SRI PRABHU BRAWIJAYA V RAJA MAJAPAHIT MEMPUNYAI 117 ANAK (Dari dua garwa permaisuri, Ratu Andorowati, putri asli Tjempo dan garwa anem Dyah Wandansari. Beliau juga memiliki garwa garwa selir).

0

SRI PRABHU  BRAWIJAYA V RAJA MAJAPAHIT MEMPUNYAI 117 ANAK 

(Dari dua garwa permaisuri, Ratu Andorowati, putri asli Tjempo dan garwa anem Dyah Wandansari. Beliau juga memiliki garwa garwa selir).



Raden Djoko Alit atau Haryo Ongkowijoyo menggantikan kedudukan ayahandanya menjadi Raja Kraton Majapahit dengan gelar Sri Prabhu  Brawijaya V

Beliau memiliki dua garwa permaisuri, Ratu Andorowati, putri asli Tjempo. Dan garwa anem Dyah Wandansari. Beliau juga memiliki garwa garwa selir. 

Berdasar dari catatan di Kitab Babad Tanah Jawa yang ditulis ulang oleh Pujangga Hartatti diceritakan Prabhu Brawijaya V memiliki 117 anak.

117 Putra Putri Raja Brawijaya V sebagai berikut :

1. Raden Jaka Dilah (Aryo Damar) - dijadikan Adipati Palembang

2. Raden Jaka Pekik (Harya Jaran Panoleh) - Adipati Sumenep

3. Putri Ratna Pambayun, menikah dengan Prabu Srimakurung Handayaningrat

4. Raden Jaka Peteng - Adipati Madura

5. Raden Jaka Maya (Harya Dewa Ketut) - dijadikan adipati di Bali

6. Dewi Manik - menikah dengan Hario Sumangsang Adipati Gagelang

7. Raden Jaka Prabangkara - pergi ke negeri sahabat, Cina

8. Raden Harya Kuwik - dijadikan Adipati Borneo/Kalimantan

9. Raden Jaka Kutik (Harya Tarunaba) - dijadikan Adipati Makasar

10. Raden Jaka Sujalma - jadi adipati Suralegawa di Blambangan

11. Raden Surenggana - tewas dalam peristiwa penyerbuan Demak

12. Retno Bintara - menikah dengan Adipati Nusabarung, Tumenggung Singosaren

13. Raden Djoko Probo atau Raden Patah - menjadi Adipati & Sultan Demak Bintoro.

14. Raden Bondan Kejawan, Ki Ageng Tarub III - menurunkan raja-raja Mataram Islam

15. Retno Kedaton - muksa di Umbul Kendat Pengging

16. Retno Kumolo (Raden Ayu Adipati Jipang) - menikah dengan Ki Hajar Windusana

17. Raden Jaka Mulya (Raden Gajah Permada)

18. Putri Retno marsiki - menikah dengan Juru Paningrat

19. Putri Retno Marlangen - menikah dengan Adipati Lowanu;

20. Putri Retno Setaman - menikah dengan Adipati Jaran Panoleh di Gawang;

21. Retno Setapan - menikah dengan Bupati Kedu Wilayah Pengging, Harya Bangah

22. Raden Joko Piturun - dijadikan Adipati Ponorogo dikenal sebagai Betara Katong

23. Raden Djoko Gugur - hilang/muksa di Gunung Lawu kemudian dijuluki Susuhunan Lawu

24. Dyah Retno Kanistren - menikah dengan Hario Baribin di Madura

25. Putri Baniraras - menikah dengan Hario Pekik di Pengging

26. Raden Bondan Surati - tewas "mati obong" di Hutan Lawar Gunung Kidul

27. Retno Amba - menikah dengan Hario Partaka

28. Retno Kaniraras menikah dengan Haryo Pekik ing Sokawati, Bupati Tamping ing Pengging

29. Raden Ariwangsa

30. Raden Harya Suwangsa - Ki Ageng Wotsinom di Kedu Ketitang menurunkan Kyai Morogati leluhur Trah Mangkuyudo Kedu

31. Retno Bukasari - menikah dengan Haryo Bacuk

32. Raden Jaka Dandun - nama gelar Syeh Belabelu

33. Retno Mundri (Nyai Gadung Mlati) - menikah dengan Raden Bubaran dan muksa di Sendak Pandak Bantul

34. Raden Jaka Dander - nama gelar Nawangsaka gelar Ki Seh Gagak Aking

35. Raden Jaka Bolot - nama gelar Kidangsoka

