FILOSOFI JAWA TENTANG GUSTI, PENGERAN, DAN SANG HYANG AKARYO JAGAD
(Memahami Hubungan Manusia dengan Tuhan, Sesama, Alam, dan Seluruh Makhluk dalam Kearifan Jawa)
Dening : Imajiner Nuswantoro
Selayang Pandang
Filosofi Jawa merupakan hasil perenungan panjang masyarakat Jawa yang berkembang selama berabad-abad melalui tradisi lisan, sastra, keraton, serta pengaruh Hindu-Buddha, Islam, dan kepercayaan lokal. Bagi masyarakat Jawa, kehidupan bukan sekadar persoalan lahiriah, melainkan perjalanan batin menuju keselarasan (harmoni).
Tujuan hidup bukan hanya memperoleh kekayaan atau kekuasaan, tetapi mencapai keadaan yang disebut tentrem, ayem, slamet, dan manunggaling rasa, yaitu kehidupan yang selaras dengan Tuhan, sesama manusia, alam semesta, dan diri sendiri.
A. Makna "Gusti" dalam Filosofi Jawa
Kata Gusti mempunyai beberapa makna sesuai konteks.
Pertama, Gusti berarti Tuhan Yang Maha Esa.
Contohnya :
1. Gusti Allah
Dalam perspektif Jawa, Gusti Allah bukan sekadar sebutan untuk Tuhan, tetapi mengandung makna filosofis yang sangat dalam. Konsep ini merupakan hasil pertemuan antara warisan spiritual Jawa kuno, pengaruh Hindu-Buddha, dan kemudian Islam (khususnya tasawuf). Meskipun istilah dan ungkapannya beragam, inti ajarannya menekankan bahwa Tuhan adalah Yang Maha Esa, Maha Pencipta, Maha Mengatur, dan Maha Meliputi seluruh alam.
Makna "Gusti"
Dalam bahasa Jawa, Gusti berarti tuan, penguasa, pemilik, atau yang berdaulat. Pada masa kerajaan, raja sering dipanggil "Gusti" sebagai bentuk penghormatan karena memegang kekuasaan di dunia.
Namun dalam konteks ketuhanan:
- Gusti Allah berarti Tuhan Yang Maha Berkuasa.
- Raja hanyalah wakil atau pemegang amanah di bumi, bukan Tuhan.
Karena itu muncul konsep Jawa:
- "Ratu iku mung pepadhanging rakyat, Gusti Allah iku pepadhanging jagad."
Artinya:
"Raja hanyalah penerang rakyat, sedangkan Gusti Allah adalah penerang seluruh alam."
2. Gusti Allah sebagai Sang Hyang Akarya Jagad
Sebelum istilah "Allah" dikenal luas, masyarakat Jawa mengenal sebutan Sang Hyang Akarya Jagad
Artinya:
Yang Maha Menciptakan Alam Semesta.
Nama lain yang dikenal antara lain:
- Sang Hyang Wenang
- Sang Hyang Tunggal
- Sang Hyang Manon
- Sang Hyang Sukma
- Hyang Agung
Kesemuanya menunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa.
3. Gusti Allah Maha Dekat
Dalam filsafat Jawa terdapat ajaran:
"Gusti iku cedhak tanpa senggolan, adoh tanpa wangenan."
Artinya:
"Tuhan sangat dekat tetapi tidak dapat disentuh, jauh tetapi tanpa batas."
Maknanya:
- Tuhan selalu hadir.
- Tuhan tidak dibatasi ruang.
- Tuhan tidak membutuhkan tempat.
4. Hubungan Manusia dengan Gusti Allah
Tujuan hidup menurut falsafah Jawa adalah Manunggaling kawula lan Gusti
Secara harfiah:
"Bersatunya hamba dengan Tuhan."
Dalam tradisi kebatinan dan tasawuf Jawa, ungkapan ini dipahami sebagai penyatuan kehendak manusia dengan kehendak Tuhan melalui penyucian diri, bukan berarti manusia berubah menjadi Tuhan.
