PAGUYUBAN KAWRUH JOWO LUGU
PAUGERAN BUDI LUHUR PAGUYUBAN KAWRUH JOWO LUGU
Warga Kawruh Jowo Lugu percaya, Eling dan wajib manembah kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi kehormatan dan martabat Bangsa dan Negara.
Warga Kawruh Jowo Lugu mengutamakan budi luhur penuh rasa cinta kasih terhadap sesama titah berdasarkan kejujuran, kebenaran sejati dan keadilan.
Warga Kawruh Jowo Lugu mengutamakan keteladanan perilaku luhur, baik ucapan maupun tindakan dalam kehidupan sehari-hari.
Warga Kawruh Jowo Lugu mengabdi dan berkarya dengan tekat suci sepi ing pamrih rame ing gawe memayu hayuning bawana.
Warga Kawruh Jowo Lugu mengutamakan keheningan, kedamaian, kebahagiaan, kesejahteraan dan kesempurnaan hidup lahir batin.
ARTI DAN MAKNA LAMBANG PAGUYUBAN KAWRUH JOWO LUGU
BENTUK BULATAN
Artinya : TEKAT, KEHENDAK, KEMAUAN yang tidak bisa dipisah-pisahkan, tetap bersatu atau menjadi satu.
WARNA PUTIH BENTUK MEMANCAR
Artinya : RASA SUCI, BERSIH, JERNIH di dalam bimbingan Tuhan Yang Maha Esa. Di dalam hidup dan penghidupan sehari-hari, selalu memberikan dan memancarkan kesan perilaku budi luhur, sepi ing pamrih rame ing gawe lahir dan batin, memayu hayuning bawana.
WARNA KUNING
Artinya : RASA HENING, DIAM, TENANG di dalam menghadapi segala sesuatu.
WARNA MERAH
Artinya : RASA BERANI di dalam menghadapi segala kesulitan dan keperluan demi kebenaran hidup.
WARNA HITAM
Artinya : RASA KELANGGENGAN di dalam berkarya sehari-hari hendaknya didasari rasa rela berkorban demi kebenaran.
WARNA HIJAU
Artinya : JAGAT KAMULYAN di dalam kehidupan sehari-hari hendaknya bercita-citakan kesempurnaan hidup lahir dan batin.
KATA PENGANTAR
Rahayu
Diiringi rasa syukur kehadirat Tuhan yang maha Esa, atas perkenan dan tutunan serta pengayoman yang telah dilimpakan kepada kita semua, warga Paguyuban Kawruh Jowo Lugu sehingga dapat terlaksananya menerbitkan Buku Ajaran Suci Budi Luhur Kawruh Jowo Lugu. Dalam kesempatan ini kami berusaha untuk mengungkap baik dari segi pengertian, segi budaya, segi penghayatan, segi filsafat, segi perilaku penghayatannya sebagai hasil penghayatan, supra rasional maupun segi-segi lainnya yang dapat memperjelas pengertian terhadap Krawuh Jowo Lugu sebagai penghayat kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Karena tanpa adanya penjelasan yang rinci, dan mendasar, maka akan dikhawatirkan bahwa Kawruh Jowo Lugu sebagai salah satu kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa merupakan kepercayaan yang bersifat animatis. Namun apabila masih ada para pembaca yang ingin mendapatkan penjelasan lebih lanjut dari apa yang telah kami paparkan di dalam buku ini, kami masih bersedia untuk memberikan tambahan penjelasan secara lisan. Karena kami menyadari bahwa penjelasan secara lisan lebih dapat mengungkapkan penjelasan secara tertulis.
Buku ini merupakan ringkasan pokok-pokok Ajaran Budi Luhur Kawruh Jowo Lugu dan diterbitkan dengan tujuan untuk memudahkan warga di dalam menghayati dan memahami ajaran secara benar dan tepat. Dan semoga buku ini dapat memberikan manfaat kepada kita sekalian dalam menggali, meneliti, menelusuri dan menghayati mengamalkan Ajaran Budi Luhur dalam kehidupan sehari-hari, dalam hubungannya dengan masyarakat, alam serta keagungan Tuhan Yang maha Esa sebagai Pencipta sehingga bisa mencapai kebahagiaan, kesejateraan dan kesempurnaan hidup lahir batin di dunia dan di alam kekal nanti.
Rahayu
Surabaya, 05 Juni 2013
DEWAN PENGURUS PUSAT
Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa
PAGUYUBAN KAWRUH JOWO LUGU
Ketua
Drs. Aloysius Suyatno Yonando
BAB I
SEJARAH PAGUYUBAN KAWRUH JOWO LUGU
Paguyuban kawruh Jowo Lugu di dirikan oleh Bapak Kayun Karsadihardja (Almarhum). Beliau dilahirkan di Tumpakrejo Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang Jawa Timur. Semasa jaman Belanda atau awal dari pendudukan tentara jepang di Indonesia, Bapak Kayun Karsadihardja merasa sangat prihatin atas bangsa Indonesia khususnya keadaan di desanya yang merasa sangat tertindas. Beliau akhirnya meninggalkan desanya untuk mengadakan laku, yaitu menyepi dan melakukan tarak brata mengembara sampai ke Bali, Lombok, Madura dan akhirnya kembali ke Malang, namun bukan ke tempat tinggalnya akan tetapi ke lereng Gunung Kawi
Selama melatih diri dan bersemedi tersebut, Bapak Kayun Karsadihardja mendapat petunjuk lansung dari kadang pribadi agar Bapak Kayun Karsadihardja melakukan lelana tapa brata ke lereng Gunung Kawi (bukan tempat pesarean tapi di tengah hutan) apabila ingin bertemu dengan guru Sejatinya yang bersama-sama bertapa selama sembilan bulan sepuluh hari dalam kandungan ibunya.
Dari pengalaman bertapa yang dilaksanakan selama enam bulan lamanya, atas perkenan Tuhan Yang Maha Esa maka Bapak Kayun Karsadihardja bertemu Guru Sejatinya. Dari Guru Sejatinya ini Bapak Kayun Karsadihardja menerima petunjuk / wejangan-wejangan ke arah tindakan dan ucapan yang berbudi luhur dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari dan agar selalu memberikan pertolongan kepada semua orang yang membutuhkan.
Pada waktu ayahnya meninggal dunia, Bapak Kayun kemudian mohon ijin kepada keluarga dan para pelayat agar dirinya diperkenankan tidur sebentar bersama ayahnya yang sudah meninggal, dan tidak lama kemudian bapak Kayun bangun bersama ayahnya yang hidup kembali. Dengan peristiwa itu Bapak Kayun Karsadihardja memberikan penjelasan kepada saudara-saudaranya dan orang-orang serta para pelayat yang masih ada dirumahnya, bahwa beliau adalah manusia biasa dan tidak bisa apa-apa. Apabila manusia itu mau mendekatkan diri dan mau menembah sujud kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan segala perilaku dan ucapan yang budi luhur, segala permohonan umatnya pasti diperkenankan dan dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Atas perkenan Tuhan Yang Maha Esa, banyak orang yang ingin mengikuti ajaran ketuhanan dengan cara-cara yang telah dihayati dan dilakukan oleh Bapak Kayun Karsadihardja tersebut. Sehingga pada tanggal 7 Februari tahun 1943 dibentuk suatu wadah kegiatan dengan nama Persatuan Kepercayaan Kawruh Kebatinan Jawa Lugu . Pada tahun 1943 Bapak Kayun Karsadihardja mulai menerima warga sebanyak tiga orang, pada tahun 1944 menerima tiga orang lagi, pada tahun 1945 menerima tiga orang lagi dan selanjutnya bertambah banyak. Pada tahun 1952 mendapat surat ijin dari kejaksaan Negeri Kabupaten Malang dengan Nomor ijin : 101/DI/P6/1952 dengan nama PAGUYUBAN KAWRUH KEBATINAN JOWO LUGU. Setelah ada ijin tersebut maka warganya bertambah banyak dan sampai saat itu Bapak Kayun Karsadihardja sudah menaburkan bibit (sudah mempunyai murid) sebanyak 20 (Dua puluh) orang sebagai Pinisepuh Pambuka pada saat itu yang telah mendapatkan restu untuk membuka warga baru yang tersebar di wilayah Jawa Timur. Jumlah warga pada saat itu sebanyak 8.624 orang. dan sekarang sudah banyak anak-cucu yang telah mendapat petunjuk untuk menjadi Pinisepuh Pambuka dan telah tersebar di Bumi Nusantara ini.
Pada hari Sabtu Wage tepatnya tanggal 14 November 1965 Bapak Kayun Karsadihardja meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Kabupaten Malang. Sepeninggal Bapak Kayun Karsadihardja Ajaran Kawruh Jawa Lugu diteruskan oleh Isterinya yang bernama Ibu Sukilah atau sering dipanggil mbok Cikrak dengan sebutan Dewan Pinisepuh Ibu Karsadihardja yang bertempat tinggal di Desa Sumberpucung Kecamatan Sumberpucung Kabupaten Malang, (sekarang Jl. Ajar Mangir No 1). Sampai sekarang tempat dan rumah tersebut dikenal sebagai Padepokan Paguyuban Kawruh Jowo Lugu dan setiap tanggal 28 malam 29 Sura untuk kegiatan Peringatan Pahargyan Sura Puncak Sangalikur atau Ruwat Bumi Nuswantara Memayu Hayuning Bawana, setiap tahunnya.
