KITAB KIDUNG SUDAMALA

0

 Kitab Kidung Sudamala

 

 


Cerita Sudamala berisi cerita ruwatan yang melibatkan tokoh Pandawa, terutama Sadewa. Isi ringkas cerita itu sebagai berikut: Sang Hyang Tunggal, Sang Hyang Wisesa dan Sang Hyang Asiprana menghadap Sang Hyang Guru memberi tahu, bahwa Dewi Uma berbuat serong dengan Sang Hyang Brahma. Dewi Uma lalu dikutuk berubah menjadi Durga, dan diberi nama Ranini.

 

Uma minta dikembalikan ke wujud semula, tetapi Sang Hyang Guru menolak. Dikatakannya,setelah menjalani kutuk selama dua belas tahun Ranini akan diruwat oleh Sadewa. Uma pergi ke Setra Gandamayu. Salah satu abdi pengiringnya bernama Kalika.

 

Sementara itu Dewa Citragada dan Citrasena juga dikutuk oleh Sang Hyang Guru, karena berbuat tidak sopan terhadap Sang Hyang Guru. Dua dewa itu menjadi berujud raksasa, bernama Kalantaka dan Kalanjana. Mereka berdua kemudian disuruh menyusul untuk menemani Ranini di Setra Gandamayu. Oleh Ranini dua raksasa tersebut diangkat menjadi anak dan membantu Duryodana, raja Hastina.

 

Mengetahui bahwa Kalantaka dan Kalanjana berpihak pada Duryodana, Pandawa menjadi cemas, Kunthi naik ke Kahyangan, minta agar Kalantaka dan Kalanjana dimusnahkan.

 

Setelah dua belas tahun, Ranini mengharap kedatangan Sadewa yang dijanjikan akan meruwatnya. Kunti datang di Setra Gandamayu, minta agar Ranini mau memusnahkan Kalantaka dan Kalanjana. Ranini tidak bersedia, karena amat sayang kepada mereka berdua yang diangkatnya sebagai anaknya.

 

Ranini minta agar Kunti menyerahkan Sadewa, tetapi Kunti tidak bersedia menyerahkannya, karena Sadewa bukan anaknya. Sebagai ganti, Ranini boleh memilih diantara tiga anaknya yaitu: Dananjaya, Bima atau Darmawangsa. Tetapi Ranini tidak menyukai mereka, kecuali Sadewa.

 

Kalika disuruh membujuk Kunti. Mula-mula Kalika tidak mau, karena dipaksa akhirnya mau juga. Kunti disihir oleh Kalika, lalu menjadi setengah sakit ingatan Kunti kemudian lari menemui Ranini. Ranini mendesak agar Sadewa segera diserahkan. Kunti kembali menemui anak-anaknya, lalu bercerita tentang permintaan Ranini. Para Pandawa tidak setuju. Kunti marah, Sadewa diseret hendak dibawa ke Setra Gandamayu. Kalika merasa berhasil lalu keluar dari tubuh Kunti. Kunti menjadi sadar lalu minta maaf kepada Sadewa.

 

Sadewa tidak jadi dibawa di tempat Ranini. Durga marah. Kalika disuruh merasuki Kunti lagi, sehingga Kunti kembali goncang ingatannya. Sadewa dipaksa ikut pergi ke Setra Gandamayu. Sesampainya di Setra Gandamayu, Sadewa diikat pada pohon randu, dan ditunggu oleh Semar. Kalika jatuh cinta pada Sadewa dan membujuk Sadewa agar mau menerima cintanya. Namun Sadewa tidak mau menanggapi, dan lebih baik mati dari pada membalas cinta Kalika. Kalika marah, ditabuhnya tong-tong yang ada disekitarnya. Tak lama kemudian, hantu-hantu keluar bedatangan menakut-nakuti Sadewa. Namun Sadewa tidak takut, bahkan dari tubuhnya mengeluarkan daya kesaktian yang luar biasa. Semua hantu yang menggoda pergi meninggalkan Sadewa.

 

 

 

KIDUNG SUDAMALA


Ranini diruwat oleh Sadewa kembali menjadi Uma, Dewi yang sangat cantik jelita.

