SABDO PALON NAGIH JANJI

0

SABDO PALON NAGIH JANJI 

 

https://syehhakediri.blogspot.com/2023/03/jawa-wingit-dan-sabdo-palon-nagih-janji.html

Sabdo Palon dan Naya Genggong merupakan gelar yang diberikan sesuai dengan karakter tugas yang diemban masing-masing, yakni :

Sabdo Palon, sabdo artinya seseorang yang memberikan masukan / ajaran, dan palon artinya kebenaran yang bergema di Alam Semesta. Jadi Sabdo Palon bermakna sebagai seorang abdi yang berani menyuarakan kebenaran kepada Raja, serta berani menanggung akibatnya. 

Naya Genggong, naya artinya nayaka / abdi raja, dan genggong artinya mengulang-ulang suara. Jadi Naya Genggong bermakna sebagai seorang abdi yang berani mengingatkan Raja secara berulang-ulang mengenai kebenaran, dan berani menanggung akibatnya.

Ada yang menyebutkan, Sabdo Palon dan Naya Genggong mulai dikenal pada masa kepemimpinan Ratu Tribhuwana Tunggadewi (Ibu dari Hayam Wuruk), dan tetap setia sebagai penasihat spiritual hingga kepemimpinan Raja Brawijaya V. 

Sebelumnya, Sabdo Palon dan Naya Genggong lebih dikenal dengan Sapu Angin dan Sapu Jagad.

Sabdo Palon banyak dikisahkan dalam Serat Jangka Jayabaya Sabdo Palon, juga dikenal dengan Jangka Sabdo Palon, yang diyakini sebagai karya pujangga R. Ng. Ranggawarsita.

Banyak pereka atau penterjemah pesan atau pemikiran Sabdo Palon yang sengaja mengarahkan hasil terjemahannya atau rekaannya untuk kepentingan golongan mereka.


ISI SUMPAH SABDO PALON 

Sabdo Palon bersumpah kembali untuk menghancurkan Pulau Jawa setelah 500 tahun Majapahit runtuh.

Sosok Sabdo Palon dikenal dengan sumpahnya kembali ke Tanah Jawa terhitung 500 tahun setelah Kerajaan Majapahit hancur. Hal itu termaktub dalam bait syair dalam Serat Jangka Jayabaya karya Ronggowarsito.

Sumpah itu berkaitan dengan keputusan Prabu Brawijaya V memeluk Islam. Sejumlah sumber menyebutkan bahwa Sabdo Palon adalah sosok penasihat spiritual raja terakhir Kerajaan Majapahit.

Setelah sang raja memeluk Islam, Sabdo Palon pun pergi memisahkan diri dan meluapkan sumpah. Dalam sumpah itu dia menyebut akan memporak-porandakan Pulau Jawa.

Syair dalam serat tersebut memuat ramalan kehancuran Islam di Tanah Jawa, terhitung setelah 500 tahun keruntuhan Majapahit. Bait ramalan itu dikenal dengan istilah Sabdo Palon Nagih Janji.

Dia menganut kepercayaan Budi, yaitu agama Jawa yang berlaku secara turun-temurun. Dia meramalkan kehancuran Islam di Tanah Jawa, dalam ramalannya yang berbunyi :

Pepesthene nusa tekan janji, yen wus jangkep limang atus warsa, kepetung jaman Islame, musna bali marang ingsun, gami Budi madeg sawiji.

꧋ꦥꦼꦥꦼꦱ꧀ꦛꦼꦤꦼꦤꦸꦱꦠꦼꦏꦤ꧀ꦗꦚ꧀ꦗꦶ꧈ꦪꦺꦤ꧀ꦮꦸꦱ꧀ꦗꦁꦏꦺꦥ꧀ꦭꦶꦩꦁꦄꦠꦸꦱ꧀ꦮꦂꦱ꧈ꦏꦼꦥꦼꦠꦸꦁꦗꦩꦤ꧀ꦆꦱ꧀ꦭꦩꦺ꧈ꦩꦸꦱ꧀ꦤꦧꦭꦶꦩꦫꦁꦆꦁꦱꦸꦤ꧀‌ꦒꦩꦶꦧꦸꦣꦶꦩꦣꦺꦒ꧀ꦱꦮꦶꦗꦶ꧉


Artinya : Takdir nusa sampai kepada janji, jika sudah genap lima ratus tahun, terhitung zaman Islam, musnah kembali kepadaku, Agama Budi berdiri menjadi satu.

