TANAH DJAWA
(Tanah Peradaban Yang Hilang / The Lost Word)
1. Provinsi Jawa Tengah
2. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
3. Provinsi Jawa Timur
Bagi penduduk daerah Jakarta atau daerah barat pulau Jawa, mereka merasa bukan bagian dari Tanah Jawa (Daerah Jawa), sehingga mereka jika pergi ke daerah timur, mereka menyebutnya pergi ke Jawa.
Hal tersebut dapat dibandingkan dengan sebutan Tanah Melayu, yang berarti Semenanjung Melayu, bukan keseluruhan wilayah hunian etnik Melayu. Demikian juga sebutan Tanah Dayak hanya mengacu kepada sepertiga wilayah Kalimantan Tengah, bukan meliputi seluruh hunian sukubangsa Dayak di seluruh Borneo. Sebutan Tanah Banjar (Daerah Banjar), tidak meliputi seluruh wilayah Kesultanan Banjar.
Mengenai sejarah pulau Jawa telah ditulis banyak sekali, namun selalu masih dapat ditambah informasi yang baru. Di sini kita ingin mempopulerkan sedikit dari studi kita mengenai masa yang biasanya tidak ditinjau oleh sejarawan, yaitu masa sebelum ada sumber tertulis. Masa ini biasanya disebut prasejarah atau prehistori. Merekonstruksi prasejarah suatu bangsa pada umumnya lebih sulit dari pada merekonstruksi sejarahnya. Seorang ahli sejarah pada prinsipnya berpijak pada sumber tertulis peninggalan masa lampau. Dalam merekonstruksi prasejarah umumnya dibutuhkan kerja sama para ahli dari berbagai bidang ilmu, seperti prehistori, paleogeograf yang sangat erat terkait dengan geologi, paleodemografi, linguistik komparatif, antropologi ragawi dan ilmu lainnya. Penelitian macam ini jauh lebih sulit dari pada studi sejarah, karena sumbernya tersembunyi di dalam tanah atau dibutuhkan teknik khusus yang semuanya agak membutuhkan banyak biaya. Maka dapat dikatakan bahwa rekonstruksi prasejarah seperti menyusun puzzle, dari fragmen-fragmen perlu disusun gambar yang sebenarnya. Karena beberapa bagian puzzle ini tidak/belum ditemukan, maka terpaksa dalam proses rekonstruksi para ahli harus membuat interpolasi, guna mengisi fragmen yang kosong.
BERDASARKAN FOSIL
Fosil Manusia di Jawa Kepulauan Nusantara merupakan suatu kawasan yang sangat muda. Kurang lebih 60 juta tahun yang lalu terjadi suatu gempa bumi yang dahsyat sekali di sekitar pulau Natuna. Gempa ini begitu besar, sehingga mengangkat sebagian dasar laut menjadi daratan, yaitu seluruh rangkaian kepulauan mulai dari Sumatera melalui pulau Jawa, Bali, Sumbawa, Flores, Maluku sampai ke kepulauan Filipina. Lempeng tempat letaknya kepulauan Nusantara terjebak oleh empat lempeng lainnya yang tetap menekan dari Barat, Utara, Timur dan Selatan. Maka tidak mengherankan, bahwa kepulauan kita ini masih agak tidak stabil dan penuh gunung api dipinggirnya. Bentuk kepulauan Nusantara masih jauh berbeda dari sekarang. Manusia tertua, yang dikenal di dunia, berumur 1.8 juta tahun.
Fosil manusia ini adalah tengkorak dari lima individu, tempat penemuannya di Perning, Mojokerto dan ke dalam ilmu paleoantropologi dikategorikan sebagai Pithecanthropus modjokertensis atau menurut terminologi baru disebut Homo erectus modjokertensis. Inilah awal hunian manusia di pulau Jawa. Homo erectus hidup di Jawa dan rupanya disebagian pulau lain juga sampai kurang lebih 200 ribu tahun yang lampau. Zaman Homo erectus berakhir dengan Homo erectus soloensis.
Dalam kurun waktu itu Homo erectus mengalami evolusi terutama ke arah pembesaran volumen otak. Homo erectus hidup dari mengumpulkan hasil tanah dan berburu. Alat yang diproduksinya bercorak paleolitis.
Apa yang terjadi dengan Homo erectus ini, sampai sekarang kurang jelas.
Ada kemungkinan, bahwa sudah punah, ada kemungkinan bahwa mereka bermigrasi ke arah Timur dan Tenggara sampai ke Australia, ada kemungkinan lain bahwa ia tidak tahan persaingan dengan Homo sapiens. Namun untuk semua hipotesis ini tidak ada bukti, karena fosil yang berikut jauh lebih muda, yaitu 40 ribu tahun. Ini adalah Homo wadjakensis, yang jelas tergolong sebagai Homo sapiens. Apa yang terjadi di kepulauan kita ini antara 200.000 dan 40.000 tahun yang lampau, masih merupakan suatu misteri. Belum ditemukan fosil manusia dari masa itu (Jacob 1967, 197?). Jacob (1967), manusia dari Wajak memiliki ciri badani intermedier, yakni baik ciri Austromelanesid maupun ciri Mongolid primitif. Jacob berpendapat, bahwa manusia dari Wajak merupakan leluhur penduduk seluruh Nusantara. Dengan ini manusia dari Wajak dapat dipandang sebagai orang Jawa yang tertua. Namun sejauh mana Jacob benar, sulit dapat diuji, karena fosilnya sedikit atau malah sama sekali tidak ada. Untuk sementara waktu interpolasi Jacob itu harus diterima, karena tidak ada bukti lain berupa fosil manusia.
Dari waktu itu telah ada bukti berupa alat batu bahwa sebagian besar kepulauan Indonesia telah dihuni. Menurut kebudayaannya manusia telah masuk tahap Paleolit akhir, di mana masih dipergunakan alat batu, namun alat yang sudah agak sempurna. Batu itu digabungkan dengan kayu, sehingga tercipta pemukul, tombak, dan panah. Pada masa itu pula telah mulai berkembang hortikultura di kawasan AsiaTenggara.
Mula-mula didomestikasi ubi-ubian, namun beberapa waktu kemudian telah ditanam tumbuhan berbijian seperti padi.
Domestikasi binatang baru ter-laksana dalam periode berikut. Sekitar 3.000 tahun yang lalu perkembangan kemahiran mengerjakan logam (Jacob 1976).
Fosil-fosil lainnya baru berasal dari masa 4-3 ribuan tahun yg lampau. Adanya masa agak panjang antara fosil tidak berarti bahwa fosil ini tidak ada. Sebab yang s ebenarnya ialah bahwa Indonesia memiliki hanya beberapa ahli antropologi ragawi dan mereka pun tidak mempunyai uang cukup untuk mengadakan penelitian secara sistematis baik di Jawa maupun di pulau-pulau lainnya. Malah agak sering terjadi, bahwa jika pada galian untuk membangun perumahan. Ditemukan tulang-tulang, yang dapat merupakan sumber informasi baru, maka hal ini tidak dilaporkan kepada instansi yang bersangkutan, agar pekerjaan jangan terganggu. Dengan demikian banyak informasi masa lampau hilang selamanya.
Terpaksa para ahli berusaha mengisi tampat kosong dalam puzzle ini dengan interpolasi dari data fosil-fosil yang di negara tetangga.
Berdasarkan komparasi ini dapat ditarik kesimpulan, bahwa sebagian besar kawasan Indonesia pada masa Mesolit diduduki oleh anggota ras Melanesid, Australid dan Weddoid, berarti dari orang berwarna kulit agak gelap dan rupanya berambut berombak atau ikal. Mulai dengan Neolit jelas bertambah unsur rasial berciri Mongolid. Hal ini merupakan tanda adanya migrasi populasi dengan ciri Mongolid dari Utara ke arah Selatan (Jacob 1967, Glinka 1981).
Proses ini dapat dimengerti, jika diperhatikan, bahwa pada zaman Pleistosin permukaan laut turun, sehingga Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Bali tergabung dengan daratan Asia merupakan satu benua, terkenal sebagai Sundaland, sehingga migrasi dari Utara ke Selatan tidak merupakan masalah besar. Jembatan darat ini akhirnya putus sekitar 11.000 tahun yang lampau. Maka selama b eberapa puluh ribu tahun migrasi ke arah selatan ini dapat berlangsung terus (Bemmelen 1949, Glinka 1981, 1985, 1987).
Karena kurangnya bukti berupa fosil, maka agak sulit mengatakan sesuatu yang pasti. Hanya diduga bahwa migrasi ini pasti tidak besar-besaran, sehingga dewasa ini proses ini dilihat lebih sebagai peresapan gen (gene flow) ke dalam populasi asli. Karena diduga bahwa banyak gen Mongolid dominan terhadap gen penduduk asli dan masanya agak panjang, maka populasi asli yang berciri Austromelanesid lambat laun berubah dengan dominasi ciri Mongolid, seperti dapat kita saksikan dewasa ini antara lain pada populasi Jawa (Glinka 1981).
KISAH GHOIB TANAH JAWA
SILSILAH LELUHUR DI TANAH JAWA
Dari Masa Sekarang ke Masa Lampau Sistuasi macam ini memaksa kita untuk mendekati seluruh masalah etnogensis dari aspek lain, yakni membuat ekstrapolasi dari masa sekarang ke masa lampau (Glinka 1978). Guna mencapai tujuan ini kita memperbandingkan data antropometris dari 110 populasi dari seluruh kawasan Indonesia, Malaysia, Taiwan, Filipina dan Madagaskar.
Hasilnya ialah satu diagram raksasa, di mana semua populasi teratur menurut mirip badaninya.
Keterangan Diagram :
Seluruh diagram terbagi jelas atas dua bagian besar : I dan II.
Cluster I terdiri dari populasi yang menduduki pulau-pulau luar Nusantara, tambah populasi-populasi Malayu dari pulau Taiwan, cluster II mengandung populasi dari Kalimantan, Madagaskar dan populasi penduduk primitif dari Filipina. Berdasarkan pembagian ini kita menarik hipotesis, bahwa
populasi dalam cluster I dan II ini merupakan dua kelompok, yang berkembang secara terpisah atau berasal dari migrasi yang berbeda.
Cluster I terbagi lagi dengan jelas atas dua subcluster : A+B dan C+D+F.
Subcluster A+B mengandung populasi dari NTT, Siberut, Tengger, Nias Selatan serta populasi Semang dan Senoi dari Malaka, subcluster C+D+F berisi populasi dari Nias, Sipora, Sumatera, Jawa, Madura, Bawean, Bali, Lombok, dua popuasi dari Flotim, Tionghoa dari Indonesia dan populasi dari Taiwan. Inilah subcluster yang menarik minat kita, karena mengandung populasi Jawa. Subcluster A+B meliputi terutama populasi rasial bersifat Austromelanesid. Subcluster C+ D+F mengandung populasi bersifat rasial jelas Mongolid.
Subcluster inilah yang mendapat gen-gen dari populasi Mongolid dari arah Utara, sehingga akhirnya sendiri menjadi Mongolid.
Hanya sekian dapat dikatakan berdasarkan penelitian antropologi ragawi dengan ekstrapolasi dari masa kini ke masa lampau.
Bagaimana proses ini berlangsung secara rinci, hanya dapat dijawab oleh studi komparatif paleoantropologi
berdasarkan fosil/kerangka yang masih tersimpan dalam tanah.
BACA JUGA :
Cucu Nabi Adam AS & Anak Nabi Syits AS (Sayid Anwar & Sayid Anwas)
ANWAR PUTRA NABI SYITS (Sanghyang Nurcahyaning Nirwana, Trah Sang Hyang / Kebhataraan)
KISAH ANWAS DAN ANWAR
SERAT PARAMAYOGA DAN SERAT PUSTAKA RAJA PURWA (Kitab ini berisi dongeng tentang asal usul manusia Jawa, menghubungkan silsilah dari Nabi Adam, dewa-dewa Hindu, hingga tokoh-tokoh Nusantara)
Bani Tamim (Bani Jawi) Nusantara Keturunan Anwar
Waktu Terbentuknya Etnis Jawa
Dari peninggalan puing bangunan, prasasti maupun sumber tertulis telah tersusun tahap-tahapan sejarah dengan pengaruh Hinduisme, Budisme dan Islam serta pengaruh Barat.
Namun kelompok etnis Jawa telah ada sebelum pengaruh dari luar ini. Kapan terjadinya ?
Untuk menjawab masalah ini perlu kita pindah ke linguistik historis komparatif.
Linguistik historis komparatif memiliki beberapa metode untuk membandingkan bahasa-bahasa berbagai kelompok etnis. Salah satunya adalah komparasi melalui leksikostatistik, yaitu dengan menghitung perbendaharaan kata bersama dalam dua bahasa. Studi semacam ini menyangkut sebagian besar bahasa Malayo Polinesia pernah dilakukan Dyen (1962, 1965). Dyen memberikan kebersamaan dalam perbendaraan kata dalam bentuk persen. Berdasarkan persentase ini dengan asumsi, berapa lama waktu retensi (pertahanan kata yang sama dalam dua bahasa), kita dapat memperkirakan, kapan dua bahasa terpisah satu dari yang lain menjadi dialek dan akhirnya bahasa tersendiri. Bahasa merupakan komponen budaya yang amat penting, kelahiran suatu bahasa dapat dianggap sebagai kelahiran kelompok etnis yang bersangkutan. Ternyata, pembentukan/pemisahan bahasa di Nusantara berlangsung kurang lebih 5.000 tahun yang akhir ini.
Menurut pembagian oleh Dyen (1965), bahasa Jawa masuk rumpun berikut ini :
ASAL USUL TANAH JAWA VERSI LAIN
![]() |
| Sumber Foto : Googling |
Peradaban suku Jawa termasuk maju. Hal ini dapat dibuktikan karena adanya peninggalan kerajaan-kerajaan besar yang berada di tanah Jawa, dan masih dapat dilihat hingga kini. Misalnua Candi Borobudur, Prambanan, Mendut, Singosari, dan sebagainya.
Walaupun suku Jawa telah tersebar di seluruh nusantara. Namun, banyak orang yang tak tahu bagaimana sejarah dan asal-usul suku Jawa. Apakah suku Jawa berasal dari nenek moyang asli pribumi? Atau mereka berasal dari pendatang? Berikut ialah beberapa teori yang menjelaskan asal usul suku Jawa.
Menurut arkeolog, Eugene Dubois, seorang ahli anatomi yang berasal dari Belanda menemukan sebuah fosil manusia purba Homo erectus. Fosil ini ditemukan di Trinil pada tahun 1891. Pasca penemuan ini, dilakukan perbandingan antara DNA fosil kuno tersebut dengan suku Jawa di masa kini.
Hasilnya, DNA tersebut tidak memiliki perbedaan jauh dengan suku Jawa masa kini. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya fosil manusia purba, yaitu Pithecanthropus erectus. Sehingga membuat para arkeolog ini menjadi yakin bahwa nenek moyang suku jawa berasal dari penduduk pribumi.
Berbeda dengan Eugene, menurut seorang sejarawan justru berbanding terbalik. Von Hein Geldern menyebutkan bahwa telah terjadi migrasi penduduk dari daerah Tiongkok (Yunan) di kepulauan Nusantara. Migrasi ini sudah ada sejak zaman neolitikum 2000 SM, sampai zaman perunggu 500 SM, secara besar-besaran bertahap menggunakan perahu cadik.
Begitu juga Dr. H. Kern menyebutkan, berdasarkan penelitiannya di tahun 1899 bahwa bahasa daerah di Indonesia mirip satu sama lain, dan Kern menarik kesimpulan bahwa bahasa tersebut akar dari rumpun yang sama, yaitu Austronesia.
Maka, hal inilah yang membuat Geldern yakin bahwa Suku Jawa tidak berasal dari masyarakat pribumi asli. Namun, ada bukti juga melalui tulisan kuno India dan keraton Malang yang berbeda.
Pasalnya, dalam tulisan kuno India disebutkan bahwa jika beberapa pulau di Nusantara termasuk pulau Jawa, adalah tanah yang menyatu dengan daratan Asia dan Australia. Akan tetapi, pada saat itu terjadi musibah permukaan air laut naik. Hal ini membuat Pulau Jawa dan beberapa pulau lainnya terpisah.
Tulisan kuno tersebut juga menyebutkan Aji Saka, seorang pengembara yang pertama kali datang di daratan Pulau Jawa, dan menetap di sana bersama para pengikutnya menjadikan mereka sebagai nenek moyang orang dari suku Jawa.
Adapun menurut Babad Jawa kuno, asal usul nenek moyang suku jawa juga disebutkan dalam babad kuno jawa. Dalam babad ini, diceritakan bahwa pangeran yang berasal dari Kerajaan Kling tersisihkan bersama pengikutnya.
Hal tersebut merupakan akibat dari perebutan kekuasaan membuka lahan baru di sebuah pulau terpencil yang dibangun oleh mereka, sebagai pemukiman dan mendirikan kerajaan yang diberi nama Javacekwara. Keturunan pangeran inilah yang dianggap sebagai nenek moyang suku Jawa menurut Babad Tanah Jawa.
Sementara itu, ditemukan sejarah yang lebih jelas. Menurut surat kuno keraton Malang, asal-usul suku Jawa berasal dari kerajaan Turki tahun 450 SM. Kala itu, Raja Rum, raja dari Kerajaan Turki mengutus para penduduknya untuk membuka lahan di pulau kekuasaannya yang belum berpenghuni. Namun, karena gangguan binatang buas, banyak penduduknya yang menderita sehingga mereka pulang kembali ke negara aslinya.
