JUNG JAWA
(Kapal Raksasa Legendaris Kejayaan Era Kerajaan Nusantara)
![]() |
| Jung Jawa merupakan kapal raksasa legendaris kejayaan era kerajaan Nusantara |
Djong (juga disebut jong, jung atau junk) adalah jenis kapal layar kuno yang berasal dari Jawa, dan digunakan secara umum oleh pelaut Jawa dan Sunda; dan pada abad-abad setelahnya, juga oleh pelaut Pegu (suku Mon) dan Melayu. Namanya dari dulu hingga sekarang dieja sebagai "jong" dalam bahasa asalnya, ejaan "djong" sebenarnya adalah romanisasi kolonial Belanda. Djong digunakan terutama sebagai kapal penumpang dan kapal kargo, dapat mencapai Samudra Atlantik pada zaman kuno. Bobot muatan rata-rata adalah 40 sampai 2000 ton mati, dengan bobot mati rata-rata sebesar 1200–1400 ton pada zaman Majapahit. Kerajaan Jawa seperti Majapahit, Kesultanan Demak, dan Kesultanan Kalinyamat menggunakan kapal jenis ini digunakan sebagai kapal perang, tetapi masih dominan sebagai kapal angkut. Kesultanan Mataram biasanya menggunakan jong sebagai kapal dagang bukan kapal perang.
JUNG JAWA LAMBANG KEPERKASAAN MARITIM NUSANTARA
Nenek moyangku orang pelaut” memang bukan sekedar adagium tanpa bukti. Sejarah telah membuktikan bahwa bangsa Nusantara adalah pelaut-pelaut tangguh. Keberanian mengarungi lbh dari sepertiga samudera di dunia telah di jelajahi oleh pelaut-pelaut kita jauh sebelum bangsa Eropa menemukan jalan laut menuju Cina. Teknologi perkapalan, kemampuan navigasi dan akurasi sistem kartografi (pemetaan laut) tidak kalah canggih bahkan mengungguli teknologi nautika bangsa Eropa.
Penulis merangkum Jong Jawa dari berbagai sumber referensi, berikut kisi-kisinya :
1. Jenis kapal dan perahu Nusantara sangat beragam. Baik dari sisi ukuran, disain bentuk, fungsi, kecepatan berlayar dan estetikanya. Kita mengenal nomenkkatur kapal: perahu bercadik, lancang, kora-kora, phinisi, jung, gale-gale, sampan, dll. Semuanya khas Nusantara dan Austronesia (kebudayaan bangsa-bangsa laut Selatan).
2. Peneliti Cina baru-baru ini menyimpulkan bahwa fosil kapal yg ditemukan di gunung Jedi (yang ditengarai sbg kapal Nabi Nuh) terbuat dari kayu jati Jawa.
3. Sebuah fosil perahu yang ditemukan di Punjulharjo, Rembang Jawa Tengah pada th 2009 menurut uji C14 (carbon dating) berasal dari abad ke 7 masehi (tahun 600-an masehi). Disain dan konstruksi perahu tersebut tergolong sangat canggih untuk ukuran zamannya. Kayu-kayu pada lambung direkatkan dg tali ijuk dan tonjolan-tonjolan pasak/pin yang saling mengunci (seperti permainan lego saat ini). Sedangkan lengkungannya menggunakan gading gajah. Sungguh sangat luar biasa.
4. Jung Jawa adalah semacam “kapal induk” kuno dengan 4 tiang layar yang ukurannya setara dengan 2 kali jung Cina dan hampir 4 kali kapal-kapal Eropa. Jung jenis ini bobotnya bisa mencapai 600 – 1000 ton. Tome Pires dlm Suma Oriental menulis bahwa kapal Portugis di Malaka (tahun 1511) “Anunciada” bahkan sama sekali tdk menyerupai sebuah kapal bila disandingkan dengan Jung Jawa yang sangat besar.
5. Kapal (jung) perang Jawa konstruksinya sangat kokoh. Lambungnya mampu menahan serangan meriam Portugis. Jung perang ini juga dipersenjatai dengan meriam dan cetbang. Namun kelemahan, karena ukurannya terlalu besar jung ini adalah gerakannya lambat, tidak lincah seperti kapal-kapal Eropa. Kesultanan Demak dipimpin oleh Pati Unus menggunakan jung jenis ini untuk menyerang/merebut Malaka dari tangan Portugis pada th 1513. Gubernur Alfonso de Albuquerque & Tome Pires menyaksikan sendiri kehebatan armada Jawa tersebut.
6. Kata ‘jung” secara etimologis berasal dari bahasa Jawa Kuno “JONG” yang berarti kapal besar (merujuk pada prasasti Jawa Kuno abad ke 9). Selain itu istilah jung juga terdapat dalam bahasa Cina “jun” dan bhs Portugis “Junco” dan bahasa Italia “zonchi”
7. Dalam bidang nautika kartografi (peta pelayaran), para pelaut Jawa ternyata sudah memiliki peta jalur pelayaran yang bergaris-garis. Bahkan pada awal abad ke 16 (th 1500an) pelaut-pelaut Jawa sudah membuat peta pelayaran dari Nusantara ke Madagaskar, Australia bahkan sampai Brazilia. Hal ini sungguh mencengangkan laksamana-laksamana Eropa. Suma Oriental mencatat bahwa Alfonso de Albuquerque pernah menyerahkan peta beraksara Jawa tersebut dalam Raja Portugal.
