Kisah Putri Andam Dewi Sibolga Tapanuli
Kisah Putri Andam Dewi, meskipun legenda ini lebih sering dikaitkan dengan daerah Tapanuli Tengah, Sibolga, dan Barus di Sumatera Utara, daripada secara eksklusif dengan Minangkabau.
Kisah ini berasal dari kisah "Putri Andam Dewi, Sibolga Tapanuli Tengah".
Dalam konteks Minangkabau, nama Andam Dewi juga muncul sebagai tunangan dari tokoh utama dalam cerita rakyat lain yang populer, yaitu Anggun Nan Tongga Magek Jabang. Namun, legenda utamanya sering kali berfokus pada peristiwa di sekitar Tapanuli Tengah yang melibatkan serangan burung garuda raksasa dan asal usul tempat bernama Aek Busuk (Air Busuk).
Desa Lobutua di kecamatan Andam Dewi Kabupaten Tapanuli Tengah menyimpan banyak misteri sejarah yang perlu diteliti dengan baik guna mengungkap keberadaan Sejarah yang terpendam disana yang merupakan Aset Negeri Nusantara.
Salah satu Aset tersebut adalah “Cerita Rakyat” Legenda Putri Andam Dewi yang berkembang dari mulut ke mulut ditengah-tengah masyarakat. Legenda Putri Andam Dewi mengisahkan sebuah cerita konon kabarnya di Lobutua sekitar Ratusan Tahun bahkan Ribuan Tahun yang silam berdiri sebuah Kerajaan yang dipimpin oleh Seorang Raja bijaksana dengan pusat pemerintahan di Lobutua (Perkampungan yang tua) yang berada di pinggir Pantai Barat Sumatera dan berbatasan dengan Samudera Indonesia.
Lobutua sebagai pusat Pemerintahan dan sekaligus merupakan Bandar Pelabuhan yang strategis karena berada di Pantai Barat Sumatera sehingga sering dikunjungi oleh Kapal-kapal besar dari Persia Arab, India, china, dan Portugis untuk mengangkut barang rempah-rempah seperti Kapur Barus (champer), kemenyaan, cengkeh dan rempah lain yang di barter (ditukar) dengan barang-barang lain yang di butuhkan Rakyat, sehingga rakyatnya sejahtera karena merupakan pusat perdagangan dan Bandar Pelabuhan yang sering disinggahi kapal dari dalam dan luar Negeri.
Disamping kepemimpinan Raja memerintah dengan Arif dan Bijaksana serta di dukung dengan kesejahteraan rakyat yang baik dan keamanan yang terjamin sehingga kerejaannya termasuk keseluruh Dunia.
Raja mempunyai seorang Putri yang sangat Cantik dan Rupawan yang diberi nama Putri Andam Dewi satu-satunya sebagai penerus tahta kerajaan.
Putri Andam Dewi sebagai Putri Mahkota yang sangatcantik dan rupawan juga berbudi bahasa yang lemah lembut dan selalu menolong orang yang kesusahan sehingga semakin lengkaplah kemashuranya dimata Rakat dan Kerajaan-kerajaan lain di sekitarnya.
Tetepi Kerajan tersebut di suatu saat ditimpa marabahaya yang menghancurkan seluruh kehidupan masyarakatnya.
Hal itu disebabkan seekor Burung Garuda berkepala tujuh yang sangat besar ganas dan buas menerkam dan memakan setiap manusia yang iya jumpai, sehingga banyak manusia yang korban santapan dari burung tersebut.
Menurut ceritanya Burung Garuda tersebut mempunyai tujuh kepala namun hanya satu kepala asli yang dapat memakan dan menelan mangsanya sedangkan enam kepala siluman hanya berfungsi sebagai pembantu kepala asli untuk membunuh mangsa-mangsanya. Karena besarnya Burung Garuda tersebut, jika terbang di udara dapat membuat sebagian wilayah Kerajaan itu menjadi gelap karena sayapnya yang lebar menutupi cahaya matahari.
