TAKDIR DAN NASIB MANUSIA

0

Takdir dan Nasib Manusia

 

Takdir merupakan hukum sebab akibat yang berlaku secara pasti sesuai dengan ketentuan Allah Swt. Takdir merupakan bahasa Tuhan, tidak bisa dirubah dan sudah merupakan kepastian.

Dalam bahasa Arab, takdir disebut qadara, yuqaddiru, atau taqdir. Arti harfiahnya adalah ukuran, ketentuan, kemampuan, dan kepastian.

Definisi takdir dijelaskan dalam Al-Quran dalam surah Yasin ayat 38, surah Fussilat ayat 12, surah Al-Furqan ayat 2, dan surah Al-Anam ayat 96.

Dari ayat-ayat tersebut menarik 3 kesimpulan, yakni :

1.     Pertama, takdir berlaku untuk fenomena alam, artinya hukum dan ketentuan dari Tuhan mengikat perilaku alam. Sehingga hukum sebab akibat yang terjadi di alam ini dapat dipahami manusia.

2.     Kedua, takdir Tuhan terkait hukum sosial (sunnatullah). Hukum ini melibatkan manusia di dalamnya.

3.     Ketiga, akibat dari takdir dalam arti hukum kepastian Allah yang baru dapat diketahui setelah berada di alam akhirat. Takdir dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu: Takdir Mubram: Takdir dalam Ilmu Allah Swt. dan Takdir dalam Kandungan Takdir mubram adalah takdir yang pasti akan terjadi dan tidak dapat untuk ditolak yang telah ditetapkan oleh Allah Swt., dan manusia tidak mempunyai kesempatan untuk memilih atau merubahnya. Contoh dari takdir mubram antara lain: jenis kelamin seseorang, usia manusia, peredaran matahari dan bulan, dan lain sebagainya. Seperti yang sudah dijelaskan dalam syarah kita b hadis Arba’in Nawawi, takdir mubram dibagi menjadi dua kelompok, yaitu: Takdir dalam ilmu Allah Swt., yang tidak mungkin dapat berubah, sebagaimana Nabi Muhammad saw. bersabda “Tiada Allah mencelakakan kecuali orang celaka (yaitu orang-orang yang telah ditetapkan dalam ilmu Allah ta’ala bahwa dia adalah orang celaka).” Takdir dalam kandungan, yaitu malaikat diperintahkan untuk mencatat rezeki, umur, amal, dan celaka atau bahagiakah bayi yang ada di dalam kandungan tersebut. Maka takdir ini termasuk dalam takdir yang tidak dapat dirubah apa yang telah digariskan dalam tubuh sang bayi tersebut. Sesuai hadis Nabi Muhammad saw., yang artinya: “Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi ‘Alaqoh (segumpal darah) selama itu juga lalu menjadi Mudhghoh (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan empat kata: rizki, amal, ajal, dan celaka atau bahagianya. Maka demi Allah yang tiada Tuhan selainnya, ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dengan surga kecuali sehasta saja. Kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. Ada diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. Kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga.” (Bukhari no. 3208, Muslim no, 2643) Takdir Muallaq: Takdir dalam Lauhul Mahfudz dan Takdir yang Diikuti Sebab Akibat Takdir muallaq adalah takdir yang bergantung pada ikhtiar seseorang atau usaha menurut kemampuan yang ada pada manusia. Seperti yang sudah dijelaskan dalam syarah kita b hadis Arba’in Nawawi, takdir muallaq merupakan takdir yang tergantung atau tertunda. Takdir muallaq dibagi menjadi dua kelompok, yaitu: Takdir dalam Lauhul Mahfudz, yang mungkin dapat berubah, sebagaimana firman Allah Swt. dalam surah Ar-Ra’du ayat 39 yang artinya : Manusia Dikendalikan Tuhan “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan di sisi-Nya lah Ummul Kita b (Lauhul Mahfudz).” Takdir yang diikuti sebab akibat, merupakan takdir yang berupa penggiringan hal-hal yang telah ditetapkan kepada waktu-waktu dan hal-hal yang telah ditentukan. Contohnya: “Seandainya hambaku berdo’a atau bersilahturrahmi dan berbakti kepada kedua orang tua, maka Aku jadikan dia begini, jika dia tidak berdo’a dan tidak bersilahturrahmi serta durhaka kepada orang tua, maka Aku jadikan seperti ini.” Maksud dari takdir muallaq ini, adalah bahwa takdir merupakan kehendak mutlak Allah Swt. Akan tetapi, penyebab adanya takdir tersebut dapat berubah oleh karena perbuatan manusia, yaitu dengan berdo’a dan berikhtiar, atau berusaha dengan izin Allah Swt. Nabi Muhammad saw. bersabda, yang artinya : Sesungguhnya doa dan bencana itu diantara langit dan bumi, keduanya berperang dan doa dapat menolak bencana, sebelum bencana tersebut turun. Pengertian Nasib Secara bahasa, pengertian nasib mempunyai makna yang sama dengan takdir, yaitu sesuatu yang sudah ditentukan oleh Tuhan atas diri seseorang. Namun pada kenyataannya, nasib seringkali dikonotasikan dengan hal-hal yang buruk, negatif, dan kesialan. Sedangkan takdir lebih sering digunakan untuk hal yang positif, untung, dan kemujuran. Seolah yang jelek itu nasib dan yang baik itu takdir. Terlebih lagi, manusia seringkali mengaitkan nasib dengan keputusasaan dan kekecewaan. Nasib bisa dirubah oleh manusia, kalaupun itu harus dengan izin Yang Maha Kuasa, karena Tuhan berkata : Tiada akan kurubah nasib seseorang, ketika ia sendiri tidak mau merubahnya. Bahasa Tuhan ini memberikan isyarat bahwa Tuhan memberi izin kepada manusia untuk merubah nasibnya dengan kerja keras dan doa. Contohnya adalah kegagalan. Kegagalan bukanlah merupakan takdir, maka bisa dirubah, dan yang bisa merubahnya adalah manusia dengan izin Yang Maha Kuasa. Syaratnya adalah punya kemauan, berupaya, berusaha, dan meminta izin dari Tuhan, maka kegagalan bisa berubah menjadi kesuksesan. Hampir semua manusia mengartikan satu kegagalan sebagai semua kegagalan, sehingga tertutup semua akses untuk munculnya kebangkita n. Dan secara tidak sadar, kontaminasi hati terhadap hal ini menghasilkan persepsi yang menimbulkan asumsi yang berujung pada kesimpulan, bahwa gagal yang satu merupakan kegagalan untuk semuanya. Kegagalan adalah hasil karya manusia, dan siapapun bisa mengalaminya, siapapun dia tidak terkecuali. Kegagalan bisa diartikan sebagai musibah, ujian, cobaan, bencana, bahkan hikmah. Cara Menyikapi Kegagalan Ada perbedaan yang paling mendasar ketika mengalami kegagalan, yaitu cara menyikapi kegagalan. Bagi orang-orang yang mampu mengartikan bahasa Tuhan, kegagalan dianggap menjadi sebagai ujian, bahkan sebagai hikmah. Karena dengan adanya hal tersebut, berarti Tuhan penuh dengan kasih dan sayang. Namun bagi orang-orang yang tidak dapat mengartikan bahasa Tuhan, kegagalan adalah sebagai “melapetaka, bencana, bahkan kutukan”. Jika manusia tetap pada nasibnya, mereka akan menjadi seperti boneka. Menganggap manusia sebagai tetap pada nasibnya adalah seperti menuduh Allah Swt. kejam dan tidak adil. Karena jika manusia ditakdirkan tetap pada nasibnya, dengan sebagian orang harus minum alkohol, sementara sebagian yang lainnya harus selalu berdoa dan beribadah, pada akhirnya orang-orang berdosa akan masuk neraka, sementara yang beribadah akan masuk surga. Apakah mungkin bagi Allah yang salah satu sifat-Nya adalah Al-Adl (Maha Adil) untuk membiarkan ketidakadilan dan kelainan seperti itu? Bahasa Tuhan adalah bahasa yang penuh dengan keberhasilan, kesuksesan, dan kemenangan. Maka dalam bahasa Tuhan tidak ada dalam bahasa kegagalan, kekalahan, dan ketidak-berhasilan. Sesuatu pasti ada awalnya, dan mulailah dengan nama Tuhan, karena Dia yang punya hak mutlak atas hidup ini, dari permulaan ketika proses itu sedang terjadi dan mengakhirinya.

