KAKAWIN SMARADAHANA KARYA AGUNG MPU DHARMADJA

0

Kakawin Smaradahana KARYA AGUNG Mpu Dharmadja


 




BACA JUGA :

KISAH  KAKAWIN SMARADAHANA

.


Kisah-kisah sejarah mengenai kerajaan yang ada di Indonesia banyak ditulis dalam bentuk kitab. Salah satu kitab yang juga banyak dibahas adalah kitab Smaradahana. Kitab satu ini termasuk kitab sastra Jawa yang terbilang kuno. Mpu Dharmaja adalah pujangga yang menulis kitab bernama kitab Smaradahana. Dalam kisahnya, kitab ini menceritakan dua tokoh yang bernama Dewa Kama dan istrinya yaitu, Dewi Ratih. Anda mungkin kurang begitu mengenal kitab satu ini karena namanya yang terdengar agak sulit diucapkan. Namun bagi para sastrawan, kitab ini termasuk kitab pelengkap kisah sejarah kerajaan pada masa Jawa Kuno. Berikut adalah beberapa fakta agar Anda lebih mengenal dari kitab Smaradahana :

1.     Panah Pancawisesa. Dalam kisah yang dituliskan dalam kitab Smaradahana, bahwa dewa Siwa terkena hempasan panah yang disebut dengan panah pancawisesa. Batara Kamajaya melepas panah ini agar dewa Siwa yang sedang bertapa mau kembali ke kahyangan. Fakta yang menarik dari panah pancawisesa ini ternyata memiliki arti. Arti pertama adalah agar dapat mendengar suara-suara yang indah. Arti kedua adalah agar memiliki kemauan untuk makan. Arti ketiga adalah agar indera peraba tetap dimiliki sehingga mampu meraba dengan kehalusan. Arti keempat adalah terkait dengan indra penciuman agar mampu mencium keharuman. Dan arti yang kelima adalah terkait dengan indra penglihatan agar mampu melihat pemandangan di sekitar.

2.     Kehidupan Kembali. Fakta berikut ini terkait dengan masa kehidupan yang berlangsung. Menurut kisah dari kitab Smaradahana, kehidupan dua orang yaitu, dewa Kama dan Dewi Ratih mampu dihidupkan kembali. Fakta ini masih berkaitan dengan fakta dari panah pancawisesa milik dewa Kama. Dewa Siwa mampu mematahkan hempasan panah pancawisesa dan mengakibatkan dewa Kama meregang nyawa. Dan kejadian tersebut membuat istri dewa Kama yaitu, Dewi Ratih tidak tinggal diam dan ikut meregang nyawa. Kedua pasangan tersebut pun tidak terselamatkan. Namun menurut fakta dari kisah kitab Smaradahana ini dewa-dewa memohonkan ampunan dewa Kama dan dewi ratih kepada dewa Siwa. Dan atas terkabulnya permohonan ampun maka terjadilah kehidupan kembali sosok dari dewa Kama dan dewi Sinta. Namun bukan dalam bentuk asli melainkan sosok yang masuk atau akan tergambarkan dalam pria maupun wanita.

3.     Anak Dewa Siwa. Fakta berikut ini lebih seperti akibat perbuatan dari dewa Siwa. Seakan-akan apa yang telah dilakukan oleh dewa Siwa terhadap dewa Kama dan dewi Ratih mendapatkan balasan. Fakta yang terjadi adalah dewa Siwa memiliki seorang anak laki-laki yang tidak terlihat sempurna dari segi fisik. Anak dari dewa Siwa dan dewi uma memiliki tubuh manusia namun memiliki kepala hewan gajah lengkap dengan belalainya. Namun fakta yang terjadi adalah watak dari anak dewa Siwa berbanding terbalik dengan dewa Siwa. Ganesha nama anak dewa Siwa memiliki hati yang mulia. Fakta menarik yang tertulis dari kitab Smaradahana ini adlaah bahwa Ganesha mampu mengalahkan musuh seperti raksasa yang masuk ke kahyangan.

 

Apa yang tertulis di dalam kitab Smaradahana ini tentu memiliki pelajaran yang sangat berharga bagi kehidupan manusia. Kejadian yang benar-benar mengerikan namun juga mengharukan memiliki nilai moral yang dalam. Anda pun jika membaca kitab Smaradahana ini akan mampu memetik pelajaran mengenai watak seseorang yang baik dan juga kurang terpuji. Sehingga tidak heran kisah dari kitab Smaradahana juga begitu disanjung oleh beberapa ahli sejarah dan sastrawan.

Kakawin Smaradahana adalah sebuah karya sastra Jawa Kuno dalam bentuk kakawin yang menyampaikan kisah terbakarnya Batara Kamajaya

Ketika Batara Siwa pergi bertapa, Indralaya didatangi musuh, raksasa dengan rajanya bernama Nilarudraka, demikian heningnya dalam tapa, batara Siwa seolah-olah lupa akan kehidupannya di Kahyangan. Supaya mengingatkan batara Siwa dan juga agar mau kembali ke Kahyangan,maka oleh para dewa diutuslah batara Kamajaya untuk menjemputnya. Berangkatlah sang batara untuk mengingatkan batara Siwa, dicobanya dengan berbagai panah sakti dan termasuk panah bunga, tetapi batara Siwa tidak bergeming dalam tapanya. Akhirnya dilepaskannya panah pancawisesa yaitu :