(Bhineka Tunggal Ika, toleransi antar umat beragama di Nusantara sebagai barometer dunia).


KEMBALINYA SABDO PALON 

Kisah ini pun berkembang menjadi mitos yang masih dipercaya sebagian masyarakat Jawa. Peri Mardiyono dalam buku Sejarah Kelam Majapahit menjelaskan Sabdo Palon memberitahukan tanda-tanda dia akan kembali. Dia bersumpah kembali ke Tanah ini Jawa pada 500 tahun lagi tepat setelah Majapahit runtuh.

Pada masa itu, agama Islam tidak dijalankan paripurna oleh pemeluknya. Oleh sebab itu dia meramalkan agama Islam akan hancur dan digantikan agama Budi.

Jika dihitung sejak keruntuhan Kerajaan Majapahit runtuh paada 1478, maka Sabdo Palon diperkirakan kembali pada abad ke-20. Dia bersama anak buahnya akan menguasai Tanah Jawa dan mengembangkan agama Budi di Nusantara.

Diberitakan sebelumnya, dia diyakini sebagai penguasa Tanah Jawa yang berilmu tinggi. Kisah ini disebutkan dalam Serat Darmagandhul. Kitab kesusastraan Jawa karya Ki Kalamwidi ini menyebutkan Sabdo Palon sebagai tokoh pewayangan yang bernama Semar.

Seorang antropolog bernama Paul Stange dalam penelitiannya pada 1988 menyebutkan Sabdo Palon adalah penjelmaan Semar yang dikenal sebagai Maha Guru di Tanah Jawa. Dia adalah titisan dewa dari kayangan yang turun ke Bumi menjadi punakawan. Dia bertugas menjadi pamomong raja dan pengayom kawula.

Sosok yang satu ini memiliki kedidigdayaan atau kesaktian luar biasa untuk memerintah seluruh makhluk halus di Tanah Jawa. Berdasarkan kisah tersebut, sosoknya pun dianggap sebagai makhluk gaib yang melindungi raja-raja di tanah Jawa sejak 525 SM.


KISAH GAIB TANAH JAWA 

Sejarah awal Pulau Jawa seolah terbungkus oleh misteri, karena sama sekali tidak diketahui keberadaannya oleh dunia sampai pulau ini dikunjungi oleh peziarah dari China, Fa Hien pada tahun 412 Masehi.

Berdasarkan buku Sejarah Gaib Tanah Jawa, karangan CW Leadbeater, disebutkan, pada 2.000 tahun sebelum masehi (SM), Pulau Jawa sudah menjadi koloni bangsa Atlantis, tapi saat Atlantis hancur Jawa menjadi negeri terpisah.

Disaat masih dikuasai oleh bangsa Atlantis inilah ajaran gaib hitam dan sesat mulai diajarkan kepada penduduk yang tinggal di Pulau Jawa ini.

Sehingga pengaruh aliran sesat itu kemudian semakin kuat dan merusak tatanan kehidupan yang ada saat itu.

Mereka memuja dewa yang kejam yang selalu meminta persembahan manusia dan hidup di bawah bayang-bayang tirani tanpa kesempatan untuk melepaskan diri.

Pada zaman itu, mereka diperintah oleh raja yang merangkap Imam Agung dari aliran hitam itu. Di antara raja ini ada seorang yang sungguh fanatik dalam kepercayaan aliran hitam itu.

