SERAT GANDAKUSUMA

0

 SERAT GANDAKUSUMA



Imajiner Nuswantoro


Serat Gandakusuma adalah karya sastra Jawa berbentuk tembang macapat dari tahun 1801 yang memuat ajaran moral dan perjalanan spiritual. 


Informasi Utama

1. Bentuk: Tembang macapat (puisi tradisional Jawa).

2. Tahun Pembuatan: Disusun pada tahun 1801.

3. Isi Pokok: Mengisahkan perjalanan spiritual tokoh utama serta simbol-simbol sufisme Jawa.

4. Kandungan Sufistik: Membahas tahapan rohani seperti tobat dan takwa, serta tokoh simbolis seperti Dewi Sarirasa dan Dewi Sariraga.

5. Sumber Naskah: Salah satu naskahnya tersimpan di British Library (Add MS 12294 a). 


Dalam dunia pedalangan, Gandakusuma memiliki dua arti penting yang merujuk pada nama tokoh kesatria dalam lakon carangan dan nama gending pembuka dalam tradisi pakeliran.

Berikut adalah penjelasan lengkap mengenai Gandakusuma dalam konteks wayang kulit:

1. Tokoh Raden Gandakusuma

Dalam cerita carangan (cabang) Mahabharata, Raden Gandakusuma adalah salah satu putra Raden Arjuna yang lahir dari ibu bernama Dewi Gandawati. 

- Lakon Terkenal: Ia menjadi tokoh utama dalam lakon Gandawerdaya atau Brubuh Ngalengka. Kisah ini menceritakan pengembaraan Gandakusuma dan saudara tiri sekandung ayahnya, Raden Gandawerdaya (putra Arjuna dari Dewi Jimambang), untuk mencari ayah kandung mereka. 

- Konflik Cerita: Dalam pencariannya, Gandakusuma berhasil sampai ke Kerajaan Amarta dan bergabung dengan pihak Pandawa. Sebaliknya, Gandawerdaya tersesat ke Hastinapura dan dihasut oleh Patih Sengkuni yang berbohong bahwa ayahnya adalah Adipati Karna. Akibat adu domba tersebut, kedua saudara kandung ini akhirnya terlibat perang sengit sebelum akhirnya kebenaran terungkap. 

- Silsilah Lanjutan: Selain muncul di era Mahabharata (Wayang Purwa), nama Gandakusuma juga tercatat dalam jajaran tokoh Wayang Madya, yaitu era kelanjutan setelah Bharatayuda yang mengisahkan keturunan Parikesit hingga zaman Prabu Jayabaya. 

2. Gending Gandakusuma (Khusus Jawa Timuran)

Dalam pementasan Wayang Kulit gaya Jawa Timuran (Jowanan), Gandakusuma bukan hanya sekadar tokoh, melainkan nama sebuah komposisi musik gamelan (Gending). 

- Fungsi Ritual: Gending Gandakusuma dimainkan sebagai musik pembuka pergelaran tepat setelah tari Remo selesai disajikan.

- Makna: Alunan gending ini berfungsi sebagai doa keselamatan dan tolak bala agar pertunjukan wayang dari awal hingga akhir berjalan lancar tanpa hambatan. 


Imajiner Nuswantoro


Ringkasan Karakter Tokoh

Nama = Raden Gandakusuma

Ayah = Raden Arjuna

Ibu = Dewi Gandawati

Saudara Seayah = Gandawerdaya, Abimanyu, Gatotkaca (sepupu), dll.

Sifat Karakter = Kesatria berwatak halus, setia pada kebenaran, dan berbakti.



Imajiner Nuswantoro


Dewi Sarirasa dan Dewi Sariraga adalah dua tokoh perempuan penting dalam teks sastra Jawa Serat Gandakusuma yang melambangkan wujud dan syarat kesempurnaan dalam konteks sufisme Jawa.

Peran Dewi Sarirasa dan Dewi Sariraga

1. Dewi Sarirasa: Tokoh wirawati pendamping Raden Gandakusuma yang berjasa menghidupkan kembali Gandakusuma serta menjadi istri dan prajurit tangguh yang dapat diandalkan.

2. Dewi Sariraga: Tokoh perempuan kedua yang membantu memulihkan kewibawaan Bandaralim dan kemudian menikah dengan Gandakusuma.

