Serat Sejarah Lelampahanipun Susuhunan Ing Nyatnyana - (Cariyos Bathara Katong Lajeng Manjing Agami Ngislam)
Catatan Sejarah Perjalanan Susuhunan Ing Nyatnyana - (Kisah Bathara Katong Memeluk Islam)
Serat Sejarah Lelampahanipun Susuhunan Ing Nyatnyana merujuk pada teks atau manuskrip tradisional Jawa yang menceritakan riwayat hidup, perjalanan spiritual, serta silsilah dari tokoh suci atau ulama yang dimakamkan atau dikaitkan dengan daerah Nyatnyana (saat ini dikenal sebagai desa Nyatnyono, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah).
Tokoh utama yang dimaksud sebagai Susuhunan ing Nyatnyana umumnya diidentifikasikan dengan Syekh Hasan Munadi atau putranya, Syekh Hasan Anwar, yang merupakan ulama besar penyebar agama Islam di lereng Gunung Ungaran pada masa Kesultanan Demak.
Serat Sejarah Lelampahanipun Susuhunan Ing Nyatnyono merujuk pada teks sastra atau catatan sejarah tradisional (serat) berbahasa Jawa yang menceritakan riwayat perjalanan hidup (lelampahan) Susuhunan/Sunan Hasan Munadi (dikenal juga sebagai Syekh Hasan Munadi atau Waliyullah Hasan Munadi). Beliau adalah ulama besar dan wali penyebar agama Islam yang berdakwah di lereng Gunung Ungaran, tepatnya di Desa Nyatnyono, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang.
Ringkasan Riwayat Sunan Hasan Munadi
Berdasarkan tradisi lisan dan catatan sejarah lokal, serat ini umumnya mengisahkan poin-poin penting berikut:
1. Silsilah dan Latar Belakang: Sunan Hasan Munadi diyakini hidup sezaman dengan Wali Songo (khususnya Sunan Kalijaga) dan merupakan bangsawan atau tokoh yang ikut serta pada masa awal berdirinya Kesultanan Demak Bintoro. Ia pernah berguru kepada Sunan Ampel bersama Raden Patah.
2. Asal-Usul Nama "Nyatnyono": Nama desa ini erat kaitannya dengan karomah beliau. Dikisahkan saat beliau selesai berkhalwat (menyendiri untuk beribadah), sebuah masjid tiba-tiba sudah berdiri tegak atas izin Allah. Kata Nyatnyono berasal dari frasa Jawa "Nyat" (menyat/bangkit) dan "Nyono" (sudah ada/diduga).
3. Perjuangan Dakwah: Beliau menyebarkan Islam di wilayah pegunungan bersama putranya, Syekh Hasan Dipuro. Di sela dakwahnya, ia juga menghadapi berbagai tantangan spiritual dan sosial, termasuk kisah pengejaran tokoh bernama Ki Ajar Buntit.
Peninggalan Bersejarah di Nyatnyono
Riwayat dalam serat tersebut dapat dibuktikan melalui keberadaan situs fisik yang kini menjadi pusat Wisata Religi Nyatnyono:
1. Masjid Subulussalam: Masjid kuno peninggalan Sunan Hasan Munadi yang masih menyisakan struktur empat tiang utama (saka guru) asli.
2. Makam Keramat: Kompleks makam Sunan Hasan Munadi dan Sunan Hasan Dipuro yang selalu ramai diziarahi masyarakat.
3. Sendang Kalimah Toyyibah: Mata air keramat yang dipercaya ditemukan oleh beliau dan memiliki air yang membawa keberkahan serta karomah bagi para pengunjung.
Syekh Hasan Munadi
Makam Syekh Hasan Munadi
Desa Nyatnyono, Kecamatan Ungaran, kabupaten Semarang Jawa Tengah, dimakamkan seorang wali penyebar agama islam, yang bernama Syekh Hasan Munadi, beliau adalah putra dari Prabu Brawijaya V raja Majapahit, yang masih saudara kandung dengan Raden Fatah Sultan Demak, tapi lain ibu.
