PERANG BUBAT
(Pandangan Beberapa Versi)
Pasca tragedi Bubat dikisahkan dalam versi Berita Nusantara II/2. Menurut buku ini, “Prabu Hayam Wuruk tiba bersama pengiringnya dan Gajah Mada di Bubat. Kemudian ia meneliti dan memperhatikan mayat orang-orang Sunda satu demi satu. Ketika matanya tertatap sesosok mayat, ia melihat Sang Putri telah terbujur kaku, maka sangatlah luka hatinya. Ia terisak menahan tangis. Kemudian semua mayat itu dimasukan kedalam bandusa (peti mati) dan diberi tulisan yang memuat nama masing-masing”. (RPMSJB, Jilid ketiga hal, 35)
Adapun nama-nama para kesatria Sunda yang gugur di Bubat, sebagai berikut :
RakeyanTumenggung Larang Ageng, Rakean Mantri Sohan, Yuwamantri (mantri muda), Gempong Lotong, Sang Panji Melong Sakti, Ki Panghulu Sura, Rakean Mantri Saya, Rakean Rangga Kaweni, Sang Mantri Usus, yaitu bhayangkara sang prabu, Rakeyan Senapati Yuda Sutrajali, Rakean Juru Siring, Ki Jagat Saya Patih Mandala Kidul, Sang Mantri Patih Wirayuda, Rakean Nakoda Braja yang menjadi panglima laut Sunda, Ki Nakoda Bule pemimpin Jurumudi kapal perang kerajaan. Ki Juruwastra, Ki Mantri Sabrang Keling, Ki Mantri Supit Kelingking. Lalu Sang Prabu Maharaja Linggabuana ratu Sunda dan rajaputri Dyah Pitaloka bersama pengiringnya.
Prabu Hayam Wuruk keluar dari tenda Sang Putri. Dari kejauhan nampak berkibar dua panji Majapahit dan Sunda. Ia pun menugaskan untuk menyelenggarakan upacara kematian secara kebesaran esok harinya. Ketika semua mayat dimandi sucikan dan diperabukan, tampak ribuan penduduk dari daerah sekitarnya memenuhi lapangan, menyaksikan dengan penuh haru.
Selanjutnya Hayam Wuruk memerintahkan para darmayaksa dan utusan dari setiap agama menemui Sang Bunisora (adik kandung Parbu Maharaja), untuk mengirimkan surat berisi permintaan maaf atas peristiwa Bubat. Hayam Wuruk berjanji pula, tidak akan pernah terjadi lagi Majapahit menyakiti hati Urang Sunda untuk yang kedua kalinya.
Menurut versi yang dimuat dalam Pustaka Nusantara II/2, dikisahkan :
Sakweh ing amtya, tanda senapati, wadyabala, kuwandha raja, dolaya manacitta mapan Bhre Prabhu wilwatika i sedeng gering ngenes, Marga nira gering, karena kahyun ira masteri lawan Dyah Pitaloka tan siddha.
Akibat peristiwa Bubat itu Prabu Hayam Wuruk sakit lama karena menyesal. Keluarga Kerajaan Majapahit seperti ayah, ibu dan adik-adik Prabu Hayam Wuruk meyakini bahwa nama buruk Majapahit akibat peristiwa bubat. Yang menyebabkan Sri Rajasanagara sakit parah itu adalah prakarsa Sang Mangkubumi Gajah Mada. Mereka memutuskan bahwa sang Mangkubumi harus ditangkap. Tetapi rencana tersebut dapat diketahui sehingga ketika pasukan Bhayangkara kerajaan datang di puri Gajah Mada, sang mangkubumi telah lolos tanpa seorang pun mengetahui tempat persembunyiannya.
Baru beberapa tahun kemudian setelah Prabu Hayam Wuruk mempersunting puteri raja Wengker, Ratu Ayu Kusumadewi, ia memberi ampun kepada sang Mangkubumi dan mengundangnya untuk menepati jabatannya yang semua. Ada juga versi lain yang menjelaskan, bahwa akibat peristiwa Bubat ini hubungan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada menjadi renggang. Gajah Mada sendiri tetap menjabat Mahapatih sampai wafatnya (ada juga yang menyatakan moksa), pada tahun 1364 M.
Keteguhan Janji
Hayam Wuruk memang telah meminta maaf dan berjanji untuk tidak lagi menyerang Sunda, namun sebagai antispasi dan kewaspadaan, Mangkubumi Bunisora masih belum merasa yakin atas janji yang disampaikan Hayam Wuruk. Ia tidak mau terjadi lagi peristiwa seperti Bubat, pura-pura diajak bersaudara namun diperih pati.
Sebagai bentuk kewaspadaan, Sang Bunisora menyiagakan angkatan perang dan angkatan lautnya. Armada Sunda ditempatkan di tungtung Sunda, yaitu di kali Brebes (Cipamali) yang menjadi perbatasan Sunda dengan Majapahit. Namun Hayam Wuruk menepati janjinya dan tidak menyerang Sunda untuk yang kedua kalinya. Konon kabar, janji ini dibuktikan pula, ketika Prabu Hayam Wuruk hendak melakukan ekspedisi ke Sumatera, ia terlebih dahulu memberi kabar kepada Hyang Bunisora bahwa kapal-kapal Majapahit akan melewati perairan Sunda.
Pentaatan Raja-raja Sunda terhadap perjanjian ini juga diwariskan
untuk tidak berniat menyerang Majapahit. Hal ini dibuktikan oleh raja Sunda untuk tidak menyerang Majapahit, ketika terjadi perang Paregreg (1453-1456 M), yaitu peristiwa perebutan tahta Majapahit oleh para keturunannnya. Pada masa perang Paregreg Kawali sudah berada dibawah kekuasaan Wastu Kancana, putra Linggabuana.
Demikian pula pada masa sesudahnya. Ketika itu Majapahit dipimpin Prabu Kertabumi atau Brawijaya V, pada tahun 1478 kalah perang dari Demak dan Girindrawardana, banyak keluarga keraton Majapahit mengungsi ketimur, yakni ke Panarukan, Pasuruan, Blambangan dan Supit Udang. Gelombang para pengungsi ada juga yang menuju ke barat, ke daerah Galuh dan Kawali. Rombongan yang terkahir ini di pimpin oleh Raden Baribin, mereka disambut dengan senang hati oleh Dewa Niskala. Raden Baribin kemudian di jodohkan dengan Ratu Ayu Kirana, putri Prabu Dewa Niskala. Putri ini adiknya Banyakcatra atau Kamandaka, bupati Galuh di Pasir Luhur dan Banyakngampar bupati Galuh di Dayeuh Luhur.
Mitos atau larangan
Pada masa tersebut, tahta Sunda di Kawali sudah diwarikan kepada Dewa Niskala. Sayangnya Dewa Niskala dianggap ‘ngarumpak dua larangan’ dengan cara menikahi seorang rara hulanjar dan istri larangan salah satu rombongan para pengungsi. Hal tersebut ditentang oleh lingkungan kerabat Galuh, termasuk oleh saudara seayah, yakni Prabu Susuktunggal (raja Sunda di Pakuan). Prabu Susuktunggal merasa bahwa keraton Surawisesa telah dinodai, sehingga Susuktunggal mengancam akan memutuskan segala hubungan kekerabatannya dengan Galuh. Mungkin ancaman demikian tidak berakibat menakutkan jika disampaikan oleh kerabat biasa, namun lain halnya jika disampaikan oleh seorang raja Sunda yang sederajat dengan Dewa Niskala, sehingga wajar jika kemudian terjadi ketegangan.
Ketegangan diantara kedua keturunan Wastu Kancana tersebut berakhir ketika para pemuka kerajaan mendesak keduanya untuk mengundurkan diri. Sebagai bentuk kompromi keduanya harus menyerahkan tahtanya kepada Jayadewata, yakni putra Dewa Niskala dan sekaligus menantu Susuktunggal. Pada masa itu Jayadewata telah menduduki jabatan sebagai Putra Mahkota Galuh, sedangkan di Sunda diangkat sebagai Prabu Anom.
Dari adanya peristiwa tersebut tentunya mengandung hikmah yang cukup besar, karena adanya peristiwa ini maka pada tahun 1482 M, kerajaan Sunda warisan Wastu Kencana tersebut bersatu kembali dibawah pemerintahan Jayadewata, untuk kemudian pusat pemerintahan Sunda beralih ke Pakuan, Jayadewata sendiri dikemudian hari lebih dikenal dengan sebutan Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi.
Kisah Bubat tidak hanya dituliskan oleh sejarawan Belanda, melainkan juga oleh sejarawan lokal, seperti buku Kidung Sundayana, serta sejarah lisan yang diceritakan secara turun temurun. Kisah Bubat juga menciptakan beberapa mitos, seperti tentang hulanjar, larangan laki-laki keturunan keraton Galuh untuk menikahi dengan perempuan keluarga Majapahit, atau ketiadaan nama jalan yang sesuai dengan nama negara para pelaku sejarah. Namun mitos tersebut sedikit demi mulai luntur. Perkawinan antar suku (bahkan antar bangsa dan antar agama) dianggap hal yang wajar, masalah hulu lanjar pun secara moralitas masih dilarang jika tidak sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku umum.
