KEMBALINYA PERADABAN BUDI PEKERTI Penulis : Raden Tri Priyo Nugroho

0

KEMBALINYA PERADABAN BUDI PEKERTI

Penulis : Raden Tri Priyo Nugroho





 

SELAYANG PANDANG

Peradaban memiliki berbagai arti dalam kaitannya dengan perkembangan manusia. Seringkali istilah ini digunakan untuk merujuk pada suatu masyarakat yang kompleks dicirikan oleh praktik dalam pertanian, hasil karya dan pemukiman. Dibandingkan dengan budaya lain, anggota-anggota sebuah peradaban tersusun atas beragam pembagian kerja yang rumit dalam struktur hierarki sosial. Peradaban sering digunakan sebagai istilah lain kebudayaan di kalangan akademis. Dalam pengertian umum, peradaban adalah istilah deskriptif yang relatif dan kompleks untuk pertanian dan budaya kota. Hal ini karena peradaban awal terbentuk ketika orang mulai berkumpul di pemukiman perkotaan di berbagai belahan dunia. Peradaban dapat dibedakan dari budaya lain oleh kompleksitas dan organisasi sosial serta keragaman kegiatan ekonomi dan budaya. Awalnya, para antropolog dan ahli lainnya menggunakan kata peradaban dan masyarakat beradab untuk membedakan masyarakat yang mereka anggap lebih unggul secara budaya dengan kelompok masyarakat lain yang dianggap inferior secara budaya (disebut juga liar atau barbar). Penggunaan istilah peradaban secara etnosentris memunculkan anggapan bahwa masyarakat di sebuah peradaban memiliki moral yang baik dan budaya yang maju, sementara masyarakat lain memiliki moral yang buruk dan terbelakang. Sejarah penggunaan istilah ini menjadikan definisi peradaban terus berubah. Peradaban adalah kebudayaan yang telah mencapai taraf perkembangan teknologi yang sudah lebih tinggi.

 

MAKNA PERADABAN

Peradaban adalah seluruh hasil budi daya manusia yang mencakup seluruh aspek kehidupan, baik fisik (bangunan, jalan) maupun non-fisik (nilai-nilai, tatanan). Masyarakat yang maju dalam kebudayaan tertentu berarti memiliki peradaban yang tinggi. Peradaban memiliki ciri-ciri dan karakteristik untuk memperjelas dan membedakannya dengan kebudayaan. Sebab, peradaban dan kebudayaan merupakan hal berbeda. Setiap masyarakat memiliki peradabannya sendiri dan ditandai dengan kehidupan yang nyaman. Selain itu, peradaban memiliki wujud moral, norma, etika, dan estetik. Arti Peradaban Dikutip dari buku Pengantar Antropologi: Sebuah Ikhtisar Mengenal Antropologi oleh Gunsu Nurmansyah dkk (2012:100-101), peradaban secara umum adalah bagian dari kebudayaan. Dalam bahasa Belanda, peradaban disebut bescahaving dan dalam bahasa Inggris disebut civilization. Sedangkan, dalam bahasa Jerman Die Zivilsation. Asal kata civilization dalam bahasa latin adalah civilis yang berarti sipil, berhubungan dengan kata civis (penduduk) dan civitas (kota). Secara bahasa, peradaban atau civilation adalah penduduk yang memiliki kemajuan dan lebih baik. Masyarakat pemilik kebudayaan tersebut sudah pasti memiliki peradaban yang tinggi. Sementara menurut Arnold Toynbee dalam buku The Disintegrations of Civilization (1965:1355), peradaban adalah kebudayaan yang telah mencapai taraf perkembangan teknologi yang sudah lebih tinggi. Pengertian lain menyebutkan, peradaban adalah seluruh hasil budi daya manusia yang mencakup seluruh aspek kehidupan baik fisik (bangunan, jalan) maupun non-fisik (nilai-nilai, tatanan). Antropolog Koentjaraningrat mengatakan, peradaban adalah bagian-bagian yang halus dan indah seperti seni. Masyarakat yang telah maju dalam kebudayaan tertentu berarti memiliki peradaban yang tinggi. Istilah peradaban dipakai untuk menunjukkan pendapat dan penilaian terhadap perkembangan kebudayaan. Pada waktu kebudayaan mencapai puncak perkembangannya, unsur-unsur budaya bersifat halus, indah, tinggi, sopan, dan luhur. Masyarakat pemilik kebudayaan dikatakan memiliki peradaban tinggi. Ciri-ciri Peradaban Secara harfiah, peradaban berasal dari kata adab yang berarti akhlak, yaitu kesopanan budi pekerti. Peradaban merupakan tahapan kebudayaan tertentu yang bercirikan ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan lain-lain. Setiap masyarakat memiliki peradabannya sendiri dan ditandai dengan kehidupan yang nyaman. Ciri-ciri peradaban membantu dalam membedakan peradaban dan kebudayaan. Adapaun ciri-ciri kebudayaan secara umum sebagai berikut : 

1.     Pembangunan kota baru dengan tata ruang baik dan indah.

2.     Sistem pemerintahan yang tertib (adanya hukum dan peraturan).

3.     Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. 

4.     Strata Sosial yang kompleks dan bermacamnya perkerjaan (keahlian) masyarakat.

 

Wujud Peradaban Dikutip dari buku Manusia dan Sejarah : Sebuah Tinjauan Filosofis oleh Yulia Siska (2015:62), menurut Koentjaraningrat wujud peradaban sebagai berikut : 

1.     Moral adalah nilai-nilai yang berhubungan dengan kesusilaan dalam masyarakat. 

2.     Norma adalah aturan, ukuran, atau pedoman untuk menentukan benar, salah, baik, dan buruk sesuatu. 

3.     Etika merupakan nilai-nilai norma moral atau sopan santun dalam mengatur tingkah laku manusia. 

4.     Estetik adalah keindahan yang mencakup kesatuan unity, keselarasan balance dan kebaikan contrast dalam segala sesuatu.