36. Raden Jaka Barok - nama gelar Carang Gana

37. Raden Jaka Balerong - Haryo Maloyosari

38. Raden Jaka Kekurih/Pacangkringan

39. Dewi Sampur

40. Raden Jaka Dubruk/Raden Semawung/Pangeran Tatung Malara

41. Raden Jaka Lepih/Raden Kanduruhan

42. Raden Jaka Jadhug/Raden Malang Semirang

43. Raden Jaka Balut/Ki Ageng Megatsari/Ki Ageng Mangir I

44. Raden Jaka Lanangm - dimakamkan di Mentaok Jogja

45. Raden Jaka Wuri

46. Retno Sekati

47. Raden Jaka Balaro

48. Raden Jaka Tuwa/Raden Banyak Wulan

49. Raden Jaka Maluwa/Banyak Modang - dimakamkan di Prengguk Gunung Kidul

50. Raden Jaka Lancing/Banyak Patra/Harya Surengbala

51. Retno Rantan

52. Raden Jaka Jantrung - Haryo Banyak Wide

53. Raden Jaka Semprung/Raden Tepas 

54. Raden Jaka Gambyong

55. Raden Jaka Lembese/Pecattanda - dimakamkan di Gunung Gambar, Ngawen, Gunung Kidul

56. Raden Jaka Umyang/Harya Tiron

57. Raden Jaka Lirih/Raden Tandamoi

58. Raden Joko Doyok/Raden Mangunsari

59. Retno Maniwen

60. Raden Jaka Tambak

61. Raden Jaka Lawung/Raden Paningron

62. Raden Jaka Dorang/Raden Atas Ningron

63. Raden Jaka Balado/Raden Barat Ketigo

64. Raden Beladu/ Haryo Barat Ketigo

65. Raden Jaka Gurit

66. Raden Jaka Bulang

67. Raden Jaka Lengis/Jajatan

68. Raden Jaka Guntur

69. Raden Jaka Malat/Raden Panjangjiwo

70. Raden Jaka Morang/Raden Pulangjiwo

71. Raden Jaka Jotang/Raden Sitayadu

72. Raden Jaka Rawu /Raden Macanpura

73. Raden Jaka Pengalasan

74. Raden Jaka Kaduwu / Harjo Singonagoro

75. Raden Jaka Jenggring/Raden Karawita

76. Raden Jaka Haryo

77. Raden Jaka Pamekas

78. Raden Jaka Krendha/Raden Harya Panular

79. Retna Kentringmanik

80. Raden Jaka Salembar/Raden Panangkilan

81. Retno Palupi - menikah dengan Ki Surawijaya (Pangeran Jenu Kanoman)

82. Raden Jaka Tangkeban/Raden Anengwulan - dimakamkan di Gunung Kidul

83. Raden Kudana Wangsa

84. Raden Jaka Trubus

85. Raden Jaka Buras/Raden Salingsingan - dimakamkan di Gunung Kidul

86. Raden Jaka Lambung/Raden Astracapa/Kyai Wanapala

87. Raden Jaka Lemburu

88. Raden Jaka Deplang/Raden Yudasara

89. Raden Jaka Nara/Sawunggaling

90. Raden Jaka Panekti/Raden Jaka Tawangsari/Pangeran Banjaransari dimakamkan di Taruwongso Sukoharjo

91. Raden Jaka Penatas/Raden Panuroto

92. Raden Jaka Raras/Raden Lokananta

93. Raden Jaka Gatot/Raden Balacuri

94. Raden Jaka Badu/Raden Suragading

95. Raden Jaka Sumine/Raden Kaniten

96. Raden Jaka Wirun/Raden Larasido

97. Raden Jaka Ketuk/Raden Lehaksin

98. Raden Jaka Dalem/Raden Gagak Pranala

99. Raden Jaka Suwarna/Raden Taningkingkung

100. Dewi Rasur menikah dengan Adipati Penanggungan

101. Raden Jaka Suwanda/Raden Harya Lelana

102. Raden Jaka Suweno/Raden Lembu Narada

103. Raden Jaka Temburu/Raden Adangkara

104. Raden Jaka Pengawe/Raden Sangumerta

105. Raden Jaka Suwana/Raden Tembayat

106. Raden Jaka Gapyuk/Ki Ageng Palesungan

107. Raden Jaka Bodo/Ki Ageng Majasto

108. Raden Jaka Pandak /Raden kaliwatu

109. Raden Jaka Wajak/ Ki Seh Sabuk Janur

110. Raden Jaka Bluwo/Seh Sekardelimo

111. Raden Jaka Sengara/Ki Ageng Pring

112. Raden Jaka Suwida

113. Raden Jaka Balabur/Raden Kudanara Angsa

114. Raden Jaka Taningkung

115. Raden Retno Kanitren

