HIKAYAT TAJUL MULUK
(Warisan Pengetahuan Islam Nusantara : Sejarah, Isi, Perkembangan, dan Perspektif Keilmuan)
Ditulis oleh : Imajiner Nuswantoro
Selayang Pandang
Tajul Muluk (Arab: تاج الملوك) secara harfiah berarti "Mahkota Para Raja" atau "Mahkota Kerajaan." Dalam tradisi Islam, nama ini digunakan oleh berbagai kitab yang berisi kumpulan ilmu keagamaan, doa, hikmah, wirid, pengobatan tradisional, astrologi, ramalan hari baik, hingga amalan spiritual.
Hikayat Tajul Muluk adalah karya sastra Melayu klasik asal daerah Aceh yang berisi kisah kepahlawanan, romansa, dan petualangan seorang pangeran bernama Tajul Muluk dari Negeri Syarqastan (Syarikatan). Sastra lama ini ditulis dalam bentuk naskah atau puisi tradisional (seperti pantoen atau syair). Istilah "Tajul Muluk" sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti "Mahkota Raja-Raja".
Penting untuk dicatat bahwa dalam tradisi literatur Melayu Nusantara, nama "Tajul Muluk" merujuk pada dua karya yang sangat berbeda sifatnya:
1. Hikayat Tajul Muluk: Karya fiksi naratif (sastra lama) mengenai perjalanan hidup Raja Zainul Muluk dan putranya, Pangeran Tajul Muluk.
2. Kitab Tajul Muluk: Buku panduan primbon, pengobatan tradisional, ilmu firasat, jampi, ramalan, dan arsitektur tradisional (feng shui Melayu) yang disusun oleh Syekh Ismail Aceh.
BACA JUGA :
TAJUL MULUK
.
Ringkasan Alur Cerita Hikayat Tajul Muluk
Secara garis besar, naskah fiksi naratif Hikayat Tajul Muluk menceritakan petualangan epik kerajaan:
1. Latar Belakang: Cerita berpusat pada kehidupan Raja Zainul Muluk yang memimpin sebuah negeri bernama Syarqastan atau Syarikatan.
2. Kelahiran Sang Pangeran: Raja dikaruniai seorang putra yang tampan, cerdas, dan gagah berani bernama Pangeran Tajul Muluk.
3. Konflik & Pengembaraan: Layaknya kisah hikayat klasik, pangeran harus meninggalkan istana dan melakukan pengembaraan panjang. Ia menghadapi berbagai rintangan, pertempuran antarkerajaan, peperangan melawan makhluk mistis, hingga terlibat jalinan asmara dengan putri dari negeri seberang.
4. Pesan Moral: Kisah ini menekankan pentingnya sifat kesatria, kebijaksanaan seorang pemimpin, ketaatan pada nilai moral, serta keteguhan hati dalam menghadapi takdir kehidupan.
Mengenal Kitab Tajul Muluk (Naskah Primbon)
Jika Anda mencari referensi "Tajul Muluk" dalam konteks petua atau ramalan, masyarakat Nusantara lebih mengenalnya sebagai Kitab Kuning Tajul Muluk. Kitab nonfiksi kuno ini memiliki karakteristik tersendiri:
- Asal-usul: Disusun oleh ulama bernama Syekh Ismail Aceh pada masa pemerintahan Sultan Ibrahim Mansur Syah (1837–1870 M) di Kesultanan Aceh.
- Isi Kandungan: Memuat metode pengobatan herbal tradisional, ilmu firasat untuk membaca watak manusia melalui ciri fisik, ramalan kecocokan jodoh, hingga tata cara membangun rumah (menentukan arah pintu dan tanah yang baik).
- Kontroversi: Sebagian isi kitab ini (seperti rajah, jampi-jampi, dan ramalan nasib berdasarkan hari lahir) sering dikritik oleh ulama modern karena dianggap bercampur dengan takhayul dan berpotensi menyimpang dari akidah Islam.