8. Dalam teknologi navigasi, ternyata kapal-kapal Jawa/Nusantara telah mengenal kompas dan Astrolobe (alat pengukur derajat ketinggian matahari di laut) sebelum kedatangan bangsa Eropa. Pelaut Jawa mengenal teknologi ini dari bangsa Cina, Arab dan Persia semenjak abad ke 13. Namun mareka jarang menggunakan. Karena orang Jawa/Nusantara lbh suka merespon keseimbangan kosmos sebagai pedoman arah mereka. Angin, matahari, rasi bintang, burung-burung camar, ikan laut, dll.
9. J. Noorduyn memberitakan bahwa lontara bilang (Makasar) dan sure’ bilang (Bugis) mencatat bahwa orang membuat/memakai kompas pertama pada tahun 1303 dan meriam dibuat/dipakai pertama kali pada th 1380. Yang membawa dan memperkenalkan teknologi tersebut di Makasar adalah diduga orang-orang Majapahit, orang Arab, orang Persia, orang Keling dan orang Cina.
10. Ludovico di Vartema pada th 1506 mencatat bahwa dlm pelayaran dari Kalimantan ke Jawa, pelaut-pelaut pribumi sudah menggunakan kompas dan peta pelayaran.
11. Mualim kapal Ibnu Majid yang mengantarkan Vasco da Gama ke Afrika dan Kalikut sama sekali tidak merasa heran dipameri alat-alat nautika canggih oleh pelaut-pelaut Portugis. Itu dianggap sudah biasa.
12. Laksamana Steven van der Haghen pernah mendatangkan ratusan kompas dari Belanda untuk dijual kepada orang pribumi di Jawa. Namun orang Jawa tidak merasa kagum dan tertarik karena orang Jawa lebih suka menggunakan metode keseimbangan kosmos untuk memandunya berlayar.
13. Galangan kapal terbesar dan paling terkenal di Asia Tenggara terdapat di Jepara dan Lasem. Selain itu ada juga galangan lain yg lbh kcl yaitu di kep. Kei Maluku. Gubernur Malaka Alfonso de Albuquerque pernah menyewa 60 org tukang kayu dan arsitek kapal dari Jawa untuk dipekerjakan di Malaka.
14. Kebesaran dan kejayaan kapal-kapal (jung) Jawa tersebut akhirnya berangsur-angsur musnah pasca berkuasanya VOC Belanda dan Sultan Agung (penguasa Mataram Islam) gagal membebaskan Batavia dari tangan VOC dalam 2 kali serangan (1628 dan 1629). VOC kemudian melebarkan kekuasaannya merebut beberapa wilayah Mataram. Pada th 1677, tercatat bahwa orang-orang Jawa sudah tidak memiliki galangan kapal besar lagi. Galangan-galangan kapal di Jepara, Lasem dan Kei kemudian direbut oleh VOC. Dari sisi internal, kebijakan penguasa Mataram yang akhirnya lebih mementingkan kultur agraris (orientasi gunung di pedalaman Jawa) telah melemahkan naluri maritim (berrorientasi samudera) bangsa Jawa. Akhirnya runtuhlah kebudayaan bercorak agraris-maritim yang dibangun bangsa Jawa semenjak masa kerajaan Singhasari, Majapahit dan kesultanan Demak.
ARMADA PERANG
Untuk armada perang mereka, orang Melayu lebih suka menggunakan kapal-kapal panjang dengan sarat air dangkal, berdayung, yang mirip dengan galai; contohnya lancaran, penjajap, dan kelulus. Hal ini sangat berbeda dengan orang Jawa yang lebih menyukai kapal-kapal bundar dengan sarat air yang dalam dan dapat mencapai jarak jauh seperti jong dan malangbang. Alasan perbedaan ini adalah karena orang Melayu mengoperasikan kapal mereka di perairan sungai, zona selat terlindung, dan lingkungan kepulauan, sedangkan orang Jawa sering aktif di laut lepas dan berombak tinggi. Setelah pertemuan dengan orang Iberia, baik armada perang orang Jawa maupun Melayu mulai lebih banyak menggunakan ghurab dan ghali.
Kapal Jung Jawa (Abad ke-8 – 17), bahkan sebelum abad ke 8 kapal-kapal besar telah mengarungi samudra ke samudra dunia seperti terpahat di repief candi Borobudur (Bhūmi Sambhāra Bhudhāra, yang berasal dari bahasa Sanskerta dan berarti Bukit Himpunan Kebajikan Sepuluh Tingkatan Bodhisattva).
Ini adalah kapal laut raksasa yang menjadi simbol kejayaan maritim Nusantara, khususnya pada masa Kerajaan Majapahit :
- Ukuran Raksasa: Panjangnya bisa mencapai 100 meter (50 depa) dan mampu mengangkut hingga 800-1000 orang.
- Teknologi Canggih: Dibangun dengan teknik pasak kayu (tanpa paku besi) dan memiliki dinding lambung berlapis-lapis (hingga 4 lapis kayu jati) yang sangat kuat hingga sulit ditembus meriam Portugis saat itu.
- Kegunaan: Berfungsi sebagai kapal dagang pengangkut rempah-rempah sekaligus kapal perang yang disegani di Samudra Hindia dan Asia Tenggara.
- Kepunahan: Populasi kapal ini menyusut drastis setelah jatuhnya pelabuhan-pelabuhan besar di Jawa ke tangan VOC dan kebijakan penghancuran kapal oleh penguasa lokal untuk membatasi perlawanan maritim.
