DHARMAGITA (Lantunan Suci Agama Hindu)

0

 DHARMAGITA

(Lantunan Suci Agama Hindu)



Imajiner Nuswantoro


Om Svastyastu, Om Anobadrah Krtavo Yantu Visvatah (Semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru)


Dharmagita adalah nyanyian atau lagu suci dalam agama Hindu. Kata dharma berarti kebenaran, kewajiban, dan ajaran agama, sedangkan gita berarti nyanyian atau lagu. Dharmagita digunakan sebagai sarana pemujaan kepada Tuhan, mengiringi upacara keagamaan (yadnya), serta menyampaikan nilai-nilai moral, etika, dan spiritual.

Secara umum, Dharmagita memiliki beberapa jenis, yaitu:

1. Sekar Rare: lagu sederhana untuk anak-anak yang berisi pesan moral dan pendidikan.

2. Sekar Alit (Macapat): tembang yang mengandung ajaran kehidupan, etika, dan sastra.

3. Sekar Madya (Kidung): nyanyian yang biasa dilantunkan dalam upacara keagamaan.

4. Sekar Agung (Kekawin): syair klasik berbahasa Jawa Kuno atau Sanskerta yang berisi ajaran agama dan filsafat Hindu.

Fungsi utama Dharmagita adalah meningkatkan sraddha (keyakinan) dan bhakti (pengabdian) kepada Tuhan, menciptakan suasana khusyuk dalam upacara keagamaan, melestarikan budaya Hindu, serta menjadi media pendidikan karakter dan spiritual bagi umat Hindu. 



Dharmagita (Seni Tembang Suci dalam Tradisi Hindu).

Dharmagita merupakan salah satu warisan budaya dan spiritual dalam agama Hindu yang diwujudkan melalui seni tembang atau nyanyian suci. Kata dharma berarti kebenaran atau ajaran yang luhur, sedangkan gita berarti nyanyian. Dengan demikian, Dharmagita adalah nyanyian yang berisi ajaran-ajaran suci sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.


Pengertian Dharmagita

Dharmagita adalah lantunan tembang yang mengandung nilai-nilai keagamaan, moral, etika, dan filsafat Hindu. Tembang ini biasanya dinyanyikan dalam berbagai upacara keagamaan, kegiatan pembelajaran agama, maupun acara adat. Selain berfungsi sebagai hiburan yang bernilai seni, Dharmagita juga menjadi media penyampaian ajaran Hindu kepada masyarakat.


Fungsi Dharmagita

Dharmagita memiliki beberapa fungsi penting, antara lain:

- Fungsi religius, yaitu sebagai sarana pemujaan dan pengabdian kepada Tuhan.

- Fungsi pendidikan, yaitu menyampaikan nilai-nilai moral, etika, dan ajaran agama kepada generasi muda.

- Fungsi pelestarian budaya, yaitu menjaga dan mewariskan tradisi seni tembang Hindu agar tetap lestari.

- Fungsi sosial, yaitu mempererat kebersamaan umat melalui kegiatan keagamaan dan budaya.


Jenis-Jenis Dharmagita

Dalam tradisi Hindu, terdapat beberapa bentuk Dharmagita, di antaranya :

1. Sloka, yaitu syair suci yang berasal dari kitab-kitab Weda dan sastra Hindu.

2. Kakawin, yaitu puisi klasik yang menggunakan bahasa Jawa Kuno.

3. Kidung, yaitu tembang yang berkembang dalam tradisi Bali dan Jawa dengan isi yang sarat ajaran keagamaan.

4. Pupuh, yaitu tembang tradisional yang memiliki aturan tertentu dalam jumlah suku kata dan iramanya.


Nilai-Nilai yang Terkandung

Dharmagita mengajarkan berbagai nilai luhur, seperti:

- Keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan.

- Kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab.

- Kasih sayang serta sikap saling menghormati.

- Keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.


Manfaat Mempelajari Dharmagita

Mempelajari Dharmagita memberikan banyak manfaat, antara lain meningkatkan pemahaman terhadap ajaran Hindu, melatih kemampuan seni suara, menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya, serta membentuk karakter yang berbudi pekerti luhur. Selain itu, Dharmagita dapat menjadi sarana menenangkan pikiran dan meningkatkan kualitas spiritual seseorang.

Jadi, Dharmagita merupakan perpaduan antara seni, budaya, dan spiritualitas yang memiliki peran penting dalam kehidupan umat Hindu. Melalui lantunan tembang suci, ajaran-ajaran dharma dapat dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, pelestarian Dharmagita perlu terus dilakukan agar warisan budaya dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.




ARTIKEL :


DHARMAGITA


Abstrak 

Dening Imajiner Nuswantoro 


Dharmagita merupakan nyanyian suci dalam ajaran Hindu yang berisi nilai-nilai spiritual, moral, dan budaya, serta digunakan sebagai sarana pemujaan kepada Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa). Dharmagita tidak hanya berfungsi sebagai bagian dari pelaksanaan upacara keagamaan, tetapi juga sebagai media pendidikan untuk menanamkan ajaran tattwa, susila, dan bhakti kepada umat. Melalui syair dan irama yang indah, Dharmagita membantu meningkatkan penghayatan terhadap ajaran Weda, memperkuat karakter, serta melestarikan budaya Hindu, khususnya di Bali. Dalam dunia pendidikan, Dharmagita terbukti menjadi media pembelajaran yang efektif, inovatif, dan menyenangkan sehingga mampu meningkatkan minat belajar serta pemahaman peserta didik terhadap nilai-nilai agama Hindu. 



BAB I

PENDAHULUAN


Keanekaragaman kebudayaan daerah merupakan aset kebudayaan nasional, karena kebudayaan nasional adalah perpaduan dari sari-sarinya kebudayaan daerah.Masing-masing daerah tentu mempunyai kebudayaan yang bermutu tinggi.Seperti halnya Bali memiliki berbagai macam seni, seperti seni musik, seni suara, seni tari, seni pahat, seni lukis.Kesenian Bali sudah terkenal sampai ke mancanegara. Musik tradisional Bali memiliki kesamaan dengan musik tradisional di banyak daerah lainnya di indonesia. Untuk seni suara terdapat dua jenis yaitu seni kerawitan dan seni tembang.Di Bali juga mengenal istilah Dharmagita yang merupakan nyanyian suci umat Hindu karena di Bali mayoritas penduduknya beragama Hindu.Dharma Gita juga merupakan salah satu media kesenian yang sangat menunjang pemahaman ajaran agama khususnya agama Hindu serta sebagai usaha meningkatkan kesucian rohani dan sebagai media kesenian. Maka dalam kesempatan ini penulis akan menyajikan paper mengenai dharmagita beserta contoh-contoh dari pupuh yang merupakan bagian dari Dharmagita:



BAB II

PEMBAHASAN


Pengertian Dharma Gita

Istilah Dharma Gita berasal dari bahasa Sansekerta dari kata Dharma dan Gita. Dharma artinya : kebenaran, agama atau keagamaan, sedangkan Gita berarti nyanyian atau lagu. Jadi Dharma Gita berarti suatu lagu atau nyanyian kesucian yang secara khusus dilagukan pada saat-saat pelaksanaan upacara agama hindu. Dharma Gita dapat dilakukan oleh setiap orang guna memberikan puji-pujian dan sekaligus merupakan sarana untuk memberikan puja-pujaan kepada Sang Hyang Widhi.Orang yang sering melagukan nyanyian keagamaan biasanya memilih lagu yang sesuai dengan upacara yadnya yang dipersembahkan pada saat itu.