Kemudian, pada tahun 350 SM, raja kembali mengirim para penduduk untuk kedua kalinya. Perpindahan tersebut membawa 20.000 laki-laki, dan 20.000 perempuan berasal dari Koromandel. Perpindahan dipimpin oleh Aji Keler yang menemukan Nusa Kendang dengan dataran tinggi yang ditutupi oleh hutan lebat, dan banyak binatang buas.
Konon, saat itu para penduduk sangat senang karena di pulau tersebut banyak ditemukan bahan pangan, dan tanaman yang subur bernama tanaman Jawi. Tanaman jawi banyak ditemukan dimana-mana, maka dari itu nama dari jenis tanaman inilah dijadikan sebagai nama pulau tersebut yakni, Pulau Jawi.
Hingga kini dikenal dengan Pulau Jawa dengan sebutan para pendudukanya, yakni suku Jawa.
MAKHLUK ANEH YANG PERTAMA MENGUASAI PULAU JAWA
Ambil saja salah satu suku terbesar di Indonesia yaitu suku Jawa. Suku ini tersebar di hampir semua pulau di Indonesia. Namun, untuk menelusuri asal-usulnya bukanlah perkara gampang.
Ada banyak pendapat dan teori.
Dalam catatan-catatan Kitab Hindu Kuno seperti dikutip Capt RP Suyono dalam Dunia Mistik Orang Jawa (2009: 15-16) dikisahkan bahwa pada 450 SM hingga 78 M, nenek moyang suku Jawa dari Koromandel mulai berdatangan. Pada masa itu, Jawa masih diliputi hutan belantara dan dikenal dengan nama Nusa Kendang. Daerah itu berhasil dikunjungi oleh orang-orang dari Kerajaan Astina atau Kling, Koromandel atas perintah raja mereka yang bernama Arjuna.
Diperkirakan mereka mendarat pertama kali di daerah Banten. Namun, mereka tidak mampu bertahan lama mendiami daratan Jawa karena ganasnya gangguan makhluk-makhluk berbentuk aneh. Ada beberapa jenis makhluk aneh, antara lain diberi nama gandarwa (Sanskerta: gandharva) atau biasa disebut genderuwo. Mahkluk aneh lainnya adalah tetekan, cicet, bahung, dan banaspati.
Selain serbuan makhluk aneh itu, mereka juga dimangsa oleh binatang-binatang buas. Akibatnya, banyak di antara mereka tewas. Dan yang selamat memutuskan kembali ke negeri asalnya. Sekitar 500 tahun berikutnya, penguasa Kerajaan Kling yang bernama Brahmani Wati, kembali mencoba menaklukkan pulau Jawa. Kapal-kapal penuh dengan penduduk desa dibawa ikut serta.
Kedatangan mereka kali ini, berhasil membabat hutan. Para gandarwa dan kawan-kawanya sudah tidak mengganggu. Sehingga mereka pun mampu membangun desa hingga wilayah pedalaman. Mereka dan keturunannya inilah, yang menjadi cikal bakal Kerajaan Pajajaran di Jawa Barat. Dari keturunan mereka ini pula, diduga menjadi cikal bakal suku Sunda, yang hingga kini mendominasi masyarakat Provinsi Jawa Barat.
Selain dari Kitab Hindu Kuno, kisah tentang para pendatang atau nenek moyang orang Jawa juga dapat diketahui dari literatur kuno lainnya seperti Babad Tanah Jawa dan Serat Kuno Keraton Malang. Namun, pada prinsipnya, semua mengatakan hal yang sama bahwa pada masa awal didatangi, Pulau Jawa masih berupa hutan belantara dan dihuni oleh makhluk-makhluk aneh serta binatang buas.
Menurut pemaparan Sri Wintala Achmad dalam Asal-Usul dan Sejarah Orang Jawa (2017: 18-24), untuk mengetahui asal-usul orang Jawa harus mempertimbangkan banyak sumber.
Sumber-sumber itu antara lain hasil kajian para arkeolog, penelitian para sejarawan, literatur kuno tentang Jawa seperti Babad Tanah Jawa, Serat Kuno Keraton Malang, surat-surat kuno dari India, Cina, bahkan boleh juga menengok catatan kuno suku Maya tentang bangsa Atlantis dan Lemuria.
Menurut arkeolog, satu juta tahun sebelum Masehi, Pulau Jawa diperkirakan sudah dihuni. Hanya saja, peradaban manusia kala itu masih sangat primitif dan biasa disebut sebagai manusia purba.
Penemuan-penemuan fosil manusia purba di lembah Bengawan Solo oleh von Koenigswald, Eugène Dubois, dan arkeolog lain membuktikan bahwa DNA manusia purba seperti Pithecanthropus erectus dan Homo sapiens memiliki struktur DNA yang mirip dengan DNA orang Jawa di zaman sekarang.
Manusia purba berjenis Homo erectus di Dusun Trinil, Kawu, Kedunggalar, Ngawi, Jawa Timur oleh Eugène Dubois memperkuat teori itu. Padahal mereka diperkirakan hidup pada 700.000 tahun sebelum Masehi.
Hanya saja, jenis manusia purba ini bisa dikatakan masih menyerupai kera berjalan tegak. Artinya, peradabannya masih sangat jauh dengan manusia modern.
1. Pertanyaannya, apakah mereka kemudian berevolusi dan menjadi manusia modern ?
2. Apakah mereka kemudian punah ?
3. Atau mereka inilah yang disebut makhluk aneh tatkala nenek moyang dari Koromandel datang ke Jawa Barat ?
Sebagian Arkeolog berpendapat bahwa mayoritas manusia purba ini mengalami kepunahan ketika Gunung Lawu purba, Gunung Kelud purba, Gunung Krakatau purba, dan gunung berapi purba lainnya di Pulau Jawa, meletus. Kalaupun ada yang selamat dari letusan-letusan itu, diperkirakan mereka kemudian berhadapan dengan para pendatang dari negeri lain. Benturan budaya pun terjadi atau bisa pula mengalami proses asimilasi melalui perkawinan.
Ketika manusia mampu membuat tulisan, babak baru dimulai. Dari catatan-catatan berupa aksara kuno itulah, para sejarawan mulai mampu merangkai kisah masa lampu yang mendekati kebenaran. Hanya saja, era ini, Pulau Jawa sudah dihuni oleh beragam manusia baik dari penghuni yang lebih lama maupun para pendatang. Semua berbaur dalam arti yang sesungguhnya.
Sekitar 3000 SM, orang-orang dari suku Lingga, Tiongkok Daratan, Yunan atau Funan di Cina Selatan, Kasi di India Selatan, orang dari Dinasti Kusana dari India, orang Siam dari Thailand, orang Turki, dan orang Arab, serta Campa, berdatangan secara bergelombang.
Gelombang awal kedatangan itu dikenal juga sebagai zaman Proto Melayu. Selanjutnya disusul kedatangan berikutnya yang dikenal sebagai gelombang Deutro Melayu. Semua pendatang itu membawa peradaban yang jauh lebih maju dibanding penduduk Pulau Jawa yang lebih dulu menghuni. Dari mereka inilah kemudian mulai dikenal teknik pelayaran, ladang, sawah, dan sistem kampung.
Dan tatkala mereka berbaur dan saling kawin-mawin, akan sangat sulit untuk bisa membedakan kemurnian darah. Niscaya tidak bisa lagi menelusuri mana yang murni berasal dari Cina, India, Turki, dan Arab. Dengan demikian, semua orang di Pulau Jawa masa kini, entah bersuku Jawa, Sunda, Badui, Tengger, maupun suku Jawa lainnya, sebaiknya sadar bahwa dalam tubuh, bisa jadi ada campuran darah Cina, India, Siam, Arab, maupun Turki.
Misteri Tanah Jawa yang Belum Terpecahkan hingga Kini
Sesuatu yang tidak bisa dimungkiri hingga saat ini adalah bahwa tanah Nusantara ini penuh dengan misteri. Alamnya, pulaunya, bahkan juga manusia-manusia penghuni Nusantara ini juga kerap diselubung misteri.
Namanya juga misteri, sehingga sangat sulit untuk dipecahkan. Karena tidak bisa memecahkan, akhirnya semuanya pun tinggal dalam misteri itu sendiri. Demikian juga dengan tanah Jawa yang hendak diulas dalam tulisan ini juga ya, penuh dengan misteri itu.
Kata di Pulau Jawa ini dulunya merupakan koloni dari bangsa Atlantis, kemudian karena bangsa dan peradaban di hancur-hancuran Jawa seperti ini. Lalu, juga asal-usul orang Jawa sendiri hingga kini masih juga diselimuti kabut misteri itu.
1. Misteri dewa-dewi sebelum manusia sakti. Ada juga misteri misalnya, bahwa di tanah Jawa ini selama ratusan ribu tahun lalu ditemui oleh dewa-dewi yang menguasai daratan lautan tanah jawa. Para dewa dewi itu kembali ke nirwana setelah manusia-manusia sakti mulai menguasai tanah Jawa .
2. Misteri Semar Sebagai Demit Paling Tua di Tanah Jawa. Semar merupakan tokoh wayang nan sakti, eang sepuh dari pandawa lima yang sangat populer sekaligus dalam pertokohan dia kedudukannya sebagai ayah dari Petruk, Gareng serta Bagong. Perlu diketahui ternyata konon itu adalah sosok demit yang paling tua usianya di kawasan tanah Jawa .
3. Misteri Masuknya Islam. Apakah kamu tahu Islam masuk ke tanah Jawa itu kapan? Kabarnya ajaran tersebut masuk pada abad 13. Ada sumber yang mengatakan kalau Islam itu masuk ke Tanah Jawa , sebagaimana juga masuk ke Nusantara selama Nabi Muhammad masih hidup. Konon Syekh Subakir sebagai utusan ulama dari mewujudkan ottoman yang datang, dengan menenteng batu hitam yang telah dirajah dari kawasan jazirah Arab.
4. Misteri Peredaman Pengaruh Negatif Makhluk Halus. Konon banyak keajaiban yang mengganggu kehidupan manusia di tanah Jawa . Mereka semua membawa pengaruh negatif kepada warga sekitar. Namun untungnya di puncak gunung Tidar ada rajah Aji Kalacakra yang mampu menangkalnya saat itu. Kemudian lambat laun kabarnya diberitakan oleh para Wali Songo. Sehingga ilmu ulama tersebut bisa dianggap pengaruh negatif terhadap makhluk itu juga.
5. Misteri Tersingkirnya Hantu. Semakin berjalannya waktu, jumlah populasi manusia semakin banyak. Hutan, sawah, perkebunan pun kini telah berubah menjadi tempat tinggal, maupun perumahan. Sehingga para hantu dan sejenisnya tersingkir, serta pindah ke dasar laut selatan ataupun disekitar kawah gunung berapi kabarnya.
6. Ritual Misteri Tradisional. Ritual Konon yang biasa kita kenal dengan nama Slametan itu, kabarnya ada dengan kisah jin paling tua di tanah Jawa . Banyak yang bilang kalau kita melakukan ritual seperti itu, maka para dedemit akan melindungi warga. Apalagi jika dalam permintaan bantuan disertai tangisan, maka permintaannya akan segera terkabulkan.
7. Misteri Babad Tanah Jawi. Masyarakat bisa mengetahui silsilah raja zaman dahulu, seperti pada Singasari, kerajaan Padjajaran, Mataram, Majapahit, Demak, maupun yang lainnya dengan membaca buku babad tanah Jawi. Bahkan kabarnya ada juga cerita mengenai para nabi, yang dulunya dianggap oleh warga kerajaan Mataram Islam sebagai nenek moyang mereka.
8. Tuan Gugur Gunung. Tujuan gugur gunung dilakukan oleh masyarakat di tanah Jawa , adalah agar kita menyadari pentignya kebersamaan. Kata tersebut mengarahkan pada suatu permasalahan yang dialami seseorang, kalau memecahkan secara bersama pasti akan terasa ringan. Seperti itulah kira-kira gambaran mengenai kebiasaan sesepuh kita zaman dahulu. Kalau sekarang ini kita lebih mengenalnya dengan kata gotong royong, kerja sama saling membantu membantu pekerjaan secara bersama-sama.
9. Misteri Banyak Ahli Sejarah yang Mengkajinya. Kabarnya konon banyak ahli yang tertarik untuk mengkaji mengenai kisah tanah Jawa . Misalnya saja ahli sejarah yang bernama HJ de Graaf. Beliau sudah banyak sekali belajar tentang peristiwa yang terjadi di tanah itu, sejak zaman kerajaan Pajang. Akan tetapi hasilnya tak berani beliau sebutkan pada masyarakat umum, karena kabarnya sangat berkaitan dengan kosmologi, dongeng, serta mitologi.
10. Misteri syirik. Menurut sebagian orang kisah jin di tanah Jawa itu mengarahkan kita pada kesyirikan. Karena berdoa itu hanya kepada Allah semata, bukan memberikan sesaji dan sebagainya pada makhluk halus. Kamu jangan ikut-ikutan, karena semua itu adalah dosa besar yang tak mungkin dimaafkan. Saat di akherat nanti tidak kekal yaitu di neraka, maka dari itu janganlah kamu mencobannya.
11.Tuan Aji Saka. Salah satu legenda Jawa yang sangat populer yaitu kisah Aji Saka. Di dalamnya menceritakan tentang asal mula adanya aksara Jawa . Banyak cerita yang mengatakan Aji Saka itu orang paling sakti dari India yang membangun kerjaaan pertama di tanah Jawa . Selain itu juga menggambarkan tentang kedatangan peradaban di tanah Jawa yang mulai dirintis oleh Aji Saka itu. Hanya ada yang mengatakan kalau kerajaan yang dibangun Aji Saka itu masih bersifat sangat mistis. Kitangnya terdapat berbagai pendapat mengenai mana ceritanya, ada yang bilang kalau itu berasal dari pulau Bawean, ada pula yang kabar hal tersebut dari Jawa Tengah, dan masih banyak lagi anggapan lainnya.
LEGENDA PULAU JAWA
Sejarah awal Pulau Jawa seolah terbungkus oleh misteri, karena sama sekali tidak diketahui keberadaannya oleh dunia sampai pulau ini dikunjungi oleh peziarah dari China, Fa Hien pada tahun 412 Masehi.
Berdasarkan buku Sejarah Gaib Tanah Jawa, karangan CW Leadbeater, Cetakan 1 Maret 2015, disebutkan, pada 2.000 tahun sebelum masehi (SM), Pulau Jawa sudah menjadi koloni bangsa Atlantis, tapi saat Atlantis hancur Jawa menjadi negeri terpisah.
Nah, disaat masih dikuasai oleh bangsa Atlantis inilah ajaran gaib hitam dan sesat mulai diajarkan kepada penduduk yang tinggal di Pulau Jawa ini.
Sehingga pengaruh aliran sesat itu kemudian semakin kuat dan merusak tatanan kehidupan yang ada saat itu.
Mereka memuja dewa yang kejam yang selalu meminta persembahan manusia dan hidup di bawah bayang-bayang tirani tanpa kesempatan untuk melepaskan diri.
Pada zaman itu, mereka diperintah oleh raja yang merangkap Imam Agung dari aliran hitam itu. Di antara raja ini ada seorang yang sungguh fanatik dalam kepercayaan aliran hitam itu.
Sang raja memiliki keyakinan bahwa hanya dengan menjalankan praktik kepercayaan yang mengorbankan darah setiap hari, wilayahnya dapat diselamatkan dari kehancuran.
Hal ini didasari keyakinan bahwa, dewa-dewa ganas dan haus darahlah yang memegang kendali atas Pulau Jawa pada saat itu.
Para dewa telah membuktikan kekuatan dahsyatnya dengan letusan gunung berapi berulang-ulang dan bencana-bencana alam lainnya.
Raja tersebut lalu memutuskan untuk melakukan sebuah pemagaran gaib demi untuk tetap menjaga dan memelihara perlindungan atas Pulau Jawa. Salah satu caranya dengan praktik ilmu gaib dari para ahli sihir.
Hal ini dilakukan agar kelak semua sesembahan darah kepada dewa-dewa haus darah yang bercokol di seluruh Jawa tetap dilanjutkan di sepanjang abad-abad yang akan datang.
Kisah Sejarah Gaib Tanah Jawa
Demi terwujudnya maksud itu, dia kemudian menciptakan mantera yang sangat kuat di atas Pulau Jawa agar aliran hitam yang dianutnya tersebut tak akan lenyap selamanya.
Efek dari hal itu, masih dapat dilihat baik secara etheris maupun astral dalam bentuk awan gelap yang besar melayang-layang di atas Pulau Jawa.
Awan hitam ini, anehnya kelihatan seolah-olah seperti tertambat pada titik-titik tertentu, sehingga tidak lantas terbawa oleh angin dan tetap tinggal pada tempatnya.
Titik-titik lokasi awan hitam ini sengaja dimagnetisir oleh raja, dekat dengan kawah-kawah gunung berapi. Salah satu alasannya adalah karena kawah-kawah tersebut biasanya ditempati oleh beragam jenis makhluk-makhluk halus. Sehingga makhluk-makhluk gaib itu dapat diperintah oleh sang raja.
Kemudian pada 1.200 tahun SM terjadi invasi secara damai terhadap Pulau Jawa oleh Raja Vaivasvata Manu yang beragama Hindu.
Mereka datang secara damai tinggal di pantai dan pada akhirnya membentuk kota perdagangan kecil yang independen.
Seiring waktu, kekuatan para pendatang Hindu ini meningkat pesat dan akhirnya menjadi dominan dalam komunitas.