Suatu kisah yang dikisahkan atau dari kepandaian penulis dalam memaparkan suatu peristiwa adakalanya mampu merubah paradigma pembaca. Tak salah jika suatu buku dinyatakan sebagai sumber ilmu, karena ia mampu merubah pemikiran para pembaca. Demikian pula tentang penulisan sejarah Tragedi Bubat, banyak versi yang berkembang. Dari yang benar-benar menceritakan latar belakang suatu peristiwa, maupun tulisan yang bersifat rekaan, karena tak iklas tokohnya berlacak buruk,, termasuk untuk tujuan komersil, maka sangat bijaksana jika referensi buku dan kesejarahan yang dipelajari tidak cukup hanya dari satu sumber.
Tragedi Palagan Bubat telah menciptakan motivasi bagi para penulis pasca proklamasi untuk menciptakan keutuhan negara sebagai suatu kesatuan wilayah Indonesia yang kuat, dan dijauhkan dari sifat sentimen kesukuan. Hal ini bisa terlaksana jika satu pihak tidak merasa mendominasi sejarahnya terhadap pihak lain. Upaya yang paling radikal (mengakar) dilakukan pula ketika beberapa pihak menyatakan bahwa Tragedi Bubat itu tidak pernah ada, buku yang mengisahkan Palagan Bubat, seperti Kidung Sundayana disinyalir diciptakan untuk memecah belah bangsa Indonesia, bahkan dibuat oleh orang Belanda yang menginginkan terjadinya perpecahan dikalangan Bumi Putra.
Pendapat dan penafsiran demikian mungkin perlu dikaji kembali, karena cepat atau lambat kebenaran tersebut akan terkuak. Sejarah tidak akan pernah dapat dihapuskan dan akan di uji sesuai kemampuan setiap generasi dalam mengungkap kesejatian sejarahnya. Tak perlu juga malu untuk mengungkapkan jika kupasan sejarah tersebut dibuat dalam koridor yang ada didalam bingkai ke Indonesiaan. Karena apapun masalahnya, Indonesia sebagai suatu bangsa telah memiliki perjalanan sejarahnya. Dari semua itu kita bisa bercermin, tentang mana yang baik dan perlu dilanjutkan dan mana yang buruk dan perlu ditinggalkan.
Perang Bubat (2)
Perang Bubat
Tanggal : abad ke-14 M
Lokasi : Bubat, Majapahit, (sekarang berada di Provinsi Jawa Timur, Indonesia)
Hasil : kemenangan Majapahit
Casus belli : Perselisihan antara Gajah Mada dan Linggabuana
Pihak yang terlibat : Kerajaan Majapahit & Kerajaan Sunda
Komandan Majapahit :
- Gajah Mada
- Hayam Wuruk
- Kekuatan besar
- Korban tidak diketahui
Sunda dipimpin :
- Maharaja
- Linggabuana
- Kekuatan kecil (dibawah Majapahit)
- Korban : Linggabuana dan Dyah Pitaloka
Perang Bubat adalah perang yang kemungkinan pernah terjadi pada masa pemerintahan raja Majapahit, Hayam Wuruk dengan Mahapatih Gajah Mada. Persitiwa ini melibatkan Mahapatih Gajah Mada dengan Prabu Maharaja Linggabuana dari Kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat pada abad ke-14 di sekitar tahun 1360 M. Sumber-sumber tertua yang bisa dijadikan rujukan mengenai adanya perang ini terutama adalah Kidung Sunda dan Kidung Sundayana yang berasal dari Bali.
Rencana pernikahan
Peristiwa Perang Bubat diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk yang ingin memperistri putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Negeri Sunda. Konon ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri tersebut karena beredarnya lukisan sang putri di Majapahit; yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman pada masa itu, bernama Sungging Prabangkara.
Namun catatan sejarah Pajajaran yang ditulis Saleh Danasasmita dan Naskah Perang Bubat yang ditulis Yoseph Iskandar menyebutkan bahwa niat pernikahan itu adalah untuk mempererat tali persaudaraan yang telah lama putus antara Majapahit dan Sunda. Raden Wijaya yang menjadi pendiri kerajaan Majapahit, dianggap keturunan Sunda dari Dyah Lembu Tal dan suaminya yaitu Rakeyan Jayadarma, raja kerajaan Sunda. Hal ini juga tercatat dalam Pustaka Rajyatajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3. Dalam Babad Tanah Jawi, Raden Wijaya disebut pula dengan nama Jaka Susuruh dari Pajajaran. Meskipun demikian, catatan sejarah Pajajaran tersebut dianggap lemah kebenarannya, terutama karena nama Dyah Lembu Tal adalah nama laki-laki.
Hayam Wuruk memutuskan untuk memperistri Dyah Pitaloka. Atas restu dari keluarga kerajaan, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamarnya. Upacara pernikahan dilangsungkan di Majapahit. Pihak dewan kerajaan Negeri Sunda sendiri sebenarnya keberatan, terutama Mangkubuminya yaitu Hyang Bunisora Suradipati. Ini karena menurut adat yang berlaku di Nusantara pada saat itu, tidak lazim pihak pengantin perempuan datang kepada pihak pengantin lelaki. Selain itu ada dugaan bahwa hal tersebut adalah jebakan diplomatik Majapahit yang saat itu sedang melebarkan kekuasaannya, diantaranya dengan cara menguasai Kerajaan Dompu di Nusa Tenggara.
Linggabuana memutuskan untuk tetap berangkat ke Majapahit, karena rasa persaudaraan yang sudah ada dari garis leluhur dua negara tersebut. Berangkatlah Linggabuana bersama rombongan Sunda ke Majapahit, dan diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat.
Kesalah Pahaman
Melihat Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit, maka timbul niat lain dari Mahapatih Gajah Mada yaitu untuk menguasai Kerajaan Sunda, sebab untuk memenuhi Sumpah Palapa yang dibuatnya tersebut, maka dari seluruh kerajaan di Nusantara yang sudah ditaklukkan hanya kerajaan sundalah yang belum dikuasai Majapahit. Dengan makksud tersebut dibuatlah alasan oleh Gajah Mada yang menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat sebagai bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit, sesuai dengan Sumpah Palapa yang pernah ia ucapkan pada masa sebelum Hayam Wuruk naik tahta. Ia mendesak Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan mengakui superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara. Hayam Wuruk sendiri menurut Kidung Sundayana disebutkan bimbang atas permasalah tersebut, karena Gajah Mada adalah Mahapatih yang diandalkan Majapahit pada saat itu.
Gugurnya rombongan Sunda
Kemudian terjadi insiden perselisihan antara utusan Linggabuana dengan Gajah Mada. Perselisihan ini diakhiri dengan dimaki-makinya Gajah Mada oleh utusan Negeri Sunda yang terkejut bahwa kedatangan mereka hanya untuk memberikan tanda takluk dan mengakui superioritas Majapahit, bukan karena undangan sebelumnya. Namun Gajah Mada tetap dalam posisi semula.
Belum lagi Hayam Wuruk memberikan putusannya, Gajah Mada sudah mengerahkan pasukannya (Bhayangkara) ke Pesanggrahan Bubat dan mengancam Linggabuana untuk mengakui superioritas Majapahit. Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda, Linggabuana menolak tekanan itu. Terjadilah peperangan yang tidak seimbang antara Gajah Mada dengan pasukannya yang berjumlah besar, melawan Linggabuana dengan pasukan pengawal kerajaan (Balamati) yang berjumlah kecil serta para pejabat dan menteri kerajaan yang ikut dalam kunjungan itu. Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Linggabuana, para menteri dan pejabat kerajaan Sunda, serta putri Dyah Pitaloka.
Hayam Wuruk menyesalkan tindakan ini dan mengirimkan utusan (darmadyaksa) dari Bali – yang saat itu berada di Majapahit untuk menyaksikan pernikahan antara Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka – untuk menyampaikan permohonan maaf kepada Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati yang menjadi pejabat sementara raja Negeri Sunda, serta menyampaikan bahwa semua peristiwa ini akan dimuat dalam Kidung Sunda atau Kidung Sundayana (di Bali dikenal sebagai Geguritan Sunda) agar diambil hikmahnya.
Akibat peristiwa Bubat ini, dikatakan dalam catatan tersebut bahwa hubungan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada menjadi renggang. Gajah Mada sendiri tetap menjabat Mahapatih sampai wafatnya (1364). Akibat peristiwa ini pula, di kalangan kerabat Negeri Sunda diberlakukan peraturan esti larangan ti kaluaran, yang isinya diantaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh menikah dengan pihak timur negeri Sunda (Majapahit).
Putri Sunda Penyebab Perang Bubat
Satu versi dari sumber Sunda Kuno tentang penyebab Perang Bubat: Putri Sunda terlalu besar keinginannya
Ilustrasi adegan perang dalam relief di dinding Candi Panataran, Blitar.
Prabu Maharaja sudah tujuh tahun menjadi raja. Dia terkena muslihat, mendapat bencana akibat putrinya yang bernama Tohaan akan menikah.
Terlalu besar kemauan sang anak. Dalam rangka pernikahannya, banyak orang yang berangkat mengantarkan ke Jawa. Sebabnya, sang putri tak mau punya suami orang Sunda. Maka terjadilah perang di Majapahit.
Demikianlah penyebab Perang Bubat dalam Carita Parahyangan, sumber tertulis dari masa Sunda Kuno.
Menurut arkeolog Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar dalam Gajah Mada, Biografi Politik, kisah dalam naskah itu merujuk kepada peristiwa di Bubat, yang menurut Pararaton terjadi pada 1279 Saka atau 1357 M. Ceritanya tak dituturkan secara rinci.
Bagi masyarakat Sunda Kuno Perang Bubat pastinya merupakan peristiwa yang menyedihkan.
Menariknya, Carita Parahyangan punya sudut pandang yang berbeda dari sumber lainnya. Naskah itu justru menyalahkan Putri Sunda yang dijuluki Tohaan atau “yang dihormati”.