Burung Garuda setiap harinya memangsa manusia yang dia jumpai sehingga manusia banyak korban dan tidak berani keluar rumah. Jika Burung Garuda melihat kepulan asap dari api burung tersebut terus keluar dari persembunyiannya, karena asap api merupakan pertanda baginya bahwa ditempat itu ada manusia sebagai mangsa.
Karena peristiwa Burung Garuda tersebut sangat lama sehingga manusia banyak yang korban termasuk Raja sebagai Pemimpin Kerajaan turut tewas di terkam Burung Garuda tersebut sehingga rakyat tidak terkendali dengan baik, Sehingga rakyat pindah berbondong-bondong kedaerah lain untuk mencari perlindungan dan keselamatan.
Akhirnya Lobutua sebagai pusat kerjaan sepi tanpa ada penduduk yang tinggal hanyalah Putri Andam Dewi dan seorang inang Pengasuh yang sudah tua. Inang Pengasuh bemaksud untuk menyelamatkan Putri Andam Dewi sebagai penerus Tahta Kerajaan untuk melanjutkan kerajaan itu kelak. Inang Pengasuh berangkat mencari bantuan, tetapi sebelum berangkat Inang Pengasuh membacakan mantera-manteranya dan menyihir Putri Andam Dewi menjadi manusia yang sangat kecil dan memasukkannya kedalam lobang pahatan tiang (bahasa batak disebut Partuhilan ni Tiang) sehingga aman dari gangguan Burung Garuda.
Inang Pengasuh berangkat mencari bantuan dengan menjunjung kuali yang besar sebagai perlindungan dan persembunyian agar Burung Garuda tidak melihat dan memperhatikannya.
Tanpa ada berita seorang pemuda yang Tampan dan berwibawa dan juga keturunan Raja dari bagian barat wilayah tersebut Bermaksud mengunjungi pamannya yang memimpin Kerajaan di Lobutua Pemuda tersebut bernama SUTAN BAMBANG PATUANAN dia merasakan ada kelainan dalam Nalurinya bahwa Pamannya di timpah bencana, Sehingga dia berangkat menuju Timur dengan membawa sebuah Pedang yang disebut Podang Marungut ungut atau Pedang bersungut-sungut disebut demikian karena apabila Pedang ditarik dari sarung pembungkusnya pedang tersebut mengeluarkan bunyi bersungut-sungut sebelum mengenai sasarannya
Akhirnya Sutan Bambang Patuanan sampai di Lobutua tempat Pamannya berkuasa, namun tidak seorangpun yang dapat ditemui karena Lobutua sudah kosong penghuninya, dalam pikirannya timbul pertanyaan apa gerangan yang terjadi di negeri ini? Seorang manusia pun tidak ada yang bias dijumpai.
Pada saat dia berfikir demikian, tiba-tiba dia melihat sebuah kuali yang besar tertelungkup bergerak berjalan kemudian berhenti dan begitu seterusnya, dia heran mengapa kuali dapat bergerak kesana kemari lalu dia mendekatinya dan membalikkan kuali tersebut, sehingga Nampak olehnya seorang ibu tua sebagai Inang Pengasuh di Kerajaan bersembunyi di bawah kuali tersebut, lalu Sutan Bambang bertanya apa yang terjadi di negeri ini ?
Inang Pengasuh menceritakan semua yang terjadi bahwa negeri ini sudah di kalahkan seekor Burung Garuda dan Raja sudah tewas di terkam Burung Garuda semua penduduk yang tersisah pindah kedaerah lain mencari keselamatan yang tinggal hanyalah Inang Pengasuh bersama Tuan Putri yakni Putri Andam Dewi, itupun harus dimasukkan kedalam lobang Pahatan Tiang.
Sutan Bambang Patuanan berniat membunuh Burung Garuda sehingga dia mengajak Inang Pengasuh untuk menemui Putri Andam Dewi untuk mengetahui apakah iya masih sehat. Sutan Bambang Patuanan mengambil sehelai sirih dan mencampurnya dengan kapur sirih kemudian dikunyah lumat-lumat sambil membaca mentera kemudian menyemburkannya kedalam lobang Pahatan Tiang tempat tuan Putri di sembunyikan.
