Cerita Paradok Kitab Paramayoga
(Nabi Isa AS. Membunuh Para Dewa Kahyangan)
Kitab/Serat Paramayoga adalah sebuah karya sastra karangan Raden Ngabehi Ranggawarsita. Kitab ini adalah cerita fiktif. Salah satu cerita anehnya adalah pertarungan antara Sang Hyang Wenang melawan Nabi Sulaiman Alaihi Salam. Ada juga pertarungan Bethara Guru (Siwa) melawan Nabi Isa Alaihi Salam. Saya cukup terkejut melihat cerita seperti ini. Bisa-bisanya kisah India-Jawa bertemu dengan kisah Nabi-Nabi Bani Israil. Kisah-kisah ini ada di kitab-kitab Yahudi, Kristen, dan Islam. Mungkin di satu sisi cerita ini dapat dianggap sebagai suatu penistaan. Namun hal ini juga menunjukakan luasnya pengetahuan Raden Ngabehi Ranggawarsita tentang dunia di luar Jawa. Padahal beliau itu hidup di Jawa abad 19. Pada saat itu Orang Jawa sedang dijajah Belanda dan keadaanya serba sulit. Dari manakah beliau mendapatkan inspirasi untuk cerita ini. Pengetahuan beliau ini sesuatu yang tidak biasa apalgi pada zamannya. Sebaiknya cerita ini tidak diyakini apalagi diimani namun hanya segai kekayaan khazanah Jawa saja.
Baiklah penulis akan membedah cerita tersebut mulai dari kisah Nabi Sulaiman AS. melawan Sang Hyang Wenang. Cerita ini pada dasarnya hanyalah pengembangan dari kisah cicin Nabi Sulaiman dan Sakhr Al Marid. Sakhr Al Marid biasa disebut sebagai asmudai/asmodeus dalam cerita Yahudi dan Kristen. Cerita Shakr Al Marid itu sendiri bukan dari Al Qur’an namun dari tafsir yang bersumber dari kisah Israiliyat. Ayat yang ditafsirkan adalah ayat Surat Shad ayat 34. Yang mana ayat itu menceritakan adanya suatu jasad yang didudukan di atas singasana Nabi Sulaiman Alaihi Salam. Tafsir “normal” mengatakan bahwa jasad itu adalah jasad Nabi Sulaiman Alaihi Salam sendiri. Yaitu Nabi Sulaiman Alaihi Salam diuji dengan sakit dan tergeletak di atas singgasananya sepeti jasad. Ayat itu bisa dikaitkan dengan wafatnya Nabi Sulaiman Alaihi Salam di atas singgasananya. Para jin tidak mengetahui wafatnya beliau sampai di Surat Saba Ayat 14. Tetapi normalnya ayat 34 dikaitkan dengan ayat 35. Ayat ini menunjukkan Nabi Sulaiman Alaihi Salam masih hidup. Dan dia bertobat setelah cobaan di ayat 34 tersebut.
Jadi normalnya beliau ditafsirkan sakit sampai seperti jasad dan bertobat. Namun ada bagian ayat 35 yang membuat ayat-ayat ini dapat ditafsirkan secara “tidak biasa”. Dalam ayat 35 selain bertobat, Nabi Sulaiman Alaihi Salam juga berdoa. Beliau memohon agar dianugerahi kerajaan. Kerajaan itu tidak akan dimiliki siapapun setelah dirinya. Nah ayat ini sebenarnya bermakna agar tidak seorang pun yang dianugerahi kerajaan seperti beliau. Maksudnya apa? , maksudnya adalah agar tidak seorangpun dianugerahi kerajaan yang dapat memerintah jin dan binatang disamping memerintah manusia. Karena beliau mengucapkan doa itu ketika beliau sudah memiliki kerajaan. Beliau bukan sedang berdoa meminta kerajaan namun berdoa agar kerajaan beliau tidak dapat diwariskan kepada siapapun. Ingat pada ayat sebelumnya beliau sudah punya singgasana.