 

Kodrat, Nasib, Takdir, Ajal

KODRAT

Tiap insan yang dilahirkan sudah membawa kodrat, adalah daftar kemungkinan-kemungkinan positif dan negatif yang mampu dijadikan kenyataan/pengalaman/fakta/nasib yang akan dihadapi selama hidup.

Kodrat ditetapkan oleh faktor-faktor, sebagai berikut :

1.     Kehidupan-kehidupan masa lalu sebelum kehidupan yang dihadapi sekarang ini (teori inkarnasi).

2.     Sifat-sifat serta tingkah laku orang tua selama anak sedang dalam kandungan.

3.     Hal-hal yang dimakan/termakan dan/atau diminum/terminum serta yang dihirup/terhirup oleh orang tua selama anak dalam kandungan.

4.     Kondisi fisik/psikis para orang tua selama anak dalam kandungan.

5.     Sekita r yang terkait orang tua selama anak dalam kandungan.

6.     Sifat-sifat keturunan (fisik dan psikis) para orang tua.

7.     Pengaruh kosmis selama anak dalam kandungan dan juga pada ketika anak dilahirkan.

 

NASIB

Pengalaman atau kenyataan2 dalam perjalanan hidup seseorang dari kelahiran hingga meninggal.

Nasib ditetapkan oleh Kemampuan mawas diri dan Sekita r yang terkait hidupnya.

Jika seseorang jumlah mawas diri, maka bertambah tebal lapisan bathinnya, meningkatlah firasatnya sehingga mengambil langkah-langkah yang menuju nasib sama berat.

Jika seseorang kurang/tidak mawas diri, lapisan bathinnya kurang tebal, sehingga akan menjalani hidup yang kurang memuaskan.

Sekita r yang terkait hidup ikut menentukan karena memberi pengaruh terhadap kejiwaan dan tingkah laku serta usaha/perjuangan. Selain itu kesempatan dan sekita r yang terkait mampu mendorong manusia mengambil langkah2 sesuai kondisi sekita r yang terkait tersebut.

Mawas diri (kurang mawas diri) dan sekita r yang terkait menghasilkan tingkat perjalanan hidup yang menyangkut :

·        Kedudukan, jabatan, fungsi (rejeki)

·        Kesehatan

·        Kerukunan

·        Keselamatan

·        Kepuasan/nikmat (sorga dunia)

·        Ketegangan/derita (neraka dunia)

 

TAKDIR

Hal-hal yang pasti akan terjadi dan tidak mampu dihindarkan dalam perjalanan hidup.

Adalah tidak bisa dihindarkan oleh dirinya sendiri dalam hal2 negatif. Juga tidak bisa dihalangi oleh siapapun dalam hal-hal positif.

Yang ditakdirkan bisa :

1.     Negatif walaupun yang bersangkutan jumlah mawas diri.

2.     Positif walaupun yang bersangkutan jumlah memperagakan pelanggaran (banyak dosa)

Catatan :

1.     Jika seseorang yang jumlah mawas diri, berikutnya merasakan takdir bentuk negatif, dampak dari kejadian/takdir itu tidak seberapa (fatal). Contoh : Pada umur 15 tahun akan jatuh dari ketinggian 10 m. Hal itu terjadi tapi yang bersangkutan jatuh dalam cairan dan kebetulan dia mampu berenang.

2.     Jika seseorang yang jumlah dosa merasakan takdir positif, maka yang dihasilkannya itu akan menimbulkan hal-hal yang memberi derita. Contoh : Sah kaya pada umur 40 tahun, terjadilah hal itu, tapi _hilang kerukunan, jumlah ancaman dan menimbulkan jumlah ketegangan-ketegangan.

 

AJAL

Penghabisan perjalanan hidup (mati), kata sehari-hari : Mati, Wafat.

Ajal bisa dibagi dalam :

1.     Ajal yang sebenarnya, mati menempuh penuaan sel2 secara merata (umur absolut).

2.     Ajal sebelum waktunya, adalah kematian sebelum umur absolut. Hal demikian termasuk takdir. Misalnya mati pada umur 9 tahun atau 17 tahun atau 65 tahun atau pada umur absolut 93 tahun.

