Naskah Sanghyang Siksakandang Karesian (versi GALUH)
Sanghyang
Siksakandang Karesian merupakan naskah didaktik, yang memberikan aturan,
tuntunan serta ajaran agama dan moralitas kepada pembacanya.Sanghyang
Siksakandang Karesia merupakan buku berisi aturan untuk menjadi resi (orang
bijaksana atau suci). Naskah ini disimpan di Perpustakaan Nasional Republik
Indonesia di Jakarta dan ditandai dengan nama kropak 630. Naskah ini terdiri
dari 30 lembar daun nipah. Naskah ini bertanggal nora catur sagara wulan
(0-4-4-1), yaitu tahun 1440 Saka atau 1518 Masehi. Naskah ini telah menjadi
Referensi dalam publikasi yang diterbitkan oleh Holle dan Noorduyn. Edisi
lengkapnya yang disertai terjemahan, pengantar, komentar dan glosari ditulis
dalam kertas stensil oleh Atja dan Danasasmita (1981a). Naskah ini telah
diterbitkan kembali dalam bentuk buku oleh Danasasmita dkk. (1987:73-118)
(Noorduyn, 2006).
Naskah
Sanghyang Siksakanda ng Karesian berasal dari Galuh (salah satu ibukota
Kerajaan Sunda) Meskipun naskah Kropak 624 merupakan koleksi Bataviaasch
Genootschap van Kunsten en Weteschapen bersama-sama dengan Kropak 630, namun
diperoleh dari sumber yang berbeda. Naskah Sanghyang Siksakandang Karesian
Kropak 630 berasal dari koleksi pemberian Raden Saleh, sedangkan Naskah
Sanghyang Siksa Kandang Karesian Kropak 624 berasal dari koleksi pemberian
Bupati Bandung.
Penelitian-penelitian
naskah yang dilakukan oleh Atja maupun Saleh Danasasmita tampaknya cenderung dilakukan pada naskah-naskah
koleksi K.F. Holle atau pemberian Raden Saleh saja. Dengan demikian cukup
jelaslah mengapa Naskah Sanghyang Siksakandang Karesian pada awalnya dikatakan
sebagai naskah tunggal (codex Kropak). Tetapi dengan terungkapnya naskah kedua
dengan isi kandungan yang sama pada Kropak 624, maka angapan tersebut kini
telah gugur.
Aksara
Sunda Kuna yang digunakan pada naskah Kropak 624 ini serupa dengan aksara yang
digunakan untuk merekam bahasa Sunda Kuna, seperti dalam naskah Carita
Parahyangan, Fragmen Carita Parahyangan, Carita Ratu Pakuan, Sanghyang Sasana
Maha Guru, dan Bujangga Manik. Sedangkan mengenai perbedaan media tulis yang
digunakan oleh naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian, dapat merujuk pada
keterangan dalam teks naskah Sanghyang Sasana Maha Guru.
/7v/…diturunkeun
deui, sa(s)tra mu(ng)gu ring taal, dingaranan ta ya carik, aya éta meunang
utama, kéna lain pikabuyutaneun. Diturunkeun deui, sa(s)tra mu(ng)gu ring
gebang, dingara(n)nan ta ya ceumeung. Ini iña pikabuyutaneun…
…Diturunkan
lagi, tulisan di atas di atas daun lontar, dinamakan goresan carik, ada
mendapatkan keutamaan, karena bukan untuk kabuyutan. Diturunkan lagi, tulisan
di atas gebang, dinamakan hitam (ceumeung), inilah yang digunakan untuk
kabuyutan… (Gunawan, 2009: 112–113).
Pada
teks tersebut terlihat perbedaan fungsi dan kedudukan tulisan dengan alas tulis
yang berbeda. Dalam hal ini lontar dan gebang. Tulisan di atas daun lontar
dibuat dengan cara digores menggunakan pisau pangot atau pengutik. Dalam teks
Sanghyang Siksa Kandang Karesian terdapat bagian yang menjelaskan bahwa péso
pangot perupakan alat yang digunakan oleh pandita.
XVII
…Ganggamam sang pandita ma: kala katri, péso raut, péso dongdang, pangot,
pakisi. Danawa pina/h/ka dewanya, ja itu paranti kumeureut sagala…
…
Senjata sang pendeta ialah: kala katri, pisau raut, pisau dongdang, pangot,
pakisi. Danawa yang dijadikan dewanya, karena digunakan untuk mengerat segala …
(Atja & Danasasmita, 1981).
Tulisan
yang digoreskan di atas daun lontar berfungsi sebagai media untuk mendapatkan
keutamaan, artinya mendapatkan segala manfaat dari kandungan yang ada di
dalamnya. Holil Dan Gunawan (2010), seperti anggapan Noorduyn dan Teeuw (2006),
memperkirakan bahwa naskah lontar yang umumnya berbentuk puisi, berkaitan erat
dengan carita pantun, tradisi lisan Sunda masa lalu, karena memiliki pola
metrum yang relatif sama. Artinya, teks-teks di atas daun lontar memungkinkan
untuk ditampilkan secara lisan dalam sebuah pertunjukan carita pantun.
Sementara
tulisan di atas gebang dinamakan ceumeung (hitam). Yang dimaksud gebang adalah
nipah, karena memiliki ciri-ciri yang sama yaitu ditulis menggunakan tinta
hitam. Naskah nipah ditulis menggunakan tinta organik yang berasal dari hasil
olahan nagasari dan damarsela, sedangkan pena yang digunakan adalah harupat
(batang lidi pohon aren) (Holle, 1882:17).
Naskah
Sanghyang Siksakandang Karesian nipah hampir seluruhnya berbentuk prosa
didaktis, berisi risalah keagamaan yang diajarkan sang pandita kepada sang
séwaka darma. Hal ini diperkuat dengan pengaruh penggunaan bahasa Jawa Kuna,
sebagai bahasa pengantar keagamaan, yang cukup dominan dalam naskah nipah
(Holil & Gunawan, 2010:114-115). Berdasarkan hal ini, dapat dimengerti
mengapa naskah-naskah gebang dijadikan sebagai kabuyutan atau mandala
(pikabuyutaneun).
Naskah
Kropak 624 memiliki kandungan teks yang sama dengan Kropak 630, padahal
dituliskan pada bahan yang berbeda (lontar dan gebang). Apabila konteks
kabuyutan yang dimaksud pada naskah Sanghyang Sasana Maha Guru tersebut mengacu
pada isi teks naskah dengan bahan tertentu, maka naskah Kropak 624 merupakan
sebuah anomali. Dengan demikian diperlukan kajian lebih mendalam mengenai
fungsi Naskah Sanghyang Siksakandang Karesian berdasarkan bahan tulisnya, yang
mengacu pada keterangan di dalam naskah Sanghyang Sasana Maha Guru. Selain itu,
karena bentuk teksnya yang tidak bermetrum puisi, tampaknya naskah Kropak 624
ini adalah naskah yang kecil kemungkinannya untuk ditampilkan sebagai tampilan
pada carita pantun.
Naskah Sanghyang Siksakandang Karesian nipah (I - XXX)
I
Ndah
nihan warahakna sang sadu, de sang mamet hayu. Hana sanghyang siksakandang
karesian ngaranya, kayatnakna wong sakabeh. Nihan ujar sang sadu ngagelarkeun
sanghyang siksakandang karesian.
Ya
inilah (ajaran) yang akan disampaikan oleh sang budiman kepada mereka yang
(berupaya) mencari kebahagiaan. Ada (pun ajaran ini) bernama sanghyang
siksakandang karesian (dan dipersembahkan) untuk semua orang (agar selalu
memegang) kewaspadaan. Inilah ujar sang budiman memaparkan sanghyang
siksakandang karesian.
Ini
sanghyang dasa kreta kundangeun urang reya. Asing nu dek na(n)jeurkeun sasana
kreta pakeuneun heubeul hirup, heubeul nyewa na, jadiyan kuras. jadiyan tahun,
deugdeug ta(n)jeur jaya prang, Nyewana na urang reya.
Inilah
(ajaran yang disebut) sanghyang dasa kreta (sepuluh unsur kesejahteraan) untuk
pegangan orang banyak. Siapapun yang hendak menegakkan sarana kesejahteraan
agar dapat lama hidup, lama tinggal (di dunia). Berhasil dalam peternakan,
berhasil dalam pertanian, (serta) selalu unggul dalam perang, sumbernya
terletak pada (pikiran dan perilaku) orang banyak.
Ini
byakta sanghyang dasa kreta ngaranya, kalangkang dasa sila, maya-maya sanghyang
dasa marga, kapretyaksaan dasa indriya na keun ngretakeun bumi lamba di bumi
tan parek.
Inilah
kenyataan yang disebut sanghyang dasa kreta. (yang tercermin dalam)
Bayang-bayang dasa sila, (adapun bayang-bayang dasa sila merupakan)
bayang-bayang yang samar dari sanghyang dasa marga (sebagai) perwujudan sepuluh
indera untuk menyejahterakan dunia kehidupan di dunia yang luas.
Ini
pakeun urang ngretakeun bumi lamba, caang jalan, panjang tajur, paka pridana,
linyih pipir, caang buruan. Anggeus ma imah kaeusi, leuit kaeusi, paranje
kaeusi, huma kaomean, sadapan karaksa, palana ta hurip, sowe waras, nyewana
sama wong (sa)rat. Sangkilang di lamba, trena taru lata galuma, hejo lembok
tumuwuh sarba pala wo(h)wohan, dadi na hujan, landung tahun, tumuwuh daek, maka
hurip na urang reya. Inya eta sanghyang sasana kreta di lamba ngarana.
Ini
(jalan) untuk kita menyejahterakan dunia kehidupan, terang jalan, subur
tanaman, cukup sandang, bersih halaman belakang, bersih halaman rumah. Bila
berhasil (melaksanakan ajaran ini, maka) rumah (akan) terisi, lumbung (akan)
terisi. kandang ayam (akan) terisi, ladang (akan) terurus, sadapan (akan)
terpelihara, (sehingga kita akan) lama hidup (dan) selalu sehat. sumbernya
terletak pada manusia sedunia. Seluruh penopang kehidupan (seperti halnya);
Rumput, pohon-pohonan, (tumbuhan) rambat, (dan) semak, (akan menjadi) hijau.
Segala macam buah-buahan (akan) tumbuh subur (karena) banyak turun hujan,
pepohonan tinggi karena subur tumbuhnya (dan akan) memberikan kehidupan kepada
orang banyak. Ya itulah sarana kesejahteraan dalam kehidupan namanya.
Ini
sanghyang dasa kreta nu dipajarkeun kalangkang sanghyang dasa sila, ya
maya-maya sanghyang dasa marga ta, kapretyaksaan na dasa indriya. Ini byakta:
ceuli ulah barang denge mo ma nu sieup didenge kenana dora bancana, sangkan
urang nemu mala na iunas papa naraka; hengan lamun kapahayu ma sinengguh utama
ti pang-reungeu. Mata ulah barang deuleu mo ma nu sieup dideuleu kenana dora
bancana, sangkan urang nemu mala na lunas papa naraka; hengan lamun kapahayu ma
sinengguh utama ning deuleu. Kuril ulah dipake gulang-gasehan, ku panas ku
tiis, kenana dora bancana, sangkan nemu mala na Iunas papa naraka; hengan
lamunna kapahayu ma sinengguh utama bijilna ti kulit. Letah ulah salah nu
dirasakeun kenana dora bancana, sangkan urang nemu mala na lunas papa naraka;
hengan lamunna kapahayu ma sinengguh tuama bijilna ti letah. Irung ulah salah
ambeu kenana dora bancana. sangkan urang nemu mala na lunas papa.
Ini
sanghyang dasa kreta yang disebutkan (yang tercermin dalam) bayang-bayang dasa
sila, (adapun bayang-bayang dasa sila merupakan) bayang-bayang yang samar dari
sanghyang dasa marga (sebagai) perwujudan sepuluh indera. Inilah kenyataannya.
Telinga jangan (digunakan untuk) mendengarkan yang tidak layak didengar karena
(jika hal itu dilakukan maka akan) menjadi pintu bencana, (inilah) penyebab
kita mendapat celaka di dasar kenistaan neraka; namun kalau telinga
terpelihara, kita akan mendapat keutamaan dalam pendengaran. Mata jangan
(digunakan untuk) sembarang melihat yang tidak layak dipandang karena (jika hal
itu dilakukan maka akan) menjadi pintu bencana, (inilah) penyebab kita mendapat
celaka di dasar kenistaan neraka; namun bila mata terpelihara, kita akan
mendapat keutamaan dalam penglihatan. Kulit jangan digelisahkan karena panas
ataupun dingin sebab menjadi pintu bencana, penyebab kita mendapat celaka di
dasar kenistaan neraka; tetapi kalau kulit terpelihara, kita akan mendapat
keutamaan yang berasal dari kulit. Lidah jangan salah kecap karena menjadi
pintu bencana, (jika hal itu dilakukan maka akan menjadi) penyebab kita mendapat
celaka di dasar kenistaan neraka; namun bila lidah terpelihara, kita akan
mendapat keutamaan yang berasal dari lidah. Hidung jangan (digunakan untuk)
salah cium karena (jika hal itu dilakukan maka akan) menjadi pintu bencana
penyebab kita mendapat celaka di dasar kenistaan.
II
naraka;
hengan lamun kapehayu ma sinengguh utama bijilna ti irung. Sungut ulah barang
carek kenana dora bancana na lunas papa naraka; hengan lamun kapahayu ma
sinengguh utama bijihna ti sungut. Leungeun mulah barang cokot kenana dora
bancana na lunas papa naraka; hengan lamunna kapahavu ma sinengguh utama
bijilna ti leungeun. Suku ulah barang tincak kenana dora bancana na lunas papa
naraka; hengan lamunna kapahayu ma sinengguh utama bijilna ti suku. Payu ulah
dipake keter kenana dora bancana na lunas papa naraka. hengan lamunna kapahayu
ma sinengguh utama bijilna ti payu, Baga purusa ulah dipake kancoleh kenana
dora bancana na lunas papa naraka. hengan lamunna kapahayu ma sinengguh utama
dijilna ti baga lawan purusa, Ya ta sinangguh dasa kreta ngara(n)na. Anggeus
kapahayu ma dora sapuluh, rampes twahna urang reya Maka nguni twah sang dewa
ratu.
neraka:
namun bila hidung terpelihara, kita akan mendapat keutamaan yang berasal dari
hidung. Mulut jangan (digunakan untuk) sembarang bicara karena (jika hal itu
dilakukan maka akan) menjadi pintu bencana di dasar kenistaan neraka; namun
bila mulut terpelihara. kita akan mendapat keutamaan yang berasal dari mulut.
Tangan jangan (digunakan untuk) sembarang ambil karena (jika hal itu dilakukan
maka akan) menjadi pintu bencana di dasar kenistaan neraka; namun bila tangan
terpelihara. kita akan mendapat keutamaan yang berasal dari tangan. Kaki jangan
(digunakan untuk) sembarang melangkah karena (jika hal itu dilakukan maka akan)
menjadi pintu bencana, penyebab kita mendapat celaka di dasar kenistaan neraka;
namun bila kaki terpelihara. kita akan mendapat keutamaan yang berasal dari
kaki. Tumbung (lubang dubur) jangan dipakai untuk hubungan seksual sejenis
karena (jika hal itu dilakukan maka akan) menjadi pintu bencana di dasar
kenistaan neraka; namun bila tumbung terpelihara, kita akan mendapat keutamaan
yang berasal dari tumbung. Baga-purusa (baga : kemaluan wanita, purusa :
kemaluan laki-laki) jangan dipakai berjinah, karena (jika hal itu dilakukan
maka akan) menjadi pintu bencana, penyabab kita mendapat celaka di dasar
kenistaan neraka; namun bila baga-purusa terpelihara, kita akan memperoleh
keutamaan dari baga dan purusa, Ya itulah yang disebut dasa kreta. Kalau sudah
terpelihara pintu (nafsu) yang sepuluh, sempurnalah perbuatan orang banyak.
