RATU UGRASENA TABENDRA / MAYA DANAWA 882 M, KERAJAAN BALI

0

 RATU UGRASENA TABENDRA / MAYA DANAWA 882 M, KERAJAAN BALI



Imajiner Nuswantoro


Kerajaan tertua di Bali yang tercatat dalam sejarah Bali adalah Kerajaan Singamandawa atau Kerajaan Balingkang (882) M terletak di sekitar Batur. Keberadaan Kerajaan ini dikukuhkan melalui 15 prasasti yang berangka tahun 804 M. Dalam prasasti itu disebutkan raja Singamandawa adalah Ugrasena.

Dalam struktur kerajaan lama, Raja–raja Bali dibantu oleh badan penasehat yang disebut “Pakirakiran I Jro Makabehan” yang terdiri dari beberapa Senapati dan Pendeta Syiwa yang bergelar “Dang Acaryya” dan Pendeta Buddha yang bergelar “Dhang Upadhyaya”. Raja didampingi oleh badan kerajaan yang disebut “Pasamuan Agung” yang tugasnya memberikan nasihat dan pertimbangan kepada raja mengenai jalannya pemerintahan. Raja juga dibantu oleh Patih, Prebekel, dan Punggawa–punggawa.

Ratu Ugrasena merupakan keturunan Wangsa Keling atau Kalingga atau dikenal dengan nama Wangsa Sanjaya yang berasal dari India Selatan. Pada jaman ini agama Budha mulai masuk ke Bali setelah terlebih dahulu berkembang di Jawa. Pada tahun 913 M muncul Kerajaan Singhadwala atau Kahuripan dengan rajanya Kesari Warmadewa yang merupakan keturunan wangsa Warmadewa yang berasal dari Kerajaan Kutai (Kalimantan Timur) dan Sriwijaya (Sumatera Selatan).

Munculnya kerajaan ini tidak terlepas dari persaingan antara wangsa Sanjaya dengan wangsa Warma di Jawa Barat pada abad ke 6. Kedua Kerajaan bersaing untuk menguasai daerah yang lebih luas sehingga kedua kerajaan akhirnya terlibat dalam peperangan secara terus menerus. Di Bali Kerajaan Singamandawa terdesak sehingga hanya bertahan di pegunungan Kintamani dan Buleleng sedangkan Wangsa Warma telah menguasai wilayah yang lebih luas yang dibuktikan dengan prasasti berupa pahatan batu di Penataran Gede Malet dan Pura Panempaan Manukaya.

Setelah tahun saka 888 tidak terdengar lagi raja raja Singamandawa karena prasasti prasasti yang dikeluarkan semuanya dari raja raja Warmadewa sehingga diperkirakan Kerajaan Kerajaan Singamandawa atau Kerajaan Balingkang jatuh ketangan Kerajaan Singhadwala atau Kahuripan dengan jalan damai karena salah satu Raja keturunan wangsa Warmadewa yaitu Raja Tabanendra Warmadewa sangat menghormati Sang Ratu Ugrasena yang diuraikan dalam prasati Kintamani A yang menyebutkan “ Sang Ratu Sang Sinddha Dewata Sang Lumah di Air Madatu.

Dengan ini maka berakhir pula masa kedinastian Wangsa Sanjaya di Bali dan digantikan oleh Wangsa Warmadewa. Lalu kemanakah keturunan keluarga Ugrasena tersebut ? menurut tradisi dari kerajaan kerajaan kuno bilamana ada kerajaan yang dikalahkan maka keluarga raja yang ditaklukkan tersebut diserahi tugas dalam pemerintahan oleh Raja yang berkuasa sebagai patih atau pejabat kerajaan lainnya, apa lagi penaklukannya dilakukan dengan cara damai.

Kalau pendapat ini benar maka keturunan Ratu Ugrasena pada jaman pemerintahan wangsa Warmadewa yaitu Sri Astasura Ratna Bumi Banten menduduki jabatan Menteri menteri Kerajaan diantaranya :

1. Pangeran Tambyak

2. Ki Kalung Singkal dari Taro

3. Ki Tunjung Tutur dari Desa Tenganan

4. Ki Tunjung Biru dari Tianyar

5. Pangeran Kopang dari Seraya

6. Ki Buahan di Batur

7. Rakriyan Girimana di Ularan

8. Pangeran Tangkas Pangeran Mas

9. Perdana Menteri Ki Pasung Grigis di Tengkulak

10. Ki Kbo Iwa di Blahbatuh.

Demikianlah keturunan Wangsa Sanjaya yang menduduki jabatan pemerintahan pada jaman Raja Sri Ratna Bumi Banten pada saat ekspedisi Majapahit ek Bali untuk menaklukan kerajaan Bedulu. Diantara mereka yang dapat dicari keturunannya sampai sekarang hanyalah Rakriyan Girikmana dari Ularan Singaraja yang menjabat sebagai panglima perang pasukan Dulang Mangap Kerajaan Gelgel yang bergelar Jelantik.

Beliau berhasil menaklukan Kerajaan Blambangan. Kryan Ularan panglima Dulang Mangap mempunyai anak yang bernama Jelantik Bongol yang dijuluki demikian karena beliau mengamuk di medan perang Bali-Pasuruan tanpa memakai senjata sebagai penebusan terhadap dosa ayahnya yang ingkar atas perintah Dalem.


GARIS KETURUNAN WANGSA SANJAYA

Sanjaya adalah raja dari sebuah kerajaan tua di Jawa Tengah yaitu Kerajaan Mataram Kuno. Dalam Purana, Usana, Babad sering disebut dengan nama Kerajaan Keling. Raja Sanjaya adalah pendiri dinasti Sanjaya dengan gelar Sanjayawamsa. Kerajaan Mataram Kuno adalah merupakan kelanjutan dari Kerajaan Kalingga di Jawa Barat yang telah ada tahun 414 M, yang menurut penuturan seoarang peziarah China yang bernama Fa Hian menyebut nama Kalingga dengan nama Holing.

Asal usul Kerajaan Kalingga ini adalah dari India Selatan yang karena terdesak di wilayah India maka Raja Kalinga beserta keluarganya hijrah ke Indonesia dan terdampar di Jawa Barat. Dijawa Barat Raja Kalingga dan para pengikutnya kemudian mendirikan Kerajaan Kalingga. Sebagai Raja di Kerajaan Kalingga dikenal 2 orang yaitu Raja Sannaha dan Ratu Simmo.

Setelah pemerintahan Ratu Simmo tidak terdengar lagi raja penggantinya sampai tahun 732 M muncul kerajaan baru di Jawa Tengah dengan nama Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Medang. Para ahli sejarah menduga Kerajaan Mataram Kuno ini adalah kelanjutan dari kerajaan Kalingga. Adapun kepindahannya dari Jawa Barat ke Jawa tengah diperkirakan karena terdesak oleh munculnya Kerajaan Tarumanegara pada abad ke 6 dengan Rajanya Purnawarman dari wangsa Warma.

Kerajaan Mataram Kuno ini melebarkan kekuasaanya samaai ke Jawa Timur dan Bali. Di Jawa Timur dikenal adanya kerajaan Kanjuruhan berdasarkan prasasti Dinoyo tahun 760 M dan di Bali terdapat kerajaan Singamandawa berdasarkan prasasti Sikawana A tahun 882 M. Besar kemungkinan raja dari kerajaan tersebut adalah dari keluarga Sanjaya atau Sanjayawamsa karena kesamaan prasasti-prasasti Canggal 732 M dan Prasasti Dinoyo 760 M dan Prasasti Sukawana 882 M dalam bidang keagamaan yang dianut.


SISTEM KEPERCAYAAN

Menyembah banyak dewa yang bukan hanya berasal dari dewa Hindu & Buddha tetapi juga dari kepercayaan animisme mereka.



Imajiner Nuswantoro



UGRASENA ( RAJA BALI) 

Sri Ugrasena (±915–942 M) adalah salah satu raja penting dalam sejarah Bali Kuno. Ia memerintah sekitar tahun 915–942 M (837–864 Saka) dan berkedudukan di Singhamandawa, yang diyakini sebagai pusat pemerintahan Bali pada masa itu. Masa pemerintahannya berlangsung sezaman dengan pemerintahan Mpu Sindok di Jawa Timur. 


Latar Belakang

Sri Ugrasena sering dikaitkan dengan awal perkembangan kekuasaan Bali setelah masa Sri Kesari Warmadewa. Dalam berbagai prasasti, namanya disebut sebagai “Sang Ratu Sri Ugrasena”. Ia termasuk penguasa yang meningg4lkan cukup banyak bukti tertulis dibandingkan raja-raja Bali sebelumnya. 


Pemerintahan

Pemerintahan Sri Ugrasena diketahui melalui sedikitnya sembilan prasasti berbahasa Bali Kuno, antara lain:

1. Prasasti Sembiran A I

2. Prasasti Babahan I

3. Prasasti Srokadan A

4. Prasasti Pengotan A I

5. Prasasti Batunya A I

6. Prasasti Dausa A I dan B I

7. Prasasti Serai A I

8. Prasasti Gobleg Pura Batur A

Prasasti-prasasti tersebut memuat berbagai kebijakan kerajaan, seperti:

- Pengaturan pajak dan kewajiban masyarakat.

- Pemberian anugerah atau hak istimewa kepada desa-desa tertentu.

- Pengaturan upacara keagamaan.

- Pembangunan tempat peristirahatan bagi peziarah serta tempat suci. 

Perhatian terhadap Rakyat

Beberapa prasasti menunjukkan bahwa Sri Ugrasena cukup memperhatikan kondisi masyarakat. Misalnya, ia memberikan keringanan pajak kepada desa yang mengalami kesulitan akibat gangguan per4mpok. Ia juga mengizinkan masyarakat melaksanakan upacara keagamaan tertentu dan memperluas fasilitas bagi peziarah. 


Warisan

Masa pemerintahan Sri Ugrasena dianggap sebagai periode stabilitas politik dan perkembangan kehidupan sosial-keagamaan di Bali. Banyak prasasti yang diterbitkan pada masanya menjadi sumber utama untuk memahami struktur pemerintahan, ekonomi, dan agama Bali Kuno abad ke-10. 


Akhir Pemerintahan

Menurut prasasti yang dikeluarkan oleh penerusnya, Tabanendra Warmadewa, Sri Ugrasena dim4kamkan atau dicandikan di Air Madatu. Setelah w4fat, kekuasaan Bali dilanjutkan oleh raja-raja Dinasti Warmadewa berikutnya. 

Singkatnya, Sri Ugrasena dikenang sebagai raja Bali Kuno yang memperkuat administrasi kerajaan, mengatur kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat melalui berbagai prasasti, serta meningg4lkan sumber sejarah yang sangat berharga bagi pemahaman tentang Bali pada abad ke-10 M.



Maya Danawa Raja Pertama di Bali



Imajiner Nuswantoro

Tut Sugi


Kerajaan pertama di Bali menurut Prasasti Sukawana adalah Kerajaan Singhamandawa. Berasal dari wangsa Sanjaya, raja pertama yang memerintah di kerajaan yang berpusat di sekitar Batur ini adalah Sri Maya Danawa alias Sri Aji Aditya Singhamandawa alias Sri Ratu Ugrasena Tabanendra alias Sri Jayeng Rat. Lalu, apa hubungannya antara pelinggih Sri Jayeng Rat di Pura Purusada Desa Adat Kapal, Badung dengan Raja I Bali Kuno Sri Jayeng Rat?

Desa Kapal dahulu bernama Desa Jong Karem. Nama itu terkait dengan kadatangan serombongan orang dari seberang laut dengan menumpang perahu yang mendadak karam, sehingga disebut jong karem atau kapal karam. Mereka semua adaah warga Keling atau Kalingga yang datang dari Jawa Tengah. Diperkirakan mereka berlayar ke Bali sekitar tahun 830, mengiringi Raja Singhamandawa Batur I Sri Ratu Ugrasena Tabanendra alias Sri Jayeng Rat.

Sri Ratu Ugrasena Tabanendra alias Sri Jayeng Rat adalah keturunan Wangsa Sanjaya yang memerintah di Kerajaan Kalingga Utara alias Medang Mataram Kuno yang berpusat di pantai utara Jawa antara Pekalongan dan Jepara sekarang. Konon, kata Pekalongan berasal dari Pekalingan, merujuk pada orang atau daerah di Kalingga India Timur yang sekarang menjadi Distrik Odissa.

Sebagai Raja Bali Kuno I yang berkedudukan di Panglapuan Singhamandawa Batur, Sri Ratu Ugrasena Tabanendra berkuasa sejak tahun 882-915. Disebutkan ia memberikan tempat kepada para pengiringnya yang berjumlah 275 orang di Desa Jong Karem atau Desa Kapal sekarang.

Dari 275 pengiring itu terdapat 5 kelompok besar warga Pasek dari Gunung Dieng Jawa Tengah yang diperintahkan membuat Pura Prasada atau Candi untuk memuja Ida Hyang Pasupati atau Siwa Guru atau Siwa Mahadewa. Pada saat yang sama Raja juga memerintahkan membangun pertapaan selain pasraman atau pasanggrahan pertapaan di perkebunan milik Raja di Bukit Cintamani Batur. Perintah itu diturunkan kepada Senapati Danda Kumpi, Biksu Siwa Kangsita, Biksu Siwa Nirmala, dan Biksu Siwa Pradnya. Di samping itu diatur juga tentang pembagian warisan, masalah iuran kepada kerajaan yang dibayarkan kepada petugas iuran Kerajaan atau Caksu Drwahaji.

Sri Ratu Ugrasena Tabanendra alias Jayeng Rat kawin dengan Dewi Manik Galih alias Wulan, putri Batari Hyang Manik Galang dari Pejeng. Dari perkawinan mereka lahir dua orang putri masing-masing bernama: Sri Dewi Tirta Harum Sari alias Sri Ugrasena II dan Sri Meilan Coladungkang alias Sri Ugrasena III.

