LAHIRNYA BATARA GANESA

0

 LAHIRNYA BATARA GANESA




BACA JUGA :



.


Kelahiran Batara Ganesha merupakan kisah legendaris yang melibatkan Dewa Siwa dan Dewi Parwati, di mana ia diciptakan dari adonan pasta kunyit atau tanah liat oleh Parwati saat Siwa pergi, bertugas menjaga pintu, dan saat Siwa kembali ia memenggal kepala Ganesha karena tidak mengenali Ganesha, kemudian diganti dengan kepala gajah sebagai bentuk penebusan. Mitos ini memiliki variasi, ada yang menyebutkan Ganesha diciptakan oleh Siwa atau muncul misterius, namun kisah yang paling dikenal adalah ia diciptakan dari tubuh Parwati sebagai putranya. 

Kisah Kelahiran Ganesha (Versi Umum)
1. Penciptaan: Dewi Parwati ingin memiliki anak yang setia. Ia membuat wujud manusia dari adonan pasta kunyit (atau tanah liat) dan memberinya kehidupan, lalu menamainya Ganesha.
2. Penjaga: Parwati menugaskan Ganesha untuk menjaga pintu saat ia mandi.
3. Pertemuan dengan Siwa: Dewa Siwa pulang dan ingin masuk, namun Ganesha melarangnya karena perintah Parwati.
4. Pertarungan dan Penggantian Kepala: Siwa murka karena dihalangi, terjadilah pertarungan. Siwa kemudian memenggal kepala Ganesha.
5. Kebangkitan Ganesha: Parwati sedih dan marah. Untuk menenangkan Parwati, Siwa berjanji akan mengganti kepala Ganesha dengan kepala makhluk pertama yang ditemui di pagi hari, yaitu seekor gajah. 

Variasi Mitos Lain
1. Beberapa Purana menyebutkan Ganesha diciptakan oleh Siwa sendiri.
2. Ada juga yang mengatakan Ganesha diciptakan oleh Siwa dan Parwati bersama-sama. 

Perayaan Kelahiran
- Kelahiran Ganesha diperingati dalam festival Hindu yang disebut Ganesha Chaturthi, biasanya jatuh pada bulan Agustus atau September. 
- Ganesha dikenal sebagai dewa kebijaksanaan, ilmu pengetahuan, dan penghalau rintangan, serta memiliki saudara bernama Skanda (Kartikeya). 


Betara ganesya
Batara Ganesa terkadang ditulis Ganesya, disebut juga Batara Ganapati,atau Batara Gana, dianggap sebagai Dewa Pendidikan, Sastra, dan Penyebar Ilmu Pengetahuan. Ia adalah anak Batara Guru dari Dewi Umaranti, yang tinggal di kahyangan Glugutinatar.

Batara Ganesa lahir tidak dalam bentuk manusia, melainkan dalam ujud menyerupai gajah,lengkap dengan gading dan belalainya. Hal ini terjadi karena sesaat setelah Batara Guru dan Dewi Uma saling bercumbu kasih, para dewa datang menghadap. Di antara mereka yang datang menghadap adalah Batara Endra yang mengendarai Gajah Airawata. Gajah itu luar biasa besar, sehingga membuat takjub dan kaget Dewi Uma, yang saat itu lagi mengandung. Karena ketakjubannya itu, maka kemudian Dewi Umaranti melahirkan putera yang bentuk dan wajahnya mirip sekali dengan gajah.

Bayi gajah Ganesa ternyata juga memiliki kesaktian luar biasa. Ia dapat mengalahkan raja raksasa Nilarudraka dari kerajaan Glugutinatar, yang datang menyerbu kahyangan. Ketika itu raja raksasa gandarwa itu mengamuk karena lamarannya pada Dewi Gagarma yang ditolak. Setelah dikalahkan, Glugutinatar dijadikan kahyangannya. Dalam pewayangan, pada lakon Batara Brama Krama, Batara Ganesa pernah diruwat oleh Batara Brama sehingga ujudnya menjadi dewa yang tampan, tidak lagi berkepala gajah. Setelah ujudnya berubah, Batara Ganesa dikenal dengan sebutan Batara Mahadewa. Menurut Adiparwa, yaitu bagian pertama dari Mahabarata, Ganesa juga berjasa menjadi juru tulis Empu Wyasa yang mengarang kitab Mahabarata itu.Nama lain Batara Ganesa adalah Ganapati, Lambakarna, Gajanana, Karimuka dan Gajawadana.





