Hubbud Dunya

0

 Hubbud Dunya 





Hubbud dunya adalah penyakit hati berbahaya berupa cinta dunia secara berlebihan, yang menyebabkan seseorang mengagungkan urusan duniawi, serakah, dan lalai terhadap akhirat. Istilah ini berasal dari bahasa Arab, "hubbun" (cinta) dan "ad-dunya" (dunia), yang dianggap akar dari segala kesalahan dan pemicu kerusakan akhlak. 


Ciri-ciri dan Dampak Hubbud Dunya:

1. Mengabaikan Akhirat : Menjadikan dunia sebagai tujuan utama, bukan sarana ibadah.

2. Sifat Tercela: Timbulnya sifat tamak, rakus, kikir (pelit), pamer (riya), dan angkuh.

3. Menghalalkan Cara: Menghalalkan segala cara untuk memperoleh harta dan kedudukan.

4. Hilangnya Kelezatan Ibadah: Malas beribadah, tidak khusyuk shalat, dan takut mati. 


Cara Menghindari Hubbud Dunya :

1. Qana'ah: Merasa cukup dengan apa yang dimiliki dan bersyukur.

2. Mengingat Kematian: Menyadari bahwa dunia hanyalah tempat sementara (titipan).

3. Perbanyak Sedekah: Melatih hati agar tidak terikat pada harta.

4. Zuhud: Menempatkan dunia di tangan, bukan di hati. 


Nabi Muhammad SAW memperingatkan bahwa hubbud dunya dapat membuat umat Islam lemah dan terpecah. Rasulullah SAW bersabda, "Cinta kepada dunia adalah pangkal semua kesalahan". 


Istilah Hubbud Dunya berasal dari bahasa Arab (Hubb artinya cinta, dan Ad-Dunya artinya dunia). Secara harfiah, ini berarti "Cinta Dunia".

Dalam perspektif Islam, istilah ini memiliki makna yang cukup mendalam dan biasanya merujuk pada kondisi spiritual seseorang. Berikut adalah poin-poin penting untuk memahaminya :

1. Definisi Spiritual

Hubbud Dunya adalah penyakit hati di mana seseorang merasa bahwa dunia adalah tujuan utamanya. Fokus hidupnya hanya tertuju pada kenikmatan materi, popularitas, kekuasaan, atau kesenangan fisik, sehingga ia melupakan kehidupan akhirat.

2. Bahayanya dalam Ajaran Islam

Ada sebuah ungkapan (sering dikutip sebagai hadis, meski derajatnya didiskusikan oleh para ulama) :

"Hubbud dunya ra’su kulli khathi’ah" Artinya: "Cinta dunia adalah akar dari setiap kesalahan/perbuatan dosa."


Mengapa dianggap akar dosa ? Karena ketika seseorang terlalu mencintai dunia, ia cenderung :

- Menghalalkan segala cara demi mendapatkan apa yang diinginkan.

- Kikir dan enggan berbagi karena takut hartanya berkurang.

- Lalai dalam ibadah karena terlalu sibuk mengurus urusan duniawi.

- Hasad (Iri Dengki) terhadap pencapaian orang lain.


3. Apakah Tidak Boleh Memiliki Harta ? Penting untuk dibedakan antara memiliki dunia dan mencintai dunia.

- Boleh: Menjadi kaya, memiliki jabatan, atau sukses dalam karier.

- Tidak Boleh: Membiarkan harta atau jabatan tersebut "menguasai hati" dan membuat kita jauh dari Tuhan.


Ulama sering mengibaratkan dunia seperti air di laut dan manusia seperti kapal :

- Kapal bisa berlayar selama air berada di bawahnya. Namun, jika air masuk ke dalam kapal, maka kapal itu akan tenggelam. Begitu juga manusia; dunia harus ada di tangan (untuk digunakan sebagai sarana), bukan di hati (sebagai tujuan).


4. Cara Mengobati Hubbud Dunya

- Mengingat Kematian: Menyadari bahwa semua yang dimiliki di dunia bersifat sementara.