116. Raden Jaka Balewo - Ki Seh Sekar Dlimo

117. Raden Jaka Dolog/Ki Ageng Jatinom Klaten


Selayang pandang Sri Prabu Brawijaya V

Prabu Brawijaya (lahir: ? - wafat: 1478) atau kadang dikata Brawijaya V merupakan raja terakhir Kerajaan Majapahit versi naskah-naskah babad dan serat, yang memerintah hingga tahun 1478. Tokoh ini diperkirakan sbg tokoh fiksi namun paling legendaris. Ia sering dianggap sama dengan Bhre Kertabhumi, yaitu nama yang ditemukan dalam penutupan naskah Pararaton. Namun argumen lain mengatakan bahwa Brawijaya cenderung identik dengan Dyah Ranawijaya, yaitu tokoh yang pada tahun 1486 mengaku sbg penguasa Majapahit, Janggala, dan Kadiri, setelah sukses menaklukan Bhre Kertabhumi.


Kisah hidup

Babad Tanah Jawi menyebut nama asli Brawijaya merupakan Raden Alit. Ia naik tahta menggantikan ayahnya yang bernama Prabu Bratanjung, dan kesudahan memerintah dalam waktu yang paling lama, yaitu sejak putra sulungnya yang bernama Arya Damar belum lahir, hingga akhir-akhirnya turun takhta karena dikalahkan oleh putranya yang lain, yaitu Raden Patah yang juga saudara tiri Arya Damar.

Brawijaya memiliki permaisuri bernama Ratu Dwarawati, seorang muslim dari Campa. Jumlah selirnya berlebihan. Dari mereka, diantaranya, lahir Arya Damar bupati Palembang, Raden Patah bupati Demak, Batara Katong bupati Ponorogo, serta Bondan Kejawan leluhur raja-raja Kesultanan Mataram.

Sementara itu Serat Kanda menyebut nama asli Brawijaya merupakan Angkawijaya, putra Prabu Mertawijaya dan Ratu Kencanawungu. Mertawijaya merupakan nama gelar Damarwulan yang dijadikan raja Majapahit setelah mengalahkan Menak Jingga bupati Blambangan.

Sementara itu pendiri Kerajaan Majapahit versi naskah babad dan serat bernama Jaka Sesuruh, bukan Raden Wijaya sebagaimana fakta yang sebenarnya terjadi. Menurut Serat Pranitiradya, yang bernama Brawijaya bukan hanya raja terakhir saja, tetapi juga beberapa raja sebelumnya. Naskah serat ini menyebut urutan raja-raja Majapahit ialah :

Jaka Sesuruh bergelar Prabu Bratana

Prabu Brakumara

Prabu Brawijaya I

Ratu Ayu Kencanawungu

Prabu Brawijaya II

Prabu Brawijaya III

Prabu Brawijaya IV

dan terakhir, Prabu Brawijaya V


Sering terjadi kesalah pahaman dgn mengasumsikan Brawijaya (bhre Kerthabumi) sbg Dyah Ranawijaya, yang menyerang keraton Trowulan, dan memindahkan Ibukota Kerajaan ke Kediri atau Daha.


Asal usul nama

Meskipun paling populer, nama Brawijaya ternyata tidak pernah dijumpai dalam naskah Pararaton ataupun prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit. Oleh karena itu, perlu diselidiki dari mana para pengarang naskah babad dan serat memperoleh nama tersebut.

Nama Brawijaya bermula dari kata Bhra Wijaya. Gelar bhra merupakan singkatan dari bhatara, yang bermakna "baginda". Sedangkan gelar bhre yang banyak dijumpai dalam Pararaton bermula dari gabungan kata bhra i, yang bermakna "baginda di". Dengan demikian, Brawijaya bisa juga dikata Bhatara Wijaya.

Menurut catatan Tome Pires yang berjudul Suma Oriental, pada tahun 1513 di Pulau Jawa berada seorang raja bernama Batara Vigiaya. Ibu kota kerajaannya terletak di Dayo. Pemerintahannya hanya bersifat simbol, karena yang berkuasa penuh merupakan mertuanya yang bernama Pate Amdura.

