Serat Nayakawara
(Karya KGPAA Mangkunegara IV)
Serat Nayakawara adalah karya sastra Jawa berbentuk tembang macapat (Pangkur dan Dhandhanggula) karangan KGPAA Mangkunegara IV yang ditulis sekitar tahun 1863 M. Serat ini memuat ajaran pendidikan moral, etika, dan tata krama bagi seorang punggawa atau pemimpin agar memiliki watak berbudi luhur, berwibawa, serta bijaksana dalam bertindak.
Berikut adalah poin-poin penting mengenai Serat Nayakawara:
- Pencipta: Disusun oleh KGPAA Mangkunegara IV.
- Isi Utama: Ajaran mengenai kelakuan baik yang memberikan keselamatan diri, serta pentingnya memiliki "jembar amot rahayu" (hati yang luas untuk menampung dan membawa keselamatan).
- Aspek Pendidikan: Menekankan tata krama untuk menjauhkan celaan, serta pentingnya penguasaan tata bicara agar mampu menarik hati (ndudut ati).
- Struktur: Terdiri dari 21 bait yang terbagi dalam pupuh Pangkur dan Dhandhanggula.
- Nilai Seni: Menggunakan unsur estetis seperti perwakanthi (rima), pepindhan (pengandaian), dan gaya bahasa yang indah.
Serat ini merupakan bagian dari warisan budaya Jawa yang menekankan pentingnya moralitas dalam kepemimpinan dan kehidupan sehari-hari.
Serat Nayakawara karya KGPAA Mangkunegara IV
Sêrat Nayakawara
Sêrat Nayakawara termasuk dalam kumpulan piwulang budi luhur karya KGPAA Mangkunegara IV, yang ditulis pada tahun 1852 M(1781 Jawa). Sêrat Nayakawara terdiri dari dua pupuh, yaitu pupuh pangkur yang berisi 21 bait dan pupuh dhandanggula yang berisi 12 bait. Naskah ini memuat piwulang tentang pembinaan yang ditujukan kepada para punggawa, mantri dan narapraja dalam lingkungan praja Mangkunegaran. Tujuannya untuk peningkatan wawasan dan pengabdian para punggawa, mantri, dan narapraja demi terciptanya cita-cita luhur praja kuncara yang aman, tenteram, adil, makmur, sejahtera.
KGPAA Mangkunegara IV dalam memajukan mangkunegaran tidak hanya giat membangun dan membanggakan keberhasilannya, tetapi juga sangat peduli terhadap segala masalah yang dapat menghambat bahkan membahayakan keselamatan dan keberhasilan pembangunan praja. Disamping keberhasilan pembangunan yang dirasakan oleh masyarakat Mangkunegaran dan dikenal oleh sejumlah orang mancanegara, ternyata masih terasa gejala-gejala negatif tersebut yang sangat menurut KGPAA Mangkunegara IV akan sangat membahayakan. Dalam Sêrat Nayakawara Mangkunegara IV mengungkapkan gejala-gejala negatif tersebut pada bait 2-4 pupuh pangkur seperti berikut:
Mangkunagaran kaping pat
Kang puwara nguni datan marsudi
Mring gunêm rèh kang rahayu
Masalahing suwita
Mung ngugêmi ujar kuna kang tan jujur
Kabanjur praptaning mangkya
Piangkuhe angluwihi
Mring kanca sakancuhira
Barang karya tan gagah sami wigih
Kèguh labêt tanpa kawruh
Kèwran nalaring nala
yun tinilar kogèl mbok mênawa masgul
Magal magèl yen den dêlna
Ndaluya anandho kardi
Karya pitunaning praja
Ngrêrègoni parentah kang wus dadi
Yen sinêrêg asring rêngu
Tampane sinrêngênan
Lêlêmbatan nguring-uring kancanipun
Kang mangkana marènana
Rungunên pitutur mami.
Dari 3 bait itu menunjukkan gejala-gejala negatif para punggawa yang disinyalir membahayakan praja Mangkunagaran adalah:
Banyak tindakan-tindakan para punggawa yang menyalahi pranatan praja yang berlaku karena kurang menghayati dan mengindahkan nasihat sikap rahayu yang mengacu pada budi luhur. “…Datan marsudi mring gunêm rèh kang rahayu…”.
Pengabdian narapraja dan abdi praja kepada praja tidak mantap karena hanya mengacu pada petunjuk lama yang sudah menjadi kebiasaan yang tidak benar. “…Masalahing suwita Mung ngugêmi ujar kuna kang tan jujur…”
Membiarkan menjadi kebiasaan timbulnya sikap angkuh terhadap teman sejawat dan orang lain. “…Kabanjur praptaning mangkya piangkuhe angluwihi…”.
Sikap malas dalam menjalankan tugas dan berkarya, serta tidak cepat tanggap terhadap jalannya kegiatan dan suasana. “…Barang karya tan gagah sami wigih…”.
Timbulnya tindakan suka mogok, mangkir dan tidak menjalankan tugas sebagaimana mestinya karena keterbatasan pengertian, pengetahuan dan penalaran. “…Kèguh labêt tanpa kawruh kèwran nalaring nala…”.
Timbul sikap mudah patah semangat, kalau ditinggal mudah kecewa dan jika diperingatkan mudah marah. “…yèn tinilar kogèl mbok mênawa masgul…”
Petugas tidak sigap bertindak dan suka menunda pekerjaan. “…Ndaluya anandho kardi…”.
Setelah itu Mangkunegara IV menunjukkan penghargaan yang diberikan oleh praja terhadap para punggawa sehingga bisa menikmati hidup enak dan terhormat, oleh karena itu harusnya para punggawa bisa mengimbangi dengan kinerja yang baik.
Pangkur bait 13
Mring anak rabi wandawa
Kawiryane kinurmatan sasami
Lungguh lampit nganggo payung
Lan sabên kalamangsa
Linilanan lungguh jajar lan gustimu
Ingajak bagandrawina
Pisukamu den turuti
“ Disebabkan oleh kedudukannya, anak, istri dan seluruh saudaranya sangat dihormati oleh sesamanya. Duduk di atas karpet dan berhiaskan payung. Dan setiap ada kesempatan diijinkan duduk dengan raja, diajak berpesta bersama dan dituruti apapun kesenangannya.”
Pangkur bait 17
Balik ta para punggawa
kaya paran yen sira tan nimbangi
amrih utamaning laku
ngluhurken gustinira
panggowèle mring praja raharjanipun
tuwin jiwanta priyangga
apa luhur kang prajurit
“ Sebalikny, para punggawa, bagaimana jadinya jika kalian tidak mengimbangi melakukan perbuatan yang utama dengan meluhurkan rajamu serta mengabdi terhadap kemakmuran dan kemajuan praja dengan sepenuh hatimu. Jangan kalah dengan para prajurit”.
