PRASASTI KAMALAGYAN & HUJUNG GALUH

0

Prasasti Kamalagyan & HUJUNG GALUH


Prasasti Kamalagyan adalah sebuah prasasti yang berangkat tahun 959 Saka atau 1037 M, berlokasi di dusun Klagen, desa Tropodo, kecamatan Krian, kabupaten Sidoarjo Jawa Timur. Prasasti buatan Raja Airlangga ini menceritakan tentang pembangunan sebuah dawuhan atau bandungan (dam) di Wringin Sapta di daerah Balungbendo.

Prasasti Kamalagyan (959 Saka atau 1037M) terletak di dusun Klagen, desa Tropodo, kecamatan Krian, kabupaten Sidoarjo Jawa Timur. Prasasti ini memiliki ukuran panjang 115 cm, dengan ketebalan 28 cm dan ukuran tinggi 215 cm. Prasasti ini terbuat dari batu kali atau batu andesit. 

Prasasti ini di tulis dengan huruf dan bahasa Jawa Kuno, isi dari prasasti ini adalah menyebutkan di bangunnya sebuah bandungan (dam) di Wringin Sapta oleh Raja Airlangga yaitu raja dari Kahuripan bersama rakyat.

 



Prasasti Kamalagyan (1037 M) adalah sumber otentik yang menyebutkan Pelabuhan Hujung Galuh (di sekitar Delta Brantas, kini Sidoarjo) sebagai bandar penting masa Raja Airlangga, tempat para pedagang dan nakhoda dari berbagai pulau bertemu, setelah bendungan Waringin Sapta (di Krian, Sidoarjo) dibangun untuk mengatasi banjir Sungai Brantas yang mengganggu aktivitas perdagangan di pelabuhan tersebut, menunjukkan perkembangan maritim dan pusat niaga di wilayah tersebut. 


Isi & Makna Prasasti Kamalagyan:

1. Pembangunan Bendungan: Menggambarkan Raja Airlangga membangun bendungan di Waringin Sapta (Waringin Pitu) untuk mengendalikan banjir Sungai Brantas yang merendam desa dan tanah perdikan (sima).

2. Kemakmuran Hujung Galuh: Setelah bendungan jadi, arus sungai terkendali, membuat para tukang perahu dan pedagang senang karena bisa beraktivitas di Hujung Galuh, yang menjadi tempat pertemuan kapal dagang dari berbagai kepulauan (Dwipantara).

3. Lokasi Hujung Galuh: Berdasarkan prasasti ini, Hujung Galuh berada di pedalaman, di percabangan Sungai Brantas, bukan di pesisir, menjadi pelabuhan penting di masa Kerajaan Kahuripan.

4. Tanggal Penting: Dikeluarkan sekitar November 1037 M (959 Saka), seminggu setelah Airlangga mengalahkan Raja Wijayawarman, menunjukkan kemakmuran dan stabilitas kerajaan. 


Hubungan dengan Surabaya:

- Prasasti Kamalagyan mengukuhkan nama Hujung Galuh sebagai nama historis di wilayah Surabaya/Delta Brantas saat itu, menjadi bukti otentik keberadaan pelabuhan penting sebelum Surabaya berkembang menjadi pusat niaga utama seperti di era Majapahit, yang kemudian peran utamanya bergeser ke muara Sungai Kalimas (Surabaya). 




Pada prasati ini juga memuat puji–pujian terhadap raja sebagai ratu cakrawati / penguasa dunia yang menyirami dunia ini dengan air amerta yang penuh kasih sayang. Prasati Kamalagyan diketahui dikeluarkan hanya seminggu tambah sehari setelah Raja Airlangga berhasil mengalahkan raja Wijayawarmman, raja terakhir yang masih belum tunduk (bulan Karttika tahun 959 Saka atau 10 November 1037M). Ada sumber bahwa, Wijayawarman adalah raja Minangkabau atau Pagaruyung yang ke-3 sesudah Ananggawarman. Nama kecilnya adalah Dewang Pandan Salasih Putrawana, yang kemudian diberi gelar Yang Dipertuan Maharaja Sakti I atau Tuanku Maharaja Sakti I. Ia adalah menantu dari Ananggawarman atau suami dari putri Anaggawarman yang bernama Puti Reno Bungsu Silindung Bulan. Ibunya adalah saudara perempuan dari Ananggawarman yang bernama Puti Reno Dewi Sanggowani.

Khususnya pada baris ke 12 prasasti Kamalagyan berbunyi :

” kapwa ta sukhamanaḥ nikāŋ maparahu samaṅhulu maṅalap bhāṇḍa ri hujuŋ galuḥ, tkarikāŋ parapuhawaŋ prabaṇyaga sankāriŋ dwīpāntara”. 

Artinya semua orang bergembira, dan berperahu (lah) menuju HULU, untuk mengambil barang dagangan di Hujung Galuḥ. Di sana datang (pula) para nahkoda dengan kapal kapal dagang dari pulau pulau sekitar.





Prasasti ini di tulis dengan huruf dan bahasa Jawa Kuno, isi dari prasasti ini adalah menyebutkan di bangunnya sebuah bandungan (dam) di Wringin Sapta oleh Raja Airlangga yaitu raja dari Kahuripan bersama rakyat.

Dalam kasus prasasti Kamalagyan ini, peristiwanya adalah banjir yang menyebabkan tanggul. Waringin Sapta tidak mampu menahan air sungai.