Menurut Syaikh Imran Hussein, beliau berdoa seperti itu agar kekuasannya atas jin tidak disalahgunakan. Beliau sadar bahwa kekuatan dapat mengendalikan jin bisa berdampak sangat buruk di tangan orang yang salah. Rata-rata orang itu jahat ketika menjadi penguasa. Dalam hal ini beliau termasuk pengecualian karena beliau adalah seorang nabi. Dan memang kenyataanya kerajaan Bani Israil yang didirikan oleh Nabi Daud Alaihi Salam itupun hancur. Kerajaan itu runtuh karena ketidak beresan para pewaris Nabi Sulaiman, seperti Rahbam/Rehabeam. Bisa dibayangkan seperti apa dampaknya jika Rahbam/Rehabeam memiliki kemampuan untuk mengendalikan jin dan binatang padahal ia bukan orang yang baik.
Tafsir “tidak biasa” yang saya sebut di atas juga diyakini oleh Syaikh Imran Hussein. Yaitu jasad pada ayat 34 bukanlah jasad Nabi Sulaiman Alaihi Salam sendiri. Syaikh Imran Hussein meyakini bahwa Nabi Sulaiman Alaihi Salam bermimpi bahwa Dajjal menginginkan singasaan beliau. Menurut Syaikh Imran Hussein jasad di dalam ayat itu adalah Dajjal. Allah menyebutnya sebagai jasad dan tidak menyebutnya sebagai Dajjal karena Allah tidak sudi menyebut Dajjal di dalam Al Qur’an. Karena itulah beliau Alaihi Salam berdoa agar tidak ada seorang pun bisa mendapatkan kerajaan seperti miliknya. Dengan maksud agar Dajjal tidak dapat menduduki singasananya. Oleh karena itulah kerajaan beliapun dihancurkan oleh Allah. Karena lebih baik kerajaan tesebut hancur daripada dikuasai oleh Dajjal.
Sedangkan tafsir Israiliyat tentang Sakhr Al Marid juga mengatakan bahwa jasad itu bukanlah jasad Nabi Sulaiman Alaihi Salam sendiri. Namun Sakhr Al Marid yang sempat mengkudeta Nabi Sulaiman Alaihi Salam. Tafsir Israiliyat ini berbeda dengan Syaikh Imran Hussein. Menurut mereka, kejadian jasad itu bukan di masa depan. Kejadian itu terjadi di masa Nabi Sulaiman Alaihi Salam. Yaitu ketika jin Sakhr Al Marid menyamar sebagai Nabi Sulaiman Alaihi Salam dan mencuri cincinnya. Dalam versi ini Nabi Sulaiman Alaihi Salam membutuhkan sebuah cincin pemberian Allah untuk dapat mengendalikan jin. Kisah soal cincin untuk mengendalkan jin dan Sakhr Al Marid ini tidak ada di dalam Al Qur’an. Kisah ini adalah kisah Israiliyat Orang Yahudi dan Nasrani yang disebut “Ars Goetia” atau “Key of Solomon”.
Dalam kisah ini Nabi Sulaiman AS. dikudeta Sakhr Al Marid dengan cara mencuri cincinnya. Dalam versi ini Sakhr Al Marid lah sesosok jasad yang duduk di singgasana Nabi Sulaman Alaihi Salam. Ia disebut sebagai sesosok jasad karena sebenarnya ia adalah jin. Jin tidak memiliki raga seperti manusia, ia melakukan itu dengan meniru jasad Nabi Sulaiman Alaihi Salam. Karena kapok terkena kejadian kerajaannya sempat diambil alih jin, Nabi Sulaiman Alaihi Salam berdoa. Ia meminta agar kerajaannya tidak dapat diwarisi siapapun. Syaikh Imran Hussein meyakini bahwa Dajjal itu sebenarnya bukan manusia. Begitu pula, seorang tokoh Syi’ah yang mengaku sebagai Imam Mahdi berpendapat demikian. Mereka percaya bahwa Dajjal adalah perwujudan jin atau berbagai jin. Bedanya adalah untuk sang tokoh Syi’ah pengaku Mahdi, Dajjal adalah Sakhr Al Marid yang akan kembali di akhir zaman. Sosok Shakr Al Marid ini dianggap identik dengan Asmudai/Asmodeus dalam cerita Yahudi dan Kristen.
