BUJANGGA MANIK MELINTASI BUBAT IBUKOTA MAJAPAHIT

0

Bujangga Manik Melintasi Bubat Ibukota Majapahit


 


Bujangga Manik diketahui mengunjungi ibukota Kerajaan Majapahit. Lapangan Bubat yang disebutnya menjadi petunjuk kuat keberadaan dirinya sesudah melewati empat daerah selepas dari Kali Brantas. Kita dapat membaca lengkapnya dalam Naskah Asli Bujangga Manik pada blog historiana ini juga.

Diperkirakan dari rutenya, Bujangga Manik melewati daerah Jombang yang sekarang, lurus ke timur hingga mencapai Trowulan. Nama Trowulan tidak disebut, namun seperti diterangkan di muka, penyebutan lapangan Bubat sangatlah jelas menunjuk ibukota Wilwatikta.

Menurut J Noorduyn, berdasarkan Negara Krtagama, lapangan Bubat terletak di sebelah utara lingkungan istana Majapahit. Ini lapangan besar yang dipakai untuk acara-acara besar tahunan. Ada sebuah jalan raya (rajamarga) melewati Bubat ke selatan kea rah istana.

Meninggalkan Bubat, Bujangga Manik sampai di Manguntur. Noorduyn menyebut lokasi ini sama dengan alun-alun keratin, seperti pendapat sama yang disampaikan ahli sejarah Pigeaud yang membaca teks asli ‘wanguntur’ dalam kitab Nagara Krtagama.

Di ibukota kerajaan besar ini, Bujangga Manik mencatat nama-nama Darma Anar, Karang Kajraman, karang Jaka, dan Palintahan. Dari nama-nama itu, hanya Palintahan yang memiliki petunjuk sebagai Plintahan, nama wilayah di tenggara Gunung Pananggungan atau Pawitra.

Jika dua nama ini sama, letaknya agak jauh dari Trowulan. Meski demikian masih masuk akal karena Bujangga Manik kemudian mendaki Gunung Pananggungan lewat Palintahan. Gunung ini merupakan lokasi 11 situs kuna, termasuk tempat pemujaan dan pertapaan suci.

Begitu pentingnya gunung pawitra kaitan dengan reliji, tidak mengherankan jika Bujangga Manik dalam pencarian spiritualnya berlama-lama di daerah ini. Selanjutnya setelah merasa cukup di Majapahit, ia melanjutkan pengelanaan ke timur menuju Gunung Brahma (Bromo).

Dari Bromo, ia menuju ke Gending, kini di sebelah timur Probolinggo, sebelum mencapai Lesan. Di antara dua daerah ini ia menyeberangi Ci-Rabut Wahangan, yang sekarang kemungkinan Kali Pinangan. Dari sini, perjalanan berlanjut ke Gunung Arum.

Nama ini tak dikenali lagi, namun mungkin nama lama Gunung Ringgit, tepat di sebelah barat Panarukan di lurah (daerah) Telaga Wurung. Nama-nama ini juga disebut di naskah Nagara Krtagama sebagai rute perjalanan Hayam Wuruk ke wilayah timur pada tahun 1359 Masehi.

Nama lain yang dikenali di khasanah naskah kuna adalah Tlagorung. Noorduyn menyatakan, wilayah ini sangat penting dan mencakup wilayah sejak Panarukan ke timur termasuk Gunung Ijen dan Gunung Raung.

Setelah melewati Raung, Bujangga Manik sampai di Balungbungan. Inilah Blambangan, wilayah kerajaan Majapahit di timur, yang sekarang dikenal sebagai Banyuwangi. Blambangan atau Balambangan atau Balangbangan masa kuna adalah bandar laut cukup besar.

Dari bandar ini ada kapal-kapal yang berlayar ke timur, menyeberang ke Bali hingga Makassar dan seterusnya. Tahun 1588, kapal Sir Thomas Cavendish (Inggris) singgah di Blambangan. Disusul kapal Cornelis de Houtman pada 1597.

Mahapandita dari Pakuan itu menumpang kapal yang dinakhodai Selabatang menuju Bali. Sayang, tak banyak cerita ditulis Bujangga Manik selama di Bali, hingga ia kembali lagi ke Jawa lewat bandar yang sama.

Ia menumpang sebuah jung atau kapal besar sepanjang 25 depa, lebar 8 depa, yang berlayar dari Bali menuju Palembang dan Parayaman (Pariaman, Sumbar). Nakhodanya bernama Belasagara. Turun di Blambangan, resi itu menuju Padangalun.

Nama terakhir ini diyakini sama dengan Tawangalun. Sesudah itu mencapai Gunung Watangan di timur Puger atau dekat Pulau Nusa Barung yang terletak di seberang pantai. Dari Watangan berjalan ke barat menuju Sarampon (tidak dikenali lagi).

Namun di Nagara Krtagama ada nama Saramowan, tempat Hayam Wuruk singgah selama beberapa hari ketika ia pergi ke Sadeng, sebuah wilayah yang kini masuk Kabupaten Lumajang (Lamajang), Jawa Timur. Perjalanan berlanjut ke barat menuju Kenep (tak dikenali) dan Lamajang Kidul.

Ia terus menyisir sisi selatan Gunung Brahma (Bromo) melewati Pacira, Ranobawa, Kayu Taji, Kukub, Kasturi, Sagara Dalem, dan Kagenengan, sebelum mencapai Gunung Kawi. Pacira ini kemungkinan sebuah katyagan di kaki timur Mahameru (Semeru).

Lokasinya tak jauh dari Candipura dekat Pasirian. Kayu Taji sebuah patapan (pertapaan) dan Kukub merupakan mandala bersama Kasturi. Ketiganya berada di lereng selatan Mahameru. Noorduyn mengatakan, Sagara Dalem ini wilayah besar yang terletak antara Mahameru dan Kagenengan.

Kagenengan sendiri sebuah tempat keagamaan di selatan Malang saat ini. Dari Kagenengan, ia ke Gunung Kawi sebelum kemudian melanjutkan perjalanan menuju Gunung Kampud (Kelud). Ia mengunjungi Rabut Pasajen, yang berlokasi di atas (lebih tinggi) Rabut Palah.

Rabut Palah inilah komplek perziarahan kuna yang sekarang dikenal sebagai Candi Panataran di Desa Palah, Kabupaten Blitar. Ini candi terbesar di wilayah Jatim, yang ketika Bujangga Manik berada di lokasi ini ramai orang berbondong datang untuk ziarah.

Hayam Wuruk sebagai penguasa Majapahit pernah mengunjungi komplek pemujaan, pertapaan, sekolah keagamaan yang dibangun bergenerasi sejak masa Krtanegara (Singhasari), Kadiri, dan Majapahit. Bujangga Manik tinggal cukup lama di Rabut Palah ini.

“Rabut Palah kabuyutan Majapahit nu disembah ka na Jawa. Datang nu puja ngancana, nu nembah henteu pegatna, nu ngideran ti nagara”. Demikian Bujangga Manik menulis dalam syairnya Sunda. Terjemahannya :

“Rabut Palah (Candi Panataran) keramat Majapahit, yang dipuja oleh orang Jawa, datanglah yang memuja, bersaji emas, yang memuja tiada hentinya, yang berdatangan dari negeri”.

 

 


Sumber Referensi :

Noorduyn, J 1984, Perjalanan Bujangga Manik Menyusuri Tanah Jawa: Data Topografis dari Sumber Sunda Kuno, terj. Iskandarwassid, Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Noorduyn, J dan Teeuw, A. 2006, Three Old Sundanese Poems, KITLV, Leiden



NASKAH Bujangga Manik

Bujangga Manik merupakan salah satu naskah berbahasa Sunda Kuno yang memuat kisah perjalanan seorang tokoh bernama Bujangga Manik mengelilingi Tanah Jawa dan Bali. Naskah ini ditulis pada daun nipah, dalam puisi naratif berupa lirik yang terdiri dari delapan suku kata, dan saat ini disimpan di Perpustakaan Bodleian di Universitas Oxford sejak tahun 1627 (MS Jav. b. 3 (R), cf. Noorduyn 1968:469, Ricklefs/Voorhoeve 1977: 181). Naskah Bujangga Manik seluruhnya terdiri dari 29 lembar daun nipah, yang masing-masing berisi sekitar 56 baris kalimat yang terdiri dari 8 suku kata.

Tokoh dalam naskah ini adalah Prebu Jaya Pakuan alias Bujangga Manik, seorang pangeran dari kedatuan Pakuan Pajajaran (sekarang berada di dalam wilayah Kota Bogor), pusat Kerajaan Sunda, yang lebih suka menjalani hidup sebagai seorang resi Hindu. Sebagai seorang resi, dia melakukan dua kali perjalanan dari tanah asalnya ke timur Jawa. Pada perjalanan kedua Bujangga Manik malah sempat singgah di Bali untuk beberapa lama. Pada akhirnya Bujangga Manik bertapa di sekitar Gunung Patuha sampai akhir hayatnya. Dari ceritera dalam naskah tersebut, naskah Bujangga Manik diperkirakan berasal dari zaman sebelum Islam masuk ke Tatar Sunda: naskah tersebut tidak mengandung satu pun kata-kata yang berasal dari bahasa Arab. Penyebutan Majapahit, Malaka, dan Demak membawa pada perkiraan bahwa naskah ini ditulis menjelang akhir tahun 1400-an atau awal tahun 1500-an. Naskah ini sangat berharga karena menggambarkan geografi dan topografi Pulau Jawa pada saat naskah dibuat. Lebih dari 450 nama tempat, gunung, dan sungai disebutkan di dalamnya. Sebagian besar dari nama-nama tempat tersebut masih digunakan atau dikenali sampai sekarang.

 

Ringkasan naskah

Bujangga Manik ditulis dengan genre cerita yaitu tokoh yang berkelana. Tokoh utama di dalamnya ialah Bujangga Manik yang bergelar Prabu Jaka Pakuan. Ia adalah seorang pangeran dari Istana Pakuan yang memilih untuk hidup sebagai pendeta. Masa hidupnya dilalui dengan mengadakan pengembaraan yang bersifat suci. Bujangga Manik mengembara ke berbagai tempat suci dan keramat yang menjadi objek pemujaan. Dalam pengisahan ini, Bujangga Malik berkelana hingga ke pulau-pulau yang letaknya jauh dari timur Pulau Jawa.

Setelah perkenalan singkat sang protagonis, pangeran Jaya Pakuan, diperkenalkan di baris 14. Nama ningrat ini tidak disebutkan kemudian; nama Bujangga Manik muncul untuk pertama kali pada baris 456, dan baru sejak baris 854 nama itu biasa digunakan untuk menunjukkan tokoh protagonis. Di baris 15–20 dia pamit dari ibunya, memberitahunya bahwa dia akan pergi ke timur. Dia sangat teliti dalam menceritakan keberangkatannya. Dari kebiasaannya kita tahu bahwa dia mengenakan ikat kepala (saceundung kaén, baris 36); mungkin kain rambut ini merupakan indikasi dari keadaan religius yang diambil Bujangga Manik untuk perjalanannya. Dia menolak menjawab pertanyaan publik tentang tujuan perjalanannya (38–41).

 

Perjalanan pertama

Perjalanan pertamanya dilukiskannya secara terperinci. Waktu mendaki daerah Puncak Bujangga Manik menghabiskan waktu seperti seorang pelancong zaman modern: dia duduk, mengipasi badannya dan menikmati pemandangan, khususnya Gunung Gede yang dia sebut sebagai titik tertinggi dari kawasan Pakuan (ibu kota Kerajaan Sunda, baris 59–64).

Dari Puncak dia melanjutkan perjalanan sampai menyeberangi Ci Pamali (sekarang disebut Sungai Pemali) untuk masuk ke daerah Jawa (baris 82). Di daerah Jawa dia mengembara ke berbagai desa yang termasuk kerajaan Majapahit dan juga kerajaan Demak. Sesampai di Pamalang (sekarang Pemalang), Bujangga Manik merindukan ibunya (baris 89) dan memutuskan untuk pulang. Namun pada kesempatan ini, dia memilih perjalanan laut dan menaiki kapal yang datang dari Melaka. Kesultanan Malaka dari paruh kedua abad ke-15 hingga penaklukannya oleh Portugis pada tahun 1511 merupakan kesultanan dengan kekuatan perdagangan yang mendominasi wilayah tersebut. Ini mungkin saat cerita dibuat (ditulis).

Keberangkatan kapal dari pelabuhan dilukiskan seperti upacara pesta (baris 96–120): bedil ditembakkan, alat musik dimainkan, beberapa lagu dinyanyikan dengan keras oleh awak kapal; gambaran terperinci mengenai bahan yang digunakan untuk membuat kapal diceritakan: berbagai jenis bambu dan rotan, tiang dari kayu laka, juru mudi yang berasal dari India juga disebutkan; Bujangga Manik benar-benar terpesona karena awak kapal berasal dari berbagai tempat atau bangsa.

 

Pulang ke rumah

Perjalanan dari Pamalang ke Kalapa (sekarang adalah wilayah Kota Lama Jakarta), pelabuhan utama Kerajaan Sunda, ditempuh dalam setengah bulan (baris 121), yang memberi kesan bahwa kapal yang ditumpangi tersebut berhenti di berbagai tempat di antara Pamalang dan Kalapa. Dari perjalanan tersebut, Bujangga Manik membuat nama alias lainnya yaitu Ameng Layaran. Dari Kalapa, Bujangga Manik berjalan melewati Pabeyaan dan meneruskan perjalanan ke istana kerajaan di Pakuan. Bujangga Manik memasuki Pakancilan (baris 145), terus masuk ke paviliun yang dihias cantik dan duduk di sana. Dia melihat ibunya sedang menenun. Ibunya terkejut dan bahagia melihat anaknya pulang kembali. Dia segera meninggalkan pekerjaannya dan memasuki rumah dengan melewati beberapa lapis tirai, dan naik ke tempat tidurnya.

Ibu Bujangga Manik menyiapkan sambutan buat anaknya, menghidangkan sebaki bahan untuk mengunyah sirih, menyisirkan rambutnya, dan mengenakan baju mahal (baris 160–164). Dia kemudian turun dari kamar tidurnya, keluar dari rumah, pergi ke paviliun dan menyambut anaknya. Bujangga Manik menerima perlengkapan mengunyah sirih yang ditawarkan ibunya.

Pada bagian berikutnya, diceritakan mengenai kehadiran putri Ajung Larang Sakean Kilat Bancana. Jompong Larang, pesuruh putri Ajung Larang, meninggalkan istananya lalu menyeberangi Ci (Sungai) Pakancilan dan datang ke istana Bujangga Manik. Di istana tersebut dia bertemu seorang asing yang sedang mengunyah sirih yang ternyata adalah Bujangga Manik. Jompong Larang terpesona dengan ketampanan Bujangga Manik (baris 234–235).

Sekembalinya ke istana majikannya, Jompong Larang menemui putri Ajung Larang yang kebetulan sedang sibuk menenun. Putri, yang mengenakan gaun serta di sampingnya ada kotak impor dari Cina, melihat Jompong Larang yang terburu-buru, menaiki tangga dan kemudian duduk di sampingnya.

Putri menanyakan pesan apa yang dibawanya. Jompong Larang mengatakan bahwa dia melihat pria yang sangat tampan, sepadan bagi putri Ajung Larang. Dia menceritakan bahwa Ameng Layaran lebih tampan daripada Banyak Catra atau Silih Wangi, atau sepupu sang putri, atau siapa pun itu (baris 321). Lebih dari itu, pria itu pintar membuat sajak dalam daun lontar serta bisa berbahasa Jawa (baris 327). Putri Ajung Larang langsung dihinggapi rasa cinta. Dia kemudian menghentikan pekerjaan menenunnya dan memasuki rumah. Di sana dia sibuk menyiapkan hadiah bagi pria muda tersebut, yang terdiri dari berbagai perlengkapan mengunyah sirih, menggunakan bahan-bahan yang indah, dengan sangat hati-hati (baris 411–413). Putri juga menambahkan koleksi wangi-wangian yang sangat mahal: "Seluruh wewangian tersebut berasal dari luar negeri", juga baju dan sebilah keris yang indah.

