Dang Hyang Lohgawe
Dang Hyang Lohgawe (atau biasa dipanggil Yang Suci Dang Hyang Lohgawe) adalah seorang Brahmana Hindu Syaiwa yang mengajar di sebuah Kadewaguruan bernama Padepokan Dang Hyang Lohgawe.
Kadewaguruan ini terletak di tengah-tengah hutan. Dang Hyang Lohgawe memiliki banyak murid, diantaranya Arok dan Tyaga.
Arok adalah murid kesayangannya.
Lohgawe memiliki peran dalam rencana Ken Arok untuk menggulingkan Tunggul Ametung dan merebut takhta serta Ken Dedes, yang menurut Lohgawe akan melahirkan raja-raja besar tanah Jawa.
Dang Hyang Lohgawe terlibat dalam rencana Arok untuk melengserkan Tunggul Ametung. Tidak hanya itu, murid-murid Dang Hyang Lohgawe semuanya tidak suka pada Tunggul Ametung. Mereka pernah menyampaikan pendapat dan ketidaksukaannya pada Tunggul Ametung di hadapan Dang Hyang Lohgawe.
Dang Hyang Lohgawe membimbing Ken Arok, tokoh anti-hero dalam cerita, dalam usahanya untuk merebut kekuasaan dari Tunggul Ametung.
Dang Hyang Lohgawe memimpin sebuah kadewaguruan (lembaga pendidikan agama) yang tersembunyi di tengah hutan.
Padepokan Dang Hyang Lohgawe.
Padepokan Dang Hyang Lohgawe adalah sebuah Kadewaguruan (lembaga pendidikan agama) milik Dang Hyang Lohgawe yang terletak di tengah-tengah hutan. Kadewaguruan ini bukan kadewaguruan liar meskipun letaknya tersembunyi. Di tempat ini, Arok dan Tyaga belajar.
Kisah Perjalanan Ken Arok Didampingi Guru Spiritual Dang Hyang Lohgawe.
Ken Arok atau Ken Angrok lahir di Jawa Timur pada tahun 1182. Wafat di Jawa Timur pada tahun 1247. Adalah pendiri Kerajaan Tumapel yang terkenal dengan nama Singhasari. Ia memerintah sebagai raja pertama bergelar Rajasa pada tahun 1222 – 1247. Ken Arok adalah putra Gajah Para dari desa Campara (Bacem, Lodoyo, Blitar) dan ibunya bernama Ken Ndok dari desa Pangkur (Jiwut, Nglegok, Blitar).
Gajah adalah nama jabatan setara wedana (Pembantu adipati) pada era kerajaan Kediri. Sebelum Ken Arok lahir ayahnya telah meninggal dunia saat ia dalam kandungan, dan saat itu Ken Ndok telah dijadikan istri oleh raja Kediri.
Oleh ibunya, bayi Ken Arok dibuang di sebuah pemakaman, hingga kemudian ditemukan dan diasuh oleh seorang pencuri bernama Lembong. Ken Arok tumbuh menjadi berandalan yang lihai mencuri dan gemar berjudi. Lembong pun mengusirnya.
Ia kemudian diasuh oleh Bango Samparan, seorang penjudi dari desa Karuman (sekarang Garum, Blitar) yang menganggapnya sebagai pembawa keberuntungan. Ken Arok tidak betah hidup menjadi anak angkat Genukbuntu, istri tua Bango Samparan. Ia kemudian bersahabat dengan Tita, anak kepala desa Siganggeng, (sekarang Senggreng, Sumberpucung, Malang). Keduanya pun menjadi pasangan perampok yang ditakuti di seluruh kawasan Kerajaan Kediri. Akhirnya, Ken Arok bertemu seorang brahmana dari India bernama Lohgawe, yang datang ke tanah Jawa mencari titisan Wisnu. Dari ciri-ciri yang ditemukan, Lohgawe yakin kalau Ken Arok adalah orang yang dicarinya.