 

BUDAYA

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budia atau akal),diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Bentuk lain dari kata budaya adalah kultur yang berasal dari bahasa Latin yaitu cultura. Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sekelompok orang, serta diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Seseorang bisa berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaan di antara mereka, sehingga membuktikan bahwa budaya bisa dipelajari. Budaya merupakan suatu pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosial-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.

Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya : 

·       Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri. Citra yang memaksa itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti individualisme kasar di Amerika, keselarasan individu dengan alam di Jepang, dan kepatuhan kolektif di Tiongkok.

·       Citra budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka. Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.

 

KEBUDAYAAN 

Pengertian Kebudayaan menurut para pakar ahli :

1.     Ki Hajar Dewantara. Kebudayaan adalah buah budi manusia yang merupakan hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni alam dan zaman. Kebudayaan adalah bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dalam hidup dan penghidupannya.

2.     Goenawan Mohamad. Goenawan Mohamad menekankan pentingnya bahasa, sastra, dan seni sebagai inti dari kebudayaan. Baginya, ketiga hal tersebut bukan hanya warisan, tetapi juga roh yang menghidupkan identitas suatu bangsa.

3.     Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi: Mereka mendefinisikan kebudayaan sebagai sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.

4.     Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Antropolog Melville J. Herskovits dan Bronisław Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah determinisme budaya (cultural-determinism).

5.     Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun-temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganik. Sementara menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial, norma sosial, ilmu pengetahuan, serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual, dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.

6.     Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi menyatakan bahwa kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Sementara itu, M. Selamet Riyadi, budaya adalah suatu bentuk rasa cinta dari nenek moyang kita yang diwariskan kepada seluruh keturunannya, dan menurut Koentjaraningrat, kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan dan tindakan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dimiliki manusia dengan belajar.

7.     Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian bahwa kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sementara itu, perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku, dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang semuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat. Jadi secara umum, dalam perspektif sastrawan, kebudayaan tidak hanya dimaknai sebagai benda fisik atau adat istiadat semata, tetapi juga sebagai sistem gagasan, nilai, dan makna yang membentuk cara hidup dan identitas suatu masyarakat. Sastra sendiri sering kali berfungsi sebagai medium untuk merefleksikan, mengkonservasi, dan mentransformasi nilai-nilai budaya tersebut.

 

BUDI PEKERTI

Budi pekerti terdiri dari dua kata yaitu Budi dan Pekerti. Budi yang berarti sadar atau yang menyadarkan atau alat kesadaran. pekerti berarti kelakuan. Secara etimologi Jawa budi berarti nalar, pikiran atau watak. sedangkan pekerti berarti penggawean, watak, tabiat atau akhlak. Dalam bahasa Sanskerta Budi berasal dari kata Budha yaitu kata kerja yang berarti sadar, bangun, bangkit (kejiwaan). Budi adalah penyadar, pembangun, pembangkit. budi adalah ide-ide. Pekerti dari akar kata kr yang berati bekerja, berkarya, berlaku, bertindak (keragaan). Pekerti adalah tindakan- tindakan. Budi pekerti dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tingkah laku, perangai, akhlak. Budi pekerti mengandung makna perilaku yang baik, bijaksana, serta manusiawi. Di dalam perkataan itu tercermin sifat, watak seseorang dalam perbuatan sehari-hari. Budi pekerti sendiri mengandung pengertian yang positif, namun mungkin pelaksanaannya yang negatif. Penerapannya tergantung pada manusia. Budi pekerti didorong oleh kekuatan rohani manusia yakni pemikiran, rasa dan karsa yang akhirnya muncul menjadi perilaku yang dapat terukur dan menjadi kenyataan dalam kehiduapan. Ada juga yang berpendapat  bahwa budi pekerti atau moral dalam pengartian yang terluas adalah pendidikan. dengan kata lain budi pekerti mempelajari arti diri sendiri (kesadaran diri) dan penarapan dari arti itu dalam bentuk tindakan. penerapan tindakan berarti memperoleh pengalaman  dunia nyata atau lingkungan hidup yang dangat berperan dalam pembelajaran budi pekerti.

Menjadi seseorang yang memiliki sifat dan perilaku yang berbudi pekerti, merupakan sering kita dengar. Namun, apa itu budi pekerti, bagaimana itu budi pekerti, dan seperti apa itu budi pekerti yang sebenarnya ?. 

Hal ini menjadi kalang kabur ketika lingkungan kita semakin berbeda dengan lingkungan orang lain. Banyak di antara masyarakat yang sulit beradaptasi atau menyesuikan diri dengan lingkungan sekitar untuk dapat menelaah atau mengetahui bagaimana karakteristik dari perilaku mereka. Hingga sebagian dari orang lain di lingkungan tersebut menganggap orang ini berbeda. Seperti halnya dengan budi pekerti. Jika seseorang memiliki perilaku yang berbeda dengan lingkungan sekitarnya maka, seseorang dianggap berbeda dan tak jarang di cemooh oleh kelompok tersebut. Namun sebaliknya, jika salah seorang dari kelompok tersebut berada di lingkungan orang yang di cemooh, maka ia pun dianggap berbeda dan tentu saja akan dicemooh dan dianggap memiliki perilaku yang berbeda. Maksud penulis memberikan sebuah analogi-analogi diatas bukan untuk memusingkan teman-teman, melainkan memberikan informasi kepada teman-teman bahwa dalam dunia ini memiliki perbedaan perilaku di setiap daerah atau kelompok. Perbedaan tersebut yang membuat dalam mendefinisikan budi pekerti menjadi rumit dan memusingkan. Jika memberikan sebuah ukuran tentang baik dan buruk terhadap perilaku seseorang, tentu tidaklah semudah isapan jempol, atau semudah mengucapkannya. Sehingga untuk mendefinisikan budi pekerti atau memberikan pengertian budi pekerti, perlu analisis mendalam dan terkadang, perbedaan-perbedaan setiap perilaku dalam kelompok atau daerah, tak jarang memberikan perbedaan pengertian terhadap budi pekerti, tujuan dan macam-macam budi pekerti serta contoh-contoh budi pekerti yang harus digunakan dalam lingkungan demikian. Olehnya itu, beberapa dari definisi para ahli atau pengertian budi pekerti membuat penulis untuk menggali lebih dalam mengenai budi pekerti dan memusingkan penulis untuk mencari sesuatu definisi atau konsep budi pekerti yang sesuai dengan budaya Indonesia yang juga memiliki keanekaragaman atau meiliki banyak budaya didalamnya.


