PRABU SINTAWAKA SAKING SERAT PUSTAKA RAJA PURWA (LAKON SINTAWAKA BERSIH DESA)

0

Prabu Sintawaka SaKING  serat pustaka raja purwa

(Lakon Sintawaka Bersih Desa)

 

 


 

Kisah ini menceritakan perjalanan Dewi Basundari mencari Jaka Wudug yang kabur dari rumah. Atas izin dewata, Dewi Basundari pun berubah menjadi laki-laki bernama Raden Sintawaka. Selanjutnya, Raden Sintawaka diambil sebagai anak angkat oleh Prabu Heryanarudra dan menjadi ahli waris Kerajaan Gilingaya dan melakukan Bersih Desa untuk membersihkan segala wabah penyakit.

Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Pustaka Raja Purwa karya Ngabehi Ranggawarsita dengan sedikit pengembangan.  \

 

 

Busur Bajra dan Panah Herawana

Sesampainya di Medang Kamulan, Raden Raditya dihalang-halangi oleh Raden Wukir putra Prabu Palindriya dari Dewi Landep, terjadilah perang tanding di antara mereka. Prabu Palindriya datang melerai yang sedang berkelahi. Raden Raditya menyembah dengan penuh hormat dan menyerahkan busur Bajra dan panah Herawana kepadanya. Prabu Palindriya tidak lupa bahwa kedua pusaka tersebut adalah miliknya dan selama ini tertinggal di Gunung Aswata. Melihat Raden Raditya yang tampan dan berilmu tinggi, Prabu Palindriya merasa sangat senang dan berniat menjadikannya sebagai menantu, yaitu akan dinikahkan dengan Dewi Sriyuwati (saudara kandung Raden Wukir).

 

Tiba-tiba saja datang Batara Narada turun dari kahyangan, dan meminta supaya perjodohan itu dibatalkan. Batara Narada menjelaskan bahwa Raden Raditya ini adalah putra Prabu Palindriya sendiri yang lahir dari Dewi Basundari, sehingga masih bersaudara tiri dengan Dewi Sriyuwati. Untuk itu, Raden Raditya tidak boleh dijodohkan dengan Dewi Sriyuwati, tetapi sebaiknya diangkat menjadi patih saja. Dengan gelar Patih Selacala.

 

Batara Narada juga menyampaikan pesan dari Batara Guru bahwa kelak Dewi Sriyuwati akan diangkat sebagai bidadari kahyangan dan menjadi istri Batara Guru sendiri. Prabu Palindriya merasa bersyukur dan mematuhi segala perintah Batara Guru tersebut. Setelah dirasa cukup, Batara Narada pun kembali ke kahyangan.

 

Setelah mendapatkan kekuatan baru, Prabu Palindriya pun memerintahkan Patih Selacala untuk memimpin pasukan Medang Kamulan menyerang Kerajaan Gilingaya. Prabu Palindriya juga meminjamkan busur Bajra dan panah Herawana kepada Patih Selacala sebagai senjata untuk mengalahkan Prabu Sintawaka.

 

Prabu Sintawaka dan Patih Anindyamantri menyambut serangan tersebut dengan kekuatan penuh. Terjadilah pertempuran besar, di mana pihak Gilingaya mengalami kekalahan telak. Mula-mula Patih Anindyamantri tewas di tangan Patih Selacala. Melihat menteri utamanya gugur, Prabu Sintawaka pun mengamuk mengerahkan segenap kesaktiannya. Patih Selacala membalas dengan melepaskan panah Herawana. Prabu Sintawaka terlempar tubuhnya ke angkasa dan jatuh di dalam Hutan Nastuti.

 

Meskipun terkena panah pusaka, Prabu Sintawaka tidak mati, tetapi kembali ke wujud wanita, yaitu Dewi Basundari seperti sedia kala. Ia lalu bersembunyi di dalam hutan menghindari kejaran pihak Medang Kamulan. Rupanya ia lupa bahwa dulu dewata telah mengubahnya menjadi laki-laki supaya lebih leluasa untuk mencari Jaka Wudug, dan kelak ia akan kembali menjadi wanita lagi jika sudah bertemu dengan putranya itu.

 

Tak disangka, Jaka Wudug sekarang sudah menjadi Patih Selacala dan pertarungan tadi telah mengembalikan wujud Prabu Sintawaka kembali menjadi Dewi Basundari. Akan tetapi, hal ini sama sekali tidak disadari oleh Dewi Basundari. Setelah kekalahan itu, ia pun membangun pondok di dalam Hutan Nastuti tersebut dan melanjutkan bertapa untuk bisa bertemu putranya yang lama hilang. Dalam pertapaannya tersebut dia kembali menggunakan nama Dewi Sinta untuk menyamarkan jati dirinya sebagai bidadari.

 

 

PRABU SINTAWAKA BERPERANG DENGAN PRABU PALINDRIYA

Prabu Sintawaka di Kerajaan Gilingaya dihadap Patih Anindyamantri dan para menteri lainnya. Mereka membicarakan datangnya surat tantangan dari Kerajaan Medang Kamulan, di mana Prabu Palindriya ingin membalas kematian ayahnya (Prabu Kandihawa) yang dulu tewas dibunuh Prabu Heryanarudra. Karena Prabu Heryanarudra juga telah meninggal karena wabah penyakit, maka pembalasan dendam pun ditujukan kepada anak angkatnya, yaitu Prabu Sintawaka.

Prabu Sintawaka yang tidak lain adalah penjelmaan Dewi Basundari menerima tantangan tersebut. Ia sendiri masih menyimpan dendam di dalam hati terhadap Prabu Palindriya yang telah mengkhianati perkawinan mereka dulu. Maka, ia pun memerintahkan Patih Anindyamantri supaya mempersiapkan pasukan perang untuk menghadapi serangan pihak lawan.

Beberapa hari kemudian pasukan Medang Kamulan yang dipimpin langsung oleh Prabu Palindriya datang menyerbu Kerajaan Gilingaya. Prabu Sintawaka menyambut serangan tersebut di mana ia sendiri yang turun tangan menghadapi Prabu Palindriya. Pertempuran terjadi cukup lama. Kedua pihak kalah dan menang silih berganti. Merasa pertahanan pihak Gilingaya terlalu kuat, Prabu Palindriya akhirnya menarik mundur pasukannya kembali ke Medang Kamulan.