Nilai yang ditekankan adalah:
- mengekang hawa nafsu,
- hidup jujur,
- sabar,
- ikhlas,
- dan selalu ingat kepada Tuhan.
5. Tuhan Tidak Terlihat tetapi Nyata
Pitutur Jawa mengatakan "Tan kena kinaya ngapa."
Artinya:
"Tidak dapat digambarkan dengan apa pun."
Maknanya:
- Tuhan melampaui pikiran manusia.
- Tidak dapat disamakan dengan makhluk.
- Tidak dapat dibatasi bentuk.
6. Tuhan Mengatur Alam
Orang Jawa memandang alam sebagai ciptaan Gusti Allah.
Karena itu dikenal ajaran:
- Memayu Hayuning Bawana
Artinya:
"Memelihara keindahan dan keselamatan dunia."
Merusak alam berarti melawan kehendak Tuhan.
7. Tuhan Mengatur Takdir
Pitutur Jawa "Manungsa mung saderma nglakoni."
Artinya:
"Manusia hanya menjalankan ikhtiar."
Maknanya:
- manusia wajib berusaha,
- hasil akhirnya berada dalam kuasa Gusti Allah.
8. Tuhan Mengetahui Isi Hati
Pitutur Jawa "Gusti ora sare."
Artinya:
"Tuhan tidak pernah tidur."
Makna:
- semua perbuatan diketahui Tuhan,
- tidak ada kejahatan yang benar-benar tersembunyi,
- keadilan Tuhan pada akhirnya akan berlaku.
9. Sikap Hidup kepada Gusti Allah
Filsafat Jawa mengajarkan sikap:
- Narima ing pandum, yaitu menerima dengan lapang hati apa yang diperoleh setelah berusaha, bukan berarti pasrah tanpa ikhtiar.
jelaskan. Narima ing pandum,.
Narima ing pandum (atau nrimo ing pandum) adalah falsafah Jawa yang berarti tulus dan ikhlas menerima segala pemberian atau takdir dari Tuhan. Secara harfiah, narima berarti menerima dan pandum berarti bagian atau pemberian. Sikap ini bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan bentuk penerimaan lapang dada setelah melakukan ikhtiar maksimal.
Falsafah ini menekankan pentingnya mensyukuri apa yang dimiliki dan menjauhkan diri dari sifat serakah, iri hati, maupun kecewa berlebihan.
- Eling lan waspada, selalu ingat kepada Tuhan dan berhati-hati dalam bertindak.
jelaskan Eling lan waspada.
Eling lan waspada adalah filosofi Jawa yang berarti ingat (sadar) dan waspada (berhati-hati). Konsep ini menjadi pedoman moral agar manusia selalu mawas diri, mengingat asal-usul dan Tuhan, serta selalu mawas terhadap potensi bahaya atau godaan dalam menjalani kehidupan.
Falsafah moral yang dipopulerkan oleh pujangga Ronggowarsito dalam Serat Kalatidha ini memiliki dua makna utama:
- Eling (Ingat/Sadar): Kesadaran spiritual dan emosional untuk selalu mengingat Tuhan, mengingat hakikat diri, serta belajar dari pengalaman atau sejarah masa lalu agar tidak mudah sombong atau lupa daratan.
- Waspada (Hati-hati/Mawas Diri): Kesiapsagaan mental untuk menghadapi perubahan zaman, ancaman, atau godaan yang belum terjadi. Ini adalah bentuk kehati-hatian agar tidak mudah terjerumus ke dalam kesalahan.
Jadi, seseorang yang menerapkan eling lan waspada akan memiliki keseimbangan antara ketenangan batin dan kesiapan dalam mengambil keputusan di berbagai situasi kehidupan
- Andhap asor, rendah hati karena semua berasal dari Gusti Allah.
jelaskan Andhap asor,
Andhap asor adalah sikap rendah hati, sopan, santun, dan menghormati orang lain. Berasal dari bahasa Jawa (andhap = rendah, asor = bawah), konsep ini mengajarkan untuk tidak sombong, menjaga tutur kata, dan menghargai siapa pun, terutama orang yang lebih tua atau berkedudukan lebih rendah.