Akan tetapi walaupun Agama Hindu telah diterima oleh penduduk namun dalam kenyataannya pemujaan lama terhadap ajaran sesat tetap dilaksanakan dan praktik ilmu gaib malah makin menjamur.
Melihat kondisi tersebut Raja Vaivasvata yang berkuasa saat itu meminta untuk mengirimkan ekspedisi ke Jawa pada tahun 78 Masehi.
Ekspedisi ini dilakukan untuk menangkal pengaruh buruk dari aliran sesat yang sudah membumi di Tanah Jawa tersebut.
Pemimpin ekspedisi ini dipimpin oleh ahli spritual bernama Aji Saka atau Sakaji. Aji Saka ini sangat memahami tugas yang diembannya.
Aji Saka lalu menanam benda yang berdaya magnet kuat yang telah dimantrai di tujuh tempat di Pulau Jawa untuk menyingkirkan pengaruh aliran hitam dari tanah Jawa (tumbal bagi tanah Jawa).
Untuk tempat menguburkan tumbal atau jimatnya yang paling penting dan kuat, Aji Saka memilih perbukitan yang mengarah ke Sungai Progo, tempat yang sangat dekat dengan titik Pulau Jawa.
Legenda mengenai Aji Saka ini dalam berbagai cerita juga dianggap melambangkan kedatangan Dharma (ajaran dan peradaban Hindu-Buddha) ke Pulau Jawa.
Akan tetapi penafsiran lain beranggapan bahwa kata Saka adalah berasal dari istilah dalam Bahasa Jawa Saka atau Soko yang berarti penting, pangkal, atau asal-mula, maka namanya bermakna "raja asal-mula" atau "raja pertama".
Mitos ini mengisahkan mengenai kedatangan seorang pahlawan yang membawa peradaban, tata tertib dan keteraturan ke Jawa.
Karena Aji Saka telah mengalahkan raja jahat Prabu Dewata Cengkar sang penguasan hitam yang kala itu menguasai Pulau Jawa.
Legenda ini juga menyebutkan bahwa Aji Saka adalah pencipta tarikh Tahun Saka, atau setidak-tidaknya raja pertama yang menerapkan sistem kalender Hindu di Jawa.
Tumbal Aji Saka untuk menangkal kekekuatan hitam pun bertahan hingga beratus-ratus tahun kemudian. Hingga sampai pada keadaan dimana jin kembali berkuasa, hujan darah dimana-mana, bencana merajalela.
Pada masa ini berkembanglah beberapa aliran ilmu gaib di Pulau Jawa diantaranya, kejawen, klenik dan kebatinan.
Lalu pada awal abad 13 datanglah Syekh Subakir seorang ulama yang dikirim Kesultanan Turki Utsmaniyah ke tanah Jawa.
Syekh Subakir adalah seorang ulama besar yang dikirim untuk menumbal tanah Jawa dari pengaruh negatif makhluk halus saat awal penyebaran ajaran Islam di nusantara.
Karena Syekh Subakir mengetahui kondisi Pulau Jawa banyak dipengaruhi unsur gaib yang sangat mengganggu. Lalu, Syekh Subakir membawa batu hitam dari Arab yang telah dirajah.
Kemudian dengan karomah yang dimilikinya batu hitam dengan nama Rajah Aji Kalacakra tersebut dipasang di tengah-tengah tanah Jawa yaitu di Puncak Gunung Tidar, Magelang.
Karena, Gunung Tidar dipercayai sebagai titik sentral atau pakunya tanah Jawa. Hasilnya kekuatan gaib yang mengganggu di Pulau Jawa dapat dihalau.
Pada masa ini ilmu kebatinan berkembang lagi menjadi beberapa cabang yaitu, ketabiban, kawaskitaan, kesaktian, kanuragan, kekebalan, pengasihan, termasuk juga tenaga dalam.
Kemudian sepeninggalan Syekh Subakir pemagaran gaib terhadap pengaruh negatif dilanjutkan oleh para Wali Songo. Para wali ini mengajarkan ajaran Islam. Salah satu diantaranya yang terkenal yaitu Sunan Kalijaga.
CERITA SEMAR DAN TOGOG DALAM WAYANG PURWA
Pada suatu hari di istana Jonggring Salaka, Kahyangan Suralaya. Sang Hyang Tunggal yang didampingi kedua permaisurinya memanggil ketiga putranya, Sang Hyang Antaga, Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Manikmaya.
Ia bermaksud ingin menyerahkan tahta Suralaya kepada salah putranya, namun sebelumnya Sang Hyang Tunggal mengisahkan perihal kelahiran mereka yang berasal dari sebutir telur hingga tercipta menjadi sosok manusia dewa. Dan yang membuat Sang Hyang Tunggal belum bisa menentukan siapa diantara putranya yang berhak mewarisi Kahyangan Suralaya, adalah karena dulu Sang Hyang Tunggal menyirami tiga bagian pecahan telur itu secara bersamaan sehingga tidak ada yang tercipta lebih dahulu dari bagian lainnya, tidak ada istilah ter-tua diantara yang lainnya, besarnya pun bersamaan.
Sebelum Sang Hyang Tunggal selesai bersabda, tiba-tiba Sang Hyang Antaga berkata kepada Sang Hyang Tunggal. Ia mengatakan bahwa kulit telur tentunya lebih awal dilahirkan, sebab kulit berada diluar isi dan telah ditakdirkan menjadi pelindung, yaitu melindungi isi telur yang lemah.
Maka menurut Sang Hyang Antaga, kulit telurlah yang dianggap lebih tua dibandingkan dengan isinya.
Sang Hyang Ismaya menepis perkataan Sang Hyang Antaga. Menurutnya, bahwa kulit dan isi telur adalah satu kesatuan yang terlahir bersamaan. Tanpa adanya putih dan merah telur yang menjadi isi, maka kulit telur pun tidak akan ada.
Tidaklah mungkin telur terlahir hanya kulitnya saja tanpa ada isi yang telah ikut menyempurnakan keadaannya. Dan Sang Hyang Ismaya mengingatkan kepada Sang Hyang Antaga, bahwa putih dan merah telur yang menjadi isi adalah cikal bakal yang menjadi adanya tanda-tanda kehidupan. Kulit hanya ragangannya saja, tetapi isilah yang menjadi sumber dan keutamanya.
Sang Hyang Antaga tersinggung mendengar kata-kata Sang Hyang Ismaya. Ia yang tercipta dari kulit telur merasa dihina, tidak dianggap memiliki keutamaan, hanya ragangan yang berarti benda kosong yang tidak memiliki arti. Sang Hyang Antaga pun berjumawa, ia menganggap kulit telur adalah yang terkuat dengan wujud keras dibandingkan isi.
Sang Hyang Ismaya membantah, bagaimana bisa disebut kuat kalau kulit telur bisa retak dan pecah. Adu mulut antara Sang Hyang Antaga dan Sang Hyang Ismaya kian memanas, mereka berdua sama-sama telah terbakar amarah.
Kita adu kesaktian!
Siapa yang kuat diantara kita!
Sang Hyang Antaga menunjukan perwatakannya yang secara lahir tercipta dari kulit telur, keras, jumawa dan selalu merasa dirinya yang paling hebat.
Sang Hyang Ismaya yang sudah merasa jengah dengan segala perkataan dan sikap saudaranya, menanggapi tantangan.
Bagi Sang Hyang Ismaya menolak tantangan adalah tindakan seorang pengecut. Sekaligus akan memberi pelajaran kepada Hyang Antaga bahwa “girilusi jalmo tan keno ing ngino” di atas langit masih ada langit, jangan menganggap diri paling sakti di atas muka bumi.
Melihat perselisihan yang kian memanas diantara kedua putranya, Sang Hyang Tunggal segera melerai. Ia menasehati putra-putranya agar bisa lebih berpikir secara jernih dan terbuka, sebab semua masalah akan ada jalan keluarnya bila tanggapi dengan jiwa yang bersih. Tapi sudah terlanjur, keduanya sudah merasa saling dihinakan satu sama lainnya, maka keduanya pun sudah tidak menghiraukan lagi nasehat ayahandanya.
Bertikai dengan saudara sendiri, apakah kalian tidak akan menyesal nantinya ?
Guntur menggelegar dan kilat menyambar. Awan hitam berarak berkejaran menutupi langit, bumi pun bergetar. Candradimuka bergolak menyemburkan lahar api yang sangat panas. Sabda Sang Hyang Tunggal telah menjadi kutukan bagi mereka, namun karena keduanya sudah sama dirasuki nafsu angkara murka, maka keduanya sudah tidak mampu berfikir dengan hati nuraninya. Hyang Antaga segera melesat meninggalkan Jonggring Salaka, dan kemudian disusul oleh Sang Hyang Ismaya.
Dilain pihak Sang Hyang Manikmaya hanya diam membisu. Dia tidak mau melibatkan diri dalam pertikaian kedua saudaranya, terkesan tidak ingin ikut campur. Akan tetapi diam yang dilakukan Sang Hyang Manikmaya bukanlah sebab halus budi pekertinya.
Disinilah perbedaan perwatakan diantara mereka. Sang Hyang Manikmaya lebih cerdik dibandingkan kedua saudaranya, ia licik dan otaknya mampu bekerja dengan baik dibandingkan nafsunya. Sang Hyang Manikmaya akan membiarkan kedua saudaranya yang bertikai.
Ia tahu bahwa diantara mereka mempunyai kesaktian yang berimbang, jadi untuk apa harus membuang tenaga ikut mengadu kesaktian dengan mereka. Yang terlintas dalam pikirannya adalah, ini kesempatan baik untuk bisa merebut hati ayahandanya dan mengincar singgasana Suralaya.
Sementara itu, jauh di luar gerbang gaib Selamatangkep, dua kesatria dewa telah saling beradu kesaktian. Masing-masing dari keduanya menunjukan keluhuran ilmunya. Saling mengeluarkan aji jaya kawijaya dan saling menghunus pusaka kadewatan.
Mereka saling serang, saling pukul, saling tusuk dan saling banting hingga mengakibatkan guncangan hebat bagi bumi tempat mereka bertarung. Gunung longsor, bukit rug-rug. Candradimuka tidak henti-hentinya mengeluarkan semburan api panas yang menyala, asap hitamnya menggumpal melingkupi puncak Himalaya.
Tidak disangsikan lagi kehebatan dari kedua putra Sang Hyang Tunggal itu, keduanya sama-sama sakti, tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang. Palagan yuda tempat bertarung mereka tidak hanya di atas lapisan bumi, tapi juga masuk ke dalam perut bumi, bertarung di dasar samudera dan bahkan berdirgantara di angkasa.
Pertempuran dua kesatria dewa yang berlangsung dahsyat ini mengundang rasa keprihatinan bagi kakek-kakek mereka, baik Sang Hyang Wenang yang bersemayam di alam sunyaruri, ataupun Sah Hyang Rekatama (Sang Hyang Yuyut) yang bersemayam di Samudralaya.
Telah banyak yang menjadi korban karena dampak dari pertarungan kedua cucunya. Rusaknya gunung, hutan dan lautan, juga mahluk-mahluk lain baik yang berada di alam maya ataupun di alam nyata.
Pertarungan antara Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Antaga telah memakan waktu yang cukup lama, tanpa berhenti dan tanpa mengenal rasa lelah. Dan saat pertarungan menginjak waktu yang ke-empat puluh hari, Sang Hyang Tunggal memutuskan untuk menyelesaikan pertarungan dengan mengajukan syarat sayembara kepada kedua putranya.
Barang siapa yang mampu menelan gunung Jamurdipa dan lalu memuntahkannya kembali, maka dialah yang akan diakui sebagai yang tertua dan dinobatkan sebagai Raja Tribuana, mewarisi seluruh Kahyangan Suralaya.
Sang Hyang Antaga dan Sang Hyang Ismaya menyanggupi sayembara tersebut. Keduanya lalu mempersiapkan diri. Didahului oleh Sang Hyang Antaga, ia bertiwikrama menjadi berhala sewu yang besarnya melebihi gunung.
Dan lalu gunung Jamurdipa dicabut dan dimasukan ke dalam mulutnya. Ia memaksa untuk menelan, namun ia merasa sangat kesusahan untuk menelannya, Gunung Jamurdipa itu masih berukuran lebih besar dari mulutnya, tapi karena nafsunya yang besar, maka ia terus mencoba memasukan gunung itu ke dalam mulutnya hingga mulutnya robek besar.
Kegedhen empyak kurang cagak, besar keinginannya namun kurang mempunyai perhitungan.
Melihat Sang Hayang Antaga yang sedang bersusah payah ingin menelan gunung, Sang Hyang Ismaya segera melakukan tiwikrama. Tubuhnya seketika meninggi dan membesar, wujudnya seketika itu juga berubah menjadi berhala sewu. Akan tetapi wujud reksa denawa Sang Hyang Ismaya lebih tinggi besar dibandingkan dengan wujud raksasa jelmaan Sang Hyang Antaga.
Tingginya melebihi tujuh kali puncak Himalaya. Kemudian Berhala Sewu perwujudan dari Sang Hyang Ismaya dengan cepat merebut gunung yang hendak ditelan oleh Sang Hyang Antaga. Dalam keadaan seperti itu Sang Hyang Antaga menjadi limbung, pandangan matanyapun dengan serta merta menjadi gelap, tidak sadarkan diri. Tubuhnya sekejap berubah kembali menjadi kecil dan luruh ambruk di atas bumi.
Kini gilliran Sang Hyang Ismaya, dengan kekuatan luar biasa Sang Hyang Ismaya memaksakan gunung Jamurdipa masuk ke dalam mulutnya. Oleh sebab itu tubuhnya lebih besar dari reksa denawa jelmaan Sang Hyang Antaga, maka dengan kekuatannya Sang Hyang Ismaya berhasil memasukan gunung Jamurdipa ke dalam mulutnya, lalu ditelan.
Sang Hyang Ismaya sempat tercekat, ia merasa seperti tercekik dan sulit bernafas saat gunung Jamurdipa tertelan masuk di kerongkongannya. Ia mengerahkan seluruh tenaga dan kesaktiannya hingga gunung itu pun langsung amblas ke dalam perutnya.
Seperi juga Hyang Antaga, Sang Hyang Ismaya sudah kehabisan seluruh tenaganya, ia merasa sudah tidak mampu lagi untuk mencoba memuntahkan kembali gunung Jamurdipa. Tubuhnya dingin dan lunglai, lalu seketika berubah kembali menjadi kecil, jatuh terkapar tidak sadarkan diri.
Sementara di Jonggring Salaka, Sang Hyang Tunggal yang sudah mengetahui peristiwa yang telah dialami kedua putranya hanya merenung. Ia pun menyesali atas kesalahannya waktu dulu, saat menyempurnakan wujud telur yang menjadi asal muasal mereka.
Seharusnya mereka tidak disempurnakan secara bersamaan, sehingga bisa dibedakan mana yang lebih awal tercipta dan untuk dituakan. Namun yang lebih disesalkan lagi adalah mereka sudah tidak mau mendengarkan nasehatnya sebagai orang tua, apa mau dikata, semuanya sudah terlanjur, dan mereka telah memilih jalannya masing-masing.
Alam kembali menjadi tenang, burung-burung berkicau dikegelapan pagi, dan angin berhembus semilir meniupkan nafasnya yang gemulai. Diantara basahnya embun pagi di atas dedaunan, dua sosok mahluk yang terkapar di atas tanah kini mulai bergerak hidup, menunjukan bahwa keberadaan mereka masih memiliki nafas.
Mereka yang tidak lain adalah Sang Hyang Antaga dan Sang Hyang Ismaya yang telah tidak sadarkan diri untuk beberapa saat lamanya, dan kini mulai terbangun dari sadarnya. Keduanya masih terlihat bingung dan seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. Baik Sang Hyang Antaga maunpun Sang Hyang Ismaya belum pulih total kesadarannya, mereka sama terkejutnya saat saling berhadapan.
Dan Salah satu dari mereka lalu bertanya.
Siapa anda ?
Yang ditanya menjawab sebagai Sang Hyang Antaga. Yang bertanya sontak terkejut seperti mendengar petir disiang bolong. Betapa tidak, yang mengaku sebagai Sang Hyang Antaga itu berpenampilan buruk rupa. Penampilan dan mukanya sangat jauh dari Sang Hyang Antaga yang sangat ia kenal.
Sang Hyang Antaga yang sangat ia kenali adalah sosok kesatria perkasa, sedangkan yang dihadapinya bisa dibilang lebih mirip dengan mahluk jadi-jadian sebangsa Jin atau Dedemit. Tubuhnya pendek buncit, mukanya tidak seimbang dengan mulutnya yang sangat lebar menyerupai mulut angsa.
Belum lagi habis rasa herannya, yang tadi mengaku bernama Sang Hyang Antaga balik bertanya.
Lah! Anda sendiri siapa ?
Kini giliran dia menjawab dan mengaku bernama Sang Hyang Ismaya. Seperti juga Sang Hyang Ismaya, Sang Hyang Antaga pun terkejut bukan kepalang. Sang Hyang Ismaya seharusnya berwajah elok dan bersinar seperti matahari, tapi yang mengaku Ismaya ini bertubuh gemuk berpantat besar, wajahnya pun sama sekali tidak mirip, sangat lebih tua.
Mereka berdua saling meyakinkan siapa mereka, dan baru tersadar saat mereka mencoba untuk mengenali bentuk tubuh masing-masing, merabai seluruh wajah dan tubuhnya. Mereka sama-sama terkejut dan menjadi sadar bahwa mereka berdua telah terkena kutukan orang tua mereka, Sang Hyang Tunggal.