Adapun Shakar Al Marid sendiri juga tidak ada di dalam Al Qur’an. Yang ada di dalam Al Qur’an adalah kata” Syaitanim Marid” (setan yang durhaka) pada Surat As-Saffat Ayat 7. Kata itu tidak merujuk pada sosok jin atau setan tertentu namun merupakan istilah umum untuk setan yang durhaka. Yaitu setan-setan yang terbang ke langit untuk menguping pembicaraan malaikat. Sakhr Al Marid memang diceritakan sebagai salah satu jin yang suka menguping pembicaraan malaikat untuk mencuri ilmu. Bisa jadi istilah Jin Marid pada cerita tersebut merujuk pada jin yang bisa terbang ke langit. Dikisahkan ia dijebak dengan minuman keras agar dapat ditangkap ke hadapan Nabi Sulaiman Alaihi Salam. Sehingga dia disebut “Sakhr al Marid”, artinya jin Marid yang mabuk. Meskipun demikian sosoknya tidak terdapat dalam sumber-sumber primer Islam, yaitu Al Qur’an dan Hadis. Saya juga tidak mengerti mengapa ada yang mengidentikkannya dengan asmodeus/asmudai dalam khazanah Yahudi dan Kristen.
Nah cerita Sang Hyang Wenang melawan Nabi Sulaiman AS. hanya sedikit menambahi kisah itu. Sakhr Al Marid tidak bertindak sendiri namun diperintah oleh Sang Hyang Wenang. Sang Hyang Wenang dalam mitologi Jawa adalah manusia setengah jin keturunan Nabi Syis Alaihi Salam. Ia bertapa dengan tekun hingga menjadi sakti lalu dipuja oleh para jin sebagai dewa. Kalau benar seperti itu mungkin karena ia punya “Ismu Adzom”. Ia tinggal di Khayangan Alang-Alang Kumitir di Pulau Dewa yang sekarang Maladewa. Nama Sang Hyang Wenang sendiri menyerupai nama Tuhan, nama itu dekat artinya dengan “Yang Maha Kuasa”. Sang Hyang Wenang artinya “Dia yang berwenang”, wenang itu kuasa. Mungkin jika benar sepeti itu Ismu Adzom yang dia punya berkaitan dengan kekuasaan. Bisa dikatakan Sang Hyang Wenang ini juga ada kemiripan dengan Dajjal. Karena ia disembah para jin dan berani mengambil nama yang menyerupai sifat Tuhan. Hanya saja ia berdarah jin dari ibunya sementara Dajjal dalam buku Muhammad Isa Daud adalah anak Iblis dengan manusia.
Dalam cerita ini Sakhr Al Marid diperintahkan untuk menghukum Sang Hyang Wenang. Namun ia kalah dan malah dibujuk oleh Sang Hyang Wenang untuk mencuri cincin Nabi Sulaiman Alaihi Salam. Jadi di versi Paramayoga ini Sakhr Al Marid tidak bergerak sendiri namun diperintah dan merupakan bawahan Sang Hyang Wenang. Perbedaan selanjutnya adalah di tafsir Sakhr Al Marid melarikan diri ke suatu pulau. Akhirnya ia bisa ditangkap dan dikurung di lubang keramik yang ditutup tembaga. Namun di Paramayoga tidak cukup dengan menangkap Sakhr Al Marid. Nabi Sulaiman Alaihi Salam juga meledakkan pulau tempat tinggal Sang Hyang Wenang dan Sakhr Al Marid. Pulau itu di Kitab Paramayoga sebagai Pulau Dewa, dan pulau itu meledak menjadi pulau-pulau kecil. Tempat tersebut sekarang adalah Negara Maladewa. Cerita ini jelas tidak ada di dalam Islam, Yahudi, maupun Kristen. Sedangkan Sang Hyang Wenang sendiri bersembunyi di laut sampai Nabi Sulaiman Alaihi Salam wafat.
BACA JUGA :
.
