KERAJAAN KALINGGA

0

KERAJAAN KALINGGA

 


Kalingga adalah sebuah kerajaan Hindu di Jawa Tengah. Pusatnya berada dikerajaan ini belumlah jelas, kemungkinan berada di suatu tempat antara Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Jepara sekarang. Kerajaan ini pernah diperintah oleh Ratu Sima, yang dikenal memiliki peraturan barang siapa yang mencuri, akan dipotong tangannya.

Putri Maharani Shima, Parwati, menikah dengan putera mahkota kerajaan Galuh yang bernama Mandiminyak yang kemudian menjadi raja kedua dari Kerajaan Galuh.

Maharani Shima memiliki cucu yang bernama Sanaha yang menikah dengan raja ketiga dari Kerajaan Galuh, yaitu Brantasenawa. Sanaha dan Bratasenawa memiliki anak yang bernama Sanjaya yang kelak menjadi raja Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh.




Setelah Maharani Shima meninggal di tahun 732M, Sanjaya menggantikan buyutnya dan menjadi raja Kerajaan Kalingga Utara yang kemudian disebut Bumi Mataram, dan kemudian mendirikan Dinasti/ Wangsa Sanjaya di Kerajaan Mataram Kuno.

Kemudian Raja Sanjaya menikahi Sudiwara puteri Dewa Singa, Raja Kalingga Selatan atau Bumi Sambara, dan memiliki putra yaitu Rakai Panangkaran. Kekuasaan di Jawa Barat diserahkannya kepada putranya dari Tejakencana, yaitu Tamperan Barmawijaya alias Rakeyan Panaraban.

 

Asal mula penyebutan Holing

Nama Holing sebenarnya muncul ketika terjadi perubahan dengan mulai meluasnya kekuasaan Wangsa Sailendra. Sebelum perluasan ini, berita Cina dari Dinasti Sung Awal menyebut Jawa dengan sebutan She-p’o. Akan tetapi kemudian berita-berita Cina dari Dinasti T’an menyebut Jawa dengan sebutan Ho-ling sampai tahun 818. Namun penyebutan Jawa dengan She-p’o kembali muncul pada 820-856 M.

Holing (Chopo) adalah nama lain dari kerajaan Kalingga ibukota kerajaan Kalingga bernama Chopo (nama China), menurut bukti-bukti China pada abad 5 M. Mengenai letak Kerajaan Kalingga Atau Holing ini secara pastinya belum dapat ditentukan. Ada Beberapa argumen mengenai letak kerajaan ini, ada yang menyebutkan bahwa negara ini terletak di Semenanjung Malaya, di Jawa Barat dan di Jawa Tengah. Tetapi letak yang paling mungkin ada didaerah antara Pekalongan dan Plawanagan di Jawa Tengah. Hal ini berdasarkan catatan perjalanan dari Cina.

Kerajaan Kalingga Atau Holing Adalah Kerajaan Yang Terpengaruh Oleh Ajaran Agama Budha. Sehingga Holing Menjadi Pusat Pendidikan Agama Budha. Nama Kerajaan Ho-ling sempat tercatat dalam kronik dinasti T’ang yang memerintah Cina pada 618-906 M. Menurut catatan kronik tersebut, penduduk Holing biasa makan tanpa menggunakan sendok atau cupit, melainkan dengan jari-jari tangannya saja, dan gemar minum semacam tuak yang mereka buat dari getah bunga pohon kelapa (aren). Ibukota Kerajaan Ho-ling dikelilingi pagar dari kayu.

 

Tentang Ratu Shima (pemerintahan)

Pada tahun 674-675 M (tepatnya tahun 674 M), rakyat Ho-ling memilih dan mengangkat seorang ratu bernama Shima. Konon, ratu ini memerintah dengan sangat keras, tetapi bijaksana sehingga Holing menjadi negara yang aman. Masa pemerintahan Ratu Shima ditandai dengan penerapan pemerintahan yang sangat disiplin. Aturan-aturan ditegakkan dengan ketat.

Alkisah tak ada kerajaan yang berani berhadap muka dengan Kerajaan Kalingga, apalagi menantang Ratu Shima nan perkasa. Bak Srikandi, Sang Ratu Panah. Konon, Ratu Shima, justru amat resah dengan kepatuhan rakyat, kenapa wong cilik juga para pejabat Mahapatih, Patih, Mahamenteri, dan Menteri, Hulubalang, Jagabaya, Jagatirta, Ulu-Ulu, begitupun segenap pimpinan divisi kerajaan sampai tukang istal kuda, alias pengganti tapal kuda, kuda- kuda tunggang kesayangannya, tak ada yang berani menentang sabda pandita ratunya.