Lalu mereka berdua menangis sejadi-jadinya sambil berangkulan seperti anak kecil. Dan kemudian memutuskan untuk kembali pulang ke Kahyangan Suralaya, menghadap Sang Hyang Tunggal.
Di Jonggring Salaka, di hadapan Sang Hyang Tunggal. Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Antaga masih terus menangis memohon ampunan, mereka memohon ayahandanya untuk merubah kembali wujud mereka seperti semula. Namun Sang Hyang Tunggal tidak dapat mengabulkan permohonan mereka. Menurutnya ini sudah takdir dan kehendak Yang Maha Kuasa.
Sang Hyang Tunggal bersabda kepada para putranya bahwa dirinya akan segera mokswa ke alam sunyaruri, namun sebelumnya ia akan menunjuk salah satu dari putranya untuk menggantikannya menjadi Raja Tribuana di Kahyangan Suralaya.
Lalu Sang Hyang Tunggal menunjuk dan menobatkan Sang Hyang Manikmaya menjadi Raja Tribuana, dan kepada Sang Hyang Antaga juga Sang Hyang Ismaya, Sang Hyang Tunggal menyarankan mereka untuk turun ke marcapada apabila Sang Hyang Manikmaya kelak menurunkan keturunannya di Marcapada.
Sebagai Raja Tribuana, Sang Hyang Manikmaya diberi tugas untuk menentramkan marcapada. Sedangkan Sang Hyang Antaga bila saatnya nanti turun ke marcapada harus merubah namanya menjadi Togog (Togog Wijomantri).
Ia ditugaskan untuk mengasuh, mendidik dan memberi nasehat budi pekerti yang baik kepada para raja keturunan Sang Hyang Manikmaya yang berwujud raksasa.
Semar dikenal sebagai ayah dari punakawan, dimana dikenal sebagai penasihat sejak leluhur Pandawa hingga generasi-generasi berikutnya.
Lantas apa peran dari para punakawan yang biasanya muncul di adegan goro-goro dan membuat penonton terpingkal-pingkal ?
Apakah mereka sekedar pelawak ?
Siapa juga si Togog ?
Kehadiran Semar, Togog, dan para punakawan di dunia pewayangan sesuatu yang menarik. Oleh karena mereka hanya muncul di kisah pewayangan ala Indonesia, sedangkan di versi India sendiri kisah mereka tidak ada. Yang sebagai penasihat di kisah India hanya Krisna dan Begawan Abiyasa, peran Semar dan lain-lainnya tidak terungkap. Nah, sebenarnya siapakah Semar, Togog, Gareng dan kawan-kawannya?
Ini sebuah kisah yang kita sarikan dari buku komik berjudul Wayang Purwa karya Ardi Soma terbitan Elex Media Komputindo.
Kita yakin ada banyak versi di luar sana tentang asal asal usul Semar dkk. Versi wayang Jawa dan versi Sunda mungkin juga berbeda.
Oke kita mulai ceritanya. Alkisah Menurut kisah wayang purwa, manusia pertama adalah Nabi Adam yang berputera Nabi Sis. Nabi Sis ini kemudian memiliki putera bernama Sanghyang Nurcahya yang kemudian berputera Sanghyang Nurrasa. Sanghyang Nurrasa kemudian berputera Wenang dan bercucu Sanghyang Tunggal.
Semar dan Togog awalnya adalah putera dari Sanghyang Tunggal dari Dewi Wiranti. Ada tiga puteranya yang lahir dimana berbentuk telur. Setelah bersemedi maka telur itu berubah menjadi bayi yang tampan. Bayi dari kulit telur bernama Antaga atau Puguh. Bayi berikutnya dari putih telur adalah Ismaya dan yang terakhir dari kuning telur bernama Manikmaya. Dewa tersebut tinggal di Jonggringsalaka di Swargaloka di atas Gunung Mahameru.
Suatu ketika Sanghyang Tunggal hendak mewariskan tahta di antara ketiga puteranya. Antaga dan Ismaya pun berselisih merasa salah satu dari mereka yang berhak. Mereka berkelahi dan sama kuatnya, hingga suatu saat saling menantang untuk menelan gunung. Yang terjadi fatal. Mulut Antaga menjadi lebar dan perut Ismaya menjadi besar. penampilan mereka menjadi buruk rupa dan tak bisa diperbaiki.
Tampuk kekuasaan berikutnya jatuh ke Manikmaya yang mendapat gelar Sanghyang Jagatnata atau Surapati. Manikmaya juga memiliki nama lain Guru (bersemayam di Tengguru) dan Samba juga Sanghyang Otipati (berkuasa menghukum). Ia juga menerima pusaka para dewa seperti kalaminta, tranggayeni, dan aji kemayan.
Antaga sendiri berperan sebagai penasihat dan pengritik jika Manikmaya berbuat salah. Setelah Manikmaya memiliki penerus ia bertugas mengawasi dan menghalangi orang-orang yang berniat jahat kepada setiap keturunan dewa. Ia mendapat julukan Togog.
Sedangkan Ismaya yang berperut besar mendapat julukan Semar. Ia bertugas sebagai penasihat raja juga mengasuh keturunannya kelak.
Setelah Manikmaya berkuasa, ada banyak serangan baik dari para jin maupun dari kerajaan manusia yang kuat. Mereka ingin menguasai Suralaya, namun berkali-kali berhasil dihalau dan beberapa di antaranya menjadi abdi Manikmaya. Di antara penyerang itu ada yang berubah menjadi Gareng dan Dawala. Keduanya diangkat menjadi anak Semar. Keduanya gemar bersenda gurau.
Ada dua VERSI utama yang menceritakan asal-usul Semar
Pertama
Surga dan bumi dalam kisah pewayangan dikuasai oleh Sang Hyang Wenang. Sang Hyang Wenang memiliki putra bernama Sang Hyang Tunggal. Sang Hyang Tunggal memperistri Rekathawati. Pada suatu hari, Dewi Rekathawati bertelur. Seketika itu telur tersebut terbang ke hadapan Sang Hyang Wenang. Setiba di hadapan Sang Hyang Wenang, telur tersebut menetas sendiri dan terwujudlah tiga makhluk antropomorfis. Yang muncul dari kulit telur dinamai Tejamantri, putih telur menjadi Ismaya, dan kuning telur menjadi Manikmaya.
Pada suatu hari, ketiganya membicarakan masalah siapa yang akan menggantikan kekuasaan ayah mereka. Manikmaya menyarankan diadakan pertandingan menelan gunung dan memutahkannya kembali. Tejamantri sebagai yang tertua melakukannya dulu tetapi gagal yang berakibat mulutnya sobek.
Ismaya kemudian maju dan berhasil menelannya tetapi tidak berhasil memuntahkannya. Insiden ini menyebabkan terjadinya gara-gara atau bencana. Sang Hyang Wenang segera datang dan mengambil keputusan. Beliau mengatakan bahwa pada waktunya, Manikmaya akan menjadi raja para dewa, penguasa surga di Kahyangan. Manikmaya juga akan mempunyai keturunan yang menjadi penduduk bumi. Ismaya dan Tejamantri harus turun ke bumi untuk memelihara keturunan Manikmaya. Keduanya hanya boleh menghadap Sang Hyang Wenang apabila Manikmaya bertindak tidak adil. Sejak itu Sang Hyang Wenang mengganti nama mereka. Manikmaya menjadi Bathara Guru, Tejamantri menjadi Togog, dan Ismaya menjadi Semar. Karena sebuah gunung pernah ditelan Ismaya maka bentuk tubuh Smer menjadi besar, gemuk, dan bundar.
Kedua
Versi ini menyebutkan bahwa alam semesta muncul sebagai sesuatu yang tercipta sekaligus. Diceritakan bahwa sebutir telur yang dipegang Sang Hyang Wenang menetas dengan sendirinya dan tampaklah langit, bumi, dan cahaya (teja), serta dua makhluk anthroporphis, Manik dan Maya. Kalau versi pertama dan kedua dibandingkan ada persamaannya. Ismaya dari versi pertama dan Maya dari versi kedua, terjadi dari putih telur dan keduanya memelihara bumi. Manikmaya atau Manik merupakan transformasi dari kuning telur dan keduanya menjadi raja para dewa di Surga. dalam kedua versi itu Manikmaya dan Manik menjadi Bathara Guru yang keturunannya tersebar di surga dan di bumi, sedangkan Ismaya dan Maya dinamakan Semar dan dijadikan pelindung bumi.
Namun ada juga yang berasal dari beberapa kitab seperti berikut ini:
Dalam naskah Serat Kanda dikisahkan,penguasa kahyangan bernama Sanghyang Nurrasa memiliki dua orang putra bernama Sang Hyang Tunggal dan Sanghyang Wenang. Karena Sang Hyang Tunggal berwajah jelek, maka takhta kahyangan pun diwariskankepada Sanghyang Wenang. Dari Sanghyang Wenang kemudian diwariskan kepada putranya yang bernama Batara Guru.
Sanghyang Tunggal kemudian menjadi pengasuh parakesatria keturunan Batara Guru, dengan nama Semar.
Dalam naskah Paramayoga dikisahkan,Sanghyang Tunggal adalah anak dari Sanghyang Wenang. Sanghyang Tunggal kemudian menikah dengan Dewi Rakti, seorang putri raja jin kepiting bernamaSanghyang Yuyut. Dari perkawinan itu lahir sebutir mustika berwujud telur yangkemudian berubah menjadi dua orang pria. Keduanya masing-masing diberi namaIsmaya untuk yang berkulit hitam, dan Manikmaya untuk yang berkulit putih. Ismayamerasa rendah diri sehingga membuat Sanghyang Tunggal kurang berkenan. Takhtakahyangan pun diwariskan kepada Manikmaya, yang kemudian bergelar Batara Guru.
Sementara itu Ismaya hanya diberi kedudukan sebagai penguasa alam Sunyaruri, atau tempat tinggal golongan makhluk halus. Putra sulung Ismaya yang bernama Batara Wungkuham memiliki anak berbadan bulat bernama Janggan Smarasanta, atau disingkat Semar. Ia menjadi pengasuh keturunanBatara Guru yang bernama Resi Manumanasa dan berlanjut sampai ke anak-cucunya. Dalam keadaan istimewa, Ismaya dapat merasuki Semar sehingga Semar pun menjadi sosok yang sangat ditakuti, bahkan oleh para dewa sekalipun. Jadi menurut versiini, Semar adalah cucu dari Ismaya.
Dalam naskah Purwakanda dikisahkan, Sanghyang Tunggal memiliki empat orang putra bernama Batara Puguh, BataraPunggung, Batara Manan, dan Batara Samba. Suatu hari terdengar kabar bah-watakhta kahyangan akan diwariskan kepada Samba. Hal ini mem buat ketiga kakaknyamerasa iri. Samba pun diculik dan disiksa hendak dibunuh. Namun perbuatantersebut diketahui oleh ayah mereka. Sanghyang Tunggal pun mengutuk ketigaputranya menjadi buruk rupa. Puguh berganti nama menjadi Togog, Pung-gungmenjadi Semar. Keduanya diturunkan ke dunia sebagai peng-asuh keturunan Samba,yang kemudian bergelar Batara Guru. Sementara itu Manan mendapat pengampunankarena hanya ikut-ikutan saja. Manan kemudian bergelar Batara Narada dandiangkat sebagai penasihat Batara Guru.
Dalam naskah Purwacarita dikisahkan,Sanghyang Tunggal menikah dengan Dewi Rekatawati putra Sanghyang Rekatatama.Dari perkawinan itu lahir sebutir telur yang bercahaya. Sanghyang Tunggaldengan perasaan kesal membanting telur itu sehingga pecah menjadi tiga bagian,yaitu cangkang, putih, dan kuning telur. Ketiganya masing-masing menjelmamenjadi laki-laki. Yang berasal dari cangkang diberi nama Antaga, yang berasaldari putih telur diberi nama Ismaya, sedangkan yang berasal dari kuningnyadiberi nama Manikmaya. Pada suatu hari Antaga dan Ismaya berselisih karenamasing-masing ingin menjadi pewaris takhta kahyangan.
Keduanya pun mengadakan perlombaan menelangunung. Antaga berusaha melahap gunung tersebut dengan sekali telan namunjustru mengalami kecelakaan. Mulutnya robek dan matanya me-lebar. Ismaya menggunakan cara lain, yaitu memakan gunung itu sedikit demi sedikit.
Setelah melewati beberapa hari seluruh bagiangunung pun ber-pindah ke dalam tubuh Ismaya, namun tidak berhasil ia keluarkan.Akibatnya sejak saat itu Ismaya pun bertubuh bulat. Sanghyang Tunggal murkamengetahui ambisi dan keserakahan kedua pu-tranya itu. Mereka pun dihukummenjadi pengasuh keturunan Ma-nikmaya, yang kemudian diangkat sebagai rajakahyangan, bergelar Batara Guru.
Antaga dan Ismaya pun turun ke dunia.Masing-masing memakai nama Togog dan Semar.
Kisah Syekh Subakir Memaku Pulau Jawa di Gunung Tidar
Dalam Babad Tanah Jawi diceritakan tentang Syekh Subakir dalam menumbali tanah Jawa. Pada zaman dahulu kala, ketika pulau Jawa baru saja diciptakan oleh Sang Maha Pencipta dalam bentuk tanah yang terapung-apung di lautan luas; tanah tersebut senantiasa bergerak kesana kemari.
Seorang dewa kemudian diutus turun dari kahyangan untuk memaku tanah tersebut agar berhenti bergerak. Kepala dari paku yang digunakan untuk memaku Pulau Jawa tersebut akhirnya menjadi sebuah gunung yang kemudian dikenal sebagai Gunung Tidar
Gunung yang terletak di pinggir selatan kota Magelang yang kebetulan berada tepat dibagian tengah Pulau Jawa tersebut memang berbentuk kepala paku; karena itu gunung Tidar dikenal luas sebagai pakuning tanah jawa.
Legenda ini sangat melekat bagi masyarakat tradisional Jawa, tidak sekedar di Magelang, tapi juga ke daerah-daerah lain di Jawa, bahkan sampai di Lampung dan mancanegara (Suriname). Hal ini karena telah disebutkan dalam jangka Joyoboyo dan mengalir secara tutur tinular menjadi kepercayaan masyarakat.
Dalam legenda yang beredar di Pulau Jawa dikisahkan, beberapa kali ulama menyebarkan agama Islam di tanah Jawa tapi telah gagal.
Orang-orang Jawa pada waktu itu masih kokoh memegang kepercayaan lama. Dengan tokoh-tokoh gaibnya masih sangat menguasai bumi dan laut di sekitar Pulau Jawa.
Para ulama yang dikirim untuk menyebarkan agama Islam mendapat halangan yang sangat berat, meskipun berkembang tetapi hanya dalam lingkungan yang kecil, tidak bisa berkembang secara luas.
Maka diutuslah Syekh Subakir untuk menyebarkan agama Islam dengan membawa batu hitam yang dipasang oleh Syekh Subakir di seantero Nusantara. DI tanah Jawa diletakkan di tengah-tengahnya yaitu di gunung Tidar.
Kemudian, gunung Tidar dikenal dengan Paku Tanah Jawa. Gunung yang dalam legenda dikenal sebagai "Pakunya tanah Jawa" itu terletak di tengah Kota Magelang.
Di tengah lapangan di atas gunung Tidar terdapat sebuah Tugu dengan simbol huruf Sa (dibaca seperti pada kata Solok) dalam tulisan Jawa pada tiga sisinya. Menurut penuturan juru kunci, itu bermakna Sapa Salah Seleh (Siapa Salah Ketahuan Salahnya). Tugu inilah yang dipercaya sebagian orang sebagai Pakunya Tanah Jawa, yang membuat tanah Jawa tetap tenang dan aman.
Gunung Tidar terkenal akan ke-angker-annya dan menjadi rumah bagi para Jin dan Makhluk Halus. Jalmo Moro Jalmo Mati, setiap orang yang datang ke Gunung Tidar bisa dipastikan kalau tidak mati ya modar (dan mungkin hal ini yang menjadi asal usul nama Tidar).
Efek dari kekuatan gaib suci yang dimunculkan oleh batu hitam menimbulkan gejolak, mengamuklah para mahluk : Jin, setan dan mahluk halus lainnya. Syekh Subakir yang mampu meredam amukan dari mereka.
Berdasarkan penuturan Juru Kunci Gunung Tidar, di Gunung Tidar terdapat makam yaitu Makam Kyai Sepanjang dan Makam Sang Hyang Ismoyo (atau yang lebih dikenal sebagai Kyai Semar). Sedangkan tempat yang selama ini dikenal sebagai Makam Syekh Subakir sebenarnya hanyalah petilasan beliau.
Jadi, beliau dikenal sebagai wali Allah yang menaklukkan Jin dan makhluk halus di Gunung Tidar sehingga para makhluk halus tersebut ‘mengungsi’ ke Pantai Selatan, tempat Nyai Roro Kidul. Setelah berhasil menaklukkan Jin dan Makhluk Halus, Syekh Subakir kembali ke tanah asalnya di Rom (Baghdad).
Syekh Subakir diutus ke Tanah Jawa bersama-sama dengan Wali Songo Periode Pertama, yang diutus oleh Sultan Muhammad I dari Istambul, Turki untuk berdakwah di pulau Jawa pada tahun 1404.
Mereka diantaranya, Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki, ahli mengatur negara. Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand, Rusia Selatan, ahli pengobatan. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, dari Mesir.
Maulana Muhammad Al Maghrobi, berasal dari Maroko. Maulana Malik Isro’il, dari Turki, ahli mengatur negara. Maulana Muhammad Ali Akbar, dari Persia (Iran), ahli pengobatan. Maulana Hasanudin, dari Palestina. Maulana Aliyudin, dari Palestina. Syekh Subakir, dari Iran, Ahli menumbali daerah yang angker yang dihuni jin jahat.