Ada bagian lain dari cerita tersebut yang tidak ada di cerita versi Israiliyat versi asli. Yaitu soal bagaimana Nabi Sulaiman Alaihi Salam mendapatkan cincinnya kembali. Di versi asli Nabi Sulaiman Alaihi Salam dengan qadarullah mendapatkan kembali cincinnya di dalam perut seekor ikan. Tanpa diketahui bagaimanakah cincin itu bisa terlepas dari Sakhr Al Marid dan berada di dalam perut ikan tersebut. Hal itu ada penjelasannya di dalam cerita Jawa, meskipun asal penjelasan ini diragukan. Dalam cerita Jawa setelah 40 hari menimbulkan kekacauan ada jin-jin yang menyadari ketidakberesan sosok yang dianggap rajanya. Sakhr Al Marid pun ingat pada Sang Hyang Wenang dan pergi ke Pulau Dewa. Di tengah jalan saat sedang melintasi laut ia diserang oleh jin-jin lain yang juga ingin mendapatkan kekuatan cincin tersebut. Sehingga cincin tersebut jatuh ke dalam laut dan dimakan ikan.
Jika kita amati kisah di atas hanya menambahi aktor tambahan dari kisah dicurinya cicin Nabi Sulaiman Alaihi Salam. Sedangkan kisah dicurinya cicin Nabi Sulaiman Alaihi Salam tersebut mungkin masuk ke Jawa lewat daerah Melayu/Malaysia dan Sumatera sekarang. Kisah cincin Nabi Sulaiman Alaihi Salam yang dicuri tersebut selain ada di tafsir Israiliyat juga dikenal dalam khazanah kesusastraan Melayu. Selain cerita tersebut kisah Amir Hamzah versi Persia atau menak juga diketahui masuk ke Jawa lewat alam Melayu. Saya sudah dapat memastikan Raden Ngabehi Ranggawarsita mendapatkan cerita itu dari sana lalu sedikit menambahinya. Yang menjadi perhatian saya selain asal kisah ini adalah soal Pulau Dewa yang dihancurkan oleh Nabi Sulaiman Alaihi Salam. Yang mana pulau itu hancur menjadi pulau-pulau kecil yang sekarang ini negara Maladewa. Kisah ini jika dilihat dari lokasinya cocok dengan kisah Lemuria. Lemuria adalah benua kuno di selatan India dan Sri Lanka yang sudah tenggelam. Kisahnya agak mirip Atlantis namun terjadi di Samudera Hindia. Saya bertanya-tanya apakah ini hanya suatu kebetulan ataukah Raden Ngabehi Ranggawarsita memang mengetahui “sesuatu”. Sebab kisah Lemuria baru muncul di buku-buku modern. Sedangkan Raden Ngabehi Ranggawarsita dikenal sebagai orang yang memiliki karamah. Salah satu karamahnya yang terkenal adalah beliau mengetahui kapan beliau akan meninggal. Apakah kisah ini juga mengkonfirmasi bahwa Lemuria itu pernah ada, dan hancur karena melawan Nabi Sulaiman Alaihi Salam.
Bagian selanjutnya adalah Nabi Isa Alaihi Salam hendak menyirnakan para dewa. Kisah ini dilanjutkan dengan Sang Hyang Wenang yang pindah ke Himalaya. Di sana ia mendirikan khayangan Tengguru di atas salah satu puncaknya yaitu Gunung Tengguru. Masa pun telah berlalu dan kini Khayangan itu dipimpin oleh Bethara Guru. Bethara Guru di Jawa itu mirip dengan Siwa di India. Bethara Guru berencana menyerang Bani Israil untuk membalaskan dendam hancurnya Pulau Dewa di tangan Nabi Sulaiman Alaihi Salam. Sementara itu di Bani Israil sudah masuk ke masa Nabi Isa Alaihi Salam dan sudah dijajah oleh Rum/Romawi. Kitab ini juga menyebutkan bahwa Nabi Isa Alaihi Salam perna pergi ke India saat berusia 18 tahun. Dikisahkan beliau juga belajar di India, termasuk belajar cara bersemadi. Sebagian besar para dewa kecuali Bethara Wisnu setuju dengan ide Bathara Guru untuk menyerang Bani Israil. Mereka ingin membalas dendam sekaligus memaksakan agama para dewa kepada Bani Israil. Mereka tidak takut pda kerajaan Romawi dan akan menyerang Kerajaan Romawi setelah mengalahkan Bani Israil. Bethara Guru tidak setuju pada rencana terssebut karena ia diam-diam sudah pindah/beriman pada agama Bani Israil. Ia percaya pada Agama Bani Israil karena sering berhubungan diam-diam dengan pendeta Bani Israil yang bernama Utsman Aji. Bethara Guru mengirimkan Bethara Sambu untuk memimpin para tentara dewa menyerang Bani Israil dan tentara pendudukan Romawi di Palestina. Para dewa berhasil mengobrak-abrik Bani Israil dan tentara pendudukan Romawi di Palestina.