 

 

RADEN RADITYA MENGAMBIL PUSAKA KE GUNUNG ASWATA

Sementara itu, Raden Raditya (Jaka Wudug) telah menamatkan pendidikannya di Padepokan Andongdadapan, dengan menyerap semua ilmu yang diajarkan Begawan Radi. Mendengar berita adanya peperangan antara Kerajaan Medang Kamulan dan Kerajaan Gilingaya, ia ingin sekali ikut membantu salah satu pihak. Menurutnya, yang layak dibantu adalah Prabu Palindriya karena yang memulai masalah adalah Kerajaan Gilingaya di zaman Prabu Heryanarudra dulu. Andai saja Prabu Heryanarudra tidak membunuh Prabu Kandihawa, tentu Prabu Palindriya tidak akan menyerang Prabu Sintawaka.

Begawan Radi mempersilakan Raden Raditya jika ingin membantu pihak Medang Kamulan, tetapi hendaknya jangan bersikap gegabah memamerkan kepandaian. Begawan Radi lalu bercerita bahwa Prabu Palindriya semasa mudanya bernama Raden Respati yang pernah bertapa di Gunung Aswata dan menerima pusaka pemberian Batara Indra, berupa busur Bajra dan panah Herawana. Ketika Prabu Paindriya bertakhta di Kerajaan Medang Kamulan, kedua pusaka itu masih tertinggal di Gunung Aswata. Begawan Radi menyarankan agar Raden Raditya pergi ke Gunung Aswata untuk mengambil kedua pusaka tersebut dan mempersembahkannya kepada Prabu Palindriya. Dengan cara inilah Raden Raditya kelak akan mendapatkan kejayaan.

Raden Raditya mohon restu kepada sang guru kemudian berangkat ke Gunung Aswata. Sesampainya di sana ia bertemu Patih Anindyamantri yang juga dikirim Prabu Sintawaka untuk mengambil kedua pusaka tersebut. Prabu Sintawaka yang tidak lain adalah penjelmaan Dewi Basundari rupanya masih ingat kalau busur Bajra dan panah Herawana milik Prabu Palindriya tertinggal di Gunung Aswata setelah digunakan untuk membunuh Naga Sindula dulu. Maka, Prabu Sintawaka pun berniat untuk menguasai kedua pusaka tersebut dan membawanya ke istana Gilingaya.

Setelah mencari ke sana kemari, Patih Anindyamantri berhasil menemukannya, tetapi ia tidak mampu mengangkat busur dan panah pusaka tersebut. Melihat kedatangan seorang pemuda yang juga ingin mengambil kedua pusaka itu, Patih Anindyamantri segera berusaha mengusirnya. Maka, terjadilah pertempuran antara Raden Raditya melawan Patih Anindyamantri dan para prajuritnya.

Raden Raditya berhasil mengatasi orang-orang Gilingaya tersebut, bahkan ia mampu merebut busur Bajra dan panah Herawana. Patih Anindyamantri merasa gentar melihat ada seorang pemuda remaja ternyata mampu mengangkat busur dan panah pusaka itu. Maka, ia pun mengajak pasukannya mundur kembali ke Gilingaya.

 

 

RADEN RADITYA BERSELINGKUH DENGAN DEWI SOMA

Setelah mendapatkan busur Bajra dan panah Herawana, Raden Raditya melanjutkan perjalanan menuju Kerajaan Medang Kamulan. Ketika melewati Padepokan Pantireja, ia berjumpa Dewi Soma, istri pertama Prabu Palindriya beserta ketiga anaknya, yaitu Raden Anggara, Raden Buda, dan Raden Sukra. Di tempat itu ia mendapatkan perjamuan yang sangat baik, bahkan Dewi Soma sangat menyukainya dan menganggapnya sebagai anak.

Melihat ketampanan Raden Raditya yang mirip Prabu Palindriya semasa muda, Dewi Soma pun terpesona kepadanya. Sejak sang suami berselingkuh dengan Dewi Basundari, ia tidak pernah lagi bertemu Prabu Palindriya, padahal dalam hati sangat merindukannya. Dewi Soma sama sekali tidak tahu kalau Raden Raditya yang kini tinggal di rumahnya itu adalah anak hasil perselingkuhan Prabu Palindirya dengan Dewi Basundari tersebut.

Setelah dirayu terus-menerus, Raden Raditya akhirnya goyah pendiriannya dan bersedia melayani nafsu birahi Dewi Soma. Tanpa sepengetahuan Raden Anggara, Raden Buda, dan Raden Sukra, mereka berdua pun melakukan hubungan perzinahan. Sebaliknya, ketiga putra Dewi Soma itu juga sama sekali tidak menaruh curiga karena sudah menganggap Raden Raditya sebagai adik sendiri.

 

 

RADEN RADITYA MENJADI PATIH SELACALA

Setelah beberapa hari tinggal di Padepokan Pantireja, Raden Raditya melanjutkan perjalanan dan tiba di Kerajaan Medang Kamulan. Di sana ia dihadang para putra Prabu Palindriya yang dipimpin Raden Wukir, karena dicurigai sebagai mata-mata Kerajaan Gilingaya. Terjadilah pertarungan di mana Raden Raditya berhasil mengalahkan para pangeran tersebut.

Prabu Palindriya datang melerai yang sedang berkelahi. Raden Raditya menyembah dengan penuh hormat dan menyerahkan busur Bajra dan panah Herawana kepadanya. Prabu Palindriya tidak lupa bahwa kedua pusaka tersebut adalah miliknya dan selama ini tertinggal di Gunung Aswata. Melihat Raden Raditya yang tampan dan berilmu tinggi, Prabu Palindriya merasa sangat senang dan berniat menjadikannya sebagai menantu, yaitu akan dinikahkan dengan Dewi Sriyuwati (saudari kandung Raden Wukir).

Setelah pengumuman itu disampaikan, tiba-tiba saja datang Batara Narada turun dari kahyangan, dan meminta supaya perjodohan itu dibatalkan. Batara Narada menjelaskan bahwa Raden Raditya ini adalah putra Prabu Palindriya sendiri yang lahir dari Dewi Basundari, sehingga masih bersaudara tiri dengan Dewi Sriyuwati. Untuk itu, Raden Raditya tidak boleh dijodohkan dengan Dewi Sriyuwati, tetapi sebaiknya diangkat menjadi patih saja.

Batara Narada juga menyampaikan pesan dari Batara Guru bahwa kelak Dewi Sriyuwati akan diangkat sebagai bidadari kahyangan dan menjadi istri Batara Guru sendiri. Prabu Palindriya merasa bersyukur dan mematuhi segala perintah Batara Guru tersebut. Setelah dirasa cukup, Batara Narada pun kembali ke kahyangan.