Sang raja memiliki keyakinan bahwa hanya dengan menjalankan praktik kepercayaan yang mengorbankan darah setiap hari, wilayahnya dapat diselamatkan dari kehancuran.

Hal ini didasari keyakinan bahwa, dewa-dewa ganas dan haus darahlah yang memegang kendali atas Pulau Jawa pada saat itu.

Para dewa telah membuktikan kekuatan dahsyatnya dengan letusan gunung berapi berulang-ulang dan bencana-bencana alam lainnya.

Raja tersebut lalu memutuskan untuk melakukan sebuah pemagaran gaib demi untuk tetap menjaga dan memelihara perlindungan atas Pulau Jawa. Salah satu caranya dengan praktik ilmu gaib dari para ahli sihir.

Hal ini dilakukan agar kelak semua sesembahan darah kepada dewa-dewa haus darah yang bercokol di seluruh Jawa tetap dilanjutkan di sepanjang abad-abad yang akan datang.

Demi terwujudnya maksud itu, dia kemudian menciptakan mantera yang sangat kuat di atas Pulau Jawa agar aliran hitam yang dianutnya tersebut tak akan lenyap selamanya.

Efek dari hal itu, masih dapat dilihat baik secara etheris maupun astral dalam bentuk awan gelap yang besar melayang-layang di atas Pulau Jawa.

Awan hitam ini, anehnya kelihatan seolah-olah seperti tertambat pada titik-titik tertentu, sehingga tidak lantas terbawa oleh angin dan tetap tinggal pada tempatnya.

Titik-titik lokasi awan hitam ini sengaja dimagnetisir oleh raja, dekat dengan kawah-kawah gunung berapi. Salah satu alasannya adalah karena kawah-kawah tersebut biasanya ditempati oleh beragam jenis makhluk-makhluk halus. Sehingga makhluk-makhluk gaib itu dapat diperintah oleh sang raja.

Kemudian pada 1.200 tahun SM terjadi invasi secara damai terhadap Pulau Jawa oleh Raja Vaivasvata Manu yang beragama Hindu.

Mereka datang secara damai tinggal di pantai dan pada akhirnya membentuk kota perdagangan kecil yang independen.

Seiring waktu, kekuatan para pendatang Hindu ini meningkat pesat dan akhirnya menjadi dominan dalam komunitas.

Akan tetapi walaupun Agama Hindu telah diterima oleh penduduk namun dalam kenyataannya pemujaan lama terhadap ajaran sesat tetap dilaksanakan dan praktik ilmu gaib malah makin menjamur.

Melihat kondisi tersebut Raja Vaivasvata yang berkuasa saat itu meminta untuk mengirimkan ekspedisi ke Jawa pada tahun 78 Masehi.

Ekspedisi ini dilakukan untuk menangkal pengaruh buruk dari aliran sesat yang sudah membumi di Tanah Jawa tersebut.

Pemimpin ekspedisi ini dipimpin oleh ahli spritual bernama Aji Saka atau Sakaji. Aji Saka ini sangat memahami tugas yang diembannya.

Aji Saka lalu menanam benda yang berdaya magnet kuat yang telah dimantrai di tujuh tempat di Pulau Jawa untuk menyingkirkan pengaruh aliran hitam dari tanah Jawa (tumbal bagi tanah Jawa).

Untuk tempat menguburkan tumbal atau jimatnya yang paling penting dan kuat, Aji Saka memilih perbukitan yang mengarah ke Sungai Progo, tempat yang sangat dekat dengan titik Pulau Jawa.

Legenda mengenai Aji Saka ini dalam berbagai cerita juga dianggap melambangkan kedatangan Dharma (ajaran dan peradaban Hindu-Buddha) ke Pulau Jawa.

Akan tetapi penafsiran lain beranggapan bahwa kata Saka adalah berasal dari istilah dalam Bahasa Jawa Saka atau Soko yang berarti penting, pangkal, atau asal-mula, maka namanya bermakna raja asal-mula atau raja pertama.

