KISAH PAYASA JAMUR DIPA

0

KISAH PAYASA JAMUR DIPA

 

 

 

https://syehhakediri.blogspot.com/2024/09/kisah-payasa-jamur-dipa.html

Kisah ini menceritakan usaha yang dilakukan Prabu Basurata untuk mendapatkan putra. Ia berlayar ke Tanah Hindustan atas petunjuk Begawan Rukmawati untuk membantu upacara Prabu Dasarata yang juga ingin memiliki putra. Upacara tersebut adalah meletakkan kue payasa di atas tanaman ajaib Jamur Dipa. Kelak Prabu Dasarata akan mendapatkan empat orang anak, yaitu Raden Rama, Raden Barata, Raden Lesmana, dan Raden Satrugena, sedangkan Prabu Basurata mendapatkan dua orang anak, yaitu Raden Brahmaneka dan Dewi Brahmaneki yang usianya terpaut lumayan jauh.

 

 

https://syehhakediri.blogspot.com/2024/09/kisah-payasa-jamur-dipa.html

PRABU BASURATA

Prabu Basurata adalah tokoh dalam lakon pewayangan Jawa. Tokoh ini merupakan ciptaan pujangga Jawa yang disisipkan ke dalam adaptasi Mahabharata versi pewayangan. Nama dan kisah tentang Basurata tidak ditemukan dalam naskah kitab Mahabharata berbahasa Sanskerta karya Kresna Dwaipayana Byasa dari India.

 

Dalam pewayangan, tokoh ini merupakan raja negara Wirata yang pertama. Pada waktu mudanya ia bernama Raden Srinada. Ia adalah putra Batara Wisnu yang lahir dari istri manusia biasa, yaitu Dewi Sriyuwati.

 

Mendirikan Kerajaan Wirata

Menurut Serat Pustakaraja Purwa karya Ranggawarsita, Raden Srinada adalah putra dewa, yaitu Batara Wisnu yang lahir dari Dewi Sriyuwati, seorang manusia biasa, bukan bidadari. Kelahiran Raden Srinada adalah sesudah Batara Wisnu menumpas Prabu Watugunung yang berani menyerang Kahyangan Suralaya pada tahun Suryasangkala 408. Sebagai hadiah, Batara Wisnu pun berhak menduduki Kerajaan Medang Kamulan, dan ia mengganti namanya menjadi Prabu Wisnupati.

 

Setelah tiga puluh tahun menjadi raja Medang Kamulan yang kemudian diganti nama menjadi Kerajaan Purwacarita, Prabu Wisnupati pun kembali ke kahyangan sebagai Batara Wisnu. Ia mewariskan Kerajaan Purwacarita kepada putranya yang bernama Raden Srigati, sedangkan adiknya, yaitu Raden Srinada mendapatkan bekas Kerajaan Medang Pura yang dulu juga dibangun oleh Batara Wisnu.

 

Pada tahun Suryasangkala 438, Raden Srinada mulai menduduki takhta Kerajaan Medang Pura, dengan didampingi Batara Ranggita sebagai patih, bergelar Patih Sunggata. Kerajaan Wirata kemudian diganti nama menjadi Kerajaan Wirata, sedangkan Raden Srinada memakai gelar Prabu Basurata.

 

Mendapatkan Dua Anak

Sebelum menjadi raja, Prabu Basurata sudah menikah dengan sepupunya sendiri, yaitu Dewi Brahmaniyuta, putri Prabu Brahmaraja (penjelamaan Batara Brahma) di Kerajaan Gilingwesi pada tahun Suryasangkala 436. Namun, selama bertahun-tahun mereka belum juga mendapatkan keturunan.

 

Pada tahun Suryasangkala 453, Prabu Basurata meminta petunjuk petapa bidadari yang bernama Dewi Rukmawati yang bersemayam di Gunung Mahendra tentang bagaimana caranya mendapatkan anak. Dewi Rukmawati menyarankan agar Prabu Basurata pergi ke Kerajaan Ayodya membantu raja di sana, yaitu Prabu Dasarata yang sedang melakukan upacara meminta anak pula. Cara itulah yang akan membantu Prabu Basurata mendapatkan keturunan.

 

Setelah menempuh perjalanan jauh, Prabu Basurata akhirnya sampai juga di tempat Prabu Dasarata mengadakan upacara. Upacara tersebut ialah memetik Jamur Dipa, tetapi harus ditunggui putra Batara Wisnu. Kebetulan Prabu Basurata adalah putra Batara Wisnu, sehingga persyaratan bisa terpenuhi. Demikianlah, Prabu Dasarata dan Prabu Basurata berhasil memetik Jamur Dipa dan menjadikannya kue payasa. Kue tersebut diserahkan kepada istri-istri Prabu Dasarata sehingga mereka pun mengandung.

