LANJUTAN : RATU UGRASENA TABENDRA / MAYA DANAWA 882 M, KERAJAAN BALI (Seri-2)

0

 LANJUTAN : RATU UGRASENA TABENDRA / MAYA DANAWA 882 M, KERAJAAN BALI (Seri-2)



Imajiner Nuswantoro



Raja Penguasa Bali 5


3. Arjaya Ketana


4. Haji Ekajayalancana (BHATARA PARAMESWARA SRI WIRAMA / 1200 - 1204M)

Sri Wirama, lengkapnya Bhatara Parameswara Sri Wirama tercantum dalam prasasti Bangli, Pura Kehen C (1126 Saka) (Stein Callenfels, 1926 : 56-59). Dalam prasasti itu disebutkan tiga tokoh historis sebagai berikut. Bhatara Guru Sri Adikuntitekata, yakni permaisuri raja yang telah almarhum, Bhatara Parameswara Sri Wirama, yang juga disebut Sri Bhanadhirajalancana, putra (wija) Sri Adikuntiketana.

Bhatara Sri Dhanadewiketu, yaitu permaisuri (rajawanita) Sri Dhanadhirajalancana. Berdasarkan keterangan dalam butir ketiga, khususnya kata rajawanita, yang digunakan untuk menyebut istri Sri Wirama, maka berarti raja yang sesungguhnya adalah Bhatara Parameswara Sri Wirama.

Kendati demikian, yang bertitah langsung kepada penduduk adalah Sri Adikuntiketana (Stein Callenfels, 1926 : 56). Titah tu disampaikan kepada wakil-wakil desa Bangli (karaman i bangli) sewilayah desanya, agar mereka tidak mengungsi lagi ke desa lain. Sebaliknya, mereka diperintahkan supaya kembali ke desanya serta menyelenggarakan asrama (mandala) Lokasarana yang sempat sepi dan tidak terurus. Dalam prasasti itu dicantumkan pula aturan tentang hak dan kewajiban yang harus dipatuhi oleh penduduk Bangli.



5. Bhatara Guru Sri Adikunti Ketana (1204)

Beliau memerintah pada tahun 1204 M bergelar Bhatara Guru Sri Adikunti Ketana mempunyai putra kembar buncing (laki-Perempuan) yang diberi nama Dana Dirajaketana dan Dana Dewiketu. Yang setelah dewasa kemudian dinikahkan dan kemudian dinobatkan sebagai Raja Kembar dengan nama Mahasora Mahasori atau Maheswara Maheswari atau yang lebih dikenal dengan nama Raja Masula Masuli.



6. MASULA MASULI


7. Adidewalancana (1260-1286)

Antara Raja Sri Wirama (1126 Saka) dan raja berikutnya, yaitu Bhatara Parameswara Hyang ning Hyang Adidewalancana (1182 Saka) terdapat masa kosong (power vacuum) selama tidak kurang dari 56 tahun. Belum terdapat petunjuk yang jelas mengapa hal itu terjadi.

Tidak banyak dapat dikemukakan mengenai raja Adidewalancana. Baginda mengeluarkan sebuah prasasti, yaitu prasastiBulihan B (1182 Saka), yang dianugrahkan kepada wakil-wakil desa Bulihan (karaman i bulihan) . Selain itu beliau juga mengeluarkan prasasti Pangsan yang dianugrahkan kepada pariman i nungnung.

Setelah masa pemerintahan raja Adidewalancana, terdapat lagi masa tanpa raja selama lebih kurang 64 tahun, yakni tahun 1182-1246 Saka (1260-1324). Pada periode itu terbit hanya dua buah prasasti, yaitu prasasti Pengotan E (1218 Saka) dan Sukawana D (1222 Saka), atas nama Kbo Parud (putra Ken Demung Sasabungalan). Tokoh itu berkedudukan sebagai rajapatih, bukan sebagai raja .

Keadaan ini kemungkinan besar ada kaitannya dengan keterangan yang dapat disimak 32 dari isi pupuh 42 bait 1 kitab Nagarakrtagama. Di sana dikatakan bahwa pada tahun 1206 Saka (1284) Raja Krtanagara (dari Singhasari) berhasil menaklukkan Bali serta menawan raja-raja Bali . Dalam sumber itu tidak disebutkan nama atau gelar raja Bali yang ditawan. Dengan alasan yang kurang jelas, dapat diduga bahwa raja itu adalah Adidewalancana .

Dugaan itu akan menjadi benar apabila raja itu memerintah paling sedikit selama 24 tahun setelah menerbitkan prasastinya yang berangka tahun 1182 Saka (1260)Pulau Bali sebelum ditaklukan oleh kerajaan Singhasari adalah wilayah yang merdeka dan raja yang berkuasa di wilayah tersebut merupakan keturunan dari wangsa Warman.


EXPEDISI KERAJAAN SINGASARI KE BALI

Kerajaan Singhasari pada jaman pemerintahan Kertanegara mencapai masa keemasannya. Diantara Raja-Raja Singhasari, Raja Kertanagara yang pertama tama melepaskan pandangan ke luar Jawa. Prabu kertanagara ingin mendobrak politik tradisional yang hanya berkisar pada Janggala-Panjalu dan ingin mempunyai kerajaan yang lebih luas dan lebih besar dari kedua wilayah tersebut yang berupakan warisan dari Raja Erlangga.

Wilayah Bali yang berdekatan dengan kerajaan Singhasari menjadi salah satu wilayah yang harus dikuasai untuk mewujudkan cicta cita dari Raja Kertanegara. Oleh karena itu setelah exspedisi pamalayu berhasil dengan gemilang maka ekspedisi ke Pulau Bali menjadi target berikutnya.


Maka pada tahun 1284 Masehi dikirimlah sejumlah pasukan dibawah pimpinan : ·

1. Ki Kebo Bungalan

2. Ki Kebo Anabrang

3. Ki Patih Nengah

4. Jaran Waha

5. Ki Arya Sidi

6. Ki Amarajaya

Ekspedisi Raja Kerta Negara tersebut mendarat di pantai timur Buleleng, tepatnya di Desa Kubutambahan. Sehingga, ada Pura Pule Kerta Negara di tempat tersebut. Untuk menaklukkan Pulau Bali. Di Bali pasukan tersebut berhasil mengalahkan Raja Bali yang bergelar Paduka Batara Parameswara Seri Hyangning Hyang Adidewa Lancana dan dibawa ke Kerajaan Singhasari sebagai tawanan perang.

Berkat keberhasilan menundukkan Pulau Bali, Ki Kebo Bungalan yang pada tahun 1275 Masehi juga pernah diutus ke Jambi dalam Exspedisi Pamalayu, kini diangkat oleh Raja Kertanegara sebagai wakil pemerintahan Singhasari di Pulau Bali dengan gelar Rakrian Demung Sasabungalan.

Ki Kebo Bungalan pada waktu memerintah Pulau Bali sudah lanjut usia sehingga untuk melaksanakan tugas pemerintahan sehari harinya diserahkan kepada Putranya yang bernama Ki Kebo Parud. Keberadaan Kebo Parud sebagai penguasa di bali dibuktikan dengan sebuah prasasti yang dikeluarkan olek Kebo Parud yang berangka tahun caka 1218 Caka yang berisi persoalan tentang desa kedisan “ Mewang Ida Raja Patih meka kasir Kebo Parud


“ Berdasarkan nama nama patih dan berdasarkan isi prasasti tersebut, ternyata patih itu adalah pegawai Negara yag berasal dari Jawa Timur, nama semacam itu sering dijumpai dalam kerajaan Singhasari. Ada kemungkinan bahwa patih yang dimaksud bertugas sebagai gubernur atau semacamnya yang mewakili pemerintahan Singhasari di Bali. Selanjutnya terdapat prasasti lainnya yang menyebutkan nama “Ida Ken Kanuruhan” dan yang istimewa pula prasasti tersebut tidak memakai sapatha sebagaimana yang sering dijumpai dalam prasasti prasasti di Bali pada umumnya.


Kebo Parud juga mengeluarkan prasasti yang berangka tahun Caka 1222 yang menguraikan tentang desa Sukawana yang terletak diperbatasan Min Balingkang. Dalam prasasri tersebut terdapat kata-kata “Mpukwing Dharma Anjar, Mpukwing istana radja, Mpukwing dewa istana” Gelar para menteri diubah menjadi Jro atau diduga Arya sebagai contoh Ida Raja Sang Arya = Ida Sang Arya Aji Kara.


 

D. Wakil Singhasari

1. Sasabulangan

2. Rajapatih Makassar Kebo Parud (1296 - 1300)

Pada tahun 1293 terjadi perubahan kekuasaan di Jawa Timur dimana Kerajaan Singhasari mengalami keruntuhan dan Raja Kertanegara tewas akibat pemberontakan Jayakatwang. Raden Wijaya yang merupakan menantu dari Raja Kertanegara berhasil menumpas pembrontakan tersebut dan mendirikan Kerajaan Majapahit. Karena Kerajaan Singhasari telah mengalami keruntuhan maka Majapahit sebagai pengganti kerajaan Singhasari mengambil alih seluruh daerah kekuasaan kerajaan Singhasari termasuk Pulau Bali.

Pada tahun 1296 M Sri Rajasa Jaya Wardana sebagai Raja Majapahit yang pertama, menunjuk Ki Kebo Parud sebagai wakil pemerintahannya di Pulau Bali dengan gelar Raja Patih. Dalam melaksanakan pemerintahannya Ki Kebo Parud mengangkat beberapa senapati dan pejabat tinggi lainnya untuk membantunya dalam pemerintahanya dan mengganti beberapa pejabat penting pada waktu pemerintahan Raja Adidewa Lancana dengan pejabat baru yang berasal dari Jawa Timur.


Pejabat penting yang diganti diantaranya :

1. Senapati Weresanten : Mpu Abdaraja ·

2. Senapati Balembunut Dyaksa : Mpu Tohujar diganti · Senapati Danda : Mpu Arusningrat ·

3. Senapati Dinganga : Mpu Suradikara ·

4. Senapati Kuturan: Mpu Angambara ·

5. Para pendeta Siwa diantaranya Dang Acarya Harimurti, Pendeta di Sthanaraja, Dang Acarya Haridewa, Pendeta di Amurnaraja, Dang Acarya Madyagra, pendeta di Katubrih, Dang Acarya Satyangsa, Pendeta di Makarum dan Dang Acarya Karnikangsa sebagai samegat juru-wadwa ·


Para Pendeta Budha diantaranya Dang Upadyaya Atmaja, pendeta di Nalanda dan Dang Upadyana Budhadnyana, pendeta Kutihanyar dan Tiramangsa sebagai Samegar Mangirengiren ·

Samegat Juru Tulis kehakiman diantaranya Tarayaruhun, Niraweruh dan Namapinda ·

1. Samegat Manyumbul : Nayalor

2. Samegat Pituhanya : Werdeng Pramohab

3. Samegat Caksukaranapuranya : Digaja

4. Samegat Karanapuranya : Sidhamukti


Sebagai gantinya Ki Kebo Parud kemudian menunjuk beberapa pejabat penting diantaranya : ·

1. Senapati Danda : Ki Gagak Semeningrat alias Ki Gagak Suluhingrat ·

2. Senapati Sarbhwa : Ki Dangdang sangka

3. Senapati Balembunut : Ku Kuda Makara

4. Ken Demung : Ki Gajah Pamugeran · Ken Rangga : Ki Dangdang Bangbungalan


Selain itu beliau juga mengakat beberapa Wadwa-haji yang ditempatkan di beberapa tempat di Bali diantaranya :

1. Wadwa-haji di Panji :Ki Sangkarinsing dan Ki Ranggahwalik

2. Wadwa-haji di Sarwa-patih Ki Jadang-mider, Ki Bimapaksa dan Ki Gajah Sereng

3. Wadwa-haji di Kurtija : Ki Banyak Endah dan Ki Panggah-parya ·

4. Wadwa-haji di Jingrana : Ki Kidang-semu · Wadwa-haji di Guleng dan Perang : Ki Binajaga


Beberapa kementrian atau kesenapatian yang belum ada pejabatnya dibentuk diantaranya Senapati Dinganga, Senapati Manyiringin dan Senapati Beladyaksa. Perutusan Pendeta Siwa dan Budha pun dibentuk disesuaikan dengan peraturan yang terdahulu, namun pejabatnya belum diresmikan diantaranya pendeta Siwa di Dharmahanyar, di Astanaraja, di Dewastana dan di Binor sedangkan perutusan pendeta Budhanya di Burwan, di Puwanegara, di Kutrihanyar dan di Ajinegara, juga dilantik Tri-samegat atau tiga pejabat yang sangat berkuasa di Istana.

Demikianlah pergantian pejabat tinggi kerajaan yang dilakukan oleh Ki Kebo Parud sebagai wakil pemerintahan Kerajaan Majapahit di Pulau Bali. Pemerintahan Raja Patih Kebo Parud di Bali hanya bersifat sementara saja. Beberapa tahun kemudian, oleh karena keadaan Bali sudah aman maka pada tahun 1324 Masehi, atas perintah Jayanegara sebagai Raja Majapahit yang kedua, pemerintahan Bali dikembalikan lagi kepada keturunan Wangsa Warma karena mengingat bahwa Pulau Bali sejak dari dulu diperintah oleh raja raja keturunan wangsa Warman.

Kedudukan Kbo Parud sebagai rajapatih boleh jadi berlangsug sampai setelah Raja Kertanagara dari Kerajaan Singasari dikalahkan oleh Raja Jayakatwang dari Kadiri, bahkan mungkin sampai pada masa-masa awal kerajaan Majapahit.

Kedudukannya itu tampaknya baru berakhir setelah Bhatara Guru II (Bhatara Sri Mahaguru) dinobatkan sebagai raja di Bali pada tahun 1256 Saka (1324), atau beberapa tahun sebelum penobatan itu. Hal ini sekaligus menyatakan bahwa Bali selama itu berada di bawah pengawasan kerajaan yang tengah berkuasa di Jawa Timur. Pada jaman ini para Arya dan Bujangga serta para Mpu keturunan Sapta Resi tangan dari Jawa Timur ke Bali.

Keberadaan Kebo Parud sebagai penguasa di bali dibuktikan dengan sebuah prasasti yang dikeluarkan olek Kebo Parud yang berangka tahun caka 1218 Caka yang berisi persoalan tentang desa kedisan “ Mewang Ida Raja Patih meka kasir Kebo Parud “ Berdasarkan nama nama patih dan berdasarkan isi prasasti tersebut, ternyata patih itu adalah pegawai Negara yag berasal dari Jawa Timur, nama semacam itu sering dijumpai dalam kerajaan Singhasari.