Mitos ini mengisahkan mengenai kedatangan seorang pahlawan yang membawa peradaban, tata tertib dan keteraturan ke Jawa.

Karena Aji Saka telah mengalahkan raja jahat Prabu Dewata Cengkar sang penguasan hitam yang kala itu menguasai Pulau Jawa.

Legenda ini juga menyebutkan bahwa Aji Saka adalah pencipta tarikh Tahun Saka, atau setidak-tidaknya raja pertama yang menerapkan sistem kalender Hindu di Jawa.

Tumbal Aji Saka untuk menangkal kekekuatan hitam pun bertahan hingga beratus-ratus tahun kemudian. Hingga sampai pada keadaan dimana jin kembali berkuasa, hujan darah dimana-mana, bencana merajalela.


VERSI PENGANUT SYEKH SUBAKIR

Pada masa ini berkembanglah beberapa aliran ilmu gaib di Pulau Jawa diantaranya, kejawen dan kebatinan.

Lalu pada awal abad 13 datanglah Syekh Subakir seorang ulama yang dikirim Kesultanan Turki Utsmaniyah ke tanah Jawa.

Syekh Subakir adalah seorang ulama besar yang dikirim untuk menumbal tanah Jawa dari pengaruh negatif makhluk halus saat awal penyebaran ajaran Islam di nusantara. 

Karena Syekh Subakir mengetahui kondisi Pulau Jawa banyak dipengaruhi unsur gaib yang sangat mengganggu. Lalu, Syekh Subakir membawa batu hitam dari Arab yang telah dirajah.

Kemudian dengan karomah yang dimilikinya batu hitam dengan nama Rajah Aji Kalacakra tersebut dipasang di tengah-tengah tanah Jawa yaitu di Puncak Gunung Tidar, Magelang.

Karena, Gunung Tidar dipercayai sebagai titik sentral atau pakunya tanah Jawa. Hasilnya kekuatan gaib yang mengganggu di Pulau Jawa dapat dihalau.

Pada masa ini ilmu kebatinan berkembang lagi menjadi beberapa cabang yaitu, ketabiban, kawaskitaan, kesaktian, kanuragan, kekebalan, pengasihan, termasuk juga tenaga dalam.

Kemudian sepeninggalan Syekh Subakir pemagaran gaib terhadap pengaruh negatif dilanjutkan oleh para Wali Songo. Para wali ini mengajarkan ajaran Islam. Salah satu diantaranya yang terkenal yaitu Sunan Kalijaga.


DATANGNYA SABDO PALON MEMBAWA NUSANTARA MENUJU KEMAKMURAN 
Ramalan Jayabaya Sebut Masa Ratu Adil Akan Tiba, Selamatkan Zaman Kehancuran Bawa Nusantara Menuju Kemakmuran 
Datangnya satrio piningit dipercaya akan menjadi juru selamat bagi Indonesia.
Kepercayaan ini menjadi tradisi sejak turun temurun dari zaman dahulu hingga sekarang.
Berdasarkan ramalan jayabaya menjelaskan jika Sabdo Palon Noyogenggong yang sudah pergi selama 500 tahun akan kembali.
Karenannya ia akan menepati janjinya untuk datang kembali di tanah Jawa perkiraan pada tahun 1978 silam.
Dalam naskah babad tidak disebutkan pastinya kapan Sabdo Palon Noyogenggong meninggalkan prabu Browijoyo V dari Gunung Lawu.
Hal tersebut akhirnya membuat banyak orang meramalkan waktu kedatangan Sabdo Palon Noyogenggong di Nusantara.
Kebanyakan orang berpendapat bahwa perhginya Sabdo Palon Noyogenggong dikarenakan oleh Eyang Lawu yang mengadakan pertemuan dengan Sunan Kalijaga sebagai rasa tunduk kepada Raden Patah.
Sebagian lagi berpendapat bahwa kejadian tersebut tidak selaras dengan fakta sejarah yang diuraikan.
Mereka berpendapat kepergian Sabdo Palon Noyogenggong sebagai bentuk rasa kecewa dengan Prabu Browijoyo V yang ditandai dengan berbagai macam bencana.
Sebagaimana yang dijelaskan dalam Serat Sabdo, kemunculan Sabdo Palon Noyogenggong diawali denfan meletusnya gunung merapi yang mengalirkan lahar dengan bau amis menuju arah barat daya.
Selain itu, akan muncul gempa bumi sebanyak tujuh kali sehari, hujan di musim yang salah, angin puting beliung dan badai serta terbelahnya tanah Jawa.
Hal menariknya yang perlu ditinjau yakni tanda terbelahnya tanah Jawa. Pendapat tersebut tertulis dalam serat Sabdo Palon dan Jongko Jayabaya.
Setelah 500 Tahun, Peristiwa Terbelahnya Tanah Jawa Merupakan Tanda Kemunculan Pemimpin Indonesia Selanjutnya", kemunculan Sabdo Palon Noyogenggong bertujuan untuk kebahagiaan, kedamaian, ketentraman dan kesejahteraan masyarakat yang semula hidup dalam penderitaan.
Indonesia akan berkuasa dibawah pemerintahan Satrio Piningit dengan asuhan Sabdo Palon Noyogenggong.