Sri Dewi Tirta Harum Sari yang menjadi Raja II Singhamandawa, berkuasa sejak 915-933. Akan tetapi, menurut Prasasti Blanjong Sanur tahun 913, Sri Dewi Tirta Harum Sari menjadi permaisuri Raja I Singhadwala Besakih Sri Kesari Warmadewa pada tahun yang sama. Dari perkawinannya dengan penguasa Singhadwala Besakih itu lahir dua orang anak, yaitu Sri Ugrasena Warmadewa dan Sri Lokapala Warmadewa.

Selanjutnya Sri Meilan Coladungkang menggantikan kakaknya Sri Dewi Tirta Harum Sari menjadi Raja III Singhamandawa atau Panglapuan Batur dan berkuasa sejak tahun 933-966. Sri Meilan Coladungkang dikatakan tewas dalam perang di Tukad Pangkung Hulu, Tukad Petanu Desa Manukaya Tampaksiring pada tahun 966. Namun, tidak disebutkan dengan pihak mana ia berperang.

Menggantikan Sri Kesari Warmadewa, Sri Ugrasena Warmadewa kemudian naik tahta menjadi Raja II Singhadwala Besakih. Ia yang berkuasa sejak tahun 915-942 memiliki putra bernama Sri Tabanendra Warmadewa. Putranya ini kemudian menggantikan kedudukannya sebagai Raja III Singhadwala Besakih, memerintah sejak tahun 942-961. Sri Tabanedra Warmadewa menurunkan Sri Jayasingha Warmadewa alias Sri Candrabaya Singha Warmadewa yang naik tahta di Singhadwala Besakih sebagai Raja IV pada tahun 961. Sri Jayasingha Warmadewa kawin dengan Sri Subadrika Darmadewi, putri kedua Mpu Sindok. Dari perkawinan mereka lahir Sri Janasadu Warmadewa yang kemudian naik tahta sebagai Raja V Singhadwala Besakih pada tahun 975. Sri Janasadu Warmadewa mengawini Sri Wijaya Mahadewi dari Jawa Timur yang kemudian menjadi Raja VI, berkuasa di Singhadwala Besakih sejak tahun 983-988.

Sri Wijaya Mahadewi adalah ibunda Sri Darma Udayana Warmadewa yang naik tahta sebagai Raja VII Singhadwala Besakih. Raja yang namanya diabadikan sebagai nama universitas terbesar di Bali ini kawin dengan Sri Gunapriya Darmapatni, putri Raja III Medang Kemulan, Sri Makuta Wangsawardana.

Sementara Raja III Medang Kemulan Sri Makuta Wangsawardana adalah putra Sri Lokapala Warmadewa, atau cucu Sri Kesari Warmadewa yang kawin ke Medang Kemulan Jawa Timur dengan Sri Isanatunggawijaya, putri sulung Mpu Sindok. Sri Makuta Wangsawardana kemudian menjadi Raja II Medang Kemulan. Ia memerintah sejak tahun 947-980.






WANGSA SANJAYA 

1. UGRASENA/ MAYADANAWA (Th 882) M

Kerajaan tertua di Bali yang tercatat dalam sejarah Bali adalah Kerajaan Singamandawa atau Kerajaan Balingkang (882) M terletak di sekitar Batur. Keberadaan Kerajaan ini dikukuhkan melalui 15 prasasti yang berangka tahun 804 M. Dalam prasasti itu disebutkan raja Singamandawa adalah Ugrasena.

Dalam struktur kerajaan lama, Raja-raja Bali dibantu oleh badan penasehat yang disebut “Pakirakiran I Jro Makabehan” yang terdiri dari beberapa Senapati dan Pendeta Syiwa yang bergelar “Dang Acaryya” dan Pendeta Buddha yang bergelar “Dhang Upadhyaya”. Raja didampingi oleh badan kerajaan yang disebut “Pasamuan Agung” yang tugasnya memberikan nasihat dan pertimbangan kepada raja mengenai jalannya pemerintahan. Raja juga dibantu oleh Patih, Prebekel, dan Punggawa-punggawa.

Ratu Ugrasena merupakan keturunan Wangsa Keling atau Kalingga atau dikenal dengan nama Wangsa Sanjaya yang berasal dari India Selatan. Pada jaman ini agama Budha mulai masuk ke Bali setelah terlebih dahulu berkembang di Jawa. Pada tahun 913 M muncul Kerajaan Singhadwala atau Kahuripan dengan rajanya Kesari Warmadewa yang merupakan keturunan wangsa Warmadewa yang berasal dari Kerajaan Kutai (Kalimantan Timur) dan Sriwijaya (Sumatera Selatan).

Munculnya kerajaan ini tidak terlepas dari persaingan antara wangsa Sanjaya dengan wangsa Warma di Jawa Barat pada abad ke 6. Kedua Kerajaan bersaing untuk menguasai daerah yang lebih luas sehingga kedua kerajaan akhirnya terlibat dalam peperangan secara terus menerus. Di Bali Kerajaan Singamandawa terdesak sehingga hanya bertahan di pegunungan Kintamani dan Buleleng sedangkan Wangsa Warma telah menguasai wilayah yang lebih luas yang dibuktikan dengan prasasti berupa pahatan batu di Penataran Gede Malet dan Pura Panempaan Manukaya.

Setelah tahun saka 888 tidak terdengar lagi raja raja Singamandawa karena prasasti prasasti yang dikeluarkan semuanya dari raja raja Warmadewa sehingga diperkirakan Kerajaan Kerajaan Singamandawa atau Kerajaan Balingkang jatuh ketangan Kerajaan Singhadwala atau Kahuripan dengan jalan damai karena salah satu Raja keturunan wangsa Warmadewa yaitu Raja Tabanendra Warmadewa sangat menghormati Sang Ratu Ugrasena yang diuraikan dalam prasati Kintamani A yang menyebutkan “ Sang Ratu Sang Sinddha Dewata Sang Lumah di Air Madatu.

Dengan ini maka berakhir pula masa kedinastian Wangsa Sanjaya di Bali dan digantikan oleh Wangsa Warmadewa. Lalu kemanakah keturunan keluarga Ugrasena tersebut ? menurut tradisi dari kerajaan kerajaan kuno bilamana ada kerajaan yang dikalahkan maka keluarga raja yang ditaklukkan tersebut diserahi tugas dalam pemerintahan oleh Raja yang berkuasa sebagai patih atau pejabat kerajaan lainnya, apa lagi penaklukannya dilakukan dengan cara damai.

Kalau pendapat ini benar maka keturunan Ratu Ugrasena pada jaman pemerintahan wangsa Warmadewa yaitu Sri Astasura Ratna Bumi Banten menduduki jabatan Menteri menteri Kerajaan diantaranya :

1. Pangeran Tambyak

2. Ki Kalung Singkal dari Taro

3. Ki Tunjung Tutur dari Desa Tenganan

4. Ki Tunjung Biru dari Tianyar

5. Pangeran Kopang dari Seraya

6. Ki Buahan di Batur

7. Rakriyan Girimana di Ularan

8. Pangeran Tangkas Pangeran Mas

9. Perdana Menteri Ki Pasung Grigis di Tengkulak

10. Ki Kbo Iwa di Blahbatuh.

Demikianlah keturunan Wangsa Sanjaya yang menduduki jabatan pemerintahan pada jaman Raja Sri Ratna Bumi Banten pada saat ekspedisi Majapahit ek Bali untuk menaklukan kerajaan Bedulu. Diantara mereka yang dapat dicari keturunannya sampai sekarang hanyalah Rakriyan Girikmana dari Ularan Singaraja yang menjabat sebagai panglima perang pasukan Dulang Mangap Kerajaan Gelgel yang bergelar Jelantik.

Beliau berhasil menaklukan Kerajaan Blambangan. Kryan Ularan panglima Dulang Mangap mempunyai anak yang bernama Jelantik Bongol yang dijuluki demikian karena beliau mengamuk di medan perang Bali-Pasuruan tanpa memakai senjata sebagai penebusan terhadap dosa ayahnya yang ingkar atas perintah Dalem.


GARIS KETURUNAN WANGSA SANJAYA

Sanjaya adalah raja dari sebuah kerajaan tua di Jawa Tengah yaitu Kerajaan Mataram Kuno. Dalam Purana, Usana, Babad sering disebut dengan nama Kerajaan Keling. Raja Sanjaya adalah pendiri dinasti Sanjaya dengan gelar Sanjayawamsa. Kerajaan Mataram Kuno adalah merupakan kelanjutan dari Kerajaan Kalingga di Jawa Barat yang telah ada tahun 414 M, yang menurut penuturan seoarang peziarah China yang bernama Fa Hian menyebut nama Kalingga dengan nama Holing.

Asal usul Kerajaan Kalingga ini adalah dari India Selatan yang karena terdesak di wilayah India maka Raja Kalinga beserta keluarganya hijrah ke Indonesia dan terdampar di Jawa Barat. Dijawa Barat Raja Kalingga dan para pengikutnya kemudian mendirikan Kerajaan Kalingga. Sebagai Raja di Kerajaan Kalingga dikenal 2 orang yaitu Raja Sannaha dan Ratu Simmo.

Setelah pemerintahan Ratu Simmo tidak terdengar lagi raja penggantinya sampai tahun 732 M muncul kerajaan baru di Jawa Tengah dengan nama Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Medang. Para ahli sejarah menduga Kerajaan Mataram Kuno ini adalah kelanjutan dari kerajaan Kalingga. Adapun kepindahannya dari Jawa Barat ke Jawa tengah diperkirakan karena terdesak oleh munculnya Kerajaan Tarumanegara pada abad ke 6 dengan Rajanya Purnawarman dari wangsa Warma.

Kerajaan Mataram Kuno ini melebarkan kekuasaanya samaai ke Jawa Timur dan Bali. Di Jawa Timur dikenal adanya kerajaan Kanjuruhan berdasarkan prasasti Dinoyo tahun 760 M dan di Bali terdapat kerajaan Singamandawa berdasarkan prasasti Sikawana A tahun 882 M. Besar kemungkinan raja dari kerajaan tersebut adalah dari keluarga Sanjaya atau Sanjayawamsa karena kesamaan prasasti-prasasti Canggal 732 M dan Prasasti Dinoyo 760 M dan Prasasti Sukawana 882 M dalam bidang keagamaan yang dianut.


SISTEM KEPERCAYAAN

Menyembah banyak dewa yang bukan hanya berasal dari dewa Hindu & Buddha tetapi juga dari kepercayaan animisme mereka.



B.  WANGSA WARMADEWA

1. SRI WIRA DALEM KESARI WARMADEWA (TH 913 - 924 M)


(gambar kiri: Prasasti Blanjong)


Setelah jatuhnya Kerajaan Singamandawa atau Kerajaan Balingkang dari wangsa Sanjaya akibat peperangan dengan Kerajaan Singhadwala atau Kahuripan maka mulailah kekuasaan Dinasti Wangsa Warmadewa di Pulau Bali.

Sri Kesariwarmadewa adalah raja pertama di Bali dari Dinasti Warmadewa yang didirikan Kerajaan Singhadwala atau Kahuripan dengan lokasi Kerajaan di sekitar Besakih. Beliau merupakan keturunan wangsa Warmadewa yang berasal dari Kerajaan Kutai

Sri Kesari dianggap sebagai pendiri sebagai dinasti Warmadewa , yang makmur selama beberapa generasi, salah satu keturunan yang menjadi terkenal raja Udayana .

Menurut prasasti, Sri Kesari adalah seorang raja Buddha dari Dinasti Syailendra memimpin sebuah ekspedisi militer, untuk membangun Mahayana pemerintah Buddha di Bali. Sri Kesari Warmadewa adalah raja pertama Bali untuk meninggalkan prasasti yang ditulis. Dia menulis prasasti di 914 CE pilar Belanjong ("Prasasti Blanjong") di selatan Sanur dan prasasti Penempahan, dan prasasti Malet Gede (835 Saka)9.

Keadaan ketiga prasasti itu telah aus. Banyak bagiannya tidak terbaca lagi secara utuh, termasuk nama raja yang disebut di dalamnya. Bagian nama raja yang terbaca pada isi A.4 prasasti Blanjong adalah ... sri kesari ... sedangkan pada sisi B.13 terbaca ... sri kesariwarmma (dewa) (Goris, 1954a : 64-65). Bagian nama raja dalam prasasti Penempahan yang masih terbaca adalah ... sri ke ... dan pada prasasti Malet Gede berbunyi ... sri kaesari ... (Kartoatmodjo, 1977 : 150-151 ; cf. Damais, 1959 : 964). Prasasti ditulis baik dalam India Sansekerta bahasa dan bahasa Bali Lama, menggunakan dua script, yang Nagari script dan orang Bali script Lama (yang digunakan untuk menulis baik Bali dan bahasa Sansekerta).

Pilar yang menyaksikan pada koneksi dari Bali dengan Dinasti Sanjaya di Jawa Tengah . Ini adalah tanggal menurut India kalender Saka . Hal lain yang menarik perhatian ialah ketiga prasasti tersebut pada hakikatnya menggambarkan kemenangan raja Sri Kesari terhadap musuh-musuhnya. Sebagai akibat prasasti-prasasti itu telah aus, hanya dua di antara musuh-musuh itu dapat diketahui, yakni di Gurun dan di Suwal.

Perlu ditambahkan bahwa lokasi Gurun dan Suwal sampai dewasa ini belum diketahui secara pasti. Di antara para ahli, ada yang berpendapat bahwa Gurun mungkin sama dengan Lombok dewasa ini. Pendapat lain menyatakan bahwa Gurun mungkin identik dengan Nusa Penida. Sri Kesari Warmadewa dikenal sangat tekun beribadat untuk memuja dewa dewa yang bersemayam di Gunung Agung. Tempat pemujaan beliau disebut Merajan Selonding atau Merajan Kesari Warmadewa.