Sesuai perintah tadi, Prabu Palindriya lalu melantik Raden Raditya sebagai patih Kerajaan Medang Kamulan, bergelar Patih Selacala, yang bermakna “batu gunung”. Dewi Sriyuwati, Raden Wukir, dan para putra lainnya menerimanya sebagai saudara tua dan memanggil kakak kepadanya.

 

 

PATIH SELACALA MENGALAHKAN PRABU SINTAWAKA

Setelah mendapatkan kekuatan baru, Prabu Palindriya pun memerintahkan Patih Selacala untuk memimpin pasukan Medang Kamulan menyerang Kerajaan Gilingaya. Prabu Palindriya juga meminjamkan busur Bajra dan panah Herawana kepada Patih Selacala sebagai senjata untuk mengalahkan Prabu Sintawaka.

Prabu Sintawaka dan Patih Anindyamantri menyambut serangan tersebut dengan kekuatan penuh. Terjadilah pertempuran besar, di mana pihak Gilingaya mengalami kekalahan telak. Mula-mula Patih Anindyamantri tewas di tangan Patih Selacala. Melihat menteri utamanya gugur, Prabu Sintawaka pun mengamuk mengerahkan segenap kesaktiannya. Patih Selacala membalas dengan melepaskan panah Herawana. Prabu Sintawaka terlempar tubuhnya ke angkasa dan jatuh di dalam Hutan Nastuti.

Meskipun terkena panah pusaka, Prabu Sintawaka tidak mati, tetapi kembali ke wujud wanita, yaitu Dewi Basundari seperti sedia kala. Ia lalu bersembunyi di dalam hutan menghindari kejaran pihak Medang Kamulan. Rupanya ia lupa bahwa dulu dewata telah mengubahnya menjadi laki-laki supaya lebih leluasa untuk mencari Jaka Wudug, dan kelak ia akan kembali menjadi wanita lagi jika sudah bertemu dengan putranya itu.

Tak disangka, Jaka Wudug sekarang sudah menjadi Patih Selacala dan pertarungan tadi telah mengembalikan wujud Prabu Sintawaka kembali menjadi Dewi Basundari. Akan tetapi, hal ini sama sekali tidak disadari oleh Dewi Basundari. Setelah kekalahan itu, ia pun membangun pondok di dalam Hutan Nastuti tersebut dan melanjutkan bertapa untuk bisa bertemu putranya yang lama hilang.

 

 

PATIH SELACALA MENJADI PRABU WATUGUNUNG

Prabu Palindriya bersuka cita mendengar berita kemenangan Patih Selacala atas Kerajaan Gilingaya. Sejak saat itu, Kerajaan Gilingaya pun resmi menjadi negeri bawahan Kerajaan Medang Kamulan, dan Patih Selacala diangkat sebagai pemimpin di sana.

Sebagai raja bawahan, Patih Selacala kemudian mengganti namanya menjadi Prabu Watugunung. Tidak hanya itu, nama Kerajaan Gilingaya pun diganti pula menjadi Kerajaan Gilingwesi.

 

 

 

Prabu Watu gunung dan terciptanya pakuwon di penanggalan jawa

PRABU WATUGUNUNG HENDAK MELAMAR TUJUH BIDADARI DEMI DEWI SINTA

Batara Kala di Kahyangan Selamangumpeng dihadap para murid yang dipimpin Ditya Pulasya. Tidak lama kemudian datang Prabu Watugunung dari Kerajaan Gilingwesi bersama Patih Suwelacala dan Ditya Brekutu. Prabu Watugunung datang menghadap untuk menyampaikan permasalahannya, yaitu sang permaisuri Dewi Sinta sudah beberapa bulan ini tidak pernah lagi mau disentuh olehnya. Kadang sang istri mengaku sedang datang bulan, kadang mengaku sedang tidak enak badan. Sampai akhirnya, ketika Prabu Watugunung mengancam hendak menggunakan kekerasan, Dewi Sinta pun mengajukan syarat bahwa dirinya bersedia kembali melayani sang suami asalkan dimadu dengan tujuh bidadari unggulan Kahyangan Suralaya, yaitu Batari Supraba, Batari Wilutama, Batari Warsiki, Batari Surendra, Batari Gagarmayang, Batari Irimirim, dan Batari Tunjungbiru.

Batara Kala heran mendengar kisah tersebut dan menasihati Prabu Watugunung supaya tidak usah mengabulkan permintaan aneh Dewi Sinta itu. Namun, perasaan cinta Prabu Watugunung terhadap Dewi Sinta sudah terlalu mendalam, dan ia rela melakukan apa saja demi mendapatkan kembali cinta kasih sang permaisuri. Bahkan, Patih Suwelacala juga ikut kena marah karena menyarankan supaya Prabu Watugunung menahan diri dan tidak terlalu menuruti hawa nafsu.

Prabu Watugunung lalu menjelaskan maksud dan tujuannya menghadap Batara Kala adalah untuk meminta petunjuk bagaimana caranya mengabulkan permintaan aneh tersebut. Batara Kala akhirnya bersedia membantu Prabu Watugunung. Ia menjelaskan bahwa manusia biasa tidak mungkin menikah dengan bidadari, kecuali orang yang memiliki jasa sangat besar terhadap kahyangan. Maka, sebaiknya Prabu Watugunung mempersembahkan hadiah kepada Batara Indra sebagai pengganti jasa, dan hadiah itu bisa berupa busur Bajra dan panah Herawana.

Meskipun busur Bajra dan panah Herawana adalah benda pusaka warisan ayahnya (Prabu Palindriya), tapi Prabu Watugunung rela kehilangan keduanya demi mewujudkan permintaan Dewi Sinta. Batara Kala lalu mengutus Ditya Pulasya dan Ditya Brekutu untuk menyerahkan kedua pusaka itu kepada Batara Indra di Kahyangan Suralaya. Setelah kedua raksasa berangkat, Prabu Watugunung lalu mohon pamit pulang ke Kerajaan Gilingwesi.