 

Prabu Basurata sendiri juga membawa pulang kue payasa dan memberikannya kepada Dewi Brahmaniyuta. Dewi Brahmaniyuta lalu mengandung dan melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Raden Brahmaneka pada tahun Suryasangkala 454. Kemudian pada tahun Suryasangkala 467, Dewi Brahmaniyuta melahirkan anak perempuan, yang diberi nama Dewi Brahmaneki.

 

Akhir Kehidupan

Pada tahun Suryasangkala 473, Prabu Basurata hendak menikahkan Raden Brahmaneka. Namun, putranya itu menolak karena ia bercita-cita hanya mau menikah dengan bidadari. Raden Brahmaneka lalu pergi berkelana dan berhasil membawa pulang seorang bidadari bernama Dewi Indradi sebagai calon istrinya.

 

Prabu Basurata sangat senang dan merestui Raden Brahmaneka menikah dengan Dewi Indradi. Pada tahun Suryasangkala 474 Prabu Basurata turun takhta menjadi pendeta yang bernama Bagawan Wasubrata. Adapun Kerajaan Wirata kemudian dipimpin oleh Raden Brahmaneka yang bergelar Prabu Basupati.

Bagawan Wasubrata kemudian meninggal dunia pada tahun Suryasangkala 484.

 

 

JAMURDIPA

Prabu Basumurti dari Wirata pada suatu hari menjelaskan kepada Patih Jatikanda, Arya Kandaka dan Resi Wikiswara bahwa sang Raja akan berburu ke hutan. Jatikanda bersama Basukesti, Basunanda dan Brahmana Kestu mengadakan persiapan di hutan. Sebelum berburu Prabu Basumurti mengadakan pesta di Hutan Mandeki, serta memberikan hadiah kepada rakyat di sekitar hutan tersebut. Namun diantara penduduk itu ada salah seorang yang bernama Janaloka tidak mau menerima hadiah dari rajanya oleh karena ia sebagai penjaga pohon sriputa. Adik raja yang bernama Basukesti menebang pohon keramat tersebut dan keluarlah cahaya sinar yang merasuk ke badan Basukesti. Selanjutnya Janaloka menghormat dengan Basukesti serta mengatakan bahwa kelak sang Pangeran akan menjadi raja.

 

Tak lama kemudian Basukesti menerima berita dari Dewi Jatiswari istri Prabu Basumurti bahwa sang Raja sakit keras. Segera sang Pangeran menjenguk kakaknya, tetapi ketika ia tiba di istana kakaknya telah wafat. Selanjutnya Basukesti dinobatkan menjadi raja dan ramalan Janaloka menjadi kenyataan.

 

Setelah naik takhta, sang Raja memerintahkan untuk membuat instrumen gamelan yang digunakan dalam peperangan antara lain: gurnang, thang-thong grit, paksur, teteg, kendang, bendhe, gong dan beri. Pada suatu hari Patih Jatikanda melaporkan bahwa Brahmana Deta dan Brahmana Kestu menghilang dan di rumahnya tumbuh Jamurdipa yang memancarkan sinar. Prabu Basukesti melihat hal yang aneh, setelah sampai di rumah itu maka sinar terang yang ada pada Jamurdipa merasuk di kepalanya Basukesti.

 

 

PRABU BASUPATI

Arya Basupati adalah putra bungsu Prabu Basupati/Basuparicara, raja negara Wirata dengan permaisuri Dewi Anganti/Dewi Girika, putri Bagawan Kolagiri dengan Dewi Suktimati. Ia mempunyai dua orang saudara kandung bernama; Arya Basunanda dan Arya Basukesti.

Prabu Basupati adalah nama tokoh dalam lakon pewayangan Jawa. Menurut kisah pewayangan, ia adalah putra Bathara Srinada atau Prabu Basurata, raja negara Wirata yang pertama dengan permaisuri Dewi Bramaniyuta, Putri Batara Brahma. Prabu Basupati mempunyai adik kandung bernama Bramananeki yang menikah dengan Bambang Parikenan, putra Bathara Bremani atau Brahmanaresi dengan Dewi Srihuna alias Srihunon.

 

Karena ketekunannya bertapa, Prabu Basupati menjadi sangat sakti, juga tahu segala bahasa binatang. Ia mendapat anugerah Batara Indra berwujud sebuah kereta sakti bernama "Amarajaya" lengkap dengan bendera perangnya yang membuatnya kebal terhadap segala macam senjata. Dengan kereta sakti Amarajaya, Prabu Basupati menaklukkan tujuh negara, masuk ke dalam wilayah kekuasaan negara Wirata.