Beliaulah yang mengadakan perluasan atas pura Penataran Agung Besakih yang tadinya sangat sederhana. Beliau kemudian membangun pura –pura di besakih untuk melengkapai bangunan suci yang telah ada diantaranya :

1. Pura Gelap untuk memuja Dewa Iswara

2. Pura Kiduling Kreteg untuk memuja Dewa Brahma

3. Pura Ulun Kulkul untuk memuja Dewa Mahadewa

4. Pura Batumadeg untuk memuja Dewa Wisnu

5. Pura Dalem Puri untuk memuja Dewi Durga

6. Pura Basukihan untuk memuliakan Naga Basukihan

Beliaulah yang memerintahkan masyarakat untuk merayakan hari Nyepi pada sasih Kesanga.



(gambar kiri: Pura Besakih)



ASAL USUL KETURUNAN

Pada abad ke-4 di Campa, Muangthai bertahta Raja Bhadawarman. Beliau diganti oleh anaknya bernama Manorathawarman, selanjutnya Rudrawarman. Anak Rudrawarman bernama Mulawarman merantau, mendirikan kerajaan Kutai. Mulawarman diganti Aswawarman. Anaknya bernama Purnawarman mendirikan kerajaan Taruma Negara. Anak Purnawarman bernama Mauli Warmadewa mendirikan kerajaan Sriwijaya. Anak Mauli Warmadewa bernama Sri Kesari Warmadewa pergi ke Bali, pertama-tama mendirikan Pura Merajan Salonding dan Dalem Puri di Besakih.

Dikisahkan keadaan Pulau Bali, semua pura rusak terbakar, yang masih tertinggal hanya dasar bangunan saja. Dikisahkan para Arya Hindu memugar dan membangun kembali semua pura yang sudah rusak bersama masyarakat Bali Aga. Adapun yang diberi gelar awatara dewata ialah Baginda Sri Kesari Warmmadewa.

Sesudah selesai membangun semua pura, baginda bermaksud melaksanakan upacara, upacara itu dimulai pada hari Rabu Kliwon Sinta, yang bermakna mengupacarakan benteng pertahanan, selanjutnya mengadakan untuk segala perlengkapan senjata perang yang jatuh pada hari Sabtu Kliwon Landep selanjutnya disebut Hari Raya Tumpek Landep.




Pada hari Sabtu Kliwon Wariga, juga melaksanakan upacara yang disebut Tumpek Uduh, Baginda juga bermaksud melaksanakan upacara Dewa Yadnya serta upacara para dewata yang gugur di medan perang, yang jatuh pada hari Rabu Kliwon Dungulan, yang disebut Hari Raya Galungan. Pemasukan pajak hasil bumi dari luar Pulau Bali yakni, Makasar, Sumbawa, Sasak, dan Blambangan, yang dibawah kekuasaan Baginda Raja di Bali, di upacarakan pada hari Kamis Wage Sungsang yang selanjutnya disebut Hari Raya Sugian Jawa.

Khusus bagi penduduk Bali Mula upacara itu dilaksanakan pada hari Jumat Kliwon Sungsang, selanjutnya bernama Hari Raya Sugian Bali. Adapun pelaksanaan Hari Raya Galungan bermula pada hari Rabu Kliwon Dungulan, sekitar bulan Oktober saat bulan purnama, pada tahun Saka 804/882 Masehi. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indraloka, menyuarakan bunyi-bunyian yang tak henti-hentinya siang malam memuja Sang Hyang Widhi dan para dewata.

Pulau Bali aman dan makmur sejak Maharaja Sri Kesari Warmmadewa sebagai penguasa tunggal yang diberi gelar awatara Dewata. ketika datangnya arya-arya Hindu yang menguasai bumi Bali juga ikut membangun dan memperbaiki kahyangan jagat seperti yang bernama Sri Wira Dalem Kesari kembali memperbaiki Pura Sad Kahyangan, antara lain:

1. Pura Penataran Besakih

2. Pura Bukit Gamongan

3. Pura Batukaru

4. Pura Uluwatu

5. Pura Erjeruk

6. Pura Penataran Pejeng.


AKHIR PEMERINTAHAN

Beberapa tahun kemudian karena sudah tua mangkatlah Sri Aji Bali pada tahun Saka 837/915 Masehi Putra beliau yang menggantikan tahta, tidak beda dengan beliau yang sudah menyatu dalam Sunya, selalu taat berbakti kehadapan Sanghyang Widhi dengan bersembahyang di pura-pura Sri Ugrasena Warmmadewa nama beliau sang Prabu, bijaksana dan termasyur di dunia beliau memerintah, aman sentosa pulau Bali.



Raja Penguasa Bali 2

2. Ugrasena (915-942M)

Setelah wafatnya Raja Kesari Warmadewa pada tahun Saka 837/915 maka Putra beliau Sri Ugrasena Warmadewa menggantikan kedudukan sebagai Raja di Bali. Beliau terkenal akan kebijaksanaannya dan kewibawaanya sehingga menjadikan Pulau Bali aman dan sentaosa.

Para pendeta Siwa Budha dan Rsi, Empu, para agamawan datang dari pulau Jawa dan Hindu (India) semuanya bersama memuja kebesaran Ida Sanghyang Widhi dengan para dewa, tapi pemujaan disesuaikan dengan desa kala patra. Itu yang menyebabkan tepat disebut Bhinneka Tunggal Ika. Kerajaan berpusat di Singhamandawa didaerah sekitar Batur.

Selama masa pemerintahannya, Ugrasena membuat beberapa kebijakan, yaitu pembebasan beberapa desa dari pajak sekitar tahun 837 Saka atau 915. Desa-desa tersebut kemudian dijadikan sumber penghasilan kayu kerajaan dibawah pengawasan hulu kayu (kepala kehutanan). Pada sekitar tahun 855 Saka atau 933, dibangun juga tempat-tempat suci dan pesanggrahan bagi peziarah dan perantau yang kemalaman.

Raja Ugrasena mengeluarkan prasasti-prasastinya tahun 837-864 Saka (915-942). Masa pemerintahan raja ini hampir sezaman dengan masa pemerintahan Pu Sindok di Jawa Timur. Ada sebelas prasasti, semuanya berbahasa Bali Kuno, dikeluarkan oleh raja Ugrasena, yakni :

1. Prasasti-prasasti Banjar Kayang (837 Saka),

2. Prasasti Les,

3. Pura Bale Agung (837 Saka),

4. Babahan I (839 Saka),

5. Sembiran AI (844 Saka),

6. Pengotan AI (846 Saka),

7. Batunya AI (855 Ska),

8. Dausa,

9. Pura Bukit Indrakila AI (857 Saka),

10. Serai AI (858 Saka), Dausa,

11. Pura Bukit Indrakila BI (864 Saka),

12. Prasasti Tamblingan Pura Endek I (-), dan Gobleg,

13. Pura Batur A.


Berdasarkan prasasti-prasasti itu dapat diketahui sejumlah kebijakan penting dilakukan oleh raja Ugrasena. Beberapa di antaranya dikemukakan berikut ini. Keringanan dalam pembayaran pajak diberikan kepada desa Sadungan dan Julah, karena desa itu belum pulih benar dari kerusakan akibat diserang perampok.

Dengan alasan sama, bahkan desa Kundungan dan Silihan dibebaskan dari kewajiban bergotong royong untuk raja. Selain itu, raja juga berkenan menyelesaikan perselisihan antara para wajib pajak di wilayah perburuan dengan pegawai pemungut pajak, yakni dengan menetapkan kembali secara jelas jenis dan besar pajak yang mesti dibayar oleh penduduk . Berkaitan erat dengan aspek kehidupan beragama,

Raja Ugrasena memberikan izin kepada penduduk desa Haran dan Parcanigayan untuk memperluas pasanggrahan dan bangunan suci Hyang Api yang terletak di desanya masing-masing. Keberadaan penduduk desa Tamblingan sebagai jumpung Waisnawa ”sekte Waisnawa”, serta kaitannya dengan bangunan suci Hyang Tahinuni, juga mendapat perhatian raja. Prasasti Gobleg, Pura Batur A yang memuat hal itu teksnya tidak lengkap sehingga rincian ketetapan mengenai sekte tersebut tidak sepenuhnya dapat diketahui.

Dapat ditambahkan bahwa pada tahun 839 Saka (917), sebagaimana tercatat dalam prasasti Babahan I yang tersimpan di desa Babahan (Tabanan), raja Ugrasena mengadakan perjalanan ke Buwunan (sekarang Bubunan) dan ke Songan 10. Dalam kunjungan itu, raja memberikan izin kepada kakek (pitamaha), di Buwunan dan di Songan melaksanakan upacara bagi orang yang mati secara tidak wajar, jika saatnya telah tiba. Baginda juga menetapkan batas-batas wilayah pertapaan yang terletak di bagian puncak bukit Pttung.


AKHIR MASA PEMERINTAHAN

Sesudah beberapa lama Sri Aji Ugrasena bertahta di istana kerajaan akhirnya beliau wafat kembali kealam Sunya, pada tahun Saka 864/942 Masehi beliau dicandikan di Ermadatu. Beliau dikenal dengan sebutan sang ratu siddha dewata sang lumah di air madatu. Epitet ini terbaca dalam prasasti Raja Tabanendra Warmadewa yang ditemukan di desa Kintamani.



3. Tabanendra Warmadewa ( 955-974 M)


 (gambar kiri: Pemandian Tirta Empul)


Pada periode ini diketahui sejumlah raja yang pernah memerintah Bali, tetapi belum ditemukan nama ibu kota yang menjadi pusat pemerintahannya. Raja pertama pada periode ini adalah Sang Ratu Sri Haji Tabanendra Warmadewa yang memerintah bersama-sama dengan permaisurinya, yaitu Sri Subhadrika Dharmadewi, tahun 877-889 Saka (955-967) Mereka menggantikan raja Ugrasena.

Beliau berhasil membagun pemandian suci Tirta Empul di Manukraya atau Manukaya, dekat Tampak Siring. Ditengah tengah masa pemerintahannya terdapat seorang raja lain yang memerintah yaitu Jayasinga Warmadewa/ Candrabaya Singa Warmadewa tahun 960 M. Diduga berkuasanya raja ini ditengah tengah pemerintahan Sri Haji Tabanendra Warmadewa adalah akibat perebutan kekuasaan yang kemudian dapat direbut kembali oleh Sri Haji Tabanendra Warmadewa.

Ada empat prasasti yang memuat pasangan gelar suami-istri itu, yakni :

1. Prasasti-prasasti Manik Liu AI (877 Saka),

2. Manik Liu BI (877 Saka),

3. Manik Liu C (877 Saka), dan

4. Kintamani A (899 Saka)


Prasasti Raja Tabanendra Warmadewa ditemukan di desa Kintamani. Keempat prassati itu tidak lengkap. Tiga yang pertama, selain ditemukan di tempat yang sama juga berkenaan dengan masalah pokok yang sama, yaitu pemberian izin oleh raja kepada Samgat Juru Mangjahit Kajang, dan anak bandut yang berdiam di desa Pakuwwan dan Talun. Mereka dibebaskan dari tugas bergotong royong dan pelbagai pajak, kecuali pajak rot.

Isi pokok prasasti Kintamani A, yang berkaitan dengan prasasti Kintamani B, telah disinggung di depan, yakni berkenaan dengan perintah Raja Tabanendra Warmadewa kepada sejumlah tokoh agar menangani pemnugaran pesanggarahan di Air Mih.



(gambar kiri: Pura Tirta Empul)


Dalam Prasasti Kintamani B disebutkan pula bahwa pasanggrahan di Dharmarupa merupakan cabang pasanggrahan di Air Mih. Dalam prasasti dikatakan bahwa raja Tabanendra, bersama-sama dengan permaisurinya, menyuruh sejumlah tokoh agar memugar atau memperluas pasanggarahan di Air Mih yang dibangun pada masa pemerintahan raja dengan epitet tersebut di atas Jika epitet itu memang benar untuk Raja Ugrasena setelah mangkat, maka tindakan raja dan permaisurinya tersebut di atas menunjukkan betapa hormatnya mereka kepada Ugrasena.

Lebih lanjut, hal itu dapat digunakan sebagai dasar pendapat yang menyatakan bahwa walaupun Sang Ratu Sri Ugrasena tidak secara eksplisit menggunakan bagian gelar warmadewa, baginda pun tergolong anggota dinasti Warmadewa.


SISTEM PEMERINTAHAN

Sistem pembagian Raja–Raja di Bali di dasarkan atas keturunan, biasanya pengganti Raja yang meninggal adalah putra laki-laki tua atau satu-satunya putra laki-laki yang lahir dari permaisuri yang berasal dari golongan bangsawan (Ksatria). Tetapi apabila putra mahkota pengganti Raja tersebut masih di bawah umur, biasanya diwakili oleh ibunya atau salah seorang bangsawannya yang di pilih pada penggawa pendanda istana.

Dalam menjalankan pemerintahan, Raja dibantu oleh pejabat pemerintah yang masing – masing menduduki fungsi tertentu. Raja di dampingi oleh sebuah Dewan Kerajaan yang di sebut Pasamuan Agung. Tugas Pokok dari Pasamuan Agung adalah memberikan nasihat dan pertimbangan para Raja dalam memecahkan masalah – masalah yang berhubungan dengan pemerintahan. Selain itu mereka juga di tugasi untuk mengurus hubungan dengan penguasa di luar Kerajaan 

 


(gambar kiri: Pura Tirta Empul)


Raja juga dibantu oleh patih, Prebekel atau Pambekel dan penggawa – penggawa daerah. Penggawa – penggawa ini kedudukanya sama dengan kepala distrik.