Lalu Sutan Bambang Patuanan melihat Putri Andam Dewi yang cantik keluar dari lobang persembunyiannya dan menjelma kembali sebagai manusia biasa, kemudian menyembunyikannya dengan Inang Pengasuh keatas rumah.
Sutan Bambang Patuanan mengatur cara bagaimana untuk membunuh Burung Garuda, kemudian memasang tiga tungku yakni dua tungku dari batu dan satulagi tungkuh dengan menggunakan kakinya sendiri. Setelah tungku siap di pasang dia meletakkan kuali diatas tungku tersebut serta membuat api dan memasak air sambil membacakan mantera-manteranya dengan memegang podang marungut-ungut di tangan kanannya.
Semakin api membesar nampaklah asap mengepul ke udara menandakan bahwa manusia masih ada disana.
Disaat membca mantera-manteranya dan api sudah membesar serta asap sudah mengepul datang seekor burung yang disebut Burung Patia Raja sebagai penghubung antara Bambang Patuanan dengan Dewa Penyelamat melalui Burung Patia Raja Dewa penyelamat memberi petunjuk bagaimana cara mengalahkan Burung Garuda.
Burung Garuda bisa dikalahkan nantinya selama tujuh hari dengan menggunakan podang marungut-ungut serta menggunakan asap api sebagai pancingan untuk mengambil perhatian Burung Garuda.
Setelah petunjuk diterima dari dewa, besoknya diadakan pelaksanaan untuk membunuh Burung Garuda. Pada hari pertama dilaksanakan perlawanan, Bambang Patuan memasang tungku dan api dinyalahkan, dia telah siap dengan memegang pedang marungut-ungut di tangan kanan. Saat asap mulai mengepul ke udara, dari kejauhan nampaklah oleh Burung Garuda asap api tersebut. Burung Garuda memperkirakan ada manusia sebagai santapan sehingga burung tersebut terbang mengitari darimana sumber asap tersebut datang.
Pengintaian yang dilakukan oleh Burung Garuda berhasil ia menemukan seorang manusia sedang membuat api, kesempatan itu tidak di siasiakan oleh Burung Garuda dan langsung terbang menerkam kearah Sutan Bambang Patuanan sehingga terjadilah perlawanan yang sengit, saling menyerang dan saling membunuh. Sutan Bambang Patuanan dengan gagah berani dan lincah berhasil menebas satu kepala siluman Burung itu dengan putus.
Akibat tebasan pedang marungut-ungut dari Sutan Bambang Patuanan Garuda merasa kesakitan dan lari terbang menyelamatkan diri. Pada saat melarikan diri Kepala Burung yang kena tebas tersebut jatuh di lembah pinggiran Lobutua, itulah perlawanan pada hari pertama.
Perlawanan pada hari kedua juga dilaksanakan seperti pada hari pertama, tungku dipasang dan api di nyalakan kembali. Ketika asap mengepul ke udara Burung Garuda terus datang dan menyerang lebih ganas lagi sehingga terjadilah perlawanan yang lebih sengit lagi antara kedua belah pihak, namun naas bagi Garuda, satu lagi kepalasiluman burung tersebut kena tebas dan putus sehingga jatuh lagi di pinggiran Lobutua sewaktu Garuda tebang lari menyelamatkan diri.
Begitulah perlawanan sampai pada hari ke enam, setiap perlawanan pasti naas bagi Garuda dan kepalasiluman nya selalu kena tebas dan jatuh di pinggiran lembah Lobutua, sehingga kepalanya yang tinggal hanya satu lagi yakni kepala aslinya yang biasa di pergunakan untuk memakan mangsanya.
Pada hari ketujuh kembali Sutan Bambang Patuanan berencana melakukan perlawanan dengan sang Garuda untuk mengetahui apakah Garuda masih hidup. Dia kembali memasang tungku dan menyalakan api untuk memancing perhatian Burung Garuda agar datang menyerang.