“Kahaywa kna nin thāni sapasuk hilir lasun paliñjwan, sijanatyĕsan pañjigantin, tālan, daçapankaḥ, paŋkaja, tka riŋ sīma parasīma, kala(ŋ)-kalagyan, thāni jumput, wihāra, çāla, kamulan, parhyaŋan, parapatapān, makamukya bhuktyan saŋ hyaŋ dharmma riŋ içānabhawana maṅaran, i surapura“.

Pada inskripsi ini terdapat petunjuk penting, yakni :

1. Samanhulu (=Menuju HULU)

Pesan ini merujuk kepada adanya aktivitas yang bergerak di sungai (yaitu perahu) dari desa Wringin Sapto menuju ke arah hulu sungai hingga ke (Pelabuhan) Hujung Galuh.

2. Ri Hujuŋ Galuḥ (=Di Hujung Galuh).

Hujung Galuh ini merujuk pada sebuah tempat, yaitu pelabuhan. Lantas dimanakah (pelabuhan) Hujung Galuh yang dimaksud dalam prasasti ini.

Kalau kita perhatikan, ke arah hulu, yang diawali dari desa Wringin Sapto, di sana terdapat pelabuhan sungai besar, yang kemudian menjadi pelabuhan utama Majapahit. Namanya Pelabuhan Canggu.

Saking besarnya, Pelabuhan ini bisa disinggahi oleh kapal kapal besar yang berasal dari pulau pulau di Nusantara. Bahkan pelabuhan ini menjadi pelabuhan antar pulau (dwīpāntara).

Di era Majapahit (abad 14-16) pelabuhan Canggu menjadi salah satu penopang kemakmuran Majapahit. Pelabuhan ini

mempunyai fungsi yang beragam diantaranya sebagai pangkalan militer,

pelabuhan dagang, dan bahkan pelabuhan bea cukai.

Di pelabuhan sungai inilah, yang diduga sangat kuat, menjadi wujud deskripsi pelabuhan Hujung Galuh sebagaimana terinsktipsi pada prasasti Kamalagyan (abad XI) baris ke-12, yang bunyinya :

 “tkarikāŋ parapuhawaŋ prabaṇyaga sankāriŋ dwīpāntara”. 

Artinya Di sana datang (pula) para nahkoda dengan kapal kapal dagang dari pulau pulau sekitar.

 


Menurut cerita  dari Wringin Sapto



Mapaharu yang artinya cukup berperahu (memakai perahu) ke Hujung Galuh karena perahu menjadi alat transportasi warga untuk mobilisasi antar desa desa pelabuhan sungai (naditira pradesa) yang ada di sepanjang sungai Brantas.

Ketika mereka berperahu dari Wringin Sapto ke arah hulu menuju Hujung Galuh berarti mereka semakin menjauh dari muara (laut), dimana Surabaya berada. Fakta alami ini jelas menggugurkan pendapat yang selama ini diyakini bahwa Hujung Galuh berada di muara Kali Brantas (hilir), tepatnya di Surabaya, sebagaimana ditulis oleh Drs. Heru Soekadri dalam laporan ilmiahnya pada buku Hari Jadi Kota Surabaya (1975).

Adapun yang ditulis oleh Heru Soekadri adalah sebagai berukut :

1. Hujunggaluh terletak di kali Brantas yang mengalir ke utara setelah bercabang tiga.

Atau jelasnya dapat dikatakan bahwa Ujunggaluh terletak di kali Surabaya.

2. Ujunggaluh terletak di bagian hilir kali Surabaya sesudah Dukuh Kelagen (Krian). Atau dapat dikatakan pula bahwa Ujunggaluh berada di Kali Surabaya bagian sebelah utara Dukuh Kelagen (Krian).

Kata kata kunci yang bisa ditarik dan dijadikan patokan untuk mengungkap lokasi Hujung Galuh.

Ada lima kata kunci yang menjadi patokan 5 (lima) kata kunci ini adalah :

1. Desa desa terdampak banjir.

2. Sungai yang airnya meluap.

3. Hulu

4. Hilir

5.Tambak.

 


MENGUPAS Prasasti Kamalagyan

Mengapa Kamalagyan ?

Karena tersebut nama/kata Hujung Galuh. Wujud sumbernya nyata dan ada (di Dusun Kelagen, Tropodo, Krian, Sidoarjo). Dibuat Raja Airlangga 1037 M.

Mengapa ada prasasti ?

Untuk memperingati pembuatan bendungan di Waringin Sapta dan sekaligus sebagai upaya legitimasi Raja Airlangga untuk memperkokoh kedudukannya sebagai Raja setelah terbunuhnya Raja Wijayawarmma dari Wengker.

Apa isi prasasti itu ? 

Isinya tentang berita pembuatan bendungan di Wringin Sapta untuk mengatasi banjir yang terjadi di wilayah Kamalagyan dan daerah sekitarnya akibat luapan Bengawan (Kali Brantas).

Daerah (desa desa) Mana Saja Yang Terdampak Banjir ?



Desa-desa yang terdampak banjir sebagaimana dijelaskan dalam prasasti, yaitu : 

“Kahaywa kna nin thāni sapasuk hilir lasun paliñjwan, sijanatyĕsan pañjigantin, tālan, daçapankaḥ, paŋkaja, tka riŋ sīma parasīma, kala(ŋ)-kalagyan, thāni jumput, wihāra, çāla, kamulan, parhyaŋan, parapatapān, makamukya bhuktyan saŋ hyaŋ dharmma riŋ içānabhawana maṅaran, i surapura“.