Kemudian Mangkunegara IV memberi nasihat bagaimana menjadi seorang punggawa yang utama. Diantaranya adalah:
Mencerna bekal pengalaman, pengalaman para punggawa perlu dicerna kembali dan dihayati sehingga dapat dijadikan penguat wawasan dan motivasi dalam menjalankan tugas kewajiban punggawa. “…èngêta duk lagi prihatin, darbe cipta nggayuh kawiryawan, sapira ta sêngsarane, acêgah mangan turu, dera minta sihing Gusti, tan jênak anèng wisma, kulinèng asamun….”. Pengalaman yang dimaksud diantaranya pengalaman berlaku prihatin, sehingga mendekatkan dirinya kepada yang Maha Agung, dan selalu mengacu pada cita-cita luhur.
Mengemban kekuasaan Praja, kebijakan praja diperintahkan kepada punggawa untuk dilaksanakan sebaik-baiknyasesuai dengan bidang tugas dan kemampuan masing-masing. Perintah pimpinan praja adalah perintah terbaik, karena menyangkut kesejahteraan dan kebahagiaan kawula.”….èstu karya parèntah utama, sumrambah mring praja kabèh, sapangkat-pangkatipun, mrih mulyaning dasih….”. Yang dimaksud mengemban kekuasaan praja bagi para punggawa disini diantaranya membawahi masyarakat tingkat rendah, membina bawahan supaya membantu program pemerintah.
Teladan masyarakat, Punggawa adalah aparat pemerintah yang menjadi kepercayaan dan teladan masyarakat. Keteladanan yang dimaksud berkaitan dengan kepribadian personal dan kemampuan pengabdiannya kepada raja secara profesiona. “.,…wruh ing kukum iku watêkira, adoh marang kanisthane, pamicara punika, wèh rêsêpe ingkang miyarsi, tatakrama punika, ngêdohkên panyêndhu, kagunan iku kinarya, ngupaboga dene kalakuwan bêcik, wèh rahayuning raga….”. Para punggawa harus menjadi teladan dalam sadar hukum, tutur kata, tata krama, dan kelakuan baik.
Pembelaan Negara, tugas seorang punggawa juga termasuk menjaga keselamatan praja dengan menentang segala tantangan dan gangguan yang mengancamnya. …”Wajib patih lan punggawa mantri, kang mbirata mêmala durcara, kabèh praja susukêre…”. Jika suasana praja dalam keadaan aman, tentram dan semua kebutuhan tercukupi maka punggawa telah menjalankan kewajibannya meningkatkan pemenuhan kebutuhan hidup yang sudah dicpai. Tetapi jika keadaan praja sedang mengalami kesulitan, maka punggawa harus selalu siap menjawab tantangan untuk meniadakan segala gangguan dan ancaman yang dilakukan secara terpadu dengan mengikutsertakan semua pihak yang terkait dengan keberadaan praja.
Sri Mangkunegara IV dengan kata akhir dalam Sêrat Nayakawara mengatakan yêku cahyaning praja. Tang dimaksud yêku cahyaning praja adalah praja kuncara. Lengkapnya adalah menjadikan praja Mangkunagaran menjadi Mangkunagaran praja kuncara. Untuk membangun, mengembangkan dan menjaga kelestarian Mangkunegaran Praja Kuncara diperlukan sumber daya manusia yang memiliki dan menghayati wawasan Kemangkunegaranan.
Dengan mengangkat pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam bagian pertama dan kedua Sêrat Nayakawara, dapat disimpulkan berisi piwulang budi luhur tersebut memang dipersiapkan sebagai sarana untuk peningkatan wawasan kemangkunagaranan serta peningkatan pengabdian melalui gerakan pembinaan generasi penerus atau yang juga dikenal dengan gerakan mbangun tuwuh. Sumber : Harmanta Bratasiswara, dkk. 2000. Nayakawara: Pembinaan Generasi penerus dengan Wawasan Kemangkunagaranan. Jakarta: Binakerta Adiputra.
Kajian Nayakawara (1:1-2): Pambuka
Serat Nayakawara karya Sri Mangkunagara IV berisi pesan dan nasihat kepada para punggawa agar mereka bekerja sungguh-sungguh dalam mengabdi kepada raja (baca: negara). Tujuan dari nasihat ini adalah agar para punggawa mempunyai sikap yang baik dalam memerintah para bawahan dan melindungi rakyat. Jika sikap mereka baik maka negara akan maju, berkembang mencapai kemakmuran. Negara akan lestari tegak berdiri, dapat diwariskan kemakmurannya kepada anak cucu.
Dalam serat ini juga disinggung bahwa para punggawa zaman kini tinggal mewarisi hal-hal baik dari para pendahulu mereka yang telah bersusah payah dalam mendirikan negara. Maka hendaknya mereka menyadari itu dan meningkatkan semangat pengabdian mereka. Agar negara yang sudah susah payah dirintis ini dapat berlanjut mencapai kemakmuran.
Kepada para punggawa juga diingatkan bagaimana awal mula mereka ingin mendaftar sebagai punggawa. Bagaimana mereka mempunyai cita-cita yang tinggi dahulu, kemudian dengan bersusah payah berhasil mencapai keinginan. Kepada mereka diharap tetap menjaga semangat itu dan tetap tidak berhenti berupaya keras agar negara mencapai kemakmuran.
Seperti kebiasaan Sri Mangkunagara IV, dalam karya-karya beliau selalu terselip perumpamaan-perumpamaan. Dalam serat ini pun juga ada perumpamaan agar para punggawa jangan bertidak seperti ulat yang menggerogoti negara. Juga ada perumpamaan tentang bulan yang tertutup awan. Untuk lebih jelasnya, silakan membaca sendiri karya klasik dari Sri Mangkunagara ini.
Pupuh 1, bait 1-2, Pangkur
(metrum: 8a, 11i, 8u, 7a, 12u, 8a, 8i), Serat Nayakawara, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Wuryanta dera manitra,
dina Isnèn wayah jam wolu enjing,
Madilawal ping sapuluh,
nuju môngsa kalima,
ing Prangbakat taun Dal sangkalanipun,
atmaja Hyang Girinata,
mulang mring punggawa mantri.
Mangkunagara kaping pat,
kang puwara nguni datan marsudi,
mring gunêm rèh kang rahayu,
masalahing suwita.