Ada kemungkinan bahwa patih yang dimaksud bertugas sebagai gubernur atau semacamnya yang mewakili pemerintahan Singhasari di Bali. Selanjutnya terdapat prasasti lainnya yang menyebutkan nama “Ida Ken Kanuruhan” dan yang istimewa pula prasasti tersebut tidak memakai sapatha sebagaimana yang sering dijumpai dalam prasasti prasasti di Bali pada umumnya. Kebo Parud juga mengeluarkan prasasti yang berangka tahun Caka 1222 yang menguraikan tentang desa Sukawana yang terletak diperbatasan Min Balingkang. Dalam prasasri tersebut terdapat kata-kata “Mpukwing Dharma Anjar, Mpukwing istana radja, Mpukwing dewa istana” Gelar para menteri diubah menjadi Jro atau diduga Arya sebagai contoh Ida Raja Sang Arya = Ida Sang Arya Aji Kara.

Agama yang yang dianut oleh Kebo Parud adalah Wajrayana yaitu suatu aliran Tantrisme dari agama Budha. Di Singhasari pada saat tersebut sedang berkembang dan malahan menjadi pusat aliran Wajrayana. Aliran ini sangat condong kle dalam ilmu sihir atau ilmu gaib yang sebagai pemimpinnya adalah rajanya sendiri yaitu Raja Kertanegara.

Demikianlah di peseteran Singhasari ditemukan arca Kertanegara sebagai seorang biksu yang gundul, disamping itu juga terdapat arca Bhairawa, dimana Raja Kertanegra sering melakukan upacara upacara yang berakitan dengan aliran yang dianutnya. Pada jaman pemerintahan Kebo Parud di Bali terdapat arca Bhairawa didaerah Pejeng yang bentuknya mirip dengan arca Bhairawa yang terdapat di Singhasari. Demikianlah ada kemungkinan besar bahwa latihan latihan Wajrayana juga dilakukan oleh wakil pemerintahan Singhasari di Pulau Bali. Para pendeta Budha kemudian mendirikan sebuah biara (asrama) di Bedaulu didekat biara Ratna Kunjarapada yang diketahui sebagai sebuah asrama bagi para pendeta Ciwa.

Hal tersebut sesuai yang terdapat dalam buku Nagarakertagama yang ditulis oleh Empu Prapanca. “ Sang Budhadhyaksa muwing Bedaulu Bedaha luwing Gajah ran pramada wruh “ Artinya ada pendeta Budha besar yang berdiam di Bedaulu, di luwing Gajah yang tidak pernah pramada (angkara). Mungkin yang dimaksud dengan luwing Gajah adalah tempat disekitar air Gajah yang seperti diketahui daerah air Gajah adalah daerah disekitar sungai Patanu tempat didirikannya asrama asrama tersebut.

Dalam hal ini Goa Gajah termasuk dalam lingkungan Dharma Anta Kunjarapada. Para pendeta Ciwa tentu merasa tidak senang melihat perkembangan aliran Wajrayana di bali sehingga timbullah persaingan diantara mereka. Rakyat Bali pada umumnya memihak kepada pendeta Ciwa yang berarti mereka tetap memja Maharesi Agatya.



Raja Penguasa Bali 6


E. Majapahit/Bedulu

1. Mahaguru Dharmottungga Warmadewa (1324-1328)

Setelah jatuhnya Kerajaan Singasari akibat dari serbuan Raja Jayakatwang dari Kediri maka berakhirpula kekuasaan Kebo Parud sebagai wakil pemerintahan Kerajaan Singasari di Pulau Bali. Karena Majapahit adalah penerus dari Kerajaan Singasari maka secara otomatis pula kekuasaan di Pulau Bali dipegang oleh Kerajaan Majapahit.

Adalah Sri Dharma Uttungga-dewa-Warmadewa yang bergelar Sri Paduka Maharaja Bhatara Mahaguru yang ditunjuk oleh Raja Jayanegara sebagai wakil Kerajaan Majapahit di Pulau Bali. Sri Dharma Uttungga-dewa-Warmadewa adalah keturunan dari Bhatara Guru Sri Adi Kunti-Ketana yang memerintah Bali pada tahun 1204 M.

Raja ini adalah keturunan dari raja dua sejoli Sri Gunapriya Dharmapatni dan suaminya Sri Dharma Udayana Warmadewa yang memerintah tahun 989 s/d 1001 M di Kerajaan Bedulu. Kerajaan Bedulu diperkirakan terletak diantara desa Bedulu dan Pejeng (Gianyar) dan bekas pemandian Raja kini disebut sebagai Pura Arjuna Matapa.

Pemerintahan Sri Dharma Uttungga-dewa-Warmadewa adalah wakil pemerintahan Kerajaan Majapahit di Bali sehingga untuk jabatan penting seperti Senapati beliau mengakat orang – orang dari Majapahit disamping orang orang dari Bali sendiri. Senapati yang diangkat beliau diantaranya :

1. Kidalang Camok diangkat menjadi Senapati Kuturan

2. Ki Candi Lengis diangkat menjadi Senapati Sarbwa

3. Ki Jagatrang diangkat menjadi Senapati Weresanten

4. Ki Pindamacan diangkat menjadi Senapati Balem bunut

5. Ki Gagak Sumeningrat diangkat menjadi Senapati Baladyaksa

6. Ki Kuda Makara / Ki Kuda Langkat Langkat diangkat menjadi Senapati Danda

7. Ki Lembu Lateng diangkat menjadi Senapati Manyiringan

8. Ki Gagak Lepas diangkat menjadi Senapati Dinganga

9. Mantri irah Prana diangkat menjadi Sekretaris Kehakiman I

10. Mantri Wadyawadana diangkat menjadi Sekretaris Kehakiman II ·

11. Ki Panji Singaraja diangkat menjadi Sekretaris Kehakiman III


Perutusan pendeta Siwanya adalah :

1. Paduka Raja Guru diangkat menjadi pendeta besar yang berkuasa di Dharmahanyar II.

2. Paduka Rajadyaksa diangkat menjadi pendeta besar yang berkuasa di Air Gajah sekarang di Goa Gajah.

3. Paduka Raja Manggala diangkat menjadi pendeta besar di Trinayana.


Perutusan pendeta Budhanya adalah :

1. Dang Upadyaya Pujayanti diangkat menjadi pendeta besar di Biharanasi ·

2. Dang Upadyaya Karmangga diangkat menjadi pendeta besar di Puranagara.


Demikianlah susunan pejabat kerajaan yang diangkat oleh beliau. Dalam pemerintahannya beliau juga membuat undang undang desa yang ditata diatas perunggu dan isinyapun kebanyakan disesuaikan dengan prasasti-prasasti yang telah ada. Segala keputusan beliau didasarkan atas permusyawaratan dan tempat pengambilan keputusan biasanya dilakukan di balai-pendapa yang ada di istana. Para pendeta Siwa, Budha, Resi dan Mahabrahmana yang ada di desa desa sangat dihargai oleh beliau, bahkan mereka diikutsertakan dalam sidang disamping pejabat pejabat resmi di Kerajaan.

Sri Dharma Uttungga-dewa-Warmadewa dalam melaksanakan sehari hari tugas pemerintahannya telah mengangkat putranya sendiri yang bernama Sri Trunajaya sebagai raja muda. Akan tetapi entah mengapa raja muda ini belum bersedia untuk dicalonkan menjadi raja. Sebagai raja Sri Dharma Uttungga-dewa-Warmadewa sangat bijaksana dalam menjalankan pemerintahan, Beliau sangat taat melakukan upacara di pura-pura, terlebih pemujaan terhadap leluhurnya. Dari itulah beliau membuat peraturan-peraturan adat untuk upacara Paduka Bhatara almarhum yang dicandikan di Candi Manik yang upacaranya jatuh pada setiap bulan purnama dalam bulan Cetra (Maret).

Bangunan bangunan suci banyak didirikan pada jaman pemerintahan beliau, sebuah taman yang sangat indah telah dibangun disebelah selatan desa Bangli. Kolamnya dihiasi patung “Makaradewi” sedangkan di sebelah selatannya dibuat bangunan suci (Pemerajan) untuk pemujaan beliau yang disebut Gua Merku. Kini komplek taman tersebut disebut Taman Bali.

Identifikasi Raja Bhatara Guru II atau Bhatara Sri Mahaguru sesungguhnya masih mengandung permasalahan. Ada tiga buah prasasti dikeluarkan oleh raja itu, tetapi memuat gelarnya secara tidak konsisten. Dalam prasasti Srokadan (1246 Saka)25 baginda disebut Paduka Bhatara Guru yang memerintah bersama-sama dengan cucunya (putunira), yakni Paduka Aji (baca : Haji) Sri Tarunajaya.

Dalam prasasti Cempaga C (1246 Saka) disebut dengan gelar Paduka Bhatara Sri Mahaguru (Stein Callenfels, 1926 : 50). Dan dalam prasasti Tumbu (1247 Saka) disebut Paduka Sri Maharaja, Sri Bhatara Mahaguru, Dharmmotungga Warmadewa (baca : Paduka Sri Maharaja Sri Bhatara Mahaguru Dharmottungga Warmadewa) (Goris, 1965 : 45).

Sri Jayakasunu digantikan oleh putra-putrinya yaitu Sri Masula Masuli dengan gelar Bhatara Mahaguru Darma Utangga Warmadewa dengan ibu kota kerajaan Batu Anyar. Bali aman kembali Kebo Parud tidak berada di Bali lagi. Baginda bertahta sampai dengan tahun Çaka 1250 (1328 Masehi). Bhatara Guru II rupanya mangkat sebelum tahun 1250 Saka (1328). Dugaan itu dikemukakan karena pada tahun 1250 Saka, sebagaimana tertera dalam prasasti Selumbug (Stein Callenfels, 1926 : 68-70), yang memerintah di Bali adalah Paduka Bhatara Sri Walajayakartaningrat. R

Sumber



2. Walajaya Kertaningrat/SRI TARUNAJAYA / BHATARA GURU II (1328 -1337)

Bhatara Guru II rupanya mangkat sebelum tahun 1250 Saka (1328). Dugaan itu dikemukakan karena pada tahun 1250 Saka, sebagaimana tertera dalam prasasti Selumbug (Stein Callenfels, 1926 : 68-70), yang memerintah di Bali adalah Paduka Bhatara Sri Walajayakrtaningrat.

Sri Dharma Uttungga-dewa-Warmadewa mangkat dimana perisitiwa tersebut tahunnya bersamaan dengan terbunuhnya Jayanegara raja Majapahit yang ke dua oleh tabib Ra Tanca. Setelah Sri Dharma Uttungga-dewa-Warmadewa wafat maka putranya yang bernama Trunajaya menggantikan kedudukan beliau sebagai raja dengan memakai gelar Sri Walajaya Kertaningrat hal tersebut tercantum dalam prasasti yang tersimpan di desa Selembung (Karangasem).

Dalam prasasti itu juga disebutkan Pura Hyang Api atau Agni Sala tertulis nama Maharesi Agastya yang menyelesaikan perkara desa Selembung. Adapun pejabat pejabat pemerintahan pada masa pemerintahan ayah beliau masih tetap dipertahankan kecuali jabatan untuk Senapati Balembunut diganti sebanyak 2 kali. Pada tahun 1324 M jabatan tersebut dipegang oleh Ki Pinda Macan sedangkan tahun 1325 diganti oleh Ki Gentur sampai akhirnya dipegang oleh Ki Bondantuhed.

Pada pemerintahan beliau, desa Selumbung dibebaskan dari pembayaran pajak dan rodi karena desa ini memelihara sebuah candi yang ada di Linggabawana. kemungkinan candi tersebut adalah merupakan tempat abu ayahanda beliau yaitu Dharma Uttungga-dewa-Warmadewa dimakamkan. Keadaan pulau Bali pada masa pemerintahan belia sangat tenang dan aman.

Raja ini memerintah bersama-sama dengan atau dibantu oleh ibunya yang bergelar Paduka Tara Sri Mahaguru. Mengingat kata tara (baca : tara) dapat berarti ”janda atau duda”, di samping juga berarti ”suami atau istri” (Damais, 1959 : 690), maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Paduka Tara Sri Mahaguru kemungkinan besar adalah janda almarhum Bhatara Guru II.

Selain itu, kiranya dapat disepakati bahwa kata tarunajaya pada hakikatnya bermakna sama dengan walajaya. Kendatipun demikian, masih diperlukan kehati-hatian sebelum menyamakan tokoh Tarunajaya dalam prasasti Srokadan dengan Walajayakrtaningrat dalam prasasti Selumbung. Kehati-hatian itu diperlukan karena Tarunaja dikatakan sebagai cucuk sang suami (yaitu Bhatara Guru II) dan Walajayakrtaningrat dikatakan sebagai putra sang permaisuri (yaitu paduka Tara Sri Mahaguru).

Pernyataan terakhir ini menjadi lebih kuat, jika Bhatara Guru II dan Paduka Tara Sri Mahaguru pada mulanya memang merupakan pasangan suami-istri. Atas dasar gambaran yang telah disajikan, dengan singkat dapat dikatakan bahwa bagaimanapun juga hubungan kekeluargaan mereka berdua belum dapat dijelaskan secara meyakinkan. Sumber-sumber sejarah yang muncul pada masa-masa mendatang diharapkan dapat menerangkan hal itu.

Dari prasasti Selumbung yang telah disebutkan, dapat diketahui bahwa Raja Walajayakrtaningrat beserta ibunya memberikan anugrah prasasti kepada tetua desa Salumbung (karaman ing salumbung). Dalam prasasti itu ditetapkan pelbagai kewajiban yang harus ditunaikan oleh penduduk bagi bangunan suci Sang Hyang Candri ring Linggabhawana. Penganugerahan prasasti itu disaksikan pula oleh para pejabat tinggi kerajaan.

Raja Walajayakrttaningrat dan ibunya digantikan oleh Paduka Bhatara Sri Astasura Ratnabumibanten (baca : Paduka Bhatara Sri Astasura Ratnabhumibanten). Gelar ini terbaca dalam prasasti Langgahan yang berangka tahun 1259 Saka (Goris, 1954a : 44 ; Damais, 1955 : 99). Prasasti ini mencatat bahwa pada tahun 1259 Saka raja menetapkan pelbagai drwyahaji yang mesti dibayar oleh penduduk di wilayah pertapaan Langgaran



3. Sri Astasura Ratna bumi Banten (1337 - 1343 M)

Dikisahkan pada tahun 1337 raja Bhatara Sri Astasura Ratna Bhumi Banten / Sri Gajah Waktera / Sri Topolung mulai berkuasa di Pulau Bali, beliau sangat bijaksana serta adil dalam mengendalikan pemerintahan dan taat dalam melaksanakan upacara keagamaan., beliau terkenal sebagai seorang pemberani serta sangat sakti. dalam pemerintahannya beliau mengadakan pergantian sejumlah pejabat pemerintahan antara lain :

1. Kesenepatian Kuturan yang dijabat Ki Dalang Camok diganti oleh Ki Mabasa Sinom

2. Kesenepatian Danda yang dijabat Ki Kuda Langkat-Langkat diganti oleh Ki Bima Sakti

3. Dibentuk kesenepatian baru yaitu Kesenepatian manyiringin di pegang oleh Ki Lembu Lateng.

4. Perutusan Siwa rajamanggala yang dulu tinggal di Dewastana kini digeser ke Kunjarasana.

5. Perutusan Pendeta Siwa Sewaratna yang dulu tinggal di Trinayana kini dipindahkan ke Dharmahanyar.

6. Dang Upadyaya Pujayanta yang dijabat Pendeta di Biharanasi diganti oleh Pendeta Dang Upadyaya Dharma.

7. Dibentuk pejabat Makarun di Hyang Karamus yang dipagang oleh Ki Panji Sukaningrat.

8. Dibentuk 2 buah perutusan yaitu di Burwan yang dipegang oleh Sira Mahaguru dan di Buhara Bahung yang dipegang oleh Dang Upadyaya Kangka.