Demikian pula perbuatan sang raja.
Nihan
sinangguh dasa prebakti ngaranya. Anak bakti di bapa, ewe bakti di laki. hulun
bakti di pacandaan, sisya bakti di guru, wang tani bakti di wado. wado bakti di
mantri, mantri bakti di nu nangganan. nu nangganan bakti di mangkubumi,
mangkubumi bakti di ratu, ratu bakti di dewata, dewata bakti di hyang. Ya ta
sinangguh dasa prebak-
Inilah
yang disebut dengan dasa prebakti. (yaitu) Anak tunduk kepada bapak; isteri
tunduk kepada suami; hamba tunduk kepada majikan siswa tunduk kepada guru;
petani tunduk kepada wado (prajurit yang memimpin para petani melakukan kerja
bakti untuk raja yang sedang berkuasa); wado tunduk kepada mantri, mantri
tunduk kepada nu nangganan; nu nangganan tunduk kepada mangkubumi; mangkubumi
tunduk kepada raja; raja tunduk kepada dewata; dewata tunduk kepada hyang. Ya
itulah yang disebut dengan dasa prebak-
III
ti
ngara(n)na. (ti) Ini na lakukeuneun. talatah sang sadu jati. Hong kara name
sewaya. senibah ing hulun di sanghyang panca tatagata. Panca ngaran ing lima,
tata ma ngaran ing sabda, gata ma ngaran ing raga, Ya eta ma ngaran ing sabda,
gata ma ngaran ing raga. Ya eta ma pahayuan sareanana. Panca aksara guru-guru
ning janma. Panca aksara ma byakta nu katongton kawreton, kacaksuh ku indriya.
Guru ma pananyaan na urang reya. Nya mana dingaranan guru ing janma. Sang moha
sa(ng) geusna aya bwana.
ti
namanya. Inilah yang harus dilaksanakan, amanat (yang disampaikan oleh) sang
budiman sejati. Puji dan sembahku kepada Siwa, hormatku kepada sanghyang panca
tatagata. Panca berarti lima, tata berarti ucap, gata berarti raga. Ya, itulah
yang memberikan kebaikan kepada semuanya. Panca aksara (lima huruf yaitu: na,
ma, si, wa, ya yang masing-masing dianggap identik dengan: Isora, Brahma,
Mahadewa, Wisnu dan Siwa) adalah guru manusia. Panca aksara itu kenyataan yang
terlihat, terasa dan tersaksikan oleh indera kita. Guru itu tempat bertanya
orang banyak, Karena itu dinamakan guru manusia. Kebodohan itu baru ada setelah
adanya dunia.
Ini
byaktana. Ngaranya ya panca byapara. Sanghyang pretiwi, apah, teja, bayu mwang
akasa. Carek sang sadu maha purusa. eta keh drebya urang. Kangken pretiwi
kulit, kangken apah darah ciduh, kangken teja panon, kangken bayu tulang,
kangken akasa kapala. Iya pretiwi di sarira ngaranya. Nya mana dikangkenkeun ku
nu mawa bumi. Ya mangupati pra rama, resi, prabu, disi mwang tarahan.
Ini
kenyataanya. Namanya ya panca byapara (lima anasir pelindung/pembungkus) yaitu
Sanghyang pretiwi (tanah), air, cahaya, angin dan angkasa. Ujar sang budiman
manusia besar: itu semua milik kita. Adapun yang diibaratkan tanah adalah
kulit, yang diibaratkan air adalah darah dan ludah, yang diibaratkan cahaya
adalah mata, yang diibaratkan angin adalah tulang, yang diibaratkan angkasa adalah
kepala. Itulah yang disebut pretiwi yang ada dalam tubuh. Ya, diibaratkan oleh
penguasa bumi. Ya, menjelma menjadi para rama, resi, ratu, disi dan tarahan.
Ini
panca putra: pretiwi Sang Mangukuhan, apah Sang Katungmaralah, teja Sang
Karungkalah, bayu Sang Sandanggreba, akasa Sang Wretikandayun. Ini panca
kusika: Sang Kusika di Gunung, Sang Garga di Rumbut, Sang Mesti di Mahameru,
Sang Purusa di Madiri, Sang Patanjala di Panjulan.
Ini
yang disebut dengan panca putera (lima orang putera Sang Kandiawan yang
dianggap penjelmaan panca kusika yaitu lima orang resi murid Siwa dalam
mitologi Hindu) yaitu pretiwi adalah Sang Mangukuhan, air adalah Sang
Katungmaralah, cahaya adalah Sang Karungkalah, angin adalah Sang Sandanggreba,
angkasa adalah Sang Wretikandayun (pendiri Kerajaan Galuh), Ini yang disebut
dengan panca kusika: Sang Kusika di Gunung, Sang Garga di Rumbut, Sang Mesti di
Mahameru, Sang Purusa di Madiri. (dan) Sang Patanjala di Panjulan,
Lamun
pahi kaopeksa sanghyang wuku lima (dina) bwana, boa halimpu ikang desa kabeh.
Desa kabeh ngaranya: ppurba, daksina, pasima, utara, madya. Purba, timur,
kahanan Hyang Isora, putih rupanya; daksina, kidul, (kahanan Hyang Brahma,
mirah rupanya; Pasima, kulon) kahanan Hyang Mahadewa, kuning (rupanya);
Kalau
terpahami semua (tentang) sanghyang wuku (ruas atau penggalan) lima di bumi
tentu (akan) menyenangkan (melihat keadaan) semua tempat. Tempat itu disebut:
purba, daksina, pasima, utara, madya. Purba yaitu timur, tempat Hiyang Isora,
warnanya putih. Daksina yaitu selatan, tempat Hiyang Brahma, warnanya merah.
Pasima yaitu barat, tempat Hiyang Mahadewa, warnanya kuning.
IV
utara,
lor, kahanan Hyang Wisnu, hireng rupanya; madya, tengah, kahanan Hyang Siwah,
(aneka) warna rupanya. Nya mana sakitu sanghyang wuku lima dina bwana.
Utara
yaitu utara, tempat Hiyang Wisnu, warnanya hitam. Madya yaitu tengah, tempat
Hiyang Siwa, warnanya aneka macam. Ya sekian itulah wuku lima di bumi.
Ini
wuku lima di maha pandita. Sandi ma karasa si tutur, tapa ma karasa si
langlang, lungguh ma karasa si pageuh, pretyaksa ma karasa si asembawa,
kaleupaseun ma karasa madumi tan kaduman, manghingetan tanpa hinga(n). Sakitu
wuku lima di maha pandita.
Ini
wuku lima (yang dimiliki oleh) pendeta yang agung. Rahasia itu terasa dalam
bertutur, tapa itu terasa di saat berkelana, duduk itu terasa dalam keteguhan,
kepastian itu terasa dalam kemustahilan, kelepasan itu terasa dalam memberi
tanpa diberi, mengingat (eling) tanpa batas. Demikianlah wuku lima pada maha
pendeta.
Nihan
pawwitan ning kreta, sya sang dewata lima. Pahingawakan ngaran di maneh, pahi
mireungeuh rua di manen. Hengan lamunna mo karasa ma kadyangga ning wilut
tumemu wilutnya, bener tumemu benernya, Kitu keh eta, ku twah ning janma mana
kreta, ku twah ning janma mana na layu.
Ini
modal kesejahteraan yaitu mereka sang dewata lima (Iswara, Brahma, Mahadewa,
Wisnu dan Siwa). Semua (dewata memiliki karakter yang) mewakili namanya
sendiri; semua melihat rupanya sendiri. Namun kalau tidak terasa ibarat bengkok
bertemu dengan bengkoknya, lurus bertemu dengan lurusnya. Demikianlah karena
perbuatan maka manusia akan sejahtera, karena perbuatan maka manusia akan
sentosa.
Ini
karma ning hulun, saka jalan urang hulun, Karma ma ngaranya pibudieun,
ti(ng)kah paripolah saka jalan ngaranya. Maka takut maka jarot, maka atong maka
teuang di tingkah di pitwaheun, di ulah di pisabdaan,
Ini
pekerjaan abdi yang harus dijalankan untuk sarana kita mengabdi. Pekerjaan itu
disebut bakal budi, tingkah laku dan perbuatan itu namanya jalan. (abdi)
hendaknya takut, berhati-hati (?), hormat dan sopan dalam tingkah. dalam
perbuatan, dalam tingkah laku dan perkataan,
Maka
nguni lamun hareupeun sang dewa ratu pun. Maka satya di kahulunan, maka lokat
dasa kalesa, boa ruat mala mali papa, kapanggih ning kasorgaan. Lamun
teu(ng)teuing ngawakan karma ning hulun, kitu eta leuwih madan usya ditindih
ukir, ditapa di luhur gunung kena palarang ditapa dina luhur gajah, hunur
si(ng)ha; deukeut maha bancana.
Demikian
pula bila berada di hadapan sang raja. Tetaplah setia dalam pengabdian, (karena
abdi yang melaksanakannya) akan pulih dari dasa kalesa (sepuluh noda, yaitu
dosa yang bersumber kepada ketidakmampuan memelihara dasa indera), pasti
terhapus dosa dan hilang penderitaan, (dan) bersua dengan kebahagiaan. Bila
benar-benar melaksanakan tugas sebagai abdi, yang demikian itu lebih memadai
dari hasrat setinggi bukit, bertapa di puncak gunung karena terlarang bertapa
di atas gajah atau moncong singa; mudah mendapat bencana besar.
Ini
twah ing janma pigunacun na urang reya. Ulah mo turut sang hyang siksakan-
Ini
perilaku manusia yang akan berguna bagi orang banyak. Turutlah (ajaran) sanghyang
siksakan-
V
dang
karesian. Jaga rang dek luput ing na pancaga/n/ti, sangsara. Mulah carut mulah
sarereh, mulah nyangcarutkeun maneh. Kalingana nyangcarutkeun maneh ma
ngaranya: nu aya dipajar hanteu, nu hanteu dipajar waya, nu inya dipajar lain, nu
lain dipajar inya. Nya karah (he)dapna ma kira-kira. Budi-budi ngajerum,
mijaheutan, eta byaktana nyangcarutkeun maneh ngara(n)na.
dang
karesian. Waspadalah agar kita terluput dari pancagati (lima penyakit :
serakah, kebodohan, kejahatan, takabur dan keangkuhan) agar tidak sengsara.
Jangan khianat jangan culas, jangan mengkhianati diri sendiri. Yang disebut
dengan mengkhianati diri sendiri yaitu: yang ada dikatakan bukan, yang bukan
dikatakan benar. Ya begitulah, tekadnya penuh dengan muslihat. Perbuatan
memfitnah, menyakiti hati (orang lain), itulah kenyataannya yang disebut
mengkhianati diri sendiri.
Nyangcarutkeun
sakalih ma ngara(n)na: mipit mo amit, ngala mo menta, ngajuput mo sadu. Maka
nguni tu: tunumpu, maling, ngetal, ngabegal; sing sawatek cekap carut, ya
nyangcarutkeun sakalih ngara(n)na.
Yang
disebut mengkhianati orang lain adalah: memetik (milik orang) tanpa izin,
mengambil tanpa meminta, memungut tanpa memberi tahu. Demikian pula: merampas,
mencuri, merampok, menodong; segala macam perbuatan khianat. ya mengkhianati
orang lain namanya.
Sanguni
tu: meor, ngodok, nyepet, ngarebut, ngarorogoh, papan jingan. Maka nguni ngotok
ngowo di pamajikan, di panghulu tandang. Maka nguni di tohaan di maneh, Itu
leuwih mulah dipiguna dipitwah ku urang hulun. Ulah mo pake na sabda atong
teuang guru basa, bakti susila di pada janma, di kula kandang baraya.
Demikian
pula: merangkum (mengambil barang milik orang dengan kedua telapak tangan),
memasukkan tangan (untuk mengambil barang milik orang), mencomot, merebut,
merogoh, menggerayangi rumah orang, Begitu juga terus menerus tinggal di rumah
majikan, rumah penguasa atau pada raja. Hal demikian lebih-lebih jangan
dilakukan, tidak boleh diperbuat oleh seorang abdi. Jangan lupa menggunakan
ucap yang hormat, sopan dan mantap, bakti dan susila kepada sesama manusia,
kepada sanak keluarga.
Maka
nguni di tohaan urang. Suku ma pake disila, leungeun ma pake umum, Jaga rang
pacarek deung menak deung gu(s)ti deung bu-haya ing kalih deung estri larangan
maka nguni deung tohaan urang. Jaga rang dipiguhakeun mulah surah di tineung
urang, sanguni salah tembal, kajeueung semu mo suka ku tohaan urang. Ulah, pamali;
bisi urug beunang ditapa, hilang beunang cakal bakal, bisi leungit batri hese,
kapangguh ku sanghyang jagat sangsara, batigra-
Demikianlah
adab yang seharusnya kita lakukan kepada raja kita. Kaki itu untuk bersila dan
tangan untuk menyembah. Hati-hatilah kita berbincang dengan bangsawan, dengan
majikan pemilik tanah, dengan kedua orang tua, dengan wanita larangan (wanita
yang telah bertunangan dan telah menerima tanda pinangan). Begitu pula dengan
raja kita. Bila kepada kita diberikan kepercayaan untuk memegang suatu rahasia,
jangan munafik pikiran kita, demikian pula (jangan) salah dalam menjawab, jika
raja sedang tidak senang maka kita dapat melihatnya dari roman mukanya. Jangan,
pemali! (jika hal itu dilakukan, maka) nanti gugur hasil kita bertapa, hilang
pula jasa nenek moyang, vegitu pula hasil jerih payah kita akan lenyap, kalau
hal itu sampai terjadi, maka kita akan tertimpa kesengsaraan, (dan) diusir
VI
han
ku sang dewa ratu. Lamun hamo satya di tohaan urang, a(ng)geus ma jaga rang
waya di kagering, jaga rang palay, jaga rang ireug, duga-duga majar maneh
teu(ng)teuing amat. Mana dipajar satya dikahulunan; hengan jaga rang ceta ma
mulah luhya, mulah kuciwa, mulah ng(n)tong dipiwarang, mulah hiri mulah dengki
deung deungeun sakahulunan. Maka nguni nyeueung nu meunang pudyan, meunang
parekan, nyeueung nu dineneh ku tohaan, teka dek nyetnyot tineung urang. Haywa,
pamali !. Kapamalyanna karah: jadi neluh bareuh hate. Hamo beunang gitambaan,
jampe mo matih, paksa mo mretyaksa, ja hanteu kturutan ku sanghyang
siksakandang karesian.
oleh
sang raja. Kalau kita tak setia kepada raja, bila suatu saat kemudian kita
menderita sakit, tubuh menjadi lemah karena tak bertenaga atau merasa bingung
(sedangkan raja tidak memperhatikan karena kita berbuat salah) kita akan
terang-terangan mengatakan bahwa (raja) itu keterlaluan. Karena itu belajarlah
setia kepada raja, tetapi bila kita bertindak, jangan mengeluh, jangan kecewa,
jangan enggan diperintah, jangan iri, jangan dengki kepada kawan semajikan.
Demikianlah pula bila melihat orang yang mendapat pujian, mendapat selir,
melihat yang dikasihi oleh raja, (semua itu janganlah kemudian) hendak
menggoyahkan kesetiaan kita. Jangan, pemali! Akibat buruknya ialah kita menjadi
murung dan sakit hati. (hal semacam ini) tak akan dapat diobati, jampi tak akan
mempan, dan niat tak akan terlaksana karena tidak dibenarkan oleh sanghyang
siksakandang karesian.
