KITAB WARUGA JAGAT TRANSKRIP DARI HURUF PEGON & TERJEMAHANNYA
Kitab Waruga Jagat adalah sebuah manuskrip yang unik karena ditulis dalam tiga bahasa: Arab, Sunda, dan Jawa, menggunakan aksara Arab dan Cacarakan. Manuskrip berbentuk prosa ini terdiri dari 116 halaman yang ditulis pada kertas saeh, kertas tradisional yang terbuat dari kulit kayu. Secara fisik, naskah ini sebagian besar rusak, terutama di bagian awal dan akhir, namun tetap menyimpan informasi berharga. Manuskrip ini terbagi menjadi dua bagian utama. Bagian pertama mengisahkan riwayat para nabi, wali, dan raja-raja di Pulau Jawa, khususnya di Pasundan (Jawa Barat) yang memerintah di Kerajaan Sunda yang berpusat di Galuh, Pakuan Pajajaran, dan Sumedang Larang. Bagian kedua berisi penjelasan tentang ajaran agama Islam, termasuk berbagai doa seperti doa Maulid, serta petunjuk praktis mengenai pertanian dan peternakan. Kitab ini ditulis oleh R. Ngabehi Parano / Perana, pada tahun 1117 H/1706 M. Manuskrip ini disimpan di Museum Pangeran Geusan Ulun. Ukuran sampul naskah ini adalah 26 x 19 cm, sedangkan ukuran halamannya 25 x 17,5 cm dan ukuran tulisannya 23 x 14 cm. Penomoran halaman diberikan kemudian dari nomor 1 hingga 114.
Kitab Waruga Jagat merupakan sebagian kecil dari isi naskah yang tersimpan di Museum Yayasan Pangerang Sumedang (YPS) di Sumedang. Bagian yang lainnya dari naskah tersebut merupakan semacam perimbon, yang isinya terdiri dari bermacam-macam hal, sebagai catatan yang berhubungan dengan ilmu kebatinan.
Naskah tersebut tidak berasal dari kertas biasa, melainkan dari bahan yang dikenal dengan nama “kulit sach”, sejenis daluang yang terbuat dari kulit kayu. Hingga kini pembuatan daluang dari kulit sach itu masih diproduksi orang di daerah Wanaraja, kabupaten Garut, dipergunakan sebagai alat pembungkus. Naskah itu berukuran kwarto, yang tidak mengenai Kitab Waruga Jagat tertulis dalam huruf ‘pegon’ (Arab Jawa) dengan bahasa Jawa-Sunda, tebalnya hanya terdiri dari atas 12 lembar.
Kecuali sebuah naskah yang tersebut diatas, pada Yayasan Pangerang Sumedang, tersimpan pula dua buah naskah yang lain, sebuah di antaranya ialah Silsilah Keturunan Bupati-bupati Sumedang, mempergunakan bahasa Jawa-Sunda, berhuruf pegon, dengan bahan kertas biasa, berukuran folio, ditulis atas nama Raden Adipati Suryalaga II, yang pernah menjadi bupati di Bogor, Karawang dan Sukapura, masa hidupnya sezaman dengan Pangeran Kornel, pada abad ke 18 – 19 M.Yang sebuah lagi ialah naskah dengan bahan kulit sach dalam keadaan sangat rusak, paling tebal di antaranya yang ketiga, sukar ditebak apa isinya, mempergunakan bahasa dan huruf Jawa-Sunda yang sulit dibaca, dalam bentuk puisi/kidung.
Setelah dibaca dengan susah payah, karena hanya bagian tengahnya yang dapat dibaca agak lengkap, berhubung sebagian terbesar telah hancur dimakan tikus, dan barulah diketahui insinya, antara lain mengenai uraian masa percintaan antara Mundingsari dengan puteri Ambetkasih di Negara Sindangkasih. Setelah bagian itu diketahui, barulah dapat ditentukan, bahwa naskah yang sangat rusak itu adalah “babad Siliwangi”, naskah aslinya, sedangkan di Museum Pusat Jakarta, hanya tersimpan copy/turunannya, dengan judul yang sama, turunan naskah itu dikerjakan oleh Raden Panji Surya Wijaya, Betawi tahun 1866.
Di dalam naskah itu selain dapat kita telaah deretan silsilah penguasa-penguasa yang menurut kepercayaan masyarakat pernah berkuasa di tanah air kita, juga dihubungkan dengan penguasa-penguasa yang pernah memegang peranan dalam penyebaran agama Islam di dunia, yang menurut anggapan penulis, secara tradisionil kesemuanya itu bertalian kerluarga satu sama lainnya. Dan demikianlah makna sesungguhnya istilah Waruga Jagat.
Jika kita perhatikan arti kata ‘Waruga’ itu sendiri, maka perlu diperingatkan akan makna yang diberikan oleh S.M. Pleyte (C.M. Pleyte, 1913, “De Patapan Adjar Soekasari, anders Gezegd de kluizenarij op de Goeneong Padang”, TBG, Dool LV, hal. 380, catatan 2) ketika ia mencoba mengupas pengertian ‘waruga’, dalam kesempatan membicarakan naskah Carita Waruga Guru (disingkat CWG), C.M. Pleyte member makna bagi kita ‘waruga’ dengan ‘belichaning’, ‘lichaan’, dan ‘lifj’. Dari ketiga makna yang diberikan C.M. Pleyte itu, yang lebih mendekati dalam istilah bahasa Indonesia adalah ‘penjelmaan’, kiasan untuk tokoh yang memegang peranan penting di dunia ditinjau dari sudut pandang penulis, penulis tradisionil.
