WEJANGAN SASTRA JENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU ꦮꦼꦗꦔꦤ꧀ꦱꦱ꧀ꦠꦿꦗꦼꦤ꧀ꦝꦿꦲꦪꦸꦤꦶꦔꦿꦠ꧀ꦥꦔꦿꦸꦮꦠꦶꦁꦣꦶꦪꦸ

0

 WEJANGAN SASTRA JENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU

ꦮꦼꦗꦔꦤ꧀ꦱꦱ꧀ꦠꦿꦗꦼꦤ꧀ꦝꦿꦲꦪꦸꦤꦶꦔꦿꦠ꧀ꦥꦔꦿꦸꦮꦠꦶꦁꦣꦶꦪꦸ



Imajiner Nuswantoro



Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Ngelmu wadining bumi kang sinengker Hyang Jagad Pratingkah, Pangruwating barang sakalir, Kawruh tan wonten malih, Pungkas-pungkasaning kawruh lan Sastradi.


Aksara Jawanipun :

꧋ꦱꦱ꧀ꦠꦿꦗꦼꦤ꧀ꦝꦿꦲꦪꦸꦤꦶꦔꦿꦠ꧀ꦥꦔꦿꦸꦮꦠꦶꦁꦣꦶꦪꦸ꧉ꦔꦼꦭ꧀ꦩꦸꦮꦣꦶꦤꦶꦁꦧꦸꦩꦶꦏꦁꦱꦶꦤꦼꦁꦏꦼꦂꦲꦾꦁꦗꦒꦣ꧀ꦥꦿꦠꦶꦁꦏꦃ꧈ꦥꦔꦿꦸꦮꦠꦶꦁꦧꦫꦁꦱꦏꦭꦶꦂ꧈ꦏꦮꦿꦸꦃꦠꦤ꧀ꦮꦺꦴꦤ꧀ꦠꦺꦤ꧀ꦩꦭꦶꦃ꧈ꦥꦸꦁꦏꦱ꧀ꦥꦸꦁꦏꦱꦤꦶꦁꦏꦮꦿꦸꦃꦭꦤ꧀ꦱꦱ꧀ꦠꦿꦣꦶ꧉


Rangkaian kalimat tersebut merupakan penjabaran filosofis dari puncak ajaran kebatinan Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, yang bermakna sebagai ajaran tertinggi tentang rahasia sejati kehidupan dan alam semesta dari Tuhan. 

Berikut adalah rincian arti dari setiap bagian kalimat tersebut:

1. Ngelmu wadining bumi kang sinengker Hyang Jagad Pratingkah

Artinya: Ilmu rahasia dunia atau alam semesta yang dirahasiakan dan berasal dari Tuhan Yang Maha Esa (Sang Hyang Jagad Pratingkah). 

2. Pangruwating barang sakalir

Artinya: Dapat membebaskan, meruwat, dan menyelamatkan segala sesuatu atau seluruh makhluk dari belenggu kegelapan. 

3. Kawruh tan wonten malih

Artinya: Tiada lagi ilmu pengetahuan lain yang dapat dicapai atau melebihi ilmu ini. 

4. Pungkas-pungkasaning kawruh

Artinya: Puncak atau ujung dari segala jenis ilmu pengetahuan yang bisa dicapai oleh manusia. 

5. Lan Sastradi

Artinya: Dan merupakan sastra adiluhung atau ajaran yang paling luhur. 

Secara keseluruhan, bait ini menegaskan bahwa Sastra Jendra adalah pengetahuan sejati yang paling akhir, mutlak, dan utama menjadi pedoman hidup tertinggi untuk memahami Sang Pencipta sekaligus melebur segala sifat angkara murka di dalam diri manusia.


Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu

Pesan utama dari Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah ajaran luhur tentang bagaimana manusia membersihkan diri dari hawa nafsu angkara murka untuk mencapai keselamatan dan kesejahteraan alam semesta. 