Sejarah Jung Jawa, Mahakarya Bahari Nusantara
Nusantara, sebuah gugusan ribuan pulau yang terhampar luas, tidak hanya dikenal akan keindahan alamnya, tetapi juga sebagai salah satu pusat peradaban maritim tertua di dunia.
Jauh sebelum bangsa Eropa mengarungi samudra, pelaut-pelaut Nusantara telah menjelajahi lautan luas dengan kapal-kapal megah yang menakjubkan.
Di antara berbagai jenis kapal yang pernah berlayar di perairan ini, Kapal Jung Jawa berdiri sebagai salah satu mahakarya maritim paling monumental, sebuah simbol keunggulan teknologi dan keperkasaan bahari nenek moyang kita.
Kapal Jung Jawa bukanlah sekadar perahu, melainkan sebuah kapal layar berukuran besar yang dicirikan oleh lambungnya yang lebar, dalam, dan seringkali memiliki hingga empat tiang layar.
Namanya, Jung, berasal dari bahasa Mandarin zong atau chuan yang berarti perahu besar. Namun, jangan keliru, Jung Jawa memiliki ciri khas dan karakteristik yang berbeda dengan Jung Tiongkok.
Meskipun mungkin ada pertukaran teknologi dan ide di masa lalu, Jung Jawa adalah produk dari inovasi dan keahlian lokal yang unik.
Jung Jawa utamanya digunakan sebagai kapal kargo, mampu mengangkut muatan dalam jumlah sangat besar, mulai dari rempah-rempah, emas, perak, gading, hingga budak.
Selain itu, kapal ini juga difungsikan sebagai kapal perang, dilengkapi dengan meriam dan mampu membawa pasukan dalam jumlah signifikan.
Ukuran kapal ini bervariasi, dari ratusan hingga ribuan ton, menjadikannya salah satu kapal terbesar di dunia pada masanya, bahkan melampaui kapal-kapal Eropa.
Keberadaan Kapal Jung Jawa dapat ditelusuri melalui berbagai sumber sejarah :
- Catatan Kuno: Referensi tertulis mengenai Jung Jawa banyak ditemukan dalam catatan para penjelajah dan pedagang asing. Misalnya, catatan Tome Pires dalam Suma Oriental (abad ke-16) menggambarkan secara rinci Jung-jung Jawa yang besar dan tangguh. Ia bahkan menyebutkan bahwa Jung Jawa adalah "kapal terbesar yang pernah dilihatnya." Catatan Marco Polo juga memberikan gambaran tentang kapal-kapal besar di Asia Tenggara yang mungkin merujuk pada jenis Jung.
- Relief Candi Borobudur: Meskipun tidak secara eksplisit menggambarkan Jung Jawa dalam bentuknya yang kemudian, relief kapal di Candi Borobudur (abad ke-8) memberikan gambaran awal tentang teknologi perkapalan di Jawa pada masa itu. Kapal-kapal dalam relief ini memiliki karakteristik yang mengindikasikan adanya pengetahuan tentang kapal-kapal yang mampu berlayar di samudra.
- Arkeologi: Meskipun jarang ditemukan bangkai kapal yang utuh, temuan artefak maritim dan sisa-sisa kapal karam di perairan Nusantara memberikan petunjuk tentang jenis dan ukuran kapal yang digunakan.
Ciri Khas dan Teknologi Unggul
Jung Jawa memiliki beberapa ciri khas dan keunggulan teknologi yang membedakannya dari kapal-kapal lain di dunia pada masanya :
- Konstruksi Tanpa Paku : Salah satu fitur paling mencengangkan dari Jung Jawa adalah metode konstruksinya yang tidak menggunakan paku besi. Papan-papan lambung kapal diikat satu sama lain menggunakan pasak kayu (dowel) dan serat ijuk atau serat kelapa yang dijalin rapat. Teknik ini, yang dikenal sebagai lashed-lug atau sewn plank (papan dijahit), membuat kapal menjadi sangat fleksibel dan tahan terhadap guncangan ombak di laut lepas. Meskipun terlihat sederhana, teknik ini membutuhkan keahlian tukang kayu yang luar biasa presisi.
- Lambung Berlapis (Clinker-built/Carvel-built): Jung Jawa memiliki lambung yang dibangun dengan metode clinker-built (papan bertumpang tindih) di beberapa bagian, dan kemudian berkembang menjadi carvel-built (papan bertemu tepi ke tepi) yang lebih halus dan kuat. Metode ini memungkinkan kapal memiliki lambung yang sangat kuat dan kedap air.
- Sistem Layar Persegi dan Layar Latin: Jung Jawa umumnya menggunakan kombinasi layar persegi yang besar untuk mendapatkan daya dorong maksimal di angin haluan, dan kadang-kadang juga layar latin yang lebih fleksibel untuk manuver di angin samping. Penataan layar yang kompleks ini menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang aerodinamika.
- Kemudi Ganda: Jung Jawa seringkali dilengkapi dengan kemudi ganda di buritan. Kemudi ini tidak hanya memberikan kontrol yang lebih baik, terutama pada kapal-kapal besar, tetapi juga meningkatkan stabilitas dan kemampuan manuver.