Kata ‘waruga’ adalah betul-betul sebuah kata dari bahasa Sunda bukan pinjaman dari salah satu bahasa asing. Dalam bahasa Sunda, kata waruga berarti: awak, badan, seperti kita dapati dalam bahasa: “kuru aking ngajangjawing, waruga ngan kari tulang”, yang ditujukan kepada seseorang yang badannya yang sangat kurus kering. Kata-kata yang lainnya, yang merupakan sinonim dengan ‘waruga’ ialah ‘raga’ dan ‘kurungan’. Sup bayu ka kurungan, adalah sebagian dari rangkaian mantera yang biasa diucapkan terhadap anak kecil yang dalam keadaan setengah sadar, supaya lekas siuman dalam bahasa Melayu dapat kita bandingkan dengan ucapan ‘kur’, semangat.
Dalam beberapa bahasa yang bersaudara dengan bahasa Sunda, terdapat juga kata ‘waruga’, dalam bentuk dan atau pengertian yang bergeser, hal tersebut dapat kita temukan dalam uraian Van Tuuk (H.N. van der Tuuk, 1901, Kawi-Balineesch-Nederlandsch Woordenbook, Dool III, s.v. waruga),antara lain dinyatakan, bahwa arti waruga dalam bahasa Bali, bale; Sasak, barugaq = bala, Bima, parusa berarti rumah-rumahan di atas kuburan; Sangir: bahugha, Rojang, Bugis. Makasar: baruga; Lampung: parugan, berugu (baruga) seperti kubah atau anjung di muka atau di samping rumah, tempat wanita bertenun; Bengkulu: brogo, berarti kamar duduk.
Naskah Kitab Waruga Jagat, baru kami ketemukan sebuah saja, sedangkan yang sebuah tersimpan di Leiden, maka dengan demikian belum sempat kami perbandingkan isinya, seangkan dalam koleksi naskah-naskah di Museum Pusat Jakarta, naskah jenis demikian sepanjang pengetahuan kami tidak ada. Adapun Kitab Waruga Jagat milik Yayasan Pangerang Sumedang (YPS) itu karena dalam keadaan rusak maka tidak dapat dibaca dengan sempurna, kami coba untuk menyempurnakannya berdasarkan nama-nama yang terdapat dalam Cerita Warugu Guru (CWG). Dan meskipun terdapat banyak persamaan, tetapi sering tertulis agak berbeda, dalam hal-hal yang sedemikian, kami biarkan sebagaimana adanya.
Naskah Kuno ini bertulis huruf Pegon dengan bahasa jawa. Penulisnya Mas Ngabehi Perana pada tahun 1117. Kitab ini menceritakan tentang sejarah Sumedang. Peristiwa yang ditulis dalam Kitab Waruga Jagad adalah peristiwa serah terima Mahkota Sanghyang Pake Binokasih pusaka Pajajaran yang diwariskan ke Prabu Geusan Ulun tahun 1578. Dalam kitab Waruga Jagad dituliskan Pajajaran Merad Kang Merad Ing Dina Salasa ping wulan Syafar tahun Jim akhir. Naskah Waruga Jagad walaupun sudah tidak utuh, tetapi isi cerita sejarah Sumedang masih dapat ditafsirkan. Penetapan tanggal 22 April sebagai hari jadi Sumedang berdasar pada jejak historis Waruga Jagad, paririmbon Naskah Kuno Sumedang.
Kitab Waruga Jagat adalah naskah kuno berbahasa Jawa yang ditulis menggunakan huruf Pegon oleh Mas Ngabehi Perana pada tahun 1117 Hijriyah (sekitar 1705 Masehi). Naskah ini merupakan sumber sejarah penting Sumedang, mencatat peristiwa serah terima Mahkota Sanghyang Pake Binokasih dari Pajajaran ke Prabu Geusan Ulun pada 1578.
Catatan Penting Kitab Waruga Jagat :
1. Isi: Menguraikan silsilah raja-raja, kisah sejarah Sumedang Larang, dan pusaka-pusaka penting.
2. Penulisan: Menggunakan huruf Pegon (aksara Arab untuk bahasa Jawa/Sunda).
3. Fungsi Historis: Menjadi dasar penetapan hari jadi Sumedang (22 April).
4. Kondisi: Meskipun naskahnya sudah tidak utuh, isinya masih dapat ditafsirkan sebagai rujukan sejarah.
Meskipun secara historis naskah sering ditulis menggunakan aksara Jawa, temuan naskah Waruga Jagat di Sumedang menegaskan penggunaan huruf Pegon dalam pencatatan sejarah pada masa itu.
KITAB WARUGA JAGAT
(1) Kosim, Kosim apuputra Abdulmuthalib, Abdulmuthalib apuputra Abdullah apuputra nabi kita, Muhammad s.a.w. nabi kita apuputra Fatimah. Fatimah apuputra Hasan Husein, Husein apuputra Zainal Abidin, Zainal Abidin apuputra nabi Ratu Israil, apuputra Ratu Rajayuta. 5. Ratu Rajayuta apuputra … Raja Mesir apuputra Susunan Gunung Jati, Susunan Gunung Jati apuputra Pangeran Pasarean, Pangeran Pasarean apuputra Dipati Balegayan, Pangerat Dipati Balegeyan iku apuputra Panembahan, Panembahan apuputra Panembagan Ratu. Panembahan ratu apuputra Pangeran Ratu, Pangeran Ratu apuputra Pangeran Dipati, Pangeran Dipati apuputra Girilaya, Panembahan Girilaya apuputra Sultan Komarudin, Sultan Komarudin apuputra Pangeran Rajaningrat ing nagara Carbon. Tamat. punika carita hadith sing sapa angrungukaken amaca pitutur punika 15. pinadahaken qur’an tigangpuluh juz laa masih pinadahaken perang sabil ping sewu lan lamun angening dadi tatamba lawan … ing umahe adawah saking pitnah setan iblis lan lamun malebu ia ing naraka nisun ika ilang pangandika den mumule. punika carita putra nabi saking kanga nom ingaranan bagindha Sam, apuputra Bakarbuwana, 20. Bakarbuwana apuputra Manaputih ….. Gantungan …. Gantungan apuputra Ongkalarang, Ongkalarang apuputra Sayar, Ratu Sayar apuputra Ratu Majakane, Ratu Majakane apuputra Parmana, Parmana apuputra lilima, kang satunggal Ratu Galuh.