Pengertian Budi Pekerti

Pengertian Budi Pekerti secara etimologi, dimana istilah budi bekerti yang dalam bahasa jawa disebut dengan budi pakerti, yang di maknai dan didefinisikan sebagai budi berarti pikir sedangkan pakerti berarti perbuatan. Berangkat dari kedua makna dan pengertian budi dan pakerti tersebut sehingga didasarkan bahwa pengertian budi pekerti adalah sikap dan perilaku seseorang, keluarga, maupun masyarakat erat kaitannya dengan norma dan etika. Dalam membicarakan budi pekerti yang didefinisikan atau pengertian budi pekerti secara terminologi adalah nilai-nilai perilaku manusia yang akan diukur menurut kebaikan dan keburukannya melalui ukuran norma agama, norma hukum, tata krama, dan sopan santun, atau norma budaya/adat istiadat suatu masyarakat atau suatu bangsa. Budi juga sering diartikan sebagai nalar, pikiran, akal. Budi tersebut yang menyatukan kita semua sebagai manusia, entah mereka itu dari suku, golongan, kelompok atau umur apapun. Sejauh mereka adalah manusia, mereka tentu juga memiliki kesamaan budi. Dengan nalar demikianlah, orang ber pekerti= bertindak baik. Maka pelajaran budi budi pekerti, merupakan pejalaran tentang etika hidup bersama dengan bertindak baik yang berdasarkan nalar. Adapun unsur kesadaran, dan unsur melaksanakan kesadaran tersebut.

 

Pengertian Budi Pekerti Menurut Para Ahli

Pengertian budi pekerti, juga tidak hanya berhenti di situ saja. Ada banyak para ahli yang juga mendefinisikan budi pekerti dan memberikan arah dan konsep mengenai budi pekerti. Beberapa pengertian budi pekerti menurut para ahli adalah sebagai berikut :

1.     Ki Sugeng Subagya. Ki Sugeng Subagya (Februari 2010) mengartikan istilah budi pakerti sebagai perbuatan yang dibimbing oleh pikiran; perbuatan yang merupakan realisasi dari isi pikiran; atau perbuatan yang dikendalikan oleh pikiran.

2.     Ensiklopedia Pendidikan. Menurut Ensiklopedia Pendidikan, budi pekerti diartikan sebagai kesusilaan yang mencakup segi-segi kejiwaan dan perbuatan manusia; sedangkan manusia susila adalah manusia yang sikap lahiriyah dan batiniyahnya sesuai dengan norma etik dan moral. Dalam konteks yang lebih luas.

3.     Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional. Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (1997) mengartikan istilah budi pekerti sebagai sikap dan prilaku sehari-hari, baik individu, keluarga, masyarakat, maupun bangsa yang mengandung nilai-nilai yang berlaku dan dianut dalam bentuk jati diri, nilai persatuan dan kesatuan, integritas, dan kesinambungan masa depan dalam suatu sistem moral, dan yang menjadi pedoman prilaku manusia Indonesia untuk bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dengan bersumber pada falsafah Pancasila dan diilhami oleh ajaran agama serta budaya Indonesia.

4.      

Tujuan Pendidikan Budi Pekerti

Tujuan budi pekerti atau pendidikan budi pekerti adalah sesuatu yang dituju atau sesuatu yang akan dicapai, ia merupakan dunia cita yakni suasana yang sesuai dengan yang ingin diwujudkan (Zuhairini, 1995: 159). Kegiatan tersebut harus mempunyai tujuan agar mampu dicapai dari kegiatan itu yang dapat diketahui, karena kegiatan tanpa tujuan dapat berjalan tanpa arah. Berdasarkan sistem pendidikan Nasional, rumusan pendidikan baik tujuan krikuler, hingga tujuan instruksional menggunakan klasifikasi belajar dari Benyamin Bloom dimana garis besarnya dbagi dalam tiga aspek yakni, ranah kognitif, afektif dan psikomotr. Ranah kognitif sesuai dengan hasil belajar intelektual, ranah afektif yang sesuai dengan sikap dan ranah psikomotorik dengan keterampilan dan kemampuan dalam bertindak (Nana Sudjana, 1993:22). Menurut Haidar Putra Dauly, bahwa tujuan dari pendidikan budi pekerti adalah mengembangkan nilai, sikap dan perilaku siswa demi melancarkan akhlak mulia atau budi pekerti luhur. Dapat dikatakan bahwa pendidikan budi pekerti merupakan nilai-nilai yang ingin dibentuk adalah nilai dari akhlak mulia yakni tertanamnya nilai akhlak mulia ke dalam diri peserta didik kemudian terwujud dalam tingkah lakunya. Sebagaimana juga yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantoro yakni ngerti-ngerasangelakoni (menyadari, menginsyafi dan melakukan). (Pendidikan Taman Siswa, 1977:1). Hal demikian mengandung pengertian bahwa pendidikan budi pekerti adalah bentuk dari pendidikan dan pengajaran yang menitikberatkan terhadap perilaku dan tindakan siswa dalam mengapresiasikan dan mengimplementasikan nilai dari budi pekerti ke dalam tingkah laku sehari-hari. Pendidikan budi pekerti juga merupakan suatu upaya pembentukan, pengembangan, peningkatan, pemeliharaan dan perbaikan perilaku peserta didik agar mau dan mampu melaksanakan tugas-tugas hidupnya secara selaras, serasi, seimbang antara lahir batin, jasmani-rohani, material spiritual, dan individusosial. (Balitbang Puskur, Depdiknas, 2001). Budi Pekerti memiliki definisi atau pengertian yang bermacam-macam. Oleh karena itu sebaiknya kita memiliki keterangan jelas dalam mendefinisikan budi pekerti. Sikap dan perilaku demikian mengandung lima jangkauan yakni :