Sang putri dikisahkan memiliki keinginan terlalu besar karena tak mau menikah dengan orang Sunda. Dia lebih memilih menikah dengan raja besar Majapahit, Hayam Wuruk.
Dia pun disebut menta gede pameulina, atau terlalu besar keinginannya. Akibatnya, ayahandanya rela mengantarnya hingga ke Majapahit.
Kendati berbeda nama, beberapa sumber meyakini Tohaan yang dimaksud dalam kisah itu pastilah Putri Sunda. Dia bunuh diri di Bubat setelah kematian ayahnya.
Dibandingkan kisah itu, sumber lain yang lebih banyak diacu, seperti Pararaton, Kidung Sundayana, dan Kidung Sunda, menyatakan tragedi di Bubat disebabkan ambisi Gajah Mada yang ingin menaklukkan Sunda di bawah panji Majapahit.
Kebetulan, orang nomor satu dari Kerajaan Sunda telah hadir ke wilayah Majapahit. Maka tinggal ditekan agar mau mengikuti keinginan sang patih. Namun, recananya tak berjalan. Orang-orang Sunda menolaknya mentah-mentah. Mereka tak mau membawa putri ke hadapan Hayam Wuruk.
Kedatangan mereka bukan untuk menyerahkan putri sebagai tanda takluk, namun mengantarkan putri untuk menikah dengan Hayam Wuruk.
Suasana bertambah tegang. Puncaknya pertempuran berdarah di Lapangan Bubat. Permaisuri, para istri pejabat, juga sang putri yang akan dinikahkan dengan Hayam Wuruk, memilih bunuh diri.
Dalam Pararaton, penuturannya dapat ditafsirkan Raja Sunda hendak menuruti keinginan Gajah Mada untuk menyerahkan putrinya langsung ke istana Majapahit. Mungkin ini dikarenakan keinginan sang putri yang menurut Carita Parahyangan terlalu besar keinginannya.
Namun, para bangsawan dan ksatria Sunda yang mengiringi kepergian keluarga raja ke Majapahit menolak tegas. Mereka gugur di Bubat demi mempertahankan kehormatan Sunda yang memang tak layak mempersembahkan putri sebagai tanda takluk.
Gajah Mada memanfaatkan emosi Raja Sunda
Lalu apakah peristiwa di Bubat ini benar-benar terjadi atau hanya sekadar sisipan dari penyalin Pararaton, atau malahan tambahan orang Belanda pertama yang meneliti kitab itu atau alasan-alasan lainnya ?
Banyak ahli sejarah yang menolak terjadinya Peristiwa Bubat. Padahal peristiwa ini diuraikan dengan gamblang dalam Pararaton. Peristiwa Bubat menjadi satu segmen di Kitab Pararaton. Kitab ini juga yang memerikan kehidupan Ken Angrok dan para raja Singhasari dan Majapahit. Uraiannya telah diamini oleh para ahli sejarah kuno.
Sebaliknya, banyak pula yang berpendapat kalau kejadian ini tak perlu diingkari. “Jika hendak mempercayai berita Pararaton, mestinya semua bagiannya ikut pula dipercayai, jangan sepotong-sepotong. Kisah Ken Angrok yang penuh mistis dipercaya, sedangkan Pasundan-Bubat tidak, maka ini mengherankan.
Kitab Sudayana
Pupuh I dari kitab kidung Sunda disebutkan nama raja kerajaan Majapahit yaitu Hayam Wuruk, nama Hayam Wuruk ini diangkat juga oleh kitab Pararaton, inilah kaitannya dan kenapa dikatakan bahwa kitab Kidung Sunda dan Pararaton adalah 2 kitab saling menguatkan yaitu dalam peristiwa perang Bubat. Teramat aneh kalau masyarakat menerima sebutan raja Majapahit Sri Rajasanagara dengan Hayam Wuruk, Hayam adalah kata dalam bahasa Sunda yang mempunyai arti Ayam, sedang Wuruk sama kata dalam bahasa Sunda yang mempunyai arti jago lebih kearah jagoan kelahi. Inilah hebatnya yang mempromosikan kitab Pararaton sehingga nama Hayam Wuruk seolah-olah benar nama sebutan atau panggilan dan tidak tanggung-tanggung nama seorang raja besar kerajaan Majapahit. Bahkan pemerintah pun mengakui sebutan itu.
BACA JUGA :
Kidung Sunda (I & II) Lontar Kidung Sunda
.
“ Maka Madhu kembali ke Majapahit membawa surat balasan raja Sunda dan memberi tahu kedatangan mereka. Tak lama kemudian mereka bertolak disertai banyak sekali iringan. Ada dua ratus kapal kecil dan jumlah totalnya adalah 2.000 kapal, berikut kapal-kapal kecil. Kapal jung. Ada kemungkinan rombongan orang Sunda menaiki kapal semacam ini. Namun ketika mereka naik kapal, terlihatlah pratanda buruk. Kapal yang dinaiki Raja, Ratu dan Putri Sunda adalah sebuah “jung Tatar (Mongolia/Cina) seperti banyak dipakai semenjak perang Wijaya.” (bait 1. 43a.)”.
Informasi penting yang diperoleh dari sebagian petikan kitab Kidung Sunda diatas salah satunya yaitu mengenai jumlah armada rombongan dari Kerajaan Sunda Galuh, yang terdiri dari 200 buah kapal ukuran kecil, jumlah total armada itu sekitar 2.000 buah perahu terdiri dari sebagian besar jumlah kapal dalam ukuran besar ditambah 200 kapal dalam ukuran kecil.
Hitungan matematis sederhana, kalau dimisalkan 1 buah perahu rata-rata memuat atau membawa awak 10 orang, berarti jumlah rombongan sekitar 20.000 orang, ini jumlah yang terlalu over dosis atau berlebihan untuk sebuah acara perkawinan. Bayangkan lagi kalau muatannya dalam 1 buah perahu minimal mengangkut rata-rata awak 20 orang, berarti jumlah rombongan bisa mencapai sekitar 40.000 orang, dan itu juga bukan jumlah sedikit, jumlah itu cukup untuk sebuah rencana menggempur atau menyerang suatu negara atau kerajaan lain pada saat itu.
Perjalanan berlayar dari tanah Sunda ke tanah Jawa ujung timur dengan memakai perahu-perahu, pasti bukanlah jenis perahu kecil-kecil yang digunakan. Perahu-perahu ini mestinya harus bisa memuat jumlah personil atau awak perahu lebih dari 30 orang dalam 1 buah perahu, kalau dihitung lagi dan dijumlahkan dari rata-rata 1 buah perahu memuat awak 30 orang, maka total jumlah orang akan mencapai jumlah kisaran lebih dari 60.000 orang, jumlah yang cukup fantastis dan ideal untuk sebuah rencana penyerangan, sekaligus membumihanguskan kerajaan seperti Majapahit yang notabene mereka sedang sibuk melakukan invasi ke luar wilayah kerajaannya.
Kekuatan maritim atau tehnologi pembuatan perahu, lalu kemudian disesuaikan dengan keberadaan kerjaan Sunda Galuh yang masa perdamainya ratusan tahun lamanya, tentunya pembuatan perahu dan tehnologi akan sangat dimungkinkan, bisa jadi hasil membeli dari negara lain seperti yang diungkapkan bahwa perahu-perahu besar yang digunakan mirip dengan perahu-perahu tentara Mongol waktu menyerang kerajaan Kediri masa pemerintahan Jayakatwang, terlebih punya hubungan kedekatan sejarah dengan kerajaan Sriwijaya yang terkenal mempunyai teknologi maritim yang unggul, ditambah lagi pendanaan yang cukup untuk membeli atau membuat kapal atau perahu sejumlah itu.
Tradisi Jawa atau dimana pun dalam pernikahan, laki-laki yang harus datang ke tempat si calon istri, bukan malah sebaliknya. Seandainya raja Sunda Galuh dan pasukannya pada kisah kitab Kidung Sunda itu dikatakan merasa terhina sebagai alasan untuk berperang pada saat itu, dengan diceritakan bahwa mereka harus dan diminta takluk secara militer oleh Gajah Mada, maka secara logika akal sehat sebenarnya itu tidak mungkin, kalau alasanya seperti itu, artinya dari awal dia sudah menghinakan diri dengan datang mengantar sang putri Citraresmi sebagai calon istri raja Majapahit Hayam Wuruk (atau Sri Rajasanegara), kisah ini paradoks tentunya, tidak bisa diterima. Walau pun mungkin pada daerah-daerah tertentu atau kondisi khusus ada yang seperti itu yaitu si pihak calon istri yang datang ke pihak laki-laki tapi itu tidak bisa disebut kebenaran umum.
Dalam kitab Kidung Sunda itu pula dibahas tentang Gajah Mada yang disalahkan oleh para seniornya (para penguasa Wilayah Daha dan Kahuripan) dikeraton kerajaan Majapahit yang merpakan paman Hayam Wuruk, yaitu ketika berakhirnya perang Bubat, tapi mengapa dalam kitab kidung Sunda dinyatakan bahwa diantara pimpinan Sunda Galuh termasuk rajanya yang terbunuh, bahwa merekalah (para senior) yang melakukannya. Ketika peristiwa itu berlangsung, suatu hal yang tidak singkron satu sama lain yaitu Hayam Wuruk ikut serta dalam peperangan itu. Disini realistik juga, kelihatan jelas sisi fantasi si pengarang, dalam kenyataan perang sesungguhnya siapapun bisa saling membunuh tidak hanya pembesar dengan pembesar, prajurit biasa pun bisa membunuh seorang raja, atau bisa jadi mereka tidak terbunuh langsung tapi karena terkena panah atau tombak jarak jauh.