Ibu Bujangga Manik mendesak anaknya untuk menerima hadiah dari putri Ajung Larang kemudian menggambarkan kecantikan putri yang luar biasa serta pujian-pujian lainnya (baris 518–522). Ibunya juga mengatakan bahwa putri berkeinginan untuk meyerahkan dirinya kepada Bujangga Manik serta mengucapkan kata-kata yang tidak pernah disampaikan putri Ajung Larang, "Saya akan menyerahkan diri saya. Saya akan menyambar seperti elang, menerkam seperti harimau, meminta diterima sebagai kekasih (baris 530–534).

Ameng Layaran terkejut mendengar ucapan-ucapan ibunya yang antusias dan menyebutnya sebagai kata-kata terlarang (carèk larangan) dan bertekad untuk menolak hadiah tersebut dengan kata-kata yang panjang juga (baris 548–650). Dia meminta ibunya bersama Jompong Larang untuk mengembalikan hadiah tersebut kepada putri serta menghibur putri. Dia lebih suka untuk hidup sendiri dan menjaga ajaran yang dia terima selama perjalanannya ke Tanah Jawa, di pesantren di lereng Gunung Merbabu (yang dia sebut dalam naskah ini sebagai Gunung Damalung dan Pamrihan, baris 593–606). Untuk itulah Bujangga Manik terpaksa harus meninggalkan ibunya (baris 649–650).

 

Perjalanan kedua

Bujangga Manik mengambil tasnya yang berisi buku besar (apus ageung) dan siksaguru, juga tongkat rotan serta pecut. Dia kemudian mengatakan bahwa dia akan pergi lagi ke timur, ke ujung timur pulau Jawa untuk mencari tempat nanti dia dikuburkan, untuk mencari "laut untuk hanyut, suatu tempat untuk kematiannya, suatu tempat untuk merebahkan tubuhnya" (baris 663–666). Dengan kata-kata yang dramatis ini dia meninggalkan istana dan memulai pengembaraan panjangnya.

Dia meneruskan perjalanannya ke timur, menuliskan banyak sekali nama tempat yang sebagian masih digunakan sampai sekarang.[3] Dalam perjalanan kedua ini, ia kembali melewati pesisir utara Jawa Tengah, melewati Medang Kamulan, Gunung Karungrungan, menyeberangi Ci Ronabaya, sampai ke kotaraja Majapahit, lalu menetap agak lama di "Rabut Gajah Mungkur", salah satu puncak di Gunung Penanggungan yang memang dianggap sebagai gunung suci pada masa Majapahit. Perjalanannya berlanjut ke timur melewati Pasuruhan, Gunung Berahma (Pegunungan Tengger), sampai akhirnya mencapai pelabuhan Balumbungan (Blambangan). Dari sini ia menyeberang ke Bali dan menetap selama setahun.

Dari Bali ia menyeberang kembali ke Blambangan dan melanjutkan perjalanan kembali ke arah barat melewati pesisir selatan Jawa, melalui Gunung Mahameru, Gunung Kampud, dan berhenti di Rabut Palah (Candi Penataran) untuk belajar kitab. Karena menganggap Rabut Palah terlalu ramai, ia melanjutkan perjalanan ke barat melewati sisi selatan Gunung Wilis dengan menyeberangi Ci Ronabaya dan Ci Wuluyu (Bengawan Solo), kemudian melewati "Bobodo" (diduga adalah Pajang atau Pengging). Dari sana, ia melewati selatan Marapi, menyeberangi Ci Loh Paraga dan Ci Watukura. Selanjutnya ia menuju ke barat, melewati Segara Anakan dan Pananjung. Dari sini ia menuju ke Gunung Patuha dan "Gunung Sunda", lalu bertapa hingga akhir hayatnya.

Pengaruh gaya genre penulisan Bujangga Manik yatu santri lelana menjadi umum dipakai pada naskah-naskah dari masa berikutnya.

 

Bujangga Manik, Penjelajah dari Masa Sunda Kuno

Apa yang ada di benak pikiran kalian jika melakukan perjalanan ke suatu tempat, tentu saja mendokumentasikan tempat yang di kunjungi dengan berbagai macam media dokumentasi. Saat ini media yang digunakan bervariasi, mulai dari catatan perjalanan, foto, video bahkan mengumpulkan souvenir dari tempat yang di kunjungi. Mendokumentasikan perjalanan adalah sesuatu yang menyenangkan bagi yang melakukannya dan memberikan informasi bagi yang kemudian menemukan dan membaca ataupun melihat dokumentasi perjalanan tersebut.

Mendokumentasikan perjalanan pada masa lalu tidak banyak dilakukan oleh para penjelajah, informasi-informasi yang didapatkan saat ini sebelum kedatangan bangsa Eropa kebanyakan dari berita-berita perjalanan Cina, India serta Arab sedangkan dokumentasi perjalanan dari orang-orang nusantara hanya sedikit saja. Salah satu dari yang sedikit itu adalah Naskah Kuno Bujangga Manik. Naskah kuno ini berisi perjalanan seorang bernama Bujangga Manik menyusuri Pulau Jawa dan Bali. Naskah Bujangga Manik seluruhnya terdiri dari 29 lembar daun nipah, yang masing-masing berisi sekitar 56 baris kalimat yang terdiri dari 8 suku kata berbahasa Sunda yang tersimpan di perpustakaan Bodleian di Oxford (Inggris) sejak 1627 Masehi atau 1629 Masehi (Noorduyn 1982).  Tidak jelas mengapa naskah kuno yang sangat berharga ini dapat sampai ke Inggris sejak 4 abad yang lalu.

Mengutip mewawancarai Atep Kurnia, peneliti literasi Pusat Studi Sunda menyebut, Richard Thomas memboyong dua naskah ke negerinya di akhir abad 16. Richard James kemungkinan pernah ikut dalam salah satu ekspedisi pelayaran Inggris ke wilayah timur antara 1579-1611 Masehi. Di rentang periode itu ada setidaknya tiga pelayaran besar oleh armada Inggris. Yaitu ekspedisi Sir Francis Drake (1580), Sir Thomas Cavendish (1587), dan Sir James Lancaster (1601). Kapal pelayaran terakhir ini konon sempat mendarat di Banten. Kedua naskah itu diserahkan bukan oleh Richard, tapi lewat kakaknya, Andrew James. Adik bungsu mereka, Thomas James, merupakan pustakawan pertama di perpustakaan tersebut. Tahun 1967, atau setelah 340 tahun tersimpan, Bujangga Manik ditemukan dan diteliti J Noorduyn (Sumargo 2019) Direktur KITLV (The Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies ) Belanda yang pensiun pada 1991.

Naskah kuno Bujangga Manik bercerita tokoh Prabu Jaya Pakuan atau Bujangga Manik, resi Hindu dari Kerajaan Sunda yang lebih suka menjalani hidup sebagai seorang resi, walaupun sebenarnya ia seorang kesatria dari keraton Pakuan Pajajaran, Kerajaan Sunda, yang bertempat di wilayah yang sekarang menjadi Kota Bogor. Bujangga Manik melakukan dua kali perjalanan dari Pakuan Pajajaran ke timur Jawa. Yang pertama dari Pakancilan di Pakuan Pajajaran sampai ke Pamalang di Jawa bagian tengah yang merupakan wilayah Kerajaan Majapahit. Pada perjalanan kedua Bujangga Manik malah sempat singgah di Bali untuk beberapa lama, namun tidak di sebutkan tempat-tempat Bujangga Manik mengunjungi Bali. Cerita berakhir saat Bujangga Manik bertapa di sekitar Gunung Patuha sampai akhir hayatnya. Bujangga Manik menggunakan 2 transportasi saat mengelilingi Jawa – Bali, yaitu transportasi laut dan transportasi darat.

 

Tempat yang di kunjungi dan dilalui oleh Bujangga Manik berdasarkan penelitian Noorduyn

Sumber : Noorduyn 1982

Dari 1.641 baris syair di naskah kuno Bujangga Manik, tak satupun memuat kata-kata atau bahasa yang mengindikasikan pengaruh Arab atau Islam. Semuanya berbahasa Sunda yang terpengaruh kuat bahasa Jawa. Aksara yang dipakai aksara Sunda, yang dipengaruhi aksara dari India. Hal menarik berikutnya menurut Noorduyn adalah Bujangga Manik menyebut 450 nama tempat yang disinggahinya, yang semuanya berlokasi di Pulau Jawa. Secara geografi ini sangat menarik. Nama-nama tempat itu masih banyak yang bisa dikenali, tapi juga tak sedikit yang sudah lenyap atau mungkin berganti nama yang sama sekali berbeda (Noorduyn 1982).

Bujangga Manik sebagai seorang penjelajah berhasil membuat cerita perjalanannya keliling Jawa dan Bali, di mana pada saat itu Pulau Jawa masih terbagi dalam beberapa kerajaaan. Perjalanan Bujangga Manik tersebut tentu saja sebelum ada Jalan Raya Pos dari Anyer – Panarukan yang di bangun oleh Herman Willem Daendels (1808–1811) Gubernur Hindia Belanda pada abad ke 18.

 

 

REFERENSI 1 :

Noorduyn, J. 1982. “Bujangga Manik’s Journeys through Java; Topographical Data from an Old Sundanese Source.” Bijdragen Tot de Taal-, Land- En Volkenkunde / Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast Asia 138 (4): 413–42. doi:10.1163/22134379-90003462.

Sumargo, Setya Krisna. 2019. “Diangkut Ke Inggris Sejak 1627, Naskah Kuna Bujangga Manik Ditemukan 340 Tahun Kemudian.” TribunJogja.Com, April 6. https://jogja.tribunnews.com/2019/04/06/diangkut-ke-inggris-sejak-1627-naskah-kuna-bujangga-manik-ditemukan-340-tahun-kemudian.

 

 

 

 

CERITA LAIN Bujangga Manik, Ibukota Kerajaan Talaga Manggung di Desa Kagok

Bahwa Kerajaan Talaga yang beribukota Walang Suji (menurut versi Bujangga Manik) itu berada pada akhir abad XV atau awal abad XVI. Jadi, itu berada kira-kira antara 1475 – 1525.

Padahal, kata dia, saat dikunjungi Bujangga Manik akhir abad XV (anggap tahun 1475-an sebagai tebakan, untuk tidak dikatakan awal abad XVI), Talaga itu ibu kotanya Walang Suji, bukan Parung.

Dalam umumnya tulisan "sejarah" Talaga, hanya pada masa Simbar Kancana Talaga beribu kota di Walang Suji. Itu berarti sebelum "Dua Parung" tersebut memerintah sebelum 1450 M.

Menurut versi di atas. Katakanlah tahun 1425-an dan tahun-tahun itu bertentangan dengan versi Bujangga Manik (1475-an) yang menyebut Walangsuji.

Aom menegaskan Walangsuji disebut Bujangga Manik merupakan salah satu naskah berbahasa Sunda Kuno yang memuat kisah perjalanan seorang tokoh bernama Bujangga Manik mengelilingi Tanah Jawa dan Bali.

Naskah ini ditulis pada daun nipah, dalam puisi naratif berupa lirik yang terdiri dari delapan suku kata dan saat ini disimpan di Perpustakaan Bodleian di Universitas Oxford sejak tahun 1627 (MS Jav. b. 3 (R), cf. Noorduyn 1968:469, Ricklefs/Voorhoeve 1977: 181).

"Naskah Bujangga Manik seluruhnya terdiri dari 29 lembar daun nipah, yang masing-masing berisi sekitar 56 baris kalimat yang terdiri dari 8 suku kata".

Menurut cerita rakyat setempat setelah Sunan Parung Raja Talaga Manggung dibunuh oleh menantunya Palembang Gunung, kemudian ngahiang beserta para prajuritnya dipercaya menjadi Ikan di Situ Sangiang dan bekas Keratonnya menjadi Danau yang dikenal sebagai Situ Sangiang.

"Hingga kini ikan di Situ Sangiang tetap lestari tidak ada yang berani menangkap karena dianggap jelmaan prajurit Kerajaan," ucap dia.

Akhirnya oleh Palembang Gunung istana dipindahkan ke Walangsuji dan bertahta dengan istrinya Ratu Simbarkancana. Sekian tahun terlantar daerah Walangsuji yang terletak di Desa Kagok, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Majalengka

Saat ini terkenal angker dan menjadi daerah pemujaan (orang yang ingin kaya raya secara mistis) padahal sebenarnya merupakan daerah historis yang penuh sejarah. Bahkan warga saat ini banyak yang meyakini masih banyak timbunan emas di bekas Keraton tersebut.

Ada upaya merestorasi dan mengembalikan nama baik Walangsuji sebagai tempat historis bekas Istana Kerajaan Talaga.

"Banyak situs peninggalan historis disini, bahkan kami bersama pemerintah desa setempat sekarang sedang membuka jalan masuk mobil dalam program TMMD.

Sementara itu, Ketua Balai Konservasi Cagar Budaya Talaga Manggung, Asep Asdha Singawinata menuturkan, terdapat isu banyak emas di Walangsuji bukan merupakan arti kata yang sesungguhnya. "Itu merupakan Siloka atau perumpamaan saja.

Talaga Manggung tidak ada kepentingan disini dan menghargai kearifan lokal dan mendorong dari belakang, yang tampil ke depan silahkan Paguyuban Walangsuji yang merupakan warga setempat.

Berawal cerita Tomi Pires yang menenggelamkan Walangsuji dengan sebuah tempat yang disebut Kuburan Munding yang disebut komplek Susuhanan atau Sunan.

Pihaknya mengadakan penelitian dan hasilnya menyatakan bahwa disini diduga terdapat Makam Ratu Pertama Kerajaan Talaga Manggung yaitu Ratu Simbarkancana.

Menurut Asep Asdha menuturkan situs yang sudah ratusan tahun tilam sekarang dibuka kembali, mudah-mudahan bangkit kembali membawa kesejahteraan bagi warga sekitarnya.

"Penelitian kami lanjutkan secara kontinyu dan diketemukan prasasti, objek yang diduga Cagar Budaya yang sudah diajukan ke Balai Arkeologi," imbuhnya.

Menurut Kepala Desa Kagok, mengatakan ada niat setelah menjadi Kepala Desa untuk membuka Walangsuji khususnya untuk wisata budaya.

"Kami mengizinkan kepada komunitas untuk mengembangkan Walangsuji, apabila ada sejarah Keraton mari kita lestarikan".

Saat ini, kata dia, pemerintah desa telah membuka jalan dengan akses kendaraan roda empat untuk memudahkan akses dan apabila ada hal atau penemuan prasasti.

"Kami meminta dukungan semua pihak agar bisa menempatkannya dan ke depan ingin dikembangkan menjadi wisata religi dan wisata budaya seperti Wanaperih.

 

NASKAH BUJANGGA MANIK

(Bujangga Manik dan Studi Sunda)

Sejak akhir dasawarsa 1950-an atau awal dasawarsa 1960-an terbersit minat dikalangan intelektual Sunda untuk menggali dan merekonstruksi pandangan duniamasyarakat Sunda. Minat seperti itu direalisasikan terutama melalui penelitian di bidang sejarah, arkeologi, filologi, dan sastra. Perhatian mereka pertama-tama diarahkan pada kurun-kurun waktu yang jauh, samar-samar, bahkan gelap, yang melingkupi tatanan kehidupan masyarakat Sunda sebelum bersentuhan dengan segi-segi peradaban modern, yang antara lain dapat ditelusuri melalui berbagai benda purbakala, naskah-naskah dan

prasasti-prasasti kuna, atau karya-karya warisan tradisi lisan. Para peneliti seperti Saleh Danasasmita, Atja, Ayatrohaedi, Edi S. Ekadjati, Ajip Rosidi dll. telah berupaya merealisasikan minat seperti itu di bidang masing-masing hingga menghasilkan sejumlah temuan yang cukup penting.

