak mahasiswa.
7. Konflik Agama: Kedatangan Hindu pada tahap akhir masa hidup Universitas Nalanda menyebabkan berkembangnya konflik agama dengan Buddhisme. Alasannya adalah sekte Hindu ingin menegakkan prinsip-prinsip agama mereka di wilayah tersebut dan umat Buddha juga ingin menentangnya. Oleh karena itu, konflik terus-menerus antara kedua sekte agama tersebut berkembang dan akhirnya mulai melakukan perlawanan untuk menjaga ketenangan di Universitas Nalanda
8. Pengabaian Pemeliharaan: Memang, penjarahan dan invasi yang terus-menerus telah memberikan pesan yang salah kepada penguasa dinasti yang mengelola Universitas Nalanda. Oleh karena itu, penguasa mengabaikan pemeliharaan rutin dan menjauhi universitas tersebut.
9. Hilangnya Prestise Budaya: Kita harus ingat bahwa setiap lembaga pendidikan harus memiliki prestise budaya dan akademik di kalangan pengajar dan mahasiswa. Ketika prestise itu hilang, maka lembaga pendidikan tersebut juga akan kehilangan posisinya di komunitas pendidikan. Hal yang sama terjadi pada Universitas Nalanda.
10. Ketidakstabilan Politik: Pada saat itu, terjadi ketidakstabilan politik di wilayah Magadh yang memengaruhi universitas. Hal ini terjadi karena konflik keagamaan yang telah dimulai antara sekte Hindu dan sekte Buddha, dan hal itu menggoyahkan stabilitas politik di wilayah tersebut yang pada akhirnya menghancurkan ketenangan politik juga.
11. Erosi Jalur Perdagangan: Alasan utama erosi jalur perdagangan adalah invasi yang berulang, baik yang berskala kecil maupun besar, yang berdampak pada ekonomi lokal. Memang benar bahwa sejarah tidak pernah mencatat invasi kecil pada saat itu. Cara kerjanya seperti ketika seekor semut menggigit, tetapi rasa sakitnya kecil, dan ketika sekelompok semut menggigit, rasa sakitnya menjadi lebih besar dan juga berdampak pada seluruh kelompok semut. Erosi jalur perdagangan berkembang dengan cara ini dari waktu ke waktu.
12. Kemerosotan Kualitas Pendidikan: Setelah invasi Khilji ke Universitas Nalanda, kemerosotan kualitas pendidikan mengalami perubahan negatif yang signifikan dan setelah itu tidak pernah kembali ke bentuk semula. Secara praktis, hal itu menghancurkan semua emosi dalam ekosistem pengajaran dan berdampak buruk pada pikiran para guru dan mahasiswa Universitas Nalanda. Oleh karena itu, kemerosotan kualitas pendidikan dimulai dan menghancurkannya secara perlahan dan bertahap.
13. Kurangnya Inovasi Pengajaran: Anda harus tahu bahwa jika Anda tidak mengikuti tren terbaru, maka Anda akan tamat. Hal yang sama terjadi pada Universitas Nalanda. Sebenarnya, Universitas Nalanda tidak pernah mengembangkan inovasi pengajaran yang canggih bagi para mahasiswa pada saat itu dan tidak mampu mengikuti tren pengajaran terkini pada waktu itu.
14. Kegagalan Beradaptasi: Nalanda tidak pernah mampu beradaptasi dengan perubahan zaman dan kebutuhan pendidikan sehingga kemundurannya tak terhindarkan dan memang terjadi.
15. Sektarianisme : Munculnya sektarianisme dalam Buddhisme berkembang dan menyebabkan perpecahan di dalam universitas. Akibatnya, seluruh ekosistem pengajaran hancur dan berantakan.
16. Kehilangan Perpustakaan: Jika Anda mendapati uang tidak ada di rekening bank Anda, Anda juga akan marah. Hal yang sama terjadi pada Universitas Nalanda saat itu karena perpustakaan adalah uang Nalanda dan kumpulan dosen serta mahasiswa adalah banknya. Ketika Nalanda kehilangan perpustakaannya, banknya pun runtuh dan tidak pernah bangkit lagi.
Memang, Universitas Nalanda terkenal dan diterima dengan baik pada waktu itu karena kekayaan sumber daya pengajarannya, tetapi universitas tersebut tidak pernah berpikir untuk mengambil tindakan tegas terhadap invasi dan penjarahan. Jika universitas tersebut menanggapinya dengan serius, maka kekayaan pengetahuan tersebut dapat diteruskan ke generasi berikutnya dan dunia akan dibangun di atas dimensi pengetahuan baru yang hingga kini belum pulih sepenuhnya.
Hubungan Sriwijaya Dan Nalanda
Prasasti Lempeng Tembaga Nalanda berisi permintaan Raja Balaputradewa dari Sriwijaya kepada Dewapaladewa dari Kerajaan Palla untuk membangun pusat pendidikan di Nalanda, India.
Plat Tembaga Nalanda dikeluarkan oleh raja Benggala bernama Dewapaladewa pada tahun 860 Masehi. Prasasti ini ditulis dalam tulisan Devanagari dan Proto-Bengali. Isi Plat Tembaga Nalanda adalah mengenai permintaan Raja Balaputradewa dari Suwarnadwipa untuk mendirikan sangharama (biara) di Nalanda, dan Raja Dewapaladewa memberikan lima desa yang hasilnya digunakan untuk memelihara sangharama tersebut dan membiayai siswa-siswa di sana.
Berikut adalah kutipan dari isi Plat Tembaga Nalanda :
“… Atas permintaan Maharaja Balaputradewa yang termashyur, Raja dari Suwarnadwipa, melalui utusannya, saya telah membangun sebuah biara di Nalanda dimana berdasarkan dekrit ini, semua pendapatan dianugerahkan untuk Bhagawan Buddha, perwujudan dari semua kebajikan agung seperti Prajnaparamita, dianugerahkan untuk persembahan-persembahan, tempat tinggal, pakaian, dana makanan, tempat tidur, kebutuhan-kebutuhan untuk orang sakit seperti obat-obatan, dan sebagainya, untuk kumpulan para bhikshu dari empat bagian (yang terdiri dari) para Bodhisattva yang menguasai Tantra, dan delapan Aryapudgala untuk menulis permata Dharma dari teks-teks Buddhis dan untuk memelihara dan memperbaiki biara bila rusak … ”
“Dengan pikiran yang terinspirasi oleh berbagai keagungan Nalanda dan karena rasa bhakti pada Putra Suddhodana, serta setelah menyadari bahwa kekayaan bersifat berubah-ubah seperti gelembung-gelembung aliran air gunung, beliau yang ketenarannya seperti Sangharthamitra … yang kekayaannya menyokong komunitas Sangha. Dibangunlah di sana (di Nalanda) sebuah biara yang merupakan tempat tinggal bagi kumpulan para bhikshu yang memiliki berbagai kualitas bajik, bangunan berwarna putih dengan serangkaian tempat tinggal yang indah dan dinding yang halus. Atas permintaan tersebut, Raja Dewapaladewa … melalui para utusan, dengan sangat hormat dan penuh rasa bhakti, mengeluarkan sebuah piagam, yang menganugerahkan lima desa dengan tujuan seperti diuraikan di atas, demi kebahagiaan dirinya sendiri, kebahagiaan orang tuanya dan kebahagiaan dunia …”
“… Selama lautan tetap ada, atau selama anak sungai Gangga digerakkan oleh kepangan rambut Siva, selama para Raja Naga yang tak tergoyahkan, memikul bumi yang berat dan luas dengan mudah setiap hari, dan selama puncak permata mahkota gunung-gunung di Timur (Udaya) dan Barat (Asta) tergores oleh kuku kuda mentari, semoga selama itu pula tindakan bajik ini yang menyebabkan kebajikan di seluruh dunia, tetap langgeng …”
Dari plat tembaga tersebut, jelas terlihat adanya hubungan agama dan politik yang erat antara kerajaan Sriwijaya dan Dinasti Pala di India. Hubungan ini juga diperluas dengan adanya hubungan perdagangan dan pendidikan.
