Sabda Panuntun Agung Sri Gutama
(Bapa Hardjo Sapoera)
Sabda Panuntun Agung Sri Gutama (Bapa Hardjo Sapoera) :
1. Galilah kepribadianmu yang asli (Rasa yang meliputi seluruh tubuhmu) untuk menemukan benda hidup yang berguna bagi pribadimu
2. Percayalah kepada Pribadimu, kepada Tuntunanmu, sebab kalau tidak percaya kepada hidupmu bagaimana akan percaya kepada Hyang Maha Kuasa ?
Sebab Tuntunanmu adalah hidupmu yang dapat berhubungan dengan Hyang Maha Kuasa
Sejarah dan Perkembangan Aliran Kerohanian Sapta Dharma
Sapta Darma merupakan aliran kebatinan dan salah satu ajaran penghayat kepercayaan di Indonesia. Aliran ini diyakini bermula dari turunnya wahyu kepada Bapa Panuntun Agung Sri Gutama pada dini hari Jumat Wage tanggal 27 Desember 1952 di kediamannya di Kampung Koplakan, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
Aliran kerohanian ini memiliki tiga ajaran utama, yaitu sujud, Wewarah Tujuh, dan sesanti. Ibadah penganut Sapta Darma dapat dilakukan secara pribadi di rumah atau secara bersama-sama di tempat ibadah yang disebut sanggar.
Aliran kerohanian Sapta Dharma bermula dari pengalaman spiritual yang dialami oleh Bapa Panuntun Agung Sri Gutama, nama lain dari Hardjo sapoero. Pada tanggal 27 Desember 1952, di Pare, Kediri, Jawa Timur, Sri Gutama menerima wahyu pertama saat sedang berada dalam kondisi meditasi. Beliau mendapatkan gerakan spiritual yang mengajarkannya untuk melakukan sujud, salah satu praktik utama dalam ajaran Sapta Dharma.
Pada 13 Februari 1953, Sri Gutama menerima wahyu kedua yang disebut “racut,” yang mengajarkan konsep “mati sajroning urip” (mati dalam hidup), di mana pikiran harus tenang dan menyerah sepenuhnya kepada Tuhan. Wahyu ini memperkenalkan pandangan alam abadi setelah kematian.
Sapta Dharma memiliki tiga ajaran utama: Sujud, Wewarah Tujuh, dan Sesanti.
1. Sujud : Ibadah harian yang dilakukan minimal sekali sehari, di mana para pengikut mendekatkan diri kepada Tuhan melalui sikap meditasi.
2. Wewarah Tujuh : Tujuh petuah hidup yang harus diikuti oleh setiap pengikut, seperti setia kepada Tuhan, menjalankan peraturan negara, membantu sesama tanpa pamrih, dan lain-lain.
3. Sesanti : Semboyan yang berarti “Di mana saja, kepada siapa saja, warga Sapta Darma harus senantiasa bersinar laksana surya,” yang menggambarkan kewajiban untuk selalu siap membantu siapa saja yang membutuhkan.
Sapta Dharma berkembang pesat dan mendirikan berbagai sanggar sebagai tempat ibadah dan pusat kegiatan spiritual. Sanggar utama adalah Sanggar Candi Sapta Rengga di Yogyakarta dan Sanggar Agung Candi Busana di Pare, Kediri. Di Surabaya sendiri, terdapat sekitar 27 sanggar dengan sekitar 5.000 pengikut.
Dua organisasi penting yang terkait dengan Sapta Dharma adalah Persada Persatuan Sapta Dharma (Persada) dan PUANHAYATI (Persatuan Perempuan Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa). Persada bertujuan untuk mengorganisir kegiatan dan perkembangan ajaran Sapta Dharma, sedangkan PUANHAYATI berfokus pada pemberdayaan perempuan penghayat kepercayaan.
Seperti banyak aliran kebatinan lainnya, Sapta Dharma juga menghadapi berbagai tantangan dan kontroversi. Salah satunya adalah penolakan dan tuduhan sebagai aliran sesat oleh kelompok tertentu. Namun, ajaran ini tetap bertahan dan berkembang dengan terus memperkuat komunitas dan memperluas jangkauan ajaran mereka.