 

Perbedaan Takdir dengan Nasib

Perkara ini adalah hal yang sangat sulit, dan karenanya bila benar hanya datang dari Allah, jika salah menilai dari kecurigaan saya semata.

Dalam takdir, sesuai peristiwa Awalin kejadian manusia, bahwa manusia sebelum diturunkan ke dunia telah ditetapkan 4 takdirnya yaitu rezeki, jodoh, bahagia dan celakanya. 4 hal ini murni rahasia Allah.

Dipihak lain dalam takdir Allah memberikan keleluasaan dan kebebasan untuk mengubah nasibnya sesuai dengan kadar kemampuan yang dimiliki.

Dari 2 Suami pengertian, Yang Pertama  Terdapat Unsur kepasrahan (Fatalisme) untuk review Manusia agar Selalu mengikuti ketetapanNya, Tuhan sebagai obyek Dan Manusia sebagai Subyek. Sementara pengertian kedua mengacu pada diberikannya manusia akal dan pikiran sehingga diberi daya atau kemampuan untuk mengubah nasibnya. Dalam hal ini manusia diberi subyek, namun sebagai subyek fana.(terbatas)

 

Rezeki :

Allah menetapkan rezeki untuk memudahkannya membuat burung-burung dan binatang melata yang bergerak lambat sekalipun mendapatkannya. Takdirnya manusia itu juga pasti rezeki, hanya mengenai tidaknya seseorang mendapatkan rezeki itu adalah bagaimana nasibnya manusia itu sendiri.

Jodoh :

Alah menjadikan segala sesuatunya berpasangan termasuk laki-laki dan wanita, agar dapat saling mengenal mengenal dan menjadikan tentram antara satu sama lain dengan perkawinan. Takdirnya manusia itu untuk mendapatkan jodoh, namun tentang mendapatkan pasangan yang baik atau tidaknya (sholeh atau sholehah) atau kapan waktunya bergantung pada nasibnya dalam mengupayakannya.

Ajal / maut :

Ajal/maut bila datang tidak dapat dilihat dari waktunya atau dimajukan walau sedetikpun. Takdirnya manusia itu pasti menemui ajalnya, namun soal kapan waktunya dicabut / ajalnya dalam keadaan baik (husnul khotimah) atau buruk (su'ul khotimah) adalah bagaimana nasibnya dalam mengikhtiarkannya.

Bahagia dan Celaka : Takdirnya manusia adalah mendapatkan bahagia dan celaka, namun tentang mana yang lebih banyak bahagia atau celakanya tergantung pada cara manusia mengupayakannya. Tidak ada bahagia dan celaka yang ditimpakan oleh Allah kecuali atas IzinNya. Sabda Nabi: “Tidaklah setiap kejadian dan peristiwa yang dialami seseorang kecuali atas izin Allah (HR Attirmidzi dan Ibnu Hibban)

Masalah takdir bahasa yang tak pernah berhenti dibahas dalam dunia Islam. Pembahasan ini sudah dibahas sejak dulu. Bahkan ada banyak aliran yang mencul di dalam Islam, karena berbeda dalam memahami takdir. Ada pemahaman yang sangat pasrah pada takdir, sehingga mengeyampingkan usaha. Ada yang sangat menolak takdir, dan memahami apa yang terjadi di dunia atas kuasa manusia. Ada pula pemahaman yang mencoba untuk menengahi kedua aliran.

Menurut Prof. Quraish Shihab, masalah takdir tidak pernah didiskusikan secara mendalam pada masa Nabi. Begitupun pada masa para sahabat. Memang ada pada masa Sayyidina Umar bin Khattab, satu atau dua orang bertanya tentang takdir kepadanya. Tapi Sayyidina Umar melarang untuk membicarakan masalah ini.

Setelah Sayyidina Ali bin Abi Thalib meninggal, masalah baru yang merugikan banyak pihak. Karena penguasa baru menggunakan takdir sebagai dalih pembenaran. Mereka berkata, kuasa ini berjalan atas takdir Tuhan. Bahkan takdir dijadikan untuk dijadikan alasan. Melihat kejadian ini, sebagian kelompok menolak legitamasi takdir. Mereka menganggap takdir tidak ada. semuanya berjalan di atas kuasa manusia.

Prof.Quraish Shihab menambahkan, Takdir itu secara bahasa artinya ukuran. Allah berfirman, segala sesuatu ada ukuran. Dalam al-Qur'an dikatakan,  Kullu Syai'in Khalaqnahu bi-Qadar . Allah menurunkan misalnya, sesuai takarannya. Kalau terlalu banyak setiap turun hujan, pasti akan terjadi banjir. Semua sudah ditentukan dan diukur.

Supaya makin paham, Prof. Quraish mencontoh, ada dua mobil: satu mobil balap, satu lagi mobil rongsokan. Mobil balap kecepatannya bisa sampai 200, sementara mobil rongsokan 70. Ketentuan atau takdir mobil balap adalah 200, tidak bisa melewati, dan dia bisa lari cepat selama tidak melewati 200. Begitu pun dengan mobil rongsongkan, tidak akan bisa lebih dari 70.

Ukuran yang sudah ditetapkan Allah untuk hamba-Nya adalah takdir, sementara hasil yang diterima adalah nasib. Takdir pada dasarnya tidak diketahui, sementara nasib adalah hasil yang dapat dilihat dan dirasakan. Karena tidak ada manusia yang tahu nasibnya, maka Nabi SAW mewajibkan kita  untuk selalu berusaha. Nabi SAW percaya semua ada ukuran, tetapi tidak menjadikan beliau tidak bekerja. Beliau berjuang, berkorban, dan pada saat yang sama juga berdoa.

 

Takdir Bukan Nasib

Takdir merupakan hukum sebab akibat yang berlaku secara pasti sesuai dengan ketentuan Allah SWT, yang baik maupun yang buruk. Sedangkan ikhtiar merupakan kebebasan atau kemerdekaan manusia dalam memilih serta menentukan perbuatannya.

Dalam bahasa Arab, takdir disebut qadara atau yuqaddiru atau taqdir. Arti harfiahnya adalah ukuran, ketentuan, kemampuan, dan kepastian.

Sedangkan ikhtiar dalam bahasa Arab adalah ikhtara atau yakhtaru atau ikhtiyar yang berarti memilih. Kata ini seakar dengan kata khayr yang berarti baik. Ikhtiar dapat pula diartikan memilih yang lebih baik diantara yang ada. Berikut definisi takdir dalam Islam.

