KITAB TANTU PANGGELARAN DAN MISTERI GUNUNG SEMERU

0

KITAB TANTU PANGGELARAN DAN MESTERI GUNUNG SEMERU 



Kitab Tantu Panggelaran adalah sebuah teks prosa yang menceritakan tentang kisah penciptaan manusia di pulau Jawa dan segala aturan yang harus ditaati manusia. Tantu Panggelaran ditulis dalam bahasa Jawa Pertengahan pada zaman Majapahit. Yang kemudian telah diteliti pada tahun 1924 di Leiden oleh Dr. Th. Pigeaud. Tantu Panggelaran terdiri atas mitos-mitos yang berhubungan dengan penciptaan dan menyebarnya mandala-mandala (tempat-tempat suci), dan Bhimasuci (juga dikenal sebagai Dewaruci). Mitos tentang penciptaan ini, antara lain manusia pertama di pulau Jawa, adanya rumah sebagai tempat tinggal, adanya pekerjaan sebagai mata pencaharian manusia, pakaian, perhiasan, dan lain-lain hingga terjadinya kesempurnaan keseimbangan dalam kehidupan manusia dan alam semesta, hal ini merupakan sinkretisme yang terjadi dari latar belakang budaya yang berpengaruh pada saat Tantu Panggelaran diciptakan.

Berdasarkan edisi teks yang telah dikerjakan oleh Pigeaud, naskah yang dipilih olehnya didasarkan pada kenyataan bahwa naskah itu merupakan satu-satunya di antara semua naskah yang ada yang memiliki kolofon dan berangka tahun. Kolofon tersebut, dalam transliterasi Pigeaud berbunyi: “Iti sang hyang Tantu panglaran, kagaduhana de sang mataki-taki, kabuyutan ing sang Yawadipa, caturpakandan, caturpaksa, kabuyutan ring Nanggaparwwata. Muwah tanpasasangkala, mulanikang manusa Jawa, duk durung sang hyang Mahameru tka ring Jawa, sawusira tibeng Jawa: mangkana nimitanya tanpasasangkala, reh yan ing purwwa. Tlaç [s]inurat sang hyang Tantu panglaran ring karang kabhujangggan Kutritusan, dina u(manis) bu(dha) madangsya, titi caci kaca, rah 7, tenggek 5, rsi pandawa buta tunggal: 1557”.

Kutipan di atas, memaparkan bahwa penulis/penyalin teks ini tinggal di suatu karang kabhujanggan, yaitu suatu lokasi khusus tempat tinggal para bhujangga (penyandang tugas keagamaan), Kutritusan namanya. Dinyatakan pula bahwa kitab ini hendaknya menjadi milik mereka (para pertapa) yang “menjalani upaya (ritual keagamaan) dengan penuh perhatian” (mataki-taki) di tempat-tempat suci kuna (kabuyutan) di Jawa. Jelaslah bahwa dari pembacaan terhadap seluruh teks Tantu Panggelaran, ternyata teks ini sama sekali tidak mengacu atau menunjukkan pernyataan keterlibatan apapun dengan kalangan raja dan bangsawan. Maka dapat dikatakan bahwa teks ini dibuat untuk kalangan keagamaan di luar lingkungan kehidupan kraton.

Sedangkan Angka tahun 1557 Çaka adalah 1635 M. Menurut Zoetmulder dalam Kalangwan (1983: 59), Tantu Panggelaran digolongan ke dalam naskah Jawa Kuna. Menurut Sedyawati (2001) Kitab Tantu Penggelaran merupakan sebuah teks berbahasa Jawa Kuna yang muda, sedangkan Poerbatjaraka dalam Kapustakan Djawi (1952) mendaftar Tantu Panggelaran termasuk karya sastra zaman Jawa Pertengahan. Namun dalam kolofon tersebut tidak dinyatakan apakah tahun tersebut merupakan tahun penulisan atau penyalinan naskah.

 

KISAH TANTU PANGGELARAN

Awal keberadaan Pulau Jawa

Pada mulanya pulau jawa tidak berpenghuni dan dalam keadaan khaotis, karena pulau jawa selalu bergoncang (bandingkan dengan batu apung yang bergoncang di atas permukaan air). Oleh karena itu, pulau jawa membutuhkan gunung untuk menancapnya, sehingga tidak bergoncang lagi. Gunung tempat batara guru mengatur keadaan yang khaotis ini adalah gunung dihyang ( dieng ). Para dewa mengangkat puncak gunung Mahameru ( gunung semeru) dari india dan ditempatkan di sebelah barat pulau jawa. Namun yang terjadi adalah, bahwa pulau jawa terjungkit dan sebelah timur pulau jawa terangkat ke atas. Oleh karena itu, para dewa memindahkannya ke sebelah timur, tetapi dalam perjalanan gunung itu ke sebelah timur, gunung itu berceceran di sepanjang jalan, sehingga terjadilah gunung lawu, wilis, kelud, kawi, Arjuna, Kemukus dan pada akhirnya semeru. Setelah itu keadaan pulau jawa tidak bergoncang lagi.

 

Penciptaan Manusia

Setelah pulau jawa tidak lagi bergoncang, batara guru ingin membuat manusia sebagai penghuni pulau jawa. Untuk itu ia memerintahkan batara brahma dan batara wisnu menciptakan manusia. Mereka menciptakan manusia dari tanah yang dikepal kepal lau dibentuk manusia berdasarkan rupa dewa. Brahma menciptakan manusia laki-laki dan wisnu menciptakan manusia menciptakan manusia perempuan.Yang kemudian kedua manusia ciptaan dewa tersebut dipertemukan dan mereka hidup saling mengasihi.

 

Proses terjadinya peradaban manusia

Pada mulanya manusia telanjang karena tidak dapat membuat pakaian, tidak tinggal di dalam rumah, tidak dapat berbicara, oleh karena itu dapat dikatakan, bahwa manusia pertama yang tinggal di pulau jawa tidak mempunyai peradaban. Untik itu para dewa diberi tugas oleh batara guru untuk “memberi pelajaran” kepada manusia, supaya mereka dapat membuat pakaian, membuat rumah, dapat berbicara antara satu sama lainnya. Pada intinya para dewa mengajar manusia jawa tentang budaya dan peradaban. Contoh yang dikutip dari kitab tantu panggelaran.

Demikianlah kata bhatara mahakarana (istilah lain dari bhatara guru) :

Anakku, Brahma, turunlah engkau ke pulau jawa. Pertajamlah benda-benda tajam, misalnya: panah, parang, pahat, pantek, kapak, beliung, segaa pekerjaan manusia. Engkau akan disebut pandai-besi. Engkau akan mempertajam benda-benda tajam itu di tempat yang bernama winduprakasa. Ibu jari (kw.empu) kedua kakimu mengapit dan menggembleng, besi anak panah dikikir. Panah itu menjadi tajam oleh ibu jari kedua kaki, maka dari itu engkau akan disebut empu sujiwana sebagai pendai-besi, karena ibu jari/ empu dari kakimu mempertajam besi. Oleh karena itu, tukang pandai-besi disebut empu, karena ibu jari kakimu disebut menjadi alat bekerja. Demikianlah pesanku terhadap anakku.

Lagi pesanku terhadap anakku wiswakarmma. Turunlah ke pulau jawa membuat rumah, biar dirimu ditiru oleh manusia. Sebab itu, engkau dinamai hundahagi (membangun).

Adapun engkau iswara. Turunlah ke pulau jawa. Ajarlah manusia ajaran berkata-kata dengan bahasa, apalagi ajaran tentang dasasila (sepulah hal yang utama) dan pancasiska (lima hokum/ tata tertib). Engkau menjadi guru dari kepala-kepala desa, sehingga engkau dinamai guru desa di pulau Jawa.

Adapun engkau wisnu. Turunlah engkau ke pulau jawa. Biarlah segala perintahmu dituruti oleh manusia. Segala tingkah lakumu ditiru oleh manusia. Engkau adalah guru manusia, hendaknya engkau menguasai bumi.

Adapun engkau mahadewa, turunlah engkau ke pulau jawa.hendaknya engkau menjadi tukang pandai emas dan pembuat pakaian manusia.

Bhagawan ciptagupta hendaknya melukis dan mewarnai perhiasan, serta membuat hiasan yang serupa dengan ciptaan, menggunakan alat ibu jari tanganmu. Oleh karena itu engkau akan dinamai empu ciptangkara sebagai pelukis.

 

Keberadaan Pulau Jawa Pada Zaman Purbakala

Inilah kitab Tantu Panggelaran, yang dipersembahkan oleh Tuanku, semua (harus) berdiam diri untuk mengetahuinya; nah ...! nah ...!, buatlah dirimu nyaman di dalam mendengarkan cerita tentang "Pulau Jawa Pada Zaman Purbakala".

(Alkisah pada zaman itu) belum ada manusia, bahkan Gunung Mahameru belum ada di pulau Jawa. Adapun keberadaan Gunung Mandalagiri, yakni gunung yang besar dan tinggi itu, yang dijadikan contoh tersebut, (masih) berada di bumi Jambudipa (India).

Oleh karena itu, pulau Jawa bergoyang-goyang, selalu bergerak-gerak, berguncang-guncang, sebab belum ada gunung Mandara, bahkan manusia.

Oleh karena itu, Bhatara Jagatpramana berdiri, dia mencipta pulau Jawa bersama Bhatari Parameswari, sehingga terdapatlah Gunung Dihyang (Dieng), tempat Bhatara mencipta. Demikianlah ceritanya.

Lama sekali Bhatara mengadakan ciptaan, dia memerintahkan Brahma Wisnu membuat manusia. Nah, tanpa membantah Brahma Wisnu membuat manusia. Tanah dikepal-kepalnya dan dibuat manusia yang sangat elok rupanya seperti rupa dewata. Manusia laki-laki dibuat oleh Brahma, manusia perempuan dibuat oleh Wisnu.

Manusia-manusia buatan Brahma Wisnu itu dipertemukan, mereka saling rukun bersama, saling kasih mengasihi. Lalu mereka beranak, bercucu, berlipat-lipat banyaknya, berkembang-biak, menjadi banyaklah jumlah manusia. Namun (mereka hidup) tanpa rumah, laki-perempuan telanjang di hutan, menaungi/melindungi anak-cucu, sebab belum ada pekerjaan yang dibuatnya, belum ada yang (dapat) ditirunya, tanpa celana, tanpa busana, tanpa selendang, tanpa kain panjang (basahan), tanpa ikat pinggang (kendit), tanpa kuncung, tanpa ikat kepala. Berucap tetapi tak tahu apa yang dikatakannya, tidak tahu artinya, daun-daunan dan buah-buahan dimakannya. Demikianlah asal-muasal manusia pada zaman purba.

Maka dari itu para dewata berkumpul dan bermusyawarah menghadap kepada Bhatara Guru. Bhatara Jagatnatha itu menyuruh para dewata membuat tempat tinggal di seluruh Pulau Jawa. Demikianlah kata Bhatara Mahakarana:

"Anakku, Brahma, turunlah engkau ke Pulau Jawa. Pertajamlah benda-benda tajam, misalnya: panah, parang, pahat, pantek, kapak, beliung, segala pekerjaan manusia. Engkau akan disebut pandai-besi. Engkau akan mempertajam benda-benda tajam itu di tempat yang bernama Winduprakasa. Ibu jari (kw. empu) kedua kakimu mengapit dan menggembleng, besi anak panah dikikir. Panah itu menjadi tajam oleh ibu jari kedua kaki, maka dari itu engkau akan disebut Empu Sujiwana sebagai pandai-besi, karena ibu jari/empu dari kakimu mempertajam besi. Oleh karena itu, tukang pandai-besi disebut empu, karena ibu jari kakimu menjadi alat bekerja. Demikianlah pesanku kepada anakku.