Setelah pecahnya G.30S/PKI kegiatan Paguyuban Kawruh Jowo Lugu agak tertunda, karena warga merasa takut dengan pecahnya peristiwa tersebut. Pada tahun 1970 mulai merintis kembali kehidupan Paguyuban Kawruh Jowo Lugu oleh bapak Sugiri sebagai pinisepuh Pambuka Ajaran Kawruh Jowo Lugu di wilayah Surabaya dan bapak Djumain sebagai ketua umum organisasi sebagai penanggung jawab warga. Pada tanggal tanggal, 17 Agustus 1981 telah terdaftar sebagai keanggotaan Himpunan Penghayatan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dengan nomor : 004/warga/HPK-P/VIII/1981 Serta di daftar pula di Direktorat Pembinaan Penghayatan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Direktorat Kebudayaan di Jakarta dengan nomor inventarisasi : I.028/F.3/N.1.1/1980 tertanggal 30 Maret 1980, Dan telah di Akta Notariskan pada tanggal, 28 Juli 2011 No: 41 di depan Pejabat Notaris Niluh Elita Mahariany,S.H.,M.Kn. dengan demikian Paguyuban Kawruh Jowo Lugu sebagai organisasi Penghayatan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa secara teknis keberadaannya dan pembinaannya di lindungi oleh Pemerintah Negara Republik Indonesia.
BAB II
AJARAN PAGUYUBAN KAWRUH JOWO LUGU
A. PENDAHULUAN
Bahwa sesungguhnya berkembangnya kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sejak dahulu kala Nenek Moyang Leluhur Bangsa Indonesia dan berkembang sebelum agama-agama ada di Indonesia. Pada umumnya disebut Ilmu Kebatinan, Kawruh dan lain sebagainya merupakan bagian dari kebudayaan nasional yang dalam kenyataannya hidup dan dihayati oleh sebagian masyarakat Indonesia. Diantaranya Kawruh Jowo Lugu sebagai budaya Rohani atau Budaya Spiritual didalamnya terkandung ajaran yang bernilai luhur yang dapat dijadikan pedoman dalam bertingkah laku.
Atas dasar itu maka para warga Paguyuban Kawruh Jowo Lugu dapat mempertahankan dan menghayati nilai-nilai ajaran Budi Luhur. Dengan demikian sudah merupakan kewajiban bagi warga Paguyuban Kawruh Jowo Lugu untuk menempatkan dirinya sebagai penerus, untuk menggali, meneliti, menelusuri dan menghayati serta mengamalkan kemudian menyebarkan nilai Budi Luhur Budaya Spiritual kepribadian bangsa yang murni ini, baik murni dalam ajaran maupun dalam tata perilaku bangsa yang besar dalam jiwa pribadinya. Para warga Paguyuban Kawruh Jowo Lugu dalam ajaranya yakin bahwa Tuhan Yang Maha Esa selalu memberikan tutunan, bimbingan serta petunjuk-petunjuknya melalui berbagai macam jalan, baik melalui agama-agama maupun melalui batin pribadi manusia yang patuh serta taat yang dilandasi kepercayaan dan ketaqwaan (iman) kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Berdasarkan TAP. MPR No. II/MPR/1978 tentang P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) dan TAP MPR No. IV / MPR / 1978 tentang GBHN ( Garis-garis Besar Haluan Negara) berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 menyadari bahwa Paguyuban Kawruh Jowo Lugu tumbuh, hidup dan berkembang di Negara Republik Indonesia maka bertujuan untuk dapat berfungsi sebagai pendukung dan pelaksana pengembang Budi Luhur Bangsa dalam melaksanakan Wawasan Nusantara untuk mendapatkan Ketahanan Nasional yang Kokoh. Untuk itu sebagai warga Paguyuban Kawruh Jowo Lugu dapat berperan serta dengan memberikan sumbangsihnya melalui usaha-usaha peningkatan penghayatan rohani/Penghayatan Spiritual dan peningkatan kehidupan spiritual kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar dapat menjadi warga masyarakat yang selalu siap menghadapi tantangan yang ada dalam kehidupan bangsanya. Terlebih pada dewasa ini Bangsa Indonesia sedang menghadapi perubahan-perubahan sosiokultural yang menyeluruh karena pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) terutama informasi dan komunikasi.
B. HAKEKAT MAKNA KEBATINAN KAWRUH JOWO LUGU
Di dalam kenyataannya secara geografis, kepulauan Indonesia terdiri dari ribuan pulau yang tersebar di seluruh Nusantara. Kemajemukan yang ada terikat dengan kenyataan bahwa masyarakat kita terdiri berbagai suku Bangsa yang berbeda-beda yang mempunyai kebudayaan wilayahnya sendiri, kebudayaan dearahnya sendiri dengan adat-istiadatnya. Di dalam masyarakat ini terdapat juga keyakinan yang beraneka ragam, dalam arti masyarakat ini terdapat agama -agama, terdapat kepercayaan dan lain-lain yang secara keseluruhan merupakan suatu kebudayaan Nasional.
Oleh karena itu dengan kondisi yang ada, pengembangan Kebudayaan Nasional sudah tentu harus diarahkan pada perkembangan nilai - nilai yang mencerminkan kepribadian bangsa dan peningkatan nilai – nilai luhur itu. Dalam kaitannya dengan nilai – nilai luhur itulah maka Karwuh Jowo Lugu adalah kenyataan budaya yang merupakan bagian dari kebudayan Nasional yang hidup dan dihayati oleh berbagai bangsa Indonesia sejak dahulu hingga sekarang, dan sudah berorganisasi dengan nama Paguyuban Kawruh Jowo Lugu.
Ditinjau dari makna dan arti Karwuh Kebatinan Jowo Lugu sebagai berikut :
Kata Karwuh sama artinya ”Ngelmu” dan istilah ”Ngelmu” tidak dapat begitu saja diterjemahkan dengan ”ilmu” karena ngelmu mengandung suatu arti ”Ajaran Rahasia” untuk pegangan hidup. Ngelmu hanya dapat dicapai dengan laku yaitu ”Laku Batin” yaitu iktiar dan segala usaha dengan menempuh perjalanan batin. Sedang Kebatinan berasal dari kata ”Batin” dengan mendapat awalan ”ke” dan akhiran ”an”. Kata ”batin” mempunyai arti ” yang tersembunyi ”. Kalau dunia yang nampak ini dianggap sebagai suatu yang nyata, yang benar maka kebatinan adalah kebenaran di balik kebenaran atau kebenaran yang terdalam, jadi kebenaran yang paling benar. Sedang Jowo Artinya : Beneh atau mengerti, sadar dan Lugu artinya prasaja atau lurus, jujur apa adanya tidak berlebihan. Dengan demikian Karwuh Jowo Lugu adalah ajaran Suci Budi Luhur untuk pegangan hidup yang dicapai dengan segala usaha perjalanan / laku batin berdasarkan kebenaran sejati ( kebenaran yang paling benar ) disertai keyakinan pribadi, yang penuh dengan rasa ingat, sadar dan prasaja (apa adanya tidak berlebihan) yang merupakan pernyataan dan pelaksanaan hubungan pribadi dengan Tuhan Yang Maha Esa, berdasarkan keyakinan yang terwujud dengan perilaku ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan peribadatan serta pengalaman Budi Luhur untuk mencapai kesempurnaan hidup lahir dan batin.
C. SIFAT KEPERCAYAAN
Ajaran Jowo Lugu adalah ajaran kebatinan atau rohaniah berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, dalam penghayatan terdapat tutunan yang menjabar sebagai perilaku, berwujud sujud manembah kehadapan Tuhan Yang Maha Esa diperlengkap dengan hukum penghayatan dan pembinaan terwujudnya kesadaran dan pengertian budi pekerti luhur, yang pada intinya menguraikan pandangan hidup, prinsip hidup dan kehidupan itu sendiri pada dasarnya dijadikan sebagai sumber ajaran.
Di dalam ajaran Jowo Lugu dikenal adanya perilaku penghayatan yaitu melaksanakan perenungan batin dengan maksud mendekatkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa untuk memohon petunjuk-nya. Dalam penghayatan itu seseorang akan memperoleh daya Ke-Tuhanan, sehingga seseorang mengenal Budi Luhur. Selanjutnya sifat Budi Luhur itu diamalkan dalam kehidupan lahir batin demi mencapai kesempurnaan hidup kini dan mendatang.