AKHIR MASA PEMERINTAHAN

Setelah Wafat Raja Haji Tabanendra Warmadewa di candikan di Air Mandu



4. Indrajayasingha Warmadewa (960 - 975 M)

Pengganti Tabanendra Warmadewa adalah raja Jayasingha Warmadewa. Raja ini dapat diketahui dari sebuah prasasti, yaitu prasasti Manukaya (882 Saka). Dalam prasasti itu dimuat perintah raja untuk memugar Tirtha di (Air) Mpul (sekarang Tirtha Empul di Tampaksiring) yang setiap tahun mengalami kerusakan akibat derasnya aliran air.

Setelah pemugaran itu, diharapkan kedua telaga yang ada menjadi kuat dan bertahan lama. ). Dikatakan bahwa raja Jayasingha membangun dua pemandian di desa Manukraya, yang letaknya sekarang di dekat istana negara Tapak Siring. Hal yang menarik perhatian ialah ternyata prasasti Manukaya terbit pada masa pemerintahan Tabanendra Warmadewa bersama permaisurinya.

Masalah ini belum dapat dijelaskan dengan bukti-bukti yang akurat. Berkenaan dengan hal itu, L.C. Damais menegaskan bahwa pembacaan angka tahun 882 Saka sudah benar. Untuk sementara, yang dapat dikemukakan di sini ialah terbitnya “prasasti sisipan” itu tampaknya berlangsung dalam suasana damai, dalam arti tidak dilatarbelakangi oleh sifat permusuhan, peristiwa kudeta, atau semacamnya. Dugaan itu dikemukakan karena belum terdapat petunjuk adanya perselisihan internal di antara anggota dinasti yang telah berkuasa.



5. Jayasadhu Warmadewa (975 - 983 M)


(gambar kiri: Raja Bali Menurut Rafless)


Pada tahun 897 Saka muncul raja yang bergelar Sang Ratu Sri Janasadhu Warmadewa. Gelar ini terbaca dalam prasasti Sembiran AII (897 Saka) (Brandes, 1889). Itulah satu-satunya prasasti atas nama baginda. Prasasti tersebut kembali mengenai desa Julah kuno. Menurut prasasti itu, penduduk Julah yang kembali dari pengungsiannya diizinkan memperbaharui isi prasastinya.

Selanjutnya, ketentuan dalam prasasti itu harus dipatuhi dan jangan diubah-ubah lagi. Dalam prasasti itu antara lain ditetapkan bahwa jika ada kuil, pekuburan, pancuran, permandian, prasada, dan jalan raya di wilayah itu mengalami kerusakan, supaya diperbaiki serta dibiayai secara bergilir oleh penduduk desa Julah, Indrapura, Buwundalm, dan Hiliran.

Jika pertapaan di Dharmakuta diserang oleh perampok, supaya seluruh penduduk Julah keluar rumah lengkap dengan senjata untuk menolong pertapaan itu (kapwa ta ya turun tangga saha sanjata, tulungen to patapan di dharmakuta) Raja Janasadhu Warmadewa diganti oleh Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi



6. Sri Wijaya Mahaderi (983 - 989 M)


 (gambar kiri: Raja di Bali)


Pemerintahan kerajaan Bali selanjutnya dipimpin oleh seorang ratu. Ratu ini bergelar Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi dengan sistem pemerintahan sesuai dengan sistem pemerintahan di Jawa.

Susunan dan nama-nama jabatan pemerintah yang biasa berlaku di Jawa di pergunakan di Bali. Beliau memerintah pada tahun 905 Saka atau 938. Beberapa ahli memperkirakan ratu ini adalah putri dari Mpu Sindok dari kerajaan Mataram Kuno. Raja di Bali.

Satu-satunya prasasti sebagai sumber sejarah ratu ini adalah prasasti Gobleg, Pura Desa II (905 Saka). Ratu ini memberi izin kepada penduduk desa Air Tabar, yang merupakan pamong kuil Indrapura di Bukittunggal di wilayah desa Air Tabar, untuk memperbaharui prasastinya (mabharin pandaksayan na). Ratu ini tidak menggunakan identitas dinasti Warmadewa.

Keadaan ini mengundang timbulnya sejumlah pendapat. Berdasarkan terpakainya kata Sri Wijaya dalam gelar sang ratu, P.V. van Stein Callenfels (1924 : 30) berpendapat bahwa kemungkinan ratu itu berasal dari kerajaan Sriwijaya di Sumatra. Dengan kata lain, hal itu menunjukkan adanya perluasan kekuasaan Sriwijaya ke Bali. Pada  tahun 1950, dalam artikelnya yang berjudul ”De Stamboom van Erlangga”, J.L. Moens menghubungkan ratu itu dengan kerajaan Jawa Timur .

Damais secara lebih tegas mengemukakan bahwa ratu itu adalah putri Pu Sindok yang bernama Sri Isana Tunggawijaya. Pendapatnya itu didasarkan pada adanya jabatan-jabatan wadihati, makudur, dan pangkaja yang disebutkan dalam prasasti ratu itu, di samping sejumlah jabatan tinggi yang telah lazim di Bali. Ketiga jabatan itu adalah khas Jawa  


(gambar kiri: Peninggalan Kerajaan Bedulu)


AKHIR MASA PEMERINTAHAN

Ratu Sri Wijaya Mahadewi diduga mangkat pada tahun 911 Saka (989). Tampuk pemerintahan di Bali kemudian dipegang oleh pasangan Sri Gunapriyadharmapatni dan Sri Dharmodayana Warmadewa.



7. Dharma Udayana Warmadewa (989 - 1011 M)

Beliau termasyur akan kewibawaan dan kebesarannya sebagai penguasa tunggal, dipuji dan dihormati oleh para pendeta dan para raja, sampai ke Pulau Jawa. Maka dari itu Baginda mempersunting putri raja dari Pulau Jawa yang sangat utama, putri Sri Makuta Wangsa Wardhani raja wanita yang bersuamikan Sri Makuta Wangsa Wardhana, Baginda berputra dua orang yang berparas cantik.





Yang tinggal di Jawa kawin dengan raja Kediri, yang bergelar Sri Dharmawangsa Teguh Ananta Wikrama Tunggadewa. Dan yang menikah ke Bali bergelar Ratu Mahendradatta Gunapriya Dharmapatni, Baginda yang menjadi jungjungan rakyat Bali.

Pada masa pemerintahan Udayana, hubungan Kerajaan Bali dan Mataram Kuno berjalan sangat baik. Hal ini disebabkan oleh adanya pernikahan antara Udayana dengan Gunapriya Dharmapatni, cicit Mpu Sendok yang kemudian dikenal sebagai Mahendradata. Pada masa itu banyak dihasilkan prasasti-prasasti yang menggunakan huruf Nagari dan Kawi serta bahasa Bali Kuno dan Sangsekerta.

Dikisahkan Baginda Maha Raja Sri Dharma Udhayana Warmadewa memerintah Pulau Bali bersama permaisuri, makin bertambah kewibawaan Baginda, oleh karena Ratu Mahendradatta Gunapriya Dharmapatni bijaksana masyur di Nusantara. Dalam menjalankan roda pemerintahan beliau mendatangkan 4 orang rohaniawan dari Jawa Timur diantaranya :

1. Mpu Semeru, merupakan penganut agama Siwa (tahun 999) M bertempat di Besakih selaku pemelihara Pura Hyang Putranjaya atau yang sekarang dikenal dengan nama Pura Ratu Pasek.

2. Mpu Gana, merupakan penganut aliran Ganapatya (tahun 1000) M bertempat di Gelgel dimana sekarang dibangun Pura Dasar Buwana Gelgel.

3. Mpu Kuturan, merupakan penganut Budha Mahayana, bertempat di Padangbai dimana sekarang berdiri Pura Silayukti.

4. Mpu Gnijaya, merupakan penganut Brahmaisme (Tahun 1006) M bertempat di Gunung Lempuyang dimana sekarang dibangun Pura Lempuyang Madia.

Adapula yang merupakan perisai pengawal Baginda yang sudah dipercaya bernama Senapati Wrasaba, Senapati Pancakala, Senapati Waranasi, Senapati Tira, Senapati Danda, Senapati Wit, Senapati Byut, Senapati Kalabaksa, Senapati Kuturan, Senapati Maniringin, Senapati Sarbwa.


(gambar kanan: Pura Samuan Tiga)


Sebelas orang Senapati Baginda yang besama-sama mengatur dan mengayomi Pulau Bali, ke sebelas Senapati itu diberikan imbalan sawah bukti. Adapun Senapati Kuturan, sawah bukti yang dihasilinya bertempat di perbatasan daerah Batuan. Pulau Bali aman dan sejahtera tidak ada perselisihan semua umat menekuni nyanyian keagamaan, demikian pula para Pendeta Siwa, Budha, Rsi dan para Ahli (Mpu), selalu melaksanakan Api Kurban (homa), mengucapkan Weda mantra, suara genta mengalun memuja kebesaran Sang Hyang Widhi serta para dewata.

Demikian pula bunyi-bunyian dibunyikan siang malam di tiap-tiap desa, dalam rangka upacara Dewa Yadnya pada masing-masing pura tak henti-hentinya. Dilengkapi dengan kidung dan membaca Lontar Kekawin.


Imajiner Nuswantoro

(gambar kanan: Persembahyangan di Pura Samuan Tiga)


Terjadi banyak perubahan dalam berbagai bidang diantaranya penulisan prasasti tidak lagi mempergunakan bahasa Bali Kuno seperti yang sudah sudah tetapi memakai bahasa Jawa Kuno atau Bahasa Kawi. Di bidang keagamaan yang semula terdiri dari 9 sekte yang sering menimbulkan pertentang di masyarakat ditata kembali melalui pertemuan dengan kelompok Budha Mahayana, Siwa dan Bali Aga dengan sekte sektenya.

Hal ini diprakarsai oleh Mpu Kuturan yang menjabat sebagai Ketua Majelis Lembaga Tertinggi dalam pemerintahan Raja Udayana. Hasil pertemuan ini disetujui oleh semua pihak dan menghasilkan 5 kesepakatan antara lain :

- Menjadikan paham Trimurti/ Tri Sakti/ Tri Tunggal sebagai dasar keagamaan bagi semua paham dan aliran

- Mendirikan Pura Kayangan Tiga untuk setiap desa adat atau Pakraman.

- Di setiap rumah dibangun bangunan suci rong tiga atau yang dikenal dengan sanggah kemulan.

- Semua tanah pekarangan yang terletak di sekitar Desa dan pura Kayangan Tiga menjadi milik desa/ Pura Kahyangan Tiga dan tidak boleh diperjual belikan.


Nama agama yang disepakati adalah Agama Siwa-Buda.


Imajiner Nuswantoro
(gambar kiri: Pura Samuan Tiga) 


Itulah sebabnya maka tempat dilaksanakan pertemuan tersebut dinamakan Samuan Tiga, sedangkan Pura yang dibangun ditempat itu dinamakan Pura Samuan Tiga yang terletak di desa Bedahulu Gianyar.


BERBAGAI VERSI TENTANG UDAYANA

Menurut F.D.K. Bosch,, Udayana adalah anak seorang putri Campa atau Kamboja. Kekacauan yang terjadi di negeri itu, sekitar tahun 970, menyebabkan sang putri yang dalam keadaan hamil itu melarikan diri ke Jawa dan melahirkan putranya di sana. Putranya itu adalah Udayana yang kemudian menikah dengan Mahendradatta

Moens tidak setuju dengan hipotesis Bosch itu. Dalam artikelnya ”De Stamboom van Erlangga”yang terbit pada tahun 1950, Moens antara lain mengemukakan bahwa ada dua tokoh historis Udayana. Pertama, Udayana yang lahir sebagai akibat hubungan inses antara Isana (Sindok) dengan putri kandungnya (selanjutnya disebut Udayana I). Kedua, Udayana yanng merupakan putra Udayana I sebagai hasil pernikahannya dengan Ratnawati (selanjutnya disebut Udayana II). Udayana I tetap hidup di Jawa Timur dan setelah mangkat, pada tahu 899 Saka dicandikan di Jalatunda. Udayana II dinikahkan dengan Mahendradatta. Pasangan ini kemudian dinobatkan sebagai pemegang tampuk pemerintahan di Bali.



Imajiner Nuswantoro

(gambar kiri: Peninggalan Bali Kuno)  


Moens juga mengemukakan bahwa Mahendradatta sesungguhnya menikah dua kali, pertama kali dengan Dharmawangsa Teguh di Jawa Timur, melahirkan Airlangga, dan kedua kalinya dengan Udayana II . Pada dasarnya, Goris menyetujui pendapat Moens tentang adanya dua tokoh Udayana, tetapi beliau menambahkan bahwa Airlangga dilahirkan di Bali pada tahun 913 Saka (991) sebagai hasil, pernikahan Mahendradatta dengan Udayana yang memerintah di Bali Pendapat Bosch dan Moens di atas perlu ditinjau kembali. Tadi telah disinggung bahwa dalam prasasti Pucangan, Mahendradatta dikatakan menikah dengan Udayana, seorang pangeran dari dinasti termasyhur. Tidak perlu disangsikan lagi bahwa yang dimaksud dengan Udayana itu adalah Sri Dharmodayana Warmadewa.

agi pula, seperti telah diketahui, dinasti Warmadewa memang telah berkuasa di Bali sejak jauh sebelum Sri Dharmodayana Warmadewa, yaitu sejak tahun 835 Saka (914) dengan Sri Kesari Warmadewa sebagai cikal bakalnya.

Berdasarkan kenyataan itu, mudah dipahami bahwa penulis prasasti tidak perlu menegaskan kedinastian serta daerah asal Udayana yang memang sudah sangat dikenal pada waktu itu. Sebaliknya, sangat sukar dipahami bahwa seorang asing yang merupakan putra seorang pelarian, dapat diterima dengan mudah dalam jajaran anggota suatu dinasti, dalam hal ini dinasti Warmadewa.