- Zuhud: Merasa cukup dengan apa yang ada dan tidak terlalu bersedih jika kehilangan sesuatu yang bersifat duniawi.

- Sedekah: Melatih diri untuk melepaskan keterikatan pada materi.



5 Ayat Al Qur'an Tentang Hubbud Dunya 

Cinta dunia dalam Bahasa Arab disebut sebagai hubbud dunya, artinya adalah rasa cinta berlebihan terhadap dunia sehingga membuat terlena dan melupakan Allah SWT.

Orang yang cinta dunia biasanya gemar melakukan sesuatu hal yang kurang bermanfaat untuk kepentingan akhirat. Di dalam pikiran orang-orang yang hubbud dunya hanyalah dunia dan dunia, mereka lupa bahwa suatu saat akan mati dan menghadapi negeri akhirat yang abadi.


Bahaya Cinta Dunia

Sehingga tak heran jika cinta dunia merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya karena bisa menggoyahkan keimanan akibat terlena harta benda duniawi yang melenakan dan membuai. Orang yang cinta dunia pun takut akan kematian. Sehingga mereka pun mengidap penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati).

Rasulullah SAW. juga memperingatkan perihal cinta dunia ini dalam sabdanya, “Cinta kepada dunia adalah pangkal semua kesalahan.” (H.R. Baihaqi dari Imam Hasan Al-Bashri).


Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara. 

Apalah artinya dunia ini bagiku ? 

Apa urusanku dengan dunia ? 

Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan dunia ini ialah seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon, ia istirahat (sesaat) kemudian meninggalkannya. (H.R. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim).


Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “’Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, /mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring’ Kemudian seseorang bertanya, ’Katakanlah Wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit ?’ Rasulullah berkata, ‘Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya, ‘Apa itu ’wahn’?’

Rasulullah berkata,’Cinta dunia dan takut mati.’” (H.R. Abu Daud dan Ahmad).


Maka, berhati-hatilah dengan penyakit hubbud dunya karena sangat buruk akibatnya.


“Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya,dan ia mendapat dunia menurut apa yang telah ditetapkan baginya. Dan barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allah akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.” (H.R. Ahmad, Ibnu Hibban, dan Ibnu Majah).



Ayat Al-Qur’an Hubbud Dunya 

Selain dalam hadis Rasulullah saw., perihal hubbud dunya ini diabadikan dalam

beberapa firman-Nya dalam Al-Qur’an berikut ini :

1. Surah Al-Ankabut Ayat 64

“Kehidupan dunia

ini tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan. Sesungguhnya negeri akhirat

itulah kehidupan yang sebenarnya seandainya mereka mengetahui.”


Surah Al-'Ankabut - العنكبوت

Ayat ke-64

       

وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌۗ وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ64

Artinya :

Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.


Tafsir Kemenag :

Ayat ini menerangkan hakikat kehidupan duniawi, terutama kepada orang-orang musyrik yang teperdaya dengan kehidupan duniawi. Diterangkan bahwa kehidupan duniawi itu hanyalah permainan dan senda gurau saja, bukan kehidupan yang sebenarnya. Pandangan dan pikiran orang-orang musyrik telah tertutup, sehingga mereka telah disibukkan oleh urusan duniawi. Mereka berlomba-lomba mencari harta kekayaan, kekuasaan, kesenangan, dan kelezatan yang ada padanya, seakan-akan kehidupan dunia ialah kehidupan yang sebenarnya bagi mereka. Andaikata mereka mau mengurangi perhatian mereka kepada kehidupan duniawi itu sedikit saja, dan memandangnya sebagai medan persiapan untuk bekal dalam kehidupan lain yang lebih kekal dan abadi, serta mau pula mendengarkan ayat-ayat Allah, tentulah mereka tidak akan durhaka dan mempersekutukan Allah. Andaikata mereka mendengarkan seruan rasul dengan menggunakan telinga, akal, dan hati, mereka tidak akan tersesat dari jalan Allah.