1.         Sikap dan perilaku dalam hubunganya dengan Tuhan

2.         Sikap dan perilaku dalam hubungan dengan diri sendiri

3.         Sikap dan perilaku dalam hubungan dengan keluarga

4.         Sikap dan perilaku dalam hubungannya bersama masyarakat dan bangsa

5.         Sikap dan perilaku dalam hubungannya dengan alam sekitar.

Budi pekerti diartikan sebagai alat batin untuk menimbang perbuatan baik dan buruk. Sebagai alat batin, budi pekerti dianggap sebagai sesuatu hal yang terdapat dalam diri seseorang yang terdalam misalnya suara hati.


Macam-Macam Budi Pekerti dan Contohnya

1.     Sikap terhadap Tuhan. Penghormatan kepada Sang Pencipta. Sebagai makhluk kita menghormati sang Pencipta. Kita lewat penghayatan imam kita diajak untuk menghormati dan memuji Sang Pencipta. Pujian demikian dapat diwujudkan dalam sikap berbaik kepada semua makhluk ciptaan, khususnya pada diri sendiri. Sikap menghargai iman orang lain, dan menghargai bentuk iman orang lain.

2.     Sikap terhadap Sesama Manusia. Sikap terhadap sesama manusia bisa ditinjau dari beberapa sikap sebagai berikut :

·       Sikap penghargaan terhadap setiap manusia. Penghargaan bahwa pribadi manusia itu bernilai, tidak boleh direndahkan atau disingkirkan harus dikembangkan. Setiap manusia, sebagai sesama ciptaan Tuhan, siapapun mereka,adala bernilai.

·       Penghargaan terhadap Perempuan. Salah satu wujud penghargaan setiap manusia adalah penghargaan terhadap perempuan (gender). Persoalan demikian menjadi penting di zaman ini agar perempuan tidak didiskriminasikan terhadap laki-laki. Perempuan dan laki-laki diciptakan sederajat, mereka sama-sama bernilai didepan apalagi dilecehkan. Mereka harus dihargai sederajat dengan laki-laki yang membedakan mereka adalah fungsinya.

·       Menghargai Gagasan Orang Lain serta Ingin Hidup Bersama Orang Lain yang Berbeda. Sikap demikian jelas membantu kita menjadi manusia karena memanusiakan manusia lain. Di Indonesia yang kini masuk dalam bentuk demokrasi, sikap demikian diperlukan.

·       Sikap Tenggang Rasa, Berlaku Adil, Suka Mengabdi, Ramah, Setia, Sopan dan Tepat Janji. Sikap demikian jelas membantu orang dalam berelasi dengan orang lain dan hidup bersama orang lain. Berlaku adil dan bertenggang rasa merupakan wujud penghargaan terhadap orang lain, terhadap sesama kita. Hal ini sangat penting untuk ditekankan sikap jujur, terlebih dalam situasi Indonesia menjadi juara korupsi di dunia.

·       Sikap demokratis: non diskriminatif dan non represif. Sikap non diskriminatif dan non represif adalah wujud dari demokrasi. Dalam negara yang demokratis, orang tidak boleh mendiskriminasikan berdasarkan suku, agama tingkat sosial, maupun dari level pendidikan. Orang mendapatkan perlakuan sama dalam mendapatkan pelayanan masyarakat dan negara misalnya dalam hal pendidikan dan tujuan. Orang tidak boleh untuk ditindas oleh orang lain atau dalam kelompok lain, melainkan untuk dihargai. Penindasan dalam bentuk apapun dapat dianggap melanggar nilai kemanusiaan SIkap demikian perlu ditanamkan pada anak didik sehingga pada saat mereka kecil tidak mendiskriminasikan dan menindas orang lain atau teman lain.

·       Penghormatan terhadap sexualitas dan hidup berkeluarga. Nilai demikian perlu untuk dikenalkan khususnya agar anak didik dapat menghargai dan menggunakan sexualitas tersebut secara benar dan tidak membuat pelecehan sexual dan menyalahgunaknnya.

·       Sikap berbangsa dan cinta tanah air. Sikap cinta kepad atanah air, rela ikut membangun bersama hidup bernegara, terlibat dalam hidup bersama untuk membangun negara, kemudian taat kepada hukum yang berlaku demi lancarnya hidup bersama, yang kesemuanya perlu untuk ditekankan dalam menbagun bangsa ini.

·       Nilai adat dan aturan sopan santun. Beberapa dari budaya memiliki nilia hidup untuk bersama yang dianggap baik. Nilai demikian perlu untuk ditawarkan kepada anak didik untuk dapat masuk dalam budaya dan dapat mengerti budaya serta orang dari mereka. Nilai sopan santun tersebut memang tidak berlaku dimuka umum, melainkan lebih ditentukan daerah dari masing-masing. Maka nilainya relatif. Namun meski relatif memiliki kebaikan perlu untuk diperkenalkan.