Dengan ajaran yang menekankan pada keluhuran budi dan kedamaian spiritual, Sapta Dharma terus menjadi bagian penting dari keragaman kepercayaan di Indonesia, memberikan alternatif spiritual bagi mereka yang mencari makna hidup di luar agama-agama besar.
Dalam menghadapi era globalisasi yang serba cepat dan penuh tantangan, aliran Sapta Dharma tetap optimis bahwa ajarannya dapat beradaptasi dan memberikan kontribusi positif. Berikut beberapa alasan mengapa optimisme ini muncul :
1. Nilai Universal : Ajaran Sapta Dharma mengandung nilai-nilai universal seperti cinta kasih, toleransi, dan penghormatan terhadap semua makhluk hidup. Nilai-nilai ini sangat relevan dalam konteks globalisasi yang membutuhkan kerjasama dan saling pengertian antarbangsa.
2. Keseimbangan Spiritual dan Material : Globalisasi sering kali menekankan pada aspek material dan ekonomi. Namun, ajaran Sapta Dharma mengajarkan pentingnya keseimbangan antara spiritual dan material, yang dapat menjadi panduan bagi masyarakat modern dalam mencari kebahagiaan sejati yang tidak hanya didasarkan pada kemewahan duniawi.
3. Peran Komunitas : Sapta Dharma memiliki komunitas yang kuat dan solid. Dalam era globalisasi, jaringan komunitas ini dapat diperluas dan diperkuat melalui teknologi informasi, memungkinkan pertukaran pengetahuan dan pengalaman yang lebih luas.
4. Pendidikan Spiritual : Dalam menghadapi perubahan global, pendidikan spiritual yang diajarkan oleh Sapta Dharma dapat menjadi fondasi yang kuat bagi generasi muda untuk tetap berpegang pada nilai-nilai luhur di tengah arus modernisasi.
5. Adaptasi Teknologi : Sapta Dharma juga menunjukkan kemampuan untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Penggunaan media sosial dan platform digital lainnya dapat digunakan untuk menyebarkan ajaran dan memperluas jangkauan pengaruhnya.
Dengan fondasi nilai-nilai yang kokoh dan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan zaman, aliran Sapta Dharma optimis bahwa ajarannya akan terus relevan dan memberikan dampak positif dalam menghadapi tantangan globalisasi. Melalui penyebaran nilai-nilai kebajikan dan keseimbangan, Sapta Dharma dapat menjadi salah satu pilar spiritual yang mendukung harmoni dunia di masa depan.
Berikut dokumentasi kegiatan kepercayaan Sapta Darma :
Angger Sujud yang angger jalani saat ini apakah Sujud menyembah hyang maha kuasa.
Apakah sujud Doktrin saja ?
Jika sujud doktrin maka yang dihasilkan adalah hawa ngantuk, hawa angan-angan, hawa sakit ditubuh itu disebabkan Sujudnya masih kepentingan
Jika sujud menyembah hyang maha kuasa maka angger seluruhnya menyelesaikan simbul pribadi manusianya dan dapat mengembangkan Racut sampai angger-angger seluruhnya Dapat Sujud Menembah Hyang Maha Kuoso di alam hyang moho kuoso
Angger sesuatu tatanan yg sudah ada tidak seperti yg sudah ada ngger.
Semua sudah berubah ngger
Cahaya sekarang yang ada tidak bisa menerangi malah membuat sebuah kegelapan
Angger banyak orang orang yang bermunculan seolah olah mereka memberikan petunjuk dan arahan sejatinya malah menyesatkan dan merusak tatanan ngger, waspada ngger.
Karena petunjuk-petunjuk yang mreka berikan hanya untuk kepentingan pribadinya saja ngger.
Dan untuk pengakuan dirinya.
Waspada ngger.
Angger banyak orang yg tertipu dengan rasanya sendiri itu disebabkan batin angger-angger tidak jernih, sehingga angger-angger menjadi kebutaan dalam rasa angger sendiri.
