Serat Kaca Wirangi
Serat
Kaca Wirangi hasil karya Raden Soedjonoredjo yang berupa dialog antara burung
perkutut dengan burung derkuku yang memberikan gambaran bagaimana manusia hidup
didunia dalam mencapai kesempurnaan. Kelebihan Serat Kaca Wirangi adalah
bahasanya yang lugas dan jelas, disamping sarat dengan nilai-nilai moral yang
bisa dijadikan pertimbangan dalam kehidupan. Penelitian ini merupakan
penelitian kepustakaan, dan dalam pembahasannya bersifat analisis diskriptif.
Untuk mengelola data yang terkumpul digunakan analisis non statistic dengan
melalui dua tahapan yaitu tahap pengumpulan data dan tahap pengolahan data
dengan metode pembahasan yang digunakan adalah metode diskriptif, metode
komperatif, dan metode analisis filosofis. Serat Kaca Wirangi merupakan karya
sastra Jawa yang mengandung nilai-nilai luhur untuk diamalkan dalam kehidupan
sehari-hari. Disamping itu juga mengandung nilai-nilai pendidikan yang memiliki
muatan moral relevan dengan nilai-nilai islam dan dapat dijadikan pedoman bagi
manusia utama yang diibaratkan seperti watak Kaca Benggala. Nilai-nilai yang
ada dalam Serat kaca Wirani memiliki relevansi terhadap tujuan pendidikan
Islam, yang tujuannya adalah ingin membentuk watak manusia yang utama untuk
dimanifestasikan ke dalam bentuk manusia sempurna, hal tersebut sesuai dengan
tujuan dari pendidikan Islam yaitu membentuk manusia yang utama berdasarkan
tauhid.
Serat
Kaca Wirangi merupakan sebuah naskah kuno yang ditulis oleh Raden Soedjonoredjo
dengan menggunakan bahasa Jawa. Adapun naskah ini berbentuk dongeng atau cerita
yang melambangkan dan menggambarkan tentang bagaimana sebaiknya manusia
menjalani kehidupan di dunia agar mencapai kebahagian hidup yang sempurna.
Serat
Kacawirangi terbagi atas 11 bagian. Adapun bagian 1 mengisahkan tentang
percakapan kupu-kupu yang berada di sebuah taman istana yang indah. Kupu-kupu
yang berada di taman itu ada yang berwarna putih, merah, kuning, ungu, hijau,
biru dan hitam. Setiap kupu-kupu mengunggulkan warna yang dimilikinya.
Kupu-kupu
putih berkata kepada kupu-kupu lainnya seperti ini : Lihatlah warna sayapku
putih bersih, tidak seperti sayap kalian, terlihat kotor belepotan, warnanya
tidak serasi dan jelek, sesungguhnya tidak ada warna yang bagus yang melebihi
warna putih, karena putih itu warna yang suci dan jujur, dan warna putih lah
sebagai dasar semua warna.
Kemudian
kupu-kupu merah menjawabnya, sebagai berikut : Jika kau ingin mengetahui warna
yang menimbulkan keindahan, lihatlah warna yang tidak pucat, sedangkan warna
yang tidak pucat, adalah warna yang menyala atau memancarkan cahaya. Tidak usah
jauh-jauh. Lihatlah bunga yang ada di taman ini saja. Kamu akan melihat
sendiri, yang paling unggul warnanya adalah yang berwarna merah.
Kupu-kupu
kuning, setelah mendengar pembicaraan kupu-kupu putih dan merah menjawab demikian:
Putih dibanding merah memang gagah yang merah, namun merah dibanding kuning,
lebih indah kuning, contohnya, emas lebih indah dibanding tembaga atau perak.
Hiasan yang terlalu banyak warna merah membosankan, namun tidak ada perhiasan
yang berwarna kuning yang tidak pantas, justru semakin indah.
Kupu-kupu
ungu menyambung, warna kuning itu masih membosankan, ketahuilah semuanya,
sama-sama tentang warna, warna yang paling indah, yang paling berwibawa, dan
tidak membosankan itu adalah warna ungu. Buktinya, Babut yang berwarna merah
itu jelek, babut yang berwarna kuning juga jelek, babut yang berwarna hijau
kurang baik, namun babut yang berwarna ungu, sangatlah indah dan menyenangkan,
terlebih lagi jika diimbangi perlengkapan rumah yang diberi warna ungu, seperti
meja, kursi, bangku, yang mengkilat peliturnya.
Kupu-kupu
hijau secara tiba-tiba berkata. Katanya: Kalian semua diamlah dahulu. Kalian
semua tidak mengerti atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa dalam menciptakan
rumput dan dedaunan dengan berwarna hijau. Perihal itu ketahuilah, mengapa
rumput dan dedaunan diciptakan berwarna hijau, sebab warna hijau adalah yang
paling baik serta yang paling tidak membosankan. Buktinya tidak ada manusia
yang bosan kepada warna hijau.
Kemudian
kupu-kupu biru berkata seperti ini: Yang disampaikan kupu-kupu hijau tersebut
sudahlah benar, namun masih kurang tepat. Sebab masih ada makhluk Tuhan yang
melebihi warna hijau, tidak membosankan selamanya dan lebih banyak
keberadaannya, yaitu biru. Sebagai
buktinya, Udara, langit, gunung, laut, semua diciptakan berwarna biru.
Lihatlah! Yang indah itu hanya hijau dan biru.
Kupu-kupu
hitam berkata demikian : Wahai kalian semua, tenangkanlah dahulu dirimu, apakah
ada warna yang jumlahnya melebihi hitam, dan juga tidak ada warna yang kelebihannya
melebihi hitam. Sebab jika di waktu malam, seluruh dunia berwarna hitam, tidak
usah disebutkan di angkasa, di daratan, di lautan, cukup disebutkan tidak ada
tempat yang tidak hitam.
Kisah
di atas merupakan satu dari sekian banyak refleksi dari kehidupan manusia.
Tentu tidak dapat dikatakan sedikit jumlah manusia yang memiliki karakter
layaknya kupu-kupu yang dikisahkan. Bahkan kisah tersebut masih sangat relevan
hingga saat ini. Padahal jika dilihat naskah yang memiliki judul “Serat Kaca
Wirangi” ini, ditemukan di toko buku Tan Khoen Swie pada tahun 1922.