Para murid Nabi Isa Alaihi Salam meminta kepada beliau untuk memberikan pelajaran kepada para dewa. Nabi Isa Alaihi Salam memang menginginkan itu namun beliau belum mendapatkan wahyu untuk melakukannya. Karena sebagai nabi beliau harus bertindak berdasarkan wahyu. Beliau pun berdoa dan mendapatkan izin untuk memberikan pelajaran para dewa. Beliau pun mengambil segenggam tanah liat lalu diubahnya menjadi seekor burung dara. Burung dara itu terbang dengan gesir sehingga sulit ditangkap dan paruhnya menyemburkan bisa panas yang dapat melukai kulit para dewa. Keadaan pun berbalik Bethara Sambu memerintahkan para dewa untuk kembali ke Gunung Tengguru di Himalaya. Burung itu pun mengejar sampai ke sana dan membuat Khayangan Tengguru meleleh. Kini Bethara Guru menyadari kesalahannya. Ia memerintahkan para dewa dan bidadari untuk mengungsi. Mereka pun masuk ke dalam dua buah balai-balai yang dibawa terbang ke timur oleh Dewa Bayu. Mereka terbang ke Nusantara yang pada waktu itu pulau Sumatera, Jawa, dan Bali masih satu pulau. Burung itu masih mengejar mereka hanya Bethara Guru yang diganggu burung itu. Karena itulah ia dituduh sudah berkhianat, Bethara Wisnu mengakui kalau ia pernah bertukar ilmu dengan pendeta Usman Aji.
Sebagai bantahan atas tuduhan itu Bethara Wisnu kemudian meminta maaf menyerang burung itu dengan senjata Cakrasudarsana. Ia berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa sehingga burung itu tidak dapat menghindar. Burung itu pun hancur namun percikan apinya jatuh di kerajaan siluman hewan berbisa di kaki Gunung Marapi. Banyak siluman yang tewas. Raja Siluman di sana, Danghyang Calakuta pun marah karena tahu rakyatnya tewas karena pertarungan para dewa di atas kerajaannya. Ia pun membalas dendam dengan meracuni danau di dekat Gunung Marapi. Ia melakukannya ketika para dewa dan bidadari yang kehausan minum di sana setelah dikejar burung yang tadi. Mereka pun keracunan, Bathara Winsu lalu menghisap seluruh racun di situ sehingga lehernya menjadi biru. Calakuta pun ketahuan dan minta maaf, ia kemudian menjadi penunjuk jalan. Akhirnya para dewa itu pindah ke Jawa Timur. Di sana mereka membangun Khayangan Argadmilah.
Sekarang saatnya kita bedah tiga paragraf kisah Nabi Isa Alaihi Salam melawan para dewa Hindu ini. Kalau dipandang dari pandangan Hindu mungkin cerita ini dianggap sebagai penistaan. Karena para dewa-dewi Hindu kalah melawan Nabi Sulaiman dan Nabi Isa Alaihi Salam. Cerita seperti ini sangat mungkin dibuat oleh Orang Jawa Islam untuk memperlemah para dewa Hindu di Ramayana dan Mahabharata. Seperti yang kita ketahui meskipun sudah Islam Orang Jawa masih suka wayang. Bahkan dulu para wali menyebarkan Islam lewat wayang. Mungkin lewat pertunjukan wayang itulah Orang Jawa disadarkan akan kelemahan para dewa. Ya mungkin para pengarang kisah wayang Islam ini agak kelewetan karena mengarang cerita baru. Namun di cerita asli pun para dewa itu sudah punya kelemahan. Dan menurut Islam betapa saktinya para dewa bagaimanapun itu tidak menjadikan mereka layak disembah sebagai perantara kepada Tuhan. Karena para dewa pun juga makhluk ciptaan Tuhan. Jadi dalam cerita tadi, Dewa Wisnu berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Dia memohon agar burung buatan Nbai Isa Alaihi Salam dijatuhkan. Itu bukan penistaan kepada Nabi Isa Alaihi Salam karena Dewa Wisnu sebenarnya mengimani ajarannya. Sedangkan Dewa Wisnu yang beriman kepada Nabi Isa Alaihi Salam juga dapat dipandang sebagai penistaan kepada Hindu. Dalam cerita tersebut juga ada sedikit perbedaan dengan cerita wayang dan Hindu yang biasanya. Biasanya yang lehernya biru itu Siwa bukan Wisnu. Kalau Wisnu seluruh badannya memang berwarna biru. Dalam cerita tersebut Cakra Sudarsana juga baru dibuat, padahal di cerita Hindu senjata itu sudah ada sejak dulu. Silsilah para dewa juga berbeda, di versi Jawa Wisnu itu anak Siwa padahal di India setara.