Kemudian Allah menerangkan bahwa kehidupan yang hakiki itu adalah kehidupan akhirat, dan ia merupakan sisi lain dari kehidupan manusia, yaitu kehidupan yang diliputi oleh kebenaran yang mutlak. Kehidupan dunia adalah kehidupan yang di dalamnya bercampur baur antara kebenaran dan kebatilan, sedangkan dalam kehidupan akhirat, kebenaran dan kebatilan telah dipisahkan. Kehidupan akhirat banyak ditentukan oleh kehidupan dunia yang dijalani seseorang, dan tergantung kepada amal dan usahanya sewaktu masih hidup. Kehidupan dunia dapat diibaratkan dengan kehidupan masa kanak-kanak, sedang kehidupan akhirat dapat diibaratkan dengan kehidupan masa dewasa. Jika seseorang pada masa kanak-kanak mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh, seperti belajar dan bekerja dengan tekun, maka kehidupan masa dewasanya akan menjadi kehidupan yang cerah. Sebaliknya jika ia banyak bermain-main dan tidak menggunakan waktu sebaik-baiknya, maka ia akan mempunyai masa dewasa yang suram.

Demikianlah halnya dengan kehidupan akhirat, tergantung kepada amal dan usaha seseorang sewaktu masih hidup di dunia. Jika ia selama hidup di dunia beriman dan beramal saleh, maka kehidupannya di akhirat akan baik dan bahagia. Sebaliknya jika ia kafir dan mengerjakan perbuatan-perbuatan yang terlarang, ia akan mengalami kehidupan yang sengsara di akhirat nanti.

Pada akhir ayat ini, Allah memperingatkan kepada orang-orang musyrik agar mengetahui hakikat hidup. Andaikata mereka mendalami dan mengetahui hal itu, tentu mereka tidak akan tersesat dan teperdaya oleh kehidupan dunia yang fana ini. Setiap orang yang berilmu dan mau mempergunakan akalnya dengan mudah dapat membedakan antara yang baik dengan yang buruk, antara yang benar dan yang salah, dan sebagainya.



2. Surah Al-Hijr Ayat 3

“Biarkanlah mereka (di

dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong)

mereka, kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya).”

Al-Hijr · Ayat 3


ذَرْهُمْ يَأْكُلُوْا وَيَتَمَتَّعُوْا وَيُلْهِهِمُ الْاَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُوْنَ ۝٣

dzar-hum ya'kulû wa yatamatta‘û wa yul-hihimul-amalu fa saufa ya‘lamûn

Artinya :

Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan, bersenang-senang, dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong). Kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya).


Tafsir Wajiz / Tafsir Tahlili :

Wahai Nabi Muhammad dan kaum muslim, apabila mereka tetap keras pada pendiriannya, biarkanlah mereka di dunia ini makan dan bersenang-senang dan terus dilalaikan oleh angan-angan kosong mereka dari beriman, mengikuti dakwahmu, dan hal-hal penting lainnya. Kelak mereka akan mengetahui akibat perbuatan buruk yang pernah mereka lakukan.



3. Surah Al-Haqqah Ayat 25-29

“Dan adapun orang yang

kitabnya diberikan di tangan kirinya, maka dia berkata, ‘Alangkah baiknya jika

kitabku (ini) tidak diberikan kepadaku. Sehingga aku tidak mengetahui bagaimana

perhitunganku, Wahai, kiranya (kematian) itulah yang menyudahi segala sesuatu.

Hartaku sama sekali tidak berguna bagiku. Kekuasaanku telah hilang dariku.’”


Tafsir Surat Al-Haqqah, ayat 25-37 :


وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْ (25) وَلَمْ أَدْرِ مَا حِسَابِيَهْ (26) يَا لَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ (27) مَا أَغْنَى عَنِّي مَالِيَهْ (28) هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ (29) خُذُوهُ فَغُلُّوهُ (30) ثُمَّ الْجَحِيمَ صَلُّوهُ (31) ثُمَّ فِي سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُونَ ذِرَاعًا فَاسْلُكُوهُ (32) إِنَّهُ كَانَ لَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ (33) وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (34) فَلَيْسَ لَهُ الْيَوْمَ هَاهُنَا حَمِيمٌ (35) وَلَا طَعَامٌ إِلَّا مِنْ غِسْلِينٍ (36) لَا يَأْكُلُهُ إِلَّا الْخَاطِئُونَ (37)

Artinya :

Adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kirinya, maka dia berkata,'' Wahai, alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai, kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesaatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku dariku." (Allah berfirman), "Peganglah dia, lalu belenggulah tangannya ke lehernya.” Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Mahabesar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin. Maka tiada seorang teman pun baginya pada hari ini di sini, Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa.