- Ukuran dan Kapasitas: Seperti disebutkan sebelumnya, Jung Jawa dikenal karena ukurannya yang kolosal. Beberapa laporan menyebutkan Jung yang mampu mengangkut 600-700 orang, bahkan ada yang mencapai 1.000 orang. Kapasitas kargonya juga luar biasa, memungkinkan perdagangan jarak jauh yang menguntungkan.
Kapal Jung Jawa memainkan peran krusial dalam sejarah maritim Nusantara :
- Pusat Perdagangan: Jung Jawa adalah tulang punggung perdagangan rempah-rempah yang menghubungkan Nusantara dengan Tiongkok, India, Timur Tengah, bahkan Afrika Timur. Kapal-kapal ini membawa kekayaan dari bumi Nusantara ke seluruh dunia, menjadikannya pusat perdagangan global.
- Alat Penyebaran Budaya dan Agama: Selain komoditas, Jung Jawa juga menjadi sarana penyebaran budaya, bahasa, dan agama. Pedagang dan pelaut dari berbagai latar belakang berinteraksi di atas kapal, memungkinkan terjadinya akulturasi dan pertukaran ide. Penyebaran Islam di Nusantara, misalnya, tidak lepas dari peran para pedagang muslim yang berlayar dengan kapal-kapal seperti Jung.
- Kekuatan Militer: Jung Jawa yang besar dan kokoh juga difungsikan sebagai kapal perang yang tangguh. Dengan kemampuannya membawa banyak pasukan dan senjata, Jung berperan penting dalam berbagai konflik maritim dan ekspansi kekuasaan kerajaan-kerajaan Nusantara. Kerajaan Majapahit, misalnya, dikenal memiliki armada laut yang kuat yang diyakini terdiri dari Jung-jung besar.
Seiring berjalannya waktu, dominasi Jung Jawa mulai memudar. Beberapa faktor yang berkontribusi pada kemunduran ini meliputi:
- Kedatangan Bangsa Eropa: Kedatangan bangsa Eropa dengan kapal-kapal yang dilengkapi persenjataan lebih modern dan strategi militer yang berbeda, meskipun pada awalnya masih kalah dalam ukuran dan kapasitas dari Jung, secara bertahap mengikis dominasi Jung.
- Perubahan Rute Perdagangan: Perubahan rute perdagangan dan munculnya kekuatan maritim baru turut mempengaruhi peran Jung.
- Kurangnya Inovasi Lanjutan: Meskipun Jung Jawa adalah mahakarya pada masanya, perkembangan teknologi perkapalan global terus berlanjut. Kurangnya inovasi dan adaptasi terhadap perkembangan baru mungkin menjadi salah satu faktor.
Meskipun Kapal Jung Jawa kini hanya tinggal kenangan sejarah, warisannya tetap hidup dan menjadi sumber inspirasi:
- Simbol Kebanggaan Maritim: Jung Jawa adalah pengingat akan kehebatan nenek moyang bangsa Indonesia Nusantara sebagai pelaut ulung dan pembuat kapal yang visioner. Ini menjadi simbol kebanggaan maritim yang harus terus dikenang dan dipelajari.
- Potensi Rekonstruksi: Upaya rekonstruksi Jung Jawa telah dilakukan, meskipun masih terbatas. Proyek-proyek semacam ini penting untuk memahami lebih dalam teknologi dan cara hidup nenek moyang kita. Salah satu contoh yang paling terkenal adalah replika kapal Borobudur yang berhasil mengarungi samudra.
- Pelajaran untuk Masa Depan: Kisah Jung Jawa mengajarkan kita pentingnya inovasi, adaptasi, dan pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana. Semangat bahari yang diwariskan oleh Jung Jawa dapat menjadi pemicu untuk menghidupkan kembali potensi maritim Indonesia di masa depan.
Kapal Jung Jawa adalah salah satu puncak pencapaian maritim di Asia Tenggara, sebuah bukti nyata akan keunggulan teknologi dan kemandirian bangsa Nusantara. Keberadaannya bukan hanya sekadar catatan sejarah, tetapi juga cerminan dari semangat petualangan, kecerdasan, dan keuletan nenek moyang kita dalam mengarungi samudra.
Mengenang dan mempelajari Kapal Jung Jawa berarti memahami akar kejayaan maritim Indonesia, serta mengambil inspirasi untuk membangun kembali kejayaan bahari di masa kini dan masa depan.
Perahu bercadik terkenal yang terpahat di Borobudur, disebut dengan Perahu Borobudur, hanyalah satu petunjuk bahwa kapal-kapal dan pelayaran telah memainkan peran besar dalam segenap urusan Jawa dan Laut Jawa selama berabad-abad sebelum abad ke-15. Maka tidak mengherankan tatkala pelaut Portugis mencapai perairan Asia Tenggara pada awal tahun 1500-an mereka telah menemukan wilayah ini didominasi kapal-kapal dagang milik orang Jawa yang disebut dengan “Jung Jawa”. Pada saat itu jung-jung ini menguasai jalur rempah-rempah yang sangat penting, yang terbentang antara Malaka, Jawa, dan Maluku.
Istilah “Jung” digunakan pertama kali dalam catatan-catatan perjalanan Rahib Odorico, John de Marignolli, dan Ibnu Battuta pada abad ke-14. Sebagian besar pendapat menyatakan bahwa istilah "jung" berasal dari kata chuan (bahasa Cina) yang berarti perahu. Hanya saja, perubahan pengucapan dari chuan menjadi jung nampaknya terlalu jauh. Yang lebih mendekati adalah kata jong (bahasa Jawa) yang berarti kapal. Manguin berpendapat bahwa arti jong sebagai kapal dapat ditemukan dalam sejumlah prasasti Jawa kuno abad ke-9 . Makna itu kemudian masuk ke dalam bahasa Melayu mendekati abad ke-15. Untuk itu Undang-undang Laut Melayu (The Malaya Maritime Code) yang disusun pada akhir abad ke-15 juga menggunakan kata jung untuk menyebut kapal pengangkut barang.