 

Prabu Basupati menikah dengan Dewi Angati atau Dewi Girika, putri Bagawan Kolagiri dengan Dewi Suktimati. Dari perkawinan tersebut, ia memperoleh tiga orang putra masing-masing bernama Arya Basunada, Arya Basukesti dan Arya Bamurti.

 

 

Prabu Basupati memerintah negara Wirata sampai berusia lanjut. Ia menyerahkan tahta Kerajaan Wirata kepada Arya Basunada, kemudian hidup sebagai brahmana sampai meninggal dalam keadaan bermudra.

 

Identifikasi dengan Basuparicara

Dalam naskah Mahabharata yang berbahasa Sanskerta, tokoh Durgandini, yaitu nenek buyut para Pandawa dikenal dengan sebutan Satyawati. Wanita ini merupakan putri seorang raja bernama Basu. Dalam naskah Mahabharata yang telah disadur ke dalam bahasa Jawa Kuno, tokoh Basu disebut juga dengan nama Basuparicara. Basuparicara ini terkenal sakti dan mampu berbicara dengan segala jenis makhluk lain.

 

Dikisahkan Basuparicara suatu hari menyaksikan sungai Suktimati diperkosa oleh Gunung Kolagiri. Ia pun menendang Kolagiri sampai terpental jauh. Namun, Suktimati telah telanjur mengandung anak Kolagiri. Sungai tersebut akhirnya melahirkan putri bernama Girika.

 

Girika kemudian menjadi istri Basuparicara. Pada suatu hari Basuparicara pergi bertamasya sendirian. Tiba-tiba ia teringat kecantikan Girika dan seketika itu juga mengeluarkan air mani. Air mani tersebut dibungkusnya dengan daun dan diserahkan kepada seekor burung bernama Syena untuk dibawa pulang.

 

Dalam perjalanan menuju istana, Syena diserang burung lain yang mengira ia membawa bungkusan makanan. Air mani itu pun jatuh ke dalam laut tepat di bawah mereka. Seekor ikan betina langsung melahapnya dan seketika itu juga langsung hamil.

 

Ikan betina tersebut kemudian ditangkap seorang nelayan bernama Dasabala. Dasabala tidak membunuhnya tetapi memeliharanya sampai melahirkan, tetapi bukan bayi ikan tetapi sepasang bayi manusia. Setelah melahirkan, ikan betina kembali ke wujud asal yaitu seorang bidadari yang telah mengalami kutukan, bernama Adrika.

 

Adrika kembali ke kahyangan meninggalkan anak-anaknya. Yang perempuan diberi nama Durgandini, sedangkan yang laki-laki diberi nama Matsyapati.

 

 

 

PRABU BASUKESTI

Prabu Basukesthi adalah raja Wiratha. Adik dari raja terdahulu Prabu Basumurti. Ayahnya juga raja Wiratha, Prabu Basupati. Ibunya adalah Dèwi Wakiswara, istri kedua Prabu Basupati. Dengan raja terdahulu Prabu Basukesthi adalah saudara lain ibu.

Sejak muda Basukesthi sudah menunjukkan tabiat yanga baik. Ketika muda Basukesti ditugaskan sang kakak Prabu Basumurti untuk menyerang Saptaarga karena adanya berita bahwa pertapaan itu akan memberontak. Di tengah jalan Basukesthi bertemu dengan raksasa Darwaka yang mengejar-ngejar orang. Raksasa  Darwaka itu kemudian dipanah dan berubah menjadi dewa Sang Hyang Mahadewa. Karena sangat berterima kasih telah dikeluarkan dari kutukan sebagai raksasa Basukesthi kemudian diberi hadiah berupa mustika maniara. Juga diramalka kelak bisa memangku negara. Asalkan dalam bertindak bijaksana dan mendahulukan periksa. Atas dasar nasihat itu kemudian Basukesthi tidak menyerang Saptaarga tetapi meneliti kebenaran berita terlebih dahulu. Ternyata tidak ditemukan adanya niat untuk memberontak. Sebagai bukti bahwa tidak adanya niat itu kemudian Basukesthi membawa Resi Manumanasa dan dua karibnya, Puthut Supalawa dan Janggan Smara untuk menghadap ke Wiratha. Mereka kemudian diterima oleh Prabu Basumurti dan diberikan banyak hadiah.