 

Definisi Alquran

Takdir dalam Alquran  terdapat dalam Alquran Surah Al Anam ayat 96, Surah Al Furqan ayat 2, Surah Yasin ayat 38, dan Surah Fussilat ayat 12. Keseluruhan ayat tersebut terdapat tiga kesimpulan.

Pertama, takdir berlaku untuk fenomena alam, artinya hukum dan ketentuan dari Tuhan mengikat perilaku alam sehingga hukum sebab akibat yang terjadi di alam ini dapat dipahami manusia.

Kedua, takdir Tuhan terkait hukum sosial (sunnatullah). Hukum ini melibatkan manusia di dalamnya. Ketiga, akibat dari takdir dalam arti hukum kepastian Allah yang baru diketahui setalah berada di akhirat.

Takdir yang seperti ini yang harus diyakini dengan keimanan. Selama manusia masih di dunia, dampaknya belum bisa dibuktikan hanya melalui Alquran, manusia membayangkannya saja. Inilah yang disebut qadarullah, nasib manusia yang ditentukan oleh perbuatannya selama di dunia.

 

Definisi Teologi Islam

Dalam teologi Islam, Tuhan berkehendak mutlak. Allah yang menciptakan alam, termasuk manusia. Karena itu, kebebasan manusia sangat kecil di hadapan Tuhan

Secara alamiah sesungguhnya manusia telah memiliki takdir yang tidak bisa diubah. Manusia secara fisik tidak bisa berbuat lain kecuali mengikuti hukum alam.

Tetapi manusia memiliki daya kreatif. Inilah yang menyebabkan manusia bebas berpikiran dan berkehendak.

Kehidupan manusia, menurut teologi Asy'ariah, merupakan realisasi dari apa yang digariskan Tuhan pada saat azali, baik kehidupan yang baik ataupun yang buruk, beruntung atau merugi, dan senang atau menderita. Manusia akan menjalani semua ini sejak lahir sampai mati.

 

Takdir Bukan Sekadar Pasrah

Takdir tidak sama dengan menerima nasib secara pasrah, dalam arti tidak mau berusaha sama sekali. Doktrin tentang takdir dalam Islam tidak mengarahkan manusia ke sikap fatalistik atau menyerah kalah kepada nasib (fate).

Islam sangat menekankan pentingnya usaha dan amal perbuatan. Dalam Alquran dinyatakan manusia tidak akan mendapatkan sesuatu selain yang dia usahakan, dan bahwa hasil usahanya itu akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian akan dibalas dengan balasan yang setimpal sesuai Surah An Najm ayat 39-41.

Ayat inl sering dijadikan nujukan pandangan bahwa makna takdir harus diletakkan secara proporsional. Bertopang dagu sambil menerima nasib merupakan salah satu gejala fatalistik.

Takdir dipahami sebagai nasib yang sudah ditetapkan semenjak sebelum manusia dilahirkan yang ‘seakan’ mengarah pada konotasi negatif. Ada banyak sekali ungkapan-ungkapan pesimistik tentang takdir yang selama ini kita  pakai dalam memahami kehidupan, misalnya nerimo ing pandum (terima saja apa yang sudah ditetapkan), pulung sugih yo sugih pulung mlarat yo mlarat (nasib kaya, ya bakal kaya. Nasib miskin, ya bakal miskin), alon-alon sukur kelakon (pelan-pelan asalkan terjadi), dan sebagainya.

Kasus yang sering menjadi tumbal percontohan dari nasib adalah rezeki, jodoh, dan kematian. Bagi mereka yang memahami bahwa rezeki sudah ditetapkan semenjak sebelum seseorang dilahirkan ke dunia, maka tentu rezeki itu akan tetap diperoleh walaupun dengan malas-malasan. Tapi apakah benar demikian?

Padahal jika kita  melihat realitas yang terjadi, tidak ada orang yang bermalas-malasan bisa menjadi kaya. Walaupun harta itu bisa jadi turunan dari orangtuanya, tentu saja orangtuanya mendapatkannya dengan kerja keras. Kita  bisa buktikan semisal dalam sebulan ada orang yang malas-malasan saja tidak melakukan apa-apa dengan orang yang serius bekerja mencari rezeki. Tentu orang yang bermalas-malasan tidak akan mendapat rezeki yang sama dengan orang yang bekerja.

 

Begitu juga halnya dengan jodoh. Jika tetap memelihara pemahaman tentang konsep nasib, maka dalam melihat jodoh pun kita  tidak akan mau berusaha mendapatkannya. Atau ketika sudah menikah, lalu merasa tidak cocok dengan pasangan maka langsung mengambil jalan perceraian. Lalu menikah lagi, kalau tidak cocok lagi maka cerai lagi. Begitu seterusnya. Lalu jodoh yang sudah ditetapkan itu dari pasangan yang pertama atau kedua atau yang mana?.

Ada ungkapan kalau dia memang jodoh maka tak akan lari kemana. Sungguh ungkapan yang seperti ini sama sekali tidak mendidik karena pola pemikiran seperti akan membawa kepada sifat pesimis. Akan tetapi kalau kita  menginginkan mendapat jodoh yang baik maka harus diusahakan bukan dengan diam tanpa aksi berharap jodoh yang baik akan datang sendiri.

Pun ketika kita  melihat pada hal kematian. Jika kita  berpandangan bahwa kematian baik waktu dan prosesnya sudah ditetapkan, maka bagaimana halnya dengan masyarakat yang berada di negara miskin dengan kualitas hidup lebih pendek dibanding masyarakat yang berada di negara maju dengan kualitas hidup yang lebih tinggi?. Apakah ini memang karena nasib?. Kalau iya, maka kita  akan membiarkan ‘nasib’ mereka seperti itu. Entah itu mereka akan mati muda, ya terserah. Toh, juga itu memang sudah jadi nasib mereka, tidak perlu diusahakan peningkatan pelayanan kesehatan dan pencegahan penyakit di masyarakat.

Seperti yang ditulis Agus Mustofa dalam bukunya berjudul “Mengubah Takdir”, bahwasanya nasib bukanlah takdir. Nasib itu sendiri akan mengarah kepada perilaku-perilaku yang statis, pasrah, dan malas. Sedangkan takdir itu berorientasi kepada perilaku yang dinamis serta meniscayakan kreatifitas dengan usaha maksimal untuk meraih takdir yang baik.