Sekarang kita cek cerita Nabi Isa Alaihi Salam. Sama seperti kisah Nabi Sulaiman Alaihi Salam, kisah ini adalah buatan Ronggowarsito. Namun kita akan cek apakah kisah ini mungkin terjadi atau tidak. Jika kisah ini “mengisi” bagian yang tidak ada di kitab berarti bisa saja terjadi. Sedangkan jika tumpang tindih atau bertentangan dengan kejadian yang sudah ada di kitab maka jelas batil. Kisah Nabi Isa Alaihi Salam di dalam Al Qur’an memang sangat sedikit. Yaitu hanya seputar masa kehamilan Maryam. Juga, kelahiran dan mukjizat-mukjizat beliau. Ada pernyataan bahwa beliau tidak disalib. Beliau dirahmati pada hari lahir, wafat, dibangkitkan, dan pada hari diangkat ke langit. Serta, ada ayat tentang besok beliau akan ditanya Allah di hari kiamat. Mukjizat-mukjizat beliau yang ada di Al Qur’an adalah berbicara saat bayi. Beliau diperkuat dengan Ruhul Qudus. Beliau mendapatkan Kitab Injil. Beliau menciptakan burung dari tanah liat. Beliau menyembuhkan penderita kusta. Beliau menyembuhkan orang yang buta sejak lahir. Beliau menghidupkan orang mati. Beliau menurunkan makan dari langit. Beliau diselamatkan saat akan disalib.
Sedangkan di dalam Kitab Injil yang diyakini Umat Nasrani agak berbeda. Umat Nasrani meyakini empat injil sebagai asli. Injil yang diyakini asli oleh Umat Nasrani adalah Injil Matius, Injil Markus, Injil Yohanes, dan Injil Lukas. Sedangkan Injil yang diyakini sebagai Injil palsu/apokrifa di Kristen itu lebih banyak. Di antaranya adalah Injil Thomas, injil Barnabas, Injil Yudas, dan Injil Maria Magdalena. Soal mengapa ada yang dianggap asli dan palsu oleh otoritas gereja kita tidak bisa banyak berkomentar. Namun sebagai Umat Islam kita memiliki kadiah dalam menilai cerita Israiliyat baik dari Yahudi maupun Nasrani. jika sama dengan Al Qur’an diterima dan tidak boleh ditolak. Jika berbeda atau berlawanan harus ditolak dan tidak boleh diterima. Sedangkan jika tidak dibahas di dalam Al Qur’an dibiarkan saja. Kisah Nabi Isa Alaihi Salam menciptakan burung dari tanah liat ada di Al Qur’an. Kisah ini juga ada di injil Thomas yang tidak diakui otoritas gereja. Al Qur’an tidak menyebutkan kapan, di mana, dan bagaimanakah beliau menciptakan burung dari tanah liat itu. Sedangkan Injil Thomas menyebutnya ketika beliau berusia lima tahun. Tidak ada keterangan burung itu dibuat untuk melawan para Dewa dan Dewi India. Mungkin hal ini bsia dicocokkan dengan kisah-kisah Injil tentang pertarungan Nabi Isa Alaihi Salam melawan setan. Karena para dewa-dewi itu biasanya dianggap setan dalam “Agama Abrahamik”. Namun saya tidak memiliki kemampuan untuk itu. Jika ternyata tidak ada yang beraarti murni karangan Raden Ngabehi Ranggawarsita.