Ini merupakan berita tentang keadaan yang dialami oleh orang-orang yang celaka apabila seseorang dari mereka menerima kitab catatan amalnya dari sebelah kirinya di tempat hisab hari kiamat. Maka pada hari itu dia menyesali amal yang telah dilakukannya di dunia dengan penyesalan yang tiada taranya.


{فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْ وَلَمْ أَدْرِ مَا حِسَابِيَهْ يَا لَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ}

Artinya : Maka dia berkata, "Wahai, alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai, kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu." (Al-Haqqah: 25-27)


Ad-Dahhak mengatakan yakni kematian yang tiada kehidupan lagi sesudahnya. Hal yang sama dikatakan oleh Muhammad ibnu Ka'b, Ar-Rabi', dan As-Saddi.

Qatadah mengatakan bahwa orang kafir saat itu menginginkan kematian, padahal ketika di dunia tiada sesuatu pun yang lebih dibencinya selain kematian.


{مَا أَغْنَى عَنِّي مَالِيَهْ هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ}

Artinya :

Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku dariku. (Al-Haqqah: 28-29)


Yakni harta dan kedudukanku tidak dapat membelaku dari azab Allah dan pembalasan-Nya, bahkan segala sesuatunya ditanggung oleh diriku, tiadayang menolongku dan tidak ada orang yang melindungiku. Maka di saat itulah Allah SWT berfirman :


{خُذُوهُ فَغُلُّوهُ ثُمَّ الْجَحِيمَ صَلُّوهُ}

Artinya :

Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. (Al-Haqqah: 30-31)


Allah SWT. memerintahkan kepada Malaikat Zabaniyah (juru siksa) untuk memegangnya dengan kasar dari tempat perhimpunan, lalu lehernya dibelenggu, kemudian diseret ke neraka Jahanam, lalu dimasukkan ke dalamnya, dan api neraka Jahanam menelannya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Khalid, dari Amr ibnu Qais, dari Al-Minhal ibnu Amr yang mengatakan bahwa tatkala Allah Swt. berfirman, "Peganglah dia !" Maka berebutan untuk menanganinya sebanyak tujuh puluh ribu malaikat, masing-masing dari mereka melakukan hal yang sama, maka ia menjumpai tujuh puluh ribu malaikat itu di dalam neraka. Ibnu Abud Dunia mengatakan di dalam kitab Al-Ahw'ah bahwa orang kafir didatangi oleh empat ratus ribu malaikat, dan tiada sesuatu pun melainkan memukulinya, lalu si orang kafir itu berkata, "Aku tidak punya salah denganmu." Maka yang memukulinya berkata, "Sesungguhnya Tuhan murka terhadapmu, maka segala sesuatu murka pula terhadapmu."

Al-Fudail ibnu Iyad mengatakan bahwa tatkala Allah Swt. berfirman, "Peganglah dia dan belenggulah dia," maka berebutan untuk melaksanakannya sebanyak tujuh puluh ribu malaikat, untuk memperebutkan siapa yang paling dahulu dari mereka yang memasang belenggu di leher si kafir itu.


{ثُمَّ الْجَحِيمَ صَلُّوهُ}

Artinya :

Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. (Al-Haqqah: 31)


Maksudnya, lemparkanlah dia ke dalamnya.

Firman Allah SWT :


{ثُمَّ فِي سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُونَ ذِرَاعًا فَاسْلُكُوهُ}

Artinya :

Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. (Al-Haqqah: 32)


Ka'bul Ahbar mengatakan bahwa setiap mata rantai darinya sama dengan semua besi yang ada di dunia. Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Ibnu Juraij, bahwa hasta ini berdasarkan hasta malaikat.