Mung ngugêmi ujar kuna kang tan jujur,
kabanjur praptaning mangkya,
piangkuhe angrikuhi.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia :
Mulai dia menulis,
pada hari Senin waktu jam 8 pagi,
bulan Jumadil Awwal hari ke-10,
bertepatan dengan masa ke-5,
di wuku Prangbakat, tahun Dal.Dengan candra sengkala:
putra Hyang Girinata,
mengajar kepada punggawa mantri, penanda tahun 1791 AJ).
Mangkunagara IV,
Kepada yang terakhir tidak mempelajari,
pada perkataan kebaikan,
permasalahan pengabdian.
Hanya memegang perkataan orang dahulu yang tiak jujur,
berlarut-larut sampai sekarang,
keangkuhannya merepotkan.
Kajian per kata :
Wuryanta (Mulai) dera (dalam dia, ketika dia) manitra (menulis), dina (hari) Isnèn (Senin) wayah (waktu) jam (jam) wolu (delapan) enjing (pagi), Madilawal (Jumadilawal) ping sapuluh (hari ke sepuluh), nuju (bertepatan) môngsa (mangsa) kalima (kelima), ing (di) Prangbakat (wuku Prangbakat) taun (tahun) Dal (Dal). Mulai dia menulis, pada hari Senin waktu jam 8 pagi, bulan Jumadil Awwal hari ke-10, bertepatan dengan masa ke-5, di wuku Prangbakat, tahun Dal.
Mulai ditulis serat ini di hari Senin, tanggal 10 Jumadilawal. Bertepatan dengan masa ke-lima dalam sistem pranata mangsa. Pada wuku Prangbakat, tahun Dal. Di Jawa ada beberapa sistem penanggalan yang cukup banyak dipakai sebagai penanda waktu. Yang dituliskan ini hanya sedikit diantaranya.
Sangkalanipun (sengkala tahun), atmaja Hyang Girinata, mulang mring punggawa mantri (putra Hyang Girinata mengajar kepada punggawa mantri). Dengan candra sengkala: putra Hyang Girinata mengajar kepada punggawa mantri, penanda tahun 1791 AJ).
Dalam kalender Jawa sengkala tahun tersebut menunjukkan angka tahun 1791 AJ. Dalam kalender Masehi bertepatan dengan tanggal 3 November 1862 AD. Jika dilihat dari masa pemerintahan Sri Mangkunagara IV tahun 1853-1881, maka serat ini ditulis ketika di awal pemerintahan. Pemilihan kalimat yang dipakai dalam candra sengkala: atmaja Hyang Girinata mulang mring punggawa, mengisyaratkan bahwa serat ini berisi petuah kepada para punggawa dan mantri dalam mengabdi kepada raja. Mengabdi kepada raja adalah berarti mengabdi kepada negara, karena di zaman itu raja adalah pemegang hukum sekaligus pemilik negara.
Mangkunagara (Mangkunagara) kaping pat (yang keempat), kang (yang) puwara (terakhir) nguni (dahulu) datan (tidak) marsudi (mempelajari), mring (kepada) gunêm (perkataan) rèh (hal) kang (yang) rahayu (kebaikan), masalahing (permasalahan) suwita (pengabdian). Mangkunagara IV, yang terakhir tidak mempelajari, kepada perkataan kebaikan, permasalahan pengabdian.
Ditulis oleh Mangkunagara IV, kepada yang terakhir tidak mempelajari segala hal dalam kebaikan, tantang masalah orang mengabdi. Isi serat ini ditujukan kepada para punggawa yang tidak mempelajari segala hal berkaitan dengan kebaikan berkaitan dengan masalah pengabdian kepada raja.
Mung (hanya) ngugêmi (memegang) ujar (perkataan) kuna (dahulu) kang (yang) tan (tak) jujur (jujur), kabanjur (berlarut-larut) praptaning (sampai) mangkya (sekarang), piangkuhe (keangkuhannya) angrikuhi (merepotkan). Hanya memegang perkataan orang dahulu yang tiak jujur, berlarut-larut sampai sekarang, keangkuhannya merepotkan.
Kepada mereka yang hanya memegang perkataan orang dahulu, yang dalam melaksanakannya sering tidak jujur karena keangkuhannya merepotkan. Angrikuhi artinya merepotkan, mengganggu, menghalangi. Maksudnya adalah dalam melaksanakan ajaran orang terdahulu sering berlaku tidak jujur akibat diganggu oleh rasa angkuh dalam hati. rasa angkuh itu kemudian menimbulkan beberapa tindakan tidak terpuji, seperti akan diuraikan dalam bait berikutnya.
Kajian Nayakawara (2:3-4): Minangka Sudarsaneng Dasih
Pupuh 2, bait 3-4, Dhandhanggula ( metrum: 10i, 10a, 8e, 7u, 9i, 7a, 6u, 8a, 12i, 7a), Serat Nayakawara, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Ingkang môngka sudarsanèng dasih,
kang sinihan ing jêng sri narendra,
ginêmpilan kamulyane.
Ing pangkat sama sinung,
kawibawan angrèh wadyalit,
ingkang sumiwèng praja,
myang kang anèng dhusun.
Winênangkên darbènana,
pamêtune ing bumi desa kang dadi,
bawah lêlungguhira.
Binubuhan rumêksa wadyalit,
ingkang ana jroning bawahira,
pinriha tata têntrême.
Wit sira kang ananggung,
aja ana kang laku juti,
dèn padha angèstokna,
wiradating ratu.
Wêruhna mring upa jiwa,
adarbea rajakaya karang kitri,
mrih jênak dènnya wisma.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Yang sebagai teladan bagi rakyat,
yang dikasihi oleh Kanjeng Sri Narendra,
diberi sedikit dari kemuliaannya.
Dalam pangkat sama-sama mempunyai,
kewibawan memerintah rakyat kecil,
yang menghadap ke kotaraja,
dan yang ada di desa-desa.
Diberi wewenang memiliki,
hasilnya dari tanah di desa yang menjadi,
wilayah kedudukanmu.
Diserahi tugas tambahn menjaga rakyat kecil,
yang ada dalam kekuasaanmu,
upayakanlah agar teratur dan tenteram.
Karena engkau yang menanggung,
jangan ada yang berbuat jahat,
harap semua melaksanakan,
kehendak dari raja.
Ketahuilah pada cara mencari penghasilan,
milikilah hewan ternak dan tanaman produktif,
agar tenang engkau dalam berumah tangga.
Kajian per kata :
Ingkang (yang) môngka (sebagai) sudarsanèng (teladan bagi) dasih (kawula, rakyat), kang (yang) sinihan (dikasihi) ing (oleh) jêng (Kanjeng) sri (Sri) narendra (Narendra), ginêmpilan (dicuilkan, diberikan sedikit) kamulyane (kemuliaannya). Yang sebagai teladan bagi rakyat, yang dikasihi oleh Kanjeng Sri Narendra, diberi sedikit dari kemuliaannya.