Makna dan Inti Wejangan :

1. Sastra Jendra: Kitab atau ilmu suci yang berasal dari Tuhan (Sang Pencipta).

2. Hayuningrat: Berbuat keselamatan, keindahan, dan kedamaian bagi dunia serta seluruh makhluk.

3. Pangruwating Diyu: Melebur, meruwat, atau melenyapkan sifat-sifat serakah, jahat, dan raksasa (diyu) yang ada di dalam diri manusia. 


Keutamaan Wejangan Moral

1. Pengendalian Diri: Menaklukkan hawa nafsu negatif seperti serakah, amarah, dan ambisi kekuasaan yang merusak.

2. Keselarasan Semesta: Manusia diajak untuk menjadi penjaga kedamaian bumi, bukan perusak.

3. Kesejatian Hidup: Menemukan hakikat diri dan hubungan yang murni dengan Sang Pencipta melalui kemurnian hati nurani


Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah sebuah pesan yang diajarkan dalam pewayangan yang mengajarkan manusia untuk melakukan tindakan-tindakan yang benar sehingga menghasilkan kehidupan yang harmonis. Di dalam Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu terdapat 7 tahapan hidup yakni :

1. Tapaning jasad, yang berarti mengendalikan/menghentikan daya gerak tubuh atau kegiatannya. Janganlah hendaknya merasa sakit hati atau menaruh balas dendam, apalagi terkena sebagai sasaran karena perbuatan orang lain, atau akibat suatu peristiwa yang menyangkut pada dirinya. Sedapat-dapatnya hal tersebut diterima saja dengan kesungguhan hati.

2. Tapaning budi, yang berarti mengelakkan/mengingkari perbuatan yang terhina dan segala hal yang bersifat tidak jujur.

3. Tapaning hawa nafsu, yang berarti mengendalikan/melontarkan jauh-jauh hawa nafsu atau sifat angkara murka dari diri pribadi. Hendaknya selalu bersikap sabar dan suci, murah hati, berperasaan dalam, suka memberi maaf kepada siapa pun, juga taat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Memperhatikan perasaan secara sungguh-sungguh, dan berusaha sekuat tenaga kearah ketenangan (heneng), yang berarti tidak dapat diombang-ambingkan oleh siapa atau apapun juga, serta kewaspadaan (hening).

4. Tapaning sukma, yang berarti memenangkan jiwanya. Hendaknya kedermawanannya diperluas. Pemberian sesuatu kepada siapapun juga harus berdasarkan keikhlasan hati, seakan-akan sebagai persembahan sedemikian, sehingga tidak mengakibatkan sesuatu kerugian yang berupa apapun juga pada pihak yang manapun juga. Pendek kata tanpa menyinggung perasaan.

5. Tapaning cahya, yang berarti hendaknya orang selalu awas dan waspada serta mempunyai daya meramalkan sesuatu secara tepat. Jangan sampai kabur atau mabuk karena keadaan cemerlang yang dapat mengakibatkan penglihatan yang serba samar dan saru. Lagi pula kegiatannya hendaknya selalu ditujukan kepada kebahagiaan dan keselamatan umum.

6. Tapaning gesang, yang berarti berusaha berjuang sekuat tenaga secara berhati-hati, kearah kesempurnaari hidup, serta taat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mengingat jalan atau cara itu berkedudukan pada tingkat hidup tertinggi.

7. Rasajati yang merupakan tujuan dan inti dari 6 diatas, memperlambangkan jiwa atau badan halus ataupun nafsu sifat tiap manusia, yaitu keinginan, kecenderungan, dorongan hati yang kuat, kearah yang baik maupun yang buruk atau jahat. Nafsu sifat itu ialah; Luamah (angkara murka), Amarah, Supiyah (nafsu birahi). Ketiga sifat tersebut melambangkan hal-hal yang menyebabkan tidak teraturnya atau kacau balaunya sesuatu masyarakat dalam berbagai bidang, antara lain: kesengsaraan, malapetaka, kemiskinan dan lain sebagainya. Sedangkan sifat terakhir yaitu Mutmainah (nafsu yang baik, dalam arti kata berbaik hati, berbaik bahasa, jujur dan lain sebagainya) yang selalu menghalang-halangi tindakan yang tidak senonoh.