Lagi pula, penerimaan tanpa reaksi aktif dari anggota dinasti tersebut, khususnya dari putra mahkota yang mempunyai hak sah atas takhta dan mahkota kerajaan Bali adalah hal yang mustahil. Pertimbangan-pertimbangan di atas, begitu pula keterangan-keterangan dalam prasasti Pucangan dan sejumlah prasasti Bali yang dikemukakan sebelumnya, dapat berfungsi sebagai landasan kuat bagi pendapat yang menyatakan bahwa Udayana, suami Gunapriyadharmapatni, adalah seorang putra Bali dari dinasti Warmadewa.

Pendapat ini sesuai dengan pendapat Krom yang dikemukakan jauh sebelum muncul pendapat Bosch dan Moens. Telah dikatakan bahwa prasasti-prasasti pasangan ”suami-istri” itu terbit tahun 911-923 Saka (989-1001). Prasasti-prasasti itu adalah prasasti Bebetin AI (911 Saka), Serai AII (915 Saka), Buwahan A (916 Saka), Sading A (923 Saka) dan prasasti Tamblingan Pura Endek II.

Prasasti Bebetin A berkenaan dengan desa (banwa) Bharu. Dikatakan bahwa desa itu, yang telah disebutkan dalam prasasti Bebetin A (818 Saka), kembali mengalami perampokan sehingga kondisi sosial ekonominya menjadi sangat lemah. Pasangan suami-istri itu pun memberikan keringanan dalam sejumlah kewajiban kepada desa tersebut. Keringanan semacam itu diberikan juga kepada penduduk di daerah perburuan (anak mabwatthaji di buru).

Hal itu dapat diketahui dari prasasti Serai AII. Isi prasasti Buwahan A sangat menarik perhatian. Pada intinya, prasasti itu memuat izin pasangan Gunapryadharmapatni dan Udayana kepada desa Bwahan yang terletak di pesisir Danau Batur untuk lepas dari desa induknya, yakni Kdisan. Desa Bwahan, yang tampaknya semakin berkembang, diizinkan berpemerintahan sendiri (sutantra i kawakannya).

Segala kewajiban supaya dilaksanakan sebagaimana mestinya. Dalam prasasti Sading A dibicarakan tentang desa Bantiran. Dalam prasasti itu dikatakan bahwa banyak penduduk desa itu terpaksa meninggalkan rumah. Hal itu disebabkan oleh tamu-tamu yang datang ke desa itu berlaku tidak sopan dan menimbulkan kekacauan. Setelah keadaan aman, penduduk desa Bantiran disuruh kembali ke desanya..



Imajiner Nuswantoro
(gambar kanan: Iringan Putri Raja di Bali)


Hak dan kewajibannya diatur dan mereka diizinkan membuka lahan untuk memperluas sawah ladangnya. Pada tahun 933 Saka terbit sebuah prasasti atas nama Udayana sendiri, tanpa permaisurinya, yakni prasasti Batur, Pura Abang A . Rupanya Gunapriyadharmapatjni mangkat tidak lama sebelum tahun 933 Saka. Prasasti ini diberikan kepada desa Air Hawang (sekarang desa Abang) yang terletak di pesisir Danau Batur.

Dalam prasasti itu disebutkan bahwa pada tahun 933 Saka wakil-wakil desa Air Hawang menghadap raja Udayana dengan perantaraan pejabat Rakryan Asba, yaitu Dyah Manjak. Mereka menyampaikan bahwa karena kelemahan kondisi desanya, penduduk tidak mampu memenuhi pembayaran pajak-pajak serta cukai-cukai tertentu dan tidak dapat ikut bergotong royong atau kerja bakti untuk raja. Lebih lanjut, mereka memohon pengurangan atau keringanan dalam menunaikan kewajiban-kewajiban tersebut.

Untuk memeriksa keadaan sebenarnya di lapangan (baca : di desa Air Hawang), raja mengutus Dang Acarya Bajantika, Dang Acarya Nisita, Dang Acarya Bhacandra dan Senapati Kuturan, yaitu Dyak Kayop ke desa itu. Hasil temuannya kemudian didiskusikan, dibahas, atau dianalisis dalam sidang paripurna para pejabat tinggi kerajaan, bahkan tidak sekali dua kali, tetapi lebih dari itu.

Setelah segala sesuatunya dipertimbangkan, akhirnya raja menyetujui permohonan wakil-wakil penduduk desa itu. Bagian teks prasasti mengenai proses persidangan itu berbunyi :

“...tuwulwi ta sira kabaih mapupul, malapkna kinabehan, tan pingsan pingrwa, winantah winalik blah, hana pwantuk ning malapkna, an kasinggihan sapanghyang nikang anak thani, ...”

Artinya : “... kemudian beliau sekalian berkumpul, bersidanng bersama-sama, tidak sekali dua kali, diperdebatkan dan dibahas, maka tercapailah hasil persidangan, yakni dipenuhinya hal-hal yang menjadi permohonan penduduk desa itu, ...”


Selain prasasti-prasasti yang telah disebutkan, masih ada lima buah prasasti singkat (short inscription) yang terbit atau diduga terbit sebelum Udayana turun taktha, yaitu prasasti-prasasti Besakih, Pura Batumadeg (nomor lama 908), Ujung Pura Dalem (nomor lama 357) berangka tahun 932 Saka, Gunung Penulisan A (933 Saka), Gunung Penulisan B, dan Sangsit B (nomor lama 437) berangka tahun 933 Saka . Prasasti Besakih, Pura Batu Madeg sesunguhnya berangka tahun 1393 Saka tetapi di dalamnya disebutkan sebuah prasasti lebih tua yang memakai candra sangkala nawasanga-apit-lawang (929 Saka).

Prasasti bertahun 929 Saka itulah yang terbit pada masa pemerintahan Gunapriyadharmapatni dan Udayana. Penduduk setempat menyebut prasasti itu Mpu Bradah, yakni sebutan untuk tokoh Mpu Baradah yang terkenal dalam cerita Calonarang. 

Sekarang timbul pertanyaan, mengapa prasasti itu disebut Mpu Bradah ?

Mengenai hal ini, Goris berpendapat bahwa pada tahun 929 Saka Mpu Baradah mengunjungi Bali untuk pertama kali. Kunjungan itu mungkin dalam kaitan dengan 

(1) kelahiran Marakata, 

(2) kelahiran Anak Wungsu, atau kemangkatan Gunapriyadharmapatni. 

Goris cenderung berpendapat bahwa Gunapriyadharmapatni mangkat ketika melahirkan putra bungsunya yaitu Anak Wungsu sehingga kedatangan Mpu Baradah ke Bali pada tahun 929 Saka betul-betul mengenai urusan yang sangat penting .


AKHIR MASA PEMERINTAHAN

Setelah lama Sri Dharmma Udhayana Warmmadewa sebagai penguasa tunggal, akhirnya Baginda wafat, pada tahun Saka 940/1018 Masehi. Jenazah Baginda dikebumikan di Banyuweka. Adapun Gunapriyadharmapatni setelah wafat dicandikan di Burwan. Beliau meninggalkan tiga orang putra, diantaranya

1. Sri Aji Erlangga kawin ke Jawa Timur

2. Sri Dharmawangsa Wardana Marakata Pangkaja Stana Utunggadewa, berkuasa di Bali antara tahun Saka 944/1022 Masehi

3. Adik terkecil bernama Sri Aji Anak Wungsu. beliau juga menganugrahkan prasasti pada tahun Saka 911/999 Masehi.



Raja Penguasa Bali 3

8. Sri Ajnadewi (1016)

Ratu Sri Ajnadewi mengeluarkan prasasti Sembiran AIII pada tahun 938 Saka (Brandes, 1889 : 48-49 ; Damais, 1955 : 229-230). Sampai kini belum terdapat petunjuk jelas mengenai hubungan ratu ini dengan pendahulunya, begitu pula hubungannya dengan tokoh lain.

Dalam mengupayakan penjelasannya, akan dilihat kembali bagian berbahasa Jawa Kuno pada prasasti Pucangan. Dari bagian itu diketahui bahwa pada tahun 938 Saka (1016) kerajaan yang diperintah Dharmawangsa Teguh di Jawa Timur diserang oleh raja Wurawari sehingga mengalami malapetaka mahahebat (pralaya). Serangan itu bertepatan dengan saat diselenggarakan upacara pernikahan Airlangga dengan putri Dharmawangsa Teguh.

Dikatakan lebih lanjut bahwa Jawa pada waktu itu bagaikan lautan api dan banyak orang terkemuka gugur dalam peristiwa tersebut. Airlangga, yang berumur 16 tahun, dapat menyelamatkan diri dengan lari ke hutan diiringi pengikutnya yang sangat setia, yaitu Narottama Tahun pralaya itu ternyata bertepatan dengan munculnya Ratu Sri Sang Ajnadewi sebagai pemegang tampuk pemerintahan di Bali. Berdasarkan kenyataan ini, dapat dikembangkan uraian hipotetik sebagai berikut.

Mudah dipahami bahwa ketika dilangsungkan upacara pernikahan Airlangga dengan putri Dharmawangsa Teguh, Udayana sebagai seorang ayah, yakni ayah Airlangga, hadir di keraton Jawa Timur. Bahkan mustahil baginda ikut gugur dalam peristiwa pralaya yang telah disebutkan, dan hal itu sekaligus mengakibatkan taktha kerajaan Bali lowong secara tiba-tiba.

Putra mahkota Bali pada waktu itu, yaitu Marakata, kemungkinan masih terlalu muda untuk dinobatkan sebagai raja. Pendapat itu didasarkan atas pertimbangan bahwa jika Airlangga pada tahun 1016 baru berumur 16 tahun, maka Marakata sebagai adiknya, setua-tuanya baru berumur 15 tahun, bahkan kenyataannya boleh jadi lebih muda dari itu.

Untuk memecahkan masalah lowongnya takhta kerajaan Bali, keluarga istana rupanya sepakat mengangkat seorang wali, yaitu Ratu Sri Sang Ajnadewi. Perwalian itu berlangsung sampai tidak lama sebelum Marakata mengeluarkan prasasti yang pertama pada tahun 944 Saka (1022). Apakah wali itu berasal dari Jawa Timur ataukah keluarga istana Bali?

Memang dapat dipahami, jika wali itu berasal dari dan diangkat oleh keluarga istana Jawa Timur, namun kemungkinan itu sangat kecil. Kemungkinan itu dikatakan demikian karena mudah pula dipahami bahwa kondisi kerajaan di Jawa Timur pada waktu itu masih sangat lemah, situasinya masih sangat kacau, bahkan mungkin masih dalam suasana berkabung.

Jika dugaan itu benar, maka kemungkinan lain yang dapat dikemukakan ialah Sri Sang Ajnadewi adalah anggota dinasti yang sedang berkuasa di Bali. Mungkin bibi Marakata atau tokoh lain yang memang pantas menduduki posisi sebagai wali.

Prasasti Sembiran A III yang dikeluarkan oleh ratu itu kembali mengenai desa Julah. Dikatakan bahwa desa ini diserang lagi oleh penjahat. Banyak penduduk mati, ditawan musuh, atau mengungsi ke desa lain. Penduduk semula sebanyak 300 kepala keluarga, tersisa hanya 50 kepala keluarga. Oleh karena itu, sang ratu pun memberikan keringanan kepada mereka dalam hal kerja gotong royong dan pembayaran beberapa jenis drwyahaji.

Kewajiban mereka dalam kaitan dengan bangunan sakral di Dharmakuta pun dikurangi pula (Goris, 1954a : 95). Dapat ditambahkan bahwa secara harfiah drwyahaji berarti “milik raja”(Zoetmulder, 1982a : 416). Akan tetapi, menurut konteksnya istilah itu bermakna pendapatan kerajaan yang berasal dari pajak, cukai, denda, iuran, dan sebagainya, yang kemudian digunakan untuk membiayai berbagai pengeluaran kerajaan.



9. Sri Marakatapangkaja (1022 - 1925 M)

Setelah Udayana wafat, Marakatapangkaja naik tahta sebagai raja Kerajaan Bali Marakata bergelar Paduka Haji Sri Dharmawangsawardhana Marakatapangkajasthanottunggadewa. Putra kedua Udayana ini menjadi raja Bali berikutnya karena putra mahkota Airlangga menjadi raja Medang Kemulan.

Airlangga menikah dengan putri Darmawangasa dari kerajaan Medang Kemulan. Dari prasasti-prasasti yang ditemukan terlihat bahwa Marakatapangkaja sangat menaruh perhatian pada kesejahteraan rakyatnya. Wilayah kekuasaannya meliputi daerah yang luas termasak Gianjar, Buleleng. Tampaksiring dan Bwahan (Danau Batur).

Marakata bergelar Marakata Utungga Dewa yang di segani rakyatnya, ia membangun bangunan suci di Gunung Kawi, Tampak Siring Bali. Beliau mengeluarkan prasastinya yang pertama yakni prasasti Batuan, pada tahun 944 Saka. Prasasti-prasasti lain yang memuat gelar raja itu ialah prasasti Sawan A I = Bila I (nomor lama 353) yang berangka tahun 945 Saka, Tengkulak A (945 Saka), dan Bwahan B (947 Saka)14.

Prasasti pertama diberikan kepada penduduk desa Baturan (sekarang Batuan di Kabupaten Gianyar). Wakil-wakil desa itu menghadap raja serta menyampaikan bahwa semenjak masa pemerintahan raja almarhum yang dicandikan di Er Wka (yang dimaksud adalah Udayana), penduduk desa Baturan ditugasi memelihara kebun raja di Er Paku dan kuil di desa Baturan.

Raja Marakata memaklumi betapa beratnya tugas-tugas itu, maka sebagai imbalannya, penduduk pun dibebaskan dari pajak-pajak tertentu dan diizinkan lepas dari desa Sukhawati (sekarang Sukawati). Isi pokok prasasti Sawan A I pada dasarnya sama dengan isi pokok prasasti Batuan, yang permohonan penduduk mengenai pengurangan beban drwyahaji dan tugas bergotong royong.