Beliau mengangkat seorang Mangkubumi yang gagah perkasa bernama Ki Pasunggrigis, yang tinggal di desa Tengkulak dekat istana Bedahulu di mana raja Astasura bersemayam. Sebagai pembantunya diangkat Ki Kebo Iwa alias Kebo Taruna yang tinggal di Desa Belahbatuh. Para menterinya di sebutkan antara lain :

1. Krian Pasung Grigis jabatan Mangkubumi di Tengkulak

2. Ki Kebo Iwa jabatan Patih di

3. Ki Girikmana jabatan Menteri di Desa Loring Giri Ularan (Buleleng)

4. Ki Tambiak jabatan Menteri di desa Jimbaran

5. Ki Tunjung Tutur jabatan Menteri di desa Tenganan

6. Ki Buahan jabatan Menteri di desa Batur

7. Ki Tunjung Biru jabatan Pertanda di desa Tianyar

8. Ki Kopang jabatan Pertanda di desa Seraya

9. Ki Walungsari jabatan Pertanda di desa Taro.

10. Ki Gudug Basur jabatan Tumenggung

11. Ki Kalambang jabatan Demung

12. Ki Kalagemet jabatan Tumenggung di Desa Tangkas

13. Ki Buahan di Batur

14. Ki Walung Singkal di Desa Taro

Demikianlah para Menteri Bhatara Sri Astasura Ratna Bhumi Banten yang sebagian besar diantaranya adalah keturunan sang Ratu Ugrasena leluluh Sanjayawamsa, kesatrya Kalingga. Keturunan belia sangat berani sehingga terus menduduki jabatan penting sebagai Panglima Perang sampai pemerintahan Gelgel dan bergelar Jlantik. Beliau terkenal sebagai Arya Ularan panglima Dulang Mangap (Pasukan inti Kerajaan Gelgel) yang menaklukkan Blambangan dan Jlantik Bogol terkenal sebagai pahlawan perang Pasuruhan.

Bhatara Sri Astasura Ratna Bhumi Banten adalah seorang penganut agama Budha yang taat terbukti pada tahun 1338 M beliau banyak mendirikan tempat tempat suci agama Budha. Dalam melaksanakan ibadah keagaman beliau sering melaksanakan persembahyangan di Pura Besakih dengan didampingi para Mentri dan pendeta Siwa-Budha.

Keadaan yang berlangsung aman dan tentram tersebut tiba tiba terancam karena sikap dari Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten yang menentang dan tidak bersedia tunduk dibawah kekuasaan Ratu Majapahit Tribhuwana Wijayatunggadewi, meskipun beliau adalah keturunan Majapahit. Alasan Beliau bersikap demikian karena Bali sudah dari dahulu dibawah lindungan kerajaan Daha.

Hubungan antara Kerajaan Bali dan Kerajaan Daha sudah berlangsung sejak pemerintahan Raja Putri Ganapriya Dharmapatni yang memerintah Bali tahun 989-1001 M. Karena hubungan inilah maka Bali mengadakan perlawanan terhadap kerajaan Singhasari, tahun 1222 M , namun Bali baru dapat ditaklukkan pada tahun 1284 oleh Prabu Kertanegara. Selanjutnya karena runtuhnya kerajaan Singhasari oleh Jayakatwang tahun 1292 maka Bali kembali menjadi pengawasan Kerajaan Daha. Pada Tahun 1293 Kerajaan Daha mengalami keruntuhan karena serangan oleh Kerajaan Majapahit sehingga Bali langsung dikuasai oleh Raja Majapahit.

Keputusan Bhatara Sri Astasura Ratna Bhumi Banten untuk menetang Majapahit tercetus dalam rapat dengan para menterinya dimana Keputusan tersebut akibat pengaruh dari Menteri Pertahanan (Senapati danda) yang bernama Ki Bima Sakti yang di Majapahit terkenal dengan nama Werkodara.

Adapun politik pemerintah Bhatara Sri Astasura Ratna Bhumi Banten sekarang sungguh sangat berbeda dibandingkan yang sudah sudah, bahkan beliau sekarang bersikap membangkang dan tidak menghiraukan perintah-perintah dari Majapahit. Karena sikap beliau tersebut maka beliau dijuluki Raja Bedahulu, “Beda” artinya berbeda (pendapat) dan “Hulu” berarti atasan. Tegasnya raja ini melepaskan diri dan tidak mau tunduk dibawah kekuasaan Majapahit sebagai atasan yang dulu mengangkatnya. Sikap dan prilaku Raja ini didengar oleh Ratu Majapahit karena itu Ratu Tribhuwana Tunggadewi menjadi marah besar sehingga beliau merencanakan untuk mengirim pasukan besar ke Bali dibawah pimpinan Patih Gajah Mada dan panglima Arya Damar (Adityawarman)


Untuk lebih jelasnya bahwa Raja Bali diangkat oleh Singhasari dan Majapahit dapat diuraikan sebagai berikut :

Setelah akhir pemerintahan Raja Kembar Mahasora dan Mahasori atau yang lebih dikenal dengan Raja Masula Masuli yang menjadi Raja Bali adalah Sri Hyang Ning Hyang Adidewa Lencana (tahun 1260 -1286 M) . Pada masa pemerintahan raja ini, Bali diserang dan dikuasai oleh Kerajaan Singhasari dibawah kepemimpinan Raja Kertanagara. Raja Adidewa Lancana kemudian ditangkap dan dibawa ke Singhasari tahun 1286 M. Sejak itulah Bali menjadi kekuasaan kerajaan Singhasari.

Dengan dikuasainya Bali oleh Singhasari maka pengangkatan raja raja Bali selanjutnya dilakukan oleh Raja Singhasari. Namun Demikian karena Kerajaan Singhasari runtuh akibat Penyerangan dari Prabu Jayakatwang yang menyebabkan Prabu Kertanagara Gugur maka selanjutnya pengangkatan raja Bali dilakukan oleh Majapahit yang merupakan penerus dari kerajaan Singhasari.

Raja Bali pertama yang diangkat oleh Prabu Kertanagara adalah Ki Kryan Demung yang berasal dari Jawa timur yang kemudian digantikan oleh putranya Ki Kebo Parud. Berikutnya yang menjadi raja Bali adalah Sri Paduka Maharaja Batara Mahaguru ( 1324-1328 M). Beliau diangkat oleh Raja Majapahit yaitu Prabu Jayanegara/ Kalagemet. Yang menggantikan beliau adalah putranya sendiri yaitu Sri Tarunajaya dengan gelar Sri Walajaya Kertaningrat (1328-1337 M). Sesudah beliau meninggal dunia, maka digantikan oleh adiknya yaitu Sri Astasura Ratna Bumi Banten yang berarti Raja yang berkuasa (1337-1343).



Raja Penguasa Bali 7


EKSPEDISI MAJAPAHIT

Sikap Sri Astasura Ratna Bumi Banten yang menentang dan tidak bersedia tunduk dibawah kekuasaan Majapahit menimbulkan ketegangan antara Kerajaan Bali dan Kerajaan Majapahit. Dalam rapat yang diadakan oleh Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi dengan para Mentri Kerajaan dan Patih Gajah Mada akhirnya memutuskan melaksanakan ekspedisi militer ke Pulau Bali untuk menangkap Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten.

Namun demikian usaha untuk menundukkan Bali tidaklah mudah karena Kerajaan bali dikawal oleh patih dan menteri yang memiliki kesaktian yang sangat tinggi sehingga sulit ditaklukkan. Patih patih yaitu diantaranya Ki Pasung Grigis dan Ki Kebo Iwa.

Rapat akhirnya memutuskan bahwa sebelum Gajah Mada melakukan penyerangan ke Bali maka Kebo Iwa sebagai orang yang kuat dan sakti di Bali harus disingkirkan terlebih dahulu. Jalan yang ditempuh dengan tipu muslihat yaitu raja putri Tribhuwana Tunggadewi mengutus Gajah Mada ke Bali dengan membawa surat yang isinya seakan-akan raja putri menginginkan persahabatan dengan raja Bedahulu.

Keesokan harinya berangkatlah patih Gajah Mada ke Bali melalui lapangan Bubat kemudian meyusuri pantai dipesisir desa Pejarakan, Telagorung, Palu Ayam, Kapurancak dan mendarat di pantai Jembrana. Dari sana patih Gajah Mada melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki melalui pesisir Umabangkah, Seseh, Kadungayan, Kalahan , Tuban dan terus ke Gumicik. Dari Gumicik Patih Gajah Mada mengarah ke utara menuju Sukawati. Di Sukawati Patih Gajah Mada dijemput oleh Kipasung Grigis yang sudah mengetahui perihal kedatangan patih Gajah Mada tersebut ke Bali.

Dalam pertemuannya dengan Ki Pasung Grigis, Patih Gajahmada menyampaikan maksud dan tujuannya ke Bali karena diutus oleh Ratu Tribhuwana Tunggadewi untuk menyampaikan surat kehadapan Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten. Mendengar keterangan tersebut Ki Pasung Grigis sangat risau hatinya karena menduga pasti ada sesuatu hal yang sangat penting sampai mengutus seorang patih Gajah Mada yang sangat disegani di wilayah Nusantara untuk datang ke Bali.

Ki Pasung Grigis mempersilahkan Patih Gajah Mada untuk menunggu terlebih dahulu di Karang Kepatihan karena kedatangan Patih Gajahmada akan dilaporkan terlebih dahulu Kehadapan Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten. Tiada diceritakan dalam perjalanannya Ki Pasung Grigis akhirnya sampai di Istana Bedulu dan langsung menghadap sang Prabu untuk melaporkan perihal kedatangan Patih Gajah Mada dari Majapahit. Kemudian atas ijin sang Prabu, Patih Gajah Mada kemudian mempersilahkan Patih Gajah Mada untuk menghadap Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten di Istana Bedulu.

Dihadapan Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten patih Gajah Mada menyampaikan maksud kedatangannya dan menyerahkan surat dari Ratu Majapahit Tribhuwana Tunggadewi.

Surat tersebut kemudian diterima yang isinya :

“ Hormat susuhunan pukulun yang menaungi bumi Bali ini. Kami di Majapahit sebagai burung elang dalam bulan oktober, berkepanasan berharap harap hujan. kami disini sebagai burung tadahasih yang selalu meratap pada waktu bulan tak bersinar. Tiada lain hanya Sri Susuhunanlah yang patut menaungi bumi ini dan yang patut dijunjung. Dari itu harapan kami janganlah kiranya paduka tuan menyimpang dari tali persahabatan kita yang sudah erat sedari dulu. Kami risau karena menurut berita berita yang kami peroleh, Konon Sri Susuhunan akan menyerang kekuasaan kami di Jawa. Nah jika sungguh kabar itu demikian, kami mohon sekali agar penyerbuan paduka terhadap kami diurungkan.

Maksud kami tak lain dan tak bukan hanya berkawan saja dengan Sri Susuhunan disini. Sekiranya maksud kami, paduka setujui maka kami mohon kiranya Paduai sudi mengirim Ki Kebo Iwa yakni patih paduka yang masih jejaka ke Jawa bersama patih Gajah Mada. Maksud kami, ia akan kami nikahkan dengan putri lemah Tulis yang sangat masyur kecantikannya. Itulah kebaikan kami yang kami tunjukkan kepada paduka demi untuk mempererat persahabatan diantara kita. Sekian hormat dari kami Tribhuwana “


Demikianlah isi surat dari ratu Tribhuwana Tunggadewi. Sri Baginda sangat gembira hatinya setelah membaca surat tersebut dan hatinya tiada terbalas akan kebaikan hati ratu Majapahit tersebut. Menanggapi tawaran dari Majapahit, Patih Kebo Iwa yang setia terhadap rajanya, memohon petunjuk dan persetujuan dari baginda Sri Astasura Bumi Banten. Sang Raja menyetujuinya tanpa rasa curiga. Sebelum pergi ke Majapahit, Patih Kebo Iwa terlebih dahulu melakukan upacara keagamaan di Pura Uluwatu, untuk meminta kekuatan dari Sang Hyang Rudra. Dan Sang Hyang Rudra memenuhi permintaan Kebo Iwa, mengakibatkan meningkatnya kekuatan dan kesaktian menjadi sangat luar biasa.

Patih Gajah Mada bersama Ki Kebo Iwa kemudian mohon pamit kepada Sri Baginda. Mereka berjalan mengarah keselatan menuju pesisir pantai. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan mengarungi lautan, namun ketika sampai di tengah lautan tiba tiba Ki Kebo Iwa terjatuh ke dalam lautan. Hal tersebut memang telah direncanakan sebelumnya oleh patih Gajah Mada untuk menyingkirkan Ki Kebo Iwa.

Akan tetapi walaupun jatuh di laut yang dalam Ki Kebo Iwa karena kesaktiannya mampu berenang dan menyusul sampan patih Gajah Mada. Melihat hal tersebut patih Gajah Mada tiada berdaya lagi dan mencari jalan lain untuk menyingkirkan ki Kebo Iwa.

Setelah menempuh perjalanan yang panjang akhirnya sampailah mereka disisir pantai Banyuwangi. Disana mereka mampir di rumah Raden Arya. Keesokan harinya patih Gajah Mada akan melanjutkan perjalanannya ke Majapahit dan minta ke pada Kebo Iwa untuk menunggunya di tempat ini karena ia akan meloporkan terlebih dahulu hasil perjalanannya ke Pulau Bali kepada Ratu Majapahit.

Tidak diceritakan dalam perjalanannya sampailah Patih Gajah Mada di Istana Majapahit dan langsung menghadap Ratu Tribhuwana Tunggadewi melaporkan hasil kunjungannya ke Pulau Bali menemui Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten. Patih Gajah Mada juga melaporkan bahwa telah berhasil membawa Kebo Iwa kemari dan sekarang telah menunggu di banyuwangi di rumah Raden Arya serta berbagai upaya yang telah dilakukan untuk melenyapkan Kebo Iwa namun selalu menemui kegagalan. Setelah melalui perundingan yang cukup panjang akhirnya diputuskan bahwa upaya yang ditempuh adalah dengan menyediakan soerang gadis cantik untuk menggoda Kebo Iwa.