 

 

BATARA INDRA MENOLAK LAMARAN PRABU WATUGUNUNG

Ditya Pulasya dan Ditya Brekutu telah sampai di Kahyangan Suralaya dan langsung menghadap Batara Indra. Kedua raksasa ayah dan anak itu lalu mempersembahkan busur Bajra dan panah Herawana supaya ditukar dengan tujuh bidadari unggulan. Batara Indra menerima kedua pusaka itu dan menjelaskan bahwa busur Bajra dan panah Herawana dulunya memang milik Kahyangan Suralaya sebelum dihadiahkan kepada mendiang Prabu Palindriya saat masih bernama Raden Respati. Jika Prabu Watugunung mengembalikan kedua pusaka itu kepada Kahyangan Suralaya, maka Batara Indra tetap menganggapnya sebagai sebuah jasa. Batara Indra pun berjanji kelak jika Prabu Watugunung meninggal, maka jiwanya akan diangkat sebagai dewa dan mendapatkan istri bidadari.

Ditya Pulasya dan Ditya Brekutu mohon pamit meninggalkan Kahyangan Suralaya untuk melapor kepada Prabu Watugunung. Namun, di tengah jalan Ditya Pulasya merasa ada yang aneh pada keputusan Batara Indra tadi. Padahal, Batara Indra telah menerima busur Bajra dan panah Herawana, tetapi mengapa ia menunda untuk mengabulkan permohonan Prabu Watugunung? Ditya Pulasya lalu mengajak Ditya Brekutu dan segenap pasukan raksasa yang mengawal untuk kembali ke Kahyangan Suralaya.

Para raksasa itu menghadap Batara Indra dan meminta supaya ketujuh bidadari diserahkan saat ini juga. Batara Indra marah dan mengerahkan pasukan Dorandara. Terjadilah pertempuran di mana pasukan raksasa berhasil dipukul mundur keluar dari Kahyangan Suralaya. Ditya Pulasya lalu mendirikan perkemahan di kaki Gunung Jamurdipa, sedangkan Ditya Brekutu diperintah untuk pulang dan melapor kepada Prabu Watugunung.

 

 

PRABU WATUGUNUNG MENGIRIM BALA BANTUAN

Ditya Brekutu telah sampai di Kerajaan Gilingwesi dan langsung menghadap Prabu Watugunung. Saat itu Prabu Watugunung sedang menerima kedatangan sekutunya, yaitu Prabu Santakya, raja raksasa Kerajaan Malawa. Mendengar laporan Ditya Brekutu, bahwa Batara Indra tidak bersedia menyerahkan ketujuh bidadari, Prabu Watugunung menjadi sangat marah. Ia lalu memerintahkan Prabu Santakya untuk memimpin pasukan menyerang Kahyangan Suralaya.

Sebelum berangkat, Prabu Santakya meminta dibantu para arya yang memiliki sifat seperti harimau, gajah, kambing, kera, ular, dan banteng. Prabu Watugunung lalu memilih enam orang adiknya, yaitu Arya Kurantil yang bersifat seperti harimau, Arya Julungwangi yang bersifat seperti gajah, Arya Mandasiya yang bersifat seperti kambing, Arya Tambir yang bersifat seperti kera, Arya Prangbakat yang bersifat seperti ular, dan Arya Dukut yang bersifat seperti banteng. Prabu Santakya sendiri juga menunjuk empat orang raksasa anak buahnya sebagai para pemimpin pasukan, yaitu Ditya Pragalba, Ditya Prabata, Ditya Keswari, dan Ditya Arimoha. Setelah pasukan siap, mereka pun berangkat menyerang Kahyangan Suralaya untuk membantu Ditya Pulasya.

 

 

RESI SATMATA MENERIMA TUGAS MENGAMANKAN KAHYANGAN

Batara Indra di Kahyangan Suralaya menerima kunjungan Batara Guru dan Batara Narada dari Kahyangan Jonggringsalaka. Batara Guru menjelaskan bahwa Batara Indra tidak mungkin bisa mengalahkan Prabu Watugunung yang dilindungi Batara Kala. Satu-satunya yang bisa mengalahkan raja Gilingwesi itu hanyalah Batara Wisnu yang saat ini sedang menjelma sebagai Resi Satmata. Batara Indra mematuhi nasihat tersebut. Batara Guru lalu meminta Batara Narada untuk mencari dan menjemput Resi Satmata. Batara Narada pun mohon pamit dan berangkat melaksanakan tugas tersebut.

Resi Satmata sendiri sedang menjalani tapa rame, dengan menjadi dukun pengobatan yang hidup berpindah-pindah. Kali ini ia bertempat tinggal di Gunung Candrageni (sekarang Gunung Merapi), dan sedang menerima kedatangan tiga orang adik iparnya, yaitu Batara Laksmanasadu, Batara Penyarikan, dan Batara Satyawaka. Mereka bertiga ikut prihatin atas hukuman pengasingan yang dijalani Resi Satmata akibat kemarahan Batara Guru. Padahal, kejadian itu sudah belasan tahun berlalu, tapi mengapa sampai sekarang Batara Guru belum juga memberikan pengampunan padanya?

Tidak lama kemudian, Batara Narada datang di Gunung Candrageni. Resi Satmata dan ketiga adik iparnya menyembah dengan hormat. Batara Narada menjelaskan bahwa kedatangannya adalah untuk menjemput Resi Satmata sebagai jago Kahyangan Suralaya menghadapi serangan bala tentara Prabu Watugunung. Resi Satmata sangat gembira karena hal ini bisa menjadi sarana baginya untuk memperoleh pengampunan Batara Guru.

Setelah Batara Narada kembali ke kahyangan, Resi Satmata segera memanggil kendaraannya yang berwujud kuda sembrani berwarna putih bersih. Ia pun mengendarai kuda itu dengan berboncengan sekaligus bersama ketiga adik iparnya meninggalkan Gunung Candrageni.

 

 

RESI SATMATA BERTEMU DEWI SRIYUWATI DAN RADEN SRIGATI

Dalam perjalanan terbang mengendarai kuda sembrani, rombongan Resi Satmata melewati sebuah desa bernama Waringinsapta. Di desa itu Resi Satmata melihat istrinya, yaitu Dewi Sriyuwati sedang duduk bersama seorang pemuda remaja di halaman rumah. Resi Satmata sangat marah dan langsung turun ke darat untuk menanyai istrinya itu. Namun, Dewi Sriyuwati dengan tenang menjelaskan bahwa pemuda remaja itu adalah anak mereka sendiri.