 

Sistem Administrasi Kerajaan Kalingga

Kerajaan Kalingga sendiri memiliki seorang pendeta yang terkenal bernama Janabadra. Sebagai pusat pendidikan Budha, menyebabkan seorang pendeta Budha dari Cina, menuntut ilmu di Holing (Kerajaan Kalingga). Pendeta itu bernama Hou Ei- Ning ke Holing, Ia ke kerajaan Kalingga untuk menerjemahkan Kitab Hinayana dari bahasa Sansekerta ke bahasa Cina pada 664-665. Sistem administrasi kerajaan ini belum diketahui secara pasti. Tapi beberapa bukti menunjukkan bahwa pada tahun 674-675, Kerajaan ini diperintah oleh seorang raja wanita yang bernama Shima.

 

Prasasti peninggalan Kerajaan Kalingga

Prasasti peninggalan Kerajaan kalingga atau Ho-ling adalah Prasasti Tukmas. Prasasti ini ditemukan di Desa Dakwu daerah Grobogan, Purwodadi di lereng Gunung Merbabu di Jawa Tengah. Prasasti bertuliskan huruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta. Prasasti menyebutkan tentang mata air yang bersih dan jernih. Sungai yang mengalir dari sumber air tersebut disamakan dengan Sungai Gangga di India. Pada prasasti itu ada gambar-gambar seperti trisula, kendi, kapak, kelasangka, cakra dan bunga teratai yang merupakan lambang keeratan hubungan  Hindu.

 

Mata pencaharian penduduk Kerajaan Kalingga

Kerajaan Ho-ling memiliki sumber daya alam berupa kulit kura-kura, emas dan perak, cula badak, dan gading. Terdapat sebuah gua yang selalu mengeluarkan air asin yang disebut debu. Penduduknya menghasilkan garam dengan memanfaatkan sumber air asin yang disebut debu tersebut.

 

Kerajaan Kalingga (versi 2)

Kerajaan Kalingga – Kerajan Kalingga (Jawa : ꦏꦫꦠꦺꦴꦤ꧀ꦏꦭꦶꦔ꧀ꦒ) atau Kerajaan Ho-ling (Hanzi: ; Hēlíng atau ; Dūpó dalam sumber-sumber Tiongkok) adalah kerajaan bercorak Hindu-Buddha yang pertama muncul di pantai utara Jawa Tengah pada abad ke-6 Masehi, bersamaan dengan Kerajaan Kutai dan Tarumanagara.


Historiografi

Temuan arkeologis dan catatan sejarah dari kerajaan ini langka, dan lokasi persis ibu kota kerajaan tidak diketahui. Diperkirakan ada di suatu daerah antara Pekalongan dan Jepara saat ini. Sebuah tempat bernama Kecamatan Keling ditemukan di pantai utara Kabupaten Jepara, namun beberapa temuan arkeologis di dekat Kabupaten Pekalongan dan Batang menunjukkan bahwa Kabupaten Pekalongan adalah pelabuhan kuno, nama Pekalongan mungkin merupakan nama yang diubah dari Pe-Kaling-an. Kalingga ada antara abad ke-6 dan ke-7, dan itu adalah salah satu kerajaan Hindu–Buddha paling awal yang didirikan di Jawa Tengah.

 

Kisah Parahyungan

Berdasarkan naskah Carita Parahyangan yang berasal dari abad ke-16, putri Ratu Shima, bernama Parwati, menikah dengan putra mahkota Kerajaan Galuh yang bernama Rahyang Mandiminyak, yang kemudian menjadi raja kedua dari Kerajaan Galuh. Dikisahkan Ratu Shima memiliki cucu bernama Sannaha yang menikah dengan raja Galuh ketiga, yaitu Bratasenawa. Sannaha dan Bratasenawa memiliki anak yang bernama Rakryan Sanjaya yang kelak menjadi raja dan menggabungkan Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh.

Setelah Ratu Shima meninggal pada tahun 732 M, Rakryan Sanjaya menggantikan buyutnya dan menjadi raja Kalingga Selatan yang kemudian disebut Mataram, dan kemudian mendirikan dinasti baru bernama wangsa Sanjaya.