Syekh Hasan Munadi menikah dengan putri Ki Ageng Makukuhan dan dikaruniai putra bernama Syekh Hasan Dipuro, di lereng Gunung Sukroloyo Desa Nyatnyono inilah Syekh Hasan Munadi mengajarkan islam dan membuat pesantren. Semakin banyaknya yang belajar ilmu kepada Syekh Hasan Munadi maka dibuatlah masjid di Desa Nyatnyono, untuk memudahkan para pendatang beribadah yang datang dari berbagai daerah, Masjid yang dibangun oleh Syekh Hasan Munadi diberi nama masjid Subulussalam, hingga sekarang peninggalan masjid karomah Syekh Hasan Munadi masih berdiri kokoh seolah tidak lapuk dimakan zaman.
Makam Syekh Hasan Dipuro
Sejarah Pembangunan masjid Syekh Hasan Munadi di Desa Nyatnyono berbarengan dengan pembangunan
Masjid Agung Demak
yang dibangun oleh Raden Fatah Sultan Demak, karena pada waktu Kanjeng Sunan Kalijogo membuat dua sokoguru / tiang yang akan dibawa ke Demak, diminta satu sokoguru oleh Syekh Hasan Munadi untuk masjidnya yang sedang dibangun. Dengan bantuan Kanjeng Sunan Kalijogo dan restu para wali songo lainnya maka berdirilah masjid Syekh Hasan Munadi dengan kokoh, dan hingga sekarang masjid masih diperuntukan untuk beribadah umat islam.
Selain masjid, peninggalan Syekh Hasan Munadi salah satunya air karomah Sendang Kalimah Thoyyibah, sendang ini dibuat oleh Syekh Hasan Munadi dengan menancapkan tongkatnya ke batu, lalu keluarlah air mancur dari dalam lubang bekas tongkatnya, airnya sangat jernih dan bersih. Air karomah ini dipercaya bisa mengobati segala bermacam-macam penyakit dan untuk berbagai keperluan hajat lainnya, semuanya dengan izin Allah atas doanya kekaromahan Syekh Hasan Munadi.
Pintu masuk Sendang Kalimah Thoyyibah
Syekh Hasan Munadi menjabat sebagai Tumenggung di kesultanan Demak Bintoro, beliau seorang punggawa kerajaan Demak yang memimpin pasukan Demak, Syekh Hasan Munadi ditugaskan untuk menjaga keamanan kerajaan Demak, karena dengan kekuatannya bisa mengalahkan pasukan pemberontak Kesultanan Demak, pada waktu itu raja Demak adalah Raden Fatah yang masih saudara kandungnya.
Pada akhirnya Syekh Hasan Munadi lebih memilih istiqomah dan menanggalkan jabatan tumenggungnnya, beliau lebih fokus mensyiarkan agama islam ditanah Jawa. Hingga akhir hayatnya Syekh Hasan Munadi mengajar mengaji kepada para santrinya, Syekh Hasan Munadi meninggal dunia kisaran umur 130 tahun dan dimakamkan didekat masjid yang dibangunnya.
Bathara Katong memeluk dan menyebarkan agama Islam
Bathara Katong memeluk dan menyebarkan agama Islam setelah mendalami ajaran Islam dari Sunan Kalijaga serta mendapat tugas dakwah dari Kesultanan Demak.
Proses Masuk Islam dan Perjalanan
1. Latar Belakang: Bathara Katong merupakan keturunan raja Majapahit yang dikenal juga dengan nama Raden Alkali atau Joko Piturut.
2. Belajar Agama: Ia mendalami ilmu agama Islam langsung dari Sunan Kalijaga, salah satu tokoh Walisongo.
3. Tugas Dakwah: Demak mengutus Bathara Katong untuk menyebarkan Islam di wilayah timur Gunung Lawu, yang dulu dikenal sebagai daerah Wengker atau Ponorogo.
