ING NGARSA SUNG TULADA, ING MADYA MANGUN KARSA, TUT WURI HANDAYANI

0

Ing Ngarsa Sung Tulada, 

Ing Madya Mangun Karsa, 

Tut Wuri Handayani


https://syehhakediri.blogspot.com/2023/03/ing-ngarsa-sung-tulada-ing-madya-mangun.html


Pencetus dari semboyan atau slogan ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa tut wuri handayani adalah Raden Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantoro).

Arti dari Semboyan Tersebut, Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani


Ing Ngarsa Sung Tuladha = di depan memberi contoh.

Ing Madya Mangun Karsa = di tengah memberi semangat.

Tut Wuri Handayani = di belakang memberi dorongan.


Tiga semboyan tersebut menjadi kesatuan Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani dengan arti di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, dan di belakang memberi dorongan.

 

Ing Ngarsa Sung TuladHa

Dalam bahasa Jawa ing berarti di, ngarsa berarti depan, sung berarti jadi, dan tuladha berarti contoh atau 'panutan.

Arti semboyan ing ngarsa sung tuladha bisa diartikan bahwa seorang guru atau pendidik harus menjadi panutan atau memberikan contoh.

Ing Ngarsa Sung Tuladha artinya dari depan, seorang pendidik harus memberikan teladan yang baik. Makna dari Ing Ngarsi Sung Tuladha dapat diartikan bahwa sebagai seorang pemimpin, harus memiliki sikap serta perilaku yang patut untuk menjadi di contoh oleh pengikutnya.


Ing ngarsa sung tuladha artinya di depan sebagai teladan, contoh atau panutan.

Menjadi teladan itu artinya si pemberi teladan harus senantiasa sadar, aware terhadap pikiran, perkataan, dan tindakannya.

Sebagai teladan harus melakukan segala sesuatu secara benar, memberi contoh yang baik, tidak memberi contoh yang tidak baik. Memang sulit, sangat alamiah manusia selalu kesana kemari, mondar mandir di dua kutub. Mustahil bisa menjadi baik terus, namun juga seharusnya tidak juga berbuat buruk terus menerus. Seumur hidup manusia itu harus banyak berjuang untuk menyeimbangkan, keadilan dari kedua belah pihak.

Saat menjadi teladan harus bertjuang senantiasa sadar dan selalu berusaha menyeimbangkan diri, itu sudah bisa disebut sebagai teladan, jadi tidak perlu repot-repot memikirkan menjadi teladan yang baik. Agar supaya tidak jatuh, haruslah menunjukkan dengan sungguh-sungguh untuk tetap seimbang (eling lan waspada).

 

Ing Madya Mangun Karsa

Secara harfiah istilah ing berarti  di. Madya berarti 'tengah, mangun berarti membangun atau memberikan, dan karsa berarti semangat atau bisa juga diartikan sebagai niat.

Semboyan ing madya mangun karsa berarti di tengah membangun atau memberikan semangat, kemauan, atau niat.

Ing Madya Mangun Karsa artinya dari tengah, seorang pendidik harus dapat menciptakan prakarsa atau ide.

Ing Madya Bangun/Mbangun Karsa dapat diartikan bahwa seorang pemimpin juga harus bisa berada di tengah-tengah untuk dapat membangkitkan atau membentuk niat para pengikutnya untuk terus maju dan melakukan inovasi. 

Ing madya mangun karsa, maksudnya adalah sebagai pelopor atau pemrakarsa artinya bertindak sebagai guru di tengah sebagai pelopor mencetuskan ide-ide kepada muridnya (bawahnya). Di tengah memotivasi, menggugah semangat, kemauan dan niat. Ini juga tidak mudah untuk dilakukan namun sulit. Bagaimana membuat situasi yang kondusif untuk orang lain agar bisa berkembang, menggugah semangat untuk terus meraih kemajuan itu sulit. Apalagi kita dihadapkan pada masalah internal diri kita sendiri dan masalah eksternal dengan lingkungan kita.

Kata-kata ditengah (ing madya mangun karsa) mengacu pada siswa itu sendiri. Seorang siswa pastilah memiliki sosok yang dekat dengan mereka, diantaranya guru atau pemimpin dan teman-temannya serta masyarakat sosial lainnya. Ki Hadjar Dewantara ingin menekankan bahwa siswa itu sendiri harus saling mendukung. Tolak ukur keberhasilan guru atau pemimpin dalam mengajar (gulowenthah). Tolak ukur ini dapat tercapai tidak hanya dari pengaruh guru atau pemimpin, tapi juga dari dukungan antar murid di kelas.

 

Tut Wuri Handayani

Semboyan ketiga adalah tut wuri handayani.

Tut wuri berarti di belakang atau mengikuti dari belakang dan handayani berarti memberi semangat.

Maka, tut wuri handayani berarti di belakang atau dari belakang memberikan semangat atau dorongan Ing Ngarsa Sung Tulada

Tut Wuri Handayani artinya dari belakang, seorang pendidik (pemimpin) harus bisa memberi arahan.

Kalimat terakhir adalah Tut Wuri Handayani yang berarti bahwa seorang pemimpin jika berada di belakang.

Kalimat terakhir ini pun dapat diartikan harus dapat memberikan spirit, motivasi serta dorongan untuk semangat kerja bagi para pengikutnya (bawahnya).

Sedangkan tut wuri handayani artinya dari belakang (tut wuri), berupaya penuh member dorongan dan arahan (handayani).

Bahwa sebagai seorang pemimpin dari belakang berupaya penuh memberikan dorongan dan arahan kepada bawahan (rakyatnya).


Di belakang memberi dorongan moral.

Lumrahnya seorang pemimpin atau guru atau orang yang lebih pandai, lebih tahu saat membimbing, mengarahkan, member petunjuk orang lainnya dan harus bersikap sebagai among.

Sistem Among berasal dari bahasa Jawa yaitu mong atau momong, yang artinya mengasuh anak. Para guru dan pemimpin disebut pamong yang bertugas untuk mendidik dan mengajar (gulowenthah) generasi Nuswantoro sepanjang waktu dengan kasih sayang.


Seperti motto :

Sebuah bangunan bertuliskan Taman Siswa berdiri tegak. Isinya tak lain lembaga pendidikan dan kebudayaan yang memperjuangkan kemampuan masyarakat untuk melepaskan diri dari kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan. Sekolah Taman Siswa resmi berdiri pada 3 Juli 1922.  Point penting dari berdirinya Taman Siswa bukan soal sekolah layak atau tidak, melainkan ada sistem Among yang menjadikan sekolah mampu memberikan tuntutan bagi hidup anak-anak agar dapat berkembang dengan subur dan selamat.


Pengemong (pengasuh), jadi yang menjadi fokus adalah yang diasuh. Karena itu saat yang di asuh merasa lemah, merasa kurang mampu, pengemong akan maju memberi dorongan semangat, dukungan moral.

Pamomong adalah esensi energi yang selalu mengajak, mengarahkan, membimbing, dan mengasuh kepada sesuatu yang tepat, pas, dan benar dalam menjalani kehidupan di dunia ini.

Dengan kata-kata, dengan sikap perbuatan.

Dengan hati yang penuh cinta (dengan penuh cinta, karena tanpa yang satu ini, tidak akan pernah bisa ada tindakan tut wuri handayani).



Imajier Nuswantoro 

 

 

 

 

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)