Kitu
jaga rang nangganan, mulah kira-kira digelangan. Jaga rang kagelangan, mulah mo
bakti di nu nangganan kena itu tanda sang dewa ratu.
Demikianlah
bila kita menjadi anggota pasukan, janganlah sampai mendapat marah. Kalaupun
kita mendapat marah jangan sampai tidak berbakti kepada yang memerintah karena
(pemimpin pasukan adalah) pejabat tinggi negara (yang ditugaskan oleh) sang
raja.
Jaga
rang keuna panyuruhan, mulah mo raksa sanghyang siksakandang karesian, pakeun
urang satya di piwarangan. Hengan lamur. nu ngalor ngidul ngulon ngetan, geus
ma mulah siwok ca(n)te, mulah simur cante, mulah simar cante, mulah darma
cante. Ya ta sinangguh sanghyang catur yatna ngaranya.
Bila
kita mendapat perintah (dari atasan), jangan melupakan sanghyang siksakandang
karesian. Agar kita tetap setia kepada tugas. Namun kalau ada yang (diperintah
untuk pergi) ke utara, selatan, barat dan timur, janganlah siwok cante, jangan
simur cante, jangan simar cante, jangan darma cante. Ya itulah yang disebut
catur yatna (empat kewaspadaan).
Ini
kalingana. Siwok cante ma ngara(n)na kawujukan ku hakan inum. Simur cante ma
ngara(n)na salima hamilu ngaramakeun nu maling, nu ngarebut, nu meor. Ya salah
dongdonan ngaranya. Simar cante ma ngara(n)na ngala dagangan mas pirak
lalambaran hanteu di-
Inilah
keterangannya. Yang disebut dengan siwok cante adalah tergoda oleh makan-minum.
Yang disebut simur cante adalah ikut perbuatan orang yang mencuri, merebut dan
merangkum. Itulah yang dinamakan salah langkah, yang disebut simar cante adalah
mengambil dagangan mas dan perak berlembar-lembar tanpa di-
VII
titah
ku nu miwarang. Ya salah sadeya(n) ngara(n)na. Darma cante ma ngara(n)na
daranan di kaceuceub tohaan urang. Disuruh nyokot ngadarat matyan nu tan yogya
ku tohaan gumanti ya ngiseusan, kena wageuy, kena kula kadang, kena baraya. Eta
ulah dipiguna ku urang hulun. Bogoh di kaceuceub, ceuceub di kabogoh, Itu tan
yogya dipitwah ku urang hulun,
suruh
yang empunya barang. Ya salah jualan namanya. Yang disebut darma cante ialah
membantu (pihak) yang dibenci oleh raja kita. (misalnya) disuruh mengambil
(menangkap) atau pergi membunuh orang yang durhaka oleh raja namun berganti
jadi memberi hati kepada orang yang hendak ditangkap karena ragu-ragu, karena
terikat rasa kekeluargaan, atau karena hubungan persaudaraan. Hal itu jangan
dilakukan oleh seorang abdi. Suka terhadap sesuatu yang dibenci (oleh raja),
sebaliknya benci terhadap sesuatu yang disukai (oleh raja). Hal itu tidak layak
kita perbuat selaku seorang abdi,
Ini
pakeun urang nurut ka tohaan, pakeun urang panjang di-pihulun. pakeun urang
hsebeul diasa ku tohaan urang. Turut sangyang siksakandang karesian! Bireungeuh
na panghulu tandang. Lamun nyeuseul tohaan, milu rang nyeuseul deui deung
tohaan. Lamun muji tohaan, milu urang muji deui deung tohaan. Lamun hamo ma
milu muji milu meda deung tohaan tosta cingcing tegang urang bakti ka tohaan.
Ini
harus dilaksanakan jika kita berniat untuk menurut kepada raja, supaya kita
lama dijadikan abdi, agar kita lama diaku oleh raja kita. Ikuti nasihat
sanghyang siksakandang karesian! (jika kita hendak berbuat sesuatu, lihatlah
situasi dan kondisi sang penguasa. Kalau raja marah kitapun harus ikut marah
bersama raja. Kalau raja memuji kitapun harus ikut memuji bersama raja. Kalau
tidak ikut memuji atau mencela bersama raja, itulah tanda bahwa kita mungkir
dari pengabdian kita kepada raja.
Jaga
rang leumpang ngalasan, baju simbut Lamun hamo deung tohaan, iseuskeun na
siksakandang karesian. Siksaan(a)na ta ulah dek ngundeur ka huma beet sakalih
ka kebon sakalih. Hamo ma beunang urang laku sadu.
Kalau
kita (diperintah untuk) pergi ke hutan. janganlah lupa untuk membawa baju dan
selimut. Kalau (keberangkatan kita) tidak bersama raja, perhatikan (peraturan)
dalam siksakandang karesian. Peraturannya yaitu: jangan memetik sayur di ladang
kecil milik orang lain, juga di kebun orang lain. Akan sia-sia hasil kita
beramal baik.
Salang
keboan ning alas, kayu batri nangtu, bwah beunang nga-rara(ng)gean,
tanggeuhkeun suluh, turuban supa, cangreudan tewwan, odeng, nyeru-
(adapun)
batas kebun dengan hutan biasanya adalah kayu yang ditandai dengan tali, pohon
buah yang ditandai dengan ranting, kayu bakar yang disandarkan, cendawan yang
ditutupi, sarang tiwuan, odeng, lebah
VIII
an,
engang, ulam, parakan, sing sawatek babayan, ulah urang barang ala. Sanguni
nurunkeun sadapan sakalih, ulah eta dipiguna kenana puhun ning dosa, tamikal
ning papa kalesa.
engang,
ulat kayu, parakan (bagian sungai tempat menangkap ikan dengan cara
mengeringkannya sebagian) atau apapun yang telah diberi simpul babayan (tali
bergantung sebagai ciri pemilikan) tidak boleh diambil. Demikian pula
menurunkan hasil sadapan orang lain jangan sekali-kali dilakukan karena
merupakan sumber dosa dan pangkal kenistaan dan noda.
Jaga
rang nemu jalan, gede beet, bangat dicangcut dipangadwa sugan urang pajeueung
deung gusti deung mantri. Ulah mo pangidalkeun pangadokokongkeun. Lamun
bujangga brahmana, wikuhaji mangkubumi, anak ratu, beunghar kokoro, maka nguni
gutuloka, ulah mo pahi panggidalkeun kena itu guru sang prebu.
Kalau
kita menemukan jalan, besar atau kecil, segeralah bercangcut dan berpangadwa
(sejenis pakaian yang terdiri atas dua bagian) sebab mungkin kita berpapasan
dengan gusti atau mantri. (maka) kita harus berada di sebelah kiri jalan dan
berjongkok. Bila (bertemu dengan) pujangga, brahmana, raja pendeta, mangkubumi,
putera raja, kaya atau miskin, demikian pula bila bersua dengan guruloka, kita
harus berada di sebelah kirinya karena dia itu guru sang maharaja.
Ingetkeun
na siksakandang karesian, deung iseuskeun na haloan. Ulah ngeri(ng)keun estri
larangan sakalih, rara hulanjar sakalih, bisi keuna ku haloan si panghawanan,
Maka nguni ngarowang tangan, sapanglungguhan di catang, di bale, patutunggalan,
haloan si panglungguhan ngara(n)na. Patanjeur-tanjeur di pipir, di buruan,
patu-tunggalan, haloan si pana/h/taran ngara(n)na.
Ingat-ingat
nasihat dalam siksakandang karesian dan perhatikan dalam godaan. Jangan
berjalan mengiringi semua wanita larangan dan semua rara hulanjar (janda belum
beranak, janda perawan) agar tidak terkena godaan di perjalanan. Demikian pula
memegang tangannya, duduk bersama-sama di atas catang, di balai-balai hanya
berdua saja, karena hal itu akan menimbulkan godaan di tempat duduk. Berdiri di
belakang rumah atau di halaman berdua saja, hal itu akan menimbulkan godaan
yang disebut godaan di tempat berdiri.
Nembalan
nu batuk, nu ngadehem, nu ngareuhak, maka nguni embuing; kalih ngawih, ya lembu
akalang ngaranya. Nyanda di (u)rut sanghyang kalih deuuk di tihang, di kayu, di
batu, nyeueung inya anggeus diri disilihan nyanda, ngara(n)na lembu anggasin.
Itu kehna ingetkeuneun lamun dek luput ti naraka,
(demikian
pula bila kita) menyahut orang batuk, mendeham, membuang dahak, demikian pula
menyahut ibu-ibu yang menyanyi, (merupakan kesalahan yang) disebut lembu
memasuki gelanggang. Bersandar pada tiang atau bekas duduk orang suci, pada
kayu, atau pada batu, padahal kita melihatnya dan setelah mereka pergi kita
menggantikannya bersandar di situ, (juga merupakan kesalahan yang) disebut
lembu menantang. Itu semua perlu diingat kalau ingin terluput dari neraka,
Sa/ng/nguni
sapanginepan, sapamajikan, satepas, sabale deung sanghyang kalih, deung estri
larangan sakalih ngara(n)na kebo sapinahan. Nya kehna ingetkeuneun,
Demikian
pula (jika bermalam dalam) satu penginapan, satu tempat-tinggal, seberanda,
sebalai-balai dengan semua orang suci, semua wanita larangan, (juga merupakan
kesalahan yang) dinamakan kerbau sepemakanan. Ya semuanya perlu diingat,
IX
sinangguh
ulah pamali ngara(n)na. (disebut.perbuatan pemali namanya.) Itu haywa ulah dek
(di)turut ku hulun sakalih. Lamun urang dek maan inya ma maka majar ka panghulu
tandang. Lamun dipicaya ma samayakeun, ku geringna ku paehna ku leungitna.
poron mati sareyanana, eta baan. Hamo tu aya na pidosaeun ja kolot na samaya
ni(r)ni na agama. Hamo ma dipicaya, ulah! Lamun keudeu ma dek maan inya, gering
ma nulung, paeh leungit ma ngagantyan sakadeugdeugna. Sa/ng/mangkana
kayatnakna!
semua
itu jangan sekali-kali ditiru oleh abdi semuanya. Kalau kita hendak membawa
(raja yang sedang sakit) maka berbicaralah kepada penguasa. Kalau disetujui,
rundingkanlah perihal sakitnya, matinya, hilangnya barang bawaannya, kuburannya
semua, bawalah! Tidak akan menjadikan aturan. Kalau (ternyata) tidak disetujui,
jangan berkeras hendak membawa dia, karena bila ia sakit harus diurus, bila
mati atau barang-barang bawaannya hilang harus mengganti sendiri menurut
kemampuan, karena itu hati-hatilah!
Nihan
muwah. Jaga rang kadatangan ku same pangurang dasa, calagara, upeti panggeureus
reuma maka suka geui(ng) urang, maka rasa kadatangan ku kula kadang, ku baraya,
ku adi lanceuk anak mitra suan kaponakan. Sakitu eta kangken Ngan lamun aya
panghaat urang, kicap inum si(m)but cawet suka drebya.
Ini
lagi. Kalau kita kedatangan pemungut pajak dalam bentuk dasa (pajak tenaga
perorangan), calagara (pajak tenaga kolektif), pemungut upeti, panggeureus
reuma (hasil lebih atau hasil cuma-cuma tanpa usaha di bekas ladang),
tunjukkanlah rasa suka dalam tingkah kita, anggaplah seperti kedatangan sanak-keluarga,
saudara, adik, kakak, anak, sahabat, suan atau keponakan. Demikianlah
ibaratnya. Namun bila ada rasa sayang pada kita, sediakanlah makanan, minuman,
selimut, kain yang kita miliki.
Maka
rasa puja nyanggraha ka hyang ka dewata, Anggeus ma jaga rang dipigunakeun ka
gaga ka sawah ka serang ageung, ngikis, marigi, ngandang, ngaburang, marak,
mu(n)day, ngadodoger, mangpayang. nyair bi(n)cang; sing sawatek guna tohaan,
ulah sungsut, ulah surah, ulah purik deung giringsing, pahi sukakeun sareyanana.
Resapkanlah
puja dan berlindung kepada hiyang dan dewata. Bila kita diperintah bekerja ke
ladang, ke sawah, ke serang ageung (sawah atau ladang yang padinya digunakan
untuk kepentingan upacara umum, atau sawah ladang pejabat), ngikis (memelihara
saluran air), menggali saluran, mengandangkan ternak, memasang ranjau tajam,
membendung sebahagian alur sungai untuk menangkap ikan, menjala, menarik
jaring, memasang jaring, menangguk ikan, merentang jaring; segala pekerjaan
untuk kepentingan raja, jangan marah-marah. jangan munafik, jangan resah dan
uring-uringan, kerjakanlah dengan senang hati semuanya.
Maka
rasa guna urang. Ngan lamun urang pulang ka dayeuh, ulah ngising di pi(ng)gir
jalan, di sisi imah di tungtung caangna. bisi kaambeu ku menak ku gusti.
Sunguni tu(ng)ku nu rongah-rongah bisi kasumpah kapadakeun ambu bapa
pangguruan, kapapas ka nu karolot ku twah urang gagabah. Ngan lamun
Resapkanlah
tugas kita. Namun bila kita pulang ke kota, jangan berak di pinggir jalan atau
di pinggir rumah di ujung bagian yang tak berumput, agar tidak tercium oleh
menak dan gusti. Timbuni tungku yang berlubang-lubang supaya tidak dikutuk dan
disalahkan ibu-bapak dan perguruan, disesali oleh orang-orang tua karena
perbuatan kita yang ceroboh. Namun kalau
X
(carek)
sanghyang siksa, ngising ma tujuh lengkah ti jalan, kiih ma tilu lengkah ti
jalan. Boa mo nemu picarekeun sakalih ja urang nyaho di ulah pamali. Kaulah ma
duka, pamali ma paeh, deung jeungjeueung gagawar, pucuk tambalung, sugan
tampyan dalem, kandang larang(an), bale larangan. Maka nguni ngalangsinang,
mapag ngaliwat ratu macangkrama kena itu paranti dosa, Jaga rang asup dalem,
maka rea lieuk, sugan ngarumpak nebuk nembung megat jajarah. Jaga urang deuuk,
ulah salah hareup, maka rampes disila. Deung sugan urang dibaan lemek ku
tohaan, tineungkeun picarek urang. Asing seueup, maka suka ka tohaan.
menurut
sanghyang siksa, berak harus tujuh langkah dari jalan, kencing harus tiga
langkah dari jalan. Pasti tidak akan dimarahi orang lain karena kita mengetahui
perbuatan yang terlarang. Kalau dikerjakan akan mendatangkan sedih. Yang
terlarang itu dapat mengakibatkan kematian; dan (dalam kota itu) perhatikanlah
tempat hukuman(?). ujung kayu penjepit tangan hukuman, mungkin pemandian
keraton, kandang larangan, rumah larangan. Demikian pula memintas jalan,
menghampiri atau melewati rombongan raja yang sedang bercengkerama, karena
semua itu merupakan perbuatan dosa. Bila kita masuk ke keraton, maka
baik-baiklah melihat, jangan sampai melanggar, mendorong, mengganggu atau
memutus jajaran (orang-orang yang duduk). Bila kita duduk jangan salah
menghadap, baik-baiklah bersila. Dan sekiranya kita diajak bicara oleh raja,
pikirkanlah betul-betul bicara kita. Harus layak supaya menyenangkan raja.