Punggawa yang demikian itu, yang cakap, bijaksana dan pandai mengelola negara, adalah teladan bagi para abdi dan rakyat. Dikasihi oleh raja karena mampu menjadi pembantu yang baik. Pasti akan diberikan sedikit dari kemuliaan raja kepadanya.
Ginempilan dari kata gempil, artinya cuil sedikit. Maknanya kemuliaan raja akan dicuilkan sedikit untuk dibagi kepadanya. Raja adalah simbol kemuliaan, jika rajanya mulia maka para punggawanya pun akan kecipratan kemuliaan itu. Akan dicintai oleh para kawula dan bawahannya. Sebaliknya jika raja dzalim, maka para punggawa pun terkena imbasnya, yakni dibenci rakyat.
Ing (dalam) pangkat (pangkat) sama (sama-sama) sinung (menmpunyai), kawibawan (kewibawaan) angrèh (memerintah) wadyalit (rakyat kecil), ingkang (yang) sumiwèng (menghadap) praja (negara), myang (dan) kang (yang) anèng (ada di) dhusun (desa). Dalam pangkat sama-sama mempunyai, kewibawan memerintah rakyat kecil, yang menghadap ke kotaraja, dan yang ada di desa-desa.
Dalam pangkat sama-sama memiliki kewibawaan dari raja. Sama-sama dihormati oleh rakyat. Dalam memerintah rakyat kecil yang menghadap raja di kotaraja maupun yang ada di desa-desa. Punggawa adalah wakil raja di desa-desa, jadi penghormatan rakyat pun tergantung pula kewibawaan raja. Sebaliknya punggawa yang bersikap baik akan semakin menambah kewibawaan raja. Itulah maka keduanya tak terpisahkan, sama-sama menjaga kewibawaan negara secara keseluruhan.
Winênangkên (diberi wewenang) darbènana (memiliki), pamêtune (hasilnya) ing (di) bumi (tanah) desa (desa) kang (yang) dadi (jadi), bawah (wilayah) lêlungguhira (kedudukanmu). Diberi wewenang memiliki, hasilnya dari tanah di desa yang menjadi, wilayah kedudukanmu.
Kepada para punggawa diberi wewenang memiliki hasil dari tanah di desa yang menjadi wilayah kedudukannya. Seorang punggawa pun ibarat raja kecil di wilayahnya. Inilah maksud dari ginempilan kamulyan, dicuilkan kemuliaan raja, yang telah disinggung pada bait yang lalu.
Binubuhan (diserahi tugas tambahan) rumêksa (menjaga) wadyalit (rakyat kecil), ingkang (yang) ana (ada) jroning (dalam) bawahira (kekuasaanmu), pinriha (upayakanlah) tata (teratur) têntrême (dan tenteram). Diserahi tugas tambahn menjaga rakyat kecil, yang ada dalam kekuasaanmu, upayakanlah agar teratur dan tenteram.
Selain itu juga ditambahkan tugas menjaga rakyat kecil yang berada di bawah kekuasaannya. Menjaga ketenteraman agar mereka dapat bekerja dengan tenang. Kehidupan teratur dan tertib. Berkarya menjadi leluasa. Kalau wilayahnya rusuh hasil bumi pun tak keluar dengan maksimal. Apalagi kalau sampai banyak pencuri dan perampok. Maka tugas punggawa untuk menjaga ketenteraman masing-masing wilayah.
Wit (karena) sira (engkau) kang (yang) ananggung (menanggung), aja (jangan) ana (ada) kang (yang) laku (berbuat) juti (jahat), dèn (harap) padha (semua) angèstokna (melaksanakan), wiradating (kehendak) ratu (raja). Karena engkau yang menanggung, jangan ada yang berbuat jahat, harap semua melaksanakan, kehendak dari raja.
Karena engkau sebagai punggawa wajib menanggung, jangan sampai ada perbuatan jahat di wlayahmu. Laksanakan kehendak raja, mewujudkan ketenteraman untuk seluruh negara.
Wêruhna (ketahuilah) mring (pada) upa jiwa (mencari penghasilan), adarbea (milikilah) rajakaya (hewan ternak) karang kitri (pohon yang produktif, mrih (agar) jênak (tenang) dènnya (dalam engkau) wisma (berumah tangga). Ketahuilah pada cara mencari penghasilan, milikilah hewan ternak dan tanaman produktif, agar tenang engkau dalam berumah tangga.
Juga ketahuilah cara mencari penghasilan. Milikilah hewan ternak dan tanaman produktif. Dengan kedua hal itu rakyat hidup makmur sejahtera. Kebutuhan mereka tercukupi. Sandang pangan tiada kekurangan. Kehidupan rumah tangga mereka menjadi tenang. Tidak saling tengkar memperebutkan jatah.
Kepada para punggawa pun boleh memiliki ternak dan tanaman produktif ini. Agar mereka dapat hidup lebih makmur. Agar mereka tidak ngomel-ngomel mengeluhkan penghasilan sebagai punggawa negara. Kalau bisa melakukan ini, memberdayakan tanah-tanah garapan agar lebih produktif maka itu lebih baik.
Kajian Nayakawara (2:5-6): Wruha Limang Prekara
Pupuh 2, bait 5-6, Dhandhanggula ( metrum: 10i, 10a, 8e, 7u, 9i, 7a, 6u, 8a, 12i, 7a), Serat Nayakawara, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Yèku wajibing punggawa mantri,
pamardine mring wadya ing desa,
dènnya bantoni prajane,
ngrewangi ratunipun.
De pangrèh mring wadyagêng alit,
ingkang sumiwèng praja,
wruhêna ing khukum,
wicara lan tata krama,
myang kagunan kalakuan ingkang bêcik,
dadya piandêlira.
Wardining kang wasita jinarwi,
wruh ing khukum iku watêkira,
adoh marang kanisthane.
Pamicara puniku,
wèh rêsêpe ingkang miyarsi.
Tata krama punika,
ngadohkên panyêndhu.
Kagunan iku kinarya,
ngupaboga dene kalakuan bêcik,
wèh rahayuning raga.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia :
Yaitu kewajiban punggawa dan mantri,
memberdayakan kepada bawahan di desa,
dalam dia membantu negaranya,
menjadi pembantu dari rajanya.
Adapun dalam memerintah pada bawahan yang besar dan kecil,
yang menghadap ke kotaraja,
ketahuilah dalam hukum,
tata bicara dan tata krama,
dan kepandaian kelakuan yang baik,
jadikan andalanmu.
Makna dari pesan itu diartikan,
mengetahui hukum wataknya,
jauh dari kenistaan.