Setelah asap api mengepul ke udara perhatian Garuda tertujuh kepada sumber asap tersebut, sehingga dia kembali datang menyerang. Kali ini Garuda semakin ganas menyerang menumpahkan seluruh kekuatannya karena sudah enam hari menerima ke gagalan dan kesakitan, sehingga perlawanan semakin lama, semakin sengit dan terjadi hampir satu hari penuh.
Dewa penyelamat tetap berpihak kepada Sutan Bambang Patuanan dan naas bagi sang Garuda yang besar akhirnya Kepala asli Garuda tersebut kembali kena tebas dan putus, mengakibatkan burung tersebut mati menggelepar-gelepar dan jatuh di sebuah sungai dan kepala Aslinya kembali jatuh di pinggiran lembah Lobutua, melihat burung Garuda sudah tidak ada lagi, Sutan Bambang Patuanan kembali kedalam rumah peristirahatannya untuk memulihkan tenaga yang sudah habis terkuras dalam perlawanannya itu.
Besoknya pada hari kedelapan Sutan Bambang Patuanan keluar dari tempat peristirahatannya dan berjalan mengelilingi Lobutua untuk mengetahui apa gerangan yang terjadi, akhirnya dia menemukan tujuh kepala Burung Garuda yang jatuh di sekitar pinggiran lembah Lobutua dan bangkai Burung Garuda tersebut jatuh pada sebuah sungai.
Bangkai Burung Garuda yang jatuh di sungai lama kelamaan menjadi membusuk melihat hal itu Sutan Bambang Patuanan mengucap syukur kepada Dewa dan kembali ke tempat peristirahatan nya sambil memberitahukan kepada Putri Andam Dewi dan Inang Pengasuh bahwa mereka sudah aman karena Burung Garuda sudah dikalahkan.
Sutan Bambang Patuanan akhirnya di nikahkan dengan Putri Andam Dewi oleh Inang Pengasuh menajdi keluarga yang berbahagia. Sedangkan bangkai Burung yang jatuh di sungai lama-lama mengeluarkan bau busuk yang mencemari sungai tersebut akhirnya disebut Aek Busuk karena sungai itu mengeluarkan bau yang busuk sampai sekarang, sedangkan tujuh kepala Burung Garuda yang jatuh di lembah pinggiran Lobutua lama kelamaan menjadikan tujuh sumber mata air disekitar Lobutua yang dibuat menjadi sumur untuk keperluan kehidupan sehari-hari.
Nama Putri Andam Dewi sekarang di abaikan menjadi salah satu nama Kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah yang di mekarkan di Kecamatan Barus yaitu Kecamatan ANDAMDEWI.
Dari Barus hingga Pesisir Selatan, Rantai Sejarah Pasisia Panjang
Sebagian daerah-daerah yang disebut bagian dari Rantau Pasisia Panjang saat ini berlokasi jauh dari Kawasan Tiku Pariaman, bahkan beberapa berada di luar Propinsi Sumatera Barat saat ini, misalnya di Aceh Barat, Aceh Selatan, Tapanuli Tengah, Pesisir Mandailing Natal hingga Pesisir Nias Selatan. Namun sebaran dialek bahasa, kesamaan tradisi, fitur tertentu pada pakaian adat serta common folklore (kaba dan hikayat) antar daerah terlalu kentara untuk diabaikan. Bahkan dari sisi seni musik saja, terlihat benang merah yang tegas antara kesenian Sikambang di sepanjang Pesisir Barat Aceh dan Sibolga, hingga Rabab dan Seni Gamad di kawasan Tiku Pariaman, Padang dan Pesisir Selatan.
Dalam Trilogi Kaba : Sutan Manangkerang, Gombang Pertuanan dan Sutan Pangaduan, terdapat beberapa nama tokoh dan nama tempat di Rantau Pasisia Panjang yang sangat menarik untuk diamati baik dari sisi timeline maupun situasi yang digambarkan di sekitar kemunculan tokoh tersebut.