Deung
maka ilik-ilik dina turutaneun: mantri gusti kaasa-asa, bayangkara nu marek,
pangalasan, juru lukis, pande dang, pande mas, pande gelang, pande wesi, guru
wida(ng). medu, wayang, kumbang gending, tapukan, banyolan, pahuma, panyadap,
panyawah, panyapu, bela mati, juru moha, barat katiga, pajurit, pamanah,
pam(a)rahg, pangurang dasa calagara, rare angon, pacelengan, pakotokan, palika,
preteuleum, sing sawatek guna, Aya ma satya di guna di kahulunan. Eta kehna
turutaneun kena eta ngawakan tapa di nagara.
Dan
perhatikanlah perilaku mereka yang dapat ditiru: mantri, gusti yang terkemuka,
bayangkara Pasukan pengawal raja) yang sedang menghadap, pangalasan. juru
lukis, pandai besi, ahli kulit, dalang wayang, pembuat gamelan, pemain
sandiwara, pelawak, penggarap ladang. Penyadap, pennggarap sawah, penyapu, bela
mati, juru moha, barat katiga, prajurit, pemanah, pemarang, petugas dasa dan anak
gembala, juru selam dan segala macam pekerjaan. Semua setia kepada tugas untuk
raja, itu semua patut ditiru sebab mereka melakukan tapa dalam negara.
Aya
ma na urang nu kaseuseul ku tohaan, eta keh ulah dituru(t) twah bisi urang
kaseuseul deui. Ini babandingna, upama janma leu(m)pang ngala-
Jika
ada seseorang di antara kita yang dimarahi oleh raja, perbuatannya itu semua
jangan ditiru, karena nanti kitapun akan mendapat marah pula. Ini
perbandingannya; kalau orang pergi ke hu-
XI
san
nincak cucuk, tincak keh deui ku urang, sarua sakit/an/na. Nya mana aya ma na
urang nu kapuji, «i cangcingan, si langsitan, maka predana, emet imeut rajeun
leukeun satya di guna tohaan. Eta ma turut twahna deung gunana, boa urang
kapuji deui.
tan
menginjak duri, lalu kitapun penginjaknya, terasa sama sakitnya. Bila ada di
antara kita yang terpuji: cekatan, terampil, penuh keutamaan, cermat, teliti.
rajin, tekun, setia kepada tugas dari raja. Yang demikian itu perlu ditiru
perbuatan dan kemahirannya. pasti kitapun akan mendapat pujian pula.
Aya
ma/na/ janma rampes ruana, rampes ti(ng)kahna, rampes twahna, turut saageungna
kena eta sinangguh janma utama ngara(n)na. Aya ma janma goreng ruana. ireug
ti(ng)kahna, rampes twahna, itu ma milah diturut ti(ng)kahna dara sok jeueung
rwana. Turut ma twahna. Aya janma goreng rwana. ireug tingkahna, goreng twahna,
itu ma caru(t) ning bumi, silih diri na urang sabwana, ngara(n)na calang ning
janma. itu kehna ingetkeuneun, hala-hayu goreng-rampes ala guru.
Bila
ada orang baik penampilannya, baik tingkahnya, baik perbuatannya, tirulah
seluruhnya karena yang demikian itu disebut manusia utama. Bila ada orang yang
buruk penampilannya, pandir tingkahnya, tetapi baik perbuatannya. yang demikian
itu jangan ditiru tingkahnya, dan perhatikan penampilannya. Tirulah
perbuatannya. Kalau ada orang yang buruk penampilannya, pandir tingkahnya dan
buruk pula perbuatannya, yang demikian itu noda dunia, menjadi pengganti
(tumbal) kita seluruh dunia, namanya kebusukan manusia. Itu semua patut
diingat, sengsara dan bahagia, buruk dan baik, tergantung kepada guru.
Ini
pengetna, Aya ma janma paeh maling, paeh papanjingan, paeh ngabegal, paeh meor,
sing sawatek cekap carut, eta jeueung kena ulah diturutan. Ya eta kangken guru
nista ngara(n)na.
Ini
tandanya. Ada orang mati waktu mencuri, mati ketika menggerayangi rumah orang,
mati waktu menodong, mati waktu merangkum, dan segala macam perbuatan khianat,
semua itu harus diperhatikan karena jangan dijadikan contoh. Ya itulah yang
disebut guru nista.
Aya
ta deui. Lamun urang nyeueung nu ngawayang, ngadenge-keun nu ma(n)tun, nemu
siksaan tina carita, ya kangken guru panggung ngara(n)na. Lamun urang nemu
siksaan rampes ti nu maca ya kangken guru tangtu ngara(n)na. Lamun mireungeuh
beunang nu kuriak ma: ukir-ukiran, paparahatan.
Ada
lagi. Kalau kita menonton wayang, mendengarkan juru pantun, Ialu menemukan
pelajaran dari kisahnya. itu disebut guru panggung. Bila kita menemukan
pelajaran yang baik dari membaca ya disebut guru tangtu. Kalau melihat hasil
pekerjaan besar seperti: ukir-ukiran, hasil pahatan,
XII
papadungan,
tutulisan, sui nanya ka nu diguna, temu ku rasa sorangan ku beunangna ilik di
guna sakalih ya kangken guru wreti ngara(n)na. Nemu agama ti anak, ya kangken
guru rare ngara(n)na. Nemu darma ti aki ma ya kangken guru kaki ngara(n)na.
Nemu darma ti lanceuk ma ya kangken guru kakang ngara(n)na. Nemu darma ti toa
ma ya kangken guru ua ngara(n)na.
(papadungan/papasan
kayu?), lukisan, enggan bertanya kepada pembuatnya namun dapat dipahami oleh
rasa sendiri hasil mengamati karya orang lain, ya disebut guru wreti. Mendapat
ilmu dari anak. disebut guru rare. Mendapat pelajaran dari kakek, disebut guru
kaki. Mendapat pelajaran dari kakak, disebut guru kakang. Mendapat palajaran
dari toa, disebut guru ua.
Nemu
darma ti geusan leumpang di lembur di geusan ngawengi, di geusan eureun, di
geusan majik ma ya kangken guru hawan ngara(n)na. Nemu darma ti indung ti bapa
ya kangken guru kamulan ngara(n)na. Maka nguni lamun hatur ka mahapandita ya
kangken guru utama, ya kangken guru mulya, ya kangken guru premana, ya kangken
guru kaupadesaan. Ya sinangguh catur utama ngara(n)na.
Mendapat
pelajaran di tempat bepergian, di kampung di tempat bermalam, di tempat
berhenti, di tempat menumpang, disebut guru hawan. Mendapat pelajaran dari ibu
dan bapak, disebut guru kamulan. Demikian pula kalau berguru kepada maha
pendeta, disebut guru utama, ya disebut guru mulya, guru premana, ya guru
kaupadesaan. Itulah yang disebut dengan catur utama (empat keutamaan).
Nya
mana kitu, lamun a(ng)geus di karma ning akarma, di twah ning atwah, a(ng)geus
pahi kaiilikan nu gopel nu rampes, nu hala nu hayu. Kitu lamun aya nu muji
urang, suita, maka geuing urang, gumanti pulangkeun ka nu muji, pakeun urang mo
kapentingan ku pamuji sakalih. Lamun urang daek dipuji ma kadyangga ning galah
dawa sinambungan tuna, rasa atoh ku pamuji.
Karena
itu bila telah selesai menunaikan semua kewajiban dan pekerjaan, periksalah
kembali mana yang jelek mana yang bagus, mana yang buruk mana yang baik. Begiiulah
bila ada yang memuji kita, hendaknya segan dan sadarlah kita, ganti kembalikan
kepada yang memuji supaya kita tidak mementingkan pujian orang lain. Kalau kita
senang dipuji, ibarat galah panjang disambung dengan ranting (belalai) karena
merasa senang oleh pujian.
A(ng)geus
ma dipake hangkara ja ngarasa maneh aya di imah maneh, ku hakan ku inum, ku
suka ku boga, ku pakarang, teka dipake anggeuhan. Eta kangken galah dawa ta.
Eta Kangken pare hapa ta ngara(n)na.
Setelah
itu akan menjadi takabur karena merasa diri berkecukupan di rumah sendiri
dengan makanan, minuman, kesenangan, kenikmatan dan perabotan, lalu dijadikan
andalan. Itu disebut galah panjang. Itu ibarat padi hampa namanya.
XIII
Kitu,
lamun aya nu meda urang, aku sapameda sakalih. Nya mana kadyangganing galah
cedek tinugelan teka. Upamana urang kudil, eta kangken cai pamandyan. Upamana
urang kurit kangken datang nu ngaminyakan. Upamana urang ponyo kangkn datang nu
mere kejo. Upamana urang henaang kangken (datang nu) mawakeun aroteun. Upamana
urang handeueul kangken (datang) nu mere seupaheun. Ya sinangguh panca parisuda
ngara(n)na. Eta kangken galah cedek tinugelan.
Begitulah,
kalau ada yang mencela (mengkritik) kepada kita, terimalah kritik orang lain
itu. Yang demikian itu ibarat galah sodok dipotong runcing. Ibarat kita sedang
kumal, celaan itu bagaikan air pemandian; ibarat kita sedang menderita
kekeringan kulit, bagaikan datang orang yang meminyaki, ibarat kita sedang
lapar, bagaikan datang yang memberi nasi; ibarat kita sedang dahaga, bagaikan
datang orang yang mengantarkan minuman; ibarat kita sedang kesal hati, bagaikan
datang orang yang memberi sirih pinang. Itulah yang disebut panca parisuda
(lima penawar); ibarat galah pendek dipatahkan.
Lamun
maka suka rasa urang, kangken pare beurat sangga. Boa maka hurip na urang reya.
Ya katemu wwit ning suka lawan enak. Salang nu ngupat, ala panyaraman. Aya twah
urang ma eureunan. Hanteu twah urang ma ungang ambu-bapa. Kalingana janma
ngara-(n)na. Ya sinangguh paramar/ra/ta wisesa, ya kangken dewa mangjanma
ngara(n)na. Nya sang puma sarira, nya wwit ning hayu, ya puhun ning bener.
Bila
kita merasa bahagia, ibarat padi berat isi. pasti sejahteralah orang banyak,
karena bertemu dengan sumber kesenangan dan kenikmatan, (yaitu) tahan celaan
dan mengambil nasihat orang lain. Bila sedang sibuk tundalah sementara,
(lebih-lebih) bila sedang tidak ada pekerjaan, untuk menjenguk ibu-bapak.
Itulah yang disebut manusia sejati; yang disebut keutamaan tertinggi: ibarat
dewa berwujud manusia namanya; berpribadi sempurna. benih kebajikan dan pohon
kebenaran.
Ini
pangimbuh ning twah pakeun mo tiwas kala manghurip, pa-keun wastu di imah di
maneh. Emet, imeut. rajeun, leukcen, paka predana, morogol-rogol, purusa ning
sa, widagda, hapitan. kara wa-leya, cangcingan, langsitan. Jaga ‘rang
ngajadikeun gaga-sawh, tihap ulah sangsara. Jaga rang nyieun kebo/a/n, tihap
mulah ngu(n)deur ka huma beet sakalih, ka huma lega sakalih. Hamo ma beunang
urang laku sadu. Cocooan ulah tihap meuli mulah tihap nukeur. Pakarang ulah
tihap nginjeum.
Ini
pelengkap perbuatan, agar tidak gagal dalam hidup. agar rumah tangga kita penuh
berkah, (yaitu) cermat. teliti, rajin. tekun. cukup sandang, bersemangat,
berpribadi pahlawan, bijaksana, berani berkurban, dermawan, cekatan, terampil.
Bila kita membuat sawah. untuk sekedar tidak sengsara; bila kita membuat kebun,
untuk sekedar tidak mengambil sayur-sayuran di ladang kecil milik orang lain
atau ke ladang luas milik orang lain, sebab tak akan dapat memintanya:
memelihara ternak tidak sekedar tidak membeli atau menukar (barter), (memiliki)
perkakas untuk sekedar dapat dipergunakan, tidak perlu meminjam;
XIV
Simbut-cawet
mulah kasarataan, hakan-inum ulah kakurangan, anak-ewe pituturan sugan dipajar
durbala siksa. Yatnakeun sanghyang siksakandang karesian.
selimut
dan pakaian tidak boleh kekurangan; makan dan minum tidak boleh kekurangan;
nasihatilah anak dan isteri supaya tidak dikatakan merusak kesusilaan.
Perhatikanlah sanghyang siksakandang karesian.
Jaga
rang hees tamba ui(n)duh, nginum twa/h/k tamba hanaang, nyatu tamba ponvo, ulah
urang kajo(ng)jonan. Yatnakeun maring ku hanteu. Sa/ng/nguni tu ku anak-ewe,
mulah dek paliketan sugan hamo sapitwaheun. Rampes ma beunang urang nyaraman
teka nurut na panyaraman, eta keh anak urang ewe urang ngara(n)na.
Hendaknya
kita tidur sekedar penghilang kantuk, minum tuak pun sekedar penghilang haus,
makan sekedar penghilang lapar, janganlah kita berlebih-lebihan. Ingatlah bila
suatu saat kita tidak memiliki apa-apa. Demikian pula (mengenai) kejujuran
anak-isteri. jangan bersikap pembeli hati supaya tidak hanya tampaknya saja
berbuat. Bila kita berhasil mengajarinya dan menuruti nasihat, itulah anak
kita, isteri kita.
Hanteu
ma nurut na pamagahan, eta sarua deungeun sakalih. Ngan lamun keudeu, ewe-anak
geus ma medeng diaku ku urang. Boa urang kabobotan, boa reujeung sasab ka
naraka, leungit batri rang ngabakta, hilang beunang cakal-bakal.
Bila
tidak menuruti nasihat, mereka itu sama saja dengan orang lain. Namun bila
tetap bandel, isteri dan anak yang demikian, sudahlah jangan kita aku. Pasti
kita mendapat beban. pasti tersesat masuk neraka, musnah hasil amal kita,
hilang pahala leluhur.
Ini
warah sang darma pitutur, sugan ura(ng) tanpa hedap mreo-peksah samutatah.
Paesan teh ta susuriyem, jambangan eusi ning bayu ma hening, tah desana tah
nora buksah. Kalingana ta, sri ma ngaranya omas. Kitu na omas, lamun hamo
dila(n)ja pelek rupana, lamun kalanja ma cenang, rampes ja kaopeksa.
Ini
ajaran sang darma pitutur, agar hidup kita tidak tanpa tekad memelihara hasrat.
Alat hias itu sisir, bejana berisi air itu jernih, tampak (dasar) tempatnya dan
tampak tanpa busa. Dikatakan: seri itu namanya emas, Adapun emas. bila tidak
digosok suram warnanya, kalau digosok cemerlang indah sebab terpelihara.
Kitu
keh upama urang janma ini. Lamun nurut sanghyang siksa, kapahayu rasana di
urang kadyangga ning bener tumemu benernya. Kitu, lamun hamo nurut sanghyang
siksa kreta kadyangga ning wilut tumemu wilutnya. Paesan ma ngaranya eunteung.
Kitu na eunteung, lamun hamo kawaas, samar kalangkang urang. Lamun kawaas ma
puguh rua
Demikianlah
tamsil kita manusia ini. Kalau mentaati sanghyang siksa, sejahteralah perasaan
kita ibarat lurus bertemu dengan lurusnya. Bila tidak mentaati sanghyang siksa
kreta ibarat bengkok bertemu dengan bengkoknya. Alat hias itu cermin. Adapun
cermin, bila tidak terlihat, samarlah bayangan kita. Bila terlihat akan
jelaslah rupa
XV
urang
dina jero eunteung eta.) Kitu keh janma ini, bisa nurut upacara sakalih. Rampes
ma boa kalihasan ku rasa di maneh. Lamun hamo ma bisa nurut pamagahan, punggunp
tata ngara(n)na.
