Agama Kalang
Agama Orang Kalang adalah perpaduan unik antara Hindu, Buddha, Islam sebagai agama resmi karena Sinkretisme agama adalah proses penggabungan atau perpaduan unsur-unsur dari berbagai sistem kepercayaan, praktik, dan tradisi keagamaan untuk menciptakan sistem kepercayaan baru atau mengadaptasi tradisi yang sudah ada, sering terjadi saat budaya bertemu atau ditaklukkan, seperti perpaduan Shinto dan Buddha di Jepang, Hindu-Buddha di Indonesia (Siwa-Buddha), atau perpaduan budaya lokal Latin dengan Katolik di Amerika Latin, menciptakan bentuk keagamaan unik yang bisa menolak atau diterima oleh aliran utama dan Wong Kalang juga mengagungkan tradisi leluhur Jawa kuno mempercayai adanya Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta (Sing Ngecet Lombok / Gusti Kang Ngukir mbumi).
Agama Kalang adalah kepercayaan kuno suku Kalang di Jawa yang berakar pada animisme dan dinamisme dulu pemahaman tersebut di framing oleh Hindia Belanda untuk kepentingan politik kolonialisme Devide et impera (divide and rule), mempercayai roh leluhur, namun kini mayoritas memeluk Islam sambil tetap melestarikan ritual adat seperti Kalang Obong, yang dianggap sebagai tradisi bukan syirik, menciptakan perpaduan unik antara Islam dan kebudayaan Jawa kuno untuk menghormati nenek moyang. Suku ini awalnya terasing dan dianggap liar, tetapi kini hidup berbaur, meskipun ritual adat kematiannya masih sangat khas dan penting bagi mereka.
Asal Usul Kepercayaan :
- Suku Kalang ada sebelum masuknya agama Hindu dan Buddha ke Jawa, dan sistem kepercayaan awal mereka terkait erat dengan alam dan roh.
- Mereka mengasingkan diri dan memiliki tradisi unik yang berbeda dari masyarakat Jawa lainnya.
Perpaduan dengan Islam :
- Seiring waktu, banyak orang Kalang memeluk Islam, tetapi tidak meninggalkan ritual adat mereka.
- Bagi mereka, Islam adalah agama, sedangkan tradisi Kalang adalah budaya dan warisan leluhur yang harus dijalankan.
- Ritual adat sering kali diisi dengan doa-doa Islam dan dilakukan bersamaan dengan syariat Islam, seperti upacara pernikahan.
Ritual Khas (Kalang Obong) :
- Ini adalah upacara kematian yang penting, biasanya dilakukan pada hari ke-7 (Mitung Dino) dan satu tahun (Mendhak) setelah kematian.
- Tujuannya adalah untuk menyempurnakan arwah leluhur dan menjaga hubungan spiritual dengan mereka, serta agar keluarga terhindar dari bahaya.
- Ritual ini mencakup mantra-mantra kuno dan doa-doa Islam, menunjukkan akulturasi budaya.
Identitas dan Aturan :
- Orang Kalang memiliki aturan ketat tentang menjaga tradisi, termasuk larangan menikah dengan orang luar pada masa lalu, yang bertujuan menjaga keaslian kelompok.
- Mereka dikenal rajin, jujur, dan wiraswasta, serta memiliki identitas kuat sebagai keturunan leluhur yang sakti.
Secara ringkas, "agama Kalang" merujuk pada keyakinan lokal mereka yang hidup berdampingan dengan Islam, di mana ritual kuno seperti Kalang Obong menjadi cara penting untuk menghormati leluhur dan menjaga identitas suku.
Kalang
Kalang merujuk pada Suku Kalang (Wong Kalang), sekelompok masyarakat Jawa kuno yang dikenal karena keterampilan pertukangan dan hutan, memiliki tradisi unik seperti kepercayaan memiliki ekor, serta peran penting dalam sejarah Mataram, namun seringkali terstigmatisasi sebagai kelompok terpencil atau "berbeda". Mereka memiliki keahlian konstruksi, terutama kayu (membangun istana Kotagede), dan tradisi seperti upacara kematian Kalang Obong
Asal-usul dan Sejarah
- Prasasti Kuno: Sebutan "Kalang" sudah ada sejak Kerajaan Medang (abad ke-9), disebut dalam prasasti sebagai kelompok dengan pemimpin (Tuha Kalang) yang menerima hadiah (pasek-pasek) saat penetapan desa perdikan (sima).