D. DASAR – DASAR KERCAYAAN / KEYAKINAN
1. KetuhananYang Maha Esa
2. Manusia Yang Adil dan Beradab
3. Sangkan Paraning Dumadi
4. Manunggaling Kawula Gusti
Ajaran Jowo Lugu berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, diyakini bahwa Tuhan itu adalah Dzat Yang Maha Kuasa, yang tak dapat digambarkan bagaimana wujud dan kebenarannya. Hal tersebut seperti dalam ungkapan Jawa ” Tan Kena Kinaya Ngapa ” ( tak dapat dilukiskan, tak dapat dibayangkan ). Walapun beranggapan bahwa Tuhan Itu Tan Kena Kinaya Ngapa tetapi percaya bahwa Tuhan itu ada. Dengan keyakinannya bahwa Tuhan itu ada maka berupaya menggali, menghayati dan mengamalkan ajaran Sangkan Paraning Dumadi, untuk mencapai suatu pengalaman religius yang sering disebut Manunggaling Kawula Gusti. Untuk mencapai ketenteraman hidup manusia diajarkan untuk bersikap sabar penuh cinta kasih, narima, iklas, jujur, prasaja, andhap asor, tepa salira dan adil, arif bijaksana serta dapat mengontrol hawa nafsu serta melepas pamrihnya yang buruk. Yang kesemuanya itu telah tersirat dalam Pancasila sebagai dasar falsafah Bangsa Indonesia, yang harus digali dan diamalkan nilai–nilai yang terkandung di dalamnya serta keseimbangan hidup baik ketergantungan dan keseimbangan antara manusia dengan masyarakat dan alamnya maupun manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
E. TUJUAN KEPERCAYAAN
Ketaqwaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Meningkatkan kebersihan lahir dan batin untuk melaksanakan beribadat dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam melaksanakan beribadatnya dan manembah kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Budi Pekerti Luhur
Menggali, memelihara dan mengembangkan tuntunan budi pekerti luhur yang diperoleh langsung dari Tuhan Yang Maha Esa, yang harus dihayati dan diamalkan dalam pergaulan hidup sehari – hari dengan dilandasi rasa cinta kasih kepada sesama, alam / lingkungan dan penciptaNya.
Kesempurnaan Hidup Lahir dan Batin
Melakukan penghayatan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan pengalaman Budi Pekerti Luhur dalam kehidupan sehari – hari, dimaksudkan untuk mencapai kebahagiaan, kesejateraan dan kesempurnaan hidup lahir batin di dunia dan di alam yang kekal nanti.
Memayu Hayuning Bawana
Berdasarkan uraian di atas, bahwa nilai – nilai baik yang bersifat religius maupun moral merupakan tutunan yang harus dihayati dan diamalkan oleh warga Paguyuban Kawruh Jowo Lugu dalam kehidupan sehari – hari. Oleh karena itu, nilai – nilai luhur ini wajib dihayati secara benar dan diamalkan dengan kesungguhan hati, maka dapat membawa diri kita pada ketentraman jiwa dan kebahagiaan, kesejateraan lahir dan batin. Dengan demikian hendaknya diartikan sebagai kebahagiaan hidup pribadinya dan kebahagiaan hidup sesama sebagai tugas suci Memayu Hayuning Bawana.
BAB III
TATA CARA MENJADI WARGA PAGUYUBAN KAWRUH JOWO LUGU
Adapun yang diterima menjadi anngota / warga Paguyuban Kawruh Jowo Lugu adalah :
Masyarakat luas yang sudah yakin / percaya, baik pria maupun wanita.
Sudah benar – benar mantap ingin menjadi anggota / warga Jowo Lugu.
Sanggup menghayati kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan piwulang / ajaran Paguyuban Kawruh Jowo Lugu.
Dengan terpenuhinya ketiga hal tersebut di atas maka seseorang yang ingin menjadi anggota / warga Paguyuban Kawruh Jowo Lugu, kemudian menghubungi dan mendekati Pinisepuh Pambuka di wilayah masing – masing dengan menunjukan sikap sopan santun dan mengutarakan maksud dan tujuan, yaitu ingin masuk menjadi anggota / warga Paguyuban Kawruh Jowo Lugu.
PENGARAHAN PINISEPUH PAMBUKA TERHADAP
CALON WARGA / ANGGOTA PAGUYUBAN KAWRUH JOWO LUGU
Seorang calon warga Paguyuban Kawruh Jowo Lugu setelah menghubungi dan mendekati terhadap Pinisepuh Pambuka, maka akan mendapatkan suatu pengarahan dan petunjuk berupa dasar – dasar utama sebagai berikut :
Seorang calon warga harus rajin dan tekun melatih diri mengurangi makan dan minum, mengurangi tidur, menjalankan kesabaran, menjalankan kejujuran, dan bisa menghindarkan / mengendalikan hawa nafsu yang menuju perbuatan – perbuatan, tindakan maupun ucapan yang tidak baik dipandang umum.
Seorang calon dimohon melakukan puasa pada hari Senin dan hari Kamis selama 7 (tujuh) kali berturut – turut tanpa putus.
Seorang calon warga wajib dan sanggup menjauhi segala larangan dengan sepenuh hati sanubarinya yang tersirat dalam hukum rohani MA LIMA yaitu, tidak melakukan :
1. Madat
2. Madon
3. Main (Judi), Minum-minuman keras yang berlebihan/mabuk-mabukan.
4. Maling (Mencuri)
5. Membunuh
Menyerahkan pas foto setengah badan ukuran 3 X 3 sebanyak 3 (tiga) lembar dan mengisi formulir yang telah disediakan oleh pengurus organisasi.
Setelah dipandang oleh Pinisepuh Pambuka sudah memenuhi syarat akan ditentukan hari pelaksanaan penerimaan Kunci Gaib (di beat) kepada calon warga tersebut, kemudian dimohon untuk menyiapkan sarana-sarana yang digunakan pada waktu upacara penerimaan Kunci Gaib.
TATA UPACARA PEMBUKAAN WARGA/ANGGOTA BARU
PAGUYUBAN KAWRUH JOWO LUGU
Yang dimaksud Pembukaan adalah : Membuka kesadaran nafsu angkara murka pada diri pribadi seseorang dalam itikadnya sujud manembah kepada Tuhan Yang Maha Esa agar hawa angkara murka yang menghinggapinya pada jasmani/raga tunduk dengan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. Dalam pelaksanaan Pembukaan warga baru tersebut bukan semata-mata kehendak Pinisepuh Pambuka, akan tetapi dalam kenytaannya semua tuntunan dan bimbingan tersebut di atas adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa menyalur kepada Pinisepuh Pambuka sebagai petugas Pambuka Warananing Gaib, timbullah kesadaran Manusia itu selalu ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa.
A. Perlengkapan / Sarana yang dipergunakan dalam Upacara Pembukaan Warga Baru.
Adapun perlengkapan dan alat dalam tata upacara pelaksanaan pembukaan sebagai berikut :
- Kembang Boreh.
- Kembang Kenongo 3 (tiga) buah di masukkan air dalam gelas.
- Minyak Wangi.
- Bubur (jenang) Merah putih
- Dupa Ratus (yuswa).
B. Cara Membuka Warga Baru Jowo Lugu.
Pada hari pelaksanaan penerimaan Kunci Gaib/Pembukaan warga baru, Pinisepuh Pambuka berdiri Di belakang warga baru yang diapit dua orang saksi berdiri di samping kiri dan kanan yang dibuka. Kemudian pelaksanaan pemakaian sarana-sarana membuka tersebut kepada warga yang baru, diteruskan penerimaan Kunci Gaib dari Pinisepuh Pambuka (sebagai utusan/perantara Tuhan Yang Maha Esa) kepada warga yang baru. Sebelum pelaksanaan Pembukaan/Penerimaan Kunci Gaib tersebut Pinisepuh Pambuka mengucapkan Penghayatan Rohani sebagai berikut :
”Saya bukan Dhukun, saya bukan Kyai, saya bukan Pendheta, saya bukan Guru, saya adalah utusan Tuhan Yang Maha Esa sebagai petugas dalam perantara Saudara untuk memenuhi kewajiban atas dasar perkenan Tuhan Yang Maha Esa membuka kesadaran pribadi Saudara untuk berbakti dan bersujud manembah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Saya harapkan tekad saudara berdasar atas kemantapan hati Saudara dapat mengetahui dan menyaksikan bahwa Tuhan Yang Maha Esa adalah Maha Pencipta seluruh alam semesta. Tuhan itu adalah Maha Besar, Maha Tahu, Maha Kuasa, Maha Adil dan lain-lain, maka dari itu dalam pelaksanaan sujud Saudara, saya hanya sebagai pengantar yang seharusnya tidak mempergunakan akal dan pikiran serta kehendak hati. Maka hendaknya Saudara terbukalah perasaan jiwa dan raga saudara menyerah dan tunduk kepada kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.
Setelah selesai mengucapkan Penghayatan Rohani tersebut Pinisepuh Pambuka menyuruh warga baru tersebut mengikuti ucapannya sebagai berikut :
“..............…Ingsun nyuwun tekakna panyuwun ingsun, ingsun nyuwun geter-pater mulya – geter pater mulya – geter pater mulya, sakabehning geter Sing Maha Kuwasa pada tangia, ingsun nyuwun geter lakokna sing kebat – kebaat - kebaat - kebaat ........….”. ( sampai terjadi getaran ).