(2) Ratu Sirputih, kang satunggal Sang Rasaputih, kang satunggal Atmasuci kang satunggal Ratu Barahma. Ratu Barahma binakta saking Selan ma – ring Nusa Arah dudukuh ing Medangkamulan kalih kang rayi wadon nama Ratu Dewi Hasta Terusgumuling maka ananandur tatanduran jawawut mulane den arane Nusa Jawa maka arabi putra Ratu Mesir nama Ratu ….tasari kang rayi lanang. Kang nama Ahmad atetemu pada rayi saking Selan sewu saking Mesir sewu maka angalih ing Gunung Kidul apuputra titiga kang satunggal ki Dipati Hariyang Banga 30. kapingrwa ki Dipati Ciungmanarah, lan ratu Marajasakti ana dene tingalaken ing Hujung Kulon deningkaki begawat sang …maka den haturaken maring Ratu Mesir maka sang ratu angandika maring Bagawat maka kinon rumaksa pisan dening kaki Bagawat. Maka lawas pejah maka nuli den kubur iya, maka metu ruray istri kang pejah ika iku anangis bocah anjeluk wowohan kang luwih enak, banget pana – 5. ngisne bocah iku maka nuli mati ia, sawuse mati nuli den kubur sawane den kubur lawas-lawas cukul lan tutuwuh saking netrane dadi watange pari lan sakehe papanganan kang anaka. Maka kang putra Ratu Mesir mati Ratu Parwatasari maka den katuraken maring Medangkamulan balang sewu babaktane alaki sri karana iku ing nusa Jawa ana dene Ratu Barahma tibane 10. ing nagarane putra kang istri
(3) Ingaturaken maring Ratu Medangkamulan maka apuputra saking ratu istri kang …… panas ing nagara ….. maka den atundung dateng kulon. Maka atetemu Ki Jakahtawa nuli …. Tegal kapanasan 15. nagarane pernahe ing basisir baline den buang ing sagara. Maka dadi sakehe kang mandi-mandi ing sagara. Sang Rasaputih tiba ing Balumbangan puputra istri ingaturaken maring Ratu Medangkamulan, apuputra saking Ki Jakatahwa. Maka akarama masring Nyi Rarawisa. Maka putra kakayon. Demi awoh metu bocah lan lelenge 20. rujak hanger pada karana wisa iku ana ing nusa Jawa. Ana dene atmasuci tapane ing Sam Lor, pernahe maka ……. maring Ki Sadana. Apuputra wadon namane Dwirasa …….ika maring Raden Jayakeling ia iku purwaning sakehe …… kang sinujudan. Cah 25. ya kang metu saking netra karana den arani Ratu Galuh sebab Ratu anyakrawati maka wonten kersa sing Allah angwedeni maring kaulane sebab a aranut ing sareat Nabi Noh. Maka metu angin topan saking pojok sagara maka nuli kalenger wong alam dunya antara patang puluh dina. Maka nuli anut ing sareat Nabi Noh. Maka pada munggah 30. ing baitra sadaya ana dene Ratu Galuh ika acita gunung luhur pitung langit.
(4). Maka sami munggah maring gunung balane kabeh demi sampun asat maka tumurun saking gunung, maka munggah ing Bojonglopang, gawe dukuh maka den wujudi gunung kulon dipun panah dening malaikat. Maka nuli remuk gunung iku, maka pepecahan iku dadi sakehe kabuyutan kabeh iku ing nusa Jawa. Apan Ratu Galuh saking bangsa manusa titita warnane kang dihin Hari 5. yang Banga lan kapindo Ciungmanara lan kapindo telu Marajasakti maka Hariyang Banga iku apuputra Ki Gedeng Mantalarana, Ki Gedeng Mantaparana apuputra Ki Gedeng Mesir, Ki Gedeng Mesir apuputra Ratu Majapahit, Ratu Majapahit apuputra Ki Gedeng Jati, ki Gedeng Jati apuputa ki Gedeng Kartadipura, Ki Gedeng Kartadipura 10. apuputra ki Gedeng Sari, apuputra Ki Gedeng Kacung, Ke Gedeng Kacung apuputra Ki Gedeng Suruwud, iku apuputra Pangeran Sedang Karapyak, apuputra Pangeran Sedang Kamuning, apuputra Sultan Mataram apuputra Susunan Tegalwangi, apuputra Susunan Mangkurat, apuputra Pangeran Dipati Anom, Ana dene putra Ciungmanawa pinarnahaken ing 15. Pajajaran taktalane babaktane pande domas lan putra wadon kang nama Purbasari alaki Ki Lutungkasarung. Kang Putra Manggungmendung apuputra Linggahiang apuputra Susuk Tunggal.