Artinya: “Daerah-daerah atau desa yang terdampak banjir di daerah HILIR sebagai berikut: seperti Lasun, Palinjwan, Sijanatyesan, Panjigantin, Talan, Decapankah, Pankaja; (begitu pula daerah perdikan-daerah perdikan ialah) di Kala, Kalagyan, Thani Jumput; (daerah perdikan Bihara, daerah perdikan rumah penginapan, daerah perdikan tempat suci arwah nenek moyang, daerah perdikan tempat orang pertapa dan terutama daerah besar yang dikuasai oleh makam keramat) Icanabhawana yang bernama Surapura”.

Dari nama nama desa di kawasan HILIR, yang masih teridentifikasi secara toponimi, adalah Kalagyan yang diduga kuat adalah dusun Kelagen dimana terdapat prasasti Kamalagyan berada.

Sungai apa yang meluap ?

Sungai yang mengalir ke arah hilir di mana terdapat desa desa yang terdampak banjir adalah sungai yang sekarang ini kita duga dengan sungai Balungbendo. Sungai ini adalah sungai kuno, yang semakin ke hilir, maka akan ketemu dengan bekas pelabuhan kali di “i Trung”, yang diduga kuat adalah pelabuhan kali Terung.

Sungai yang berhulu di Kali Brantas inilah yang meluap sebagai akibat derasnya debit air dari Kali Brantas.




Bagaimana cara warga mengatasi banjir ?

Tercerita pada prasasti bahwa sebelum Airlangga memerintahkan rakyatnya membuat bendungan di Wringin Sapta, warga setempat di kawasan banjir sudah pernah membuat bendungan atau tanggul tanggul yang berbentuk tambak tambak, tetapi cara pembendungan yang dilakukan warga ini tidak efektif. Masih saja terjadi banjir jika debit air bengawan begitu tinggi.

Isi kutipan prasasti: “tan pisan piṇḍwa tinambak parasāmya, ndatan kawnaŋ juga parṇnahnya.

Artinya: “Tidak hanya sekali, dua kali para pejabat desa tingkat thāni itu melakukan

(pe)nambakan sungai, (namun) tak juga mampu (sungai itu tetap saja meluap).

Adakah Bukti-Bukti Hasil (bekas) Pembendungan di Daerah Banjir?

Secara toponimi di daerah sekitar Kelagen, terdapat desa desa yang namanya mengandung makna bendungan. Seperti desa TANGGUL, TAMBAK Kemerahan, desa SEDENG(AN), BALONGsari Dalam dan BALONGbendo.

Selain itu sebagai bekas tanah perdikan bahwa di sekitar dusun Kelagen juga terdapat nama nama desa Sima, seperti: Sima Doekoh lor, Simo Doekoh kidul, Simo Angin Angin, Simo Ketawang, Simadjaja, dan Simo Girang.

Arti Simo Girang dan Sima Jaya ?

Nama desa ini menunjukkan kegembiraan yang luar biasa dan bahkan mengacu pada sebuah kemenangan. Dalam cerita prasasti, setelah raja Airlangga mengatasi banjir, rakyat digambarkan dan diberitakan bersuka cita dan bergembira (bahasa Jawa = girang).

Bagaimana Kemudian Sang Raja Mengatasi banjir ?

Karena masih saja terjadi banjir, maka Raja memanggil seluruh lapisan masyarakat untuk bergotong royong membuat tanggul di Wringin Sapta yang lokasinya lebih ke hulu (ke arah barat dari Kamalagyan).

Cuplikan isi prasasti: “Samankana ta çrī mahārāja lumkas umatagak nikaŋ tanayan thāni sakalrā re ni kerkem ri tāpa çrī mahārāja, inatag kapwa paṅrabḍa mabuñcaŋhajya maḍawuhan saṅ punta siddha, kadamla nikāŋ ḍawuhan de çrī mahārāja“.

Artinya : “Karena itulah, çrī mahārāja segera memanggil semua penduduk desa dari banyak tempat yang tersebar di wilayah çrī mahārāja untuk bergotong royong membendung, (juga) para pendeta, berhasil(lah) bendungan itu (dibangun) oleh çrī mahārāja”.

Bagaimana teknis mengatasinya ?

Ketika banjir masih saja terjadi di sekitar hilir (lebih jauh dari hulu), yaitu di kawasan Kamalagyan, maka perlu dicarikan cara untuk menghalau luapan air.

Diduga, cara yang dilakukan adalah dengan membuat sudetan atau kanal ke arah utara yang menghubungkan Kali Balongbendo ke Kali Mlirip. Adapun jarak yang paling dekat antar kedua sungai ini berada di Wringin Sapto. Maka di daerah inilah dilakukan proyek penanggulan yang misinya mengalihkan aliran air dari Kali Balongbendo ke sungai yang lebih besar, Kali Mlirip, agar luapan air dari Kali Brantas yang masuk ke Kali Balongbendo tidak membanjiri wilayah hilir di kalasan Kamalagyan.

Bagaimana hasilnya ?

Dengan cara menyudet dan membuang air ke arah utara, maka luapan air dari Kali Brantas yang masuk melalui kali Balongbendo dengan cepat terbuang ke Kali Mlirip. Dengan begitu, kawasan yang semula banjir, khususnya di daerah Kalagyan, selanjutnya terbebas dari banjir.

Kutipan isi prasasti: “Subaddhā pagĕh huwus pĕpĕt hilīnikāŋ bañu ikāŋ baṅawan amatlū hilīnyāṅalor”.

Artinya : “Sangat kokohlah (bendungan itu) telah tertutup aliran air dari sungai tersebut, terbagi tiga alirannya ke (arah) utara”.