Begitulah
manusia yang hdup di dalam cermin ini, apa yang kita lihat di dalam cermin
dapat meniru perilaku orang lain. Bila sempurna pasti terikuti oleh perasaan
kita. Kalau tidak akan bisa menuruti nasihat, membelakangi aturan namanya.
Jambangan
ma ngara(n)na pamuruyan. Kangken cai hening ma hedap urang kreha. Ya mana kitu,
mana na waas, teger rame a(m)bek. Desa ma ngaranya dayeuh, Na dayeuh, lamun
kosong. hanetu turutaneunana. Kitu na sabda, lamun hamo kaeusi carut
ngara(n)na. Hengan lamun kaeusian ma na kahanan, eta keh na turutaneun. Kitu
keh na sabda. Mana kaeusian, mana dipajar bener laksana.
Jembangan
itu disebut tempat bercermin. Yang dapat dianggap air bening itu ialah budi
kita yang baik. Oleh sebab itu maka lihatlah agar pikiran kita tetap hidup.
Negeri itu disebut kota. Adapun kota, bila kosong tak ada yang patut ditiru.
Demikian pula perkataan, bila tidak berisi. dusta namanya. Tetapi bila bersih
dan pada tempatnya, itu semuanya patut ditiru, Demikianlah semua perkataan.
Bila terisi, maka dikatakan benar-benar terbukti.
Kitu
keh urang janma ini. Lamun dek nyaho di puhun suka lawan enak ma ingetkeun saur
sang darma pitutur. Ini silokana:
tadaga
carita hangsa
gajendra
carita banem
matsyanem
carita sagarem
puspanem
carita bangbarem
Demikianlah
kita manusia ini. Bila ingin tahu sumber kesenangan dan kenikmatan.
ingat-ingatlah kata sang darma pitutur. Inilah selokanya:
telaga
dikisahkan angsa
gajah
mengisahkan hutan
ikan
mengisahkan laut
bunga
dikisahkan kumbang
Kalinganya,
kitu ja rang dek ceta, ulah salah geusan nanya. La-mun hayang nyaho di tanian
herang, talaga banyu atis ma hangsa tanya. Kalingana ma aya janma atisti ring
apraniti. herang tineung. rame ambek, nya(ng)kah, kangken hangga dina talaga
herang.
Maksudnya,
demikianlah bila kita akan bertindak, janganlah salah mencari tempat bertanya.
Bila ingin tahu tentang taman yang jernih, telaga berair sejuk tanyalah angsa.
Umpamanya ada orang menekuni pedoman hidup, jernih pikiran, hidup hasratnya,
bergelora, dapat diibaratkan angsa yang berada di telaga bening.
Hayang
nyaho di j(e)ro ning laut ma. matsya tanya. Kalingana ma upama hayang nyaho di
hedap sang dewa ratu deung di hedap mahapandita. Hayang nyaho di Iwir ning
leuweung ma gajah tanya. Ini ka-lingana. Kangken Iwir ta ma nyaho di tineung nu
reya. Kangken gajah ta ma nyaho di bebedas sang
Bila
ingin tahu isi laut bertanyalah kepada ikan. Ibaratnya orang ingin tahu tentang
budi maka bertanyalah kepada raja dan mahapendeta. Bila ingin tahu tentang isi
hutan bertanyalah kepada gajah, Ini maksudnya. Yang diibaratkan isi ialah tahu
keinginan orang banyak. Yang diibaratkan gajah ialah tahu tentang kekuatan sang
XVI
dewa
ratu (Raja). Hayang nyaho di ruum amis ning kembang ma, bangbara tanya.
Kalingana ta kangken ba(ng)bara ma janma bisa saba ngumbara, nyaho di tingkah
sakalih. Kangken ruum kembang ma janma rampes twahna, amis barungusan semu imut
ti(ng)kah suka. Kalingana ulah salah geusan tanya.
dewa
ratu (Raja). Bila ingin tahu tentang harum dan manisnya bunga, bertanyalah
kepada kumbang. Maksudnya yang diibaratkan kumbang itu ialah orang dapat pergi
mengembara. tahu perilaku orang lain. Yang diibaratkan harum bunga ialah
manusia yang sempurna tingkah lakunya, manis tutur katanya selalu tampak
tersenyum penuh kebahagiaan. Maksudnya janganlah salah memilih tempat bertanya.
Hayang
nyaho di sakweh ning carita ma: Damarjati, Sanghyang Bayu, Jayasena, Sedamana,
Pu Jayakarma. Ramayana, Adiparwa, Korawasarma, Bimasorga, Rangga Lawe, Boma,
Sumana, Kala Purbaka, Jarini, Tantri; sing sawatek carita ma memen tanya.
Bila
ingin tahu semua ceritera seperti: Damarjati, Sanghyang Bayu, Jayasena,
Sedamana, Pu Jayakarma, Ramayana, Adiparwa. Korawasarma, Bimasorga, Rangga
Lawe, Boma, Sumana. Kala Purbaka, Jarini, Tantri; ya segala macam ceritera
bertanyalah kepada dalang.
Hayang
nyaho di sakweh ning kawih ma: kawih bwatuha. kawih panjang, kawih lalanguan.
kawih panyaraman, kawih sisi(n)diran, kawih pengpeledan, bongbong kaso,
pererane, porod eurih, kawih babahanan, kawih ba(ng)barongan, kawih tangtung,
kawih sasa(m)batan, kawih igel-igelan; sing sawatek kawih ma, paraguna tanya.
Bila
ingin tahu segala macam lagu, seperti: kawih bwatuha, kawih panjang, kawih
lalanguan. kawih panyaraman, kawih sisindiran, kawih pengpeledan, bongbongkaso,
pererane, porod eurih, kawih babahanan, kawih bangbarongan, kawih tangtung,
kawih sasambatan, kawih igel-gelan: segala macam lagu, bertanyalah kepada
paraguna (ahli karawitan).
Hayang
nyaho di pamaceuh ma: ceta maceuh, ceta nirus, tata-pukan, babarongan,
babakutrakan, ubang-ubangan, neureuy panca, munikeun le(m)bur, ngadu lesung,
asup kana lantar, ngadu nini;sing sawatek (ka)ulinan ma, hempul tanya.
Bila
ingin tahu permainan, seperti: ceta maceuh. ceta nirus, tatapukan, babarongan,
babakutrakan, ubang-ubangan, neureuy panca, munikeun lembur, ngadu lesung. asup
kana lantar, ngadu nini: segala macam permainan, bertanyalah kepada empul.
Hayang
nyaho di pantun ma: Langgalarang, Banyakcatra, Siliwangi, Haturwangi; prepantun
tanya.
Bila
ingin tahu tentang pantun, seperti: Langgalarang, Banyakcatra, Siliwangi,
Haturwangi; bertanyalah kepada juru pantun.
Sa(r(wa
Iwir/a/ ning tulis ma: pupunjengan, hihinggulan, kekem-bangan, alas-alasan,
urang-urangan, memetahan, sisirangan, ta-
Bila
ingin tahu tentang segala macam lukisan, seperti: pupunjengan, hihinggulan,
kekembangan, alas-alasan. urang-urangan, memetahan, sisirangan, ta-
XVII
ruk
hata, kembang tarate; sing sawatek tulis ma, lukis tanya. Sa(r)wa Iwir/a/ ning
teuteupaan ma telu ganggaman palain. Ganggaman di sang prabu ma: pedang, abet,
pamuk, golok, peso teundeut, keris. Raksasa pina/h/ka dewanya, ja paranti
maehan sagala. Ganggaman sang wong tani ma: kujang, baliung, patik, kored,
sadap. Detya pina/h/ka dewanya, ja paranti ngala kikicapeun iinumeun. Ganggamam
sang pandita ma: kala katri, peso raut, peso dongdang, pangot, pakisi. Danawa
pina/h/ka dewanya, ja itu paranti kumeureut sagala. Nya mana teluna ganggaman
palain deui di sang prebu, di sang wong tani, di sang pandita. Kitu lamun urang
hayang nyaho di sarean(ana), eta ma panday tanya.
ruk
hata, kembang tarate: segala macam lukisan, bertanyalah kepada pelukis. Bila
ingin tahu tentang segala macam hasil tempaan, ada tiga macam yang berbeda.
Senjata sang prabu ialah: pedang, abet (pecut), pamuk, golok, peso teundeut,
keris. Raksasa yang dijadikan dewanya, karena digunakan untuk membunuh. Senjata
orang tani ialah: kujang. baliung. patik, kored, pisau sadap. Detya yang
dijadikan dewanya, karena digunakan untuk mengambil apa yang dapat dikecap dan
diminum. Senjata sang pendeta ialah: kala katri, peso raut, peso dongdang,
pangot, pakisi. Danawa yang dijadikan dewanya, karena digunakan untuk mengerat
segala sesuatu, Itulah ketiga jenis senjata yang berbeda pada sang prebu, pada
petani, pada pendeta. Demikianlah bila kita ingin tahu semuanya, tanyalah
pandai besi.
Sa(r)wa
Iwir/a/ ning ukir ma: dinanagakeun, dibarongkeun, ditiru paksi, ditiru were,
ditiru singha; sing sawatek ukir-ukiran ma, ma-rangguy tanya.
Bila
ingin mengetahui segala macam ukiran ialah: naga-nagaan, barong-barongan.
ukiran burung. ukiran kera, ukiran singa; segala macam ukiran, bertanyalah
kepada maranggi (ahli ukir).
Sa(r)wa
Iwir/a/ ning oolahan ma: nyupar-nyapir rara ma(n)di, nyocobek, nyopong koneng,
nyanglarkeun, nyarengseng, nyeuseungit, nyayang ku pedes beubeuleuman,
panggangan, kakasian, hahanyangan, rarameusan, diruruum, amis-amis; sing
sawatek kaolahan, hareup catra tanya.
Bila
ingin mengetahui segala macam masakan, seperti: nyupar-nyapir, rara mandi,
nyocobek, nyopong koneng, nyanglarkeun, nyarengseng, nyeuseungit, nyayang ku
pedes, beubeuleuman, papanggangan, kakasian, hahanyangan, rarameusan, diruum
diamis-amis; segala macam masakan, bertanyalah kepada hareup catra (juru
masak).
Sa(r)wa
Iwir/a/ ning boeh ma: kembang mu(n)cang, gagang senggang, sameleg, seumat
sahurun, anyam cayut, sigeji, pasi-pasi, kalangkang ayakan, poleng re(ng)ganis,
jaya(n)ti, cecempaan, paparan a-
Bila
ingin mengetahui segala macam kain. seperti: kembang muncang, gagang senggang,
sameleg, seumat sahurun, anyam cayut, sigeji, pasi, kalangkang ayakan, poleng
rengganis, jayanti, cecempaan, paparana-
XVIII
kan,
mangin haris sili ganti, boeh siang, bebernatan, papakanan, surat awi, parigi
nyengsoh, gaganjar, lusian besar, kampuh jaya(n)ti, hujan riris, boeh alus,
ragen panganten; sing sawatek boboehan ma pangeuyeuk tanya.
kan,
mangin haris, sili ganti, boeh siang, bebernatan, papakanan, surat awi, parigi
nyengsoh. gaganjar, lusian besar, kampuh jayanti, hujan riris, boeh alus, ragen
panganten; segala macam kain, bertanyalah kepada pangeuyeuk (ahli tekstil).
Lamun
hayang nyaho di agama parigama ma: acara eleh ku adigama, adigama eleh ku
gurugama, gurugama eleh ku tuhagama, tuhagama eleh ku satmata, satmata eleh ku
surakloka, surakloka eleh ku niraweerah. Utama janma wahye dosa. Wahye dosa
utama janma; sing sawatek agama parigama ma pratanda tanya.
Bila
ingin mengetahui segala macam agama dan parigama: acara tunduk kepada adigama,
adigama tunduk kepada gurugama, gurugama tunduk kepada tuhagama, tuhagama
tunduk kepada satmata, satmata tunduk kepada surakloka, surakloka tunduk kepada
nirawerah. Manusia utama bebas dari dosa, Bebas dari dosa ciri manusia utama;
segala hal mengenai agama dan parigama bertanyalah kepada pratanda.
Sugan
hayang nyaho di tingkah prang ma: makarabihwa, katra-bihwa, lisangbihwa,
singhabihwa, garudabihwa, cakrabihwa, suci muka. braja panjara. asu maliput,
merak simpir, gagak sangkur, luwak maturut, kidang sumeka, babah buhaya,
ngali(ng)ga manik. lemah mrewasa, adipati, prebu sakti, pake prajurit, tapak
sawetrik; sang hulujurit tanya.
Bila
ingin mengetahui segala macam tentang perilaku perang, seperti: makarabihwa,
katrabihwa, lisangbihwa, singhabihwa, garudabihwa, cakrabihwa, suci muka, braja
panjara, asu maliput, merak simpir, gagak sangkur, luwak maturut, kidang
sumeka, babah buhaya, ngalingga manik. lemah mrewasa, adipati, prebu sakti,
pake prajurit, tapak sawetrik; bertanyalah kepada panglima perang.
Hayang
nyaho di sakweh ning aji mantra ma: jampa-jampa. geugeui(ng), susuratan.
sasaranaan, kaseangan, pawayagahan, puspaan, su-sudaan. huriphuripan, tu(n)duk
iyem, pararasen, pasakwan:.sing sa-watek aji ma sang brahmana tanya.
Bila
ingin mengetahui segala macam mantra, seperti: jampa-jampa, geugeuing. susuratan,
sasaranaan, kaseangan, pawayagahan, puspaan, susudaan, hurip-huripan, tunduk
iyem, pararasen, pasakwan; segala macam ajian bertanyalah kepada brahmana.
Hayang
nyaho di puja di sanggar ma: patah puja daun, gelar palayang, puja kembang.
nya(m)pingan lingga, ngomean sanghyang, sing sawatek muja ma ja(ng)gan tanya.
Bila
ingin mengetahui segala macam tentang puja dan sanggar, seperti: patah puja
daun, gelar palayang, puja kembang, nyampingan lingga, ngomean sanghyang:
segala macam hal mengenai memuja bertanyalah kepada janggan (biarawan).
Hayang
nyaho di dawuh nalika ma: bu-
Bila
ingin mengetahui segala macam tentang perhitungan waktu, seperti: bu-
XIX
lan
gempa, tahun tanpa te(ng)gek, tanpa sirah, sakala lumaku, sakala ma(n)deg, bumi
kape(n)dem, bumi grempa; sing sawatek nyaho di carek /ma/ nu beuheula, bujangga
tanya.
lan
gempa, tahun tanpa tenggek, tanpa sirah, sakala lumaku, sakala mandeg. bumi
kapendem, bumi grempa: segala macam pengetahuan warisan leluhur, bertanyalah
kepada bujangga.
Hayang
nyaho di darmasiksa, siksakandang, pasuktapa, padenaan, maha pawitra, siksa
guru, dasa sila, tato bwana, tato sarira, tato ajnyana ma; sing sawatek eusi
pustaka. sang pandita tanya. Maka nguni kasorgaan di sakala kaprabuan,
kamulyaan, kamul-yaan, kautamaan, kapremanaan, kawisesaan; ratu tanya.
Bila
ingin mengetahui segala macam tentang darmasiksa. siksakandang, pasuktapa,
padenaan. maha pawitra, siksa guru, dasa sila, tato bwana. tato sarira, tato
ajnyana; segala macam isi pustaka, bertanyalah kepada pendeta, Demikian pulah
bila ingin mengetahui segala macam tentang kesempurnaan di seluruh kerajaan,
kemulyaan, keutamaan, kewaspadaan, keagungan, bertanyalah kepada raja.