Menurut Parmajaya ( 2007:4 ) ditanyakan bahwa seni suara dalam ungkapan seni vokal biasanya disebut dengan istilah  Dharmagita. Dharma gita merupakan merupakan salah satu  budaya Hindu yang harus dikembangkan untuk meningkatkan kualitas kehidupan beragama. Melalui pengucapan Weda Mantra oleh para pendeta Hindu, dan Gita dinyanyikan pada setiap pelaksanaan Upacara Keagamaan.

Menurut Warjana ( 2001:16 ) pengucapan Gita yang tepat akan dapat menggetarkan hati nurani yang paling suci. Budhi nurani yang paling suci akan dapat menguasai pikiran atau manah. Manah yang kuat pasti akan dapat mengendalikan indria, serta indria yang terkendali akan dapat mengarahkan perbuatan manusia untuk selalu berpegang pada ajaran dharma atau kebenaran. Dharma Gita sebagai nyanyian ketuhanan, karena irama lagu dan variasinya akan dapat membantu umat Hindu dalam menciptakan suasana yang khusuk, hening, dan khidmat, yang dipancari sinar kesucian sesuai dengan jenis yadnya yang dilaksanakan.

Dharmagita berasal dari bahasa Sansakerta dan terdiri dari dua kata yakni Dharma dan Gita.Dharma artinya kebenaran/kebaikan, kewajiban, hukum, aturan.Sedangkan Gita artinya nyanyian/lagu.Jadi, Dharma Gita berarti suatu nyanyian kebenaran yang biasa dilantunkan saat upacara keagamaan. Dharma Gita juga diartikan sebagai suatu seni keagamaan yang menggunakan media suara atau vocal dalam agama Hindu. Di dalamnya terdapat syair-syair yang sudah di ringkas sedemikia rupa dan penuh dengan ajaran keagamaan, kemudian dilantunkan dengan suara yang amat mempesona.Pelaksanaan Dharma Gita dilaksanakan pada upacara yadnya yang lagunya telah disesuaikan dengan masing-masing yadnya yang dipersembahkan.

Dharmagita merupakan salah satu media kesenian yang sangat menunjang dalam pemahaman ajaran agama dan meningkatkan kesadaran rohani. Hendaknya pembinaan kehidupan keagamaan di Indonesia dilakukan dengan mengembangkan serta memanfaatkan kesenian di masing-masing daerah, agar masyarakat lebih semarak dalam memahami agamanya.

Mengenai sejarah tembang Bali masih sulit untuk ditafsirkan.Hal ini disebabkan oleh kebiasaan lisan (oral tradisional), suatu secara belajar dari mulut ke mulut.Pada saat ini masih ada tembang yang dinotasi didalam lontar, tetapi belum cukup untuk mengungkapkan kapan tembang itu lahir di Bali.Dalam perkembanganya di Bali, sastra tembang disebut juga Dharmagita.Dharmagita berasal dari bahasa Sansakerta dan terdiri dari dua kata yakni Dharma dan Gita.Dharma artinya kebenaran/kebaikan, kewajiban, hukum, aturan.Sedangkan Gita artinya nyanyian/lagu.Jadi Dharmagita adalah nyanyian atau kidung suci keagamaan yang merupakan salah satu bagian dari sad dharma sebagai kewajiban dalam pelestarian seni budaya Hindu. Dharma Gita juga diartikan sebagai suatu seni keagamaan yang menggunakan media suara atau vocal dalam agama Hindu. Di dalamnya terdapat syair-syair yang sudah di ringkas sedemikia rupa dan penuh dengan ajaran keagamaan, kemudian dilantunkan dengan suara yang amat mempesona.Dharmagita sangat berperan dalam kegiatan upacara agama sebagai pencurahan perasaan bakti dan pembimbing pikiran menuju suatu kebenaran.Hal ini dikarenakan Dharmagita mengandung ajaran agama, susila, tuntunan hidup, dan pelukisan kebesaran Tuhan dalam berbagai manifestasiNya.

Dharma Gita merupakan bagian dari Panca Gita yang dibunyikan pada saat pelaksanaan yajna. Panca Gita adalah lima jenis suara atau bunyi yang mengiringi atau menunjang pelaksanaan yajna. Panca gita terdiri dari :

1. Getaran  Mantram

2. Suara Genta

3. Suara Kidung

4. Suara Gamelan

5. Kentongan (Kulkul).

Kelima suara panca gita  memberikan vibrasi keheninga, kesucian spiritual serta  menumbuhkan imajinasi, kreativitas serta sebagai maha karya adi luhur.


Pañca Gita (Panca Gita) adalah lima jenis bunyi suci yang digunakan dalam upacara keagamaan Hindu, terutama dalam tradisi Hindu Bali. Kata pañca berarti "lima", sedangkan gita berarti "nyanyian", "bunyi", atau "suara". Kelima bunyi ini dipandang sebagai sarana untuk menyucikan tempat, memusatkan pikiran, membangkitkan suasana sakral, serta mengiringi persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Berikut penjelasannya:

1. Getaran Mantram

Mantram adalah rangkaian kata-kata suci yang diucapkan oleh pendeta atau pemangku saat memimpin upacara. Mantram berasal dari bahasa Sanskerta, di mana man berarti pikiran dan tra berarti alat atau sarana. Dengan demikian, mantram adalah sarana untuk memusatkan dan menyucikan pikiran.

Fungsi :

- Menghadirkan suasana sakral.

- Memohon kehadiran Tuhan beserta manifestasi-Nya.

- Menyucikan diri, tempat, dan sarana upacara.

- Menyalurkan doa umat kepada Tuhan.

Makna Filosofis :

Getaran suara mantram dipercaya menghasilkan vibrasi spiritual yang mampu menenangkan batin, meningkatkan konsentrasi, serta menciptakan keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan.


2. Suara Genta

Genta adalah lonceng suci yang dibunyikan oleh sulinggih (pendeta) atau pemangku pada bagian-bagian tertentu dalam upacara.

Fungsi :

- Menandai dimulainya tahapan upacara.

- Memusatkan perhatian umat.