Lagi pesanku kepada anakku Wiswakarmma. Turunlah ke Pulau Jawa membuat rumah, biar dirimu ditiru oleh manusia. Sebab itu, engkau dinamai Hundahagi (membangun).

Adapun engkau Iswara. Turunlah ke Pulau Jawa. Ajarlah manusia ajaran berkata-kata dengan bahasa, apalagi ajaran tentang Dasasila (sepuluh hal yang utama) dan Pancasiska (lima hukum/tata tertib). Engkau menjadi guru dari kepala-kepala desa, sehingga engkau dinamai Guru Desa di Pulau Jawa.

Adapun engkau Wisnu. Turunlah engkau ke Pulau Jawa. Biarlah segala perintahmu dituruti oleh manusia. Segala tingkah lakumu ditiru oleh manusia. Engkau adalah guru manusia, hendaknya engkau menguasai bumi.

Adamu engkau Mahadewa, turunlah engkau ke Pulau Jawa. Hendaknya engkau menjadi tukang pandai emas dan pembuat pakaian manusia.

Bhagawan Ciptagupta hendaknya melukis dan mewarnai perhiasan, serta membuat hiasan yang serupa dengan ciptaan, menggunakan alat ibu jari tanganmu. Oleh karena itu engkau akan dinamai Empu Ciptangkara sebagai pelukis."

Demikianlah pesan Bhatara Guru kepada para dewata semua. Mereka bersama-sama turun ke Pulau Jawa. Brahma menjadi tukang pandai-besi. Lima makhluk besar dimintai pertolongannya, yakni bumi, air, api, angin, angkasa. Bumi sebagai landasan/paron, air sebagai penjepit, api sebagai pembakar, angin sebagai peniup api, angkasa sebagai palu. Oleh karena itu, tempat itu dinamai Gunung Brahma (Bromo), tempat Brahma menjadi pandai besi, kata sang pencerita. Palu dan landasannya sebesar pohon tal, penjepitnya/guntingnya sebesar pohon pinang, sang Bayu (angin) keluar dari goa, sang Agni (api) selalu ada siang dan malam. Itulah tempat Brahma mengerjakan pekerjaan pandai-besi. Demikianlah ceritanya.

Bhagawan Wismakarmma turun membangun rumah. Manusia meniru membuat rumah. Lalu mereka berumah tangga. Oleh karena itu, tempat itu nantinya akan disebut Desa Medangkamulan, tempat awal-mula manusia berumah tangga. Demikianlah ceritanya.

Bhatara Iswara turun mengajarkan kata-kata baik, bahkan tentang Dasasila dan Pancasiska. Dia bergelar Guru Desa di sana. Bhatara Wisnu turun bersama dengan Bhatari Sri, ratu dari awang-awang (angkasa). A berarti hal yang tak ada, Wa berarti hal yang luhur, H yang berarti Bhatara/dewa; sehingga Wisnu disebut Rahyang Kandyawan. Bhatari Sri disebut Sang Kanyawan di negeri Medanggana. Demikianlah asal-mula adanya negeri/negara. Demikianlah ceritanya. Dia memberi ajaran kepada manusia, sehingga mereka mengetahi cara memintal, menenun, bercelana, berpakaian, berkain, beselendang.

Bhatara Mahadewa turun menjadi tukang pandai-emas. Bhagawan Ciptaguna turun menjadi pelukis.

Lagi tentang Kandyawan. Dia mempunyai anak lima. Sang Mangukuhan, nama anak yang paling tua. Sang Sandang-garba nama anak kedua. Sang Katung-malaras nama anak yang tengah. Sang Karung Kalah nama kakak dari anak yang bungsu. Sang Werti Kandayun nama anak yang bungsu. Kemudian kendaraan Bhatari Sri datang, yaitu empat burung, yakni burung perkutut, burung puter, burung deruk merah, burung merpati hutan. Mereka dikejar-kejar oleh lima anak itu dan disusul berderet di warung, kemudian dilukai oleh Sang Werti Kandayun. Jatuhlah tembolok burung-burung itu: Tembolok burung perkutut berisi biji putih, tembolok burung merpati hitam berisi biji hitam, tembolok burung deruk merah berisi biji merah, tembolok burung puter berisi biji kuning, semerbak harum baunya. Kelima anak itu bergembira. Dimakanlah (biji kuning) itu sampai habis. Oleh karena itulah sampai sekarang tidak ada biji kuning, sebab habis dimakan habis oleh kelima anak itu. Sang Mangukuhan menanam biji putih, merah dan hitam itu. Lalu mereka menjadi padi nantinya. Demikian juga kulit biji yang kuning ditanamnya, yang akhirnya menjadi kunyit. Demikian genaplah biji empat warna itu sampai sekarang.

Lagi tentang Bhatara Mahakarana membuat tempat tinggal di pulau Jawa, meninggalkan tempat dewa, hingga tersebar di muka bumi, berderet-deret tanpa terputus, beragam tanpa ada yang hancur. Demikianlah halnya. Adapun Pulau Jawa pada zaman purbakala bergoyang-goyang, selalu bergerak mengguncang-guncang, sebab belum ada penindihnya. Oleh karena itu Bhatara Mahakarana mencari alat untuk menguatkan Pulau Jawa supaya tetap kuat dari dulu, kelak dan sampai sekarang ini. Kemudian Bhatara Guru bertapa, berdiri menghadap ke timur, kemudian diputarlah air sampai menjadi busa, lalu menjadi gunung. Oleh karena itu terdapat gunung Hyang (gunung Dewa/ gung Dieng) sampai sekarang ini. Demikianlah cerita tentang tapa Bhatara Guru. Dan tanah yang dipijak oleh kaki Bhatara kelak menjadi gunung Limohan.

Kemudian Pulau Jawa tidak kuat lagi, selalu bergerak berguncang-guncang. Kemudian Bhatara Parameswara memerintahkan kepada para dewata menghentikan penciptaan dunia. Pulanglah mereka ke sorganya masing-masing. Mereka semua pulang, masing-masing meninggalkan anaknya mengganti sebagai manusia.

Hyang Kandyawan meninggalkan kelima anaknya agar mengganti kerajaannya. Namun satupun tidak ada yang mau menggantikan menjadi raja. Kemudian dia membuat undi dengan daun ilalang, barangsiapa yang dapat menarik daun ilalang yang diikat, dia harus menggantikan untuk menjadi raja. Mereka berempat lalu menarik daun ilalang yang diikat itu, tetapi tidak ada yang dapat. Kemudian tertuju kepada Sang Werti Kandayun (anak kelima) yang menarik daun ilalang yang diikat itu. Kemudian Sang Werti Kandayun dinobatkan. Adapun Sang Mangukuhan menjadi petani, yang menyediakan makanan bagi raja. Sang Sandang-garba menjadi pedagang yang menyediakan perak/uang bagi raja. Sang Katung-malaras menjadi penyadap aren, yang menyediakan minuman bagi raja. Sang Karung-kalah menjadi penjagal, yang menyediakan daging bagi raja. Raja Werti Kandayun menggantikan bapaknya. Bhatara Wisnu pulang ke tempat tinggalnya bersama dengan Bhatari Sri. Adapun manusia semakin bertambah banyak. Para Dewata Mengelilingi Sang Hyang Mandaragiri

Kemudian para dewata bersama-sama menyembah Bhatara Guru, semua dewata, para resi, para pahlawan, para bidadari, para gandarwa, semua berhimpun dan sujud di kaki Bhatara Mahakarana. Setelah mereka berbuat sembah, mereka duduk bersila berderet menghadap ke Bhatara Guru :

"Hai kamu, para dewa, para resi, para pahlawan, para bidadari, para gandarwa, pergilah ke Pulau Jambu (India), hai anakku semua, pindahkanlah Sang Hyang Mahameru, pindahkanlah ke Pulau Jawa untuk menindih Pulau Jawa supaya kuat dan tidak bergoyang-goyang kalau Sang Hyang Mandaragiri itu telah sampai di sana. Pergilah, hai anakku semua!"

Demikianlah pesan Bhatara kepada para dewa, para resi, para pahlawan, para bidadari, para gandarwa. Mereka semua tidak ada yang menolak. Mereka berpamitan akan pergi ke Pulau Jambu, akan mengangkat Sang Hyang Mandaragiri. Sampailah mereka di gunung Pulau Jambu, besar, tinggi sampai ke langit, seratus ribu yojana tingginya. Oleh karena jarak antara angkasa dan bumi adalah seratus ribu yojana, maka tinggi Sang Hyang Mahameru seratus ribu yojana. Karena dipindahkan ke Pulau Jawa, maka gunung Pulau Jambu itu tinggal setengahnya saja, karena tinggi Gunung Mahameru sekarang hanya tinggal setengah dari tingginya langit, yaitu hanya tonggak Sang Hyang Mahameru. Sedang puncaknya dipindahkan ke Jawa.

Demikianlah gunung itu diangkat oleh para dewa. Bhatara Wisnu menjadi ular yang sangat panjang dan besar, menjadi tali untuk memindahkan Hyang Mahameru. Sang Hyang Brahma menjadi raja kura-kura yang sangat besar, yang menjadi alas untuk memindahkan Sang Hyang Mahameru. Ular itu mengikat Sang Hyang Mahameru. Mereka bekerja keras mematahkan Sang Hyang Mahameru. Keluarlah api yang membara, serta dentuman dan angin. Para dewata mengambil pekerjaan masing-masing. Para resi, para dewa menyanyi lagu pujian "Jaya ... jaya ...!. Bhatara Bayu, dewa kekuatan, naik ke punggung Sang Hyang raja kura-kura, Sang Hyang Mandaragiri kemudian diangkat oleh para dewata sambil menyanyi "Jaya ... jaya!", mereka mengusung Sang Hyang Mahameru.

Demikianlah orang-orang Pulau Jambu melihat Sang Hyang Mahameru berjalan-jalan, karena para dewata tidak terlihat oleh mereka, maka dari itu mereka ribut. Para brahmana sujud menyembah Sang Hyang Mandaragiri. Demikianlah sembah para brahmana.

Para dewa kepayahan membawa Sang Hyang Mandaragiri, maka mereka menginginkan air (dahaga). Ada air yang keluar dari Hyang Mahameru, air racun Kalakuta namanya, sebagai tanda gunung itu mabuk birahi. Oleh karena para dewata itu kepayahan, air racun Kalakuta itu diminumnya. Lalu semua dewata itu mati oleh kesakitan air racun Kalakuta. Bhatara Parameswara melihat hal itu:

"Ah, semua dewata mati. Apa sebabnya mereka mati? Barangkali air yang keluar dari gunung itu yang diminumnya, sehingga mereka mati semua. Ah, aku ingin minum air itu juga."

Air Kalakuta itu diminumnya, maka leher dari Bhatara Guru menghitam sebagai "toh". Maka dari itu Bhatara Guru bergelar Bhatara Nilakanta, karena hitam seperti "toh". Bhatara Guru berkata: "Wah, sebenarnya engkau sangat sakti, maka aku menjadi sakti oleh karena engkau."

Ditatapnya air racun Kalakuta itu, sehingga akhirnya menjadi air kehidupan yang suci. Maka Sang Hyang Kamandalu (bejana/kendi) diisi, semua dewata itu disiram. Seketika itu juga Sang Hyang Tatwamerta Siwambha (air kehidupan yang suci) menyirami semua dewata itu, maka mereka semua hidup, dan Caturlokapala (empat pelindung dunia), bidadari, gandarwa menyembah Bhatara Guru, yaitu semua dewata. Maka Bhatara Parameswara berkata:

"Kini bawalah kembali Sang Hyang Mandaragiri sampai ke Pulau Jawa, hai anak-anakku."