Suatu ketika Di Wiratha kedatangan tamu dari negara manca, yakni Raden Surata, putra dari Gajah Oya dan Dewi Oyi. Raden Surata tergeser dari kedudukan raja di tanah seberang karena tidak disukai oleh kerabat dari negara tersebut ketika hendak menggantikan ayahnya sebagai raja di Malawa. Penyebabnya karena Prabu Gajah Oya hanyalah menantu raja terdahulu sehingga keturunannya tidak diutamakan sebagai raja. Raden Surara kemudian mengungsi ke Wiratha.

Nasib Raden Wiratha ikut membuat Raden Basukesthi prihatin. Timbul niatnya untuk mengembara mencari ketenangan dhiri. Bersama dua pengikutnya Indu dan Sindu, kemudian bertapa dan terus berjalan. Dalam perjalanan setiap melihat apapun yang tidak beres kemudian membantu. Jika melihat pertapaan rusak segera diperbaiki. Jika melihat mayat segera dikuburkan. Bahkan jika melihat bangkai hewan pun dikuburkan. Tindakannya itu ternyata menjadi sarana baginya untuk mencapai kemuliaan kelak. Para arwah yang bangkainya dikuburkan itu sangat berrerima kasih dan mendoakan agar Basukesthi menjadi raja kelak.

Pada suatu ketika raja Prabu Basumurti mengadakan acara perburuan di hutan Pandeki. Dia kemudian membagikan sesawur, yakni menyebarkan uang dengan maksud agar diperebutkan oleh para kawula. Ketika itu ada seorang yang bergeming, tanpa peduli ada sesawur. Prabu Basumurti heran mengapa otang itu tidak ikut memperebutkan sesawur, malah terus menghadap ke kayu Siputa. Prabu Basumurti menyuruh Raden Basukesthi menelisik. Diperoleh jawaban bahwa dia memilih terus beribadah dengan sarana memandang kayu sriputa. Basumurti marah dan menghunus candrasa ditujukan pada kayu sriputa. Orang itu kemudian mengatakan bahwa keagungan Prabu Basumurti telah lenyap karena tindakannya yang gegabah itu. setelah kejadian itu Prabu Basumurti menderita sakit yang menjadi penyebab kematiannya. Raden Basukesthi naik tahta menggantikan sang kakak menjadi Prabu Basukesthi.

Walau dikenal sangat teliti Prabu Basukesthi pernah juga bertindak salah. Suatu ketika Wiratha kedatangan pasukan dari seberang. Prabu Basukesthi menyuruh balatentaranya menghadapi pasukan yang datang. Kedua pihak lalu bertempur hebat. Pemimpin pasukan seberang berhasil dikalahkan dan lagi. Namun ternyata pasukan itu bukan musuh, melainkan salah seorang kerabat Wiratha uang ingin berkunjung. Pemimpin pasukan adalah Prabu Dwapara, anak dari Prabu Durapati raja dari Durhayaputra. Ibu Prabu Dwapara adalah putri dari Dewi Brahmaneki yang bernama Dewi Kaniraras. Dewi Brahmaneki adalah saudara dari Prabu Basukesthi sendiri. Prabu Dwapara yang telah kalah dan terpisah dari pasukannya kemudian menetap di Saptaarga sebagai cantrik. Berganti nama menjadi Wasi Dwapara.

Basukesthi beristrikan Dewi Pancawati putri dari Arya Awangga. Namun sampai lama tidak mempunyai putra. Dia kemudian mengambil istri lagi anak Resi Suganda yang bernama Dewi Sugandi. Dari pernikahan kedua itu lahirlan Dewi Suwati. Kemudian lahir pula Raden Basurata.

Di bawah pemerintahan Prabu Basukesthi Wiratha mengalami puncak kejayaan dan menjadi negara besar. Ada banyak kejadian yang menjadi bukti bahwa Wiratha adalah negara besar dengan punggawa yang cakap dan raja yang berwibawa.

Setelah memerintah cukup lama Prabu Basukesthi meninggal oleh kemayan seorang Gandarwa. Suatu ketika di negeri Wiratha kedatangan seorang danawa atau raksasa hijau. Raksasa itu menantang adu kekuatan kepada Prabu Basukesthi. Prabu Basukesthi lalu menyuruh seorang punggawa raksasa bernama Baradhana untuk menandingi. Baradhana tewas oleh raksasa hijau. Lalu Prabu Basukesthi menyuruh balatentara raksasa lainnya untuk mengeroyok. Namun mereka semua dapat dikalahkan oleh rakasasa hijau itu.