(“…..saya mohon datangkan permohonan saya, saya mohon getaran yang mulia – getaran yang mulia – getaran yang mulia, kesemuanya getaran Yang Maha Kuasa jalanlah, saya mohon getaran jalanlah yang cepat – cepaat – cepaaat – cepaaaat ……”). (sampai terjadi getaran).
Kemudian diteruskan dengan sujud penghayatan secukupnya sesuai dengan kebutuhan, situasi dan kondisi iklim keheningan rohani.
Setelah selesai dalam tata upacara Pembukaan/Penerimaan Kunci Gaib tersebut, Pinisepuh Pambuka memberikan penjelasan-penjelasan sebagai berikut:
Apabila sewaktu-waktu terjadi gerakan/getaran di dalam badan/jasmani saudara, jangan melawan, jangan gelisah atau takut, akan tetapi ikutilah dengan bebas berupa apapun yang timbul gerakan pada diri saudara, Pelaksanaan sujud ini agar supaya dilakukan setiap hari dimana dan kapan saja sempat melaksanakan sehingga saudara benar-benar dapat membuktikan, dalam kenyataan bahwa semuanya itu adalah kehendak dan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.
BAB IV
SISTEMATIKA SUJUD
Sebagai warga Paguyuban Jowo Lugu, kita mempunyai keharusan dan berkewajiban serta keikhlasan melaksanakan sembahyang sujud manembah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kewajiban sembahyang sujud tersebut wajib dilaksanakan pada saat :
1. Sembahyang sujud pada jam 24.00 (jam 12 malam) pada saat keadaan sekelilingnya tenang.
2. Sembahyang sujud pada pagi hari sebelum jam 07.00 (yaitu saat matahari terbit).
3. Sembahyang sujud pada sore hari sebelum matahari terbenam.
Selain sembahyang sujud di atas dapat melakukan sujud setiap saat tanpa terikat oleh tempat, waktu, jam tertentu dan dilakukan menurut kebutuhan yang diperlukan dan yang diutamakan adalah selalu bersambung dengan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa dan selalu ingat kepadaNya setiap saat.
Adapun sikap sembahyang sujud manembah kepada Tuhan Yang Maha Esa, badan/jasmani/raga bersikap bebas penuh kesopanan, dan dalam pengetrapan sembahyang sujud dapat dilakukan dengan duduk bersila di lantai, duduk di kursi atau dilakukan secara berdiri dengan memusatkan rasa eling (ingat) rasa pasrah (berserah diri) kepada kekuasaan dan keagungan Tuhan Yang Maha Esa untuk mendapatkan Petunjuk Gaib, baik berupa gerakan (getaran) gaib ataupun berupa Suara Gaib dari Sang Guru Sejati.
CARA MENCARI GETARAN / GERAKAN GAIB DAN SUARA GAIB
Sudah merupakan keharusan dan kewajiban seorang warga / anggota paguyuban Jowo Lugu untuk mencari petunjuk Gaib dari sang guru sejati / petunjuk Gaib tersebut akan didapatkan seorang warga / anggota Jowo Lugu pada waktu melaksanakan kewajiban sembahyang sujud pada jam 24.00 tengah malam sampai jam 03.00 pagi, yaitu mulai turunnya wahyu dari Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian petunjuk Gaib tersebut dilakasanakan pada malam hari dengan cara mencari getaran hati / gerakan gaib, ( bagi warga yang belum mendapatkan suara gaib ) dan melalui suara gaib dari sang guru sejati.
Cara mencari getaran Hati / Gerakan Gaib
Getaran Hati / Gerakan Gaib ini dapat diterima dari Tuhan Yang Maha Esa dengan cara melakukan kewajiban sembahyang sujud menembah kepada Tuhan Yang Maha Esa, menghadap kiblat timur kemudian membaca Kunci Gaib yang telah diterima dari Pinisepuh Pambuka sebagai berikut :
“……Ingsun nyuwun tekakna panyuwun ingsun, ingsun nyuwun geter pater mulya – geter pater mulya – geter pater mulya, sakabehning geter Sing Maha Kuwasa pada tangia, ingsun nyuwun geter lakokna sing kebat – kebaat - kebaat - kebaat ….”. ( sampai terjadi getaran ).
(“….........saya mohon datangkan permohonan saya, saya mohon getaran yang mulia – getaran yang mulia – getaran yang mulia, kesemuanya getaran Yang Maha Kuasa jalanlah, saya mohon getaran jalanlah yang cepat – cepaat – cepaaat – cepaaaat ..............”). ( sampai terjadi getaran ).
Setelah mendapatkan getaran gaib tersebut adalah rasa getaran hati nurani yang diterima dari sang guru sejati akan terasa melalui telapak tangan, bahkan bisa seluruh badan / rasa bergetar, getaran yang terasa melalui tangan yang bertumpu menjadi satu tersebut kita perintahkan demikian :
“ Leburen dosaku !”. ( hancur leburkan dosaku ). Dengan maksud agar menghilangkan dosa-dosa yang ada pada badan / raga pribadi masing – masing. Dengan demikian getaran tangan tadi membuka telapak tangan yang bertumpu dan langsung mengusap – usap bahkan akan memukul-mukul badan/raga/wadak pribadi berulang – ulang tergantung tebal dan tipisnya dosa-dosa yang dilakukan sejak lahir di dunia. Getaran gaib tersebut setelah selesai menghajar raga/badan wadakpribadi terus sampai kedudukkan semula tangan bertumpu dan masih dalam keadaan bergetar. Kemudian raga/badan wadak minta lagi getaran sebagai berikut :
Rehning wis rampung anggonmu nglebur dosaku, raga nyuwun dunungna panggonane kiblat wetan.” ( Setelah selesai saudaraku menghancurkan -leburkan dosaku, raga/badan wadak minta lagi tunjukkan tempat arah timur). Maka getaran tangan tersebut akan menunjukkan kearah Timur. Setelah menunjukkan arah timur gerakan tangan kembali kearah semula yaitu tangan bertumpu dan masih bergetar. Kemudian raga/badan wadak minta lagi petunjuk sebagai berikut :
”Sadulurku sing saka kiblat Wetan dununge neng jiwa raga ana ngendi?” (Saudaraku yang dari Kiblat Timur dimana tempatnya di jiwa raga, tunjukkan).
Maka getaran tangan tersebut akan menunjuk tempat di bagian kepala. Setelah menunjukkan tempat di bagian kepala gerakan tangan tadi kembali kearah semula yaitu tangan bertumpu dan masih bergetar. Waktu getaran gaib tersebut pada sikap semula yaitu tangan bertumpu dan masih bergetar kita bertanya lagi sebagai berikut :
”Sapa saksine yen pacen bener?” (”Siapa saksinya kalau benar/”)
Karena ditanya demikian maka tangan yang bergetar secara Gaib tersebut langsung menunjuk ke atas dan ke bawah yang artinya keatas adalah Tuhan Yang Maha Kuasa (Bapa Kuwasa) dan ke bawah artinya Ibu Pertiwi (Ibu Bumi). Selanjutnya kita mengakui dan berbicara : ”Ya tak akoni, sedulurku kang saka kiblat wetan, lungguha kang prasaja ana jiwa ragaku kanti tentrem, adem, ayem, sabar eling-eling-eling”, ( ”Ya saya akui, saudaraku yang dari arah timur, duduklah yang bersahaja ada di badan saya dan jiwa saya dengan tentram, dingin, tenang, sabar dan ingat-ingat-ingat”).
Demikian pula tata cara mencari arah dan tempat duduknya saudara yang dari Kiblat Kidul (Kiblat Selatan), dari Kiblat Kulon (Kiblat Barat, dari Kiblat Elor (kiblat Utara) sama dengan cara tersebut di atas, hanya arah dan tempat duduknya yang berlainan.
Selanjutnya setelah badan wadak pribadi tahu arah dan tempat duduknya Saudara Pribadi yaitu Saudara Kiblat Papat (kiblat empat), maka minta lagi supaya badan/raga menghadap kearah timur seperti kedudukan semula, yaitu tangan bertumpu dan masih bergetar, kemudian raga/kita minta lagi sebagai berikut ;
”Sedururku kabeh kang saka kiblat wetan, kidul, kulon lan elor, pada lungguha kang prasaja ana ing jiwa ragaku sing sakmestine kanti adem, ayem, tentrem, sabar, eling-eling-eling”.
(”Saudaraku semua yang dari kiblat timur, selatan, barat dan utara, duduklah yang bersahaja ada di jiwa raga saya yang semestinya dengan rasa dingin, tenang, tentram, sabar, ingat – ingat – ingat”).
Setelah badan wadak/raga menghadap kearah timur dan sudah mengakui serta mempersilahkan duduk saudara kiblat papat (kiblat empat) tadi secara benar dan getaran Gaib sudah benar-benar betul, kemudian kita minta petunjuk Gaib melalui Suara Gaib Sang Guru Sejati.