Demikianlah kata Bhatara kepada semua dewata. Mereka semua tidak ada yang menolak. Maka para raksasa dikerahkan untuk membantu para dewata. Sang Hyang Mandaragiri diangkat, kemudian sampailah ia ke sisi sebelah barat Pulau Jawa. Sang Hyang Mahameru berdiri. Nampak oleh Sang Dewata (Sang Hyang Mahameru) bercahaya cemerlang, sehingga Sang Hyang Mahameru dinamai Kelasaparwata, karena nampak oleh Sang Dewata dia cemerlang.

Diletakkan di sebelah barat, tapi sisi sebelah timur Pulau Jawa menjadi miring, karena dipatahkan oleh Sang Mahameru, terbelah sebelah timur. Tunggul sisanya hanya ada di sisi barat, oleh karena itu nanti akan ada gunung Kelasa, tunggulnya Sang Hyang Mahameru, demikianlah bunyi ceritanya. Puncaknya (Mahameru) dipindahkan ke sebelah timur, diangkat bersama-sama oleh para dewata. Sang Hyang Mahameru runtuh (tercecer). Reruntuhan pertama menjadi Gunung Kantong, reruntuhan kedua menjadi Gunung Wilis, reruntuhan ketiga menjadi Gunung Kampud, reruntuhan keempat menjadi Gunung Kawi, reruntuhan kelima menjadi Gunung Arjuna, reruntuhan keenam menjadi Gunung Kemukus. Sang Hyang Mahameru rusak bagian bawahnya karena runtuh, maka miring berdirinya, bergeraklah puncaknya. Puncak Sang Hyang Mahameru diberdirikan oleh para dewata. "Wah, suci" kata para dewata, karena itu nanti puncak Sang Hyang Mahameru akan disebut Pawitra (suci). Demikianlah ceritanya. Demikianlah Sang Hyang Mahameru tidak kuat, bersandar di gunung Brahma, karena sisi bawahnya telah rusak. oleh karena itu diperteguh pada gunung Brahma, maka Sang Hyang Mandaragiri berdiri kuat. Oleh karena Pulau Jawa telah kuat, berhentilah dia bergerak dan bergoyang dan menjadi sangat kuat. Oleh karena itu Gunung Mahameru dinamai Gunung Misada.

Setelah itu Bhatara Parameswara menyuruh para dewata memuja Sang Hyang Mandaragiri, mengenakan isi Sang Hyang Mahameru. Setelah itu Dewa Trisamaya (tiga dewa) diberi anugerah kendaraan: banteng putih adalah kendaraan Bhatara Iswara, angsa putih adalah kendaraan Bhatara Brahma, garuda adalah kendaraan Bhatara Wisnu. Setelah Dewa Trisamaya diberi anugerah kendaraan, para dewata berkumpul memuja Sang Hyang Mahameru, Gunung Raja (Giriraja).

Terdapat kendi manik yang bernama Kamandalu, yang berisi Sang Hyang Tatwamerta Siwambha (air kehidupan yang suci), yaitu sari dari Sang Hyang Mandaragiri. Yaitu yang dipuja oleh para dewata. Setelah dipuja, dipungutlah isi dari Sang Hyang Mahameru, misalnya: mirah, komala, intan; untuk diberikan kepada Bhatara Parameswara, sedangkan Sang Hyang Kamandalu tidak diketahui oleh para dewa. Kemudian para dewa semua pergi, Sang Hyang Kundi Manik itu tertinggal.

Terdapat dua raksasa yang bernama Ratmaja dan Ratmaji. Bermain-main ke Sang Hyang Mandaragiri, yang maksudnya ingin mengambil emas, mirah, komala, intan. Ketika tidak menemukan emas, mirah, komala, intan, mereka menemukan Sang Hyang Kamandalu. Diambilnyalah dari tempatnya, maksudnya akan dibuat mainan, karena mereka tidak tahu gunanya. Sangat mengkilap, maka oleh mereka Sang Hyang Kamandalu dinamai Ketek Meleng. Kemudian Ratmaja dan Ratmaji pergi.

Para dewata datang menyembah kepada Bhatara Guru. Bhatara berkata :

"Hai anakku para dewata, mana biji Sang Hyang Mahameru? Emas, mirah, komala, intan diberikan, tetapi tidak ada Kendi Manik Sang Hyang Kamandalu, yang berisi Sang Hyang Tatwamertha Siwambha, pemberi hidup para dewa".

Demikianlah kata Bhatara Mahakarana. Para dewa tidak ada yang tahu yang mengambil Sang Hyang Kamandalu. Apalagi Resi Narada, Kapila, Ketu, Tumburu, Sapaka, Wiswakarma, tidak ada yang tahu yang mengambil Sang Hyang Kamandalu. Caturlokapala (empat pelindung bumi), Indra, Yama, Baruna, Kowera, resigana, dewanggana, suranggana, bidadari, gandarwapun tidak mengetahuinya. Para dewata termenung. Ditanyai oleh para dewa semua, maka Sang Hyang Raditya (Matahari) dan Sang Hyang Wulan (bulan) menjawab. Sang Hyang Raditya dan Wulan berkata:

"Ada dua raksasa yang bernama Ratmaja dan Ratmaji. mereka mengambil Sang Hyang Kamandalu."

Demikianlah kata Sang Hyang Raditya dan Sang Hyang Wulan.

Bhatara Brahma dan Wisnu datang ke tempat Ratmaja dan Ratmaji. Sampailah mereka di tempat para raksasa itu. Ratmaja dan Ratmaji berkata:

"Aduh, tumben sang dewata pergi kemari. Apa tujuan tuanku datang kemari?"

Sang Hyang Brahma dan Wisnu berkata :

"Tujuanku datang kemari : karena apa yang kalian dapat dari Mandaragiri?"

Raksasa itu menyahut :

"Kami tidak menemukan emas, mirah, komala, intan, Bhatara. Yang kami dapatkan adalah Ketek Meleng."

Sang dewata menyahut :

"Apa itu Ketek Meleng? Bagaimana wujudnya?"

Kendi manik itu diperlihatkan. Lalu dimintalah oleh sang dewata, tetapi tidak diberikan oleh raksasa-raksasa itu. Para raksasa itu meminta supaya emas manik. Setelah itu raksasa-raksasa itu bertanya:

"Diganti dengan apa kendi manik ini?"

Berkatalah sang dewata :

"Kendi manik itu bernama Sang Hyang Kamandalu, yang berisi air kehidupan yang suci, penghidupan para dewa."

Segera dipegangnya kendi manik itu oleh raksasa-raksasa itu dan dijaga oleh mereka berdua. Sang Hyang Brahma dan Wisnu mendapat malu. Melalui hikmatnya, Sang Brahma dan Wisnu berubah serupa dengan perempuan yang cantik. Beginilah jadinya. Pergilah mereka ke tempat Ratmaja dan Ratmaji. Dimintalah kendi manik itu dengan bermanis-manis. Tergodalah para raksasa melihat perempuan-perempuan cantik, maka diberikannyalah kendi manik itu. Dipeganglah oleh Bhatara Wisnu. Segera dilarikan oleh Sang Hyang Brahma dan Wisnu. Dikejar oleh Ratmaja dan Ratmaji, tetapi Sang Hyang Brahma dan Wisnu tidak tersusul oleh mereka, karena cepat larinya. Sang Ratmaja dan Ratmaji mendapat malu.

Semua dewata hadir ke hadapan Bhatara Parameswara. Lalu mereka meminum air kehidupan yang suci itu supaya tidak menjadi tua dan mati. Daun beringin dipakai untuk minum. Ada raksasa yang bernama Rahu, yang menyamar sebagai dewata, ikut bersama dengan para dewata meminum air kehidupan yang suci itu, daun awar-awar dipakai untuk minum. Hal ini diketahui oleh Sang Hyang Raditya dan Wulan, ditegurnya ketika mereka meminum air kehidupan yang suci itu, maka mereka dilempar cakra oleh Bhatara Wisnu. Maka lehernya patah bagian atas. Air kehidupan itu diminum baru sampai mulut dan belum sampai ke badan. Sehingga kepala Rahu hidup. Sang Hyang Raditya dan Wulan sangat dimarahinya, maka Sang Rahu menjadi penghalang Sang Hyang Raditya dan Wulan sampai sekarang ini.

Setelah Para Dewata meminum air kehidupan yang suci itu, beranaklah Bhatara Siwa, keluarlah Gunung Wlahulu. Beranaklah Bhatara Iswara, keluarlah Gunung Pamrihan. Karena anak Damalung mati, maka dinamai Gunung Mawulusan.

 

TANTU PANGGELARAN SEBAGAI TEKS MULTIKULTURAL

Kajian multikultural berkaitan dengan hal-hal yang secara garis besar membicarakan tentang keragaman budaya, adat istiadat, agama dan atau kepercayaan (religi), identitas, akulturasi, sejarah, relasi kuasa, toleransi, dan lainlain. Johns (1966: 40) menyatakan bahwa untuk mengkaji perubahan relegi haruslah berdasarkan dokumen-dokumen yang relevan dengan periodenya. Dokumen di Jawa yang masih dianggap bertahan hingga saat ini adalah dari periode abad ke-15 sampai awal abad ke-16. Pada abad-18 diwakili oleh Serat Centhini, yang pada masa ini mayoritas keagamaan di Jawa adalah Islam. Dua dokumen Islam yang spesifik adalah Serat Bonang dan Primbon Jawa yang berasal dari abad ke 16. Dua dokumen yang dapat dipastikan tradisi kuna, dan sama sekali tidak termasuk kategori Islam, baik kata-kata maupun doktrinnya adalah Tantu Panggelaran yang terdiri atas mitos-mitos yang berhubungan dengan penciptaan dan menyebarnya mandala-mandala (tempat-tempat suci), dan Bhimasuci (juga dikenal sebagai Dewaruci). Dalam kesempatan ini yang akan dijadikan bahan kajian multicultural adalah Tantu Panggelaran. Kitab Tantu Penggelaran yang terdiri atas mitos-mitos tentang penciptaan, antara lain manusia pertama di pulau Jawa, adanya rumah sebagai tempat tinggal, adanya pekerjaan sebagai mata pencaharian manusia, pakaian, perhiasan, dan lain-lain hingga terjadinya kesempurnaan keseimbangan dalam kehidupan manusia dan alam semesta, merupakan sinkretisme yang terjadi dari latar belakang budaya yang berpengaruh pada saat Kitab Tantu Panggelaran diciptakan. Yang menarik perhatian adalah bagaimana isi naskah itu menggambarkan alam pikiran pengarangnya yang hidup pada masa tertentu dalam suatu lingkungan yang khusus dengan memunculkan berbagai identitas budaya (Jawa, Hindu, Buddha). Secara garis besar, Kitab Tantu Panggelaran menggambarkan sinkretisme dari agama Hindu dan Buddha yang memiliki toleransi hidup berdampingan dengan damai. Oleh karena itu, Kitab Tantu Panggelaran penting untuk diperiksa dalam kaitannya dengan kajian multikultural. Berdasarkan edisi teks yang telah dikerjakan oleh Pigeaud, naskah yang dipilih olehnya didasarkan pada kenyataan bahwa naskah itu merupakan satusatunya di antara semua naskah yang ada yang memiliki kolofon dan berangka tahun. Kolofon tersebut, dalam transliterasi Pigeaud berbunyi :

Iti sang hyang Tantu panglaran, kagaduhana de sang mataki-taki, kabuyutan ing sang Yawadipa, caturpakandan, caturpaksa, kabuyutan ring Nanggaparwwata. Muwah tanpasasangkala, mulanikang manusa Jawa, duk durung sang hyang Mahameru tka ring Jawa, sawusira tibeng Jawa: mangkana nimitanya tanpasasangkala, reh yan ing purwwa. Tlaç [s]inurat sang hyang Tantu panglaran ring karang kabhujangggan Kutritusan, dina u(manis) bu(dha) madangsya, titi caci kaca, rah 7, tenggek 5, rsi pandawa buta tunggal: 1557.  