- Zaman Kerajaan: Berperan penting dalam pembangunan istana Mataram Islam di Kotagede karena keahlian konstruksi kayu mereka, membangun gapura dan rumah megah.
- Identitas Sosial: Dulu dianggap masyarakat terpencil di hutan, seringkali dengan mitos "manusia berekor," namun kini telah berbaur, meski ada tradisi dan mitos yang masih hidup.
Ciri Khas dan Tradisi
- Keterampilan: Ahli perkayuan, pertukangan, pemahat, dan transportasi (gerobak), yang membangun situs-situs bersejarah.
- Kepercayaan: Mitos tentang "ekor" dan asal-usul dari perkawinan bangsawan dengan anjing jelmaan, yang dipercaya muncul setiap malam Jumat Kliwon.
- Adat: Ada tradisi endogami (menikah sesama Kalang) untuk menjaga identitas, serta ritual kematian Kalang Obong di Kendal.
Penyebaran
- Tersebar di Jawa, terutama Jawa Tengah (Kendal), Jawa Timur (Bojonegoro, Cepu), Yogyakarta, dan daerah lain.
- Peninggalan fisik mereka masih ada, seperti rumah adat (Omah Kalang) dan situs makam kuno di hutan.
Suku Kalang (Wong Kalang)
Suku Kalang (Wong Kalang) adalah kelompok masyarakat adat di Jawa, khususnya Jawa Tengah, yang dikenal memiliki tradisi unik, mistis, dan sejarah panjang sebelum masuknya agama-agama besar.
Berikut adalah poin-poin utama terkait kepercayaan dan tradisi Suku Kalang :
- Kepercayaan Asli: Sebelum memeluk agama Islam atau Hindu-Buddha, Suku Kalang diyakini menganut animisme-dinamisme, menyembah roh leluhur, dan hidup nomaden di hutan.
- Islam Kalang (Islam Lokal): Saat ini, sebagian besar Wong Kalang telah memeluk agama Islam. Namun, praktik keislaman mereka sering kali bercampur dengan tradisi adat leluhur, sehingga sering disebut sebagai "Islam Kalang" atau Islam lokal.
- Tradisi Kalang Obong: Ini adalah tradisi paling menonjol, yaitu upacara kematian dengan cara membakar barang-barang milik almarhum/almarhumah (biasanya setelah satu tahun kematian atau sependhak). Mereka percaya jika tradisi ini tidak dilakukan, arwah leluhur akan gentayangan.
- Mistis dan Sejarah: Suku Kalang dahulu sering dikucilkan oleh masyarakat umum karena dianggap liar, berbahaya, dan dirumorkan memiliki ekor. Namun, mereka dikenal sebagai perajin kayu jati, pembuat gerabah, dan maestro candi yang sakti.
- Karakteristik: Meskipun memiliki tradisi lokal yang kuat, mereka juga dikenal rajin bersedekah dan tidak sedikit yang menunaikan ibadah haji.
Secara ringkas, agama/kepercayaan Suku Kalang saat ini adalah Islam yang diintegrasikan dengan tradisi adat, terutama ritual Kalang Obong.
Suku Kalang
Suku Kalang atau Wong Kalang adalah salah satu subsuku di masyarakat Jawa. Namun, data literatur kuno (prasasti) menyebut kalang sebagai salah satu status sosial yang sudah ada sejak era Kerajaan Medang. Bahkan, istilah Kalang juga identik seni sastra Jawa Kuno yang menjadi tradisi para rakawi. Kesenian ini dikenal dengan istilah Kalangwan (Zoetmulder, 1983).
Cikal Bakal Kalang
Kata "kalang" berasal dari bahasa Jawa yang artinya "batas". Lingkup sosial orang-orang ini sengaja dibatasi (atau dikalang) oleh otoritas atau masyarakat mayoritas waktu itu. Orang Kalang sengaja diasingkan dalam kehidupan masyarakat luas, karena dulu ada anggapan bahwa mereka liar dan berbahaya.
Menurut literatur, istilah kalang pertama ditemukan dalam prasasti Kuburan Candi di Desa Tegalsari, Kawedanan Tegalharjo, Kabupaten Magelang, yang berangka tahun 831 M. Sehingga diduga, istilah ini merujuk pada status sosial yang sudah ada sejak Jawa belum mengenal agama Hindu.
Istilah kalang juga disebut dalam Prasasti Telang (903 M) dan Sangsang (907 M) sebagai salah satu golongan sosial masyarakat di era kepemimpinan Raja Dyah Baletung (898 - 910 M). Dua prasasti yang membahas wilayah Bojonegoro tersebut, disebutkan bahwa kalang adalah jenis strata sosial yang sangat berperadaban. Sampai saat ini, kawasan Kedewan Bojonegoro memang dikenal sebagai wilayah dipenuhi banyak peninggalan kalang.