Kekuasaan di Sunda-Galuh diserahkan kepada putranya dari Tejakencana, yaitu Tamperan Barmawijaya alias Rakryan Panaraban. Kemudian Rakryan Sanjaya menikahi Sudiwara putri Rakryan Dewasingha, raja Kalingga Utara, dan memiliki putra yaitu Rakai Panangkaran.

Nama Ho-ling diperkirakan muncul pada abad ke-5 (kemudian disebut Keling) yang diperkirakan terletak di utara Jawa Tengah. Keterangan tentang Kerajaan Ho-ling didapat dari catatan dari Tiongkok. Pada tahun 752, Kerajaan Ho-ling menjadi wilayah taklukan Kerajaan Sriwijaya dikarenakan kerajaan ini menjadi bagian jaringan perdagangan, bersama Kerajaan Melayu dan Kerajaan Tarumanagara yang sebelumnya telah ditaklukan Sriwijaya. Ketiga kerajaan tersebut menjadi pesaing kuat jaringan perdagangan Sriwijaya.

 

Kisah lokal

Terdapat kisah yang berkembang di Jawa Tengah mengenai seorang ratu legendaris yang menjunjung tinggi prinsip ‘keadilan’ dan ‘kebenaran’ dengan keras tanpa pandang bulu. Kisah legenda ini bercerita mengenai Ratu Shima yang mendidik rakyatnya agar selalu berlaku jujur dan menindak tegas kejahatan pencurian. Ia menerapkan hukuman yang tegas yaitu pemotongan tangan bagi siapa saja yang mencuri.

Pada suatu masa, seorang raja dari seberang lautan mendengar tentang ketenaran orang-orang Kalingga yang terkenal jujur ​​dan taat hukum. Untuk menguji mereka, ia meletakkan sekantong koin emas di persimpangan jalan dekat pasar. Tak seorang pun dari Kalingga berani menyentuh, apalagi mengambil, apa pun yang bukan milik mereka.

Hingga tiga tahun kemudian kantung itu disentuh oleh putra mahkota dengan kakinya. Ratu Shima demi menjunjung hukum menjatuhkan hukuman mati kepada putranya. Dewan menteri memohon agar Ratu mengampuni kesalahan putranya. Karena kaki sang pangeranlah yang menyentuh barang yang bukan miliknya, maka sang pangeran dijatuhi hukuman potong kaki.

 

Berita Tiongkok

Berita keberadaan Ho-ling juga dapat diperoleh dari berita yang berasal dari zaman dinasti Tang dan catatan I-Tsing, seorang biksu Buddha yang berkelana lewat laut ke India melalui jalur sutra.

 

Catatan dari zaman Dinasti Tang

Catatan pada zaman Dinasti Tang, memberikan keterangan tentang keberadaan Ho-ling sebagai berikut.

Ho-ling atau Jawa terletak di seberang lautan selatan. Di sebelah utaranya terletak Ta Hen La (Kamboja), di sebelah timurnya terletak Po-Li (Bali) dan di sebelah barat terletak Sumatra.

Ibu kota Ho-ling dikelilingi oleh tembok yang terbuat dari tiang-tiang kayu.

Raja tinggal di suatu bangunan besar bertingkat, beratap daun palem, dan singgasananya terbuat dari gading.

Penduduk Ho-ling sudah mahir membuat minuman keras dari bunga kelapa.

Daerah Ho-ling menghasilkan kulit penyu, emas, perak, cula badak dan gading gajah.

Catatan dari berita Tiongkok ini juga menyebutkan bahwa sejak tahun 674, rakyat Ho-ling diperintah oleh penguasa perempuan yang disebut Hsi-mo (Ratu Shima). Ia adalah seorang ratu yang sangat adil dan bijaksana. Pada masa pemerintahannya Ho-ling sangat aman dan tentram.

 

Catatan I-Tsing

Catatan I-Tsing (tahun 664/665 M) menyebutkan bahwa pada abad ke-7 tanah Jawa telah menjadi salah satu pusat pengetahuan agama Buddha. Di Ho-ling ada pendeta Tionghoa bernama Hwining, yang menerjemahkan salah satu kitab agama Buddha ke dalam bahasa Tionghoa. Ia bekerjasama dengan pendeta Jawa bernama Janabadra. Kitab terjemahan itu antara lain memuat cerita tentang Nirwana, tetapi cerita ini berbeda dengan cerita Nirwana dalam agama Buddha Hinayana.