Hayang
nyaho dipatitis bumi ma: ngampihkeun bumi, masinikeun na urang sajagat, parin pasini,
ngadengdeng, maraspade, ngukur, nyaruakeun, nyipat, midana, lamun luhur
dipidatar, ancol dipakpak; sing sawatek ampih-ampih ma mangkubumi tanya.
Bila
ingin mengetahui segala macam tentang cara-cara mengukur tanah, seperti :
mengatur tempat, membagi-bagikan kepada seluruh rakyat, memberi tanda batas,
meratakan, membersihkan lahan, mengukur, menyamakan, meluruskan, .mengatur.
bila tinggi didatarkan, bila rendah diratakan; segala macam pengaturan tempat.
bertanyalah kepada mangkubumi.
Lamun
hayang nyaho di sakweh ning labuhan ma, maka nguni: gosong, gorong, kabua, ryak
mokprok, ryak maling, alun agung, tanjung, hujung, nusa, pulo, karang nunggung,
tunggara, barat daya; sing sawatek saba di laut ma, lalayaran, puhawang tanya.
Bila
ingin mengetahui segala macam tentang semua pelabuhan, demikian pula: gosong,
gorong, kabua, ryak mokprok, ryak maling, alun agung, tanjung, hujung, nusa,
pulo. karang nunggung, tunggara, barat daya: segala macam tempat di laut,
pelayaran, bertanyalah kepada puhawang (nakhoda).
Hayang
nyaho di sawatek arega ma: telu sayuta, telu saketi, telu salaksa. telu sariwu,
telu satak, telu saratus, telu sapuluh, maka nguni karobelah, katelubelah,
kapatbelah, kalimabelah, kanembelah, kapitubelah, kawolubelah; sing sawatek
arega ma citri-
Bila
ingin mengetahui segala macam tentang harga, seperti: tiga juta, tiga
ratus-ribu, tiga puluh ribu, tiga ribu, enam ratus, tiga ratus, tiga puluh,
demikian pula kedua belas, ketiga belas, keempat belas, kelima belas, keenam
belas. ketujuh belas, kedelapan belas: segala macam harga bertanyalah kepada
citri-
XX
k
byapari tanya. (k byapari
orang
terpelajar/pandai).
Hayang
nyaho di sandi, tapa, lungguh, pratyaksa. putus tangkes, kaleupaseun, tata
hyang, tata dewata, rasa carita. kal/e/pa carita; sing sawatek nata-nata para
dewata kabeh, sang wiku paraloka tanya,
Bila
ingin mengetahui segala macam tentang sandi, tapa, lungguh, pratyaksa. putus
tangkes, kaleupaseun, tata hyang, tata dewata, rasa carita, kalpa carita:
segala macam mengenai penyebutan para dewata semuanya, bertanyalah kepada wiku
paraloka.
Aya
ma nu urang dek ceta, ulah salah geusan nanya. Lamun dek nyaho di carek para
nusa ma: carek Cina, Keling, Parasi, Mesir, Samudra, Banggala, Makasar, Pahang,
Kala(n)ten, Bangka, Buwun, Beten. Tulangbawang, Sela, Pasay, Parayaman, Nagara
Dekan, Dinah, Andeles, Tego, Maloko, Badan, Pego, Malangkabo, Mekah, Buretet,
Lawe, Saksak, Se(m)bawa, Bali, Jenggi, Sabini, Ngogan, Kanangen, Kumering,
Simpang Tiga, Gumantung, Manumbi, Babu, Nyiri, Sapari, Patukangan, Surabaya,
Lampung, Jambudipa, Seran, Gedah, Solot, Solodong, /Bali/. Indragiri, Tanjung
Pura, Sakampung, Cempa, Baluk, Jawa; sing sawatek para nusa ma sang jurubasa
darmamurcaya tanya.
Bila
kita hendak bertindak, jangan salah mencari tempat bertanya. Bila ingin
mengetahui segala macam bahasa negara-negara lain, seperti: bahasa Cina,
Keling, Parsi, Mesir, Samudra, Banggala, Makasar, Pahang, Kelantan, Bangka,
Buwun, Beten, Tulangbawang, Sela, Pasay, Negara Dekan, Madinah, Andalas, Tego,
Maluku, Badan, Pego, Minangkabau, Mekah, Buretet, Lawe, Sasak, Sumbawa, Bali,
Jenggi, Sabini; Ogan, Kanangen, Momering, Simpang Tiga, Gumantung, Manumbi,
Babu, Nyiri, Sapari, Patukangan, Surabaya, Lampung, Jambudipa, Seran, Gedah,
Solot, Solodong, Indragiri, Tanjung Pura, Sakampung, Cempa, Baluk, Jawa; segala
macam (bahasa) negara-negara lain, bertanyalah kepada juru basa darmamurcaya.
Eta
kehna kanyahokeuneun di tuhuna di yogyana. Aya ma nu majar mo nya(h)o, eta nu
mo satya di guna di maneh, mo teuing di carek dewata urang. Tan /n/awurung
inanti dening kawah lamun guna mo dipiguna, lamun twah mo dipitwah, sahinga
ning guna kreta kena itu tangtu hyang tangtu dewata.
Itu
semua patut diketahui tepatnya dan perlunya. Bila ada yang mengatakan tidak
perlu tahu; itulah yang tidak akan setia kepada keahlian dirinya, mengabaikan
ajaran leluhur kita. Pasti ditunggu oleh neraka bila keahlian tidak
dimanfaatkan, bila kewajiban tidak dipenuhi, untuk mencapai kebajikan dan
kesejahteraan karena semua itu ketentuan dari hyang dan dewata.
Sakala
batara jagat basa ngretakeun bumi niskala. Basana: Brahma, Wisnu, Isora,
Mahadewa, Siwa-
Suara
panguasa alam waktu menyempurnakan mayapada. Ujarnya: Brahma, Wisnu, isora,
Mahadewa, Siwa-
XXI
bakti
ka Batara! Basana: Indra, Yama, Baruna, Kowera, Besawarma, bakti ka Batara!
Basana: Kusika, Garga, Mestri, Purusa, Pata(n)jala, bakti ka Batara: Sing para
dewata kabeh pada bakti ka Batara Seda Niskala. Pahi manggihkeun si tuhu lawan
preityaksa.
h,
baktilah kepada Batara! Ujarnya: Indra. Yama, Baruna, Kowara, Besawarma,
baktilah kepada Batara! Ujarnya: Kusika, Garga, Mestri, Purusa, Patanjala, baktilah
kepada Batara! Maka para dewata semua berbakti kepada Batara Seda Niskala
(Batara Seda Niskala adalah istilah Hyang yang disanskertakan dan berarti Tuhan
Yang Maha Gaib) Semua menemukan “Yang Hak” dan “Yang Wujud”.
Ini
na parmanggihkeuneun dina sakala, tangtu batara di bwana pakeun pageuh jadi
manik sakurungan, pakeuneun teja sabumi. Hulun bakti di tohaan, ewe bakti di
laki, anak bakti di bapa, sisya bakti di guru, mantri bakti di mangkubumi,
mangkubumi bakti di ratu, ratu bakti di dewata. Disuruh neguhkeun di sarira,
matitiskeun bayu sabda hedap. Lamun itu hamo kapiguna kapitwah ku na janma
kanista madya utama pada ditibakeun kana kawah si tambrah gomuka. Wijayajana
janma kawisesa ku dewata pun.
Ini
yang harus ditemukan dalam sabda, ketentuan Batara di dunia agar teguh menjadi
“Permata di dalam sangkar”, untuk cahaya seluruh dunia, Hamba tunduk kepada
majikan, istri tunduk kepada suami, anak tunduk kepada bapak, siswa tunduk
kepada guru, mantri tunduk kepada nu nangganan, nu nangganan tunduk kepada mangkubumi,
mangkubumi tunduk kepada raja, raja tunduk kepada dewata. Kita harus
memperteguh diri, menertibkan hasrat, ucap dan budi. Bila hal itu tidak
diterapkan dan dilakukan oleh orang-orang dari golongan rendah, menengah dan
tinggi semua akan dijerumuskan ke dalam neraka Si Tambra Go(h)muka. Karena
keunggulan ilmu manusia terungguli oleh dewata.
Saur
sang darma pitutur mujarakeun sabda sang rumuhun. Aya deui babandingna. Kitu
upamana urang leumpang ka Jawa, hamo nurut carekna deungeun carana, mangu rasa
urang. Anggeus ma urang pulang deui ka Sunda, hanteu bisa carek Jawa, asa
hanteu datang nyaba. Poos tukuna beunang tandang ja hanteu bisa nurut
care(k)na.
Kata
sang darma pitutur mengajarkan ucap para leluhur. Ada lagi perbandingannya.
Demikianlah umpamanya kita pergi ke Jawa, namun tidak mengikuti bahasa dan
adatnya, maka akan termangu-mangu perasaan kita. Setelah kita kembali ke Sunda,
tidak dapat berbicara bahasa Jawa, seperti yang bukan pulang dari rantau.
Percuma hasil jerih payahnya sebab tidak bisa berbicara bahasanya.
Kitu
urang ianma ini. Ha(ng)ger turun ti niskala hanteu katemu cara dewata,
geura-geura dek mangjanma ja ireug tingkahna, hanteu bisa nurut twah nu nyaho.
Aya kapitwah ta nu mo satya, nu tan yogya: lumekas manggawe hala: papanjingan,
bubunyan, kapiadi, ka-pilanceuk. Nya mana wadon ngarasa lalaki la-
Demikianlah
kita manusia ini. Tetap turun dari alam gaib tidak menemukan jalan kedewataan,
ingin cepat-cepat menjelma karena pandir kelakuannya, tidak dapat meniru
perbuatan orang yang mengetahui. Malahan yang ditiru itu orang yang tidak
setia, yang tidak layak, cepat berbuat kejahatan: menyelinap ke rumah
perempuan, lalu main serong dengan orang yang terhitung adik atau kakak. Lalu
perempuan merasai pria yang bu-
XXII
in
salakina, tan yogya ngara(n)na. Lalaki ngarasa wadon lain eusi imahna, tan
yogya ngara(n)na. WSnang ditibakeun kana kawah si mregawijaya. Janma
ngawisesakeun nu salah,
kan
suaminya, tidak layak namanya. Laki-laki merasai wanita yang bukan istrinya,
tidak layak namanya. Boleh dijerumuskan ke dalam neraka si mregawijaya.
(sebagai) manusia yang mengutamakan perbuatan yang salah.
Ini
silokana twah janma salah: burangkak, marende, mariris, wi-rang. Ya ta catur
buta ngara(n)na. Kalingana burangkak ma ngaranya gila. Nu kangken maka gila ta
ma twah janma: dengi. tungi, torong, gasong, campelak sabda, gopel twah, panas
hate, tan yogya ngara(n)na, Nya keh nu kangken maka gila ta twah janma sakitu.
Jadina ta raksasa, durgi, durga, kala, buta, geusan ta di mala ning lemah.
Inilah
ungkapan perbuatan manusia yang salah: burangkak, marende, mariris. wirang.
Yang disebut catur buta (empat hal yang mengerikan). Maksudnya burangkak
berarti mengerikan. Yang dianggap mengerikan yaitu kelakuan manusia yang ketus,
tak mau menyapa sesama orang. bicara sambil marah dan membentak, bicara sambil
membelalak, bicara kasar dengan nada menghina, buruk kelakuan, berhati panas,
tidak layak namanya. Ya itulah yang dianggap mengerikan perbuatan manusia
semacam itu. Tak ubahnya seperti raksasa, durgi. durga, kala, buta, layaknya
menempati tanah-tanah yang kotor.
Mala
ning Iemah ngara(n)na: sodong, sarongge, cadas gantung. mu(ng)kal pategang,
lebak, rancak, kebakan badak, catang nu(ng)gang, catang nonggeng, garunggungan,
garenggengan, Iemah sahar. dangdang wariyan, hunyur, lemah laki, pitunahan
celeng, kalo(m)beran. jaryan, sema; sawatek lemah kasingsal.
Yang
disebut tanah-tanah yang kotor ialah: sodong, sarongge, cadas gantung, mungkal
pategang, lebak, rancak, kebakan badak, catang nunggang, catang nonggeng,
garunggungan, garenggengan. lemah sahar, dangdang warian, hunyur, lemah laki,
pitunahan celeng, kalomberan, jaryan, kuburan; golongan tanah terbuang.
Sakitu
kajadian nu keudeu di twah nu gopel; ja twah ning janma nu mere gila ta. Jadina
ta sawatek maha gila, ja hanteu nurut sanghyang sasana kreta, ja ngarumpak
sanghyang siksakandang karesian. Nya mana jadi maha gila ya ta kalinga ning
burangkak ngara(n)na. Marande ma ngara(n)na dibeka tiis nya karah panah.
Diheman-keun, dikarunyaan, diipuk, dineneh, dibere suka-boga hulun-kuring: nya
karah kirakirakeuneu(n)ana; byakta keuna ku na kapapaan eusi tegal si pantana,
sayajnyana lohna.
Demikianlah
kejadiannya bagi yang berkeras berbuat buruk; karena perbuatan manusia yang
bertingkah menakutkan orang lain kejadiannya tergolong kepada maha gila, karena
tidak mengikuti sanghyang sasanakreta, karena melanggar sanghyang siksakandang
karesian. Maka menjadi maha gila itulah yang dimaksud dengan burangkak. Marende
berarti diduga dingin nyatanya panas. Dimanjakan, dikasihani, dibujuk,
disayangi, diberi kesenangan dan kenikmatan, diberi hamba kaula; demikianlah
direncanakannya. Nyatanya terkena oleh isi tegal si pantana (sumber
kehancuran), yang mengalirkan kurban.) Timur makapalap (Dari Timur
bersenjatakan
XXIII
kandaga.
Saketi wong kena i rika. Ti kidul ma gunung watu. Pareng sarewu wong papa i
rika. Ti barat yaksa geni-muka. Tan keuna wruhan wong kwehnya papa i rika. Ti
kaler kadi walang sinudukan, pareng satus wong papa i rika. Ti tengah gagak si
antana lawan sang senayaksa. Sewu-sewu wong papa i rika. Ya kapapa(n) ning marende
ngara(n)na.
pedang.
Seratus ribu orang terkena di sana. Dari Selatan gunung Batu. Berbarengan
seribu orang nista di sana. Dari Barat raksasa bermuka api. Tidak terhitung
jumlah orang nista di sana. Dari Utara seperti belalang ditusuki. Berbarengan
seratus orang nista di sana. Dari tengah gagak si penghancur dengan sang
senayaksa. Beribu-ribu orang nista di sana. Ya kenistaan karena marende
namanya.
Mariris
ma ngara(n)na camah, jiji manan tahi, camah manan wangke a(m)beu. Kitu keh twah
janma cacarokot. barang cokot. A(ng)geus ma barang ala hamo menta, maling,
numpu, meor, ngarebut; song sawatek curaweda ka nu bener.
Mariris
berarti jijik, lebih jijik dari tahi, lebih jijik dari bangkai busuk.
Demikianlah perbuatan orang yang panjang tangan, suka mengambil barang milik
orang. Memetik apa-apa tanpa meminta, mencuri, merampok, mengecoh, merampas;
segala macam dusta terhadap kebenaran.
Paeh
ma atmana papa. Sariwu saratus tahun keuna ku sapa batara. tangeh mana jadi
janma. Aya jadina ta kotor: janggel, hileud tahun, piteuk, titi(ng)gi,
jambelong, limus sakeureut, mear, pacet, lentah, lohong. gorong; sawatek dipake
jiji ku na urang reya. Ya ta sinangguh mariris ngara(n)na.
Bila
mati ruhnya sengsara. Seribu seratus tahun terkena kutuk Batara, jauh dari
kemungkinan menjadi manusia. Kalau menjelma menjadi binatang kotor. seperii:
janggel, ulat tahun. piteuk, titinggi, jambelong, limus sakeureut, mear, pacet,
lintah. lohong, gorong; segala macam yang dianggap jijik oleh orang banyak.