Pada tahap berikutnya, kedudukan Syekh Subakir, Sang Babad Tanah Jawa sebagai salah satu Wali Songo, digantikan oleh Sunan Kalijaga.
Tombak Kiai Panjang dan Tumbal Tanah Jawa
Syekh Subakir adalah salah seorang ulama asal Persia (Iran saat ini) yang dikirim Khalifah Turki Utsmaniyah, Sultan Muhammad I untuk menyebarkan agama Islam di wilayah Nusantara atau tanah Jawa. Syekh Subakir konon adalah seorang ulama besar yang juga menjadi anggota Wali Songo periode pertama.
Konon dengan kesaktiannya dan tombak pusaka Kiai Panjang telah menumbal tanah Jawa dari pengaruh negatif makhluk halus saat awal penyebaran ajaran Islam di nusantara.
Syekh Subakir diutus ke tanah Jawa secara khusus untuk menangani masalah-masalah gaib dan spiritual yang dinilai telah menjadi penghalang diterimanya Islam oleh masyarakat Jawa ketika itu. Karena Syekh Subakir ini ahli dalam merukyah, ekologi, meteorologi dan geofisika.
Berdasarkan Babad Tanah Jawa, setelah sampai ke nusantara, Syekh Subakir yang menguasai ilmu gaib dan dapat menerawang makhluk halus mengetahui penyebab utama kegagalan para ulama pendahulu dalam menyebarkan ajaran Islam karena dihalangi para jin dan dedemit penunggu tanah Jawa.
Lalu tombak pusaka Kiai Panjang tersebut ditancapkan tepat di Puncak Tidar sebagai penolak bala.
Konon tombak sakti itu menciptakan hawa panas yang bukan main bagi para lelembut dan bangsa jin yang berdiam di Gunung Tidar.
Lelembut, setan, siluman lari menyelamatkan diri. Jin, peri, banaspati, semuanya tak kuat menahan panasnya pancaran kekuatan hawa panas yang dikeluarkan tombak tersebut.
Sebagian jin yang lain ada yang mati akibat hawa panas dari tumbal yang dipasang Syekh Subakir tersebut.
Konon Sabda Palon, raja bangsa jin yang telah 9.000 tahun bersemayam di Puncak Gunung Tidar terusik dan keluar mencari penyebab timbulnya hawa panas bagi bangsa jin dan lelembut.
Sabda Palon lalu berhadapan dengan Syekh Subakir. Sabda Palon lalu menanyakan maksud pemasangan tombak tersebut.
Sang ulama menyatakan, maksud dia, menancapkan tombak itu untuk mengusir bangsa jin dan lelembut yang mengganggu upaya penyebaran ajaran Islam di tanah Jawa oleh para ulama utusan Sultan Sultan Muhammad I.
Setelah terjadi perdebatan mereka lalu mengadu kesaktian. Konon pertempuran antara keduanya terjadi selama 40 hari 40 malam, hingga Sabda Palon yang juga dikenal sebagai Ki Semar Badranaya sang Danyang tanah Jawa ini merasa kewalahan dan menawarkan perundingan.
Sabda Palon mensyaratkan beberapa point dalam upaya penyebaran Islam di tanah Jawa. Isi kesepakatan antara lain, Sabda Palon memberi kesempatan kepada Syekh Subakir beserta para ulama untuk menyebarkan Islam di Tanah Jawa, tetapi tidak boleh dengan cara memaksa.
Kemudian Sabda Palon juga memberi kesempatan kepada orang Islam untuk berkuasa di tanah Jawa Raja-raja Islam namun dengan catatan.
Para Raja Islam itu silahkan berkuasa, namun jangan sampai meninggalkan adat istiadat dan budaya yang ada. Silahkan kembangkan ajaran Islam sesuai dengan kitab yang diakuinya, tetapi biarlah adat dan budaya berkembang sedemikian rupa. Syarat-syarat itu pun akhirnya disetujui Syekh Subakir.
Selain di Puncak Gunung Tidar, Syekh Subakir juga membersihkan beberapa tempat angker di tanah Jawa yang dikuasai para raja jin dan makhluk halus lainnya.
Tombak itu sekarang masih dijaga oleh masyarakat dan ditempatkan di Puncak Gunung Tidar dengan nama Makam Tombak Kiai Panjang.
Dengan adanya tombak sakti itu, maka amanlah Gunung Tidar dari kekuasaan para jin dan makhluk halus
Dalam versi lain disebutkan konon Syekh Subakir membawa batu hitam dari Arab yang telah dirajah.
Batu dengan nama Rajah Aji Kalacakra tersebut lalu dipasang di tengah-tengah tanah Jawa yaitu di Puncak Gunung Tidar, Magelang. Karena, Gunung Tidar dipercayai sebagai titik sentral atau pakunya tanah Jawa.
Efek dari kekuatan gaib suci yang dimunculkan oleh batu hitam tersebut menimbulkan gejolak.
Alam yang tadinya cerah dan sejuk, matahari bersinar terang, damai dengan kicau burung. Tiba-tiba berubah drastis selama tiga hari tiga malam.
Cuaca mendung, angin bergerak cepat, kilat menyambar menimbulkan hujan api. gunung-gunung bergemuruh tiada henti.
Para makhluk halus pun lari tunggang langgang meninggalkan Gunung Tidar. Sebagian pengikut Sabda Palon dari bangsa jin melarikan diri ke timur dan konon hingga sekarang menempati daerah Gunung Merapi yang masih dipercaya sebagian masyarakat sebagai wilayah yang angker.
Bahkan sebagian lagi anak buah Sabda Palon ada yang melarikan diri ke alas Roban, dan ke Gunung Srandil.
Karena keberhasilannya menumbal tanah Jawa lalu penyebaran Islam oleh Wali Songo periode pertama menjadi menjadi lancar.
Nama Syekh Subakir lalu menjadi sangat terkenal dan dikagumi di kalangan para pendekar, penganut ilmu gaib dan kanuragan, bangsawan serta masyarakat di tanah Jawa ketika itu. Sehingga mereka terkesan mendewakan sang ulama asal Persia tersebut.
Akhirnya, untuk melepaskan kefanatikan masyarakat terhadap Syekh Subakir dan untuk menjaga aqidah umat Islam. Maka pada tahun 1462 Masehi, Syekh Subakir pulang ke Persia, Iran.
Ini dimaksudkan agar kefanatikan tersebut runtuh, dan masyarakat kembali kepada tauhid yang benar.
Selain itu tugas utama Syekh Subakir untuk membersihkan tanah Jawa dari pengaruh negatif makhluk halus telah selesai.
Selanjutnya setelah Syekh Subakir wafat posisinya digantikan oleh Wali Songo lainnya yaitu Sunan Kalijaga.
VERSI PEWAYANGAN
Kisah Semar dan Syaikh Subakir di Belukar Tidar
Semar iku/ Pamomong satriya tuhu/ Ing njero lan njaba
Tansah gumolong nyawiji/ Kehing lamis lawan cidra swuh kabrasta
(Semar itu/ Pamomong ksatria utama/ Hati dan raganya
Selalu menjadi satu/ Seluruh dusta dan khianat habis terkikis)
Semar dipuja oleh dewa dari sebutir telur. Dari kulitnya terciptalah Antaga. Dari dagingnya yang putih terciptalah dirinya. Dan dari kuning itu telur terciptalah adiknya, Manikmaya.
Sak wijining dino, setelah beranjak dewasa, terbitlah ambisi di antara ketiganya. Mereka berebut tua. Maklum, seperti lazimnya, yang tertua akan menjadi sang pengganti ayahanda. Sayembara dimulai: menelan kemudian memuntahkan kembali sebuah gunung.
Antaga tak berhasil, mulutnya sobek. Gunung itu tak dapat ditelannya. Ismaya, putera kedua dari Sang Hyang Tunggal ini, berhasil menelannya. Tapi celaka, gunung itu tak dapat dimuntahkannya. Perutnya buncit, mengandung itu gunung.
Mereka berdua, Antaga dan Ismaya, nggege mangsa (terburu-buru), menyebabkan murkanya sang ayahanda. Sudah jelek terkutuk pula. Keduanya dibuang ke dunia. Antaga bertugas memomong para ksatria berwatak jahat. Dan Ismaya memomong para ksatria utama, trahing witaradya (keturunan manusia utama).
Tinggallah Manikmaya, ketiban beja (beruntung), ambisi tak terlampiaskan tersebab gunung telah terbenam dalam perut Ismaya.
Maka atas nama beja (peruntungan) jadilah ia sang penguasa Triloka yang jika dirunut menurunkan para ksatria utama.
Siapa di antara ketiganya yang sesungguhnya paling tua?
Banyak sumber mengatakan, Manikmaya, karena ia tak kebagian pamer.
Tapi tak sesederhana itu sebenarnya. Jawa nggone semu, jawa itu tempatnya kiasan, yang tak mudah ditelan mentahan.
VERSI Sejarah
Ada yang bilang, kita tak pernah menemukan makna, kita menciptakannya. Pendapat ini pernah menghiasi apa yang disebut sebagai the linguistic turn dalam epistemologi, yang pada akhirnya juga kebudayaan.
Senada dengan serpihan skeptisisme itu, pada dekade 60-an, Sartre pernah membuhul bahwa eksistensi mendahului esensi. Konsekuensi atas semua bentuk skeptisisme epistemologis semacam ini tentu serius. Paling tidak, universalitas yang menandai modernisme merupakan sebentuk omong-kosong ideologis. Selalu saja pertanyaannya,
Universal menurut siapa ?
Positivisme, yang merupakan paradigma tunggal sains, tumbang. Dampak ini kentara di lapangan ilmu-ilmu sosial-budaya (humaniora). Janma tan kena kinira, manusia tak bisa diukur, merupakan salah satu warisan kearifan lokal yang menegaskan bahwa tak ada standar yang pasti perihal manusia dan sekitarnya.
Dalam khazanah musik Jawa kita tak pernah tahu pasti tentang ukuran sebuah nada. Bisa jadi antara satu empu dengan empu lainnya tak sama ukuran nada dari perangkat gamelan yang dihasilkan.
Berbeda dengan musik di Barat, entah di pedalaman papua atau di Amerika ukuran nadanya tetap sama terimakasih buat komputer.
Ada satu piranti yang menjadi tolak-ukur dalam menimbang segala sesuatu dalam estetika Jawa: rasa. Jamak ketika seseorang kebingungan untuk memilih, ungkapan yang kerap terlontar:
Lha, piye rasamu ?
Seje silit seje anggit, lain pantat lain pendapat.
Pada akhirnya itulah yang menjadi semangat, atau diberi ruang, dalam kebudayaan Jawa.
Tapi masalah timbul ketika kejawaan itu begitu dominan dan berupaya menerapkannya ke semua segi kehidupan, di mana yang bakal terjadi adalah sebentuk nandhing sarira, yang ketemunya sudah pasti perbedaan.
Celakanya, perbedaan ini bukanlah perbedaan dialogis yang menyiratkan kesetaraan, tapi hierarkis di mana satu mendominasi lainnya.
Apakah berarti semua penilaian akan semena-mena ?
Tak selamanya, ternyata dalam kawruh beja Ki Ageng Suryomentaram ada yang dinamakan raos sami, bahwa rasa itu sesungguhnya adalah kesatuan yang utuh, maligi (kesatuan), dari berbagai pangrasa (cabangnya rasa) atau yang oleh KAS disebut sebagai kramadangsa (kedirian/keakuan).
Tapi tentu, pada dimensi keempat semacam ini kata-kata sudah binasa. Dan itu artinya, tak ada lagi harapan akan tumbuh-kembangnya sebuah pengetahuan, yang mesti terukur sifatnya.
Kita akan beralih sebentar ke Gunung Tidar di Magelang Jawa Tengah. Gunung Tidar adalah saksi suksesi Aji Saka di tanah Jawa.
Kita tak mendekati sejarah gunung ini selayaknya sejarawan pada umumnya. Seperti halnya seorang peziarah sejarah, yang memperolehnya langsung dari tempat yang disebut-sebut sebagai titik tengah tanah Jawa ini.
Kita memahami bahwa di sinilah sejarah interpretatif mendapatkan ruang, setelah sekitar 500-an tahun mengubur fakta-fakta historis hingga menyisakan cuma serpihan tanda.
Kebenaran pada akhirnya adalah perihal kemanfaatan.
Dalam Kitab Musarar gubahan Sunan Giri Prapen (Rahasia Ramalan Jayabaya, Ranggawarsita & Sabdapalon, Andjar Any, 1979), yang barangkali induknya sudah ada pada masa Kediri, dikisahkan bahwa dahulu kala ada seorang syaikh dari Ngerum atau yang kini dikenal sebagai Turki: Maulana Ali Samsu Zain (Maolana Ngali Samsujen), sang penumbal tanah Jawa, yang bersenjatakan cis semacam tombak kecil nan panjang. Konon, saat itu dekadensi telah melanda tanah Jawa, digambarkan dengan lelembut (makhluk halus), jin, dan brekakasan yang menjajah tanah tersebut.
Dalam cerita tutur lainnya, jauh sebelum masa Maulana Samsu Ali Zain, kita mengenal yang namanya Aji Saka yang datang dari Bumi Majeti. Dikabarkan bahwa ia adalah pembawa peraaban pertama di nusa Jawa. Secara semantik Aji bermakna nilai-nilai dan Saka adalah tiang. Jadi, Aji Saka hanyalah gelar.
Persis yang dialami Maulana Samsu Ali Zain dalam Kitab Musarar, Aji Saka secara khusus diutus untuk menumpas Prabu Dewata Cengkar yang dikisahkan sebagai seorang kanibal.
Apa benar kanibal ?
Mungkin tidak, karena sastra Jawa, baik lisan maupun tertulis, lekat dengan pasemon (perumpamaan). Barangkali, Dewata Cengkar hanyalah seorang tiran yang suka menghisap dan menindas orang.
Aji Saka, utusan dari Bumi Majeti itu menegakkan kembali sebuah kondisi dekadensi atau bahkan nihilisme yang melanda Jawa. Karena itulah ia digelari sebagai Sang Aji Saka.
Lantas, di puncak gunung Tidar, ada lagi satu tokoh yang tertidur dan dikenal sebagai Eyang Ismaya Jati atau dalam pewayangan menjadi nama lain dari Ki lurah Semar Badranaya.
Ketika kita memaknai Aji Saka sebagai gelar, maka dimungkinkan bahwa Eyang Ismaya Jati yang diyakini bermukim di Tidar itu adalah representasinya. Adapun Maulana Samsu Ali Zain adalah Syaikh Subakir.
Dalam Kitab Musarar diceritakan bahwa Maulana Samsu Ali Zain bersenjatakan cis udharati (tongkat besi).
Dua penegak tata nilai yang pernah rusak tersebut, Eyang Ismaya Jati dan Syaikh Subakir, memiliki titik sambung sebagai sesama penegak sebuah tata nilai dari dekadensi dan krisis moral yang dimunculkan oleh Dewata Cengkar. Dewata berarti para dewa dan cengkar berarti gersang / desakralisasi.
Adapun nihilisme adalah terjadinya devaluasi, ketika apa yang dulu dianggap bernilai kini tak lagi bernilai.
Mencermati kiprah Eyang Ismaya Jati, mestinya kita bisa pula menyeksamai berbagai kisah Semar dalam pewayangan Jawa, seperti kita tuturkan di awal tulisan. Konon rusaknya jagad tersebab Manikmaya, sebagai penguasa Triloka, terpikat oleh rayuan Durga.
Karena itulah ia dikenal pula sebagai Sang Hyang Jagad Pratingkah, bahwa gejolak dunia seturut dengan gelegak sang kutub para dewa itu. Hanya Semar yang mampu menundukkan, dengan membuat penguasa Pasetran Ganda Mayit itu wirang (marah).
Siapakah yang sebenernya tua, atau siapakah penguasa Triloka sesungguhnya? Adalah Ismaya, apabila ukurannya purih (pretensi).
Tanpa purih orang tak mungkin melenyapkan purih. Maka dalam berbagai kisah, Ismaya-lah yang paling berwibawa hingga Manikmaya tunduk.
Ismaya, yang setelah kejatuhannya bernama Semar, menjadi karakter yang hidup di ruang ambang.
Segala paradoks menyatu di dalam dirinya. Ia lelaki tapi kopek, payudaranya besar.
Matanya berlinang air mata, tapi mulutnya tersenyum (menandakan duka-suka).
Ia dewa sekaligus jelata, cuma pembantu. Secara hakikat, justru Ismaya-lah representasi dari Yang Maha Tunggal itu.
Inilah risalah ketauhidan yang timbul-tenggelam sepanjang zaman, Sang Alif, titik-sambung antara Eyang Ismaya Jati atau Sang Aji Saka dan Maulana Samsu Ali Zain atau Syaikh Subakir.
Tidar adalah belukar, yang kerap digambarkan dalam pewayangan sebagai janma mara janma mati (modar), untuk tegaknya Sang Alif (isbat).
4 Penjuru Kunci Kekuasaan Tanah Jawa
Indonesia merupakan negara yang sangat menghormati budaya, aturan, bahkan mitos yang diwariskan dari nenek moyang jaman dahulu.
Tidak hanya berkembang di kalangan akar rumput, di kalangan penguasa dan orang vital di negara ini juga masih memiliki pegangan tentang aturan mistis dalam budaya Jawa.
Salah satunya tentang mitos 4 tempat yang harus ditaklukan untuk dapat menjadi penguasa tanah jawa.