Bagaimana sikap penduduk ?

Mereka bahagia dan bersuka ria karena sudah bisa menjalankan aktivitas sehari-harinya kembali secara normal, tanpa ada gangguan seperti bencana banjir. Hal ini membuat roda perekonomian bisa berjalan dengan baik dan para pedagang yang menggunakan aliran sungai Brantas sebagai jalur perdagangan bisa berlayar. Kehidupan sosial dan kegamaan rakyat juga bisa berjalan dengan baik. Rakyat sudah bisa menggarap sawah dan kebun-kebunnya seperti sedia kala.

Demikian mereka bisa berperahu ke hulu untuk berdagang dan membeli barang barang di Hujung Galuh.

Kutipan isi prasasti: “kapwa ta sukhamanaḥ nikāŋ maparahu samaṅhulu maṅalap bhāṇḍa ri hujuŋ galuḥ, tka rikāŋ parapuhawaŋ prabaṇyaga sankāriŋ dwīpāntara“.

Artinya : “Semua bergembira, berperahu(lah) menuju hulu, mengambil barang dagangan di hujuŋ galuḥ. Datang (pula) para nahkoda, kapal kapal dagang dari pulau pulau sekitar”.


Catatan penting :

1. SUNGAI YANG MELUAP

Sungai yang meluap akibat derasnya debit air dari Kali Brantas adalah Kali Balongbendo, dimana kali ini melintasi kawasan desa desa di dekat Kamalagyan. Kali Balongbendo adalah kali kuno dimana disana juga pernah ada pelabuhan Terung.

2. DAERAH TERDAMPAK BANJIR

Desa desa terdampak banjir berada di hilir sungai (menjauh dari hulu) yaitu di kawasan Kamalagyan, yang hingga kini masih ada satu desa yang memiliki salah satu toponimi desa kuno, yakni Kelagen (Kalagyan).

Bahkan di kawasan di sekitar prasasti Kamalagyan masih terdapat toponimi yang bermakna bendungan yaitu desa TANGGUL dan desa SEDENGAN. Balongbendo terutama pada kata “BALONG” memiliki arti kolam atau kubangan air.

Juga terdapat desa desa yang bernama Sima, karena bukan tidak mungkin sebuah prasasti penting diletakkan sembarangan. Maka di daerah perdikan dan Sima menjadi alasan. Di sana masih ada desa desa yang bernama Sima: Sima Doekoh lor, Simo Doekoh kidul, Simo Angin Angin, Simo Ketawang, Simadjaja, dan Simo Girang

3. HULU

Adanya penyebutan HULU berarti memiliki makna menjauh dari muara atau mendekat/dekat dengan asal mulai aliran air. Di sanalah di Hulu Sungai terdapat (pelabuhan) Hujung Galuh.

4. HILIR

Kalau toh ada penyebutan HILIR, tapi pemaknaan hilir ini bukanlah daerah yang berada di pesisir, sebagaimana diduga selama ini (Surabaya), namun daerah yang menjauh dari hulu dimana di sana terdapat daerah daerah yang terlanda banjir, yaitu di daerah Kamalagyan.

Kala itu wilayah Kamalagyan lumayan luas sehingga Wringin Sapta pun termasuk wilayah administrasi Kamalagyan.  Sekarang Wringin Sapta berbeda administrasi dari Kamalagyan atau Kelagen.

Kutipan isi prasasti: “Sambandha, çrī mahārāja madamĕl ḍawuhan riŋ wariṅin sapta lmaḥ nikāng anak thāni ri kamalagyan puṇyahetu tan swartha“.

Artinya: “Alasan çrī maharaja membuat bendungan di wariṅin sapta (yang merupakan) tanah/lahan (dari) desa kamalagyan (adalah) karena kemurahan hati (raja) untuk kebaikan bersama, tidak untuk kepentingan sendiri”.

5. TAMBAK

Tambak dalam konteks prasasti ini bukanlah tambak tambak untuk memelihara atau membudidayakan ikan seperti yang selama ini kita tau, tetapi TAMBAK (Tina mbak) adalah bentuk penanggulan yang dilakukan oleh warga di daerah banjir di Kamalagyan.

Balongbendo, yang pada kata “BALONG” sendiri, memiliki arti kolam atau kubangan, yang bisa diartikan tambak. Selain itu juga ada desa TANGGUL, SEDEGANmijil dan TAMBAK Kemerahan.

Jadi melihat dari bedah prasasti, kami berkesimpulan bahwa lokasi pelabuhan Hujung Galuh berada di hulu sungai, yang merupakan percabangan dari Kali Brantas, sungai besar yang menjadi jalur transportasi yang bisa menjangkau pedalaman Majapahit dan Kadiri. Serta bisa terakses dengan mudah dari laut lepas, segara.

Hilir tidak berarti di kawasan pesisir, termasuk kata kata TAMBAK yang tidak dalam bayangan orang sekarang yang berarti tambak tambak yang ada di kawasan pesisir Surabaya.

 

Sejarah Ujung Galuh



Śūrabhaya, begitu nama kota ini sesungguhnya menurut ejaaan Jawa Kuno atau Kawi yang benar. Śūra berarti Berani, dan Bhaya berarti Bahaya. Śūrabhaya : berani menghadapi segala marabahaya yang datang. Untuk ejaan yang disesuaikan dalam bahasa Indonesia menjadi : Surabaya. Semula, kota ini dikenal dengan nama ‘Ujung Galuh’ Pelabuhan Agung Majapahit. Pelabuhan utama, gerbang utama untuk memasuki ibukota Majapahit dari lautan.