Walau pun ada sisi sentimentil dari Kidung Sunda itu yang mengatakan Hayam Wuruk menyesalkan kematian Dyah Pitaloka atau Citraresmi yang dikisahkan bunuh diri. Padahal kematian seperti itu bagi yang sudah sering mengalami peperangan adalah sesuatu hal biasa apalagi ajaran yang dianut memungkinkan si istri atau keluarga mengorbankan diri setelah suami atau orang tuanya tiada, atau memang secara kemanusiaan walaupun perang adalah suatu pilihan, melihat ribuan orang melayang jiwanya, tentunya sebagai kesatria perang semua melakukan penghormatan kepada pihaknya sendiri ataupun pihak lawan dengan rasa duka mendalam.
Dalam kitab Kidung Sunda juga dijelaskan ada utusan dari Majapahit ke kerajaan Sunda Galuh, yang diceritakan dan diterangkan membawa maksud dari raja Hayam Wuruk untuk melamar puteri kerajaan. Analisa yang mungkin untuk kejadian atau saat peristiwa datangnya utusan dari Majapahit, adalah bahwa utusan kerajaan Majapahit itu sebenarnya utusan kerajaan untuk meminta raja Sunda Galuh untuk tunduk dan takluk dibawah kerajaan Majapahit, pola utusan-utusan seperti itu hal biasa kalau salah satu kerajaan punya keinginan untuk menaklukan kerajaan yang lainnya, semacam peringatan tidak menyerang tiba-tiba tanpa alasan. Pada akhirnya kalau diterima berarti kedua belah pihak berdamai dengan syarat-syarat ditentukan bersama, kalau sebaliknya kedua belah pihak harus sudah mempersiapkan diri untuk memulai peperangan.
Seandainya perang itu sudah diniatkan oleh Raja Sunda Galuh, pertanyaannya adalah mengapa pramesuri dan putri keraton ikut serta. Hal ini mudah dijawab, karena asumsinya perjalanan panjang, sebuah rencana operasi militer dari tanah Sunda ke Majapahit setidaknya memerlukan waktu yang lama. Pastinya ada kapal-kapal utama yang nyaman untuk mereka, dikapal-kapal besar sudah tentunya bisa untuk anggota keluarga kerajaan melakukan kegiatan yang tidak terganggu oleh kondisi perjalan perang dari prajurit-prajuritnya yang lain, bisa dibuat senyaman mungkin.
Keikutsertaan mereka dalam perjalanan pertempuran adalah hal biasa, seperti halnya pasukan Mongol yang melakukan perjalanan panjang (long march) ke negara lain, mereka sering membawa serta keluarganya, sekaligus mereka bisa dimanfaatkan dalam persiapan upacara keagamaan sebelum memulai peperangan dan lain sebagainya. Dalam waktu-waktu tertentu bisa jadi untuk motifator bagi pasukan dan sang raja, menambah semangat tempur prajuritnya.
Jumlah sekitar 2000 buah kapal adalah kemegahan yang sangat luar bisa, masuk akal bagi kerajaan Sunda Galuh yang hidup makmur dan besar secara luas wilayah kekuasaannya, ingin menunjukan superioritas perekonomian dan kemampuan dana mereka. Pasukan besar yang dipimpin raja Sunda Galuh itu merupakan hal wajar, gabungan dari koloninya, daerah-daerah kerajaan bawahan kekuasan kerajaan Sunda Galuh pada waktu itu. Jumlah itu merupakan jumlah pasukan tentara gabungan dan pasti ada keyakinan dari mereka dapat mengalahkan pasukan tentara kerajaan Majapahit yang kemungkinan sebagian besar pasukanya masih melakukan ekspedisi atau invasi keluar wilayah ke negara atau kerajaan lainya.
Perang Bubat Carita Basa Sunda
Di Jawa Wétan aya lembur anu ngaranna Bubat.
aya anu nyangka pangna dingaranan kitu téh,
lantaran baheulana di dinya
kungsi aya riributan nu ngabubat-babit pedang.
Nyaéta dina waktu balad Sunda
perang campuh jeung balad Majapait.
Éta kajadian katelah baé Perang Bubat.
Caritana sakumaha anu rék dicaritakeun ayeuna.
Waktu Prabu Hayam Wuruk dijenengkeun,
Jadi Raja di Karajaan Majapait,
yuswana kaétang anom kénéh pisan.
Malah nepi ka sawatara taun ti harita,
tetep baé henteu kagungan praméswari.
Éta hal éta ku sapangeusi karaton,
katut abdi-abdina di Karajaan Majapait,
dianggap ngurangan komara nu jeneng raja.
Ku sabab kitu, parasepuh jeung parayogi,
geus ngémutan kalayan hormat,
sangkan Kangjeng Raja énggal kagungan garwa.
Ari walerna, sanés teu kersa kagungan garwa,
nanging teu acan aya anu cop sareng manahna.
Pirang-pirang putri anu gareulis,
putra bupati, malah aya putra raja,
anu sasatna mah bari dibaktikeun ka Sang Raja,
henteu aya hiji ogé anu kamanah.
Kocapkeun di Karajaan Sunda,
aya putri anu geulis taya babandinganana,
geulis kawanti-wanti, éndah kabina-bina.
Kageulisanana kaceluk ka awun-awun,
kawéntar ka janapria.
Jaba kageulisanana, éta putri téh,
kamashurkeun pinter sareng saé manah deuih.
Ari jenenganana Putri Citraresmi,
putra Prabu Linggabuana ti Karajaan Sunda.
Kageulisan jeung kapercékaan Putri Citraresmi,
kaémpér-émpér ka Prabu Hayam Wuruk.
Teras baé atuh anjeunna miwarang juru tekin,
supados ngagambar Putri Citraresmi.
Juru tekin harita kénéh angkat ka Pajajaran.
Kawantu juru tekin petingan di Majapait,
teu kantos lami ogé gambar putri téh janten.
Ti dinya énggal dicandak ka Majapait,
disanggakeun ka Prabu Hayam Wuruk.
Barang bréh ningal gambar Nyi Putri,
Sang Prabu Anom raos kadudut kalbu,
kapentang panah Déwa Kamajaya.
Prabu Hayam Wuruk tos teteg manahna,
yén Putri Citraresmi surup janten garwana.
Komo deui saparantosna ngadangu
cariosan juru telik perkawis pribadi Nyi Putri.
Éstu pinunjul sarta taya cawadeunana.
Geulisna téh cenah, sanés geulis rupina baé,
nanging geulis parat dugi ka haté-haténa.
Énggal baé Prabu Hayam Wuruk
ngempelkeun parasepuh katut paramantri,
ngabadantenkeun niatna migarwa Nyi Putri.
Sadayana sapuk kana niat Sang Prabu,
sarta harita kénéh ditangtoskeun utusan
kanggo ngalamar Nyi Putri ka Karajaan Sunda.
Anu kapeto dina éta babandenan,
nyaéta Patih Madu anu dipisepuh ku sadayana,
seueur luangna sareng tutur panata jatnika.
Dina waktos anu tos ditangtoskeun,
Patih Madu angkat ka Karajaan Sunda,
seja ngalamar Putri Citaresmi,
kanggo garwa Prabu Anom Majapait.
Angkatna disarengan ku paraponggawa,
sareng sababaraha mantri kapetengan,
nyandak rupi-rupi barang aranéh,
kintunkeuneun ka Raja Karajaan Sunda.
Henteu kantun dibahanan serat panglamar,
anu diserat langsung ku Prabu Hayam Wuruk.
Teu kacatur lalampahan di jalanna,
caturkeun Patih Madu katut rombonganana,
tos dugi baé ka dayeuh Nagara Sunda di Kawali.
Sasumpingna ka dayeuh Nagara Sunda,
tumut kana panata jatnika anu ilahar,
Patih Madu teu wanton tumorojog ka karaton.
Anjeunna ngabujeng heula ka kapatihan,
teras ngadeuheus ka Prabu Linggabuana,
disarengan ku Patih Anépaken.
Sanggeus munjung sarta ngahormat,
Patih Madu nyanggakeun kikintunan,
bari sakantenan masihkeun serat,
ti Raja Majapait, Prabu Hayam Wuruk.
Serat ditampi ku Kangjeng Raja,
teras diilo gemet pisan.
Ungelna serat ngunjukkeun panuhun,
Prabu Hayam Wuruk kagungan maksad,
palay migarwa Putri Citraresmi.
Kangjeng Raja nyaur praméswari,
serat diaos sakali deui di payuneun garwana.
Digerendengkeun kalawan antaré.
Ungelna tétéla sareng kahartos pisan,
réhna Raja Majapait, Prabu Hayam Wuruk,
seja mileuleuheungkeun Putri Citraresmi.
Kangjeng Raja pameunteuna marahmay,
manahna langkung-langkung bingahna,
kitu deui sareng praméswari.
Lajeng Kangjeng Raja nyaur putri,
ditaros kersa henteuna kagungan carogé,
ka Prabu Hayam Wuruk ti Majapait.
Kawitna mah Sang Putri semu nu éwed.
Lami-lami, pok sasauran antaré naker,
basana sadaya-daya ngiringan sakersa rama.
Namung aya panuhunna,
palay diréndéngankeun di Majapait.
Sang Raja ngadawuhan ka Patih Anépaken,
supados nampi Patih Madu saréncangna.