Kutipan di atas, memaparkan bahwa penulis/penyalin teks ini tinggal di suatu karang kabhujanggan, yaitu suatu lokasi khusus tempat tinggal para bhujangga (penyandang tugas keagamaan), Kutritusan namanya. Dinyatakan pula bahwa kitab ini hendaknya menjadi milik mereka (para pertapa) yang “menjalani upaya (ritual keagamaan) dengan penuh perhatian” (mataki-taki) di tempat-tempat suci kuna (kabuyutan) di Jawa. Jelaslah bahwa dari pembacaan terhadap seluruh teks Kitab Tantu Panggelaran, ternyata teks ini sama sekali tidak mengacu atau menunjukkan pernyataan keterlibatan apapun dengan kalangan raja dan bangsawan. Maka dapat dikatakan bahwa teks ini dibuat di dan untuk kalangan keagamaan di luar lingkungan kehidupan kraton.

Angka tahun 1557 Çaka adalah 1635 M. Menurut Zoetmulder dalam Kalangwan (1983: 59), Kitab Tantu Panggelaran digolongan ke dalam naskah Jawa Kuna. Menurut Sedyawati (2001) Kitab Tantu Panggelaran merupakan sebuah teks berbahasa Jawa Kuna yang muda, sedangkan Poerbatjaraka dalam Kapustakan Djawi (1952) mendaftar Kitab Tantu Panggelaran termasuk karya sastra zaman Jawa Pertengahan. Namun dalam kolofon tersebut tidak dinyatakan apakah tahun tersebut merupakan tahun penulisan atau penyalinan naskah. Dalam kesempatan ini tidak akan dipersoalkan kapan teks Kitab Tantu Panggelaran ini mula-mula dibuat. Dalam ajaran agama Hindu dan Budha dikenal adanya konsepsi makrokosmos (susunan alam semesta) bahwa alam semesta berbentuk lingkaran pipih seperti piringan dengan gunung Mahameru sebagai pusatnya. Mahameru yang dimaksud adalah gunung dalam konsepsi ajaran Hindu, yang dianggap sebagai titik pusat alam semesta. Pada mulanya Mahameru terletak di benua Jambudwipa (India). Benua tersebut merupakan tempat hidup manusia, hewan dan tumbuhan, sedangkan di lerengnya terdapat hutan lebat tempat tinggal berbagai binatang yang mempunyai mitos dan para pertapa. Sejak jaman agama Hindu dan Budha berkembang di Jawa, masyarakat sudah menganggap keramat gunung tersebut. Dalam Kitab Tantu Panggelaran disebutkan gunung Mahameru yang dibawa ke pulau Jawa itu, Bernama gunung Pawitra. Menurut Lestari (1976) gunung Penanggungan yang terdapat di Jawa Timur tepatnya di Kabupaten Mojokerto, dahulunya dikenal dengan nama gunung Pawitra dalam kepercayaan masyarakat Jawa adalah salah satu perwujudan konsepsi makrokosmos tersebut karena gunung itu diyakini sebagai salah satu puncak Mahameru yang dipindahkan oleh dewa penguasa alam. Dan hingga kini gunung Penanggungan masih dianggap keramat oleh masyarakat sekitarnya, karena bentuk gunung Penanggungan merupakan salah satu gunung yang berarti kabut dengan puncaknya yang runcing selalu tertutup kabut, yang lain daripada gunung-gunung lainnya.

Menurut Widyadharma (1999) konsep makrokosmos ini diyakini masyarakat Jawa Kuno pada periode Hindu dan Buddha pada abad VII-XV Masehi dan diejawantahkan pada berbagai wujud bangunan suci, penataan istana, susunan administrasi pemerintahan dan lain-lain. Konsep dasar bangunan candi yang ada di Pulau Jawa pun secara umum menyesuaikan dengan konsep makrokosmos tersebut. Pada tahun 672, I-tsing, seorang sarjana agama Buddha dari Tiongkok, bertolak untuk berziarah ke tempat-tempat suci agama Buddha di India. Ketika perjalanan pulangnya, tahun 685, ia singgah di Sriwijaya dan tinggal di sana hingga 10 tahun untuk mempelajari dan menyalin buku-buku suci agama Buddha. Pada saat itu Sriwijaya merupakan pusat ilmu dan kebudayaan Buddha, sehingga menjadi mercusuar agama Buddha di Asia Tenggara yang memancarkan cahaya budaya manusia yang cemerlang. I-tsing pun banyak menceritakan tentang agama Buddha di Sriwijaya ini. Pada tahun 775-850 di daerah Bagelen dan Yogyakarta berkuasalah raja-raja dari Wangsa Sailendra yang memeluk agama Buddha. Zaman ini adalah zaman keemasan bagi Mataram. Ilmu pengetahuan, terutama ilmu pengetahuan tentang agama Buddha sangat maju. Demikian juga keseniannya, terutama seni pahat mencapai taraf yang sangat tinggi dengan adanya pembangunan candi-candi : Kalasan, Sewu, dan Borobudur, Pawon, Mendhut yang memiliki konsep makrokosmos sebagai dasar bangunan candi. Setelah raja Samaratungga wafat, mataram kembali diperintah oleh raja-raja dari Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu, namun agama Buddha dan Hindu dapat berkembang terus berdampingan dengan rukun dan damai. Keadaannya masih terus demikian hingga di masa pemerintahan raja-raja Majapahit tahun 1292-1476. Toleransi keagamaan dijaga baik-baik, sehingga tidak ada pertentang agama.

Menurut Santiko (Kompas, 14 Januari 2009) Majapahit adalah kerajaan agromaritim yang multikultural. Perdagangan terjadi, baik lokal, antarpulau, atau internasional, melibatkan pedagang dari berbagai daerah. Hal ini menciptakan kondisi multikultural di Majapahit yang menjadi situs pertemuan dan percampuran aneka unsur budaya “pendatang” dan lokal. Kondisi multikultural ini terjalin dengan proses-proses politik di Majapahit, sejalan dengan ”proyek politik Nusantara” Gajahmada untuk memperluas dan menyatukan wilayah Majapahit, yang dicetuskan sebagai ”Sumpah Palapa” di hadapan Ratu Tribhuwanotunggadewi, ibu Raja Hayam Wuruk. Dinamika politik-budaya ini dipertahankan, khususnya oleh Raja Hayam Wuruk yang mempertahankan hegemoni Majapahit meski harus bekerja sendiri selama 25 tahun. Dengan wafatnya Hayam Wuruk tahun 1389, kerajaan Majapahit memudar karena ada konflik internal, perebutan kekuasaan. Meski demikian, kondisi multikultural tetap dipertahankan, khususnya dalam bidang agama. Hayam Wuruk dan raja-raja Majapahit lainnya amat menghargai multiagama yang berkembang saat itu. Setelah Majapahit runtuh pada tahun 1478 mulailah berangsur ada pergeseran agama Buddha dan Hindu dengan masuknya agama Islam.

Dengan kata lain, periode abad ke-15 merupakan zaman kejayaan kerajaan Majapahit yang marak dengan aktivitas keagamaan hingga pada saat runtuhnya kerajaan tersebut merupakan awal kemunduran pengaruh agama Hindu dan Buddha di Jawa, dan kemudian merupakan masuknya pengaruh agama Islam. Pengaruh agama yang masuk ke dalam suatu wilayah, dalam hal ini Jawa, tentunya berkaitan dengan pengaruh politik dan kebudayaan yang menyertainya sekaligus. Dengan demikian terdapat keragaman agama, politik, dan budaya yang hidup berdampingan dalam kehidupan masyarakatnya.

Meskipun terjadi pergeseran pengaruh keagamaan pada saat itu, dan agama Islam menjadi semakin dominan di lingkungan masyarakat Jawa, namun dalam kehidupan spiritualitas terdapat kesamaan pandangan terhadap sebuah konsep yaitu tentang makrokosmos dan mikrokosmos. Konsep tersebut tidak hanya dimiliki oleh agama Hindu dan Buddha saja, tetapi Islam pun mengenalnya. Di dalam mistik Islam terwujud pada hubungan manusia dengan Tuhan dalam satu kesatuan DzatNya yang sekaligus merupakan satu kesatuan kosmos dalam konsep man arofah nafsahu, faqod arofah Rabbahu, „barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhanya (Tuhan alam semesta)‟. Di dalam Kitab Tantu Panggelaran hubungan makrokosmos (alam semesta) dan mikrokosmos (manusia) saling memberikan keseimbangan dari pencapaian kesempurnaannya masing-masing. 

Dengan demikian Kitab Tantu Panggelaran memberikan gambaran sebagai salah satu karya sastra yang merepresentasi kehidupan multikultural dalam cerita. Misalnya seperti kutipan di bawah ini :

Hana ta brahmāna sakeng Jambuddipa, sang hyang Tkěn-wuwung aranya; anggaganacara anūtta lari sang hyang Mahāmeru. Manwan ta tejā putih: “Ika pawitra nggoning sang hyang” lingnira. Anger ta sira luhurning thirtha mili maring Sukāyajnā; tuminghal ta sang hyang Içwara: “Jah sang brahmāna” … “haywa sira hangher hing ruhuring kene. Tunggal hikang bañu hiki, sugyan kita rinangkusa, acěpěl tikang bañu. Pamet hunggon maneh, hangruhuri dahat kita”. Ndah paksa tinaggehan sang brahmāna; kewalya juga tanangga, … metu cirinya tan yogya. Awamana ri sang pandita, …, angising taya ring bañu: “Kadi wruhanira sang panddita” lingnira “Yan mamyāngising ring lwah.” … tuminghal ta bhatareçwara : “Uduh, rinangkusa hikang brahmāna, keli tahine sne. Ih, waluya ta ko, bañu, pareng natare dang hyang Tkěn-wuwung!” …. Mwajar dang hyang Tkěn-wuwung: “Ih, bañu mili maring natar, ising mangan tayang mami, huni wus lepas keli, mangke ta munggwing natar. ,,,. Ih, çakti tmen sang pāndita!” Rěp datang dang hyang Tkěn-wuwung ri kahanan sang hyang Içwara: “Uduh sangtabya ranak sang pāndita; …. Mapa kalinganya?” Sumahur bhatāra Içwara: “Ah, rinangkusa tan sipi dahat, harih, ….…. “Lah, sang brahmāna yan ahyun warahen, lamun si kita haywa salah rūpa; den tunggal kang warnna; pawiku kita hiri kami, manandanga hupakāra bhatāra, matangnyan tunggal kang warnna.” “Uduh, bhagawan yan mangkana, pwangkulun.” Wilaça laksana ning wiku; rěp sdang sinangaskāra sang brahmāna, kinen çiwopakārana; inaranan mpu Siddayogi. Winarah ring upadeça de bhatareçwara.