Ternyata selama ini kita  salah kaprah dalam memahami takdir sehingga kita  tidak memiliki pemikiran revolusioner untuk bergerak ke arah yang lebih maju, alih-alih untuk membangun bangsa dan negara. Karena semuanya sudah ditakdirkan oleh Dzat Pemilik alam raya yang Maha bijaksana dan Maha adil. Bukankan sifat Allah itu memang demikian?

Takdir itu hasil dari usaha, bukan dari nasib

Sebagai muslim, kita  tentunya mempercayai bahwa Al-Qur’an merupakan petunjuk yang berisi penjelasan terkait petunjuk itu sendiri. Hal ini bisa dilihat dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 185. Maka yang harus kita  pedomani bukanlah ungkapan-ungkapan yang selama ini kita  pegangi tetapi dari Al-Qur’anlah yang sudah jelas langsung diwahyukan Allah kepada Nabi SAW.

Dari Al-Qur’an kita  akan menjumpai ayat-ayat yang menyuruh kita  untuk bekerja dan berusaha bukan bermalas-malasan. Dalam salah satu firman-Nya bahwa Allah tidak akan merubah takdir suatu kaum jika kaum itu tidak melakukan usaha. Bahkan dalam Q.S. Al-Jumu’ah ayat 10 Allah menyuruh kita  untuk bertebaran di muka bumi dan mencari karunia-Nya. Bukan hanya meminta dengan berdo’a dan membaca wirid-wirid.

Coba kita  cermati redaksi al-Qur’an yang sangat terkenal dari surah Ar-Ra’d ayat 11 mengenai takdir: “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah . Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”.

Kalau kita  melihat dari sejarah perkembangan Islam, ada dua kubu ekstrem yang saling bertentangan dalam melihat takdir. Kelompok pertama memahami dari redaksi Allah tidak merubah. Sehingga mereka memahami bahwa yang memiliki kehendak untuk ‘mengubah’ hanyalah Allah semata bukan dari manusia sehingga manusia hanya mengikuti saja tanpa bisa melakukan apa-apa. Pemahaman seperti inilah yang diteorikan oleh golongan yang disebut Jabariyah.

Sedang dari kelompok kedua, mereka berpendapat bahwa justru manusia sendiri yang menentukan takdirnya. Mereka bertumpu pada redaksi sehingga mereka merubah. Mereka memahami bahwa Allah hanya melegitimasi terhadap usaha manusia, selebihnya manusia sendiri yang berusaha untuk meraihnya. Allah sudah membuat aturan main berupa adanya hukum kausalitas atau sunnatullah sehingga siapa yang berusaha keras, maka dia akan mendapatkan hasilnya. Seperti inilah dari pemahaman kelompok bernama Qadariyah.

Namun nyatanya, dalam kehidupan sehari-hari kita  tidak menemukan hal yang demikian. Dari kedua pemikiran golongan tersebut tidak terjadi dalam skala murni, akan tetapi adalah perpaduan dari keduanya. Tidak selalu dengan usaha keras yang dilakukan manusia bisa meraih apa yang diinginkannya, di situlah ada peran kekuasaan yang sangat besar dari Allah.

Terkait formulasi penetapan tersebut, Agus Mustofa menyebutnya sebagai ‘segitiga sebab akibat’. Di mana manusia itu sebagai subjek perbuatan untuk memicu, kemudian Allah mempertimbangkan usaha manusia, lalu terjadilah takdir berdasar dengan berbagai variabel hukum sebab-akita b yang melingkupinya. Maka begitulah mekanisme segitiga sebab akibat yang selalu terjadi setiap saat.

Takdir ini juga tidak hanya berlaku kepada manusia saja, akan tetapi juga berlaku pada makhluk-makhluk tidak berakal seperti binatang, tumbuhan, dan benda-benda mati. Bedanya hanyalah pada ‘derajat kehendak’ yang tidak sama dengan manusia sehingga penetapan takdir mereka tidak begitu kompleks. Mereka tidak memiliki kehendak sebebas manusia atau paling tidak mereka memiliki kadar kehendak yang lebih rendah sehingga takdir mereka lebih berorientasi pada penetapan Allah.

Dari sini kita  akan melihat bahwasanya takdir berjalan dengan sunnatullah yang telah Allah ciptakan. Sedang nasib hanyalah pemahaman yang berkembang di masyarakat tanpa adanya ‘rujukan penguat’. Tidak hanya itu, pemahaman dari nasib dengan sendirinya akan menggiring kita  menjadi pesimistis sehingga tidak ada celah untuk melakukan kreativias serta inovasi untuk menaikkan level kebaikan dalam kehidupan. Padahal takdir adalah hasil pertimbangan Allah dari usaha manusia untuk diberikan yang terbaik bagi para hambanya sebagai implementasi sifat-Nya Yang Maha Pemurah.

 

Macam-macam takdir Allah

Macam-macam takdir Allah perlu dipahami setiap muslim. Umat Islam memahami takdir sebagai bagian dari tkita kekuasaan Allah SWT yang harus diimani sebagaimana dikenal dalam Rukun Iman.

Mengutip M. Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i Atas Pelbagai Persoalan Umat, kata takdir (takdir) terambil dari kata qaddara berasal dari akar kata qadara yang antara lain berarti mengukur, memberi kadar, atau ukuran.

Sehingga jika kita  berkata, “Allah telah menakdirkan demikian,” maka itu berarti Allah telah memberi kadar/ukuran/batas tertentu dalam diri, sifat, atau kemampuan maksimal makhluk-Nya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sendiri takdir adalah ketetapan Tuhan atau ketentuan Tuhan. Bisa juga dimaknai sebagai nasib. Secara istilah, takdir merupakan segala yang terjadi, sedang terjadi serta akan terjadi yang telah ditetapkan oleh Allah SWT baik yang baik maupun yang buruk.

 

Macam-Macam Takdir Allah

1.     Takdir Mubram. Macam-macam takdir Allah yang pertama adalah takdir Mubram. Takdir mubram adalah ketentuan mutlak dari Allah SWT yang pasti berlaku dan manusia tidak diberi peran untuk mewujudkannya. Macam-macam takdir Allah ini contohnya antara lain adalah tentang kelahiran dan kematian manusia. Tentunya tidak ada yang tahu kapan kamu akan dilahirkan dan kapan akan mati. Semua menjadi rahasia Allah SWT dan terjadi sesuai dengan ketetapan-Nya.

