DYAH GAYATRI SRI RAJAPATNI, RATU AGUNG DIBALIK KEJAYAAN MAJAPAHIT
Dyah Gayatri atau Sri Rajapatni (lahir sekitar tahun 1275, meninggal tahun 1350) adalah putri bungsu raja Kertanagara dan salah satu istri dari Dyah Wijaya raja pertama Majapahit (1293-1309), merupakan nenek dari Hayam Wuruk.
Dibalik pesonanya sebagai seorang Bhiksuni, Gayatri adalah seorang politikus ulung di panggung sejarah Nusantara. Ia mempelajari peristiwa sejarah masa lampau termasuk visi besar serta kemalangan yang menimpa ayahnya, Kertanegara, Maharaja Kerajaan Singhasari, untuk dijadikan pijakan dalam mengambil langkah-langkah penting ke depannya.
Dengan menggali berbagai catatan sejarah Majapahit mulai dari sumber primer seperti prasasti dan Negarakertagama, hingga sumber sekunder seperti Pararaton, kita dapat menganalisis sejauh mana peran Gayatri dalam percaturan politik Majapahit.
Gayatri, putri bungsu Kertanegara, ditawan Jayakatwang setelah Jayakatwang berhasil membunuh Kertanegara. Jayakatwang memanfaatkan kesempatan untuk menyerang Kertanegara saat kekuatan pasukan di kerajaan Singhasari melemah akibat operasi militer ke Malayu.
Pararaton mengisahkan beberapa bulan kemudian setelah kejadian tersebut Dyah Wijaya muncul mengabdi di istana Daha. Namun saat Mongol menyerang Daha, Gayatri langsung dilarikannya ke desa Majapahit yang menjadi basis perjuangan Dyah Wijaya. Disana Gayatri berkumpul kembali dengan ketiga saudarinya.
Tiga jenderal Mongol dalam sejarah Dinasti Yuan (1279-168 M) mencatat siasat Dyah Wijaya yang memanfaatkan pasukan Mongol untuk membalas tindakan Jayakatwang dan kemudian balik mengusir Mongol dari tanah Jawa.
Dyah Wijaya kemudian menjadi raja pertama Majapahit dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana. Semua saudari Gayatri dinikahinya, dan yang tertua yakni Dyah Tribhuwana diangkat sebagai permaisuri dengan gelar Tribhuwaneswari.
Meski Prapanca menulis dalam kakawinnya bahwa semua putri Kertanegara cantik bak bidadari, namun Gayatri, yang bergelar Rajapatni, adalah istri yang paling disayangi oleh Dyah Wijaya. Menurut Pararaton tak lama kemudian, pasukan yang dulu dikirim mendiang Raja Kertanegara dalam ekspedisi Pamalayu tiba di Majapahit dengan memboyong dua putri jelita dari Melayu, salah satunya yang bernama Dara Petak, dijadikan selir oleh Dyah Wijaya. Dari Dara Petak inilah lahir Jayanegara (1294 – 1328 M) yang dinobatkan sebagai putra Mahkota, karena istri-istri Dyah Wijaya tidak dikaruniai anak, kecuali Gayatri yang belakangan melahirkan dua putri ; yakni Dyah Gitarja dan Dyah Wiyat. Penobatan Jayanegara sebagai putra Mahkota ini tercatat dalam Prasasti Sukamerta (1296 M).
Ketika tahun 1309 Dyah Wijaya mangkat, Jayanegara duduk menggantikannya. Namun Jayanegara terbunuh 19 tahun kemudian sebelum dia mendapatkan keturunan.
Pararaton menjuluki Jayanegara sebagai Kalagemet, yang berarti jahat dan lemah, untuk menggambarkan betapa lemah dan buruknya moralitas raja kedua Majapahit ini. Selain berniat mengawini adik-adiknya sendiri, yakni putri-putri Gayatri, Jayanegara-pun gemar melecehkan perempuan. Salah satu korbannya adalah istri Tanca, tabib pribadi raja, dan Tanca mengadukan kasus pelecehan tersebut kepada Gajah Mada.