KEPERCAYAAN NUSANTARA 

Percaya ataupun tidak, proses tetap berjalan menuju Nusantara Emas / Nuswantoro Jayanegara.

dan proses itu telah berjalan.

Biarlah mereka menyebut itu mitos, bahkan mengolok-oloknya, namun keyakinan orang Jawa itu kuat dan konsisten, termasuk keyakinan Sabdo Palon nagih janji pasti segera terjadi (karena Tanah Jawa itu wingit).

Sebetulnya hal itu dpt dirasakan oleh khalayak umum apalagi yang tanggap sasmita.

Keyakinan Jatidiri Nusantara terus berkembang pesat hingga saat ini :

1. Kaharingan (Kalimantan)

2. Agama Bali 

3. Parmalim (Sumatera Utara).

4. Tonaas Walian (Minahasa, Sulawesi Utara)

5. Tolottang (Sulawesi Selatan)

6. Wetu Telu (Lombok)

7. Naurus (Pulau Seram, Maluku)

8. Aliran Mulajadi Nabolon

9. Marapu (Sumba)

10. Pahkampetan

11. Bolim

12. Basora

13. Sirnagalih

14. Mappurondo (Sulawesi Barat).

15. Niang Tanah Lero wulan (Nusa Tenggara Timur)

16. Adat Lawas (Kalimantan Timur)

17. Aliran Mulajadi Nabolon 3 (Sumatera Utara)

18. Ata Kahfi (Nusa Tenggara Timur)

19. Babolin (Kalimantan Tengah)

20. Bakubung (Kalimantan Tengah)

21. Basora (Kalimantan Tengah)

22. Bolin (Kalimantan Tengah)

23. Budi Suci (Bali)

24. Cahaya Kusuma (Sumatera Utara)

25. Era Mula Watu Tana (Nusa Tenggara Timur)

26. Galih Puji Rahayu (Sumatera Utara)

27. Golongan Si Raja Batak (Sumatera Utara)

28. Guna Lero Wulan Dewa Tanah Ekan (Nusa Tenggara Timur)

29. Habonaron Do Bona (Sumatera Utara)

30. Hajatan (Kalimantan Tengah)

31. Ilmu Ghoib (Lampung)

32. Ilmu Ghoib Kodrat Alam (Lampung)

33. Jingitiu (Nusa Tenggara Timur)

34. Kaharingan Dayak Luwangan (Kalimantan Tengah)

35. Kaharingan Dayak Maanyan Banna 5, Paju 4 dan Paju 10 (Kalimantan Selatan)

36. Kaharingan Dayak Maanyan Piumbung (Kalimantan Tengah)

37. Kakeluargaan (Bali)

38. Kepercayaan AHalu (Kalimantan Tengah)

39. Kepercayaan G. Adat Musi (Sulawesi Utara)

40. Lera Wulan Tana Ekan (Nusa Tenggara Timur)

41. Magapokan (Bali)

42. Mangimang Sumabu Duata (Sulawesi Utara)

43. Marapu (Nusa Tenggara Timur)

44. Ngoja (Kalimantan Tengah)

45. Paguyuban Pendidikan Ilmu Kerohanian – PPIK (Lampung)

46. Paompungan (Sulawesi Utara)

47. Persatuan Aliran Kepercayaan Krida Sempurna (Sumatera Selatan)