Permohonan itu diajukan wakil-wakil desa Bila karena merasa cukup berat memenuhi kewajiban-kewajiban semula sebagai akibat warganya berkurang secara drastis, yakni dari semula 50 kepala keluarga menjadi hanya 10 kepala keluarga. Permohonan itu disetujui oleh raja Marakata. Prasasti Sawan A I juga memuat ketetapan tentang pembagian harta warisan, perbuatan-perbuatan yang tidak boleh dilakukan oleh pegawai kerajaan yang berkunjung ke desa Bila, dan kewajiban penduduk bagi pegawai itu.

Prasasti Tengkulak A menyatakan bahwa pada tahun 945 Saka, wakil-wakil desa Songan Tambahan menyampaikan kepada raja Marakata bahwa sejak masa pemerintahan Gunapriyadharmapatni dan Udayana Warmadewa, mereka ditugasi menyelenggarakan atau memelihara katyagan (asrama pendeta) Amarawati di tepi sungai Pakrisan. Sejak titah turun, penduduk desa itu belum pernah diberikan prasasti yang memuat rincian kewajiban serta hak mereka. Supaya segala sesuatunya menjadi jelas, sehingga mereka dapat meneruskan pengabdian kepada raja dan ratu almarhum, begitu pula kepada raja yang tengah memerintah, maka mereka memohon kepada Raja Marakata agar berkenaan menganugerahkan prasasti kepada mereka. Raja pun memenuhi permohonan itu. Dalam prasasti itu ditegaskan bahwa penduduk supaya tetap melaksanakan tugas-tugasnya sebagaimana sediakala (magehakna sapurbwastitinya nguni) .

Berdasarkan prasasti Buwahan B (947 Saka) dapat diketahui bahwa penduduk desa Bwahan kekurangan lahan tempat menggembalakan ternak dan mencari kayu api. Wakil-wakil desa itu memohon agar diizinkan membeli sebidang hutan dekat desanya, yang semula digunakan sebagai tempat berburu oleh raja. Dikatakan bahwa raja mengabulkan permohonan tersebut. Lebih lanjut ditegaskan, agar Nayakan Buru (pejabat yang mengurusi masalah perburuan) tidak mengganggu gugat kegiatan penduduk di wilayah yang telah dibeli itu.

Masih ada sejumlah prasasti singkat yang terbit pada masa pemerintahan raja Marakata, yaitu prasasti-prasasti Kesian, Pura Sibi I (945 Saka), Kesian, Pura Sibi II (948 Saka), Kesian Pura Sibi III (948 Saka), Kesian, Pura Sibi IV dan Bangli, Pura Kehen B (nomor semula 356) tanpa angka tahun.15 Oleh karena data historis dalam masing-masing prasasti itu relatif kurang berarti bagi penggambaran aktivitas atau kebijakan raja Marakata maka pembicaraan prasasti-prasasti itu tidak diperpanjang di sini.

Dalam gelar Marakata yang telah disebutkan di depan, tidak terdapat unsur warmadewa tetapi ada unsur dharmawangsa yang mengingatkan kepada tokoh Dharmawangsa Teguh di Jawa Timur. Berdasarkan kenyataan itu, apakah berarti Marakata tidak termasuk anggota dinasti Warmadewa?

Keraguan itu menjadi hilang dengan adanya keterangan dalam prasasti Tengkulak A. Dalam prasasti itu dikatakan bahwa Marakata adalah putra raja Almarhum yang dicandikan di Air Wka (yakni Sri Dharmodayana Warmadewa). Keterangan itu juga berarti bahwa Marakata tergolong anggota dinasti Warmadewa. Bagian teks prasasti mengenai hal itu berbunyi :


“... mangkai pwan menget ikanag karaman i songan tambahan sapanambahan, an wka haji dewata sang lumah ring air wka sajalu stri, prasiddha kumalilirig kulit kaki, siniwi ring desa banten molih tekang karaman maprarthana ri bhatara, yata hetunya papulung rahi manambah i paduka haji, umajaraken sakramanya nguni mwang pagehnyanugraha haji dewata, ...

Artinya : ”... kini ingatlah para tetua desa Songan Tambahan yang terikat dalam satu kesatuan pemujaan, bahwa putra raja almarhum yang icandikan di Air Wka beserta permaisurinya, telah berhasil mewarisi (takhta kerajaan) dari garis keturunan, laki-laki, dimuliakan di wilayah Banten (Bali). Supaya mereka dapat melanjutkan pengabdian kepada betara (di Air Wka) maka mereka bersama-sama menghadap paduka raja, mempermaklumkan segala sesuatu yang mereka laksanakan pada masa-masa lalu, dalam upaya mengukuhkan anugrah (baca : titah) raja yang telah almarhum,...”


Kutipan di atas menunjukkan bahwa menurut garis keturunan dari pihak ayah, Marakata termasuk dinasti Warmadewa. Akan tetapi, kenyataannya unsur warmadewa tidak digunakan dalam gelar raja itu. Sebaliknya dalam gelar itu terdapat unsur dharmawangsa, yang sebagaimana telah dikatakan, mengingatkan kepada tokoh Dharmawangsa Teguh di Jawa Timur.

Keadaan demikian dapat dipahami, jika diingat bahwa ibu suri Marakata, yakni Gunariyadharmapatni adalah putri Jawa Timur. Bukan mustahil Gunariyadharmapatni bersaudara kandung dengan Dharmawangsa Teguh, atau paling tidak berkerabat dekat. Unsur dharma yang terdapat dalam nama masing-masing tokoh itu dapat digunakan sebagai faktor penunjang pendapat di atas.

Dalam menanggapi gelar Marakata yang tanpa unsur warmadewa, lebih jauh dapat dikemukakan bahwa hal itu tidak mesti dipandang sebagai bukti bahwa Marakata mengingkari dirinya termasuk dinasti Warmadewa. Sebagai putra Udayana, tentu baginda menyadari kedudukannya dalam dinasti itu. Penggunaan unsur dharmawangsa dalam gelarnya, agaknya hanya masalah pilihan belaka.


AKHIR MASA PEMERINTAHAN

Raja Marakata diganti oleh adiknya, yaitu Anak Wungsu yang memerintah tahun 971-999 Saka (1049-1077). Gelarnya sebagai raja, begitu pula nama kecil tokoh ini sesungguhnya tidak diketahui secara pasti, kecuali hendak diyakini bahwa Anak Wungsu juga merupakan nama kecil tokoh itu. Secara harfiah anak wungsu berarti ”anak bungsu”, jadi hanya menyatakan urutan kelahiran belaka.

Dalam hal ini, tokoh itu adalah anak bungsu suami-istri Udayana dan Gunapriyadharmapatni. Pernyataan mengenai hal tersebut terbaca dalam sejumlah prasasti yang dikeluarkan oleh Anak Wungsu. Dalam prasasti Pandak Bandung (933 Saka) misalnya, terbaca bagian yang berbunyi :


”... ”paduka haji, anak wungsunirakalih bhatari lumah i burwan, bhatara lumah i banu wka, ...”(Stein Callenfels, 1926 : 14), yang artinya ”... paduka raja anak bungsu baginda berdua (suami-istri), yaitu ratu yang dicandikan di Burwan dan raja yang dicandikan di Banu Wka, ...”

Dikaitkan dengan keterangan dalam prasasti Pucangan yang menyatakan bahwa Airlangga adalah putra suami-istri tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa suami-istri itu berputra tiga orang, yakni Airlangga, Marakata, dan Anak Wungsu. Hal ini juga berarti bahwa Airlangga dan Anak Wungsu, seperti halnya Marakata, termasuk dinasti Warmadewa pula.



10. Anak Wungsu (1049 - 1077 M ) 

Pengganti raja Marakatapangkaja adalah adiknya sendiri yang bernama Anak Wungsu. Ia mengeluarkan 28 buah prasasti yang menunjukkan kegiatan pemerintahannya. Anak Wungsu, mengaku penjelmaan Wisnu yang masa pemerintahannya di bantu 10 senopati rakyat hidup dari bertani, binatang yang berharga adalah Kuda. Untuk golongan pedagang laki-laki disebut Wanigrama dan untuk perempuan disebut Wanigrami.

Dikisahkan permaisuri Baginda bersama putra mahkota yang bergelar Sri Wardhana Markata Pangkaja Tunggadewa sebagai penguasa. Baginda bersaudara tiga yang ketiganya pria, yang sulung bernama Sri Airlangga sudah ke Pulau Jawa. Baginda dijadikan anak menantu oleh Sri Dharmawangsa Teguh Ananta Wikrama Tunggadewa di kerajaan Kediri.

Ketika itu Sri Airlangga baru berusia 16 tahun, karena Baginda lahir pada tahun Saka 915/991 Masehi. Adik bungsu Baginda bernama Sri Aji Wungsu, Baginda masih dalam usia kanak-kanak. Entah beberapa tahun lamanya Baginda berdua sebagai penguasa, pada tahun Saka 971/1049 Masehi, Sri Aji Hungsu yang bertahta menjadi Raja oleh karena Ibunda Baginda dan kakaknya Baginda sudah wafat.

Jenazah Ibunda Baginda Ratu Mahendradatta Gunapriya Dharmapatni dikebumikan di Bukit Bhurwan, dekat dengan Banyuweka, adapun jenazah Sri Wardhana Markata Pangkaja Tunggadewa dikebumikan di Gunung Kawi daerah Tampaksiring. Kini dikisahkan Sri Aji Wungsu yang bertahta menjadi raja, tak ubahnya seperti almarhum Ibunda Baginda, selalu sujud bhakti kehadapan Sang Hyang Widhi dan para dewata.

Pulau Bali aman dan sejahtera demikian juga Baginda Raja dalam keadaan selamat dan panjang umur, serta seluruh rakyat terhindar dari segala wabah penyakit, lagi pula rakyat Baginda tak ada yang bertikai, semua mematuhi kewajiban sebagai seorang ayah dan kewajiban sebagai seorang anak. Raja Anak Wungsu memerintah Bali cukup lama, bahkan terlama di antara raja-raja pada zaman Bali Kuno, yakni selama tidak kurang dari 28 tahun.

Ada 31 buah prasasti dikeluarkannya, atau yang dapat diidentifikasikan sebagai prasasti-prasasti yang terbit pada masa pemerintahannya. Sembilan belas di antara prasasti-prasasti itu memuat ”gelar” seperti disebutkan, yang lainnya tanpa muatan ”gelar” , baik karena prasasti yang bersangkutan tidak lengkap atau karena tergolong prasasti singkat. Masa pemerintahannya yang lama serta prasasti yang dikeluarkan cukup banyak dapat digunakan sebagai petunjuk bahwa raja itu memerintah dengan bijaksana dan kerajaan dalam keadaan stabil.

Dugaan itu ditunjang pula oleh sejumlah ungkapan yang terbaca dalam prasasti, yang pada intinya menyatakan kepekaan serta kearifan Anak Wungsu dalam melaksanakan pemerintahan. Dalam beberapa prasasti dikatakan bahwa Anak Wungsu adalah raja yang penuh belas kasihan (gong karunya pwa pinaka swabhawa paduka haji) dan selalu memikirkan kesempurnaan serta kemakmuran kerajaan yang diperintah atau dilindunginya (nityasa kumingking sakaripurnnakna nikanang rat rinaksanira atau nityasa kumingking ... subhiksa nikang rat rinaksanira).

Oleh karena Anak Wugsu sangat menjunjung tinggi serta mengagungkan ajaran agama atai kebajikan (sangka ri kadharmestan paduka haji) maka baginda diibaratkan sebagai penjelmaan dharma (kebajikan) (saksat dharmam urti/saksat dharmatmajam urti/tuhutuhu dharmam urti) yang senantiasa memikirkan kesempurnaan atau terpeliharanya bangunan-bangunan suci keagamaan (nityasa kumingking sakaripurnnakna sang hyang sarbwa dharma) (cf.Sumadio dkk., 1990 : 301-302).

Dapat dimengerti bahwa ungkapan-ungkapan itu mungkin bersifat hiperbolis, namun unsur kebenaran yang terkandung di dalamnya, yakni bagian yang bersifat realistis, patut mendapat perhatian yang wajar. Telah dikatakan bahwa ada 31 buah prasasti berasal dari masa pemerintahan Raja Anak Wungsu. Jika isi pokok prasasti-prasasti itu diulas satu per satu, walaupun secara ringkas, maka akan menghasilkan uraian panjang yang dalam beberapa hal dapat bersifat pengulangan.

Untuk menghindari hal itu, di bawah ini disajikan klasifikasi prasasti-prasasti itu berdasarkan sambandha-nya atau alasan yang melatarbelakangi dikeluarkannya prasasti yang bersangkutan. Ada enam alasan yang telah diketahui, yakni sebagai berikut. Adanya permohonan penduduk, dengan perantara wakil-wakilnya, agar prasasti semula yang berupa ripta 16 diubah menjadi prasasti tembaga (tampraprasasti).

Permohonan demikian berasal dari wakil-wakil penduduk desa (karaman) Turunan, Cintamani, Batwan, Pa (r) canigayan, Julah, para wajib pajak (anak mabwathaji), di Silihan dan Landungan, warga desa yang bertugas menjahit pakaian (mangjahit kajang) di Buyan, Anggas, serta Taryungan, dan wakil-wakil penduduk desa Bila.17 Adanya permohonan membuka lahan baru untuk dijadikan perdikan (sima).

Permohonan semacam itu diajukan oleh wakil-wakil desa Lutungan, tokoh-tokoh pendiri (purusakara) subak Rawas, dan wakil-wakil desa Bwah.18 Adanya pejabat memungut rwyahaji melebihi ketentuan yang tercantum dalam prasasti. Hal ini diketahui dari laporan wakil-wakil pajak di daerah perburuan. Dikatakan bahwa para pemimpin dalam bidang-bidang tertentu (nayaka) dan para pengawas (caksu paracaksu) melakukan pungutan melebihi ketentuan dalam prasasti yang dianugrahkan raja almarhum. Wakil-wakil penduduk memohon agar masalah itu diluruskan oleh Raja Anak Wungsu.

