Nusantara Tahun 9 Hijriyah (630 Masehi)
Menilik kondisi Nusantara pada tahun 9 Hijriyah (630 Masehi) membawa kita pada lembaran sejarah yang sangat menarik. Pada tahun ini, di Jazirah Arab, Nabi Muhammad SAW baru saja melaksanakan Fathu Makkah (pembebasan kota Mekkah) dan memasuki masa-masa akhir kenabian sebelum wafat pada 11 H (632 M).
Lantas, bagaimana dengan Nusantara? Di manakah posisi kepulauan kita dalam peta peradaban dunia saat itu?
Pada abad ke-7 Masehi, Nusantara tidak berada dalam kekosongan. Wilayah ini justru sedang mengalami masa transisi besar: memuncaknya kejayaan kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Buddha kuno serta mulainya kontak awal (embrio) interaksi dengan dunia Islam melalui jalur perdagangan laut.
BACA JUGA :
KERAJAAN KALINGGA
KISAH LEGENDA RATU SHIMA KALINGGA
Ratu Shima Kerajaan Kalingga 611 M & Nabi Muhammad SAW 570-632 M
Kerajaan Kalingga
.
Berikut adalah ulasan lengkap dan detail mengenai peradaban Nusantara pada tahun 630 Masehi.
1. Peta Politik: Zaman Kerajaan Besar & Transisi Kekuasaan
Pada tahun 630 M, pulau-pulau utama di Nusantara dikuasai oleh beberapa entitas politik/kerajaan yang memiliki peradaban tinggi.
Sumatra: Fajar Kejayaan Sriwijaya (Melayu Kuno)
Kondisi Tahun 630 M: Sriwijaya sebagai imperium maritim besar belum sepenuhnya mencengkeram seluruh Sumatra (prasasti-prasasti besarnya baru muncul sekitar tahun 680-an M). Namun, fondasi peradabannya sedang dibangun.
Pada tahun 630 M, wilayah Sumatra bagian tengah dan selatan diisi oleh jaringan pelabuhan makmur, seperti Kerajaan Melayu (Malayu) di Jambi dan cikal bakal kekuatan Sriwijaya di Palembang. Peradaban di sini sangat dipengaruhi oleh agama Buddha Vajrayana dan menjadi pusat pembelajaran bahasa Sanskerta serta teologi Buddha di Asia Tenggara.
BACA JUGA :
KERAJAAN SRIWIJAYA
Kedatuan Sriwijaya
.
Jawa: Era Kalingga (Holing) dan Tarumanegara
Jawa Tengah: Pada tahun 630 M, wilayah ini dikuasai oleh Kerajaan Kalingga (atau Holing dalam catatan Tiongkok). Kerajaan ini terkenal sangat makmur dan tertib. Beberapa dekade setelah tahun 630 M (sekitar tahun 674 M), Kalingga dipimpin oleh Ratu Shima yang legendaris karena keadilannya. Agama utama di sini adalah Buddha dan Hindu.
Jawa Barat: Kerajaan Tarumanegara baru saja melewati masa keemasannya di bawah Raja Purnawarman. Pada sekitar tahun 630 M, Tarumanegara mulai mengalami desentralisasi atau pembagian kekuasaan yang nantinya memicu lahirnya Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Peradabannya mahir dalam teknik pengairan (irigasi) dan agraris.
Jawa Timur: Cikal bakal dinasti-dinasti besar (seperti Kanjuruhan) sedang berkembang dalam bentuk komunitas-komunitas agraris yang subur di lembah sungai Brantas.
Kalimantan: Kerajaan Kutai Martapura
Di pedalaman Kalimantan Timur, Kerajaan Kutai (bercorak Hindu) masih eksis pasca-era Raja Mulawarman. Meskipun puncaknya terjadi di abad ke-5, pada tahun 630 M mereka tetap menjadi pusat peradaban berbasis literasi aksara Pallawa di bagian utara Nusantara.