 

Daftar Raja-raja Kalingga

Belum ditemukan temuan berupa prasasti atau catatan sejarah sezaman mengenai keberadaan Kerajaan Kalingga secara pasti. Daftar ini merupakan penyebutan nama raja-raja Kalingga hingga masa raja Sanjaya yang mendirikan kerajaan Mataram Kuno. Kendati demikian, nama-nama raja Kalingga ini hanya ditemukan pada naskah-naskah seperti Carita Parahyangan dan Naskah Wangsakerta. Berikut daftar nama raja-raja yang diperkirakan pernah memerintah di Kerajaan Kalingga :

Wasumurti (594-605 M)

Berkuasa selama 11 tahun. Memiliki dua orang anak, yaitu: Wasugeni dan Dewi Wasundari (menikah dengan Kiratasingha). Setelah ia wafat, takhta diteruskan oleh Wasugeni.

 

Wasugi (605-632 M)

Berkuasa selama 27 tahun. Ia menikah dengan Dewi Paramita, sebagai permaisuri. Dewi Paramita adalah putri raja dinasti Pallawa dari India. Mereka dikaruniai dua orang anak, yaitu: Wasudewa dan Dewi Wasuwari (Ratu Shima), yang menikah dengan Kartikeyasingha. Setelah ia wafat, takhta diteruskan oleh Wasudewa.

 

Wasudewa (632-652 M)

Berkuasa selama 20 tahun. Ia memerintah bersama saudara perempuannya, Dewi Wasuwari. Ia memiliki seorang putra bernama Wasukawi. Setelah ia meninggal, takhta diwariskan kepada Wasukawi.

 

Wasukawa (652 – ….M)

Ia memerintah hanya dalam waktu singkat karena usianya yang masih muda. Kemudian, takhta digantikan oleh Kiratasingha.

 

Kiratasingha (632-648 M)

Berkuasa selama 20 tahun. Ia adalah menantu Wasumurti dan merupakan ayah dari Kartikeyasingha, putra yang berasal dari istri Melayu. Kiratasingha diketahui adalah seorang bangsawan dari Kerajaan Melayu yang mengungsi ke Jawa karena ekspansi dari Kerajaan Sriwijaya.

 

Kartikeyasingha (648-674 M)

Berkuasa selama 26 tahun bersama istrinya, Ratu Shima. Ia merupakan menantu Wasugeni setelah menikahi Dewi Wasuwari (Ratu Shima). Kartikeyasingha dari pihak ibunya masih keturunan raja Kerajaan Melayu, karena ibunya adalah adik raja Melayu yang ditumpas oleh Sri Jayanasa dari Kerajaan Sriwijaya.

 

Wasuwari (Ratu Shima) (674-695 M)

Berkuasa selama 21 tahun, menggantikan suaminya yang wafat. Ia memiliki dua orang anak, yaitu: Dewi Parwati dan Rakryan Dewasingha. Dewi Parwati kelak menikah dengan Rahyang Mandiminyak, yang menjadi raja kedua di Kerajaan Galuh. Kemudian memiliki anak bernama Dewi Sannaha. Kelak Dewi Sannaha menikah dengan Bratasenawa, raja ketiga Kerajaan Galuh.

Setelah Ratu Shima wafat, kemudian kerajaan Kalingga dibagi menjadi dua kekuasaan. Kalingga bagian selatan dipimpin oleh Dewi Parwati bersama Rahyang Mandiminyak, raja kedua Galuh. Sedangkan Kalingga bagian utara dipimpin adiknya, Rakryan Dewasingha. Berikut ini nama raja-raja yang berkuasa di kedua pecahan kerajaan Kalingga.

 

Kalingga Utara

Rakryan Narayana (695-742 M), bergelar Prabu Iswarakesawalingga Jagatnata Bhuwanatala

Rakryan Dewasingha (742-760 M), bergelar Prabu Iswaralingga Jagatnata

Rakryan Limwana (760-789 M) bergelar Prabu Gajayanalingga Jagatnata

Kalingga Selatan

Dewi Parwati (695-709 M), bergelar Sri Maharani Parwati Tunggalpratiwi

Dewi Sannaha (709-716 M)

Rakryan Sanjaya (716-746 M), bergelar Prabu Harisdharma Ksatrabhimaparakrama Yudhenipuna Bratasennawaputra

Sejak pemerintahan Rakryan Sanjaya, terjadi pemberontakan Purbasora di Kerajaan Galuh, yang dipimpin ayahnya, Bratasenawa. Ia kemudian mendirikan Kerajaan Mataram Kuno di daerah selatan dan mendirikan wangsa Sanjaya.