Konon, bagi siapapun yang menginginkan kekuasaan di Tanah Jawa harus mendapat restu dan Kekuatan dari 4 penguasa gaib di Tanah Jawa yang tersebar di 4 penjuru mata angin.
Lantas, tempat mana saja yang menjadi pusat kekuatan gaib di Tanah Jawa, mari kita simak.
1. Pantai Seltan (Selatan). Pantai di pesisir selatan Jawa selalu dikaitkan dengan mitos Ratu Pantai Selatan, Nyi Roro Kidul. Tempat awal untuk meminta restu dengan bertapa hingga menemui penguasa Pantai Selatan Nyi Roro Kidul. Konon, bertapa disepanjang panaai Selatan akan meningkatknan kebijaksanaan dalam bertindak.
2. Gunung Merapi (Barat). Gunung api paling aktif ini diyakini sebagai salah satu pusatnya keraton makhluk halus di nusantara yang masih berhubungan kerajaan gaib di Pantai Selatan. Beberapa tokoh yang dipercaya sebagai penghuni dari Keraton Merapi, yaitu Eyang Merapi yang merupakan seorang raja alias pemimpin dari para makhluk gaib yang mendiami Keraton Merapi.
3. Hutan Krendawahana (Utara). Alas Krendawahana adalah sebuah hutan yang sampai sekarang masih terkenal dengan kesan keangkerannya. Karena dipercaya sebagai tempat bersemayamnya Bathari Kalayuwati Durga. Ritual yang sudah menjadi agenda pokok Keraton ini, selalu dilaksanakan pada hari Senin atau Kamis. Keraton Kasunanan Surakarta menggelar acara ritual budaya Mahesa Lawung, ritual adat Keraton untuk memohon keselamatan dan supaya terhindar dari segala macam mara bahaya.
4. Pringgondani ( Timur). Kawasan Pringgondani, selama ini dikenal sebagai lokasi yang wingit dan juga angker. Sebuah komplek pertapaan yang dipercaya sebagai salah satu petilasan Raja Majapahit yang terakhir, Prabu Brawijaya V. Masyarakat mempercayai jika Brawijaya V melarikan diri dari para musuhnya hingga ke puncak Lawu dan moksa (menghilang) di puncak Lawu. Sejumlah nama besar seperti Presiden pertama Soekarno, Soeharto hingga Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo konon mengunjungi Pringgondani yang berada di ketinggian 1300 meter diatas permukaan laut.
PERJANJIAN TANAH JAWA
Nama Syekh Subakir sudah tak asing lagi bagi sebagian besar masyarakat Jawa. Beliau dikenal sebagai orang yang berhasil menumbali Pulau Jawa yang terkenal angker dan wingit. Beliau juga berhasil bernegosiasi dengan Danyang Jawa, sang pelindung gaib tanah Jawa, untuk menyebarkan Islam di Jawa dengan beberapa syarat.
Lantas apa saja syarat yang harus dipenuhi Syekh Subakir ?
Di dalam kitab Musarar diceritakan bahwa pada masa dahulu Pulau Jawa terkenal sangat angker dan kondisinya tak karuan. Pengaruh magis di tanah Jawa masih begitu kuat di mana banyak jin dan setan menghuni setiap sudut tanah Jawa yang saat itu masih berbentuk hutan belantara. Suatu hari, Sultan Turki saat itu yaitu Sultan Muhammad I mendapatkan petunjuk untuk melakukan penyebaran Islam di Pulau Jawa. Maka diutuslah rombongan para alim ulama’ untuk mendatangi Pulau Jawa guna syi’ar Islam. Kitangnya, hampir seluruh rombongan tersebut tewas dikarenakan perbuatan para lelembut penduduk tanah Jawa yang tidak mau menerima ajaran Islam.
Mendengar kegagalan utusan yang dikirimnya, membuat Sultan Muhammad I sedikit gusar. Akhirnya ia pun memerintahkan seseorang yang terkenal alim, ahli ruqyah, memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan dunia ghaib, serta memiliki keahlian dalam membabat tanah yang angker. Dialah Syekh Subakir yang memiliki nama asli Syekh Tambuh Aly bin Syekh Baqir. Lelaki yang berasal dari tanah Persia atau yang sekarang lebih dikenal dengan Negara Iran.
Setelah mendapat perintah Sultan, Syekh Subakir langsung berlayar ke Pulau Jawa. Namun, sebelum sampai ke Pulau Jawa, beliau terlebih dahulu mampir ke Praja Keling, sebuah daerah yang diduga terletak di India, untuk mengajak penduduk di Praja Keling agar mau menempati Pulau Jawa. Sekitar 20 ribu penduduk Praja Keling turut serta dalam pelayaran Syekh Subakir menuju Pulau Jawa.
Sesampainya di Pulau Jawa, Syekh Subakir langsung menuju ke Gunung Tidar yang diyakini sebagai titik pusat dari tanah Jawa. Di puncak Gunung Tidar, Syekh Subakir memasang tumbal berupa batu hitam yang sudah dirajah. Batu tersebut dikenal dengan nama Aji Kalacakra yang mampu menetralisir daya magis negatif dari bangsa jin. Selama tiga hari tiga malam, batu tersebut mengeluarkan hawa yang sangat panas. Sehingga membuat para lelembut terpaksa menyingkir ke Laut Selatan Jawa.
Kegegeran di dunia gaib pun mengusik ketenangan Ki Semar Badrayana, sang danyang tanah Jawa, yang selama ribuan tahun khusyuk bertapa. Selanjutnya terjadilah adu kekuatan antara Syekh Subakir dengan Ki Semar selama 40 hari 40 malam. Sebab sama-sama kuatnya, akhirnya Ki Semar menawarkan sebuah perundingan kepada Syekh Subakir yang mana menghasilkan sebuah perjanjian yang terkenal dengan sebutan perjanjian Sabda Palon.
Syekh Subakir menyampaikan maksud kedatangan beliau ke tanah Jawa guna menyebarkan ajaran Islam. Agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad sebagai pamungkas agama samawi. Kemudian Ki Semar pun memperbolehkan Syekh Subakir untuk menyebarkan agama Islam di tanah yang ia lindungi. Namun, dengan beberapa syarat.
1. Pertama, penyebaran ajaran Islam tidak boleh dilakukan dengan cara paksaan apalagi dengan jalan peperangan. Penyebaran Islam di tanah Jawa harus dilakukan dengan cara halus dan memberikan keleluasaan bagi penduduk Jawa untuk memilih masuk ke dalam agama Islam atau tetap meyakini kepercayaan sebelumnya.
2. Kedua, akulturasi antara Islam dengan budaya Jawa dalam pendirian tempat peribadatan. Meskipun tempat peribadatan tersebut dari luar memiliki gaya asli Jawa, namun di dalamnya ajaran-ajaran Islam disebarluaskan.
3. Ketiga, kerajaan Islam diperbolehkan berdiri di tanah Jawa. Tapi, raja pertama haruslah anak campuran. Maksudnya orang tua sang raja memiliki campuran agama. jika bapak Hindu, ibu Islam. Sebaliknya jika bapak Islam, ibu Hindu.
4. Keempat, tidak boleh mengubah orang Jawa menjadi orang yang kearab-araban. Biarkanlah padi tetap ditanam di sawah dan kurma tetap ditanam di padang pasir. Orang Jawa harus tetap menjadi Jawa dengan segala budi pekerti dan kepribadian asli orang Jawa. Jika orang Jawa sampai hilang “Jawanya”, 500 tahun lagi Ki Semar berjanji akan muncul lagi dengan membuat goro-goro.
BABAD TANAH JAWI
Babad Tanah Jawi (Sejarah Tanah Jawa) adalah naskah berbahasa Jawa yang berisi sejarah raja-raja yang pernah bertahta di pulau Jawa. Terdapat beragam susunan dan isi dan tidak ditemukan salinan yang berusia lebih tua daripada abad ke-18. Dibuat sebagai suatu karya sastra sejarah yang berbentuk tembang Jawa. Sebagai babad/babon/buku besar dengan pusat kerajaan zaman Mataram, buku ini tidak pernah lepas dalam setiap kajian mengenai hal hal yang terjadi di tanah Jawa.
Buku ini juga memuat silsilah raja-raja cikal bakal kerajaan Mataram, yang juga unik dalam buku ini sang penulis memberikan cantolan hingga nabi Adam dan nabi-nabi lainnya sebagai nenek moyang raja-raja Hindu di tanah Jawa hingga Mataram Islam.
Silsilah raja-raja Pajajaran yang lebih dulu juga mendapat tempat. Berikutnya Majapahit, Demak, terus berurutan hingga sampai kerajaan Pajang dan Mataram pada pertengahan abad ke-18.
Buku ini telah dipakai sebagai salah satu babon rekonstruksi sejarah pulau Jawa. Namun menyadari kentalnya campuran mitos dan pengkultusan, para ahli selalu menggunakannya dengan pendekatan kritis.
Versi
Versi lain (sekitar abad ke-19)
Banyaknya versi Babad Tanah Jawi yang beredar bisa dikelompokkan menjadi dua kelompok induk naskah:
Pertama, induk Babad Tanah Jawi yang ditulis oleh Carik Tumenggung Tirtowiguno (Carik Braja) atas perintah Pakubuwana III. Induk ini telah beredar pada tahun 1788. Pada tahun 1874, Johannes Jacobus Meinsma menerbitkan versi gancaran (prosa) dari induk ini yang dikerjakan oleh Ngabehi Kertapraja. W. L. Olthof pernah mereproduksi ulang versi Meinsma pada tahun 1941. Pada kedua versi tersebut, nama Ngabehi Kertapradja tidak dicantum. Menurut Merle Calvin Ricklefs, versi Meinsma bukan sumber utama yang bisa diterima untuk riset sejarah, dan sebaliknya mengakui edisi Olthof.
Kedua, induk Babad Tanah Jawi yang ditulis oleh Carik Adilangu II yang hidup di masa Pakubuwana I dan Pakubuwana II. Naskah tertuanya bertanggal tahun 1722.
Perbedaan keduanya terletak pada penceritaan sejarah Jawa Kuno sebelum munculnya cikal bakal kerajaan Mataram. Kelompok pertama hanya menceritakan riwayat Mataram secara ringkas, berupa silsilah dilengkapi sedikit keterangan, sementara kelompok kedua dilengkapi dengan kisah panjang lebar.
Babad Tanah Jawi telah menyedot perhatian banyak ahli sejarah. Antara lain, H. J. de Graaf. Menurutnya, apa yang tertulis di Babad Tanah Jawi dapat dipercaya, khususnya cerita tentang peristiwa tahun 1600 sampai zaman Kartasura pada abad ke-18. Demikian juga dengan peristiwa sejak tahun 1580 yang mengulas tentang kerajaan Pajang. Namun, untuk cerita setelah era itu, de Graaf tidak berani menyebutnya sebagai data sejarah karena terlalu sarat dengan campuran mitologi, kosmologi, dan dongeng.
Menjelang Perang Dunia II, Balai Pustaka juga menerbitkan berpuluh-puluh jilid Babad Tanah Jawi dalam bentuk aslinya. Asli sesungguhnya karena dalam bentuk tembang dan tulisan Jawa.
Penguasa-penguasa Jawa menurut Babad Tanah Jawi
Wangsa Syailendra
1. Dapunta Hyang (671 M - 702 M)
2. Sri Indra Warman (702 M - 775 M)
3. Wisnu Warman (775 M - 782 M)
4. Daranindra (Sri Wirarairimathana) (782 M - 812 M)
5. Samara Tungga (812 M - 833 M)
6. Pramodha Wardhani (833 M - 856 M)
Wangsa Sanjaya
1. Sanjaya (732-?)
2. Rakai Panangkaran Dyah Pancapana (Syailendra)
3. Rakai Panunggalan
4. Rakai Warak
5. Rakai Garung
6. Rakai Patapan (8XX-838)
7. Rakai Pikatan (838-855), mendepak Dinasti Syailendra
8. Rakai Kayuwangi (855-885)
9. Dyah Tagwas (885)
10. Rakai Panumwangan Dyah Dewendra (885-887)
11. Rakai Gurunwangi Dyah Badra (887)
12. Rakai Watuhumalang (894-898)
13. Rakai Watukura Dyah Balitung (898-910)
14. Daksa (910-919)
15. Dyah Tulodong (919-921)
16. Dyah Wawa (924-928)
17. Mpu Sindok (928-929), memindahkan pusat kerajaan ke Jawa Timur (Medang)
Wangsa Medang Kamulan
1. Mpu Sindok (929-947)
2. Sri Isyanatunggawijaya (947-9xx)
3. Makutawangsawardhana (9xx-985)
4. Dharmawangsa Teguh Anantawikrama (985-1006)
Wangsa Kahuripan
1. Airlangga (1019-1045), mendirikan kerajaan di reruntuhan Medang (Airlangga kemudian memecah Kerajaan Kahuripan menjadi dua: Janggala dan Kadiri) :
- Janggala. (tidak diketahui silsilah raja-raja Janggala hingga tahun 1116)
- Kadiri. (tidak diketahui silsilah raja-raja Kadiri hingga tahun 1116)
2. Kameswara (1116-1135), mempersatukan kembali Kadiri dan Panjalu
3. Jayabaya (1135-1159)
4. Rakai Sirikan (1159-1169)
5. Sri Aryeswara (1169-1171)
6. Sri Candra (1171-1182)
7. Kertajaya (1182-1222)
Wangsa Singhasari
1. Ken Arok (1222-1227)
2. Anusapati (1227-1248)
3. Tohjaya (1248)
4. Ranggawuni (Wisnuwardhana) (1248-1254)
5. Kertanagara ( 1254-1292)
Wangsa Majapahit
1. Raden Wijaya (Kertarajasa Jayawardhana) (1293-1309)
2. Jayanagara (1309-1328)
3. Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328-1350)
4. Hayam Wuruk (Rajasanagara) (1350-1389)
5. Wikramawardhana (1390-1428)
6. Suhita (1429-1447)
7. Dyah Kertawijaya (1447-1451)
8. Rajasawardhana (1451-1453)
9. Girishawardhana (1456-1466)
10. Singhawikramawardhana (Suraprabhawa) (1466-1474)
11. Girindrawardhana Dyah Wijayakarana (1468-1478)
12. Singawardhana Dyah Wijayakusuma (menurut Pararaton menjadi Raja Majapahit selama 4 bulan sebelum wafat secara mendadak) ( ? – 1486 )
13. Girindrawardhana Dyah Ranawijaya alias Bhre Kertabumi (diduga kuat sebagai Brawijaya, menurut Kitab Pararaton dan Suma Oriental karangan Tome Pires pada tahun 1513) (1474-1519)
Kerajaan Demak
1. Raden Patah (1478 – 1518)
2. Adipati Unus (1518 – 1521)
3. Sultan Trenggono (1521 – 1546)
4. Sunan Prawoto (1546 – 1547)
5. Arya Penangsang (1547 - 1554)
Kesultanan Pajang
1. Jaka Tingkir, bergelar Sultan Hadiwijoyo (1568 – 1582)
2. Arya Pangiri, bergelar Sultan Ngawantipuro (1583 – 1586)
3. Pangeran Benawa
Kesultanan Mataram
1. Ki Ageng Pamanahan, menerima tanah perdikan Mataram dari Jaka Tingkir
2. Panembahan Senopati (Raden Sutawijaya) (1587 – 1601), menjadikan Mataram sebagai kerajaan merdeka.
3. Panembahan Hanyakrawati (1601 – 1613)
4. Adipati Martapura (1613 selama satu hari)
5. Sultan Agung (Raden Mas Rangsang / Prabu Hanyakrakusuma) (1613 – 1645)
6. Amangkurat I (Sinuhun Tegal Arum/Amangkurat Agung) (1645 – 1677) menyingkir dari ibu kota Plered karena diserbu Pangeran Trunojoyo, raja dari Madura.
Kasunanan Kartasura Hadiningrat
1. Amangkurat II (Amangkurat Amral) (1680 – 1702), pendiri Kartasura.
2. Amangkurat III (1702 – 1705), dibuang VOC ke Srilangka karena kalah dari Pakubuwana I yang didukung VOC
3. Pakubuwana I (1705 – 1719), pernah memerangi dua raja sebelumya, juga dikenal dengan nama Pangeran Puger atau Sultan ing Alaga.
4. Amangkurat IV (1719 – 1726), Terjadi banyak pemberontakan, Sunan Kuning (Mas Garendi).
5. Pakubuwana II (1726 – 1742),
6. Pakubuwana III (diangkat oleh Belanda) dan hal ini ditentang oleh Mangkubumi dan Raden Mas Said. Atas ketidak puasannya Raden Mas Said mengangkat mertuanya Mangkubumi sebagai penguasa oposisi di Mataram, namun beberapa saat kemudian partai oposisi ini pecah menjadi dua kelompok, yaitu kelompok Raden Mas Said dan kelompok Mangkubumi. Kemudian muncullah Perundingan Giyanti (13 Februari 1755)
Wangsa Baru
Perjanjian Giyanti telah membagi Wangsa Mataram menjadi 2 keluarga besar, yaitu Hamengkubuwana dan Pakubuwana sedangkan Perjanjian Salatiga telah melahirkan satu keluarga dari Pakubuwana, yaitu Mangkunegara. Keluarga Pakubuwana dimulai dari Pakubuwana I dan Hamengkubuwana dimulai dari Hamengkubuwana I, sedangkan Mangkunegara dimulai dari Mangkunegara I.