Apabila ditinjau selayang pandang, kegiatan mereka barangkali akan tampak

seperti kelanjutan dari kegiatan para sarjana dan peneliti orientalis dari Eropa, terutama yang berkebangsaan Belanda, pada zaman kolonial yang telah menghasilkan banyak bahan bacaan perihal berbagai segi kehidupan masyarakat Sunda. Namun apabila ditinjau lebih jauh, kegiatan kalangan intelektual Sunda itu dalam banyak hal dan secara mendasar berbeda dari kegiatan kalangan intelektual Eropa, terutama menyangkut kesadaran intelektual yang mendasarinya. Apabila para sarjana dan peneliti Eropa

memandang masyarakat Sunda dengan perspektif yang berpusat pada pandangan dunia Eropa, lain halnya dengan kalangan intelektual Sunda yang melihat dunia kehidupan masyarakatnya sendiri dengan kesadaran yang dapat dikatakan bertitik tolak dan berorientasi Sunda. Bukanlah suatu kebetulan apabila di antara temuan-temuan hasil penelitian kalangan intelektual Sunda itu ada temuan yang justru mengoreksi bahkan

membantah temuan-temuan peneliti Eropa. Lambat laun minat intelektual Sunda itu mampu membukakan pintu demi pintu yang sekian lama menutupi suatu tata nilai yang pernah hidup dan terus berpengaruh yang kiranya dapat disebut sebagai tata nilai Sunda.

Memang, belum semua kekayaan ruhani masyarakat Sunda tergali oleh kaum intelektualnya sendiri. Sebagai gambaran dapat disebutkan bahwa di antara sekitar 100-an naskah Sunda Kuna pada daun lontar yang tersimpan di beberapa museum, baru belasan yang sudah dibaca, ditransliterasikan, dan diterjemahkan sehingga isinya dapat disimak oleh masyarakat umum atau mendorong penelitian yang lebih jauh. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa hasil-hasil penelitian mereka, sebagai sebentuk konservasi, pada gilirannya mendorong berlangsungnya telaah inovatif dalam upaya merekonstruksi tata nilai Sunda yang lebih menyeluruh. Salah satu contoh menarik dalam hal ini terletak di bidang penelitian atas pantun atau pertunjukan carita pantun, yakni kisah epik yang dituturkan oleh narator yang disebut tukang pantun atau juru pantun dengan iringan petikan kacapi atau gesekan tarawangsa, sebagai bagian dari tradisi lisan Sunda. Dari 1970 hingga 1973 sastrawan Ajip Rosidi dan kawan-kawan memprakarsai Proyek Penelitian Pantun dan Folklor Sunda (PPP & FS). Proyek penelitian ini merekam sekitar 30 carita pantun yang dituturkan oleh sejumlah juru pantun dari berbagai daerah di Tatar Sunda. Sebagian rekamannya kemudian ditranskripsikan dan dipublikasikan dalam bentuk buku. Lebih dari 30 tahun setelah berlangsungnya kegiatan PPP & FS sastrawan dan peneliti Jakob Sumardjo menafsirkan secara hermeneutik sejumlah carita pantun

yang terekam oleh PPP & FS sehingga menghasilkan sejumlah buku perihal seluk beluk tata nilai dan spiritualitas masyarakat Sunda pramodern. Sementara sastrawan Sayudimenulis kraya kreatif Madraji yang dia sebut “carita pantun modern”.

Dalam kaitannya dengan kecenderungan seperti itu, telaah berikut ini merupakan bagian dari telaah yang lebih luas dan mendasar dalam upaya menggali prinsip-prinsip estetis dalam kebudayaan Sunda. Sebagaimana arkeologi berupaya merekonstruksi tatanan kehidupan masa silam dengan menggali lapisan demi lapisan bumi yang mengubur berbagai artefak, telaah ini merupakan bagian dari upaya merumuskan prinsip estetika Sunda pramodern dengan membaca dan menafsirkan warisan-warisan tekstual

yang ditinggalkannya. Di balik upaya ini terdapat kesadaran bahwa dengan memperluas dan memperdalam kerja pembacaan dan penafsiran atas sebanyak mungkin benda budaya yang dapat ditemukan dalam lingkungan budaya Sunda pada gilirannya apa yang disebut dengan tata nilai Sunda, termasuk segi-segi estetikanya, akan tergambar secara utuh dan menyeluruh.

Apabila peneliti seperti Jakob Sumardjo mencurahkan perhatian pada jejak-jejak tradisi lisan, peneliti lainnya seperti Edi S. Ekadjati, Hasan Djafar, Undang A. Darsa dll. memusatkan banyak perhatian pada benda-benda tekstual warisan leluhur Sunda yang telah mengenal tulisan. Lagi pula, bahan-bahan kajian peninggalan leluhur Sunda yang

sejauh ini menyediakan teks yang cukup kaya memang dapat dibagi ke dalam tiga golongan, yakni (transkripsi) carita pantun, prasasti, dan naskah baik naskah daun maupun naskah kertas. Adapun telaah ini akan memusatkan perhatian pada teks dari golongan yang disebutkan belakangan, yakni sebuah naskah Sunda Kuna dari abad ke-16 yang dikenal sebagai “Naskah Bujangga Manik”. Salah satu pertimbangan pokok yang mendasari dipilihnya naskah ini sebagai objek amatan berkaitan dengan kekayaan dimensi estetik yang diperlihatkannya, dalam arti sebagaimana akan dipaparkan pada bagian selanjutnya naskah ini dapat dilihat sebagai contoh yang baik tentang pertautan antara nilai-nilai estetik dan pengalaman serta penghayatan religius. Dengan menelaah naskah ini kita dapat melihat bagaimana keindahan dihasilkan dari pengalaman dan penghayatan dalam ruang dan waktu tertentu. Naskah Bujangga Manik dan Telaah Terdahulu

Naskah Bujangga Manik diketahui sebagai koleksi Perpustakaan Bodleian, Oxford, Inggris. Perpustakaan tersebut menerima naskah itu dari seorang saudagar dari Newport, yang berana Andrew James. Diperkirakan bahwa naskah tersebut menjadi koleksi Perpustakaan Bodleian sejak 1627 atau 1629. Naskah tersebut ditulis dalam bahasa Sunda Kuna pada daun lontar yang beberapa lembarannya rusak atau hilang.

Isinya menuturkan perjalanan Bujangga Manik, penyair kelana dari Pakuan (di belahan utara Bogor dewasa ini) yang hidup pada abad ke-16. Sebetulnya, dia adalah pangeran dari Istana Pakuan di Cipakancilan, dengan gelar Pangeran Jaya Pakuan, tapi dia lebih

suka menempuh jalan hidup asketis. Sebagai rahib Hindu, dia berziarah menyusuri Pulau Jawa hingga Bali. Cerita ini dituturkan dalam bentuk puisi yang setiap barisnya terdiri atas delapan suku kata, yang kiranya selaras dengan bentuk puisi Sunda pada zamannya, dan panjangnya mencapai sekitar 1.758 baris.

Masyarakat umum mengenal naskah ini terutama berkat temuan J. Noorduyn (w. 1994). Peneliti dari Belanda itu amat berjasa dalam upaya menggali kandungan pengetahuan dari naskah itu, dan memperkenalkan isinya kepada khalayak ramai, tak terkecuali masyarakat Sunda. Pada 1968 dia sudah menyinggung-nyinggung adanya naskah Sunda dari Bodleian itu. Sebagian temuannya mulai ia umumkan pada 1982 melalui jurnal „Bijdragen tot de Taal-, Land-, en Volkenkunde’ nomor 138, hal. 411 – 442. Setelah Noorduyn wafat, penelitiannya dilanjutkan oleh ahli sastra A. Teeuw, juga

orang Belanda, yang antara lain dibantu oleh filolog Undang Darsa dari Universitas Padjadjaran. Teks, terjemahan (dalam bahasa Inggris), dan analisis atas naskah Bujangga Manik kini dimuat dalam buku „Three Old Sundanese Poems (Tiga Puisi Sunda Kuna)‟ karya J. Noorduyn (posthumous) dan A. Teeuw (KITLV Press, Leiden, 2006). Selain mengkaji naskah Bujangga Manik, buku itu juga mengkaji naskah Ramayana dan Sri

Ajnyana. A. Teeuw memperkirakan bahwa kisah perjalanan Bujangga Manik

berlangsung (atau ditulis?) pada masa Kesultanan Malaka masih menguasai jalur perniagaan Nusantara, sebelum jatuh ke tangan Portugis pada 1511.

Perjalanan Bujangga Manik itu sendiri berlangsung dalam dua fase. Pertama, sang rahib berjalan kaki dari Pakuan hingga Jawa Timur, melalui jalur utara, lalu kembali ke Pakuan dengan menumpang kapal yang bertolak dari Malaka. Kedua, dia nikreuh lagi dari Pakuan ke Jawa Timur, lalu menyeberang ke Bali, dan kembali ke Pakuan melalui jalur selatan. Akhirnya, dia bertapa di gunung, di Tatar Sunda, agaknya hingga mencapai

moksha. (Untuk mendapatkan gambaran yang seutuhnya, lihat Naskah Bujangga Manik yang dilampirkan dalam telaah ini dan berasal dari hasil transliterasi yang dilampirkan bersama terjemahannya dalam bahasa Inggris dalam buku Three Old Sundanese Poems karya Noorduyn dan Teeuw tersebut).

Naskah ini amat memukau bila kita memperhatikan sedikitnya dua aspek dari isinya. Pertama, Bujangga Manik menyajikan sebentuk catatan perjalanan yang, sebagaimana ditelaah oleh Noorduyn, mengandung data topografis yang terperinci dan akurat. Dalam tulisannya, “Bujangga Manik’s Journeys through Java: Topographical Data from an Old Sundanese Source (Perjalanan Bujangga Manik menyusuri Jawa: Data Topografis dari Sumber Sunda Kuna)” Noorduyn menemukan sedikitnya 450 nama tempat (termasuk nama gunung dan sungai) dalam naskah Bujangga Manik, yang sebagian besar bersesuaian dengan topografi Pulau Jawa. Ia pun membuat peta topografi Pulau Jawa berdasarkan naskah tersebut (lihat lampiran 2). Kedua, Bujangga Manik juga mempersembahkan sebentuk ungkapan estetis berupa puisi prosais atau prosa puitis dari penghayatan dan pengalaman religius seorang asketis. Sebagaimana yang diteliti oleh Teeuw, dalam naskah ini kita mendapatkan idiom, metafora, dan pola persajakan yang menawan.

 

Ringkasan Cerita

Dalam buku Noorduyn dan Teeuw tersebut yang dijadikan sumber pokok telaah ini terdapat ringkasan cerita pengembaraan Bujangga Manik yang disusun secara teliti dan diselipi komentar dan analisis, khususnya menyangkut nama-nama tempat yang terdapat dalam naskah tersebut tapi sulit dikenali dewasa ini. Dengan memperhatikan sinopsis tersebut, seraya membaca teks aslinya, kita dapat mengikuti garis besar jalan cerita pengembaraan Bujangga Manik sebagaimana dipaparkan berikut ini.

Cerita dimulai melalui kata-kata orang bijak (sang mahapandita) yang secara

tidak langsung menggambarkan suasana sedih di istana (Pakuan) di Pakancilan tatkala tokoh utama, Prabu Jaya Pakuan, hendak berangkat mengawali perjalanannya. Sang Prabu mengucapkan kata-kata perpisahan kepada ibunya seraya memberitahukan bahwa dia hendak mengembara ke timur.

Setelah keluar dari Pakancilan dia berjalan melewati Windu Cinta, Manguntur, Pancawara, dan Lebuh Ageung. Di jalan banyak orang bertanya terheran-heran, tapi sang pangeran tidak menghiraukannya. Ia terus berjalan melewati Pakeun Caringin, Nangka Anak, Tajur Mandiri, Suka Beureus, Tajur Nyanghalang, dan Engkih. Ia lalu menyeberangi sungai Ci-Haliwung, mendaki Banggis, tiba di Talaga Hening, dan terus berjalan hingga ke Peusing. Kemudian dia menyeberangi Ci-Lingga, melewati Putih

Birit, dan mendaki jalur Puncak. Di Puncak dia istirahat sejenak, duduk-duduk, “mengipasi badannya” dan memandang panorama di sekelilingnya, khususnya bebukitan besar yang dia sebut sebagai “tempat tertinggi di Tatar Pakuan”. Dia melanjutkan perjalanan, menyeberangi kali Pamali, dan memasuki wilayah Jawa. Dia melintasi berbagai daerah kekuasaan Majapahit serta bukit di wilayah Demak. Dia melewati Jatisari dan tiba di Pamalang. Sampai di situ sang pengembara rindu pada ibunya. Karena itu dia berniat pulang. Dia pun kembali, tapi kali ini dengan berlayar menumpang kapal dari Malaka. Begitu kapal hendak meninggalkan dermaga digambarkan senapan dibunyikan, alat-alat musik dimainkan, dan sejumlah lagu dilantunkan oleh awak kapal. Kapal itu terbentuk dari berbagai jenis bambu dan rotan, tiangnya terbuat dari kayu laka, dan kemudinya berasal dari India. Bujangga Manik terpana menyaksikan para awak kapal yang berasal dari berbagai tempat.

Pelayaran dari Pamalang ke Kalapa berlangsung setengah bulan. Pada bagian ini dan bagian-bagian selanjutnya aku lirik disebutkan dengan julukan Ameng Layaran (rahib pelayar). Sesampainya di Kalapa sang rahib mendatangi duane, kemudian pergi ke istana Pakuan. Dia masuk ke Pakancilan, menuju paviliun yang sarat dengan hiasan duduk di situ. Ketika itu ibunya sedang menenun. Sang ibu terkesiap dan amat girang begitu melihat anaknya pulang. Ia menghentikan pekerjaannya dan masuk ke ruang

dalam, melewati berlapis-lapis tirai, dan naik ke kamar tidurnya. Sang ibu menyisir rambut, berdandan, dan menyiapkan menyiapkan baki dengan segala perlengkapan buat mengunyah sirih. Kemudian dia menemui anaknya.

Sewaktu ibu dan anak itu sedang bercengkerama, seorang perempuan Bernama Jompong Larang, keluar dari istana tempat dia bekerja sebagai pelayan Putri Ajung Larang Sakéan Kilat Bancana. Jompong Larang keluar dari keraton, menyeberangi sungai Ci-Pakancilan dan tiba di istana Pakuan. Di situ dia melihat Bujangga Manik alias Ameng Layaran yang sedang mengunyah sirih di pesanggrahan. Jompong Larang menyebutnya sebagai “rahib yang datang dari timur”. Ia terpesona oleh ketampanannya.

Saking kagumnya pelayan itu bergegas kembali ke istana tempat dia bekerja

untuk memberitahukan hal itu kepada majikannya. Jompong Larang memberitahukan bahwa di Pakancilan ada seorang pria yang amat tampan dan bisa menjadi “pasangan yang cocok” bagi Putri Ajung Larang. Dia pun memberi tahu bahwa nama pria itu adalah Ameng Layaran, dan bahwa dia lebih tampan daripada Banyak Catra atau Silih Wangi, atau “keponangan Tuan Putri”. Dikatakannya pula bahwa rahib itu adalah kekasih idaman, lagi pula dia memahami kitab suci dan bisa berbicara dalam bahasa Jawa. Begitu mendengar hal itu, Putri Ajung Larang yang saat itu sedang menenun, seketika itu juga jatuh cinta dan penuh harap. Dia tinggalkan pekerjaannya dan beranjak ke ruang dalam. Di situ dia sibuk menyiapkan tanda mata bagi sang pemuda, yang terdiri dari beragam perlengkapan mengunyah sirih yang istimewa, dengan perkakas serba indah dan dipersiapkan secara sangat telaten. Sang putri menambahkan pula wewangian mewah, “semuanya wewangian dari seberang lautan”, begitu pula pakaian bagus dan sebilah

keris.