3. Makna Sufi: Keduanya merepresentasikan simbol penyempurnaan jiwa dan batin dalam ajaran Serat Gandakusuma


Dewi Sarirasa dan Dewi Sariraga bukan karakter dari pakem utama wayang purwa (seperti Mahabharata atau Ramayana), melainkan tokoh perempuan penting dari naskah sastra klasik Jawa berjudul Serat Gandakusuma. Dalam perkembangannya, kisah ini terkadang dipentaskan dalam bentuk lakon wayang kulit carangan (lakon gubahan/pengembangan) atau wayang gedog/menak.

Berikut adalah profil, peran, dan makna filosofis kedua tokoh tersebut:

1. Profil Tokoh dalam Cerita

Dalam Serat Gandakusuma, kedua dewi ini merupakan pasangan atau istri dari tokoh utama, Raden Gandakusuma: 

- Dewi Sarirasa: Digambarkan sebagai sosok wirawati (prajurit perempuan/pahlawan wanita) yang sangat sakti, mandiri, budi luhur, dan cerdas. Ia memiliki kemampuan mistis, termasuk menghidupkan kembali Raden Gandakusuma yang telah mati. Dalam peperangan, ia bertindak sebagai penyusun strategi dan petarung tangguh yang mendampingi suaminya. 

- Dewi Sariraga: Tokoh putri yang diselamatkan oleh Raden Gandakusuma dari sekapan Prabu Dasaboja di Kandhabumi. Meskipun kemunculannya tidak sesering Dewi Sarirasa, ia menjadi jalan bagi Raden Gandakusuma untuk mendapatkan takhta dan memulihkan kewibawaan kerajaan. 

2. Makna Simbolis dan Sufisme Jawa.

Kemunculan Dewi Sarirasa dan Dewi Sariraga sangat kental dengan ajaran spiritual dan sufisme Islam-Jawa (mistisisme Jawa): 

- Sarirasa (Sari + Rasa): Melambangkan "inti dari rasa" atau keindahan sejati. Secara spiritual, ini merepresentasikan jiwa, spiritualitas, atau esensi ketuhanan yang ada di dalam diri manusia.

- Sariraga (Sari + Raga): Melambangkan "inti dari raga/jasmani" atau wadah fisik manusia. 

- Penyatuan dengan Gandakusuma: Raden Gandakusuma bertindak sebagai pengikat atau wadah manusia seutuhnya. Kisah cintanya dengan kedua dewi ini adalah alegori bahwa untuk mencapai kesempurnaan hidup (manunggaling kawula gusti), manusia harus mampu menyelaraskan, mengendalikan, dan menyatukan antara raga (fisik/syariat) dan rasa (jiwa/hakikat) semata-mata untuk menghadirkan Tuhan. 

3. Visualisasi dalam Wayang Kulit

Jika digubah ke dalam bentuk wayang kulit, karakter keduanya menggunakan gaya visual Putren (tokoh perempuan halus/anggun):

- Dewi Sarirasa digambarkan dengan raroman (muka) menunduk (lanyap atau luruh) namun mengenakan kelengkapan busana yang mencerminkan ketangkasan atau kesaktian seorang wirawati.

- Dewi Sariraga umumnya digambarkan dengan gaya putren jangkah atau luruh standar, menampilkan keanggunan seorang putri raja yang halus.



Sufisme Jawa dalam Serat Gandakusuma.

Sufisme telah lama menjiwai kehidupan kerohanian masyarakat Jawa di masa lalu. Tidak terbatas sebagai sebuah praktik mistik di dalam mencapai kesempurnaan spiritual dan kedekatan dengan Tuhan, sufisme sebagai sebuah ajaran dan konsep, menyebar pula melalui karya sastra. Serat Gandakusuma yang menjadi objek kajian adalah salah satunya. Sejauh penelusuran yang telah dilakukan, korpus naskah Serat Gandakusuma tersimpan di Perpustakaan Museum Sonobudoyo Yogyakarta dan Ruang Naskah Perpustakaan Universitas Indonesia. Penelitian ini kemudian memilih naskah Serat Gandakusuma yang merupakan koleksi Ruang Naskah Perpustakaan Universitas Indonesia dengan pertimbangan keterjangkauan dan kelengkapan naskah, serta teks yang utuh dan tidak mengandung rumpang karena hilang, atau kerusakan yang parah. Dengan demikian, teks dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan analisis.