3.     Sikap Terhadap Diri Sendiri. Sikap terhadap diri sendiri dapat ditinjau dari beberapa contoh sikap berikut ini :

·       Sikap jujur, terbuka, harga diri semuanya perlu untuk perkembangan diri anak didik. Ketidakjujuran menjadi biangnya segala macam korupsi yang menghancurkan negara kita ini dan juga menghancurkan relasi yang baik untuk setiap manusia. Dengan demikian, nilai kejujuran tersebut perlu ditegakkan bila ingin negara kita sungguh berkembang dan manusia yang terdapat di dalamnya semakin sejahtera.

·       Beberapa sikap pengembangan sebagai peribadi manusia misalnya disiplin, bijaksana, cermat, mandiri, percaya diri, semuanya lebih menunjang kesempurnaan diri pribadi. Meski hal demikian tidak langsung berkaitan denga orang lain, namun dapat membantu dalam menjalin kerja sama dengan orang lain. Yang perlu dikembangkan di antara orang muda adalah semangat kemandirian. Orang muda demikian butuh dibantu agak menjadi lebih mandiri, berani menghadapi persoalan hidup sendiri, berani berjuang dalam kesulitan dan tidak menyerah begitu saja.

·       Daya juang dan penguasaan diri dalam melawan budaya instant dan mencari senang sendiri misalnya penguasaan terhadap narkoba untuk zaman ini demikian penting. Tantangan yang besar dan yang dihadapi bila kita memiliki daya juang yang besar. Tanpa hal tersebut, tentu akan terlbas dengan arus zaman yang tidak sehat.

·       Kebebasan dan tanggung jawab. Sikap khas dari manusia sebagai pribadi adalah dia yang memiliki kebebasan dalam mengungkapkan dirinya dan bertanggung jawab terhadap ungkapannya. Sikap ini berlaku baik terhadap diri sendiri, terhadap orang alam dan tuhan. Sikap ini, jelas dapat mewujudkan dalam kebebasan mimbar, kebebasan bicara, kebebasan dalam mengungkapkan gagasan dan tanggung jawab.

4.     Sikap Penghargaan terhadap Alam. Penghargaan terhadap alam diciptakan untuk digunakan oleh semua manusia agar mampu hidup dengan bahagian, sehingga dalam penggunaan alam hanya untuk diri sendiri jelas tidak dapat dibenarkan. Pengrusakan alam hanya dapat memberikan kehidupan kepada segelintir orang juga tidaklah benar. Keserakahan dalam penggunaan alam adalah kesalahan. Dalam sekolah siswa dibimbing dalam menjaga lingkungan hidup, menggunakan barang secara bertanggung jawab, dan kritis terhadap persoalan lingkungan yang dihadapi oleh masyarakat.

 

CONTOH BUTIR-BUTIR BUDAYA JAWA

  1. Yen Arep Weruh Trahing Ngaluhur, Titiken Alusing Tingkah-Laku Budi Basane. (Untuk Mengenali Seseorang Memiliki Tradisi Berbudi Luhur / Orang-Orang Besar, Perhatikanlah Kehalusan Tingkah Laku, Budi Pekerti dan Bahasanya)
  2. Hanggayuh kasampurnaning hurip, berbudi bowo leksono, ngudi sejatining becik. (Berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencapai level kesempurnaan hidup, berjiwa besar dan selalu berusaha mencari kebenaran sejati).
  3. Urip iku saka Pangeran, bali marang Pangeran. (hidup itu berasal dari Tuhan dan akan kembali pada Tuhan)
  4. Pangeran iku siji, ana ing ngendi papan, langgeng, sing nganaake jagad iki saisine, dadi sesembahane wo sa alam kabeh, nganggo carane dewe-dewe. (Tuhan itu satu, ada dimana-mana, abadi, pencipta alam se-isinya, dan menjadi sesembahan manusia sejagad raya, dengan memakai tata caranya masing-masing)
  5.  Manungso sadermo nglakoni, kadyo wayang umpamane. (Manusia hanya sekedar menjalani, ibarat wayang tergantung pada otoritas dalang).
  6.  Owah gingsire kahanan iku saka karsaning Pengeran Kang Murbeng Jagad. Ora ana kasekten sing madhani papesthen, awit papesthen iku wis ora ana sing bisa murungke. (Perubahan keadaan itu kehendak Tuhan. Tiada kesaktian yang menyamai kepastian Tuhan, karena tiada yang dapat menggagalkan kepastian Tuhan).
  7. Pasrah marang Pangeran iku ora atages ora gelem nyambut gawe, nanging percaya yen Pangeran iku Maha Kuasa. Dene hasil orane apa kang kita tuju kuwi saka kersaning Pangeran. (Sikap pasrah kepada Tuhan bukan berarti tidak mau bekerja, melainkan percaya bahwa Tuhan itu Maha Kuasa. Berhasil tidaknya apa yang kita lakukan merupakan otoritas Tuhan).
  8. Panggawe ala lan panggawe becik iku tut wuri lan tuduh dalan nganti delahan. Mula wong iku mumpung urip ngudia kabecikan, supaya dadi sarana bisane oleh swarga. (Perbuatan buruk dan baik itu mengikutimu dan menunjukkan jalan sampai ajal. Oleh karena itu selagi masih hidup, jalankan perbuatan yang baik, agar memperoleh sarana memperoleh tempat di surga).
  9. Wong becik ora keno mangan daging kang ora suci, kudu nyirik sembarang kang dadi regeding awak utawa cedhaking satru lahir bathin. (Orang baik tidak boleh makan daging yang tidak suci, harus pantang terhadap apa saja yang menjadikan badan kotor atau segala sesuatu yang mendekatkan/ menyebabkan ketidakjernihan lahir maupun bathin, termasuk makan dari yang bukan haknya, misalnya harta hasil korupsi).
  10. Aja lali marang ngelmu kang karya tentreming ati, jalaran kuwi kang bisa gawe mulyanira lahir batin. (jangan lupa terhadap pengetahuan yang dapat menenteramkan hati, sebab yang demikian itu membuat tenteram lahir-batin).
  11. Rame ing gawe sepi ing pamrih, memayu hayuning bawana. (Banyak berkarya, tanpa menuntut balas jasa, untuk menyelamatkan kesejahteraan manusia).
  12. Tumindak kanthi duga lan prayoga. (segala tindakan harus disertai tata krama dan pertimbangan yang baik).
  13. Balilu tan pinter durung nglakoni. (berani melakukan suatu kebaikan lebih baik dari pada sekedar menguasai dalil-dalilnya)
  14. Samubarang ngunduh wohing pakerti. (segala tindakan akan menuai hasil sesuai jalan yang dipilihnya).
  15. Sing sapa seneng gawe nelangsane liyan, iku ing tembe bakal kena piwalese saka penggaweane dewe. (barang siapa melakukan perbuatan yang menyebabkan kesengsaraan orang lain, akhirnya nanti ia akan mendapat pembalasan dari perbuatannya sendiri).
  16. Urip rukun, aja gawe pati lan larane liyan. (hidup rukun dan jangan melakukan tindakan yang menyebabkan penderitaan dan matinya orang lain).
  17. Tentrem iku saranane urip aneng donya . (ketentraman hidup merupakan sarana dalam menjalani kehidupan dunia).
  18. Perang kalawan sadulur iku ora becik, mula aja seneng perang kalawan sadulur. (perang dengan saudara itu tidak baik, oleh karena itu jangan suka perang antar saudara).
  19. Perang kalawan sedulur iku becik, lamun ana sedulur kang digunakake mungsuh kanggo ngrusak negarane dhewe. (perang saudara itu baru diperbolehkan ketika ada saudara sebangsa yang dimanfaatkan musuh untuk merusak negaranya sendiri).
  20. Klabang iku wisane ana ing sirah, kalajengking iku wisane mung ana pucuk buntut. Yen ula mung dumunung ana ula kang duwe wisa. Nanging yen durjana wisane dumunung ana ing sekujur badane. (Racun klabang/ binatang kaki seribu ada di kepala. Racun Kalajengking hanya di pucuk ekor. Racun ular hanya ada pada ular yang berbisa. Sedang penjahat racunnya terletak pada seluruh badannya).