Berbicara
mengenai manusia, ia merupakan makhluk yang diciptakan dengan kesempurnaan
dalam cara berpikir serta caranya untuk mengendalikan diri. Manusia diberikan
nafsu juga hasrat, yakni hasrat untuk mencapai tujuan dengan memenuhi syarat
untuk menjadi manusia yang bermoral. Namun ada kalanya manusia sendiri kerap
kali terlalu membanggakan dirinya sendiri. Sebenarnya tak ada larangan untuk
membanggakan diri, hanya saja akan lebih elok untuk tidak mengumbarnya secara
berlebihan. Sebab sebagaimana diketahui bahwa segala sesuatu yang berlebihan
akan bermuara pada sifat yang tercela.
Adapun
seorang yang memiliki perilaku membanggakan diri sendiri, umumnya dahaga akan
pengakuan. Sebagai makhluk yang berakal, manusia seyogyanya mampu membentengi
diri agar tidak terjerumus ke dalam jurang yang curam melalui perilaku
tersebut. Perilaku ini juga dapat dikatakan sebagai akar dari sifat yang sarat
akan kehancuran diri manusia, yaitu kesombongan.
Fenomena
ini tak luput dari perkembangan zaman yang serba canggih ini. Misalnya saja di
dalam media sosial banyak sekali orang-orang yang berlomba-lomba membanggakan
diri. Fenomena ini dapat disebut narsistik. Narsistik merupakan gangguan
kepribadian yang ditandai dengan sikap yang terlalu mencintai dirinya sendiri.
Orang-orang yang narsis meyakini bahwa mereka adalah orang-orang yang lebih
unggul daripada orang lain dan kurang bisa menghargai perasaan orang lain.
Namun di balik rasa percaya dirinya yang teramat kuat, sebenarnya orang narsis
memiliki penghargaan terhadap diri sendiri yang lemah, mudah tersinggung
meskipun terhadap kritikan kecil.
Dewasa ini, seperti yang telah disebutkan media sosial merupakan salah satu alat bagi individu dengan gangguan kepribadian narsistik untuk mengaktualkan dirinya sendiri, membesar-besarkan diri mereka dengan memposting foto atau video prestasi dan berbagai potensi ke media sosial dengan harapan mendapatkan pengakuan dan apresiasi dari orang lain. Selain itu, individu narsistik memanfaatkan hubungan sosial untuk mencapai popularitas, selalu asyik dan hanya tertarik dengan hal-hal yang menyangkut kesenangan diri sendiri. Tindakan seperti ini bisa merugikan diri sendiri dan orang lain jika dilakukan secara intens dan hal ini bisa diindikasi sebagai gangguan kepribadian. Maka dari itu kita sebagai makhluk dengan kesempurnaan pikiran harus pandai-pandai dalam memberi garis batas antara perilaku baik untuk dilakukan ataupun ditinggalkan.
Serat
Kacawirangi is a symbolic tale, its content of the grace and perfection of
human life. This doctrine has the Javanese religio-magic concept and Islamic
background. It has a monistic-spiritualistic metaphysical view. The ultimate
reality did not find in the temporal and variable experiences. The experience
is an image if the ultimate reality, so it is the pseudo reality. The ultimate
reality likes a mirror. It is dominated by the light, without color and
properties; but it capable of being of all property and color. Human perfection
be able to find if life more spiritualistic, likes the mirror that is dominated
by the light (reason), without color (escaped from the passion); so they are
able to receive the pluralistic of human experiences that colored by good and
bad characterstic.
Terjemahan
dalam bahasa Indonesia :
Serat
Kacawirangi merupakan sebuah dongeng simbolis yang isinya tentang rahmat dan
kesempurnaan hidup manusia. Doktrin ini berkonsep religio-magis Jawa dan
berlatar belakang Islam. Ia mempunyai pandangan metafisik
monistik-spiritualistik. Realitas tertinggi tidak ditemukan dalam
pengalaman-pengalaman temporal dan variabel. Pengalaman merupakan sebuah
gambaran jika merupakan realitas hakiki, maka ia merupakan realitas semu.
Realitas hakiki bagaikan cermin. Didominasi oleh cahaya, tanpa warna dan sifat;
tapi ia mampu memiliki semua properti dan warna. Kesempurnaan manusia mampu
menemukan kehidupan yang lebih spiritualistik, ibarat cermin yang didominasi
cahaya (akal), tanpa warna (lolos dari hawa nafsu); sehingga mereka mampu
menerima kemajemukan pengalaman manusia yang diwarnai oleh sifat baik dan
buruk.
SERAT KACA WIRANGI
Nyariosaken
dedongenganipun
peksi
perkutut dhumateng peksi derkuku
Mralambangaken
pepindhan bab adeging gesangipun manungsa
Dipun
tedhak saking buku basa sarta seratan Jawi
Babaran
Toko Buku Tan Khoen Swie Tahun 1922
Bagian 1
Dongeng
Kaca Benggala
Cariyos
peksi perkutut kaliyan derkuku
Sami
ngudi kawruh kasampurnan
Sarta
damel ibarat kadhapur dongeng
Wonten
peksi perkutut kaliyan derkuku mencok ing wit mandira, peksi perkutut ndongeng
kados ing ngandhap punika :
Ana
nagara, misuwur endahing patamanane, kekembangan kang tinandur ing keputren
luwih satus warna, kapageran pacak suji emas, karengga ing beji, sinasrah ing
watu cendhani, kinepung ing reca prunggu lan rerenggan liyane sarwa emas
tinaretes ing sesotya.
Cedhak
lan palenggahane sang putri, kasebaran sesotya warna-warna. Yen wayah esuk akeh
kupune putih, abang, kuning, wungu, ijo, biru, lan ireng, padha miber pating saliwer
golek maduning kembang, ndadekake wuwuhing asrine patamanan.
Sakehing
kupu padha bungah-bungah lelangen ing patamanan. Ana ing kono padha
ungkul-ungkulan bagusing elar, Wasana kupu kang putih celathu marang kupu
liyane mangkene :
Delengen
elarku putih resik, ora koyo elarmu katon reged pating celoneh, pating
belentong sarta njuwarehi, sajatine ora ana warna kang becik ngungkuli putih,
marga putih iku warna kang suci sarta bares, iya putih iku dhasare warna kabeh.
Wong nulis, wong nggambar lan wong mbathik, kabeh dhasare putih, awit saka iku
dluwang lan mori digawe putih, lan maneh akeh wong dhemen manganggo sarwa
putih, mulane Gusti Allah nitahake kapas putih. Gamping tinitah putih, sababe
omah uga becik kang putih, dalah atine manungsa becik kang putih, yaiku suci.