Di Nusantara, khususnya Indonesia, Malaysia, Brunei, dan sebagian Thailand Selatan, Tajul Muluk dikenal sebagai salah satu kitab klasik Melayu yang cukup populer sejak abad ke-18 hingga awal abad ke-20. Kitab ini banyak dipelajari di lingkungan pesantren tradisional, surau, keluarga bangsawan Melayu, maupun masyarakat umum.
Namun, penting dipahami bahwa Tajul Muluk bukan satu kitab tunggal dengan isi yang seragam. Berbagai daerah memiliki versi, salinan, dan susunan yang berbeda-beda.
Asal-usul Nama Tajul Muluk
Kata Taj berarti mahkota. Sedangkan Muluk adalah bentuk jamak dari Malik yang berarti raja.
Maknanya adalah : "Mahkota bagi para raja."
Nama tersebut melambangkan bahwa kitab ini dianggap berisi berbagai ilmu yang sangat berharga sebagai bekal kehidupan.
Sejarah Tajul Muluk
Asal-usul Tajul Muluk diperkirakan berasal dari tradisi keilmuan Islam di Timur Tengah yang kemudian berkembang di Persia, India, dan dunia Melayu.
Melalui jalur perdagangan dan dakwah para ulama, berbagai kitab hikmah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu dengan tulisan Arab-Melayu (Jawi).
Pada masa Kesultanan Aceh, Demak, Banten, Palembang, Banjar, dan Kesultanan Melayu lainnya, kitab-kitab seperti Tajul Muluk menjadi bagian dari literatur keagamaan masyarakat.
Isi Kitab Tajul Muluk
Isi Tajul Muluk sangat beragam tergantung versinya.
Beberapa pokok pembahasan yang umum dijumpai meliputi:
1. Ilmu Tauhid
- Mengenal Allah
- Sifat dua puluh
- Rukun iman
- Rukun Islam
2. Fikih Dasar
Tata cara wudu
- Salat
- Puasa
- Zakat
- Nikah
3. Doa-doa
Berisi doa untuk:
- keselamatan
- kesehatan
- rezeki
- perjalanan
- menghadapi musuh
- perlindungan
Sebagian doa bersumber dari Al-Qur'an dan hadis.
4. Wirid dan Zikir
Berbagai bacaan seperti:
- Ayat Kursi
- Surah Yasin
- Surah Al-Waqi'ah
- Hizib
- Shalawat
5. Pengobatan Tradisional
Berisi:
- ramuan herbal
- doa penyembuhan
- terapi tradisional
- ruqyah
6. Primbon Islam
Bagian ini paling terkenal.
Berisi antara lain:
- hari baik
- hari buruk
- perhitungan weton
- kecocokan pernikahan
- arah perjalanan
- pindah rumah
- bercocok tanam
Bagian ini merupakan hasil akulturasi budaya Islam dengan tradisi lokal.
7. Ilmu Falak
Berisi:
- penentuan arah kiblat
- kalender Hijriah
- gerhana
- posisi bulan
8. Akhlak
Mengajarkan:
- menghormati orang tua
- adab guru
- etika bertetangga
- kejujuran
- amanah
Tajul Muluk dan Tradisi Jawa
Di Jawa, Tajul Muluk sering dipadukan dengan:
- Primbon Jawa
- Pawukon
- Weton
- Penanggalan Jawa
Karena itu muncul berbagai versi yang bercampur antara tradisi Islam dan budaya Jawa.
Tajul Muluk di Dunia Melayu
Kitab ini berkembang luas di:
- Aceh
- Riau
- Sumatra Selatan
- Kalimantan
- Malaysia
- Brunei
- Pattani (Thailand Selatan)
Banyak ditulis menggunakan huruf Jawi.