Yang perlu diketahui bagi warga/anggota Paguyuban Kawruh Jowo Lugu bahwa getaran gaib itu tadi harus di test dahulu kebenarannya.
Contoh :
Getaran Gaib tadi ditanya sebagai berikut : ”Sadulurku aku takon, Pak Suta sak iki wis turu apa durung ? Yen wis turu getera munggah-mudun, yen pak Suta durung turu getera ngiwa-nengen!”.
(Saudaraku, saya bertanya, pak Suta sekarang ini sudah tidur atau belum? Kalau sudah tidur getarkan naik-turun, kalau pak Suta belum tidur getarkan kiri – kanan).
Apabila getaran tadi menunjukan getaran naik turun berarti pak Suta sudah tidur. Untuk membuktikan getaran Gaib tadi benar atau tidak, bahwa Pak Suta sudah tidur harus di cek kebenarannya di rumah Pak Suta tidur atau belum, kalu di cek ternyata Pak Suta sudah tidur berarti getaran Gaib tadi benar, Apabila Pak Suta ternyata belum tidur berarti getaran Gaib tadi belum benar, oleh karena itu kita wajib mencari kebenarannya sampai ketemu. Hal ini menandakan bahwa kita masih kurang suci/kurang benar dalam menjalankan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Yang perlu diutamakan dalam mencari Getaran tadi merupakan Getaran Gaib yang benar, maka sebagai warga Paguyuban Karwuh Jowo Lugu harus dan wajib melaksanakan tarak brata mengurangi makan dan mengurangi tidur disertai perilaku yang jujur, sabar, narima, eling, pasrah terhadap kekuasan Tuhan Yang Maha Esa dan tidak boleh melanggar larangan yang tersirat dalam hukum rohani MA LIMA. Dan selalu minta tuntunan kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar selalu mencerminkan budi luhur, sehingga timbul rasa kasih sayang, cinta kasih, tentram lahir batin tidak membeda-bedakan sesama titah di dalam kehidupan sehari-hari.
Apabila getaran Gaib tadi ditanya dan sudah menjawab dengan benar serta ada bukti kebenarannya terus-menerus, berarti getaran Gaib tersebut sudah dapat digunakan atau di amalkan untuk segala keperluan yang bersifat baik terhadap sesama titah antara lain :
- Untuk menolong orang yang sedang susah
- Untuk menolong orang yang sakit
- Dan lain sebagainya yang bersifat kebaikan
2. Cara Mencari Suara Gaib Saudara Empat Kiblat
Setelah adanya penjelasan – penjelasan tersebut di atas bahwa Getaran Gaib yang sudah dimaksud sudah benar dan dapat dibuktikan kebenarannya secara berulang – ulang, kemudian kita mencari Suara Gaib. Dengan demikian hasil dari petunjuk Suara Gaib tersebut menjadi sempurna dengan arti seluas – luasnya. Adapun tata cara mencari Suara Gaib itu sebagai berikut :
Setelah raga / badan wadak pribadi sudah paham / mengetahui arah dan tempat duduknya Saudara Kiblat Papat (Kiblat Empat) secara benar di jiwa raga melalui Getaran Gaib. Dan jasmani / raga sudah menhadap ke arah Timur, seperti kedudukan semula yaitu tangan bertumpu dan masih bergetar kemudian kita / raga sudah mengakui dan mempersilakan duduk Saudara Kiblat Papat (Kiblat Empat) secara bersahaja di jiwa raga dengan rasa dingin, tenang, tentram, sabar, ingat – ingat – ingat, teruskan kita / raga minta petunjuk wujud Suara Gaib. ”Aku nyuwun wujud suara sadulurku sing saka kiblat wetan, wujudna - wujudna – wujudna.... (sampai wujud suara Gaib). ( ”Saya minta wujud suara saudaraku yang dari Kiblat Timur, bicaralah - bicaralah - bicaralah (sampai wujud suara Gaib).
Setelah wujud suara Gaib kemudian raga / kita bertanya :
” sadulurku sing saka Kiblat Wetan rupane apa ?
( ” Saudaraku yang dari Kiblat Timur warnanya apa? )
Setelah mengaku warnanya kita / raga bertanya :
” Sadulurku sing saka Kiblat wetan asale saka apa? ”
( ” Saudaraku yang dari Kiblat Timur berasal dari apa ? ” )
Setelah mengaku asalnya kita / raga bertanya :
” sadulurku sing saka Kiblat wetan dununge ana ngendi ? ”
( ” Saudaraku yang dari Kiblat Timur berada dimana ? ” )
Setelah mengetahui berada dimana kita / raga bertanya :
” Sadulurku sing saka Kiblat wetan dumunung ana ngendi ? ” / kewajibannya apa?
( ” Saudaraku yang dari Kiblat Timur bertempat dimana ? ” / kewajibannya apa? )
Setelah mengaku bertempat dimana, kita / raga bertanya :
” Sadulurku sing saka Kiblat wetan lungguhe ana ngendi ? ” / kekuasaannya apa?
( ” Saudaraku yang dari Kiblat Timur kedudukan dimana ? ” / kekuasaannya apa? )
Setelah Suara Gaib mengakui pertanyaan tersebut di atas setiap jawaban harus dimintakan siapa saksinya.
Contoh :
Raga takon : sadulurku sing saka Kiblat Wetan rupane apa ?
( Raga bertanya : ” Saudaraku yang dari Kiblat Timur warnanya apa ? ” )
Jawab Suara Gaib : ” Putih rupane ”.
( jawab dari Suara Gaib ; ” Putih warnanya ” )
Raga takon : ” Yen pancen bener – bener sadulurku sing saka Kiblat Wetan Putih rupane, sapa saksine ? ”
( Raga bertanya : ” kalau benar – benar Saudaraku yang dari Kiblat Timur Putih warnanya siapa saksinya ? ’’ )
Jawab Suara Gaib : ” saksine iki lho Bapa Kuwasa ( Tuhan Yang Maha Kuasa ) lan Ibu Bumi ( Ibu Pertiwi ),
( Jawab Suara Gaib : ” saksinya ini Tuhan Yang Maha Kuasa dan Ibu Pertiwi ” ) dan seterusnya.
Dan setiap pertanyaan dijawab, kita / raga harus minta saksinya. Kalau memang jawabnnya benar pasti mau dimintakan saksinya, kalau jawabannya belum benar pasti tidak mau mengucapkan saksi. Apabila Suara Gaib tadi sudah mengucapkan saksinya, badan wadak / raga bicara sebagai berikut :
” Ya tak akoni lan tak ngerteni, lungguha kang prasaja ana ing jiwa ragaku kanti adem, ayem, tentrem, sabar, eling – eling – eling” .
( ” Ya, saya akui dan saya mengerti, duduklah yang bersahaja ada jiwa raga saya dengan rasa dingin, tentram, sabar, ingat - ingat - ingat ”. )
Demikian pula untuk mencari suara gaib dari saudara Kiblat Selatan, saudara Kiblat Barat dan saudara Kiblat Utara caranya mencari saudara Kiblat Timur dengan urutannya seperti di atas yaitu dari :
- Takon Rupane (bertanya warnanya)
- Takon Asale (bertanya asalnya)
- Takon Dununge (bertanya berada di mana)
- Takon Dumununge (bertanya bertempat di mana) (kewajibannya apa ?)
- Takon Lungguhe (bertanya berkedudukan di mana) / (kekuasaannya apa ?)
- Sehingga dari uraian tersebut diatas akan dikenal dengan sebutan pecahing sifat rong puluh (pecahnya sifat dua puluh) manusia.
Apabila Saudara Kiblat Papat ( Kiblat Empat ) tersebut sudah mau menjelaskan dengan wujud ( bukti / kenyataannya ) suara yang sebenarnya, maka warga Paguyuban Karwuh Jowo Lugu yang sedang mencari suara Gaib tadi diberi penjelasan oleh Pinisepuh Pambuka bahwa harus diadakan brokohan ( selamatan ) atau diberi sesaji selamatan brokohan, maksudnya yaitu sebagai tanda bukti dan ucapan terima kasih dari raga / badan wadak bahwa raga sudah mengakui dan mengerti serta sebagai bukti Nglungguhna ( mendudukkan ) saudara kiblat papat ( kiblat empat ) di jiwa raga supaya duduk dengan rasa sejuk, tenang, tentram, sabar, ingat - ingat – ingat. Dan setelah diadakan selamatan brokohan dalam 3 ( tiga ) hari disarankan tidak boleh mengadakan sembayang sujud seperti biasanya. Mengapa demikian ? supaya Saudara Kiblat Papat ( Kiblat Empat ) tadi benar – benar duduk / bersemayam dengan tentram di jiwa raga.
Selamatan brokohan ini merupakan kewajiban Pinisepuh pambuka untuk membacakan sesuai dengan segala macam sarana sesaji selamatan brokohan. Sesudah diadakan selamatan brokohan dengan persyaratannya kemudian warga Paguyuban Karwuh Jowo Lugu tersebut diperbolehkan melanjutkan perilakunya mencari Sang Guru Sejati.