Tembung putih sok digawe kembang lambe, dienggo ngupamakake barang kang suci
utawa resik. Sarehne warna kang utama iku putih, mulane kupu kang bagus dhewe
iya iku kang warna putih.
Kupu
kang abang mangsuili mangkene :
Mungguh
becike putih iku mawa-mawa kanggone. Ing atase rerenggan putih iku dudu
kebagusan luwih-luwih rerenggan kang dienggo ngrenggani patamanan iki, warna
putih kok arani suci iku dadi pucet, ora duwe guwaya. Mungguh anane kupu-kupu
padha teka ing kene satemene dipikat nganggo madu, perlune dienggo rerenggan
patamanan, mulane kang aran kupu bagus iya kang bisa muwuhi bagusing patamanan.
Sarehne elarmu ora muwuhi kebagusan apa-apa tetep kowe iku kupu kang ala.
Manawa kowe arep sumurup warna kang muwuhi kebagusan ndelenga warna kang ora
pucet, dene warna kang ora pucet mangkono warna kang mbrengangang utawa
menger-menger. Ora susah adoh-adoh. Delengen kembang-kembang ing petamanan iki
bae, koe banjur sumurup dhewe, endi kang moncol ing rupa yaiku kang abang. Mara
waspadakna kembang cengger kae, abange menges tur menger-menger, mangkono uga
kembang mawar, wora-wari bang, sepatu, padha pinunjul ing rupa sebab abang.
Guwayaning wong kang bregas iya kang abang mbrengangang. Babaran kang bagus iya
kang abang sumringah. Kajaba iku warna abang becik marang mripat. Lakar abang
iku padha-padha warna gagah dewe lan moncol dhewe, mulane disenengi ing akeh,
dalasan bocah cilik dhemen dolanan kang warnane abang, kang adhakan dipilih
dhisik. Dadi keterangane : kupu kang abang kang bagus dhewe.
Kupu
kuning ngrungu celathune kupu putih lan abang nyauri mangkene : putih katimbang
abang nyata yen bregas abange, nanging abang katimbang kuning adi kuninge,
tandhane emas luwih endah tinimbang tembaga utawa perak. Rerenggan kang kakehan
abang njuwarehi, nanging ora ana rerenggan kaduk prada kang njuwarehi, malah
sangsaya adi. Elinga pulasing wayang, upama wayang sakothak kaduk prada
sangsaya bagus. Upama kaduk abang, genah yen ala, awit abang iku dhemenaning
bocah cilik, wong tuwa ora arep. Balik warna kuning, kalengananing wong luhur.
Elinga kreta kencana, payung gilap, pasmen bara-bara, bludiran, gamelan, kabeh
adi rupane, jalaran warnane kuning, mangkono uga barang rerenggan kang bagus,
kang pating pancorong ana ing toko-toko lan ing omahe wong sugih, kayata :
paidon, pateyan, wadhah kinang, wengku gambar, wengku pangilon, lampu bron,
broman lan liya-liyane, kabeh kuning. Manungsa kang becik rupane iya kang kulit
kuning, dudu wong kang abang. Kang kekulitane ora kuning, mangka bakal kanggo
tontonan bajur ngaya aya golek atal, iya saking dene kepengin duwe awak kuning.
Mula yen kuning pancen nyenengake. Cekake mangkene : warna putih pucet, warna
abang gagah, nanging ora adi, dadi njuwarehi. Dene kang ora pucet sarta ora
njuwarehi malah mriyayeni yaiku kuning. Apa ora mangkono ?
Kupu
wungu sumambung, warna kuning iku isih njuwarehi, wruhanmu kabeh, padha-padha
warna kang mungguh dhewe, ngengreng dhewe lan ora njuwarehi dhewe iya iku
wungu. Tandhane, babut babut abang ala, babut kuning ala, babut ijo kurang
becik, nanging yen babut wungu, banget enggone semuwa lang ngengreng,
luwih-luwih yen rinengga praboting omah kang pinulas sarwa wungu yaiku meja,
kursi, bangku kang padha menges-menges pliture. Upama pulase abang utawa kuning
tak kira kurang becik. Kembang cengger, katone menges-menges sebab wungu,
mangkono uga kembang ragaina. Klambi wungu ngengrenge ora jamak. Upama wungu
iku ora piniliha, sabab apa wong mbabar jarit pada golek soga, mangka ora
kurang kang kena digawe ngebang utawa nguningi. Apa ta sababe? Sababe yaiku
warna abang lan kuning iku gunane mung kanggo tontonan utawa sesongaran, ora
prasaja lan semu kaya wungu. Ing ngendi-endiya barang kang prasaja lan semuwa
ora tau mboseni, mulane padha pinilala, prelune dienggo saben dina. Tuladhane
kang adhakan yaiku soga. Padha elinga kang sosongaran mesthi ora lana, kanggone
mung kala-kala , tur mung sawetara, kajaba kang pasaja lah iku kang lana,
kanggo ing saben dina, seksine soga. Warna abang kuning candrane ladak, nanging
yen wungu jinem nganggo guwaya, yaiku dadi sababe pasaja tur semuwa, tegese ora
ladak nganggo ngengreng
Kowe
kabeh ora sumurup marang karsane kang Maha Kawasa enggone nitahake suket lan
gegodhongan ginawe ijo. Iku becik pinikiren sebabe. Mara timbangen : upama
sarupane gegodhongan kabeh putih, mbok manawa akeh mripat lamur. Upama becika
wungu, teneh sarupane tetuwuhan tinakdirake wungu. Upama becika kuning, mesthi
tinakdir kuning. Upama becika abang, mesthi tinitah abang. Kang iku padha
sumurupa, mulane suket lan gegodhongan tinakdir ijo, sabab warna ijo iku kang
becik dhewe sarta ora mboseni dhewe. Sanyatane ora ana manungsa bosen marang
warna ijo. Ing pakebonan, ing tegal, ing sawah-sawah, kabeh sarwa ijo, ewa
semono ing sajrone omahe para tuwan ditanduri sadhang, pakis, pandhan, wregu,
suruh lan liya-liyane, pating tremplek ana ing tembok, kongsi ketel kaya alas,
pratandha saking kurang warege anggone nyawang wawarnan ijo, nanging aku ora
maido, dhasar yen omah akeh ijone ana ing tembok utawa ing undhak-undhakan
marakake singer. Sok uga kowe padha eling, prakara iku, mesthi ora gelem
ngunggul-unggulake warna saliyane ijo. Samber lilen iku pinunjul rupa ing
padha-padha gegremetan. Ules kang pinunjul mau kang kaduk iya ijo, abang
kuninge mung sethithik. Upama kaduk abang utawa kuning mesthi ala. Balik kaduk
ijo banget baguse. Manuk merak iya pinunjul ing rupa pada manuk, warna apa kang
kaduk, iya ijo, abang wungune mung sawetara. Upama ijone mung sethithik
mesthine ala. Rehne mangkono tetela kupu kang bagus dhewe iku kupu ijo.