Ki Kebo Iwa adalah seorang yang sangat disegani karena kesaktian yang dimiliki dan sifat pemberani serta kejujuran hatinya sehingga sampai sampai Majapahit yang sangat termasyur akan kejayaannya di medan pertempuran mengalami kesulitan untuk menundukkan kerajaan Bali kalau patih Kebo Iwa masih ada.

Kembali ke awal cerita dimana salah seorang Krian diutus untuk menjemput Ki Kebo Iwa yang ditinggal oleh Patih Gajah Mada di daerah Banyuwangi berhasil menemui Ki Kebo Iwa dan mengantarnya ke Istana Majapahit.

Kedatangan Patih Kebo Iwa ke tanah Majapahit menyebabkan para tentara, baik yang belum pernah melihatnya maupun yang pernah takluk atas kekuatannya, menjadi terperangah, kagum, bercampur rasa ngeri dan waspada, Tentara Majapahit, menampakkan ekspresi terkejut dan cemas. Arah pandang mereka terpusat ke satu tujuan yang sama. Beberapa diantara mereka nampak sedang berbisik pelan dengan teman yang berada di sebelahnya;

“Lihatlah ukuran tubuhnya! Luar biasa ! Mengerikan !”. Patih Gajah Mada menyambut kedatangan Patih Kebo Iwa: “Salam, Patih yang tangguh ! Selamat datang di Kerajaan Majapahit” Patih Kebo Iwa yang menimpali salam dari Patih Gajah Mada. Kebo Iwa : “Terima Kasih Patih, kiranya anda bersedia untuk langsung menjelaskan maksud dari Baginda Tri Bhuwana Tungga Dewi yang meminta saya untuk datang ke Majapahit Gajah Mada :

“Seperti yang telah dikabarkan sebelumnya, Patih kebo Iwa, baginda Raja mengharapkan kedatangan patih guna menjalin suatu tali persahabatan dengan Kerajaan Bedahulu di Bali dan juga berharap agar patih bersedia menemui wanita terhormat pilihan baginda yang dirasa pantas untuk mendampingi seorang patih yang tangguh seperti anda”.

Gajah Mada menarik nafas panjang kemudian melanjutkan kata-katanya: “Akan tetapi sebelumnya, akan sangat berati apabila Patih kerajaan. Kebo Iwa berkenan membuat sumur air di sana yang nantinya akan dipersembahkan untuk wanita calon pendamping anda. Lebih lagi, sumur itu nantinya juga akan dimanfaatkan oleh rakyat kerajaan Majapahit yang saat ini sedang kekurangan air. Kiranya patih berkenan mengabulkan permohonan ini.

Patih Kebo Iwa memiliki jiwa besar dan lurus hatinya, akhirnya diapun meluluskan permintaan tersebut. Nampak Patih Kebo Iwa yang sedang mempertimbangkan permintaan tersebut. Kemudian memutuskan untuk memenuhi permintaan tersebut. Kebo Iwa (berpikir sejenak) kemudian dia berkata: “Baiklah, biarlah kekuatanku ini kupergunakan untuk sesuatu yang menghadirkan berkat bagi orang banyak”.

Tanpa banyak cakap lagi, Patih Kebo Iwa segera melakukan aktivitasnya untuk menciptakan sebuah sumur air. Sebelum memulai pekerjaannya, tidak lupa Patih Kebo Iwa meminta pedoman dari Sang Hyang Widi. Kebo Iwa : (dalam hati) Ya yang Kuasa, segala yang akan saya lakukan semoga menggambarkan kebesaran namaMu. Kebo Iwa mulai menggali sumur di tempat yang telah ditunjuk.Dalam waktu yang cukup singkat, sumur telah tergali cukup dalam. Namun belum ada mata air yang keluar. Di atas lubang sumur yang digali oleh Patih Kebo Iwa, para prajurit Majapahit terlihat berkerumun, nampak mereka memusatkan pehatian pada Patih Gajah Mada. Seakan mereka menantikan sesuatu perintah…Tiba-tiba Gajah Mada berteriak: “Timbun dia dengan batu………!!!!” Seketika itu juga, para prajurit menimbun kembali lubang sumur yang sedang dibuat, dengan Patih Kebo Iwa berada di dalamnya.

Para prajurit menimbun lubang sumur dengan batu hasil galian itu sendiri, nampak Kebo Iwa sangat terkejut dan berusaha menahan jatuhnya batu. Dalam waktu yang singkat, lubang sumur itupun tertutup rapat. Mengubur seorang pahlawan besar didalamnya. Patih Gajah Mada yang berbicara kepada para parjuritnya.Gajah Mada :

“Sungguh amat disayangkan seorang pahlawan besar seperti dia harus mengalami ini. Namun, hal ini terpaksa harus dilakukan, agar nusantara ini dapat dipersatukan. Dengan ini kerajaan Bali akan menjadi bagian dari Majapahit”. Tiba-tiba timbunan batu melesat ke segala penjuru, menghantam prajurit Majapahit. Terdengar teriakan membahana dari dalam sumur. Kebo Iwa : (berteriak)

“Belum ! Bali masih tetap merdeka, karena nafasku masih berhembus !!.

Batu-batu yang ditimbunkan melesat kembali keangkasa dibarengi dengan teriakan prajurit Majapahit yang terhempas batu. Dari dalam sumur, keluarlah Patih Kebo Iwa, yang ternyata masih terlalu kuat untuk dikalahkan. Patih Gajah Mada terkejut, menyaksikan Patih Kebo Iwa yang masih perkasa, dan beranjak keluar dari lubang sumur.

Kebo Iwa : “Dan pembalasan adalah apa yang kutuntut dari sebuah pengkhianatan !” Patih Kebo Iwa menyerang Patih Gajah Mada kemarahan dan dendam mewarnai pertempuran. Akibat amarah dan dendam yang dirasakan oleh Patih Kebo Iwa, pertempuran berlangsung sengit selama beberapa waktu. Disela-sela saling serang Gajah Mada berteriak:”Untuk memersatukan dan memperkuat nusantara, segenap kerajaan hendaklah dipersatukan terlebih dahulu. Dan kau berdiri di garis yang salah sebagai seorang penghalang !”.

Kesaktian Patih Kebo Iwa, sungguh menyulitkan usaha Patih Gajah Mada untuk menundukkannya. Pertempuran antara keduanya masih berlangsung hebat, namun amarah dan dendam Patih Kebo Iwa mulai menyurut…Dan rupanya Patih Kebo Iwa tengah bertempur seraya berpikir … Dan apa yang tengah dipikirkan olehnya, membuat dia harus membuat keputusan yang sulit… Kebo Iwa : (dalam hati) Kerajaan Bali pada akhirnya akan dapat ditaklukkan oleh usaha yang kuat dari orang ini, keinginannya untuk mempersatukan nusantara agar menjadi kuat kiranya dapat aku mengerti kini. Namun apabila, aku menyetujui niatnya dan ragaku masih hidup, apa yang akan aku katakan nantinya pada Baginda Raja sebagai sangkalan atas sebuah prasangka pengkhianatan ? Masih dalam keadaan bertempur, secara sengaja Patih Kebo Iwa melontarkan pernyataan yang intinya mengenai hal untuk mengalahkan kesaktiannya.

Kebo Iwa :

“Wahai Patih Gajah Mada ! Cita-citamu untuk membuat nusantara menjadi satu dan kuat kiranya dapat aku mengerti, namun selama ragaku tetap hidup sebagai abdi rajaku, aku akan menjadi penghalangmu. Maka, taklukkan aku, hilangkan kesaktianku dengan menyiramkan bubuk kapur ke tubuhku.

Pernyataan Patih Kebo Iwa rupanya membuat terkesiap Patih Gajah Mada. Patih Gajah Mada menunjukkan reaksi keheranan yang amat sangat atas perkataan Patih Kebo Iwa. Gajah Mada yang mengerti atas keinginan Kebo Iwa, nampak menghantamkan jurusnya ke batu kapur, batu itupun luluh lantak menjadi serpihan bubuk. Patih Gajah Mada menyapukan bubuk tersebut ke arah Patih Kebo Iwa dengan ilmunya, bubuk kapur menyelimuti tubuh sang patih Nampak Patih Kebo Iwa, sesak napasnya oleh karena bubuk kapur tersebut.

Kiranya bubuk kapur tersebut membuat olah pernapasan Patih Kebo Iwa menjadi terganggu, hal tersebut mengakibatkan kesaktian tubuh Patih Kebo Iwa menjadi lenyap.Patih Gajah Mada melesat ke arah Patih Kebo Iwa, menusukkan kerisnya ke tubuh Kebo Iwa. Dan sebelum kepergiannya, dengan sisa tenaga yang ada Patih Kebo Iwa mengutarakan apa yang ingin dikatakan untuk terakhir kali. Patih Kebo Iwa :

“Kiranya kematianku tidak sia-sia adanya…biarlah nusantara yang kuat bersatu hasil yang pantas atas harga hidupku”.

Patih Gajah Mada dengan raut muka sedih, memberikan jawaban atas perkataan Patih Kebo Iwa. Gajah Mada :

“Kepergianmu sebagai tokoh besar akan terkenang dalam sejarah… Sejarah suatu nusantara yang satu dan kuat”.

Tak lama setelah mendengar pernyataan tersebut, napas terakhirpun pergilah sudah, meninggalkan raga seorang patih tertangguh dalam sejarah Bali… dan pertiwi pun meredup melepas kepergian salah satu putra terbaiknya.

Kisah Kebo Iwa belakngan ini banyak dikaitkan dengan bencana lumpur ( Lumpur Sidoarjo ) karena konon disitulah tempatnya Kebo Iwa diperdaya oleh ki Patih Gajahmada, ketika perang tanding terjadi, Patih Gajahmada sudah terjulur lidahnya keluar dipecik / cekuk oleh Kebo Iwa yang pantang berperang menggunakan senjata, mereka hanya memanpaatkan kekuatan yang ada pada dirinya.

Ketika Ki Patih Gajahmada sudah menjulur lidahnya keluar, tiba tiba mendadak niatnya Kebo Iwa untuk menunda kematian Gajahmada dengan cara ingin tau mengapa Gajahmada seorang Mahapatih yang begitu tersohor namanya, menghadapi Kebo Iwa seorang diri saja mereka masih mempergunakan tipu daya ( pengindra jala ) denga cara mengubur Kebo Iwa dalam sumur- hidup hidup.....? apakah begini strategi perang Majapahit yang terkenal tersebut .

Disitulah akhirnya Gajahmada dengan Isak tangisnya menyatakan bahwa : Disatu sisi dia mengakui kedigjayaan Kebo Iwa Ksatria Bali, disatu sisi mereka konsisten dengan keinginan luhurnya mempersatukan Nusantara. Begitu Kebo Iwa mendengarkan kesaksian Gajahmada yang jujur dan misi yang luar biasa ini "MEMPERSATUKAN NUSANTARA" maka menangislah Kebo Iwa sejadi jadinya, disatu sisi mereka adalah seorang kesatria yang pantang menyerah, distau sisi Kebo Iwa ingin mensuport perjuangan untuk mempersatukan Nusantara, akhirnya Kebo Iwa memilih jalan Ksatria, dengan jalan membuka rahasia kelemahannya dengan satu sarat :

(Statementnya ini ditulis dalam sebuah Prasasti yang ada di Pulau Menjangan sebelah utara Gilimanuk Dalam Pura Gajah mada & Kebo Iwa) yang Berbunyi : “


Wahai Ki Patih Gajahmada, kupersembahkan Pulau Bali ini kepadamu dengan utuh, demi sebuah cita citamu yang luhur "MEMPERSATUKAN NUSANTARA" Namun apabila Pulau bali diperlakukakan secara tidak adil, Majapahit harus bertanggung jawab, aku akan berontak dan menenggelamkan Majapahit sesuai dengan lumpur kapur sirih yang merupakan bubuk yang akan kau siramkan dalam tubuhku, karena disitulah letak kelemahanku, sekarang aku mengalah demi cita citamu yang luhur. Prasati ini terpatri dalam sebuah Pura di Pulau Menjangan.

Dengan meninggalnya patih Ki Kebo Iwa maka tinggal 1 orang lagi orang yang paling berpengaruh yang harus disingkirkan untuk dapat menaklukan Kerajaan Bali. Orang tersebut tiada lain yaitu Krian Pasung Grigis yang merupakan Mangkubumi dari Kerajaan Bali.

Meninggalnya Kebo Iwa akhirnya memuluskan upaya Majapahit untuk melaksanakan ekspedisi ke Bali untuk menangkap Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten. Untuk melaksankan ekspedisi tersebut digelarlah sidang antara Ratu Majapahit dengan para pembesar/ pejabat istana.

Setelah sidang tersebut mulailah Gajah Mada mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk menyerang Bali. Terjadilah ekspedisi Gajah Mada ke Bali pada tahun 1334 dengan Candrasangkala Caka isu rasaksi nabhi (anak panah, rasa, mata pusat). Pasukan Majapahit dipimpin oleh Gajah Mada sendiri bersama panglima perang Arya Damar dibantu oleh beberapa Arya. Setelah sampai di pantai Banyuwangi, tentara Majapahit berhenti sebentar untuk mengatur siasat peperangan. Dari Hasil perundingan tersebut diputuskan untuk menyerang bali dari 3 arah yang berbeda sebagai berikut :

1. Dari Arah Timur - Penyerangan Bali dari arah timur akan dipimpin oleh Patih Gajah Mada bersama dengan para patih keturunan Mpu Witadarma, Krian Pemacekan, Ki Gajah Para, Krian getas akan mendarat di Toya Anyar

2. Dari Arah Utara - Penyerangan Bali dari arah utara akan dipimpin oleh Arya Damar bersama dengan Arya Sentong dan Arya Kutawaringin akan mendarat di Ularan

3. Dari Arah Selatan - Penyerangan Bali dari arah utara akan dipimpin oleh Arya Kenceng bersama dengan Arya Belog (Tan Wikan) Arya Pengalasan dan Arya Kanuruhan akan mendarat di pantai Kuta.


Kita beralih ke suasana di kerajaan Bali, setelah mengetahui kematian Patih Kebo Iwa, Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten kemudian mengadakan rapat penting dengan para patih dan pejabat-pejabat Kerajaan lainnya. Dalam pertemuan tersebut diputuskan bahwa patih Amangkubhumi Pasung Grigis menggantikan Kebo Iwa mengorganisir pasukannya menentang Majapahit. Dalam rapat tersebut seluruh hadirin sepakat mempertahankan Bali dan tidak mau tunduk kepada Majapahit.