Serat Gandakusuma berkisah tentang perjalanan tokoh utama bernama Raden Gandakusuma. Ia adalah putra Prabu Senapati, raja di negara Bandaralim. Suatu malam, ia diculik oleh salah seorang saudaranya yang bernama Menak Tekiyur, atau Prabu Jaka. Penculikan ini kemudian berujung pada pembunuhan Raden Gandakusuma oleh Prabu Jaka. Tindakan ini dilakukan karena adanya sakit hati Prabu Jaka kepada Prabu Senapati yang kemudian ia balaskan melalui Raden Gandakusuma yang adalah putra kesayangan Prabu Senapati, sekaligus putra mahkota negara Bandaralim. Jenazah Raden Gandakusuma kemudian dibiarkan terombang-ambing di lautan selama empat puluh hari. Serangkaian fenomena alam pun terjadi. Dewi Sarirasa, penguasa inti samudra yang bertahta di Gua Sirrullah pun berkenan meninjau keadaan. Melihat jenazah Raden Gandakusuma, ia tergerak untuk menghidupkannya kembali. Setelah berhasil hidup kembali, Gandakusuma jatuh cinta pada Dewi Sarirasa. Akan tetapi, Dewi Sarirasa tidak serta-merta menerima cinta Gandakusuma. Dewi Sarirasa menguji kesabaran dan keteguhan Gandakusuma selama tiga tahun. Setelah berhasil melewati ujian tersebut, Dewi Sarirasa mengajak Gandakusuma untuk menempuh perjalanan panjang yang kelak akan mengantarkannya kembali pada kemuliaan dan kejayaan.

Tinjauan atas ajaran dan konsep sufisme Jawa yang terdapat dalam teks Serat Gandakusuma dilakukan menggunakan pendekatan struktur dengan melihat fungsi metrum-metrum macapat yang digunakan dalam teks di dalam mewujudkan perjalanan sufi yang dilakukan oleh tokoh Raden Gandakusuma. Tinjauan ini menunjukkan bahwa di samping memiliki karakter yang khas dan nuansa rasa yang berbeda satu sama lain, metrum-metrum macapat juga memiliki fungsi sebagai representasi bagi tahapan-tahapan di dalam perjalanan kerohanian seorang umat guna mencapai kesempurnaan sejati sehingga ia dapat sampai pada apa yang disebut dalam idiom khas mistik Jawa sebagai wruh ing sangkan paraning dumadi (sadar penuh pada asal dan tujuan sebagai makhluk Tuhan), manunggaling kawula Gusti (bersatunya umat dengan Tuhan), dan memayu hayuning bawana (memperindah dan turut menjaga keselamatan serta keindahan semesta). Pijakan dalam melakukan kajian ini adalah apa yang oleh Bernard Arps disebut sebagai “teori tembang” yang antara lain memuat perwatakan khas masing-masing metrum macapat. Bertolak dari deskripsi karakter masing-masing metrum tersebut, ditinjau pula wacana yang dikandungnya di dalam teks, dan sejauh mana kesesuaiannya dengan metrum macapat yang mewadahinya serta kaitan kontekstualnya dengan sufisme Jawa sebagai suatu proses yang memiliki tahapan-tahapan.

Serat Gandakusuma sendiri terdiri atas 38 pupuh atau bab, yang terbagi ke dalam sepuluh metrum tembang macapat. Berdasarkan analisis yang dilakukan, kesepuluh metrum macapat tersebut mewakili masing-masing tahapan dalam perjalanan batin seorang pelaku jalan sufi sebagai berikut:

1. Asmaradana

Tahapan awal dalam perjalanan sufi. Menggambarkan rasa cinta pada Tuhan sebagai pendorong kuat untuk mencapai kesempurnaan.

2. Durma

Memerangi hawa nafsu

3. Sinom

Proses mempelajari, memahami, menyesuaikan, menghayati, dan mengendapkan.

4. Dhandhanggula

Menjaga keseimbangan jasmani dan rohani

5. Pangkur

Puncak dari pencapaian spiritual.

6. Kinanthi

Kemantapan dan kegigihan dalam mencapai kesempurnaan.