Ibnu Juraij mengatakan bahwa Ibnu Abbas telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Kemudian belitlah dia. (Al-Haqqah: 32) Yakni rantai itu dimasukkan dari liang duburnya, kemudian dikeluarkan dari mulutnya. Kemudian mereka disate dalam rantai itu sebagaimana belalang dimasukkan ke dalam tusuk sate saat hendak dipanggang.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa rantai itu dimasukkan dari liang anusnya, kemudian dikeluarkan dari kedua lubang hidungnya agar ia tidak dapat berjalan pada kedua kakinya.


قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ إِسْحَاقَ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهُ، أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ يَزِيدَ، عَنْ أَبِي السَّمْحِ، عَنْ عِيسَى بْنِ هِلَالٍ الصَّدَفي، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "لَوْ أَنَّ رَصَاصة مِثْلَ هَذِهِ -وَأَشَارَ إِلَى [مِثْلِ] جُمْجُمة-أُرْسِلَتْ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ، وَهِيَ مَسِيرَةُ خَمْسِمِائَةِ سَنَةٍ، لَبَلَغَتِ الْأَرْضَ قَبْلَ اللَّيْلِ، وَلَوْ أَنَّهَا أُرْسِلَتْ مِنْ رَأْسِ السِّلْسِلَةِ، لَسَارَتْ أَرْبَعِينَ خَرِيفًا الليلَ والنهارَ، قَبْلَ أَنْ تَبْلُغَ قَعْرَهَا أَوْ أَصْلَهَا".

Artinya :

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Ishaq, telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Yazid, dari Abus Samah, dari Isa ibnu Hilal As-Sadafi, dari Abdullah ibnu Amr yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. Pernah bersabda: Seandainya sebuah batu sebesar ini seraya menunjuk ke arah sebuah tengkorak kepala kambing dilemparkan dari langit ke bumi yang jaraknya sama dengan perjalanan lima ratus tahun, niscaya batu itu telah sampai ke bumi sebelum malam tiba. Tetapi seandainya batu ini dilemparkan dari ujung rantai tersebut, niscaya ia masih terus terjatuh selama empat puluh musim gugur (tahun), malam dan siang harinya (tanpa berhenti) sebelum mencapai pada bagian bawahnya atau pangkalnya.

Imam Turmuzi mengetengahkannya dari Suwaid ibnu Sa'id, dari Abdullah ibnul Mubarak dengan sanad yang sama. Dan Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini sahih.


Firman Allah SWT :


{إِنَّهُ كَانَ لَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ وَلا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ}

Artinya :

Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Mahabesar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin. (Al-Haqqah: 33-34)


Yakni dia tidak pernah menunaikan hak Allah yang menjadi kewajibannya, seperti amal ketaatan dan menyembah kepada-Nya, tidak mau memberi manfaat kepada makhluk-Nya serta tidak mau menunaikan hak mereka yang ada pada hartanya. Karena sesungguhnya menjadi kewajiban bagi hamba-hamba Allah untuk mengesakan-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, juga sudah menjadi kewajiban bagi sebagian dari mereka atas sebagian yang lainnya menunaikan kebajikan dan bantu-membantu dalam hal kebajikan dan ketakwaan.

Karena itulah maka Allah memerintahkan manusia untuk mendirikan salat dan menunaikan zakat. Dan ketika Nabi Saw. mengembuskan nafas terakhirnya, beliau sempat bersabda :


"الصَّلَاةَ، وما ملكت أيمانكم"

Artinya :

Peliharalah salat, dan budak-budak yang dimiliki oleh kalian.