Sesudah itu Putri Ajung Larang segera mengutus Jompong Larang untuk

menemui sang pangeran dengan membawa tanda mata itu. Sang putri berpesan bahwa jika tanda mata itu diterima, sang putri sendiri akan menyusul. Pelayan itu segera keluar dari keraton dengan membawa beragam hadiah itu. Ia pun tiba di istana tempat dia mendapati ibu Bujangga Manik sedang duduk di atas kasur. Kepada nyonya rumah, pelayan itu menyampaikan seluruh amanat dari majikannya.

Sang ibu berpaling kepada anaknya. Di matanya, hadiah itu amat berharga. Dia antara lain menyebutkan bahwa sugi tembakau yang dihadiahkan itu disiapkan dengan membentuk, melipat dan menggulungnya di atas paha dan dada oleh sang putri, dan membelitnya dengan benang dari roknya, supaya dapat “mengikat jejaka, dan menggugah gairahnya”. Secara antusias sang ibu menyarankan agar anaknya menerima lamaran Putri Ajung Larang. Dia pun menambahkan bahwa jika Ameng Layaran menerima pemberian

itu, “masih ada yang lebih besar lagi”. Namun Ameng Layaran terperanjat oleh antusiasme ibunya. Baginya, apa yang diucapkan oleh ibunya itu adalah “kata-kata terlarang”. Tegasnya, Ameng Layaran menolak mentah-mentah hadiah itu. Dia khawatir bahwa jika hadiah itu diterima dirinya bakal terkena penyakit, air mata dan kelemahan badan. Dia ingin menerapkan segala nasihat gurunya. Karena itu dia meminta agar ibunya pergi bersama Jompong Larang untuk mengembalikan hadiah-hadiah itu kepada sang

putri seraya menghibur hatinya.

Ameng Layaran alias Bujangga Manik lebih suka hidup menyendiri dan

menjalankan pelajaran yang dia dapatkan dari perjalanannya ke Jawa, tempat dia sebagai rahib dan pertapa menjalankan nasihat déwaguru, pandita dan purusa. Sedangkan saran ibunya itu dia anggap buruk, sebab malah menunjukkan jalan ke neraka. Dia pun teringat pada latar belakang dirinya sebagai anak yatim, dan ibunya telah berbuat salah, karena neneknya tidak menjaga pantangan tatkala ibunya mengandung, yakni memakan kembang pisang dan ikan beunteur, termasuk ikan yang hendak bertelur, sampai-sampai dia terkena “serangan tupai”. Karena itulah timbullah dorongan dalam dirinya untuk meninggalkan ibunya demi kebaikan.

Bujangga Manik mengambil tasnya yang berisi buku besar dan Siksaguru, serta tongkat rotan dan cambuknya. Kemudian dia berkata bahwa dia akan pergi ke timur lagi, menuju ujung timur Pulau Jawa tempat dia akan “mencari tanah tempatku berkubur, mencari laut tempatku mengapung, tempat aku menutup mata, tempat aku menaruh tubuhku”. Ditinggalkannya istana, terus mengembara, dan tak pernah kembali.

Bujangga Manik keluar lagi dari Pakancilan melewati Umbul Medang, Gongong, Umbul Songgol, Leuwi Nutug, Mulah Malik, dan Pasagi. Ia menyeberangi Ci-Haliwung, mendaki Darah hingga ke Caringin Bentik. Ia kemudian mendaki Bala Gajah dan Mayanggu, melewati Kandang Serang, Ratu Jaya dan Kadu Kanaka. Ia menyeberangi CiLeungsi, mendaki Gunung Gajah dan Bukit Caru, dan terus ke berjalan menyusuti pesisir utara Pulau Jawa, dan menyeberangi sungai Ci-Pamali. Ia memasuki wilayah Jawa Tengah, melewati berbagai gunung dan sungai. Ia pun memasuki wilayah Majapahit, tak terkecuali melewati Bubat. Di terus berjalan ke timur hingga mencapai ujung timur Pulau Jawa. Sesampai di Balungbungan, dia beristirahat, tinggal lebih dari setahun seraya menjalankan tapabrata.

Di pertapaan ada seorang perempuan pertapa (tiagi wadon) yang mendekati

Bujangga Manik. Perempuan itu menganggapnya kakak, dan berkata kepadanya mengenai masalah yang dia hadapi dalam upaya menjadi pertapa. Bujangga Manik tidak hanya menanggapinya dengan mengutip ajaran yang telah dia hayati dari buku pegangannya.

Kemudian dia meninggalkan pertapaan, dan berlayar ke Bali, menumpang kapal yang hendak berangkat menuju ke pulau Bangka. Nakhodanya bernama Sélabatang.

Kapal besar itu menarik hatinya, yang terbuat dari bahan-bahan istimewa, dan diperkuat dengan tidak kurang dari 25 orang pedayung. Kapal itu juga memiliki pemanah dari Cina, jurumeriam dari Bali, peniup terompet dari Melayu, pejuang dari Salembu dan serdadu dari Makassar. Ketika kapal berangkat meriam membahana dan para awak kapal memperdengarkan musik dan lagu gembira. Perjalanan ke Bali hanya memakan waktu setengah hari. Bujangga Manik memberi nakhoda kain. Kemudian dia beranjak menuju ke kota di pulau itu.

Karena keadaan di Bali ternyata tidak membuatnya nyaman, Bujangga Manik tinggal di pulau itu hanya sekitar setahun. Di pantai dia menemui nakhoda Bernama Bélasagara, yang hendak berlayar ke Sumatra, dan mempersilakannya menumpang ke Balungbungan. Kapal itu cukup besar, lebarnya delapan depa dan panjangnya 25 depa.

Bélasagara menasihati para awak kapal agar berhati-hati betul, jangan sampai membahayakan jiwa sang penumpang kehormatan. Penyeberangan memakan waktu sehari penuh.

Setibanya di Balungbungan Bujangga Manik meneruskan perjalanannya ke barat melalui bagian selatan Pulau Jawa; dia melintasi berbagai tempat di sekitar Gunung Mahaméru. Dia tiba di Rabut Pasajén, bagian atas dari Rabut Palah. Di situ dia tinggal selama beberapa waktu untuk mempelajari bahasa Jawa. Karena tempat pun ramai dikunjungi beragam orang, dia meninggalkan tempat itu. Ia pun berjalan lagi ke barat, antara lain melalui Bobodo (1099. Dia melewati Merapi dan berbagai tempat lainnya. Ia

menyeberangi teluk Sagara Anakan, terus bergerak hingga ke Pananjung. Dengan begitu, Bujangga Manik kembali ke wilayah Sunda.

Dia mendaki gunung Galunggung, Cikuray, hingga ke Gunung Papandayan “yang juga disebut Panénjoan”. Dari situ Bujangga Manik memandang satu demi satu pegunungan di sekelilingnya. Panorama yang digambarkannya bukan hanya meliputi kawasan Jawa Barat melainkan juga meliputi wilayah yang lebih jauh seperti nusa Keling, Jambri, Cina Jambudwipa, Gedah dan Malaka, nusa Bandan Tanjungpura, dll.

Bujangga Manik kemudian meneruskan perjalanan hingga ke Gunung Sembung, “hulu sungai Ci-Tarum”. Di situ dia beristirahat, dan beribadat. Dia pun membuat sebuah patung dan tugu yang akan menunjukkan kepada orang lain bahwa dia “telah selesai menunaikan tugasnya”. Setelah menyapu seluruh pekarangan hingga bersih dia memasuki bangunan itu dan mulai bermeditasi, merenungi hasratnya yang tertinggi, yakni mewujudkan bentuk tapabrata tertinggi dan mencapai rasa wisésa. Setelah menilik diri sendiri Bujangga Manik mengedarkan pandang ke sekeliling hendak mencari tempat

menjemput maut. Dia tidak bisa tinggal di tempatnya saat itu sebab di sana terlalu banyak pengunjung dan godaan. Dia berjalan ke arah barat laut, melalui sejumlah gunung dan menyeberangi sejumlah sungai, dan akhirnya tiba di Gunung Agung, hulu Ci-Haliwung, wilayah kudus di Pakuan yang memiliki kabuyutan dan danau suci Talaga Warna. Dia tiba di dekat Gunung Bulistir, tempat suci untuk mengenang raja Patanjala, tapi dia harus meninggalkan tempat ini setelah tinggal di situ setahun atau lebih, mengingat banyaknya pengunjung dan godaan.

Setelah mengembara melalui wilayah tersebut, melewati kembali berbagai gunung dan menyeberangi sejumlah sungai, dia tiba di Gunung Patuha, Ranca Goda yang kudus, yang dia jadikan tempat bertapa. Dia tinggal di situ selama lebih dari setahun, dan sesudah itu dia meneruskan perjalanannya ke Gunung Ratu, Karang Caréngkang yang kudus. Tampaknya, itulah tempat yang dia cari: tempat kudus (lemah kabuyutan) yang dilengkapi lingga bertatahkan permata, menghadap ke arah Bahu Mitra. Dia menjadikan

tempat itu sebagai pesanggrahan baru dengan tata jalan dan sejumlah besar bangunan, yang dirancang secara indah dan diberi hiasan yang kaya. Di sana dia meluangkan waktu sembilan tahun untuk bertapa; pada tahun kesepuluh “tugas telah terlaksana sepenuhnya”.

Pada saatnya, dalam keadaan sehat walafiat, raganya terbaring. Bujangga Manik wafat tanpa rasa sakit, dan dia pun mencapai kamoksahan. Raganya memasuki jagat maut. Tibalah dia di sebentang jalan terbuka, yang terarah secara baik, dihiasi segala jenis kembang. Di kahyangan Bujangga Manik diperiksa oleh Dorakala, penjaga langit.

Bujangga Manik sempat tersinggung karena pertanyaan Dorakala, tapi pada akhirnya Bujangga Manik diperlakukan seperti dewa, sukma yang suci. Dengan demikian dia diizinkan beranjak menuju kasorgaan. Dorakala menunjukkan jalannya dan memberinya petunjuk terperinci perihal arah yang mesti dituju dan cara mencapainya. Akhirnya, Bujangga Manik diangkat dengan kereta putih yang sarat dengan hiasan. Ranah surgawi

yang dia masuki indah tak terperi.

 

Pokok- Pokok Masalah

Pembaca modern sangat mungkin akan menghadapi beberapa hal yang paradoksal dalam naskah Bujangga Manik. Paradoks yang dimaksud dapat diperinci sebagai berikut :

1.     Masalah kepengarangan. Apakah tokoh yang bernama Bujangga Manik alias Ameng Layaran adalah penggubah naskah ini ataukah semata-mata tokoh cerita?

2.     Masalah representasi. Apakah kisah dan deskripsi yang terdapat dalam naskah ini merupakan representasi pengalaman ataukah semata-mata merupakan hasil imajinasi?

3.     Masalah sudut pandang. Mengapa dalam naskah ini berkali-kali terjadi semacam pertukaran sudut pandang penceritaan, yakni dari sudut pandang orang pertama ke sudut pandang orang ketiga dan sebaliknya?

4.     Masalah fungsi atau pretensi teks. Adakah relasi yang signifikan antara deskripsi latar yang secara topografis sedemikian terperinci dan nilai-nilai spiritualitas yang terkandung dalam naskah ini?

Tiga masalah yang disebutkan lebih dulu kiranya dapat dibahas dalam satu

subbahasan menyangkut teknik perkisahan sedangkan masalah keempat perlu dibahas dalam subbahasan tersendiri yang bertautan dengan spiritualitas. Yang jelas, masalahmasalah seperti itu perlu dibahas dengan tetap memperhatikan konteks historis dan sosiologis yang melingkupi penulisan naskah ini, setidak-tidaknya uraian mengenai masalah-masalah tersebut dapat diharapkan mendorong kita untuk memperhatikan keadaan zaman dan masyarakat yang melahirkan naskah ini.

Paradoks Teknik Perkisahan: Pengarang, Deskripsi, dan Sudut Pandang

Sebagaimana yang dikemukakan dalam ringkasan cerita di atas, kisah pengembaraan Bujangga Manik berujung pada bagian cerita yang menuturkan bahwa Bujangga Manik alias Ameng Layaran wafat, dan sukmanya diangkat ke surga. Apabila kejadian yang diceritakan itu bersifat faktual, dalam arti benar-benar dialami, pembaca mungkin menyimpulkan bahwa Bujangga Manik alias Ameng Layaran bukan pengarang naskah ini sebab tidak mungkin orang yang sudah wafat mampu menuturkan kematiannya sendiri. Namun pembaca kiranya patut berhati-hati untuk tidak gegabah menarik kesimpulan demikian, sebab patut pula diperhatikan segi-segi penokohan Bujangga Manik alias Ameng Layaran itu sendiri yang dikisahkan sebagai pertapa (ameng). Adapun kegiatan utama setiap pertapa atau orang asketis, sebagaimana yang secara terperinci tergambar pula dalam nasakah ini, sudah pasti melakukan tapabrata, sebentuk meditasi yang memungkinkan kesadaran naik melalui tingkat demi tingkat konsentrasi hingga mencapai semacam keadaan “kosong”. Bahkan dalam kisah ini disebut-sebut tentang “meditasi tertinggi” (muncakan tapa). Sangat mungkin seorang pertapa mampu melihat keadaan ideal yang ingin dicapainya, yakni terbebasnya sukma dari kungkungan raga. Di sinilah kita menemukan paradoks antara Bujangga Manik sebagai narator dan Bujangga Manik sebagai protagonis.

Yang jelas, sebagaimana yang dapat dilihat dalam naskahnya (lampiran 1), barisbaris penghabisan dalam naskah Bujangga Manik tidak diketahui, padahal ada kalanya pada baris-baris terakhirlah pujangga kuna memberitakuhan jati dirinya. Namun bukan tidak mungkin naskah ini turut jadi bagian dari kecenderungan umum dalam cipta sastra tempo dulu yang tidak menonjolkan identitas pengarang. Barangkali dahulu kala pengarang tidak dilihat atau melihat dirinya sebagai semacam pencipta, melainkan semata-mata sebagai penyampai risalah atau penerus kisah sebagaimana yang diwarisi dari tradisi lisan. Ketimbang menonjolkan identitas pengarang, masyarakat premodern kiranya lebih cenderung menonjolkan isi karangan atau kandungan perkisahan itu sendiri.

Bagaimanapun, hal itu bertautan dengan masalah berikutnya yang di sini kiranya dapat disebut sebagai masalah representasi. Pembaca dan penulis modern cenderung membedakan secara tegas antara kenyataan dan rekaan, pengalaman dan lamunan, realitas empiris dan realitas imajinatif, fakta dan fiksi, dst. Namun manakala kita membaca naskah Bujangga Manik, kita segera menyadari betapa garis batas di antara

kedua hal itu rupanya setipis kulit bawang, samar-samar, bahkan terasa menghilang.

Persenyawaan antara fakta dan fiksi itu kiranya terpaut pula dengan pola

persajakan yang diterapkan dalam naskah ini. Selaras dengan puitika pada zamannya, naskah Bujangga Manik menerapkan pola persajakan yang antara lain ditandai dengan ungkara (rangkaian kata atau ungkapan) delapan suku kata dan lima suku kata serta purwakanti (jalinan bunyi kata dalam kalimat) yang terjaga pada tiap-tiap barisnya. Pada beberapa bagian deskripsinya, khususnya deskripsi latar, kita dapat melihat kemungkinan

bahwa sang pengarang tidak sekadar menyebutkan nama-nama tempat melainkan juga mengupayakan kesesuaian bunyinya dengan bunyi kata-kata yang mengawalinya, sehingga pembaca modern mungkin bertanya-tanya, apakah pengarang sedang menggambarkan pemandangan yang betul-betul pernah dia lihat ataukah dia semata-mata mengolah purwakanti. Yang pasti, purwakanti benar-benar diperhitungkan dalam deskripsi, seperti yang kita dapatkan dalam bagian deskripsi mengenai pemandangan yang dilihat oleh Bujangga Manik dari puncak gunung Papandayan berikut ini :

nusa Di/lih nusa Bini,

nusa Keling nusa Jambri,

nusa Cina Ja(m)budipa,

nusa Gedah deung Malaka,

nusa Ba(n)dan Ta(n)ju(ng)pura,

Sakampung deung nusa Lampung,

nusa Baluk nusa Buwun,

nusa Cempa Baniaga,

Dalam deskripsi itu kita mendapatkan purwakanti antara Di/lih dan Bini, Keling dan Jambri, Cina dan Ja(m)budipa, Gedah dan Malaka, dst.