2.     Takdir Muallaq. Macam-macam takdir selanjutnya adalah takdir Muaallaq Takdir muallaq adalah ketentuan Allah SWT yang mengikut sertakan peran manusia melalui usaha atau ikhtiarnya. Macam-macam takdir Allah ini contohnya antara lain keberhasilan murid di sekolah dalam meraih prestasi. Murid yang berprestasi itu bukanlah murid yang diam saja tidak belajar, dan hanya menunggu takdir. Tetapi, ia yang selalu berusaha dan belajar setiap hari untuk meraih cita-cita yang diharapkannya. Dengan begitu, apa yang diraihnya selain ditentukan oleh takdir Allah SWT, juga ditopang oleh usaha dan doa yang dia lakukan. Jadi, berusaha itu harus, tetapi kamu juga harus berdoa dan rela menerima segala takdir yang sudah ditentukan oleh Allah SWT. Orang yang rajin bekerja akan kaya, dan yang malas berusaha akan miskin, sebagaimana firman-Nya: "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri". (Ar-Rad:11).

 

 Memahami Makna Takdir

Mengetahui macam-macam takdir Allah saja tentunya belum cukup, kamu juga harus memahami bagaimana maksud dari takdir Allah ini. Menurut Quraish Shihab, sebagian umat muslim belum memahami benar, apa tujuan dan maksud dari qada dan qadar.

Qada bermakna kehendak Allah SWT yang wujudnya sejak awal berkaitan dengan segala hal yang akan terjadi dari yang terkecil hingga terbesar. Sedangkan qadar adalah perwujudan dari Allah yang mencakup hal-hal oleh qada.

"Secara faktual, dalam kadar dan urutan tertentu, itulah yang dinamai takdir," kata Quraish Shihab.

Arti beriman kepada takdir adalah percaya bahwa Allah maha mengetahui sejak azal dan mencatat semua hal. Percaya bahwa kehendak-Nya pasti berlaku dan terjadi atas semua makhluk.

Quraish Shihab menjelaskan, ada pula takdir di mana manusia diberi kebebasan untuk memilih takdirnya, yaitu kemampuannya untuk mengelak dari satu takdir menuju ke takdir yang lain.

Hal ini pernah dilakukan pada masa Syaidina Umar. Ketika sedang terjadi wabah dalam suatu kota, dia membatalkan kunjungannya.

 

"Selama masih diupayakan untuk menghindari dari sesuatu yang buruk, maka upayakanlah itu. Karena Allah memberi manusia kasap, yaitu kemampuan untuk berusaha menghindar dari sesuatu yang buruk.

"Musibah virus Corona, kita  dapat berusaha menghindar dan diberi kemampuan. Berhasil ataupun tidak, Allah sudah mengetahuinya. Tetapi kita  berkewajiban untuk berupaya menghindarinya.

 

Takdir dalam Kehidupan Manusia

Beriman kepada takdir dengan benar, seseorang akan giat berusaha dan berjuang dalam menjalani kehidupannya. Apalagi, dalam macam-macam takdir Allah, yaitu takdir muallaq, kamu diharuskan untuk selalu berusaha atau ikhtiar.

Apa yang kamu raih selain ditentukan oleh takdir Allah SWT, juga ditopang oleh usaha dan doa yang kamu lakukan. Jadi, berusaha itu harus, tetapi kamu juga harus berdoa dan rela menerima segala takdir yang sudah ditentukan oleh Allah SWT. Sebab tanpa adanya usaha dan perjuangan sesuai tujuan, apapun hal yang diinginkan tidak akan tercapai.

Tidak hanya itu, manusia juga harus berpijak pada Sunnatullah. Dengan memahami takdir dalam bentuk yang tepat, manusia akan terhindar dari bencana ataupun kesengsaraan. Maka dari itu, seseorang harus beribadah, berusaha, serta berjuang dengan bertumpu pada Sunnah yang telah ditetapkan oleh Allah. Upaya tersebut agar cita-cita yang sedang diperjuangkannya dapat tercapai sesuai dengan rencana tanpa keluar dari ajaran agama Islam.

 

Jangan Meratapi Nasib yang Buruk

Banyak orang mengeluh dengan nasib yang mereka alami dan merasa bahwa keberuntungan tidak berada di pihak mereka.

Hal yang perlu disadari disini adalah tidak ada nasib buruk dan nasib baik, sebab kedua hal tersebut tergantung dari Kita dalam menyikapi kegagalan dan keberhasilan yang diraih

Jangan meratapi kegagalan yang terjadi, sebaiknya lakukan 2 hal ini untuk mengubah takdir Kita menjadi lebih baik.

 

2 Hal Sederhana Ini Mengubah Takdir :

1.     Berhenti Mempercayai Adanya Nasib Sial di Luar Diri Kita Sendiri. Saat seseorang terlalu percaya dengan nasib yang diterima saat ini. Ini akan membuat mereka sedikit melakukan usaha untuk memperbaikinya karena berpikir itu tidak akan membantu sedikit pun. Terlalu percaya pada nasib akan membuat seseorang menjadi pasif dan mengeluh bahwa hal yang didapatkan tidak sesuai dengan harapan mereka. Hal di atas tidak dilakukan oleh mereka yang sukses, dimana mereka memiliki cara pandang yang jauh berbeda. Mereka percaya bahwa apa yang terjadi dalam hidup tergantung pada diri mereka sendiri. Dengan pola pikir seperti ini, mereka akan cenderung proaktif, siap mencoba hal yang baru, dan tertarik untuk menemukan cara yang bisa mengubah takdir kehidupan mereka menjadi lebih baik lagi. Mereka tidak pernah menyalahkan nasib yang menimpa dan selalu berusaha mencari cara untuk membuat segalanya menjadi lebih baik. Inilah yang membedakan mereka yang gagal dan sukses yaitu respon atau cara Kita menanggapi. Saat ada yang salah, mereka akan berusaha memperbaiki, tidak merengek, tidak mengasihani diri sendiri, atau mengeluh dengan nasib buruk. Sikap yang baik adalah belajar dari apa yang terjadi dan memperbaiki setiap kesalahan dan kembali melanjutkan kehidupan sebaik mungkin. Sikap seperti inilah yang membuat mereka terus berjalan dan tidak menyerah dengan keadaan yang menimpa.