Bilamana manusia mengikuti tahapan diatas, Insya Allah, tidak akan ada kekerasan, dendam, permusuhan, pemimpin yang lupa atau kejam. Disini saya hanya menyampaikan pesan saja kepada masyarakat yang lupa akan budayanya terutama para remaja.



Imajiner Nuswantoro



KITAB TANPA TINULIS (SASTRA JENDRA)

Makna Sastra Jendra Hayuningrat

Setidaknya ada 6 makna Sastra Jendra yaitu:

1. Ngelmu wadining bumi kang sinengker Hyang Jagad Pratingkah.

Artinya: Ilmu rahasia dunia atau alam semesta yang dirahasiakan atau berasal dari Tuhan Yang Maha Esa.

2. Pangruwating barang sakalir. 

Artinya: Dapat membebaskan dan menyelamatkan segala sesuatu.

3. Kawruh tan wonten malih.

Artinya: Tiada ilmu pengetahuan lain lagi yang dapat dicapai oleh manusia.

5. Pungkas-pungkasaning kawruh.

Artinya: Ujung dari segala ilmu pengetahuan atau setinggi-tingginya ilmu yang dapat dicapai oleh manusia atau seorang sufi.

6. Sastradi. Artinya: Sastra Adiluhung atau ilmu yang luhur.


Sastra Jendra Hayuningrat adalah suatu kitab atau ajaran suci berasal dari Tuhan Gusti Kang Murbeing Djagad, yang merupakan rahasia dari agama yang dapat menyelamatkan umat dan dunia semesta yang terdapat dalam kisah pewayangan. Arti kata Sastra Jendra Hayuningrat berdasarkan tiap kata dapat diartikan Sastra berupa tulis, ilmu atau kitab. Jendra berarti milik raja atau diidentikan dengan Tuhan. Hayuningrat berarti keselamatan umat dan dunia semesta. Sastra Jendra Hayuningrat ini identik dengan budaya Jawa dan kisah wayang Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi. Konon Rahwana, anak dari Sukesi dan Wisrawa akibat menjabarkan ilmu Sastra Jendra Hayuningrat. Ketika konteks ini dimasukkan, maka justru mencederai makna Sastrajendra sendiri. Maka tidak salah jika kemudian Kyai Yasapipura I menggubahnya dalam kontek tembang macapat yang tentu saja disesuaikan dengan konteks tasawuf Islam. Namun masih harus ditelaah lagi dan ditashih kepada ahli yang menguasai ilmu ini. 


Jika penasaran tentang "SIAPAKAH ORANG YANG MENGUASAI ILMU INI ?" maka jangan segan-segan bertanya langsung kepada Tuhan (istikharah atau yang semakna dengan-Nya) dan jujurlah pada implementasi atas petunjukNya dengan melepas segala ke-akuan dan ke-AKUan diri)


Seseorang yang menguasai Sastrajendra adalah manusia sejati yang sanggup Hamemayu Hayuning Bawana Ambrasta Dur Angkara  = ꦲꦩꦺꦩꦪꦸꦲꦪꦸꦤꦶꦁꦧꦮꦤꦄꦩ꧀ꦧꦿꦱ꧀ꦠꦣꦸꦂꦄꦁꦏꦫ,l

(memperindah jagat raya dan memberantas angkara murka) sebagaimana wejangan Eyang Semar, pamomong tanah Jawa. Namun demikian, Sastrajendra hanya bisa dikuasai oleh pribadi yang telah bertekad kuat untuk meruwat jiwa-raganya dari diyu (watak angkara murka) dan terhubung dengan Guru Sejati atau Sang Dewa Ruci yang bertakhta di pusat hati. Ketika seseorang telah terhubung dengan Guru Sejati.