Pakubuwana
1. Pakubuwana I (1705 – 1719), pernah memerangi dua raja sebelumya, juga dikenal dengan nama Pangeran Puger.
2. Pakubuwana II (1745 – 1749), pendiri kota Surakarta, memindahkan keraton Kartasura ke Surakarta pada tahun 1745
3. Pakubuwana III (1749 – 1788), mengakui kedaulatan Hamengkubuwana I sebagai penguasa setengah wilayah kerajaannya.
4. Pakubuwana IV (1788 – 1820)
5. Pakubuwana V (1820 – 1823)
6. Pakubuwana VI (1823 – 1830), diangkat sebagai pahlawan nasional Indonesia, juga dikenal dengan nama Pangeran Bangun Tapa.
7. Pakubuwana VII (1830 – 1858)
8. Pakubuwana VIII (1859 – 1861)
9. Pakubuwana IX (1861 – 1893)
10. Pakubuwana X (1893 – 1939)
11. Pakubuwana XI (1939 – 1944)
12. Pakubuwana XII (1944 – 2004)
13. Gelar Pakubuwana XIII (2004 – sekarang) diklaim oleh dua orang, Pangeran Hangabehi dan Pangeran Tejowulan.
Hamengkubuwana
1. Sri Sultan Hamengkubuwono I / Pangeran Mangkubumi (13 Februari 1755 - 24 Maret 1792 )
2. Sri Sultan Hamengkubuwono II / Gusti Raden Mas Sundara ( 2 April 1792 - 1810) periode pertama
3. Sri Sultan Hamengkubuwono III / Raden Mas Surojo (1810 - 1811) periode pertama
4. Sri Sultan Hamengkubuwono IV / Gusti Raden Mas Ibnu Jarot ( 9 November 1814 - 6 Desember 1823)
5. Sri Sultan Hamengkubuwono V / Gusti Raden Mas Gathot Menol (19 Desember 1823 - 17 Agustus 1826) periode pertama
6. Sri Sultan Hamengkubuwono VI / Gusti Raden Mas Mustojo (5 Juli 1855 - 20 Juli 1877)
7. Sri Sultan Hamengkubuwono VII / Gusti Raden Mas Murtejo / Sultan Sugih (22 Desember 1877 - 29 Januari 1921)
8. Sri Sultan Hamengkubuwono VIII / Gusti Raden Mas Sujadi (8 Februari 1921 - 22 Oktober 1939)
9. Sri Sultan Hamengkubuwono IX / Gusti Raden Mas Dorodjatun (18 Maret 1940 - 2 Oktober 1988)
10. Sri Sultan Hamengkubuwono X / Bendara Raden Mas Herjuno Darpito (7 Maret 1989 - sekarang)
Mangkunegara
1. Mangkunegara I atau bernama asli Raden Mas Said dengan gelar Pangeran Samber Nyowo (1757 – 1795)
2. KGPAA Mangkunegara II atau R.M Sulomo dengan gelar dimasa muda Pangeran Surya Mataram dan juga bergelar Pangeran Surya Mangkubumi (1795 - 1835)
3. Mangkunegara III (1835 - 1853)
4. Mangkunegara IV (1853 - 1881)
5. Mangkunegara V ( 1881 - 1896)
6. Mangkunegara VI (1896 - 1916)
7. Mangkunegara VII (1916 - 1944)
8. Mangkunegara VIII (1944- 1987)
9. Mangkunegara IX (1987 - 2021)
Sejarah Nusantara pada era kerajaan Hindu-Buddha
Indonesia mulai berkembang pada zaman kerajaan Hindu-Buddha berkat hubungan dagang dengan negara-negara tetangga maupun yang lebih jauh seperti India, Tiongkok, dan wilayah Timur Tengah. Agama Hindu masuk ke Indonesia diperkirakan pada awal tarikh Masehi, dibawa oleh para musafir dari India selang lain: Maha Resi Agastya, yang di Jawa terkenal dengan sebutan Batara Guru atau Dwipayana dan juga para musafir dari Tiongkok yakni musafir Budha Pahyien.
Pada zaman ke-4 di Jawa Barat terdapat kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha, yaitu kerajaan Tarumanagara yang dilanjutkan dengan Kerajaan Sunda hingga zaman ke-16.
Pada masa ini pula muncul dua kerajaan akbar, yakni Sriwijaya dan Majapahit. Pada masa zaman ke-7 hingga zaman ke-14, kerajaan Buddha Sriwijaya berkembang pesat di Sumatra. Penjelajah Tiongkok I-Tsing mengunjungi ibukotanya Palembang sekitar tahun 670. Pada puncak kejayaannya, Sriwijaya menguasai daerah sejauh Jawa Tengah dan Kamboja. Zaman ke-14 juga dijadikan saksi bangungnya sebuah kerajaan Hindu di Jawa Timur, Majapahit. Patih Majapahit selang tahun 1331 hingga 1364, Gajah Mada, sukses memperoleh kekuasaan atas wilayah yang sekarang beberapa akbarnya merupakan Indonesia beserta hampir seluruh Semenanjung Melayu. Warisan dari masa Gajah Mada termasuk kodifikasi hukum dan pembentukan kebudayaan Jawa, seperti yang terlihat dalam wiracarita Ramayana.
Masuknya nasihat Islam pada sekitar zaman ke-12, melahirkan kerajaan-kerajaan bercorak Islam yang ekspansionis, seperti Samudera Pasai di Sumatera dan Demak di Jawa. Munculnya kerajaan-kerajaan tersebut, secara perlahan-lahan mengakhiri kejayaan Sriwijaya dan Majapahit, sekaligus menandai kesudahan dari era ini.
1. 101 - Penempatan Lembah Bujang yang memakai aksara Sanskrit Pallava membuktikan hubungan dengan India di Sungai Batu.
2. 300 - Kerajaan-kerajaan di asia tenggara telah menerapkan hubungan dagang dengan India. Hubungan dagang ini mulai intensif pada zaman ke-2 M. Memperdagangkan barang-barang dalam pasaran internasional misalnya: logam agung, perhiasan, kerajinan, wangi-wangian, obat-obatan. Dari sebelah timur Indonesia diperdagangkan kayu cendana, kapur barus, cengkeh. Hubungan dagang ini memberi pengaruh yang akbar dalam penduduk Indonesia, terutama dengan masuknya nasihat Hindu dan Budha, pengaruh yang lain terlihat pada sistem pemerintahan.
3. 300 - Telah diterapkannya hubungan pelayaran niaga yang melintasi Tiongkok. Dibuktikan dengan perjalanan dua pendeta Budha yaitu Fa Shien dan Gunavarman. Hubungan dagang ini telah lazim diterapkan, barang-barang yang diperdagangkan kemenyan, kayu cendana, hasil kerajinan.
4. 400 - Hindu dan Budha telah berkembang di Indonesia diamati dari sejarah kerajaan-kerajaan dan peninggalan-peninggalan pada masa itu diantaranya prasasti, candi, patung dewa, seni ukir, barang-barang logam. Keberadaan kerajaan Tarumanagara diberitakan oleh orang Cina.
5. 603 - Kerajaan Malayu berdiri di hilir Batang Hari. Kerajaan ini merupakan konfederasi dari para pedagang-pedagang yang bermula dari pedalaman Minangkabau. Tahun 683, Malayu runtuh oleh serangan Sriwijaya.
6. 671 - Seorang pendeta Budha dari Tiongkok, bernama I-Tsing beranjak dari Kanton ke India. Ia singgah di Sriwijaya kepada berusaha bisa kelola bahasa Sanskerta, kesudahan ia singgah di Malayu selama dua bulan, dan baru melanjutkan perjalanannya ke India.
7. 685 - I-Tsing kembali ke Sriwijaya, disini ia tinggal selama empat tahun kepada menterjemahkan kitab suci Budha dari bahasa Sanskerta ke dalam bahasa Tionghoa.
8. 692 - Keliru satu kerajaan Budha di Indonesia yaitu Sriwijaya tumbuh dan berkembang dijadikan pusat perdagangan yang dikunjungi oleh pedagang Arab, Parsi, dan Tiongkok. Yang diperdagangkan diantaranya tekstil, kapur barus, mutiara, rempah-rempah, emas, perak. Wilayah kekuasaannya mencakup Sumatera, Semenanjung Malaya, Kamboja, dan Jawa. Sriwijaya juga menguasai jalur perdagangan Selat Malaka, Selat Sunda, dan Laut China Selatan. Dengan penguasaan ini, Sriwijaya mengontrol lalu lintas perdagangan selang Tiongkok dan India, sekaligus menciptakan kekayaan untuk kerajaan.
9. 922 - Dari sebuah laporan tertulis dikenal seorang musafir Tiongkok telah datang kekerajaan Kahuripan di Jawa Timur dan maharaja Jawa telah menghadiahkan pedang pendek berhulu gading berukur pada kaisar Tiongkok.
10. 932 - Restorasi kekuasaan Kerajaan Sunda. Hal ini muncul melewati Prasasti Kebon Kopi II yang bertanggal 854 Saka atau 932 Masehi.
11. 1292 - Musafir Venesia, Marco Polo singgah di bidang utara Sumatera dalam perjalanan pulangnya dari Tiongkok ke Persia melewati laut. Marco Polo berpendapat bahwa Perlak merupakan sebuah kota Islam.
12. 1292 - Raden Wijaya, atas izin Jayakatwang, membuka hutan tarik dijadikan permukiman yang dikata Majapahit. Nama ini bermula dari pohon Maja yang berbuah pahit di tempat ini.
13. 1293 - Raden Wijaya memanfaatkan tentara Mongol kepada menggulingkan Jayakatwang di Kediri. Memukul mundur tentara Mongol, lalu ia naik takhta sbg raja Majapahit pertama pada 12 November.
14. 1293 - 1478 - Kota Majapahit dijadikan pusat kemaharajaan yang pengaruhnya membentang dari Sumatera ke Papua, kecuali Sunda dan Madura. Daerah urban yang padat dihuni oleh populasi yang kosmopolitan dan menjalankan berbagai jenis pekerjaan. Kitab Negarakertagama menggambarkan keluhuran tipu daya budi Majapahit dengan cita rasa yang halus dalam seni, sastra, dan ritual keagamaan.
15. 1345-1346 - Musafir Maroko, Ibn Battuta melewati Samudra dalam perjalanannya ke dan dari Tiongkok. Dikenal juga bahwa Samudra merupakan pelabuhan yang paling penting, tempat kapal-kapal dagang dari India dan Tiongkok. Ibn Battuta mendapati bahwa penguasa Samudra merupakan seorang pengikut Mahzab Syafi'i keliru satu nasihat dalam Islam.
16. 1350-1389 - Puncak kejayaan Majapahit dibawah pemimpin raja Hayam Wuruk dan patihnya Gajah Mada. Majapahit menguasai seluruh kepulauan di asia tenggara bahkan jazirah Malaya sesuai dengan "Sumpah Palapa" yang menyatakan bahwa Gajah Mada menginginkan Nusantara bersatu.
17. 1478 Majapahit runtuh dampak serangan Demak. Kota ini berangsur-angsur dibiarkan lepas sama sekali penduduknya, tertimbun tanah, dan dijadikan hutan jati.
18. 1570 - Pajajaran, ibukota Kerajaan Hindu terakhir di pulau Jawa dihancurkan oleh Kesultanan Banten.
1. Kerajaan Hindu/Buddha
2. Kerajaan Hindu/Buddha di Kalimantan
3. Kerajaan Kutai
4. Kerajaan Sribangun (Buddha)
5. Kerajaan Wijayapura
6. Kerajaan Bakulapura
7. Kerajaan Brunei Buddha
8. Kerajaan Kuripan
9. Kerajaan Negara Dipa
10. Kerajaan Negara Daha
11. Kerajaan Hindu/Buddha di Jawa
12. Kerajaan Salakanagara (150-362)
13. Kerajaan Tarumanegara (358-669)
14. Kerajaan Sunda Galuh (669-1482)
15. Kerajaan Kalingga
16. Kerajaan Kanjuruhan
17. Kerajaan Mataram Hindu
18. Kerajaan Kahuripan
19. Kerajaan Janggala
20. Kerajaan Kadiri (1042 - 1222)
21. Kerajaan Singasari (1222-1292)
22. Kerajaan Majapahit (1292-1527)
23. Kerajaan Hindu/Buddha di Sumatra
24. Kerajaan Malayu Dharmasraya 1183–1347
25. Kerajaan Sriwijaya 600–1300
Kerajaan Islam Nusantara
Kerajaan Islam di Indonesia (Nusantara) dan Sejarahnya
Kerajaan Islam di Indonesia (Nusantara) dan Sejarahnya.
Menurut berbagai sumber sejarah, agama Islam masuk pertama kalinya ke nusantara sekitar abad ke 6 Masehi. Saat kerajaan-kerajaan Islam masuk ke tanah air pada abad ke 13, berbagai kerajaan Hindu Budha juga telah mengakhiri masa kejayaannya.
Kerajaan Islam yang berkembang saat itu turut menjadi bagian terbentuknya berbagai kebudayaan di Indonesia. Kemudian, salah satu faktor yang menjadikan kerajaan-kerajaan Islam makin berjaya beberapa abad yang lalu ialah karena dipengaruhi oleh adanya jalur perdagangan yang berasal dari Timur Tengah, India, dan negara lainnya.
Semakin berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia sekitar abad ke 13 juga didukung oleh faktor lalu lintas perdagangan laut nusantara saat itu. Banyak pedagang-pedagang Islam dari berbagai penjuru dunia seperti dari Arab, Persia, India hingga Tiongkok masuk ke nusantara.
Para pedagang-pedagang Islam ini pun akhirnya berbaur dengan masyarakat Indonesia. Semakin tersebarnya agama Islam di tanah air melalui perdagangan ini pun turut membawa banyak perubahan dari sisi budaya hingga sisi pemerintahan nusantara saat itu.
Munculnya berbagai kerajaan-kerajaan bercorak Islam yang tersebar di nusantara menjadi pertanda awal terjadinya perubahan sistem pemerintahan dan budaya di Indonesia. Keterlibatan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia juga turut berperan dalam tersebarnya agama Islam hingga ke seluruh penjuru tanah air.
Kerajaan Islam Pertama di Indonesia
Kerajaan Samudera Pasai merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia yang berlokasi di Aceh
Beberapa kerajaan Islam tertua di tanah air yang menjadi bukti jejak peninggalan Islam dan masih bisa disaksikan hingga hari ini di antaranya ialah :
1. Kerajaan Perlak (840-1292).
2. Kerajaan Ternate (1257).
3. Kerajaan Samudera Pasai (1267-1521).
4. Kerajaan Gowa (1300-1945).
5. Kesultanan Malaka (1405-1511).
6. Kerajaan Islam Cirebon (1430-1677).
7. Kerajaan Demak 1478-1554).
8. Kerajaan Islam Banten (1526-1813).
9. Kerajaan Pajang (1568-1586), dan.
10. Kerajaan Mataram Islam (1588-1680).
Kerajaan Islam di Jawa
1. Kerajaan Islam di Indonesia (Nusantara) dan Sejarahnya 1
2. Kerajaan Demak
3. Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam pertama yang terdapat di pulau Jawa. Kerajaan ini didirikan oleh Raden Patah di tahun 1478. Kerajaan Demak berkembang sebagai pusat perdagangan sekaligus pusat penyebaran agama Islam kala itu.
Penyebaran Islam saat itu sangat dipengaruh oleh jasa para wali baik di pulau Jawa maupun yang berada di luar pulau Jawa seperti Maluku hingga ke wilayah Kalimantan Timur. Di masa pemerintahan Raden Patah, kerajaan Demak mendirikan masjid yang kala itu juga dibantu oleh para wali ataupun sunan. Kemudian, kebudayaan yang berkembang di kerajaan Demak juga mendapat dukungan dari para wali terutama dari Sunan Kalijaga. Kehidupan masyarakat di sekitaran Kerajaan Demak juga telah diatur oleh aturan-aturan Islam tapi tetap tak meninggalkan tradisi lama mereka.
Kerajaan Banten
Kerajaan Islam Banten berada di ujung pulau Jawa yaitu daerah Banten. Tanda penyebaran Islam di wilayah ini bermula ketika Fatahillah merebut Banten dan mulai melakukan penyebaran Islam. Islam tersebar dengan baik saat itu karena dipengaruhi oleh banyaknya pedagang-pedagang asing seperti dari Gujarat, Persia, Turki, dan lain sebagainya. Masjid Agung Banten menjadi salah satu hasil peninggalan Islam yang dibangun sekitar abad ke 16 Masehi.
Kesultanan Cirebon
Kesultanan Cirebon masuk sebagai kesultanan Islam ternama di wilayah Jawa Barat sekitar abad ke 15 dan 16 masehi. Wilayah Cirebon juga masuk dalam area strategis jalur perdagangan antar pulau.
Kerajaan ini didirikan oleh Sunan Gunung Jati. Sebelum mendirikan kerajaan Cirebon, Sunan Gunung Jati menyebarkan Islam terlebih dahulu di Tanah Pasundan. Beliau juga berkelana ke Mekkah dan Pasai. Sunan Gunung Jati juga berhasil menghapus kekuasaan kerajaan Padjajaran yang saat itu masih bercorak Hindu.
Kerajaan Islam di Maluku
Kerajaan Jailolo
Kerajaan Jailolo terletak di bagian pesisir utara pulau Seram dan sebagian Halmahera. Kerajaan ini termasuk ke dalam kerajaan tertua di wilayah Maluku. Menurut sejarah kerajaan Jailolo berdiri sejak tahun 1321 dan mulai masuk Islam setelah kedatangan mubaligh dari Malaka.