𝐏𝐑𝐀𝐒𝐀𝐒𝐓𝐈 𝐍𝐀𝐋𝐀𝐍𝐃𝐀
𝐀𝐥𝐢𝐡 𝐀𝐤𝐬𝐚𝐫𝐚 :
(Sisi Depan)
1= Om Svasti | Siddhārthasya parārtha-susthita-matēs=san-mārgam=a[bhya]-
2= syatas=siddhis=siddhim=anuttarāṁ bhagavatas=tasya prajāsu kriyā-t[*]yas=traidhātuka-satva(ttva)-siddhi-padavir=aty-ugra-vīry-ōdayāj-jitvā
3= ?
4= nirvṛitim=āsasāda Sugatas=sarvārtha-bhūm-īśvaraḥ [|1(Majumdar: "Sugatas-san=sarvva-bhūmīśvaraḥ")|*] Saubhāgyan=dadha-
5= d=atulaṁ Śriyas=sapatnyā Gōpālaḥ patir=abhavad=vasundharāyāḥ [|*]
6=dṛishṭānte sati kṛitināṁ su-rājñi yasmin śraddēyāḥ Pṛthu-Sagar-ādayō=py=abhūvan [|(2)|*] Vijitya yen=ā-jaladhēr=vvasundharām(ṁ) vimōchitā
7= mōgha-parigrahā iti | sa bāshpam=udbāshpa-vīlochanān punar=vanēshu v(b) andhūn dadṛiśur=mmataṅgajāḥ ||[3]|*] Chalatsv=anantēshu v(b) alēshu yasya Viśvambharā-
8= yā nichitaṁ rajōbhiḥ || pāda-prachāra-kshamam=antariksham(ṁ) vihaṅgamā-nāṁ suchiraṁ v(b) abhūva [|4||*] Śāstr-ārtha-bhājā chalatō=nuśāsya varṇṇān pratishṭhāpaya-
9= tā svadharmmē | ŚRĪ DHARMAPĀLĒNA sutēna sō=bhut=svargga-sthitānām=anṛiṇaḥ pitṛīnām || [5] |*] Achalair=iva jaṅgamair=yadīyair=vichaladbhir=dviradaiḥ kadarthyamānā |
10= nirupaplvam-amv(b) araṁ prapēdē śaraṇaṁ rēṇu-nibhēna bhūtadhātrī [||6||*] Kēdārē vidhin-ōpayukta-payasāṁ GAṄGĀ-samētēmv(b) udhau | Gōkarṇṇ-ādishu ch-āpy=anushṭhi-
11= tavatān=tīrthēshu dharmyāḥ kriyāḥ [|*|] bhiṛtyānāṁ sukham-ēva yasya saka-lān=uddhṛitya dushṭān=imān(āṁ) =(1)lōkān=sādhayatō=nushaṅga-janitā sid-dhih paratr=ā-
12= py=abhūt || [7||*] Tais=tair=dig=vijay-āvasāna-samayē saṁprēshitānāṁ paraiḥ satkārair=apanīya khēdam=akhilaṁ svāṁ svāṁ gatānām=bhuvam(ṁ) [|*] kṛityaṁ bhāvayatāṁ
13= yadīyam=uchitaṁ prītyā nṛipāṇām=abhūt s-ōtkaṇṭhaṁ hṛidayan=divaś=chyutavatāṁ jāti-smarāṇām=iva ||[8||*] ŚRĪ PARAV(B) ALASYA duhituḥ kshitipatinā RĀ-
14= SHṬRAKŪṬA-tilakasyan | RAṆṆĀDĒVYĀḤ pāṇir=jagṛihē gṛihamēdhinā tēna || [9||*] Dhṛita-tanur=iyaṁ Laksmīḥ sākshāt kshitir=nu śarīriṇī kịm=avani-patēh kīrttir=mū-
15= rrt=āthavā gṛiha-dēvatān [|*] iti vidadhatī śuchy āchā[rā*] vitarkavatiḥ prajāḥ prakṛiti-gurubhir=yā śuddhāntaṅ=guṇair=akarōd=adhaḥ || [10|*] Ślāghyā pra(pa) tivrat=āsau mu-
16= ktā-ratnaṁ samudra-śuktir=iva | ŚRĪ DĒVAPĀLADĒVAM=prasanna-vaktraṁ sutam-asūta || [11||*] Nirmmalō manasi vāchi saṁyataḥ kārya-karmman(ṇ)i chayaḥ sthitaḥ śuchau [|*
17= rājyam=āpa nirupaplavam-pitur-V(B) ōdhisatva iva Saugataṁpadaṁ ||[12||*]| Bhrāmyadbhir=vijaya-kramēṇa karibhis=tām=ēva Vindhyāṭavīm=uddāma-plavamāna-v(b) ashpa-paya-
18= sō dṛishṭāḥ punar-v(b)andhavaḥ [|*] Kamvō(mbo) jēshu cha yasya vāji-yu[va*]bhir=dhvast-ānya-rāj-aujasō hēshā miśrita-hāri-hēshita-ravāḥ kāntāś-chira-prīṇitāḥ || [13||*] Yaḥ pūrvaṁ Bali-
19= nā kṛitaḥ kṛita-yugēn yēn=āgamad=Bhārgavas-tretāyāṁ prahataḥ priya-praṇa-yina Karṇṇēna yō dvāparē | vichchhinnaḥ Kalinā Śaka-dvishi gatē kālēnalōka-ānta-
20= raṁ yēna tyāga-pathas=sa ēva hi punar=vispashṭam-unmīlitaḥ || [14||*] Ā Gaṅg-āgama-mahitāt=sapatna-śūnyām=ā sētu(ōḥ) prathita-Daśāsya-kētu-kīrttēḥ [|*]urvvīm=ā Varuṇa-
21= nikētanāch=cha Sindhōr=ā Lakshmi-kula-bhavanāch-cha yō vu(bu) bhōja [15||*] Sa khalu Bhāgirathī-patha-pravarttamāna-nānāvidha-nau-vāṭaka-saṁ-pādita-sētu-v(b) andha-nihita-[śai]-
22= la-śīkhara-śrēṇi-vibhramāt niratiśaya-ghana-ghanāghana-śyāmyāmāna-vāsara-Lakshmī-samāravdha(bdha)-saṁtata-jaladasamaya-sandēhāt(d)-udīchīn-ānēka-
23= narapati-prābhṛitīkṛit-āpramēya-haya-vāhinī-khara-khur-ōtkhāta-dhūli-dhūsarita-digantarālāt PARAMĒŚVARA-sēvā-samāyāt-āśēsha-JAMV(B) Ū-DVĪ
24= PA-bhūpāla-pādāta-bhara-namad-avanēḥ ŚRĪ MUDGAGIRI-samāvāsita-Śrīmaj-Jaya-skandhāvārāt Parama-Saugata-Paramēśvara-Paramabhaṭṭāraka-MA-
25= HĀRĀJĀDHIRĀJA-ŚRĪ-DHARMAPĀLADĒVA-pād-ānudhyātaḥ Parama-Saugataḥ Paramēśvaraḥ Paramabhaṭṭarakō MAHĀRĀJĀDHIRĀJĀḤ ŚRĪMĀN=DĒVAPĀLADĒVAḤ
26= kuśalī | ŚRĪ-NAGARA-BHUKTAU RĀJAGṚIHAU-VISHAYĀNTAḤPĀTI-AJAPURA-NAYA-pratibaddha-sva-samv(b)addh-avichchhinna-tal-ōpēta | NANDIVANĀKA | MAṆI-
27= VĀṬAKA | PILIPIṄKĀ-NAYA prativ(b) addha- NAṬIKĀ | ACHALĀ-NAYA- pratibaddha-HA[STI]GRĀMA | GAYĀ-VISHAY-ĀNTAḤPĀTI-KUMUDASŪTR-pratibaddha-PĀLĀMA-
28= KA-grāmēshu | samupāgatāṁ(tān) sarvvān=ēva Raja-Rāṇaka | Rājaputra | Rājāmātya | Mahākārttākṛitika | Mahādaṇḍanāyaka | Mahāpratīhāra | Mahā
29= sāmanta | Mahādauḥsādhasādhanika | Mahākumārā[mā*]tya [*] Pramātṛi | Śarabhaṅga [|*] Rājasthāniy-ōparika | Vishayapati [|*] Dāśāparādhika | Chaurōddhara-
30= ṇika | Dāṇḍika [|*] Dāṇdapāśika | Śaulkika Ga[u]-lmika | Kshētrapāla Kōṭapāla | Khaṇḍaraksha | Tadāyuktaka | Viniyuktaka | hasty-aśv-ōshṭranau-v(b)ala-vyāpṛi-
31= taka [|*] kiśora-vaḍavā-gō-mahishy-adhikṛita | Dūta-prai[sha]ṇika | Gamāga-mika | Abhitvaramāṇaka | Tarikan| Tarapatika | Ōd(ḍ) ra (Majumdar: Gauḍa)-Mālava-Khaśa-Kulika | Karṇṇā-
32= ṭa | [Hū]ṇa-chāṭa-bha[ṭa]-sēvak-ādīn=anyāmś=ch=ākīrttitān sva-pāda-padm-ōpajī-vinaḥ prativāsinaś=cha Brāhmaṅ-ōttarān mahattama-kuṭum v(b)i-purōga-mēd-āndhara-
33= ka | chaṇḍala-paryantān samājñapayati viditam=astu bhavatāṁ yath=ōpari-likhitan svasamv(b)addh-āvichchhinna-tal-ōpēta- NANDIVANĀKA-GRĀMA | MAṆIVĀṬA-
