Raden Sudamala

0

Raden Sudamala

 

 


Di Kerajaan Astina, Prabu Duryudana dihadap Patih Sangkuni dan para Kurawa. Dalam pertemuan agung itu, Prabu Duryudhana sedang bertukar pendapat dengan Patih Sangkuni perihal mengurangi kekuatan Pandawa Lima yang terdiri dari Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa.

 

“Paman Sangkuni, bagaimana cara kita mengurangi kekuatan Pandawa Lima agar dalam perang besar Baratayuda nanti, Kurawa unggul?” kata Prabu Duryudana.

 

“Perkara tersebut sebaiknya kita serahkan saja pada Kakang Resi Bagawan Durna,” jawab Sangkuni.

 

“O, ya, sang Prabu. Bapa Bagawan tak keberatan, nanti Bapa yang akan merencanakan supaya kekuatan Pandawa Lima berkurang!” kata Bagawan Durna menyambung ucapan Patih Sangkuni.

 

Ketika mereka sedang seru berdebat, tiba-tiba di luar istana ada dua raksasa yang hendak menghadap Prabu Duryudana. Setelah dipersilakan naik ke sitinggil Astina dan menghadap Prabu Duryudana, mereka pun menyampaikan maksud kedatangan mereka. Mereka ingin menjadi murid Bagawan Durna sekaligus ingin diruwat seperti layaknya manusia utama.

 

Bagawan Durna yang memiliki Serat Pangruwating Diyu bersedia meruwat raksasa Kalanjaya dan Kalantaka asalkan mereka dapat mempersembahkan lima manusia yang semuanya laki-laki dan masih bersaudara. Yang dimaksudkan adalah Pandawa Lima.

 

Kalanjaya dan Kalantaka menyanggupinya. Pergilah mereka ke Kerajaan Amarta tempat Pandawa Lima.

 

Alkisah, di Padepokan Prangalas, Bagawan Tambrapetra ditangisi oleh anak putrinya bernama Dewi Soka. Dewi Soka memiliki seorang adik bernama Dewi Pradapa. Sejak kecil, keduanya telah menjadi anak yatim karena ibu mereka telah meninggal dunia.

 

Pada suatu malam, Dewi Soka bermimpi. Ia bertemu satria tampan dari Kesatrian Bumiratawu, bernama Raden Sadewa. Dalam mimpinya, Raden Sadewa menyatakan cintanya pada Dewi Soka. Itulah sebabnya Dewi Soka memohon kepada ayahandanya, Bagawan Tambrapetra, untuk mencari Raden Sadewa di Kasatrian Bumiratawu.

 

Pagi-pagi benar, Bagawan Tambrapetra bersama dua orang putrinya berangkat ke Kesatriyan Bumiratawu mencari Raden Sadewa. Perjalanan mereka melewati hutan dan menyeberangi sungai. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan dua raksasa, Kalanjaya dan Kalantaka. Mereka hendak dijadikan istri, tetapi Dewi Soka dan Dewi Pradapa tidak mau. Mereka dikejar-kejar oleh dua raksasa yang kejam dan bengis tersebut.

 

Mereka akhirnya tiba di Kerajaan Amarta. Mereka mohon perlindungan Prabu Yudistira. Prabu Yudistira mengutus Raden Sadewa untuk menumpas raksasa Kalanjaya dan Kalantaka. Terjadilah perang tanding yang sengit. Dengan segenap kekuatannya, Raden Sadewa menjambak rambut kedua raksasa itu dan mengadu kepala mereka hingga keduanya sirna.

 

Setelah kedua raksasa itu sirna, tiba-tiba berdirilah dua dewa kayangan bernama Sang Hyang Citranggada dan Sang Hyang Citrasena. Kedua dewa itu diutus oleh Batara Guru menemui Raden Sadewa untuk meruwat (memulihkan kembali ke bentuk semula) Dewi Durga di Pasetran Gandamayit.

 

Konon, di Pasetran Gandamayit, Batari Durga atau Dewi Durga mengutus jin Kalika untuk menghasut Dewi Kunti. Dewi Kunti adalah ibu Pandawa Lima. Setelah Dewi Kunti datang menghadap bersama jin Kalika, berkatalah Dewi Durga pada Dewi Kunti.

 

“Dewi Kunti, tolonglah aku. Serahkanlah anakmu si Raden Sadewa. Dia tidak akan kubunuh, tetapi hendak kumintai tolong untuk meruwat diriku dari wujud raksesi menjadi bidadari kayangan.”

 

“Permohonan sang Batari Durga akan hamba penuhi asalkan Batari mau menolong Pandawa Lima dari ancaman bahaya dua raksasa yang kejam dan bengis bernama Kalanjaya dan Kalantaka,” kata Dewi Kunti.