- Mengiringi pembacaan mantram.

- Mengundang kekuatan suci agar hadir dalam upacara.

Makna Filosofis :

Suara genta melambangkan Nada Brahman, yaitu suara kosmis yang menjadi asal mula kehidupan. Denting genta mengingatkan manusia akan kehadiran Tuhan yang meliputi seluruh alam semesta.


3. Suara Kidung

Kidung merupakan nyanyian atau tembang suci yang berisi pujian, doa, ajaran moral, maupun kisah-kisah keagamaan.

Fungsi :

- Mengiringi jalannya upacara.

- Menumbuhkan rasa bhakti dan kekhusyukan.

- Menyampaikan nilai-nilai keagamaan melalui seni suara.

- Memperindah suasana persembahyangan.

Makna Filosofis :

Kidung menjadi media untuk menyatukan rasa, pikiran, dan jiwa dalam pengabdian kepada Tuhan. Melalui syair-syairnya, umat diajak merenungkan ajaran dharma dan memperkuat kehidupan spiritual.


4. Suara Gamelan

Gamelan adalah ansambel musik tradisional yang dimainkan untuk mengiringi berbagai upacara yadnya.

Fungsi :

- Mengiringi prosesi upacara.

- Menambah kekhidmatan suasana.

- Menyesuaikan irama jalannya ritual.

Menjadi bagian dari persembahan seni kepada Tuhan.

Makna Filosofis :

Keselarasan bunyi berbagai instrumen gamelan melambangkan keharmonisan kehidupan. Setiap alat memiliki peran berbeda, namun semuanya berpadu menjadi satu kesatuan yang indah, sebagaimana manusia hidup dalam kebersamaan dan keseimbangan.


5. Kentongan (Kulkul)

Kulkul adalah alat bunyi yang terbuat dari kayu atau bambu berlubang dan dipukul menggunakan alat pemukul khusus.

Fungsi :

- Mengumpulkan masyarakat sebelum upacara.

- Memberikan tanda dimulainya kegiatan keagamaan.

- Menyampaikan informasi kepada warga.

- Menjadi bagian dari iringan ritual tertentu.

Makna Filosofis :

Kulkul melambangkan panggilan menuju kebersamaan dan persatuan. Bunyinya mengingatkan umat agar meninggalkan kesibukan duniawi sejenak untuk bersama-sama memuja Tuhan.

Makna Kesatuan Panca Gita

Kelima unsur suara tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi sehingga membentuk suasana religius yang utuh :

- Mantram menyucikan melalui kekuatan doa.

- Genta menghubungkan manusia dengan dimensi ketuhanan.

- Kidung mengungkapkan bhakti melalui seni suara.

- Gamelan menghadirkan harmoni dan keindahan dalam persembahan.

- Kulkul mengajak umat bersatu dalam kehidupan beragama.

Dalam pandangan Hindu, suara bukan sekadar fenomena fisik, melainkan juga memiliki dimensi spiritual. Getaran suara yang digunakan secara benar diyakini mampu membangkitkan kesadaran rohani, menyelaraskan hubungan manusia dengan Tuhan (Parhyangan), sesama manusia (Pawongan), dan alam (Palemahan), yang merupakan inti ajaran Tri Hita Karana.

Jadi, Panca Gita merupakan simbol perpaduan antara doa, musik, seni, dan komunikasi dalam pelaksanaan upacara Hindu. Getaran mantram, denting genta, lantunan kidung, irama gamelan, serta bunyi kulkul bersama-sama membentuk suasana sakral yang membantu umat memusatkan pikiran, memperdalam bhakti, dan menghayati makna persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dengan demikian, Panca Gita bukan hanya unsur pelengkap ritual, melainkan juga sarana pendidikan spiritual yang mengajarkan keharmonisan, disiplin, kebersamaan, dan kesucian hidup.


Manfaat Dharmagita

Dharma Gita sebagai media untuk menyampaikan dan memperdalam keyakinan beragama sangat efektif. Oleh karena itu penyampaian materi ajaran dijalin demikian rupa dalam bentuk lagu/irama yang indah dan menawan, mempesona pembaca dan pendengarnya. Usaha untuk melestarikan, mengembangkan dharma gita bertujuan untuk tetap menjaga dan memelihara warisan budaya tradisional yang diabadikan kepada keagamaan. Disamping itu melalui dharma gita diharapkan akan mampu memberikan sentuhan rasa kesucian kekhidmatan serta kekhusukan dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan.


Melalui Dharma Gita seseorang dapat :

- Menghayati ajaran agama secara mendalam sehingga perasaan, pikiran, dan budhinya menjadi halus.

- Lagu-lagu keagamaan yang dinyayikan dalam Dharma Gita dapat menggetarkan alam rasa dan meningkatkan Sradha Bakti kepada Sang Hyang Widhi Wasa serta prabhava-Nya

Sehubungan dengan pelaksanaan Dharmagita dalam upacara agama Hindu, renungkanlah mantra berikut:

“Gayo sa sasravartani“ (Sama Weda 8.29).

Artinya :

Kami menyanyikan mantra-mantra Samaweda dalam ribuan cara.

“Ubhe vacau vaditi samaga iva, gayatram ca traistubham canu rajati” (Regweda II.43.1).

Artinya :

Burung menyanyi dalam nada-nada seperti seorang pelafal Sama Weda, yang mengindungkan mantra dalam irama Gayatri dan Tristubh.


- Mengendalikan diri dari pengaruh Adharma.

- Melestarikan Budaya.

- Sebagai penunjang pelaksanaan yadnya.

- Sebagai alat komunikasi, yaitu Komunikasi Bagi seorang Bhakta untuk lebih mendekatkan dirinya kepada Brahman dapat dilakukan dengan menggunakan “Kirtana” yaitu melagukan/menyanyikan lagu – lagu Ketuhanan secara terus menerus.


Bagian-bagian Dharmagita

Untuk mempermudah mempelajari dan menghayati Dharmagita, serta penerapannya dalam masyarakat. Maka Dharmagita dikelompokkan pada bagian-bagian dibawah ini:


Sekar Rare (Gending Rare)

Seiring dengan perjalanan waktu, Lagu Bali terus berkembang dengan grafik yang sangat tidak stabil karena terpengaruh oleh situasi negara yang tidak menentu yang sangat menyulitkan para seniman lagu Bali untuk membuat sebuah karya. Pada dasarnya, Bali tidak hanya kaya akan aneka ragam tarian atau upacara-upacara adatnya yang begitu kompleks. Namun juga kaya akan lagu-lagu atau tembang tradisonalnya yang kelak akan tergerus zaman. Untuk itulah disini kita memiliki peran untuk melestarikannya.Berbagai jenis tembang yang dimiliki oleh Bali mempunyai struktur serta fungsi yang berbeda-beda.Masyarakat Bali membedakan seni tembang ini menjadi empat kelompok, yakni gegendingan, sekar alit, sekar madya, dan sekar agung. Pada kesempatan ini, saya akan membahas salah satu dari empat kelompok ini yaitu gegendingan.