34= KA-GRĀMA | NAṬIKĀ-GRĀMA |HASTI-GRĀMA | PĀLĀKA-GRAMĀḤ sva-sīmā-tṛiṇa-yūti-gūchara-paryantāḥ sa-talāḥ s-ōddēśāḥ s-āmra-madhūkāḥ sa-jala-stha-
35= lāḥ s-ōparikarāḥ sa-daś-āparādhāḥ sa-chaur-ōddharaṇāḥ parihṛita-sarvva-pīḍāḥ | a- chāṭa-bhaṭa-praveśā a-kiñchit-pragrā[hya] rāja-kụlīya-
36= samasta-pratyāya samētā bhūmi-chehhidra-nyāyēn-āchandr-ārkka-kshiti-sama-kālaṁ pūrvva-datta-bhukta-bhujyamāna-dēva-v(b) rahma-dēya-varjitāḥ mayā
37= mātā-pitrōr-ātmanaś=cha puṇya-yaśō-bhivṛiddhayē || SUVA[RṆṆA]-DVIP-ĀDHIPA MA[HA]RĀJA-ŚRĪ VA(BĀ) LAPUTRADĒVĒNA dūtaka-mukhēna vayam=vijñāpitāḥyathā
38= mayā ŚRĪ NĀLANDĀYĀM(Ṁ) VIHĀRAḤ kāritas-tatra Bhagavatō V(B) uddha-bhaṭṭā-rakasya Prajñāpāramit-ādi-sakala-dharmma-nētrī-sthānasy=āy-ārthē ta-
39= tra(i) ka ]Majumdar = "dharma-nētrī-sthānasy-ārch-ārthē. tā(ta)
39= traka"] V(B) ōdhisatva-gaṇasy=āshṭa-mahā-purusha-pudgalasya chatur-ddiś-ārya-bhikshu-saṅghasya v(b) ali-charu-satra-chīvara-piṇdapāta-śayan-āsana-glāna pratyaya-bhē-
40= shajy-ādy-arthaṁ dharma-ratnasya lēkhan-ādy-arthaṁ vihārasya cha khaṇḍa-sphuṭita-samādhān-ārthaṁ śāsanīkṛtya pratipāditaḥ(tāḥ) [|*] Yatō bhavadbhiḥ sarvair=eva
41= bhūmēr=dāna-phala-gauravād=apaharaṇē cha mạhā-naraka-pāt-ādi-bhayād dā-nam=ida[m=a-]bhyanumōdya pālanīyaṁ | prativāsibhir=apy=ājña-śra-
42= vaṇa-vidhēyair=bhūtvā yathā-kālaṁ samuchita-bhāga-bhōga-kara-hiraṇy-ādi-pratyay-ōpanayaḥ kārya iti | Sam(ṁ)vat 39 K[ā*]rttika dinē 21
(sisi belakang.....).
43= Tathā cha dharmānuśansa(śaṁsi) naḥ ślōkāḥ [|*] V(B)ahubhir=vasudha dattārājabhiḥ
44= Sagar-ādibhiḥ [|*]yasya yasya yadhā bhūmis=tasya tasya tadā phalam || [16||*]
45= Svadattām=paradattām-vā yō harēta vasundharāṁ(m) | sa vishṭā(ṭhā)yāṁ kṛimir=bhūtva pitṛibhiḥ
46= saha pachyatē || [17||*] Shashṭim(ṁ) varsha-sahasrāṇi s[v]argē mōdati bhūmidah | ākshēptā ch=ānumantā cha tāny=ēva
47= narakē vaset || [18||*] Anya-dattam dvi-jatibhyō yatnād=raksha Yudhishṭhirab | mahīṁ mahībhṛitāṁ śtēshṭha dā-
48= nāch=chhrēyō=nupālanaṁ || [19||*] Asmat-kula-kramam=udāram=udā[ha]radbhir anyaiś=cha dānam=idam=abhyanumōdanīyaṁ | Lakshmyās=tadit-salila-v(b)udv(b)uda-[chaṁ-]
49= chalāyā dāmam phalaṁ para-yaśah-paripālanaṁ cha || [20||*] Iti kamala-da-lām=i-
50= dam=udāhṛqitaṁ cha v(b)u[d*]dhvā na hi purushaiḥ para-kīrttayō vilōpyāḥ || [21||*] Dakshina-bhuja iva rājñaḥ para-v(b)ala-dalanē sahāya-nirapēkshaḥ [|*]
51= dūtyaṁ ŚRĪ-V(B) ALVARMMĀ vidadhē dharmmādhikārē=smin || [22] ||*] Asmindharmm-ārambhē dutyaṁ ŚRĪ-DĒVAPĀLADĒVASYA | vidadhē ŚRĪ-V(B) ALA-VARMMA VYĀGHRATAṬĪ-MAṆḌAL-ĀDHIPATIḤ || [23 ||*]
52= Āsid=aśēsha-narapāla-vilōla-mauli-mālā-maṇi-dyuti-viv(b)ōdhita-pada-padmaḥ [|*] ŚAILĒNDRA-VAṀŚA-TILAKŌ YAVA-BHŪMIPĀLAḤ ŚRĪ VIRA-VAIRIMATHAN-
53= ānugat- (Majumdar = āvagat) ābhidhānaḥ || [24 ||*] Harmya-sthalēshu kumudēshu mṛiṇālinīshu śaṅkh-ēndu-kunda-tuhinēshu padan=dadhānā | niḥśēsha-diṅ-mukha-niran-tara-lav(b)dha-gītiḥ(r)=
54= mūrtt=ēva yasya kōpān=ni[rbhin]nāḥ saha hṛidayair=dvishāṁ śriyō-pi- | vakrāṇām= i
55= ha hi parōpaghāta-dakshā jāyantē jagati bhṛisha(śa)ṅ=gati-prakārāḥ || [26||*] Tasy-ābhavan=naya-parākrama-śīla-śālī Rājēndra-Mauli-śata-durllaḷit-āṅghri-
56= yugmaḥ | sūnur-Yudhishṭhira-Parāśara-Bhīmasēna-Karṇṇ-Arjjun-ārjjita-yaśāḥ SAMARĀGRAVĪRAḤ || [27 ||*] Uddhūtam=amv(b)ara-talād=yudhi sañcharantyāyat-sēnay=āvani-rajaḥ-pa-
57= ṭalaṁ pad-ōttham (Majumdar= paṭīyah) | karṇṇ-ānilēna kariṇāṃ śanakam(ṁ) vitīrṇṇair=gaṇḍasthalī-mada-jalaiḥ śamayāmv(b)abhūva | [|28| *] A-Kṛishṇa-paksham=ēvēdam=abhūd=Bhuvana-Maṇḍalaṁ(m)
58= kulan-daityādhipasy=ēva yad-yaśōbhir-anārataṁ(m) || [29 ||*] Paulōm =īvām Surādhipasya vidita Saṅkalpayōnēr=iva Prītiḥ Śailasut-ēva Manmathari-
59= pōr=Lakshmīr=Murārrēr=iva | Rājñaḥ SŌMA-KUL-ĀNVAYASYA mahatah ŚRĪ DHAṚMASĒTŌH Sutā tasy=ābhūd avanībhujō=gramahishī tār=ēva TĀR-Āhvayā || [30 ||*] Māyā-
60= yām=iva Kāmadēvavijayī Śuddhōdanasy=Ātmajaḥ Skandō nandita-dēva-vṛinda-hṛidayaḥ Sambhōr=Umāyām=iva | tasyān=tasya narēndra-vṛinda-vinamat-pad-āravi-
61= nd-āsanaḥ sarvv-ōrvvīpati-garvva-kharvaṇa-chaṇah ŚRĪ-V(B) ĀLAPUTRŌ='bhavat || [31*] NĀLANDĀ -guṇa-vṛinda-luv(b) dha-manasā bhaktyā cha Śauddhōdanēr v(b)u[d*]dhvā śaila-sarit-tāraṅga-taralāṁ
62= Lakshmīm=imāṁ kshōbhznām | yas=tēn=ōnnata-sau[dha]-dhāma-dhavalaḥ saṅghārtha-mittra-śriyā nānā-sad-guṇa-bhikshu-saṅgha-vasatis=tasyām(ṁ). Vihāraḥ kṛitaḥ || [32||*] Bhaktyā
63= tatra samasta-śatru-vanitā-vaidhavya-dīkshā-guruṁ kṛitvā śasanam=āhit-ādara-tayā samprārthya dūtair=asau | grāmaṁ(n) pañcha vipañchit-ōpari-yath-ōddēśā-
64= n=imān=ātmanaḥ pitrō[r=llō]ka-hit-ōdayāya cha dadau ŚRĪ-DEVAPALAM nṛi-paṁ(m) | [33 ||*] Yāvat=sindhōḥ prav(b)andhaḥ pṛithula-Hara-jaṭā-kshō-bhit-āṅgā cha Gaṅga gurvviṅ
65= dhattē phaṇīndraḥ pṛatidinam=achalō hēlayā yāvad=urvviṁ | yāvach=ch=āst-ōday-ādrī ravi-turaga-khur-ōdghṛisṭa-chūdamaṇī stas=tāvat=sat-kirttir=ēshā prabhava-
66= tu jagatām(ṁ) sat-kriyā rōpayantī ||[34 ||*]
(HIRANANDA SASTRI, 1942: 96-100; 1983: 318-224).
