Ngelmu Titen
ꦔꦼꦭ꧀ꦩꦸꦠꦶꦠꦺꦤ꧀
Ngelmu artinya ilmu, titen artinya cermat dalam menandai dan membaca makna di balik suatu peristiwa alam, apalagi niteni ngelmu Pulung Ratu Kepemimpinan (Dampar Kencana) = aksara Jawa : ꦥꦸꦭꦸꦁꦫꦠꦸꦏꦼꦥꦼꦩꦶꦩ꧀ꦥꦶꦤꦤ꧀(ꦣꦩ꧀ꦥꦂꦏꦼꦚ꧀ꦕꦤ). Ngelmu Titen adalah keahlian dalam melihat hubungan antara suatu peristiwa dengan peristiwa lainnya dengan berbasis tradisi.
BACA JUGA :
SATRIO BOYONG PAMBUKANING GAPURO
Wahyu Makutharama
.
Ngelmu Titen merupakan kearifan lokal yang dapat dipelajari secara tradisional dan turun temurun dari nenek moyang bangsa kita.
Ngelmu titen adalah sebuah kajian ilmu yang paling populer di tanah Jawa. Bahkan pada kerajaan-kerajaan terdahulu, seperti kerajaan mataram dan Joyoboyo, ilmu titen sangat berperan penting pada keseharian mereka. Seiring berjalannya waktu, pengetahuan dan kepercayaan masyarakat tentang ilmu titen mulai berkurang, tak jarang masyarakat menganggap ilmu titen sebagai ramalan, malah sebagaian besar dari mereka menganggapnya sebagai mitos belaka.
Titen dalam bahasa Jawa artinya niteni, mengingat, menganalisa, mengobservasi. Dalam beberapa contoh sederhana pada jaman dahulu warga sekitar lereng gunung berapi mengenali tanda alam selain gempa (lindu) yang dijadikan sebagai “pitenger” atau tanda alam akan meletusnya gunung tersebut, yaitu dengan pengamatan bahwa hewan–hewan yang tinggal di gunung mulai turun ke lereng atau perkampungan warga.
Kata titen berasal dari bahasa jawa, dimana arti terdekatnya cermat. Niteni = mencermati. Walaupun sinonim kata ini mungkin kurang tepat. Titen dapat digambarkan sebagai kemampuan seseorang dalam memilih suatu benda setelah sebelumnya memahami ciri-ciri benda yang dimaksud. Seperti seorang bayi atau balita yang mampu membedakan mana ibu dan bapaknya. Berikut ini diuraikan beberapa contoh :
- Mungkin sejak jaman Yunani, ketika manusia mulai mengamati peredaran tata surya, yang ternyata memang benar-benar tertata menurut edarannya. Sehingga mereka mampu menghitung dan memperkirakan kejadian yang akan dating, seperti kapan bulan purnama, dll.
- Bangsa kita juga mengenal Kitab Betal Jemur, yang berisi kaitan antara kelahiran dan watak serta langkah apa yang perlu dilakukan dalam kehidupan. Bisa jadi betal jemur itu hasil pengamatan ratusan tahun oleh masyarakat tentang ilmu perwatakan.
- Selain itu bangsa kita juga punya ilmu Pranata Mangsa (tata aturan musim) yang mengatur pola tanam di bidang pertanian yang berdasarkan pada tanda-tanda alam. Apabila terdengar bunyi hewan tertentu, itu tandanya masuk musim hujan atau musim kemarau, dll.
- Saat pulang sekolah tiba, kebanyakan orangtua menjemput anaknya. Si anak tersebut harus mampu membedakan dimana orangtuanya diantara kerumunan orangtua yang lain. Mungkin saja ada ciri khusus, seperti pakaian, perawakan, kendaraan dan mungkin lokasi pertemuan yang sering mereka lakukan.
- Seorang geolog mampu membedakan jenis batuan beku, sedimen atau metamorf mungkin tanpa harus memegangnya. Memang untuk memastikan biasanya memerlukan sampel batuan dengan menggunakan palu geologi. Tetapi bisa saja sang geolog tersebut hanya melihat batuan dari kejauhan karena dia sedang naik kendaraan.
- Seorang pedolog (ahli ilmu tanah) mampu mengetahui jenis tanah dari hamparan lahan di depannya. Bahkan dengan hanya melihat warna tanah dan mencelupkan jadi ke tanah lalu menjilatnya, dia akan dapat memperkirakan kondisi kesuburannya.