Ternyata dulu sewaktu Resi Satmata pergi meninggalkan padepokan di Hutan Kuyana, saat itu Dewi Sriyuwati sedang hamil muda. Kini anak yang dikandung itu telah tumbuh menjadi remaja tampan dan diberi nama Raden Srigati. Resi Satmata pun meminta maaf atas kesalahannya dulu yang pergi tanpa pamit karena tidak ingin melibatkan Dewi Sriyuwati dalam menjalani hukuman pengasingan. Ia sengaja berbuat demikian supaya sang istri kembali ke istana Medang Kamulan, atau mungkin bergabung dengan saudaranya, yaitu Patih Suwelacala di Kerajaan Gilingwesi.

Tak disangka, Dewi Sriyuwati ternyata memilih untuk pergi mencari ke mana Resi Satmata pergi. Dalam keadaan hamil ia terlunta-lunta sampai akhirnya memasuki Desa Waringinsapta. Di desa inilah ia melahirkan Raden Srigati dan hidup membaur bersama rakyat jalata.

Resi Satmata sangat terharu mendengar cerita Dewi Sriyuwati. Ia berjanji tidak akan meninggalkan anak dan istrinya lagi. Namun, saat ini ia harus menjalankan tugas dari Batara Guru terlebih dulu, yaitu menumpas Prabu Watugunung yang telah menjadi musuh kahyangan. Kelak setelah memenangkan pertempuran dan mendapat pengampunan, maka ia berjanji akan datang lagi untuk menjemput Dewi Sriyuwati dan Raden Srigati. Ia juga memperkenalkan ketiga dewa yang menyertainya kali ini adalah tiga orang adik iparnya saat menjadi Batara Wisnu di Kahyangan Utarasegara. Mereka adalah Batara Laksmanasadu adik Batari Srilaksmi, Batara Penyarikan adik Batari Sriyati, dan Batara Setyawaka adik Batari Srisatyawarna.

Dewi Sriyuwati mendoakan supaya sang suami memenangkan pertempuran. Namun, ia juga memiliki permintaan supaya Resi Satmata jangan membunuh saudara kandungnya, yaitu Patih Suwelacala. Resi Satmata menyanggupi permintaan tersebut. Ia lalu berangkat bersama ketiga adik iparnya menuju Gunung Mahameru, tempat Kahyangan Suralaya berada.

 

 

RADEN SRIGATI MENUMPAS PARA RAKSASA

Resi Satmata, Batara Laksmanasadu, Batara Penyarikan, dan Batara Setyawaka telah sampai di Kahyangan Suralaya dan menghadap Batara Guru. Tampak para dewa lainnya sudah berkumpul di sana, antara lain Batara Narada, Batara Indra, Batara Surya, Batara Brahma, Batara Bayu, Batara Yamadipati, dan Batara Wrehaspati.

Batara Guru terkesan melihat perbuatan mulia Resi Satmata dengan menjadi dukun pengobatan yang menolong masyarakat tanpa pilih kasih. Batara Guru pun memberikan pengampunan atas segala kesalahan Resi Satmata, serta merestui perkawinan putranya itu dengan Dewi Sriyuwati yang dulu sempat membuatnya sangat murka. Resi Satmata bersyukur, dan ia pun mohon restu hendak keluar menghadapi bala tentara Kerajaan Gilingwesi.

Tiba-tiba di luar sudah terdengar adanya pertempuran. Ternyata Raden Srigati diam-diam menyusul ayahnya naik ke Kahyangan Suralaya dan langsung bertarung melawan para raksasa Kerajaan Malawa. Meskipun selama ini tinggal di desa, namun pada dasarnya ia adalah putra Batara Wisnu sehingga memiliki kesaktian alami sejak lahir. Prabu Santakya dan keempat punggawanya akhirnya tewas satu persatu di tangan Raden Srigati.

Arya Kurantil dan kelima adiknya segera maju menyerang Raden Srigati. Kali ini Raden Srigati merasa kewalahan dan terdesak menghadapi keenam punggawa yang masih terhitung pamannya itu. Melihat putranya terdesak, Resi Satmata segera terjun ke pertempuran dan berhasil menewaskan keenam arya tersebut.

 

 

PRABU WATUGUNUNG TERJUN KE PERTEMPURAN

Prabu Watugunung, Batara Kala, Patih Suwelacala, beserta para arya lainnya datang menyusul ke Kahyangan Suralaya. Saat itu yang tertinggal menjaga istana hanyalah Danghyang Suktina. Melihat bala tentara Gilingwesi dan Malawa telah dihancurkan oleh Resi Satmata dan Raden Srigati, mereka sangat marah dan langsung terjun ke medan pertempuran. Para arya pun maju mengeroyok Resi Satmata, namun mereka satu persatu jatuh berguguran menemui ajal terkena senjata Cakra Sudarsana.

Prabu Watugunung sangat marah melihat semua adiknya tewas, kecuali Patih Suwelacala. Batara Kala dapat melihat bahwa Resi Satmata tidak lain adalah penjelmaan Batara Wisnu. Maka, ia segera merasuki tubuh Prabu Watugunung untuk menjadikannya lebih kuat. Prabu Watugunung kemudian maju menghadapi lawan. Resi Satmata pun melepaskan senjata Cakra Sudarsana namun ternyata tidak mampu melukai kulit raja Gilingwesi itu.

Maka, terjadilah pertarungan sengit antara Resi Satmata melawan Prabu Watugunung. Keduanya terlihat sama-sama kuat dan sama-sama sakti. Prabu Watugunung yang sudah dirasuki Batara Kala dapat mengubah wujudnya menjadi raksasa sebesar gunung dan mengamuk merusak bangunan Kahyangan Suralaya. Resi Satmata pun mengimbanginya dengan bertriwikrama menjadi raksasa yang lebih besar lagi. Dalam pertempuran tersebut, raksasa penjelmaan Resi Satmata berhasil mengeluarkan Batara Kala dan mengusirnya pergi, sehingga membuat Prabu Watugunung kembali ke wujud semula.

 

 

PRABU WATUGUNUNG DIHUKUM MATI

Meskipun telah ditinggal Batara Kala, namun Prabu Watugunung tetap tangguh dan tidak dapat dibunuh. Resi Satmata yang telah kembali ke wujud manusia segera menghentikan pertempuran. Ia lalu menantang Prabu Watugunung adu kepandaian daripada bertarung tanpa akhir. Prabu Watugunung diminta mengajukan sebuah teka-teki, dan Resi Satmata siap menjawabnya. Jika teka-teki itu bisa ditebak, maka Prabu Watugunung harus dihukum mati. Tapi jika teka-teki itu tidak dapat ditebak, maka Prabu Watugunung boleh pulang dengan membawa tujuh bidadari unggulan.