𝑨𝒍𝒊𝒉 𝑩𝒂𝒉𝒂𝒔𝒂 (𝑻𝒆𝒓𝒋𝒆𝒎𝒂𝒉𝒂𝒏 𝑩𝒆𝒃𝒂𝒔)
𝑪𝒂𝒕𝒂𝒕𝒂𝒏 :
Untuk Terjemahan baris ke 1-25 oleh Mungir yang kemudian diedit oleh Keil Horn di dalam " Indian Antiquiry, Vol. XXI, hal. 257-258.
» Baris ke: 26-33=
di ŚRĪ NAGARA BHUKTI, di desa-desa yang termasuk dalam Distrik (Vishaya) RAJAĢRIHA, yaitu NANDIVANĀKA, dan MAṆIVĀṬAKA, yang masuk dalam subdivisi teritorial (Naya) AJAPURA, bersama-sama dengan tanah-tanah yang belum terbagi yang terkait dengannya; NAṬIKĀ yang termasuk dalam sub-divisi (Naya) PILIPINKĀ dan HASTIGRĀMA yang termasuk dalam bagian (Naya) ACHALĀ dan Desa PĀLĀMAKA yang berada di bawah bagian (Vīthī) KUMUDASŪTRA (atau KUMUDASUNU) yang termasuk dalam batas Distrik (Vishaya) GAYĀ. DĒVAPĀLADĒVA, dalam keadaan sehat mengeluarkan perintah kepada semua orang yang telah berkumpul ḋi sini: RAJARĀṆAKA, RĀJAPUTRAKA, RĀJĀMĀTYA, MAHĀKĀRTTĀKṚITIKA, MAHĀDAṆḌANĀYAKA, MAHĀPRATĪHĀRA, MAHĀSĀMANTA, MAHĀDAUḤSĀDHASĀDHANIKA, MAHĀKUMĀRĀRAMĀTYA, PRAMĀTRI, SARABHAṄGA, RĀJASTHĀNĪYA, UPARIKA, VISHAYAPATI, DĀŚĀPARĀDHIKA, CHAURŌDDHARAṆIKA, DĀṆḌIKA, DĀṆḌAPĀSIKA, ŚAULKIKA, GAULMIKA, KSHĒTRAPĀLA, KŌṬAPĀLA, KHAṆḌARAKSHA, TADĀYUKTAKA, VINIYUKTAKA, HASTYAŚVŌSHṬRANAUBALAVYĀPṚITAKA, KIŚŌRA-VAḌAVĀ-GŌ-MAHISYADHIKṚITA, DŪTAPRAISHAṆIKA, GAMĀGAMIKA, ABHITVARAMĀṆAKA, TARIKA, TARAPATIKA, OḌRAS (pria dari ORISSA. Menurut koreksi Majumdar = GAUDAS), MĀLAVAS, KHAŚAS, KULIKAS, KARṆṆĀṬAS, HŪṆAS, CHĀṬAS (atau Petugas Desa), BHAṬAS. Para hamba dan orang lain yang bergantung pada kaki padma beliau yang tidak disebutkan namanya di sini; serta para penduduk, yakni Para BRĀHMAṆŌTTARA, Para Tetua Desa, Para Pengurus Rumah Tangga, Para PURŌGA, Para MĒDAS, para ĀNDHRAKAS, turun hingga ke Para CHAṆḌĀLAS.
» Baris ke: 33-37 =
Perlu diketahui bahwa desa-desa tersebut di atas, yaitu Desa NANDIVANĀKA, Desa MAṆIVĀṬAKA, Desa NAṬIKĀ, Desa HASTI (atau HASTIGRĀMA) dan Desa PĀLĀMAKA, beserta tanah-tanah yang belum dibagi, beserta tanah-tanahnya, tempatnya, pohon mangga, dan pohon Madhuka (Basia Latifolia), beserta air dan tanah keringnya; UPARIKARAS, DAŚĀPARĀDHAS, CHAURŌDDHARAṆAS, bebas dari segala masalah, terbebas dari masuknya para CHĀṬAS (Petugas Desa) dan BHAṬAS, sesuai dengan semua pajak yang harus dibayarkan oleh keluarga kepada Istana Raja, dengan tidak satupun yang bisa diambil kembali sesuai dengan aturan BHŪMICHCHIDRA yang akan berlaku selama Bulan, Matahari, dan Bumi masih ada. Tidak termasuk persembahan kepada Para Dewa, dan Para BRĀHMAṆA yang telah diberikan sebelumnya, maupun yang sedang dinikmatinya.
» Baris ke: 37-42 =
diberikan oleh kami untuk peningkatan pahala spiritual dan kemuliaan orang tua kami sendiri. Kami diminta oleh MAHĀRĀJA BĀLAPUTRADĒVA, yang termasyur RAJA SUVARṆṆADVĪPA, melalui Seorang Utusan, bahwa: " Saya telah memerintahkan untuk membangun sebuah Biara di NĀLANDĀ".
Dekrit ini diberikan sebagai persembahan bagi Sang Buddha, bagi tempat semua kebajikan utama seperti halnya PRAJÑĀPĀRAMITA [Majumdar : "sebagai tempat pemujaan bagi Sang Bhddha BHATTĀRAKA, merupakan mata semua kebajikan, termasuk PRAJÑĀPĀRAMITĀ]
yaitu khusus sebagai tempat persembahan, tempat berteduh, menyimpan pakaian, bersedekah, tempat tidur, kebutuhan bagi orang sakit termasuk obat-obatan, dan lain-lain, perkumpulan bagi para BHIKSU yang terhormat dari Empat Penjuru yang meliputi Para BŌDHISATTVA yang sangat ahli dalam TANTRA dan Delapan Tokoh Suci Besar [yaitu ARIYA PUGGALAS. Majumdar = " Sehubungan dengan Para Bhodhisattva (yang dilantik) di sana dan Komunitas Bhiksu Buddha dari empat penjuru, terdiri kelas-kelas tokoh besar"] untuk menulis DHARMA RATNAS atau Teks Buddha.
Hibah haruslah disetujui dan dipertahankan oleh kalian semua karena menghormati jasa dan melindungi hadiah tanah oleh karena hal-hal semacam itulah.