Kutipan di muka, mengisahkan tentang hadirnya seorang brahmana berasal dari India yang bernama Teken-wuwung ke pulau Jawa pada saat ia mengikuti pemindahan gunung Mahameru. Kisah ini menggambarkan bahwa pemindahan Mahameru ke tanah Jawa, disertai masuknya budaya India yang dibawa oleh sang brahmana. Namun ketika tindakan sang brahmana menyalahi tatanan masyarakat dan lingkungan setempat, maka ia harus menyesuaikan diri dengan budaya yang berada di lingkungan tempat tinggalnya. Tatanan masyarakat yang disesuaikan adalah sang brahmana disucikan kembali oleh pendeta Siwa sebagai seorang Wiku di tanah Jawa dengan berganti nama Sidayogi. Dan pada tatanan lingkungan, Sang Brahmana tidak diperkenankan mengotori aliran sungai dari pegunungan dengan perlakuannya yang tidak pada tempatnya/tidak senonoh (buang air besar). Kisah tersebut menggambarkan hubungan makrokosmos dan mikrokosmos serta akulturasi budaya dalam sebuah keseimbangan yang ditata demi keselarasan kehidupan. Gunung Mahameru sebagai titik pusat alam semesta dan tatanan lingkungan hidup yang diwakili oleh sungai yang mengalir dari daerah pegunungan merupakan makrokosmos. Manusia yang berada di lingkungan itu berselaras dengan keadaan sekitar agar dapat terus menjaga keseimbangan merupakan gambaran mikrokosmos. Hubungan timbal balik di antara keduanya dapat mewujudkan harmonisasi dalam kehidupan dengan proses akulturasi pada aspek budaya. Proses akulturasi yang terjadi dalam kisah ini adalah penyesuai budaya.India terhadap budaya Jawa dalam konsep agama Hindu, yang diwakili oleh pendeta. Siwa, dan agama Buddha, yang diwakili oleh sebutan bagi sang brahmana setelah disucikan, Sidayogi. Berdasarkan latar belakang budaya dan sejarah perkembangan agama tersebut, posisi Kitab Tantu Panggelaran sebenarnya dalam lingkungan masyarakat yang telah mendapat pengaruh agama Islam. Namun konsep-konsep yang terdapat di dalamnya merupakan pengaruh ajaran Hindu yang terbawa dari India, sedangkan agama

Hindu ketika itu (di India) memiliki dasar ajaran dari agama Buddha, sehingga secara tidak langsung ajaran-ajaran yang terdapat di dalam Kitab Tantu Panggelaran sekaligus mendapatkan pengaruh agama Buddha. Jejak pengaruh India itu terungkap jelas dalam cerita Kitab Tantu Panggelaran, terutama dalam pengungkapan di awal ceritanya, seperti kutipan berikut :

…. Yata matangnyan hengang henggung hikang nusa Jawa, sadala molah marayegan, hapan Tanana sang hyang Mandarparwwata, nguniweh janma manusa. Yata matangnyan mangadeg bhatara JagaKitab Tantu Panggelaran ramana, rep mayugha ta sira ring nusa Yawadipa …; yata matangnya hana ri Dihyang ngaranya mangke, tantu bhatara mayugha nguni kacaritanya. Malawas ta bhatara manganaken yugha, motus ta sira ri sang hyang Brahma Wisnu magawe manusa. ….….

“Uduh kamu kita hyang dewata kabeh, rsigana, curanggana, widyadara, gandarwwa, laku pareng Jambudipa, tanayangku kita kabeh, alihakna sang hyang Mahameru, parakna ring nusa Jawa, makatitindih paknanya marapwan apageh mari enggangenggung ikang nusa Jawa, lamun tka ngke sang hyang Mandaragiri. Laku, tanayangku kabeh!”

Dinyatakan bahwa pada saat itu pulau Jawa masih berguncang ke sana kemari, selalu bergerak berpindah-pindah sebab tidak ada gunung-gunung (Tanana Sang Hyang Mandaraparwwata), bahkan belum ada manusia (nguniweh janma manusa), maka batara JagaKitab Tantu Panggelaran ramana (nama lain batara Guru) bersemadi (mayugha) di pulau Jawa, di Dihyang tepatnya, sekarang tempat tersebut dikenal dengan nama Dieng. Setelah batara Guru selesai melakukan semadi, kemudian memerintahkan Hyang Brahma dan Wisnu untuk menciptakan manusia (motus ta sira ri sang Hyang Brahma Wisnu magawe manusa). Selanjutnya dipaparkan tentang perintah Batara Guru memindahkan gunung Mahameru yang berasal dari Jambudwipa (=India) ke pulau Jawa untuk dijadikan sebagai tindihnya, agar pulau Jawa berhenti bergerak berpindah-pindah. Memperhatikan cerita tersebut di atas, dengan memindahkan gunung Mahameru dari India ke pulau Jawa, memungkinkan terjadinya proses Indianisasi. Mahameru yang dianggap sebagai titik pusat alam semesta itu, kemudian dipindah ke pulau Jawa untuk digunakan sebagai poros kekuatan gunung dari gunung-gunung lain. Gunung-gunung lain itu terjadinya dari serpihan tanah yang runtuh dari gunung Mahameru ketika dipindahkan, yaitu gunung Kelasa, Wilis, Kampud, Kawi, Arjuna, Kumukus, dan lain sebagainya. Berdasarkan paparan di atas, bahwa dalam Kitab Tantu Panggelaran terdapat pengaruh-pengaruh agama Hindu dan Buddha sekaligus serta terungkapkan jejak-jejak Indianisasi dari transformasi budaya dan politik ketika gunung Mahameru dipindahkan. Yang menjadi pertanyaannya adalah dapatkan Kitab Tantu Panggelaran dinyatakan sebagai teks multikultural? Untuk mengetahui hal itu, Kitab Tantu Panggelaran perlu diperiksa dengan difokuskan pada kajian multikulturalisme. Multikulturalisme dalam teks Kitab Tantu Panggelaran Menurut Dwipayana (Bali Post, 21 September 2007), di Jawa telah terjadi proses Indianisasi. Ada beberapa catatan penting yang berkaitan dengan proses tersebut, yaitu pertama, mitos India lebih menjadi fenomena Jawa. Kedua, Indianisasi tidak sepenuhnya berhasil membangun secara totalitas peradaban India karena Indianisasi harus berhadapan dengan fragmentasi paham keagaman serta masih hidupnya sistem kepercayaan lokal sebelum Indianisasi berkembang. Oleh karena terjadi pola penerimaan dan pertukaran antara peradaban India dengan lokalitas. Ketiga, Indianisasi sangat terkait dengan bangun kekuasaan politik yang menopangnya. Dengan demikian Indianisasi tidak an sich fenomena kebudayaan melainkan juga fenomena politik. Namun, penetrasi sistem kepercayaan dominan itu tidak selalu berakibat penghancuran pada sistem agama lokal, kadangkala hubungannya bisa koeksistensi atau bahkan merupakan sinkretisme, di mana sistem agama dominan berdampingan dengan sistem agama lokal. Walaupun demikian, sistem kepercayaan yang dianut oleh pemegang kuasa politik menjadi acuan dari sistem kepercayaan sosial masyarakat secara keseluruhan. Relasi antara kekuasaan dan bangun paham keagamaan sedemikian kuatnya sehingga keduanya berada dalam hubungan yang mutualistik. Dalam sebagaian besar isi cerita Kitab Tantu Panggelaran nampak yang dominan adalah agama Hindu. Namun secara tersirat tidak bermasalah berdampingan dengan agama Buddha dalam menyampaikan ajarannya. Agama Islam yang berkembang dalam kehidupan masyarakat pun tetap dapat menerima kehadiran Kitab Tantu Panggelaran karena apa yang terdapat di dalamnya tidak menyimpang dari nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku. Berbeda dengan masa lalu, proses Indianisasi sangat didukung oleh system perdagangan global dan pola ekspansi paham keagamaan yang ditopang oleh kekuasaan politik, Indianisasi sangat dibantu oleh globalisasi dan mempunyai banyak wajah. Bagi kalangan yang pembela sistem beragama dengan kebudayaan lokal, Indianisasi dianggap mengabaikan nilai dan sistem lokal, sehingga dianggap sebagai bentuk gerakan penyeragaman (homogenisasi) cara beragama yang baru. Kritik ini didasarkan atas pengertian Indianisasi sebagai peminjaman acuan tradisi keberagaman yang secara umum digunakan di India untuk diterapkan dalam konteks lokal di luar India. Dalam Kitab Tantu Panggelaran, peristiwa-peristiwa tersebut digambarkan dalam kisah-kisah yang berkaitan dengan penggambaran tentang nama tokoh-tokoh, misalnya seperti para Bathara, Sidaresi, Hyang, Dewa, atau Wiku, dan lain sebagainya.

Contoh penyebutan untuk batara Guru dengan beberapa jenis namanya dalam Kitab Tantu Panggelaran, antara lain :

1.      Bathara JagaKitab Tantu Panggelaran ramana, ketika ia sedang pramana „memperhatikan‟ jagat „dunia‟ yang kacau dan ia berusaha hendak menatanya kembali.

2.      Bathara Jagatnata, ketika bathara Guru memerintahkan golongan dewa agar membuat tempat tinggal di pulau Jawa dan lain-lain (Yawadipantara).

3.      Bathara Mahakarana, ketika ia melanjutkan memerintahkan para dewa untuk mencipta berbagai jenis pekerjaan di pulau Jawa (sebagai pandai besi, pandai emas, ahli bangunan, pelukis, guru) dengan perangkat, sarana dan prasarana yang digunakan dan atau dikenakan oleh manusia (alat pertukangan, membangun rumah, membuat perhiasan, lukisan, tenunan untuk pakaian) serta memerintahkan agar para dewa mencari pengokoh pulau Jawa yang masih bergoyang.

4.      Bathara Nilakanta, ketika ia menguji air bisa Kalakuta yang keluar dari gunung Mahameru yang mengakibatkan para dewa wafat, lehernya menghitam akibat meminum air yang beracun itu dan diubahnya air menjadi tatwamerta siwamba “air suci dasar hidup‟; dan seterusnya.

5.      Bhatara Parameswara, ketika ia melanjutkan membuat tempat-tempat suci/mandala di pulau Jawa.

Hal di atas mengungkapkan bahwa penyebutan nama-nama bathara Guru tersebut sesuai dengan gambaran peran yang diembannya selama ia berada di tanah Jawa. Selain itu, sebutan bathara Guru menurut Royo (2003: 188-189) adalah merupakan penjelmaan Siwa yang sedang berperan sebagai guru. Sementara itu, Siwa sendiri dikenal sebagai dewa agama Hindu yang sangat penting di India. Dalam tulisannya tentang Siwa in Java: The Majestic Great God and the Teacher pada Ars Orientalis Royo menyatakan bahwa :

Siwa the teacher is Siwa Bhatara Guru (Lord Teacher), that is, Siwa when one thinks of him as teacher. …--realities, incidentally, that are inner, accessible through meditation practice, centered on one’s own body. A manifestation of Siwa rule over each reality, and Bathara Guru is Siwa manifesting himself in the visible reality. …. Thus Siwa is Bhatara Guru as he is simultaneously Mahadewa, Sadasiwa, as he is also Sang Paramartha (The Highest). …. In my view, the category of Siwa the Teacher ought to comprise such images, mostly from Centra Java, especially Dieng …. They represent Siwa seated in a meditative posture ….

Siwa sang guru adalah Siwa Bhatara Guru (Tuan Guru), yaitu Siwa ketika seseorang berpikir dari dirinya sebagai guru. …--realitas, kebetulan, yang batin, dapat diakses melalui latihan meditasi, berpusat pada tubuh sendiri. Wujud dari Siwa menguasai setiap realitas, dan Bathara Guru adalah Siwa yang memanifestasikan dirinya dalam realitas yang kasat mata. …. Jadi Siwa adalah Bhatara Guru karena dia sekaligus Mahadewa, Sadasiwa, sebagaimana adanya juga Sang Paramartha (Yang Tertinggi). …. Dalam pandangan saya, kategori Siwa sang Guru seharusnya terdiri dari gambar-gambar seperti itu, kebanyakan dari Jawa Tengah khususnya Dieng…. Mereka mewakili Siwa duduk dalam meditasi sikap ….