Menurut Tasawuf Islam 

Tasawuf adalah dimensi batin atau mistis dalam agama Islam yang berfokus pada penyucian jiwa (tazkiyatun nafs), penjernihan akhlak, dan pendekatan diri kepada Allah SWT. 


Pengertian dan Tujuan Utama

Penyucian Hati: Bertujuan membersihkan hati dari penyakit mental atau hati seperti sombong, dengki, dan cinta dunia yang berlebihan.

1. Akhlak Mulia: Berfokus pada pembentukan kepribadian yang luhur dan mendekatkan diri pada derajat ihsan (merasa selalu diawasi oleh Allah).

2. Keterikatan Syariat: Tasawuf yang benar selalu berlandaskan pada Al-Qur'an, Sunnah, dan berjalan seiring dengan ilmu fiqih (syariat). 


Empat tingkatan dalam tasawuf terdiri dari syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat. 

Berikut adalah penjelasan ringkas dari keempat tingkatan tersebut :

1. Syariat: Aturan atau hukum lahiriah agama Islam yang bersumber dari Al-Qur'an dan Hadis sebagai pedoman ibadah dan amal perbuatan sehari-hari. 

2. Tarekat: Jalan atau metode khusus berupa amalan batin dan latihan spiritual yang ditempuh seorang murid di bawah bimbingan guru (mursyid) untuk mendekatkan diri kepada Allah.

3. Hakikat: Pemahaman mendalam dan pengalaman batin tentang inti atau kenyataan yang sesungguhnya di balik suatu ibadah. 

4. Makrifat: Tingkat tertinggi berupa pengenalan dan pengetahuan sejati tentang Allah yang dirasakan langsung oleh hati dan ruhani


Corak dan Tahapan Tasawuf

1. Tasawuf Akhlaqi: Menekankan pada latihan kejiwaan, perbaikan perilaku, serta sifat-sifat terpuji seperti sabar, tawakal, dan qanaah.

2. Tasawuf Falsafi: Menggunakan pendekatan pemikiran filosofis yang mendalam dan sering kali menggunakan ungkapan simbolik (syathahat).

3. Maqamat (Tahapan Spiritual): Tingkatan yang dilalui seorang sufi untuk mendekati Tuhan, yang umumnya meliputi taubat, zuhud (mengeluarkan dunia dari hati), wara', sabar, tawakal, dan ridha

Tingkatan dalam tasawuf Islam dikenal sebagai Maqamat, yaitu tahapan spiritual atau kedudukan mental dan batin yang harus dilalui seorang penempuh jalan spiritual (salik) untuk mendekatkan diri kepada Allah. 


7 Tingkatan Maqamat Utama

Menurut pandangan mayoritas ulama sufi (seperti Abu Nasr al-Sarraj), terdapat tujuh tingkatan utama:

1. Taubat: Kesadaran diri untuk kembali kepada Allah, menyesali dosa, dan berjanji tidak mengulanginya.

2. Wara’: Kehati-hatian yang tinggi untuk meninggalkan hal-hal yang syubhat (meragukan) apalagi yang haram.

3. Zuhud: Sikap tidak tamak terhadap dunia dan menganggap harta hanya sebagai sarana, bukan tujuan.

4. Sabar: Keteguhan hati dalam menjalankan perintah Allah, menjauhi maksiat, serta menerima musibah tanpa keluh kesah.

5. Fakir: Perasaan butuh sepenuhnya kepada Allah dan merasa tidak memiliki apa pun di hadapan-Nya.

6. Tawakkal: Penyerahan diri secara total kepada Allah setelah berikhtiar secara maksimal.

7. Ridha: Menerima segala ketentuan dan takdir Allah dengan hati yang lapang dan tenang.


Tasawuf Islam khususnya aliran Syaikh Ibn Arabi mengulas permasalahan ini kemudian dikembngkan oleh Syaikh Burhanfuri dengan istilah "Martabat 7" yang berkembang dalam tarekat Naqsyabandiyah dan Syatariyah. 