Nama Śūrabhaya sendiri dikukuhkan sebagai nama resmi pada abad 14 oleh penguasa Ujung Galuh, Arya Lêmbu Sora. Nama tersebut sangat tepat untuk disematkan kepada kota luar biasa ini. Di kota ini, pada abad 13 (1293 Masehi), pasukan Majapahit dibawah pimpinan Raden Wijaya, yang terdiri dari pasukan gabungan Jawa dan Madura, berhasil memukul mundur pasukan Tiongkok dinasti Yuan yang hendak menggagahi bhumi Jawa dan Nusantara. Perang besar berdarah-darah dengan kekuatan yang tidak seimbang, bisa disiasati dengan taktik penghancuran para pimpinan pasukan Yuan terlebih dahulu. Sesudah itu, seberapapun besarnya kekuatan musuh, hanya akan seperti anak-anak kucing tanpa induk, mudah dihancurkan. Bagi pasukan Yuan, Śūrabhaya adalah mimpi buruk. Disini, mereka menyaksikan sendiri kehebatan dan keberanian orang-orang Majapahit. Tiga ribu pasukan terbunuh, sisanya melarikan diri kembali ke Tiongkok.

Tujuh abad kemudian, giliran pasukan Inggris dan Belanda yang merasakan mimpi buruk di Śūrabhaya. Kedatangan pasukan Inggris (AFNEI) dan Belanda (NICA) ke Śūrabhaya adalah kedatangan sebagai pasukan pemenang Perang Dunia II. Selain bertujuan melucuti tentara Jepang, senyatanya juga hendak mengembalikan kekuasaan Belanda. Pada pertempuran pertama 27-29 Oktober 1945, pasukan Inggris dan Belanda sudah terdesak hebat dan tinggal satu langkah untuk dihancurkan. Pertempuran berakhir dengan terjepitnya posisi Tentara Inggris hingga tanpa malu-malu mereka mengibarkan bendera putih dan minta berunding. Ikhwal ”kekalahan memalukan” itu diakui oleh Kapten R.C.Smith, salah seorang veteran Tentara Inggris yang terlibat dalam pertempuran itu. Pada 1975, dalam suratnya kepada penulis J.G.A Parrot, Smith menyebut Brigjen Aubertin Mallaby sangat khawatir jika pertempuran tak berhenti, anak buahnya akan disapu bersih (wiped out). Suatu kekhawatiran yang sama dirasakan pula oleh Kolonel A.J.F Doulton:

”Perlawanan heroik dari Tentara Inggris hanya akan berakhir dengan hancur leburnya Brigade 49, kecuali ada seseorang yang bisa mengendalikan kemarahan orang-orang itu (maksudnya para pejuang Indonesia di Surabaya),” tulis Doulton dalam The Fighting Cock: Being the History of the Twenty-third Indian Division,1942-1947. Di kemudian hari Inggris menemukan ”sang pengendali” itu tak lain adalah Presiden Soekarno.

Maka pada 30 Oktober 1945, atas permohonan Inggris, dari Jakarta Presiden Soekarno terbang ke Surabaya. Di sana ia terlibat perundingan dengan Mayor Jenderal D.C. Hawthorn, Komandan Divisi India 23, yang tak lain merupakan atasan Brigjen Aubertin Mallaby. Dari perundingan itu tercetus kesepakatan yang diantaranya adalah pengakuan pihak Inggris terhadap eksistensi Republik Indonesia sebagai salah satu syarat dihentikannya pengepungan terhadap Tentara Inggris di Surabaya.

Perundingan usai jam 13.00. Presiden Soekarno yang masih gamang dan ragu dengan kekuatan lasykar-lasykar Indonesia yang baru saja merdeka, terbujuk untuk mengadakan gencatan senjata.

Genjatan senjata ini senyatanya hanya sekedar untuk memperkuat kedudukan pasukan Inggris dan Belanda. Gencatan senjata ini koyak karena aksi konyol arek-arek Surabaya yang kecewa dan berhasil membunuh Brigjen Aubertin Mallaby. Pasukan Inggris meradang dan mengeluarkan ultimatum agar selambat-lambatnya pada 10 November 1945 seluruh lasykar-lasykar di Surabaya menyerahkan senjata mereka tepat pada jam 06.00 pagi. Ultimatum pasukan Inggris sebagai bagian dari pasukan yang memenangkan Perang Dunia II tidak digubris oleh arek-arek Surabaya. Dengan keberanian luar biasa, arek-arek Surabaya nekat maju menghadapi gempuran Inggris.

“Di pusat kota, pertempuran lebih dahsyat, jalan-jalan harus diduduki satu per satu, dari satu pintu ke pintu lainnya… Perlawanan orang-orang Indonesia berlangsung dalam dua tahap, pertama pengorbanan diri secara fanatik, dengan orang-orang yang hanya bersenjatakan pisau-pisau belati (maksudnya : keris) dan dinamit di badan menyerang tank-tank Sherman, dan kemudian dengan cara yang lebih terorganisasi dan lebih efektif, mengikuti dengan cermat buku-buku petunjuk militer Jepang.”tulis David Wehl dalam Birth of Indonesia.

Sejarah mencatat, Tentara Inggris sempat lintang pukang menghadapi perlawanan ini. Di hari kedua saja, sudah 3 Mosquito tertembak jatuh. Termasuk yang membawa Brigjen. Robert Guy Loder Symonds, kena sikat PSU Bofors 40 (sejenis senjata penangkis serangan udara milik KNIL) yang dikendalikan oleh sekelompok veteran PETA yang berpengalaman menghadapi pesawat-pesawat tempur Amerika Serikat di palagan Halmahera dan Morotai.