Ku Patih Anépaken diperenahkeun di kapatihan.
Ditampi kalayan hormat sakumaha mistina.
Saparantos sababaraha dinten ngaso,
parautusan ti Majapait kawidian mulih.
Sasumpingna ka Nagara Majapait,
teras unjukan ka Prabu Hayam Wuruk,
yén panglamarna ditampi ku Raja Sunda,
dibagéakeun ku kabagjaan tan wangenan.
Patih Madu ogé ngunjukkeun,
réhna Putri Citraresmi aya pamundut,
palay diréndéngankeun di Majapait.
Ku margi kitu, dina waktosna engké,
Putri Galuh baris dijajapkeun ka Majapait,
ku ibu-ramana ku anjeun.
Ngadangu cariosan Patih Madu kitu,
Sang Prabu Hayam Wuruk kalintang bingahna.
Moal lami deui ogé kapalayna tinekanan,
migarwa istri anu janten panyileukanana.
Teu kacatur tatan-tatan jeung sasadianana,
kacaturkeun geus sadia samaktana,
Raja Sunda saputra-garwa angkat ka Majapait.
Nanging henteu sadayana ngiring,
aya anu dikantunkeun di Dayeuh Sunda,
nyaéta putrana anu burey kénéh,
anu jenenganana Wasku Kancana,
sareng Mangkubumi Bunisora,
raina Raja Sunda anu pangdeuheusna.
Rombongan Raja Sunda nganggo jalan darat,
dugi ka Amparan Jati, ayeuna mah Cirebon.
Ti dinya diteraskeun nganggo jalan laut.
Ku margi niatna ogé badé nikahkeun téa,
Rombongan Karajaan Sunda téh henteu seueur.
Sadayana téh mung saya saratus urang.
Kalebet Sang Raja, praméswari, sareng Nyi Putri.
Aya éta ogé Pasukan Bélamati anu ngiring,
nanging mung kanggo ngajaga kaamanan baé,
bilih aya bancang pakéwuh di perjalanan.
Jauh dijugjug anggang ditéang,
Raja Sunda sabaladna tos dugi ka Majapait.
Ngerereb saheulanan di tepis wiring Majapait,
nyaéta di tempat anu kiwari nelah Bubat téa.
Énggal baé ngadamel pirang-pirang ténda.
Anu pangageungna ténda Kangjeng Raja,
ditéma ku tenda praméswari sareng Nyi Putri,
teu tebih ti dinya ténda parapangagung,
dilingkung ku ténda Pasukan Bélamati,
sareng ténda parapangiring sanésna.
Kuwu Bubat gesat-gesut indit ka dayeuh,
teras ngadeuheusan ka Patih Majapait,
teras sasarengan unjukan ka Sang Prabu,
yén tatamu ti Pajajaran parantos sumping.
Sang Prabu babadantenan sareng parasepuh,
énggalna baé diputus harita kénéh,
yén Sang Prabu kersa mapag pigarwaeun,
Kuwu Bubat énggal baé ditimbalan,
supaya nguningakeun hal éta ka Ratu Sunda.
Kacaritakeun Patih Agung Gajahmada,
Patih Majapait anu kawéntar kongas gagah.
Patih anu boga karep ngawasa jeung ngeréh
nagara-nagara anu aya di sakulian Nusantara.
Malah éta Patih geus ngangkat sumpah,
“Moal ngadahar buah palapa,
lamun tacan bisa nalukkeun nagara-nagara,
anu aya di sakuliah Nusantara.”
Patih Gajahmada henteu ngarujukan kana kersa
Sang Prabu badé mapag pigarwaeun ka Bubat.
Patih Gajahmada boga anggapan,
kalungguhan Raja Sunda henteu béda
jeung raja-raja lianna anu geus taluk ka Majapait.
Ku lantaran kitu, Raja Sunda kudu dianggap,
datangna ka Majapait téh rék pasrah sumerah,
sarta ngabaktikeun putrina ka Raja Majapait.
Upama Raja Majapait kersa mapag ku anjeun,
sarua jeung nurunkeun komara katut wibawana.
Patih Gajahmada ngadadarkeun akibatna,
anu cenah baris ngarugikeun citra Raja Majapait,
upama Ratu Sunda dianggap satata.
Ku margi dugi ka danget harita,
Ratu Sunda teu kersa baé taluk ka Majapait.
Sang Prabu Hayam Wuruk mindel sakedap,
semu éwed ngagalih piunjuk Patih Gajahmada.
Nanging ku margi anjeunna alim kapapanjangan,
pok baé sasauran, “Nya ari kitu mah atuh,
kumaha Bapa Patih baé.”
Patih Gajahmada mundur ti payuneun Ratu,
maréntahkeun tatan-tatan metakeun barisan,
cenah geusan kahormatan mapag tatamu.
Ari pasang petana, jauh tina maksud mimiti.
Ratu Sunda rék dipapagkeun di kapatihan,
terus diajak babarengan ngadeuheus ka karaton,
nepangan Sang Prabu Hayam Wuruk,
sakumaha ilaharna raja-raja lian di Nusantara,
anu geus jadi patalukan Karajaan Majapait.
Ari Ratu Sunda di palataran Bubat,
ngantos-ngantos anu mapag henteu jol baé.
Énggal baé anjeunna miwarangan utusan,
angkat ka dayeuh Nagara Majapait,
nyarioskeun yén rombongan Nagara Sunda,
parantos sayogi nampi anu mapag.
Anu diutusna Patih Anépaken, Demang Caho,
Panghulu Borang, jeung Patih Pitar,
disarengan ku tilu ratus Pasukan Bélamati.
Éta utusan ngajugjug heula ka kapatihan.
Patih Gajahmada kasampak keur aya.
Gulang-gulang anu ngajaga kapatihan,
henteu miroséa ka rombongan tatamu téh,
kawas anu geus diparéntahkeun kudu kitu.
Atuh tatamu kapaksa tumorojog,
langsung ngadeuheus ka Patih Gajahmada.
Énggal baé Patih Anépaken unjukan,
yén Ratu Sunda parantos ngantos anu mapag.
Patih Gajahmada kacida ambekna,
nganaha-naha ka urang Sunda,
pédah kakara nepungan ayeuna.
Omongna, “Sang Prabu Hayam Wuruk téh
raja agung anu taya sasamina di Nusantara.
Pararatu ti mana-mana geus biasa ngadeuheus,
bari nyanggakeun pangbakti tanda satuhu.
Ratu Sunda rék ngabaktikeun putrana,
ayeuna pisan ditunggu di kapatihan,
rék disarengan ngadeuheus ka karaton.”
Ngadangu omongan Patih Gajahmada kitu,
Patih Anépaken salirana ngagidir,
teu kiat nahan kateuraos manahna.
Anjeunna ngawalon sugal ka Patih Gajahmada.
“Ratu Sunda pangna datang ka Majapait téh,
lain rék ngabaktikeun putrana,
lain rék pasrah sumerah ka Raja Majapait.
Sabab Ratu Sunda lain patalukan Majapait,
henteu bisa disaruakeun jeung ratu-ratu séjén!”
Dua Patih patorong-torong,
sami-sami ngabéla pupundénna.
Duanana sami teuneung sami ludeung.
Patih Gajahmada boga rasa ieu aing,
Patih Anépaken teu gedag bulu salambar.
Nepi ka méh baé tarung patutunggulan.
Hadéna kaburu kasapih ku Sang Resi.
Saur Sang Resi, utusan téh
leuwih hadé marulih deui baé ka Bubat,
ngantos putusan Sang Prabu Hayam Wuruk.
Sasunpingna ka Bubat,
Patih Anépaken unjukan ka Ratu Sunda,
nguningakeun kajadian di kapatihan,
ditéték henteu aya anu kalangkung.
Sang Ratu henteu mindel bawaning ku éwed,
panampian urang Majapait tebih tina panyangka.
Majarkeun badé tumut ngangken rama,
ari kabuktianana mah Raja Majapait téh
jalir kana jangji, cidra kana subaya.
Henteu lami Sang Ratu Sunda ngalahir,
“Basa urang kakara turun ti kapal,
cai laut di basisir semu beureum,
jeung raong sora gagak patémbalan.
Tah éta téh tangtu aya kila-kilana.
Ku sabab éta ayeuna urang kudu taki-taki.
Saperkara anu kudu dikuatkeun dina haté,
nyaéta hal kahormatan Karajaan Sunda.
Kajeun ajur tutumpuran,
manna hirup nandangan kahinaan.”
Salajengna Sang Ratu Sunda ngawawadian,
wadia balad kabéh ulah aya anu kaliwat,
kudu digeuing ku Patih Anépaken,
sangkan iatna nyanghareupan sagala kajadian.
Patih Anépaken ngumpulkeun paraponggawa,
masing-masing kénging papancén,
kedah ngageuing sakabéh wadya balad,
supaya engké dimana datang bancang pakéwuh,
geus sayaga pikeun nyanghareupanana.
Wadya balad Sunda geus kumpul,
bari mawa pakarang cangkinganana.
Pok Patih Anépaken sasauran kalawan tatag,
“Saha-saha anu teu wani narohkeun pati,
leuwih hadé mundur ti anggalna kénéh,
ulah mundur ti pakalangan.”
Sakabéh prajurit Sunda henteu galideur,
saur manuk niat ngabéla kahormatan ratuna,
moal mundur satunjang béas.
Kocapkeun Patih Gajahmada,
anu maksudna rék nalukkeun urang Sunda,
nyuhunkeun widi ka Prabu Hayam Wuruk,
supaya nyariosan ka Ratu Sunda,
yén Putri Citraresmi kudu dibaktikeun.