3. Cara Mencari Sang Guru Sejati
Seorang Penghayat Kawruh Jowo Lugu sesudah diadakan selamatan brokohan seperti keterangan terdahulu, kemudian melakukan penghayatan sujud untuk mencari Guru Sejati. Dalam proses mencari Guru Sejati, raga / wadak akan mendapatkan tutunan, petunjuk dan kawruh dari Saudara Empat Kiblat ( Saudara Pribadi ). Adapun tutunan, petunjuk dan kawruh tersebut antara Penghayat yang satu dengan Penghayat yang lain akan berbeda – beda dan tidak sama, karena mengenai tulisnya raga antara Penghayat yang satu dengan Penghayat yang lain juga berbeda.
Maka dalam hal ini seorang penghayat harus benar – benar teliti, penuh hati – hati dan waspada dalam melaksanakan berbagai tutunan, petunjuk dan kawruh yang diterima saudara pribadinya. Karena itu disarankan kepada Penghayat apabila telah mendapatkan tutunan, petunjuk dan kawruh dari saudara pribadinya wajib berkonsulasi dan melaporkan kebenarannya kepada Pinisepuh Pambuka. Hal ini untuk menghindari kesalah pahaman dalam melaksanakan tutunan, petunjuk dan kawruh saudara pribadi. Mengapa harus berkonsultasi dan musyawarah dengan Pinisepuh Pambuka ? Perlu diketahui bahwa tutunan, petunjuk dan kawruh saudara pribadi tersebut bermacam – macam :
Bentuk sanepan (yaitu perkataan atau kalimat yang sulit untuk diterjemahkan penjabarannya dalam perilaku budi luhur sehari – hari).
Bentuk perintah, perilaku, tapa brata secara lahir dan batin.
Dan lain – lain tak terbatas yang semuanya itu merupakan persyaratan budi luhur yang merupakan tutunan, petunjuk dan kawruh saudara pribadi yang harus dilaksanakan oleh penghayat sebagai persyaratan untuk bertemu dengan Sang Guru Sejati.
Dengan selalu berkonsultasi dan bermusyawarah dengan Pinisepuh Pambuka diharapkan dalam mencari Sang Guru Sejati terlaksana. Kalau penghayat sudah bertemu Guru Sejati, akan mendapatkan petunjuk untuk melaksanakan selamatan puwakala, yaitu mengadakan sesaji lengkap menurut petunjuk dari Guru Sejati, sebab yang akan membaca dan menjelaskan sarana sesaji secara gamblang dan tuntas tersebut bukan Saudara pribadi tetapi Sang Guru Sejati. Bertemunya Penghayat dengan Guru Sejati yang disebut Manunggaling Kawula Gusti, maka seorang Penghayat dalam melaksanakan pekerjaan, tugas, melaksanakan norma – norma kehidupan bermasyarakat sehari – hari terhadap lingkungan dan penciptaNya sebagai pengemban ajaran Budi Luhur akan selalu dibimbing, ditutun dan diberikan petunjuk serta Kawruh Sang Guru Sejati, sehingga secara lahir dan batin mempunyai rasa andhap – asor, sabar kang linambaran rasa trisna welas asih, narima ing pandum, iklas sing wis dilakoni, iklas kang durung dilakoni lan rasa Eling, adhem ayem, tentrem sarta luwih nastiti, luwih ngati-ati, luwih waspada kang datan pedhot ; ( Rasa rendah hati, sabar penuh cinta kasih kepada sesama titah, menerima apa adanya, iklas yang sudah terjadi, iklas yang belum terjadi dan rasa ingat, sejuk, tentram serta lebih teliti, lebih hati – hati, lebih waspada setiap saat ); dalam setiap menghadapi tugas hidup di dunia sesuai dengan perkembangan jaman yang akan datang, demi mencapai kesempurnaan hidup lahir dan batin.
BAB V
WAKTU RITUAL DAN MAKNANYA
Pada dasarnya sujud semedi (manembah) kepada Tuhan Yang Maha Esa, dapat dilaksanakan setiap saat, di mana saja dan kapan saja. Dalam membina warga, pelaksanaan sujud semedi dengan cara bersama-sama yang ditentukan waktunya oleh Pinisepuh/Organisasi dengan harapan dapat memperoleh hasil yang lebih baik bagi setiap warga di dalam melakukan kewajiban hidup sehari-hari. Waktu yang telah ditentuan tersebut adalah sebagai berkut :
Tengah malam pada saat keadaan disekeliling tenang.
Setiap ada kepentingan khusus.
Melaksanakan hening sejenak pada setiap mulai tugas dan selesai melaksanakan tugas.
Disamping itu, pada tanggal 5 (lima) bulan Sura setiap tahunnya ditetapkan sebagai hari besar bagi warga Paguyuban Kawruh Jowo Lugu. Seluruh warga hadir bersama-sama secara gotong-royong mengadakan selamatan Purwakala (mohon ampunan) kepada Tuhan Yang Maha Esa, dalam menjalankan tugas hidup di dunia, banyak ucapan dan perilaku yang salah disengaja maupun tidak disengaja, pelaksanaannya di tempat masing-masing Pinisepuh Pambuka menurut kemampuan warga tersebut.
Dan pelaksanaan Kegiatan Puncak Sangalikur Pahargyan Sura dipusatkan di Padepokan Kawruh Jowo Lugu, untuk itu dimohon semua Pinisepuh Pambuka dan Pengurus Organisasi bersama seluruh warga Paguyuban Kawruh Jowo Lugu hadir/datang di Sumberpucung, Kabupaten Malang, Jawa Timur Indonesia,
Adapun perlengkapan Ritual / Upacara sebagai berikut :
A. Acara Selamatan Brokohan
Sarana yang dipakai yaitu :
Minyak wangi
Dupa ratus (Yuswa).
Jenang abang lan putih (bubur warna merah dan putih) satu piring/lepek, separuh warna merah dan separuh warna putih.
Jenang sengkala (bubur pelebur bahaya) satu piring/lepek bubur merah ditumpangi bubur putih sedikit di tengahnya.
Jenang tuwa (bubur tua) bubur katul/menir satu piring/lepek diatasnya ditaburi gula merah yang dipotong kecil-kecil.
Nasi golong empat tumpeng tegak (nasi yang dibuat bentuk bulat sebanyak empat dan nasi yang dibentuk kerucut satu buah) cara meletakannya, nasi tumpeng ditaruh ditengah piring dan golongnya ditaruh dusamping membentuk kiblat empat.
Nasi brok (nasi putih ditaruh dipiring yang agak besar, diatasnya diberi lauk-pauk secukupnya.
Tumpeng tiga ditaruh dipiring (tumpeng trimurti)
Bunga Kenanga sebanyak tiga biji dimasukkan dalam air satu gelas.
B. Acara Purwakala / Ruwatan Pribadi (Ritual Mohon Pengampunan Dosa).
Adapun sarana dan perlengkapannya sebagai berikut :
Kain putih secukupnya untuk alas sesaji.
Minyak wangi
Dupa ratus (Yuswa).
Bunga Kenanga sebanyak tiga biji dimasukkan air dalam gelas.
Ublik (lampu kecil).
Bubur merah putih.
Bubur Tuwa.
Bubur sengkala
Bubur Sura (khusus dipakai pada bulan Sura).
Cengkir gading (Kelapa muda warna kuning) yang dikupas bagian atas dan bawahnya, kupasan yang atas dilubangi , untuk siap diminum.
Cengkir kelapa hijau (kelapa muda hijau) dikupas bawah dan atasnya, kemudian bagian atasnya dilubangi, untuk siap diminum.
Pecok bakal ditaruh di takir (tempat terbuat dari daun pisang di dalamnya diisi empon-empon dan bumbu-bumbu dapur lengkap, telur ayam jawa, badeg, daun sirih dan rokok kretek, kembang boreh).
Kembang Boreh satu bungkus (macam-macam bunga).
Janur kuning (daun kelapa muda menurut kebutuhan).
Nasi Tumpeng berbentuk kecil sebanyak 4 piring masing-masing berisi 3, 5, 7, 9.
Nasi golong empat tumpeng tegak (seperti tersebut di atas).
Nasi Kuning (nasi punar / majemuk) nasi yang diberi warna kuning dengan kunyit satu piring dan diatasnya diberi rajangan telur dadar goreng.
Nasi brok (seperti telah dijelaskan di atas).
Nasi suci ulam sari (nasi putih rasa gurih yang dimasak dengan santan kelapa) dan ulam sari (ayam putih mulus yang dimasak utuh) dan diletakkan di atas nasi tersebut.
Nasi tumpeng tegak dan panggang ayam putih mulus,(nasi tumpeng dan panggang ayam, ayam yang dimasak langsung di api bara dan ayam diletakkan bersandar dengan nasi tumpeng tersebut).
Kepolo pendem (semua jenis makanan yang terdiri dari dalam tanah). Contohnya : ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah dan lain-lain kesemuanya dimasak, direbus dan ditaruh di panci.