Inggris menyebut Perang Surabaya sebagai perang yang terberat pasca Perang Dunia II. Surat kabar New York Times (edisi 15 November 1945) bahkan mengutip kata-kata para serdadu Inggris yang menyebut “The Battle of Surabaya” sebagai “inferno” atau neraka di timur Jawa.

 

UJUNG GALUH IDENTIK KOTA SURABAYA

Ujung Galuh selalu diidentikkan dengan Kota Surabaya? Dasarnya apa?. Ujung Galuh umumnya diidentikkan dengan Kota Surabaya hanya berdasarkan cocoklogi (gothak-gathuk) belaka. Sejarahwan ada yang berpendapat bahwa Hujung = Tanjung sedangkan Galuh = Emas atau Perak, sehingga disimpulkan bahwa Ujung Galuh identik dengan Tanjung Perak, yaitu sebuah lokasi pelabuhan laut yang sekarang berada di ujung utara Kota Surabaya.

Ujung Galuh berasal dari toponimi Kampung Galuhan di daerah Bubutan-Surabaya. Barangkali hanya Von Faber saja satu-satunya sejarahwan yang membuat hipotesa bahwa kampung Galuhan di Surabaya didirikan tahun 1275 M oleh Raja Kertanegara sebagai tempat pemukiman baru bagi prajuritnya yang berhasil menumpas pemberontakan Kemuruhan tahun 1270 Ms. Tampaknya teori Von Faber inilah yang dijadikan rujukan utama oleh para perumus sejarah Kota Surabaya. Hipotesis Faber ini kurang dapat dipertanggungjawabkan, sebab sama sekali tidak ada bukti bahwa peristiwa penumpasan pemberontakan Kemuruhan itu terjadi di sekitar kampung Galuhan.

Perlu digarisbawahi terlebih dulu bahwa nama Desa Surabaya (Cura Baya) itu sudah ada sejak jaman Majapahit dan namanya disebutkan dalam Negarakertagama. Sebaliknya Negarakertagama sama sekali tidak menyebut tentang Ujung Galuh sebagai lokasi yang sama atau setidaknya berdekatan dengan Desa Cura Baya. Jadi anggapan bahwa Ujung Galuh dan Cura Baya adalah suatu wilayah yang sama perlu untuk dikoreksi. Hal ini didukung pendapat Pigeaud yang menafsirkan lokasi Cura Baya dalam Kakawin Negarakertagama adalah cikal bakal toponimi Surabaya dan lokasinya termasuk di wilayah Kota Surabaya sekarang.


MENURUT M. YAMIN

Menurut pendapat M. Yamin lokasi Ujung Galuh di peta menunjuk pada daerah Pelabuhan Tlocor Sidoarjo yang berbatasan dengan Pasuruan sekarang. Hal ini mungkin didasarkan adanya aliran besar sungai brantas yang bermuara ke Pelabuhan Tlocor. Namun sampai saat ini tidak ada bukti-bukti artefak apapun yang mendukung teori Yamin ini. Artefak kuno di wilayah Sidoarjo justru banyak terakumulasi jauh di sebelah barat, yaitu di daerah Krian, antara lain Prasasti Kamalagyan dan ceceran situs-situs kuno di Desa Balongbendo dari jaman Airlangga. Lagipula letak pelabuhan Tlocor terlalu jauh ke timur dan tentu sukar disinggahi kapal-kapal yang berasal dari Sumatera dan dari mancanegara khususnya Bangsa Tar-Tar (Mongol).

Teori M.Yamin tampaknya juga masih lemah karena tidak didukung oleh keterangan sejarahwan lain. Namun setidaknya kita dapat menyimpulkan bahwa hingga era founding fathers ternyata lokasi Ujung Galuh masih simpang siur. Belum ada kesepakatan bahwa Ujung Galuh adalah Surabaya. Klaim bahwa Ujung Galuh adalah Surabaya adalah produk perumus sejarah Kota Surabaya yang dilakukan belakangan. Klaim itu dipublikasikan sedemikian rupa sehingga mengabaikan kemungkinan bahwa lokasi Ujung Galuh berada di tempat lain.

Jika kita mau jujur, sebenarnya Surabaya pada masa lampau adalah hamparan rawa dan hutan mangrove. Terbentuknya delta Surabaya hingga sampai dapat ditempati pemukiman itu berlangsung belakangan. Hal ini yang menjadi alasan mengapa di Surabaya nyaris tidak ada artefak kerajaan kuno. Satu-satunya artefak kuno hanyalah Patung Joko Dolog yang diperkirakan dibuat pada akhir jaman Kerajaan Singhasari. Patung itu pun sebenarnya asalnya dari Trowulan yang dipindahkan ke sana pada masa pemerintah Hindia Belanda. Miskinnya artefak kuno menunjukkan bahwa Surabaya kuno bukanlah bagian dari peradaban kuno yang penting di Jawa Timur.