Para Penduduk juga harus patuh pada perintah tersebut setelah mendengarnya dan harus membawa kepada penerima hibah pada waktu yang tepat, pendapatan yang seharusnya seperti BHĀGABHŌGAKARA, emas, dan lain-lain.
SAṀVAT (Tahun ke 39), KĀRTTIKA, Hari ke-21.
» Baris ke: 43-50=
Sesuai dengan itu, berikut adalah ayat-ayat (No. 16-21)
yang mengumumkan kewajiban (tentang hibah).
» Baris ke: 52-66 =
Ada seorang Raja dari YAWABHUMI yang merupakan permata dari DINASTI SAILENDRA, yang kakinya seperti Padma yang mekar oleh kilauan permata -permata di deretan mahkota yang bergetar di atas semua pangeran dan yang nạmanya sesuai dengan "Penyiksa yang termasyur dari para musuh yang pẹberani" (VIRA VAIRI MATHANA)".
Ketenarannya menjelma seolah-olah dengan menjejakkan kakinya di wịlayah-wilayah istana (putih), di bunga Lili air putih, di tanaman-tanaman teratai, keong, bulan, melati dan salju serta dinyanyikan terus-menerus di semua penjuru, merasuki seluruh alam sẹmesta.
Pada saat Raja mengerutkan keningnya karena marah, nasib para musuh juga hancur, bersamaan dengan hati mereka.
Sessungguhnya orang-orang yang bengkok di dunia, punya cara bergerak dengan sangat cerdik dalam menyerang orang lain.
Dia memiliki seorang Putra (bernama Samaragravira) yang memliki kehati-hatian, kecakapan, dan perilaku baik, yang kedua kakinya terlalu banyak mengarungi (....) dengan ratusan mahkota raja-raja yang perkasa (sujud).
Dia memịliki prajurit terdepan di medan perang dan ketenarannya setara dengan yang diperoleh oleh YUDISHTIRA, PARACARA, BHIMASENA, KARNA dan ARJUNA.
Banyaknya debu tanah yang diangkat oleh kaki pasukannya yang bergerak di medan perang, pertama-tama diterbangkan ke langit oleh angin, yang dihasilkan oleh gerakan di bumi oleh. Inchor (...) yang dituangkan dari pipi gajah.
Dengan keberadaannya yang terus-menerus, ketenarannya membuat dunia sama sekali tidak. berada dalam kegelapan, seperti halnya keluarga pemguasa para DAITYA (setan) tidak berada dalam keberpihakan KHRISNA.
Sebagaimana PAULOMI dịkenal sebagai (istri) penguasa SURA (yaitu INDRA), RATI istri yang terlahir dari pikiran (KAMA), Putri Gunung (PARVATI), musuh KAMA (yaitu SIWA) dan LAKSMI dari musuh MURA (Wisnu), maka TARA (Dewi Buddha) adalah Permaisuri Raja tersebut yang merupakan Putri Penguasa Agung; DHARMASETU dari WANGSA SOMA (Bulan) yang menyerupai TARA yang sesungguhnya (yaitu Sang Buddha dengan nama itu).
Sebagai seorang Putra SUDDHODANA (Sang Buddha), Sang Penakuk KAMADEVA, lahir dari MAYA dan SKANDA, yang menyenangkan hati bala tentara Dewa, lahirlah UMA dari SIWA. Lahir darinya oleh RAJA BALAPUTRA yang termasyur, yang ahli dalam menaklukkan kesombongan semua penguasa dunia, di hadapan tumpuan kakinya para pangeran bersujud.
Dengan pikiran tertarik oleh berbagai keunggulan. NALANDA dan melalui dan pengabdian kepada Matahari SUDDHODANA (Sang Buddha) serta menyadari bahwa kekayaan itu tidak menentu bagaikan gelombang sungai di pegunungan, ia yang kẹmasyurannya seperti SANG HARTAMITRA.
Ini berarti bahwa kekayaannya mendukung perjuangan SANGGHA.
Di sana (NALANDA) dibangun sebuah Biara yang menjadi tempat tinggal para Bhiksu dari berbagai kualitas, yang merupakan serangkaian tempat tinggal yang tinggi dan berlantai putih.
Setelah meminta, RAJA DEVAPALADEVA yang merupakan guru untuk mendudakan istri-istri semua musuh, melalui utusan, dengan sangat hormat, karena pengabdian serta mengeluarkan piagam (Dia) mengabulkan Lima Desa yang telah dimotivasi seperti di atas guna kesejahteraan dirinya, orang tuanya, serta dunia.
Selama lautan masih ada, atau Sungai GANGGA masih menggerakkan anggota tubuhnya (arus air) oleh rambut kepang panjang milik HARA (SIWA). Selama Raja Ular (SESHA) yang tak tergoyahkan, dengan ringannya menanggung bhumi yang berat dan luas setiap harinya, dan selama gunung-gunung TIMUR (UDAYA), dan BARAT (ASTA), masih memiliki permata dipuncaknya yang tergores oleh kuku Kuda Matahari, maka semoga tindakan berjasa ini yang akan menegakkan Kebajikan di seluruh dunia hingga bertahan lama.
𝑴𝒂𝒉𝒂̄𝒓𝒂̄𝒋𝒂̄𝒅𝒉𝒊𝒓𝒂̄𝒋𝒂 𝑺̌𝒓𝒊̄𝒎𝒂̄𝒏 𝑫𝒆̄𝒗𝒂𝒑𝒂̄𝒍𝒂𝒅𝒆̄𝒗𝒂.
Raja DEVAPALADEVA merupakan raja ke- 3 dari Kerajaan PĀLA (Skt.= Pelindung) dari DINASTI PALA yang berkembang di kawasan BENGALI dan BIHAR sekarang di Belahan INDIA UTARA.
KERAJAAN PALA tumbuh dan.berkembang pesat pada Perkiraan Abad ke 8 hingga berakhir di Abad ke 12 M akibat Invasi Cola Mandala dari India Selatan.
Agama utama yang dianut adalah BUDHISME MAHAYANA dan VAJRAYANA, selain toleransi terhadap Hindu-Shaivaisme.
Sebagian besar prasasti peninggalan raja-raja Dinasti Pala rata-rata hanya menyebutkan tahun masa pemerintahan raja-rajanya, sebagaian besar tarikh penerbitannya tanpa menyebutkan rincian tarikh menurut sistem kalender yang ada. Hal ini menyebabkan sulitnya menentukan kronologi Masa Pemerintahan Raja-Raja Pala.😪
Akibatnya Para Sejarawan India memperkirakan kronologi Masa Pemerintahan para Raja Dinasti Pala dengan Interpretasi yang berbeda.
𝑩𝒂𝒃𝒂𝒌𝒂𝒏 𝑺𝒆𝒋𝒂𝒓𝒂𝒉 𝑷𝒂𝒓𝒂 𝑹𝒂𝒋𝒂 𝑫𝒊𝒏𝒂𝒔𝒕𝒊 𝑷𝒂𝒍𝒂 :
1) GOPALA.
*A.M.Chowdhury (1967)
*R.C.Majumdar (1971) = 750-770 M.
*D.C.Sircar (1975) = 750-775 M.
*B.P.Sinha (1977) = 755-783 M.
*D.K.Ganguly (1994) = 750-774 M.
2) DHARMAPALA.
*A.M.Chowdhury (1967) = 781-821 M.
*R.C.Majumdar (1971) = 770-810 M.
*D.C.Sircar (1975) = 775-812 M.
*B.P.Sinha (1977) = 783-820 M.
*D.K.Ganguly (1994) = 774-806 M.
3) DEVAPALA.
*A.M.Chowdhury (1967 ) = 821-861 M.
*R.C.Majumdar (1971) = 810-850 M.
*D.C.Sircar (1975) = 812-850 M.
*B.P.Sinha (1977) = 820-860 M.
*D.K.Ganguly (1994) = 806-845 M.
4) MAHENDRA PALA.
*D.K.Ganguly (1994) = 845-860 M.
5) SURAPALA (VIGRAHAPALA-I).
*D.C.Sircar (1975) = 850-858 M.
*D.K.Ganguly (1994) = 860-872 M.
6) GOPALA-II.
*Temuan prasasti pd thn. 1995.
7) VIGRAHAPALA-I
*A.M.Chowdhury (1967) = 861-866 M.
*R.C.Majumdar (1971) = 850-853 M.
*D.C.Sircar (1975) = 858-860 M.