Mau tidak mau Prabu Basukesthi sendiri yang melayani. Namun dia memanggil menantunya, suami dari Dewi Basutari yang bernama bernama Manungkara untuk bergantian melawan kalau lelah. Raksasa hijau setuju. Manungkara ini punya mustika yang kalau diusapkan kepada seseorang akan membuatnya menjadi batu. Ketika raksasa hijau lengah Manungkara mengusapnya sehingga menjadi arca. Arca kemudian ditempatkan di pintu gerbang kota.

Ayah raksasa hijau, Bagawan Daksotama marah ketika mengetahui anaknya tewas di Wiratha. Lalu dia mengerahkan kemayan agar Wiratha terserang bencana. Prabu Basukesthi dapat mengusir bencana itu dengan meminta pertolongan dewata. Bencana sirna.

Bagawan Daksotama tidak puas. Kembali dia memasang kemayan ditujukan untuk Prabu Basukesthi. Prabu Basukesthi kemudian menderita sakit yang menjadi sebab kematiannya. Tahta Wiratha jatuh ke putranya, Raden Basurata yang kemudian bergelar Prabu Basukeswara.

 

 

PRABU BASURATA INGIN MEMILIKI PUTRA

Prabu Basurata di Kerajaan Wirata dihadap Patih Sunggata dan Resi Wisama, serta para punggawa yaitu Arya Sakuta, Arya Sakrita, dan Arya Sarisungga. Saat itu Prabu Basurata sedang bersedih karena usianya telah lebih dari empat puluh tahun tetapi belum juga memiliki anak. Padahal, kakaknya, yaitu Prabu Sri Mahapunggung di Kerajaan Purwacarita telah memiliki tiga orang anak, sedangkan iparnya, yaitu Prabu Brahmanaraja di Kerajaan Gilingwesi telah memiliki lima orang anak.

 

Prabu Basurata merasa prihatin karena sebagai raja sangat tidak baik jika ia tidak memiliki putra yang bisa dijadikan ahli waris takhta. Resi Wisama pun menyarankan supaya Sang Prabu meminta petunjuk kepada sepupunya yang bernama Resi Paninda di Gunung Candramuka. Mungkin dengan saran yang diberikan Resi Paninda, akan lahir seorang putra di Kerajaan Wirata.

 

Prabu Basurata tertarik pada usulan Resi Wisama dan ia pun berpamitan kepada sang permaisuri, yaitu Dewi Brahmaniyuta untuk kemudian berangkat menuju ke Gunung Candramuka dengan didampingi Patih Sunggata dan Resi Wisama.

 

 

RESI PANINDA MENGANTAR PRABU BASURATA MENEMUI BEGAWAN RUKMAWATI

Rombongan Prabu Basurata telah sampai di padepokan Gunung Candramuka dan disambut dengan ramah oleh Resi Paninda. Namun, ketika Prabu Basurata menyampaikan keinginannya untuk bisa berputra, Resi Paninda memohon maaf karena tidak bisa membantu, tetapi ia sanggup mengantarkan Sang Prabu pergi ke Gunung Mahendra menemui seorang pertapa wanita bernama Begawan Rukmawati. Konon, pertapa wanita ini seorang bidadari berkepandaian tinggi yang sepertinya bisa membantu Prabu Basurata memiliki keturunan.

 

Prabu Basurata, Resi Paninda, Patih Sunggata, dan Resi Wisama akhirnya sampai di Gunung Mahendra dan disambut Begawan Rukmawati beserta muridnya yang berwujud seekor gajah putih. Ternyata Begawan Rukmawati memang sangat sakti dan bisa menebak apa yang menjadi keinginan Prabu Basurata. Karena Begawan Rukmawati adalah anak Batara Anantaboga, sedangkan Prabu Basurata adalah anak Batara Wisnu, maka ia pun memanggil “kakak” kepada raja Wirata tersebut.

 

Begawan Rukmawati meramalkan bahwa Prabu Basurata kelak akan memiliki dua orang anak, yaitu satu laki-laki dan satu perempuan. Meskipun hanya dua, namun mereka kelak akan menurunkan raja-raja Tanah Jawa. Akan tetapi, putra dan putri itu bisa lahir apabila Prabu Basurata pergi ke Tanah Hindustan untuk menjadi sarana lahirnya titisan Batara Wisnu di sana. Menurut ramalan Begawan Rukmawati, Batara Wisnu akan terlahir sebagai manusia, yaitu dengan menitis kepada putra Prabu Dasarata raja Ayodya demi untuk menumpas angkara murka Prabu Rahwana di Kerajaan Alengka.