Namun ketika Syaikh kami Sidi Syaikh Buya As-Shafa membahas hal ini ternyata pemahaman terkait trasformasi yang seakan teringkas dalam 3 martabat tertinggi (dalam martabat 7) sebagaiamana yang kami fahami dari teks, masih belum menyentuh esensi dari "Kitab Tanpa Tinulis" tersebut.

Ajaran Martabat Tujuh adalah konsep emanasi atau penyingkapan wujud Tuhan (Allah SWT) dari Yang Maha Ghaib hingga termanifestasi ke alam nyata, yang banyak dikaji dalam tasawuf nusantara dan mempengaruhi tradisi Tarekat Syattariyah. 

Konsep Dasar Martabat Tujuh.

Konsep ini pertama kali dirumuskan secara sistematis oleh ulama India, Fadlullah al-Burhanpuri, dalam risalahnya Al-Tuhfah al-Mursalah ila Ruh al-Nabi, yang bersumber dari pemikiran Wahdatul Wujud Ibnu Arabi.

Tujuh tingkatan martabat tersebut meliputi :

1. Martabat La Ta'ayyun (Tanpa Ketentuan / Mutlak / Ahadiah): Hakikat Zat Allah yang murni dan belum terikat oleh Sifat atau Asma.

2. Martabat Ta'ayyun Awwal (Ketentuan Pertama / Wahdah): Mulai nyata-nya sifat Ilahi secara global dalam ilmu-Nya.

3. Martabat Ta'ayyun Tsani (Ketentuan Kedua / Wahidiyah): Munculnya bentuk-bentuk atau esensi makhluk secara terperinci dalam ilmu Tuhan (A'yan Tsabitah).

4. Alam Arwah: Tingkatan alam ruh yang mujarad (tanpa materi).

5. Alam Mitsal: Alam bentuk rupa atau ide yang belum memiliki jasad kasar.

6. Alam Ajsam / Ajsad: Alam materi atau benda-benda kasar yang dapat diindera.

7. Alam Insan: Martabat manusia sempurna (Insan Kamil) yang merangkum seluruh martabat sebelumnya. 

Perkembangan dalam Tarekat

1. Dalam Tarekat Syattariyah: Ajaran Martabat Tujuh menjadi landasan teoretis dan spekulatif yang sangat penting untuk memahami ma'rifatullah serta hubungan antara Pencipta dan makhluk, yang disebarkan di Nusantara melalui tokoh seperti Syekh Abdul Rauf Singkil dan ulama lokal di Jawa serta Minangkabau. 

2. Dalam Tarekat Naqsyabandiyah: Meskipun fokus utama Tarekat Naqsyabandiyah lebih kepada metode zikir khafi (dzikir dalam hati) dan ikatan ruhani dengan guru (rabithah), pemikiran tentang tauhid dan emanasi ini turut mewarnai naskah-naskah keagamaan di berbagai wilayah seperti Minangkabau dan Jawa (terintegrasi dalam khazanah pustaka lokal seperti Serat Wirid Hidayat Jati). 

Rupanya kami harus melakukan aktivasi ruhani (bersuluk lagi) agar mampu menangkap makna yang sesungguhnya.



SIAPAKAH DEWA WISNU (BATARA WISNU) ?



Imajiner Nuswantoro


BACA JUGA :


DANG HYANG WISNU

BATARA WISNU


7 TITISAN DEWA WISNU


TITISAN DEWA WISNU / BATHARA WISNU (VERSI JAWA DAN HINDU)



.

Dari kutipan Sastrajendra karya Gusti Warsadiningrat kita bisa memperoleh informasi bahwa:

Dewa Wisnu sebagai figur yang mengalih bahasakan Sastra Jêndra ke dalam Sastra Cêtha (semacam alam mitsal dalam martabat 7) adalah murid dari "Ngusman Ngaji" raja pêndhita (mungkin yang dimaksud adalah Nabi pilihan kaum Bani Israil) dan teman diskusi bagenda Kilir (Nabi Khadlir). Mungkin istilah yang sepadan dalam tasawuf untuk Dewa Wisnu adalah "hamba yang mendapat anugerah nubuwah dan risalah atau insan kamil yang berperan sebagai mukammil".