Kepolo gumantung (semua jenis buah-buahan yang berbuah di atas pohon).
Kupat Lepet (Ketupat dan lepet) Ketupat terbuat dari beras biasa yang direbus dan dibungkus dengan bentuk anyaman daun kelapa yang masih muda /janur, sedang lepet terbuat dari beras ketan yang direbus dan dibungkus dengan daun kelapa yang masih muda/janur.
Jajan pasar secukupnya.
Apem (kue yang terbuat dari tepung beras) secukupnya.
Pisang ayu suruh ayu (pisang raja setangkep dan bumbu kinang (daun sirih, enjet/kapur putih, gambir, jambe/pinang, dan tembakau, rokok kretek serta korek, kaca rasa kecil, lawe putih (benang putih).
Kembang setaman yang terdiri dari :
daun andong
daun puring
daun beringin
janur kuning (daun kelapa yang masih muda).
mayang jambe (bunganya pohon pinang).
tebu hitam.
Anakan pohon pisang raja
Kesemuanya dirajang kecil-kecil, setelah dicuci bersih, selanjutnya dimasukkan bokor dan diberi air secukupnya.
Perlengkapan/sarana di atas hanya dibutuhkan yang sifatnya pangruwatan / purwakala (permohonan ampunan dosa-dosa kepada Tuhan Yang Maha Esa). Yaitu pangruwatan badan pribadi yang telah ketemu dengan Guru Sejati, sebab purwakala ini permintaan Guru Sejati. Dan macam-macam perlengkapan di atas masih ada tambahan menurut petunjuk Guru Sejati. Perlu diketahui bahwa perlengkapan / sarana purwakala tersebut sama dengan yang digunakan dalam ruwatan warga yaitu purwakala semua warga Paguyuban Kawruh Jowo Lugu pada peringatan 1 Sura setiap tahunnya, yang pelaksanaannya diadakan setiap tanggal 4 malem 5 Sura tahun Jawa.
C. Selamatan MemperingatiHari Kelahiran Badan Pribadi.
Perlengkapan / sarana yang dipakai sebagai berikut :
Minyak wangi
Dupa ratus (Yuswa).
Bunga Kenanga sebanyak tiga biji dimasukkan air dalam gelas.
Bubur merah putih.
Bubur Tuwa.
Bubur sengkala
Nasi golong empat tumpeng tegak.
Perlengkapan / sarana upacara peringatan hari kelahiran ini besar kecilnya/banyak sedikitnya menurut kemampuan, bisa mengundang teman-teman untuk dimakan bersama-sama, juga bisa cukup untuk dimakan sendiri, yang penting adalah selalu ingat kepada saudara kiblat empat (saudara pribadi) dan selalu ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Mengenal 17 Jenis Puasa
Puasa atau Laku dalam bahasa jawa merupakan suatu syarat walaupun bukan syarat yang utama untuk mendalami berbagai laku yang berasal dari tradisi yang semuanya bertujuan untuk mendekatkan diri pada Sang Maha Pencipta.
Diranah Jawa sendiri memiliki Bermacam-macam puasa berdasarkan tradisi jawa.
Jenis puasanya adalah sebagai berikut :
1. Mutih
Dalam puasa mutih ini seseorang tidk boleh makan apa-apa kecuali hanya nasi putih dan air putih saja. Nasi putihnya pun tidak boleh ditambah apa-apa lagi (seperti gula, garam dll). Jadi betul-betul hanya nasi putih dan air putih saja. Sebelum melakukan puasa mutih ini, biasanya seorang pelaku puasa harus mandi keramas dulu
2. Ngeruh
Dalam melakoni puasa ini seseorang hanya boleh memakan sayuran/buah-buahan saja. Tidak diperbolehkan makan daging, ikan, telur dsb.
3. Ngebleng
Puasa Ngebleng adalah menghentikan segala aktifitas normal sehari-hari. Seseorang yang melakoni puasa Ngebleng tidak boleh makan, minum, keluar dari rumah/kamar, atau melakukan aktifitas seksual. Waktu tidur-pun harus dikurangi. Biasanya seseorang yang melakukan puasa Ngebleng tidak boleh keluar dari kamarnya selama sehari semalam (24 jam). Pada saat menjelang malam hari tidak boleh ada satu lampu atau cahaya-pun yang menerangi kamar tersebut. Kamarnya harus gelap gulita tanpa ada cahaya sedikitpun. Dalam melakoni puasa ini diperbolehkan keluar kamar hanya untuk buang air saja.
4. Pati Geni
Puasa Patigeni hampir sama dengan puasa Ngebleng. Perbedaanya ialah tidak boleh keluar kamar dengan alasan apapun, tidak boleh tidur sama sekali. Biasanya puasa ini dilakukan sehari semalam, ada juga yang melakukannya 3 hari, 7 hari dst. Jika seseorang yang melakukan puasa Patigeni ingin buang air maka, harus dilakukan didalam kamar (dengan memakai pispot atau yang lainnya). Ini adalah mantra puasa patigeni :
“Niat ingsun patigeni, amateni hawa panas ing badan ingsun, amateni genine napsu angkara murka krana Gusti Allah
5. Ngelowong
Puasa ini lebih mudah dibanding puasa-puasa diatas Seseorang yang melakoni puasa Ngelowong dilarang makan dan minum dalam kurun waktu tertentu. Hanya diperbolehkan tidur 3 jam saja (dalam 24 jam). Diperbolehkan keluar rumah.
6. Ngrowot
Puasa ini adalah puasa yang lengkap dilakukan dari subuh sampai maghrib. Saat sahur seseorang yang melakukan puasa Ngrowot ini hanya boleh makan buah-buahan itu saja. Diperbolehkan untuk memakan buah lebih dari satu tetapi hanya boleh satu jenis yang sama, misalnya pisang 3 buah saja. Dalam puasa ini diperbolehkan untuk tidur.
7. Nganyep
Puasa ini adalah puasa yang hanya memperbolehkan memakan yang tidak ada rasanya. Hampir sama dengan Mutih, perbedaanya makanannya lebih beragam asal dengan ketentuan tidak mempunyai rasa.
8. Ngidang
Hanya diperbolehkan memakan dedaunan saja, dan air putih saja. Selain daripada itu tidak diperbolehkan.
9. Ngepel
Ngepel berarti satu kepal penuh. Puasa ini mengharuskan seseorang untuk memakan dalam sehari satu kepal nasi saja. Terkadang diperbolehkan sampai dua atau tiga kepal nasi sehari.
10. Ngasrep
Hanya diperbolehkan makan dan minum yang tidak ada rasanya, minumnya hanya diperbolehkan 3 kali saja sehari.
11. Senin-kamis
Puasa ini dilakukan hanya pada hari senin dan kamis saja seperti namanya.
12. Wungon
Puasa ini adalah puasa pamungkas, tidak boleh makan, minum dan tidur selama 24 jam.
13. Tapa Jejeg
Tidak duduk selama 12 jam
14. Lelono
Melakukan perjalanan (jalan kaki) dari jam 12 malam sampai jam 3 subuh (waktu ini dipergunakan sebagai waktu instropeksi diri).
15. Kungkum
Kungkum merupakan tapa yang sangat unik. Banyak para pelaku spiritual merasakan sensasi yang dahsyat dalam melakukan tapa ini. Tatacara tapa Kungkum adalah sebagai beikut :
Masuk kedalam air dengan tanpa pakaian selembar-pun dengan posisi bersila (duduk) didalam air dengan kedalaman air se tinggi leher.
Biasanya dilakukan dipertemuan dua buah sungai
Menghadap melawan arus air
Memilih tempat yang baik, arus tidak terlalu deras dan tidak terlalu banyak lumpur didasar sungai
Lingkungan harus sepi, usahakan tidak ada seorang manusiapun disana.
Dilaksanakan mulai jam 12 malam (terkadang boleh dari jam 10 keatas) dan dilakukan lebih dari tiga jam atau sesuai petunjukNya. Tidak boleh tertidur selama Kungkum
Tidak boleh banyak bergerak
Sebelum masuk ke sungai disarankan untuk melakukan ritual pembersihan (mandi dulu)
Pada saat masuk air, mata harus tertutup dan tangan disilangkan di dada
Nafas teratur
Kungkum dilakukan selama 7 malam biasanya
16. Ngalong
Tapa ini juga begitu unik. Tapa ini dilakukan dengan posisi tubuh kepala dibawah dan kaki diatas (sungsang). Pada tahap tertentu tapa ini dilakukan dengan kaki yang menggantung di dahan pohon dan posisi kepala di bawah (seperti kalong/kelelawar). Pada saat menggantung dilarang banyak bergerak. Secara fisik bagi yang melakoni tapa ini melatih keteraturan nafas. Biasanya puasa ini dibarengi dengan puasa Ngrowot.
17. Ngeluwang
Tapa Ngeluwang adalah tapa paling menakutkan bagi orang-orang awam dan membutuhkan keberanian yang sangat besar. Tapa Ngeluwang disebut-sebut sebagai cara untuk mendapatkan daya penglihatan gaib dan menghilangkan sesuatu. Tapa Ngeluwang adalah tapa dengan dikubur di suatu pekuburan atau tempat yang sangat sepi.