Setelah menyeberangi lautan pasukan Majapahit akhirnya mendarat di Pulau Bali. Kedatangan prajurit Majapahit tersebut membuat Pulau Bali bagaikan bergetar, rakyat Bali menjadi panik dan melaporkan hal tersebut kepada pangeran Sri Madatama yang merupakan putra mahkota kerajaan Bali serta kehadapan Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten. Setelah mendengar laporan tersebut, Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten kemudian mengutus putranya pangeran Sri Madatama untuk menyelidiki kebenaran berita tersebut. Setelah memastikan kebenarn berita tersebut Krian Pasung Grigis beserta para patih lainnya segera punggawa menyiapkan pasukannya masing masing dengan membagi pasukan menjadi 3 sesuai arah pengepungan pasukan dari Majapahit :

1. Pertahanan di wilayah Utara dijaga oleh Ki Pasung Grigis, Si Buwan dan Krian Girikmana.

2. Pertahanan di wilayah Barat dijaga oleh Sri Madatama, Ki Tambyak, Ki Walumgsingkat dan Ki Gudug Basur.

3. Pertahanan di wilayah Timur dijaga oleh Ki Tunjung Tutur, Kom Kopang dan Ki Tunjung Biru.


Penyerangan ini mengakibatkan terjadinya pertempuran antara pasukan Gajah Mada dengan kerajaan Bedahulu. Diceritakan pasukan dari arah timur yang dipimpin langsung oleh Patih Gajah Mada sesuai kesepakatan, langsung membakar semak belukar di hutan untuk memberi tanda kepada pasukan dari arah Utara dan selatan bahwa penyerangan akan segera dimulai. Akibat pembakaran hutan tersebut membuat nyala api membumbung tinggi ke angkasa sehingga dapat dilihat oleh para arya dari arah utara dan selatan. Dengan isyarat tersebut dengan serentak para prajurit Majapahit melakukan penyerangan ke Pusat kerajaan Bedahulu.

Pasukan dari arah Timur dipimpin oleh Patih Gajah Mada berhadapan langsung dengan pasukan Bedahulu yang dipimpin oleh Ki Tunjung Tutur yang berkedudukan di Toya Anyar dan Ki Kopang yang berkedudukan di Seraya. Pertempuran berjalan dengan dahsyatnya, saling terjang dan masing masing memperlihatkan kesaktian, kedigjayaan serta kemahiran bertempur, sampai akhirnya pasukan Bedahulu dapat dipukul mundur oleh Pasukan dari Majapahit setelah Ki Tunjung Tutur dan Ki Kopang gugur dalam pertempuran. Pasukan yang masih tersisa akhirnya tercerai berai menyelamatkan hidupnya masing masing.

Dengan gugurnya kedua pemimpin pasukan tersebut maka daerah Tejakula, Bondalem, Julah, Bangkah, Bukti, Sembiran, Tajun, Bontihing, Bila, Depaa, Dausa, Lateng, Tunjuk, Kepakisan, Selulung, Batur dan desa sekitar bintang danu dan bagian timur seperti Tongtongan, Margatiga, Ngis dan Tianyar dapat dikuasai oleh Prajurit Majapahit dibawah Pimpinan Patih Gajah Mada.

Demikian pula pasukan dibawah pimpinan Krian Kepakisan dan Krian Tumenggung dapat menguasai desa Celukan Bawang, Banjar-Aseman, Uma Anyar, Yeh Anakan, Kalopaksa, PatemonUlaran, Unggahan, Gelagah, Kutul, Sepang, sekitar sungai Ubo, Ringdikit, Rangdu, Mayong, Pusuh, Lapuan, Kekeran, Belah-Manukan, Kedis, Gesing, Banyuatis, Gobleg, Cempaga, Kayu Putih, Munduk dan Baha.

Pertempuran di Bali bagian utara juga tidak kalah serunya. Daerah Ularan dipertahankan oleh Ki Girikmana diserang oleh pasukan dari Majapahit dibawah pimpinan Panglima Arya Damar. Terjadi pertempuran antara kedua pimpinan pasukan yaitu Arya Damar dengan Si Girikmana. Kedua pasukan yang tadinya bertempur menghentikan pertempuran untuk menyaksikan perang tanding ke dua tokoh tersebut. Dalam perang tanding yang berlangsung sangat seru tersebut masing masing menunjukkan kesaktiannya untuk secepatnya melumpuhkan musuhnya, sampai akhirnya Si Girikmana tidak mampu menandingi kesaktian Arya Damar sehingga gugur dalam pertempuran sebagai kesatria sejati. Gugur pula dari pihak kerajaan Bali Krian Jembrana sebagai prajurit yuda.

Di Batur pasukan yang dipimpin oleh Arya Damar dihadang oleh Ki Bwan. Dalam pertempuran tersebut Arya Kutawandira mohon diberi kesempatan untuk untuk perang tanding dengan Ki Bwan. Arya Damar mengijinkan dan memberi nasehat untuk berhati hati dalam menghadapi Ki Bwan karena orangnya juga tidak kalah saktinya dengan Si Girikmana sehingga terjadilah pertempuran antara kedua tokoh tersebut. Dalam pertemuran tersebut Ki Bwan tidak mampu menandingi kesaktian Arya Kutawandira sehingga gugur dalam pertemuran sebagai pahlawan.

Dengan gugurnya ke dua pimpinan pasukan dari Bedahulu tersebut maka wilayah Bali bagian utara jatuh ketangan pasukan Majapahit dibawah pimpinan Arya Damar. Panglima perang pasukan Majapahit yang gugur dalam pertempuran tersebut bernama Arya Gait . Dengan gugurnya Ki Girikmana dan Ki Bwan maka daerah Jembrana, Pamagetan, Kebon jangung, Pangesan, Cangku, Pupuhan, Balimbing, Serampangan, penatahan, Jelijih, Punggang, Gadungan, Kayu Kunyit, Uma-Gati, Uma-Bangkah dan desa Selajong dapat dikuasai prajurit Majapahit dibawah pimpinan Arya Damar.

Berbeda dengan Bali bagian utara dan bagian Timur, pertahanan Bali bagian Selatan jauh lebih kuat karena dipimpin langsung oleh Putra mahkota Kerajaan Bali yaitu pangeran Sri Madatama bersama panglima pasukan yang sakti mandraguna yaitu Ki Gudugbasur yang berpangkat demung dan Ki Tambyak yang berkedudukan di Jimbaran. Pasukan dari Bali tersebut bertempur dengan semangat tinggi dengan diiringi oleh gamelan yang gegap gembita sehingga berbaur dengar gemerciknya suara tombak beradu.

Dalam pertempuran tersebut Lurah Kadengayan, Lurah Suwung terlibat pertempuran sengit dengan Arya Wangbang dan Arya Dalancang. Pertempuran tersebut berjalan seimbang dimana Kedua belah pihak sama sama mengeluarkan ilmu pamungkas, sampai akhirnya Lurah Kadengayan dan Lurah Suwung gugur dalam perang tanding tersebut. Melihat temannya gugur dalam pertempuran Ki Demang Kalambang dan Ki Tambyak maju ke medan pertempuran menuntut balas

Ki Tambyak mengamuk dalam pertempuran sehingga membuat pasukan Majapahit tercerai berai. Dalam pertempuran tersebut Arya Pasuruhan tewas di tangan ki Tambyak dan di injak injak dengan kuda sedangkan kyai Banyuwangi lari dikejar oleh pasukan Ki Kalambang. Melihat pasukan Majapahit terus terdesak Arya Kenceng kemudian turun langsung ke medan pertempuran.

Pasukan Majapahit di wilayah Selatan dibawah pimpinan Arya Kenceng menggempur habis habisan, tiada henti hentinya mengurung pasukan musuh dari segala arah. Pasukan Ki Gudug Basur dan Ki Tambyak mulai terdesak dan banyak yang mati terluka. Dalam keadaan terdesak Ki Tambyak berhasil mengalahkan Kyai Lurah Belambangan. Tubuhnya dilemparkan oleh Ki Tambyak sehingga terpelanting ke tempat yang agak jauh. Kyai Lurah Belambangan menghembuskan napasnya yang terakhir, gugur sebagai prawira yuda yang gagah berani. Melihat kawan seperjuangannya gugur, Arya Balancang, Arya Sentong, Arya Wangbang dan Kyai Banyuwangi maju bersamaan untuk mengimbangi kekuatan musuh.

Ki Tambyak adalah seorang patih kerajaan Bali yang sangat teguh dan sakti sehingga sulit untuk dikalahkan, kalau hal tersebut terus dibiarkan maka makin banyak korban yang berjatuhan dari pihak Majapahit. Untuk menghindari hal tersebut maka pimpinan pasukan Majapahit di wilayah selatan yaitu Arya Kenceng memutuskan menghadapi langsung Ki Tabyak. Dalam pertempuran satu lawan satu tersebut masing masing pihak berusaha saling mengalahkan. Karena hebatnya perang tanding tersebut prajurit dari kedua belah pihak sampai menghentikan pertempuran untuk menyaksikan kedua tokoh sakti tersebut saling mengalahkan.

Namun demikian ternyata Arya Kenceng dapat memanfaatkan kelengahan Ki Tambyak sehingga dapat terus menekannya. Ki Tambyak akhirnya gugur dalam pertempuran sampai kepalanya terpisah dari badannya. Dengan gugurnya Ki Tambyak pertahanan Bali di wilayah selatan menjadi lemah karena hanya menyisakan Ki Gudug Basur.

Dalam Pertempuran tersebut Ki Gudug basur diserang dari segala arah oleh para Arya dari Majapahit. Namun I Gudug basur ternyata mempunyai ilmu yang sangat tinggi yaitu teguh, kebal oleh senjata apapun sehingga para Arya mengalami kesulitan untuk mengalahkannya. Namun demikian walaupun tubuhnya tidak dapat terluka apabila terus menerus digempur dari segala arah lama kelamaan Ki Gudig Basur kehabisan tenaga dan sehingga dapat dikalahkan oleh pasukan dari Majapahit.

Dengan Gugurnya Ki Gudug Basur dan Ki Tambyak maka daerah Seseh, Tralangu, Padang Sambian, Kedonganan, Benua, jimbaran, Kuta, Mimba, Suwung, Sesetan, Tuban, Renon, Batankendal, Sanur, Tanjungbungkah, Kaba Kaba, Kapal, Tanah barak, Camagi, Munggu, Parerenan, Dukuh, Kemoning, Pandak, Kelahan, Pancoran, Babahan, Keliting, Cengkik dan Kerambitan dapat dikuasai oleh Prajurit Majapahit dibawah pimpinan Arya Kenceng.

Sisa sisa langkar Bedahulu yang masih tersisa setelah mengalami kekalahan dalam pertempuran menyelamatkan diri dan mengungsi ke daerah Songan, Kedisan, Abang, Pinggan, Munti, Bonyoh, Tarobayan, Serahi, Sukawana, Panarajon, Kintamani, Pludu, Manikliu, dan ada pula yang mengungsi ke daerah timur seperti Culik, Tista, Margatiga, Muntig, Got, Garbawana, Lokasarana, Garinten, Sekul Kuning, Puhan, Hulakan, Sibetan, Asti, Watuwayang, Kadampai, Bantas, Turamben, Crutcut, Datah, Watidawa, Kutabayem

Kemenangan Pasukan Majapahit di wilayah selatan yang dipimpin oleh Arya Kenceng melengkapi kemenangan pasukan Majapahit yang terlebih dahulu berhasil mengusai wilayah Utara dan Timur Pulau Bali sehingga praktis semua daerah pesisir Bali dapat dikuasai. Sekarang tinggallah Krian Pasung Grigis yang bertahan di desa Tengkulak di wilayah Bali Bagian Tengah.

Krian Pasung Grigis adalah seorang yang sakti mandraguna, pemberani dan ahli perang, siasatnya licin, bisa lenyap seperti bayang bayang (maya maya). Menghadapi kenyataan ini patih Gajah Mada menjadi bingung, karena perintah Ratu Majapahit adalah menangkap hidup hidup Krian Pasung Grigis. Jangankan menangkap hidup hidup membunuhnya pun sangat sulit untuk dilaksanakan. Patih Gajah Mada berupaya mencari jalan untuk dapat mengalahkan Pasung Grigis.

“ Kalau begini terus, aku tak akan pernah menang, dan itu berarti aku gagal mewujudkan cita citaku untuk mempersatukan Nusantara. Aku harus mencari akal bagaimana caranya agar Krian Pasung Grigis dapat ditangkap hidup hidup “

Pada malam harinya Patih Gajah Mada mengumpulkan semua Arya dan pasukan untuk diajak berunding.


“ Para Arya dan punggawa semua, kalau kita berperang melawan pasukan Pasung Grigis rasanya kita tidak akan pernah menang. Pasung Grigis amat sakti dan sulit ditaklukkan oleh siapapun. Kita harus mencari jalan dan siasat yang tepat untuk menaklukkannnya. Saya Tahu kesaktian Pasung grigis akan lenyap bila hatinya dikuasai sifat tamah, lupa daratan, mati akan kesombongan hatinya. Oleh karena itu kita buat dia lupa daratan, bangga akan dirinya, keluar semua kesombongannya dan tipu dia supaya dia seolah olah ingkar janji. Pada saat ingkar janji itulah kesaktiaannya akan lenyap dan disanalah kita akan menangkap dia hidup hidup “

Demikian Patih Gajah Mada mengemukakan pendapatnya dan mendapat persetujuan oleh segenap yang hadir. Keesokan harinya sesuai yang telah direncanakan, semua prajurit Majapahit serempak membalikkan senjata serta menaikkan bendera putih pertanda menyerah dan tidak akan mengadakan perlawanan, takluk pada keluasaan Krian Pasung Grigis. Melihat kenyataan tersebut betapa gembira hati Pasung grigis. Beliau tidak berfikit lebih lanjut mengapa secara tiba tiba pasukan Majapahit yang terkenal gagah berani menyerah dan takluk sebelum mengadalkan perlawanan. Beliau hanya menyangka musuh takut akan kesaktiannya.

Demikian bangganya beliau akan kesaktiannya sehingga tidak seorangpun yang bisa mengalahkannya, beliau lupa bahwa diatas langit masih ada langit. Karena mungkin telah menjadi kehendak Dewata sehingga lenyap pertimbangan beliau dan tiada menyadari bahwa beliau telah terkena upaya licin dari Patih Gajah Mada. Beliau menjadi lupa bagaikan kena “sasirep” sehingga tidak menyadari bahaya yang mengancamnya.