Kemungkinan perbauran antara fakta dan fiksi juga terdapat dalam deskripsi mengenai gerak-gerik tokoh yang tampaknya berpola dan mengalami pengulangan meskipun tokohnya tidak sama. Sebagai contoh, gerak-gerik ibu Bujangga Manik Ketika ia menenun dan segera menghentikan pekerjaannya untuk menyiapkan jamuan buat menyambut anaknya, yang di antaranya berbunyi seperti ini :

Na heuyeuk tuluy ditu(n)da, Menenun ia hentikan,

diparac apus / dada(m)par, /3v/ tali di bawah terurai,

loglog caor ti na to(ng)gong, loglog caor lepas punggung,

diri hapit ti na pingping, diri hapit lepas paha

kedalan diri ti da(m)pal. mengenakan alas kaki.

Neut na(n)jeur ngajuga hangsa. Bangkit dia bagai angsa.

Saasup sia ka bumi, Melangkah ke dalam rumah

nyi(ng)kabkeun kasang carita. tirai tersingkap jadinya

Eu(n)deur na rarawis kasang, Rumbainya bergoyang-goyang,

Deskripsi serupa diterapkan lagi ketika menceritakan Putri Ajung Larang Sakean Kilat Bancana melakukan gerak-gerik serupa. Ungkara berpola serupa itu terdapat pula pada beberapa bagian lainnya dalam naskah ini. Begitulah baris 176-196 sama dengan baris 338-358, demikian pula baris 160-163 sama dengan baris 279-282.

Hal yang tak kalah menariknya adalah pertukaran sudut pandang penceritaan, bahkan pada episode atau bagian cerita yang sama. Di satu pihak naskah ini memakai sudut pandang orang pertama yang antara lain ditandai dengan sebutan ngaing (aku), tapi di pihak lain naskah ini menggunakan sudut pandang orang ketiga yang antara lain ditandai dengan identifikasi tokoh utama Bujangga Manik alias Ameng Layaran. Contoh

yang sangat menarik antara lain terdapat pada bagian cerita tentang pertemuan antara Bujangga Manik dan ibunya di istana Pakancilan, yang dituturkan dengan sudut pandang orang ketiga. Bagian cerita itu lalu beralih dengan cerita kedatangan Jompong Larang ke istana itu, dan cerita tentang penampilan Bujangga Manik alias Ameng Layaran dituturkan dari sudut pandang Jompong Larang. Bagi pembaca modern, rangkaian adegan demi adegan seperti ini pasti mengingatkan pada teknik pertukaran shoot dalam tayangan televisi dengan sejumlah kamera.

 

Jagat Tiga Tingkat: Geografi Spiritual

Sebagaimana disinggung-singgung di atas, naskah Bujangga Manik sekurangkurangnya memiliki dua dimensi penting. Pertama, naskah ini merupakan semacam catatan perjalanan yang sangat terperinci dalam identifikasi tempat-tempat yang pernah dikunjungi, dilalui atau ditinggali oleh Bujangga Manik sebagai tokoh utama. Kedua, naskah ini merupakan semacam cetusan penghayatan religius Bujangga Manik sebagai rahib Hindu yang juga bernama Ameng Layaran (secara harfiah berarti rahib pengembara). Kedua dimensi ini kiranya tidak dapat dipisahkan satu sama lain sehingga diperlukan uraian tersendiri perihal pertautan antara deskripsi geografis dan penghayatan spiritual. Lagi pula di antara tempat-tempat yang pernah dikunjungi, dilalui, atau ditinggali oleh Ameng Layaran tidak sedikit yang disebut sebagai tempat suci seperti sanghiang dan kabuyutan, tak terkecuali tempat Ameng Layaran bertapa. Selain itu akhir atau tujuan perjalanan Ameng Layaran yang sesungguhnya jelas bukan suatu titik tertentu di muka bumi tempat sang rabih “menaruh tubuh” (nunda raga) melainkan suatu lapisan tertentu di jagat surgawi (kasorgaan).

Pertautan di antara kedua hal itu kiranya dapat dijelaskan dengan bantuan pola tata nilai dalam kebudayaan masyarakat pramodern sebagaimana yang dirumuskan oleh Jakob Sumardjo. Dalam bukunya, Estetika Paradoks, Jakob mengidentifikasi beberapa pola tata nilai dalam kebudayaan masyarakat Indonesia sejak dahulu kala yang antara lain ditentukan oleh keadaan lingkungan alamnya dan mata pencaharian penghuninya.

Sehubungan dengan kehidupan masyarakat Sunda pramodern, Jakob antara lain memaparkan tentang tiga lapis jagat dalam kosmologi orang Sunda yang ia sebut sebagai “pola tiga” dan terdiri atas Buana Nyungcung (Dunia Atas), Buana Panca Tengah (Dunia Tengah), dan Buana Larang (Dunia Bawah). Ia menjelaskan sebagai berikut :

Penamaan Buana Larang menunjukkan segi etik dalam pola pikir Sunda dari agama-agama luar (Hindu-Siwa dan Buddha). Begitu pula dengan Buana Nyungcung yang menunjukkan seolah-olah Dunia Atas lebih “suci dari Dunia

Bawah. Dalam paham asli Dunia Atas dan Dunia Bawah hanyalah perbedaan

substansi bukan kualitas. Sedangkan penamaan Buana Panca Tengah

menunjukkan pola pikir orang sawah, bahwa pusat merupakan harmoni ganda dari pasangan dualistik-antagonistik. (Sumardjo, 2006:137)

Memang, berbeda dengan carita pantun yang dirujuk dalam uraian Jakob, naskah Bujangga Manik tidak menyebut-nyebut nama ketiga jagat tersebut. Namun, berdasarkan rincian isi ceritanya, naskah ini kiranya cukup dekat dengan kosmologi yang mengenal ketiga tingkat jagat tersebut. Sekurang-kurangnya, nilai-nilai yang bersumber dari keyakinan Hinduisme-Siwaisme dalam naskah ini sangat boleh jadi telah bersenyawa atau berbaur dengan nilai-nilai spiritual masyarakat Sunda. Kita pun dapat melihatnya dengan menggarisbawahi “segi etik”, dalam arti bahwa Bujangga Manik tampaknya

cenderung melihat tingatan jagat itu dalam kerangka preferensi etis, bahkan hidupnya ditujukan untuk mencapai semacam Jagat Atas tempat para dewa.

Pertama-tama kita dapat mencatat pertimbangan Ameng Layaran sewaktu ia

menolak saran ibunya agar menerima lamaran Putri Ajung Larang Sakean Kilat Bancana.. Bagi Ameng Layaran, hadiah istimewa dari Putri Ajung Larang yang cantik berupa perlengkapan mengunyah sirih (seupaheun), buah-buahan (buah reumbeuy), wewangian dan hiasan (piburateun pihiaseun), pakaian (pikaeneun pisabukeun), serta keris

baja (keris malela) yang tentu dapat ditafsirkan sebagai peluang ke arah hubungan seksual atau perkawinan, hanya akan menjauhkannya dari jalan kebenaran yang ia pelajari dari para dewaguru, pandita, dan purusa. Begitu pula saran ibunya yang antusias itu justru merupakan kata-kata terlarang (carek larangan) yang bisa menjerumuskannya ke jalan ajal (pamunuhan) dan jalan ke neraka (jalan ka na kapapaan). Apalagi Ameng Layaran juga teringat pada semacam karma turun temurun akibat perilaku neneknya yang

melanggar tabu sehingga sang pangeran harus jadi anak piatu. Pertimbangan-pertimbangan serupa itu seakan-akan menyiratkan adanya semacam jagat nista di bawah sana tempat manusia menerima kutuk, dijegal ajal dan tersiksa di neraka.

Dengan pertimbangan-pertimbangan seperti itulah Ameng Layaran merasa harus melakukan pengembaraan lagi ke timur, dan sejak itu dia tak pernah kembali ke istana.

Adapun bumi yang ia tempuh, yakni kawasan sepanjang pulau Jawa sebagaimana yang direkonstruksi oleh Noorduyn berdasarkan naskah ini, serta Bali, barangkali dapat dilihat sebagai semacam Buana Panca Tengah tempat manusia menjalankan hidupnya. Di jagat ini sang rahib melaksanakan darmanya, yakni mempelajari ilmu-ilmu agama, baik dengan belajar pada para dewaguru, pandita dan purusa maupun dengan menyelami “buku-buku tebal” (apus ageung) seperti Siksaguru dan sebagainya, dan terutama melaksanakan tapabrata sebagai bentuk peribadatan. Bahkan secara terperinci dituturkan pula kegiatan sang rahib di pertapaan sehubungan dengan tugas keagamaannya, semisal membangun tempatnya (dibabakan), dengan pesanggrahan bertingkat (dibalay diundak-undak), dsb. , tak terkecuali mendirikan lingga sebagai pertanda baha ia telah melaksanakan tapa. Di jagat ini pula sang pertapa harus melawan berbagai godaan, tak terkecuali godaan dari pertapa perempuan (tiagi wadon). Yang menarik, di jagat ini sang rahib tampak cenderung menghindari kontak dengan orang banyak, bergaul dengan sesama manusia, kecuali dalam urusan teknis, misalnya ketika ia perlu menumpang kapal untuk berlayar.

Sedangkan dalam urusan peribadatan atau tugas keagamaan, ia menghindari orang banyak, sehingga setiap kali tempatnya bertapa dikunjungi orang banyak ia pergi mengasingkan diri, mencari tempat yang lebih sunyi. Dengan kata lain, dia tampaknya harus membebaskan diri dari kungkungan dunia manusia. Keindahan panorama pun, yang deskripsinya memakan begitu banyak ruangan, biasanya baru ia perhatikan manakala ia beristirahat sejenak dalam perjalanannya. Bagaimanapun eloknya, Tanah Jawa, juga Bali, yang disusuri oleh Bujangga Manik jelas bukan tempat terakhir yang hendak ia tuju, melainkan sekadar tempat dia “menaruh tubuh”.

Ada tempat yang lebih tinggi, sejenis Buana Nyungcung atau Dunia Atas, yang hendak dia capai. Bagian-bagian penghabisan dari naskah ini sesungguhnya memperinci sejenis “topografi” jagat surgawi. Sangat berbeda dari Dunia Tengah, lapisan jagat ketiga ini digambarkan serba elok, gemerlapan, sarat wewangian, dan warna-warni. Itulah tempat tertinggi yang pada akhirnya dicapai oleh Bujangga Manik alias Ameng Layaran setelah ia lulus dalam pemeriksaan Dorakala, penjaga kahyangan, dan ia diangkat sedemikian rupa sehingga sukmanya setata dengan para dewa.

Rakaki Bujangga Manik, Paduka Bujangga Manik tuluy dirawu dipangku, lalu direngkuh dipangku diais dipagantikeun, diboyonglah bergantian diu(ng)gahkeun ka sudangan, dinaikkan ke undakan ti sudangan ka wangsana dari situ naik tandu

 

Penutup

Akhirnya, kita barangkali dapat melihat bahwa naskah Bujangga Manik adalah sebentuk alegori dari keyakinan yang menekankan bahwa hidup manusia adalah perjalanan atau pengembaraan, yang harus dilakukan seraya mempelajari kebijaksanaan, melaksanakan peribadatan dan melawan segala bentuk godaan, sehingga pada gilirannya sang manusia dapat membebaskan diri dari kungkungan raga dan alam duniawi supaya sukmanya terangkat ke jagat surgawi bersama para dewa.

 

Lampiran 1

Teks Bujangga Manik

Saur sang mahapandita :

‘Kumaha girita ini?

Mana sinarieun teuing

teka ceudeum ceukreum teuing?

5

Mo ha(n)teu nu kabé(ng)kéngan.’

Saur sang mahapandita:

‘Di mana éta geusanna?

Eu(n)deur nu ceurik sadalem,

séok nu ceurik sajero,

10 midangdam sakadatuan.

Mo lain di Pakancilan,

tohaan eukeur nu ma(ng)kat,

P(e)rebu Jaya Pakuan

Saurna karah sakini:

15

‘A(m)buing tatanghi ti(ng)gal,

tarik-tarik dibuhaya,

pawekas pajeueung beungeut,

kita a(m)bu deung awaking,

héngan sapoé ayeuna,

20

aing dék leu(m)pang ka wétan’.

Saa(ng)geus nyaur sakitu,

i(n)dit birit su(n)dah diri,

lugay sila su(n)dah leu(m)pang.

Sadiri ti salu panti,

25

saturun ti tungtung surung,

ulang panapak ka lemah,

kalangkang ngabiantara,

reujeung deung dayeuhanana,

Mukakeun / panto kowari. /Ir/

30

Sau(n)dur aing ti U(m)bul,

sadiri ti Pakancilan,

sadatang ka Wi(n)du Cinta,

cu(n)duk aing ka Mangu(n)tur,

ngalalar ka Pancawara,

35

ngahusir ka Lebuh Ageung,

na leu(m)pang saceu(n)dung kaen.

Séok na janma nu carek:

Tohaan nu dék ka mana?

Mana sinarieun teuing

40

teka leu(m)pang sosorangan?’

Ditanya ha(n)teu dek nyaur.

Nepi ka Pakeun Caringin,

ku ngaing teka kaliwat.

Ngalalar ka Na(ng?)ka Anak,

45 datang ka Tajur Mandiri.

Sacu(n)duk ka Suka Beureus,

datang ka Tajur Nyanghalang,.

nyanglandeuh aing di Engkih,

[ms. da]

meu(n)tasing di Cihaliwung.

50

Sana(n)jak aing ka Ba(ng)gis,

ku ngaing geus kaleu(m)pangan,

nepi ka Talaga Hening,

ngahusir aing ka Peusing.

Na leu(m)pang megat morentang,

55

meu(n)tas aing di Cili(ng)ga.

Sane(pi) ka Putih Birit,

panjang ta(n)jakan ditedak,

ku ngaing dipeding-peding.

Sadatang aing ka Puncak,

60

deuuk di na mu(ng)kal datar,

teher ngahididan a / wak. / 1v /

Teher sia ne(n)jo gunung:

itu ta na bukit Ageung,

hulu wano na Pakuan.

65

Sadiri aing ti inya,

datang ka alas Eronan.

Nepi aing ka Cinangsi,

meu(n)tas aing di Citarum.

Ku ngaing geus kaleu(m)pangan,

70

meu(n)tas di Cipunagara,

lurah Medang Kahiangan,

ngalalar ka Tompo Omas,

meu(n)tas aing di Cimanuk,

ngalalar ka Pada Beunghar,

75

meu(n)tas di Cijeruk-manis,

ngalalar aing ka Conam,

katukang bukit C(e)remay.

Sacu(n)duk ka Luhur Agung,

meu(n)tasing di Cisinggarung.

80

Sadatang ka tungtung Su(n)da,

meu(n)tasing di Cipamali,

datang ka alas Jawa.

Ku ngaing geus kaideran,

lurah-lirih Majapahit,

85

palataran alas Demak.

Sanepi ka Jati Sari,

datang aing ka Pamalang.

Di inya aing teu heubeul.

Katineung na tuang a(m)bu,

90

lawas teuing diti(ng)galkeun.

Tosta geura pulang deui.

Mumul / nyorang urut aing. /2 r/

Itu parahu Malaka.

Turun aing ti Pamalang, [ms. -ran]

95

tuluying nu(m)pang balayar.

Bijil aing ti muhara,

masang wedil tujuh kali,

ing na goong brang na gangsa,

seah na ge(n)dang sarunay,

100

seok nu kawih tarahan,

nu kawih a(m)bah-a(m)bahan:

‘Ba(n)tar kali buar pelang’,

‘Surung-sarang suar gading’,

‘Manyura ditedas u(n)cal’.