Tumapel merupakan salah satu daerah bawahan Kerajaan Kediri. Yang menjadi akuwu (sekarang setara dengan kecamatan). Saat itu, Tumapel dipimpin oleh Tunggul Ametung. Atas bantuan Lohgawe, Ken Arok dapat diterima bekerja sebagai pengawal Tunggul Ametung. Ken Arok kemudian tertarik pada Ken Dedes istri Tunggul Ametung yang cantik. Lohgawe juga meramalkan kalau Ken Dedes akan menurunkan raja-raja tanah Jawa. Hal itu semakin membuat Ken Arok ingin merebut Ken Dedes, meskipun tidak direstui Lohgawe. Ken Arok membutuhkan sebilah keris ampuh untuk membunuh Tunggul Ametung yang terkenal sakti. Bango Samparan pun memperkenalkan Ken Arok pada sahabatnya yang bernama Mpu Gandring dari desa Lulumbang (sekarang Plumbangan, Doko, Blitar), yaitu seorang ahli pembuat pusaka ampuh. Mpu Gandring sanggup membuatkan sebilah keris ampuh dalam waktu setahun. Ken Arok tidak sabar. Lima bulan kemudian ia datang mengambil pesanan. Keris yang belum sempurna itu direbut dan ditusukkan ke dada Mpu Gandring sampai tewas. Menjelang ajalnya, Mpu Gandring mengucapkan kutukan bahwa keris itu nantinya akan membunuh 7 orang, termasuk Ken Arok sendiri.
Ken Arok menjalankan rencananya untuk merebut kekuasaan Tunggul Ametung. Mula-mula ia meminjamkan keris pusakanya pada Kebo Ijo, rekan sesama pengawal. Kebo Ijo dengan bangga memamerkan keris itu sebagai miliknya kepada semua orang yang ia temui, sehingga semua orang mengira bahwa keris itu adalah milik Kebo Ijo. Dengan demikian, siasat Ken Arok berhasil. Malam berikutnya, Ken Arok mencuri keris pusaka itu dari tangan Kebo Ijo yang sedang mabuk arak. Ia lalu menyusup ke kamar tidur Tunggul Ametung dan membunuh majikannya itu di atas ranjang. Ken Dedes menjadi saksi pembunuhan suaminya. Namun hatinya luluh oleh rayuan Ken Arok. Lagi pula, Ken Dedes menikah dengan Tunggul Ametung dilandasi rasa keterpaksaan. Pagi harinya, Kebo Ijo dihukum mati karena kerisnya ditemukan menancap pada mayat Tunggul Ametung. Ken Arok lalu mengangkat dirinya sendiri sebagai pemimpin baru di Tumapel dan menikahi Ken Dedes. Tidak seorang pun yang berani menentang keputusan itu. Ken Dedes sendiri saat itu sedang mengandung anak Tunggul Ametung.
Pada tahun 1222 terjadi perselisihan antara Kertajaya raja Kediri dengan para Brahmana. Para Brahmana itu memilih pindah ke Tumapel meminta perlindungan Ken Arok yang kebetulan sedang mempersiapkan pemberontakan terhadap Kadiri. Setelah mendapat dukungan mereka, Ken Arok pun menyatakan Tumapel sebagai kerajaan merdeka yang lepas dari Kediri. Sebagai raja pertama ia bergelar Sri Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi. Kertajaya tidak takut menghadapi pemberontakan Tumapel. Ia mengaku hanya dapat dikalahkan oleh Bhatara Siwa. Mendengar pernyataan itu, Ken Arok pun memakai gelar Bhatara Siwa dan siap memerangi Kertajaya. Perang antara Kediri dan Tumapel terjadi di dekat desa Ganter. Pihak Kediri kalah. Kertajaya diberitakan mati dalam pertempuran tersebut.
Ken Dedes telah melahirkan empat orang anak Ken Arok, yaitu Mahisa Wonga Teleng, Panji Saprang, Agnibhaya, dan Dewi Rimbu. Ken Arok juga memiliki selir bernama Ken Umang, yang telah memberinya empat orang anak pula, yaitu Tohjaya, Panji Sudatu, Tuan Wergola dan Dewi Rambi. Selain itu, Ken Dedes juga memiliki putra dari Tunggul Ametung yang bernama Anusapati.
Anusapati merasa heran pada sikap Ken Arok yang seolah menganaktirikan dirinya, padahal ia merasa sebagai putra tertua. Setelah mendesak ibunya, Ken Dedes, akhirnya Anusapati mengetahui kalau dirinya memang benar-benar anak tiri. Bahkan, ia juga mengetahui kalau ayah kandungnya bernama Tunggul Ametung telah mati dibunuh Ken Arok. Anusapati berhasil mendapatkan Keris Mpu Gandring yang selama ini disimpan Ken Dedes. Ia kemudian menyuruh pembantunya yang berasal dari desa Batil untuk membunuh Ken Arok. Ken Arok tewas ditusuk dari belakang saat sedang makan sore hari. Anusapati lalu membunuh pembantunya itu untuk menghilangkan jejak.
Imajiner Nuswantoro