Jika angger ingin menemukan sejatinya rasa maka temukan rasa itu dengan tidak ada memiliki rasa
Kosongkan semuanya atau suwungkan semuanya ngger.
Jangan lupa semua apa yg angger trima jika angger digoda dengan kesusahan angger masih bisa menghadapinya, namun jika angger digoda dengan diberi kebahagiaan angger akan lupa diri.
Angger waspada ngger ombak besar sedang berdatangan akan menghanyutkan para yg terpilih dari tengah samudra kepinggiran,
Jika angger-angger tidak benar eling lan waspada angger-angger akan tersingkirkan.
Angger jangan merasa benar sendiri dan bisa sendiri, satukan rasa angger jujur kepada diri sendiri jika rohani angger masih belum bisa kosong datanglah kepada Tuntunan yg mengerti RASA yg SEJATI DAN BISA DIBUKTIKAN, jika Tuntunan tersebut tidak dapat membuktikan apapun bahkan Sujudnya masih korat karit itu tandanya Beliau Bukan tuntunan masih warga yg diminta untuk jaga/ngurus sanggar.
Jika angger berhasil menyatu rasa dan cahayanya maka angger angger semuanya bisa mengembalikan tatanan yang sebenarnya
Rawe rawe rantas malang malang putung
Waras
SIAPAKAH TUNTUNAN SAPTA DARMA ITU ?
(KRT WIRO SAMUDRA)
Melalui pengkajian dan perenungan yang mendalam mengenai SUJUD, SESANTI DAN UGER-UGER 7, SERTA WATAK PELAKU SUJUD dalam hidup sehari-hari, maka saya berkesimpulan, yang seharusnya melekat dan menyatu pada TUNTUNAN SUJUD seharusnya memenuhi kriteria berikut :
1. Pribadi yang bersangkutan haruslah benar-benar merdeka dari pengetahuan-pengetahuan lahiriyah dan telah mencapai tingkat Tuntunan Sujud (IMAM).
2. Hatinya telah terbebas dari duniawiyah secarah keseluruhan, berkemampuan menghapus akhlak tercela, dan senantiasa dahaga akan kebenaran, kasih sayang, dan keadilan, dan seluruh aktivitas dirinya hanya tertuju pada ketiganya itu.
3. Pribadi yang bersangkutan harus yakin bahwa kecukupan dan kebahagiaan hidup itu telah Allah tetapkan kepadanya didalam watak yang suci dan kecerdasan rohani yang unggul serta tidak tersesat ataupun tidak terbelenggu oleh pemahaman terhadap pengetahuan palsu.
Pengetahuan palsu itu ialah pengetahuan yang tidak dilandaskan pada Wahyu Allah, serta yang bertumbuh dan
berkembang diluar wahyu-Nya.
PENERIMAAN GELAR SRI PAWENANG
Berikut ini adalah catatan khusus mengenai Penerimaan gelar Sri Pawenang kepada Nona RA Soewartini....untuk menjadi perhatian kita bersama, bahwa kita karena sesuatu sebab, tidak boleh memanfaatkan Sapta Darma untuk popularitas pribadi dengan cara membuat ormas baru selain KSD yang sudah ditetapkan berpusat di Jogyakarta, sekalipun mengakui Pare Kediri sebagai Pusat Turunnya Wahyu.
Apapun persepsi dan alasannya, Sapta Darma tetap SATU YANG UTUH, tak terpecah belah dalam ormas. Bersatu dibawah bendera Sri Gutomo - Sri Pawenang adalah kewajiban setiap Warga Sapta Darma dimanapun dan kapanpun juga.
Nona RA Soewartini seorang Mahasiswi U G M asli Mataram (Jogyakarta ) yang pendekatannya kepada ajaran Sapta Darma semata mata ingin menyelidiki kebenaran berita tentang seorang Dukun Tiban yang menurut surat kabar adalah sangat ampuh. Dalam berita dinyatakan dapat menyembuhkan ratusan orang dalam waktu sekejap mata, hanya dengan sabda " Waras "
Ternyata bahwa penyembuhan dijalan Tuhan itu hanya sekedar menjalankan Kerohanian dari Allah Hyang Maha Kuasa. Sedang tujuan utamanya ialah mengarah kepada pembinaan budi luhur manusia melalui pendekatan diri kepada Allah Hyang Maha Kuasa.