Seperti Apa Gambaran Kapal Jung ?
Konstruksi Jung
Jenis kapal Asia Tenggara atau Nusantara yang dirakit di wilayah Nusantara mempunyai konstruksi sebagai berikut:
Lambung perahu dibentuk dengan menyambung papan-papan pada lunas kapal dan kemudian saling disambungkan dengan pasak kayu tanpa menggunakan kerangka (kecuali untuk penguat tambahan), baut, atau paku besi. Ujung haluan dan buritan kapal berbentuk lancip, dilengkapi dengan dua batang kemudi (kembar) menyerupai dayung, serta layar berbentuk segi empat yang diikat dengan tali.
Kapal ini sangat berbeda dibandingkan kapal tipe Cina (yang sering digambarkan secara berlebihan), lambungnya dikencangkan dengan bilah-bilah kayu dan paku besi pada kerangka dan dinding penyekat (amat penting secara struktural) yang memisahkan ruang muatan. Kapal-kapal Cina memiliki kemudi tunggal yang dipasang pada palang rusuk buritan.
Pendapat berbeda dikemukakan Pierre-Yves Manguin. Hasil-hasil arkeologis kelautan selama dua dasawarsa terakhir telah menggoyahkan dikotomi konstruksi kapal sebagaimana tersebut di atas. Dituliskan oleh Manguin :
“...dari menonton atau lebih kapal karam yang berhasil di gali di wilayah ini, ada tujuh yang memiliki susunan lambung yang tergolong dalam tradisi pembuatan kapal yang tidak pernah didengar sebelumnya dengan ciri-ciri campuran 'tradisi Cina” dan “tradisi Asia Tenggara”.... “.
Semua bangkai kapal yang ditemukan di berbagai titik lokasi sekitar Laut Cina Selatan dan Teluk Siam ini diperkirakan beroperasi antara Abad ke-13 dan 17, dan tampaknya pernah terlibat dalam perdagangan antara Asia Tenggara dan Cina bagian Selatan. Haluan kapal-kapal tersebut disatukan dengan pasak kayu sebagaimana gaya Asia Tenggara, tetapi selain itu juga digunakan tambahan paku besi dan penjepit untuk mengencangkan atau menopang bilah-bilah kayu ke kerangka utama sebagaimana gaya Cina. Jenis semacam ini oleh Manguin disebut sebagai Jung Hibrida Laut Cina Selatan. Jenis jung inilah pada abad ke-16 mendominasi perairan Asia Tenggara.
Bobot Jung
Jung Jawa yang pertama kali digambarkan oleh kapal orang Portugis secara spesifik adalah sebuah yang mereka tawan pada 1511 dalam perjalanan menuju Melaka, dengan empat lapis papan lambung yang mampu menahan tembakan meriam Portugis, berbobot sekitar 600 ton dengan ukuran melebihi kapal-kapal perang Portugis. Orang Portugis mengenali Jawa sebagai tempat asal jung-jung terbesar, demikian pendapat mereka tentang Jawa :
“... dari kerajaan Jaoa juga datang kapal-kapal junco raksasa (dengan empat tiang layar) ke kota Malaca, yang sangat berbeda dibandingkan gaya kapal-kapal kita, dibuat dari kayu sangat tebal, sehingga bila kayu ini menua maka papan-papan baru dapat dilapisi kembali di atasnya.”
Manguin, berdasarkan laporan orang-orang Eropa, berspekulasi bahwa bobot mati jung-jung pengangkut muatan besar rata-rata berkisar 400-500 ton. Ukuran ini pada saat itu bisa dikatakan dua kali lebih besar dari kapal-kapal dagang lainnya yang berlayar pada saat itu. Jung terbesar yang pernah dilaporkan adalah sebuah pengangkut pasukan berbobot mati sekitar 1000 ton dengan lambung belapis-lapis papan untuk menambah kekuatan, yang dibuat oleh orang Jawa (Pati Unus Demak) untuk menyerang Malaka pada 1513.
Menurut laporan orang Belanda, hanya Jung Jawa yang terbesar pada saat itu yang membawa beras dari Jawa ke kota-kota di Sumatra dan Semenanjung Melayu. Bobotnya menurut mereka lebih dari 200 ton. Sampai tahun 1620 Raja Mataram masih memiliki sebuah jung pengangkut beras seberat 400 ton. Pada perkembangan berikutnya kapal-kapal Asia menjadi lebih kecil tetapi jumlah kapal menjadi lebih banyak, sehingga seorang pelancong Belanda menyimpulkan bahwa kepadatan pelabuhan-pelabuhan Surabaya di Selat Madura sekitar seribu berbobot 20-200 ton.