Telaahan kita beliau selesai, ada bagian lain yang perlu diteliti. Yaitu soal kisah Nabi Isa Alaihi Salam pergi ke India. Baik Al Qur’an maupun Injil sama-sama tidak memiliki keterangan tentang masa anak-anak akhir sampai remaja Nabi Isa Alaihi Salam. Kisah yang ada hanyalah seputaran beliau lahir dan saat bayi serta ketika beliau sudah dewasa. Cerita ketika beliau remaja atau beranjak dewasa tidak ada. Ketidakadaan keterangan baik di Al Qur’an maupun Injil soal masa remaja beliau inilah yang menimbulkan banyak teori dan pertanyaan. Ada beberapa teori yang menduga bahwa beliau pernah pergi ke India kuno. Tepatnya ke bagian India kuno yang sekarang ini menjadi Pakistan. Teori ini muncul dari kalangan Orang Barat maupun Orang India-Pakistan. Orang Pakistan ada yang meyakini hal ini sebagai kebanggaan negaranya. Orang Pakistan Ahmadiyah lebih ekstrim lagi. Mereka malah meyakini Nabi Isa Alaihi Salam setelah nyaris mati disalib hijrah ke Pakistan dan wafat di sana. Mereka juga meyakini Siti Maryam wafat di Pakistan. Orang India Hindu, serta Budha, dan beberapa Orang Barat mengatakan Nabi Isa Alaihi Salam belajar Ajaran Dharma di sana. Mereka ini mengatakan ajaran Kitab Injil ada yang mirip ajaran Dharma.
Teori-teori di atas dapat anda temukan di google dengan kata kunci pencarian Nabi Isa Alaihi Salam/Yesus di India. Pencarian anda akan dapat menemukan lebih banyak bacaan jika menggunakan Bahasa Inggris. Mungkin Raden Ngabehi Ranggawarsita pernah mendengar kisah seperti itu. Beliau menceritakan Nabi Isa Alaihi Salam pernah berdagang dan belajar semedi di sana. Namun beliau tidak mengikuti ajaran penyembahan Dewa-Dewi Hindu di India. Beliau tetap mengikuti ajaran tauhid. Hal itu disimbolkan atau digambarkan dengan pertarungannya melawan Bethara Guru. Nah saya menemukan suatau fakta yang cukup mengejutkan. Ternyata Kitab Paramayoga ini lebih tua daripada tulisan Nicholas Notovich ada 1887. Nicholas Notovich adalah sumber Eropa pertama yang memunculkan kisah Nabi Isa Alaihi Salam pernah ke India. Raden Ngabehi Ranggawarsita sudah meninggal pada 1873. Yang artinya Kitab Paramayoga tentu sudah ditulis jauh sebelumnya. Mungkin beliau mengetahui hal itu dari pasukan Sepoy India yang dibawa Raffles.
Nah lantas bagaimana jika misalnya pertarungan itu bukan dimaksudkan sebagai simbol?. Kita perlu memeriksanya dengan lebih seksama. Pertarungan Nabi Isa dan para dewa ini adalah pertarungan gaib. Alias tidak ada saksinya terutama di bagian burung daranya terbang ke Himalaya dan mengejar para dewa sampai Nusantara. Namun naskah menyebutkan bahwa para Dewa Hindu tadi juga berperang melawan pasukan Romawi. Yang artinya telah terjadi bentrokan fisik selain perang spiritual. Bagiamanakah hal ini bisa dipertanggung jawabkan?, hal itu harus dibuktikan. Jika perang itu dapat dibuktikan ada, maka perang dalam kitab ini dapat dipahami sebagai perang spiritual. Perang spiritual yang tidak terlihat dalam sebuah perang fisik. Jadi ada perang fisik yang terjadi di alam nyata. Perang fisik itu juga didukung oleh kekuatan spiritual yang tidak kasat masa. Dan Nabi Isa Alaihi Salam telah membantu Bani Israil dan Romawi memenangkan perang fisik itu dengan memenangkan perang spiritual.