(5) apuputra Parbu Mundingkawati, apuputra Parbu Anggalarang, apuputra Mundingwangi, kang dihin Ratu Sunda, nyakrawati hing Pajajaran. 20. putra Ratu Siluman pipitu sakehe sawiji Ki Jakahlarang, ring Roban, pernahe kapindo Ki Tua Sapularang, pernahe ing Tunjungbang. Ki Diriwangi pernahe ing Wiraga, lang kapingpat Ki Koyopok pernahe ing Guha Upas. Kapinglima Ki Kempanglarang pernahe ing Guha Pajajaran. 25. Kapingnem Ki Dulek pernahe ing Sancang. Kapingpitu Ki Kelewing pernahe ing Pajajaran, punika anak putune Sunda tetkala gemuh Pakuan Raden Töngö saking ajamantri, Raden Mömöt saking Padmakarang Raden Sakian Sumbulakungsari saking Ratu Bancana kang sepuh Mundingdalem….. 30. Sanghyang Perbu Sangkanbönghar apuputra Sanghyang Lemansanjaya apuputra Sanghyang Rajuna, apuputra kang ….. apuputra kang Sedang Taman, apuputra kang Sedang Pangkalan, apuputra Sanghyang Sogol, apuputra Raden Senapati Angalaga, Raden Senapati Angalaga apuputra Sanghyang Panengah apuputra Sangiang Lebakwangi.(6) kang satunggal putra Ratu Sunda ingaranan Sanghyang Agung, apuputra Sanghyang Maya apuputra Raden Narasinga ing Cirebon, apuputra Sayagati, 5. kang satunggal metu saking Buniwangi putrane Dalem Rumenggong. Ingaranan Ratu Parmana, apuputra Ratu Parmana Di Puntang apuputra Ratu Pantenan. Apuputra Rama Dewa, apuputra Susunan Ranggalawe. Pernahe ing Timbanganten. Kang satunggal ingaranan Keboputih, maka akarma maring putra Susunan 10… Dalagung, apuputra susunan Rajamandala ing Cahur. Ana dene sang metu saking Ratu Akri ingaranan Parbu Limansajaya pernahe ing Limbangan. Kang satunggal putrane Gurugantangan kang metu saking Mayangkaruna, ingaranan Ranggamantri Puspawangi Rajaparmana, maka kang apuputra Susunan 15. Wanaprih pernahe ing Talaga. Kang satungal kang metu saking Manikgumilang ingaranan Sangiang Jampana, pernahe ing Batulayang. Kang satunggal kang metu saking Pangilaransari, ingaranan Ratu Dewi apuputra ingaranan Marajahiang, pernahe ing Batuwangi. 20. kang satunggal ananking Karang, ingaranan Mudikbatara.
(7) Kang satunggal putrane Ratu Marajasakti ingaranan Raja MasTuli, maka tinarimaken maring Ki Lembualas. Pinarnahaken ing Ukur, maka apuputra Kiai Dipati Ukur. Kang sepuh kang satunggal putrane ratu saking Marajainten, maka apuputra ingaranan Sangiang Wiruna apuputra Parbu ….. 25. Kiai Ngabehi cucuk kang sepuh pernahe ing Manabaya. Kang satunggal putrane Ranggasinom, ingaranan Guruminda Mantrisari maka apuputra ingaranan Sangiang Wide, Sangiang Wide apuputra Sangiang Tubu den pernahaken ing Sakawayana Kang satunggal apuputra Rangga Pakuan, kang metu saking Maraja Selawangi 30. ingaranan Sangiang Lutar, pinarnahaken ing Panembong, kang satunggal putrane Mundingkawati kang metu saking Marajalayang, anake Kidangpananjung ingaranan Ratu Wijaya, maka apuputra ingaranan Parbu Wesi, pernahe ing Rajapolah. Kang satunggal putrane Sangiang ……raksa, kang metu saking Tamompo, maka apuputra ingaranan Ranggadipa, lan ingaranan Raden Sinom, lan ingaranan Raden ….. pernahe ing Suci, Raden Sinom pernahe ing Selagedang. 5. kang satunggal putrane Mundingmalati, saking Parenggilayaransari ingaranan Sangiang Wiraga, Sangiang Wiraga atetep ing gunung Madeyasukma, ingaranan Batara Amilaranga, maka apuputra ingaranan Ratu Siluman, Ratu Siluman apuputra Ratu Demang. Ratu Demang apuputra Batara Yang Sengkawaja arabi maring Batara 10.kang Putra pohaci Rabanu maka apuputra Batara Sedang Kawindu. Batara Sedang Kawindu maka apuputra nu pupus di Galuh, maka kapademan lan lungguhe kaselang dening kang paman ingaranan Saröpön, Saröpön Cipacul maka putrane kakalih kang dihin nu seda ing Cibuntu lan kapindo Dalem 15. Demang. Maka nu seda ing Cibuntu sapuputra Dalem Demang Agung. Dalem Demang Agung apuputra Kiai Ngabehi Sama pernahe ing Sindangkasih kang satunggal putrane Raden Ganduwangi, kang metu saking Margacinta, maka apuputra Sanghiang Medang, apuputra Susunan Padujaya pernahe ing Pawenang. 20. Kang satunggal putrane Raden Numbang, putrane saking Intenbancana, maka apuputra Sanghiang Sumuragung, Sanghiang Sumuragung apuputra Sanghiang Maha Sahunggantang Kang satunggal namane Ranggasanten, putra saking Marajakastori ingaranan Susunan Dirgahiang, putrane Mundingjaya pernahe ing Mandala. 25. Kang satunggal putrane Susunan Sinduparmana, kang kalih di Galuh, putrane Susunan Jaratna, pernahe ing Cipinaha.