Nuli
kupu biru celathu mangkene : ujaring kupu ijo mau wis bener, nanging
kurang pratitis. Awit isih ana maneh titahing Pangeran kang ngungkuli ijo, ora
mboseni salawase lan luwih akeh anane, yaiku biru. Tandhane, udhara, langit,
gunung, banyu segara, padha tinitah biru. Delengen kang bagus pancen mung ijo
lan biru. Akeh wong seneng ngenggar-enggar marang papan kang sarwa asri, dene
papan kang asri mau mulane asri sabab ijo lan biru. Ora ana wong siji-sijiya
kang bosen ngeleng papan kang terang sumilak lan asri, yaiku kang katon langit
biru, gununge biru lan tetuwuhane kang katon ijo lan biru. Laring samberlilen
ijone kaworan biru, malah akeh birune katimbang ijone. Lar merak iya kaduk
biru. Kehing warna biru kang ana ing alam ndonya yen ketimbang lan kehing warna
ijo akeh birune babar pisan. Awit ijo iku mung dumunung ing dharatan, nanging
yen biru iya ing dharatan iya ing lautan, iya ing awang-uwung. Ing awang-uwung
ora ana enggon salenging edom kang ora kisen biru, sumrambahe marang
gunung-gunung kang katon saka kadohan. Yen wong nunggang kapal ing satengahing
segara, kang katon prasasat lor kidul wetan kulon biru kabeh, kaya-kaya jagade
dadi biru kabeh. Kang mangkono mau dadi tandha yen biru iku warna kang becik
dhewe, katitik saka karsane Kang Maha Kuwasa anggone nitahake warna biru dikehi
tinimbang liyane.
Kupu
ireng celathu mangkene, heh kisanak padha sarehna dhisik, mangsa anaa warna
kang akehe ngungkuli ireng, tur ora ana warna kang pasajene kaya ireng.
Mangkene wijangane, ora ana warna kang kehe ngungkuli ireng sabab yen ing wayah
bengi alam donya ireng kabeh, ora susah diarani ing awang-uwung, ing dharatan,
ing lautan, cukup diarani ora ana enggon kang ora ireng, banjur timbangen akeh
endi karo biru. Mulane dak arani ora ana kang menangan kaya ireng, awit
sakehing wawarnan yen wis kapracondhang dening ireng ora ana kang kawawa
nanggulangi. Sanajan bumi-langit yen katekan pepeteng kang warnane ireng, jagad
kaya kinelem ing awang-uwung kang ireng meles. Mulane dak arani ora ana pasaja
kaya ireng, sabab mangkono wong kang pasaja lan semuwa iku aklambli ireng,
celana ireng, sepatu ireng. Akeh gagah mangsa kaya ireng, akeh pasaja kaya
ireng, dalah rambut lan brengos kang bregas iya kang ireng. Gambar-gambar lan
tulisan kang pasaja tur cetha iya kang ireng. Sarehne pasaja, mulane uga lana
sarta kanggo ing saben dina, kaya ujare kupu wungu mau. Kang wungu sogane iya
bener, nanging ireng ora kalah, yaiku wedelane.
Perkutut
nglajengaken wicantenipun : Dongeng iku surasane mangkene :
Kang
aran ala lan becik iku sajatine mung gumantung ana ing panganggeping ati. Apa kang
lagi disenengi si ati, iku kang katon becik. Alane kalimput. Wong kang watak
korupan, sadhengaha kang lagi disenengi dhene panyanane iku kang bagus dhewe.
Ana
paribasan, wong dhemen ora kurang pangalembana, wong gething ora kurang pamada.
Sarehne wis kinodrat dening Pangeran, manungsa padha dhemen marang awake,
mulane ora ana manungsa kang jeleh ngalem awake.
Bagian 2
Peksi
perkutut nglajengaken anggenipun ndongeng :
Ana
sesotya putih, cahyane putih wenes maya-maya, jenenge sosotya manik maya, gumlethak
cedhak lan palenggahanipun sang putri, calathu marang kupu-kupu, tembunge: he
kupu, satemene ulesmu kabeh bagus, kang putih, kang abang, kang kuning, kang
wungu, kang ijo, kang biru, apadene kang ireng, ora ana kang ora bagus,
kuciwane mung ora mawa cahya, upama padha mawa cahya, iba bagusmu, awit
katoning warna saka dening cahya, sanajan abanga, ijoa, birua, yen tanpa cahya
iya cebleh. Sanajan puthia utawa abanga, yen mawa cahya dadi wenes. Mara
waspadakna wujudku iki, ora liya mung putih, warna putih iku ora mbrengangang
lan ora menger-menger, nganging rehne mawa cahya, dadi putihku ora wenes
maya-maya, iya aku iki kang karan sesotya manik maya. Ora mung sesotya bae,
sanajan manungsa bagus rupane, karengga ing busana, yen tanpa cahya, ora ana kekuwunge,
lan ora nduwe prabawa, wekasan ora kineringan lan ora pinarcaya, dadi ora
pinilala kanggo ing karya, jer ngegungake marang kebagusaning rupa
kabungahaning ati, lan kamukten. Ora marsudi marang luhuring pramana. Sanajan
manungsa ala rupane sarta kuru, manawa luhur budine, tumemen atine, kineringan
lan pinilala, akeh wong wedi asih, jalaran katon ana ing cahyane kang wingit,
lungit, ngengreng, yaiku soroting budine kang wening.
Ing
kono ana sesotya abang, uga cedhak lan palenggahan, arane sesotya geni maya,
mamerake cahyane kang abang abramara kata kaya geni mawa.
Ana
maneh sesotya kuning, mamerake kaendahane, yaiku cahyane kang kuning sumunar,
arane sosotya mirah delima.