21.  Negara akeh pepeteng, jalaran kurang sandang kurang pangan lan penguwasa datan darbe watak ber budi bawa leksana, tur ora ana janma kang handana warih, ing kono negara bakal dikuasai dhemit lan banaspati. (kehidupan negara akan gelap gulita, apabila kurang sandang kurang pangan dan penguasanya tidak berjiwa besar dan berhati mulia, lagi pula tidak ada orang yang mampu mewujudkan kesejahteraan, disitu negara akan dikuasai oleh dhemit dan banaspati).

22.  Kawula iku minangka tamenging Negara, samangsa ana panca baya. (rakyat itu merupakan perisainya Negara manakala ada bahaya).

23.  Negara bisa tentrem lamun murah sandhang kalawan pangan, marga para kawula padha seneng nyambut karya, lan ana panguasa kang darbe sifat berbudi bawaleksana. (Negara itu dapat tenteram kalau murah sandang pangan, sebab rakyatnya gemar bekerja dan ada penguasa yang mempunyai sifat adil dan berjiwa mulia).

24.  Aja kagetan, aja gumunan, aja dumeh. (jangan kagetan, jangan heran dan jangan mentang-mentang).

25.  Hormat kalawan Gusti, Guru lan wong atuwo loro. (hormat/ taat kepada Tuhan Yang Maha Esa, guru, pemerintah dan kedua orang tua).

26.  Bangsa iku minangka kuating Negara, mula aja nglirwaake kebangsanira pribadi, supaya kanugrahan bangsa kang handana warih. (komitmen kebangsaan itu sebagai syarat kuatnya suatu negara. Oleh karena itu jangan mengabaikan rasa/ komitmen kebangsaanmu sendiri, agar menjadi bangsa yang berhasil).

27.  Negara iku ora guna lamun ora darbe angger-angger minangka pikukuhing Negara kang adedhasar idi kalbune manungso salumahing Negara kuwi. (Negara tidak akan berguna kalau tidak mempunyai undang-undang yang menjadi dasar kuatnya suatu negara, yang sesuai dengan isi jiwa seluruh bangsa).

28.  Yen wong becik kang kuwasa, kabeh kang ala didandani lamun kena, dene yen ora kena, disingkirake mundhak nulari /cuplak andheng-andheng, (Kalau orang baik yang berkuasa, maka semua yang jelek kalau dapat diperbaiki, sedangkan kalau tidak dapat, maka harus disingkirkan, agar tidak menular kejelekannya).

29.  Ing wektu akeh wong kang seneng uripe marga panggautane akeh pametune, ing kono negara bisa tentrem, ora ono wong colong jupuk darbeking negara. (pada saat banyak orang senang hidupnya karena hasil kerjanya banyak, disitu negara tenteram, tidak ada orang yang mengambil atau mencuri kepunyaan negara).

30.  Ratu iku durung mesti kepenak uripe, lamun ora bisa ngaweruhi kawulane. (Pemimpin itu belum tentu enak hidupnya/ disandera oleh beban kepemimpinanya manakala tidak mampu mengetahui aspirasi rakyatnya). 

Negara kuwat, iku amarga kawulane seneng uripe lan disuyudi dening liyan Negara. (Negara itu kuat kalau rakyatnya senang hidupnya dan dihormati oleh negara lain).