Menurut mitos, orang kalang adalah maestro pembuat candi yang secara fisik berbadan kuat dan tegap. Ada kemungkinan berasal dari Khmer atau Kamboja di mana orang kuat di negeri tersebut diterjemahkan sebagai manusia k'lang (មនុស្សខ្លាំង). di mana seperti kita ketahui candi di negeri Khmer mempunyai kemiripan dengan dengan candi di Jawa,
Setelah Hindu masuk, Wong Kalang semakin tersisih oleh sistem pengastaan, karena ketidakjelasan nenek moyang mereka. Orang Kalang pun dipaksa tinggal di daerah-daerah pengasingan, seperti pantai yang berpaya-paya, tepi sungai, lereng-lereng gunung yang tinggi, serta tanah-tanah tandus. Sebagian lainnya hidup nomaden dari hutan ke hutan. Lingkungan yang keras itu menempa mereka menjadi pekerja keras. Sehingga, pihak otoritas Kerajaan Majapahit waktu itu memanfaatkan tenaga mereka untuk proyek-proyek fisik berskala besar, antara lain sebagai penebang pohon, juru angkut, terkadang juga prajurit tempur di medan peperangan yang didatangkan dari sekitar gunung Lawu, yakni desa Kalang kabupaten Magetan.
Alasan orang Kalang dikucilkan
Disebutkan dalam buku Javaansch Nederduitsch Woordenboek bahwa Kalang adalah nama sebuah etnis di Jawa yang dulu hidup di sekitar hutan, dan mereka diduga memiliki asal keturunan yang hina. Antara lain karena dianggap keturunan kera atau anjing (baca subjudul "Mitos-mitos Yang Beredar Seputar Suku Kalang" di bawah).
Secara fisik, menurut Pieter Johannes Veth, orang Kalang memang memiliki fisik yang lain dengan penduduk setempat. Mereka lebih mirip dengan suku Negrito di Filipina yang berkulit legam dan berambut keriting. Orang Kalang juga dianggap pendatang dari Kedah, Kelang, dan Pegu pada tahun 800 Masehi.
Dengan sejumlah perbedaan fisik dan latar belakang tersebut, orang Kalang memilih hidup memisahkan diri dari pemukiman warga lainnya. Akhirnya, oleh otoritas Kerajaan Hindu saat itu, mereka dicap tidak memiliki kasta (kaum paria). Semakin besarlah jarak di antara mereka dan masyarakat umum. Sebab dalam sistem kasta, orang yang tidak berkasta tidak boleh berhubungan dengan orang yang berkasta, sekalipun itu orang dari kasta terendah (Sudra).
Kendati demikian, hubungan kerja tetap terjalin sesekali. Namun, karena karakter orang Kalang yang keras, liar, dan berbahaya, sering terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Antara lain pembangkangan orang Kalang, sebagaimana tertulis dalam penelitian Hery Santoso. Dikisahkan dalam buku Perlawanan di Simpang Jalan: Kontes Harian di Desa-Desa Sekitar Hutan di Jawa (2004), orang Kalang melakukan aksi penebangan kayu secara liar (h. 73-78).
Mitos-mitos Yang Beredar Seputar Suku Kalang
Lantaran asal-usulnya yang simpang-siur dan jumlah anggota masyarakatnya yang sedikit, suku Kalang sering disalahpahami orang. Itulah mengapa, pada zaman dulu, mereka cenderung dihindari dan dikucilkan (dikalang). Bukan hanya itu, beredar juga mitos-mitos yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Beberapa di antaranya sebagai berikut:
Orang Kalang Memiliki Ekor
Mitos ini pertama dikemukakan oleh Mitsuo Nakamura pada 1983. Antropolog Jepang itu mengatakan bahwa orang-orang Kalang dulunya adalah tawanan yang ditangkap oleh Sultan Agung dari ekspedisinya di Bali pada awal abad 17. Mereka dipercaya merupakan keturunan dari kera dan seorang putri, sehingga memiliki ekor pendek serupa kera.
Orang Kalang adalah Keturunan Anjing
Selain anggapan bahwa orang Kalang merupakan blasteran kera, mereka juga dianggap keturunan anjing. Orang Jawa memiliki anggapan yang berbau takhayul bahwa Wong Kalang merupakan anak hasil perkawinan antara seorang perempuan dengan seekor anjing.