Ana
maneh sesotya wungu, nuduhake cahyane kang wungu mengesm arane sesotya manik
puspa raga.
Ana
maneh sesotya ijo, mamerake cahyane kang ijo ngenguwung, arane sesotya tinjo
maya.
Ana
maneh sesotya biru, mamerake cahyane kang biru muyek, arane sesotya manik nila
pakaja.
Ana
maneh sesotya kang ireng, mamerake endahing cahyane kang ireng meles
meleng-meleng, yaiku kang aran musthikaning bumi.
Kabeh
padha endah ing rupa, ora ana kang kuciwa, kongsi sakehing kupu padha kucem.
Mungguh sababe luwih endah sosotyane katimbang kupune, awit kupu mung duwe
warna thok, ora duwe cahya, balik sesotya duwe warna nganggo kasinungan cahya.
Ki sanak, dongeng iku surasane mangkene :
Kuciwa
banget manungsa yen mung ngudi marang kabungahan, kamelikan, pakareman,
kanikmatan, kamukten, kawibawan, luhuring piyangkuh sapanunggalane. Ora nganggo
nggayuh marang padhang utawa kaweningan, yaiku ulah budi.
Warna
putih, abang, kuning, wungu, ijo sapanunggalane iku dadi ibarat : rahsa, lire
dadi ibarat wewatekaning manungsa, dene cahya ibarat padhanging budi.
Katrangane
mangkene :
Cahya
lan warna kang kasebut ing dongeng iki sajatine mung kanggo ngibaratake :
cahya
lan warna kagunganing dhat kang wujud, kang gumadhuh (kaparingake) ana ing
manungsa.
Wujude
cahya iku : budi. Awit budhi iku wujud pepadhang kang sumorot saka gaib,
madhangi (nyoroti) kabeh nyawa saka wiwitan nganti pungkasan.
Dene
wujuding warna, yaiku : rahsa (hawane karan : nafsu), awit rahsa iku dayane
mahanani sifating cahya warna-warna : putih, abang, kuning, ijo lan
sapanunggalane.
Rahsa
iku ya wujud nyawa. Hawane marakake manungsa asring duwe rasa : bungah, susah,
dhemen, gething, jahil drengki, kumingsun, gumun, getun, wedi, uwas, sumelang,
welas asih, loma lan sapanunggalane.
Cekake
marakake manungsa duwe wewatekan dhewe-dhewe, ala utawa becik (ing basa Jawa
lumrahe mung karan : pangrasa utawa ati).
Hawaning
rahsa kang sumebar jenenge nafsu, iku kena kaumpamakake kukus awit nafsu iku
dayane memtengi utawa gawe butheking cahya.
Sirepan
nafsu utawa rahsa : manawa mligi nglumpuk ana ing Rasa (Rasul) sipate ora
putih, ora abang, ora ijo, lan sapanunggalane, lire : ora bungah, susah,
kepengin, dhemen, gething, lara, lan sapiturute, mung : tentrem (terange maneh
manawa wis maca ing mburi).
Bagian 3
Peksi
perkutut nglajenagaken anggening ndongeng :
Nalika samono ana barleyan, celathu marang sakehing sosotya : ”Heh sakehing mirah, ing samengko kowe wis padha sumurup yen moncoling rupa saka dayaning cahya, tegese : warna abang ijo tanpa gawe yen ora kanthi cahya, awit yen tanpa cahya kucem. Sanajan tanpa warna yen sinung cahya ora bisa kasilep, awit cahya iku sumorot, tumama ing pandulu. Tetela cahya iku nyawaning rupa. Tandhane si manikmaya, warnane mung putih, ewa dene rehne mawa cahya, padha diupaya ing manungsa sarta diajeni. Luwih-luwih si geniyara, mirah delima sapanunggalane, dhasar duwe warna nganggo kasinungan cahya.
Lha ing saiki kajaba saka kang rinembug iku mau, aku arep takon marang sakehing mirang padha timbangen. Pitakonku mangkene : pilih endi duwe warna kathi cahya sedheng katimbang ora duwe warna, mung cahya thok, nanging cahyane ngungkuli sakehing kang duwe warna? Apa milih duwe warna kanthi sedheng, apa milih tanpa warna nanging mawa cahya linuwih?
Sakehing mirah durung ana kang bisa mangsuli. Barleyan celathu maneh, yen aku milih tanpa warna, sok uga kasinungan cahya linuwih. Mulane aku ora pati mikir marang warna, mung mburu cahya. Awit sanajan tanpa warna yen kasinungan cahya linuwih, cahya kang linuwih iku bisa mujudake warna kang manca warna dening beninge. Mara aku delengen, aku iki rak ora duwe warna kaya mirah, ora abang, ora kuning, ora ijo, ora biru, ora ireng, ora putih, nanging sarehne urubing cahyaku ngungkuli sakehing mirah, sanadyan ta tanpa warna iya bisa abang, iya bisa kuning, bisa ijo sapiturute. Yen aku pinuju abang ora kalah karo geniyara, yen aku pinuju kuning ora kalah karo mirah delima, yen aku pinuju wungu, ora kalah karo pusparaga, sabanjure ora kalah karo sakehing mirah. Dadi prasasat ngemot marang sawarnaning mirah. Apa sababe aku bisa mangkono sabab ora liya tanpa warna, pinunjul ing cahya.
Upama
cahyaku linuwih nanging isih kanggonan warnam uga ora bisa mengku marang
sakehing warna. Sanajan tanpa warna yen ora linuwih cahyaku iya ora bisa ngemot
sakehing warna. Dadi katerangane rupa kang becik dhewe, yaiku : kang tanpa
warna sarta pinunjul ing cahya. Awit iku kang urip sarta mengku marang sakehing
warna.
Dongeng
iku surasane mangkene :
Manungsa
iku bisane momot, durung cukup yen mung lepas ing budi lan elingan. Nanging
kudu : ora duwe watak. Ora duwe watak, lire : ora ngukuhi marang wewatekan
atine, kayata: dhemen marang iku, gething marang iki, dhemen marang bungah,
ngresula yen susah, dhemen marang becik, gething marang ala. Ringkese : Duwe
pakareman sajroning ati kang ora kena diowahi, sarta duwe gegethingan, Cahya
iku, ibarate : budi. Warna, ibarat : rahsa. Barleyan iku, ibatat : luwih
padhang budine, nanging ora kumingsun, bisa ngeluk kekarepane, ora pilih kasih
utawa bau kapine. Titikane wong kang mangkono : wingit cahyane. Ora galak ulat,
aliya mung tajem, sarta sarwa prasaja.