(8) kang satunggal sadereke Raden Srigading pernahe ing Sukakarta Kang satunggal malih sang Maharaja Widara, pernahe ing Maja. Kang putra Ratu Perbasakala ingaranan Susunan Tambalayu. 30. Maka apuputra istri ingaranan Ratu Gumilang, maka tinampahaken maring Santowaan Gunung Licin. Maka apuputra Susunan Majaya, pernahe ing Taraju. Kang satunggal namane Kian Santang, maka akarama maring Ratu Mandapa maka istri Emurhali alaki maring Bimalarang putra saking Jampang, pinarnahaken ing Nagara. Kang satunggal putra Mundinglingga, kang metu saking Arunganda 5. Wayangsari, maka apuputra Susunan Cilöwih, pinarnahaken ing Kadungora, maka apuputra titiga Marajahiang Teruslabo, pernahe ing Parakantiga. Amarajahiang Rajanabo pinarnahaken ing Kandangwangi. Marajahiang Lugajaya pernahe ing Cidamar, ana dene kang satunggal 10. putrane Susunan Rajanawung kang metu saking Rajasari ingaranan Ratugala rabine kang bobot tapane ing serangenge, sarta kalan Batari Resikputih, maka apuputra ingaranan Sang Dewaguruhaji, Sang Ratu Guruhaji apuputra Tajimalela.
(9) Tajimalela apuputra Gösanhulun, Susunan Gösanhulun apuputra Pangeran 15. Sumedang, pernahe ing Sumedanglarang, sabab margane anak putu Ratu Sunda bubar saking Pajajaran kinundung dening kang rama. Sabab sampun lengkap wuruke Kian santang samulihe Ka’bah Allah Kang putra kekel iman Islam ora anut ing sareat dening kang rama kang eyang margane den tundung bubar ngetan Kian Santang tinundung dening 20. kang rama sabab panas nagara Pakuan. Margane kesah dateng Campa kang rai binakta dateng Campa kana ran Sarikabunan, maka kinrsahaken Ratu Tuban …. Duta Samud buyute Ki Jatiswara. Maka Pajajaran murak kang burak ing dina salasa tanggal 14 wulan Sapar tahun Jimakhir sang kalitar putra kakalih sawiji ingaranan Pucukkumun lan kapindo 25. ingaranan Sekarmandapa. Dupi sampun kala Pajajaran, maka Pucukkumun den jarah dening Ratu Wetan Maka Ratu Mandapa malayu maring gunung Gede, maring Ajar Sukaras, maka atatapa lan ajar iku. Maka netes mani ajar iku maka keneng gagang kujang ajar iku, maka Ratu Mandapa anyigar pucang dening kujang iku 30. maka kagaw manine ajar iku nuli kakinang dateng Ratu Mandapa lawas lawas maka angadeg duk sampun teka ing rongwelas wulan maka nuli babar.
(10) maka kang putra istri tur ayu, ayu rupane iku. Mangka den arani Tandurangagang maka lawas-lawas kahatur maring Pangeran Jaketra maka den anggo maka metu geni saking bagane, maka den pundut Ratu Carbon, karsa anggo maka metu saking kawah, maka kahatur Kiai Gedeng Mataram, maka akarasa den anggo maka modal geni saking baganipun. 5. maka orana gawene maka den dol maring Ratu Walanda, payu maring bedil titiga. Bedil iku den dum: Mataram Si Guntur Geni. Cirebon Si Santomi, maring Banten Si Amuk. Maka putra silingi kang metu saking Padnawati kang ingaranan Ranggamantri maka apuputra Selawati, Raru Selawati apuputra Sang Adipati pernahe ing Kuningan. 10. kang satunggal ingaranan Ratu Sedalarang. Maka apuputra Parbu Cakradewa Parbu Cakradewa apuputra Singacala. Maka satunggal anake Kidangpananjung ingaranan Parbu Sari apuputra kakalih kang sawiji ingaranan Borosngora, pinarnahaken ing Panjalu Kang kalih anaking Rajapolah – punika kang putra Ratu Komara ingaranan 15. Dewaguru. Dewaguru apuputra Guruhaji, guruhaji apuputra Hajiputih apuputra susuhunan Gösanhulun, susuhunan Gösanhulun apuputra Pangeran Sumedang Kahiangan tetesing Komara ingaranan Batara Tungtungbuwana tumiba ing Medanglarang, ingaranan Tajimalela ike amarentah ing Sumedanglarang.
(11) 20. Punika kang putra Banyakkudika kang metu saking Padnalarang, apuputra pipitu akehe. Kang satunggal marnah ing Bandung, kang satunggal marnah ing Lopasir, kang satunggak narnah ing Babakan Panyarang, kang satunggal marnahing Kahuripan. 25. Punika kang putra Marajasakti pipitu kehe kang satunggal Ratu Roman marnah ing robab, kang satunggal Ratu Gelukherang marnah ing Tanjungbang. Kang satunggal Ratu Jalakroncenak marnah ing Wirasa. Kang satunggal Ratu Buta Gurun marnah ing Guha Upas, kang ana ing Lakbok. 30. Ingaranan Sanghiang Pasarean, kang satunggal Ratu Roman Gelanherang di Guha Pajajaran. Ia iku siluman pipitu dening wetan. Putra Ratu Komara ingaranan Batara Niskala, maka apuputra Marajahiang Niskala iki lah Cirebon. Kamng putra Baginda Ali. Baginda Ali imngaranan Jenal Abidin kang putra kapitu babaktane She Mahrip. Apuputra Molana Kasan, apuputra Ratu Campa, Ratu Campa apuputra Nyai Gedeng Campa, Nyai Gedeng Campa apuputra Haji Duta Samud. Haji Duta Samud apuputra Nyai Gedeng Jatiswara. Nyai Gedeng Jatiswara apuputra Sunan Jati. Susunan Jati apuputra Sabakingking ing Banten.
(12) tamat kitab Waruga Jagat tutuging tulis ing malem Salasa wulan Rayagung ping wolu tahun Alip Hijrah 1117.