*B.P.Sinha (1977) =
860-865 M.
*D.K.Ganguly (1994) = 872-873 M.
8) NARAYANA PALA.
*A.M.Chowdhury (1967) = 866-920 M.
*R.C.Majumdar (1971) = 854-908 M.
*D.C.Sircar (1975) = 860-917 M.
*B.P.Sinha (1977) =860-917 M.
*D.K.Ganguly (1994) = 873-927 M.
9) RAJYAPALA.
*A.M.Chowdhury (1967) = 920-952 M.
*R.C.Majumdar (1971) =908-940 M.
*D.C.Sircar (1975) =917-952 M.
*B.P.Sinha (1977) =920-952 M.
*D.K.Ganguly (1944) =927-959 M.
10) GOPALA-III.
*A.M.Chowdhury (1967) = 952-969 M.
*R.C.Majumdar (1971) =940-957 M.
*D.C.Sircar (1975) = 952-972 M.
*B.L.Sinha (1977) = 917-952 M.
*D.K.Ganguly (1994 M) = 959-976 M.
11) VIGRAHA PALA-II.
*A.M.Chowdhury (1967)=969-995 M.
*R.C.Majumdar (1971) =960-986 M.
*D.C.Sircar (1975) =972-977 M.
*B.P.Sinha (1977) = 967-980 M.
*D.K.Ganguly (1994) =976-977 M.
12) MAHIPALA.
*A.M.Chowdhury (1967) =995-1043 M.
*R.C.Majumdar (1971) =988-1036 M.
*D.C.Sircar (1975) =977-1027 M.
*B.P.Sinha (1977) =980-1035 M.
*D.K.Ganguly (1994)= 977-1027 M.
13) NAYAPALA.
*A.M.Chowdhury (1967) =1043-1058 M.
*R.C.Majumdar (1971) =1038-1053 M.
*D.C.Sircar (1975)=1027-1043 M.
*B.P.Sinha (1977)=1035-1050 M.
*D.K.Ganguly (1994) =1027-1043 M.
14) VIGRAHA PALA-III.
*A.M.Chowdhury (1967) = 1058-1075 M.
*R.C.Majumdar (1971) = 1054-1072 M.
*D.C.Sircar (1975) = 1043-1070 M.
*B.P.Sinha (1977) =1050-1076 M.
*D.K.Ganguly (1994) = 1043-1070 M.
15) MAHIPALA-II.
*A.M.Chowdhury (1967).=1075-1080 M.
*R.C.Majumdar (1971) =1072-1075 M.
*D.C.Sircar (1975) =1070-1071 M.
*B.P.Sinha (1977) =1076-1078 M.
*D.K.Ganguly (1994) = 1071-1072 M.
16) RAMAPALA.
*A.M.Chowdhury (1967) =1082-1124 M.
*R.C.Majumdar (1971) =1077-1130 M.
*D.C.Sircar (1975) =1072-1126 M.
*B.P.Sinha (1977)=1078-1132 M.
*D.K.Ganguly (1994) =1072-1126 M.
17) KUMARAPALA.
*A.M.Chowdhury (1967) =1124-1129 M.
*R.C.Majumdar (1971) =1130-1140 M.
*D.C.Sircar (1975) =1126-1128 M.
*B.P.Sinha (1977) =1132-1136 M.
*D.K.Ganguly (1994) =1127-1128 M.
18) GOPALA-IV.
*A.M.Chowdhury (1967)=1129-1143 M.
*R.C.Majumdar (1971) =1140-1144 M.
*D.C.Sircar (1975) =1128-1143 M.
*B.L.Sinha (1977) =1136-1144 M.
*D.K.Ganguly (1944)=1128-1143 M.
19) MADANAPALA
*A.M.Chowdhury (1967) =1143-1162 M.
*R.C.Majumdar (1971)=1144-1162 M.
*D.C.Sircar (1975) =1143-1161 M.
*B.P.Sinha (1977) =1144-1161/2 M.
*D.K.Ganguly (1994) =1143-1161 M.
20) GOVINDAPALA
*A.M.Chowdhury (1967) =1158-1162 M.
*R.C.Majumdar (1971) = 1158-1162 M.
*D.C.Sircar (1975/6) =1165-1199 M.
*B.P.Sinha (1977) =1162-1176 M.
*D.K.Ganguly (1994) =1165-1200 M.
(Sinha, 1977:253; Chowdhury, 1967: 272-273; Sircar, 1975/6: 209-210; Majumdar, 1971: 161-162; Ganguly, 1994: 33-41).
Dari penyajian tabel perkiraan kronologis masa pemerintahan Raja-Raja dari DINASTI PALA, maka MAHARAJADHIRAJA SRIMAN DEVAPALADEVA merupakan Raja Ke-3 yang memerintah antara tahun 810-870 M.
Estimasi kronologis rersebut diambil berdasarkan temuan arkeologis berupa monumen dan peninggalan prasasti yang dikeluarkannya.
𝑻𝒆𝒍𝒂𝒂𝒉 𝑰𝒔𝒊 𝑷𝒓𝒂𝒔𝒂𝒔𝒕𝒊 𝑵𝒂𝒍𝒂𝒏𝒅𝒂 (810-870 𝑴)
PRASASTI NALANDA merupakan salah satu temuan prasasti yang dikeluarkan oleh SRI MAJARAJADHIRAJA DEVAPALADEVA yaitu berupa sebuah lempeng/plat tembaga yang diketemukan oleh seorang Epigrap India; HIRANANDA SHASTRI pada tahun 1921 di ruang depan pada salah satu Vihara di reruntuhan Universitas Keagamaan Buddha MAHAVIHARA NALANDA.
Prasasati Nalanda berbentuk satu Lempeng (piagam) Tembaga (tambra) / "Cooper-plate" dengan dua sisi (muka dan belakang) dengan bertuliskan Aksara DEVANAGARI AWAL (Pre-Nagari) dengan mengggunakan Bahasa SANSEKERTA.
Pada bagian sisi depan memuat aksara sebanyak 42 baris, sedangkan pada bagian sisi belakang terdiri dari 24 baris deretan aksara.
Pada bagian awal (baris ke-1) tertulis kalimat pujian kepada SANG BUDDHA SIDDHARTA GAUTAMA ,
" Om Svasti | Siddhārthasya ".
Pada bagian bawah lambang tertera tulisan "Śrī Dēvapāladēvasya" yang berarti "DĒVAPĀLA yang Termasyur" dan dibagian bawahnya tertulis simbol "Dharmmachakra" sbg lambang Sang Budha Gautama memutar roda dharma (Ajaran Budhisme).
Pada bagian sisi depan baris ke: 37-38 = tertera ungkapan adanya sebuah permohonan seorang Raja SUVARNADVIPA bernama V(B)ALAPUTRADEVA melalui seorang utusannya kepada SRI MAHARAJADHIRAJA DEVAPALADEVA untuk membangun sebuah Biara (vihara) di NALANDA (Śrī Nālandāyām Vihārah).
Untuk mewujudkan permohonan tersebut maka Raja Devapaladeva membebaskan 5 Desa bebas pajak (sima) yaitu:
DESA NANDI VANĀKA,
DESA MANIVĀTAKA, DESA NATIKA,
DESA HASTI,
DESA PĀLĀKA.
Pada Baris ke 42= sedikit disinggung tentang tarikh pembuatan keputusan yang dituliskan pada Piagam/Prasasti Nalanda, yaitu berdasarkan periode masa jabatan Raja Devapaladeva pada saat memerintah, yaitu di tahun ke-39 di Bulan Kartika pada hari/tanggal ke 21( "...Kārya iti | Samvat 39 Kārttika dinē 21...").
Jika perkiraan naik tahtanya Raja Devapaladeva menurut pendapat R.C. MAJUMDAR (1971) dimulai pada tahun 810 M, maka perkiraan Prasasti Nalanda ditulis (samvat) pada tahun ke 39 masa pemerintahan RAJA DEVAPALADEVA, yaitu jatuh pada sekitaran tahun 849 M, bertepatan di Bulan Kartika (Kārttika)hari (dinē) ke 21.
Menurut perhitungan rekan ANJRAH WIDAYAKA rincian tarikh Prasasti Nalanda adalah:
» Sadwāra = Mawulu (ma).
» Pañcawāra = Kaliwuan (ka).
» Saptawāra = Raditya (ra).
» Naksatra = Aslesha.