48. Pompungan Waya Si Opo Ompung (Sulawesi Utara)

49. Purwo Deksono (Lampung)

50. Purwo Madio Wasono (Sumatera Utara)

51. Ramuat Ali Marie, Ayas, Ilfried – RAMAI (Sulawesi Utara)

52. Silima / Pamena (Sumatera Utara)

53. Ugamo Parmalin Budaya Adat Batak (Sumatera Utara)

54. Hidup Sejati (Nusa Tenggara Barat)

55. Pasemetonan Siwa Budha. Bali.


JAWA TIMUR

1. Aliran Kebatinan Tak Bernama

2. Aliran Seni dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa

3. Babagan Kasampurnan

4. Badan Kebatinan Rila

5. Budi Rahayu

6. Cakramanggilingan

7. Dasa Sila

8. Himpunan Murid dan Wakil Murid Ilmu sejati R. Rawiro Utomo(HIMUWIS RAPRA)

9. Induk Wargo Kawruh Utomo

10. Jawi Wisnu

11. Jendra Hayuningrat Widada Tunggal (PANDHAWA)

12. Kahuripan

13. Kapitayan

14. Kapribaden Upasana

15. Kasampurnan Ketuhanan Awal dan Akhir

16. Kepercayaan Sapta Dharma Indonesia

17. Ketuhanan Kasampurnan

18. Kodratullah Manembah Ghoibing Pangeran

19. Margo Suci Rahayu

20. Paguyuban Darma Bhakti

21. Paguyuban Ilmu Sangkan Paraning Dumadi Sanggar Kencono

22. Paguyuban Kawruh Bathin “101”

23. Paguyuban Kawruh Bathin Tulis Tanpa Papan Kasunyatan

24. Paguyuban Kawruh Bathin Jiwo Lugu

25. Paguyuban Kawruh Murti Utomo Wasito Tunggal

26. Paguyuban Kawruh Sangkan Paran Kasampurnan

27. Paguyuban Kawruh Sasongko

28. Paguyuban Lebdho Guno Gumelar

29. Paguyuban Manunggaling Karso

30. Paguyuban Ngesti Budi Sejati

31. Paguyuban Pangudi Katentreman (PATREM)

32. Paguyuban Satriyo Mangun Mardiko Dununge Urip

33. Paham Jiwa Diri Pribadi

34. Panembah Jati

35. Pangrukti Memetri Kasucian Sejati (PAMEKAS)

36. Pelajar Kawruh Jiwo

37. Perguruan Ilmu Sejati

38. Perhimpunan Kamanungsan

39. Perhimpunan Kepribadian Indonesia

40. Purwaning Dumadi Kautaman

41. Pana Majapahit

75. Podo Bongso

76. Purbokayun

77. Sangkan Paraning Dumadi (Sri Jayabaya)

78. Sukma maneges 

79. Paguyuban Kediri Garuda Nusantara

80. Tri Tunggal Bayu

81. Rasa Manunggal

82. Sujud Manembah Bekti

83. Tri Murti NaluriMajapahit

84. Urip Sejati

85. Paguyuban ngesti tunggal. (Banyuwangi - Jember) 

86. Paguyuban Prono jiwo ( Banyuwangi - Jember) 

87. Kawruh Joyoboyo

88. BULAD ( budi luhur ajining diri ).

89. hindu darma.