2.     Semua Hal Dimulai Dari Cara Kita Berpikir. Jika hanya berfokus pada kesalahan dan melihatnya sebagai nasib buruk, maka Kita  tidak akan bisa berbuat apapun. Kita akan tenggelam di dalam energi yang negatif dan hampir dipastikan akan berhenti untuk berusaha. Hal ini bisa terjadi karena Kita memiliki keyakinan bahwa tidak akan ada yang bisa memperbaikinya. Hal yang penting untuk diperhatikan adalah dibalik setiap kegagalan pasti ada faktor yang menjadi penyebabnya. Bisa dikarenakan sikap malas, kurangnya pengetahuan, atau kurangnya keterampilan yang dimiliki. Jangan hanya berfokus pada nasib buruk yang menimpa, tetapi fokuslah pada perbaikan yang bisa Kita lakukan dan mengubah takdir. Perbaiki keterampilan dan kapasitas Kita dengan membaca buku lebih sering, mendengarkan podcast yang bermanfaat, mengikuti seminar, workshop, atau mengikuti kelas pelatihan di bidang tertentu. Jangan pernah berhenti untuk belajar, meskipun saat ini Kita telah menyelesaikan pendidikan formal. Namun, bukankah mengikuti pelatihan atau pendidikan membutuhkan biaya? Memang benar, namun Kita tidak perlu merasa khawatir dengan hal tersebut. Sebab, saat ini telah tersedia pinjaman dana yang bisa digunakan untuk mengikuti pendidikan non-formal dan formal.

Hal yang perlu diingat adalah kegagalan dan nasib buruk tergantung dari cara Kita memandangnya.

Apakah Kita memilih untuk berdiam diri dan meratapi nasib atau berusaha untuk mengubah takadir menjadi lebih baik.

 

4 Cara Merubah Nasib yang Paling Efektif

Tidak ada yang tidak mungkin” tentu kata-kata ini sudah seringkali kalian dengar. Saat mendengar kata tersebut secara tidak langsung kalian akan berpikir bahwa memang merubah nasib adalah hal yang mungkin terjadi.

Menurut data yang dikumpulkan oleh Forbes bahwa terdapat 1700 orang di Amerika menjadi jutawan setiap harinya. Dibalik data tersebut sebanyak 41% dari 177 jutawan lahir dan dibesarkan dalam kemiskinan. Tentunya, banyak cara yang bisa dilakukan untuk lepas dari rantai kemiskinan dan merubah nasib tersebut dengan cara merubah kebiasaan sehari-harinya.

1.     Berhenti Mempercayai Adanya Nasib Sial di Luar Dirimu Sendiri.Banyak orang yang memiliki kepercayaan diri atau percaya dengan nasib yang diterima saat ini adalah memang nasibnya dan tidak dapat diubah. Karena hal tersebut membuat mereka akhirnya tidak melakukan usaha untuk merubah nasibnya itu.  Sifat ini lah yang harus dihindari karena dengan terlalu percaya dan terima nasib akan membuat seseorang berhenti berusaha dan terus mengeluh atas apa yang sudah didapatkan tetapi tidak sesuai dengan harapannya.  Hal di atas tidak akan dilakukan oleh mereka yang sekarang sudah mencapai kesuksesan, karena mereka memiliki cara pandang yang sebaliknya. Mereka juga percaya bahwa apa yang terjadi dalam hidup ini akan berubah apabila mereka berusaha untuk berubah. Mereka cenderung memiliki pola pikir yang proaktif yaitu siap untuk mencoba hal yang baru, tertarik untuk menemukan cara yang bisa mengubah takdir agar mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan terpenting mereka tidak akan menyalahkan nasib, karena mereka sudah mengetahui cara merubah nasib. Sikap terbaik adalah belajar dari apa yang sudah terjadi serta memperbaiki setiap kesalahan lalu melanjutkan kehidupan yang lebih lagi.

2.     Ubah Cara Berpikir. Ubah cara berpikir dengan tidak hanya berfokus kepada kesalahan serta melihatnya sebagai nasib yang kurang beruntung. Dengan selalu berpikir seperti itu tentu kamu akan memiliki pemikiran yang negatif dan berhenti berusaha. Perlu diingat juga bahwa dibalik setiap kegagalan tentu terdapat faktor yang menjadi penyebabnya. Faktornya yaitu malas, kurangnya informasi serta pengetahuan serta kurangnya keterampilan yang dimiliki. Karenanya, kamu harus meningkatkan keterampilan yang dimiliki dengan beberapa cara seperti membaca buku, mengikuti seminar serta ikut workshop atau kelas pelatihan pada bidang tertentu.

3.     Menggabungkan Kebiasaan Anda. Mengubah kebiasaan memang salah satu hal yang sulit untuk dilakukan, karena dengan mengubah kebiasaan tentu akan berdampak pada kehidupan sehari-harimu. Namun, tidak perlu meninggalkan seluruh kebiasaanmu untuk mengubah nasib. Yang kamu lakukan hanya dengan menggabungkan kebiasaan lamamu dengan kebiasaan baru yang mudah untuk dilakukan serta tidak bertentangan jauh dengan kebiasaan lamamu. Dengan ini kamu akan terbiasa dengan kebiasaan baru lalu tanpa sadar akan mencari kebiasaan baru lainnya dan menjadikan hal ini sebagai salah satu cara merubah nasib kamu.

4.     Perubahan Kecil. Biasanya perubahan kecil tentu akan melibatkan kebiasaan tambahan yang hanya membutuhkan sedikit usaha. Contoh mudahnya adalah dengan minum lebih banyak air pada siang hari, rutin konsumsi suplemen vitamin atau membaca berita atau informasi saat pergi bekerja. Selain itu juga perubahan kecil termasuk untuk mengurangi kebiasaan buruk yang ada seperti tidak lagi mengkonsumsi rokok, mengurangi menonton tv hingga mengurangi penggunaan sosial media. Semakin kecil dan semakin mudah untuk mengubah kebiasaan akan semakin tinggi kemungkinannya untuk berubah.

 

Merubah Nasib dalam Islam

Nasib dan takdir merupakan satu kesatuan dari ketetapan Allah SWT pada kehidupan hambanya. kedua hal ini tidaklah dapat dipisahkan begitu saja.

Mungkin sebagian orang tidak percaya bahwa takdir hidup dapat diubah menjadi lebih baik. Berusaha dan berdoa.