105

Mibabahon awi go(m)bong,

miitihang awi nyowana,

kamudi kamudi Keling,

apus dangdan hoe muka,

paselang deung hoe omas,

110

pabaur hoe walatung.

Tihang layar kayu laka,

hurung beunangna ngahi(ng)gul,

siang beunang ngaj(e)rinang

beuteung bogoh ku sakitu,

115

bogoh ku nu mawa inya:

nu badayung urang Ta(n)jung,

nu ru(m)ba urang Kalapa,

nu babose urang Angké,

bosé rampas bose layang,

120

deungeun bose susu landung.

Balayar satengah bulan,

ba/ nyat aing di Kalapa. / 2v /

Ngaraning Ameng Layaran.

U(n)dur aing ti parahu.

125

Sadatang ka Pabeyaan,

ku ngaing geus kaleu(m)pangan,

ngalalar ka Ma(n)di Rancan,

datang ka A(n)col Tamiang,

ngalalar aing ka Samprok.

130

cu(n)duk ka leuweung langgong,

meu(n)tas aing di Cipanas,

ngalalar ka Suka Kandang.

Ku ngaing geus kaleu(m)pangan,

meu(n)tas aing di Cikencal.

135

cu(n)duk aing ka Luwuk,

meu(n)tas aing di Ciluwer.

Sacu(n)duk ka Peuteuy Kuru,

ngalalar ka Ka(n)dang Serang.

Sacu(n)duk aing ka Batur,

140

ngaing geus kaleu(m)pangan,

meu(n)tasing di Cihaliwung.

Sacu(n)duk ka Pakeun Tubuy,

ngalalar ka Pakeun Tayeum.

Sacu(n)duk aing ka Batur,

145

sadatang ka Pakancilan,

mukakeun panto kowari,

ngahusir ka lamin ading,

lamin ading pancatulis,

bale renceng / pangrekaan. /3r/

150

mikul beunang ngahi(ng)gul,

pangheret beunang miseret,

li(n)car beunang ngaj(e)rinang,

suhunan beunang marada,

sare galar beutung tuha,

155

dijeujeutan kawat Jawa.

U(n)ggah tohaan ka manggung,

pa(ng)guh lu(ng)guh di palangka./0/

A(m)buing kaso(n)dong ngeuyeuk,

buat nu di tepas bumi,

160 eukeur ngeuyeuk eukeur meubeur,

eukeur nyulage mihane,

neuleum nuar nyangkuduan,

ngaracet ka(n)teh pamulu,

ngela sepang ngangeun hayam.

165

Nyoreang ka lamin ading,

ngadeuleu sali(ng)ger beuheung,

katuluyan deuleu teuteuh.

Saur a(m)buing sakini:

‘Itu ta eugeun si utun!

170

Ayeuna cu(n)duk ti timur,

ayeuna datang ti wetan,

datangna ti Rabut Palah.

Anaking deudeuukanan!

Anaking papalayanan!

175

Aing dék nyiar seupaheun.’

Na heuyeuk tuluy ditu(n)da,

diparac apus / dada(m)par, /3v/

loglog caor ti na to(ng)gong,

diri hapit ti na pingping,

180

kedalan diri ti da(m)pal.

Neut na(n)jeur ngajuga hangsa.

Saasup sia ka bumi,

nyi(ng)kabkeun kasang carita.

Eu(n)deur na rarawis kasang,

185

kumare(n)cang kumare(n)cong,

ni(ng)gang ka na papan ja(n)ten.

Bogoh ku na ngaran kasang,

kasang tujuh kali nyi(ng)kab,

kasang seni tambi lu(ng)sir,

190

kasang pahang ta(m)bi laka,

bedong dita(m)bi baya(m)bon,

balang ditambi kacambang.

Sau(ng)gah ka manggung ra(n)jang,

gapay ka karas larangan,

195

dicokot na pasileman, [pasiboteng]

digapay seureuh tangkayan,

pinang ta cangcian keneh,

pinang tiwi pinang ading,

keur meujeuh pateumu angen.

200 Tuluy ngaha(n)ceng seupaheun,

dituruban saratangan,

beunang ngaharemas,

A(ng)geu/s ngaha(n)ceng

seupaheun, /4r/

dicokot pameres jati.

205

A(ng)geus nu meresan ra(m)but,

digapay na ebal ageung,

dicokot kupa saranggeuy,

dieu(n)teupkan (ka na ceuli?).

Tuluy eu(n?)ceum ka na peu(n)teu,

210

tuluy sari ka na pipi.

Ti(m)buru nu kahiasan,

sajingjing boeh cali(ng)cing,

saka(n)dar boeh harega.

saturun ti manggung ranjang,

215

garudag di tengah imah,

garedog di balik panto,

kareket ni(n)cak taraje,

ulang panapak ka lemah,

kalangkang ngabiantara,

220

reujeung deung dayeuhanana.

Seah na lemah katincak,

eu(n)deur na Ratu Bancana

ngeunakeun tuang kalangkang.

Cab ruy tapih meubeut keuneung,

225

ngeureut ka na bitis koneng,

ngahusir ka lamin ading.

U(ng)gah tohaan ka manggung,

deuuk teoheun palangka,

na seupaheun dia(ng)seukeun. /4v/

230

Saur a(m)buing sakini:

‘Anaking, nu mucang onam!’

Saurna Ameng Layaran:

‘A(m)bu aing sadu mucang’.

I(ng)keun mangka o(ng)koh mucang.

235

Carekeun si Jo(m)pong Larang.

Saturun ti kadatuan,

ngalalar caroge ageung,

nyangla(n)deuh ka Pancawara,

mukakeun pa(n)to kowari,

240

ngalalar ka Pakeun Dora.

Leu(m)pang aing nyangwetankeun,

meu(n)tas di Cipanangkilan.

Sacu(n)duk ka Pakeun Teluk,

sadatang ka Pakancilan,

245

mukakeun panto kowari.

Dingaran si Jo(m)pong Larang,

nyoreang ka lamin ading.

Carekna si Jo(m)pong Larang:

‘Duh, ameng [ta] ti mana eta?

250

Ameng ta datang ti wetan,

sakaen poleng puranteng,

sasali(m)but sulam Baluk,

sasa(m)pay sut(e)ra Cina,

sapecut hoe walatung,

255

dige(m)peng-ge(m)peng ku omas,

jojo(m)pongna made / to(ng)gong.

/5r/

Teher lu(ng)guh di pala(ng)ka,

sila tumpang deung sideuha,

ngagigirkeun karas tulis,

260

teher nyeupah lumageday.’

Dingaran si (Jom)pong Larang,

na bogoh han-io kapalang,

diilikan dibudian,

dideuleu diteuteuh-teuteuh,

265

ti manggung dikaha(n)dapkeun,

ti ha(n)dap dikamanggungkeun.

Bogoh ku na pangawakan:

giling bitis pa(n)cuh geulang,

tareros na tuang ramo,

270

para(n)jang na tuang ta(ng)gay,

be(n)tik halis sikar dahi,

suruy hu(n)tu be(n)tik tungtung,

sumaray dadu ku seupah.

Dingaran si Jo(m)pong Larang,

275

gupuh sigug ga(m)pang kaeur,

leu(m)pang bitan gajar Jawa.

Sadatang ka kadatuan,

tohaan kaso(n)dong ngeu(y)euk,

eukeur ngeuyeuk eukeur meubeur,

280

eukeur nyulage mihane,

neuleum nuar nyangkuduan,

ngaracet ka(n)teh pamulu.

Tohaan / na Ajung Larang

/ 5v / Sakean Kilat Bancana,

285

ngaleke ebreh na cangkeng,

cugenang tuang pinareup.

Teherna lu(ng)guh di kasur,

ngagigirkeun ebun Cina,

ebun Cina diparada,

290

pamuat ti alas peu(n)tas.

Tohaan Ajung Larang

nyoreang ti jokjok panon,

ngadeuleu sali(ng)ger beuheung,

katuluyan deuleu teuteuh.

295

‘Itu ta eugeun si Jo(m)pong!

Na naha eta bejana?

Mana geura-geura teuing?’

Dingaran si Jo(m)pong Larang,

cat-cat gek deuuk di lemah.

300

Saur taan Ajung Larang:

‘Jo(m)pong naha beja sia?

Mana sinarieun teuing?’

Dingaran si Jo(m)pong Larang,

umun sadekung ka manggung,

305

beres ngaburang ku ramo.

Carekna si Jorong Lo(m)pong:

„Taan urang Ajung Larang

Sakean Kilat Bancana,

ra(m)pes teuing jeueung aing,

310

latara teuing nu kasep. /6r/

Inya kasep inya pelag,

keur meujeuh pasieupan deung

taan urang Ajung Larang.’

Saur taan Ajung Larang:

315

‘Jo(m)pong saha ngaranna?’

Sanembal si Jo(m)pong Larang:

‘Samapun ngaranna Ameng Layaran.

Latara teuing na kasep,

kasep manan Banyak Catra,

320

leuwih manan Silih Wangi,

liwat ti tuang ponakan.

Agenngna se(ng)serang panon,

[keur meujeuh] pauc-pauceun

di a(n)jung,

timang-timangeun di ranjang,

325

tepok-tepokeun di kobong,

edek-edekeun di rengkeng.

Teher bisa carek Jawa,

w(e)ruh di na eusi tangtu,

lapat di tata pustaka,

330

w(e)ruh di darma pitutur,

bisa di sanghiang darma.’ /0/

Saa(ng)geus kapupulihan

taan urang Ajung Larang

Sakean Kilat Bancana

335

tuluy minger tuang hi/dep. /6v/

Na rasa kalejon bogoh,

na rasa karejay hayang.

Na heuyeuk tuluy ditu(n)da,

diparac apus dada(m)par,

340

loglog caor ti na to(ng)gong,

diri hapit ti na pingping,

kedalan diri ti da(m)pal.

Neut na(n)jeur ngajuga hangsa.

Saasup sia ka bumi,

345

nyi(ng)kabkeun kasang carita.

Eu(n)deur na rarawis kasang,

kumare(n)cang kumare(n)cong,

m(ng)gang ka na papan ja(n)ten.

Bogoh ku na ngaran kasang,

350

kasang tujuh kali nyi(ng)kab,

kasang seni ta(m)bi lungsir,

kasang pahang ta(m)bi laka,

bedong dita(m)bi baya(m)bon,

balang dita(m)bi kaca(m)bang.

355

Sau(ng)gah ka manggung ra(n)jang,

gapay na karas larangan,

dicokot na pasileman

[pasileman pasiboteng],

digapay seureuh heuseunan.

Tohaan tuluy nu ne(k)tek,

360

nu ne(k)tek / meunang salawe,

/7r/ nu mauc meunang sapuluh,

[ms. muuc]

ngaga(n)tul meunang dalapan.

Ditalian ra(m)bu tapih,

diletengan leteng karang,

365

leteng karang ti Karawang,

leteng susuh ti Malayu,

pamuat aki puhawang.

Dipinangan pinang tiwi,

pinang tiwi ngubu cai,

370 pinang ading asri kuning,

keur meujeuh pateumu angen.

Dipasi nu kalakatri,

pasi leupas jadi dua,

pasi gantung jadi teulu,

375

pasi remek jadi genep.

Dihanceng di pasileman,

ra(m)pes na beunang ngahanceng,

dituruban saratangan.

A(n)ten leuwih ti sakitu:

380

didulur ku pupur kapur,

candana ruum sacupu,

bunga resa di na juha,

dedes deungeun majakane,

jaksi deungeun kamisadi,

385

jaksi pa(n)dan deung kamenyan,

dua buah ca(ng)ci lenga,

diteunyuh ku aer mawar,

narawastu agur-agur,

bubura peu(n)tas sa/gala. /7v/

390 Aya liwat ti sakitu:

digapay na ebal ageung,

dicokot na boeh limur,

dicokot na sabuk wayang,

keris malela sapucuk,

395

awaya sareana(na?),

pahi deungeun buah reu(m)beuy.

Saur taan Ajung Larang:

‘Jo(m)pong sia pulang deui,

ini bawa pa(ngi)riming,

400

bawa ma ka tuang a(m)bu.

Ci(ng) kurang na picarekeun:

“Seupaheun pananya tineung,

ti na taan Ajung Larang

Sakean Kilat Bancana.

405

Lamun puguh katanggapan,

tohaan majar ka luar,

majar nu datang ku manten.‟

Dingaran si Jompong Larang,

saa(ng)geus katalatahan,

410

saleu(m)pang ti kadatuan,

leu(m)pangna sasuhun ebun,

teher nanggeuy pasileman,

tehema saais boeh.

Ngalalar caroge ageung,

415

nyanglandeuh ka Pancawara,

mu/kakeunpa(n)to kowari,

/8r/ ngalalar ka Pakeun Dora,

leu(m)pang aing nyangwetankeun,

meu(n)tas di Cipakancilan.

420

Sacu(n)duk ka Pakeun Teluk,

sadatang ka Pakancilan,

mukakeun pa(n)to kowari.

Dingaran si Jo(m)pong Larang,

ngahusir ka tepas bumi.

425

Tohaan kaso(n)dong lu(ng)guh

[di kasur].

Nyoreang sali(ng)ger beuheung,

katuluyan deuleu teuteuh.

Saurna na tuang (am)bu:

‘Itu ta eugeun si Jo(m)pong!

430

Na naha eta bejana?

Ruana sasuhun ebun,

teher na(ng)geuy pasileman.‟

Saur tohaan sakini:

‘Jo(m)pong ra(m)pes deuukanan,

435

geura nu u(ng)gah ka manggung!’

Sau(ng)gah si Jo(m)pong Larang,

na seupaheun diangseukeun.

Saur tohaan sakini:

‘Jo(m)pong, naha beja sia,

440

mawakeun aing seupaheun?’

Sane(m)bal si Jompong Larang,

beres ngaburang ku ramo/

umun / teher sia nyebut, /8v/

ne(m)balan sakayogyana:

445

‘Sangtabe namasiwaya!

Pun kami titahan taan [ti kadatuan],

taan urang Ajung Larang,

Sakean Kilat Bancana,

seupaheun pananya tineung.

450

Lamun puguh katanggapan,

Tohaan majar ka luar,

majar nu datang ku ma(n)ten.‟

Saurna (na) tuang a(m)bu:

Keun aing nanya si utun’. / / 0 / /

455

“Saur a(m)buing sakini:

‘Rakaki Bujangga Manik,

rakean Ameng Layaran,

utun, kita ditanyaan,

ditanyaan ku tohaan,

460

ku na taan Ajung Larang

Sakean Kilat Bancana.

£ta seupaheun di imah,

bawa si Jo(m)pong bihini,

ti dalem ti na tohaan.

465

Seupaheun diwela-wela,

dihanceng di pasileman,

dituruban saratangan,

ra(m)pes na beunang ngahaceng.

/ /9r/

Naha ngaran(n)a ku ha(n)teu?

470

Ga(n)tal tu(ng)gal ga(n)tal Jawa,

tektek batri nyare-nyare,

batri nyela batri nyelu,

batri ngagiling di pingping,

batri mauc di hareugu,

475

dianggeuskeun di pinareup,

ditalian ra(m)bu tapih,

panalina boncah laki,

pakeun berejakah hayang,

tektek siratu manggae,

480

mo mere moma kadaek;

ga(n)tal siratu manglayang,

mo mere moma kahayang;

batri ngarakit-palidkeun,

[ms.-raket-]

batri no(ng)tong-silo(ka?)keun,

485

beunang nyila-batarakeun,

tektek kasih pala kasih,

jurung-jarang kapur si(n)jang,

sekar agung pala bukan,

lulu(ng?)kut deung kadal meteng,

490

ratu ga(n)tal di Pakuan,

pinang tiwi pinang ading,

pinang tiwi ngubu cai,

batri nyeungceum di kasturi,

kapur Barus di na cupu,

495

bunga resa di najuha, /9v/

dedes deungeun majakane,

jaksi deungeun kamisadi,

dikukup ratna ko(m)balah,

dua buah ca(ng)ci lenga,

500

diteunyuh ku aer mawar,

narawastu agur-agur,

bubura peu(n)tas sagala.