Manungsa
kang mangkono, kena pinilih dadi tetuwa, bisa momot marang wateke wong kang
beda-beda, dening ora duwe watak dhewe.
Sosotya
sanajan mencoronga kaya geni, yan isih duwe warna dhewe, ora bisa mengku marang
sakabehing warna, marga cahyane kereh marang warnane, beda lan barleyan,
cahyane kang ngereh marang warnane.
Bagian 4
Peksi
perkutut nglajengaken naggenipun ndongeng :
Sakehing mirah padha rumasa asor bareng katandhing lan barleyan. Luwih-luwih kupu. Wasana padha sayuk ing rembug, arep ngratu marang barleyan, awit barleyan kang pinunjul ing rupa.
Barleyan bareng arep dijunjung dadi ratu paratela mangkene : olehmu padha arep njunjung ratu marang aku sabab aku pinunjul ing cahya sarta tanpa warna. Pinunjuling cahyaku ndadekake uripung rupaku. Ora duweku warna kang marakake ngemot sakehing warna. Iku dhasar bener, nanging aku ini sabenere durung sampurna, isih ana maneh wujud saliyane aku kang pinunjul ing cahyane ngungkuli aku, sarta enggone bisa ngemot marang warna sampurnane ngungkuli aku. Iku bae padha dijunjung dadi ratu, awit cahyane tikel ping sewu tinimbang cahyaku, yen mencorong padha karo srengenge, balik aku mung kelip-kelip. Dene enggone ngemot warna, cethane tikel sewu tinimbang aku, aku aku mung mengku warna nanging kang bakal dak kandhakake marang kowe, mengku warna dalah rupane pisan. Lire ora mung bisa abang ijo, uga bisa manca warna kaya kupu, laya mirah, kaya barleyan, kaya watu, kaya jaran, kaya uwong, kaya srengenge, cekake bisa kaya sarupane kawujudan ing alam ndonya, dhasar bisa maujud kaya jagad gumelar katon bumi langit saisen-isene. Yen wis kaya srengenge, babar pisan ora beda lan srengenge, kongsi ora ana manungsa kang bisa nembungake kapriye rupane kang sabenere. Kang mangkono mau jalarane iya mung rong prakara thok.
Sepisan
: saka bangeting pinunjuling cahyane.
Pindho
: saking ora duwe warna babar pisan.
Apa
kowe wis weruh jenenge wujud kang kaya mangkono mau ?
Yaiku
kang aran : Kaca benggala gedhe.
Sakehing
sosotya lan kupu padha gawok. Warta banjur kepengin sumurup kaya apa rupane
kaca benggala.
Ana watu kang kepengi bisa nembungake kapriye rupane kaca benggala, takon marang barleyan tembunge : wujude kaca benggala iku kaya apa. Apa pancen kaya sarupane kawujudan, apa beda akro sarupaning kawujudan. Yen ora padha lan ora beda kareo sakehing kawujudan apa kena diarani bening kaya banyu?
Barleyan mangsuli, yen diaranana kaya sarupane kawujudan iya bener, nanging ora pratitis. Mula bener disebut mangkono awit kaca benggala iku pancen bisa kaya watu, bisa kaya kupu, bisa kaya barleyan lan sapirturute. Dene ora pratitise tembung mangkono, awit kena diarani beda uga karo sarupane kawujudan. Bedane mangkene : watu iku buthek, nanging kaca benggala ora buthek. Watu mrongkol sarta ala, nanging kaca benggala ora tahu diarani mrongkol sarta ala. Mirah dlima kuning sarta cilik, nanging kaca benggala ora kuning sarta ora cilik. Areng iku ireng, kaca benggala ora ireng. Cekake yen sakehing rurupan dibedakake karo kaca benggal, kabeh iya beda karo kaca benggala. Rehne mangkono, kaya-kaya kena disebut beda karo sarupane kawujudan. Ewa denen ora kena dikukumi mangkono, awit ing ngarep diarani : kaya sarupaning kawujudan. Kajaba yen disebut : bening, lah iku, bok menawa bener, parandene meksa ora pratitis, awit bening mono benere kaya banyu kang ana ing gelas. Banyu iya bener bening, nanging banyu iku bening suwung, beda lan beninge kaca benggala : bening kang mengku rurupan, sabab cahyane geguletan karo rasa, iya rasa iku kang tanpa warna, nanging ora suwung. Si cahya dadi cahyane rasa, si rasa dadi wadhahing cahya.
Mulane
karanan tanpa warna tanpa rupa, awit upama digoleki warna rupane, sanajan
diubresa, ora ketemu ketemu.
Kang
mangkono iku sok katembungake : suwung amengku ana. Utawa : ora ala ora bagus,
nanging mengku ala lan bagus. Iya embuh jenenge rupa kang mangkono iku.
Prayogane
ayo padha dinyatakake.
Sakehing
sosotya kupu apa dene watu, banjur padha mara menyang panggonane kaca benggala
gedhe.
Kang
seba dhisik watu. Tembunge watu marang kaca benggala : he sang kaca benggala
ageng, sowan kulo badhe ngratu ing tuwan, awit tuwan ingkang pinunjul ing warni
sajagad. Nanging kalilana kulo ningali sarira tuwan rumiyin.
Kaca
benggala mangsuli : iya becik mreneya ndeleng rupaku. Rupaku kaya rupamu.
Watu
bareng teka ing ngarepe kaca benggala banget ngungune dene rupane kaca benggala
jibles watu. Ora ana bedane sathithik-thithika karo watu, nuli pamit mundur.
Ora
suwe kupu padha ndeleng rupane kaca benggala genti-genti. Kabeh padha ngungun
awit rupane kaca benggala mung kaya kupu bae, mangkono uga sosotya, weruh
rupane kaca benggala kaya sosotya. Watu lan areng ndeleng kaca benggalam katone
iya kaya watu lan areng.
Anuli
kabeh padha bali ing panggonane maune.
Kupu-kupu
padha rerasan mangkene : wartane kaca benggala iku pinunjul ing rupa, jebul
nyatane mung kaya kupu bae, ora duwe cahya kaya mirah, isih becik mirahe.