Bila hidup kita susah, itu adalah nasib dan kita masih bisa untuk merubahnya tentunya dengan berusaha dan berdoa sertan tawaqal kepada-Nya. Saat nasib kita telah berubah, kita berhasil, hidup kita menjadi lebih baik, saat itulah secara tidak langsung kita juga merubah takdir Allah SWT.

Cara untuk merubah nasib dalam Islam.

Niat.

Jangan sepelekan dengan kekuatan niat. Niat akan membawa keberhasilan. Bagaimana Anda akan mendapatkan sesuatu jika Anda tidak meniatkan diri untuk mendapatkan. Adalah betul, niat saja tidak cukup dan saya tidak mengatakan hanya niat untuk meraih sukses. Yang saya maksudkan adalah niat sebagai awal Anda dalam meraih sukses sebagai cara membersihkan hati dan pikiran .

Rasulullah saw bersabda dalam sebuah hadist :

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. (HR Bukhari Muslim).

 

Miliki Ilmu.

Menuntut ilmu ada kewajiban kita sebagai umat Islam. Yang salah adalah menuntut ilmu saja tanpa diamalkan. Menjadi bodoh karena malas menuntut ilmu juga salah. Bertindak tanpa ilmu seperti berjalan di kegelapan.

“Dan sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu atas orang yang ahli ibadah seperti keutamaan (cahaya) bulan purnama atas seluruh cahaya bintang. (H.R. Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majjah)

“Barangsiapa menginginkan sukses dunia hendaklah diraihnya dengan ilmu dan barangsiapa menghendaki sukses akherat hendaklah diraihnya dengan ilmu, barangsiapa ingin sukses dunia akherat hendaklah diraih dengan ilmu” ~Iman Syafi’i

Jika Anda mau sukses dalam karir, maka pelajari berbagai ilmu yang berkaitan dengan karir. Contohnya yang berkaitan dengan kemampuan spesifik yang berkaitan dengan kerja Anda. Juga jangan lupakan ilmu-ilmu soft skill yang sepertinya tidak nyambung, padahalnya sangat penting untuk keberhasilan karir Anda. Ilmu berhubungan dengan manusia dan leadership juga sangat penting. Dengan ilmu, kualitas tindakan, pemikiran, ide-ide, termasuk keputusan Anda akan lebih baik. Jangan takut pusing karena kebanyakan ilmu. Justru semakin banyak ilmu akan semakin terang jalan kita.

 

Berubah ke Arah lebih baik.

Allah yang menentukan, namun perintah Allah juga agar kita mau mengubah diri sendiri. Maka, jika Anda ingin meraih apa yang Anda inginkan atau mengubah kondisi Anda, maka berubahlah.

“Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum itu sendiri yang mengubah nasib atau keadaan yang ada pada dirinya ” (QS Ar-Ra’d:11)

 

Jangan Lupa Berdoa.

Hadits dari Imam Turmudzi dan Hakim, diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, bahwa Nabi SAW Bersabda : “Barangsiapa hatinya terbuka untuk berdo’a, maka pintu-pintu rahmat akan dibukakan untuknya. Tidak ada permohonan yang lebih disenangi oleh Allah daripada permohonan orang yang meminta keselamatan. Sesungguhnya do’a bermanfa’at bagi sesuatu yang sedang terjadi dan yang belum terjadi. Dan tidak ada yang bisa menolak taqdir kecuali doa, maka berpeganglah wahai hamba Allah pada doa”. (HR Turmudzi dan Hakim)

Kapan kita harus berdoa? Jawabannya setiap saat. Selain waktu-waktu tertentu yang mustajab, kita juga perlu terus memanjatkan doa kita setiap saat. Berdoa itu tidak selamanya dengan kalimat-kalimat tertentu saja. Sehabis shalat dhuha memang ada doa yang dicontohkan. Begitu juga sehabis shalat tahajud apalagi wajib. Ada da yang sudah dicontohkan dan kita boleh dengan menambah dengan doa sendiri sesuai keinginan kita.

 

Jangan Lupa Bersedekah

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Baqarah: 261)

 

Tetap Syukuri Keadaan yang Ada

“Jika kamu bersyukur pasti akan aku tambah (nikmat-Ku) untukmu dan jika kamu kufur maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih” (QS Ibrahim: 7)

Ini adalah topik yang menarik. Bagaimana syukur akan meningkatkan kesuksesan Anda. Allah akan menambah nikmat orang-orang yang bersyukur. Namun kebanyakan orang tidak bersyukur. Padahal banyak sekali yang bisa kita syukuri. Nikmat Allah begitu banyak.Jadikan syukur sebagai keseharian kita. Jadikan syukur sebagai kebiasaan kita. Tidak melulu hanya bersyukur saat mendapatkan nikmat yang baru. Nikmat yang sudah kita miliki sejak lahir pun perlu kita syukuri setiap saat. Jangan pelit bersyukur karena Allah tidak pelit memberi nikmat kepada kita.

 

Tawakkal

Dari Umar bin Khoththob radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-sebenarnya tawakkal, niscaya Dia akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada seekor burung yang pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi)

Tawakal sangat berkaitan dengan do’a. Saat Anda berdo’a ingin dilancarkan usaha Anda, ini salah satu bentuk tawakal. Mudah-mudahan Anda sudah memahami bahwa tawakal bukan berarti diam. Tawakal dan ikhtiar keduannya bisa dilakukan bersamaan. Secara fisik Anda bekerja sementara hati Anda bertawakal kepada Allah

 

Jangan Menyerah

Selanjutnya untuk merubah diri menjadi lebih baik, Anda tidak boleh mudah menyerah. Proses berhijrah itu sulit. Bahkan mungkin menimbulkan pertentangan baik dari dalam hati ataupun orang sekitar. Maka itu, Anda harus kuat. Tidak apa-apa jika Anda melakukannya secara perlahan. Asalkan jangan mundur ke belakang kembali. Percayalah bahwa Allah Ta’ala tidak akan membiarkanAndaa berjalan sendirian. Dia selalu ada di dekat Anda. Hanya saja Anda tidak bisa melihatnya. Allah Ta’ala itu Maha Menyayangi dan Mengasihi hamba-hambaNya. Jadi tak perlu bersedih sebab selalu ada Allah Ta’ala yang membantu perjuangan Anda.

.

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)