Sarta lamun Ratu Sunda henteu nurut,
Ratu Sunda bakal dirurug ku pasukan Majapait.
Anu tangtu baé leuwih loba jumlahna,
jeung leuwih samakta pakarangna.
Nurut kana kahayang Patih Gajahmada,
Prabu Hayam Wuruk ngirim utusan ka Bubat.
Anu maksudna, supaya Ratu Sunda taluk.
Tapi Ratu Sunda henteu gedah bulu salambar,
kajeun gépéng kaya pépéték,
ti batan kudu serah bongkokan.
Anjeunna sadar, prajuritna éléh tohaga,
boh jumlahna boh pakarangna.
Margi sumpingna ka Majapait téh sanés niat perang,
nanging badé nikahkeun putrana ka Raja Majapait.
Isukna ngaleugeudeut balad Majapait,
ngarurug wadia balad Sunda di Bubat.
Lobana prajurit Majapait tanpa wilangan,
aya sababaraha tikeleun wadia balad Sunda.
Tapi wadia balad Sunda henteu gimir,
teuneung ludeung lali rabi tégang pati,
rampak kabéh mapag musuh.
Der baé atuh perang campuh.
Boh prajuritna boh kapalana,
ti dua pihakanana geus patinggolépak.
Balad Majapahit anu leuwih loba jumlahna,
sarta leuwih samakta pakarangna,
kawantu meunang nyadiakeun keur perang,
henteu bisa ngayonan prajurit Sunda.
Patih Anépaken perangna lir banténg bayangan.
Kitu deui parapatinggi Sunda lianna.
Tékadna geus buleud pageuh,
kajeun ajur tutumpuran di pangperangan,
ti batan hirup kudu nyandang wiwirang.
Ku lantaran prajuritna loba anu jadi korban,
Patih Gajahmada langsung milu perang,
bari baladna ditambahan deui leuwih loba.
Ngalawan prajurit anu leuwih seger,
prajurit Sunda geus mimiti coréngcang.
Malah Patih Anépaken geus perlaya,
kasambut dikurubut ku Patih Gajahmada
jeung sababaraha raja anu biluk ka Majapait.
Kitu deui jeung patinggi Sunda lianna.
Ningali kitu, Ratu Sunda énggal nitih gajah,
diaping ku kapetengan maju ka pangperangan.
Prajurit Majapait dicacar bolang ku Ratu Sunda.
Pasukan Majapait katétér henteu kiat,
ngayonan kadigjayaan Sang Prabu Linggabuana.
Ahirna Ratu Sunda perang patutunggulan,
dihurup ku Ratu Daha jeung Ratu Kahuripan.
Ratu Sunda henteu tahan, dugi ka pupusna,
kasambut di pangperangan anu teu saimbang.
Uninga Ratu Sunda parantos perlaya,
praméswari sareng Putri Galuh,
katut paragarwa ponggawa anu kasambut,
énggal susuci nganggo anggoan sarwa bodas,
sami-sami seja béla ka panutan.
Sadayana geus nyepeng keris,
teras arangkat ka pakalangan.
Crub-creb narewek patuanganana,
maot di gédéngeun carogéna masing-masing.
Putri Citraresmi teu ngiring ka pakalangan,
diwagel ku ibuna bisi kacerek ku musuh.
Anjeunna nganggo anggoan sarwa bodas,
teras baé newek anjeun ku keris,
harita kénéh ogé Putri Galuh téh palastra.
Layonna diébogkeun lalaunan,
dituruban ku lawon sutra héjo,
dikemitan ku emban-emban anu satia,
anu nariat béla pati mun geus cunduk waktuna.
Kacarita Sang Prabu Hayam Wuruk,
geus palay énggal-énggal patepang
sareng buah atina, Putri Citraresmi.
Barang anjeunna ngadangu wartos,
yén Putri Citraresmi parantos pupus,
nyeblak manahna sarta lebet ka pasanggrahan.
Ningali nu geulis tos janten layon,
layon digaléntor bari midangdam,
rarayna baseuh ku cisoca Sang Prabu.
Sang Prabu kaleleban dugi ka teu damangna.
Saparantos lumangsungna éta kajadian,
Patih Gajahmada dicopot tina kalungguhanana.
Sarta sumpahna dianggap geus cambal.
Sumpah Palapa cupar sapada harita.
Henteu saeutik raja-raja di Nusantara,
anu harita kénéh ngejat tina kakawasaan Majapait.
Malah Patih Gajahmadana ogé kabur ti Majapait,
lantaran rék ditangkep ku Prabu Hayam Wuruk,
pikeun dipénta tanggung jawabna.
Nurutkeun naskah kuno Kidung Sunda,
urang Sunda nu jadi korban di Bubat 93 urang.
Ari korban ti pihak Majapait 3748 urang,
gajah anu paéh aya 14, kuda wé 27.
Raja Sunda anu kasambut di Bubat,
katelah baé jujulukna nyaéta Prabu Wangi,
lantaran jenenganana jadi seungit
sumeleber nyambuang ka sakuliah Nusantara.
Kalungguhanana di Karajaan Sunda,
diteraskeun ku putrana, Prabu Wastu Kancana.
Bubat sebuah Pembohongan Sejarah
Majapahit 1478
Perang Bubat ini sulit dicari referensinya dalam bentuk prasasti (sebagai sumber sejarah yang sahih) dari jaman kerajaan Majapahit, bahkan hingga saat ini para peneliti maupun arkeolog belum pernah sama sekali menemukan prasasti tentang Perang Bubat ini. Alih-alih yang ditemukan sebagai bahan referensi hanyalah berupa dua buah kitab (yang temasuk muda usianya) yaitu Kitab Pararaton dan Kidung Sunda atau Sundayana. Kedua kitab ini dituliskan ratusan tahun setelah kerajaan Majapahit runtuh sehingga validitas datanya amat sangat diragukan kebenarannya. Lebih jauh lagi kedua Kitab ini diketemukan dan diterjemahkan untuk pertama kalinya pada masa penjajahan kolonial Belanda. Baik Kitab Pararaton maupun Kidung Sunda (Sundayana) ini pada sebagian isinya banyak bertentangan dengan prasasti-prasasti di era kerajaan Majapahit yang telah diketemukan dan berhasil diterjemahkan.
Hingga saat ini belum pernah diketemukan prasasti yang memuat tentang kemenangan kerajaan Majapahit atas kerajaan Sunda (dalam perang Bubat) sebagimana yang diuraikan dalam kedua kitab tersebut (baik Kitab Pararaton maupun Kidung Sunda). Kitab Negarakretagama pun dalam ini tidak pernah mengulas peristiwa perang Bubat tersebut, padahal kitab ini ditulis pada masa pemerintahan raja Hayam Wuruk yang salah satunya menjadi obyek dalam kisah perang Bubat tersebut. Kitab Negarakretagama ini ditulis oleh Mpu Prapanca dan selesai ditulis pada tahun 1365 M, jadi kerajaan Majapahit masih berada di era keemasannya. Jadi merupakan suatu hal yang mustahil bilamana Prapanca dalam hal ini tidak mengetahui terjadinya peristiwa perang Bubat tersebut dan kemudian menuliskan peristiwa tersebut di dalam bukunya.
Hal penting yang perlu diungkap dalam hal ini adalah :
- Siapakah penulis Kitab Pararaton dan Kidung Sunda (Sundayana) tersebut ?
- Kapan mulai menulis dan menyelesaikannya ?
- Bagaimanakah kredibilitas penulisnya dan sejauh manakah pengetahuannya tentang sejarah ?
- Apa motivasi penulisan kedua Kitab tersebut ?
Ke empat pertanyaan di atas menjadi logis untuk diajukan demi keabsahan suatu naskah atau tulisan, terlebih lagi yang berkaitan dengan naskah sejarah yang harus ditulis secara obyektif. Di sisi lain kebanyakan naskah-naskah kuno telah diketahui siapa pengarang atau penulisnya, semacam kitab Negarakretagama (Desa Warnana) yang jelas-jelas ditulis oleh Mpu Prapanca bertarikh tahun 1365 M, kakawin Arjunawiwaha (yang menceritakan tentang masa pemerintahan Prabu Airlangga) ditulis oleh Mpu Kanwa dengan tarikh 1030 M, Babad Tanah Jawa yang pertama ditulis oleh Carik Braja atas perintah Siunan Pakubuwono III tahun 1788 M, Babad Tanah Jawa yang kedua ditulis oleh Pangeran Adilangu II dengan naskah tertua bertarikh 1722 M dan lain sebagainya.
Hingga saat ini penulis belum atau tidak pernah menemukan siapakah yang menulis Kitab Pararaton dan Kidung Sunda (Sundayana) tersebut. Penulis dalam hal ini hanya menemukan siapa-siapa yang pertama kali menterjemahkan sekaligus mempublikasikan kedua kitab termaksud. Semuanya adalah para ahli dan atau sejarawan kolonial (Belanda). Dan yang lebih mengherankan lagi, hingga sekarang masih sulit untuk ditemukan naskah asli dari kedua kitab tersebut, yang ada hanyalah berupa terjemahan-terjemahan saja, yang bisa jadi terjemahan tersebut telah penuh dengan rekayasa-rekayasa yang bersifat mengadu domba (devide et impera) sebagai politik praktis di era penjajahan kolonial (Belanda) dahulu.