Seorang patihnya telah memperingatinya dengan penuh bijaksana

“ Tuangku hendaknya berhati hati menghadapi musuh yang penuh tipu muslihat, bisa saja musuh sengaja memasang perangkap untuk menjebak tuanku. Kita harus waspada karena mereka yang tampaknya sangat kuat dan tidak pernah mengalami kekalahan dalam pertempuran tiba tiba menyerah tidak mengadakan perlawanan “

Namun demikian nasehat dari patihnya tidak dihiraukan karena bangga akan kesaktian yang dimiliki

“ Apa katamu patih, tipu muslihat, mereka benar benar itdak berani melawan aku,. takut akan kesaktian yang kumiliki “

Demikian Krian Pasung Grigis berteriak teriak dengan sombongnya. Patihpun mundur teratur tidak berani mengeluarkan sepatah katapun. Hati Pasung Grigisa sudah diliputi rasa takabur akan kesaktian yang dimiliki.

“ Suruh mereka semua menghadap dengan segera “

Pasung Gerigis memerintahkan punggawanya untuk menemui pasukan dari Majapahit untuk dibawa menghadap ke Istana. Semua arya dan prajurit dari Majapahit mengikuti utusan dari Pasung Grigis untuk karang kepatihan. Rakyat di Tengkulak menyambut gembira kemenangan Kriyan Pasung Grigis dengan berpesta pora. Setibanya di sana para Arya dan punggawa dari Majapahit seperti tidak punya keberanian untuk memandang langsung wajah Pasung Grigis. Sambil mencakupkan tangan Patih Gajah Mada mempermaklumkan kekalahannya. Kata Patih Gajah Mada

“ Prajurit gusti patih sangat gagah berani, apalagi gusti patih juga teramat sakti tiada seorangpun diantara kami semua yang dapat mengalahkan gusti Patih. Gusti memang benar benar tiada tandingannya di dunia ini.

Dengan manisnya Patih Gajah Mada menyanjung Krian Pasung Grigis. Mendengar pujian tersebut tambah hilanglah kesadaran beliau, hatinya seperti diatas awan, lupa segalanya, hatinya sudah dikuasai rajah tamah, sehingga apapun yang akan diminta niscahya akan dikabulkan. Beliau tidak sadar akan perangkap yang dipasang oleh musuhnya.

“ Ya kalian semua telah tahu akan kesaktian yang aku miliki, maka lebih baik kalian menyerah saja “

Dengan bujuk rayu yang manis dan pujian pujian yang membuai pasung Grigis menjadi lupa daratan. Patih Gajah Mada mulai memasang perangkapnya yang licin untuk membuat Pasung Grigis ikar janji sehingga kesaktian yang dimiliki akan lenyap selamanya , karena itulah kelemahan dari Pasung Grigis yang dicari oleh Patih Gajah Mada.

“ Ampunilah permintaan hamba kehadapan Gusti patih, karena hamba mendengar kabar bahwa gusti mempunyai seokor anjing yang cerdik, seekor anjing hitam yang menurut penuturan orang mengerti akan bahasa manusia, seperti layaknya sifat manusia. Apabila Gusti berkenan, hamba mohon dipanggilkan anjing itu dengan menjanjikan akan diberikan makanan. Hamba sangat ingin menyaksikan kecerdikan anjing itu.

Demikianlah perangkap yang dipasang oleh Patih Gajah Mada. Dengan hati yang masih terbuai oleh sanjungan Krian Pasung Grigis segera berteriak memanggil anjingnya, ingin memamerkan kepintaran ajingnya. Anjing hitam tersebut segera muncul dengan membawa tempurung kelapa bundar (kau) dimulutnya, maksudnya supaya diberi makanan oleh majikannya. Setelah sampai di depan majikannya, Anjing itu tampat bersunggut sunggut karena tidak diberi makanan oleh majikannya. Tanpa disadarai ternyata Pasung Grigis telah berbuat ingkar janji kepada anjingnya, karena tidak memberi makanan sesuai yang dijanjikan sebelumnya. Melihat hal tersebut seketika bangkitlah Patih Gajah Mada seraya menuding Krian Pasung grigis.

“ Hai Pasung Grigis ternyata engkau telah ingkar janji pada anjingmu, ingkar pada kata katamu sendiri dan karena telah disaksikan oleh Sang Hayang Triyodana Sakti semoga lenyaplah semua kesaktianmu. Sekarang bagaimana kehendakmu apakah akan mengadu ketangkasan denganku atau dengan salah satu patih atau punggawa yang ku bawa. Ayo angkat senjatamu hadapi aku sekarang juga.

Krian Pasung Grigis membisu seribu basa, tidak disangka dirinya terkena tipu muslihat dari Patih Gajah Mada. Seketika itu beliau merasa tiada bertenaga lagi bagaikan telah terbang semua keberanian beliau, bagaikan terkena senjata Bajra yang dilepaskan Patih Gajah Mada. Dengan tiada harapan lagi Kryan Pasung Grigis akhirnya menyerahkan dirinya dan seluruh rakyatnya dibawah kekuasaan Majapahit.

“ Baiklah aku menyerah, aku baru sadar bahwa kesombongan tidak akan mendapat restu dari para dewata. Dengan ini seluruh pulau Bali dibawah kekuasaan Majapahit “

Demikianlah akhir perlawanan Kryan Pasung Grigis terhadap Majapahit dan selanjutnya Pasung Grigis dipenjaraan di Tengkulak. Dengan tertawannnya Pasung Grigis maka seluruh rakyat dan para pemuka Bali menyatakan tunduk dibawah kekuasaan Majapahit. Peristiwa penundukan Bali oleh Majapahit terjadi pada Tahun saka 1265 atau 1343 M. Pasukan Gajah Mada beserta para Arya merayakan kemenangan ini dengan suka cita.

Dalam ekspedisi Majapahit ke Pulau Bali dapat diuraikan bahwa pasukan Majapahit dibawah pimpinan Patih Gajah Mada dan Arya Damar mengalahkan musuh musuhnya dengan caranya sendiri sendiri. Patih Gajah Mada dengan “Wiweka”nya (akal) sedangkan Arya Damar dengan mengandalkan “Kawisesan”nya atau ilmu magic yang dimilikinya sebagai pengikut setia aliran Bajrayana-Amoghapasa yang menyebabkan pahlawan dan prajurit Bali ketakutan dan menyerah.

Dalam perayaan kemenangan tersebut tiba tiba muncullah utusan dari Ratu Majapahit Tri Bhuwana Tunggadewi yang bernama Kuda Pengasih yang tiada lain merupakan ipar dari Patih Gajah Mada, karena Kuda Pengasih adalah adik Ken Bebed , istri dari Patih Gajah Mada. Kuda Pengasih putra patih Matuwa diutus dari Majapahit untuk memantau langsung pasukan Majapahit dibawah pimpinan Patih Gaja Mada yang telah lama meninggalkan Majapahit. Kuda Pengasih menyaksikan pesta ria yang dilaksanakan untuk menyambut kemenangan yang baru saja diraih pasukan dari Majapahit dengan menundukkan Kryan Pasung Grigis.

Kuda Pengasih kemudian menyampaikan pesan dari Ratu Tribhuwana Wijaya Tunggadewi yang isinya meminta apabila Bali telah berhasil ditaklukkan maka Patih Gajah Mada dan Arya Damar diminta kembali secepatnya ke Majapahit karena telah lama meninggalkan Istana Majapahit, akan tetapi para arya yang lain diperintahkan untuk tetap tinggal di Bali untuk menjaga keamanan Pulau Bali. Para Arya yang ditugaskan di Bali diantaranya :

- Arya Kenceng

- Arya Sentong

- Arya Beleteng

- Arya Kutawaringin

- Arya Belog

- Arya Binculuk


Patih Gajah Mada menyanggupi hal tersebut namun meminta waktu untuk menempatkan para Arya yang akan mampu mempertahankan kekuasaan Majapahit di Pulau Bali. Demikianlah akhir pemerintahan Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten dan dibentuklah pemerintah sementara yang mewakili pemerintahan Majapahit di Bali.



Raja Penguasa Bali 8


4. Dalem Ketut Sri Kresna Kepakisan

DALEM WAWU RAWUH ADIPATI BALI I SETELAH EKSPEDISI MAJAPAHIT WAKIL KERAJAAN MAJAPAHIT DI BALI


Penyerahan Kekuasaan oleh Patih Gajahmada Kepada Sri Dalem Kresna Kepakisan



Setelah kekalahan Kerajaan Bedulu maka Pulau Bali dapat dikuasai sepenuhnya oleh Majapahit maka Pemerintahan sementara diserahkan kepada Mpu Jiwaksara yang kemudian bergelar Ki Patih Wulung. Beliau menempatkan pusat Pemerintahan di Gelgel. - Namun demikian walaupun Bali sudah dikalahkan Majapahit, tidak berarti rakyat dan tokoh-tokoh Bali Aga sudah menyerah. sering terjadi perselisihan antara orang-orang Bali-Aga dengan pasukan Majapahit yang ditugaskan menjaga keamanan di Bali.

Mereka terus mengadakan perlawanan di bawah tanah, dan sekali-sekali muncul ke permukaan, misalnya pemberontakan yang dipimpin oleh Ki Tokawa di Ularan, dan Ki Buwahan di Batur. satunya orang yang masih disegani pada waktu itu adalah Patih Ulung tetapi tidak mempunyai wewenang apapun untuk mengatasi situasi yang tidak tentram di Bali.

Situasi menjadi makin tidak menetu karena para Arya dari Jawa kurang mengindahkan kekuasaan pemerintahan sementara tersebut. Setelah tujuh tahun barulah pemberontakan-pemberontakan dapat dipadamkan, namun rakyat Bedahulu masih belum mau menerima kehadiran "si-penjajah" sepenuh hati.

Melihat keamanan sudah membaik dan Pemerintahan sudah dapat berjalan sebagaimana mestinya, maka pada tahun 1350 M atau 1272 isaka, terdorong oleh keinginan luhur untuk menjaga keutuhan Bali maka Patih Ulung bersama dua orang keluarganya Arya Pemacekan dan Arya Kepasekan memberanikan diri menghadap ke Majapahit yang bertujuan melaporkan situasi di Bali dan memohon penunjukan seorang Raja di Bali Dwipa yang mampu meredakan ketegangan di Bali.

Kemudian atas saran Patih Agung Gajah Mada, pada tahun itu juga dilantiklah empat orang Raja, putra-putri Sri Soma Kepakisan, untuk memimpin kerajaan-kerajaan yang sudah ditaklukkan, yaitu:

1. Ida Nyoman Kepakisan menjadi Raja di Blambangan

2. Ida Made Kepakisan menjadi Raja di Pasuruan,

3. Ida Nyoman Istri Kepakisan/Dalem Sukanya diperistri Raja Sumbawa

4. Ida Ketut Kresna Kepakisan menjadi Raja di Bali Dwipa.


Sri Soma Kepakisan Adalah penasehat Patih Gajah Mada. Konon beliau lahir dari batu. Pada saat beliau memuja Dewa Surya (Surya Sewana), beliau bertemu dengan bidadari. Bidadari itu dinikahinya. Setelah beliau berputra, putra-putranya itu diminta oleh patih Gajah Mada sebagai raja di wilayah yang sudah ditaklukan oleh Majapahit . Sebelum itu Ki Patih Gajah Mada sudah memohon putra Ida Mpu Danghyang Soma Kepakisan - sebagai pendeta guru utama di Kediri, yang bernama Ida Sri Kresna Kepakisan, untuk diasuh di Majapahit. Ida Mpu Soma Kepakisan itu tiada lain saudara dari Ida Mpu Danghyang Panawasikan, Ida Mpu Danghyang Siddhimantra dan Ida Mpu Asmaranatha.

Pada saat di Bali serta daerah lain tidak memiliki penguasa, serta dalam upaya menyelenggarakan Kesejahteraan di masing-masing wilayah, maka sesuai dengan perintah Raja Majapahit, Mahapatih Gajah Mada meminta putra Ida Sri Kresna Kapakisan yang sudah dewasa untuk dijadikan penguasa atau Dalem di Bali.

"Pakis" berarti Paku. Gelar Kepakisan diberikan kepada Brahmana yang ditugasi sebagai Raja (Dalem) atau Kesatria. Gelar Kepakisan yang diberikan kepada Kesatria adalah: Sira-Arya Kepakisan. Beliau adalah keturunan Sri Jayasabha, berasal dari keturunan Maha Raja Airlangga, Raja Kahuripan (Jawa). Gelar "Paku" di Jawa pertama kali digunakan oleh Susuhunan Kartasura: Paku Buwono I pada tahun 1706 M.


Diceritakan Mpu Wira Dharma berputra tiga orang yaitu: Mpu Lampita, Mpu Adnyana, Mpu Pastika. Selanjutnya Mpu Pastika berputra dua orang yaitu: Mpu Kuturan berasrama di Lemah Tulis dan Mpu Beradah pergi ke Daha serta menjadi pendeta kerajaan (bhagawanta) dari Raja Airlangga dan dikaitkan dengan cerita Calonarang yang amat terkenal di Bali. Kemudian Mpu Beradah berputra seorang yang bernama Mpu Bahula yang kemudian kawin dengan Ratnamanggali. Dari perkawinan ini lahirlah beberapa putra: Mpu Panawasikan, Mpu Asmaranatha, Mpu Kepakisan dan Mpu Sidimantra.

Akhirnya Mpu Panawasikan berputra: Mpu Angsoka, Mpu Nirartha. Mpu Kepakisan yang berputra empat orang yaitu: tiga putra dan seorang putri. Putra yang bungsu Mpu Kresna Kepakisan diangkat menjadi raja di Bali.

Dengan demikian Sri Kresna Kepakisan yang menjadi Raja di Bali adalah dari keturunan Brahmana yang kebangsawanannya diubah menjadi kesatrya atau dari Danghyang/ Mpu menjadi Sri. 


B. PENGANGKATAN DINASTI SRI KRESNA KEPAKISAN

Dalem Ketut kemudian bergelar Dalem Sri Kresna Kepakisan, mulai memimpin Pemerintahan Kerajaan Bali Dwipa pada tahun 1350 M atau 1272 isaka. Oleh penduduk Bali beliau disebut sebagai I Dewa Wawu Rawuh atau Dalem Tegal Besung. Dalam Perjalanannya dari Majapahit ke Pulau Bali rombongan dari majapahit mendarat di pantai Lebih, kemudian ke arah timur laut menuju Samprangan




Dalam pemerintahannya Dalem Sri Kresna Kepakisan didampingi oleh Arya Kepakisan/ Sri Nararya Kresna Kepakisan yang menjabat sebagai Patih Agung berasal dari Dinasti Warmadewa yang merupakan keturunan Raja atau Kesatrya Kediri. Sehingga baik Adipati maupun Patih Agungnya berasal dari satu desa yaitu desa Pakis di Jawa Timur sehingga setibanya beliau di Bali menggunakan nama yang hamper sama yaitu Adipatinya bergelar Dalem Ketut Kresna Kepakisan sedangkan patih agungnya bergelar Arya Kepakisan atau Sri Nararya Kresna Kepakisan

Dalam pemerintahannya dalem didampingi oleh Ki Patih Wulung yang menjabat sebagai Mangku Bumi. Ibu kota Kerajaan dipindahkan dari Gelgel ke Samprangan (Samplangan). Dipilihnya Daerah Samprangan karena ketika ekspedisi Gajah Mada, desa Samprangan mempunyai arti historis, yaitu sebagai perkemahan Gajah Mada serta tempat mengatur strategi untuk menyerang kerajaan Bedahulu. Dalam kenyataan menunjukkan bahwa jarak desa Bedahulu ke Samprangan hanya kurang lebih 5 km.