Meskipun memiliki pencapaian besar, seseorang yang andhap asor tetap bersikap tenang, tidak pamer, dan menyukuri keberhasilannya. Nilai ini merupakan salah satu fondasi utama dalam etika bermasyarakat di budaya Jawa, Sunda, dan Madura.
- Tepa slira, menghormati sesama sebagai sesama ciptaan Tuhan.
Tepa slira (atau tepa salira) adalah kemampuan batin untuk menempatkan diri pada posisi orang lain, sehingga kita bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Istilah dari bahasa Jawa ini bermakna tenggang rasa dan empati, yang mendorong seseorang untuk selalu menjaga tindakan agar tidak menyakiti atau membebani orang lain.
Asal Usul Kata
Secara harfiah, istilah ini berasal dari dua kata dasar dalam bahasa Jawa:
- Tepa: Mengukur, menimbang, atau menilai.
- Slira: Diri sendiri.
Jadi, konsep ini secara filosofis berarti "mengukur diri sendiri." Sebelum kita berbicara atau bertindak kepada orang lain, kita menimbangnya dengan bertanya pada diri sendiri.
Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari
- Menjaga Lisan: Berpikir sebelum berbicara agar tidak menyinggung perasaan atau menjatuhkan harga diri orang lain.
- Toleransi Beragama/Sosial: Menghormati dan memberikan ruang bagi orang lain untuk menjalankan keyakinan atau kebiasaan mereka yang berbeda dari kita.
- Tenggang Rasa Lingkungan: Membatasi volume suara atau aktivitas bising pada malam hari karena menyadari tetangga mungkin sedang beristirahat.
Nilai luhur ini sangat dijunjung tinggi untuk menciptakan kerukunan, kedamaian, dan meminimalisir konflik di masyarakat.
10. Sapta Pandhita Ratu
Dalam tradisi Jawa terdapat ungkapan:
"Pandhita Ratu"
Yakni pemimpin ideal yang menyatukan kebijaksanaan seorang pendeta (pandhita) dan tanggung jawab seorang raja (ratu). Pemimpin dipandang sebagai wakil yang mengemban amanah untuk menegakkan keadilan dan kesejahteraan rakyat. Konsep ini tidak berarti raja adalah Tuhan, melainkan bahwa kekuasaan harus dijalankan dengan kesadaran moral di hadapan Gusti Allah.
11. Gusti Allah dalam Islam Jawa
Ketika Islam berkembang di Jawa, para ulama menggunakan istilah yang telah akrab di masyarakat:
a. Gusti Allah
Gusti Allah adalah sebutan atau gelar dalam bahasa Jawa dan Sunda yang bermakna "Tuhan Allah". Kata "Gusti" sendiri berarti tuan atau penguasa, sehingga "Gusti Allah" ditujukan sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada Allah SWT sebagai Raja dan Pencipta.
Masyarakat sering menggunakan istilah ini dalam budaya dan filsafat ketuhanan, seperti dalam ungkapan Gusti Allah mboten sare (Tuhan tidak tidur) yang memberikan penghiburan bahwa Tuhan selalu mengawasi dan menyertai hamba-Nya. Meskipun kata "Gusti" adalah serapan budaya lokal, penggunaannya diperbolehkan dalam konteks penyebutan atau doa selama maknanya ditujukan kepada Allah.
Dalam ajaran Islam, pengenalan terhadap-Nya lebih lanjut termanifestasi melalui sifat-sifat kesempurnaan-Nya.
b. Pengeran
Dalam bahasa Jawa, kata Pengeran (sering diucapkan dengan e pepet) memiliki arti yang sakral dan berbeda dari gelar bangsawan.
- Arti: Merujuk kepada Tuhan Yang Maha Esa atau Sang Pencipta.
- Asal Kata: Berasal dari kata Pengeran dalam Jawa Kuno yang berarti melindungi.
Penggunaan: Sering digabung menjadi istilah Gusti Pengeran atau Pangeran Kang Murbeng Dumadi (Tuhan penentu takdir).
Pangeran (menggunakan huruf 'a'), maka kata ini merujuk pada gelar kedudukan di kerajaan.