Menguasai tata bicara itu,
memberi rasa senang kepada yang mendengar.
Mengerti tatakrama itu,
menjauhkan celaan.
Kepandaian itu sebagai,
sarana mencari penghasilan adapun kelakuan baik,
memberi keselamatan diri.
Kajian per kata :
Yèku (yaitu) wajibing (kewajiban) punggawa (punggawa) mantri (mantri), pamardine (memberdayakan) mring (kepada) wadya (bawahan) ing (di) desa (desa), dènnya (dalam dia) bantoni (membantu) prajane (negaranya), ngrewangi (menjadi pembantu dari) ratunipun (rajanya). Yaitu kewajiban punggawa dan mantri, memberdayakan kepada bawahan di desa, dalam dia membantu negaranya, menjadi pembantu dari rajanya.
Itulah kewajiban seorang punggawa dan mantri. Memberdayakan masyarakat di desa. Para bawahan dan rakyat agar dapat mengelola tanah mereka secara produktif. Punggawa adalah pembantu raja dalam mengelola negara. Harus mampu menjadi wakil raja dalam memerintah rakyat, agar tercapai kemakmuran.
Konsep zaman dahulu seorang pemimpin bukanlah pelayan masyarakat. Pemimpin adalah wakil tuhan di bumi yang berusaha mewujudkan perintah Tuhan, melindungi, mengayomi dan memberikan kemakmuran. Raja mempunyai kehendak sebagai terjemahan kehendak Tuhan, agar dilaksanakan oleh seluruh rakyat. Para punggawa adalah penyambung titah raja agar sampai kepada rakyat. Konsep ini tentu beda dengan konsep kepemimpinan demokrasi modern yang menempatkan pejabar sebagai pelayan rakyat. Dalam konsep lama punggawa wajib menjadi teladan, mampu berbuat baik dan mewujudkan kemakmuran. Syarat menjadi punggawa dengan demikian amatlah berat. Mereka harus mempunyai kemampuan dan rasa welas asih kepada rakyat, sebagaimana watak seorang raja. Beda dengan syarat menjadi punggawa di zaman sekarang. Cukup punya duit untuk mengatrol elektabilitas, beres sudah.
De (adapun) pangrèh (memerintah) mring (pada) wadyagêng (bala yang besar) alit (dan kecil), ingkang (yang) sumiwèng (menghadap) praja (ke kotaraja), wruhêna (ketahuilah) ing (dalam) khukum (hukum), wicara (tata bicara) lan (dan) tata krama (tatakrama), myang (dan) kagunan (kepandaian, keahlian) kalakuan (perilaku) ingkang (yang) bêcik (baik), dadya (menjadi) piandêlira (andalanmu). Adapun dalam memerintah pada bawahan yang besar dan kecil, yang menghadap ke kotaraja, ketahuilah dalam hukum, tata bicara dan tata krama, dan kepandaian kelakuan yang baik, jadikan andalanmu.
Adapun dalam mengelola negara seorang punggawa wajib mempunyai 5 sifat. Yakni: mengetahui hukum, menguasai tata bicara, menguasai tatakrama, menguasai keahlian tertentu dan berkelakuan baik. Mengapa lima sifat itu perlu dikuasai oleh seorang punggawa? Marilah kita pelajari satu per satu dalam uraian di bawah ini.
Wardining (makna dari) kang (yang) wasita (pesan, wasiat) jinarwi (diartikan), wruh (mengetahui) ing (dalam) khukum (hukum) iku (itu) watêkira (wataknya), adoh (jauh) marang (dari) kanisthane (kenistaan). Makna dari pesan itu diartikan, mengetahui hukum wataknya, jauh dari kenistaan.
Makna dari pesan di atas tentang 5 sifat seorang punggawa adalah: yang pertama, mengetahui hukum. Orang yang mengetahui hukum akan jauh dari kenistaan. Hukum di sini adalah segala aturan main tang perlu dipatuhi oleh manusia. Bisa hukum agama, negara atau hukum penciptaan. Orang yang mengetahui itu semua akan tahu mana yang tidak boleh dan mana yang boleh dikerjakan. Dia akan tahu konsekuensi dari tiap perbuatannya.
Pamicara (menguasai tata bicara) puniku (itu), wèh (memberi) rêsêpe (rasa senang) ingkang (yang) miyarsi (mendengar). Menguasai tata bicara itu, memberi rasa senang kepada yang mendengar.
Menguasai tata bicara akan membuat seseorang mampu menyampaikan maksud dengan baik. Mampu memilih kata-kata yang menyenangkan orang lain. Mampu berkomikasi dengan luwes. Lawan bicara pun akan senang mendengarnya. Istilahnya, perkataannya bisa ndudut ati, menarik hati sehingga lawan bicara pun bersikap baik. Kemampuan seperti ini perlu dimiliki seorang punggawa. Oleh karena seorang punggawa kadang harus melakukan sesuatu hal yang tidak populer di mata rakyat, namun harus dilakukan untuk kepentingan negara. Nah kalau mampu mengkomunikasikan dengan baik tentu lebih mudah bagi orang banyak untuk menerima.
Tata krama (tata krama) punika (itu), ngadohkên (menjauhkan) panyêndhu (celaan). Mengerti tatakrama itu, menjauhkan celaan.
Seorang yang menguasai tata krama akan mampu bersikap sopan santun dalam pergaulan. Mampu menjaga harkat dan martabat dirinya. Mampu membawa diri di tengah masyarakat. Orang seperti ini akan terlihat berwibawa dan disegani. Jauh dari celaan.
Kagunan (kepandaian) iku (itu) kinarya (sebagai), ngupaboga (mencari makan, mencari penghasilan) dene (adapun) kalakuan (kelakuan) bêcik (baik), wèh (memberi) rahayuning (keselamatan) raga (diri). Kepandaian itu sebagai, sarana mencari penghasilan adapun kelakuan baik, memberi keselamatan diri.
Adapun tentang keahlian, hal itu berguna untuk sarana mencari penghasilan. Seorang yang mempunyai kepandaian tertentu akan dibutuhkan orang, dan akan mendapat penghasilan dari keahliannya itu. Jika dia seorang pejabat karir maka pasti akan mendapat promosi sesuai keahliannya itu. Jika dia seorang kebanyakan maka dia dapat bekerja secara bebas. Para punggawa hendaknya juga dapat memberdayakan rakyatnya agar mempunyai keahlian tertentu. Akan lebih baik kalau mampu mengadakan pelatihan atau kursus-kursus kepada masyarakat. Dengan demikian kesejahteraan masyarakat meningkat.