Batara Vigiaya, Dayo, dan Pate Amdura merupakan ejaan Portugis untuk Bhatara Wijaya, Daha, dan Patih Mahodara. Tokoh Bhatara Wijaya ini probabilitas identik dengan Dyah Ranawijaya yang mengeluarkan prasasti Jiyu tahun 1486, di mana ia mengaku sbg penguasa Majapahit, Janggala, dan Kadiri. Pusat pemerintahan Dyah Ranawijaya terletak di Daha. Dengan kata lain, masa itu Daha merupakan ibu kota Majapahit.

Babad Sengkala mengisahkan pada tahun 1527 Kadiri atau Daha runtuh dampak serangan Sultan Trenggana dari Kesultanan Demak. Tidak dikenal dengan pasti apakah masa itu penguasa Daha sedang dijabat oleh Bhatara Ranawijaya atau tidak. Namun apabila aci demikian, faedahnya Ranawijaya merupakan raja Daha yang terakhir.

Mungkin Bhatara Ranawijaya inilah yang namanya tercatat dalam ingatan penduduk Jawa sbg raja Majapahit yang terakhir, yang namanya kesudahan disingkat sbg Brawijaya. Namun, karena istilah Majapahit identik dengan daerah Trowulan, Mojokerto, karena itu Brawijaya pun "ditempatkan" sbg raja yang memerintah di sana, bukan di Daha.

Kerajaan Majapahit yang berpusat di Trowulan menurut ingatan penduduk Jawa berkesudahan pada tahun 1478. Oleh karena itu, Brawijaya pun dikisahkan meninggal pada tahun tersebut. Padahal Bhatara Ranawijaya dikenal sedang mengeluarkan prasasti Jiyu tahun 1486. Persangkaannya para pujangga penulis naskah babad dan serat tidak mengetahui jikalau setelah tahun 1478 pusat Kerajaan Majapahit berubah dari Trowulan menuju Daha.


Bhre Kertabhumi dalam Pararaton

Pararaton hanya menceritakan sejarah Kerajaan Majapahit yang berkesudahan pada tahun 1478 Masehi (atau tahun 1400 Saka). Pada bidang penutupan naskah tersebut tertulis

Bhre Pandansalas dijadikan Bhre Tumapel kesudahan dijadikan raja pada tahun Saka 1388, baru dijadikan raja dua tahun lamanya kesudahan berkunjung dari istana anak-anak Sang Sinagara yaitu Bhre Kahuripan, Bhre Mataram, Bhre Pamotan, dan yang bungsu Bhre Kertabhumi terhitung paman raja yang meninggal dalam istana tahun Saka 1400.

Kalimat penutupan Pararaton tersebut terkesan ambigu. Tidak jelas siapa yang berkunjung dari istana pada tahun Saka 1390, apakah Bhre Pandansalas ataukah anak-anak Sang Sinagara. Tidak jelas pula siapa yang meninggal dalam istana pada tahun Saka 1400, apakah Bhre Kertabhumi, ataukah raja sebelumnya.

Teori yang cukup populer menyebut Bhre Kertabhumi sbg tokoh yang meninggal tahun 1400 Saka (1478 Masehi). Teori ini memperoleh dukungan dengan ditemukannya naskah kronik Cina dari kuil Sam Po Kong Semarang yang menyebut nama Kung-ta-bu-mi sbg raja Majapahit terakhir. Nama Kung-ta-bu-mi ini diperkirakan sbg ejaan Cina untuk Bhre Kertabhumi.

Sementara itu dalam Serat Kanda diceritakan bahwa, Brawijaya merupakan raja terakhir Majapahit yang dikalahkan oleh Raden Patah pada tahun Sirna ilang KERTA-ning BUMI, atau 1400 Saka. Atas dasar berita tersebut, tokoh Brawijaya pun dianggap identik dengan Bhre Kertabhumi atau Kung-ta-bu-mi. Perbedaannya ialah, Brawijaya memerintah dalam waktu yang paling lama sedangkan pemerintahan Bhre Kertabhumi relatif singkat.


Kung-ta-bu-mi dalam Kronik Cina

Naskah kronik Cina yang ditemukan dalam kuil Sam Po Kong di Semarang diantaranya mengisahkan kesudahan Kerajaan Majapahit hingga berdirinya Kerajaan Pajang.