 

Peninggalan Sejarah Kerajaan Kalinga

Kerajaan Kalingga merupakan salah satu kerajaan tertua di Indonesia yang berdiri pada abad ke 6 hingga ke 7. Sangat sedikit catatan sejarah atau keterangan dari kerajaan bercorak Hindu-Buddha ini, namun keberadaan beberapa peninggalan Kerajaan Kalingga membuktikan bahwa kerajaan ini memang pernah berdiri di Indonesia. Tepatnya di pantai utara Jawa Tengah, yaitu antara Jepara dan Pekalongan.

Kerajaan Kalingga atau yang kerap disebut dengan Kerajaan Holing ini didirikan oleh Dapunta Syailendra yang berasal dari dinasti Syailendra yang kelak menjadi penguasa dari Kerajaan Mataram Kuno. Sempat berganti beberapa kepemimpinan, Kerajaan Kalingga mencapai puncak kejayaannya saat dipimpin oleh Ratu Shima yaitu pada 674-695 Masehi.

 

Peninggalan Kerajaan Kalingga yang Masih Ada Sampai Saat Ini

Kerajaan Kalingga meninggalkan cukup banyak bukti bersejarah. Mulai dari candi, prasasti, arca, dan beberapa jenis peninggalan lainnya. Berikut 5 peninggalan Kerajaan Kalingga yang paling bersejarah dan masih ada hingga saat ini.

1. Candi Bubrah

Bukti peninggalan paling populer dari Kerajaan Kalingga adalah Candi Bubrah yang ada di Jawa Tengah. Letak candi ini berada di kawasan wisata Candi Prambanan. Lokasinya ada di Dukuh Bener, Desa Bugisan, Kec. Prambanan, Kab. Klaten, Jawa Tengah.

Candi Bubrah dibangun dari batuan andesit sekitar abad ke 9 dan bercorak Hindu-Budha. Nama bubrah sendiri diambil dari Bahasa Jawa yang artinya “rusak”. Nama tersebut diberikan lantaran candi ini pertama kali ditemukan dalam keadaan sudah rusak.

 

2. Prasasti Tuk Mas


Peninggalan Kerajaan Kalingga selanjutnya adalah sebuah prasasti bernama Tuk Mas. Nama lain prasasti ini adalah Prasasti Dakawu. Saat ini, Prasasti Tuk Mas berada di Kelurahan Lebak, Kec. Grabag, Kab. Magelang, Jawa Tengah.

Tuk Mas merupakan prasasti yang dipahat pada permukaan sebuah batu alam. Prasasti ini ditulis menggunakan bahasa Sanskerta dengan aksara Pallawa. Selain ada tulisan, pada prasasti ini juga ada beberapa gambar, seperti bunga tanjung, perkakas, kendi cakra, dll.

 

3. Candi Angin


Selain Candi Bubrah, Kerajaan Kalingga juga meninggalkan bukti bersejarah berupa Candi Angin. Letak candi ini berada di puncak Gunung Muria dengan ketinggian 1.500 meter mdpl. Tepatnya di Desa Tempur, Kec. Keling, Kab. Jepara, Jawa Tengah.

Candi Angin memiliki struktur batuan yang mirip dengan beberapa candi peninggalan Kerajaan Majapahit. Hal ini semakin menguatkan dugaan bahwa Candi Angin dibangun pada periode yang sama dengan Kerajaan Majapahit serta Tarumanegara.

 

4. Arca Batara Guru


Peninggalan Kerajaan Kalingga berikutnya yang masih ada hingga saat ini adalah Arca Batara Guru. Arca in ditemukan di kawasan Puncak Gunung Muria. Lokasi tepatnya di Desa Rahtawun, Kec. Keling, Jawa Tengah.

Batara Guru sendiri merupakan Dewa yang dipercaya oleh masyarakat Hindu sebagai penguasa tiga dunia. Ketiga dunia itu adalah dunia para dewa (Mayapada), dunia bawah atau neraka (Arcapada), serta dunia bumi atau manusia (Madyapada).