90. manunggaleng gusti.

91. Paguyuban Sumarah.

92. Paguyuban Perjalanan.

93. PAMU ( Purwo Ayu Mardi Utomo - Banyuwangi ).

94. Tutur Tinular - Banyuwangi.

95. Jowodwipo - Banyuwangi.

96. Sabdo Buana - Banyuwangi.

97. Paguyuban Manunggal Rasa Sejati (PMRS) - Banyuwangi.

98. Tirto Kahuripan - Banyuwangi.


JAWA TENGAH

1. Badan Kebatinan Indonesia

2. Badan Keluarga Kebatinan Wisnu

3. Elang Mangkunegara

4. Hak (Kawruh Hak)

5. Hidayat Jati Ranggawarsita

6. Hidup Betul

7. Himpunan Kebatinan Rukun Wargo

8. Ilmu Kasampurnan Jati

9. Jaya Sampurna (Pamungkas Jati Titi Jaya Sampurna)

10. Kalimasada Rasa Sejati

11. Kapribaden (Kawruh Kapribaden)

12. Kasampurnan

13. Kawruh Naluri Batin Tulis Tanpa Papan Kasunyatan Jati

14. Kawruh Roso Sejati

15. Kawruh Urip Sejati

16. Kejaten

17. Kejawen

18. Kejiwaan

19. Kapribaden Jateng.

20. Agama Jawa Asli Republik Indonesia

21. Dununge Urip

22. Ilmu Sejati

23. Ilmu Sejati Prawiro Sudarso

24. Kawruh Budhi Jati

25. Kawruh Guru Sejati Kawedar (KGSK)

26. Kawruh Kasunyatan Kasumpurnan Pusoko Budi Utomo

27. Langgeng Suci

28. Mustiko Sejati

29. Ngudi Utomo

30. Paguyuban Anggayuh Katentremaning Urip (AKU)

31. Paguyuban Budi Sejati

32. Paguyuban Hasto Broto

33. Paguyuban Kawruh Kodrating Pangeran

34. Paguyuban Kaluwargo Kapribaden

35. Paguyuban Muda Dharma Indonesia

36. Paguyuban Ngesti Jati

37. Paguyuban Olah Rasa Mulat Sarira Ngesti Tunggal

38. Paguyuban Pangudi Kawruh Kasuksman Panunggalan

39. Paguyuban Trijaya

40. Paguyuban Ulah Rasa Batin (PURBA)

41. Paguyuban Jawa Naluri

42. Pangudi Rahayuning Budhi (PRABU)

43. Pangudi Rahayuning Bawana (PARABA)

44. Papandaya

45. Pembagunan Kebatinan Kepribadian Rakyat Indonesia Badan Kejawan (PERKRI)

46. Penghayat Kepercayaan Paguyuban Noermanto (PKPN)

47. Perjalanan Tri Luhur

48. Persatuan Resik Kubur Jero Tengah

49. Pirukunan Kawulo Manembah Gusti (PKMG)

50. Pramono Sejati

51. Pribadi

52. Purwo Ayu Mardi Utomo

53. Ratu Adil

54. Saserepan Kepribadian Intisari (SKI’45)

55. Saserepan’45

56. Sentana Darma Majapahit dan Pancasila (SADHAR MAPAN)

57. Setia Budi Perjanjian 45 (SBP 45)

58. Sukma Sejati51. Tujuh Mulya

59. Waspodo

60. Wayah Kaki

61. Wratama Wedyanantama Karya

62. Wringin Seta

63. Paguyuban Domas (wong bodo ati emas)  karanganyar 

64. Pangestu

65. Samin

66. Sumarah

67. Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwate Dhiyu.

68. Sapta Darma.

69. Perbegu (pemena) batak karo.

70. paguyupan ngesti tunggal (pangestu) disolo sekitaran.