Dari Babad Dalem diketahui bahwa dalam menjalankan pemerintahan sebagai wakil dari Majapahit di Pulau Bali Dalem Sri Kresna Kepakisan dibekali dengan pakaian kebesaran kerajaan dan sebilah keris yang bernama Si Ganja Dungkul yang memberikan konsep kebudayaan yang memadukan kebudayaan Jawa dengan Bali, dan tanda-tanda kebesaran itu berfungsi sebagai symbol atau lambang kekuasaan yang sah.


Dalem Sri Kresna Kepakisan beristri dua, yaitu yang pertama:

1. Ni Gusti Ayu Gajah Para, merupakan putri dari Arya Gajah para melahirkan:

2. Dalem Wayan (Dalem Samprangan)

3. Dalem Di-Madia (Dalem Tarukan)

4. Dewa Ayu Wana (putri, meninggal ketika masih anak-anak)

5. Dalem Ketut (Dalem Ketut Ngulesir). I

6. Dari Istri yang kedua: Ni Gusti Ayu Kuta Waringin merupakan putri dari Arya Kutawaringin , melahirkan: Dewa Tegal Besung.


C. SISTEM PEMERINTAHAN

Masa pemerintahan Sri Kresna Kepakisan di Bali merupakan awal terbentuknya dinasti baru yaitu dinasti Kresna Kepakisan yang kemudian berkuasa di Bali sampai awal abad ke-20 (1908). Beliau membawa pengaruh-pengaruh baru dari Majapahit termasuk para bangsawan. Bangsawan baru ini merupakan kelompok elite yang menempati status dan peranan penting atas struktur pelapisan masyarakat Bali. Hal ini sekaligus menggeser kedudukan dan peranan bangsawan dari kerajaan Bali Kuno.

Semasa pemerintahan Sri kresna Kepakisan di Samprangan diwarnai dengan pemberontakan-pemberontakan di desa-desa Bali Aga seperti: desa Batur, Cempaga, Songan, Kedisan, Abang, Pinggan, Munting, Manikliyu, Bonyoh, Katung, Taro, Bayan, Tista, Margatiga, Bwahan, Bulakan, Merita, Wasudawa, Bantas, Pedahan, Belong, Paselatan, Kadampal dan beberapa desa yang lain.

Atas peristiwa pemberontakan yang terus-menerus Dalem merasa putus asa dan mengirim utusan ke Majapahit, melaporkan bahwa Dalem tidak mampu mengatasi situasi di Bali. Untuk memecahkan persoalan ini, Gajah Mada memberikan nasehat kepada Kresna Kepakisan, serta simbul-simbul kekuasaan dalam bentuk pakaian kebesaran dan keris pusaka Ki Lobar disamping keris yang bernama Si Tanda Langlang yang terlebih dahulu belia bawa.


D. SISTEM PEMERINTAHAN

Raja yang dianggap sebagai penjelmaan dewa di dunia, memegang otoritas politik tertinggi dan menduduki puncak hierarki kerajaan. Dalam melaksanakan pemerintahan, raja dibantu sejumlah pejabat birokrasi. Para putra dan kerabat dekat raja diberi kedudukan tinggi dalam jabatan birokrasi. Para putra mahkota sebelum menjadi raja biasanya mereka diberi kedudukan sebagai raja muda (Yuwaraja). Raja dibantu oleh suatu lembaga yang merupakan dewan pertimbangan pada raja. Anggotanya ialah para sanak saudara raja. Dalam kekawin Negara Kertagama disebut dengan nama Pahem Narendra

Jabatan yang lain ialah Dharma Dhyaksa ialah pejabat tinggi kerajaan yang bertugas menjalankan fungsi yurisdiksi keagamaan. Ada dua Dharma Dhyaksa yaitu Dharma Dhyaksa ring Kasaiwan untuk urusan agama Siwa, dan Dharma Dhyaksa ring Kasogatan untuk urusan agama Budha. Dalem Sri Kresna Kepakisan dalam menjalankan pemerintahannya di bantu oleh para Arya yang terlebih dahulu menetap di Bali yang kedatangannya bersamaan dengan ekspedisi Majapahit bersama Patih Gajah Mada juga dibantu para Arya yang menyertai perjalanan Dalem Sri Kresna Kepakisan dari Majapahit ke Bali.


Para arya tersebut diantaranya :

1. Arya Kenceng mengambil tempat di Tabanan

2. Arya Kanuruhan mengambil tempat di Tangkas

3. Kyai Anglurah Pinatih Mantra di Kertalangu

4. Arya Dalancang mengambil tempat di Kapal

5. Arya Belog mengambil tempat di Kaba Kaba

6. Arya Pangalasan

7..Arya Manguri

8. Arya Gajah Para dan adiknya Arya Getas mengambil tempat di Toya Anyar

9..Arya Temunggung mengambil tempat di Petemon

10. Arya Kutawaringin bertempat tinggal di Toya Anyar Kelungkung

11. Arya Belentong mengambil tempat di Pacung

12. Arya Sentong mengambil tempat di Carangsari

13. Kriyan Punta mengambil tempat di Mambal

14. Arya Jerudeh mengambil tempat di Tamukti

15. Arya Sura Wang Bang asal Lasem mengambil tempat di Sukahet

16. Arya Wang Bang asal Mataram tidak berdiam di mana-mana

17. Arya Melel Cengkrong mengambil tempat di Jembrana

18. Arya Pamacekan mengambil tempat di Bondalem

19. Sang Tri Wesya: Si Tan Kober di Pacung, Si Tan Kawur di Abiansemal dan Si Tan Mundur di Cegahan

Demikian dikatakan di Babad Dalem.


E. KEHIDUPAN KEAGAMAAN

Mengenai kehidupan beragama pada masa kerajaan Samprangan tidak begitu banyak diketahui karena kerajaan Samprangan berlangsung tidak begitu lama yaitu kurang dari setengah abad. Selain itu keadaan pemerintahan belum stabil sebagai akibat munculnya pemberontakan pada desa-desa Bali Aga. Agama yang dianut masyarakat pada masa ini adalah diduga Siwa-Budha, dimana dalam upacara-upacara keagamaan kedua pendeta itu mempunyai peranan yang penting.


Kehidupan Masyarakat Bali Jaman Dulu


Apabila ditinjau dari segi jumlah penganut dan pengaruhnya, agama Siwa tergolong lebih besar dari agama Budha, karena menurut sumber-sumber arkeologi agama Siwa berkembang lebih dulu dari agama Budha. Agama Siwa yang dipuja ketika ini adalah dari aliran Siwa-Sidhanta dengan konsep ke-Tuhanannya yang disebut Tri Murti yaitu tiga kemahakuasaan Hyang Widhi: Brahma, Wisnu, dan Siwa.

Ketiga Dewa Tri Murti tadi akhirnya dimanifestasikan ke dalam setiap desa adat di Bali yang terkenal dengan nama Pura Kahyangan Tiga, yaitu: Pura Desa/Bale Agung sebagai sthana dari Dewa Brahma, Pura Puseh sthana Wisnu dan Pura Dalem sthana Siwa. Selain pura-pura untuk pemujaan Hyang Widhi beserta manifestasinya juga terdapat tempat pemujaan untuk roh suci leluhur yakni Bhatara/Bhatari yang disebut: Sanggah/Pemerajan, Dadia/Paibon, Padharman.


(gambar kiri: Pura Besakih)


Di Gelgel, semasa pemerintahan Ide Bethara Dalem Semara Kepakisan dibangun pula Pura Dasar Bhuwana yang disungsung oleh warga keturunan Ide Bethara Dalem Sri Kresna Kepakisan, Ide Bethara Mpu Gnijaya (Pasek Sanak Sapta Rsi), dan keturunan Ide Bethara Mpu Saguna (Maha Smaya Warga Pande).

Dalem Kresna Kepakisan adalah penganut sekte Waisnawa, mungkin saja dari Sub Sekte Bhagawata , mengingat nama kresna yangbelau pergunakan sehingga wajarlah beliau dikelilingi oleh para Bujangga Waisnawa, baik Bujangga Waisnawa yang di bali maupun yang menyertai Beliau dari Jawa.


F. BIDANG KESENIAN DAN KESUSASTRAAN

Kehidupan seni budaya ketika itu telah berkembang dengan baik sebagai kelanjutan perkembangan seni budaya jaman Bali Kuna abad 10-14 M. Ketika itu masyarakat Bali telah mengenal beberapa jenis kesenian seperti: lakon topeng, diman pada jaman Bali Kuna disebut dengan nama pertapukan.

Demikian pula tontonan wayang telah dikenal pada masa Bali Kuna yang disebut Parwayang. Seni tabuh telah pula dikenal dalam prasasti Bali Kuna disebut-sebut nama alat pemukul gamelan, tukang kendang, peniup seruling dan lain- lainnya Ketika masa Samprangan masyarakat Bali telah mengenal beberapa kitab kesusastraan yang berfungsi sebagai penuntun kejiwaan masyarakat, sehingga mereka dapat berbuat sesuai dengan ajaran-ajaran agama. Beberapa kitab kesusastraan yang dikenal ketika masa Samprangan adalah: kesusastraan Calonarang, Bharatayuddha, Ramayana, Arjuna Wiwaha dan lain-lain.


G. AKHIR MASA PEMERINTAHAN

Dalem Sri Kresna Kepakisan moksah pada tahun 1373 M atau 1295 isaka. Beliau digantikan oleh putranya yang tertua yaitu Dalem Wayan, bergelar Dalem Sri Agra Samprangan.



Raja Penguasa Bali 9


5. Dalem Agra Srampangan (DALEM ILE/ADIPATI BALI II)

Sesuai dengan adat istiadat yang berlaku maka setelah Dalem Ketut Kresna Kepakisan wafat, maka beliau digantikan oleh putranya yang sulung yaitu: Dalem Agra Samprangan.

Di awal pemerintahan Dalem Sri Agra Samprangan (tahun 1373 M atau 1295 isaka) terasa situasi di Puri Samprangan memburuk, yaitu adanya upaya mengadu domba Raja dengan adik-adik beliau yang dilakukan oleh para Menteri dan pembantu dekat Raja.

Untuk menghindari pertengkaran, maka kedua adik Dalem yaitu Dalem Di-Madia dan Dalem Ketut, memilih tinggal di luar istana. Dalem Di-Madia membangun istana dan bermukim di Desa Tarukan, Pejeng, oleh karena itu beliau bergelar : Dalem Tarukan. Dalem Ketut, tidak menetap. Beliau berpindah-pindah dari satu Desa ke Desa lain, menyamar sebagai penjudi ayam aduan; penduduk lalu menjuluki beliau : Dalem Ketut Ngulesir.

Selain untuk menghindari pertengkaran, beliau berdua juga bermaksud menyelidiki dukungan rakyat Bali (Bali-Aga) terhadap pemerintahan Samprangan serta mengadakan pendekatan dengan rakyat. Ide Bethara Dalem Tarukan memilih Desa Tarukan di Pejeng sebagai istana, karena dekat dengan rakyat Bedahulu yang sebagian besar masih belum mengakui pemerintahan Samprangan.


SISTEM PEMERITAHAN

Dalem Samprangan tidak sukses dalam mengendalikan roda pemerintahan karana wataknya yang lamban dan gemar bersolek sehingga diberikan julukan Dalem Ile. Akhirnya baginda kurang berwibawa di mata masyarakat

Sementara itu pergolakan di Puri Samprangan makin memanas, ditandai dengan pemberian julukan yang tidak pada tempatnya kepada Raja, di mana Dalem Sri Agra Samprangan diberi julukan Dalem Ile (Ile=gila), Dalem Tarukan dinyatakan "rangseng" (=gila karena marah), dan Dalem Ketut dinyatakan sangat suka berjudi, khususnya mengadu ayam.

Julukan tidak pada tempatnya yang diberikan kepada para Raja itu sangat bertentangan dengan ajaran agama Hindu yang senantiasa mengajarkan penghormatan tinggi kepada Pemimpin Pemerintahan. Penghinaan kepada Raja itu jelas fitnah, karena jika benar adanya, pasti Maha Raja Majapahit dan Maha Patih Gajah Mada tidak akan tinggal diam. Tindakan pemecatan atau penggantian Raja pasti dilakukan. Selain itu, jika julukan itu benar, para musuh, yaitu rakyat Bedahulu akan mempunyai peluang yang baik untuk menggulingkan Pemerintahan Samprangan

Pada masa pemerintahan Dalem Agra Samprangan, para Arya pejabat-pejabat mentri terdahulu kebanyakan telah lanjut usia, sehingga untuk menjabat kedudukan sebagai mentri digantikan oleh para putra Arya itu masing-masing. Para mentri semakin cemas akan kehancuran yang mengancam keutuhan kerajaan Bali karena gejala perpecahan semakin menonjol.

Akhirnya Kyai Klapodnyana (Kyai Kubaon Tubuh) bendesa Gelgel putra pertama Arya Kutawaringin, dengan tegas mengambil keputusan untuk mencari I Dewa Ketut Ngulesir, hendak dinobatkan menjadi raja, dengan penuh tanggung jawab dan segala resiko yang ditimbulkan. Sebab I Dewa Tegal Besung masih kanak-kanak, belum pantas dinobatkan sebagai kepala pemerintahan.

Setelah mengadakan musyawarah para Arya dan berikrar yang tempatnya di pura Dalem Tugu (Gelgel) dan setelah mencapai kata sepakat, rombongan yang dipimpin sendiri oleh Kyai Klapodnyana berangkat mencari I Dewa Ktut Ngulesir. Kemudian rombongan tiba di desa Pandak (Tabanan), di mana I Dewa Ketut Ngulesir didapati sedang berada di tempat judian.

Tanpa ragu-ragu dengan sangat sopan dan hormat, serta dilandasi dengan ketulusan hati yang mendalam, memohon perkenan I Dewa Ketut Ngulesir untuk kembali ke Istana menduduki singgasana kerajaan, supaya kerajaan Bali terhindar dari malapetaka kehancuran, sebab tidak ada pilihan lain lagi.

Dalem Agra Samprangan setelah menerima hal itu, tidak menghiraukan kedudukannya I Dewa Ktut Ngulesir di Gelgel, demikian pula sebaliknya Dalem Ktut tidak durhaka atas kekuasaan Dalem Samprangan. Jadi seolah-olah dua kerajaan kembar yang saling menghormati, sampai saat wafatnya Dalem Agra Samprangan, yang berarti berakhirnya kerajaan Samprangan dan menjadi besarnya kerajaan Gelgel.