Yang terakhir, hendak setiap orang berkelakuan baik. Mengenai hal ini tidak perlu lagi diuraikan manfaatnya. Sudah jelas orang yang berkelakuan baik adalah orang-orang pilihan. Orang-orang itu akan selamat di dunia dan akhirat.
Kajian Nayakawara (2:7-8): Dadya Cahyaning Praja
Pupuh 2, bait 7-8, Dhandhanggula ( metrum: 10i, 10a, 8e, 7u, 9i, 7a, 6u, 8a, 12i, 7a), Serat Nayakawara, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Rambah malih tumanjaning pamrih,
karya gayuh sihirèng narendra,
adol bêcik mring prajane,
mrih alêm kancanipun,
dadya srana marang utami.
Upama kalakona,
ujar kang puniku,
adoh jalaraning ala,
ratu mulya punggawa mantri prayogi,
urip cahyaning praja.
Anglir wulan sadangune kandhih,
dening ima sinrang ing maruta,
sumêblak padhang lawêne.
Ujwalanira campuh,
lan usara têmah martani,
mring sakèh tarulata.
Ingkang mêntas alum,
ing siyang kataman surya,
sami nglilir sêgêre ambabar sari,
surasane kang praja.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia :
Mengulang lagi manfaat dalam pamrih,
sebagai sarana bagimu memperoleh kasih raja,
menjual kebaikan bagi negara,
dan agar dipuji teman,
menjadi sarana menuju yang utama.
Andai terjadi,
perkataan yang seperti itu,
jauh dari menjadi sebab keburukan,
raja mulia punggawa dan mantri lebih baik,
hidup menjadi cahaya bagi negara.
Seperti bulan selama tertutup,
oleh mendung yang diterjang oleh angin,
terang benderang cahayanya.
Sinarnya bercampur,
dengan embun sehingga menyejukkan,
pada semua pepohonan.
Yang baru saja layu,
di siang terkena panas matahari,
semua bangun segar kembali mengeluarkan bunga,
itulah isyarat keadaan negara.
Kajian per kata :
Rambah (mengulang) malih (lagi) tumanjaning (manfaatnya dalam) pamrih (pamrih), karya (sebagai sarana) gayuh (mencapai, memperoleh) sihirèng (kasihmu oleh) narendra (raja), adol (menjual) bêcik (kebaikan) mring (pada) prajane (negaranya), mrih (agar) alêm (dipuji) kancanipun (temannya), dadya (menjadi) srana (sarana, jalan) marang (menuju) utami (yang utama). Mengulang lagi manfaat dalam pamrih, sebagai sarana bagimu memperoleh kasih raja, menjual kebaikan bagi negara, dan agar dipuji teman, menjadi sarana menuju yang utama.
Mengulang lagi kepada manfaat dari berbuat baik. Ada pendapat bahwa seorang berbuat baik hanya untuk memoperoleh kasih dari raja. Mereka seolah menjual kebaikan terhadap negaranya, atau agar mendapat pujian dan menjadi sarana agar mendapat keutamaan dari negara. Artinya bahwa kebaikan itu tidak dilakukan dengan ikhlas, hanya dalam sisi lahirahnya saja. Kebaikan yang ditunjukkan mempunyai pamrih terhadap keuntungan pribadi. Lalu bagaimana sikap kita terhadap hal ini ?
Upama (andai) kalakona (terjadi), ujar (perkataan) kang (yang) puniku (seperti itu), adoh (jauh) jalaraning (menjadi sebab) ala (keburukan), ratu (raja) mulya (mulia) punggawa (punggawa) mantri (mantri) prayogi (lebih baik), urip (hidup) cahyaning (sebagai dahaya) praja (negara). Andai terjadi, perkataan yang seperti itu, jauh dari menjadi sebab keburukan, raja mulia punggawa dan mantri lebih baik, hidup menjadi cahaya bagi negara.
Andai apa yang disebut dalam perkataan itu benar, bahwa seseorang berbuat baik hanya demi mendapat kasih raja dan pujian teman, maka yang demikian itu tak jadi soal. Dalam urusan hati orang tidak bisa melihat isi hati orang lain. Entah apakah motif seseorang dalam berbuat baik, menjadi punggawa yang tekun dan penuh pengabdian itu baik untuk negara. Jika dia melakukan untuk suatu pamrih itu juga tidak apa. Jika dia melakukan sebagai bakti kepada raja dan sebagai rasa syukur kepada Tuhan itu lebih baik lagi. Yang melakukan dengan motif duniawi untuk kepentingan sendiri pun mendapatkan apa yang diinginkan. Yang melakukan dengan ikhlas pun akan mendapat anugrah yang berlipat ganda. Kedua hal itu tidaklah menjadi persoalan. Yang jadi soal adalah punggawa yang tidak melakukan kebaikan apapun, dengan motif yang manapun sudah pasti buruk.
Oleh karena itu menjadi punggawa, mantri atau raja hendaklah tetap berbuat baik, bisa menjadi cahaya bagi negara.
Anglir (seperti) wulan (bulan) sadangune (selama) kandhih (tertutup), dening (oleh) ima (mendung) sinrang (diterjang) ing (oleh) maruta (angin), sumêblak (terang) padhang (benderang) lawêne (cahayanya). Seperti bulan selama tertutup, oleh mendung yang diterjang oleh angin, terang benderang cahayanya.
Kebaikan punggawa, entah apapun motifnya, perumpamaannya seperti bulan yang tertutup mendung, hilanglah cahayanya. Karena diterjang angin mendung menyingkir, menjadi terang benderanglah cahayanya.
Ujwalanira(sinarnya) campuh (bercampur), lan (dengan) usara (embun) têmah (sehingga) martani (menyejukkan), mring (pada) sakèh (semua) tarulata (pepohonan). Sinarnya bercampur dengan embun sehingga menyejukkan, pada semua pepohonan.
Cahaya bulan yang terang bercampur dengan embun malam, sehingga menimbulkan kesejukan, pada semua pepohonan. Hawa pun menjadi dingin, baik untuk manusia. Menenteramkan suasana, tenang, hening dan terang. Suasana sinar rembulan yang sejuk ini membuat tenteram hati manusia. Anak-anak berkumpul untuk bermain dalam suasana sukaria. Para orang tua bercengkerama menikmati indahnya pemandangan malam.
Ingkang (yang) mêntas (baru saja) alum (layu), ing (di) siyang (siang) kataman (terkena) surya (matahari), sami (semua) nglilir (bangun) sêgêre (segar kembali) ambabar (mengeluarkan) sari (bunga), surasane (isyaratnya) kang (yang) praja (negara). Yang baru saja layu, di siang terkena panas matahari, semua bangun segar kembali mengeluarkan bunga, itulah isyarat keadaan negara.