Berikut ini kutipan Serat tersebut :


"Mungguh têrange dadine Sastra Cêtha, ana sajroning rasa surasa manèh, iku ingsun ora rinilan ambabarake, isih dumunung ana kêkancinganingsun, dene yèn sira kudu anggilut, puruhitaa marang kadangira Si Wisnu, karana iku ingsun titahake dadi pêpijèning jagad, wêruh babaring rahsa jati, saka gurune kangaran Ngusman Ngaji, raja pandhita ing Banisrail. Marmane rinilan wêruh mangkono wus karsane Hyang Kang Kawasa, ginawe lalimbangan kêkasihing Pangeran, ingkang aran Bagendha Kilir."


Catatan :

Informasi tentang Sastrajendra yang sangat lungit atau yang lebih populer sebagai martabat 7 dalam tasawuf Islam mungkin bisasaja diklaim oleh seseorang, namun JANGANKAN UNTUK MENGUASAINYA, hanya sebatas FAHAM TEORI saja sudah merupakan manusia langka. Maka Ibnu Arabi mengibaratkannya dengan Kibrit Ahmar (belerang merah atau lebih tepatnya merah delima) yang hampir tidak ada tetapi sesungguhnya ada. Syaikh Abdul Qadir mengajarkan doa untuk menemukan sosok ini dengan doa (istikharah dan berdoa langsung kepada Allah) dengan redaksi: "Allâhumma yâ dalìlal mutahayyirìn dullanì âla man yadullunì 'alaiK".

Setidaknya inilah kutipan atau mungkin gubahan Sastra Jendra dalam bentuk Tembang Macapat yang konon diprakarsai oleh Kyai Yasadipura I, kakek buyut R.Ng. Ranggawarsita.



KESIMPULAN WEJANGAN SASTRA JENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU

Sastra Jendra Hayuniningrat Pangruwating Diyu adalah ajaran filsafat dan spiritual luhur dalam tradisi Jawa (khususnya kisah pewayangan/Mahabharata-Ramayana) yang mengajarkan tentang penyucian jiwa dan transformasi sifat-sifat buruk manusia menuju kesempurnaan hidup.

Berikut adalah kesimpulan inti dari ajaran tersebut:

1. Transformasi Sifat Buruk (Pangruwating Diyu)

Diyu melambangkan raksasa, watak murka, kesombongan, kebodohan, dan nafsu duniawi. Ajaran ini menekankan bahwa setiap manusia memiliki potensi sifat "raksasa" di dalamnya. Pangruwating berarti meruwat, menyucikan, atau mengubah sifat-sifat angkara murka tersebut menjadi watak yang luhur, berbelas kasih, dan berbudi pekerti tinggi.

2. Pencapaian Kesejahteraan dan Keselamatan (Hayuningrat)

Tujuan akhir dari penyucian batin adalah mewujudkan memayu hayuning bawana menciptakan kedamaian, harmoni, dan keselamatan bagi diri sendiri, sesama, dan seluruh alam semesta. Keselamatan duniawi dan spiritual hanya dapat dicapai apabila nafsu angkara dalam diri berhasil ditaklukkan.

3. Ilmu Luhur Kesempurnaan Jiwa (Sastra Jendra)

Sebagai puncak pencerahan spiritual (ilmu sejati), ajaran ini memandu manusia untuk mengenali jati dirinya (sangkan paraning dumadi dari mana manusia berasal dan ke mana akan kembali) serta menyatu kembali secara spiritual dengan Sang Pencipta (Manunggaling Kawula Gusti).

4. Intisari Utama

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu bukanlah sekadar ajaran gaib, melainkan sebuah metode pembinaan diri spiritual: mengalahkan naluri dan nafsu kebinasaan/keraksasaan dalam diri manusia melalui pencerahan ilmu sejati, demi tercapainya kesucian jiwa serta ketenteraman bagi alam semesta






Imajiner Nuswantoro




Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)