- Seorang dokter kadang mampu menebak dengan tepat penyakit pasiennya tanpa menyentuh. Dengan melihat rona wajah pasien dan menanyai keluhannya, dokter tersebut langsung dapat menduga jenis penyakit apa yang kemungkinan besar diderita.
- Seorang yang mendalami ilmu batin (olah rasa) akan mampu menebak watak orang yang ditemui tanpa harus mengajak bicara atau cerita dari orang lain. Bahkan dari melihat foto, bentuk tulisan (tangan, SMS, dll), dan suara.
- Seorang ahli akupuntur, dengan memegang dan menekan urat nadi tangan si pasien, akan tahu pasien itu sakit apa di bagian dalam organ tubuhnya, dan sekaligus tahu bagaimana cara mengobatinya.
Ternyata, jika manusia mau menggunakan dan memadukan antara logika (pikiran) dan perasaan (hati) untuk memperdalam ilmunya, serta berlandaskan ikhlas dan sabar, maka di saat itulah Allah memberikan kelebihannya dibandingkan manusia lain.
BACA JUGA :
TAKDIR DAN NASIB MANUSIA
.
Derajat Seseorang Menurut Ilmu Titen Jawa :
1. Ujian Menunggu (Ngenteni)
- Menunggu adalah salah satu ujian terbesar yang dihadapi manusia.
- Proses penantian sering kali dirasakan sebagai sesuatu yang melelahkan dan menjenuhkan.
- Kesabaran, keteguhan, dan kepercayaan bahwa penantian tersebut akan berbuah manis menjadi hal yang sangat diuji di sini.
- Ilmu Titen mengajarkan bahwa segala sesuatu yang datang pada waktu yang tepat adalah hasil dari kesabaran dan ketekunan kita dalam menunggu.
2. Ujian Kesendirian (Dewean)
- Sering kali, seseorang yang akan naik derajatnya akan merasakan ujian dalam bentuk kesendirian.
- Dalam momen-momen sulit, tidak ada yang datang untuk menolong, dan segalanya harus diselesaikan sendiri.
Ini adalah waktu yang baik untuk merenung dan memperbaiki diri.
- Kesendirian ini adalah kesempatan untuk mengasah insting dan menemukan solusi atas masalah dengan bantuan ide-ide yang datang secara alami.
3. Ujian Godaan (Goda)
- Godaan bisa datang dari dalam diri sendiri, dari orang lain, maupun dari keadaan.
- Godaan dari dalam diri bisa berupa perasaan negatif seperti marah, benci, atau iri.
- Sementara godaan dari orang lain bisa berupa hinaan, perendahan, atau penganiayaan.
- Dalam menghadapi godaan, kesabaran dan penerimaan menjadi kunci untuk naik ke derajat yang lebih tinggi.
- Jika mampu mengatasi godaan dengan baik, kualitas diri akan meningkat.
4. Ujian Kesuksesan dan Kekayaan (Dilulu)
- Ketika seseorang mencapai kesuksesan atau kekayaan, ini bisa menjadi ujian tersendiri.
- Kesuksesan sering kali diikuti oleh rasa bangga diri dan ego yang tinggi.
- Namun, ilmu Titen mengajarkan bahwa harta dan kekayaan hanyalah titipan yang harus dijaga dengan rendah hati.
- Jika seseorang tetap bisa rendah hati di tengah kesuksesan, maka derajatnya akan dinaikkan.
5. Ujian Kejujuran (Jujur)
- Kejujuran adalah ujian yang sering kali tidak terlihat oleh orang lain, tetapi sangat penting dalam penilaian diri.
Misalnya, ketika ada kesempatan untuk mengambil sesuatu yang bukan hak kita, di situlah kejujuran diuji.
- Orang yang mampu jujur, baik saat diawasi maupun tidak, menunjukkan bahwa dia memiliki kualitas diri yang tinggi.
6. Ujian Kritik (Kritikan)
- Tidak semua orang bisa menerima kritik dengan lapang dada.
- Namun, seseorang yang berjiwa besar akan menerima kritik sebagai cara untuk memperbaiki diri.
- Membedakan kritik yang membangun dan kritik yang menjatuhkan menjadi tantangan tersendiri.