Seupaheun bawa si Jo(m)pong,

era deungeun pikaeneun,

505

pikaeneun buah reumbeuy,

seupaheun pananya tineung,

ti dalem ti na tohaan.

Anaking, haja lancanan,

karunya ku na tohaan.

510

Lamun kita majar daek,

aya leuwih ti sakitu,

pangirim ti na tohaan.

A(n)ten limur pikaeneun,

sabuk wayang na pakeeun,

515

keris malela soreneun.

Lamun kita majar daek,

a(n)ten leuwih ti sakitu:

dikiriman sesebutan,

kapur Barus ta(m)ba geuruk,

520

batri nyeu(ng)ceum di cipinang,

dibalunan ku hasiwung,

ngaran(n)a rakit candana.

A/naking, mulah mo sebut, / 10r /

karunya ku na tohaan.

525

Lamun kita majar daek,

a(n)ten liwat ti sakitu.

Tohaan majar ka luar,

majar nu datang ku ma(n)ten.

Baruk carekna tohaan:

530

“Lamuning datang ka luar,

aing dek mikeun awaking,

dek nya(m)ber bitan na heulang,

ngarontok bitan na meong,

menta ditanggapan jalir.”

535

Anaking, haja lancanan,

karunya ku na tohaan.

Sugan sia hamo nyaho,

tohaan geulis warangan,

ra(m)pes rua ra(m)pes tuah,

540

teher geulis u(n)dahagi,

hapitan karawalea,

buuk ragi hideung teuleum,

(ms. cuuk)

ceta hamo diajaran.

Na geulis bawa ngajadi,

545

na e(n)dah sabot ti pangpang,

ha(n)teu papahianana.‟ / 0 /

Sane(m)bal na berejakah:

„Euh a(m)bu, kumenep teuing!

Lamun di/turut carekeng, / 10v/

550

dara barang pati(ng)timkeun,

eta na carek larangan.

Sugan hamo kaawakan.

Leu(m)pang bawa pulang deui,

leu(m)pang reujeung deung

si Jo(m)pong,

555

ka dalem ka na tohaan.

Seupaheun ta bawa deui,

buah reumbeuy bawa deui,

piburateun pihiaseun,

eta bawa pulang deui.

560

Pikaeneun pisabukeun,

kalawan keris malela,

leu(m)pang bawa pulang deui.

Eta carek sesebutan,

carek cangkrim na tohaan,

565

aing nyebutan ngaran(n)a.

Carek di na rakit sakit.

Carekna di na candana

tohaan sakit salama.

Carekna di na dpinang

570

eta cimata tohaan.

Carekna di na hasiwung

leuleus awakna tohaan,

balas mitineung awaking,

sakit mu(ng)ku dilancanan.

575

Heman ku beunanging bakti,

ku talatah nu mitutur,

ta / latah mahapandita. /11r/

Lamun diturut carekeng,

leu(m)pang bawa pulang deui,

580

leu(m)pang reujeung deung

si Jo(m)pong,

ka dalem ka na tohaan.

Datang ma kita ka dalem,

mulah salah bawa beja,

pihalang rerekan aing,

585

a(ng)kul-a(ng)kulkeun ku carek,

ma(ng)ka cita sa(m)bat wala,

samodana ka tohaan.

A(m)bu, picarekeun kita:

Aja rang, si utun mumul.”

590 Palias pista nodea,

ha(n)teu acan kapiteuneung,

me(n)ding hayang berejakah.

Deung deui, kakara cu(n)duk

ti gunung,

kakara datang ti wetan,

595

cu(n)duk ti gunung Damalung,

datangna ti Pam(e)rihan,

datang ti lurah pajaran,

asak beunang ng[w]ajar warah,

asak beunang maca siksa,

600

pageuh beunang maleh pateh,

tuhu beunang nu mitutur,

asak beunang pangguruan.

Ma(ng)kaing diri deung jugi,

[ms. mangkuing]

mana leu(m)pang deung tet6ga,

605

nurut deungeun dewaguru,

pa(n)dita deung nu pu/rusa. /11v/

Wageuyeng ameng sagala. / 0 /

Paeh aing hamo mangku(k)

aing di na dayeuh ini,

610

ja kitu tuah a(m)buing.

A(m)buing salah ngarambut,

ka pamunuhan (……),

magahan jalan ka sema,

ngaliarkeun taleus gateul,

615

dek di urang cacab tapa,

ma(ng)mongbongkeun

mangutaskeun,

jalan ka na kapapaan.

A(m)bu, soreang beungeuting,

ku naha nya mana kitu?

620

Mo nili(k) na huis putih,

mo nyasar na awak tuha.

Salah pangajar ka boncah.

Ha(n)teu panggerahan aing,

teuteuing oge teuteuing!

625

Na urang anak pahatu,

na ura(ng) ha(n)teu dibapa,

aya dii(n)dung kasarung,

manghulukeun ku boboncaheun.

A(m)buing katarujangan,

630

teka geuyung ha(n)teu nyeupah,

weureu ha(n)teu nginum tuak,

[ms. ngenum]

teka sasar ha(n)teu gering.

A(m)bu, ja mo kita edan,

manana ca(n)teng bahuleng.

635

Ho/rengnini[ng]ingteupantang,

/12r/

bihari basana nyiram.

Horeng dihakankeun jantung,

horeng sawan jalalang,

horeng dihakankeun beu(n)teur,

640 dihakankeun lauk mijah.

Horeng manana sakitu.

A(m)buing karah sumanger.

paw(e)kas pajeueung beungeut,

a(m)bu kita deung awaking.

645

Sapoe ayeuna ini,

pajeueung beungeut deung aing.

Mo nyorang pacarek deui,

moma ti na pangi(m)pian,

pajeueung beungeut di bulan,

6

patempuh awak di [awak di] angin.’

Saa(ng)geus nyaur sakitu,

dicokot ka(m)pek karancang,

dieusian apus ageung,

dihurun deung Siksaguru.

655

Iteuk aing pancasirah,

sapecut hoe walatung.

‘A(m)buing, tatanghi ti(ng)gal,

tarik-tarik dibuhaya,

dek leu(m)pang ka Balungbungan,

660

wetaneun Talaga Wurung,

di na tungtung lemah ini,

di tungtungna tebeh wetan,

nyiar / lemah pamasaran, / 12v /

nyiar tasik panghanyutan,

665

pigeusaneun aing paeh,

pigeusaneun nu(n)da raga.’

I(n)dit birit su(n)dah diri,

lugay sila su(n)dah leu(m)pang.

Sadiri ti geusan calik,

670

saturun ti tungtung swung,

galasar di panahtaran.

Sadiri ti salu panti,

samu(ng)kur ti walang sangha,

Mukakeun panto kowari.

675

Sadiri ti Pakancilan,

na U(m)bul Medang katukang,

Go(ng)gong na Umbul So(ng)gol

Samu(ng)kur ti Leuwi Nutug,

sadiri ti Mulah Malik,

680

eta jalan ka Pasagi,

na jalan ka Bala I(n)dra,

diri aing ti paniis.

Samu(ng)kur aing di Tubuy,

meu(n)tasing di Cihaliwung,

685 na(n)jak ka sanghiang Darah,

nepi ka Caringin Be(n)tik.

Sana(n)jak ka Bala Gajah,

ku ngaing geus kaleu(m)pangan,

na(n)jak aing ka Mayanggu,

690

ngalalar ka / Ka (n)dang Serang,

/13r/

na jalan ka Ratu Jaya.

ku ngaing geus kaleu(m)pangan,

datang ka Kadu Kanaka,

meu(n)tas aing di Cileungsi,

695

nyangkidul ka gunung Gajah.

Sacu(n)duk ka bukit Caru,

sakakala tuhan Cupak,

nyangwetan ka-Citeurep-keun,

datang aing ka Tandangan,

670

meu(n)tas aing di Cihoe,

meu(n)tas aing di Ciwinten,

nepi aing ka Cigeuntis,

Sana(n)jak aing ka Goha,

sacu(n)duk aing ka Timbun,

675

sacu(n)duk ka bukit Timbun,

Datang aing ka Mandata,

meu(n)tas aing di Citarum,

ngalalar ka Ramanea,

Sanepi ka bukit se(m)pil,

680

ka to(ng)gongna bukit Bongkok,

sacu(n)duk ka bukit Cungcung,

na jajahan Saung Agung,

ku ngaing geus kaleu(m)pangan,

leu(m)pang aing nyangwetankeun,

685

meu(n)tasing di Cilamaya,

meu(n)tas di Cipunagara,

lurah / Medang Kahiangan, /13v/

ngalalar ka To(m)po Omas,

meu(n)tas aing di Cimanuk,

ngalalar ka Pada Beunghar,

meu(n)tas di Cijeruk-manis,.

Ngalalar aing ka Conam,

ceremay a(ng)geus katukang,

ti(m)bang deungeun Hujung

Barang,

725

Kuningan Darma Pakuan,

pahi a(ng)geus kaleu(m)pangan.

Sacu(n)duk ka Luhur Agung,

meu(n)tasing di Cisinggarung.

Sadatang ka tungtung Su(n)da,

730

nepi ka Arega Jati,

sacu(n)duk ka Jalatunda,

sakakala Silih Wangi.

Samu(ng)kur aing ti inya,

meu(n)tasing di Cipamali,

735

ka kidul na gunung Agung,

ka kenca lurah Barebes.

Ngalalar ka Medang Agung,

meu(n)tasing di Cibula(ng?)rang,

ngalalar ka gunung Larang,

740

dusuneun lurah Gebuhan,

ngalalar aing ka Sangka,

ka Sud ka Agi-Agi,

ka Moga Dana K(e)reta.

Samu(ng)kur aing ti inya,

745

meu(n)tas aing di Cicomal,

meu(n)tas di Cipakujati,

ngalalar / ing ka Sagara, /14r/

nepi aing ka Balingbing,

jajahan Arega Sela,

750

na Kupang deungeun na Batang.

Ka kenca na Pakalongan.

Sacu(n)duk aing ka Gerus,

na Tinep deung na Tumerep,

ku ngaing geus kaleu(m)pangan,

755

datang ka lurah Tabuhan,

cu(n)duk ka Darma Tumulus,

ngalalar ka Kali Go(n)dang,

Sacu(n)duk ka Mano Hayu,

ngalalar ka Pajinaran,

760

nepi aing ka Panjalin.

Sacu(n)duk aing ka Se(m)bung,

ngalalar ka Paka(n)dangan.

Sadatang ka Padanara,

nu(n)juk gunung nyangkidulkeun:

765

itu ta na gunung Rahung,

ti kulonna gunung Diheng,

itu ta gunung Sundara,

itu ta na gunung Kedu,

ti kidul gunung Damalung,

770

inya na lurah Pantaran,

itu gunung Karungrungan,

sakakala na batara,

basa rnitineung batari.

Ti wetan bukit Marapi,

775

sakakala Darmadewa.

tnya lurah / Karangian. /14v/

Diri aing ti Danara,

datang aing ka Pidada.

Sadatang aing ka Jemas,

780

ka kenca jajahan Demak,

ti wetan na Welahulu.

Ngalalaring ka Pulutan,

datang ka Medang Kamulan.

Sacu(n)duk ka Rabut Jalu,

785

ngalalaring ka Larangan.

Sadatang aing ka Jempar,

meu(n)tasing di Ciwuluyu,

cu(n)duk ka lurah Gegelang,

ti kidul Medang Kamulan,

790

cu(n)duk ka Bangbarung Gunung.

Sadatang ka Jero Alas,

meu(n)tas di bagawan Cangku,

ngalalar aing ka Daha,

Samu(ng)kur aing ti inya,

795

sacu(n)duk aing ka Pujut,

meu(n)tas di Cironabaya,

ngalalar ka Rambut Merem.

Sacu(n)duk aing ka Wakul,

sadatang ka Pacelengan,

800

ngalalar aing ka Bubat,

cu(n)duk aing ka Mangu(n)tur,

ka buruan Majapahit,

ngalalar ka Dar/ma Anyar, /15r/

na Karang Kajramanaan,

805

ti kidulna Karang Jaka.

Sadatang ka Pali(n)tahan,

samu(ng)kur ti Majapahit,

na(n)jak ka gunung Pawitra,

rabut gunung Gajah Mu(ng)kur.

810

Ti ke(n)ca na alas Gresik,

ti kidul gunung Rajuna

Ku ngaing geus kaleu(m)pangan,

ngalalar ka Patukangan,

datang ka Rabut Wahangan,

815

 leu(m)pang aing nyangwetankeun.

La(m)bung gunung Mahameru,

disorang kalereunana.

Datang ka gunung B(e)rahma,

datang aing ka Kadiran,

820

ka Tandes ka Ranobawa.

leu(m)pang aing ngaler ngetan

Sacu(n)duk aing ka Dingding,

eta hulu dewaguru.

Samu(ng)kur aing ti (i)nya,

825

datang ka Panca Nagara.

Sacu(n)duk aing ka Sampang,

sanepi aing ka Ge(n)ding,

meu(n)tas di Cirabut-wahangan.

Sadatang aing ka Lesan,

830 inya lurah / Pajarakan, /15v/

leu(m)pang aing ngidul ngetan,

ngalalar ka Kaman Kuning,

ngalalar ka gunung Hiang,

disorang kalereunana.

835

Sadatang ka gunung Arum,

na lurah Talaga Wurung,

ti kalerna Panarukan,

ka kencana Patukangan.

Sadatang ka Balungbungan,

840

di inya aing ditapa,

sa(m)bian ngeureunan palay.

Teher(ing) m(e)rela(k) najur,

tehering na(n)jeurkeun li(ng)ga,

tehering puja nyangraha,

845

puja nyapu mugu-mugu,

ma(ng)nya(m)bat-walakeun maneh.

Di (i)nya aing teu heubeul,

satahun deung sataraban.

Teka waya na bancana.

850

Datang tiagi (wa)don,

na rua mamarayaeun.

Teka beka mulung lanceuk,

carekna: ‘Kaka lanceuking,

Rakaki Bujangga Manik,

855

haup aing ebon-ebon,

aing na pitiagieun,

manan hese ku mamaneh,

rusuh ku na panga/wakan, /16r/

heman ku na karuaan’.

860

Carekna Bujan(ga) Manik:

‘Ku ngaing dirarasakeun.

Bawaing apus sata(m)bi,

Ngaran(n)a na Siksaguru.

Carek di na apus tea:

865

“Kadiangganing ring geni,

lamun padeukeut deung eu(n)juk,

mu(ng)ku burung eta seungeut,

kitu lanang deungeun wadon”.’

Sadiri aing ti inya,

870

leu(m)pang aing ka-lautkeun,

sugan aya nu balayar,

aing dek nu(m)pang ka Bali.

Sadatang aing ka laut,

kumuliling turut tasik,

875

kumacacang turut tancang,

nanyakeun nu dek ka Bali.

Momogana teka waya.

Kasa(m)pak aki puhawang,

na puhawang Selabatang,

880

dek meu(n)tas ka nusa Bali,

dek tuluy layar ka Bangka.

Aing dek nu(m)pang ka Bali.

Saurna Bujangga Manik

Rakean Ameng Layaran:

885

‘Akiing juru puhawang,

aing dek nu(m)pang ka Bali.

Lamuning datang ka inya,

aya pangerahan a/ing.’ / 16v/

Carek aki Selabatang:

890

‘Lamun hayang nu dek meu(n)tas,

sui dipawalangati.

U(ng)gah onam ka parahu,

tu(m)pak di na jurung pangkuh,

deuuk di gagarebongan.’

895

Saa(ng)geus u(ng)gah ka

ma(ng)gung [parahu]

bogoh ku tawas [tawas] parahu.

Parahu jati diukir,

ka luhur dinanagakeun,

teka be(n)tik ti kamudi.

900

Bogoh aing ku parahu.

Ra(m)pes beunang ngadangdanan,

mibabahon awi go(m)bong,

mitihang awi nyowana,

mipanggiling haur kuning,

905

misare kawung cawene,

midada(m)par haur seah.