Itulah yang disebut mariris.
Wirang
ma ngara(n)na: mumul tuhu, mumul bener, mumul yogya, mumul duga-duga, mumul
bema. Lamun carut ma: harema, harems(a), bogoh, gawok. Lamun paeh ma eta atmana
ma(ng)gihkeun papa, wot gonggang, cukang cueut, batu kacakup. Kajadikeun ma ka
bwana jadi watek maha gila: warak, macan, wuhaya, ula /m/ageung; sawatek maka
gila janma. Ya ta ma wirang ngara(n)na. Sakitu ma catur buta,
Wirang
berarti: tidak mau jujur. tidak mau benar, tidak mau layak. tidak mau terus
terang, tidak mau berusaha. Bila memiliki sifat tercela seperti mengancam,
membunuh, madat (ketagihan), tak mau kapok. Bila mati ruhnya mengalami sengsara
di jembatan goyang (lapuk), titian tua, batu tertutup. Bila menjelma ke dunia
menjadi golongan makhluk yang menakutkan, seperti: badak, harimau, buaya, ular
besar; segala macam hewan yang menakutkan manusia. Itulah yang disebut wirang.
Sekianlah tentang catur buta.
Ini
ma upama janma tandang ka Cina. Heubeul mangkuk di Cina, nyaho di karma Cina,
di ti(ng)kah Cina, di polah Ci-
Ini
mengumpamakan seseorang pergi ke Cina. Lama tinggal di Cina, paham tentang
perilaku orang Cina,ber tingkahlaku seperti Cina, berulah seperti Ci-
XXIV
na,
di kararampesan Cina. Katemu na cara telu: kanista, madya, utama. Pahi nyaho di
sabda sang prabu, sang rama, sang resi, bisa matitiskeun bayu, sabda, heddap.
Nya mana nya ho di geui(ng), di upageui(ng), di parigeui(ng); ya ta tri
geui(ng) ngara(n)na.
na,
keberesan Cina. Dapat memahami bahasa ketiga golongannya: yang rendah. sedang,
tinggi. Lalu memahami sabda sang prabu, sang rama. sang resi, bila dapat
mengendalikan keinginan, tutur kata, dan budi. Maka yang demikian itu
mengetahui tentang geuing. upageuing. parigeuing; yaitu yang disebut trigeuing.
Geui(ng)
ma bisa ngicap bisa ngicup dina kasukaan. Ya geui(ng) ngara(n)na. Upageui(ng)
ma ngara(n)na bisa nyandang bisa nganggo, bisa babasahan, bisa dibusana, Ya
upageui(ng) ngara(n)na. Parigeui(ng) ma ngara(n)na bisa nitah bisa miwarang ja
sabda arum wawangi. Nya mana hanteu surah nu dipiwarang ja katuju nu beunang
milabuh siloka.
Geuing
ialah dapat makan dan dapat minum dalam kesenangan. Itulah arti geuing.
Upageuing berarti dapat bersandang. dapat berpakaian, dapat berganti pakaian
(selama yang lain dicuci), dapat berbusana. Itulah arti upageuing. Parigeuing
berarti dapat memerintah. dapat menyuruh, karena tuturnya manis dan ramah.
Sehingga tidak merasa segan orang yang disuruh karena terkena oleh hasil
menyelami seloka.
Lamun
ka beet ma basana: utun, eten, orok, anak ing, adi ing. Ka kolot ma basana:
lanceuk ing, suan ing, euceu ing, aki ing. Pangwastu nama sumanger
teu(ng)teuing amat Sakitu na dasa pasantra, geus ma: guna, rama, hook, pesok,
asih, karunya, mupreruk, ngulas, nyecep, ngala angeen. Nya mana suka bungah
padang caang nu dipiwarang. Ya ta Sinangguh parigeui(ing) ngara(n)na.
Kepada
yang masih muda panggillah dengan sebutan: utun (buyut). eten (upik), orok
(bayi), anaking (anakku), adi ing (adikku). kepada yang tua panggillah dengan
sebutan: lanceuk ing (kakakku). suan ing (uaku). euceu ing (kakak perempuanku),
aki ing (kakekku). Sebutan semacam ini dilakukan karena menyebut nama berkesan
keterlaluan. Demikianlah (yang disebut) dasa pasantra (sepululi penenang hati),
yaitu bijaksana, ramah, sayang, memikat hati. kasih. iba membujuk, memuji, membesarkan
hati, mengambil bati. Maka senang. gembira, dan cerahlah orang yang dperintah.
Itulah yang disebut parigeuing.
Ini
silokana: mas, pirak, komala, hinten, ya ta sanghyang catur yogya ngara(n)na.
Ini kalingana. Mas ma ngaranya sabda tuhu tepet byakta panca aksara. Pirak ma
ngaranya ambek kreta yogya rahayu! Komala ma ngaranya geui(ng) na padang caang
lega loganda. Hinten ma ngaranya cangcing ceuri semu imut rame ambek. Ya ta
sinangguh catur yogya ngaranya.
Inilah
selokanya: emas, perak, permata, intan. yang disebut catur yogya (empat hal
yang terpuji). Maksudnya adalah Emas berarti ucapan yang jujur. tepat, nyata
panca aksara. Perak berarti hati yang tenteram, baik. bahagia. Permata berarti
hidup dalam keadaan cerah. puas, leluasa. Intan berarti mudah tertawa. murah
senyum, baik hati. Itulah yang disebut catur yogya.
Ya
ta janma bijil ti nirmala ning lemah, pahoman, pabutelan, pamujaan, l(e)mah
maneuh, candi,
Ada
orang yang kemuliaannya muncul dari kesuciannya (seperti): pancak saji (rumah
sajen), pabutelan, pemujaan. rumah adat, candi
XXV
prasada,
lingga linggih, batu gangsa, lemah biningba ginavve wongwongan, sasapuan.
Sakitu, saukur lemah kasucikeun, cai kasucikeun, kapawitrakeun. Nya keh janma
rahayu, janma rampes, ya janma kreta,
kuil,
palinggihan, sanggar hyang (Bali: Sulinggih), batu perunggu. tempat arca, lalu
membuat orang-orangan dan membersihkannya. Demikianlah seluruh permukaan tanah
terurus, air dapat disucikan, diberkati. Itulah manusia bahagia, manusia
sempurna. ya manusia sejahtera.
Nu
kangken bijil ti nirmala ning lemah ma ngara(n)na, inget di sanghyang siksa,
mikuku(h) talatah ambu bapa aki lawan buyut, nyaho di siksaan mahapandita,
mageuhkeun ujar ing kreta. Ini carita baheula nu nanjeurkeun sanghyang sasana
kreta: Rahyangtang Dewaraja, Rahyangta Rawunglangit, Rahyangta ti M(e)dang,
Rahyangta ri Menir. Ya ta sinangguh catur kreta ngara(n)na.
Yang
dianggap muncul dari kesucian tanah yaitu, ingat kepada sanghyang siksa.
berpegang teguh kepada ajaran ibu. bapak, kakek, dan buyut. mengetahui
peraturan bagi maha pendeta, mengukuhkan kata-kata kesentosaan. Menurut cerita
zaman dahulu yang menegakkan sanghyang sasanakreta itu ialah: Rahyangta Dewa
Raja, Rahyangta Rawunglangit, Rahyangta di Medang, Rahyangta di Menis. Itulah
yang disebut catur kreta.
Nya
mana kitu ayeuna na janma inget di sanghyang darma(wi)-sesa, nyaho di karaseyan
ning janma. Ya ta sinangguh janma rahaseya ngara(n)na, Lamun pati ma eta atmana
manggihkeun sorga rahayu. Manggih rahina tanpa balik peteng, suka tanpa balik
duka, sorga tanpa balik papa, enak tanpa balik lara, hayu tanpa balik hala,
nohan tanpa balik wogan, mokta tanpa balik byakta, nis tanpa balik hana, hyang
tanpa balik dewa. Ya ta sinangguh parama lenyep ngara(n)na.
Oleh
karena itu, sekarang manusia ingat kepada sanghyang darmawisesa sebagai cara
untuk mengetahui kerahasiaan manusia. Itulah yang disebut manusia (yang paham)
rahasia. Orang semacam ini bila mati maka sukmanya akan menemukan sorga
kebahagiaan. Mengalami siang tanpa malam, merasakan suka tanpa duka, memperoleh
kemulyaan tanpa kenistaan, senang tanpa penderitaan, indah tanpa buruk, gaib
tanpa wujud, menjadi hyang tanpa menjadi dewa kembali. Itulah yang disebut
parama lenyep (kesadaran utama).
Kitu
keh janma ayeuna. Upama urang mandi, cai pitemu urang hengan ta na cai dwa
piliheun(a)na; nu keruh deungeun nu herang. Kitu keh twah janma. Dwa nu
kapaknakeun: nu goce deungeun nu rampes. Kitu keh janma. mana na kapahayu ku
twah nu mahayu inya. Nya mana janma mana hala ku twahna mana hayu ku twahna.
Demikianlah
manusia sekarang. Bila kita mandi, air yang kita temukan hanya ada dua pilihan
yaitu air yang keruh dan yang jernih. Demikian pula perbuatan manusia. Dua
macam yang dilakukan: yang buruk dan yang baik. Begitulah manusia, mendapat
susah karena perbuatan yang menyusahkan dirinya sendiri. Begitulah manusia,
mendapat ke-bahagiaan karena perbuatan yang membahagiakan dirinya sendiri. Ya
manusia itu susah karena ulahnya senang karena ulahnya.
Kitu
keh cai mana dipajar dwa piliheun ma. Banyu
Begitulah
air itu maka disebut ada dua macam pilihannya. Air
XXVI
asrep
lawan hening ma inya sanghyang darmawisesa, Nya nu dilakukeun ku mahapandita.
Nu banyu ha(ng)ker lawan letuh ma inya na rasa carita nu dilakukeun ku na sang
wiku lokika paramar/a/ta kabeh. Nya kadyangga ning centana lawan acentana. Nu
centana ma wruh menget tutur tanpa balik lupa; ya ta wwit ning janma rahayu. ya
tangkal ning bumi kreta. Nu acentana ma ikang lupa hyang, moha tar kahanan
tutur: ya tar.gkal ning sanghara, punun ning kaliyuga, .beuti ning jalir, vvwit
ning linyok; ya sangkan janma ka naraka. Ulan eta dipitemen ku nu dek berier
ma.
tawar
dan bening adalah sanghyang darmawisesa. Itulah yang dilakukan oleh sang maha
pendeta. Air suram dan keruh ialah pada rasa dan kelakuan yang dilakukan oleh
sang wiku, masyarakat dan orang yang berkedudukan semuanya. Ya ibarat centana
(kesadaran) dengan acentana (ketidaksadaran). Yang sadar itu tahu bagaimana
cara mengingat nasihat agar tak pernah melupakannya; itulah awal manusia
bahagia, pokok dunia yang sejahtera. Yang tidak sadar ialah yang lupa kepada
hyang, bingung, tidak ada nasihat yang diingatnya, ya itulah benih pokok
kehancuran zaman akhir. urnbi
keingkaran, benih kebohongan: penyebab manusia masuk neraka. Janganlah hal itu
dikukuhi oleh mereka yang ingin benar.
Ini
ujar sang sadu basana mahayu drebyana. Ini tri-tangtu di bumi. Bayu kita
pina/h/ka prebu, sabda kita pina/h/ka rama. h(e)dap kita pina/hka resi. Ya
tritangtu di bumi, ya kangken pineguh ning bwana ngara(n)na.
Ini
nasihat sang budiman waktu menyentosakan pribadinya. Inilah tiga ketentuan di
dunia. Kesentosaan kita ibarat raja, ucapan kita ibarat rama, budi kita ibarat
resi. Itulah tiga ketentuan yang berlaku di dunia, tritangtu ini disebut
peneguh dunia.
Ini
triwarga di lamba. Wisnu kangken prabu, Brahma kangken rama, Isora kangken
resi. Nya mana tritan(g)tu pineguh ning bwana. triwarga hurip ning jagat. Ya
sinangguh tritan(g)tu di nu reya ngaranya.
Ini
triwarga dalam kehidupan. Wisnu ibarat prabu, Brahma ibarat rama, Isora ibarat
resi. Karena itulah tritangtu menjadi peneguh dunia, triwarga menjadi kehidupan
di dunia. Ya disebut tritangtu (tiga ketentuan atau tiga kepastian) yang
namanya akan disebut oleh orang banyak.
Teguhkeun
pageuhkeun sahingga ning tuhu, pepet byakta warta manah. Mana kreta na bwana,
mana hayu ikang ja(ga)t, kena twah ning janma kapahayu.
Kukuhkan,
kuatkan, batas-batas kebenaran, penuhi dengan kenyataan dan sikap baik dalam
jiwa. Maka kamu akan menjadi seseorang yang dapat menyentosakan dunia. Bila
sudah demikian, maka menjadi sejahtera kehidupan ini, karena perbuatan manusia
yang serba baik.
Kitu
keh, sang pandita pageuh di kapanditaan(a)na. kreta; sang wiku pageuh di
kawikuan(a)na, kreta; sang manguyu pageuh di kamanguyuan(a)na, kreta; sang
paliken pageuh di (ka)paliken(a)na. kreta; sang tetega pageuh di
katetegaan(a)na, kreta; sang ameng pageuh di kaamengan(a)na, kreta; sang wasi
pageuh di kawasian(a)na, kreta; sang ebon pageuh di kaebon(a)na, kreta; maka
nguni sang walka pageuh di kawalkaa-
Demikianlah,
bila pendeta teguh dalam kependetaannya, maka akan sejahtera; bila wiku teguh
dalam kewikuannya, maka akan sejahtera; bila manguyu teguh dengan keahliannya
menata gamelan, maka akan sejahtera; .bila paliken teguh pada keahlannya
menghasilkan seni rupa, maka akan sejahtera; bila tetega teguh dalam tugasnya
sebagai biarawan, maka akan sejahtera; bila ameng teguh dengan tugasnya sebagai
pelayan biarawan, maka akan sejahtera; bila wasi teguh dengan tugasnya sebagai
catrik (pengikut agama), maka akan sejahtera; bila ebon teguh dengan
kewajibannya sebagai biarawati, maka akan sejahtera; Demikian pula bila walka
(pertapa yang mengenakan pakaian kulit kayu) teguh dengan kewajibannya sebagai
pertapa
XXVII
n(a)na,
kreta; sang wong tani pageuh di katanian(a)na, kreta; sang euwah pageuh di
kaeuwahan(a)na, kreta; Sang gusti pageuh di kagustian(a)na. kreta:.sang mantri
pageuh dikamantrian(a)na, kreta; sang masang pageuh di kamasangan(a)na, kreta;
sang bujangga pageuh di kabujanggaan(a)na. kreta. sang tarahan pageuh di
katarahan(a)na, kreta; sang disi pageuh di kadisian(a)na, kre’ta; sang prebu
pageuh di kaprebuan(a)na, kreta.
maka
akan sejahtera; bila petani teguh dalam bercocok tanamnya, maka akan sejahtera;
bila euwah(?) teguh dalam keeuwahannya, akan sejahtera; bila gusti teguh dalam kedudukannya sebagai tuan tanah,
maka akan sejahtera; bila masang(?) teguh dalam kemasangannya, akan sejahtera:
bila bujangga teguh dalam keahliannya bersastra, maka akan sejahtera: bila
tarahan teguh dalam pekerjaannya sebagai penarik perahu, maka akan sejahtera:
bila disi teguh dengan keahliannya dalam mengatur siasat atau meramal, maka
akan sejahtera; bila rama teguh dalam keramaannya, maka akan sejahtera; bila
resi teguh dalam keresiannya, maka akan sejahtera; bila sang maharaja teguh
dalam kemaharajaannya. maka akan sejahtera.