Atas jasa Sadewa, Uma memberi anugerah senjata dan memberi gsebutan Sadewa

dengan nama Suda Mala yang artinya menghapus wujud yang jahat.

karya Herjaka HS



Ranini datang menakut-nakuti Sadewa, tetapi Sadewa tidak ketakutan. Ranini minta belas kasihan kepada Sadewa, agar ia diruwatnya. Sadewa tidak mau karena tidak tahu cara meruwatnya. Ranini marah, Sadewa hendak dibunuh dengan kapak. Dunia menjadi gempar. Kebetulan Sang Hyang Narada berkeliling dunia, dilihatnya Sadewa yang terikat dan akan dibunuh oleh Ranini. Hyang Narada naik ke Kahyangan dan memberi tahu kepada Mahadewa dan Dewa Masno. Kemudian Mahadewa dan Hyang Narada menemui Batara Guru, memberi tahu tentang nasib Sadewa.

 

Batara Guru turun ke dunia menemui Sadewa. Sadewa disuruh meruwat Ranini, dan Batara Guru akan masuk ke tubuh Sadewa. Sadewa menyanggupinya. Ranini diminta memperhatikan perintahnya. Kapak minta dilepas dari tangan, lalu bersiap-siap untuk diruwatnya. Sadewa berdiri tegak memusatkan kesadaran, berdoa mengucapkan pujamantra. Ditaburkannya beras kuning, air suci dan bunga ke tubuh Ranini. Ranini menjadi cantik sekali. Wujud Durga hilang berubah menjadi wujud Uma yang cantik jelita, sempurna seperti dahulu kala.

 

Uma ke taman bercermin pada air telaga yang jernih. Ia menjadi gembira dan mengucapkan terimakasih kepada Sadewa, ia bersyukur hukumannya telah selesai. Ia merasa berhutang kepada Sadewa. Sadewa disebutnya Sang Sudamala, karena ia telah menghapus wujud yang jahat. Selanjutnya Sang Sudamala disuruh pergi ke Prangalas, tempat petapaan Tambapetra. Sadewa dianugerahi senjata lalu berangkat ke Prangalas.

 

Kalika minta diruwat juga, tetapi Sadewa tidak mau, Kalika menemui Semar, ia minta diruwatnya. Semar bersedia meruwat asal disediakan sajian sebakul nasi, satu daging anjing panggang dengan berbumbu, dan satu guci tuak. Tetapi kesanggupan Semar hanya tipuan belaka. Setelah semua permintaan di siapkan, segera dimakan habis oleh Semar. Kalika tidak diruwat, karena Semar tidak dapat meruwatnya.

 

Uma kembali ke Kahyangan, Kalika ditinggal di taman. Kelak Sadewa akan datang untuk meruwatnya.

 

Sadewa menemui Tambapetra. Tambapetra yang buta datang dibimbing oleh muridnya. Mereka menyongsong kedatangan Sadewa. Kedatangan Sudamala di petapaan atas perintah Uma, untuk menyembuhkan penyakit sang petapa. Sudamala melaksanakan perintah itu. Kemudian Sadewa, berdoa, bunga ditaburkan dan air suci dipercikan di tubuh sang petapa. Tak berapa lama kemudian penyakit sang petapa sembuh. Tambapetra dapat melihat dunia seisinya. Bukan main gembiranya. Dengan tergopoh-gopoh ia memanggil ke dua anaknya untuk disuruh menghormat kedatangan Sadewa.

 

Sirih pinang disuguhkannya, kemudian disusul hidangan tuak, air tape, nasi dan lauk pauk. Mereka makan bersama. Ke dua anak sang petapa bernama Ni Soka dan Ni Padapa diserahkan kepada Sadewa. Semar iri lalu berkata kepada sang petapa untuk minta diberi putrid seperti Sadewa. Petapa Tambapetra menuruti permintaan Semar. Semar diberi abdi wanita bernama Tohok.

 

Sadewa mempunyai saudara kembar yang bernama Sakula. Sejak kepergian Sadewa dari istana, Sakula terus mencarinya. Lalu Sakula pergi ke Setra Gandamayu. Ia berjumpa dengan Kalika. Kalika mengira bahwa yang datang adalah Sadewa untuk meruwat dirinya. Maka cepat-cepat Kalika menyongsong kedatangan Sakula. Sakula mengaku bahwa ia bukan Sadewa, tetapi saudara kembarnya. Maka kemudian Kalika bercerita tentang Sadewa, lalu menunjuk jalan yang menuju ke Prangalas.