- Arti: Gelar untuk anak laki-laki raja, sultan, atau anggota keluarga kerajaan laki-laki.
- Contoh: Tokoh sejarah seperti Pangeran Diponegoro. Kanjeng Pangeran Penyembahan.
c. Kang Murbeng Dumadi
Kang Murbeng Dumadi adalah frasa bahasa Jawa yang berarti "Tuhan Yang Maha Kuasa" atau "Sang Pencipta dan Pengatur Alam Semesta". Istilah ini berasal dari kata "Kang" (yang), "Murbeng" (menguasai/mengatur), dan "Dumadi" (makhluk atau ciptaan), merujuk pada entitas tertinggi yang memelihara seluruh kehidupan.
Frasa ini sering digunakan dalam doa, tembang, atau puji-pujian Jawa, memohon perlindungan dan kasih sayang dari-Nya. Anda mungkin sering mendengar atau membacanya dalam budaya spiritual masyarakat Jawa.
d. Kang Akarya Jagad
Istilah Kang Akarya Jagad (atau Kang Akarya Jagat) berasal dari bahasa Jawa Baru yang bermakna "Yang Menciptakan Dunia/Alam Semesta". Dalam sastra dan budaya Jawa, frasa ini merupakan salah satu sebutan atau gelar penghormatan untuk Sang Pencipta atau Tuhan Yang Maha Esa.
Penggunaan istilah-istilah tersebut memudahkan penyampaian ajaran tentang Tuhan Yang Maha Esa tanpa menghilangkan makna tauhid.
Jadi didalam perspektif Jawa, Gusti Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, Sang Pencipta dan Penguasa alam semesta, yang tidak dapat diserupakan dengan makhluk, namun diyakini sangat dekat dengan manusia. Filsafat Jawa menekankan bahwa manusia hendaknya hidup dengan eling (selalu ingat kepada Tuhan), andhap asor (rendah hati), tepa slira (menghormati sesama), dan memayu hayuning bawana (menjaga keharmonisan dunia). Raja atau pemimpin yang disebut Gusti dalam konteks sosial dipahami sebagai pemegang amanah untuk memimpin dengan adil, bukan sebagai Tuhan. Dengan demikian, dalam pandangan Jawa, kehidupan yang baik adalah kehidupan yang selaras dengan Gusti Allah, sesama manusia, dan alam semesta.
e. Gusti Kang Murbeng Dumadi
Gusti Kang Murbeng Dumadi adalah frasa bahasa Jawa yang berarti "Tuhan Sang Pencipta" atau Penguasa dan Pengatur alam semesta. Istilah ini sering digunakan dalam spiritualitas Kejawen, tembang, serta kidung rohani Kristen. Frasa ini menggambarkan Tuhan sebagai sumber awal dan akhir dari segala kehidupan.
Dalam budaya Jawa, konsep ini menunjukkan pengakuan atas kekuasaan Tuhan yang Maha Esa dan Maha Kuasa atas segala ciptaan-Nya.
f. Gusti Ingkang Akarya Jagad
Gusti Kang Akaryo Jagad" (atau Gusti Kang Murbeng Dumadi) adalah frasa dalam bahasa Jawa yang berarti Tuhan Yang Maha Kuasa, Sang Pencipta, Pengatur, dan Pemelihara alam semesta. Frasa ini sering digunakan dalam falsafah spiritual Kejawen untuk menggambarkan kebesaran Tuhan yang menciptakan dan menguasai jagad raya.
Dalam konteks ini, Gusti berarti Sang Pencipta seluruh alam.
Kedua, Gusti merupakan gelar kehormatan bagi raja atau keluarga kerajaan.
Misalnya:
- Gusti Kanjeng Ratu
- Gusti Pangeran Haryo
- Gusti Sultan
Mengapa raja dipanggil Gusti ?
Bukan karena raja dianggap Tuhan, melainkan karena dalam konsep politik tradisional Jawa, raja dipandang sebagai wakil atau pemegang amanah Tuhan di bumi.