Puti Andam Dewi, kediaman di Taluak Kualo Aia Batu – Tapian Si Tabua Bungo (pesisir pantai). Saya identifikasi sebagai daerah di utara Barus Tapanuli Tengah atau di sekitar Sibolga. Puti Andam Dewi bersuamikan Rajo Nan Gombang Patuanan dan punya anak bernama Sutan Pangaduan. Di Utara Barus masih ada bukti sejarah berupa Sumur Puti Andam Dewi serta nama kecamatan yang bernama Andam Dewi. Bukti ini juga ditunjang hikayat cerita Andam Dewi dan serangan Garuda ke Barus yang dipercaya rakyat setempat. Prasasti Lobu Tua, berangka tahun 1088 M, yang terkenal itu juga ditemukan di kecamatan Andam Dewi ini. Selain itu, pantai yang berlokasi di muara sungai (kualo) dan memiliki hamparan batu karang dan batu besar juga terdapat di sekitar wilayah ini. Naskah OOAL menyebutkan: “Tapian banamo Si Tabua Bungo, di ateh awan nan kuniang, di hilia mungko duo pintu, di baruah galapuang condong, di tapi karang manjujua, di tangah karang malintang. Itulah kampuang tapian Tuan Puti Andam Dewi“.
Sutan Manangkerang (kakak Puti Andam Dewi), bergelar Tuanku Rajo Bujang yang merupakan Rajo di Ulak Tanjuang Medan Nagari Tanjuang Bingkuang. Inilah negeri asal Puti Andam Dewi dimana ayahnya yang bergelar Tuanku Rajo Mudo menjadi raja disana, lalu digantikan oleh kakak laki-lakinya. Nama daerah Ulak Tanjuang Medan mengindikasikan suatu wilayah yang berada di lekukan sungai serta memiliki kaki bukit yang menjorok ke dataran yang berada di tengah lekukan sungai tersebut. Daerah ini saya identifikasi berlokasi di Hulu Batang Gadis, kawasan Angkola Mandailing karena nama Tanjung Medan masih dipakai disana hingga saat ini. Kekuasaan Sutan Manangkerang diprediksi di sehiliran Batang Gadis dan Batang Natal. Wilayah yang amat luas. Jadi kakak beradik ini menguasai Mandailing Natal dan Pesisir Tapanuli Tengah. Kedua kawasan ini hingga saat ini masih memiliki kesamaan aspek budaya tertentu dengan wilayah Tiku Pariaman yang jauh di Selatan. Ini merupakan pertanda yang amat jelas atas hubungan sejarah masa lalu.
Rajo Nan Gombang Patuanan (Suami Andam Dewi, Ayah Sutan Pangaduan), bergelar juga Rajo Mudo, kemudian bergelar Tuanku Rajo Tuo. Ia merupakan Raja di Kualo Banda Mua – Pusek Jalo Pumpunan Ikan. Kualo Banda Mua adalah nama kuno dari Tiku Pariaman. Dalam Kaba Anggun Nan Tongga, nama Kualo Banda Mua sudah tidak digunakan lagi. Sudah berganti menjadi Tiku Pariaman. Saat Datuak Parpatiah turun ke Tiku Pariaman untuk menyebarkan Adat Pariangan, Tiku Pariaman masih dipimpin oleh raja yang bergelar Tuanku Rajo Tuo, gelar pusako turun temurun dari Rajo Nan Gombang Patuanan. Saat itu Tuanku Rajo Tuo didampingi wakil bernama Tuan Makhudum atau Patiah Makhudum/Mangkudun. Dalam Kaba disebutkan bahwa Rajo Nan Gombang Patuanan memiliki 3 orang istri yaitu :
(1) Puti Gondan Gantosori di Kualo Medan Baiak (Ulak Kampuang Dalam, Pariaman), memiliki anak bernama Sutan Lembak Tuah.
(2) Puti Andam Dewi di Taluak Kualo Aia Batu, memiliki anak bernama Sutan Pangaduan.