Prabu Watugunung menerima tantangan Resi Satmata. Ia lalu mengajukan sebuah teka-teki untuk diterjemahkan Resi Satmata dan ditafsirkan apa maknyanya. Teka-teki itu berbunyi:

“Supila silapa, supila kupala, kupila supala."

Resi Satmata menjawab bahwa arti dari teka-teki itu adalah:

“Wit dhakah woh dhakah (pohon besar, buah besar); wit dhakah who dhikih (pohon besar, buah kecil); dan wit dhikih who dhakah (pohon kecil, buah besar).”

Adapun tafsir dari teka-teki tersebut adalah:

Pohon besar buahnya besar adalah kelapa. Maknanya ialah jika Prabu Watugunung tewas, maka anak keturunannya tidak boleh dibunuh dan harus dimuliakan.

Pohon besar buahnya kecil adalah beringin. Maknanya ialah jika Prabu Watugunung tewas, maka istrinya jangan sampai diganggu.

Pohon kecil buahnya besar adalah semangka. Maknanya ialah kedudukan para arya yang gugur supaya diwariskan kepada anak-anak mereka.

Prabu Watugunung terkesan pada jawaban Resi Satmata dan ia pun merelakan dirinya untuk dihukum mati. Namun, Resi Satmata mengaku tidak tahu bagaimana caranya bisa membunuh raja Gilingwesi itu. Prabu Watugunung pun menjelaskan bahwa segala kesaktiannya berasal dari ajaran Begawan Radi, dan hanya Begawan Radi yang mengetahui apa kelemahannya.

Resi Satmata lalu menemui Batara Surya yang dulu pernah turun ke dunia sebagai Begawan Radi. Batara Surya diminta untuk menjelaskan apa kelemahan Prabu Watugunung. Batara Surya tak kuasa menolak dan ia terpaksa mengatakan bahwa muridnya itu hanya bisa dibunuh dengan Kereta Jatisurya miliknya.

Resi Satmata lalu meminjam Kereta Jatisurya milik Batara Surya itu dan segera mengendarainya untuk melindas tubuh Prabu Watugunung. Raja Gilingwesi itu pun tewas dengan tubuh lumat dan kemudian berubah menjadi bukit.

 

 

ASAL MULA TERCIPTANYA PAWUKON

Patih Suwelacala yang dibiarkan hidup oleh Resi Satmata segera pulang ke Kerajaan Gilingwesi untuk melapor kepada Dewi Sinta perihal kematian Prabu Watugunung. Mendengar laporan itu, Dewi Sinta pun menangis keras-keras hingga suara jeritannya terdengar sampai ke Kahyangan Suralaya.

Batara Narada datang dari kahyangan untuk menenangkan wanita itu. Dewi Sinta memohon kepada Batara Narada supaya para dewa mengampuni kesalahan Prabu Watugunung, yaitu suami sekaligus putranya tersebut. Batara Narada mengatakan bahwa Batara Guru telah mengampuni dosa-dosa Prabu Watugunung dan berniat mengangkat rohnya naik ke kahyangan. Tidak hanya itu, satu persatu roh anggota keluarga Prabu Watugunung juga akan diangkat ke kahyangan setiap tujuh hari sekali pada hari Radite.

Dewi Sinta sangat bersyukur. Maka, pada hari Radite pekan ini ia dijemput Batara Yamadipati untuk diangkat ke kahyangan. Tujuh hari kemudian giliran Dewi Landep (adik Dewi Sinta, atau ibu kandung Dewi Sriyuwati dan Patih Suwelacala) yang dijemput naik ke kahyangan. Pada hari Radite berikutnya, Patih Suwelacala dikembalikan namanya menjadi Arya Wukir dan dijemput naik ke kahyangan. Tujuh hari kemudian giliran roh Arya Kurantil yang dijemput, disusul dengan roh para arya lainnya setiap hari Radite, sampai akhirnya giliran roh Prabu Watugunung yang dijemput sebagai penutup. Dengan demikian lengkap sudah tiga puluh roh telah dijemput naik ke kahyangan setiap tujuh hari sekali.

Untuk mengenang peristiwa tersebut, Batara Surya lalu menciptakan sebuah penanda waktu baru untuk memperkaya tata cara penanggalan di Pulau Jawa. Penanda waktu ini disebut pawukon yang berjumlah tiga puluh wuku, di mana setiap wuku terdiri atas tujuh hari, mulai hari Radite sampai hari Saniscara. Ketiga puluh wuku tersebut adalah :

1.     Wuku Sinta

2.     Wuku Landep

3.     Wuku Wukir

4.     Wuku Kurantil

5.     Wuku Tolu

6.     Wuku Gumbreg

7.     Wuku Warigalit

8.     Wuku Warigagung

9.     Wuku Julungwangi

10. Wuku Julungsungsang

11. Wuku Galungan

12. Wuku Kuningan

13. Wuku Langkir

14. Wuku Mandasiya

15. Wuku Julungpujud

16. Wuku Pahang

17. Wuku Kuruwelut

18. Wuku Marakeh

19. Wuku Tambir

20. Wuku Medangkungan

21. Wuku Maktal

22. Wuku Wuye

23. Wuku Manahil

24. Wuku Prangbakat

25. Wuku Bala

26. Wuku Wugu

27. Wuku Wayang

28. Wuku Kulawu

29. Wuku Dukut

30. Wuku Watugunung

 

 

BATARA BRAHMA DITUNJUK MENJADI RAJA GILINGWESI

Batara Guru sangat senang atas keberhasilan Resi Satmata alias Batara Wisnu dalam usahanya mengamankan Pulau Jawa dari kejahatan Batara Kala. Sebagai hadiah, Kerajaan Gilingwesi pun diserahkan kepada Batara Wisnu. Akan tetapi, Batara Wisnu mengusulkan supaya Kerajaan Gilingwesi diserahkan kepada Batara Brahma saja, karena negeri itu dulunya bernama Medang Gili yang didirikan oleh kakaknya tersebut. Batara Wisnu mengaku sudah sangat bahagia bisa mendapatkan restu dan pengampunan dari Batara Guru, dan jika ia diizinkan kembali menjadi raja Medang Kamulan, baginya itu sudah lebih dari cukup.

Maka, Batara Guru pun menyerahkan Kerajaan Gilingwesi kepada Batara Brahma supaya menjadi raja di sana. Untuk itu, Batara Brahma lalu menggunakan gelar Prabu Brahmaraja, sedangkan Batara Wisnu (Resi Satmata) kembali menjadi raja Medang Kamulan dengan bergelar Prabu Wisnupati.