Luwih-luwih yen katandhing karo barleyan, bagus barleyane pisan-pisan, awit
kaca benggala ora duwe cahya, ora bisa kelip-kelip.
Watu
lan areng calathu mangkene : kaca benggala rupane buthek lan ireng kaya rupaku.
Sarehne rupaku elek mangka kaca benggala ceples kaya aku, dadi kaca benggala ya
elek.
Barleyan
mituturi marang kupu, areng lan watu : kowe padha sumurupa ki sanak, kaca
benggala iku sanadyan pinunjul ing rupa, ora gelem mamerake rupane, ora gelem
nandhing awake karo awake liyan, kaya si kupu enggone ungkul-ungkulan, padha
golek ketrangan dhewe-dhewe kanggon ngalem awake. Wus jamake, sadengah kang
durung sampurna karepe padha papandhingan dhiri, nanging kang sampurna
mangkono.
Si
kupu putih mamerake putihe, kang abang nyandra abange, mirah ijo mamerake
ijone, barleyan iya mamerake kelipe, dalasan watu iya pamer, yaiku mamerake
eleke. Ala becik yen dipamerake, iya jeneng pamer. Iku kabeh jalaran durung
sampurna ing rupa. Kang akeh emoh diarano ala, njaluk diarani becik, nanging
kaca benggala ora njaluk diarani becik, lan uga ora duwe panjaluk diaranana ala
kaya watu lan areng. Kaca benggala gelem diarani sakarepe kang ngarani. Gelem
diarani ala kaya watu lan areng, nanging diarani kelip-kelip kaya barleyan iya
ora nampik, malah yen ana perlune gelem diarani kaya srengenge. Nanging aja
padha keliru tampa, mungguh geleme diarani ala, ora jalaran saka panjaluke
utawa saka pangarep-arepe, sarta geleme diarani bagus ora jalaran saka pamere
utawa doyan marang pangalembana. Dadi geleme mau jalaran saka legawa lan mengku
marang sakehing rupa. Lah saiki watu lan areng padha sumurup dhewe, yen katone
buthek kang ana ing kaca benggala iku ora jalaran saka buthekin kaa benggala,
satemene saking bangetng beninge. Katone ireng kaya areng iya ora sabab saka
irenge, malah saking beninge kang ora kinira-kira, kongsi areng lan watu ora
duwe pangira. Pikiren ta upama butheka teneh mung buthek thok-thok, ora bisa
mengku rerupan.
Kupu,
areng lan watu bareng ngrungu pratelaning barleyan padha rumangsa kejlomprong,
wekasan percaya yen buthek kang katon ing kaca benggala iku butheke dhewe, dudu
butheking kaca benggala, satemene malah saking beninging kaca benggala, awit
kaca benggala uga bisa katon pating kerlip kaya barleyan, bisa ijo kaya tinjo
maya.
Ki
sanak dongeng iku dadi pralampita :
Kahananing
kaca benggala iku ibarat wataking manungsa kang wis sampurna, yaiku manungsa
kang wis ora korup marang dhiri (ora korup marang wujude kang mukmin). Manungsa
kang mangkono : lali marang dhiri, tegede : ora pisan duwe niyat ngatonake
dhiri, gedhene papandhingan dhiri. Ujub, riya, sumengah, takabur, bidngah,
sapanunggalane wis ora duwe. Mungguh sababe mangkono mau awit budine keliwat
padhange, sarta sirep napsune, kahananing dhiri ora rinasak-rasakake, ndadekake
bisane amot marang sawarnaning wewatekan, wasana uripe mung ngangkah
kaslametaning akeh, sarta tansah gawe kepenaking atine sapadha-padha.
Wong kang mangkono suka rila diarani asor, ewadene ora nampik diarano luhur, sarta sukarilane ora dipamerake. Ora duwe pakareman sajroning atine, satemah ora ilon-ilonen, ora dhemen marang kang becik lan kang bener kanthi gething marang kang ala lan luput. Ora dhemen marang kang ala lan luput, kanthi gething marang kang becik lan bener.
Manungsa
sanajan pinunjula, yen isih dhemen papandhingan dhiri, utawa duwe pakareman
sajrone ati sarta duwe gegethingan, iya durung sampurna, cahyane isih kaereh
ing nepsune, lire : isih teluk marang watake dhewe (rahsane).
Ana
sawenehing manungsa ora njaluk diarani becik, nanging njaluk diarani ala, wong
mangkono uga isih dumunung wong ngatonake becike watake, dadi isih korup marang
dhiri, rehne mangkono, upama diarani becik, kang mesthi ngresula.
Ana
manungsa gelem diarani sakarepe kang ngarani, diarani becik utawa ala gelem.
Nanging geleme mau dipamerake. Wong mangkono uga durung resik, isih duwe panjaluk
utawa pangarep kang bangsa pangalembana. Rehning mangkono, upama diarani : ora
gelem, mesthi ngresula.
Rangkuman dan terjemahannya Bagian 1
Serat
Kacawirangi pada bagian ini menceritakan percakapan kupu-kupu yang berada di
sebuah taman istana yang indah. Kupu-kupu yang berada di taman itu ada yang
berwarna putih, merah, kuning, ungu, hijau, biru dan hitam.
Setiap
kupu-kupu mengunggulkan warna yang dimilikinya. Kupu-kupu putih mengunggulkan
warna putih sebagai warna yang melambangkan kesucian dan kejujuran. Kupu-kupu
merah mencela warna putih sambil mengunggulkan warna merah sebagai warna yang
tidak pucat, warna merah adalah warna yang indah mencolok dan merangsang
penglihatan, anak kecil pun suka warna merah, maka kupu-kupu warna merah adalah
kupu-kupu yang terbagus. Mendengar percakapan kupu-kupu putih dan merah,
kupu-kupu kuning berkata bahwa, memang jika warna putih dibandingkan dengan
warna merah lebih gagah warna merah. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan
warna kuning, warna merah dan putih kalah indah, buktinya emas lebih indah
dibandingkan dengan tembaga maupun perak. Warna putih itu pucat, warna merah
memang gagah akan tetapi membosankan, sedangkan warna kuning itu tidak
membosankan dan bergengsi.
Kupu-kupu
ungu menyambung pembicaraan, ia menyatakan bahwa warna kuning itu juga masih
membosankan. Warna merah dan kuning itu sifatnya ladak(mencolok) berbeda dengan
warna ungu jinem nganggi guwaya (anggunmerona), sederhana dan anggun.