- Sikap yang bijak dalam menerima kritik menunjukkan bahwa seseorang siap untuk naik ke derajat yang lebih tinggi.
Demikianlah beberapa ujian yang menurut ilmu Titen Jawa dapat menjadi tanda bahwa seseorang akan naik derajatnya.
Ujian-ujian ini bukan untuk dihindari, melainkan untuk dihadapi dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan
Dengan memahami dan melewati ujian-ujian ini, kita dapat meningkatkan kualitas diri dan mencapai derajat yang lebih tinggi dalam kehidupan.
BACA JUGA :
Mantra-Mantra Jawa
.
Ilmu Titen Saka Guru Tetanen
Leluhur wong Jawa kuwi urip ing pabrayan agung kang urip ing madyaning jagad tetanen utawa agraris. Jaman semana, among tani leluhure wong Jawa nggunakake ilmu titen kang kawujud ing pranatan mangsa minangka gegebengan ndayakake lemah, tetanduran, sato kewan, lan sapiturute ing jagad agraris.
Ilmu titen kuwi asli niteni, nggatekake, lan ngetrapake kang wusana dadi gegebengan urip kang diwarisake turun-temurun. Salah sijine warisan ilmu titen yaiku pranata mangsa. Pranata mangsa kuwi asli niteni, nggatekake, lan ngetrapake samubarang kang gegayutan iklim lan kahanan alam ing madyaning jagad tetanen.
Pranata mangsa minangka salah sijine warisan ilmu titen kuwi uga asli nggatekake pralambang lan tandha-tandha lingkungan, kayata lakune kewan, lakune srengenge, njedhul lan ilange lintang ing langut wengi, lan sapiturute. Ing prabayan agung suku Sunda lan Bandul uga ana ilmu titen kang kawujud “kalender pertanian” kang diwarisake leluhur nganti turun-temurun.
“Wewanton ing jagad tetanen sing lelandhesan ilmu titen kuwi salah sijine arupa pepacuh ora kena nandur tanduran apa wae nalika rembulan ndadari utawa wancine purnama. Yen kuwi dilanggar, tundhone tetanduran bakal dipangan lan dirusak dening kewan-kewan nggremet sing ing titi wanci kuwi nedheng-nedhenge berahi.” Piterange nimpuna tetanen Dadang Mohammad saka Bandung ing sawijining udyana ngrembug jagad tetanen ing Museum Manusia Purba Sangiran, Kalijambe, Sragen, Minggu pungkasan April kapungkur.
Leluhure wong Jawa uga marisake piwulang supaya tansah njaga kahanan sawah lan wewengkon sakiwa tengene tetep resik. Among tani sing becik ora tau ngguwang uwuh ing galengan sawah. Among tani sing becik uga tansah sregep niliki sawah lan ndulu ngrembakane pari sing wus ditandur.
“Yagene ana wulangan ngono kuwi ? Jalaran ngrembakane pari kuwi kapetung cepet banget, mula kudu tansah digatekake.”ujare Dadang. Ing jaman kawuri, penjajah Walanda nalika ngurusi jagad tetanen ing Jawa ngetrapake “sistem” distrik utawa kawedanan. Sistem iki ora mung manut tlatah sing diurusi.
Miturut Dadang, pemerintah penjajah Walanda marang tlatah jajahan dadi pirang-pirang distrik utawa kawedanan lelandhesan jinis lemah, asli tetanen, lan budaya warga pabrayan agung kang dedunung ing tlatah kasebut.
Sistem kawedanan kasebut bisa didayakake kanggo ningkatakeasli tetanen lan ndayakake pepanthan among tani kang duwe asli tetanen sajinise. Pepanthan iki bisa dadi saka guru tetanen lan ndayakake among tani. Penjajah Walanda, miturut Dadang, nalika nemtokake kawedanan utawa distrik kuwi uga ngecakake ilmu titen.
Mula kuwi, miturut Dadang, kajaba prelu sinau ilmu titen warisan leluhur, among tani jaman modheren samesthine uga ndayakake teknologi pertanian kang asipat modheren. Ilmu titen lan teknologi tetanen kang sumbere bedha iki bisa dadi saka guru tetanen. Tetanen lelandhesan ilmu titen sing kajumbuhake teknologi modheren, miturut Dadang bakal ndadekake jagad tetanen sansaya onja. Asil tetanen mundhak apik lan lemah tetep subur.
Imajiner Nuswantoro