 

Kedatangan Sakula di Prangalas disambut oleh Semar. Semar memberitahu kepada Sadewa. Sadewa cepat datang kemudian memeluk saudaranya. Soka dan Padapa diminta menemui Sakula. Sakula dijamu nasi beserta lauk pauk dan minuman. Sadewa memberi Soka untuk isteri Sakula.

 

Kalantaka dan Kalanjaya mengira Sadewa telah meninggal bersama Sakula. Mereka berunding untuk memusnahkan Bima, Arjuna dan Darmawangsa. Dilem dan Sangut diminta mempersiapkan prajurit. Perajurit Kalantaka hendak menyerang Pandawa bersama perajurit Korawa.

 

Arjuna meyongsong kedatangan musuh. Musuh yang datang dihujani anak panah, tetapi Kalantaka amat sakti. Bima datang membantu, tetapi musuh tidak terlawan juga. Bima dan Arjuna mundur dari medan perang. Sadewa dan Sakula datang ingin membantu saudaranya. Kunti amat gembira. Sadewa telah kembali. Kedua putra Pandawa itu bercerita perihal nasib mereka.

 

Kalanjana datang menyerbu, Sakula dan Sadewa menyongsong kedatangan musuh. Kalanjana mati oleh senjata Sadewa anugerah Uma. Kemudian Kalantaka juga mati oleh senjata sakti itu. Habislah perajurit Kalanjana.

 

Sakula dan Sadewa hendak kembali ke istana. Tiba-tiba datanglah dua bidadara menemui Sadewa. Dua bidadara itu tidak lain adalah Citragada dan Citrasena, yang semula dikutuk menjadi raksasa Kalantaka dan Kalanjana. Mereka telah diruwat oleh Sadewa dan berwujud seperti semula. Sabagai ucapan terimakasih kedua bidadara itu berdoa semoga keluarga Pandawa panjang usia, hidup bahagia dan sejahtera.

 

Citragada dan Citrasena kembali ke Kahyangan, Sadewa dan Sakula kembali ke istana, berkumpul dengan saudara-saudaranya.

 

Sumber Cerita: Kidung Sudamala, edisi P.V an Stein Callenfels, 1925



KIDUNG SUDAMALA (VERSI 3)

Kidung Sudamala atau Kakawin Sudamala (Çuddhamala) merupakan karya sastra dalam bahasa Jawa Kuno yang berasal dari jaman Kerajaan Majapahit. Naskah ini bercerita tentang kutukan yang menimpa Batari Umayi atau Dewi Uma, istri Bhatara Guru (Dewa Siwa), oleh karena berbuat serong atau clor ing lakine.

 

Seorang pakar Sastra Jawa dan budayawan Indonesia, yaitu Prof. Dr. Petrus Josephus Zoetmulder, S.J. (P. J. Zoetmulder, Utrecht 29 Januari 1906 – Yogyakarta 8 Juli 1995), telah membuat ikhtisar Kidung Sudamala yang disadur di bawah ini. Zoetmulder tersohor melalui disertasinya tentang aspek agama Kejawen yang diterjemahkan Dick Hartoko dalam Bahasa Indonesia dengan judul Manunggaling Kawula Gusti.

 

Relief yang memuat kisah Sudamala pernah saya lihat sewaktu berkunjung ke Candi Sukuh, yang berada di wilayah Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Tempat suci penganut Siwa Buddha Tantrayana yang berada di lereng Gunung Lawu ini ditemukan pada 1815 oleh Johnson, Residen Surakarta, dalam keadaan runtuh.

 

 

 Relief pertama Kidung Sudamala di Candi Sukuh

 

Relief Kidung Sudamala yang terdiri dari lima deret ukir batu berada di sisi kiri teras ketiga Candi Sukuh. Di sisi itu pula ada arca tanpa kepala bersayap garuda, arca penjaga, arca bulus, lingga, dan sejumlah relief dan arca lain.

 

Ringkasan Kidung Sudamala

Pada suatu ketika, Dewi Umà hidup di dalam wadag makhluk jahat bernama Ra Nini di Gandamayu atau Setra Gandamayit, setelah ia terkena kutuk sang suami.

 

Dewi Uma harus menebus dosanya dengan hidup sebagai Ra Nini, dan baru pada akhir tahun ke-12 ia akan bisa dibebaskan oleh Bhatàra Guru yang meraga sukma dalam diri Sadewa, bungsu Pandawa.