Peristiwa seperti pada kutipan di atas, juga terdapat pada awal cerita Kitab Tantu Panggelaran ketika batara Guru hendak menyelamatkan pulau Jawa yang masih berguncang ke sana ke mari, sebelum ia memerintahkan hyang Brahma dan Wisnu menciptakan manusia di pulau Jawa. Hal ini mengungkapkan bahwa nama-nama tersebut sebagai identifikasi dari peran yang sedang dilaksanakan oleh tokohnya (batara Guru). Secara garis besar, dapat dikatakan bahwa dalam lingkungan kepercayaan masyarakat pemilik cerita tersebut, penyebutan nama dianggap penting sebagai salah satu ciri perannya di dunia ini. Oleh karena itu, perubahan atau pergantian peristiwa ke peristiwa dalam cerita dapat diikuti dari identifikasi perbedaan dan atau pergantian penyebutan nama yang tersebutkan. Bila dilihat secara historis, Indianisasi dihubungkan dengan kelahiran dan berkembangnya berbagai aliran, yang tentu saja mengalami interaksi dengan kepercayaan lokal pada saat itu. Interaksi antara berbagai aliran dengan kepercayaan lokal menyebabkan paham keagamaan yang terbangun tidak sepenuhnya bertahan dalam bentuk aslinya, melainkan mengalami proses silang budaya dengan kepercayaan lokal. Di samping menghadapi pengalaman dengan kepercayaan lokal, paham keagaman yang bersendikan pada sebuah aliran, hidup dalam pluralitas bisa saja berakhir dengan benturan-benturan paham keagamaan. Namun yang tergambar dalam Kitab Tantu Panggelaran merupakan sinkretisme dari agama Hindu dan Buddha yang memiliki toleransi hidup berdampingan dengan damai dan mengadakan penyesuaian dengan budaya setempat, yaitu budaya Jawa. Hal ini terungkap dalam cerita ketika para resi diperkenankan mendirikan pusat-pusat pendidikan agama yang dikenal sebagai mandala atau kadewaguruan, terletak jauh dari pusat keramaian. Diawali oleh batara Parameswara (Bathara Guru) yang membangun tempat suci atau mendirikan mandala di pulau Jawa dengan mengenakan pakaian lengkap dan ikat/iket dan menduduki takhta di daerah tersebut, yaitu mandala Sarwasida, Sukawela, dan Sukayajna. Pakaian lengkap dan iket yang dimaksud di sini adalah sebagai persyaratan bagi orang Jawa yang harus dikenakan ketika melaksanakan kegiatan atau aktivitas resmi, seperti ritual-ritual keagamaan, adat dan atau kenegaraan. Dan tujuan dibuatnya mandala itu sebagai tempat pembebasan leluhur yang telah mencapai kesempurnaannya (pelepasan diri/moksa). Dikisahkan bahwa pencapaian kesempurnaan manusia dilakukan dengan pancagati sangsara (dari manusia disucikan menjadi wiku, lalu menjadi dewa, hyang, sidaresi, dan terakhir menjadi bhatara) sebagai pelepasan diri manusia melalui lima tingkat penjelmaan dalam rangka lingkaran lahir kembali, seperti kutipan di bawah ini :

Mojar ta bhatāra Guru :

“Kapan ta kang manusa limpada sakeng pañcagati sangsara? Dawning makāryya mandala panglpasana pitarapāpa. Antuk aning manusa mangaskara hayun wikuha; matapa sumambaha dewata, dewata suměngkaha watěk hyang, watěk hyang suměngkāha siddārsi, siddārsi suměngkāha watěk bhatāra. Lena sakerikā hana pwa wiku sasar tapabratanya; tmahanya tumitis ing rāt, mandadi ratu cakrawarthi wiçesa ring bhuwana, wurungnya mandadi dewata. Matangnyan wuwurungan dewata prabhu cakrawarthi, apan tmahan ing wiku sasar tapabratanya hika. Matangnyan ta kita, hyang Wisnu, pangaskārani kanyu!”

 Dalam agama Hindu, konsep tersebut dikenal dengan sebutan reinkarnasi sebagai kelahiran kembali sesuai dengan karma manusia, sedangkan dalam agama Buddha pelepasan diri manusia mencapai nirwana melalui dharma. Dalam setiap kenaikan dalam tingkatan tapa itu, masing-masing harus melalui pensucian kembali hingga di akhir pencapaian menjadi batara yang telah melepaskan diri dari segala kegiatan yang bersifat duniawi. Hal ini merupakan pelepasan diri dari kesengsaraan untuk mencapai kebahagiaan abadi. Dalam agama Buddha dikenal Samsara adalah titik pencapaian satu kesatuan kesadaran antara makrokosmos dan mikrokosmos, yaitu nirwana. Memperhatikan kisah tersebut, dapat diketahui bahwa konsep pancagati sangsara itu merupakan ajaran yang berasal dari agama Buddha. Dengan demikian, dari contoh kisah ini terungkapkan bahwa Kitab Tantu Panggelaran yang dinyatakan sebagai cerita yang sebagian memuat kehidupan agama Hindu, namun juga mendapat pengaruh dari ajaran agama Buddha. Jumlah kedewaguruan kian banyak setelah masa Hayam Wuruk dan menjadi pusat percampuran budaya India dan budaya lokal. Kitab Tantu Panggelaran pun menyebutkan namanama tempat tersebut dari yang pertama dibangun, mandala Sarwasida hingga yang terakhir mandala Hahah yang berada di sekitar gunung Mahameru (Pawitra). Pembangunan selanjutnya adalah dari masing-masing para suci yang telah menerima wewenang dari Bhatara Guru.

Demikian pula, banyak mitos tentang dewa-dewi yang tidak pernah didengar di India dijumpai di Jawa, misalnya :

1.      Hyang Kandyawan,

2.      Sang Mangukuhan,

3.      Sang Sandang Garba,

4.      Sang Katung Malaras,

5.      Sang Karung Kalah,

6.      Sang Wreti Kandayun,

7.      Batari Sri,

8.      Sang hyang Ketek-meleng,

9.      Batari Smari,

10.  Batari Uma, dan lain-lain.

Masyarakat Majapahit dengan sadar menciptakan dewadewi baru, dan dalam karya sastra bernama Tantu Panggelaran secara implisit disebut perubahan terjadi karena ”dewa-dewa Jambhudwipa telah menjadi dewadewa Jawa”, disebabkan oleh pemindahan puncak gunung Mahameru ke Pulau Jawa. Dwipayana (Bali Post, 21 September 2007) pun menyatakan bahwa proses Indianisasi mengalami kemunduran ketika kuasa politik para Maharaj di India kemudian jatuh ke tangan Sultan-sultan Moghul yang beragama Islam. Kemunduran itu memungkinkan bagi terjadinya bentuk baru dalam pembangunan sistem kepercayaan di wilayah-wilayah yang dahulunya menjadi sasaran Indianisasi. Salah satu bentuk kreasi lokal yang paling nampak dalam sejarah adalah ekspansi sistem keagamaan yang dibawa oleh kekuasaan Majapahit. Terbukti dengan ditulisnya Kitab Tantu Panggelaran pada zaman masuknya Islam di masyarakat Jawa masih dapat diterima, karena cerita yang terdapat di dalamnya tidak menyimpang dari ajaran kesucian. Bahkan Kitab Tantu Panggelaran tergolong teks yang memiliki motif sama dengan Bhimasuci yang dikenal sebagai motif ajaran pada masa perkembangan Islam di Jawa. Bhima adalah tokoh epik India dalam Mahabharata. Ia adalah anak kedua Pandu dari lima bersaudara (Pandawa Lima). Bhima dalam cerita Mahabharata India ini kemudian dimodifikasi di lingkungan Indonesia yang memiliki karakteristik pahlawan dalam wayang kulit Jawa. Figur Bhima dan perannya dalam Bhimasuci menjadi sangat khusus di Jawa, karena karakter ini tidak dikenal di India, yaitu ketika ia belajar tentang kespiritualan kepada Druna berkaitan dengan pencarian rahasia air kehidupan. Dalam Kitab Tantu Panggelaran rahasia air kehidupan ini pun tergambarkan sebagai air suci dasar hidup yang merupakan sumber kehidupan dari golongan dewa dan seluruh makhluk, serta alam semesta ini. Bagi yang hendak mencapai kesempurnaan, maka mereka diberi jalan dengan pancagati sangsara sebagai pelepasan diri seperti telah dipaparkan di muka. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa Kitab Tantu Panggelaran sebagai teks yang memuat multiagama dan multibudaya yang merupakan sinkretisme dari budaya Jawa, agama Hindu, dan agama Buddha.

 

Legenda Gunung Semeru

Gunung Semeru termasuk gunung api aktif yang berada di Indonesia. Lokasi Gunung Semeru mencakup dua kabupaten, yaitu Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur. Gunung dengan ketinggian mencapai 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini juga termasuk ke dalam jajaran gunung tertinggi di Indonesia. Gunung Semeru menempati posisi ketujuh sebagai gunung tertinggi di Indonesia. Sejarah Gunung Semeru dikaitkan dengan sejumlah legenda yang sudah diyakini secara turun temurun oleh masyarakat sekitar. Disebutkan bahwa puncak Gunung Meru di India sengaja dibawa Dewa Brahma dan Dewa Wisnu ke Tanah Jawa sebagai paku bumi atau pasak bumi. Oleh sebab itu, Gunung Semeru sering dianggap sebagai paku buminya Jawa. Paku bumi ini membuat Pulau Jawa menjadi seimbang dan stabil. Konon, Pulau Jawa terombang-ambing di lautan karena tidak ada penekannya. Kemudian, Pulau Jawa perlu diberi penekan agar tidak terombang-ambing. Dewa Wisnu dan Dewa Brahma lantas membawa puncak Gunung Meru untuk menjadi paku bumi di Tanah Jawa. Mulanya, puncak Gunung Meru itu diletakkan di bagian barat Pulau Jawa. Namun, keputusan itu membuat bagian timur pulau terangkat. Akhirnya, puncak gunung dipindah ke bagian timur. Sama seperti sebelumnya, kini giliran bagian barat yang terangkat. Para dewa memutuskan untuk membagi puncak Meru menjadi dua, satunya diletakkan di barat dan menjadi Gunung Penanggungan. Sementara bagian yang satu lagi diletakkan di timur Pulau Jawa, dan menjadi Gunung Semeru.