KITAB WARUGA JAGAT TERJEMAHAN BAHASA INDONESIA
(1) Kosim berputra Abdulmuthalib, Abdulmuthalib ber Abdullah, Abdullah berpputra puputra Nabi kita s.a.w., Nabi kita berputra Fatimah. Fatimah berputra Hasan Husein, Husein berputra Zainal Abidin, Zainal Abidin berputra Bani Ratu Israil, Bani Ratu Israil berputra Ratu Raja Yuta. Ratu Raja Yuta berputra Raja Mesir … Raja Mesir berputra Susuhunan Gunung Jati. Susuhunan Gunung Jati berputra Pangeran Pasarean, Pangeran Pasarean berputra Pangeran Dipati Balagayam, Pangeran Dipati Balagayam berputra Panembahan, Panembahan berputra Panembahan Ratu, Panembahan Ratu berputra Pangeran DIpati, Pangeran Dipati berputra Panembahan Girilaya, Panembahan Girillaya berputra Sultan Komaruddin, Sultan Komaruddin berputra Pangeran Rajaningrat di Negara Cirebon. Tamat.
(2) Inilah cerita hadis. Barang siapa mendengarkan, membaca pengajaran itu disamakan dengan Qur’an tigapuluh juz dan masih disamakan dengan perang sabil seribu kali dan kalau digunakan jadi obat serta …. Dirumahnya jatuh karena fitnah setan iblis dan kalau ia masuk neraka aku yang akan mengatakan supaya dimuliakan. Inilah cerita putra Nabi dari (istrinya) yang muda dinamai Baginda Sam. Baginda Sam berputra Bakarbuwana, yang berputra Manaputih … gantungan. Manaputih …. Gantungan berputra Ongkalarang, Ongkalarang berputra Sayar. Ratu Sayar berputra Ratu Majakane, Ratu Majakane berputra Parmana. Parmana berputra lima orang: Yang seorang Ratu Galuh.(2) Ratu Sriputih. Yang seorang Sang Rajaputih. Yang seorang Atmasuci. Yang seorang Ratu Brahma. Ratu Brahma dibawa dari Selan ke Nusa Arah, mendirikan dukuh di Medangkamulan bersama adiknya perempuan bernama Ratu Dewi Hasta Terusgumuling. Maka bercocoktanam jawawut, karena itu dinamai Nusa Jawa. Maka beristri putera Ratu Mesir yang bernama Ratu Parwatasari. Adik putra Ratu Mesir yang laki-laki bernama Ahmad nikah, bertemu adik dengan adik. (Pengikutnya) dari Selan seribu dari Mesir seribu berpindah tempat ke Gunung Kidul. (Ratu Galuh) berputra tiga orang. Yang seorang Ki Dipati Hariang Banga, kedua Ki Dipati Ciungmanarah, dan Ratu Marajasakti. Adapun … ditinggalkan di Ujungkulon oleh Kakek Bagawat. Maka lama-lama lalumeninggaldn dikubur, maka dari pada anak perempuan yang mati itu, karena ia menangis amat sangat ingin buah-buahan, yang sangat lezat anak itu terusmenerus menangis hingga meninggal, mayatnya dikubur, lama kelamaan tumbuh dari pepohonan matanya jadi batang padi dan sekalian bahan pangan yang enak-enak. Maka Putra Ratu Mesir itu meninggal, Ratu Parwatasari diserahkan ke Medangkamulan, rakyatnya seribu bawaannya bersuami asalnya di Nusa Jawa. Adapun Ratu Barahma datang di Negara, putranya perempuan.
(3) diberikan kepada ratu Medangkamulan, lalu berputra dari Ratu Istri yang …. panas di Negara … lalu diusir ke ….. barat maka nikah dengan Ki Jakahtawa lalu …. Tegak kepanasan, serta berputra lalu mati dikubur, lalu tumbuh jadi kayu samida namanya, tempatnya di pesisir, tembulinya dibuang ke laut, maka menjadi segenap yang berbisa di laut. Sang Rasaputih tiba di Balungbangan, berputra istri yang diberikan kepada Ratu Medangkamulan. Berputra dari Jakahtawa, maka nikah kepada Nyi Ragasia. Maka berputra kayu-kayuan, ketika berbuah lahir bayi dan ‘lelenge rujak hangor’ semua menjadi bisa yang ada di Nusa Jawa. Adapun Atmasuci bertapa di Sam Utara. Tempatnya …. Kepada Ki Sadana, berputra perempuan namanya Dwirasa …. Kepada Raden Jayakeling, itulah asalnya sekalian …. bertempat tinggal dan adalah karena rajaputra pindah kepada … yang dipuja, Cahaya yang keluar dari mata sebabnya dinamai Ratu Galuh, karena Ratu berdaulat, maka adalah kehendak Allah memurkai hambaNya, sebab tidak menganut sareat Nabi Noh, maka semuanya naik perahu, adapun Ratu Galuh mencinta gunung tinggi tujuh langit.
(4) Lalu semua rakyatnya naik gunung, setelah kering lalu turun dari gunung, maka naik ke Bojonglopang, membuat dukuh, maka diwujudkan gunung kulon, dipanah oleh malaikat, lalu hancur gunung itu menjadi sekalian kabuyutan di Nusa Jawa. Ratu Galuh putranya dari bangsa manusia yang sulung Hariang Banga, yang kedua Ciungmanarah dan yang ketiga Ratu Marajasakti. Adapun Hariang Banga itu berputra Ki Gedeng Mantalarasa. Ki Gedeng Mantalarasa berputra ki Gedeng Mesir, Ki Gedeng Mesir berputra Ratu Majapahit, berputra Ki Gedeng Jati, berputra Ki Gedeng Kartadipura, berputra Ki Gedeng Sari, berputra Ki Gedeng Kacung, berputra Ki Gedeng Suruwud, berputra Pangeran Sedang Karapyak, berputra Pangeran Sedang Kamuning, berputra Sultan Mataram, berputra Susuhunan Tegalwangi, berputra Susuhunan Mangkurat, berputra Pangeran Dipati Anom. Adapun putra Ciungmanarah diturunkan di Pajajaran, pada masa bawaanya pandai 800 dan putera perempuan yang bernama Purbasari, bersuami Lutungkasarung, putra dari Manggungmendung, berputra Linggahiang, berputra Susuktunggal.