Konsep ini dekat dengan gagasan Islam tentang manusia sebagai khalifah fil ardh (wakil Allah di bumi), namun dalam praktik kerajaan Jawa berkembang dalam bentuk simbol budaya dan tata pemerintahan.
Karena itu, penghormatan kepada raja tidak dimaksudkan sebagai penyembahan, melainkan penghormatan kepada pemegang amanah yang diharapkan menjalankan keadilan.
Apabila raja bertindak zalim, maka secara filosofi ia dianggap telah kehilangan legitimasi moralnya.
B. Sapta Pandhita Ratu
Dalam tradisi Jawa dikenal ungkapan:
"Pandhita Ratu"
Artinya:
Raja hendaknya memiliki sifat seorang pendeta.
Dalam berbagai naskah Jawa dikenal ajaran mengenai sifat-sifat ideal seorang pemimpin yang sering dikaitkan dengan konsep Sapta Pandhita Ratu atau ajaran kepemimpinan yang menekankan kesempurnaan moral. Walaupun rincian istilahnya berbeda-beda antar naskah dan tradisi, inti ajarannya adalah bahwa seorang pemimpin harus:
- bijaksana,
- adil,
- menguasai hawa nafsu,
- jujur,
- welas asih,
- menjadi teladan,
- mengutamakan kepentingan rakyat.
Raja bukan sekadar penguasa.
Ia adalah penjaga keseimbangan dunia.
Semakin besar kekuasaan, semakin besar pula tanggung jawab moralnya.
C. Makna Pangeran dalam Tradisi Jawa
Istilah Pangeran juga memiliki dua penggunaan.
Pertama sebagai gelar bangsawan kerajaan.
Misalnya:
-Gusti Pangeran Haryo
- Pangeran Diponegoro
Kedua, dalam bahasa Jawa, Pangeran juga menjadi salah satu sebutan bagi Tuhan.
Contoh doa Jawa:
"Mugi Pangeran paring berkah."
Artinya:
Semoga Tuhan memberikan berkah.
Dalam konteks ini, Pangeran bukan manusia, melainkan Tuhan Yang Maha Esa.
D. Sang Hyang Akarya Jagad
Salah satu istilah kuno Jawa adalah:
Sang Hyang Akarya Jagad
Artinya:
Sang Yang Menciptakan Alam Semesta.
Istilah ini berasal dari bahasa Jawa Kuno dan Sanskerta:
- Sang Hyang = Yang Mahasuci
- Akarya = menciptakan
- Jagad = alam semesta
Istilah ini digunakan pada masa Hindu-Buddha dan tetap dikenal dalam sastra Jawa. Dalam perkembangan berikutnya, masyarakat Jawa Muslim lebih sering menggunakan sebutan seperti Gusti Allah, namun beberapa istilah lama tetap dipertahankan sebagai bagian dari warisan budaya.
Istilah lain yang sering dijumpai antara lain:
- Sang Hyang Wenang
- Sang Hyang Tunggal
- Gusti Kang Murbeng Dumadi
- Gusti Kang Maha Agung
Dalam konteks masyarakat Jawa modern, istilah-istilah tersebut umumnya dipahami sebagai penyebutan bagi Tuhan Yang Maha Esa.
E. Pitutur Jawa Tentang Tuhan
"Manunggaling Kawula lan Gusti"
Makna:
Manusia harus mendekatkan diri kepada Tuhan hingga kehendaknya selaras dengan kehendak Ilahi. Dalam sejarah Jawa, ungkapan ini banyak dibahas dalam tradisi tasawuf Jawa dan tidak dimaknai secara tunggal oleh semua kalangan.
"Sangkan Paraning Dumadi"
Artinya:
Mengingat dari mana manusia berasal dan ke mana akhirnya akan kembali.
"Urip iku mung mampir ngombe."
Artinya:
Hidup di dunia hanyalah singgah sebentar.
"Narima ing pandum."
Makna:
Menerima bagian hidup dengan syukur tanpa kehilangan semangat untuk berusaha.
"Eling lan waspada."
Makna:
Selalu ingat kepada Tuhan serta berhati-hati dalam bertindak.