Salah satu penulis kronik Belanda pertama yang terbaik, Lodewycksz, mencatat bahwa di Banten masih ada jung-jung Jawa yang memiliki tiga layar dengan ruang muatan terbagi menjadi petak-petak. Dia hanya terkesan oleh banyaknya jumlah Jung, bukan karena ukuran kapal. Ia mengatakan ”pulau-pulau Hindia Timur banyak memiliki kapal, tetapi semuanya perahu-perahu kecil, sehingga jung yang pernah saya lihat tidak pernah mengangkut lebih dari 40 ton”. Catatan ini ia tulis karena rupanya (kebetulan) ia tidak sempat melihat jung-jung “raksasa” terbesar yaitu jung pengangkut beras dari Jepara dan Semarang. Jepara setidaknya pada saat itu memiliki satu jung pengangkut beras berbobot 400 ton.
Dimana Jung Dibuat ?
Tentang lokasi pembuatan Jung Jawa, ada yang mengatakan bahwa Jung Jawa dibuat di Pegu, sebagaimana bangsa lain yang berdagang di Malaka juga memesan kapal-kapal mereka dari sana.
Kenapa Pegu ?
Karena daerah ini terkenal dengan tukang-tukangnya yang sangat terampil selain kayujati Burma dan Siam pada saat itu diakui sebagai bahan pembuat kapal yang paling baik. Galangan kapal di Martaban, bandar Pegu tempat penjualan kayu jati Burma yang besar-besar, memasok banyak jung bagi para saudagar Malaka dan secara tidak langsung ke saudagar Jawa, Sumatra, Luzon. Bahkan para saudagar Cina Selatan juga membeli kapal Pegu di Malaka.
Meskipun demikian, Jawa dan Kalimantan juga memproduksi Jung-nya sendiri. Pada tahun 1590 an Jung Banten yang terbesar di Kalimantan. Sedangkan Orang Jawa membuat kapal-kapalnya di Rembang, Juwana dan Lasem, pantai utara Jawa yang menjadi pusat pembuatan kapal karena berdekatan dengan hutan penghasil kayu jati di kawasan Rembang. Dari Lasem inilah sebagian armada besar Jung di dekat Jepara dibuat.
Akhir Jung Jawa
Para kesimpulannya, jung dan tradisi besar maritim Jawa hancur akibat ekspansi militer-perniagaan Belanda . Pada abad ke-17 kapal-kapal Jung Jawa cenderung dianggap sebagai saingan Belanda (VOC), terutama jika jung-jung tersebut melakukan aktivitas perdagangan rempah-rempah dari Maluku atau perdagangan beras ke Malaka-Portugis.
Pada pertengahan abad ke-17 perahu pribumi tidak lagi disebut sebagai Jung. Kapal yang terbesar adalah kapal milik penguasa, dalam bentuk kapal perang atau kapal pengangkut barang dengan desain Eropa atau Cina yang berada di tangan raja-raja Banten, Arakan dan Ayutthaya. Kata jung pada periode ini hanya digunakan untuk kapal milik orang Cina yang berbobot 200-800 ton.
Hilangnya Jung Jawa (juga Jung Asia Tenggara) dari perairan nusantara terjadi malapetaka yang ditimbulkan oleh orang-orang Eropa. Karena Jung adalah jenis kapal dagang, yang berukuran besar sehingga efisien untuk perdagangan, tetapi lemah secara perlindungan. Besarnya ukuran Jung menjadikan kapal tersebut tidak dapat berlayar dengan cepat untuk menghindarkan diri atau melakukan manuver menghindari serangan musuh, bangsa-bangsa Eropa.
JUNG JAWA (Sang Raksasa Kayu Penakluk Samudra Dunia)
Ketika dunia modern mengagumi nama-nama besar seperti Christopher Columbus atau terhanyut dalam kisah fiktif bajak laut lautan Karibia, sejarah menyimpan sebuah fakta nyata yang jauh lebih menggetarkan. Jauh sebelum armada Eropa menepuk dada sebagai penguasa samudra, leluhur Nusantara telah membelah ganasnya ombak dengan sebuah mahakarya maritim yang melegenda. Namanya adalah Jung Jawa.
Bayangkan suasana mencekam di Bandar Malaka pada tahun 1574. Pasukan Portugis, yang kala itu merasa tak tertandingi dengan senjata canggihnya, harus menelan ludah saat melihat cakrawala tertutup oleh bayangan armada raksasa. Saat itu, Ratu Kalinyamat dari Jepara mengirimkan ribuan prajurit untuk menggulung supremasi penjajah. Bintang utama di lautan hari itu adalah Jung Jawa.
Kapal ini bukanlah sekadar alat transportasi biasa, melainkan sebuah benteng tempur terapung. Catatan pelaut Portugis sendiri merekam rasa frustrasi mereka: peluru meriam Eropa yang terkenal mematikan itu ternyata hanya mampu menembus lapisan luar lambung kapal Jung, dan gagal menghancurkannya. Di hadapan raksasa kayu Nusantara ini, kapal kebanggaan Portugis, Flor de la Mar, seakan terlihat seperti perahu kurcaci.
Kisah kehebatan Jung Jawa kerap melahirkan mitos dan hiperbola di era modern. Ada yang membayangkannya sebesar kapal induk militer masa kini yang panjangnya mencapai 400 meter. Namun, fakta sejarahnya justru jauh lebih menakjubkan daripada fiksi. Jung Jawa tidak terbuat dari baja, melainkan kayu berlapis yang dirakit dengan kecerdasan rekayasa perkapalan tingkat tinggi. Berdasarkan penelitian sejarah dan naskah kuno seperti catatan Bujangga Manik, Jung terbesar di era Majapahit dan Demak diperkirakan mencapai panjang 80 hingga 90 meter. Untuk ukuran kapal kayu yang menahan beban dan gempuran ombak, spesifikasi ini adalah pencapaian teknologi yang luar biasa di zamannya. Dengan kapal-kapal inilah, Majapahit pernah mengerahkan ratusan armada lautnya untuk menancapkan wibawa kemaharajaan Nusantara.