Tanaman yang di siang hari layu oleh terik sinar matahari terkena tetesan embun menjadi segar kembali. Yang layu menjadi bangun dan mengeluarkan bunga. Aromanya tertiup angin semilir semerbak kemana-mana. Inilah isyarat atau perumpamaan suasana negara yang para punggawa mantrinya berbuat baik. Bagaimana makna perumpamaan tersebut? Penjelasannya secara gamblang akan disampaikan dalam bait berikutnya.
Kajian Nayakawara (2:9-10): Anglir Wulan Kang Padhang
Pupuh 2, bait 9-10, Dhandhanggula ( metrum: 10i, 10a, 8e, 7u, 9i, 7a, 6u, 8a, 12i, 7a), Serat Nayakawara, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Kang minôngka wulan sri bupati,
ima iku pêpêtênging praja,
kang ulah silip sakabèh.
Dene marutanipun,
patih lawan punggawa mantri,
ingkang murinèng praja,
ngowêl ratunipun.
Padhanging wulan upama,
tyas narendra ujwala prentah kang mijil,
tumrap ing wong sapraja.
Kang usara ibarate adil,
taru wadya kang sumiwèng praja,
lata wong ing desa kabèh.
Sari sanepanipun,
enggarira wadyagêng alit,
jujur jênjêming driya,
cukup uripipun.
Mangkana ta sulangira,
lamun praja kèh dursila angribêdi,
tamtu ratu sungkawa.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia :
Yang sebagai bulan adalah raja,
awan itu ibarat bagi kejahatan dalam negara,
dari polah orang yang menyeleweng semuanya.
Adapun anginnya,
patih dan punggawa mantri,
yang marah atas kejahatan itu,
karena sayang pada raja.
Terangnya sinar bulan seumpama,
hati raja yang bersinar memberi perintah yang keluar,
bagi orang senegara.
Yang disebut embun ibaratnya keadilan,
pohon adalah para balatentara yang ada di negara,
daun adalah rakyat di desa semuanya.
Bunga kiasan untuk,
senangnya hati bawahan dan rakyat,
jujur tenangnya hati,
kecukupan hidupnya.
Demikain penjelasannya,
kalau negara banyak kejahatan merepotkan,
tentu raja bersedih.
Kajian per kata :
Kang (yang) minôngka (sebagai) wulan (bulan) sri bupati (raja), ima (awan, mendung) iku (itu) pêpêtênging (bencana, kejahatan) praja (negara), kang (yang) ulah (berulah) silip (menyeleweng) sakabèh (semuanya). Yang sebagai bulan adalah raja, awan itu ibarat bagi kejahatan dalam negara, dari polah orang yang menyeleweng semuanya.
Kita kupas perumpamaan tentang bulan ini. Yang sebagai bulan adalah raja, awan yang menutup bulan adalah segala kejahatan yang ada di negara itu. Adanya banyak kejahatan membuat bulan tertutup sinarnya. Cahaya bulan tidak sampai ke bumi, tidak menyinari tanaman dan segala makhluk lainnya. Gelap gulita tak ada cahaya. Ini ibarat sang raja sedang bersedih sehingga tampak murung tak bersinar wajahnya.
Dene (adapun) marutanipun (anginnya), patih (patih) lawan (dan) punggawa (punggawa) mantri (mantri), ingkang (yang) murinèng (marah atas semua itu) praja (negara), ngowêl (sayang) ratunipun (pada rajanya). Adapun anginnya, patih dan punggawa mantri, yang marah atas kejahatan itu, karena sayang pada raja.
Adapun angin yang mengusir awan itu adalah perumpamaan dari patih dan segenap punggawa mantri. Mereka merindukan keramahan sang raja, mereka sayang kepada rajanya. Maka mereka marah atas maraknya kejahatan sehingga membuat sang raja sedih. Segera mereka bertindak mengusir kejahatan, seperti angin mengusir awan.
Padhanging (terangnya sinar) wulan (bulan) upama (seumpama), tyas (hati) narendra (raja) ujwala (bersinar) prentah (perintah) kang (yang) mijil (keluar), tumrap (bagi) ing (pada) wong (orang) sapraja (senegara). Terangnya sinar bulan seumpama, hati raja yang bersinar memberi perintah yang keluar, bagi orang senegara.
Terangnya bulan itu seumpama hati sang raja yang telah bersinar gembira. Kemudian memberi perintah untuk kebaikan warganya. Dan karena awan yang menutup sudah hilang maka sinarnya sampai ke bumi, diterima pepohonan dan makhluk lainnya yang ada di muka bumi.
Kang (yang) usara (embun) ibarate (ibarat) adil (keadilan), taru (pohon) wadya (bala tentara) kang (yang) sumiwèng (menghadap) praja (negara), lata (daun) wong (orang) ing (di) desa (desa) kabèh (semua). Yang disebut embun ibaratnya keadilan, pohon adalah para balatentara yang ada di negara, daun adalah rakyat di desa semuanya.
Yang disebut embun seumpama keadilan, pohonnya adalah para balatentara yang menghadap raja, sedangkan dedaunannya adalah rakyat kecil di pedesaan. Jika awan yang menutupi sudah hilang sinar rembulan sampai ke muka bumi. Sama halnya, jika para punggawa bertindak tegas memberantas kejahatan segala perintah raja dapat dilaksanakan tanpa halangan yang berakibat munculnya kemakmuran bagi seluruh rakyat, tercipta keadilan dan terwujud kesejahteraan.
Sari (bunga) sanepanipun (kiasan untuk), enggarira (senang hati) wadyagêng (bawahan) alit (dan rakyat), jujur (jujur) jênjêming (tenangnya) driya (hati), cukup (kecukupan) uripipun (hidupnya). Bunga kiasan untuk, senangnya hati bawahan dan rakyat, jujur tenangnya hati, kecukupan hidupnya.
Perumpamaan dari bunga adalah senang hatinya bawahan, balatentara dan rakyat kecil. Kehidupan mereka jujur dan tenang hatinya, berkecukupan sandang dan pangan. Inilah bunga dari sebuah negara. Kalau rakyat sejahtera dan tenteram serta berkecukupan negara itu tampak indah dipandang mata.
Mangkana ta (demikian) sulangira (penjelasannya), lamun (kalau) praja (negara) kèh (banyak) dursila (kejahatan) angribêdi (merepotkan), tamtu (tentu) ratu (raja) sungkawa (bersedih). Demikain penjelasannya, kalau negara banyak kejahatan merepotkan, tentu raja bersedih.
Sebaliknya, kalau negara banyak kejahatan maka ibarat bulan tertutup mendung, sinarnya tak terlihat. Ini ibarat raja yang sedang bersedih.