Fakta di atas tentu sangat bertolak belakang dengan deskripsi tentang Ujung Galuh berdasarkan keterangan Prasasti Kamalagyan (1037 Ms) dimana Ujung Galuh sejak jaman Raja Airlangga sudah dijadikan pelabuhan penting dan sangat ramai aktivitas pedagangannya. Jika Ujung Galuh adalah Pelabuhan Tanjung Perak, maka deskripsi ini tidak cocok dengan sejarah Ampel Denta yang letaknya dekat dengan Pelabuhan Tanjung Perak. Keberadaan pesantren Ampel Denta baru muncul pada era akhir Majapahit yaitu pada tahun 1421M, ketika Raden Rahmad (Sunan Ampel) diberi tanah Ampel Denta oleh Raja Brawijaya. Tanah tersebut diberikan karena masih berupa hamparan hutan dan belum berpenghuni. Raden Rahmad bahkan diberikan modal untuk membangun wilayah tersebut sehingga menjadi peradaban yang lebih maju. Bayangkan jika Tanjung Perak dikatakan sebagai pelabuhan yang sudah ramai pada tahun 1037Ms, lalu hampir 4 abad kemudian di tahun 1421Ms dikatakan bahwa wilayah di Ampel Denta yang dekat dengan Tanjung Perak ternyata masih belum berpenghuni.

Perjalanan Raden Rahmad dari Trowulan menuju Ampel Denta di Surabaya utara menyusuri lebih dulu daerah Surabaya selatan melewati Pelabuhan Bungkul dan bertemu dengan Empu Supo yangkemudian dikenal dengan Sunan Bungkul. Makam Sunan Bungkul merupakan situs paling kuno yang dimiliki Surabaya, sehingga dapat disimpulkan bahwa pada era akhir Majapahit, peradaban Surabaya memang baru muncul di wilayah selatan. Berdasarkan keterangan Prasasti Canggu (1358 Ms) hanya disebutkan adanya Pelabuhan Bungkul di wilayah Curabaya sebagai pelabuhan akhir yang paling timur dari aliran sungai brantas dan sama sekali tidak menyinggung tentang keberadaan Ujung Galuh di sana. Dengan demikian jelas bahwa pembangunan peradaban di Surabaya utara termasuk pemberdayaan Pelabuhan Tanjung Perak baru dimulai setelah Raden Rahmad membuka tanah Ampel Denta. Barulah setelah itu pelabuhan Tanjung Perak menjadi pelabuhan baru bagi ulama dan pedagang Madura, China dan Arab yang kemudian membentuk komunitas campuran di daerah Ampel sampai sekarang.

Lalu di manakah lokasi Ujung Galuh sebenarnya? Berikut petikan Prasasti Kamalagyan tentang lokasi Ujung Galuh: ".... kapwa ta sukha manahikan maparahu samanhulu manalap bhanda ri hujun galuh ika" Artinya: bersukacitalah mereka yang berperahu ke arah hulu, mengambil dagangan di Hujung Galuh. Berdasarkan keterangan tersebut dapatkita ketahui bahwa lokasi Ujung Galuh berada ke arah hulu jika ditinjau dari letak prasasti (Desa Klagen Krian), bukan di hilir pantai utara atau Surabaya. Si penulis prasasti ini sedang berperahu dari arah timur Mojokerto hendak ke Ujung Galuh untuk membeli barang dagangan. Perjalanan sungai harus melewati Waringin Sapta (Wringin Pitu-Mojowarno Jombang) yang sungainya baru saja dibendung dan tertata baik. Jika dianggap bahwa lokasi Ujung Galuh ada di Surabaya justru tampak janggal dan kurang nyambung kronologisnya, dari Krian berperahu ke Waringin Sapta untuk apa nyasar dulu ke Tanjung Perak? Dari sini jelaslah bahwa letak Ujung Galuh memang bukan di Surabaya.

Sekarang mari kita melacak dimana lokasi hulu Ujung Galuh. Jika anda pergi ke Kota Jombang, tepatnya di Kecamatan Diwek, terdapat sebuah Desa bernama Watu Galuh yang berada di tepi sungai Brantas. Menurut Prasasti Anjuk Ladang (937M) disebutkan bahwa ibukota Mataram Kuno di Jawa timur adalah Watu Galuh. Lalu jika dari daerah itu kita mengikuti aliran sungai brantas ke arah utara ada daerah bernama Kecamatan Megaluh. Dekatnya lokasi Watu Galuh dan Megaluh di Kecamatan Jombang dapat diinterpretasikan bahwa dulunya keduanya berada dalam cakupan wilayah yang sama. Jika bicara Ujung Galuh pasti tidak lepas dari lokasi pelabuhan kuno yang ramai. Sekarang mari kita lacak toponimi desa-desa di sekitar Megaluh Jombang. Sebuah desa di kecamatan ini bernama Kedung Rejo (Kedung = sungai), dari sini jika kita telusuri lagi aliran sungai brantas ke barat (arah Kota Nganjuk) akan kita temukan nama-nama desa antara lain: Desa Bandar Kedung Mulyo, Desa Bandar Alim, dan Desa Kedung Suko. Perhatikan lagi toponimi “Bandar” (Bandar = Pelabuhan) dan “Kedung”. Lalu jika menuju ke arah hulu yaitu ke selatan (arah Kediri) kita juga akan menemukan Desa Bandar Lor, sebelah utara Kota Kediri dan jika ke barat lagi masuk ke Kota Kediri kita temukan Desa Kali Ombo (Sungai Besar) dan Desa Jongbiru (Jung Biru). Seluruh aliran sungai brantas dari hulu arah barat pada akhirnya bermuara di Ploso Jombang. Jika dilihat dari posisi Kota Krian, maka dapat dikatakan bahwa Jombang merupakan daerah ke arah hulu.