 

“Dewi Kunti! Dewi Kunti! Sungguh sayang benar engkau terhadap anak-anakmu. Permintaanmu kupenuhi, asalkan engkau segera menyerahkan anak bungsumu, Raden Sadewa.”

 

“Duh, sang Batari. Ijinkanlah hamba mencari anak hamba, Sadewa. Sebentar lagi anakku, sadewa, hendak kuserahkan pada sang Batari.”

 

Tanpa disengaja, setelah mengalahkan raksasa Kalanjaya dan Kalantaka, Raden Sadewa bertemu dengan ibunya, Dewi Kunti yang telah berhari-hari meninggalkan kerajaan tanpa memberi tahu kepada anak-anaknya.

 

Ketika Dewi Kunti hendak menghadapkan Raden Sadewa kepada Batari Durga, Raden Sadewa menurut saja. Setelah di hadapan Batari Durga, Dewi Kunti berkata, “Sang Batari, kuserahkan anakku si Raden Sadewa.”

 

“Sadewa, ruwatlah aku. Kembalikanlah wujudku dari wujud raseksi menjadi wujud bidadari kayangan!” kata Batari Durga.

 

“Batari Durga, aku tidak bisa!”

 

“Kau harus bisa! Sadewa, kau pasti bisa!

 

“Hamba mohon maaf, hamba tak kuasa meruwat sang Batari!”

 

Karena Raden Sadewa tidak bersedia meruwat Batari Durga, Batari Durga menjadi marah. Raden Sadewa dianiaya oleh para bajobarat (prajurit bekasaan yang terdiri dari jin, setan, peri, prayangan, genjong, warudoyong, tetekan, ilu-ilu, banaspati, gendruwo, kemamang dan sebagainya).

 

Duka nestapa yang dialami oleh Raden Sadewa yang jujur dan suci menjadikan gara-gara di Kayangan Jonggring Saloka. Batara Guru sebagai raja para dewa turun ke mayapada menemui Raden Sadewa.

 

Atas petunjuk Batara Guru, Raden Sadewa melaksanakan tugas luhur dan sucinya, yaitu meruwat Batari Durga beserta prajuritnya. Caranya, Batari Durga dan prajuritnya disuruh untuk berdiri tegak seperti teja dan bersedia bertobat mohon ampun atas segala kesalahan dan dosa-dosanya pada Sang Hyang Widhi Wasa.

 

Keajaiban pun terjadi. Batari Durga diruwat oleh Raden Sadewa dengan kekuatan Batara Guru, berubah wujud menjadi Batari Uma yang cantik jelita. Demikian pula para prajuritnya juga turut berubah menjadi para Apsara dan Apsari penuhi kayangan.

 

Dewi Uma adalah istri Batara Guru, raja para Dewa. Karena suatu kesalahan yang diperbuatnya, konon ia dikutuk oleh Batara Guru menjadi raseksi berwajah buruk. Baru setelah genap menjalani hukuman di Pasetran Gandamayit, ia diruwat oleh Raden Sadewa dari papa duhkita atau papa samsara.

 

Setelah berhasil meruwat Batari Durga dan para prajuritnya, Raden Sadewa diberi gelar Raden Sudamala (artinya yang membersihkan segala noda dan kejahatan). Raden Sadewa atau Raden Sudamala akhirnya dijodohkan dengan Dewi Soka, sedangkan Raden Nakula, saudara kembarnya dijodohkan dengan Dewi Pradapa.

 

Raden Sudamala disambut oleh para kadang Pandawa Lima sebagai pahlawan kaum muda. Teladan baktinya selalu dikenang.

 

Berbeda dengan Kurawa. Mereka gagal menumpas Pandawa Lima. Sifat iri dan dengki selalu menyelimuti hidupnya.

 

Begitulah kisah Sudamala, suatu kisah yang selalu diingat dan sering diceritakan oleh para tetua di Suku Tengger kepada anak cucu mereka.

 

 

 

Tamabahan :

Dalam cerita Sudamala, Sakula atau Nakula memperisteri Soka dan Sadewa memperisteri Padapa, setelah Sadewa menyembuhkan Tambapetra ayah dua perempuan itu (Sudamala: IV. 81).