Peran di Ponorogo
1. Pendiri Adipati: Ia menjadi adipati pertama di Ponorogo pada tahun 1496.
2. Media Dakwah: Ia menggunakan pendekatan budaya lokal, termasuk kesenian, untuk menarik masyarakat memeluk Islam
Serat Sejarah Lelampahanipun (Susuhunan Ing Nyatnyana)
Anuju Satunggiling Dinten Nedhengipun Sami Lelenggahan Bathara
Katong Handangu Dhateng Sunan Nyatnyana : Hangger, Aku Midhanget Warta, Yen Ing Bintara Ana Agama Anyar Aran Islam, Iku Agama Apa, Sunan Nyatnyana Mangsuli : Agami Islam Punika Wiji Saking Ngarab, Sarta Sampun Paduka Tindakaken Salami Kula Wonten Ing Ngriki, Inggih Punika Sarengatipun Agami Islam, Sang Bathara Katong Lega Raosing Panggalih Mirengaken Aturipun Sunan Nyatnyana.
Ringkesing Cariyos Bathara Katong Lajeng Manjing Agami Islam :
Sapunggawanipun Sadaya
Ketika suatu hari kebetulan sedang duduk bersama, Bathara Katong Bertanya kepada Sunan Nyatnyana: Nak, saya mendengar kabar bahwa di negara Demak Bintara ada agama baru bernama Islam, itu agama apa, Sunan Nyatnyana menjawab, agama Islam itu berasal dari arab, serta sudah paduka jalankan selama saya berada disini, ya seperti itulah tatacara menjalankan agama Islam, Bathara Katong terasa lega hatinya setelah mendapat pencerahan dari Sunan Nyatnyana.
Pendek cerita Bathara Katong kemudian memeluk agama Islam beserta anak buahnya.
Kisah Bathara Katong
Bathara Katong, memiliki nama Asli Lembu Kanigoro, adalah salah seorang putra Prabu Brawijaya atau Bhre Kertabhumi dari selirnya yaitu Putri Campa yang beragama Islam. Berdasarkan catatan sejarah keturunan generasi ke-126 ia yaitu Ki Padmosusastro, disebutkan bahwa Bathara Katong dimasa kecilnya bernama Raden Joko Piturun atau disebut juga Raden Harak Kali. Ia adalah salah seorang putra Prabu Brawijaya dari garwo pangrambe (selir yang tinggi kedudukannya).
Mulai redupnya kekuasaan Majapahit dan saat kakak tertuanya "Lembu Kenongo" yang berganti nama menjadi Raden Patah mendirikan kesultanan Demak Bintoro, Lembu Kanigoro mengikut jejak kakaknya untuk berguru di bawah bimbingan Wali Songo di Demak.
Pada tahun 1486, hutan dibabat atas perintah Bathara Katong. Banyak gangguan dari berbagai pihak, termasuk makhluk halus yang datang. Namun, karena Bantuan warok dan para prajurit Wengker, akhirnya pekerjaan membabat hutan itu lancar.
Setelah hutan selesai dibabat, bangunan-bangunan didirikan sehingga penduduk pun berdatangan. Setelah istana kadipaten didirikan, Batara Katong kemudian memboyong permaisurinya, Niken Sulastri ke istana kadipaten, sedang adiknya, Suromenggolo tetap di tempatnya yakni di Dusun Ngampel. Oleh Katong, daerah yang baru saja dibangun itu diberi nama Prana Raga yang berasal atau diambil dari sebuah Babad legenda "Pramana Raga". Menurut cerita rakyat yang berkembang secara lisan, Pono berarti Wasis, Pinter, Mumpuni dan Raga artinya Jasmani. sehingga kemudian dikenal dengan nama Ponorogo.