Gending Rare atau Sekar Rare mencakup berbagai jenis lagu-lagu anak-anak yang bernuansa permainan.Jenis tembang ini pada umumnya memakai bahasa Bali sederhana, bersifat dinamis dan riang, sehingga dapat dilagukan dengan mudah dalam suasana bermain dan bergembira.


Adapun contoh Gending yang termasuk Sekar Rare yaitu:

- Juru Pencar

- Juru pencar juru pencar

- Mai jalan mencar ngejuk ebe

- Be gede gede

- Be gede gede

- Di sawana ajaka liu

- Meong-meong

- Meong meong alih ja bikule

- Bikul gede gede

- Buin mokoh mokoh

- Kereng pesan ngerusuhin

- Juk meng… Juk kul..


 

Sekar Alit

Sekar alit juga disebut macapat. Macapat dalam bahasa Jawa berarti suatu sistem untuk membaca syair tembang atas empat-empat suku kata.Di Bali tembang macapat sering disebut dengan pupuh yang berarti rangkaian tembang (Budiyasa dan Purnawan, 1998: 8). Pupuh di Bali dikenal sepuluh buah sebagai macapat asli, seperti Pupuh Sinom, Pupuh Semarandana, Pupuh Pangkur, Pupuh Pucung, Pupuh Ginada, Pupuh Ginanti, Pupuh Durma, Pupuh Maskumambang, Pupuh Dandanggula,  dan Pupuh Mijil.Pupuh yang dirangkai dalam sebuah cerita disebut geguritan. Akan tetapi, selanjutnya muncul beberapa pupuh baru yang berasal dari kidung, seperti Jurudemung (Demung), Gambuh, Magatruh, Tikus Kapanting, dan Adri. Belakangan muncul beberapa geguritan yang memiliki beberapa tema, yaitu Geguritan Tamtam, Geguritan Basur, Geguritan Ni Sumala, Geguritan Pakang Raras, Geguritan Durma, Geguritan Sucita, dan sebagainya.

Pupuh juga memiliki beberapa variasi yang beranekaragam, sesuai dengan alur cerita dalam geguritan, misalnya pupuh Sinom memiliki beberapa variasi yaitu pupuh Sinom Uug Payangan (ditembangkan dalam Geguritan Uug Payangan); pupuh Ginada memiliki variasi pupuh Ginada Basur (ditembangkan dalam Geguritan Basur); pupuh Ginada Jayaprana (ditembangkan dalam Geguritan Jayaprana); dan beberapa variasi pupuh yang lain. Selain itu, pupuh sebagai rangkaian tembang memiliki karakter yang berbeda-beda. Karakter pupuhtersebut akan tampak ketika dilantunkan dengan ekspresi, berupa rasa romantis, sedih, senang, berwibawa, dan sebagainya.

Dalam menyajikan tembang macapat atau pupuh pada dasarnya dapat ditempuh dengan dua cara yakni sebagai berikut:

- Sistem paca priring, yaitu sistem membaca atau menyajikan nada-nada pokok tembang satu demi satu bagi orang yang baru mulai belajar menembang.

- Sistem ngwilet atau gregel, yaitu sistem dalam menyanyikan tembang sudah memakai hiasan atau variasi cengkok, anak nada, dan pemakaian tempo lebih panjang. Cara ini dapat melahirkan gaya tiap penyanyi, namun masih tetap pada tema lagu atau tembang.


Berikut adalah contoh pupuh atau tembang macepat yang menceritakan tentang kisah “Kebo iwa” yang dituangkan dalam bentuk tembang macepat atau pupuh:

1. Pupuh Dandang Gula

Tembang:

Titiang jatma lintang pangkah gati

Nulad Sang meraga ririh wikan

Pascad ring kanda sastrane

Mangda wenten anggen suluh

Olih karma sareng sami

Kebo iwa katembangang

Patih Bali teguh kukuh

Magajegang Bali Duipa

Panganjali Swastyastu riin katur

Kirang langsung sinampura


Artos:

Inggih, titian pinaka damuh sane pangkah wiakti

Titiang pangkah nulad sang meraga waged ririh

Inngih punika sang waged ring sajeroning kandane

Tetuek titian nulad ida mangda wenten katur anggen suluh

Punika katur majeng ring ida dane karma sami

Punika mawinan titiang mangkin ngaturang gita mamurda “Kebo Iwa”

Dane kaloktah pinaka patih Bali sane sakti

Dane sane ngajegang jagat Baline duka riin

Sadurunge katur, kawitin titiang dumun antuk pangastungkara, Om Swastyastu

Prade wenten atur tan manut titiang nunas sinampura


2. Pupuh Sinom

Tembang:

Ring jagat Blahbatuh carita

Irika Ki Karang Buncing

Maka mekel ngenter jagat

Madue oka asiki

Kebo Iwa mapepasih

Jemet nulung aji ibu

Uleng m’lajah kanda sastra

Asih kumasih ring kanti

Aji ibu

Ledang maputra suputra


Artos:

Inggih, ceritayang titiang ring Jagat Blahbatuh duke riin

Ring jagat Blahbatuh wenten kabawos dane Ki Karang Buncing

Dane karang Buncing maka mekel irika duk riin

Dane Karang Buncing madue putra wantah asiki kemanten

Parab putran dane inggih punika “Ki Kebo Iwa”

Ki Kebo Iwa jemet pisan nulungin aji miwah biang ipin magarapan

Tur dane Kebo Iwa uleng pisan melajah kanda sastra

Majeng ring kantine dane Kebo Iwa asih kumasih

Punika mawinan aji miwah ibun nyane,

Tan sipi saying nyane ring putrane sadu dharma


3. Pupuh Maskumambang

Tembang:

Kebo Iwa, Sampun truna sane mangkin

Jagat terak sayah

Ngrereh ajeng meweh gati

Ibu aji nandang lara


Artos:

Kacerita dane Kebo Iwa sane mangkin sampun munggah taruna

Lacuran pisan daweg punika, jagate katiben terak

Mawinan daweg punika, meweh pisan ngrereh ajeng-ajengan

Punika mawinan dane Ki Karang Bungcing miwah rabine nandang kaduhkitan.


4. Pupuh Semarandana

Tembang:

Ajine raris manyawis

“baat pesan keneh yayah

Ngepas cening alit katon

Mangruruh pangupa jiwa

Yen keto keneh idewa

Lautang cening lumaku

Mogi cening maan merta”


Artos:

Wawu asapunika Ki Kebo Iwa,raris gelis nyawis

“Cening Kebo Iwa, okan aji saying, sujatine baat pesan keneh ajine jani

Aji merasa baat ngelepas ukudan cening, sawireh cening kari alit

Baat keneh aji ngelepas cening cenik ngalih pangupa jiwa

Sakewala yan keto saja buka keneh ceninge

Nah, lautang cening majalan ngalih pangupa jiwa

Dumogi Ida Shang Hyang Kawi sueca tekening cening mapaica merta”.