(3) Seorang perempuan Arab, memiliki anak bernama Puti Sari Makah. Dalam Hikayat Malim Dewa, Rajo Nan Gombang Patuanan disebutkan menjadi raja pula di Ulak Tanjuang Medan dan Taluak Kualo Aia Batu setelah berhasil mengalahkan “Garuda Berkepala Tujuh”, sosok yang meneror wilayah tersebut. Tentunya Garuda ini hanya perlambang saja dari serangan kerajaan lain.
Puti Gondan Gantosori (Istri pertama Rajo Nan Gombang Patuanan). Puti ini berkedudukan di Kualo Medan Baiak dan beristana di Ulak Kampuang Dalam Pariaman. Punya anak bernama Sutan Lembak Tuah. Kualo Medan Baiak juga merupakan Pusek Jalo Pumpunan Ikan. Medan Baiak berarti daerah datar yang luas serta bagus (subur, aman, baik untuk kehidupan), penamaan yang masih sesuai dengan karakter geografis daerah Pesisir Pariaman hingga sekarang.
Ibu dari Rajo Nan Gombang Patuanan (Nenek dari Sutan Pangaduan). Tokoh ini tidak disebutkan namanya, namun dia berkediaman di sebuah negeri bernama Kualo Pantai Caramin. Sebuah naskah tua mengungkapkan bahwa negeri ini merupakan cikal bakal wilayah Kerajaan Inderapura di Pesisir Selatan. Sutan Pangaduan dibesarkan disini. Fakta ini mengindikasikan telah terjadi perkawinan antara bangsawan Kualo Banda Mua (Tiku Pariaman) dengan bangsawan yang jauh di selatan sana, yaitu di Ranah Kualo Pantai Caramin (Inderapura).
Rajo Unggeh Layang (Raja yg menculik Andam Dewi). Kediaman Raja ini di Taluak Sinyalai Tambang Papan. Menurut kepercayaan orang Bandar Sepuluh, lokasi tempat ini adalah Kualo Sungai Nyalo di wilayah Tarusan, Pesisir Selatan.
Dari data-data di atas terlihat jelas keadaan sosial politik Rantau Pasisia Panjang di masa lalu. Persekutuan kerajaan lewat perkawinan terjadi lintas daerah yang terbentang sepanjang Pesisir Barat, sejak dari Kawasan Barus Sibolga (Pesisir Barat Tapanuli Tengah), Kawasan Mandailing Natal dan Angkola Tapanuli Selatan, Kawasan Tiku Pariaman, Kawasan Bandar Sepuluh hingga Kawasan Kerajaan Inderapura.
Tidaklah mengherankan jika kesemua daerah yang tersebut di atas, meskipun berjauhan namun saat ini memiliki banyak kesamaan yang dapat dilihat dari berbagai artefak budaya (bahasa, tradisi, pakaian, hikayat dsb).
Sejarah Panjang Rantau Pasisia Panjang dan Tiku Pariaman
Wilayah Pasisia Panjang adalah wilayah pantai yang memanjang dari Barus (mungkin juga termasuk Singkil) hingga Inderapura. Secara rantai sejarah, wilayah ini sudah amat tua dan dihuni bergenerasi manusia dari berbagai bangsa.
Selain memiliki penduduk asli yang keturunannya masih bisa diidentifikasi lewat kesamaan berbagai aspek sosial budaya, wilayah ini juga menerima beragam pengaruh dari bangsa-bangsa asing seperti India Selatan, Persia, Arab, Cina dan juga Eropa (terutama Portugis). Budaya Lokal yang memiliki pengaruh paling kuat pada Rantau Pasisia Panjang (selain budaya asli mereka) adalah Budaya Minangkabau dan Aceh, yang terjalin ratusan tahun lebih lewat berbagai peristiwa sejarah.
Berikut adalah ringkasan timeline sejarah Rantau Pasisia Panjang berdasarkan analisa naskah-naskah lama dan cerita tutur masyarakat, serta analisa terhadap artefak budaya yang ditinggalkan.