Bathara Katong kemudian menjadi Adipati di Ponorogo. Menurut Handbook of Oriental History hari wisuda Bathara Katong sebagai Adipati Kadipaten Ponorogo yaitu pada hari Ahad Pon tanggal 1 Bulan Besar tahun 1418 Saka, bertepatan dengan Tanggal 11 Agustus 1496 atau 1 Dzulhijjah 901 Hijriyah. Selanjutnya tanggal 11 Agustus ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Ponorogo.
Kesenian Reog yang menjadi seni perlawanan masyarakat Ponorogo mulai dihilangkan dari unsur-unsur pemberontakan, dengan menampilkan cerita fiktif tentang Kerajaan Bantar Angin sebagai sejarah reog. Para punggawa dan anak cucu Bathara Katong, inilah yang kemudian mendirikan pesantren-pesantren sebagai pusat pengembangan agama Islam. Adapun turunan ke 7 bathara katong yang masih ada sampai sekarang yaitu di Pacitan, tepatnya di Tulakan.
Sejarah Bhatara Katong, Sang Pendiri Kota Ponorogo
Bathara Katong, memiliki nama Asli Lembu Kanigoro, adalah salah seorang putra Prabu Brawijaya atau Bhre Kertabhumi dari selirnya yaitu Putri Campa yang beragama Islam. Berdasarkan catatan sejarah keturunan generasi ke-126 beliau yaitu Ki Padmosusastro, disebutkan bahwa Bathara Katong dimasa kecilnya bernama Raden Joko Piturun atau disebut juga Raden Harak Kali. Beliau adalah salah seorang putra Prabu Brawijaya dari garwo pangrambe (selir yang tinggi kedudukannya).
Mulai redupnya kekuasaan Majapahit dan saat kakak tertuanya "Lembu Kenongo" yang berganti nama menjadi Raden Patah mendirikan kesultanan Demak Bintoro, Lembu Kanigoro mengikut jejak kakaknya untuk berguru di bawah bimbingan Wali Songo di Demak.
Pertarungan dengan Ki Ageng Kutu
Prabu Brawijaya pada masa hidupnya berusaha diislamkan oleh Wali Songo, para Wali Islam tersebut membujuk Prabu Brawijaya dengan menawarkan seorang Putri Campa yang beragama Islam untuk menjadi Istrinya. Walaupun kemudian Prabu Brawijaya sendiri gagal untuk diislamkan, tetapi perkawinannya dengan putri Campa mengakibatkan meruncingnya konflik politik di Majapahit. Diperistrinya putri Campa oleh Prabu Brawijaya memunculkan reaksi protes dari elit istana yang lain. Sebagaimana dilakukan oleh seorang punggawanya bernama Pujangga Anom Ketut Suryongalam yang kemudian dikenal sebagai Ki ageng Kutu, Ki Ageng Kutu kemudian menciptakan sebuah seni Barongan, yang kemudian disebut Reog. Dan Reog tidak lain merupakan simbol kritik Ki Ageng Kutu terhadap raja Majapahit (disimbolkan dengan kepala harimau), yang ditundukkan dengan rayuan seorang perempuan/Putri Campa (disimbolkan dengan dadak merak).
Upaya Ki Ageng Kutu untuk memperkuat Basis di Ponorogo (Wengker) dianggap sebagai ancaman oleh kekuasaan Majapahit dan kasultanan Demak. Sunan Kalijaga, bersama muridnya Kiai Muslim (atau Ki Ageng Mirah) mencoba melakukan investigasi terhadap keadaan Ponorogo, dan mencermati kekuatan-kekuatan yang paling berpengaruh di Ponorogo. Dan mereka menemukan Demang Kutu sebagai penguasa paling berpengaruh saat itu. Demi kepentingan ekspansi kekuasaan dan Islamisasi, penguasa Demak mengirimkan seorang putra terbaiknya yakni yang kemudian dikenal luas dengan Bathara Katong dengan salah seorang santrinya bernama Selo Aji dan diikuti oleh 40 orang santri senior yang lain.