5. Pupuh Mijil

Tembang:

Maha Prabu

Mawecana Raris

“Nira liwat angob

Ngaksi kawagedan pamane

Jani paman anggon nira patih

Ngabih linggih mami

Bali apang kukuh


Artos:

Ida Sang Prabu Bedahulu

Raris ida mawecana ring Kebo Iwa, manira angob pesan

Uduh, Paman Kebo Iwa, manira angob pesan

Nira angob ngaksi kawegedan pamane ngae wewangunan, tur sakti mawisesa

“Nira Liwat angob ngaksi kawagedan pamanne ngae wewangunan, tur sakti mawisesa

Ento krana ane jani paman adengang nira maka Patih Agung

Paman ngabihlinggih nira ngenter jagat Bali Dwipa

Apanga jagat Baline prasida ajeg kukuh werdi kayang ring wekas”.


6. Pupuh Ginada

Tembang:

Raris dane Kebo Iwa

Ngabih prabu maka patih

Satia bakti maring ida

Kerta raharja negantun

Kaloktah maring buana

Ajeg werdi

Jagat Bali tan papada


Artos:

Ngawit punika raris dane Kebo Iwa ngabih linggih Ida Sang Prabu Bedahulu

Dane kicen linggih maka patih agung, masanding ring pepatih ida sane tiosan

Dane Kebo Iwa ngabih linggih sang prabu maka patih, satia bakti ring ida sang prabu

Punika mawinan raris jagat Bali sayan kerta tur trepti

Tur ngawit punika jagat Bali kaloktah raris ring buana sami

Ajeg kukuh wiakti

Jagate ring Bali ngawit punika tur keajeganne nenten wenten nyaman pada.


7. Pupuh Ginanti

Tembang:

Patih Gajah mada lantur

Ngeka nayasane singid

Raris dane rauh ngraga

Tangkil ring sang prabu Bali

Gusti titiang meled pisan

Ngiket kanti sareng gusti


Artos:

Sane mangkin kacarita pidabdab dane Maha Patih Gjah Mada selanturnyane

Raris dane patih Gajah Mada ngeka naya sane pingit gati

Carita sane mangkin dane Patih Gajah Mada sampun rauh ngraka ka Bali

Ring Bali raris dane tangkil ring Ida Prabu Bedahulu

“Ratu Sang Prabu, mangkin titiang ngaturang pikarsan gusti titiang Ida Prabu Hyam Wuruk

Ida Sang Prabu Hayam Wuruk meled pisan ngiket kanti sareng palungguh Ratu


8. Pupuh Pangkur

Tembang:

Gajah Mada nitah panjak

“ Lautang urug semere ane jani

Panjak raris ngambil batu

Ring semere kasabatang

Dane Kebo Iwa kaurug batu

Nanging dane akas pisan

Akedik nenten punapi


Artos:

Santukan sampun dalem semere, raris Ki Gajah Mada nitah panjake sami

“ Ih, panjak gelah mekejang, ane jani lautang urug semere”

Panjake ngiring titah, raris ngambil batu sane ageng-ageng

Batune punika raris kasabatang ring semere

Raris Ki Kebo Iwa kaurug antuk batu ageng-ageng akeh gati

Sakewanten Ki Kebo Iwa anggan dane akas gati

Punika mawinan akedik anggan dane nenten kaset keni batu


9. Pupuh Durma

Tembang:

Kebo Iwa nenten makirig atampak

Pangrejeke katangkepin

Panjake kuciwa

Akeh mangemasin padem

Ne murip gelis malaib

Ki Gajah Mada

Metu kayune ajerih


Artos:

Diastun karejek panjak payiuan, akedik Kebo Iwa nenten makirig

Raris dane nangsekang nangkepin pangrejeke

Ring sampune suba mayuda, kaciwa raris panjake sane ngrejek dane

Tur akeh panjake sane ngemasin padem

Ngaksi timpal-timpal ipun akeh padem, raris panjake sane murip malaib mrediding

Gajah Mada ngaksi indik punika

Jeg metu ajerih kayun dane, ten purun matanding jurit


10. Pupuh Pucung

Tembang:

Yadiastun

Bali suba kalah numgkul

Jiwan Bali Duipa

Tusing sida gisi beli

Nglimbak terus

Maka jiwan nusantara


Artos:

Kene nyen Beli Gajah Mada

Yadiastun gumi Baline prasida kalahang beli

Sakewale jiwa pramanan gumi Baline apang beli nawang

Nah, jiwa pramanan Baline ento tusing prasida ngambel Beli

Jiwa praman Bali ngimbak terus

Ento pinaka jiwa pramanan jagat Nusantarane lantur kayang ring wekas


10. Sekar Madya

Sekar Madya yang meliputi jenis-jenis lagu pemujaan, umumnya dinyanyikan dalam prosesi upacara, baik upacara adat maupun agama.Kelompok tembang yang tergolong sekar madya pada umumnya mempergunakan bahasa Jawa tengahan, yaitu seperti bahasa yang dipergunakan di dalam lontar/cerita Panji atau Malat, dan tidak terikat oleh Guru Lagu maupun Padalingsa (seperti pada Sekar Alit atau pupuh). Di dalamnya adalah pembagian-pembagian pada tubuh tembang tersebut, diantaranya :

- Pangawit = yang merupakan bagian pembukaan

- Pangawak = yang merupakan bagian yang pendek

- Panama = merupakan bagian yang panjang

- Pangawak = bagian utama dari tembang tersebut

Kidung diduga datang dari Jawa abad XVI sampai XIX akan tetapi teks kidung ini kemudian kebanyakan ditulis di Bali. Hal ini bisa dilihat dari struktur komposisinya yang terbukti dengan masuknya ide-ide yang terdiri dari Pangawit, Panama dan Pangawak yang merupakan istilah-istilah yang tidak asing lagi dalam tetabuhan Bali.

Di Bali kidung-kidung selalu dilakukan dan dimainkan bersama-sama dengan instrumen. Lagu-lagu kidung ini ditulis dalam lontar tabuh-tabuh Gambang dan oleh karena itulah laras dan namanya banyak sama dengan apa yang ada dalam penggambangan, menggunakan laras pelog Saih Pitu (Pelog 7 nada) yang terdiri dari 5 nada pokok dan 2 nada pemaro/ tengahan.


Adapun fungsi-fungsi kidung yaitu:

1. Pada upacara Dewa Yadnya di tembangkan kidung:

Tatkala nuntun Ida Bhatara: Kawitan Wargasari, Wargasari;

- Ttatkala muspa: Mredu Komala, Totaka;

- Tatkala nunas tirta: wargasari;

- Tatkala nyineb: warga sirang.