 

CONTOH FILOSOFI KEJAWEN

1.     Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara. Artinya, menebar kebaikan untuk kemakmuran dunia, memberantas kemungkaran. Maknanya, dalam kehidupan dunia manusia harus menebarkan kemakmuran (kedamaian dan kesejahteraan) bagi alam semesta; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak. Dalam agama Islam, dikenal dengan "Rahmatan lil alamin" dan "Amar makruf nahi munkar".

2.     Urip Iku Urup. Hidup itu nyala, maksudnya adalah hidup itu haruslah menjadi penerang bagaikan lentera. Maknanya dalam hidup orang hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik. Dalam agama Islam, Rasulullah bersabda, "khairunnas anfa'uhum linnas", artinya manusia yang paling baik ialah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.

3.     Ngunduh Wohing Pakarti. Artinya, menuai hasil dari setiap perbuatan, maksudnya bahwa setiap perbuatan (baik atau buruk) pasti akan mendapat balasan. Maknanya semua orang akan mendapatkan akibat dari setiap prilakunya sendiri (kebaikan maupun keburukan). Jadi, kita tidak perlu menyalahkan dan mencari kesalahan orang lain karena bisa saja itu adalah akibat dari apa yang kita lakukan sendiri. Jadi, kita harus ingat untuk berhati-hati dalam betindak. Allah SWT berfirman: "Faman ya'mal mitsqaala dzarratin khairan yarah - Wa man Ya'mal mitsqaala dzarratin syarran yarah" artinya barangsiapa yang mengerjakan kebaikan atau keburukan, meski sebesar zahrah (debu/atom) niscaya akan memperoleh balasan (QS. Al-Zalzalah: 7-8).

 

Surat az-Zalzalah Ayat 7-8

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ

Arab-Latin: fa may ya'mal miṡqāla żarratin khairay yarah

 

Artinya: Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.

Surat Az-Zalzalah Ayat 7

وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُۥ

Arab-Latin: wa may ya'mal miṡqāla żarratin syarray yarah

Artinya: Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.

Surat Az-Zalzalah Ayat 8

Ditemukan pelbagai penafsiran dari para ulama tafsir terkait makna surat az-zalzalah ayat 7-8, misalnya seperti di bawah ini :

Dan barangsiapa berbuat kejahatan seberat semut kecil pula, maka ia pun akan melihatnya. (Tafsir al-Mukhtashar)

Dan barangsiapa melakukan keburukan di dunia seberat dzarrah, maka dia akan mengetahui balasannya di akhirat. Ibnu Abu Hatim dari Sa’id bin Jubair berkata: “Saat ayat ini turun {wa yuth’imuunath tha’aama ‘ala hubbihi …} orang-orang muslim beranggapan bahwa mereka tidak menerima pahala atas sesuatu yang sedikit bila memberikannya (kepada orang lain), sedangkan yang lain beranggapan bahwa mereka tidak akan disalahkan atas dosa yang remeh, yaitu berbohong, mengintip, mengumpat dan dosa-dosa lain yang serupa, sesungguhnya Allah hanya menjanjikan neraka bagi orang-orang yang berdosa besar, maka Allah menurunkan dua ayat ini [ayat 7 dan 8]” (Tafsir al-Wajiz)

وَمَن يَعْمَلْ (Dan barangsiapa yang mengerjakan) Ketika di dunia. مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُۥ(kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula) Yakni dia akan melihatnya di hari kiamat, sehingga dia akan merasa sedih; dan bisa jadi Allah akan mengampuninya. Makna (الذر) yakni debu yang beterbangan yang terlihat saat terkena sinar matahari. (Zubdatut Tafsir)

4.     Sugih Tanpa Bandha, Sekti Tanpa Aji-Aji. Terjemahan literalnya adalah "kaya tanpa harta kekayaan, sakti/kuat tanpa ajian mistis". Maknanya bahwa kekayaan batin itu lebih berharga daripada harta benda, dan kekuatan karakter lebih penting daripada kekuatan fisik. Makna lain adalah orang kaya itu bukanlah orang yang banyak harta tetapi orang yang kaya hati atau besar jiwanya. Sedangkan orang bisa menjadi hebat dan kuat itu tidaklah dengan mantra tetapi dengan ilmu.

5.     Ajining raga saka ing busana. Arti literalnya adalah "Kehormatan raga berasal dari busana, sedangkan kehormatan diri berasal dari lisan dan prilaku". Maknanya, kehormatan luar seseorang bisa dilihat dari cara berpakaiannya. Sedangkan kehormatan diri (marwah) dilihat dari cara berkomunikasi dan moral prilakunya. Cara berpakaian itu menentukan kehormatan raga dan cara berbicara menunjukkan kehormatan diri seseorang. Penampilan dan ucapan kita mempengaruhi bagaimana orang bereaksi dan menghargai kita. Sedangkan kehormatan diri ditentukan oleh bagaimana seseorang berucap dan budi pekertinya. Dalam agama Islam, Rasulullah bersabda, "Hiyaa Rukum 'Akhaa Sinukum Akhlaaq", Sebaik-baik orang diantara kalian ialah orang yg baik akhlaknya. (HR. Bukhari & Muslim).

6.     Lembah Manah lan Andhap Asor (tawadhu'). Dalam bahasa jawa pengertian "lembah manah" dan "andhap asor" mempunyai pengertian yang mirip, yaitu bersikap rendah hati dan sopan santun. Filosofi ini bagai pepatah: "Seperti ilmu padi, kian berisi kian merunduk" artinya: semakin tinggi ilmunya semakin rendah hatinya; kalau sudah pandai jangan sombong, selalulah rendah hati. Dalam Islam sikap luhur seperti itu dikenal dengan istilah "tawadhu".