Setelah saya membaca beberapa blog soal wayang ada versi yang menyebutkan bahwa kekuasaan Dewa Hindu ini sampai ke Persia. Berarti perang ini terjadi saat Romawi di Palestina berperang dengan Persia. Ketika saya mencari soal Perang Romawi melawan Persia saya menemukan bahwa ada satu Perang Romawi-Persia yang mungkin. Yaitu perang Romawi melawan Persia di bawah Dinasti Parthia. Perang tersebut adalah Perang antara Romawi di bawah Pompey melawan Parthia. Parthia yang menguasai Persia di masa itu menganut Zoroaster/Majusi yang bersumber kepada Kitab Avesta. Ada yang menduga Zoroaster samapi masa Cyrus Agung/Kursuh/Koresh masih bertauhid, namun setelah itu menyimpang. Zoroaster sudah menyimpang di masa Parthia karena sudah mengenal dewa-dewi. Persia pada dasarnya memiliki akar yang sama dengan India yaitu Arya. Bangsa Arya dari Asia Tengah ada yang masuk ke India bercampur dengan Bangsa Dravida menjadi Bangsa India. Ada yang masuk ke Iran bercampur dengan Bangsa Elam menjadi Persia. Dan ada juga yang mendirikan kerajaan Hitti, Luwian, dan Mintanni di Anatolia dan Suriah Utara. Karena akar yang sama itulah Zoroaster dan Hindu memiliki cukup banya kemiripan. Jadi sangat mungkin apabila para dewa Himalaya memihak Parthia dalam perang Romawi Persia.
Dan ketika saya lihat di laman wikipedia Soal Perang Romawi-Persia. Yang mana laman itu mencakup periode yang lebih luas. Terdapat keterangan bahwa klien atau bawahan Romawi yang turut terlibat mencakup tiga tokoh Bani Israil. Mereka adalah John Hycarnus atau Hycarnus II, Pangeran Phasael, dan Herod yang Agung. Hycarnus II dan Phasael berasal dari Dinasti Hasmonea yang dulu melawan Selekuid sedangkan Herod adalah pendiri dinasti baru. Dalam perang itu Romawi dan Parthia memperebutkan Palestina yang saat itu bernama Judea. Dengan cara saling mendukung Raja Bani Israil yang loyal pada mereka. Sampai akhirnya perang itu memenangkan Herod yang didukung oleh Romawi. Namun perang itu terjadi pada tahun 40-38 sebelum masehi. Ini terlalu awal dari zaman yang diperkirakan sebagai masa hidup Nabi Isa Alaihi Salam. Perang yang sezaman dengan Nabi Isa Alaihi Salam malah terjadi di Armenia.
Apakah hal itu berarti Ngabehi Ranggawarsita salah? Belum tentu, karena masa hidup Nabi Isa Alaihi Salam masih diperdebatkan. Ada versi non-mainstream yang menyatakan beliau hidup lebih awal atau lebih akhir daripada yang dipekirakan secara umum. Pendapat yang tidak mengikuti arus utama ini muncul karena ada kemungkinan itu. Sebabnya adalah adanya lubang narasi pada kisah Nabi Isa Alaihi Salam. Yaitu tidak lengkapnya kisah beliau di dalam Injil. Jadi para sejarawan barat sebenarnya tidak tahu kapan pastinya beliau hidup. Mereka memang mempunyai perkiraan yang cukup akurat dengan cara mencocokkan fakta-fakta di dalam Injil dengan sejarah Romawi. Injil memberikan petunjuk mengenai zaman raja dan gubernur Romawi. Peristiwa apa sajakah yang terjadi ketika beliau hidup juga dicatat. Namun tidak memberikan tahun pastinya, sehingga tahunnya inilah yang bisa tidak pasti. Teori-teori yang lebih tidak mainstream malah ada yang mengabaikan sebagian fakta di Injil karena menganggapnya sebagai buatan orang. Teori itu malah menetapkan masa hidup beliau jauh lebih awal. Itu pun kalau memakai Injil. Karena di Al Qur’an isi Injil itu banyak yang tidak terkonfirmasi maka kita bisa lebih terbuka terhadap kemungkinan tesebut.