 

Legenda Gunung Semeru Paku Bumi di Tanah Jawa

Dalam kitab Tantu Panggelaran terdapat mitos yang menyebut bahwa Gunung Semeru adalah bagian dari Gunung Meru yang berada di India. Diceritakan bahwa bagian puncak Gunung Meru dibawa oleh Dewa Brahma dan Dewa Wisnu ke Tanah Jawa. Tujuannya agar menjadi pasak bumi. Merujuk pada naskah Jawa abad ke-16, Tantu Panggelaran ada yang menyebut juga Tantu Pagelaran, Denys Lombard dalam buku jilid ketiga Nusa Jawa: Silang Budaya, Warisan Kerajaan-kerjaan Konsentris mengutip kisah Bhatara Guru (Siva atau Shiwa) yang bertapa di Gunung Dieng. Dalam semedinya, Bhatara Guru meminta kepada Dewa Brahma dan Dewa Wisnu agar Pulau Jawa diberi penghuni. Atas permintaan itu, Dewa Brahma mencipta kaum lelaki dan Wisnu mencipta perempuan. Kitab Tantu Pagelaran peninggalan Kerajaan Majapahit menyebutkan bahwa Bhatara Guru memerintahkan Dewa Wisnu untuk mengisi Pulau Jawa dengan manusia. Tak berhenti di situ, para dewa pun memutuskan untuk tinggal di Pulau Jawa dengan sekalian memindahkan Gunung Meru salah satu penamaan untuk Gunung Semeru dari Negeri Jambudvipa alias India. Sejak itu, Tanah Jawa menjadi bumi kesayangan para dewata. Diceritakan, saat itu Pulau Jawa masih terombang-ambing dan terus berguncang karena mengambang di lautan luas. Hal tersebut membuat para dewa memutuskan memaku Pulau Jawa dengan gunung sebagai paku bumi. Awalnya gunung tersebut diletakkan di bagian barat, tapi hal tersebut membuat bagian timur Pulau Jawa terangkat, kemudian gunung dipindahkan ke bagian timur. Sayangnya, ketika dibawa ke arah timur, serpihan gunung tercecer, mengakibatkan terjadinya jajaran pegunungan di Pulau Jawa memanjang dari barat ke timur.  Letusan Gunung Semeru Mengungsi ke Jember, Trauma Bencana Susulan Walaupun sudah dipindahkan ke timur, Pulau Jawa tetap miring. Para dewa pun memutuskan memotong sebagian gunung kemudian menempatkannya di bagian barat laut yang kemudian menjadi Gunung Penanggungan. Bagian utama gunung Mahameru yang konon menjadi tempat bersemayamnya Dewa Shiwa, kini lebih dikenal sebagai gunung Semeru. Gunung Semeru juga disebut sebagai pinkalalingganingbhuwana yakni lingga bagi dunia. Untuk memperindah pertapaannya, Dewa Siwa membuat sebuah danau untuk pemandian yang kemudian diduga berwujud Ranu Kumbolo. Bagi pecinta alam, Gunung Semeru adalah salah satu gunung yang wajib dikunjungi. Selain menjadi gunung tertinggi di Pulau Jawa, Semeru memiliki jalur pendakian yang dinilai menantang bagi pendaki. Dikutip dari tulisan Cut Dwi Septiasari yang berjudul Serba-serbi Semeru Serba Seru di buku Soe Hok Gie...Sekali Lagi dijelaskan catatan pendakian Semeru pertama kali dilakukan tahun 1838. Menurut catatan buku Bergenweelde karangan Carel Willem Wormser, Gunung Semeru pertama kali didaki oleh GF Clingnett, seorang ahli geologi berkebangsaan Belanda. Ia mendaki Gunung Semeru dari arah sebelah barat daya melewati Widodaren pada 19 Oktober 1838. Pendaki selanjutnya adalah FW Junghuhn, seorang ahli botani berkebangsaan Belanda yang mendaki dari utara melewati Gunung Ayek-ayek, Gunung Ider-ider, dan Gunung Kepolo pada tahun 1844. Sebelumnya, Nes, Redisen Pasuruan mencoba mendakinya, namun ia gagal mencapai puncak. Pada tahun 1911, Van Gogh dan Heim mendaki lewat lereng utara dan setelah tahun 1945, umumnya pendakian Semeru dilakukan lewati jalur ini melalui Ranu Pane dan Ranu Kumbolo. Hingga tahun 2009, dalam kurun waktu 40 tahun sudah ada 28 pendaki Gunung Semeru yang meninggal dan 3 orang pendaki dinyatakan hilang. Dan saat ini jumlahnya pun terus bertambah. Menurut catatan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger, korban pertama yang meninggal saat mendaki Gunung Semeru adalah aktivis dan penulis, Soe Hok Gie dan rekannya Idhan Lubis. Mereka meninggal dunia pada 16 Desember 1969. Korban ke-28 adalah Andiko Listyono Putra (20), mahasiswa semester 2 Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM. Ia ditemukan tewas di jurang Blank 75 puncak Semeru kedalaman 100 meter pada Agustus 2009 setelah dinyatakan hilang selama enam hari. 

 

Rumah tertinggi sepasang arca kuno

Dikutip dari artikel berjudul Pertapaan Kameswara dan Prasasti di Danau yang ditulis oleh Norman Edwin anggota Mapala UI, di Gunung Semeru ada dua situs purbakala yang ditemukan. Yang pertama adalah prasasti di Ranu Kumbolo dengan inskripsi berhuruf dan berbahasa Jawa Kuno. Diperkirakan prasasti ini berasal dari awal abad XIII atau akhir abad XII Masehi. Dalam prasasti tersebut dijelaskan terkait kunjungan Kameswara, seorang raja dari Kerajaan Kediri yang berziarah di sebuah pemandian suci di sekitar Semeru. Diperkirakan Sang Raja meninggalkan istana untuk bertapa di daerah tersebut. Kepurbakalaan lain adalah dua buah arca di Recopodo. Arca ini sulit dikenali karena kepala dan separuh badannya sudah hilang. Kedua arca tersebut terletak di lerang utara kerucut Mahameru. Wajah kedua arca menghadap ke selatan dan setiap orang yang berhadapan dengan kedua arca tersebut, pandangannya akan menatap puncak Mahameru. Diperkirakan, dua arca tersebut adalah wujud dari Dewa Siwa dan istrinya karena menurut Tantu Panggelaran, Puncak Mahameru adalah tempat kediaman Dewa Siwa.

 

Dari kejauhan, berbentuk kerucut sempurna

Dari tulisan Cut Dwi Septiasari yang berjudul Serba-serbi Semeru Serba Seru di buku Soe Hok Gie...Sekali Lagi, ia menjelasaskan dari kejauhan, Gunung Semeru berbentuk seperti kerucut sempurna. Namun saat berada di puncak, Gunung Semeru berbentuk starato (kerucut terpancung) yang luas dengan medan beralur di setiap tebingnya. Puncak Gunung Semeru memiliki dua kawah  yaknu kawah Mahameru yang sudah tidak lagi aktif dan kawah Jonggring Seloko yang masih aktif. Dari catatan yang ada, Gunung Semeru meletus pertama kali pada 8 November 1818. Letusan besar berikutnya pada 29-30 Agustus 1909 yang dikenal dengan bencana Lumajang.n Pada tahun 1981, juga terjadi letusan besar yang menewaskan ratusan penduduk di sekitarnya.  Hingga pada tahun 1990, terjadi guguran kubah lava yang menghasilkan awan panas dan kawah Jonggring Seloka terbuka hingga saat ini. Cut Dwi menyebut ada dua macam bahaya jika Semeru meletus. Bahaya primer adalah batu, kerikil, pasir, dan debu panas yang dimuntahkan saat letusan. Bahkan, panasnya bisa mencapai di atas 600 derajat celsius. Sementara bahaya sekunder adalah lahar dingin atau material piroklastik yaitu material vulkanis seperti pasir, kerikil, dan batu yang telah dingin. Bila timbunan material ini terbawa arus air, bisa menerjang apa saja dan menimbulkan bencana.

 

Sejarah panjang letusan Semeru

Menjadi salah satu gunung api aktif di Indonesia, Gunung Semeru tercatat mengalami letusan beberapa kali, dimulai sejak 1818. Dilansir dari laman BNPB, catatan letusan yang terekam pada 1818 hingga 1913 tidak banyak informasi yang terdokumentasikan. Kemudian, pada 1941-1942 terekam aktivitas vulkanik dengan durasi panjang. Dilansir dari laman Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Badan Geologi, berikut catatan sejarah letusan Gunung Semeru :

1941 - 1942

Letusan dalam celah radial. Leleran lava pada 21 September 1941 hingga Februari 1942. Letusan sampai di lereng sebelah timur pada ketinggian antara 1400 dan 1775 meter. Titik letusan sebanyak 6 tempat. Leleran lava masuk ke B. Semut dan menimbuni Pos Pengairan Bantengan. Aliran lava sepanjang 6,5 kilometer.

1946

Awan panas dan tanah garapan rusak. Februari-Mei, Oktober-Desember. Pembentukan kubah (Adnawidjaja, 1947).

1950

Lava mengalir ke Besuk Sat dan guguran lava masuk ke Besuk Semut akibat letusan pada Juli dan 23 November hingga Desember.

1951

Aliran lava masuk ke Besuk Semut.

1952

Aliran lava masuk sampai ke Totogan Malang dan aliran lava ke Besuk Kobokan sampai di Curah Lengkong.

1953 - 1960

Aktivitas vulkanik tercacat beruntun.

1977

 Guguran lava menghasilkan awan panas guguran berjarak 10 kilometer di Besuk Kembar dengan volume endapan 6,4 juta m3.

1978 – 1989

Aktivitas vulkanik terus berlanjut

1990 - 2008

Tercatat aktivitas vulkanik Gunung Semeru. Pada 2008 terjadi beberapa kali erupsi, yaitu pada rentang 15 - 22 Mei 2008. Pada 22 Mei 2008, empat kali guguran awan panas yang mengarah ke wilayah Besuk Kobokan dengan jarak luncur 2.500 meter.

 

Karakter letusan Gunung Semeru

Aktifitas Gunung Semeru tedapat di Kawah Jonggring Seloko yang terletak di sebelah tenggara puncak Mahameru. Letusan Semeru umumnya letusan abu bertipe vulkanian dan strombolian yang terjadi 3-4 kali setiap jam. Letusan tipe vulkanian dicirikan dengan letusan eksplosif yang kadang-kadang menghancurkan kubah dan lidah lava yang telah terbentuk sebelumnya. Selanjutnya terjadi letusan bertipe strombolian yang biasanya diikuti dengan pembentukan kubah dan lidah lava baru. Ketika terjadi letusan eksplosif biasanya dikuti oleh terjadinya aliran awan panas yang mengalir ke lembah-lembah yang lebih rendah dan arah alirannya sesuai dengan bukaan kawah dan lembah-lembah di Gunung Semeru.  Gunung tertinggi ketujuh di Indonesia Dilansir dari laman Magma Indonesia, setidaknya ada 127 gunung api aktif di Indonesia. Namun, hanya 69 gunung aktif yang dipantau oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Beberapa di antara ratusan gunung tersebut memiliki ketinggian yang menjulang hingga 4.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Dikutip dari Kompas.com (2/8/2022), berikut daftar 10 gunung tertinggi di Indonesia: Gunung Puncak Jaya (4.884 mdpl), barisan Pegunungan Sudirman di Kabupaten Puncak Jaya, Papua. Gunung Puncak Trikora (4.750 mdpl), Papua Gunung Puncak Mandala (4.670 mdpl), Kabupaten Bintang, Papua Gunung Ngga Pilimsit (4.717 mdpl), bagian dari Pegunungan Maoke, Papua Gunung Kerinci (3.805 mdpl), Sumatera Gunung Rinjani (3.726 mdpl), Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat Gunung Semeru (3.676 mdpl), Kabupaten Malang dan Lumajang Gunung Sanggar (3.564 mdpl), Nusa Tenggara Barat (NTB) Gunung Latimojong (3.478 mdpl), Kabupaten Enrekang Gunung Slamet (3.428 mdpl), Kabupaten Banyumas, Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal, Kabupaten Purbalingga, dan Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.

 

Hikayat Gunung Semeru dan Tonggak Pulau Jawa versi Kitab Tantu Panggelaran

Gunung Semeru sendiri dianggap keramat oleh leluhur, bahkan dalam kitab kuno Tantu Panggelaran, Gunung Semeru atau Mahameru disebut sebagai tonggak penciptaan Pulau Jawa yang diangkat dari India agar senantiasa kokoh.

Menurut kepercayaan orang India, Gunung Meru berdiri di pusat dunia dan di atasnya bersinar bintang utara atau bintang kutub.

Rakyat Ural-Altaic juga mengenal gunung pusat, Semeru, yang di atas puncaknya bintang utara ditetapkan.

Menurut Dosen UI, Turita Indah Setyani, dalam studinya Myths and Kekinian, Study of the Text Tantu Panggelaran, mengungkapkan, di Jawa, sejak zaman berkembangnya agama Hindu dan Buddha, Gunung Mahameru dipercayai sebagai titik pusat alam semesta.

Gunung Mahameru yang dimaksud adalah gunung dalam konsepsi ajaran Hindu.