Untuk melaksanakannya mohon petunjuk pada orang yang lebih mumpuni dalam hal ini….. Ini untuk sekedar pengetahuan saja. Semoga bermanfaat.
Jejak masa lampau, PAGUYUBAN KAWRUH JOWO LUGU BIOGRAFI BAPAK KAYUN KARSADIHARDJA
Sebelum tahun 1900, lahirlah seseorang dan diberi nama Kayun dari keluarga sederhana di daerah Metaraman dusun Tumpak Lawang Desa Tumpakreja Kecamatan Kalipare Kabupaten Malang dari keluarga sederhana yang membaur di tengah-tengah rakyat Jelata . Keluarga itu dikenal bernama Surakadi
Kayun diasuh dan dibesarkan dikeluarga sederhana dan hidup layaknya anak-anak dikampungnya sebagaimana anak-anak sebayanya. Setelah berkembang menjadi remaja ia mulai senang berpuasa dan berkelana dan mengurangi tidur mencari kawruh atau ngelmu kepada siapapun yang dianggap mempunyai ilmu atau kawuh. Setelah dewasa Pemuda Kayun merasa sangat prihatin melihat keadan didesanya dan bangsa Nuswantara umumnya sangat tertindas semasa jaman belanda dan lebih-lebih pada masa pendudukan tentara Jepang.
Pak Kayun
Dengan Keprihatinannya itu beliau akhirnya meninggalkan kampung halamannya untuk mengadakan laku, yaitu menyepi dan melakukan tarak brata mengembara sampai keliling Nuswantara . Beliau lama di Bali, Lombok, Madura dan akhirnya ke Malang.
Ketika di pulau Lombok tepatnya di Gunung Rinjani, pada hari Jumat Legi Bapak kayun menerima wahyu panatagama Sangkan paraning Dumadi bersamaan turunnya wahyu Panata Negara diterima oleh Bapak Ir. Soekarno yang kemudian menjabat Presiden Republik Indonesia Pertama dan wahyu Panatabedaya (Kesenian) yang diterima oleh seorang dalang di Tulungagung, Bapak kayun kemudian kembali ke Malang, namun bukan ketempat tinggalnya akan tetapi ke lereng Gunung Kawi, sesuai tuntunan gaibnya dengan sambil bekerja dan setiap malamnya tiap-tiap jam 24.00 selalu melakukan sembahyang dengan cara-cara penghayatan kebatinan.
Selama melatih diri dan melakukan semedi/penghayatan beliau mendapatkan petunjuk langsung dari kadang pribadi agar Bapak Kayun melanjutkan lelaku lelana tapa bratanya ke lereng Gunung Kawi (bukan tempat pesarean) di tengah hutan untuk ketemu dengan Guru Sejati yang bersama-sama bertapa selama sembilan bulan sepuluh hari dalam kandungan ibunya. Dari pengalaman bertapa yang dilaksanakan selama enam bulan lamanya, atas perkenan Tuhan Yang Maha Esa, maka Bapak Kayun bertemu dengan Guru Sejati. Dari Guru Sejati ini Bapak Kayun menerima petunjuk/wejangan kearah tindakan dan ucapan yang berbudi luhur dalam melaksanakan pehghidupan sehari-hari dan agar selalu memberikan pertolongan kepada semua orang yang membutuhkan. Maka mulai saat itulah beliau selalu memberikan pertolongan, nasehat, yang sifatnya budi luhur dalam berperilaku hidup di dunia dalam hal bernegara, berbangsa, berdagang, bertani agar mendapatkan kedamaian, ketentraman dan kesejahteran lahir batin baik untuk dirinya sendiri, maupun dalam bermasyarakat dalam kaitanya memelihara dan menghormati alam lingkungannya
Dalam perilakunya selama di lereng Gunung Kawi Pada suatu saat Bapak Kayun menerima Petunjuk dari Tuhan Yang Maha Esa lewat Sang Guru Sejati. Petunjuk tersebut memberitahukan bahwa seorang laki-laki yang bernama Surakadi (Ayah Bapak Kayun) meninggal dunia dan mayatnya sudah bermalam selama satu malam. Bapak Kayun diminta segera pulang sebab penmberangkatan jenasah hanya tinggal menunggu kedatangan Bapak Kayun. Bapak Kayun langsung pulang kerumahnya. Kurang lebih jam 15.00 sampai di rumahnya, didapati rumahnya sudah banyak orang berkerumun baik saudara, tetangga yang melayat dan jenasah siap diberangkatkan ke kuburan. Tetapi anehnya, Bapak Kayun minta ijin kepada keluarga dan para pelayat agar jenasah bapaknya ditangguhkan sementara dengan maksud ingin tidur sebentar dengan jenasah orang tuanya. Setelah diijinkan Bapak Kayun segera mencuci muka/wajah, kaki dan tangan, langsung tidur dengan jenasah orang tuanya dengan posisi orang tuanya membujur keselatan, Bapak Kayun tidur dengan posisi mencium kaki jenasah orang tuanya kurang lebih sepuluh menit.
Kemudian Saudara dan para pelayat terkejut dan takut menyaksikan jenasah tiba-tiba hidup kembali dengan posisi duduk dirangkul Bapak Kayun dan segera membuka kain putih yang menutup kepala orang tuanya dan selanjutnya bapak Kayun meminta kepada saudaranya agar segera mengambilkan air kelapa muda dan mengupasnya serta mengambil airnya untuk diminumkan kepada orang tuanya yang belum sadarkan diri tersebut, sehingga hidup kembali serta bisa melanjutkan hidupnya kurang lebih 15 tahun lamanya.
Dengan peristiwa langka tersebut banyak orang ingin mengetahui sebab-sebab jenasah orang tuanya bisa hidup kembali, pada hal jenasah tersebut sudah satu malam setengah hari dan siap untuk dimakamkan. Bapak kayun memberikan penjelasan kepada saudara-saudaranya dan orang-orang serta pelayat yang masih ada di rumahnya, bahwa beliau adalah manusia biasa dan tidak bisa apa-apa. Apabila manusia itu mau mendekatkan diri dan mau manembah sujud kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan segala perilaku dan ucapan yang budi luhur, segala permohonan umatnya pasti diperkenankan dan dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Atas perkenan Tuhan Yang Maha Esa, banyak orang yang ingin mengikuti ajaran Ketuhanan dengan cara kebatinan yang telah dihayati dan dilakukan oleh Bapak Kayun tersebut. Bapak Kayun kemudian mendapatkan Petunjuk dari Tuhan yang maha Esa melalui Guru Sejati untuk menumbuh kembangkan ajaran budi luhur dengan nama Kawruh kebatinan Jawa Lugu dan memakai nama Karsadihardja. Dengan demikian banyak yang datang menemui Bapak Karsadihardja untuk mengikuti penghayatan dan ada pula yang datang memohon doa restu agar mendapatkan tuntunan kearah kebaikan dan keselamatan serta ketentraman hidup. Seiring dengan perkembangan saat itu maka pada tanggal, 07 Pebruari 1943 Bapak Karsadihardja mendirikan Perkumpulan dengan nama Kepercayaan Kebatinan Jawa Lugu
Pada Masa Pemerintahan Presiden Soekarno beliau sering di undang ke Istana Presiden untuk membicarakan hal-hal yang menyangkut ketentraman rakyat dan Negara. Pada hari Sabtu Wage tepatnya tanggal, 14 Nopember 1964 Bapak Karsadihardja wafat di Rumah Sakit malang. Beliau dimakamkan di Pesarean Keluarga dusun Tumpak Lawang desa Tumpakrejo kecamatan Kalipare kabupaten Malang.
Dan atas keteladanan Bapak Karsadihardja serta perkenan Tuhan Yang Maha Esa sampai saat ini ajarannya dikenal dengan sebutan ajaran Budi Luhur Kawruh Jawa Lugu, kemudian oleh para penghayatnya beliau di kenal dengan sebutan Bapak Pinisepuh Agung Kayun Karsadihardja. Kawruh Jawa Lugu saat ini telah berkembang dengan Pesat sampai ke seluruh Indonesia bahkan sampai ke manca Negara.
Demikian yang bisa kami sampaikan dalam penelusuran jejak masa lampau liputan khusus aliran kepercayaan dan kawruh budi luhur yg bisa kami sampaikan. Semoga para senior dan sesepuh berkenan untuk mengoreksi dan menambahkan pada postingan kami yg jauh dari kata sempurna ini. Bagi para sahabat jejak masa lampau mohon untk membaca postingan ini dgn hati semeleh dan tidak dilandasi oleh sentimen keyakinan/agama. Postingan ini kami tulis tanpa ada tendensi apapun,dan hanya untk menambah wawasan kita semua,semoga bermanfaat.
Madep,mantep,sowan ing ngarsaning Gusti.
Salam rahajoe sagung dumadi,mardhika jiwa lan raga.
Imajiner Nuswantoro