 

 

KELAHIRAN ANAK-ANAK PRABU PALINDRIYA

Prabu Palindriya di Kerajaan Medang Kamulan sedang menunggu kelahiran anak-anaknya. Sungguh suatu kebetulan, sang permaisuri Dewi Landep dan para selir yang berjumlah dua puluh enam itu semuanya sedang mengandung bersamaan.

 

Ketika waktunya tiba, Dewi Landep pun melahirkan sepasang bayi perempuan dan laki-laki. Yang perempuan diberi nama Dewi Sriyuwati, sedangkan yang laki-laki diberi nama Raden Wukir.

 

Selang tujuh hari kemudian seorang selir melahirkan bayi laki-laki, disusul kemudian selir yang lain melahirkan bayi laki-laki pula pada tujuh hari berikutnya. Demikianlah, setiap tujuh hari sekali seorang selir Prabu Palindriya melahirkan seorang anak, sehingga tuntas kedua puluh enam putra pun lahir ke dunia dalam waktu dua puluh enam pekan setelah Dewi Landep melahirkan.

 

Kedua puluh enam putra Prabu Palindriya yang lahir daris selir itu masing-masing diberi nama Raden Kurantil, Raden Tolu, Raden Gumbreg, Raden Warigalit, Raden Warigagung, Raden Julungwangi, Raden Julungsungsang, Raden Galungan, Raden Kuningan, Raden Langkir, Raden Mandasiya, Raden Julungpujud, Raden Pahang, Raden Kuruwelut, Raden Marakeh, Raden Tambir, Raden Medangkungan, Raden Maktal, Raden Wuye, Raden Manahil, Raden Prangbakat, Raden Bala, Raden Wugu, Raden Wayang, Raden Kulawu, dan Raden Dukut.

 

Prabu Palindriya mendadak teringat pada permaisuri pertama, yaitu Dewi Sinta yang telah kabur entah ke mana. Saat meninggalkan Kerajaan Medang Kamulan dulu, Dewi Sinta sedang dalam keadaan hamil tua dan tentunya saat ini ia sudah melahirkan.

 

 

DEWI BASUNDARI MENGUSIR JAKA WUDUG

Di Desa Cangkring, Dewi Sinta yang telah memakai nama Dewi Basundari hidup sebagai rakyat jelata. Putranya yang bernama Jaka Wudug sudah berusia dua tahun dan diasuhnya seorang diri. Pada suatu hari Jaka Wudug menangis keras-keras minta makan. Saat itu Dewi Basundari masih sibuk menanak nasi. Karena kehilangan kesabarannya, Dewi Basundari pun memukul kepala Jaka Wudug menggunakan centong. Jaka Wudug ketakutan dan lari meninggalkan ibunya dengan kepala terluka di bagian belakang.

 

Dewi Basundari meneruskan memasak makanan. Ketika semuanya telah matang, ternyata Jaka Wudug sudah hilang entah ke mana. Dewi Basundari mencari putranya itu ke mana-mana namun tidak juga bertemu. Ia merasa sangat menyesal mengapa tadi kehilangan kesabaran dan memukul putra satu-satunya itu. Rupanya sifatnya yang suka kabur kini telah menurun kepada Jaka Wudug. Barulah sekarang ia dapat membayangkan betapa sedih perasaan ayahnya dulu ketika ia kabur dari Kahyangan Saptapratala.

 

 

DEWI BASUNDARI DIUBAH MENJADI LAKI-LAKI

Karena tidak berhasil menemukan anaknya, Dewi Basundari lalu bertapa memohon bantuan dewata. Ia merasa kesulitan jika harus berkelana dalam wujud wanita dan ingin berganti kelamin menjadi laki-laki supaya lebih leluasa dalam mencari Jaka Wudug.

 

Setelah beberapa hari bertapa tekun tanpa makan, tanpa tidur, akhirnya permohonan Dewi Basundari dikabulkan dewata. Ia didatangi Batara Narada yang membawa anugerah Batara Guru untuk mengubah wujudnya menjadi laki-laki. Secara ajaib, Dewi Basundari pun seketika berubah menjadi seorang laki-laki dan diberi nama baru, yaitu Raden Sintawaka.

 

Batara Narada lalu memberikan pelajaran ilmu kesaktian kepada Raden Sintawaka sebagai bekal menempuh perjalanan. Setelah itu, Batara Narada pun berpesan supaya Raden Sintawaka pergi ke Kerajaan Gilingaya dan mengabdi kepada Prabu Heryanarudra. Kelak, Raden Sintawaka akan kembali menjadi wanita jika sudah bertemu dengan Jaka Wudug di negeri tersebut.

 

Raden Sintawaka berterima kasih atas anugerah dewata, dan ia pun mohon restu berangkat menuju Kerajaan Gilingaya yang terletak di arah barat.

 

 

JAKA WUDUG MENJADI ANAK ANGKAT RESI BAGASPATI

Sementara itu, Jaka Wudug yang kabur meninggalkan rumah ternyata berlari ke arah Sungai Serayu. Karena kurang berhati-hati, kakinya pun terpeleset sehingga tubuhnya tercebur dan hanyut dibawa arus sungai tersebut. Itulah sebabnya mengapa sang ibu sama sekali tidak dapat menemukan keberadaannya.

 

Setelah beberapa hari hanyut terapung-apung dibawa aliran sungai, Jaka Wudug akhirnya ditemukan oleh seorang pendeta bernama Resi Bagaspati yang bertapa di tepi Sungai Serayu. Resi Bagaspati sangat heran melihat ada anak kecil berusia dua tahun hanyut di sungai tapi masih tetap hidup. Ketika Jaka Wudug siuman dari pingsan, Resi Bagaspati pun menanyai asal-usulnya. Namun, Jaka Wudug hanya bisa menyebutkan namanya tapi tidak dapat menceritakan dari mana ia berasal.

 

Resi Bagaspati sangat prihatin melihat keadaan anak kecil tersebut, sekaligus kagum dan heran pula melihat kemampuannya bertahan hidup. Karena tidak tahu harus diantar pulang ke mana, Resi Bagaspati pun memutuskan untuk merawat Jaka Wudug dan menjadikannya sebagai anak angkat.