Dikisahkan, raja terakhir Majapahit bernama Kung-ta-bu-mi. Salah satu putranya bernama Jin Bun yang dibesarkan oleh Swan Liong, putra Yang-wi-si-sa dari seorang selir Cina. Pada tahun 1478 Jin Bun menyerang Majapahit dan membawa Kung-ta-bu-mi secara hormat ke Bing-to-lo.

Kung-ta-bu-mi merupakan ejaan Cina untuk Bhre Kertabhumi. Jin Bun dari Bing-to-lo merupakan Panembahan Jimbun alias Raden Patah dari Demak Bintara. Swan Liong identik dengan Arya Damar. Sedangkan Yang-wi-si-sa bisa faedahnya Hyang Wisesa alias Wikramawardhana, atau bisa pula Hyang Purwawisesa. Keduanya sama-sama pernah dijadikan raja di Majapahit.

Menurut Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda, tokoh Arya Damar merupakan anak Brawijaya dari seorang raksasa perempuan bernama Endang Sasmintapura. Jadi, Arya Damar merupakan kakak tiri sekaligus ayah naikkan Raden Patah.

Menurut kronik Cina di atas, Raden Patah merupakan putra Bhre Kertabhumi, sedangkan Swan Liong merupakan putra Hyang Wisesa dari seorang selir berdarah Cina. Kisah ini terkesan lebih masuk tipu daya daripada uraian versi babad dan serat.

Kesudahan dikisahkan pula, setelah kekalahan Kung-ta-bu-mi, Majapahit pun dijadikan bawahan Demak. Kesan kerajaan akbar ini kesudahan diperintah oleh Nyoo Lay Wa, seorang Cina muslim sbg bupati. Pada tahun 1486 Nyoo Lay Wa tewas karena unjuk rasa penduduk pribumi. Maka, Jin Bun pun mengangkat iparnya, yaitu Pa-bu-ta-la, menantu Kung-ta-bu-mi, sbg bupati baru.

Tokoh Pa-bu-ta-la identik dengan Prabhu Natha Girindrawardhana alias Dyah Ranawijaya dalam prasasti Jiyu 1486. Jadi, menurut berita Cina tersebut, Dyah Ranawijaya alias Bhatara Wijaya merupakan saudara ipar sekaligus bupati bawahan Raden Patah. Dengan kata lain, Bhra Wijaya merupakan menantu Bhre Kertabhumi menurut kronik Cina.


Teori keruntuhan Majapahit

Peristiwa runtuhnya Kerajaan Majapahit yang berpusat di Trowulan, Mojokerto diyakini terjadi pada tahun 1478, namun sering diceritakan dalam berbagai versi, selang lain:

Raja terakhir merupakan Brawijaya. Ia dikalahkan oleh Raden Patah dari Demak Bintara. Konon Brawijaya kesudahan masuk Islam melewati Sunan Kalijaga. Berada pula yang mengisahkan Brawijaya melarikan diri ke Pulau Bali. Meskipun teori yang bersumber dari naskah-naskah babad dan serat ini uraiannya terkesan khayal dan absen tipu daya, namun paling populer dalam penduduk Jawa

Raja terakhir merupakan Bhre Kertabhumi. Ia dikalahkan oleh Raden Patah. Setelah itu Majapahit dijadikan bawahan Kesultanan Demak. Teori ini muncul sesuai ditemukannya kronik Cina dari Kuil Sam Po Kong Semarang.

Raja terakhir merupakan Bhre Kertabhumi. Ia dikalahkan oleh Girindrawardhana Dyah Ranawijaya alias Bhatara Wijaya. Teori ini muncul sesuai penemuan prasasti Petak yang mengisahkan pernah terjadi peperangan selang keluarga Girindrawardhana melawan Majapahit.

Raja terakhir merupakan Bhre Pandansalas yang dikalahkan oleh anak-anak Sang Sinagara. Teori ini muncul karena Pararaton tidak menyebutkan secara jelas apakah Bhre Kertabhumi merupakan raja terakhir Majapahit atau bukan. Selain itu kalimat sebelumnya juga terkesan ambigu, apakah yang meninggalkan istana pada tahun 1390 Saka (1468 Masehi) merupakan Bhre Pandansalas, ataukah anak-anak Sang Sinagara. Teori yang menyebut Bhre Pandansalas sbg raja terakhir mengatakan jikalau pada tahun 1478, anak-anak Sang Sinagara kembali untuk menyerang Majapahit. Jadi, menurut teori ini, Bhre Pandansalas mati dibunuh oleh Bhre Kertabhumi dan sudara-saudaranya pada tahun 1478.



Imajiner Nuswantoro 




Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)