Firman Allah SWT :


{فَلَيْسَ لَهُ الْيَوْمَ هَاهُنَا حَمِيمٌ وَلا طَعَامٌ إِلا مِنْ غِسْلِينٍ لَا يَأْكُلُهُ إِلا الْخَاطِئُونَ}

Artinya :

Maka pada hari ini tiada seorang teman pun baginya di sini. Dan tiada (pula) makanan sedikit pun (baginya) kecuali dari darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa. (AL-Haqqah: 35-37)


Pada hari ini tiada seorang pun yang dapat menyelamatkannya dari azab Allah. Hamim artinya teman dekat. Tiada teman dekat. tiada pemberi syafaat yang didengar, dan tiada makanan baginya di sini kecuali gislin. Menurut Qatadah, gislin adalah makanan yang paling buruk bagi penduduk neraka. Ar-Rabi' dan Ad-Dahhak mengatakan bahwa gislin adalah nama sebuah pohon di dalam neraka Jahanam.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Mansur ibnu Abu Muzahim, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al-Mu'addib, dari Khasif, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ia tidak mengetahui apa itu gislin, tetapi ia mempunyai dugaan kuat bahwa gislin adalah nama lain dari pohon zaqqum.

Syabib ibnu Bisyr telah meriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang telah mengatakan bahwa gislin adalah darah dan nanah yang mengalir dari tubuh mereka sendiri. Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa gislin adalah keringat atau nanah ahli neraka.



4. Surah Al-Munafiqun Ayat 9

“Wahai orang-orang

yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari

mengingat Allah. Dan barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.”


Al-Munafiqun · Ayat 9


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ ۝٩

yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ tul-hikum amwâlukum wa lâ aulâdukum ‘an dzikrillâh, wa may yaf‘al dzâlika fa ulâ'ika humul-khâsirûn

Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta bendamu dan anak-anakmu membuatmu lalai dari mengingat Allah. Siapa yang berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang merugi.


Tafsir Wajiz / Tafsir Tahlili :

Pada ayat ini Allah mengingatkan orang-orang beriman agar kesibukan mengurus harta dan memperhatikan urusan anak tidak menghalangi ibadah kepada Allah. Wahai orang-orang yang beriman di mana pun berada! Janganlah harta bendamu yang kamu cari dan anak-anakmu yang kamu sayangi, melalaikan kamu dari mengingat Allah, yakni salat lima waktu dan aturan-aturan Allah tentang bekerja, bermasyarakat, dan bernegara. Dan barang siapa berbuat demikian, melalaikan ibadah dan aturan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang rugi, karena kebutuhan ruhaninya tidak terpenuhi dan hidupnya tidak seimbang.



5. Surah Al-Hadid Ayat 20

“Ketahuilah, bahwa

sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan,

perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang

banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para

petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian

menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari

Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah

kesenangan yang menipu.”


Al-Hadid · Ayat 20


اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ ۝٢٠

i‘lamû annamal-ḫayâtud-dun-yâ la‘ibuw wa lahwuw wa zînatuw wa tafâkhurum bainakum wa takâtsurun fil-amwâli wal-aulâd, kamatsali ghaitsin a‘jabal-kuffâra nabâtuhû tsumma yahîju fa tarâhu mushfarran tsumma yakûnu huthâmâ, wa fil-âkhirati ‘adzâbun syadîduw wa maghfiratum minallâhi wa ridlwân, wa mal-ḫayâtud-dun-yâ illâ matâ‘ul-ghurûr

Artinya : Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan. (Perumpamaannya adalah) seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, lalu mengering dan kamu lihat menguning, kemudian hancur. Di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Kehidupan dunia (bagi orang-orang yang lengah) hanyalah kesenangan yang memperdaya.


Tafsir Wajiz / Tafsir Tahlili :

Wahai orang mukmin, ketahuilah sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendagurauan. Karena itu, jangan sampai kamu larut di dalamnya. Kehidupan dunia ini juga merupakan perhiasan bagimu dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan. Semua itu seperti hujan yang menumbuhkan tanam-tanamannya sehingga mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering saat kemarau dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Itulah permisalan bagi kehidupan dunia yang fana. Dan ketahuilah, di akhirat nanti ada azab yang keras bagi mereka yang ingkar dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya bagi orang yang beriman dan mematuhi ajaran-Nya. Dan kehidupan dunia yang sekarang kamu nik-mati tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.




Imajiner Nuswantoro 



Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)