7.     Mulat Sarira Hangrasa Wani. Arti mulat berarti melihat dan sarira berarti badan, maknanya "introspeksi diri atau merenungkan diri sendiri". Sedangkan hangrasa berarti merasa, dan wani berarti berani., maknanya "berani dengan penuh kesadaran". Makna keseluruhan adalah "berani dengan kesungguhan hati melihat kekurangan diri". Jadi harus ada keberanian, artinya kesungguhan hati untuk melihat kekurangan diri. Dalam Bahasa Arab atau khasanah Islam dikenal dengan frase: muhasabah atau tafakur.

8.     Becik ketitik - Ala ketara. Secara harfiah dapat diterjemahkan "perbuatan baik akan nampak, dan perbuatan buruk akan terungkap". Maknanya bahwa perbuatan baik yang meskipun tidak diperlihatkan atau diketahui orang lain, pada akhirnya pasti akan tampak atau diketahui orang. Sebaliknya bahwa perbuatan buruk meskipun ditutup-tutupi pada akhirnya pasti akan tercium atau terungkap. Pesan moralnya adalah tidak usah pamrih dan jangan berbuat curang, karena semua perbuatan baik atau buruk pada akhirnya akan ada balasannya.

9.     Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Landhep tanpa natoni. Arti literalnya adalah "Menyerbu tanpa bala bantuan, Memenangkan tanpa merendahkan, dan Tajam tapi tak melukai". Maknanya, dalam menghadapi lawan, manusia yang baik adalah yang mampu mengalahkan dengan cara luhur penuh kebajikan. Mereka mampu melawan sendiri tanpa bantuan kawan atau membawa massa. Dan mampu memenangkan peperangan tanpa merendahkan atau mempermalukan lawan, bahkan lawanpun kalah secara terhormat merasa tak terluka.

10.  Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan. Arti literalnya adalah "Jangan sakit hati bila tertimpa musibah, dan jangan bersedih bila kehilangan". Maknanya adalah kita harus senantiasa bersabar dan tegar menghadapi segala macam musibah, dan pasrahkan segala sesuatunya kepada Allah karena Tuhan yang mengatutr segala sesuatunya. 

 

Dari uraian tulisan artikel diatas, penulis dan seluruh elemen Masyarakat berharap terwujudnya kembalinya Budi Pekerti untuk menyongsong Indonesia Emas. Indonesia Emas 2045 adalah sebuah impian besar tentang Indonesia yang unggul, maju bersaing dengan bangsa-bangsa lain, dan telah cukup dewasa untuk mengatasi isu-isu persoalan klasik bangsa, seperti korupsi, isu disintegrasi, dan kemiskikan. Untuk mewujudkan impian tersebut, kunci utamanya bukan kekuatan ekonomi, politik, atau militer, melainkan manusianya. Pola pikir yang menganggap bahwa potensi utama sebuah bangsa adalah lautnya, tanahnya, tambangnya, adalah pola pikir para penjajah. Tak peduli bagaimana ukuran alam sebuah negara, selama manusianya unggul maka negeri tersebut pasti unggul.

Kembalinya Budi Pekerti bukan merujuk pada judul buku atau cerita tertentu yang sangat terkenal, melainkan sebuah seruan moral atau gagasan yang sering muncul dalam diskusi publik, artikel opini, dan inisiatif pendidikan di Indonesia. Frasa ini menyoroti kekhawatiran tentang menurunnya nilai-nilai etika dan moral di masyarakat modern dan perlunya mengembalikan pendidikan karakter.  Berikut adalah konteks utama penggunaan frasa tersebut :

1.     Pendidikan Nasional. Ada perdebatan dan seruan berkala dari berbagai pihak, termasuk seluruh elemen bangsa, untuk menghidupkan kembali mata pelajaran budi pekerti sebagai mata pelajaran tersendiri di sekolah-sekolah di tengah kekhawatiran akan dampak negatif globalisasi dan media sosial terhadap mental anak-anak.

2.     Wacana Publik dan Opini. Problematik ini sering digunakan dalam artikel opini untuk membahas pentingnya pendidikan karakter dan etika dalam menghadapi tantangan zaman, seperti kasus perundungan siber (cyberbullying) dan penyebaran informasi yang mudah memengaruhi opini publik.

3.     Konsep Ki Hajar Dewantara. Konsep budi pekerti sangat berakar pada filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara, yang mendefinisikannya sebagai perpaduan antara cipta (kognitif), karsa (afektif), dan karya (psikomotorik) untuk membentuk manusia yang beradab dan merdeka. "Kembalinya" budi pekerti sering diartikan sebagai kembali ke akar pendidikan nasional tersebut.

Akhirnya Penulis simpulkan bahwa Kembalinya Peradapan Budi Pekerti adalah ide tentang pemulihan nilai-nilai budaya kearipan lokal Nusantara, moral, etika dan Akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari, pendidikan, dan interaksi sosial di Indonesia. Akhlakul karimah adalah akhlak mulia atau budi pekerti yang baik dan terpuji, mencerminkan kesempurnaan iman seseorang yang bersumber dari ajaran Islam, meliputi sikap jujur, adil, sabar, pemaaf, kasih sayang, gotong royong dan segala perilaku positif yang mendatangkan kebaikan bagi diri sendiri, sesama manusia, dan alam semesta, serta menumbuhkan hubungan baik dengan Allah SWT. Ini adalah kebiasaan baik yang muncul secara alami dan spontan dari dalam diri, bukan dibuat-buat. Penulis memberikan masukkan selain mengajarkan kembali Butir-butir Pancasila dari ke lima Sila-Sila Pancasila kedalam kehidupan kehidupan sehari-hari baik dikancah berbangsa dan bernegara.

 

(Try Noegroho)

 

 


Berikut Materi Artikel : 

 1. PDF


   

 
2. WORD DOCUMENT



   


KEMBALINYA PERADABAN BUDI PEKERTI


   








 Imajiner Nuswantoro



Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)