Kerajaan Ternate
Menurut sejarah kerajaan Ternate telah berdiri sekitar abad ke 13 Masehi. Kerajaan ini berada di Maluku Utara dan beribukotakan di Simpalu. Penyebaran Islam di kerajaan Ternate dipengaruhi oleh ulama-ulama dari Jawa, Arab dan Melayu.
Kemudian, kerajaan ini pun resmi memeluk Islam setelah raja Zainal Abidin belajar tentang Islam dari Sunan Giri pada tahun 1486 Masehi. Sebagai pusat perdagangan rempah-rempah, maka banyak pedagang dari berbagai penjuru dunia yang singgah di wilayah Ternate.
Kerajaan Tidore
Kerajaan ini terletak di sebagian pulau Halmahera dan sebagian lagi di pulau Seram. Kerajaan Tidore memeluk Islam sekitar abad ke 15 Masehi. Cirali Lijitu merupakan sultan Tidore yang pertama kali memeluk agama Islam dan memiliki gelar Sultan Jamaludin.
Sultan Jamaludin memeluk Islam berkat seorang mubaligh bernama Syekh Mansyur. Kerajaan ini sendiri terkenal karena ekonomi perdagangan di sektor rempah-rempah. Menurut sumber sejarah, kerajaan Tidore kala itu memiliki persekutuan yang disebut dengan Ulisiwa yang terdiri atas wilayah Halmahera, Makyan, Kai, Jailolo serta pulau-pulau lainnya di wilayah sebelah timur Maluku.
Kerajaan Bacan
Kekuasaan kerajaan Bacan telah meliputi seluruh kepulauan Bacan, Obi, Waigeo, Solawati hingga di wilayah Irian Barat. Penyebaran agama Islam di kerajaan Bacan ini sendiri bermula ketika seorang Mubalig dari kerajaan Islam Maluku lainnya datang dan mulai menyebarkan Islam.
Adapun raja pertama dari kerajaan Bacan ini bernama Zainal Abidin. Ketika memimpin Kerajaan Bacan, Zainal Abidin pun mulai menerapkan ajaran dan aturan-aturan Islam di wilayah Kerajaan Bacan.
Kerajaan Islam di Sulawesi (Kesultanan Buton)
Kerajaan Kesultanan Buton merupakan kerajaan Islam yang terletak di Sulawesi Tenggara. Menurut sejarah, kerajaan ini telah lama berdiri bahkan sebelum agama Islam masuk ke wilayah Sulawesi. Kerajaan ini muncul pada awal ke 14 Masehi.
Kerajaan Kesultanan Buton ini sendiri awalnya memiliki corak agama Hindu Budha, akan tetapi seiring semakin berkembangnya agama Islam di wilayah Sulawesi, kerajaan ini pun kemudian berubah menjadi kerajaan bercorak Islam.
Kerajaan Buton menguasai banyak wilayah di kepulauan Buton termasuk di kawasan perairannya. Nama Buton memang sudah terkenal sejak zaman Majapahit. Bahkan dalam kitab Negarakertagama dan dalam Sumpah Palapa dari Gajah Mada, nama Buton sering sekali disebutkan. Hingga hari ini Kesultanan Buton tetap masih ada dan menjadi tempat yang sering dikunjungi oleh banyak pelancong.
Kesultanan Banggai
Kerajaan Islam di wilayah Sulawesi selanjutnya ialah kerajaan Banggai. Kerajaan Banggai ini terletak di wilayah Semenanjung Timur pulau Sulawesi dan Kepulauan Banggai. Kesultanan Banggai telah lama berdiri yaitu sekitar abad ke 16 Masehi.
Hingga hari, Kerajaan Banggai masih tetap eksis dan selalu didatangi banyak pengunjung. Sebenarnya, Kerajaan ini juga pernah mengalami masa-masa keterpurukan akibat kalah dari kerajaan Majapahit. Namun, setelah keruntuhan kerajaan Majapahit, Kerajaan Banggai kembali bangkit dan menjadi kerajaan independen kembali serta telah bercorak Islam.
Kerajaan Gowa Tallo
Sesuai namanya, Kerajaan Gowa Tallo sebenarnya memang terdiri atas dua kerajaan yang menjalin persatuan atau persekutuan. Persatuan dua kerajaan besar di wilayah Sulawesi ini kemudian memberikan dampak yang begitu besar.
Kerajaan Gowa sendiri menguasai wilayah dataran tinggi, adapun untuk wilayah Tallo menguasai daratan pesisir. Pengaruh yang cukup kuat menjadikan dua persekutuan kerajaan ini sebagai kerajaan yang sangat berpengaruh pada jalur perdagangan di wilayah timur tanah air. Sejarah juga menyebutkan jika kerajaan Gowa Tallo ini telah berdiri sejak sebelum Islam masuk ke wilayah Sulawesi atau lebih tepatnya sekitar tahun 13 Masehi.
Kerajaan ini akhirnya bergabung menjadi bagian dari NKRI pada tahun 1946 dengan Andi Ijo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang Sultan Muhammad Abdul Kadir Aidudin sebagai raja terakhirnya.
Kerajaan Bone
Bila dibandingkan dengan kerajaan-kerajaan Islam lainnya di wilayah Sulawesi, kerajaan Bone termasuk kerajaan yang cukup kecil. Karena posisinya sebagai kerajaan kecil maka saat itu kerajaan Bone sangat dipengaruhi oleh Kerajaan Gowa dan Tallo.
Kekuatan kerajaan Gowa Tallo memang sangat besar pada setiap kerajaan-kerajaan kecil kala itu. Oleh sebab itu, karena pengaruh dari kerajaan Gowa Tallo ini maka kerajaan Bone pun akhirnya menjadikan kerajaannya sebagai kerajaan yang bercorak Islam.
Agama Islam ini sendiri masuk ke kerajaan Bone pada masa pemerintahan Raja Bone XI atau sekitar tahun 1611 Masehi. Setelah itu, agama Islam pun makin tersebar karena dapat diterima dengan baik oleh masyarakat di wilayah kekuasaan kerajaan Bone.
Kerajaan Konawe
Kerajaan Konawe berada di wilayah Sulawesi Tenggara. Sebelum bercorak Islam, kerajaan ini awal mulanya merupakan kerajaan bercorak Hindu. Akan tetapi, seiring berkembangnya agama Islam di Konawe, sekitar tahun 18 Masehi, kerajaan Konawe pun secara perlahan mulai mengalami perubahan sistem pemerintahan dan pada akhirnya juga masuk menjadi bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Beberapa kerajaan yang telah disebutkan di atas merupakan sejumlah kerajaan Islam yang paling Berjaya di wilayah Sulawesi di masa lalu. Meskipun beberapa di antaranya ada yang telah runtuh akan tetapi beberapa kerajaan juga telah menjadi peninggalan budaya yang patut untuk tetap dijaga.
Sejumlah kerajaan Islam di wilayah Sulawesi ini menjadi bukti yang kuat bahwa pengaruh Islam di Sulawesi memang sangat berkembang dengan pesat. Ketika beberapa kerajaan masih memegang corak Hindu Budha, secara pelan tapi pasti, penyebaran agama Islam di Sulawesi mengambil alih corak Hindu Budha menjadi kerajaan yang bercorak Islam.
Kerajaan Islam di Nusa Tenggara Barat & Timur Kesultanan Bima
Kesultanan ini didirikan pada tanggal 7 Februari 1621 Masehi. Masuknya Islam di kerajaan Bima diawali ketika pada tahun 1540 Masehi para mubalig dan pedagang dari Kesultanan Demak datang dan menyebarkan Islam.
Penyebaran Islam terus berlanjut dan diteruskan oleh Sultan Alauddin sekitar tahun 1619. Beliau mengirimkan para mubalig dari Kesultanan Luwu, Kerajaan Tallo dan Kerajaan Bone.
Kesultanan Sumbawa
Menurut Zolinger, sebelum masuk ke pulau Lombok, Islam terlebih dahulu masuk ke pulau Sumbawa yaitu sekitar tahun 1450-1540. Ajaran Islam dibawa langsung oleh para pedagang Islam dari Jawa dan Sumatera.
Runtuhnya kekuasaan Majapahit menjadikan banyak kerajaan kecil di wilayah pulau Sumbawa menjadi merdeka. Kondisi semakin memudahkan masuknya agama Islam di lingkungan kesultanan Sumbawa. Sekitar tahun 16 Masehi, Sunan Prapen yang merupakan keturunan Sunan Giri masuk ke pulau Sumbawa dan menyebarkan Islam ke kerajaan-kerajaan bercorak Hindu.
Kerajaan Dompu
Kerajaan Dompu terletak di wilayah Kabupaten Dompu saat ini. Kerajaan ini berada di wilayah Kabupaten Bima dan Kabupaten Sumbawa. Mayoritas penduduk setempat kini telah memeluk agama Islam dengan tradisi dan budaya Islam.
Keturunan raja atau dikenal dengan istilah Bangsawan Dompu hingga kini masih tetap ada. Mereka sering dipanggil dengan sebutan Ruma ataupun Dae. Istana Dompu yang menjadi simbol kekuasaan zaman dahulu kala kini telah diubah menjadi Masjid Raya Dompu.
Kerajaan Islam di Kalimantan Kerajaan Selimbau
Kerajaan Islam pertama di wilayah Kalimantan ialah Kerajaan Selimbau. Kerajaan ini terletak di wilayah kecamatan Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat. Sebelum memeluk Islam, kerajaan Selimbau menjadi kerajaan Hindu tertua di Kalimantan Barat.
Selama bertahun-tahun, Kerajaan Selimbau diperintah dengan garis turun temurun yang berjumlah 25 generasi. Mulai dari raja-raja yang beragama Hindu hingga sampai pada masa pemerintahan Kerajaan bercorak Islam.
Kerajaan Mempawah
Kerajaan ini merupakan kerajaan Islam yang berlokasi sekitar wilayah Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Nama Mempawah ini sendiri diambil dari istilah Mempauh yang berarti nama pohon yang tumbuh di hulu sungai yang kemudian dikenal dengan sebutan Sungai Mempawah.
Di masa perkembangannya, pemerintahaan kerajaan dibagi menjadi dua periode yang pertama ialah masa kerajaan Suku Dayak yang bercorak Hindu lalu masa Kesultanan yang bercorak Islam.
Kerajaan Tanjungpura
Salah satu kerajaan tertua di Kalimantan Barat ialah Kerajaan Tanjungpura atau sering juga disebut dengan Tanjompura. Kerajaan ini telah mengalami beberapa kali perpindahan ibu kota kerajaan.
Awalnya ibu kota kerajaan terletak di Negeri Baru atau di Kabupaten Ketapang saat ini, setelah itu berpindah lagi ke wilayah Sukadana yang menjadi Kabupaten Kayong Utara. Kemudian, di abad ke 15 Masehi berubah nama menjadi Kerajaan Matan ketika Rajanya Sorgi atau Giri Kesuma masuk Islam.
Kerajaan Landak
Kerajaan Landak atau dikenal juga dengan Kerajaan Ismahayana landak ialah sebuah kerajaan yang berada di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Kerajaan Landak ini sendiri memiliki kronik sejarah yang cukup panjang.
Beberapa sumber tertulis mengenai kerajaan ini memang cukup terbatas. Namun, berbagai bukti arkeologis berupa bangunan istana kerajaan atau keraton hingga berbagai atribut-atribut kerajaan yang masih bisa dilihat hingga saat ini menjadi bukti eksisnya kerajaan ini.
Menurut sejarah kerajaan Landak ini juga terbagi menjadi dua fase yang bertema ialah masa kerajaan bercorak Hindu dan kemudian menjadi kerajaan bercorak Islam yang telah dimulai sekitar tahun 1257 M.
Kerajaan Tayan
Kerajaan Islam ini terletak di kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Tayan, Provinsi Kapuas Raya. Pendiri dari kerajaan Tayan ialah Putra Brawijaya yang berasal dari Kerajaan Majapahit. Beliau bernama Gusti Likar atau sering juga disebut dengan Lekar.
Gusti Lekar ini sendiri merupakan anak kedua dari Panembahan Dikiri yang merupakan Raja Matan. Anak pertama dari Panembahan Dikiri bernama Duli Maulana Sultan Muhammad Syarifuidin yang kemudian menggantikan ayahnya sebagai Raja Matan.
Sultan Muhammad Syarifudin ini sendiri merupakan Raja pertama yang masuk Islam berkat jasa tuan Syech Syamsuddin. Beliau kemudian mendapatkan hadiah berupa sebuah Qur’an kecil serta sebentuk cincin bermata jamrud merah yang didapatkan langsung dari Raja Mekkah.
Kesultanan Paser
Sebelumnya Kesultanan Paser disebut sebagai Kerajaan Sadurangas yang merupakan sebuah kerajaan yang berdiri sekitar tahun 1516. Saat itu kerajaan dipimpin oleh seorang Ratu yang bernama Putri Di Dalam Petung.
Sebelum Ratu menikah dengan Abu Mansyur Indra Jaya, Putri Petong masih menganut ajaran animisme atau kepercayaan menyembah roh-roh halus. Lewat jalur perkawinan antara Ratu Petong dan Abu Mansyur Indra Jaya, Kesultanan Panser mulai memeluk Islam. Selain itu, jalur perdagangan yang berasal dari berbagai pedagang muslim juga berperan besar tersiarnya agama Islam di Kesultanan Paser.
Sejarah Islam di Jawa
Tidak mudah mengkaji sejarah Islam, khususnya di Tanah Jawa, sebab terbatasnya data-data tentang kapan dan bagaimana Islam datang dan berkembang di Jawa. Narasi yang dipahami hingga saat ini bahwa Islam masuk ke Jawa dibawa oleh para pedagang muslim sekaligus pendakwah dan kemudian dikembangkan lebih kreatif oleh para wali, khususnya Walisongo.
Tetapi, apakah narasi itu sudah cukup menjelaskan tentang sejarah Islam di Jawa?
Para sejarahwan berbeda pendapat. Berbagai hasil riset mereka sudah dibukukan berdasarkan perspektif serta fokus kajian yang berbeda-beda sehingga menghadirkan kebergaman pemahaman. Banyaknya publikasi buku-buku sejarah Islam di Jawa, termasuk buku ini, tentu dapat memperkaya khazanah pemahaman kita tentang bagaimana Islam di Tanah Jawa.
Namun, buku ini menjelaskan tiga hal pokok, yaitu awal mula kedatangan Islam, para penyebar Islam dan strategi penyebaran Islam di Tanah Jawa. Keunggulan buku ini adalah pada penjelasan kondisi sosial masyarakatJawa, asal-usul orang Jawa, serta keadaan Jawa pra-Hindu-Budha. Dengan demikian, kajian buku ini lebih komprehensif dari buku lainnya.
Buku ini menyajikan sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa dari masa Hindu-Buddha hingga peralihan ke masa Islam. Titik fokus yang diangkat dalam tulisan ini adalah bagaimana terjadinya transformasi politik dan religius dari kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha menuju kerajaan-kerajaan Islam di Jawa.
Dengan gaya bahasa yang populer, buku ini bermaksud memberikan penjelasan ringan dan mudah dipahami tentang peralihan peradaban di Jawa pada masa lalu.
Jejak Islam Dalam Kebudayaan Jawa
Agama dan budaya adalah pengikat kuat bagi masyarakat agar selalu terhubungan dengan nilai luhur, dengan nilai sosial, dan dengan kehangatan masa lalu. Di saat perubahan terjadi secara cepat, agama, dan budaya menyediakan ruang untuk membangun kohesivitas sosial dan sarana untuk mencapai ketenangan rohani.
Peran Islam dalam budaya Jawa tidak bisa diabaikan untuk pembangunan masyarakat dan kebudayaannya. Buku ini muncul sebagai upaya untuk melihat jejak Islam dalam kebudayaan Jawa. Islam di Jawa tumbuh berkembang dengan pesat dan menjadi satu anyaman yang kuat dan menguatkan dengan nilai sosial yang ada di masyarakat. Buku ini ditujukan untuk memberikan gambaran mengenai eksistensi nilai Islam dalam kebudayaan Jawa dan bagaimana cipta, karsa, dan karya manusia Jawa dilihat kembali sebagai khazanah untuk menggali kearifan lokal, seraya tetap mendorong pembangunan manusia yang unggul dan berdaya saing, sehingga pembaca bisa menapaki kembali kekayaan khazanah nilai luhur agama dalam kebudayaan Jawa.
PESAN PENULIS :
PERADAPAN PENGHUNI TANAH JAWA SANGAT TINGGI DAN ADILUHUNG.
SETIAP PERADAPAN PASTI ADA DUA SIFAT BAIK DAN JAHAT (KEKELAPAN)
PENULIS MENGILUSTRASIKAN BAHWA PENGHUNI TANAH JAWA GEGIRISI KURANG TEPAT TAPI JIKA DILIHAT DARI FAKTA SEJARAH KERAJAAN DI NUSANTARA KHUSUSNYA DI TANAH JAWA, MAKA PERADAPAN DI TANAH JAWA LEBIH TINGGI DIBANDING DENGAN PERADAPAN DUNIA YANG LAIN.
PEMAHAMAN SANG PENCITA JUGA DEMIKIAN SUDAH PAHAM BAHWA ALAM SEMESTA INI ADA YANG MEMBUAT YAITU GUSTI PENGERAN.
NAMUN DENGAN MASUKNYA ISLAM DI NUSANTARA MENAMBAH KHASANAH TENTANG DOGMA AGAMA SUCI YANG MENYEMPURNAKAN (SYARIAT DAN TUNTUNAN ISLAM).
Imajiner Nuswantoro

.jpg)