Kehadiran Jung Jawa bukanlah sebuah kebetulan semata. Ia lahir dari rahim peradaban Nusantara yang kaya akan rempah-rempah dan keberanian mendarah daging leluhur kita. Laut tidak pernah menjadi penghalang, melainkan jalan tol yang menyatukan ribuan pulau. Dengan armada Jung, kerajaan Nusantara tidak hanya berdagang, tetapi mereka memegang kendali penuh atas urat nadi ekonomi dunia.
Namun, sejarah juga menyimpan babak yang mengiris hati. Ke mana perginya kapal-kapal gagah ini ?
Mengapa saat ini kita sering kali merasa sebagai bangsa yang hanya bergantung pada daratan ?
Tragisnya, matinya kejayaan maritim Nusantara bukan semata-mata karena kita kalah oleh teknologi asing. Keruntuhan itu justru dimulai dari dalam. Kebijakan penguasa lokal di abad-abad berikutnya, seperti saat Amangkurat I yang menutup pelabuhan-pelabuhan pesisir utara dan menghancurkan kapal-kapal dagang, telah mematikan urat nadi pelayaran rakyat. Keadaan semakin memburuk ketika perjanjian-perjanjian mengikat dengan VOC akhirnya membatasi ruang gerak pelayaran leluhur kita. Sang raksasa lautan perlahan dipaksa berlabuh untuk selamanya, dan jiwa maritim bangsa ini pun dikerdilkan.
Membaca artikel Imajiner Nuswantoro kembali sejarah Jung Jawa bukanlah sekadar romantisme masa lalu, melainkan sebuah panggilan untuk membangkitkan kebanggaan yang sempat tertidur. Di dalam nadi bangsa ini, masih mengalir deras darah para penakluk samudra. Jalesveva Jayamahe, Di Laut Kita Jaya !
Sejarah telah membuktikan bahwa saat kita menjaga dan menguasai lautan, Nusantara menjadi negeri yang disegani dunia.
Legenda Jung Jawa, Pernah Mendominasi Perairan Asia Tenggara
Pelaut Tatkala Portugis mencapai perairan Asia Tenggara pada awal tahun 1500-an mereka menemukan kawasan ini didominasi kapal-kapal Jung Jawa. Kapal dagang milik orang Jawa ini menguasai jalur rempah-rempah yang sangat penting, antara Maluku, Jawa, dan Malaka.
Kota pelabuhan Malaka pada waktu itu praktis menjadi kota orang Jawa. Di sana banyak saudagar dan nakhoda kapal Jawa yang menetap, dan sekaligus mengendalikan perdagangan internasional. Tukang-tukang kayu Jawa yang terampil membangun kapal galangan di kota pelabuhan terbesar di Asia Tenggara itu. Bukti kepiawaian orang Jawa dalam bidang perkapalan juga ditemukan pada relief Candi Borobudur yang memvisualkan perahu bercadik -belakangan disebut sebagai “Kapal Borobudur”.
Orang Jawa adalah orang-orang yang sangat berpengalaman dalam seni navigasi, sampai mereka dianggap sebagai perintis seni paling kuno ini, meskipun banyak yang menunjukkan bahwa orang China lebih berhak atas penghargaan ini, dan menegaskan bahwa seni ini diserahkan dari mereka kepada orang Jawa.Tetapi yang pasti adalah orang Jawa yang terlebih dahulu berlayar ke Tanjung Harapan dan mengadakan hubungan dengan Madagaskar, di mana sekarang banyak dijumpai penduduk asli Madagaskar yang mengatakan bahwa mereka adalah orang Jawa.
Demikian tulis Diego de Couto dalam buku Da Asia, terbit 1645. Bahkan, pelaut Portugis yang menjelajahi samudera pada pertengahan abad ke-16 itu menyebutkan, orang Jawa lebih dulu berlayar sampai ke Tanjung Harapan, Afrika, dan Madagaskar. Dia mendapati penduduk Tanjung Harapan awal abad ke-16 berkulit coklat seperti orang Jawa. “Mereka mengaku keturunan Jawa,” kata Couto, sebagaimana dikutip Anthony Reid dalam buku Sejarah Modern Awal Asia Tenggara.
Gambaran tentang kapal Jung Jawa secara spesifik dilaporkan Alfonso de Albuquerque, komandan armada Portugis yang menduduki Malaka pada tahun 1511. Orang Portugis mengenali Jawa sebagai asal usul kapal-kapal Jung terbesar. Kapal jenis ini digunakan angkatan laut kerajaan Jawa (Demak) untuk menyerang armada Portugis.
Disebutkan, secara umum Jung Jawa memiliki empat tiang layar, terbuat dari papan berlapis empat serta mampu menahan tembakan meriam kapal kapal Portugis. Bobot Jung rata-rata sekitar 600 ton, melebihi kapal perang Portugis. Jung terbesar dari Kerajaan Demak bobotnya mencapai 1.000 ton yang digunakan sebagai pengangkut pasukan Jawa untuk menyerang armada Portugis di Malaka pada tahun 1513. Bisa dikatakan, kapal Jung Jawa ini dapat disandingkan dengan kapal induk di era modern sekarang ini.