» Yoga = Indra.
» Wuku = Watugunung.
Konversi Masehi jatuh pada Hari Minggu (Kliwon), Tanggal 10 Nopember 849 Masehi.
Pada bagian sisi belakang Prasasti Nalanda disinggung sedikit tentang silsilah RAJA BALAPUTRADEVA RAJA SVARNADVIPA , yaitu pada baris ke: 52 = adalah seorang RAJA yang berasal dari YAVA (JAWA)-BHUMI merupakan permata WANGSA SAILENDRA dengan julukan (epiton) VIRA VAIRI MATHANA (Penyiksa termasyur dari para musuh yang pemberani)
["...Śailēndra Vaṁśa tilakō Yava Bhūmipālaḥ Śrī Vira Vairi Mathana... "].
Pada baris ke 56 = dikatakan bahwa SANG RAJA JAWA- BHUMI tersebut memiliki seorang putera yang ketenarannya di medan perang setara dengan Yudisthira, Paracara, Bhimasena, Karna, dan Arjuna, bernama SAMARAGRAWIRA (Samarāgravīraḥ).
Pada baris ke 59 = dikatakan bahwa sebagai seorang raja, SAMARAGRAWIRA memiliki permasuri bernama TARA (Tārā) yang merupakan putri Penguasa Agung bernama DHARMASETU (Śrī Dhaṛmasētōh suta) yang berasal dari SOMA WANGSA (Rājñaḥ Sōma Kulānvayasya).
Pada Baris ke 61 = dikatakan bahwa dari kedua pasangan tersebut lahirlah SRI BALAPUTRA (Śrī Vālaputrō bhavat Nalanda guṇa) yang menjadi keunggulan NALANDA.
𝑷𝒆𝒏𝒖𝒍𝒊𝒔 𝑵𝒂𝒔𝒌𝒂𝒉 :
toniantoniputra
Bali, Maret 2025.
𝑳𝒊𝒕𝒆𝒓𝒂𝒕𝒖𝒓.
*ABDUL MOMIN C𝐻OWDHURY .𝑆𝑒𝑗𝑎𝑟𝑎ℎ 𝐷𝑖𝑛𝑎𝑠𝑡𝑖 𝐵𝑒𝑛𝑔𝑎𝑙, 𝑠𝑒𝑘𝑖𝑡𝑎𝑟 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 750-1200 𝑀" Masyarakat Asia Pakistan, 1967, hal.272-273.
R.C.MAJUMDAR.
𝑆𝑒𝑗𝑎𝑟𝑎ℎ 𝐵𝑒𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙𝑎 𝐾𝑢𝑛𝑜. G.Bharadwaj, 1971, hal. 161-162.
DINESHCHANDRA SIRCAR ."𝐶𝑎𝑡𝑎𝑡𝑎𝑛 𝐼𝑛𝑑𝑜𝑙𝑜𝑔𝑖-𝐾𝑟𝑜𝑛𝑜𝑙𝑜𝑔𝑖 𝑅𝑎𝑗𝑎 𝑃𝑎𝑙𝑎, 𝐾𝑎𝑟𝑦𝑎 𝑅.𝐶.𝑀𝑎𝑗𝑢𝑚𝑑𝑎𝑟". Jurnal Sejarah India Kuno-IX, 1975/1976, hal.209-210.
BINDESHWARI PRASAD SINHA.𝑆𝑒𝑗𝑎𝑟𝑎ℎ 𝐷𝑖𝑛𝑎𝑠𝑡𝑖 𝑀𝑎𝑔𝑎𝑑ℎ𝑎 𝑠𝑒𝑘𝑖𝑡𝑎𝑟 450-1200 𝑀"
Abhinav Publications, 1977, hal.253.
DILIP KUMAR GANGULY. "𝐼𝑛𝑑𝑖𝑎 𝐾𝑢𝑛𝑜, 𝑆𝑒𝑗𝑎𝑟𝑎ℎ 𝑑𝑎𝑛 𝐴𝑟𝑘𝑒𝑜𝑙𝑜𝑔𝑖". Abhinav
Publications, 1994, hal.33-41.
HIRANANDA SHASTRI.
"𝐸𝑝𝑖𝑔𝑟𝑎𝑝ℎ𝑖𝑎 𝐼𝑛𝑑𝑖𝑐𝑎" Vol.XVII, 1923-1924.
Published by The Director General Archaeological Survey of India, Janpath, New Delhi-110011, 1983.
HIRANANDA SHASTRI.
"𝑁𝑎𝑙𝑎𝑛𝑑𝑎 𝑎𝑛𝑑 𝑖𝑡𝑠 𝐸𝑝𝑖𝑔𝑟𝑎𝑝ℎ𝑖𝑐 𝑀𝑎𝑡𝑒𝑟𝑖𝑎𝑙". Memoirs of The Archaeological Survey of India ,No.66 , India Press, Calcutta, 1942.
Muaro Jambi, Universitas Tertua di Indonesia.
Berdasarkan genealogi ”universitas” sebagai kumpulan guru dan siswa ilmuwan, sejak universitas pertama di China dan di Nalanda, India, abad ke-5, diikuti universitas modern di Bologna, Italia, abad ke-11, diperkirakan situs purbakala Muaro Jambi di Sumatera, paling tidak pada awal abad ke-7, juga sudah merupakan kompleks pusat pembelajaran yang ternama. Baru disusul beberapa abad kemudian di Indonesia dengan berdirinya Universitas Gadjah Mada dan universitas lainnya.
Di kompleks yang jaraknya sekitar 40 kilometer dari luar Kota Jambi, di pinggiran Sungai Batanghari, yang terserak dalam 80 manapo (reruntuhan), telah berkembang tradisi sebuah universitas. Berdasarkan catatan dan peninggalan yang ada, diperkirakan Muaro Jambi merupakan pusat pembelajaran sejak abad ke-7 hingga abad ke-11. Dengan demikian, praksis pendidikan di sana bisa dikatakan sebagai universitas tertua di Indonesia.
Situs Muaro Jambi ditemukan pertama kali pada 1820 oleh perwira tentara Inggris, Letnan SC Crooke, diawali laporan MG Coedes pada 1918 dan diikuti oleh Prof Krom, WF Stutterheim, JG de Casparis, dan sederet nama arkeolog besar Belanda lainnya. Sementara nama-nama besar arkeolog Indonesia, seperti Prof Dr Satyawati Sulaiman, Prof Dr Slamet Muljana, Prof Dr R Soekmono, dan Prof Dr RP Soejono, berikut arkeolog-arkeolog muda Indonesia kemudian, memberikan kepastian tentang berkembangnya sebuah tradisi hidup bersama pada masa lalu dengan berbahan batu merah yang dipisahkan satu sama lain oleh kanal-kanal.
Dari bukti tulisan-tulisan dan peninggalan arkeologi yang ada, tampak jelas adanya pengaruh institusi yang serupa, terutama Sanghrama Nalanda, terhadap perkembangan Muaro Jambi sebagai kompleks pusat pembelajaran atau universitas. Kedekatan hubungan antara Sriwijaya dan Nalanda, antara lain, tercatat dalam ”Nalanda Copperplate” (860) yang menyebutkan bahwa Raja Balaputradewa dari Sriwijaya membangun wihara di Nalanda serta diberi oleh penguasa di sana lima desa. Hasil dari ke-5 desa tersebut digunakan untuk pemeliharaan wihara dan membiayai para siswa di sana.
Dimulai dari kedatangan I-Tsing yang pertama pada abad ke-7, proses pembelajaran di sana diperkirakan berlangsung paling tidak selama 400 tahun lebih dengan pulangnya seorang terpelajar dari India, Dipamkara Srijnana, pada tahun 1025 setelah selama 12 tahun belajar di Muaro Jambi.
Menurut temuan tim SUDIMUJA, Sanghrama (Universitas) Mahawihara Nalanda berkembang dari fokus ”belajar untuk bhakti” menjadi ”belajar untuk pengetahuan”. Raja-raja dinasti Gupta yang membangun Nalanda bukanlah buddhis, melainkan penganut Hindu Brahma sehingga sanghrama dikembangkan bukan dari sudut keagamaan, melainkan demi mendorong dan mendukung sistem pembelajaran, pendidikan, dan kebudayaan bagi kepentingan masyarakat.