 

 

RIWAYAT GAJAH PUTIH MURID BEGAWAN RUKMAWATI

Prabu Basurata sangat senang dan bersedia melaksanakan saran tersebut. Akan tetapi, lebih dulu ia ingin mendapatkan keterangan mengenai gajah putih murid Begawan Rukmawati yang ikut menyambut kedatangannya tadi. Ia sangat heran mengapa ada seekor gajah putih yang bisa berbicara seperti manusia. Sungguh mengejutkan, ternyata Begawan Rukmawati memperkenalkan gajah putih itu sebagai keponakan Prabu Basurata sendiri, karena si gajah tidak lain adalah anak keempat Prabu Sri Mahapunggung di Kerajaan Purwacarita.

Begawan Rukmawati lalu menceritakan asal-usul gajah putih tersebut. Prabu Sri Mahapunggung telah memiliki tiga orang anak dari istri pertama (Dewi Brahmaniyati), yaitu Dewi Sri, Raden Sadana, dan Raden Wandu. Kemudian Prabu Sri Mahapunggung menikah lagi dengan Dewi Rukmini yang ditemukannya di Hutan Pancala. Akan tetapi, Dewi Rukmini meninggal dunia setelah melahirkan seekor bayi gajah putih. Hal itu terjadi karena Dewi Rukmini tidak lain adalah penjelmaan Gajah Erawati, milik Batara Indra.

 

Karena merasa sedih bercampur malu, Prabu Sri Mahapunggung lalu membuang bayi gajah putih itu ke Hutan Pancala. Pada suatu hari, Begawan Rukmawati menemukan bayi gajah putih tersebut dan membawanya pergi ke Gunung Mahendra untuk dirawat dan dijadikan murid.

 

Prabu Basurata sangat terkesan melihatnya. Meskipun baru berusia tiga tahun, namun gajah putih ini sudah lancar berbicara seperti manusia dewasa. Setelah mendapat penjelasan demikian, Sang Prabu pun mohon pamit berangkat menuju Tanah Hindustan dengan didampingi Resi Paninda dan Resi Wisama, sedangkan Patih Sunggata kembali ke istana Wirata untuk melapor kepada Dewi Brahmaniyuta.

 

Sepeninggal orang-orang Wirata tersebut, Begawan Rukmawati memerintahkan si gajah putih pergi ke Bukit Oya untuk bertapa di sana. Kelak jika si gajah putih bertemu kepala Desa Wahita bernama Buyut Lagra, maka ia harus menurut kepadanya, karena Buyut Lagra itulah yang akan menjadi jalan baginya untuk memperoleh kemuliaan. Si gajah putih mematuhi perintah tersebut dan segera mohon pamit berangkat menuju ke Bukit Oya. Kelak ia akan dikenal dengan sebutan Gajah Oya karena menjalani tapa brata tersebut.

 

 

PRABU BASURATA TIBA DI TANAH HINDUSTAN

Sementara itu, rombongan Prabu Basurata telah mendarat di Tanah Hindustan. Mereka dihadang pasukan penjaga pelabuhan Kerajaan Ayodya yang dipimpin Danghyang Wulambi, karena dicurigai sebagai musuh yang datang untuk menyerang. Akibatnya, terjadilah pertempuran karena kesalahpahaman tersebut.

 

Pertempuran itu akhirnya berhenti setelah kedatangan Resi Supanu, guru Danghyang Wulambi yang juga suami Dewi Nariti, keponakan Resi Paninda. Resi Paninda pun menjelaskan kepada Resi Supanu bahwa kedatangan Prabu Basurata dari Kerajaan Wirata ini adalah untuk membantu Prabu Dasarata dalam usaha mendapatkan putra.

 

Resi Supanu sangat gembira dan segera mengantarkan Prabu Basurata untuk menemui Prabu Dasarata yang saat ini sedang berkemah di tepi Hutan Dandaka. Sesampainya di sana, Prabu Basurata pun disambut ramah oleh Prabu Dasarata yang saat itu juga ditemani para sahabatnya, bernama Prabu Janaka raja Mantili, Prabu Aywana raja Malawa, dan Prabu Suwira raja Duhyapura.

 

 

PRABU BASURATA MEMBANTU PRABU DASARATA MENDAPATKAN PUTRA

Prabu Basurata dan Prabu Dasarata saling memperkenalkan diri. Prabu Basurata menjelaskan kedatangannya ke Tanah Hindustan adalah sebagai sarana untuk mendapatkan putra. Sebaliknya, Prabu Dasarata juga bercerita bahwa sudah lama ia menikah tetapi belum mendapatkan keturunan, padahal istrinya berjumlah tiga orang, yaitu Dewi Kusalya, Dewi Kekayi, dan Dewi Sumitra. Pemimpin para pandita Kerajaan Ayodya yang bernama Resi Wasista menyarankan supaya Prabu Dasarata meminta bantuan Resi Reksasrengga di Pertapaan Lomasana untuk memimpin upacara mendapatkan putra.