1.     Hasrat mendengar yang merdu,

2.     Hasrat mengenyam yang lezat,

3.     Hasrat meraba yang halus,

4.     Hasrat mencium yang harum,

5.     Hasrat memandang yang serba indah.

 

Akibat panah pancawisesa (atau pancawisaya?) tersebut dewa Siwa dalam sekejap rindu kepada permaisurinya dewi Uma, tetapi setelah diketahuinya bahwa hal tersebut adalah atas perbuatan batara Kamajaya. Maka ditataplah batara Kamajaya melalui mata ketiganya yang berada di tengah-tengah dahi, hancurlah batara Kamajaya. Dewi Ratih istri batara Kamajaya melakukan "bela" dengan menceburkan diri kedalam api yang membakar suaminya. Para dewa memohonkan ampun atas kejadian tersebut, agar dihidupkan kembali, permohonan itu tidak dikabulkan bahkan dalam sabdanya bahwa jiwa batara Kamajaya turun ke dunia dan masuk kedalam hati laki-laki, sedangkan dewi Ratih masuk kedalam jiwa wanita. Ketika Siwa duduk berdua dengan dewi Uma, datanglah para dewa mengunjunginya termasuk dewa Indra dengan gajahnya, Airawata yang demikian dahsyatnya sehingga dewi Uma terperanjat dan ketakutan melihatnya, kemudian dewi Uma melahirkan putera berkepala gajah, dan kemudian diberi nama Ganesha. Datanglah raksasa Nilarudraka yang melangsungkan niatnya "menggedor" khayangan. Maka Ganesha 'lah yang harus menghadapinya, dalam perang tanding tersebut ganesha setiap saat berubah dan bertambah besar dan semakin dahsyat. Akhirnya musuh dapat dikalahkan, dan para dewa bersuka cita.

 


Raja Kediri

Dalam kitab Smaradahana, disebutkan nama raja Kediri, Prabu Kameswara yang merupakan titisan Dewa Wisnu yang ketiga kalinya dan berpermaisuri Sri Kirana Ratu putri dari Kerajaan Jenggala

Dalam prasasti batu, tertulis raja Kediri Kameswara bertahta selama tahun 1115 sampai dengan 1130. Kemudian, ada pula Raja Kameswara II yang bertahta pada sekitar tahun 1185. Para ahli Belanda memperkirakan bahwa Kameswara II mempunyai hubungan dengan kitab Smaradahana. Akan tetapi Prof. Purbatjaraka sebaliknya menunjuk Kameswara I yang terkait, sebab raja tersebut dalam kitab Panji bernama Hinu Kertapati dan juga permaisurinya bernama Kirana, yaitu Dewi Candrakirana, hanya posisi Jenggala dan Kedirinya yang terbalik.

 


KAKAWIN SMARADAHANA

Penulis Kakawin Smaradahana adalah Mpu Dharmaja. Pada masa Raja Sri Kameswara, sekitar tahun 1183 – 1185 M di Kadiri.

Diterbitkan olah R.M.Ng. Poerbatjaraka

Dimuat dalam Bibliootheca Javanice III, Bandung 1931 dengan disertai terjemahan dan catatan catatan

Dasar penerbitannya menggunakan 3 macam naskah turunan, sebuah berangka tahun 1830 Saka, sebuah lagi lebih tua, berangka tahun 1830 Saka, sebuah lagi lebih tua, berangka tahun Saka 1813 dan yang lain lagi tanpa kolophon.

 




RINGAKSAN CERITA.

Ringkasan cerita KAKAWIN SMARADAHANA dapat juga dibaca dalam kitab Prof. Poerbotjaraka, Kepustakaan Jawa ( hal. 20 -21 ) yang dapat diikhtisarkan sebagai berikut :

Ketika Bhatara Siwa sedang bertapa, Kedewaan diserang raja raksasa yang bernama Nilarudraka. Untuk menghentikan tapa Siwa, maka diutuslah Bhara Kamajaya untuk mengganggu tapa Siwa tersebut dengan panah Pancawisaya, akhirnya tapa Siwa terganggu dan Siwa pun marah terhadap bathara Kama. Kemudian Bhatara Kama dipandang dengan mata ketiga yang terletak di dahi bathara Siwa, lalu musnah terbakarlah bathara kama. Setelah mendengar bahwa bathara kama musna oleh bathara siwa maka bathari Ratih membela suaminya. Dan ikut terbakarlah bathari Ratih. Para dewa memintaka maaf, tetapi bathara Siwa malah memutuskan untuk menitiskan bathara Kama dalam tiap tiap orang laki laki dan bathari Ratih dalam tiap tiap ornag perempuan. Setiba bathara Siwa di surga bertemu dengan istrinya Dewi Uma, mereka saling melepas rindu dan akhirnya Dewi Uma mengandung dan melahirkan putera laki laki berkepalla gajah yang diberi nama Ganesa. Ganesa inilah yang bisa membinasakan raja raksasa Nilarudraka yang menyerang kedewaan,berikut balatentaranya.

Pada bagian akhir naskah Samadahana ini mulai pupuh 38, disebutkan raja raja Jawa (raja Daha dan Jenggala) ini merupakan penjelmaan bathara Kama dan Bathari Ratih.


Berikut Lontar Kakawin Smaradahana :

 

 

 Imajiner Nuswantoro



Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)