2. Jaringan Perdagangan Global: Jalur Sutra Laut
Pada tahun 630 M, Nusantara adalah poros maritim dunia. Posisi geografisnya di Selat Malaka dan Selat Sunda menjadikannya tempat transit wajib bagi kapal-kapal dari Dinasti Tang (Tiongkok), India, Persia (Sasanid), dan Arab.
- Komoditas Ekspor Utama: Nusantara terkenal sebagai penghasil utama kapur barus (dari Barus, Sumatra Utara), rempah-rempah (cengkih dan pala dari Maluku yang dibawa ke barat), emas, dan kayu cendana.
- Teknologi Perkapalan: Masyarakat Nusantara pada abad ke-7 sudah dikenal sebagai pelaut ulung yang membangun kapal-kapal besar berjenis Jonk (Jung) atau kapal bercadik yang mampu mengarungi Samudra Hindia hingga ke pesisir Afrika Timur (Madagaskar).
3. Titik Temu Awal Nusantara dan Dunia Islam
Tahun 9 Hijriyah (630 M) adalah garis waktu yang sangat krusial jika dikaitkan dengan sejarah Islam di Indonesia. Apakah Islam sudah masuk ke Indonesia tahun 630 M ?
Menurut Teori Mekkah (yang didukung oleh sejarawan seperti Buya Hamka dan J.C. van Leur), kontak awal perdagangan antara Arab Muslim dan Nusantara sudah terjadi sejak abad ke-7 Masehi (abad ke-1 Hijriyah).
- Para Pedagang Arab di Selat Malaka: Pada tahun 630 M, para pedagang dari Timur Tengah (termasuk Arab dan Persia) sudah lama memiliki rute dagang ke Tiongkok. Jalur laut utama mereka melewati Selat Malaka.
Ketika Jazirah Arab masuk ke dalam pelukan Islam pada tahun 630 M, para pelaut dan saudagar Arab yang berlayar ke timur otomatis membawa identitas baru mereka sebagai Muslim.
- Pelabuhan Barus: Di pantai barat Sumatra, pelabuhan Barus sudah menjadi bandar internasional yang ramai. Di tempat inilah diyakini para pedagang Arab mulai singgah, berinteraksi, dan beberapa di antaranya menetap, membentuk komunitas Muslim perdana di pesisir, meskipun saat itu mayoritas penduduk lokal masih memeluk Hindu, Buddha, atau kepercayaan lokal (Animisme/Dinamisme).
4. Kehidupan Sosial, Budaya, dan Keagamaan
- Sistem Sosial: Masyarakat Nusantara saat itu mengadopsi sistem kasta pengaruh India, namun tidak sekaku di tanah asalnya. Hukum adat lokal (pribumi) tetap mendominasi kehidupan sehari-hari.
- Bahasa dan Aksara: Bahasa Melayu Kuno digunakan sebagai lingua franca (bahasa pengantar dagang) di wilayah pesisir, sementara bahasa Jawa Kuno berkembang di pedalaman. Aksara yang digunakan adalah Pallawa yang diserap dari India Selatan, yang nantinya berevolusi menjadi aksara Kawi, Jawa, dan Sunda kuno.
- Religi: Kehidupan spiritual sangat kental. Candi-candi batu besar seperti Borobudur atau Prambanan belum dibangun pada tahun 630 M (baru dibangun sekitar abad ke-8 dan ke-9). Namun, tempat peribadatan dari kayu dan pemujaan pada roh leluhur (punden berundak) berjalan beriringan dengan asram-asram (biara) Buddha dan Hindu.
Kesimpulan
Pada tahun 9 Hijriyah / 630 Masehi, Nusantara adalah sebuah kawasan yang maju, dinamis, dan sangat terbuka terhadap dunia luar. Peradabannya ditandai oleh stabilitas kerajaan Hindu-Buddha seperti Kalingga dan cikal bakal Sriwijaya, kemahiran navigasi laut yang tinggi, serta mulainya ketukan pintu pertama dari peradaban Islam global melalui jalur perniagaan maritim.
Nusantara pada masa itu bukanlah wilayah terisolasi, melainkan sebuah panggung kosmopolitan di mana timur dan barat bertemu.
Imajiner Nuswantoro