"Memayu Hayuning Bawana."
Makna:
Tugas manusia adalah memperindah dan menjaga keselamatan dunia.
F. Hubungan Manusia dengan Tuhan
Dalam filsafat Jawa, manusia dipandang sebagai ciptaan Tuhan.
Tujuan hidup bukan sekadar mencari harta.
Tetapi kembali kepada asalnya.
Hubungan tersebut diwujudkan melalui:
- sembah,
- doa,
- laku prihatin,
- kejujuran,
- pengendalian hawa nafsu,
- rasa syukur.
Orang Jawa menyebutnya:
- Eling marang Gusti.
G. Hubungan Manusia dengan Sesama
Orang Jawa mengutamakan:
- rukun,
- tepa selira,
- andhap asor,
- gotong royong,
- empati,
- tenggang rasa.
Pitutur Jawa:
"Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah."
Artinya:
Kerukunan menciptakan kekuatan.
Perselisihan membawa kehancuran.
H. Hubungan Manusia dengan Alam
Dalam pandangan Jawa, alam bukan benda mati.
Alam merupakan bagian dari kehidupan yang harus dihormati.
Karena itu berkembang berbagai tradisi menjaga sumber air, hutan, sawah, dan gunung sebagai bentuk penghormatan terhadap keseimbangan kehidupan.
Filosofi:
Memayu Hayuning Bawana
Artinya:
Menjaga kelestarian dunia.
I. Hubungan Manusia dengan Makhluk Lain
Semua makhluk dipandang memiliki tempat dalam tatanan ciptaan.
Karena itu manusia dianjurkan untuk:
- tidak merusak,
- tidak menyiksa binatang,
- menjaga tumbuhan,
-;menggunakan alam secara bijaksana.
Kebijaksanaan ini mencerminkan kesadaran bahwa manusia hidup berdampingan dengan seluruh ciptaan Tuhan.
J. Filosofi Empat Harmoni Kehidupan Jawa
Filosofi Jawa menempatkan kehidupan ideal sebagai keseimbangan empat hubungan utama:
- Hubungan manusia dengan Tuhan (hablum minallah dalam istilah Islam), diwujudkan melalui doa, sembah, rasa syukur, dan pengendalian diri.
- Hubungan manusia dengan sesama manusia, diwujudkan melalui kerukunan, gotong royong, kejujuran, dan saling menghormati.
- Hubungan manusia dengan alam, diwujudkan melalui pemeliharaan lingkungan, penggunaan sumber daya secara bijaksana, dan menjaga keseimbangan ekosistem.
- Hubungan manusia dengan seluruh makhluk, diwujudkan melalui kasih sayang kepada hewan, tumbuhan, dan penghormatan terhadap kehidupan sebagai bagian dari ciptaan Tuhan.
Keempat hubungan tersebut saling berkaitan. Kerusakan pada salah satunya diyakini akan mengganggu keseimbangan kehidupan secara keseluruhan.
Penutup
Filosofi Jawa mengajarkan bahwa manusia yang luhur bukanlah mereka yang memiliki kekuasaan atau kekayaan semata, melainkan mereka yang mampu menjaga harmoni dengan Tuhan, sesama manusia, alam, dan seluruh makhluk.
Dalam kerangka ini, sebutan Gusti bagi raja bukanlah penegasan bahwa raja adalah Tuhan, melainkan simbol bahwa pemimpin memikul amanah untuk menghadirkan keadilan, kebijaksanaan, dan kesejahteraan sebagai wakil yang bertanggung jawab kepada Sang Pencipta. Sementara itu, istilah seperti Gusti Allah, Pangeran, dan Sang Hyang Akarya Jagad mencerminkan beragam cara masyarakat Jawa menyebut Tuhan sesuai perkembangan sejarah dan budayanya.
Nilai-nilai seperti eling lan waspada, memayu hayuning bawana, narima ing pandum, dan rukun agawe santosa tetap relevan sebagai pedoman etika yang mendorong kehidupan yang damai, bertanggung jawab, dan selaras dengan seluruh ciptaan.
Imajiner Nuswantoro