(5) Berputra Perbu Mundingkawati, berputra Perbu Anggalarang, berputra Mundingwani, yang dahulu menjadi Ratu Sunda, berkuasa di Pajajaran. Putra Ratu SIluman tujuh orang banyaknya, yang pertama Ki Jakahlarang, tempatnya di Roban, yang kedua Ki Tua Sapularang tempatnya di Tanjungbang. Ki Diriawangi tempatnya di Wiraga dan yang keempat Ki Koyopok tempatnya di Guha Upas, yang kelima Ki Kompanglaang tempatnya di Guha Pajajaran, yang keenam Ki Dulek pernahnya di Sancang, yang ketujuh Ki Kelewing tempatnya di Pajajaran. Inilah anak-cucu Sunda tatkala Pakuan makmur: Raden Töngödari Rajamantri, Raden Mömöt dari Padnalarang, Raden Sakian Sambulagungsari, dari Ratu Bancana yang tua Mundingdalem … Sanghiyang Perbu Sangkanbönghar berputra Sanghiyang Lemansanjaya, berputra Sanghiyang Rajuna, berputra yang …. Berputra yang Sedang Taman, berputra yang Sedang Pangkalan, berputra Sanghiyang Sogol berputra Raden Senapati Angalaga, Raden Senapati Angalaga berputra Sanghiyang Panangah, berputra Sanghiyang Lebakwangi.
(6) Yang seorang putra Ratu Sunda dinamai Sangyang Agung, berputra Sanghyang Maya, berputra Taden Narasinga di Cirebon, berputra Sayagati. Yang seorang lahir di Buniwangi, putra Dalem Rumenggong, dinamai Ratu Parmana, berputra Ratu Parmana di Puntang berputra Ratu Pantenan, berputra Ramadewa, berputra Susuhunan Ranggalawe, tempatnya di Timbanganten.Yang seorang d inamai Keboputih, maka nikah kepada putra Susunan…Dalangu, berputra Susunan Rajamandala tempatnya di Cahur. Adapun yang lahir dari Ratu Akri dinamai Perbu Limansanjaya, tempatnya di Limbangan. Yang seorang puteranya Gurugantangan yang lahir dari Mayangkaruna dinamai Ragamantri Puspawangi Rajaparmana, yang berputra Susunan Wanaprih tempatnya di Talaga. Seorang yang lain dari Manikgumilang dinamai Sanghiyang Jampana, tempatnya di Batulayang. Yang seorang putera lahir dari Pangilarangsari, dinamai Ratu Dewi berputra dinamai Marajahiyang, tempatnya di Batuwangi. Yang seorang putra di Karang, dinamai Mudikbatara.
(7) Yang seorang puteranya Ratu Marajasakti, dinamai Rasa Mastuli maka diserahkan kepada Ki Lembualas, ditempatkan di Ukur, maka berputra Kiai Dipati Ukur, yang tua yang seorang putranya Ratu dari Marajainten, maka berputra dinamai Sanghiyang Wiruna berputra Perbu …… Kiai Ngabehi Cucuk, yang tempatnya di Manabaya. Yang seorang puteranya Rangga Sinom, dinamai Guruminda Mantrisari, maka berputra Sanghyang Lutar, ditempatkan di Panembong. Yang seorang puteranya Mundingkawati yang lahir di Marajalarang anaknya Kidangpananjung dinamawi Ratu Wijaya, berputra dinamai Perbu Resi ditempatkan di Rajapolah. Yang seorang puteranya Sanghyang …raksa, yang lahir dari Tamompo, berputra dinamai Ranggadipa dan dinamai Rangga Sinom dinamai Raden … pernahnya di Suci, Raden Sinom tempatnya di Selagedang. Yang seorang putranya Mundingmalati dari Parenggilayangsari, dinamai Sanghiyang Wiraga, Sanghiyang Wiraga menetap di gunung Mandeyansukma, dinamai Batara Amilarang, berputra dinamai Ratu Siluman, Ratu Siluman berputra Ratu Demang. Ratu Demang berputra Batara Yang Sengkawaja namanya nikah … kepada Batara putranya pohaci Rabanu berputra Batara Sedang Kawindu. Batara Sedang Kawindu maka berputra yang meninggal di Galuh, maka terputus kedudukannya diselang oleh pamannya bernama Saröpön, Saröpön Cipacul. Maka putranya dua orang, yang pertama yang meninggal di Cibuntu, yang kedua Dalem Demang. Maka yang meninggal di Cibuntu berputra Dalem Demang Agung berputra Kiai Ngabehi Sama, tempatnya di Sindangkasih. Yang seorang putranya Raden Ganduwangi yanglahir di Margacinta, maka berputra Sanghiyang Medang, berputra Susunan Pandujaya tempatnya di Pawenang. Yang seorang putranya Raden Numbang, putranya dari Intenbancana, maka berputra Sangiang Sumurgagung, Sanghiyang Sumuragung berputra Sanghiang Maha Sahunggantung. Yang seorang namanya Ranggasanten, putra dari Marajakastori dinamai Dirgahiang, putranya Mundingjaya tempatnya di Mandala. Yang seroang putranya Susunan Sinduparmana, yang kedua di Galuh, putranya Susunan Jaratna tempatnya di Cipinaha.