2. Untuk Rsi Yadnya digunakan: Rsi Bojana: Wilet Mayura, Bramara Sangupati, Palu Gangsa.

3. Untuk Diksa digunakan Rara Wangi.

4. Untuk Manusa Yadnya:

- Upacara Raja Swala: Demung sawit,

- Upacara metatah: Kawitan Tantri, Demung Sawit;

- Upacara mapetik: Malat Rasmi,

- Upacara pawiwahan: Tunjung Biru.

5. Untuk upacara Pitra Yadnya:

- Nedunang/ nyiramang layon: Sewana Girisa, Bala Ugu.

6. Untuk memargi ke setra: Indra Wangsa.

7. Untuk mengurug kuburan (gegumuk): Adri.

8. Untuk Ngeseng sawa: Praharsini;

9. Untuk Ngereka abu: Aji Kembang;

10. Untuk nganyut abu ke segara: Sikarini, Asti;

11. Untuk Nyekah (Atma Wedana): Wirat Kalengengan.

12. Untuk Bhuta Yadnya: Pupuh Jerum, Alis-alis Ijo, Swaran Kumbang.

13. Untuk upacara pelantikan pejabat: Perigel.


Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa Kuno (Kawi), dengan tulisan huruf Bali. Tulisan ini bukan tulisan Bali biasa tetapi sudah di modifikasi untuk keperluan menetapkan irama dan tekanan (stressing), terutama pada kakawin: apada, wrtta matra, guru laghu, gana matra, canda karana, guru bhasa, guru lambuk dan purwa kanti.

Para penyanyi sebaiknya tidak menggunakan sound system yang keras, karena kidung dilakukan bersama dengan suara yang sayup-sayup mengiringi puja-mantra, dari pemimpin upacara. Jangan sampai suara kidung demikian keras, sehingga suara gentha Sulinggih tidak terdengar. Mestinya para pelantun kidung berada dekat dengan Sulinggih sehingga mengetahui apa yang sedang dilakukan Sulinggih, lalu memilih kidung apa yang tepat. Jangan sampai Sulinggihnya muput caru, lalu kidungnya wargasari.

Beberapa contoh kidung untuk upacara-upacara keagamaan dalam umat Hindu :

- Kawitan Wargasari (Pengawit dalam upacara Dewa Yadnya)

- Purwakaning angripta rumning wana ukir.

- Kahadang labuh.Kartika penedenging sari.

- Angayon tangguli ketur. Angringring jangga mure.


Artinya :

Purwaka (pada permulaan) Ning (nya), Angripta (menggugah) Rum (keindahan). Ning (di)Wana (hutan) Ukir (pegunungan), Kahadang (ketika) Labuh kartika (awal musim hujan sasih kapat) Panedenging Sari (sedang rimbunnya berbunga) Angayon (pohon) Tangguli Ketur (nama sejenis akasia yang bunganya berwarna lembayung)Angringring (berbentuk tirai) Jangga (bunga gadung-pun) Mure (sedang mekar).


Kidung Wargasari ( untuk upacara Dewa Yadnya )

Ida Ratu saking luhur

kawula nunas lugrane

mangda sampun titiang tandruh

mangayat Bhatara mangkin

titiang ngaturang pejati

canang suci lan daksina

sarwa sampun puput

pratingkahing saji


Bisa dilihat, Kidung Wargasari ini adalah kidung pemujaan di mana para pemujanya tengah menghaturkan persembahan seperti pejati, daksina, canang… dengan harapan agar para Bhatara menerima persembahan mereka.


Kidung Wilet Mayura ( untuk upacara Rsi Yadnya )

Sarwi angatanging sarwa sinom,

Sarwi anangis ring luur,

Pangrikning sundari ampruang,

Sriokning cemara angelur,

Kasangga den lwahing warih,

Sakwehing wong amemaluk,

Taluktak lan jurang,

Swarannya anarung er talinnya kumeroncong,

Tibeng parangan.

Kidung Tantri (untuk upacara Manusa Yadnya )

Tuhu ndatan pasiring

Yadin sasoring akasa

Ring guna widya wicaksana

Byakta Sarasaswati surasmi Hyang Giriwadu

Anupama nurageng rat

Sang apatra Dyah Tantri

Tumuli prapta marekeng ibu.

Kidung Aji Kembang ( untuk upacara Pitra Yadnya )

Ring purwa tunjunge putih,

Hyang Iswara Dewatanya,

Ring pepusuh pranahira,

Alinggih sira kalihan,

Pantes ta kembange petak,

Ring temba lamun dumadi,

Suka sugih tur rahayu,

Dana punia stiti bhakti.

Kidung Alis-Alis Ijo ( untuk upacara Bhuta Yadnya )

Iring-iring silak-siluk,

Awanikang munggah,

Mihate di dukuh rame,

Ingambel-ambelan watu,

Cara-caranya abra murub,

Kang katinghalan asri,

Tahen kencana ngrembun ronnya nuntun haneng lemah,

Parijata mangreronce,

Wunga tambang wunga warih,

Ajajar lan andong ijo,

Sulasih miana ijo,

Kasuluhan bayem luhur,

Melok-molok hana bang hana putih,

Angraras tinon.



Sekar Agung

Sekar Agung juga disebut dengan kekawin, selain itu dinamakan pula wirama.Lagu pujian jenis ini merupakan lagu keagamaan yang dinyayikan dengan memakai guru lagu.Dalam melagukan kekawin ini biasanya mengikuti aturan tertentu yaitu “Mantra” atau “Mentrum”.Aturan mantra yang dimaksud adalah guru lagunya.Yang dimaksud guru lagu adalah adanya suara berat dan panjang atau ringan dan lambat dalam tembang kekawin. Selain itu ada pula aturan kekawin yaitu “Wreta”yaitu adanya suku kata kecap yang membentuk empat baris atau tiga baris menjadi satu bait atau “ada” dalam kekawin.

Adapun lagu-lagu pujaan yang tergolong Sekar Agung antara lain adalah :


1. Wirama Sardula Wikridita

2. Wirama Kalengengan

3. Wirama Ragakusuma

4. Wirama Basantatilaka

5. Wirama Sikarini

6. Wirama Girisa

7. Wirama Sragdhara

8. Wirama Praharsini

9. Wirama Suwadana

10. Wirama Merdukomala

11. Wirama Totaka

12. Wirama Mandamalon atau Rajani

13. Wirama Indrawangsa

14. Wirama Mrtatodaka

15. Wirama Jaloddhatagati

16. Wirama Kilayumanedheng.


Dalam tradisi sastra Jawa Kuno (Kakawin), wirama adalah pola metrum atau aturan persajakan yang mengatur jumlah suku kata (guru wilangan), panjang-pendek bunyi (guru laghu), ritme, serta irama pembacaan sebuah bait. Setiap wirama memiliki karakter estetis dan suasana batin yang berbeda sehingga dipilih sesuai isi atau tema yang hendak disampaikan.