 

Sementara itu ada dua bidadara penghuni swargaloka bernama Citrasena dan Citragada yang juga mendapat hukuman oleh karena sikapnya yang kurang ajar karena berani mengintip bidadari saat mandi sehingga mereka dikutuk oleh Bhatara Guru menjadi raksasa bernama Kalàntaka dan Kalañjaya yang mengabdi kepada Kurawa.

 

Dewi Kuntì, ibu para Pandawa, merasa cemas dengan keselamatan anak-anaknya ketika mereka sedang berperang melawan Kurawa yang dibantu Kalàntaka dan Kalañjaya, sehingga akhirnya ia meminta Ra Nini untuk membunuh kedua raksasa itu.

 

Ra Nini asalkan Dewi Kuntì bersedia menyerahkan kambing merah, yang dimaksud ternyata adalah Sadewa. Kuntì menolak hingga dua kali permintaan Ra Nini itu.

 

Namun Ra Nini mengutus Kalika untuk masuk ke dalam tubuh Kuntì, sehingga dalam keadaan terpengaruhi mahluk jahat itu Kunti pun mengijinkan Ra Nini untuk membawa Sadewa ke Gandamayu. Di tempat itu Sadewa diikat pada sebatang pohon oleh Ra Nini setelah ia menolak untuk meruwatnya.

 

Bermacam makhluk jahat berusaha menakut-nakuti Sadewa agar bersedia menolong Ra Nini namun tak juga berhasil, hingga akhirnya Ra Nini menampakkan diri dalam wujud raseksi yang amat menyeramkan dan memerintahkan Sadewa untuk segera menghilangkan kutukan Bhatara Guru dari tubuhnya.

 

Meski Sadewa mengatakan bahwa ia tak punyai kesaktian untuk melakukan ruwat itu, namun Ra Nini terus mendesaknya dan ketika tak juga berhasil maka ia pun menjadi marah sekali, yang membuatnya gelap mata dan hampir saja membunuh Sadewa.

 

Bhatara Guru yang mendapat kabar dari Narada tentang peristiwa di Setra Gandamayit segera turun dari kahyangan. Oleh karena memang sudah tiba saatnya kutukan itu diangkat, maka Bhatara Guru masuk ke dalam tubuh Sadewa dan ritual ruwat ke Ra Nini bisa dilakukan dengan dibarengi tebaran bunga dan percik air suci.

 

Setelah selesai diruwat dan kutukan diangkat, Ra Nini pun beralih rupa menjelma kembali menjadi Dewi Uma dengan kecantikannya yang sangat luar biasa.

 

Dewi Uma kemudian memberi nama Sudamala kepada Sadewa, yaitu ‘yang membersihkan segala noda dan kejahatan’. Sadewa juga diberinya senjata sakti, dan menganjurkannya untuk pergi ke pertapaan Prangalas.

 

Di pertapaan itu Sadewa akan mampu menyembuhkan pertapa Tambapetra dari kebutaan dan lalu menikahi kedua puterinya.

 

Kalikà, abdi Ra Nini, ikut memohon agar diruwat seperti sang majikan, namun permintaannya ditolak. Sêmar yang mengikuti Sadewa malah memperolok-olok Kalikà dengan melakukan ritual pengusiran roh jahat asal-asalan.

 

Mengikuti petunjuk Dewi Umà, Sudamala pergi meninggalkan Setra Gandamyit menuju ke Prangalas. Benar saja di sana ia menyembuhkan Resi Tambapetra dari kebutaannya dengan ritual pensucian seperti yang ia lakukan sebelumnya, dan lalu menikahi kedua putri Sang resi bernama Padapa dan Soka.

 

Nakula yang tiba di Setra Gandamyit untuk menemui saudara kembarnya, diberitahu oleh Kalikà tentang apa yang telah terjadi. Nakula lalu menyusul ke Prangalas dan Sudamala pun memberinya Soka, puteri Resi Tambapetra yang berusia lebih muda, untuk dijadikan isterinya.

 

Mereka lalu pulang untuk membantu saudara-saudaranya melawan pasukan Kurawa yang dipimpin Kalàntaka dan Kalanjaya. Setelah kedua makhluk itu dikalahkan oleh Sudamala, keduanya lalu diruwat hingga kembali ke wujudnya aslinya sebagai bidadara kahyangan.

 


Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)