Ketika Jayanegara sakit bisul, Gajah Mada meminta Tanca untuk mengoperasinya. Pada momen itulah Tanca menikam Jayanegara lalu Gajah Mada membunuh Tanca di tempat kejadian. Pembunuhan Jayanegara ini menimbulkan spekulasi akan keterlibatan Gajah Mada. Aksi pembunuhan Tanca oleh Gajah Mada terkesan sebagai tindakan untuk menutupi jejak keterlibatannya. Anehnya, pembunuhan Tanca oleh Gajah Mada ini juga terlepas dari jerat hukum, padahal banyak prasasti menceritakan betapa cermatnya pelaksanaan pengadilan pada zaman Majapahit. Dari sini kemudian muncul spekulasi adanya tokoh kuat di belakang Gajah Mada yang menginginkan kematian Jayanegara.
Sejarawan Slamet Muljana mengatakan telah terjadi konflik intern para istri Dyah Wijaya sejak Dara Petak, selir dari Melayu itu diangkat menjadi istri yang dituakan dan wajib dihormati. Hal inilah yang membuat para istri Dyah Wijaya tersinggung karena merasa disisihkan, apalagi setelah anak Dara Petak itu dikukuhkan sebagai putra Mahkota.
Namun terlepas dari itu semua, terbunuhnya Jayanegara telah membebaskan putri-putri Gayatri dari niat jahat Jayanegara, disamping juga membuat garis keturunan Kertanegara memperoleh kesempatan untuk menduduki takhta Majapahit.
Meski Jayanegara sudah tiada, Gayatri sadar dirinya bukan dari wangsa Rajasa. Namun begitu dalam diri putrinya, Tribhuwana, mengalir darah Sinelir dan juga Rajasa. Maka langkah Gayatri menyerahkan takhta kepada sang putri adalah keputusan yang tepat yang bakal membawa stabilitas bagi Majapahit yang sebelumnya sempat terpecah-belah.
Situasi ini mirip dengan pernikahan Pramodhawardhani dengan Rakai Pikatan yang kemudian berhasil mempersatukan dua wangsa besar pada era Mataram Kuno.
Meski dikisahkan Gayatri kemudian memilih menjadi Bhiksuni, namun sumber primer prasasti Geneng II (1329 M) mencatat bahwa dalam menjalankan pemerintahan Tribhuwana dibimbing dan diawasi langsung oleh Gayatri.
Gajah Mada yang pada awal pengabdiannya di Majapahit sebagai bekel, kariernya-pun melesat dengan sangat cepat, dari seorang patih daerah ia langsung diangkat menjadi Mahapatih, sebuah jabatan yang vital karena berkuasa menjalankan roda pemerintahan atas amanat Raja.
Gayatri dulunya yang tumbuh dalam kerajaan sebesar Singhasari yang hampir berhasil menyatukan Nusantara berusaha mewujudkan mimpi besar ayahnya di Majapahit.
Tribhuwana dan Gajah Mada adalah orang-orang baru yang tidak mengenal langsung Kertanegara dengan visi besarnya, berbeda dengan Gayatri yang justru tumbuh besar bersama visi sang ayah. Dengan Gayatri berada di belakang mereka, visi besar tersebut berhasil diwujudkan.
Seusai dilantik sebagai Mahapatih, Gajah Mada mengikrarkan Sumpah Palapa untuk menyatukan Nusantara di bawah Panji Majapahit. Seluruh hadirin mentertawakannya, kecuali ratu Tribhuwana dan Gayatri di balik layar.
Menurut catatan Pararaton, atas restu Ratu Tribhuwana, mereka yang menertawakan dibunuh di tempat oleh Gajah Mada tanpa konsekuensi hukum.
Selain itu dalam prasasti Singhasari (1351 M), ketika Gajah Mada membangun candi pendharmaan sebagai bakti kepada mendiang Raja Kertanegara, dia menyatakan diri sebagai pelaksana mewakili Ratu Tribhuwana. Dari sini jelas, warna politik Gajah Mada adalah meneruskan politik Dwipantara Kertanegara menjadi politik Nusantara Majapahit.
Di bawah arahan Gayatri dibantu oleh kecakapan Gajah Mada, Ratu Tribhuwana berhasil membawa Majapahit menjadi sebuah kemaharajaan yang besar.
Imajiner Nuswantoro