 

5. Arca Wisnu


Seperti yang kita tahu, Wisnu adalah salah satu Dewa utama yang dipercaya oleh agama Hindu. Dewa Wisnu dipercaya sebagai pemelihara dan merupakan tokoh yang suci serta memiliki kedudukan sangat tinggi. Nama Dewa Wisnu sendiri disebut pada Kitab Weda.

Dewa Wisnu digambarkan sebagai seorang Dewa yang mempunyai kulit kebiruan dan memiliki empat tangan. Masing-masing tangan Dewa Wisnu memegang sangkakala, gada, lotus, dan chakra. Arca Wisnu ini ditemukan di Puncak Sanga Likur bersama arca lainnya.

 

6. Prasasti Sojomerto


Peninggalan Kerajaan Kalinga, prasasti Sojomerto

Prasasti Sojomerto adalah sebuah prasasti Hindu peninggalan abad ke-7 atau 8 Masehi yang ditemukan di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Prasasti ini merupakan salah satu bukti sejarah penting yang mengungkap keberadaan kerajaan kuno di Indonesia, yakni Kerajaan Kalingga. Prasasti Sojomerto menjadi saksi bisu perjalanan sejarah karena masih memakai aksara Kawi kuno dan bahasa Melayu kuno yang diukir di atas batu andesit. Isi Prasasti Sojomerto mengungkap tentang Dapunta Syailendra dan keluarganya.

Selain 6 peninggalan Kerajaan Kalingga di atas, terdapat juga beberapa peninggalan sejarah lainnya seperti Patung Togok dan Patung Narada,  Prasasti Rahtawun, dan Prasasti Upit  yang masih terpelihara hingga saat ini.

 

Arca Togog


Selanjutnya ada Arca Togog yang ditemukan di puncak Sanga Likur. Togog sendiri adalah salah satu karakter pewayangan yang cukup terkenal. Togog diutus sebagai pamong atau penasihat untuk para satria berwatak buruk. Pamong sendiri bertugas untuk membisikan makna kehidupan yang bijak pada manusia.

Bila semar bertugas menjadi penasihat bagi satria berwatak baik, maka Togog sebaliknya. Namun, antara Semar dan Togog sendiri merupakan putra dari Sanghyang Wenang. Keduanya diketahui terlahir dari sebutir telur.


Narada Ark


Arca terakhir yang juga ditemukan di Sanga Likur, tak jauh dari lokasi penemuan ketiga arca lain adalah arca Narada. Narada Muni merupakan sosok yang bijaksana dalam ajaran Hindu. Narada dilukiskan sebagai seorang pendeta yang memiliki kemampuan mengembara ke planet-planet yang ada di semesta.

Narada sendiri memiliki ciri khas dengan membawa alat musik bernama Tambura. Alat musik tersebut digunakan untuk mengiringi segala pujian dan doa yang ditujukan untuk Dewa Wisnu dan Krisna.


Prasasti Rahtawun


Sisa-sisa peninggalan kerajaan Kalingga yang ditemukan di puncak gunung Muria memang menarik perhatian para pakar sejarah maupun arkeolog tanah air. Selain penemuan beberapa candi dan juga arca di kawasan tersebut. Para arkeolog pun menemukan prasasti bersejarah lainnya, yaitu Prasasti Rahtawun pada tahun 1990.

Meski belum ada penjelasan tentang isi prasasti tersebut, namun setidaknya hal tersebut menjadi temuan yang sangat menarik. Selain Prasasti Rahtawun dan beberapa arca kuno yang ditemukan di tempat tersebut.

Di sana juga ditemukan beberapa tempat pemujaan yang digunakan masyarakat Kalingga di masa lalu, dimana masing-masing tempat kemudian diberi nama dengan nama pewayangan.


Penyelidikan tentang Babi

 


Prasasti lain yang juga menjadi bukti keberadaan kerajaan yang terkenal cukup maju di Jawa Tengah adalah Prasasti Upit. Prasasti Upit pertama kali ditemukan di Desa Ngawen, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Prasasti Upit bersisi cerita tentang sebuah desa yang bernama desa Upit, dimana desa tersebut dibebaskan dari tuntutan membayar pajak berkat kebaikan Ratu Shima.

Prasasti Upit sendiri kini berada di Museum peninggalan sejarah yang berlokasi di Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah



Imajiner Nuswantoro 




 

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)