 

Sadewa merupakan tokoh utama dalam Kakawin Sudamala, yaitu karya sastra berbahasa Jawa Kuna peninggalan Kerajaan Majapahit. Naskah ini bercerita tentang kutukan yang menimpa istri Batara Guru bernama Umayi, akibat perbuatannya berselingkuh dengan Batara Brahma. Dikisahkan bahwa Umayi berubah menjadi rakshasi bernama Ra Nini, dan hanya bisa kembali ke wujud asal apabila diruwat oleh bungsu Pandawa. Maka, Sadewa pun diculik dan dipaksa memimpin prosesi ruwatan. Setelah dirasuki Batara Guru, barulah Sadewa mampu menjalankan permintaan Ra Nini. Sadewa pun mendapat julukan baru, yaitu Sudamala yang bermakna "menghilangkan penyakit". Atas petunjuk Ra Nini yang telah kembali menjadi Umayi, Sadewa pun pergi ke desa Prangalas menikahi putri seorang pertapa bernama Tambrapetra. Gadis itu bernama Predapa.

 

Sebelum pecah Baratayuda, ada dua raksasa penjelmaan Citraganda dan Citrasena yang bernama Kalantaka dan Kalanjaya yang datang ke Astina hendak membantu kerajaan Astina. Kedua raksasa tersebut sebenarnya hanyalah jin biasa, namun karena dikutuk oleh Batara Guru akibat mengintip Batara Guru dan Dewi Uma yang sedang mandi di telaga. Kehadiran kedua raksasa tersebut tenyata menimbulkan kegusaran dalam diri Dewi Kunti. Dewi Kunti lalu memohon pada Batari Durga agar kedua raksasa tersebut dimusnahkan. Batari Durga meminta Sadewa sebagai tumbalnya. Mendengar hal itu, Dewi Kunti tidak setuju dan kemudian kembali ke Amarta. Batari Durga kemudian menyuruk Kalika, seorang jin anak buahnya untuk menyusup kedalam tubuh Dewi Kunti. Dalam keadaan kerasukan, Dewi Kunti menyuruh sadewa sebagai tumbal dan diminta menghadap Batari Durga. Sadewa pun hanya menurut perintah ibu tirinya yang telah mengasuhnya dari kecil.

 

Sesampainya di hutan, Batari Durga minta diruwat oleh Sadewa menjadi putri yang cantik. Sadewa tidak sanggup melakukannya dan lalu akan dimangsa oleh Batari Durga. Sang Hyang Narada yang mengetahui hal itu lalu melaporkannya pada Batara Guru. Batara Guru lalu merasuk kedalam tubuh Sadewa dan meruwat Batari Durga. Kemudian kedua raksasa jelmaan Citraganda dan Citrasena dimusnahkan. Cerita ini dikenal dengan lakon Sudamala.

 

Sumber: Cerita Rakyat dari Tengger

 

 

 

Sudamala (versi 2)

Batara Guru dan Batari Uma, yang sedang melanglang buana, busana Batari Uma tersingkap oleh angin, sehingga tergugah hasrat Batara Guru. Namun kenginan batara Guru ditolak oleh Batari Uma, maka batara Guru mengutuk batari Uma menjadi raseksi bernama Batari Durga, dan tinggal di hutan Setra ganda Mayit menguasai jin dan setan. Untuk merubah wujud Batari Durga kembali semula harus diruwat oleh sadewa.

 

Di Negara Astina, kedatangan dua orang raksasa Kolonjaya dan kalantaka yang bersedia membantu menumpas Pandawa bersama para prajurit astina. Di tengah perjalanan dihadang oleh Raden gatotkaca dan para putra Pandawa, sehingga terjadi pertempuran yang dimenangkan para Kurawa.

 

Para Pandawa yang sedang bermuram durja, dihadapkan Prabu Kresna membicarakan perihal Dewi Kunti yang sedang menderita sakit dan belum ditemukan cara penyembuhannya, sedangkan Raden sadewa yang diutus untuk menghadap Resi Abiyasa, belum kunj*ung tiba. Tak lama kemudian dating Raden Sadewa yang menghaturkan sabda Resi Abiyasa, hingga Prabu Kresna mengusulkan agar para Pandawa mengucapkan nadar (janji) yang ditujukan kepada Dewi Kunti yang kemudian mengikuti Raden sadewa meninggalkan Amarta, Nakula mohon pamit untuk menyusul. Bersamaan dengan ini dating musuh yang ingin menumpas para Pandawa hingga terjadi pertempuran, Bima ditelan oleh raksasa Kolonjaya dan Kalantakja.

Dewi Kunti yang sedang akit jiwanya pergi bersama Raden sadewa dari Kerajaan Amarta menuju ke tengah hutan, Dewi Kunti dimasuki roh Jim Kalika utusan Batari Durga yang menyatakan cintanya kepada Raden sadewa.