Berikut penjelasan masing-masing wirama :

1. Wirama Sardula Wikridita

Nama Sanskerta: Śārdūlavikrīḍita ("Harimau yang sedang bermain").

Makna filosofis: Melambangkan kekuatan, keagungan, kewibawaan, dan keberanian.

Karakter:

- Agung dan megah.

- Penuh semangat kepahlawanan.

Biasanya digunakan untuk:

- Pujian kepada raja.

- Kemuliaan dewa.

- Kepahlawanan.

- Kebesaran kerajaan.

2. Wirama Kalengengan

Berasal dari kata lengeng (terpesona, tenggelam dalam keindahan).

Karakter:

- Lembut.

- Romantis.

- Penuh rasa kagum.

Digunakan untuk:

- Kisah cinta.

- Keindahan alam.

- Kekaguman terhadap Tuhan.

3. Wirama Ragakusuma

Arti:

- Raga = tubuh.

- Kusuma = bunga.

Makna:

Keindahan jasmani maupun rohani.

Karakter:

- Halus.

- Anggun.

- Elegan.

Dipakai dalam:

- Gambaran kecantikan.

- Keindahan taman.

- Putri kerajaan.


4. Wirama Basantatilaka

Nama Sanskerta: Vasantatilakā.

Basanta berarti musim semi.

Tilaka berarti hiasan.

Makna:

Keindahan musim semi sebagai lambang kebahagiaan.

Karakter:

- Ceria.

- Indah.

- Harmonis.

Dipakai untuk:

- Alam.

- Cinta.

- Kebahagiaan.


5. Wirama Sikarini

Nama Sanskerta: Śikharinī.

Śikhara berarti puncak gunung.

Makna:

Ketinggian spiritual.

Karakter:

- Agung.

- Sakral.

- Religius.

Digunakan untuk:

- Pemujaan.

- Pendakian spiritual.

- Kebijaksanaan.


6. Wirama Girisa

Giri berarti gunung.

Isa berarti penguasa.

Makna:

Gunung sebagai lambang keteguhan.

Karakter:

- Kokoh.

- Tegas.

- Berwibawa.

Digunakan untuk:

- Raja.

- Pertapa.

- Tokoh bijaksana.


7. Wirama Sragdhara

Nama Sanskerta: Sragdharā.

Arti:

Pembawa rangkaian bunga.

Makna:

Persembahan yang indah.

Karakter:

- Anggun.

- Mewah.

- Sakral.

Digunakan untuk:

- Doa.

- Pemujaan.

- Persembahan kepada dewa.


8. Wirama Praharsini

Praharṣinī berarti kegembiraan besar.

Karakter:

- Riang.

- Gembira.

- Optimis.

Digunakan untuk:

- Kemenangan.

- Perayaan.

- Sukacita.


9. Wirama Suwadana

Su = baik.

Wadana = wajah atau penampilan.

Makna:

Keindahan lahir dan batin.

Karakter:

- Santun.

- Halus.

- Damai.

Digunakan untuk:

- Nasihat.

- Moral.

- Kebajikan.


10. Wirama Merdukomala

Merdu = indah didengar.

Komala = lembut.

Karakter:

- Sangat lembut.

- Melankolis.

- Menenangkan.

Dipakai untuk:

- Kerinduan.

- Doa.

- Renungan.


11. Wirama Totaka

Nama Sanskerta: Toṭaka.

Karakter:

- Ringan.

- Mengalir.

- Dinamis.

Digunakan untuk:

- Dialog.

- Perjalanan.

- Kisah petualangan.


12. Wirama Mandamalon atau Rajani

- Rajani berarti malam.

- Mandamalon berarti perlahan-lahan.

Karakter:

- Tenang.

- Sunyi.

- Mendalam.

Digunakan untuk:

- Renungan malam.

- Meditasi.

- Kesedihan yang halus.


13. Wirama Indrawangsa

- Indra = raja para dewa.

- Wangsa = keturunan.

Makna:

- Kemuliaan keturunan.

- Karakter:

- Agung.

- Heroik.

- Bermartabat.

Digunakan untuk:

- Silsilah raja.

- Kepahlawanan.

- Kejayaan kerajaan.


14. Wirama Mrtatodaka

- Mṛta = amerta (keabadian).

- Udaka = air.

Makna:

- Air kehidupan.

Karakter:

- Menyejukkan.

- Spiritual.

- Damai.

Digunakan untuk:

- Kesucian.

- Pengampunan.

Kehidupan abadi.


15. Wirama Jaloddhatagati

- Jala = air.

- Uddhata = bergelora.

- Gati = gerakan.

Makna:

- Gerak ombak yang kuat.

Karakter:

- Cepat.

- Bergelora.

- Dramatis.

Digunakan untuk:

- Peperangan.

- Perjalanan laut.

- Ketegangan.


16. Wirama Kilayumanedheng

Kilayu berarti bergerak cepat.

Nedheng berarti terus menerus.

Makna:

- Gerakan yang berkesinambungan.

Karakter:

- Dinamis.

- Energik.

- Penuh semangat.

Digunakan untuk:

- Perjalanan panjang.

- Perubahan.

- Semangat perjuangan.

Jadi, keenam belas wirama tersebut merupakan bagian dari sistem metrum Kakawin Jawa Kuno yang berasal dari tradisi sastra Sanskerta dan kemudian berkembang di Nusantara, terutama pada masa kerajaan Hindu-Buddha seperti Mataram Kuno, Kediri, Singhasari, dan Majapahit. Setiap wirama tidak hanya mengatur bentuk puisi, tetapi juga menciptakan nuansa emosional tertentu. Karena itu, seorang pujangga memilih wirama sesuai dengan isi karya: Sardula Wikridita untuk keagungan dan kepahlawanan, Basantatilaka untuk keindahan dan kegembiraan, Sragdhara untuk pujian dan persembahan, Merdukomala untuk kelembutan dan kerinduan, Praharsini untuk sukacita, Jaloddhatagati untuk adegan yang penuh dinamika, serta wirama-wirama lainnya untuk menyesuaikan suasana batin yang ingin dibangun dalam kakawin.


Contoh :

Wirama Saronca / Arya

Ha – na si – ra ra –tu di- bya re – ngen

Pra – cas – ta ring rat mu – suh ni – ra – pra – na- ta

Ja – ya pan – di – ta ring – a – ji ka –beh

Sang da – ca ra – than na – ma ta – mo – li


Wirama Indrawangsa

Mamwit narendrātmaja ring tapo wana,

Mānganjalȋ yyargra ning indra parwata,

Tan wismerti sangkanikāng ayun teka,

Swābhāwa sang sajna rakwa mangkana

Artinya :

Mepamit ida dewaagung putra saking alas petapan,

Raris ngaturang sembah marep ka pucak gunung indrakila punika,

Nenten lali ida ring panangkan kerahayuanne rawuh,

Swabawan ida sang sadhu wiyakti asapunika.