Raden Katong akhirnya sampai di wilayah Wengker, lalu kemudian memilih tempat yang memenuhi syarat untuk pemukiman, yaitu di Dusun Plampitan, Kelurahan Setono, Kecamatan Jenangan. Saat Bathara Katong datang memasuki Ponorogo, kebanyakan masyarakat Ponorogo adalah penganut Hindu, Budha, animisme dan dinamisme. Setelah Bathara Katong memasuki Ponorogo terjadilah pertarungan antara Bathara Katong dengan Ki Ageng Kutu. Ditengah kondisi yang sama sama kuat, Bathara Katong kehabisan akal untuk menundukkan Ki Ageng Kutu. Kemudian dengan akal cerdasnya Bathara Katong berusaha mendekati putri Ki Ageng Kutu yang bernama Niken Gandini, dengan di iming-imingi akan dijadikan istri. Niken Gandini dimanfaatkan Bathara Katong untuk mengambil pusaka Koro Welang, sebuah pusaka pamungkas dari Ki Ageng Kutu. Pertempuran berlanjut dan Ki Ageng Kutu menghilang, pada hari Jumat Wage di sebuah pegunungan di daerah Wringinanom Sambit Ponorogo. Tempat menghilangnya Ki Ageng Kutu disebut dengan Gunung Bacin, terletak di daerah Bungkal. Bathara Katong kemudian, mengatakan bahwa Ki Ageng Kutu akan moksa dan terlahir kembali di kemudian hari. Hal ini mungkin dilakukan untuk meredam kemarahan warga atas meninggalnya Ki Ageng Kutu.
Setelah Ki Ageng Kutu menghilang, Bathara Katong mengumpulkan rakyat Ponorogo dan berpidato bahwa dirinya tidak lain adalah Batoro, manusia setengah dewa. Hal ini dilakukan, karena Masyarakat Ponorogo masih mempercayai keberadaan dewa-dewa, dan Batara.
Pendirian Ponorogo
Pada tahun 1486, hutan dibabat atas perintah Bathara Katong. Banyak gangguan dari berbagai pihak, termasuk makhluk halus yang datang. Namun, karena Bantuan warok dan para prajurit Wengker, akhirnya pekerjaan membabat hutan itu lancar.
Setelah hutan selesai dibabat, bangunan-bangunan didirikan sehingga penduduk pun berdatangan. Setelah istana kadipaten didirikan, Batara Katong kemudian memboyong permaisurinya, Niken Sulastri ke istana kadipaten, sedang adiknya, Suromenggolo tetap di tempatnya yakni di Dusun Ngampel. Oleh Katong, daerah yang baru saja dibangun itu diberi nama Prana Raga yang berasal atau diambil dari sebuah Babad legenda "Pramana Raga". Menurut cerita rakyat yang berkembang secara lisan, Pono berarti Wasis, Pinter, Mumpuni dan Raga artinya Jasmani. sehingga kemudian dikenal dengan nama Ponorogo.
Bathara Katong kemudian menjadi Adipati di Ponorogo. Menurut Handbook of Oriental History hari wisuda Bathara Katong sebagai Adipati Kadipaten Ponorogo yaitu pada hari Ahad Pon tanggal 1 Bulan Besar tahun 1418 Saka, bertepatan dengan Tanggal 11 Agustus 1496 atau 1 Dzulhijjah 901 Hijriyah. Selanjutnya tanggal 11 Agustus ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Ponorogo.
Kesenian Reog yang menjadi seni perlawanan masyarakat Ponorogo mulai dihilangkan dari unsur-unsur pemberontakan, dengan menampilkan cerita fiktif tentang Kerajaan Bantar Angin sebagai sejarah reog. Para punggawa dan anak cucu Bathara Katong, inilah yang kemudian mendirikan pesantren-pesantren sebagai pusat pengembangan agama Islam.
Nama Bathara Katong diabadikan sebagai nama stadion dan sebuah jalan utama Ponorogo.
Imajiner Nuswantoro