Anggapan itu sebenarnya juga bukan terbentuk dengan sendirinya. Dalam Gegumbregan Gegalungan, upacara yang sekarang sudah jarang dilakukan oleh masyarakat Kalang, terlihat sekali ekspresi dan simbolisasi gerakan yang meniru perilaku anjing. Antara lain, partisipan upacara merangkak seperti anjing. Hal ini dilakukan agar apa yang diinginkan dapat dikabulkan oleh leluhurnya. Anjing dalam sistem upacara Galungan tersebut dapat juga dimanifestasikan dalam wujud patung kecil yang diletakkan di depan orang yang merangkak tadi.
Orang Kalang Sakti Mandraguna
Pada era Majapahit, komunitas Kalang ditugaskan untuk menjaga hutan agar tidak kemasukan penyusup yang membahayakan kerajaan. Alasannya, orang Kalang dianggap sakti. Selain itu, dengan kesaktiannya, mereka juga dipekerjakan sebagai pembuat candi. Konon, Wong Kalang mampu mengangkat batu yang sangat besar. Ketika berperang melawan suku Dayak yang dikenal sakti pun Majapahit banyak membawa tentara Kalang, sehingga akhirnya memperoleh kemenangan besar.
Dengan jasa-jasa ini, Majapahit memberikan kaum ini penghargaan. Namun lantaran sifat liarnya, penghargaan tersebut kemudian dicabut. Masyarakat Kalang kemudian kembali dilepas ke hutan. Mereka beranak pinak di sana, hingga akhirnya satu per satu keluar dari hutan dan membaur dengan warga lokal di Jawa.
Orang Kalang Hari Ini
Seiring dengan perkembangan zaman dan tidak berlakunya sistem kasta, orang-orang Kalang sudah banyak berbaur dengan masyarakat lainnya, baik dalam pergaulan sosial maupun pernikahan. Suku ini sudah diterima dengan baik di Indonesia. Demikian pula sebaliknya, suku Kalang juga dapat menerima orang-orang dari luar sukunya.
Orang Kalang saat ini banyak tersebar di Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, seperti Magetan, Cilacap, Adipala, Gombong, Ambal, Petanahan, Kebumen, Bagelen, sampai wilayah Yogyakarta. Namun, di kalangan internal, tetap saja ada pembagian golongan,nyaitu:
- Kalang Obong: golongan Kalang dari laki-laki yang berhak untuk mengadakan upacara Kalang obong, ritual ikonik suku Kalang yang sudah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Takbenda pada 2018.
- Kalang Kamplong: golongan Kalang dari keturunan perempuan yang tidak berhak mengadakan upacara obong karena dianggap tidak murni lagi, dengan alasan suaminya berasal dari luar Kalang.
Sistem Kepercayaan
- Sejak puluhan tahun, banyak di antara Wong Kalang yang sudah menjadi muslim dan menjalankan syariat-syariat Islam. Meskipun kebanyakan dari mereka masih setia menjalankan upacara-upacara tradisionalnya. Beberapa di antara ritual mereka yang masih dikerjakan hingga hari ini seperti Kalang obong (obong mitung dino dan obong mendhak, gegalungan gegrumbegan, nyayuti, dan sebagainya.
- Upacara-upacara semacam ini sebenarnya memerlukan biaya yang tidak sedikit. Namun, hal ini tetap dipandang perlu dilakukan, karena tujuannya untuk mengumpulkan kembali anggota suku Kalang yang tersebar di berbagai penjuru Indonesia, sekaligus mengikuti amanat leluhur mereka.
- Ada pula orang Kalang yang sudah melepaskan identitasnya. Mereka tidak melakukan ritual-ritual khas kaum Kalang lagi dan tidak khawatir akan terjadi sesuatu pada dirinya.
Mata Pencaharian
Karena sudah berakulturasi dan beradaptasi dengan baik, nyaris tidak ada perbedaan antara orang Kalang dan bukan Kalang. Umumnya, kehidupan orang Kalang sangat teratur dan makmur. Banyak keturunannya yang sukses menjadi wirausahawan.
Kalang Kupak
Alat musik ini dibuat dari jenis bambu yang tipis (Paring Tamiang). Kalang kupak terdiri dari 8 ruas bambu yang masing-masing dipotong setengahnya dan meruncing di bagian ujung. Ruas-ruas bambu tersebut kemudian disatukan dengan serat rotan hingga bentuknya menyerupai calung dari Jawa Barat. Kalang Kupak berperan sebagai pembawa melodi, dimainkan bersama alat musik agung (gong), babun (gendang), lumba (gendang), dan kecapi untuk mengiringi upacara adat Balian, yaitu upacara keselamatan bagi kehidupan masyarakat setempat yang dilaksanakan setiap tahun dan untuk mengiringi tarian adat, seperti tari Gintor.