Kupu-kupu
hijau menyela, kalau warna yang baik itu warna putih, merah, uning dan ungu,
kenapa semua tumbuh-tumbuhan dan dedaunan ditakdirkan hijau. Warna hijau di
kebun, di sawah demikian juga taman-taman yang hijau tidak pernah membosankan
jika dipandang. Oleh karena itu, warna hijau adalah warna paling unggul.
Kupu-kupu biru membenarkan pernyataan kupu-kupu hijau, akan tetapi Tuhan menciptakan warna biru lebih unggul. Buktinya udara, langit, air lautan dan gunung-gunung berwarna bitu. Warna bitu itu terdapat secara dominan di daratan, di lautan dan di angkasa; maka warna biru lebih unggul dari warna hijau yang hanya ada di daratan saja.
Kupu-kupu
hitam berkata, bahwa warna hitam itu mengungguli semua warna, tidak ada satu
warna pun dapat mengalahkan warna hitam. Pada malam hari semua yang ada di
darat, laut maupun angkasa menjadi hitam. Tulisan dan gambar yang bersahaja
juga berwarna hitam. Burung perkutut menyimpulkan isi cerita itu, yang disebut
buruk dan baik itu sebenarnya tergantung pada anggapan perasaan. Apa yang
sedang disukai itu yang kelihatan baik. Buruknya tertutupi.
Apa
yang sedang tidak disukai,kebaikannya tertutupi. Orang yang berwatak korup,
semua yang sedang disukai dianggap baik.
Ada
peribahasa, orang suka tidak kurang-kurang menyanjungnya, orang benci tidak
kurang-kurang mencelanya. Karena sudah menjadi kodrat Tuhan, manusia menyukai
dirinya sendiri, maka tidak ada manusia yang bosan menyanjung diri sendiri.
Rangkuman dan terjemahannya Bagian 2
Burung
perkutut melanjutkan cerita, ia bercerita tentang permata putih yang bercahaya.
Permata itu berbicara kepada semua kupu-kupu, bahwa semua warna yang
dimilikinya itu bagus, hanya sayang tidak bercahaya. Tidak hanya permata,
manusia sekali pun kalau tanpa cahaya tidak ada kharismanya, tidak berwibawa
dan disegani. Manusia seperti itu adalah manusia yang mengejar kebaikan rupa,
kesenangan dan prestise; tidak mengejar pramana (cermin yang dapat menangkap
bayang-bayang hakikat), keluhuran budi dan kejujuran.
Manusia
dihormati dan disegani, karena menampakkan cahaya kebeningan budi warna putih,
merah, kuning, ungu dan sebagainya itu ibarat karakter manusia, sedangkan
cahaya adalah ibarat dari cemerlangnya budi. Jika dibandingkan dengan permata
yang warna-warni tentu saja warna kupu-kupu akan kalah cemerlang, karena
kupu-kupu hanya mempunyai warna sadangkan permata mempunyai cahaya.
Rangkuman dan terjemahannya Bagian 3
Pada
bagian ini diceritakan tentang dialog antara berlian dengan para permata yang
berwarna-warni. Berlian menyatakan kita sudah mengetahui bahwa keunggulan warna
karena cahaya, tanpa cahaya warna tidak ada artinya. Berlian memberikan
alternatif pilihan kepada para permata. Mereka diminta untuk memilih antara
memiliki warna dengan cahaya yang sedang-sedang saja dengan tidak memiliki
warna tetapi memiliki cahaya yang mengungguli semua yang memiliki warna.
Keunggulan berlian yang tidak memiliki warna, terletak pada kemungkinan untuk
menampung segala warna. Tidak semua yang tidak memiliki warna dapat menampung
segala warna jika tidak memiliki keunggulan cahaya.
Arti
dari cerita itu adalah :
Manusia
itu dapat memiliki daya tampung (terima), tidak cukup hanya karena kecerdasan
ingatan. Namun harus tidak mempunyai watak, artinya tidak bersikukuh dengan
watak hati, seperti suka dengan itu, benci dengan ini, suka dengan yang
menyenangkan, mengeluh di kala susah, suka yang baik dan benci yang buruk.
Singkatnya punya kesenangan dan kebencian dalam hati yang tidak dapat diubah.
Cahaya
itu ibarat dari budi, warna itu ibarat dari rasa dan berlian itu ibarat dari
orang yang cemerlang budinya tetapi tidak arogan dan dapat menundukkan
keinginan pribadi. Manusia seperti itu dapat dipilih menjadi orang yang
dituakan, dapat menerima atau menampung orang yang memiliki watak berbeda-beda,
karena tidak memiliki watak sendiri.
Rangkuman dan terjemahannya Bagian 4
Burung
perkutut melanjutkan ceritanya. Semua permata merasa rendah diri dibandingkan
dengan berlian, apa lagi kupu – kupu. Akhirnya mereka sepakat mengangkat
berlian menjadi raja mereka. Akan tetapi, berlian berkata bahwa masih ada wujud
yang mengungguli kesempurnaannya. cahayanya lipat seribu dibanding dirinya.
Karena dia tidak punya warna sama sekali, maka ia mampu memuat warna pun lipat
seribu, bahkan sekaligus mampu memuat semua bentuk.
Ia
adalah cermin besar atau kaca benggala ageng. Cemin itu dapat dikatakan seperti
batu, kupu-kupu , berlian dan sebagainya. Akan tetapi kalau batu itu buruk,
tidak bening, dan tiga dimensi maka cermin tidak demikian. Cermin itu
bening
mengandung berbagai wujud, sebab cahayanya menyatu dengan rasa (rasa itu dalam
bahasa Jawa dapat mengandung arti lapisan dasar cermin sehingga dapat
memantulkan cahaya sekaligus dapat menangkap bayangan bentuk dan warna di
depannya). Ia tanpa warna tetapi tidak kosong dan tanpa
rupa
(wujud).
Cerita
itu mengandung arti, bahwa cermin itu ibarat/nisbatnya orang yang sempurna. Ia
lupa akan dirinya yaitu tidak pernah menonjolkan dirinya dan keunggulan
dirinya. Ia rela dikatakan rendah dan tidak menolak dikatakan unggul dan
keikhalasannya tidak ditonjolkan. Ia tidak menyukai kebaikan dengan membenci
kejahatan dan kesalahan atau sebaliknya menyukai kejahatan dan benci kebaikan.