DIY YOGYAKARTA

1. Angesti Sampurnaning Kautaman

2. Anggayuh Panglereming Napsu (APN)

3. Budi Luhur

4. Hak Sejati

5. Hangudi Bawana Tata Lahir dan Batin

6. Imbal Wacono

7. Kasampurnan Jati

8. Kawruh Panggayuh Esti

9. Kawula Warga Naluri

10. Kebatinan 9 Pambuka Jiwa

11. Kapitayan

12. Kumambang Watu Ireng.

13. Memayu Hayuning Bawono

14. Ngelmu Beja-Mulur Mungkret

15. Paguyuban Pambuka Das Sanga

16. Pamengku

17. Kelompok Setu Pahing

18. Mardi Santosaning Busi (MSB)

19. Minggu Kliwon

20. Ngesti Roso sejati

21. Ngesti Roso

22. Paguyuban Jawi Lugu

23. Paguyuban Kawruh Hardo Puruso

24. Paguyuban Kebudayaan Djawi (PKD)

25. Paguyuban Keluarga Besar Keris Mataram

26. Paguyuban Keluarga Besar Sri Sadono

27. Paguyuban Rabo Wage

28. Paguyuban Sangkara Muda

29. Paguyuban Tata Tentrem (Patrem Indonesia)

30. Paguyuban Traju Mas

31. Perguruan Das

32. Persatuan Eklasing Budi Murko

33. Purwoduksino

34. Sumarah Purbo

35. Tuntunan Kerohanian Sapta Darma

36. Yayasan Sosrokartono

37. HARDO PUSORO

38. Paguyuban Agung Budi Aji.


JAWA BARAT

1. Aliran Kepercayaan Aji Dipa

2. Aliran Kepercayaan Lebak Cawene

3. Budi Rahayu

4. Kawruh Kebatinan GunungJati

5. Paguyuban Adat Cara Karuhun

6. Perjalanan Budi Daya

7. Buhun (Jawa Barat)

8. Sunda Wiwitan (Kanekes, Banten)


DKI JAKARTA

1. Aliran Kebatinan Perjalanan

2. Budi Luhur (Kawruh Kasampurnan Sangkan Paran Budi Luhur)

3. Forum Sawyo Tunggal

4. Urip Utami (Gautamai)

5. Himpunan Amanat Rakyat Indonesia (HARI)

6. Mersudi Kaluhuring Budi Pekerti (Mekar Budi)

7. Musyawarah Agung Warna

8. Ngudi Kawruh Rasa Jati

9. Organisasi Kebatinan Satuan Rakyat Indonesia Murni (Sri Murni)

10. Paguyuban Kebatinan Ilmu Hak

11. Paguyuban Ki Ageng Selo

12. Paguyuban Penghayat Kapribaden

13. Paguyuban Sumarah

14. Pangestu (Paguyuban Ngesti Tunggal)

15. Pangudi Ilmu Kebatinan Intisarining Rasa (PIKIR)

16. Pangudi Ilmu Kepercayaan Hidup Sempurna (PIKHS)

17. Perhimpunan Peri Kemanusiaan

18. Persatuan Warga Theosofi Indonesia

19. Pran-Suh (Ngesti Kasampurnan)

20. Purbaning Lampang Sejati

21. Sastra Jendra Hayuningrat Pangruktining

22. Sri Langgeng

23. Susila Budhi Dharma (SUBUD)

24. Tri Sabda Tunggal

25. Tunggal Sabda Jati

26. Wisma Tata Naluri

27. Jawa Barat : Keyakinan Puji Dipa (Kebagusan)

Tambahan : 

Masih banyak aliran kepercayaan intinya adanya Sang Pencipta dengan proses alamiah mereka akan muncul dan mengibarkan panji-panji Nusantara/ Nuswantoro.




Imajier Nuswantoro 

ꦆꦩꦗꦶꦪꦺꦂꦤꦸꦱ꧀ꦮꦤ꧀ꦠꦺꦴꦫꦺꦴ


Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)