Mulanya Mahameru terletak di benua Jambudwipa (India) sebagai pusat alam semesta yang merupakan tempat persemayaman para dewa.

Benua Jambudwipa dicirikan dikelilingi tujuh lautan dan rangkaian pegunungan.

Di tepi samudera terluar terdapat dinding pegunungan yang tidak dapat didaki manusia yang disebut Chakrawala atau Chakravan.

Matahari, bulan dan bintang beredar mengelilingi puncak Mahameru yang menjulang tinggi.

Dan konon di langit di atas puncak Mahameru terdapat tujuh lapisan surga.

Dalam teks Tantu Panggelaran, diceritakan, ketika Batara Guru memerintahkan hyang Brahma dan Wisnu menciptakan manusia, Pulau Jawa masih bergoyang dan bergerak berpindah-pindah lantaran belum terdapat gunung-gunung sebagai pengukuh.

Oleh sebab itu, batara Guru bersemadi di Dihyang yang kini menjadi Dieng di Pulau Jawa bersama batari Prameswari.

Setelah Batara Guru lama bersemadi, ia memerintahkan para dewa, golongan resi, raksasa, bidadara, dan makhluk setengah dewa untuk memindahkah gunung Mahameru dari India ke Pulau Jawa, agar Pulau Jawa tidak bergoyang lagi dan menjadi kokoh.

Batara Wisnu bertugas menjadi naga untuk memutar Mahameru, Batara Brahma menjadi kura-kura sebagai alas untuk menggotongnya, dan Batara Bayu sebagai dewa kekuatan bersama para dewa, golongan resi, raksasa, bidadara, dan makhluk setengah dewa tersebut mengangkat gunung Mahameru.

Setelah sampai di Pulau Jawa, Gunung Mahameru diletakkan di bagian Barat.

Tetapi Pulau Jawa menjadi berat sebelah karenanya, akibatnya bagian barat menjadi turun dan bagian timur menjadi naik.

Oleh karena itu, agar pulau Jawa menjadi seimbang, Mahameru kemudian dipangkas bagian atasnya dan dibawa ke timur.

Sementara Bongkotnya tetap berada di barat bernama Gunung Kelasa.

Pada saat puncak gunung Mahameru dibawa ke arah timur, ada bagian-bagian yang berguguran dari gunung tersebut yang menjadi gunung-gunung pula.

Tanah yang runtuh pertama menjadi Gunung Katong, yang kedua menjadi Gunung Wilis, yang ketiga menjadi Gunung Kampud, yang keempat menjadi Gunung Kawi, yang kelima menjadi Gunung Arjuna, dan yang keenam menjadi Gunung Kumukus.

Karena banyak tanah yang runtuh, puncak Gunung Mahameru menjadi ceruk, sehingga berdirinya agak condong ke bagian utara.

Agar berdirinya kokoh, puncak Mahameru kemudian disandarkan ke Gunung Brahma.

Puncak gunung tersebut diberi nama Pawitra.

Sementara, bagian utama dari Gunung Meru, tempat bersemayam Dewa Siwa, sekarang dikenal dengan nama Gunung Semeru.

Pada saat Sang Hyang Siwa datang ke Pulau Jawa dilihatnya banyak pohon Jawawut, sehingga pulau tersebut dinamakan Jawa.

 

Mitos Gunung Semeru

Berikut beberapa misteri gunung semeru yang paling terkenal di kalangan masyarakat dan para pendaki :

1.      Hantu Wanita di Ranu Kumbolo.

Ranu Kumbolo adalah salah satu spot favorit bagi para pendaki. Panorama danau Ranu Kumbolo dengan air yang jernih akan memanjakan mata ketika berada di ranu kumbolo. Konon ada sebuah cerita misteri gunung semeru yang berlokasi di Ranu Kumbolo, cerita ini berkaitan dengan Hantu Wanita yang kerap kali menampakan diri pada malam bulan purnama. Menurut Cerita dari para pendaki, hantu wanita cantik ini nampak menggunakan baju kebaya berwarna kuning. Penampakan hantu di Ranu Kumbolo muncul dari gumpalan kabut tebal lalu perlahan kabut ini membentuk sosok wanita dengan pakaian berwarna kuning. Meskipun menurut masyarakat setempat hantu ini tidak mengganggu tetapi tetap saja akan membuat kira merinding bila bertemu langsung dwngan sosok ini. Konon menurut cerita masyarakat yang berdomisili di wilayah Jawa Timur, hantu wanita ini dipercaya sebagai dewi penunggu Ranu Kumbolo.

2.      Jangan memancing di Ranu Kumbolo.

Selain dikenal dengan airnya yang jernih di danau ranu kumbolo juga terdapat berbagai jenis ikan oleh karena itu banyak pendaki yang memancing disini untuk mengisi waktu luang, padahal masyarakat setempat sudah membuat larangan untuk tidak memancing di rano kumbolo bagi siapapun. Konon di dalam danau ini terdapat banyak ikan, salah satunya ikan mas, masyarakat setempat percaya bahwa ikan ikan mas di danau ini adalah dayang dari dewi penunggu ranu kumbolo. Jadi untuk mencegah dewi tersebut murka dan bisa saja menimbulkan hal hal yang tidak di inginkan. Maka setiap pendaki atau siapa saja yang berkunjung ke gunung semeru dilarang untuk memancing.

3.      TANJAKAN CINTA.

Tak berjarak jauh dari Danau Ranu Kumbolo terdapat sebuah tanjakan yang tidak terlalu tinggi tetapi cukup untuk membuat nafas tersengal sengal karena kelelahan mendaki tanjakan ini. Nama tanjakan tersebut adalah tanjakan Cinta, di film 5 CM pun tanjakan ini di gunakan sebagai lokasi syuting. Konon menurut mitos yang beredar luas, barang siapa yang berhasil naik di tanjakan cinta ini tanpa istirahat atau menoleh kebelakang maka harapan cintanya akan segera terkabul, anda akan bisa segera bersanding dengan pria atau wanita yang selama ini anda idamkan. Namun tentu saja tidak mudah untuk menaklukkan tanjakan cinta ini, karena selalu saja ada halangan untuk menoleh ke belakang.

4.      ARCOPODO.

Arcopodo merupakan kisah misteri gunung semeru yang cukup terkenal, arcopodo adalah dua patung yang konon merupakan jelmaan prajurit kerajaan majapahit. Konon menurut cerita masyarakat setempat, hanya orang orang yang memiliki indra keenam yang dapat menemukan arcopodo ini. Lokasi Arcopodo ini berada di pos terakhir pendakian sebelum mencapai puncak gunung semeru. Sampai saat ini tidak ada orang yang mengetahui pasti seberapa besar ukuran patung arcopodo ini. Ada yang mengatakan bahwa ukuran patung kembar ini sebesar anak kecil tetapi ada juga yang pernah melihat patung ini bahwa ukuran sebenarnya sebesar raksasa.

5.      Kesurupan di Kelik.

Kelik merupakan salah satu kawasan di gunung semeru, banyak batu in memorian dari orang orang yang meninggal di Gunung semeru berada di kawasan kelik ini. Nama sebesar Soe Hok Gie juga terukir dalam batu in Memorian di kelik. Sekilas kawasan ini nampak seperti biasa saja. Namun yang membuat kelik dianggap sebagai kawasan angker di gunung semeru adalah banyaknya kasus kesurupan yang terjadi di kelik. Korbanya bisa siapa saja baik pria maupun wanita, roh yang masuk kedalam tubuh korban bisa merupakan roh milik manusia atau binatang.

6.      Zona Tengkorak Blank 75.

Bagi para pendaki yang sudah biasa mendaki gunung semeru pasti sudah pernah mendengar tentang blank 75. Blank 75 atau zona tengkoran merupakan jalur maut yang berada di Gunung Semeru. Konon banyak pendaki yang hilang dan tersesat di kawasan ini. Jalur blank 75 merupakan jalur yg dilewati untuk mendaki puncak mahameru. Kawasan ini memiliki jurang yang curam. Nama blank 75 ini juga di dapat dari jurang kawasan ini yang rata rata bisa mencapai 75 meter. Jangan sampai tergesa gesa ketika melewati blank 75 agar tidak terjadi musibah atau kecelakaan.

7.      Keberadaan Mahluk Halus di Gunung Semeru.

Misteri Gunung Semeru memang tidak lengkap rasanya jika kita membahas seputar penampakan mahluk astral yang ada di gunung semeru. Konon digunung semeru juga ada sejumlah penampakan mahluk halus, biasanya para pendaki sering melihat penampakan mahluk astral ini. Di awal pendakian akan melintasi sebuah jembatan kecil yang terbuat dari kayu. Trcak jembatan ini cukup teduh karena sinar matahari terhalang oleh rimbunnya pepohonan. Akan tetapi tempat yang gelapndan lembab seperti ini banyak disukai mahluk astral. Menurut para pendaki, mereka sering melihat sosok wanita yang berdiri di jembatan ini. Penampakan ini sering keluar pada saat senja menjelang magrib.

 

Mitos dan Sejarah Gunung Semeru, Ramalan Pulau Jawa

Akibat dari erupsi ini mengakibatkan kerusakan terjadi di sejumlah desa dan wilayah sekitarnya. Gunung Semeru dikenal sebagai Mahameru merupakan gunung berapi yang melekat dengan mitos rakyat Jawa. Gunung yang memiliki ketinggian 3.676 mdpl ini, dipercaya sebagai tempat tinggal dewa-dewa. Terdapat mitos dan sejarah yang melekat dengan gunung yang berada di kawasan kabupaten Malang dan Lumajang ini.

Gunung Semeru merupakan gunung berapi yang melekat dengan mitos dan sejarah masyarakat Jawa. Gunung Semeru merupakan gunung berapi yang melekat dengan mitos dan sejarah masyarakat Jawa.

1.      Dibawa Dewa Brahma dan Dewa Wisnu. Salah satu mitos menyebutkan, Gunung Semeru dipercaya sebagai bagian puncak dari Gunung Meru di India. Gunung Semeru dibawa oleh Dewa Brahma dan Dewa Wisnu ke tanah Jawa untuk dijadikan pasak bumi. Kisah dalam Tantu Panggelaran menyebutkan bahwa sebelum Gunung Semeru ditancapkan, Pulau Jawa masih terombang-ambing di lautan lantaran belum ada penekannya.

2.      Tempat Bersemayam Para Dewa. Puncak Gunung Semeru dipercaya sebagai tempat bersemayam para Dewa Hindu dan menjadi penghubung antara Bumi dan Kahyangan. Masyarakat Hindu melakukan upacara sesaji kepada dewa-dewa di Gunung Semeru setiap 8-12 tahun. Pegunungan Tengger di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menjadi peribadatan masyarakat Tengger beragama Hindu.

3.      Kisah Pulau Jawa. Letusan Gunung Semeru dikaitkan dengan ramalan Jayabaya, yang menubuatkan bahwa Pulau Jawa akan terbelah. Cerita rakyat ini sudah lama berkembang di warga Banyumas dan sekitarnya yang dikaitkan dengan ramalan Jayabhaya.

4.      Ranu Kumbolo. Misteri Gunung Semeru lainnya adalah kisah penghuni Ranu Kumbolo. Ranu Kumbolo adalah sebuah danau yang terletak di dalam Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang berada di ketinggian 2.389 mdpl. Masyarakat sekitar percaya keberadaan Dewi berpakaian kebaya kuning di Ranu Kumbolo. Para pendaki dan masyarakat sekitar dilarang mandi, mencuci, bahkan mendirikan tenda dengan jarak 10 meter dari bibir danau. Pendaki juga dilarang memancing atau menangkap ikan apa pun di danau tersebut. Konon katanya, Dewi itu suka menjelma menjadi ikan emas besar yang bertugas menjaga wilayah tersebut.





Imajiner Nuswantoro 



Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)