Adanya permohonan agar ketetapan yang tercantum dalam prasasti semula ditambahi atau dilengkapi. Wakil-wkail penduduk desa Bharu (banwa Bharu) mengajukan permohonan ini dengan tujuan supaya kewajiban dan hak mereka menjadi lebih jelas. 26 Adanya permohonan agar penduduk dianugrahi prasasti sebagai pegangan pelaksanaan hak dan kewajiban. Penduduk desa (karaman) Sukhapura telah sejak lama dituasi menyelenggarakan sebuah kompleks percandian (sanghyang dharma), tetapi belum dianugrahi prasasti.

Supaya tugas-tugas mereka jelas, maka mereka memohon agar Raja Anak Wungsu berkenaan mencantumkan dalam sebuah prasasti.27 Adanya permohonan agar penduduk lazim menghaturkan bahan-bahan mentah untuk keperluan upacara dan menjamu pejabat atau petugas tertentu. Permohonan ini diajukan oleh wakil-wakil desa Gurguran karena mereka kekurangan tenaga untuk memasak bagi keperluan-keperluan tersebut di atas.

Dengan singkat dapat dikatakan bahwa semua permohonan tersebut di atas dikabulkan oleh Raja Anak Wungsu, setelah melalui tahapan pertimbangan serta pembahasan yang seksama. Dalam prasasti yang bersangkutan dicantumkan pula ketetapan mengenai berbagai aspek kehidupan, misalnya aspek sosial ekonomi, sosial budaya, dan keagamaan.


AKHIR MASA PEMERINTAHAN

Anak Wungsu adalah raja dari Wangsa Warmadewa terakhir yang berkuasa di kerajaan Bali karena ia tidak mempunyai keturunan. Ia meninggal pada tahun 1080 dan dimakamkan di Gunung Kawi (Tampak Siring). Raja Anak Wungsu diganti oleh Sri Walaprabhu yang memerintah tahun 1001-1010 Saka ( 1078-1088). Gelar lengkap raja ini berbunyi Sri Maharaja Sri Walaprabhu.



(gambar kiri: Gunung Kawi)


Prasasti yang dikeluarkan oleh raja-raja keturunan Wangsa Warmadewa antara lain: Sukawana Caka 8o4, Bebetin Caka 818, Trunyan Caka 813, Trunyan B1 Caka 833, Gobleg Caka 836, Srokodan Caka 837, Babahan Caka 839, Sembiran Caka 844, Pengotan A1 Caka 846, Batunya Caka 855, Dausa Pura Bukit Indrakila Caka 857, Srai A1 Caka 888, Sembiran B1 Caka 873, Manukaya Caka 884, Bebetin Caka 911, Serai A2 Caka 915, Sading A Caka 923, Batur Pura Abang Caka 933, Sembiran A3 Caka 938, Batuan Caka 944, Sawan Caka 945, Kesihan Caka 945, Bwahan Caka 947, Prasasti Bangli, Pr. Kehen B, Prasasti Ujung Caka 962, dan lain-lain)



Raja Penguasa Bali 4

11. Sri Maharaja Walaprabhu (1079 – 1088 M)

Raja Anak Wungsu diganti oleh Sri Walaprabhu yang memerintah tahun 1001-1010 Saka ( 1078-1088) dengan Gelar Sri Maharaja Sri Walaprabhu, terbaca dalam prasasti Babahan II (nomor lama 501). Prasasti Ababi A (nomor lama 447) dan Klandis (nomor lama 448) adalah juga dikeluarkan oleh raja Walaprabhu (1954a : 26 ; 1965 : 33).

Perlu diperhatikan bahwa raja-raja Bali Kuno, raja inilah yang pertama menggunakan gelar maharaja setelah ratu Sri Wijaya Mahadewi . Aktivitas pemerintahan raja ini dapat dikemukakan antara lain sebagai berikut. Dalam prasasti Klandis dinyatakan bahwa raja Walaprabhu mengizinkan desa Pakwan lepas dari desa Bangkala tetapi harus tetap menunaikan pembayaran drwyahaji sebagaimana sediakala. Betapa keagungan wibawa raja itu dapat diketahui dari ucapan-ucapan yang menggambarkan bahwa baginda bagaikan perwujudan dharma (kebajikan) yang melindungi dunia (saksat niran dharmmatmajam urti jagatpaloka), sebagai tempat rakyat berlindung (saranasraya ring praja), dan laksana satu-satunya payung yang meneduhi seluruh wilayah Pulau Bali (pinakekachatra ning balidwipamandala) (Tuuk dan Brandes, 1885 : 619-624).

Prasasti Ababi A dianugerahkan kepada karaman i Hara Babi sedangkan prasasti Babahan II, seperti halnyan prasasti Babahan I, berkenaan dengan dharma i ptung. Kedua prasasti itu tidak lengkap sehingga data sejarah yang dapat diketahui sangat sedikit.



12. Sri Maharaja Sakalendu


13. Sri Maharaja Suradhipa (1115 - 1119 M)

Baginda berkuasa tahun 1037 : 1041 Saka (1115-1119) dengan mengeluarkan prasasti-prasasti Gobleg, Pura Desa III (1037 Saka), Angsari B (1041 Saka), Ababi, Tengkulak D dan Prasasti Tamblingan, Pura Endek III.24 Sebagian di antara prasasti-prasasti itu sudah aus dan tidak terbaca lagi.

Berdasarkan permohonan wakil-wakil pamong dharma (sejenis bangunan suci) di Air Tabar dapat diketahui bahwa raja memberikan izin kepada mereka memperbaharui (umanari) prasastinya. Izin itu diberikan karena prasasti semula yang tertulis pada daun rontal (ripta) telah rusak dan tidak terbaca lagi (awuk munggwing ripta tan wnang winaca).

Selanjutnya, raja menekankan supaya isi prasasti itu dipatuhi oleh segenap penduduk sebagaimana mestinya. Semua hal itu disebutkan dalam prasasti Gobleg, Pura Desa III. Pada tahun 1041 Saka, sesuai dengan isi pokok prasasti Angsari B, raja Suradhipa memberikan prasasti kepada dharma di Sukhamerta yang termasuk wilayah desa Latengan. Segala ketetapan yang tercantum di dalamnya supaya ditaati oleh penyelenggara pertapaan di kompleks dharma di Sukhamerta. Pertapaan ini dibangun pada masa pemerintahan Raja Tabanendra Warmadewa. Setelah berakhir masa pemerintahan raja Suradhipa, secara beruntun memerintah di Bali empat orang raja yang menggunakan unsur jaya dalam gelarnya, yaitu

1. Paduka Sri Maharaja Sri Jayasakti tahun 1055-1072 Saka (1133-1150)

2. Paduka Sri Maharaja Sri Ragajaya tahun 1077 Saka (1155)

3. Paduka Sri Maharaja Haji Jayapangus tahun 1099-1103 Saka (1178-1181)

4. Paduka Sri Maharaja Haji Ekajayalancana beserta ibunya yaitu Paduka Sri Maharaja Sri Arjaryya Dengjayaketana yang mengeluarkan prasastinya pada tahun 1122 Saka (1200) digantikan Sri Suradhipa yang memerintah dari tahun1037 Saka hingga 1041 Saka. Raja Suradhipa kemudian digantikan Jayasakti.



C. Wangsa Jaya

1. Sri Jayasakti (1133 - 1150 M)

Pada masa pemerintah Sri Jayasakti ada dua kitab undang – undang yakni UU Utara Widdi Balawan dan Raja Wacana (Rajaniti). Setelah berakhir masa pemerintahan raja Suradhipa, secara beruntun memerintah di Bali empat orang raja yang menggunakan unsur jaya dalam gelarnya, yaitu

1. Paduka Sri Maharaja Sri Jayasakti tahun 1055-1072 Saka (1133-1150),

2. Paduka Sri Maharaja Sri Ragajaya tahun 1077 Saka (1155)

3. Paduka Sri Maharaja Haji Jayapangus tahun 1099-1103 Saka (1178-1181),

4. Paduka Sri Maharaja Haji Ekajayalancana beserta ibunya yaitu Paduka Sri Maharaja Sri Arjaryya Dengjayaketana yang mengeluarkan prasastinya pada tahun 1122 Saka (1200).

Hubungan kekeluargaan di antara mereka tidak diketahui secara pasti. Walaupun demikian, berdasarkan kelaziman dalam sistem pergantian kepala negara suatu kerajaan tradisional serta digunakannya unsur jaya dalam gelar masing-masing raja itu maka kemungkinan besar hubungan antara raja yang satu dan penggantinya merupakan hubungan ayah dengan anaknya.

Kalau tidak demikian, paling tidak mereka dipertalikan oleh hubungan kekeluargaan yang sangat dekat. Perlu diperhatikan bahwa masa pemerintahan keempat raja itu hampir sezaman dengan masa pemerintahan raja-raja Jayabhaya (1057 -1079 Saka), Sarweswara (1081 Saka), Aryeswara (1091-1093 Saka), Kroncaryadhipa atau Gandra (1103 Saka), Kameswara (1104-1107 Saka), dan Kertajaya atau Srengga (1116-1127 Saka) di kerajaan Kadiri di Jawa Timur (cf. Damais, 1952 : 66-71 ; Sumadio dkk., 1990 : 267-272, 306).

Hal yang menarik perhatian pula, sebagaimana telah dikatakan, ialah adanya unsur jaya digunakan pada keempat gelar raja Bali Kuno dan paling sedikit pada dua nama raja Kadiri tersebut di atas. Adanya unsur yang sama itu rupanya bukan semata-mata bersifat kebetulan tetapi juga menunjukkan adanya hubungan kekerabatan di antara mereka.

Kemungkinan adanya hubungan kekerabatan di antara mereka diperkuat oleh keterangan dalam kitab Bharatayuddha. Dalam kitab itu dikatakan bahwa raja Jayabhaya sempat meluaskan kekuasaannya ke Indonesia bagian timur dan tidak ada pulau yang sanggup mempertahankan diri dari kekuasaan Jayabhaya (Krom, 1956 :154-155 ). Setelah Raja Jayasakti, yang memerintah adalah Ragajaya selitar tahun 1155. Ia digantikan oleh Raja Jayapangus (1177-1181)



2. Sri Jayapangus (1178 - 1181 M)





Jayapangus yang dikenal penyelamat negara karena mengajak rakyatnya kemBali melakukan upacara agama sehingga mendapat wahyu (Hari Galungan) Keamanan terjamin dan ajaran agama berkembang dengan pesat. Baginda bertahta hingga tahun Çaka 1103 (1181 Masehi).

Bali adalah tempat berkembangnya agama Hindu dan Hampir seluruh Masyarakatnya menjadi penganutnya. Agama Hindu di Bali mulai tumbuh dan berkembang sejak abad ke – 8, bersamaan dengan pertumbuhan agama Hindu di Jawa Tengah, Agama Hindu banyak pengaruhnya terhadap kebudayaan setempat, juga terhadap sistem pemerintah. Berita Cina menyebutkan pada abad ke – 7 ada daerah Dwapatan (Bali) yang mempunyai adat yang sama dengan Jawa (Holing).

Prasasti Bali 804 Caka (882 M) menyebutkan pemberian izin pembuatan pertapaan di bukit Kintamani. Prasasti berangka tahun 896 caka (991 M) isinya menyebutkan tempat suci dan istana Raja terletak di Singhamandawa dekat Sanur berhuruf Dewa Nagari dan Bali Kuno Kitab Usana Bali abad ke 16 menyebutkan Raja Jayapangus memerintah setelah Raja Jayakusuma.



(gambar kiri:  Goa Garba Peninggalan Raja Jayapangus)


Beliau Raja penyelamat Bali yang terkena malapetakaa karena lupa menjalankan ibadah Raja ini juga mendapat wahyu untuk melakukan upacara agama kembali yang sekarangsebagai hari Galungan


MITOS BARONG LANDUNG

Dalem Jayapangus adalah raja Bali yang paling tua sekitar 800 masehi, dan Dewi Danu datang ke Bali sekitar tahun saka 9 atau sekitar tahun 87 sudah ada di Bali. Sang Agni Jaya bertempat di Lempuyang, Sang Hyang Puran Jaya bertempat di puncak Gunung Agung, Dewi Danu di puncak Batur. Ini yang disebut Sang Hyang Dapur Tiga. Sang Hyang Dapur Tiga ini merupakan anak dari Sang Hyang Pasupati yang berasal dari Jawa Puncak Sameru.

 


(gambar kanan: Barong Landung)


Sebelum Dalem Jayapangus memperistri Dewi Danu, beliau menjadi penguasa atau memimpin jagat di Singa Duala yang sekarang disebut Dalem Puri. Pada saat itu beliau dalem Jaya Pangus sudah memiliki istri atau permaisuri, namun berkeinginan lagi untuk mencari istri. Nah ketika itu terdampar sebuah kapal dagang dari cina yang dimiliki oleh Cocomanira di Batu Klotok (sanur) yang diselamatkan oleh sebuah Kakua Blimbing atau Kuma Raja.

Pada saat itu Cocomanira menghadap kepada sang raja bersama dengan istri dan anaknya yang bernama Kang Cing Wi. Disanalah rasa cinta sang prabu muncul.


“Encik..encik..ke Bali membawa uang kepeng dan berbagai macam barang dagangan, saya suka dengan uang kpéng ini. Nah..anaknya encik yang bernama Kangcingwi akan saya akan saya jadikan istri”.

Pada saat itu ida sang prabu sudah di beritahukan oleh pendeta kerajaan, ”Ratu duagung janganlah ratu memperistri orang Cina karena aturan dari Ida Batara Klotok orang Cina itu dijadikan kerabat tertua oleh orang Bali. jangan sampai ratu berani memperistri orang Cina”. Begitulah perkataan pendeta kerajaan.