Era Puti Andam Dewi dan Rajo Nan Gombang Patuanan. Meskipun ini bukan awal dari segalanya, namun peristiwa-peristiwa penting banyak tercatat disini. Era ini menggambarkan persekutuan antar kerajaan di sepanjang Pasisia Panjang dari Utara (sekitar Barus) hingga Selatan (sekitar Inderapura). Kerajaan Utamanya ada 3 yaitu Ulak Tanjuang Medan (membawahi wilayah Mandailing Natal dan Pesisir Tapanuli Tengah sekarang), Kualo Banda Mua (Tiku) dan Kualo Medan Baiak (Pariaman). Disebut juga wilayah-wilayah selatan seperti Taluak Sinyalai (Sungai Nyalo) dan Kualo Pantai Caramin (sepanjang Pesisir Selatan hingga Inderapura). Era ini diperkirakan dimulai pada tahun 1080 M.
Era perkembangan keturunan Puti Andam Dewi. Saat ini daerah Tiku Pariaman bernama Galanggang Nan Tujuah atau dikenal pula dengan istilah Aia Nan Tujuah Payau (karena memang dialiri 7 aliran anak sungai). Era ini disebutkan sebagai era penyebaran orang Chaniago Mandaliko Siam ke 14 daerah (Bandar Natal, Tiku Pariaman, Sunua Kuraitaji, Sintuak Lubuak Aluang, Pauah Padang, Bayang, Tarusan, Sakek Batang Kapeh, Banda Nan Sapuluah, Alam Sungai Pagu). Penyebaran ini diperkirakan berlangsung dari tahun 1000 M hingga 1300 M. Pemberian nama keturunan Puti Andam Dewi sebagai kelompok Chaniago Mandaliko Siam sendiri merupakan inisiatif Datuak Parpatiah Nan Sabatang yang datang bersama Datuak Katumanggungan dan Datuak Sari Maharajo Nan Barnego Nego ke Tiku Pariaman pada sekitar 1325 M untuk menyebarkan Adat Minangkabau.
Era Kerajaan Tiku Pariaman (saat ini Barus sudah ditinggalkan). Pada Era ini yang berkuasa di Tiku Pariaman adalah Tuanku Rajo Tuo dan Tuan Makhudum. Gelar Tuanku Rajo Tuo adalah gelar turun temurun dari Rajo Nan Gombang saat negeri masih bernama Kualo Banda Mua. Namun Tambo Datuak Tuah dari daerah Payakumbuh menyebutkan, Tuanku Rajo Tuo juga merupakan cucu dari Datuak Katumanggungan yang ternyata memiliki anak dari istrinya di Tiku Pariaman. Informasi ini tidak terlalu umum ditemukan di dalam tambo-tambo arus utama terutama di wilayah darek. Sumber lokal lainnya menyebutkan Tuanku Rajo Tuo adalah anak dari Datuak Bandaro Kayo di Padang Panjang, Kemenakan dari Datuak di Ngalau dan ditanam oleh Datuak Sari Maharajo. Sumber lain menyebutkan bahwa Datuak Parpatiah turun ke Tiku Pariaman pada era ini, tidak berapa lama setelah peristiwa pertengkaran dengan kakaknya, Datuak Katumanggungan yang menghina asal-usul ayah Datuak Parpatiah yang cuma seorang saudagar dari Pesisir Barat, bukan kaum bangsawan dari Sriwijaya. Seluruh informasi di atas secara bersama-sama menguatkan fakta bahwa Tuanku Rajo Tuo sebenarnya lebih bersifat gelar tradisional dari Raja-Raja di Rantau Tiku Pariaman khususnya, sebelum era Pagaruyung. Perlu dicatat bahwa saat Anggun Nan Tongga Magek Jabang menjadi Raja Tiku Pariaman, belum ada disinggung soal Pagaruyung.