Lahirnya Batara Ganesha memiliki beberapa versi, tetapi yang paling terkenal adalah saat ia diciptakan oleh Dewi Parwati untuk menjaga pintu rumahnya. Batara Siwa yang pulang tidak bisa masuk karena dihalangi oleh Ganesha, dan setelah terjadi pertarungan, Ganesha akhirnya dihidupkan kembali oleh Dewa Siwa dan diberi gelar Dewa Keselamatan.


Versi asal-usul dalam mitologi

  • Penciptaan oleh Parwati: Dewi Parwati menciptakan Ganesha dari minyak dan tanah liat untuk menjaga pintu rumahnya agar tidak ada orang yang mengganggu saat ia sedang mandi.
  • Pertarungan dengan Siwa: Ketika Batara Siwa pulang, ia tidak diizinkan masuk oleh Ganesha. Pertarungan pun terjadi, dan Siwa akhirnya memenggal kepala Ganesha.
  • Menghidupkan kembali Ganesha: Dewa Siwa kemudian menyadari kesalahannya dan, atas saran Brahma, ia mengambil kepala gajah pertama yang ia lihat dan menyambungkannya ke tubuh Ganesha. Sejak saat itu, Ganesa dikenal sebagai dewa dengan kepala gajah dan gelar Dewa Keselamatan.



LAHIRNYA GANESA DALAM CERITA SMARADAHANA

Di ceritakan Pada suatu musyawarah para Dewa diketahui, bahwa Suralaya (Kahyangan) akan diserbu oleh bala tentara raksasa. Serangan itu akan dipimpin oleh Raja Nilarudraka. Semua dewa merasa tidak mampu menghadapi kesaktian Raja Nilarudraka. Seluruh dewa merasa panik bagaimana cara mengatasi bahaya itu. Kebetulan pada waktu itu Dewa Siwa atau Batara Guru (Raja pra Dewa) baru bertapa. Kemudian para dewa mengadakan musyawarah. Keputusan musyawarah menunjuk Batara Kamajaya untuk membangunkan Batara Guru dari tapanya.



Berangkatlah Batara Kamajaya ke pertapaan Batara Guru.

Sesampai di pertapaan, Batara Kamajaya tidak berani mendekat. Batara Guru yang sedang bersamadi. Dicarilah akal untuk membangungkan Batara Guru dari tapa. Kemudian Batara Kamajaya melepaskan panah bunga berkali-kali tetapi tidak membawa hasil. Panah bunga yaitu kekuatan tenaga dalam (batin) dari seseorang ditujukan kepada orang lain agar tercium harumnya suatu bunga. Batara Kamajaya tidak putus asa. Kemudian dilepaskan panah “panca wisaya” ditujukan kepada Batara Guru (panca = lima; wisaya = rindu). “Panca Wisaya” itu berupa rindu pada suara merdu, rindu pada rasa enak, rindu pada belaian kasih sayang dan rindu pada bau yang harum. Seketika itu Batara Guru timbul rasa rindu kepada dewi uma permaisurinya. Setelah bangun dari tapanya, ternyata yang ditatap didepannya adalah Batara Kamajaya. Timbul marahnya yang tak terhingga. Batara Kamajaya dipandang memakai mata ketiga yang berada di dahinya. Pandangan itu memancarkan api yang menyala-nyala. Maka terbakarlah Batara Kamajaya dan mati seketika itu. 



Kemudian Batara Guru Kembali Ke Kayangan

Dewi Ratih sangat berduka cita mendengar berita suaminya mati terbakar. Ia bermaksud “mati obong” (membakar diri) bersama suaminya sebagai rasa cinta kasih. Kemudian Dewi Ratih menyusul ke tempat suaminya mati terbakar. Sesampainya Dewi Ratih di tempat suaminya terbakar, maka atas kehendak Batara Guru api menyala kembali lebih besar. Lambaian nyapa api itu tampak bagaikan lambaian tangan Batara Kamajaya memanggil Dewi Ratih agar mendekatnya. Maka Dewi Ratih tanpa ragu sedikitpun lalu terjun ke dalam nyala api. Demikianlah Dewi Ratih telah menyatu dengan suaminya.