“Anunciada (kapal Portugis yang terbesar yang berada di Malaka pada tahun 1511) sama sekali tidak menyerupai sebuah kapal bila disandingkan dengan Jung Jawa.” tulis pelaut Portugis Tome Pires dalam Summa Oriental (1515). Hanya saja kapal Jung Jawa raksasa ini, menurut Tome Pires, lamban bergerak saat bertempur dengan kapal-kapal Portugis yang lebih ramping dan lincah. Armada Portugis pun mampu menghalau kapal-kapal Jung Jawa dari perairan Malaka.
Menurut catatan para penulis Portugis, Jong disebut dengan Junco. Sedangkan para penulis Italia menyebut dengan istilah Zonchi. Istilah Jung dipakai pertama kali dalam catatan perjalanan Rahib Odrico, Jonhan de Marignolli.
Secara umum, kapal Jung memiliki bentuk yang sangat berbeda dengan jenis-jenis kapal Portugis. Dinding kapal Jung terbuat dari 4 lapis papan tebal, (Paul Michel Munoz, 2009: 396-397). Kapal Jung juga memiliki dua dayung kemudi besar di kedua buritan. Kemudi dayung kedua hanya bisa dihancurkan dengan meriam. Dinding kapal Jung mampu menahan tembakan meriam-kapal Portugis yang mengelilinginya dalam jarak yang sangat dekat, (Robert Dick-Reid, 2008: 69).
Kapal jung Melayu dan Jawa sering mengangkut barang dagangan seberat 350 hingga 500 ton dengan beberapa ratus orang, termasuk awak kapal dan sejumlah pedagang kecil. Barang dagangan diletakkan di bawah dek dalam petak-petak khusus yang disekat oleh dinding anyaman bambu.
Konstruksi kapal Jung Jawa dibuat dengan sistem dasar jalannan papan. Kapal ini dibuat tanpa menggunakan paku besi. Papan-papan disatukan dengan pasak kayu. Kerangka kapal dipasak agar membentuk rangka yang kuat. Kapal menggunakan layar segi empat yang terbuat dari serat tumbuhan, dengan ujung haluan dan buritan kapal berbentuk lancip.
Satu sifat khas warisan perahu lainnya sebelumnya adalah pelapis lambung kapal dengan papan. Saat satu lapis papan mulai rapuh, bagian yang rapuh tersebut akan dilapis oleh jalinan satu atau dua lapisan papan baru.
Ukuran kapal Jung menurut catatan Tome Pires dan Gaspar Correia sangat besar. Menurut Tome Pires, kapal Jung tidak dapat merapat ke dermaga karena ukurannya yang besar. Perlu ada kapal kecil yang diperlukan untuk memuat atau membongkar muatannya.
Menurut Gaspar Correia, Jong memiliki ukuran melebihi kapal Flor de La Mar, Portugis yang tertinggi dan terbesar tahun 1511-1512. Menurut Gaspar Correia pula, bagian belakang kapal Flor de La Mar yang sangat tinggi, tidak dapat mencapai jembatan kapal yang berada di bawah geladak kapal Jung.
Saat menyerang Malaka, Portugis mencatat menggunakan 40 buah kapal menurut Hikayat Hang Tuah, atau 43 buah kapal menurut Sejarah Melayu. Setiap kapal mampu mengangkut 500 pasukan dan 50 unit meriam. Jadi saat menyerang Malaka Portugis mengerahkan pasukan sebanyak 20.000 – 21.500 personel. Kapal Flor de La Mar dicatat memiliki ukuran di atas kapal-kapal itu.
Menurut Irawan Djoko Nugroho Irawan dalam buku Majapahit Peradaban Maritim, Jakarta: Suluh Nuswantara Bakti, 2012 , kapal Jung memiliki ukuran panjang, lebar, dan tinggi 4-5 kali kapal Flor de la Mar. Dengan kata lain panjang Jung Jawa sekitar 313,2 – 391,5 meter. Hal ini karena kapal Flor de La Mar diperkirakan memiliki panjang 78,30 meter dan kapal-kapal yang menyerang Malaka menurut Hikayat Hang Tuah dan Sejarah Melayu memiliki ukuran panjang 69 meter, (Irawan Djoko Nugroho, 2011: 304-307).
Teknik pembuatan kapal hingga sekarang masih menjadi misteri, seperti teknik sambungan kapal apa yang digunakan sehingga Jung tahan tembakan meriam. Selain itu, bahan apa yang digunakan untuk merapatkan kayu, sehingga kapal Jung aman dari merembesnya udara. Juga bagaimana pemeliharaan operasional kapal Jung itu karena sifat kapal yang dapat di- knock down .
Sumber Referensi :
- Adrian Horridge, The Prahu : Perahu Layar Tradisional Indonesia, Oxford University Press, 1981.
- Anthony Reid, Sejarah Modern Awal Asia Tenggara : Sebuah Pemetaan. Jakarta : Pustaka LP3ES Indonesia, 2004.
- Anthony Reid, Dari Ekspansi hingga Krisis : Jaringan Perdagangan Global Asia Tenggara 1450-1680 Jilid II. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 1999.
- Gerrit Knaap, Perairan Dangkal, Pasang Surut : Pelayaran dan Perdagangan di Pulau Jawa Sekitar Tahun 1775. Jakarta : KITLV Press, Leiden 1996.
Imajiner Nuswantoro