 

Prabu Dasarata berangkat menuju Pertapaan Lomasana. Resi Reksasrengga pun menyatakan sanggup untuk memimpin upacara mendapatkan putra bagi raja Ayodya tersebut. Upacara itu akan diselenggarakan di Hutan Dandaka karena di sana telah tumbuh jamur ajaib bernama Jamur Dipa yang akan menjadi sarana bagi Prabu Dasarata untuk mendapatkan keturunan. Konon jamur ini tumbuh di atas abu jenazah seorang pendeta bernama Resi Paspa.

 

Resi Paspa semasa hidupnya pernah bertapa di Hutan Dandaka untuk mendapatkan kesaktian, yaitu jika ia memegang kepala seseorang, maka seluruh tubuh orang itu akan terbakar menjadi abu. Batara Guru terkesan melihat ketekunan Resi Paspa, dan ia pun turun dari kahyangan untuk mengabulkan permintaannya. Setelah mendapatkan kesaktian tersebut, Resi Paspa menjadi lupa diri dan ingin membunuh Batara Guru untuk merebut takhta Kahyangan Jonggringsalaka. Ia pun berusaha memegang kepala Batara Guru supaya tubuh raja dewa itu terbakar menjadi abu. Pada saat itulah Batara Wisnu datang membantu ayahnya, dengan cara menyamar menjadi seorang wanita cantik bernama Dewi Malini. Resi Paspa seketika jatuh cinta melihat Dewi Malini dan membiarkan Batara Guru meloloskan diri. Resi Paspa pun merayu ingin menikahi Dewi Malini, namun wanita itu bersedia asalkan Resi Paspa mandi dan keramas terlebih dulu. Resi Paspa yang sudah tergila-gila pun menuruti permintaan Dewi Malini itu dan ia segera mandi di sungai. Ketika tangannya memegang kepala untuk keramas, seketika tubuh Resi Paspa pun terbakar menjadi abu dan tertiup angin hingga jatuh di tepi Hutan Dandaka.

 

Kini di tempat jatuhnya abu Resi Paspa itu telah tumbuh tanaman ajaib Jamur Dipa. Resi Reksasrengga meramalkan jika ketiga istri Prabu Dasarata memakan kue payasa yang diletakkan di atas jamur tersebut, maka mereka pasti akan segera mengandung. Akan tetapi, barangsiapa menyentuh Jamur Dipa ini maka tubuhnya akan terbakar menjadi abu, kecuali putra Batara Wisnu saja yang dapat menyentuhnya. Resi Reksasrengga pun memberikan nasihat supaya Prabu Dasarata banyak bersedekah karena dengan demikian, putra Batara Wisnu akan datang sendiri ke Hutan Dandaka.

 

Prabu Dasarata melaksanakan nasihat tersebut, hingga akhirnya Prabu Basurata putra Batara Wisnu kini telah datang di hadapannya. Setelah dirasa lengkap, Resi Reksasrengga pun memulai upacara dengan membaca berbagai japa mantra, kemudian Prabu Basurata dipersilakan meletakkan tiga buah kue payasa yang telah dipersiapkan Prabu Dasarata di atas Jamur Dipa tersebut.

 

Setelah menunggu beberapa lama, tiga buah kue payasa itu tampak menyala, sedangkan Jamur Dipa menjadi layu dan akhirnya mati. Resi Reksasrengga menjelaskan bahwa kekuatan gaib Jamur Dipa telah berpindah ke dalam tiga kue tersebut dan hendaknya Prabu Dasarata menyerahkannya kepada Dewi Kusalya, Dewi Kekayi, dan Dewi Sumitra.

 

 

KETIGA ISTRI PRABU DASARATA BERBAGI KUE PAYASA

Prabu Dasarata lalu menemui ketiga istrinya di perkemahan. Akan tetapi, ia hanya mengambil dua kue payasa saja untuk diberikan kepada Dewi Kusalya dan Dewi Kekayi, sedangkan kue payasa yang ketiga diberikan kepada Prabu Basurata. Rupanya Prabu Dasarata merasa prihatin mengetahui Prabu Basurata juga belum memiliki anak, dan kue yang ketiga itu diberikannya sebagai ungkapan terima kasih. Prabu Dasarata memiliki tiga orang istri dan ia merasa sudah cukup senang apabila dua di antara mereka bisa mengandung. Di sisi lain, Prabu Basurata hanya memiliki satu orang istri, sehingga kue payasa itu harus diberikan kepadanya sebagai sarana memiliki putra untuk menjadi ahli waris Kerajaan Wirata. Prabu Basurata sangat terharu namun juga tidak enak hati menerima kue payasa tersebut yang seharusnya menjadi jatah Dewi Sumitra.