Hal yang sama diberlakukan dalam praksis pendidikan di Muaro Jambi. Bahasa Sanskerta menjadi bahasa pengantar, seperti ditunjukkan oleh Prasasti Talang Tuo (684) bahwa pada abad ke-7 M, Sriwijaya mengikuti cara pandang Mahayana, dan menurut I-Tsing, beliau pun belajar tata bahasa Sanskerta di Fo-shih.
Biara-biara yang sebelumnya hanya diperuntukkan bagi biarawan berkembang menjadi pusat-pusat belajar umum yang juga terbuka untuk awam.
Berpagar tembok.
Seperti di Nalanda, hampir semua bangunan di Muaro Jambi dikelilingi pagar tembok dengan ketinggian 6 meter, berpetak-petak dengan luas yang berbeda-beda. Tulis I-Tsing, ”Saat itu di Sriwijaya ada ribuan biarawan yang tekun belajar dan beribadah. Mereka tinggal di kawasan yang berpagar tembok.” Hampir semua kelas dan kegiatan dijalankan dalam lingkungan berpagar tembok, di petak-petak halaman terbuka yang dilandasi dengan paving batu bata. Sampai sekarang, reruntuhan fondasi pagar, halaman-halaman, beserta pavingnya masih jelas terlihat.
Berdasarkan catatan Tim SUDIMUJA, ajaran-ajaran dari salah seorang alumnus Muaro Jambi, yang pernah menjadi dasar agama nasional di suatu kerajaan, sampai sekarang pun masih diajarkan dan dipraktikkan di sejumlah negara di dunia.
Ketika situs Muaro Jambi diperjuangkan sebagai salah satu warisan dunia, seperti yang sudah ditetapkan untuk Candi Borobudur dan Candi Prambanan, kedudukan Muaro Jambi sebagai universitas akan menjadi nilai tambah yang sangat berarti. Apalagi, selain I-Tsing, tercatat pula banyak peziarah lain, seperti Wu-Hing, yang pernah belajar beberapa lama di Sriwijaya (Muaro Jambi) sebagai persiapan belajar di Nalanda. Sebaliknya juga banyak biarawan India yang belajar beberapa tahun di Muaro Jambi, kemudian kembali ke India untuk mengajar, seperti Dipamkara Srijnana, Sakyakirti, Vajrabodhi, dan Amogavajra. Sebaliknya, banyak guru dan siswa Muaro Jambi juga belajar di Nalanda.
Dari serangkaian bukunya, antara lain I-Tsing menulis tentang apa yang ia temukan di Fo-shih. ”Saat itu ada ribuan biarawan yang tekun belajar dan beribadah. Mereka tinggal di kawasan yang bertembok… Mereka mempelajari semua mata kuliah seperti yang diajarkan di India… Mereka mempelajari pancavidya: logika, tata bahasa dan kesusastraan, ilmu pengobatan, kesenian, serta metafisika dan filsafat. Tata cara dan upacara pun tidak berbeda… Jika biarawan dari China berkehendak untuk belajar di India, sebaiknya dia tinggal di Sriwijaya selama satu atau dua tahun untuk mempersiapkan dan melatih dirinya tentang cara-cara yang benar.” Tempat yang dimaksud oleh I-Tsing diperkirakan adalah Muaro Jambi.
Situs Muaro Jambi, salah satu situs peninggalan Kerajaan Sriwijaya, selain sudah dikenal sebagai tempat ibadah, juga diprediksi sebagai pusat belajar. Hipotesis ini niscaya menarik bagi para arkeolog, ahli sejarah, dan para ahli dari disiplin ilmu lain karena selain terus digali kekayaan arkeologisnya, juga kemungkinannya sebagai universitas tertua di Indonesia.
Langkah-langkah yang sudah ditempuh, selain pengembangan sarana wisata, penyelenggaraan Waisak tahun 2007 sebagai peringatan pertama Waisak di luar kompleks Candi Borobudur, perlu dilanjutkan. Semakin banyak data yang memperkuat situs Muaro Jambi sebagai universitas, setelah sebagai situs candi terluas di Indonesia, bukankah menantang dibuktikan kebenaran hipotesis tersebut.
Prasasti Nalanda (Kisah Antara Kerajaan Sriwijaya dengan Kerajaan Pala dari India)
Kerajaan Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan termasyhur pada zamannya. Wilayahnya luas dan letaknya yang strategis menjadikan kerajan ini mampu bertahan selama ratusan tahun.
Alkisah, Kerajaan Sriwijaya sedang dipimpin oleh Raja Balaputradewa. Di masa pemerintahannya, Kerajaan Sriwijaya menjalin hubungan baik dengan Kerajaan Pala di India.
Salah satu bentuk hubungan baik tersebut diwujudkan dengan pertukaran pelajar antara Kerajaan Sriwijaya dengan Universtas Nalanda, yang merupakan pusat pendidikan agama Buddha sejak sekitar abad ke-5 Masehi. Tentu saja, Nalanda terletak di Kerajaan Pala.
Pada awalnya, di Nalanda dibangun sebuah mahavihara untuk para pelajar yang sedang mendalami agama Buddha.
Mahavihara tersebut digunakan sebagai pusat studi ilmu filsafat Mahayana. Sedangkan, Mahayana merupakan salah satu aliran Buddha yang berkembang baik di Kerajaan Sriwijaya.
Kemudian, Kerajaan Sriwijaya mulai mengirimkan Pangeran Dharmakirti untuk mempelajari agama Buddha di Nalanda. Setelah selesai, beliau kembali untuk mengajar di Sriwijaya.
Di waktu yang berbeda, Kerajaan Pala mengirimkan Atisa Dipamkara untuk mempelajari Buddhisme di Sriwijaya.
Setelah 12 tahun menetap dan belajar dari Dharmakirti di Sriwijaya, Atisa pulang ke Kerajaan Pala. Ia pun menjadi salah satu guru besar Buddha yang terkemuka.
Dari sini mulai terlihat adanya pertukaran pelajar antara Kerajaan Sriwijaya dengan Kerajaan Pala. Meskipun tidak dalam waktu yang bersamaan, namun proses belajar-mengajar yang terjadi antara 2 murid asing tersebut tidak terlepas dari ilmu yang mereka dapatkan dari masing-masing kerajaan.
Seiring perkembangan waktu, Kerajaan Sriwijaya lantas dikenal sebagai pusat pendidikan agama Buddha di Asia Tenggara.
Hal ini dibuktikan oleh catatan I-Tsing, seorang biksu Tiongkok, yang menyatakan bahwa pada sekitar abad ke-7 Masehi terdapat perguruan tinggi agama Buddha di Sriwijaya, yang memiliki lebih dari 1.000 orang biksu yang berasal dari berbagai wilayah.
Para biksu tersebut menimba ilmu tentang Buddha, serta mempelajari bahasa Sansekerta di Sriwijaya, sebelum akhirnya mendalami Buddhisme di Nalanda.
Masa ini bertepatan dengan pembangunan prasasti Nalanda yang diperkirakan ditulis pada tahun 860 Masehi. Prasasti ini dibangun atas perintah Balaputradewa dan mendapatkan izin dari Dewapaladewa, raja yang memerintah di Kerajaan Pala pada saat itu.
Secara garis besar, Prasasti Nalanda menjelaskan tentang adanya pembangunan mahavihara untuk pelajar dari Kerajaan Sriwijaya yang sedang menuntut ilmu di sana. Selain itu, prasasti ini juga menjelaskan tentang silsilah dari Raja Balaputradewa.
Dalam Prasasti Nalanda disebutkan bahwa Balaputradewa merupakan anak dari Samaragrawira, seorang keturunan Wirawairimathana atau Pembunuh Musuh Perwira. Ibunda Balaputradewa merupakan Putri Tara, anak Dharmasetu, yang berasal dari keluarga Somawangsa.
Prasasti Nalanda juga menyebutkan tentang pembebasan 5 buah desa dari tuntutan pajak oleh Raja Dewapaladewa untuk dapat mebiayai mahasiswa Sriwijaya yang sedang belajar di Nalanda.
Prasasti Nalanda merupakan salah satu bukti yang kuat, bahwa pada masa lampau pernah terjalin hubungan yang baik antara Kerajaan Sriwjaya dengan Kerajaan Pala. Hubungan tersebut terlihat berkembang di bidang pendidikan.
Situs-situs Nalanda :
Imajiner Nuswantoro