Kalang Kumpak merupakan alat musik tradisional Suku Bukit. Masyarakat Dayak Maanyan menyebut kalang kumpak dengan nama "salung" yang berfungsi untuk menghibur petani di ladang dan untuk mengusir binatang buas.
Wong Kalang Sebagai Manusia Berbuntut dalam Cerita Rakyat di Jawa
Orang Kalang dianggap mempunyai adat-kebiasaan yang tidak sama dengan adatkebiasaan orang Jawa pada umumnya, khususnya di desa Pesantren, Ulujami, Pemalang.
Wong Kalang yang merupakan komunitas masyarakat kuno di Pulau Jawa, telah berkembang dan berdiaspora di beberapa wilayah di Pulau Jawa.
Kediaman mereka sama saja dengan rumah-rumah tetanggatetangga mereka yang mengaku sebagai orang Jawa ‘asli.
Baik dalam kehidupan sehari-hari dengan tetangga maupun di dalam keluarga, mereka juga menuturkan bahasa Jawa dialek Banyumasan.
Menurut jurnal Masyarakat & Budaya dengan judul Orang Kalang, Cina, dan Budaya Pasar di Pedesaan Jawa. Jurnalnya diterbitkan pada tahun 2008.
Orang Kalang mementingkan kawin-mawin dengan sesama orang Kalang atau dalam istilah antropologi disebut sebagai endogami kelompok.
Mereka juga sering mengadakan pertemuan minimal tiga bulan sekali sesama orang Kalang dari berbagai daerah di Banyumas dan sekitarnya dan menganggap diri sebagai satu trah organisasi kekerabatan yang berpangkal ke satu nenek-moyang bersama yang dikenali.
Aturan endogami kelompok dalam masyarakat Kalang masih cukup kuat. Anggota Kalangan sebutan kelompok Kalang yang kawin dengan orang di luar kelompok, konon akan dikeluarkan dari kelompok Kalangan.
Istri dan anak-anak mereka tidak diakui sebagai orang Kalang, baik oleh orang-orang Kalangan sendiri maupun oleh tetangga orang Jawa lainnya.
Adat kebiasaan untuk menikah dengan sesama orang Kalang tampaknya merupakan ciri utama yang diketahui secara umum oleh orang Jawa lainnya di desa Pesantren.
Tidak semua orang Jawa di Desa Pesantren mau berterus-terang bila ditanya tentang tetangga mereka yang disebut wong Kalang. Tapi ada pula yang antusias memaparkan pengetahuannya tentang orang Kalang.
Menurut mitos yang berkembang di Desa Pesantren, asal-usul orang Kalang ini dikaitkan dengan seorang laki-laki yang dilahirkan dari perkawinan seorang putri bangsawan dengan seekor anjing yang sesungguhnya ia merupakan manusia yang dikutuk menjadi anjing.
Laki-laki ‘indo-anjing’ itulah kakek moyang orang Kalang. Karena asal-usulnya ini, pada setiap malam Jumat Kliwon keluarlah ekor (buntut) pendek di tubuh bagian belakang orang Kalang.
Dalam suatu riset menanyakan pada salah seorang informan di Desa Pesantren, menegaskan bahwa keluarnya ekor hanya berlaku bagi orang Kalang ‘asli’ di zaman dahulu.
"Sekarang, zaman sudah berubah dan tidak sedikit orang Kalang yang kawin-mawin dan bergaul dengan orang Jawa sehingga ‘darah Kalang’ mereka tidak murni lagi.
Mitos tentang kebenaran faktual dari kemunculan ekor orang asli Kalang diperkirakan berkembang dari tradisi lisan masyarakat sekitar yang dilestarikan secara turun temurun.
Narasi yang berkembang sampai ke era modern, menyebut tentang dibentuknya mitos asal-usul Orang Kalang ini, sebagai upaya untuk menjelaskan bahwa orang Kalang dianggap mempunyai asal-usul berbeda di mata orang Jawa.
Meski secara sosial orang Kalang selalu dipandang rendah, namun secara ekonomi masyarakat Kalang telah mendominasi roda perekonomian di Pesantren, Ulujami, Pemalang.
Imajiner Nuswantoro