Dengan tidak diketemukan siapa penulis aslinya, maka sulit untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan selanjutnya yang berkaitan dengan kapan penulisannya, bagaimana kredibilitas penulisnya dan apa motivasi penulisannya. Hal ini membawa suatu kesimpulan bahwa kedua kitab tersebut baik Kitab Pararaton maupun Kidung Sunda (Sundayana) jelas-jelas tidak dapat dipergunakan untuk melukiskan suatu peristiwa sejarah yang terjadi di negeri ini, khususnya yang terjadi di tanah Jawa. Dengan demikian kedua kitab tersebut sangat lemah kedudukannya sebagai suatu sumber sejarah yang valid.
Perang Bubat adalah perang yang diceritakan pernah terjadi pada masa pemerintahan raja Majapahit ke empat (Raja Hayam Wuruk) dengan mahapatihnya Gajah Mada. Perang ini melibatkan sejumlah besar pasukan kerajaan Majapahit pimpinan Mahapatih Gajah Mada melawan sekelompok kecil pasukan kerajaan Sunda pimpinan Prabu Maharaja Linggabuana, di desa pelabuhan Bubat, Jawa Timur pada abad ke-14 pada sekitar tahun 1357 M.
Pertempuran yang sangat tidak seimbang tersebut dikisahkan dapat dimenangkan secara mutlak oleh pihak Majapahit. Pasukan kerajaan Sunda dibantai habis termasuk komandannya yang juga raja kerajaan Sunda, Prabu Maharaja Linggabuana. Dan tidak cuma itu, permaisuri dan putri raja Sunda bernama Dyah Pitaloka Citraresmi – yang sedianya akan dinikahkan dengan raja Hayam Wuruk – ikut tewas dengan cara bunuh diri setelah meratapi mayat ayahnya.
Diceritakan bahwa timbulnya perang ini akibat kesalahpahaman mahapatih Gajah Mada saat melihat raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit Sunda. Gajah Mada menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di pelabuhan Bubat sebagai bentuk penyerahan diri kerajaan Sunda kepada Majapahit. Hal ini menimbulkan perselisihan antara utusan Linggabuana dengan Gajah Mada, dan memuncak hingga terjadi perang terbuka.
Sumber tertua yang bisa dijadikan rujukan mengenai adanya perang Bubat ini ternyata hanya dua karya sastra dalam bahasa Jawa Pertengahan berbentuk tembang (syair) berjudul :
Kidung Sunda, ditemukan oleh pakar sejarah Belanda bernama Prof. Dr. C.C. Berg pada awal tahun 1920 an, beberapa versi Kidung Sunda, diantaranya Kidung Sundayana, yang merupakan versi sederhana dari versi aslinya. Sarjana belanda itu kemudian menuliskan penemuannya tersebut dalam kedua bukunya, yaitu :
- C.C. Berg, 1927, ‘Kidung Sunda. Inleiding, tekst, vertaling en aanteekeningen’. BKI 83: 1 – 161.
- C.C. Berg, 1928, Inleiding tot de studie van het Oud-Javaansch (Kidung Sundāyana). Soerakarta: De Bliksem.
- Kitab Pararaton, yang diterjemahkan oleh JLA Brandes pada tahun 1897 M dalam sebuah bukunya yang berjudul Pararaton (Ken Arok) of het boek der Koningen van Tumapěl en van Majapahit. Uitgegeven en toegelicht. Batavia: Albrecht; 's Hage: Nijhoff. VBG 49.1.
Tentang Kidung Sunda
Kidung Sunda adalah sebuah tulisan/naskah dalam bahasa Jawa pertengahan yang berbentuk syair (tembang), yang kemungkinan berasal dari Bali. Dalam kidung ini diceritakan tentang kisah pencarian seorang permaisuri Hayam Wuruk dari Majapahit, dan tragedi perang bubat yang memilukan. Diceritakan dalam beberapa pupuh, sebagai berikut :
Pupuh I
Hayam Wuruk, raja Majapahit ingin mencari seorang permaisuri untuk dinikahi. Maka beliau mengirim utusan-utusan ke seluruh penjuru Nusantara untuk mencarikan seorang putri yang sesuai. Mereka membawa lukisan-lukisan kembali, namun tak ada yang menarik hatinya. Maka prabu Hayam Wuruk mendengar bahwa putri Sunda cantik dan beliau mengirim seorang juru lukis ke sana. Setelah ia kembali maka diserahkan lukisannya. Saat itu kebetulan dua orang paman prabu Hayam Wuruk, raja Kahuripan dan raja Daha berada di sana hendak menyatakan rasa keprihatinan mereka bahwa keponakan mereka belum menikah.
Maka Sri Baginda Hayam Wuruk tertarik dengan lukisan putri Sunda. Kemudian prabu Hayam Wuruk menyuruh Madhu, seorang mantri ke tanah Sunda untuk melamarnya. Madhu tiba di tanah Sunda setelah berlayar selama enam hari kemudian menghadap raja Sunda. Sang raja senang, putrinya dipilih raja Majapahit yang ternama tersebut. Tetapi putri Sunda sendiri tidak banyak berkomentar.
Maka Madhu kembali ke Majapahit membawa surat balasan raja Sunda dan memberi tahu kedatangan mereka. Tak lama kemudian mereka bertolak dari Sunda disertai banyak sekali iringan. Ada dua ratus kapal kecil dan jumlah totalnya adalah 2.000 kapal, berikut kapal-kapal kecil.
Namun ketika mereka naik kapal, terlihatlah pratanda buruk. Kapal yang dinaiki Raja, Ratu dan Putri Sunda adalah sebuah “jung Tatar (Mongolia/Cina) seperti banyak dipakai semenjak perang Wijaya.” (bait 1. 43a.)
Sementara di Majapahit sendiri mereka sibuk mempersiapkan kedatangan para tamu. Maka sepuluh hari kemudian kepala desa Bubat datang melapor bahwa rombongan orang Sunda telah datang. Prabu Hayam Wuruk beserta kedua pamannya siap menyongsong mereka. Tetapi patih Gajah Mada tidak setuju. Ia berkata bahwa tidaklah seyogyanya seorang maharaja Majapahit menyongsong Raja Sunda yang seharusnya menjadi raja bawahan. Siapa tahu dia seorang musuh yang menyamar.
Maka prabu Hayam Wuruk tidak jadi pergi ke Bubat menuruti saran patih Gajah Mada. Para abdi dalem keraton dan para pejabat lainnya, terperanjat mendengar hal ini, namun mereka tidak berani melawan.
Sedangkan di Bubat sendiri, mereka sudah mendengar kabar burung tentang perkembangan terkini di Majapahit. Maka Raja Sunda pun mengirimkan utusannya, patih Anepakěn, untuk pergi ke Majapahit. Ia disertai tiga pejabat lainnya dan 300 serdadu. Mereka langsung datang ke rumah Patih Gajah Mada. Di sana beliau menyatakan bahwa Raja Sunda akan bertolak pulang dan mengira Prabu Hayam Wuruk ingkar janji. Mereka bertengkar hebat karena Gajah Mada menginginkan supaya orang-orang Sunda bersikap seperti layaknya vazal-vazal Nusantara Majapahit. Hampir saja terjadi pertempuran di kepatihan kalau tidak ditengahi oleh Smaranata, seorang pandita kerajaan.
Maka berpulanglah utusan Raja Sunda setelah diberi tahu bahwa keputusan terakhir Raja Sunda akan disampaikan dalam tempo dua hari. Sementara Raja Sunda setelah mendengar kabar ini tidak bersedia menjadi negara bawahan Majapahit. Maka beliau berkata memberi tahukan keputusannya untuk gugur seperti seorang ksatria. Demi membela kehormatan, lebih baik gugur daripada hidup tetapi dihina orang Majapahit. Para bawahannya berseru mereka akan mengikutinya dan membelanya.
Kemudian Raja Sunda menemui istri dan anaknya dan menyatakan niatnya dan menyuruh mereka pulang. Tetapi mereka menolak dan bersikeras ingin tetap menemani sang raja.
Pupuh II (Durma)
Maka semua sudah siap siaga. Utusan dikirim ke perkemahan orang Sunda dengan membawa surat yang berisikan syarat-syarat Majapahit. Orang Sunda pun menolaknya dengan marah dan pertempuran tidak dapat dihindarkan.
Tentara Majapahit terdiri dari prajurit-prajurit biasa di depan, kemudian para pejabat keraton, Gajah Mada dan akhirnya Prabu Hayam Wuruk dan kedua pamannya.
Pertempuran dahsyat berkecamuk, pasukan Majapahit banyak yang gugur. Tetapi karena kalah jumlahnya, akhirnya hampir semua orang Sunda dibantai habisan-habisan oleh orang Majapahit. Anepakěn dikalahkan oleh Gajah Mada sedangkan Raja Sunda ditewaskan oleh besannya sendiri, Raja Kahuripan dan Daha. Pitar adalah satu-satunya perwira Sunda yang masih hidup karena pura-pura mati di antara mayat-mayat serdadu Sunda. Kemudian ia lolos dan melaporkan keadaan kepada Ratu dan Putri Sunda. Mereka bersedih hati dan kemudian sesuai ajaran Hindu mereka melakukan belapati (bunuh diri). Semua istri para perwira Sunda pergi ke medan perang dan melakukan bunuh diri massal di atas jenazah-jenazah suami mereka.
Pupuh III (Sinom)
Prabu Hayam Wuruk merasa cemas setelah menyaksikan peperangan ini. Ia kemudian menuju ke pesanggaran Putri Sunda. Tetapi Putri Sunda sudah tewas. Maka Prabu Hayam Wuruk pun meratapinya ingin dipersatukan dengan wanita idamannya ini.