 

Sementara itu, Dewi Kusalya membelah kue payasa miliknya menjadi dua dan memberikan yang setengah kepada Dewi Sumitra. Dewi Kekayi juga membelah kue miliknya, dan memberikan yang setengah kepada Dewi Sumitra pula. Dewi Sumitra sangat terharu melihat kebaikan kedua madunya itu, dan ia pun berjanji jika memiliki anak, maka anaknya itu akan selalu melayani anak-anak yang dilahirkan Dewi Kusalya dan Dewi Kekayi. Ketiga istri Prabu Dasarata itu lalu memakan bagian kue payasa masing-masing secara bersamaan.

 

Pada saat itulah Batara Wisnu (ayah Prabu Basurata) didampingi Batara Laksmanasadu (ayah Resi Wisama) turun dari kahyangan. Batara Wisnu menjelaskan bahwa meskipun hanya memakan setengah kue payasa, namun Dewi Kusalya dan Dewi Kekayi masing-masing tetap akan melahirkan seorang putra. Prabu Dasarata diperintahkan pula untuk memberikan nama kepada keempat anaknya yang akan lahir kelak, yaitu putra Dewi Kusalya hendaknya diberi nama Raden Rama, sedangkan putra Dewi Kekayi hendaknya diberi nama Raden Barata. Sementara itu, Dewi Sumitra yang memakan dua kali setengah kue, maka ia akan melahirkan dua orang putra, yang hendaknya diberi nama Raden Lesmana dan Raden Satrugena.

 

Batara Wisnu juga menjelaskan kepada Prabu Basurata mengenai kue payasa utuh yang diterimanya. Kelak jika kue itu dimakan Dewi Brahmaniyuta, maka ia akan mengandung sebanyak dua kali. Akan tetapi, kedua anak itu tidak lahir bersamaan, melainkan selisih usia mereka terpaut lumayan lama.

 

Batara Wisnu kemudian mengatakan bahwa kedatangannya adalah untuk menitis kepada putra Prabu Dasarata yang lahir dari Dewi Kusalya, yaitu Raden Rama, yang mana kelak akan menjadi kesatria dalam menumpas angkara murka Prabu Rahwana raja Alengka, keturunan Prabu Hiranyakasipu. Sementara itu, Batara Laksmanasadu juga datang untuk menitis kepada salah satu putra yang lahir dari Dewi Sumitra, yaitu Raden Lesmana, karena kelak ia akan menjadi pendamping Raden Rama dalam menumpas kejahatan.

 

Setelah berkata demikian, Batara Wisnu lalu masuk ke dalam rahim Dewi Kusalya, sedangkan Batara Laksmanasadu masuk ke dalam rahim Dewi Sumitra. Prabu Dasarata, Prabu Basurata, dan para raja lainnya serta para resi yang hadir di situ mengiringi peristiwa tersebut dengan penuh penghormatan.

 

 

PRABU BASURATA KEMBALI KE PULAU JAWA

Setelah beberapa hari tinggal di Kerajaan Ayodya, Prabu Basurata pun mohon pamit kembali ke Pulau Jawa untuk menyerahkan kue payasa kepada istrinya. Prabu Dasarata sangat berterima kasih atas segala bantuan raja Wirata tersebut, dan ia pun menyerahkan sebuah kereta kencana bernama Kereta Garudayaksa sebagai hadiah kenang-kenangan. Prabu Janaka dan Prabu Aywana juga ikut mendampingi Prabu Dasarata mengantarkan rombongan Prabu Basurata sampai ke pelabuhan.

 

Setelah berlayar beberapa lama, rombongan Prabu Basurata akhirnya tiba di Pulau Jawa dan langsung melanjutkan perjalanan ke Kerajaan Wirata. Sesampainya di istana, Sang Prabu segera menyerahkan kue payasa tersebut kepada Dewi Brahmaniyuta.

 

Setelah memakan kue itu, Dewi Brahmaniyuta pun mengandung. Setelah melewati sembilan bulan, Dewi Brahmaniyuta akhirnya melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Raden Brahmaneka.

 

 

 

 

Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa karya Ngabehi Ranggawarsita dan Ramayana karya Resi Walmiki, dengan sedikit pengembangan.

Kediri, 06 Januari 2015, Heri Purwanto

 

 

Ditulis ulang oleh : Imajiner Nuswantoro

 

 

 

 

 

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)