Wirama Rinjani

Wirama Rinjani (sering disebut Wirama Rajani) adalah salah satu jenis metrum sekar agung (kakawin) yang populer dalam seni tembang Dharmagita di Bali. Wirama ini biasa dilantunkan dalam acara sakral keagamaan Hindu, seperti saat kramaning sembah (persembahyangan) atau upacara keagamaan lainnya Dharmagita di Bali.

Kemungkinan besar istilah yang Anda maksud adalah Wirama Rajani (bukan Rinjani), yang juga dikenal luas dengan nama Wirama Mandamalon. 

Wirama Rajani adalah salah satu jenis aturan metrum (pola guru-lagu) dalam pelantunan Kakawin (puisi Jawa Kuna) yang memiliki 17 suku kata dalam setiap barisnya. Pola ketukan metrisnya secara runut adalah: Guru-Guru-Guru / Guru-Laghu-Guru / Laghu-Laghu-Guru / Guru-Laghu-Guru / Guru-Laghu-Guru / Laghu-Guru. 


Contoh teks yang paling terkenal menggunakan Wirama Rajani diambil dari Kakawin Arjuna Wiwaha (Sargah/Pupuh 12, bait 1) karya Mpu Kanwa. 


Berikut adalah contoh teks, arti, beserta pembagian suku katanya:

Contoh Teks Kakawin (Arjuna Wiwaha XII.1)


Stutinira tan tulus sinahuran paramārtha Śiwa

Anaku huwus katon abhimatān katĕmunta kabeh

Hana panganugrahangkwa caduśakti winimba śara

Paśupati śastrakāstu pangaranya nihan wulati 


Arti / Terjemahan Teks

- Baris 1: Pujiannya (Arjuna) belum selesai, langsung dijawab oleh Batara Siwa yang maha utama.

- Baris 2: "Wahai anakku, sudah terlihat jelas apa yang engkau cita-citakan, semuanya akan engkau dapatkan."

- Baris 3: "Ada anugerah-Ku kepadamu berupa Cadu Sakti (empat kekuatan gaib) yang diwujudkan dalam bentuk panah."

- Baris 4: "Pasupati nama senjata pusaka itu, nah sekarang lihatlah!" 

Cara Pemotongan Suku Kata (Metrum Wirama)

Dalam melantunkan Kakawin (Acapela/Dharmagita), pembaca harus memperhatikan tanda Guru (suara panjang/berat) dan Laghu (suara pendek/ringan). Berdasarkan rumus matra Wirama Rajani (17 suku kata), pemotongannya adalah sebagai berikut : 


Stu-ti-ni-ra (4) / tan tu-lus (3) / si-na-hu (3) / ran pa-ra (3) / mār-tha Śi-wa (4) = 17 Suku Kata

A-na-ku hu (4) / wus ka-ton (3) / a-bhi-ma (3) / tān ka-tĕ (3) / mun-ta ka-beh (4) = 17 Suku Kata


Selain pada Kakawin Arjuna Wiwaha, Wirama Rajani juga bisa ditemukan pada bagian penutup Kakawin Ramayana saat adegan Dewi Sita melakukan Mesatya (membakar diri untuk membuktikan kesuciannya). 


Wirama Sekarini

Pasalin 36, Bait 11 (Sikarini Wirama= 0 – -/- – -/000/00-/- 00/00)

Ndaojar sang prapta prabhu liatisembahni nakula

Rapuh weragya tenpejaharumenge reh sang angulun

Ridentat mahyun maperang makalagang panhu tenaya

Apan sampun senopati aji linging lokha subhaga

Artinya :

Inggih  munggwing daging atur ida sng wawu rauh,..inggih Uwa agung aksi puniki           

sembah bhaktin titian I nakula.

Dedek manah titiange med maurip memanah jaga padem sesampune titiang mirage            

indik ratu sang prabhu.

Riantukan Uwa agung pacang mayudha magutin sang pandawa.

Dawning Uwa agung sampun kabiseka dados senopati sapunika ucap ucap jagate  kawistara.


Sloka

Sloka adalah mantra yang digubah dalam bentuk syair-syair yang setiap satu bait sloka terdiri dari empat baris. Adapun maksu digubahnya mantra-mantra itu dalam bentuk sloka / syair adalah untu mempermudah mengingat dan memahami isinya.

Contoh Sloka :

Yadnya sisthasinah santo

Muchyante sarva kilbihaih

Bhujante te tvagnam papa

Ye pachanty atma karanat

Artinya :

Yang baik makan setelah upacara bhakti

Akan terlepas dari segala dosa

Tetapi menyediakan makanan lezat hanya untuk dirinya sendiri

Mereka ini sesungguhnya makan dosa


Sa paryagac chukram akayam

Awranam asnawiram sudham

Apapa widham kawir manissi

Pribhuh swayambhur yatha

Tatho rtham wyadadhac

Chawatibhyah samabhyah                 

(Bhagawadgita, III.13)

Artinya :

Hendaknya diketahui bahwa ia Maha Kuasa

Tak bertubuh, tak teraba, tak berurat nadi, suci, tak

Terkena penderitaan, maha tahu, ahli pikir, Maha Besar

Ada tanpa diadakan, pemberi rahmat atas segala keinginan

Sejak jaman dahulu kala

(Isa Upanisad hal. 50)


Palawakya

Palawakya biasanya berbentuk prosa berbahasa Jawa Kuno dan sering diselingi Bahasa sansekerta. Teknis pembacaan Palawakya biasanya pengambilan suara sama dengan kekawin. Kekawin juga memperhatikan guru lagu, namun tidak sama dengan lagu ( dalam pengertian metrum ) kekawin.

Guru pada Palawakya lebih mengacu pada intonasi bacaan. Intonasi bacaan dimaksudkan adalah oemenggalan bacaan sehingga teks yang dibaca mudah ditangkap maknanya.

Contoh Palawakya :

- Paramarthanya pengepenge ta pw aka temwaniking si dadi wang

- Durlabhawiya ta, saksat handaning mara ring swarga ika

- Sanimittaning tan iba muwahta pwa damalakena

Artinya :

Tujuan terpenting, pergunakanlah sebaik-baiknya kesempatan lahir menjadi manusia.

Ini sunggu sulit diperoleh laksana tangga menuju sorga

Segala apa yang menyebabkan tidak akan jatuh lagi itu hendaknya supaya dipegang




IMBA KIDUNG YADNYA (Dharmagita)

   


SEWAKA DHARMA

  


Imajiner Nuswantoro

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)