Nguni
sang pandita kalawan sang dewa ratu pageuh ngretakeun ing bwana, nya mana kreta
lor kidul kulon wetan sakasangga dening pretiwi sakakurung dening akasa; pahi
manghurip ikang sarwo janma kabeh.
Demikian,
bila pendeta dan raja sungguh-sungguh ingin menyejahterakan negara, maka
sejahterakanlah mereka yang berada di Utara, Selatan, Barat dan Timur semua
yang tersangga oleh bumi, semua yang ternaungi oleh langit; maka akan hidup
sentosalah nernagai jenis makhluk semuanya.
Sarwo
janma kabeh ngara(n)na: janma tumuwuh, janma triyak. janma wong, janma siwong,
wastu siwong. Nya mana sakitu eta nu dipajar sarwo janma .kabeh ta.
Berbagai
jenis makhluk secara keseluruhan yaitu: makhluk tumbuhan, makhluk hewan, janma
wong, janma siwong, wastu siwong. Ya sekian itulah yang dikatakan serba makhluk
seluruhnya.
Jan
tumuwuh ma ngara(n)na: trena, taru, lata, galuma. Pahi manghurip hejo lembok natar
dangkura; ya janma tumuwuh ngara(n)na.
Makhluk
yang berupa tumbuhan yaitu: rumput, pohon, rambat, perdu. hamparan rumput semua
hidup hijau subur; itulah yang disebut dengan makhluk tumbuhan.
Janma
wong ma ngara(n)na: ruana janma kena ten hade yunina, Janma siwong ma.
ngara(n)na: rampes yuni rampes bangsa kena acan nyaho di sanghyang darma.
Janma
wong yaitu: hanya wujudnya saja seperti manusia karena tabiatnya tidak baik.
Janma siwong yaitu: hanya baik tabiat. dan turunannya saja tetapi belum
memahami ajaran yang disebut sanghyang darma.
Ini
ma sugan hayang kalihasan ku eusi bwana. Reyana ta. Ini ngara(njna: kurija,
ma/n/taja, bagaja, payuja.
Yang
ini, barangkali ingin mengetahui mengenai jumlah isi dunia. Inilah yang disebut
dengan: kurija, mataja, bagaja, payuja
Kurija
ma ngara(n)na sawatek bijil ti sungut. Ma/n/taja ma nga-ra(n)na sawatek bijil
ti panon. Bagaja ma ngara(n)na sawatek bijil ti
Kurija
ialah segala yang keluar dari mulut. Mataja ialah segala yang keluar dari mata
(mata tunas); Bagaja ialah segala yang keluar dari
XXVIII
baga.
Payuja ma ngara(n)na sawatek bijil ti tumbling. Ya sinangguh sanghyang catur
mula ngara(n)na.
kemaluan
(perempuan), Payuja ialah segala yang keluar dari tumbung atau cungap. Itulah
yang disebut sanghyang catur mula.
Ini
guna janma di bwana: /u/ ngangka, nyigi, ngiket, nyigeung, ngamang,
ngarombaong. Ngangka ma ngara(n)na angen-angen. Nyigi ma ngara(n)na uu(n)tayan,
Ngiket ma ngara(n)na watek nalikeun. Nyigeung ma ngara(n)na meu(ng)peung
meulah, ma(n)cir. midwakeun, ngadar, ngagitaka, ngukur, nyarwakeun. Ngarwang ma
ngara(n)na sawatek ngalikeun. Ngarombong ma ngara(n)na sawatek heuleut-heuleut.
Ya ta sinangguh sadguna ngara(n)na. Sakitu guna janma sarean(a).
Inilah
kegunaan manusia di dunia: ngangka, nyigi, ngiket, nyigeung, ngaruang,
ngarombong. Ngangka berarti cita-cita. Nyigi berarti untaian. Ngiket berarti
segala jenis pekerjaan mengikat. Nyigeung berarti meluruskan, membelah,
membagi, membagi dua, meratakan, mengetok, mengukur. menyamakan. Ngaruang
berarti segala macam kerja menggali Ngarombong berarti segala jenis pekerjaan
memenggal-menggal (memberi batas). Itulah yang disebut sadguna (enam kegunaan).
Sekian kegunaan manusia semuanya.
Ini
kahayang janma: /ru/ yun suda, yun suka, yun munggah, yun luput. Ini kalingana:
yun suda, ma ngara(n)na hayang puma, mu-mul keuna ku saroa kasakit; yun suka ma
ngara(n)na hayang beunghar, mumul katunan ku drabya: yun nuinggah ma ngara(n)na
hayang sorga, mumul manggihkeun bwana; yun Iuput ma ngara(n)na hayang mokta,
mumul /ka/ kabawa ku para sorga. Nya mana sakitu kahayang janma sareyan(a) Ini
nu mandi ka cai. /ru/ Kalingana lanang wadon keudeu mala-wading. Sakitu eta
reyana.
Inilah
keinginan manusia: yun suda, yun suka, yun munggah, yun luput. Yang diaksud
dengan yun suda ialah selalu ingin sempurna, tidak mau terkena oleh berbagai
macam penyakit; yang diaksud dengan yun suka ialah ingin kaya, tidak mau
ditinggalkan (kehilangan) harta; yang diaksud dengan yun munggah ialah ingin
sorga, tidak mau menemui dunia: sedangkan yun luput bararti ingin moksa, tidak
mau terbawa oleh penghuni sorga. Hal yang telah disebutkan tadi dapat
diibaratkan seseorang yang pergi mandi. Maksudnya laki-laki dan perempuan harus
terpisah. Demikianlah untuk semuanya.
Sabaraha
dagangan dipakeun eta? Kalingana asak deung atah, goce deung rampes, beet deung
gede. Sabaraha rasana? /u/ Kalingana lawana, kaduka, tirtka, amba, kasaya,
madura. Lawana ma ngara(n)na pangset; kaduka ma ngara(n)na lada; tritka ma
ngara(n)na pahit: amba ma ngara(n)na haseum; kasaya ma ngara(n)na pelem, madura
ma ngara(n)na amis. Sakitu kara-sana ku na janma sarean(a)na,
Berapa
macam barang dagangan yang dapat dipergunakan untuk hal itu? Sebenarnya hanya
berkaitan dengan mentah dan matang, bagus dan jelek, kecil dan besar. Berapa
macam rasanya? Sebenarnya (hanya) lawana, kaduka, tritka, amba, kasaya, madura.
Lawana berarti asin; kaduka berarti pedas; tritka berarti pahit; amba berarti
masam, kasaya berarti gurih; madura berarti manis. Hal inilah yang biasanya
dapat dirasakan oleh orang banyak.
Ini
pakeun urang mibogaan maneh, pakeun turun patiwah-tiwah ka anak,
Ini
untuk kita memperoleh kekayaan, yang akan diwariskan semuanya kepada keturunan
kita: kepada anak
XXIX
ka
incu, ka umpi. ka cicip, ka muning, ka anggasantana, ka pratisantana, ka putuh
wekas sakabeh; nu sieup dipikakolotan deung nu hamo sieup beunang cekap.
kepada
cucu. kepada umpi, kepada cicip, kepada muning, kepada anggasantana, kepada
pratisantana, kepada putuh wekas semua; yang pantas dan yang tidak pantas
diwariskan di antara hasil usaha kita.
Hamo
sieup dipikakolotan ngara(n)na pinah ing buta raksasa. Beunang bobotoh, beunang
babalanjaan, hamo yogya dipikakolotan. Ngara(n)na wineh ing cipta ambara.
Hengan pamere indung, pamere bapa, pamere pangguruan, wenang dipikakolotan. Ngara(n)na
dewa rumaksa di urang.
Yang
tidak layak untuk dijadikan pusaka disebut makanan raksasa. Hasil judi, hasil
usaha perhiasan tidak layak dijadikan pusaka, Yang demikian disebut diberikan
kepada langit. Tetapi pemberian ibu. pemberian bapak, pemberian perguruan,
boleh dijadikan pusaka. Yang demikian disebut dewata pelindung diri.
Ladang
pepelakan wenang dipikakolotan. Ngara(n)na mani bijil ti pretiwi. Ladang
heuyeuk, ladang cocooan wenang dipikakolotan. Ngara(n)na mirah tiba ti akasa.
Hasil
pertanian boleh dijadikan pusaka. Hasil pertanian seperti ini dapat disebut
sebagai permata yang keluar dari bumi. Selain itu, hasil peliharaan, hasil
ternak, boleh dijadikan pusaka. Disebutnya batu mirah yang jatuh dari langit.
Janma
beunghar teka nebus wadon, teu nyaho indung-bapana, ualah dipikaritikan bisi
urang kabawa salah. Aya deui nyaho di indung-bapana, syaran sangkan ahulun.
Lamun twah indung-bapana rampes keneh na janma. ngara(n)na kapapanas ku twah
kolot, (Eta) wenang dipikari/n/tikan. Hengan lamun ku carut ma ulah
dipikaleuleuheungkeun. Ngara(n)na janma mider ing naraka.
Orang
kaya yang sanggup menebus wanita untuk dijadikan hamba, yang tidak diketahui
siapa ibu bapaknya janganlah dia dipekerjakan agar kita tidak terbawa salah.
Ada lagi kita mengetahui ibu bapaknya, dan (perempuan itu) mencari tempat
mengabdi. Bila sifat ibu bapaknya baik terhadap sesama orang, dan anaknya
terbawa sifat orang tuanya. Boleh dipekerjakan. Tetapi bila ia sifatnya buruk
janganlah dicoba-coba dipekerjakan. Disebutnya manusia sesat di neraka.
Aya
deui ma janma /ng/rampes twahna, rampes susukna, rampes wwitna, ulah mo tebus.
Hengan ulah tuluy dipisomah bisi hulun turuna(na). Ulah majikeun ka kula-kadang
urang. Geus ma tanya, bawakeun seupaheun sewaka ka urang.
Ada
lagi orang yang baik kelakuannya. baik alur turunannya. baik orang tuanya,
(orang seperti ini parut kau tebus. Tetapi jangan lantas diperistri karena
mungkin ia hamba turunan. Jangan pula dikawinkan kepada kerabat kita. Lebih
baik pintalah, dan bawakan sirih pinang agar mengabdi kepada kita.
Sakitu
tata jangjawokanana pakeun dapurna pulang ka jatina deui. Pake beuteung di-
Demikianlah
resepnya agar keluarganya kembali seperti semula. Untuk mencegah di-
XXX
ri
ti panjara, pakeun maur bangsa urang rampes pakeun beuteung ka pataka.
ri
dari penjara, agar pamor keluarga kita baik untuk mencegah diri agar tidak
mendapat aib.
Ini
pakeun urang ngajajadikeun budak. Ulah hawara dipitotoh-keun nu ma mo /nu/
bener bitan urang. Kareyaan urang, lamun lengkeng bapa turun ka anak lalaki,
lamun lengkeng indung turun ka anak wadon. Lamun pahi ma ti panca ti bumi
ngara(n)na buta sumurup ing kali. Hanteu yogya mijodokeur. bocah; bisi kabawa
salah. bisi kaparisedek nu ngajadikeun.
Ini
untuk menjodohkan anak. Anak jangan terlalu cepat dijodohkan karena belum tentu
tindakan kita tepat. Pada umumnya, bila terlalu kecil ibunya akan menurun
kepada anak perempuan. Bila terlalu kecil bapaknya. akan menurun kepada anak
laki-laki. Bila menurun dari semuanya dari suami dan istri disebut keburukan
merasuk kejelekan. Jangan menjodohkan anak kecil. agar tidak berbuta kesalahan,
agar tidak merepotkan yang menjodohkan.
Samangkana
kayatnakeun talatah sang sadu. Saur sang darma pitutur mujarakeun sabda sang
rumuhun, tutur twah paka sabda : Namo Siwaya! Namo Budaya! Namo Sidam Jiwa
nalipurna!
Demikianlah
pesan sang budiman, ujar sang darma pitutur dalam menguraikan ajaran para
leluhur Yaitu ajaran perilaku yang menjadi pelajaran: Sembah kepada Siwa!
Sembah kepada Buda! Sembah sepenuhnya kepada Jiwa Maha-sempurna!
Sang
amaca maka suka, sang nurut ma ujar rahayu ngaregep cipta nirmala, yatna sang
sewaka drama.
Semoga
pembaca menjadi orang yang mengikuti ajaran kebajikan, memperhatikan cita-cita
kesucian, dan mengikuti hukum-hukum pengabdian.
Ini
kawuwusan siksakandang karesian ngaranya, ja na pustaka-nipun sang ngareungeu
pun. Mula nibakeun sastra duk ing teja (di)wasa, huwus ing wulan katiga pun.
Ini babar ing pustakanipun: nora catur sagara wulan.
Demikianlah
yang dikatakan siksakandang karesian, semoga menjadi sumber pengetahuan bagi
yang mendengarkan. Mulai menulis naskah waktu hari bersinar cerah. Selesai
dalam bulan katiga, Ini (tahun) selesainya pustaka: nora (0) catur (4) sagara
(4) wulan (1) =1440 Saka (1518 M).
Sumber Referensi :
Danadibrata, 2006. Kamus Basa Sunda. Bandung: Kiblat Buku Utama.
Danasasmita, Saleh dkk., 1987, Sewaka Darma (Koropak 408),
Sanghyang Siksakandang Karesian (Koropak 630), Amanat Galunggung (Koropak 632),
Transkripsi dan Terjemahan. Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian
Kebudayaan Sunda (Sundanologi) Direktorat Jendral Kebudayaan Depdikbud.
Darsa, Undang A. dkk. 2004. Darmajati Naskah Lontar Koropak 432
Transliterasi, Rekonstruksi, Suntingan dan Terjemahan Teks. Bandung: Universitas Padjadjaran.
Gunawan, Aditia. 2009. Sanghyang Sasana Maha Guru dan Kala Purbaka:
Suntingan dan Terjemahan. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI.
Istadiyantha. 2008. Bahan Kuliah Laboratorium Filologi.
Surakarta: UNS
Lubis, Nabilah. 2001. Naskah, Teks dan Metode Penelitian
Filologi. Jakarta: Yayasan Media Alo Indonesia
Holil, Munawar Dan Aditia Gunawan. 2010. ‘Membuka Peti Naskah
Sunda Kuna Koleksi Perpustakaan Nasional RI: Upaya Rekatalogisasi, dalam
Perubahan Pandangan Aristokrat Sunda dan Esai-esai lainnya mengenai kebudayaan
Sunda (Sundalana 9). Bandung: Pusat Studi Sunda.
Noorduyn, J. (2006). Three Old Sundanese poems. KITLV Press
Perpusnas. 2011. Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol.2 No.
1. (Jurnal). Jakarta: Perpustakaan
Nasional RI.
Ruhaliah. 2004 Naskah Sunda Koléksi Perpusnas. Diktat penunjang
Mata Kuliah Filologi, UPI Bandung.
Suryani, Elis, NS. 2011. Ragam Pesona Budaya Sunda. Bogor:
Penerbit Ghalia Indonesia
Teeuw, A. & Noorduyn, J. 2009. Tiga Pesona Sunda Kuna.
Jakarta: Pustaka Jaya.
Tim Unicode Aksara Sunda. 2008. Direktori Aksara Sunda untuk Unicode. Bandung: Dinas Pendidikan Pemprov Jawa Barat.
Wartini,
Tien, dkk. 2010. Tutur Bwana dan Empat Mantra Sunda Kuna. Jakarta:
Perpusnas-Yayasan Pusat Studi Sunda.
Imajiner Nuswantoro