 

Batari Durga dating dan meminta Sadewa untuk meruwat dirinya agar ujudnya kembali menaji cantik jelita, namun sadewa menolak permintaan batari Durga, maka murkalah batari Durga. Pada saat itu batara Guru memasuki raga sadewa hingga batari durga lunglai dan memasrahkan diri. Maka diruwatlah oleh raden sadewa. Atas keberhasilan Raden sadewa meruwat batari Durga, Batara Guru memberikan anugerah nama dengan sebutan raden Sudamala dan memperoleh jodoh putrid dari pertapaan Prang Alas bernama Endang Soka, anak dari Begawan Tamba Petra. Batara Guru dan Batari Durga kembali ke kahyangan.

 

Begawan Tamba Petra dan kedua putrinya, membicarakan perihal mimpi berteemu dengan raden nakula dan sadewa.

 

Prabu Kresna dan Prabu Puntadewa yang mencari kepergian Dewi Kunti dan raden sadewa, pada saat itulah datanglah Kalanjaya dan Kalantaka sehingga terjadi pertempuran seru, akhirnya kedua raksasa berubah ujud menjadi Batara Citragada dan Citrasena.

 

 

 

Kakawin Sudamala (versi 3)

Kakawin Sudamala (Jawa: ꦏꦏꦮꦶꦤ꧀ꦱꦸꦣꦩꦭ) adalah karya sastra berbahasa Jawa Kuno peninggalan Kerajaan Majapahit, sekitar abad ke-14 hingga ke-16 Masehi. Naskah ini bercerita tentang kutukan yang menimpa Batari Uma (Umayi), istri Batara Guru (Siwa), akibat durhaka terhadap suaminya. Untuk membebaskan dirinya dari kutukan tersebut, ia harus diruwat oleh putra bungsu Pandu yang bernama Sadewa (Sahadewa).

 

Kisah ini merupakan karya asli pujangga Jawa, tetapi nama para tokoh utama dalam naskah ini (Durga, Siwa, Sadewa) diambil dari cerita Hindu dan wiracarita Mahabharata dari India, sementara beberapa tokoh pendamping (Kalantaka, Kalanjaya) tidak diambil dari cerita Hindu India. Kisah ini merupakan suatu interpolasi yang tidak akan ditemukan dalam naskah-naskah Hindu dari India.

 

Kisah ini diabadikan dalam bentuk panel relief yang ditemukan di sejumlah candi di pulau Jawa, di antaranya Candi Ceto, Candi Sukuh, dan Candi Tegowangi. Kisah ini menyebar ke Bali yang didominasi umat Hindu dan istilah "sudamala" di sana menjadi identik dengan pembersihan secara spiritual. Di Kabupaten Bangli, terdapat sebuah pura bernama Pura Tirta Sudamala yang sering dipakai sebagai tempat melukat (pembersihan secara jasmani dan rohani) dan ruwatan.

 

 

Kisah

Dikisahkan bahwa Uma (Umayi) berubah menjadi raksasi (raksasa wanita) bernama Batari Durga atau Ra Nini karena ia tidak setia kepada suaminya, Batara Guru (Siwa). Ia pun diusir bersama dua gandarwa yang dikutuk, bernama Kalantaka dan Kalanjaya, lalu tinggal di Kahyangan Setragandamayit (Setragandamayu) dan hanya bisa kembali ke wujud asal apabila diruwat oleh putra bungsu Pandu, Sadewa. Durga pun pergi menemui Kunti, ibu Sadewa dan memohon agar ia menyerahkan anaknya untuk melancarkan proses ruwatan tersebut. Namun Kunti menolak sehingga Durga mencoba cara dengan perantara Batari Kalika, asisten setia Durga. Kalika masuk ke dalam raga Kunti, kemudian ia mengikat Sadewa di suatu pohon sampai proses ruwatan tiba.

 

Pada waktu yang ditentukan, Durga alias Ra Nini meminta agar Sadewa meruwatnya, tetapi Sadewa menolak karena merasa tidak mampu. Durga pun marah dan mengancam nyawa Sadewa. Peristiwa itu disaksikan oleh Batara Narada, yang segera melaporkannya kepada Batara Guru. Tidak ingin masalah itu berkelanjutan, akhirnya Batara Guru merasuki tubuh Sadewa. Setelah dirasuki Batara Guru, barulah Sadewa mampu menjalankan permintaan Batari Durga.

 

Sadewa pun mendapat julukan baru, yaitu Sudamala yang bermakna "menghilangkan penyakit" atau "pembersih dari kotoran dan kejahatan". Atas petunjuk Batari Durga yang telah kembali menjadi Batari Uma, Sadewa pun pergi ke desa Pertapaan Prangalas menikahi putri seorang pertapa bernama Begawan Tambrapetra. Gadis itu bernama Dewi Endang Predapa.

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)