Kandungan Ilmu Hikmah
Dalam sebagian versi terdapat pembahasan mengenai:
- asmaul husna
- hizib
- wafaq
- doa perlindungan
- amalan harian
- shalawat
- zikir
Sebagian ulama menerima amalan yang memiliki dasar syariat, sementara amalan yang tidak memiliki landasan atau mengandung unsur kesyirikan dipandang perlu dihindari.
Perkembangan di Indonesia
Pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, Tajul Muluk banyak dicetak oleh percetakan di Singapura, Pulau Pinang, Batavia, Surabaya, dan Semarang.
Kitab ini menjadi salah satu bacaan masyarakat sebelum pendidikan modern berkembang.
Nilai Budaya
Sebagai naskah klasik, Tajul Muluk memiliki nilai penting karena:
- mencerminkan proses Islamisasi di Nusantara;
- memperlihatkan akulturasi Islam dengan budaya lokal;
- menjadi sumber sejarah perkembangan bahasa Melayu-Jawi;
- menunjukkan cara masyarakat tradisional memahami agama dan kehidupan sehari-hari.
Pandangan Ulama
Pandangan terhadap Tajul Muluk beragam.
Sebagai warisan budaya, kitab ini dipandang penting untuk diteliti dari sisi sejarah, filologi, dan antropologi.
Dari sisi agama, isi kitab perlu dikaji secara kritis. Bagian yang sesuai dengan Al-Qur'an, hadis sahih, dan prinsip akidah Islam dapat dipelajari, sedangkan bagian yang berisi ramalan, penentuan nasib, atau praktik yang mengarah pada tahayul, syirik, atau khurafat tidak dijadikan pegangan dalam beragama.
Karena itu, pembacaan Tajul Muluk hendaknya dilakukan dengan kemampuan membedakan antara nilai budaya, pengetahuan tradisional, dan ajaran Islam yang memiliki landasan syariat.
Pengaruh terhadap Masyarakat
Selama berabad-abad, Tajul Muluk memengaruhi kehidupan masyarakat dalam berbagai aspek, seperti:
- tata cara memilih waktu pernikahan;
- tradisi pindah rumah;
- penentuan waktu bercocok tanam;
- pengobatan tradisional;
- pembacaan doa dan wirid;
- pelestarian aksara Jawi dan khazanah sastra Melayu.
Pengaruh tersebut menunjukkan peran kitab ini sebagai bagian dari tradisi intelektual dan budaya masyarakat Melayu-Islam.
Relevansi di Era Modern
Di era modern, Tajul Muluk lebih tepat diposisikan sebagai:
- sumber kajian sejarah Islam Nusantara;
- objek penelitian filologi dan manuskrip;
- bahan studi budaya Melayu dan Jawa;
- referensi untuk memahami proses akulturasi antara ajaran Islam dan tradisi lokal.
Sementara itu, praktik keagamaan dan penetapan hukum Islam tetap merujuk pada Al-Qur'an, hadis yang sahih, serta penjelasan para ulama yang kompeten.
Kesimpulan
Tajul Muluk merupakan salah satu warisan intelektual Islam Nusantara yang memadukan unsur keagamaan, etika, pengobatan tradisional, penanggalan, dan kebudayaan lokal. Keberadaannya memperlihatkan bagaimana masyarakat Melayu dan Nusantara mengembangkan pengetahuan dalam konteks zamannya. Sebagai naskah klasik, Tajul Muluk memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi. Namun, isi setiap versinya perlu dikaji secara kritis dan proporsional: bagian yang selaras dengan ajaran Islam dapat dipetik manfaatnya, sedangkan bagian yang bertentangan dengan prinsip tauhid atau tidak memiliki dasar syariat sebaiknya tidak dijadikan pedoman keagamaan. Dengan pendekatan ilmiah dan historis, Tajul Muluk tetap menjadi salah satu khazanah penting dalam memahami perkembangan peradaban Islam di Nusantara.
Berikut Kitab Tajul Muluk :