Era Migrasi Besar dari Darek (Kelompok Pertama), yaitu kelompok Niniak Tumangguang Putiah yang merupakan cicit Datuak Katumanggungan. Saat ini yang berkuasa di Pagaruyuang adalah Dinasti Balai Gudam. Kedatangan kelompok ini dipimpin oleh 3 orang yang menjadi Rajo di Tiku Pariaman. Inilah era rajo-rajo nan ditanam oleh Pagaruyung. Daerah Tiku Pariaman mulai dipanggil Rantau Mudiak, Rantau Rajo Alam, Suluah Nan Tujuah Tutuhan, Tujuah Tumpuak Sambilan Lareh. Perkiraan waktunya adalah pada tahun 1400-an hingga 1500-an.
Kemudian terjadilah insiden pertikaian Raja Pagaruyung dengan Kerajaan Aceh karena urusan utang piutang pasca pernikahan dengan Putri Aceh. Tiku Pariaman pun diserahkan kepada Aceh sebagai pembayar utang dan untuk menghindari serangan Aceh ke Pagaruyung. Hampir 150 tahun lamanya dibawah Aceh. Terjadi pula semenda menyemenda dengan pihak Aceh, tanpa intervensi Pagaruyung. Era ini dimulai pada paroh pertama tahun 1500-an dan berlangsung hingga 1643.
Setelah Aceh pergi karena diusir Belanda, Pagaruyung kembali mengirim wakil ke Tiku Pariaman, kali ini Sultan Maharajo Dewa (1643 M), anak yang dipertuan sendiri. Namun praktis kekuasaan de facto ada di tangan Belanda. Peristiwa penunjukan raja bawahan untuk Tiku Pariaman ini tercatat dalam naskah Tambo Sultan Nan Salapan. Bersamaan dengan penunjukan Raja oleh Pagaruyung, turut serta pula migrasi besar gelombang kedua dari Darek, terutama dari beberapa nagari di Luhak Agam dan Tanah Datar.
Pasca runtuhnya Pagaruyung setelah Perang Paderi (1837), Rantau Tiku Pariaman praktis seolah berdiri sendiri. Ikatan sosial mengecil ke level nagari. Meskipun solidaritas sesama orang Piaman Laweh masih terjaga. Hanya saja sejarah panjang kawasan Pasisia Panjang nyaris tak diingat lagi. Sudah macam katak dalam tempurung, lupa sejarah, tinggallah serpihannya dalam berbagai Kaba yang semakin terdistorsi pula oleh para tukang dendang.
Selain wilayah Tiku Pariaman, wilayah Pasisia Panjang yang lain seperti Barus Sibolga, Mandailing Natal, Pasaman Barat, Pauah Padang, Bayang, Tarusan, Sakek Batangkapeh dan Inderapura tentu memiliki cabang sejarahnya masing-masing pula yang menarik untuk dibahas pada lain waktu.
Negeri-negeri Kuno yang hilang di Pesisir Barat Sumatera
Dalam Tambo lamo dan Kaba-kaba Pesisir Barat, disebutkan puluhan negeri yang tak diketahui lagi keberadaannya. Antara lain disebutkan dalam Kaba Sutan Manangkerang dan Puti Andam Dewi, Kaba Rajo Nan Gombang Patuanan, Kaba Sutan Pangaduan dan Kaba Anggun Nan Tongga. Negeri2 tersebut sebagian ada yang berganti nama, namun banyak pula yang lenyap tanpa kabar berita, ditinggalkan penduduknya, diserang oleh penjajah Portugis atau negeri yang lebih kuat, atau dihantam bencana dari samudera.
Berikut nama-nama negeri yang tercatat dalam Tambo lamo dan Kaba-kaba dari wilayah Pesisir Barat Sumatra (daftarnya masih bisa bertambah) :
1. Pasak Palinggam
2. Palinggam Rayo
3. Ulak Tanjuang Medan
4. Ulak Tanjuang Bingkuang
5. Kualo Medan Baiak
6. Kualo Banda Mua
7. Kualo Pantai Caramin
8. Taluak Kualo Aia Batu
9. Taluak Sinyalai Tambang Papan
10. Tapian Lubuak Sitabua Bungo
11. Tapian Galanggang Nan Tujuah
12. Taluak Kualo Dalam
13. Kualo Banda Teleang
Imajiner Nuswantoro