Setelah itu, upacara untuk menyembahyangkan dan mendoakan para arwah dilaksanakan. Tidak selang lama, maka mangkatlah pula Prabu Hayam Wuruk yang merana.
Setelah beliau diperabukan dan semua upacara keagamaan selesai, maka berundinglah kedua pamannya. Mereka menyalahkan Gajah Mada atas malapetaka ini. Maka mereka ingin menangkapnya dan membunuhnya. Kemudian bergegaslah mereka datang ke kepatihan. Saat itu patih Gajah Mada sadar bahwa waktunya telah tiba. Maka beliau mengenakan segala upakara (perlengkapan) upacara dan melakukan yoga samadi. Setelah itu beliau menghilang (moksa) tak terlihat menuju ketiadaan (niskala).
Maka raja Kahuripan dan raja Daha, yang mirip "Siwa dan Buddha" berpulang ke negara mereka karena Majapahit mengingatkan mereka akan peristiwa memilukan yang terjadi.
Analisis cerita dalam Kidung Sunda.
Berdasarkan uraian tiga pupuh di atas, penulis mencoba melakukan analisa sebagai berikut :
Dalam ketiga pupuh di atas tidak disebutkan secara jelas siapakah nama Raja Sunda, Ratu Sunda dan Putri Sunda yang datang ke Majapahit tersebut. Hal ini menyebabkan para ahli sejarah membuat suatu analogi dengan mempergunakan sumber-sumber sejarah yang lain. Analogi yang dilakukan oleh para ahli sejarah berdasarkan sumber-sumber lain tersebut bisa saja keliru atau tidak tepat.
Dalam Kidung Sunda ini tidak disebutkan siapa penulis aslinya dan dimana tempat ia menuliskannya, di Jawa atau di Bali ?
Tentang kematian Mahapatih Gajah Mada, uraian dalam Kidung Sunda ini bertentangan dengan uraian yang terdapat dalam Kitab Negarakretagama khususnya dalam Pupuh LXXI yang menyebutkan "....tahun rasa (1286 Saka atau 1364 M) beliau mangkat, Baginda (Hayam Wuruk) gundah, terharu, bahkan putus asa...". Didalam pupuh sebelumnya disebutkan bahwa sebab-sebab meninggalnya Mahapatih Gajah Mada adalah karena sakit. Uraian Pupuh LXX sebagai berikut "....Terpaku mendengar Adimenteri Gajah Mada gering...". Jadi kesimpulannya adalah : Mahapatih Gajah Mada meninggal karena sakit dan bukan karena dikejar-kejar oleh kedua orang paman Raja Hayam Wuruk setelah perang Bubat.
Dalam Kidung Sunda tersebut diceritakan bahwa Prabu Hayam Wuruk meninggal lebih dahulu dibandingkan Mahapatih Gajah Mada, padahal menurut uraian yang terdapat dalam Kitab Negarakretagama yang meninggal lebih dahulu adalah Mahapatih Gajah Mada, hal ini dapat kita cermati dalam uraian Pupuh LXXI yang menyebutkan ".... Baginda segera bermusyawarah dengan kedua rama serta Ibunda .....". Permusyawarahan ini dilakukan Prabu Hayam Wuruk untuk mencari pengganti Mahapatih Gajah Mada yang telah meninggal.
Dengan demikian Kidung Sunda ini harusnya dianggap hanya sebagai karya sastra biasa (karena tidak menyebutkan secara jelas pihak-pihak dari kerajaan Sunda), dan bukan sebuah kronik sejarah yang akurat.
Tambahan :
Satu hal yang paling menarik ialah bahwa dalam teks dibedakan pengertian antara Nusantara dan tanah Sunda. Orang-orang Sunda dianggap bukan orang Nusantara, kecuali oleh patih Gajah Mada. Sedangkan yang disebut sebagai orang-orang Nusantara adalah: orang Palembang, orang Tumasik (Singapura), Madura, Bali, Koci (?), Wandan (Banda, Maluku Tengah), Tanjungpura (Kabupaten Ketapang) dan Sawakung (Pulau Sebuku?) (contoh bait 1. 54 b.) . Hal ini juga sesuai dengan kakawin Nagarakretagama di mana tanah Sunda tak disebut sebagai wilayah Majapahit yang harus membayar upeti. Dengan demikian jelas bahwa tanah Sunda bukan negara atau tanah taklukan Majapahit.
Kenyataan tersebut diperkuat oleh uraian yang terdapat dalam Kitab Negarakretagama sebagai berikut :
Berkaitan dengan penyebaran agama Budha diuraikan dalam Pupuh XVI sebagai berikut : "... Konon kabarnya para pendeta penganut Sang Sugata (ajaran Budha), dalam perjalanan mengemban perintah Baginda Nata (Hayam Wuruk), dilarang menginjak tanah sebelah Barat pulau Jawa, karena penghuninya bukan penganut ajaran Budha .....". Tanah sebelah Barat pulau Jawa identik dengan kekuasaan Kerajaan Sunda.
Berkaitan dengan negara-negara asing yang memiliki hubungan dengan kerajaan Majapahit, diuraiakan dalam Pupuh XV sebagai berikut : ".......Yawana ialah negara sahabat ....". Identifikasi Yawana adalah Kerajaan Sunda (sepanjang tidak ada bukti-bukti empiris lainnya).
Kitab Pararaton
Serat Pararaton, atau Pararaton saja (bahasa Kawi: "Kitab Raja-Raja"), adalah sebuah kitab naskah Sastra Jawa Pertengahan yang digubah dalam bahasa Jawa Kawi. Naskah ini cukup singkat, berupa 32 halaman seukuran folio yang terdiri dari 1126 baris. Apakah ini naskah aslinya ? Isinya adalah sejarah raja-raja Singhasari dan Majapahit di Jawa Timur. Kitab ini juga dikenal dengan nama "Pustaka Raja", yang dalam bahasa Sanskerta juga berarti "kitab raja-raja". Tidak terdapat catatan yang menunjukkan siapa penulis Pararaton yang asli (inilah fakta yang mencurigakan).
Pararaton diawali dengan cerita mengenai inkarnasi Ken Arok, yaitu tokoh pendiri kerajaan Singhasari (1222–1292). Selanjutnya hampir setengah kitab membahas bagaimana Ken Arok meniti perjalanan hidupnya, sampai ia menjadi raja pada tahun 1222. Penggambaran pada naskah bagian ini cenderung bersifat mitologis. Cerita kemudian dilanjutkan dengan bagian-bagian naratif pendek, yang diatur dalam urutan kronologis. Banyak kejadian yang tercatat di sini diberikan penanggalan. Mendekati bagian akhir, penjelasan mengenai sejarah menjadi semakin pendek dan bercampur dengan informasi mengenai silsilah berbagai anggota keluarga kerajaan Majapahit.
Penekanan atas pentingnya kisah Ken Arok bukan saja dinyatakan melalui panjangnya cerita, melainkan juga melalui judul alternatif yang ditawarkan dalam naskah ini, yaitu: "Serat Pararaton atawa Katuturanira Ken Angrok", atau "Kitab Raja-Raja atau Cerita Mengenai Ken Angrok". Mengingat tarikh yang tertua yang terdapat pada lembaran-lembaran naskah adalah 1522 Saka (atau 1600 Masehi), diperkirakan bahwa bagian terakhir dari teks naskah telah dituliskan antara tahun 1481 dan 1600, dimana kemungkinan besar lebih mendekati tahun pertama daripada tahun kedua.
Sebagaimana telah diungkapkan di atas, maka dalam naskah Pararaton ini tidak diketahui pula siapa penulis aslinya sehingga sulit diketahui tentang kredibilitas penulisnya serta apa motivasi penulisan naskah ini. Naskah Pararaton ini hanya dikenal berdasarkan terjemahan yang ditulis oleh JLA Brandes dalam bukunya tersebut. Bisa jadi kitab Pararaton ini adalah buatan Brandes sendiri karena sampai saat ini kita semua sebagai pewaris yang sah (seandainya ada naskah yang asli) belum pernah tahu seperti apa bentuk naskahnya yang asli.
Analisis Kitab Pararaton.
Di dalam berbagai prasasti-prasasti peninggalan kerajaan Singhasari tidak pernah ditemukan nama Ken Arok sebagai pendiri kerajaan Tumapel yang pada akhirnya berubah nama menjadi Singhasari, kenyataan inilah yang membawa kita pada suatu kesimpulan bahwa Kitab Pararaton (khusus yang berkaitan dengan kerajaan Singhasari serta beberapa bagian lainnya) bukanlah merupakan suatu sumber sejarah yang sahih atau valid karena isinya banyak bertentangan dengan prasasti-prasasti yang ada termasuk juga bertentangan dengan Kitab Negarakretagama.
Sumber Referensi :
- Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarah) – Jilid 1, Edi S. Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung, Cet Kedua – 2005
- Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.
-Yoseph Iskandar. Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa), Geger Sunten, Bandung – 2005.
- Yosep Iskandar, Perang Bubat, Naskah bersambung Majalah Mangle, Bandung, 1987.
- Yus Rusyana – Puisi Geguritan Sunda : PPPB, 1980
- Tjarita Parahjangan, Drs.Atja, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung- 1968.
- Sejarah Bogor (Bagian 1), Saleh Danasasmita. Pemda DT II Bogor.
- pasundan.homestead.com – Sumber : Salah Dana Sasmita, Sejarah Bogor, 24 September 2008.
- wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Galuh, 5 April 2010.
- wikipedia.org/wiki/Kawali, tanggal 5 April 2010.
Imajiner Nuswantoro