Jika merujuk pada pendapat De Casparis (1958) lokasi Ujung Gakuh tidak mungkin di Surabaya, karena letak Ujung Galuh menurut Prasasti Kemalagyan menuju arah hulu sungai dari Klagen. Casparis memperkirakan lokasi Ujung Galuh dekat dengan Mojokerto, yaitu antara Pelabuhan Tuban sampai Babat, Ngimbang dan Ploso Jombang yang merupakan daerah yang menjadi prioritas pembangunan di jaman Raja Airlangga. Dari pendapat tersebut De Casparis mempertimbangkan bahwa Ujung Galuh mungkin terdiri dari dua pelabuhan utama, yaitu Pelabuhan Tuban sebagai pelabuhan laut yang menghubungkan Jawa Timur dengan pulau-pulau lain dan pelabuhan sungai di sekitar Ploso Jombang yang menghubungkan daerah-daerah di Jawa Timur. Hanya saja yang masih menjadi pertanyaan adalah apakah dulu pernah ada aliran sungai brantas yang bertemu dengan sungai Bengawan Solo dan bermuara ke Pelabuhan Tuban? Ataukah para pendatang dari luar Jawa yang masuk ke Pelabuhan Tuban harus menempuh jalur darat menuju ke selatan jika hendak memasuki sungai brantas di Ploso Jombang? Sebagaimana diketahui pada masa kuno jalur sungai brantas memang merupakan jalur transportasi utama.

Berdasarkan sumber-sumber tutur di daerah sepanjang sungai brantas dulunya adalah pelabuhan-pelabuhan sungai yang besar dan dapat dilalui kapal-kapal sejak jaman Airlangga bahkan Pu Sindok. Hal ini sulit dibayangkan karena sekarang ukuran sungai sudah sangat kecil. Tetapi dulu kapal yang besar sekalipun masih bisa melintas. Itulah sebabnya Kerajaan Pu Sindok ada di Tamwlang (Jombang). Itulah sebabnya Kerajaan Daha (Kediri) dapat maju dengan mobilitas tinggi dan demikian pula Kerajaan Majapahit di Trowulan memiliki armada laut yang tanpa tanding. Karena memang sehari-hari mereka bergerak dengan kapal-kapal di sungai yang besar. Jika Ujung Galuh dikatakan sebagai pelabuhan kuno yang ramai, maka logikanya di sana pun pasti berceceran artefak-artefak kuno. Sekarang mari kita melacak artefak-artefak kuno di sekitar daerah-daerah yang saya sebutkan di atas. Kecamatan Megaluh bersebelahan dengan Kecamatan Kudu - Jombang. Daerah ini yang merupakan gudang prasasti dari jaman Airlangga, setidaknya yang saya tahu adalah Prasasti Kudu, Prasasti Katemas, Prasasti Pucangan, dan Sendang Made. Belum lagi saya dengar banyak prasasti lain yang belum dipublikasikan.

Lalu bergerak lagi sedikit ke utara sekitar 30km kita akan masuk ke Kabupaten Lamongan, di sini juga gudangnya prasasti, antara lain Prasasti Pamwatan, Prasasti Sumbersari, Prasasti Patakan, Prasasti Terep, dll. Khususnya di daerah Kecamatan Ngimbang (perbatasan Jombang-Lamongan) setidaknya tercatat ada 7 buah prasasti kuno. Sedangkan jika dari Jombang bergerak ke barat menuju Nganjuk, di Desa Bandar Alim terdapat Prasasti Bandar Alim, lalu di Nganjuk ada Prasasti Anjuk Ladang, Prasasti Hering dan Prasasti Kujon Manis. Menurut cerita tutur, pada saat Kerajaan Sriwijaya mengutus ribuan pasukan Jambi menyerbu sisa-sisa pasukan Pu Sindok di Anjuk Ladang, mereka berlabuh di Bandar Alim dan bermarkas di desa yang sekarang bernama Desa Jambi. Hal ini didukung ceceran artefak batu bata merah kuno yang tersebar di halaman rumah-rumah penduduk Desa Jambi.

Lalu pada saat Pasukan Tar-Tar datang berlabuh di pelabuhan Tuban, kavaleri besar itu tidak mungkin mengangkut semua perbekalan melalui jalur darat menuju Kediri. Solusinya mereka harus menggunakan jalur sungai brantas di sebelah selatan dan berlabuh di pelabuhan-pelabuhan sungai yang dekat dengan Kediri. Jalur pelabuhan sungai yang sudah aktif pada masa itu adalah pelabuhan sungai di kawasan kota Jombang-Nganjuk-Kediri, yaitu: Bandar Kedung Mulyo, Bandar Alim, Jongbiru, Bandar Lor, dan Bandar Kidul. Pasukan Tar-Tar menyusuri aliran sungai brantas hingga mendarat di Jongbiru - Kediri. Dari situ pasukan Tar-Tar bersama-sama dengan pasukan Arya Wiraraja dan pasukan Raden Wijaya mengepung dan membantai pasukan Jayakatwang. Sisa-sisa tawanan Kerajaan Gelang-Gelang itu lalu dibawa keluar Kota Kediri. Di sanalah pasukan Tar-Tar berpesta, dan dalam kelengahan itu pasukan Raden Wijaya menggempur pasukan Tar-Tar habis-habisan selama 2 hari dan mendesaknya terus hingga sampai ke Ujung Galuh. Akan sulit membayangkan suatu pertempuran yang bergerak dari Kediri menuju Ujung Galuh jika lokasi Ujung Galuh adalah di ujung utara Surabaya, terlalu jauh dan tidak memungkinkan. Tetapi menjadi logis jika letak Ujung Galuh memang tidak terlalu jauh dari Kediri yaitu di wilayah sekitar Ploso-Jombang.

 

 

 Imajiner Nuswantoro 



Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)