 

 

RADEN SINTAWAKA BERTEMU PRABU HERYANARUDRA

Prabu Heryanarudra di Kerajaan Gilingaya suka bertani dan gemar memelihara binatang, yaitu sifat yang mirip dengan mendiang Sri Maharaja Kanwa. Pada suatu hari ia pergi ke hutan untuk memikat burung. Dilihatnya banyak burung bertengger pada dahan pohon aren. Prabu Heryanarudra lalu memerintahkan para prajurit untuk menebang dahan tersebut. Ketika ditebang, ternyata dari pohon aren itu memancar air nira yang manis rasanya.

 

Prabu Heryanarudra merasa senang ketika mencicipi air nira tersebut. Ia lalu memerintahkan para prajurit untuk mengumpulkan air nira sebanyak-banyaknya untuk dibawa pulang dan dimasak menjadi gula. Itulah awal mula masyarakat Jawa mengenal pembuatan gula aren.

 

Dalam perjalanan pulang ke istana Gilingaya, rombongan Prabu Heryanarudra diserang sekelompok harimau. Para prajurit banyak yang terluka karena diterkam dan dicakar binatang buas tersebut. Tiba-tiba muncul Raden Sintawaka membantu mengalahkan dan mengusir kawanan harimau tersebut, sehingga kembali masuk ke dalam hutan.

 

Prabu Heryanarudra sangat senang menerima bantuan pemuda berwajah tampan itu yang bisa mengusir kawanan harimau tanpa melukai mereka sedikit pun. Ketika Raden Sintawaka menyampaikan niatnya ingin mengabdi pada Kerajaan Gilingaya, Prabu Heryanarudra langsung menerimanya.

 

 

PRABU HERYANARUDRA MENINGGAL KARENA WABAH

Sudah bertahun-tahun lamanya Raden Sintawaka mengabdi kepada Prabu Heryanarudra namun belum juga menemukan tanda-tanda keberadaan Jaka Wudug, putranya. Justru yang terjadi adalah hubungannya dengan Prabu Heryanarudra yang semakin akrab bagaikan anak dan ayah. Prabu Heryanarudra memang tidak memiliki putra dan ia telah menunjuk Raden Sintawaka menjadi ahli warisnya jika meninggal kelak.

 

Pada suatu ketika, Kerajaan Gilingaya terserang wabah penyakit. Banyak penduduk yang mati menjadi korban. Prabu Heryanarudra turun tangan secara langsung untuk memberikan bantuan kepada para penduduk yang menderita. Akibatnya, ia pun ikut tertular wabah penyakit tersebut dan meninggal pula beberapa hari kemudian.

 

Sesuai wasiat Prabu Heryanarudra sebelum meninggal, takhta Kerajaan Gilingaya pun diwariskan kepada Raden Sintawaka sebagai raja selanjutnya. Patih Anindyamantri dan para menteri semua tunduk dan menyatakan dukungan mereka.

 

 

PRABU SINTAWAKA MENGADAKAN BERSIH DESA

Prabu Sintawaka lalu mengajak Patih Anindyamantri dan para menteri berunding mencari cara untuk menghentikan wabah penyakit tersebut. Patih Anindyamantri bercerita bahwa semasa muda Prabu Heryanarudra bernama Raden Jakapuring pernah berguru bersama kakaknya yang bernama Raden Pakukuhan kepada seorang brahmana di Gunung Tasik. Brahmana itu bernama Begawan Radi yang saat ini tinggal di Padepokan Andongdadapan. Mungkin Begawan Radi bisa dimintai bantuan untuk menanggulangi wabah penyakit yang saat ini melanda Kerajaan Gilingaya.

 

Padepokan Andongdadapan berada di luar kekuasaan Kerajaan Gilingaya ataupun Kerajaan Medang Kamulan, karena dulunya berada di bawah kekuasaan Kerajaan Purwacarita yang saat ini sudah runtuh. Maka, Prabu Sintawaka pun bisa dengan leluasa pergi ke padepokan tersebut untuk menghadap Begawan Radi dan meminta petunjuk kepadanya. Begawan Radi yang tidak lain adalah penjelmaan Batara Surya segera menyanggupi permohonan tersebut. Ia lalu berangkat menuju Kerajaan Gilingaya menyertai Prabu Sintawaka.

 

Sesampainya di Gilingaya, Begawan Radi segera menyebarkan perintah supaya para penduduk baik di kota maupun di desa mengadakan selamatan yang disebut Sesaji Gramaweda. Perintah tersebut dalam waktu singkat segera tersebar luas ke segenap penjuru negeri untuk dilaksanakan.

 

Perintah Begawan Radi ternyata membuahkan hasil. Setelah diadakan selamatan secara merata, Kerajaan Gilingaya pun terbebas dari wabah penyakit. Begawan Radi menyarankan supaya selamatan seperti ini dilaksanakan secara rutin setiap tahun. Para penduduk pun mematuhinya. Inilah awal mula terciptanya perkumpulan selamatan di Tanah Jawa. Karena masyarakat desa kesulitan menyebut istilah Sesaji Gramaweda, mereka pun lebih suka menyebutnya dengan istilah Bersih Desa.

 

 

RADEN RADITYA BERGURU KEPADA BEGAWAN RADI

Setelah tugasnya di Kerajaan Glingaya selesai, Begawan Radi kembali ke Padepokan Andongdadapan. Tidak lama kemudian datang seorang remaja bernama Jaka Wudug yang mengaku sebagai anak angkat Resi Bagaspati yang tinggal di tepi Sungai Serayu. Jaka Wudug menceritakan bahwa ayah angkatnya itu telah meninggal dan sempat menyampaikan wasiat supaya ia pergi berguru kepada Begawan Radi di Padepokan Andongdadapan.

 

Begawan Radi yang sudah lama mengenal Begawan Bagaspati merasa prihatin mendengar kabar kematian tersebut. Maka, ia pun menerima Jaka Wudug sebagai muridnya. Melihat wajah pemuda itu sangat tampan dan bercahaya seperti matahari, Begawan Radi pun mengganti nama Jaka Wudug menjadi Raden Raditya. Ia yakin kalau remaja ini bukanlah pemuda desa biasa, tetapi keturunan seorang raja besar.

 

Maka, sejak itu Jaka Wudug yang telah berganti nama menjadi Raden Raditya pun berguru kepada Begawan Radi alias Batara Surya dan tinggal di Padepokan Andongdadapan untuk mendapatkan berbagai pelajaran ilmu kesaktian.



Koleksi  Artikel Imajiner Nuswantoro

 

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)