7. Pucung

Tidak memperturutkan emosi.

8. Maskumambang

Keraguan harus dihilangkan dalam menjalani proses yang tidak mudah, berserah.

9. Mijil

Pembebasan sejati.

10. Gambuh

Tujuan akhir yaitu manunggaling kawula Gusti.


Penelitian ini juga mengkaji bagaimana peran perempuan di dalam proses mencapai kesempurnaan seorang pelaku jalan sufi yang didasarkan pada teks. Dalam kajian ini, diketengahkan tiga tokoh perempuan yang kemunculannya dominan di dalam teks Serat Gandakusuma. Ketiga tokoh perempuan tersebut adalah Dewi Sarirasa, Dewi Sariraga, dan Dewi Kalpikawati. Dewi Sarirasa di dalam analisis, memegang peran yang besar karena seperti telah disinggung pada ringkasan isi teks Serat Gandakusuma di atas, dialah yang telah “berjasa” membangkitkan kembali Gandakusuma dari kematian, mengolah batinnya, dan membawa Gandakusuma pada perjalanan yang memampukan Gandakusuma sampai pada taraf kehidupan yang mulia dan juga memantapkan karakter serta jiwa dan spiritualitasnya. Dewi Sarirasa juga berperan sebagai pendamping bagi Gandakusuma, mitra, pembimbing, dan prajurit tangguh yang dapat diandalkan karena kemampuannya bertempur serta kesaktiannya. Dewi Sariraga adalah tokoh perempuan kedua yang juga diberi tempat tersendiri di dalam teks. Meskipun kemunculannya tidak sekerap Dewi Sarirasa, tetapi ia tetap berjasa besar dalam memberi sarana bagi Gandakusuma untuk memulihkan kewibawaan Bandaralim yang lemah pasca peristiwa penculikan dirinya oleh Prabu Jaka, dengan memberinya tahta Gabahbudiman karena ia dianggap telah berhasil menyelamatkan Dewi Sariraga dari sekapan Prabu Dasaboja. Dalam konteks sufisme Jawa, Dewi Sarirasa dan Dewi Sariraga adalah wujud dan syarat kesempurnaan yang diwadahi oleh Gandakusuma, bahwa untuk dapat mencapai kedekatan hubungan dengan Tuhan, seorang umat mesti mampu mengendalikan rasa dan raganya, serta memusatkan diri dan hidupnya semata untuk menghadirkan Tuhan. Di sisi lain, Dewi Kalpikawati adalah tokoh perempuan yang hadir dalam peran yang berlawanan dengan dua tokoh perempuan di atas.

Dalam konteks sufi, kemunculan Dewi Kalpikawati harus dibaca bersama dengan tokoh Raja Kemar, bukan hanya karena keduanya adalah kakak beradik, tetapi karena keduanya merupakan simbol bagi belenggu kebodohan. Dalam konteks sufi, kebodohan merupakan salah satu nafsu yang harus diperangi untuk dapat mencapai kesempurnaan. Dewi Kalpikawati yang pada namanya mengandung kata kalpika berarti cincin, atau kalpa yang berarti zaman, dan Raja Kemar yang berarti keledai yang identik dengan kebodohan, adalah sebuah isyarat bahwa untuk dapat mencapai penyatuan dengan Tuhan, seorang pelaku jalan sufi seperti Gandakusuma, harus menentang atau memerangi belenggu kebodohan. Ikatan kebodohan, atau zaman kebodohan yang dilambangkan oleh Dewi Kalpikawati dan Raja Kemar, harus diputuskan. Dalam teks Serat Gandakusuma, pemutusan ini digambarkan dengan gugurnya Dewi Kalpikawati di medan perang di tangan Dewi Sarirasa.



Selanjutnya sejogyanya pembaca artikel Imajiner Nuswantoro meneruskan membaca tentang Serat Gandakusuma  :

BACA DISINI :


SERAT GANDAKUSUMA (Pupuh XXXII – XXXIV / 32-34)


SERAT GANDAKUSUMA  (Pupuh XXXV – XXXVII / 35 - 37)


SERAT GANDAKUSUMA (Pupuh XXXVIII – XLI / 38 - 41) TAMAT




Imajiner Nuswantoro 




Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)