(8) Yang seorang putranya Raden Srigading tempatnya di Sukakarta. Yang seorang memperoleh Sang Mahawidara, tempatnya di Maja. Yang seorang Ratu Purbasakala dinamai Susunan Tambalayu. Maka berputra istri dinamai Ratu Gumilang, maka diberikankepada Santewanan Gunung Licin. Maka berputra Susunan Malaya, tempatnya di Taraju. Yang seorang namanya Kian Santang, maka nikah dengan Ratu Mandapa, maka berputra wanita Emurhali bersuami Bimalarang putra dari Jampang ditempatkan di Nagara. Yang seorang putra Mundinglaya, yang lahir dari Arumganda Wayansari, maka berputra Susunan Cilöwih. Ditempatkan di Kadungora, maka berputra tiga orang; Marajahiang Terusnabo tempatnya di Parakantiga, Amarajahiang Rajanabo ditempatkan di Kandangwesi, Marajahiang Lugajaya ditempatkan di Cidamar. Adapun yang seorang putranya Susunan Rajanawung lahir dari Rajasari, dinamai Ratugala istrinya ketika mengandung, bertapa di matahari serta dengan Batari Resikputih, maka berputra dinamai Sang Dewaguruhaji, berputra Tajimalela.
Tajimalela berputra Gösanhulun. Susunan Gösanhulun berputra Pangeran Sumedang, tempatnya di Sumedanglarang. Yang menyebabkan para putra Ratu Sunda bubar dari Pajajaran diusir oleh ayahnya, karena telah lengkap pengajaran Kian Santang sekembalinya dari Ka’bah Allah. Putra itu teguh beriman kepada agama Islam tidak mengikuti sareat yang dianut oleh ayahnya dan kakeknya, karena itu diusir bubar ke Timur. Kian Santang diusir oleh ayahnya, karena panas Negara Pakuan.
(10) Asalnya pergi ke negeri Campa adiknya dibawa yang bernama Sarikabunan, maka dinikahkan kepada Ratu Tuban …… Duta Samud cicitnya Ki Jatiswara, maka Pajajaran burak. Buraknya pada hari Selasa tanggal 14 bulan Sapar tahun Jim-Akhir. Yang tertinggal dua orang putra, yang seorang bernama Pucukumun dan yang kedua dinamai Sekarmandapa. Pada waktu itu kalah Pajajaran, maka Pucukumun ditawan oleh Ratu dari Timur, sedangkan Ratu Mandapa melarikan diri ke Gunung Gede menuju Ajar Sukarasa, maka bertapa bersama ajar itu. Pada suatu ketika mani ajar itu menetes mengenai gagang kujang ajar itu. Maka Ratu Mandapa membelah pinang dengan kujang itu, terbawalah mani ajar itu serta, ketika sedang makan sirih mani itu termakan oleh Ratu Mandapa, lama-kelamaan ia mengandung dan setelah duabelas bulan lalu melahirkan,
(10) putranya seorang bayi perempuan serta cantik rupanya, maka dinamai Tandurangagang. Maka setelah dewasa diserahkan kepada Pangeran Jakerta, ketika ditiduri maka keluar api dari kemaluannya, maka kemudian diminta oleh Ratu Cirebon akan diperistri, tetapi keluar api dari kemaluannya, maka diberikan kepada Kiai Gedeng Mataram, ketika akan ditiduri, keluar api dari kemaluannya. Karena itu dianggap tidak berguna, lalu dijual kepada Ratu Belanda dengan bedil (meriam), meriam itu dibagi: Mataram Si Gunturgeni, Cirebon Si Santomi, kepada Banten si Amuk. Maka putra SIliwangi yang lahir dari Padnawati dinamai Ranggamantri, maka berputra Selawati, Ratu Selawati berputra Sang Adipati bertempat di Kuningan. Yang seorang dinamai Ratu Sedalarang. Maka berputra Perbu Cakradewa, Prabu Cakradewa berputra Singacala. Maka seorang putranya Kidangpananjung dinamai Perbu Sari berputra dua orang, yang dinamai Borosngora, ditempatkan di Panjalu, yang seorang lagi ada di Rajapolah. Adapun putra Ratu Komara dinamai Dewaguru, Dewguru berputra Guruhaji, Guruhaji berputra Hajiputih, Hajiputih berputra Susuhunan Gösanhulun, Susuhunan Gösanhulun berputra Pangeran Sumedang Kahiangan penjelmaan Komara dinamai Batara Tuntungbuwana jatuh di Sumedanglarang.
(11) Adapun putranya, yang bernama Banyakkudika yang lahir di Lopasir, yang seorang bertempat di Bandung, yang seorang bertempat di Kahuripan. Adapun putra Marajasakti tujuh orang banyaknya, yang seorang Ratu Roban, bertempat di Roban, yang seorang Ratu Gelukherang bertempat di Tanjungbang, yang seorang Ratu Jalakronceak bertempat di Wirasa, yang seorang Ratu Batagurun bertempat di Guha Upas, yang ada di Lakbok, dinamai Sanghiang Pasarean, yang seorang Ratu Romangelanherang di Guha Pajajaran, itulah Siluman Tujuh di Timur. Putra Ratu Komara dinamai Batara Niskala, maka berputra Marajahiang Niskala. Inilah Cirebon. Putra Baginda Ali dinamai Jenal Abidin, putranya yang ketujuh diserahkan kepada Syekh Magrib, bernama Molana Kasan, berputra Ratu Campa berputra Nyai Gedeng Campa. Nyai Gedeng Campa berputra Haji Duta Samud, yang berputra Nyai Gedeng Jatiswara, Nyai Gedeng Jatiswara berputra Sunan Jati, Susunan Jati berputra Sabakingking di Banten.
(12) Tamat Kitab Waruga Jagat, selesai ditulis pada malam Selasa bulan Zulhijjah, tanggal delapan, tahun Alip, Hijrah 1117.
Imajiner Nuswantoro