Setelah tahu persis tentang ajaran Sapta Darma yang ternyata belum pernah ada didunia, maka Nona RA Soewartini berketetapan hati terus menyelidiki dan mendalami yang selanjutnya menghayati dan mengamalkan Ajaran Sapta Darma yang dirasa sangat penting sekali bagi pembangunan mental umat manusia.
Sejak itu pula Nona RA Soewartini mengikuti jejak dan perjalanan BOPO Panuntun Agung Sri Gutomo dalam tugas peruwatan tempat tempat yang keramat.
Sudah termasuk dalam Jangka Ginaris / Nubuatan bahwa tugas Bopo Panuntun. Agung Sri Gutomo nanti hanya sampai pada saat bertemunya dengan Satria Darah Sapta Rengga.
Tugas bopo Panuntun Agung akan dilanjutkan oleh Satria Darah Sapta Rengga yang mempunyai hak dan wewenang membangun budi luhur manusi, yang ingin menciptakan perdamaian dunia, serta dapat mewujudkan cita cita Ajaran Sapta Darma yaitu MEMAYU HAYU BAGYA BAWANA.
Dua orang ini adalah sosok pendiri aliran kepercayaan Sapta Darma. Beliau adalah Bapa Panuntun Agung Sri Gutama dan Ibu Tuntunan Agung Sri Pawenang.
Sapta Darma adalah salah satu aliran penghayat kepercayaan Tuhan Yang Maha Esa di Indonesia, yang lahir di Jawa Timur dan telah berkembang hingga ke berbagai daerah bahkan luar negeri.
Sejarah
- Ajaran ini berasal dari wahyu yang diterima langsung oleh Hardjo Sopoero (kemudian diberi gelar Bapa Panuntun Agung Sri Gutama) pada tanggal 27 Desember 1952 di Pare, Kediri. Wahyu pertama adalah sujud, diikuti oleh serangkaian wahyu lainnya hingga tahun 1957 yang menetapkan nama ajaran dan pimpinan berikutnya.
- Setelah wafatnya Hardjo Sopoero pada 1964, tugas kepemimpinan diteruskan oleh Soewartini Marto di Harjo dengan gelar Ibu Tuntunan Agung Sri Pawenang hingga tahun 1996.
- Organisasi warganya bernama PERSADA (Persatuan Warga Sapta Darma), berdiri pada 27 Desember 1986 dengan tujuan menjaga persatuan dan menunjang pelaksanaan ajaran.
Ajaran Dasar
- Konsep Ketuhanan: Memiliki keyakinan monoteistik, mempercayai Tuhan Yang Maha Esa yang disebut sebagai Yang Maha Kuasa, Allah, atau Sang Hyang Widi. Tuhan dianggap sebagai zat mutlak tunggal, pangkal segala sesuatu, dan pencipta segala yang ada.
- Wewarah Tujuh: Merupakan tujuh kewajiban utama yang menjadi pondasi ajaran, yaitu:
1. Setia kepada Tuhan yang Maha Agung, Maha Rahim, Maha Adil, Maha Wasesa, dan Maha Langgeng.
2. Jujur dan suci hati menjalankan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3. Turut serta membela dan menegakkan keutuhan nusa dan bangsa.
4. Menolong siapapun yang membutuhkan tanpa mengharapkan balasan.
5. Berani hidup berdasarkan kepercayaan pada kekuatan diri sendiri.
6. Bersikap baik dan menghargai sesama dalam kehidupan bermasyarakat.
7. Selalu meningkatkan kualitas diri secara terus-menerus.
- Simbol Pribadi Manusia: Berbentuk belah ketupat, yang melambangkan upaya mencapai kesempurnaan hidup dengan menundukkan sebelas nafsu yang ada dalam diri manusia.
Koleksi Artikel Imajier Nuswantoro