Kemudian sang prabu marah mendengar perkataan pendeta kerajaan lalu berkata, “Peranda kan sakti!! Peranda menjadi pendeta kerajaan tetapi kalau nasehat-nasehat peranda seperti ini saya sangat tidak setuju, saya akan memperistrinya. Kalau peranda memperistrinya akan mencemari kesucian seorang sulinggih, kalau saya sang naga sinatria semakin banyak saya memiliki istri, semakin berwibawa, karena banyak panjak. Kalau peranda tidak menyetujuinya, silahkan pergi peranda dari sini, berhenti sudah peranda menjadi bagawanta puri”.

Diusirlah peranda. “Nah cening, cening Dalem Jayapangus bapa tidak apa-apa, tetapi karena cening memutuskan rasa bakti bapa terhadap kerajaan ini, suatu saat hancur jagat Bali ini jangan bapa disalahkan, karena bapa yakin dengan apa yang mulut bapa bilang. Apa yang bapa bilang pasti akan terjadi, hancur jagat Balinya, jagat Balinya hancur, karena aturan-aturan sudah I dewa langgar, karena I dewa sudah berani melanggar, karena tidak boleh menikah dengan orang Cina, tetapi I dewa menikah. Ini akan menyebabkan hancurnya jagat Bali. Nanti suatu saat keturunan I dewa akan menghancurkan jagat Bali”.

Itu dipakai alasan oleh ratu peranda sambil beliau pergi. Singkat cerita menikahlah Sang Raja Dalem Jayapangus dengan Kangcingwi. Banyak masyarakat ikut membantu upacara pernikahan tersebut. Ada yang tidak setuju dan ada yang setuju dengan pernikahan ini, yang setuju disana ikut membantu, yang tidak setuju semua pergi. Pada saat itu rakyat Bali pisah pergi kemana-mana ada yang Ketampak Siring, Tabanan. Disanalah Sang Prabu Dalem Jayapangus mengadakan upacara pernikahan.

Banjir bandangpun tiba-tiba datang, hujan lebat sehingga puri pun hanyut. Nah, pada saat itulah raja merasa bersalah dengan apa yang di bilang ratu peranda. Hancurlah jagat Bali dan puri pun hanyut hilang. Di siwaduara pun telah terjadi tanah longsor, semua yang ada hanyut semua. Sesudah peristiwa tersebut Ida Dalem Jayapangus ingat dengan isi pesan yang dikatakan peranda. Nah disana lantas beliau memerintahkan patihnya untuk mencari peranda. “Paman-paman patih, kesana paman menghadap ida pedanda, dimanapun beliau berada tolong dicari”.

Disanalah beliau meminta maaf. “Dimana kesalahan saya, sekarang dimanna saya akan mencari tempat tinggal yang aman”, disana lalu ida pedanda kembali ke puri bersama dengan Ida Dalem Jayapangus. Disuruhlah beliau membangun puri (Siwa Duara) di Balingkang. Dipilihlah di Penelokan di Kintamani, di sebelah timurnya turun kebawah di tempat yang datar. Nah, disanalah I dewa membuat puri baru. Itu sebabnya Blingkang dikatakan Desa jagat di Penelokan.

Ida Dalem Jayapangus bukan bernama Dalem Jayapangus lagi tetapi berubah nama menjadi Dalem Balingkang. Sudah beberapa tahun tinggal di Balingkang masih juga belum mempunyai anak. Berbicaralah Dalem Balingkang dengan istrinya Kangcingwi. “Nah biarpun saya atau kamu, sudah lama bersama dengan saya berdua. Tetapi belum juga mempunyai anak, suatu saat nanti saya akan perlu memiliki keturunan, biar ada nanti yang mengganti posisi saya. Bagaimanapun caranya, kalau boleh beli akan bertapa di niskala, jikalau berkenan Ida Batara Batur berkarunia kepada saya, saya akan meminta ngelarang pasupada”.

Berkatalah Kangcingwi. “Ah, ratu batara dewa agung kalau begitu we tidak akan menghalangi, kalau koe mau mencari putra keturunan”. Berjalanlah beliau Dalem Balingkang menuju puncak gunung Batur. Karena baru pertama kali beliau sampailah di puncak gunung Batur, dilihatnyalah wanita cantik jelita, itu tiada lain adalah Ida Dewi Danu anak beliau Sang Hyang Pasupati.

Mulailah merayu Dalem Jayapangus. “Wahai engkau wanita cantik, selama saya menjadi raja di jagat Bali ini tidak pernah saya melihat wanita cantik seperti anda. Anda membuat saya tergila-gila, terasa badan tidak bertenaga, rasanya tidak mau hidup, hanya anda yang dapat mengobati hati saya ini, tidak ada wanita lain selain anda yang ada dihati saya. Maukah anda menjadi istri saya, karena saya suka sama anda”.

Seperti rayuannya Dalem Jayapangus. “Wahai engkau Dalem Jayapangus yang sekarang bernama Dalaem Balinkang, mungkin saya bias menerima anda, karena tidak sembarang orang bias naik kepuncak Batur ini, kalau anda orang biasa tidak akan mungkin bias bertemu dengan saya karena saya sebagai bhatari. Baiklah kalau seperti itu saya bersedia menjadi istri anda tetapi ada syaratnya, jika nanti lahir anak saya dia akan menjadi raja”.

Lama kelamaan akhirnya Dalem Balingkang menikah dengan Dewi Danu Batur dan mempunyai anak laki-laki tetapi dengan wajah yang menyeramkan, baru lahir sudah memiliki taring, yang bernama Mayadanawa, berupa raksasa. Nah sekarang diceritakan Kangcingwi yang sedang bengong menunggu Dalem Jaya Pangus di puri Balingkang, yang sudah bertahun-tahun bertapa tetapi belum juga kembali. “Kalau orang bertapa tidak mungkin sampai dua tahun lebih”.

Bingung dia kangcingwi. Lalu Kangcingwi berdoa di merajan (tempat suci) belum juga kembali. Akhirnya ia memutuskan utuk mencari suaminya. “Supaya tidak rugi saya seorang konghucu, saya mau kesana mau cari beliau sang prabu bagaimana pun caranya biar saya tau bagaimana orang bertapa itu, sudah lama tidak ada berita”.

Akhirya sampailah Kangcingwi di gunung Batur. Sakit hati Kangcingwi karena di depan matanya sendiri melihat anak kecil yang dipangku oleh Dalem Jayapangus didampingi oleh Dewi Danu yang sangat cantik. Marahlah Kangcingwi, membilang Dewi Danu seorang wanita yang suka merebut istri orang lain.

“Eh beli Sang Prabu Dalem Jayapangus, Dalem Balingkang siapa yang tidak suka bertapa, bertapa sambil dapat meniduri wanita lain dan sampai mempunyai anak, itu kewajiban menjadi seorang raja? Yang bagaimana menjadi contoh raja yang baik!”. Dicacimakilah Dalem Balingkang dengan Dewi Danu. Dewi Danu tidak suka mendengar perkataan Kangcingwi yag kasar-kasar dan mengejek. Marahlah Dewi Danu, disanalah Dewi Danu berubah menjadi Durga yang menyeramkan, pada berwujud Durga inilah beliau mampu membakar semua apa yang disekelilingnya.

Ilmu ini disebut naranjana. Terbakarlah Kangcingwi oleh api yang dikeluarkan oleh Dewi danu yang berwujud durga, hingga Kangcingwi mati menjadi abu. Nah disanalah baru Dalem Balingkang menyesal. “Istriku, istriku Kangcinwi sebegitu besar cintamu kapadaku hingga kamu menjadi seperti ini, sungguh nista saya, karena saya tidak mmenepati janji, nah istriku Kangcingwi cari saya, biar saya cepat mati bersama dengan kamu!”.



(gambar kiri: Prasasti Peninggalan Raja Jayapangus)


Nah disanalah Dewi Danu menjadi tambah marah. “Iih Dalem Balingkang, saya tidak menyangka, kamu dulu mengaku masih lajang, ternyata sekarang sudah mempunyai istri orang Cina”, disanalah Dewi Danu mengeluarkan kutukan “Suatu saat jika anakku menjadi raja, dia akan menghancurkan jagat bali ini”. Akhirya ida sang prabu Dalem Balingkang terbakar oleh api yang dikeluarkan Dewi Danu sampai mereka berdua menjadi abu.

Mendengar hal tersebut masyarakat menjadi bingung. “Yeeh.. beliau sang prabu bertapa dan istri beliau ikut menyusul kegunung batur kok dari sekarang belum kembali?”. Karena tak kunjung kembali kepuri. Nah didanalah lalu masyarakat menjemput raja dan istrinya ke puncak gunung Batur dengan membawa singsana beliau. Sampailah mereka disana dilihatnyalah raja dan istrinya sudah menjadi meninggal dan jazatnya sudah menjadi abu.

Berkatalah masyarakat bali. “Wahai Dewi Danu saya ini berasal dari Nusa Panida, saya sudah lama di Balingkang menjadi pembantu sekarang saya mohon Dewi Danu berkarunia untuk menghidupkan kembali raja Dalem Balingkang dan akan saya iring beliau kembali kepuri”.

Masyarakat dari Buleleng pun ikut memohon pada Dewi Danu. “Wahai Dewi Danu, kenapa anda terlalu tega membunuh beliau sang raja? Kasihani saya, nanti siapa yang akan memerintah jagat Bali ini, kalau boleh saya mohon agar dihidupkan kembali Dalem Balingkang raja saya, tetapi saya minta maaf karena saya tidak bias bertuturkata yang baik”.

Semua masyarakatpun memohon kepada Dewi Danu, sampai masyarakat tabananpun ikut memohon. “Aruuh..karena Delem Balingkang sudah Dewi Danau bunuh, sekarang saya mohon untuk dihidupkan kembali, saya masyarakat dari Tabanan yang setia berbakti kepada raja Dalem Balingkang, supaya beliau kembali memimpin jagat Bali ini, karena saya tidak menguasai tentang Sastra dan Agama yang tidak akan biasa melakukan sesuat tanpa seorang pemimpin”. Nah disanalah Dewi Danu berkata.

“Iya masyarakat Bali semua, begitu setianya masyarakat semua terhadap raja kalian Dalem Balingkang saya akan menghidupkan beliau kembali, tetapi akan saya hidupkan abu ini, nah di patung yang berupa patung bekung, berdiam Kangcingwi, patung yang berupa Barong Landung yang bertaring berdiam Dalem Balingkang.  

 


(gambar kiri:  Barong Landung)


Nah Barong Landung inilah dipuja oleh masyarakat Bali yang di bawa kebalingkang. Pada saat inilah jagat Bali hidup subur,aman dan tentram. Nah suatu ketika Mayadanawa sudah besar, Mayadanawalah yang menguasai dan menghancurkan jagat Bali ini, yang bertentangan dengan ajaran agama. Pada akhirya Sang Hyang Indralah yang membunuh Mayadanawa dan dipastikan pada hari itu dijadikan hari Darma melawan Adarma, kemudian diperingati dalam hari raya Galungan.

Makanya dua puluh satu hari sebelum Galungan haruslah mengadakan ngalawang batara landung, memperingati ida Dalem Jayapangus di kutuk bersama istrinya menjadi Barong Landung, maka dari itu sekarang berkeliling desa biar biasa memberitaukan atau memperingati pada masyarakat bahwa kebenaran itu selau benar.


GOA GARBA PENINGGALAN RAJA JAYAPANGUS

Swasti cri paduka warsa titaganata wartamana 1116 phalguna masa tithi pancama caklapaksa u…wa…wr…waraning julung pujut, irika dewaca nira mpungkuwing dharma hanyar guru aji mapanji jiwaya amurnajiwa ingkang astapaka mowah bhyumi bhatari I jro I heng mapanti maka muka mukan ratnakunja…da”


(gambar kanan: Goa Garba)


“Pada hari Kamis Wage Wara Pujut sekitar bulan Februari 1116, pada saat itulah Cri Maharaja Aji Jaya Pangus wafat, arwahnya menuju alam baka abupuspasariranya dicandikan dipertapaan Dharmaanyar dan disana pura yang bernama panti-panti yang diurus oleh Dang Acarya Jiwaya”




Tulisan di atas merupakan tulisan yang tercantum dalam prasasti yang terletak di Pura Pengukur-Ukuran yang berlokasi di banjar Samegunung, desa Pejeng, Tampaksiring, Gianyar Bali. Berdasarkan prasasti itulah kemudian dapat diketahui bahwa peninggalan-peninggalan purbakala yang berada di sekitar wilayah pura agung ini dibangun pada zaman pemerintahan raja Jayapangus sekitar abad ke-12 Masehi.

Salah satu dari peninggalan purbakala tersebut adalah Goa Garba. Goa Garba ini terletak di bawah pura agung Pengukur-Ukuran. Goa Garba ini merupakan sebuah ceruk pertapaan yang dipahat pada dinding tepi jurang sungai Pakerisan yang legendaris. Untuk mencapai situs purbakala ini kita harus terlebih dahulu melewati sebuah gapura yang tangganya berupa susunan batu-batu kali.

Di atas ceruk pertapaan ini terdapat beberapa kolam dan pancuran. Di samping salah satu kolam tersebut terdapat sebuah lubang masuk menuju sebuah terowongan atau ruangan. Di lokasi Goa Garba ini pun terdapat sebuah tulisan yang dipahat, berbunyi “Sra”. 

 

AKHIR MASA PEMERINTAHANRaja Jayapangus setelah wafat dimakamkan di Dharma Anyar. Putra Baginda dua orang: Sri Hikajaya dan Sri Danadiraja.



Bersambung .......

CLICK HERE :

LANJUTAN : RATU UGRASENA TABENDRA / MAYA DANAWA 882 M, KERAJAAN BALI (Seri-2)

.



Imajiner Nuswantoro 




 

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)