Mengetahui kejadian itu seluruh dewa berduka cita. Mereka sadar bahwa kematian Batara Kamajaya karena keputusan sidang para dewa untuk mengatasi bahaya yang mengancam Kahyangan. Oleh karena itu para Dewa berusaha memohonkan ampun atas kesalahan yang diperbuat oleh Batara Kamajaya. Selain itu para dewa memohon agar Batara Guru berkenan menghidupkan lagi Batara Kamajaya dan Dewi Ratih. Akan tetapi Batara Guru tidak dapat mengabulkan permohonan itu, karena mempunyai pandangan yang lebih jauh. Batara Guru menghendaki keturuanan atau kelestarian kehidupan manusia di arcapada (dunia). Maka Batara Kamajaya diperintahkan agar tinggal pada setiap hati atau rasa orang laki-laki dan Dewi Ratih tinggal pada setiap hati atau rasa orang perempuan. Dengan demikian antara orang laki-laki dan perempuan selalu timbul rasa cinta kasih, sehingga kelangsungan hidup di dunia dapat dipertahankan.

Sekembalinya Batara Guru di Kahyangan di jemput oleh Dewi uma permaisurinya. Pasangan Dewa itu saling melepaskan rindu karena cukup lama tak jumpa. Tak berapa lama berselang dengan kembalinya Batara Guru ke Kahyangan, lalu Dewi Uma hamil.

Pada saat Dewi Uma hamil muda, para Dewa datang menghadap untuk menghormati kembalinya Batara Guru dari bertapa. Kedatangan para dewa membawa hewan tungganggan masing-masing. Saah satu dewa itu adalah Batara Indra menunggang gajah yang terkenal besarnya. Pada waktu itu Batara Guru baru duduk di dampingi Dewi Uma, permaisurinya. Melihat kedatangan Batara Indra menunggang gajah yang besar itu, Dewi Uma sangat terkejut, takut dan menjerit-jerit. Batara Guru menghibur dan meredakan rasa takutnya permaisuri.

Dalam hati Batara Guru telah mengetahui apa yang akan terjadi akibat dari perasaan takut permaisuri yang sedang hamil muda itu. Maka ia berkata sudah menjadi kehendak Sang Hyang Tunggal, bahwa Dewi Uma akan melahirkan jabang bayi laki-laki berkepala gajah. Setelah sampai waktunya, benarlah Dewi Uma melahirkan bayi laki-laki berkepala gajah. Putera Dewi Uma itu diberi nama Batara Ganesa.

Tidak lama kemudian Kahyangan kedatangan bala tentara Raja Nilarudraka. Maksud kedatangan Raja Nilarudraka adalah ingin melamar bidadari Kahyangan untuk dijadikan permaisuri. Para dewa tidak dapat meluluskan lamaran itu. Sebab semua makhluk di arcapada telah diatur oleh Dewata untuk jodohnya masing-masing yaitu dewa dengan dewi (bidadari). Satria dengan puteri, pandita dengan endang, raksasa dengan raksasi dan seterusnya. Karena permintaan Raja Nilarudraka ditolak, maka terjadilah perang antara bala tentara dewa menghadapi bala tentara raksasa. Para dewa tidak mampu menghadapi serangan itu.

Batara Guru memutuskan agar Batara Ganesa yang masih kecil itu maju ke medan perang. Terjadilah perang yang semakin seru. Semua bala tentara raksasa dihadapinya dengan gigih. Anehnya setiap bala tentara raksasa dapat dibunuhnya, Batara Ganesa bertambah besar. Seluruh bala tentara raksasa dapat dibinasakan. Akhirnya Batara Ganesa perang tanding (satu lawan satu) dengan Raja Nilarudraka. Perang dahsyat adu kesaktian dan kekuatan itu sangat ramai. Dalam perang itu salah satu taring (gading) Batara Ganesa patah. Dalam perang tanding ini Raja Nilarudraka dapat dibinasakan dan dibunuh.

Karena Batara Ganesa hanya mempunyai satu taring (gading) maka diberi nama Eka Denta (eka = satu; denta = gading atau taring). Dalam agama Hindu, Ganesa mahsyur sebagai "Pengusir segala rintangan" dan lebih umum dikenal sebagai "Dewa saat memulai pekerjaan" dan "Dewa segala rintangan" (Wignesa, Wigneswara), "Pelindung seni dan ilmu pengetahuan", dan "Dewa kecerdasan dan kebijaksanaan". Ia dihormati saat memulai suatu upacara dan dipanggil sebagai pelindung/pemantau tulisan saat keperluan menulis dalam upacara. 


Berikut Buku Lahirnya Batara Ganesa :



 


 Imajiner Nuswantoro


Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)