KETURUNAN DALEM SAMPRANGAN

Menurut Babad Dalem , Sri Agra Samprangan mempunyai putra :

1. I Dewa Gedong Artha

2. I Dewa Nusa

3. I Dewa Anggunan

4. I Dewa Pagedangan

5. I Dewa Bangli


KEHANCURAN PURI TARUKAN

Setelah selesai membangun Puri, Dalem Tarukan menikahi seorang gadis dari Gunung Lempuyang. Karena belum mempunyai putra, beliau mengajak kemenakannya, yaitu cucu Dalem Wayan, Raja Blambangan, bernama: Kuda Penandang Kajar untuk tinggal bersama-sama di Puri Tarukan. Kuda Penandang Kajar adalah seorang pemuda yang tampan, gagah, dan mempunyai kekuatan batin yang tinggi, khusus untuk meneliti apakah tanah ada kandungan emasnya atau tidak. Karena itulah Puri Tarukan sangat mewah dan terkesan kaya raya karena dipenuhi ornamen emas murni. Dalem Tarukan sangat menyayangi kemenakannya.

Pemerintahan Samprangan di ambang kehancuran, karena tidak adanya dukungan dari para Menteri dan pembantu Raja. Dalem Wayan merasa perlu memanggil adik beliau yaitu Dalem Ketut untuk diajak kembali tinggal di Puri Samprangan. Maksudnya agar Dalem Ketut turut membantu beliau menyelenggarakan pemerintahan. Perbekel Kaba-Kaba diutus beliau untuk menjemput Dalem Ketut ke Desa Pandak, tetapi Dalem Ketut menolak karena beliau merasa belum mampu memimpin kerajaan di Samprangan. Jika Samprangan telah dipenuhi oleh para menteri dan pembantu Raja yang tidak setia, apakah beliau akan dapat memimpin dengan baik ?

Sementara Dalem Ketut mencari jalan keluar memecahkan masalah ini, datanglah Kuda Penandang Kajar sebagai utusan Dalem Tarukan memohon Dalem Ketut pulang untuk memimpin Kerajaan Samprangan. Dalem Tarukan sendiri tidak berniat menjadi Raja, karena beliau lebih tertarik kepada profesi kepanditaan.

Pesan lain yang disampaikan Kuda Penandang Kajar adalah, jika Dalem Ketut berkenan, beliau dibolehkan menggunakan istana Tarukan. Walaupun penjemputan kali ini penuh penghormatan dan kemewahan, misalnya dengan kuda tunggangan istimewa bernama I Gagak dan sebuah keris milik Dalem Tarukan yang bernama I Pangenteg Rat, Dalem Ketut tetap menolak permintaan kakaknya itu, sekali lagi dengan alasan belum mampu memimpin atau menjadi Raja.

Kecewa karena tugasnya tidak berhasil, Kuda Penandang Kajar kembali ke Tarukan dengan lesu. Di perjalanan beliau disambar burung gagak hingga destarnya jatuh. Sesampainya di gerbang istana Tarukan, dilihatnya puncak gelung kuri terpenggal. Hanya Kuda Penandang Kajar yang melihat demikian, sementara para pengiringnya tidak melihat puncak gelung kuri itu terpenggal. Pertanda buruk ini terkesan mendalam di hati Kuda Penandang Kajar, sampai-sampai beliau jatuh sakit. Dalem Tarukan prihatin pada sakit yang diderita kemenakannya ini.

Sementara itu tersiar berita yang mengagetkan, bahwa para panglima perang Samprangan merencanakan memerangi Kerajaan Blambangan. Dalem Tarukan tidak setuju dengan rencana itu, mengingat bahwa Dalem Blambangan, yaitu ayah Kuda Penandang Kajar, masih saudara sepupu beliau. Dalem Tarukan berpendapat bahwa rencana itu mempunyai latar lain, mungkin saja gerakan merebut kekuasaan, yaitu bila prajurit dikerahkan ke Blambangan, Dalem Wayan akan mudah digulingkan.

Dalem Tarukan cepat mengambil inisiatif untuk mengikat tali persaudaraan antara Samprangan dengan Blambangan, yaitu dengan menikahkan Kuda Penandang Kajar dengan putri Dalem Wayan, bernama I Dewa Ayu Muter. Dengan ikatan tali persaudaraan itu, perang dapat dicegah. Sakitnya Kuda Penandang Kajar menjadi suatu jalan untuk memohon restu para Dewata. Jika Dewata mengijinkan pernikahan ini, kesembuhan Kuda Penandang Kajar menjadi suatu batu ujian. Pertimbangan lain, Dalem Tarukan melihat bahwa Kuda Penandang Kajar sudah cukup dewasa, dan dari gelagat sehari-hari nampaknya tertarik kepada I Dewa Ayu Muter. Terucaplah tegur sapa Dalem Tarukan kepada Kuda Penandang Kajar:

Duhai anakku, segeralah sembuh; ayah berkeinginan mengawinkan anak dengan I Dewa Ayu Muter.

Ternyata permohonan Dalem Tarukan kepada para Dewata terkabul. Kuda Penandang Kajar segera sembuh dan sehat seperti semula. Tentu saja Dalem Tarukan sangat bergembira. Kini beliau merencanakan mewujudkan perkawinan kedua muda-mudi itu. Untuk meminang tentu saja tidak mungkin, karena posisi Dalem Wayan sangat lemah. Beliau hampir tidak dapat memutuskan sesuatu. Semua keputusan diambil oleh para Menteri.

Akhirnya dilaksanakanlah perkawinan secara adat kawin-lari. Awalnya perkawinan itu berjalan lancar, sampai pada malam hari terjadi hal yang merupakan akhir dari keberadaan Puri Tarukan. Kedua mempelai yang sedang berbulan madu di peraduan, tewas berbarengan tertusuk senjata keris.

Seorang abdi perempuan pengasuh I Dewa Ayu Muter di Puri Samprangan melaporkan secara tergesa-gesa kepada Dalem Wayan bahwa putri beliau satu-satunya , yaitu I Dewa Ayu Muter, semalam telah tewas di Puri Tarukan terbunuh oleh Ki Tanda Langlang. Dalem Wayan tentu saja sangat terkejut dan segera memanggil para menterinya. Seorang panglima perang menyampaikan ceritra yang lengkap, serta memperkuat keyakinan Dalem Wayan bahwa putri beliau bersama-sama Kuda Penandang Kajar benar telah tewas ditikam Ki Tanda Langlang.

Betapa murkanya Dalem Wayan setelah mendapat penjelasan para Menterinya itu. Segera disuruhlah memukul kentongan dengan suara "bulus" sehingga para prajurit segera berkumpul di halaman istana. Di saat itu Dalem Wayan memerintahkan pasukan Dulang Mangap yang dipimpin Panglimanya Kiyai Parembu, menyerang menghancurkan Puri Tarukan serta menangkap Dalem Tarukan hidup atau mati.

Dengan bersorak gegap gempita pasukan itu bergegas menuju Puri Tarukan.Kini diceritakan Ide Bethara Dalem Tarukan di Puri Tarukan. Betapa sedih dan terkejutnya beliau menyaksikan nasib yang tragis menimpa putra kesayangannya bersama menantunya yang meninggal di kamar pengantin justru pada malam pertama yang seharusnya berkesan sangat bahagia.

Beliau sadar bahwa kejadian ini adalah puncak upaya yang sangat keji dari orang-orang yang ingin menguasai kerajaan Samprangan. Beliau ingin menyelesaikan masalah ini melalui pembicaraan dengan kakak beliau, tetapi nampaknya keadaan sudah tidak memungkinkan lagi karena Dalem Wayan sudah termakan fitnah.

Terdengar pula berita bahwa pasukan Dulang Mangap sedang menuju Puri Tarukan untuk menangkap beliau dan menghancurkan Puri Tarukan. Di saat yang berbahaya itu beliau cepat berpikir dan kemudian dikumpulkanlah semua prajurit Tarukan. Beliau meminta agar bila pasukan Dulang Mangap datang, prajurit Tarukan menyerah, tidak melawan, dengan cara membuang senjata dan duduk bersila di tanah dengan posisi kedua tangan memeluk tengkuk (leher bagian belakang).

Beliau juga meminta agar permaisuri tetap tinggal di istana dan menyerah kepada Dalem Wayan. Betapa sedih dan pilu hati permaisuri tiada terperikan. Ingin beliau menyertai Dalem Tarukan pergi ke mana saja, tetapi itu tidak mungkin karena beliau sedang hamil besar.

Prajurit Tarukan juga tidak mau menyerah begitu saja. Mereka sangat mencintai Dalem Tarukan dan meminta diijinkan menghadapi pasukan Dulang Mangap sampai habis-habisan (perang puputan). Dalem Tarukan tidak mengijinkan. Beliau mengingatkan bahwa masalah ini adalah masalah pertikaian antar keluarga, yaitu beliau dengan kakak beliau, Dalem Wayan.

Beliau tidak ingin karena pertikaian keluarga ini lalu rakyat yang menjadi korban sia-sia. Dengan berat hati beliau juga berpesan kepada permaisuri agar baik-baik menjaga putranya yang masih di kandungan. Permaisuri tetap berlutut meratapi keputusan Dalem Tarukan. Dalem Tarukan berusaha menenangkan permaisuri dengan mengatakan bahwa kejadian ini sudah kehendak Dewata. Kita sebagai manusia tiada daya menolak kehendak Yang Maha Kuasa. Karena itu pasrahlah; serahkanlah hidup mati kita kepada-Nya.

Setelah itu beliau segera berangkat seorang diri ke arah utara. Pasukan Dulang Mangap di bawah Panglimanya Kiyai Parembu dengan teriakan-teriakan histeris bagaikan serigala haus darah, tiba di Puri Tarukan. Mereka terheran-heran karena melihat semua pasukan dan rakyat Tarukan menyerah total tanpa perlawanan, bahkan duduk bersila dengan pandangan menunduk memandang tanah. Sesuai aturan perang, seorang kesatria tidak akan membunuh pasukan yang sudah menyerah apalagi tanpa senjata.

Mereka masuk ke istana, memeriksa setiap sudut tetapi tidak menjumpai jejak Dalem Tarukan. Mereka hanya menemukan permaisuri beliau yang bersimpuh berurai air mata. Pasukan Dulang Mangap lalu menjarah isi Puri Tarukan dan membakar sampai habis Puri Tarukan. Para tawanan digiring ke Puri Samprangan. Kejadian yang memilukan ini terjadi pada tahun 1377 M atau 1299 isaka.



6. Dalem Ketut Ngulesir (1380). Raja Bali III  

(DALEM KETUT SEMARA KEPAKISAN) MENDIRIKAN KERAJAAN GELGEL

Pemerintahan Dalem Ketut Ngulesir di Gelgel Dalem Ketut Ngulesir bertahta di Gelgel tahun 1383 M bergelar Dalem Ketut Semara Kepakisan, Beliau membangun istana di Gelgel di kebun kelapa milik Kriyan Kalapa Diana putra Arya Kutawaringin. Dalem Ketut Ngulesir mempersunting anak Arya Kebon Tubuh dan menurunkan putra Dalem Watur Enggong.

Berita pengangkatan Dalem ini didengar oleh Dalem Samprangan namun tidak bereaksi karena beliau sudah kehilangan gairah hidup. Para menteri dan pembantu Raja di Samprangan banyak yang berpindah ke Gelgel atas kemauan sendiri karena merasa lebih senang mengabdi kepada Dalem Ketut. Roda pemerintahan diatur dari Gelgel yang telah berganti nama menjadi Suwecapura. Sebagai ibukota Kerajaan Gelgel disebut Linggarsa Pura.

Demikian pula Kyai Agung Nyuhaya yang menjabat sebagai patih Agung Samprangan turut pindah ke Gelgel diikuti oleh putra tertuanya yaitu Kyai Petandakan dan menetap di Karang Kepatihan. Para Manca yang tinggal di pedesaan dan pegunungan mendengar berita ini lalu datang menyatakan dukungan dan kesetiaan kepada Dalem Ketut Ngulesir.


DIUNDANG KE MAJAPAHIT

Pada masa pemerintahan Sri Hayam Wuruk di Majapahit, diselenggarakan yajnya besar-besaran dengan mengundang raja-raja dari luar Majapahit. Dalem Ketut Ngulesir menghadiri undangan upacara/ yajnya itu. Berangkat dengan tata cara kebesaran diiringkan oleh pejabat- pejabat kerajaan, dengan pimpinan I Gusti Kubon Tubuh. Diuraikan tentang perjalanan rombongan raja Bali keindahan alam yang melatari perjalanan tersebut. Akhirnya tiba di Majapahit. Dilanjutkan dengan kisah suatu persidangan para raja, di mana raja Bali menjadi kekaguman para hadirin.

Semua raja raja bawahan mendapat penghargaan dari Raja Hayam Wuruk, sedangkan raja Bali dianugrahkan keris “Begawan Canggu” .Baginda menyaksikan tanda hitam (seperti tattoo) berbentuk gambar "Caurri", pada paha raja Bali kemudian raja-raja dari luar Majapahit kembali ke daerahnya masing-masing.

Pada waktu itu pula Dalem Ketut Ngulesir mengutus seseorang untuk mencari seorang Brahmana dari Keling yang konon sangat sakti dan termasyur. rencana raja Bali untuk melakukan "Podgala". Mengundang pendeta dari Keling bernama Jangganing Kayu Manis untuk "Nabe".


MENYELESAIKAN KESALAH-PAHAMAN

Suatu kisah permohonan Kyayi Nyuhaya untuk membunuh Kyayi Gusti Abian Tubuh karena terjadi salah paham yang diakibatkan oleh perkawinan dengan Kyayi Gusti Abian Tubuh dengan I Gusti Ayu Adi, kakak kandung Kyayi Nyuhaya. Pertikaian itu, diselesaikan dengan cermat oleh raja Sri Smara Kepakisan, tercipta kekeluargaan yang terjalin akrab antara mereka.

Menyusul pengacauan harimau hitam di Blambangan, Raja Bali mengutus Kyayi Kubon Tubuh yakni untuk menumpasnya, harimau itu dapat dibunuh oleh Kyayi Kubon Tubuh. Kemudian raja Bali menghadiahkan "Piagam" dan Pura Dalem Tlugu, kepada Kyayi Gusti Kubon Tubuh, dan sebilah sumpitan bernama Ki Macan Guguh.


AKHIR MASA PEMERINTAHAN

Baginda raja Sri Smara Kepakisan wafat, diganti oleh putranya yang sulung Dalem Waturenggong. Para menteri yang telah tiada, diganti oleh putra-putranya.



Bersambung....

CLICK HERE :

3 LANJUTAN : RATU UGRASENA TABENDRA / MAYA DANAWA 882 M, KERAJAAN BALI (Seri-3)

.



Imajiner Nuswantoro 














Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)