Demikianlah penjelasan dari perumpamaan bulan yang tertutup awan.
Kajian Nayakawara (2:11-12): Panutup
Pupuh 2, bait 11-12, Dhandhanggula ( metrum: 10i, 10a, 8e, 7u, 9i, 7a, 6u, 8a, 12i, 7a), Serat Nayakawara, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Wajib patih lan punggawa mantri,
kang birata mêmala durcara,
kabèh praja sêsukêre.
Supaya sang aprabu,
lêjaring tyas angudanèni,
mring solah bawanira,
ing wadya sawêgung,
kang bêcik lawan kang ala.
Awit ratu môngka wakiling Hyang Widhi,
nanggung umat sapraja.
Lamun ratu wus prastawèng galih,
èstu karya parentah utama,
sumrambah mring praja kabèh.
Sapangkat-pangkatipun,
dènnya murih mulyaning dasih.
Yèn sampun kalampahan,
kadya kang winuwus,
nêtêpi nagara arja,
kontabing lyan kèh ngayubagya mêmuji.
Yeku cahyaning praja.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia :
Kewajiban patih dan punggawa mantri,
yang menghilangkan penyakit dan kejahatan,
semua masalah negara.
Agar sang raja,
longgar hatinya mengabulkan,
pada semua polah tingkahmu,
pada bawahan semuanya,
yang baik dan yang buruk.
Karena raja sebagai wakil dari Tuhan Yang Maha Benar,
menanggung umat senegara.
Kalau raja sudah tenang dalam hati,
sungguh membuat perintah utama,
mengalir kepada negara semuanya.
Apapun pangkatnya,
dalam dia mengupayakan kemuliaan rakyat.
Kalau sudah tercapai,
seperti yang sudah dikatakan,
menurut negara makmur,
terkenal bagi orang lain bnyak yang kut senang dan memuji.
Ya itulah cahaya bagi negara.
Kajian per kata :
Wajib (kewajiban) patih (patih) lan (dan) punggawa (punggawa) mantri (mantri), kang (yang) birata (menghilangkan) mêmala (penyakit) durcara (kejahatan), kabèh (semua) praja (negara) sêsukêre (penghalang, masalah). Kewajiban patih dan punggawa mantri, yang menghilangkan penyakit dan kejahatan, semua masalah negara.
Setelah kita paham perumpamaan tadi, menjadi jelaslah bahwa mengusir kejahatan adalah tugas para punggawa dan mantri dengan dipimpin patih sebagai pelaksana pemerintahan. Bekerja keras menghilangkan segala penghalang, penyebab kesialan dari negara, yakni segala tindak kejahatan. Baik kejahatan kerah hitam atau kerah putih, pencuri atau koruptor, dan aneka bentuk laku durjana yang lain.
Supaya (agar) sang (sang) aprabu (raja), lêjaring (longgar) tyas (hati) angudanèni (mengabulkan), mring (pada) solah (polah) bawanira (tingkahmu), ing (pada) wadya (bawahan) sawêgung (semuanya), kang (yang) bêcik (baik) lawan (dan) kang (yang) ala (buruk). Agar sang raja, longgar hatinya mengabulkan, pda semua polah tingkahmu, pada bawahan semuanya, yang baik dan yang buruk.
Agar sang raja longgar hatinya sehingga dapat mengabulkan segala keinginanmu, merestui segala tingkah-polahmu dan juga kepada semua bawahan, yang buruk atau yang baik. Asalkan engkau sebagai punggawa bertindak sungguh-sungguh dalam mengabdikan diri kepada negara dab berbakti kepada raja.
Awit (karena) ratu (raja) môngka (sebagai) wakiling (wakil) Hyang (Tuhan) Widhi (Maha Benar), nanggung (menanggung) umat (umat) sapraja (senegara). Karena raja sebagai wakil dari Tuhan Yang Maha Benar, menanggung umat senegara.
Karena raja adalah wakil Tuhan di muka bumi, maka dialah yang akan menanggung semua akibat dari jalannya pemerintahannya. Kepadanya akan dimintai tanggung jawab,
Lamun (kalau) ratu (raja) wus (sudah) prastawèng (tenang dalam) galih (hati), èstu (sungguh) karya (membuat) parentah (perintah) utama (utama), sumrambah (mengalir) mring (kepada) praja (negara) kabèh (semuanya). Kalau raja sudah tenang dalam hati, sungguh membuat perintah utama, mengalir kepada negara semuanya.
Kalau raja sudah terjamin keamanannya dalam bekerja, tanpa diganggu oleh aneka kejahatan dia dapat fokus memikirkan warga. Negara menjadi sejahtera, rakyatpun sentosa. Segala kemuliaan raja akan mengalir kepada para punggawanya, juga kepada para bawahan dan rakyat kebanyakan.
Sapangkat–pangkatipun (apaun pangkatnya), dènnya (dalam dia) murih (mengupayakan) mulyaning (kemuliaan bagi) dasih (rakyat). Apapun pangkatnya, dalam dia mengupayakan kemuliaan rakyat.
Semua orang dari segala pangkat dan kedudukan, selalu mengupayakan kemuliaan bagi rakyat. Segenap warga negara satu kehendak untuk mewujudkan kesejahteraan.
Yèn (kalau) sampun (sudah) kalampahan (tercapai), kadya (seperti) kang (yang) winuwus (sudah dikatakan), nêtêpi (menurut) nagara (negara) arja (makmur), kontabing (terkenal bagi) lyan (orang lain) kèh (banyak) ngayubagya (ikut senang) mêmuji (dan memuji). Kalau sudah tercapai, seperti yang sudah dikatakan, menurut negara makmur, terkenal bagi orang lain bnyak yang kut senang dan memuji.
Kalau keadaan demikian sudah tercapai, yakni seluruh warga negara satu kehendak untuk mencapai kesejahteraan, maka berlakulah ketetapan Tuhan, negara akan makmur sejahtera. Masing-masing dapat bekerja sesuai bidangnya. Maka kemajuan menjadi niscaya tercapai. Negeri aman makmur sentosa. Dihormati negara lain. Dipuji dan dicontoh oleh negara tetangga.
Yeku (yaitulah) cahyaning (cahaya bagi) praja (negara). Ya itulah cahayanya negara.
Negeri itu laksana cahaya yang bersinar terang diantara bangsa-bangsa dunia.
Cukup sekian kajian serat Nayakawara.
PENGUNGKAPAN ISi DAN LATAR BELAKANG NASKAH KUNO JAWA TENGAH SERAT NAYAKAWARA (PDF FREE DOWNLOAD) :

.jpg)