Kamudi kamudi Keling.

[ms. k. kamuning K.]

Tihang layar kayu laka,

hurung beunangna ngahi(ng)gul,

910

siang beunang ngaj(e)rinang.

Apus dangdan hoe muka,

pabaur hoe walatung,

diselang deung hoe omas.

Tali bubut kenur Cina.

915

Carenang dayung na eu(n)teung,

dayung salawe salaya.

Beuteung reueus ku sa/kitu, /17r/

bogoh ku nu mawa inya,

bibijilan para nusa.

920

Nu badayung urang Marus,

nu babose urang Angke,

nu balayar urang Bangka,

juru batu urang Lampung,

juru mudi urang Jambri,

925

juru wedil urang Bali,

juru panah urang Cina,

juru tuiup ti Malayu,

juru amuk ti Sale(m)bu,

pamerang urang Makasar,

930

juru kilat urang Pasay,

nu ni(m)ba jo(m)pong sagala,

pani(m)ba u(n)dem salaka.

Putih kajang pucuk nipah,

langgang tihang pakajangan.

935

Na layar ma(n)je(r) ke(m)bang,

hir na angin bar na layar.

Masang wedil tujuh kali,

[t.wedel] sarunay dipikingkila,

ing na goong brang na gangsa,

940

goong kuning tumalapung,

kingkila nu bikas layar.

Seah na ge(n)dang sarunay,

seok nu kawih tarahan,

nu kawih a(m)bah-a(m)bahan:

945

Ba(n)tar kali buar pelang.‟

Buat di manggung parahu,

balayar taraban poyan.

Sadatang ka nusa Ba / li, / 17v/

saurna Bujangga Manik:

950

‘Akiing juru puhawang,

eboh midua rahayu,

e(boh) ta urang papasah.

Dahini kaen aing,

pangwidian aing.

955

Eboh midua rahayu,

kita ma ma(ng)gih k(e)reta,

awaking ma(ng)gih rahayu.’

Carek aki Selabatang:

‘Samapun mahapa(n)dita,

960 kami nema pangwidian.

Samapun mahapa(n)dita,

ra(m)pes nu sapilaunan.’

Saa(ng)geus nyaur sakitu,

sia turun ti parahu.

965

Sacu(n)duk sia ka dayeuh,

ti inya lunasing usma.

Moha teuing nu ti heula,

teka sarua reana,

na lanang deungeun na wadon.

970

Hidepeng karah mo waya,

ja dini di tengah nusa,

gumanti leuleuwih oman, [read

onam?]

rea ma(na)n urang Jawa,

ti(m)bun manan di Malayu.

975

Di (i)nya aing teu heubeul,

satahun deung sataraban.

Pulang deui ka uniting.

Sacu(n)duk ka si/si laut, /18r/

kasa(m)pak aki puhawang,

980

puhawang Belasagara,

dek balayar ka Pale(rn)bang,

dek tuluy ka Parayaman.

Saurna Bujangga Manik

Rakean Ameng Layaran:

985

‘Akung juru puhawang,

aing dek nu(m)pang di kita,

dek si(n)dang di Balungbungan’.

Carek akiing puhawang:

‘Lamun puguh nu dek nu(m)pang,

990

ulah dipiwalangati.

Ra(m)pes geura ka parahu.’

Sau(ng)gah aing ka manggung,

deuuk di gagarebongan.

Bogoh ku tawas parahu.

995

Parahu patina ageung,

jong kapal buka dalapan,

pa(n)jangna salawe deupa.

Sadiri ti nusa Bali,

saur puhawang sakini:

1000

‘Boncah, pariket pariket.

Parahu rea buatna.

Sugan ni(n)dih mu(ng)kal ma(n)di,

sugan mangpeng karang bepeng,

sugan ni(ng)gang karang bajra,

1005

sugan nebu(k) karang nu(ng)gul,

sugan no(n)jo(k) karang ancol, /18v/

Sugan meubeut karang seukeut,

karunya ku na tohaan,

rakaki Bujangga Manik,

1010

kakara numpang di urang.’

Balayar sapoe rengrep.

Sacu(n)duk ka Balungbungan,

saurna Bujangga Manik:

‘Aiding juru puhawang,

1015

eboh ta urang papasah,

eboh midua rahayu.’

Carekna aki puhawang:

‘Samapun mahapa(n)dita,

ra(m)pes nu sapilaunan.‟

1020

Saturun ti na jong tutup,

diri aing ti parahu.

Sacu(n)duk ka gunung Raung,

ka lurah Talaga Wurung.

Samu(ng)kur aing ti inya,

1025

sacu(n)duk aing ka Baru.

Eta na lurah kategan.

Sadiri aing ti inya,

ngalalar ka Padang Alun,

cu(n)duk ka gunung Watangan,

1030

nu awas ka nusa Barong.

Samu(ng)kur aing ti inya,

datang aing ka Sarampon.

Sacu(n)duk aing ka Cakru,

sadiri aing / ti inya, /19r/

1035

leu(m)pang aing marat ngidul,

datang ka lurah Kenep,

cu(n)duk ka Lamajang Kidul,

ngalalar ka gunung Hiang,

datang a(ing) ka Padra.

1040

La(m)bung gunung Mahameru

disorang kiduleunana.

Sadatang ka Ranobawa,

ngalalar ka Kayu Taji.

Samu(ng)kur aing ti inya,

1045

sacu(n)duk aing ka Kukub,

datang aing ka Kasturi,

cu(n)duk ka Sagara Dalem,

ngalalar ka Kagenengan,

sumengka ka gunung Kawi,

1050

disorang kiduleunana.

Sadatang ka Pamijahan,

leu(m)pang aing ka-baratkeun,

ngalalar ka gunung Anyar,

cu(n)duk aing ka Daliring.

1055

Sadatang ka gunung Ka(m)pud,

datang ka Rabut Pasajen.

Eta hulu Rabut Palah,

kabuyutan Majapahit,

nu dise(m)bah ku na Jawa.

1060

Maca (a)ing Darmaweya,

pahi deung Pa(n)dawa Jaya.

Ti inya lunasing jobrah,

aing bisa carek Jawa,

bisa / aing ngaro basa. /19v/

1065

Di inya aing teu heubeul,

satahun deung sataraban.

Ha(n)teu betah kage(n)teran,

datang nu puja ngancana,

nu nye(m)bah ha(n)teu pegatna,

1070

nu ngideran ti nagara.

Leu(m)pang aing marat ngidul,

nepi aing ka Waliring,

ngalalaring ka Polaman,

datang aing ka Balitar,

1075

meu(n)tas [aing] di Cironabaya,

ngalalar ka Pasepahan,

ka Luka ka Saput Talun.

Sadatang [datang] ka Pajadangan,

[ms. abrat]

ngalalar[ing] ka Kalang Abrit.

1080

Sacu(n)duk ka Pasugihan,

di pipirna gunung Wilis,

ku ngaing tebeh kidulna,

datang aing ka Dawuhan,

ngalalar ka gunung Lawu,

1085

inya na lurah Urawan.

Samu(ng)kur aing ti inya,

leu(m)pang aing marat ngidul,

ngalalar ka Pamanikan.

Sadatang ka Sida Lepas,

1090

nya(ng)landeuh aing ka Oyong.

Samu(ng)kur aing ti inya,

datang aing ka Ca(m)paga/n, /20r/,

ngalalar ka Pamaguhan.

Sacu(n)duk aing ka Pahul,

1095

samu(ng)kur aing ti inya/

datang (a)ing ka Caturan.

Sacu(n)duk aing ka Roma,

meu(n)tasing di Ciwuluyu,

inya na lurah Bobodo,

1100

ngalalar aing ka Taji [ka Taji],

nepi ka gunung Marapi,

disorang kiduleunana,

cu(n)duk aing ka Janawi,

eta lurah dewaguru.

1105

Leu(m)pang aing marat ngidul.

Sanepi aing ka Wedi,

ngalalar ka Singhapura.

Sadatang aing ka Maram,

meu(n)tas aing di Ciberang,

1110

datang ka lurah Paguhan,

ngalalar ka Kahuripan,

ka gedengna Rabut Beser,

meu(n)tas di Ciloh-paraga.

Sanepi aing ka Pahit,

1115

sadatang ka Taal Pegat,

nepi aing ka Kulisi,

meu(n)tas di Ciwatukura,

ngalalar ka Pakuwukan.

Sacu(n)duk ka lurah Danuh,

1120

datang aing ka Lanabang,

ka Jawarah [ka] Tadah Haji,

ka Tarungtung / ka Walakung.

/20v/

Sadatang(ing?) ka Kalangan,

sanepi ka Pamarisan,

1125

datang aing ka Ta(m)bangan,

meu(n)tas aing di Cilohku,

na(n)jak ka gunung Sangkuan,

datanging ka (A)dipala,

leu(m)pang (aing) ka-baratkeun,

1130

datang aing ka Sawangan,

ka muhara Cisarayu.

Ku ngaing geus kaleu(m)pangan,

datang ka Ma(n)dala Ayah,

leu(m)pang aing turut pasir,

1135

datang ka Pala Buaja.

mu(ng)kur ti Tegal Popoken.

Sadatang ka Karang Siling,

meu(n)tas di Cipaterangan.

Sadatang aing ka Mambeng,

1140

cu(n)duk ka Dona Kalicung,

gedeng alas Nusahe,

meu(n)tas di Sagaranak(an),

ngalalar ka Batu Lawang,

di pipirna batu tulis,

1145

karang tu(ng)gul karang bajra.

Sacu(n)duk aing ka Bakur,

ka muhara Cita(n)duyan,

ku ngaing geus kaleu(m)pangan,

datang aing ka Cimedang,

1150

meu(n)tas di Cikutrapi(ng)gan,

cu(n)duk aing ka Pana(n)jung,

ka gedeng nusa / Wuluhen, /21r/

meu(n)tas aing di Ciwulan,

banyating di Ciloh-alit,

1155

na muhara Pasuketan,

ta(ng)geran na Hujung Pusus.

Ku ngaing geus kaleu(m)pangan,

ka to(ng)go(ng)na gunung

Co(n)dong, di pipi(r) gunung Parasi,

1160

ku ngaing tebeh kidulna.

Sacu(n)duk ka Hujung Galuh,

ngalalar ka Geger Gadung,

meu(n)tas aing di Ciwulan,

leu(m)pang aing marat ngaler.

1165

Sadatang ka Saung Galah,

[ms. S. Agung]

sadiri aing ti inya,

Saung Galah kaleu(m)pangan,

kapungkur gunung Galunggung,

katukang na Panggarangan,

1170

ngalalar na Pada Beunghar,

katukang na Pamipiran.

Ngalalar ka Ti(m)bang Jaya,

datang ka bukit Cikuray,

nyangla(n)deuh aing ti inya,

1175

datang ka Mandala Puntang.

Sana(n)jak ka Papa(n)dayan,

ngaran(n)a na Pane(n)joan,

ti inya aing ne(n)jo gunung,

dereja (?) dangka ri kabeh,

1180

para manuh para dangka,

pani(ng)gal Nusia Larang.

Aingmilang-melangi/nya, /21v/

Ti kidul na alas Danuh,

ti wetan na’ Karang Papak,

1185

ti kulon Tanah Balawong,

Itu ta na gunung Agung,

ta(ng)geran na Pager Wesi.

Eta na bukit Patuha,

ta(ng)geran na Majapura.

1190

Itu bukit Pam(e)rehan,

ta(ng)geran na Pasir Batang.

Itu ta na gunung Kumbang,

ta(ng)geran alas Maruyung,

ti kaler alas Losari,

1195

Itu ta bukit Caremay,

tanggeran na Pada Beunghar,

ti kidul alas Kuningan,

ti barat na Walangg Suji,

inya na lurah Talaga.

1200

Itu ta na To(m)po Omas,

lurah Medang Kahiangan.

Itu Tangkuban Parahu,

tanggeran na Gunung Wangi.

Itu ta gunung Marucung,

1205

ta(ng)geran na Sri Manggala.

Itu ta bukit Burangrang,

ta(ng)geran na Saung Agung.

Itu (ta na) bukit Burung Jawa,

ta(ng)geran na Hujung Barat.

1210

Itu ta bukit Bulistir,

ta(ng)geran na Gu/nung A(n)ten.

/22r/

Itu bukit Naragati,

ta(ng)geran na Batu Hiang.

Itu ta na bukit Barang,

1215

ta(ng)geran na [alas] Kurung Batu.

Itu bukit Banasraya,

ta(ng)geran na alas Sajra,

ti barat bukit Kosala.

Itu ta na bukit Catih,

1220

ta(ng)geran na Catih Hiang.

Itu bukit Hulu Mu(n)ding,

ta(ng)geran na Demaraja,

ti barat bukit Parasi,

ta(ng)geran na Tegal Lubu,

1225

ti wetan na Sedanura,

nu awas ka alas Si(n?)day.

Eta ta na gunung Kembang,

geusan tiagi sagala,

ti kidul na alas Maja,

1230

eta na alas Rumbia.

Ti barat na wates Mener,

ta(ng)geran na Bojong Wangi.

Itu ta na gunung Hijur,

ta(ng)geran na Kujar Jaya.

1235

Itu ta na gunung Su(n)da,

ta(ng)geran na Karangkiang.

Itu ta na bukit Karang,

ta(ng)geran na alas Karang.

Itu gunung Cinta Manik,

1240

ta(ng)geran na alas Rawa.

itu ta / na gunung Kembang, /22v/

ta(ng)geran Labuhan Ratu.

Ti kaler alas Panyawung,

ta(ng)geran na alas Wa(n)ten.

1245

Itu ta na gunung (.. .)ler,

ta(ng)geran alas Pamekser,

nu awas ka Ta(n)jak Barat.

Itu ta pulo Sanghiang,

heuleut-heuleut nusa Lampung,

1250

Ti timur pulo Tampurung,

ti barat pulo Rakata,

gunung di tengah sagara.

Itu ta gunung J(e)reding,

ta(ng)geran na alas Mirah,

1255

ti barat na lengkong Gowong.

Itu ta gunung Sudara,

na gunung Guha Ba(n)tayan,

tanggeran na Hujung Kulan,

ti barat bukit Cawiri.

1260

Itu ta na gunung Raksa,

gunung Sri Mahapawitra,

ta(ng)geran na Panahitan,

ti wetan na Suka Darma,

ti barat na gunung Manik.

1265

Awas ka nusa Kambangan,

nusa Layaran ………

nusa Di/lih nusa Bini, /23r/

nusa Keling nusa Jambri,

nusa Cina Ja(m)budipa,

1270

nusa Gedah deung Malaka,

nusa Ba(n)dan Ta(n)ju(ng)pura,

Sakampung deung nusa Lampung,

nusa Baluk nusa Buwun,

nusa Cempa Baniaga,

1275

Langkabo deung nusa Solot,

nusa Parayaman. //O//

Beuteung bogoh ku sakitu,

saa(ng)geusing milang gunung,

saleu(m)pang ti Pane(n)joan,

1280

sacu(n)duk ka gunung Se(m)bung,

eta hulu na Citarum,

di inya aing ditapa,

sa(m)bian ngeureunan palay.

Tehering puja nyangraha,

1285

puja (nya)pu mugu-mugu.

Tehering na(n)jeurkeun li(ng)ga,

tehering nyian hareca,

teher nyian sakakala.

Ini tu(n)jukeun sakalih,

1290

tu(n)jukeun ku na pa(n)deuri,

maring aing pa(n)teg hanca.

A(ng)geus aing puja nyapu,

linyih beunang aing nyapu,

[ms. linyeh] .

ku/macacang diburuan, /23v/

1295

nguliling asup ka wangun,

ngadungkuk di palu(ng)guhan,

disiwi teher samadi. [ms. dibiwi]

Ku ngaing dirarasakeun,

ku ngaing dititineungkeun,

1300

beunang aing adu angka,

nu mangka kasorang tineung.

Ku ngaing dipajar inya

langgeng tita deung purusa,

nya mana kasorang tineung.

1305

Kena kitu nu ti heula,

guna sang mahapandita,

nu bisa mu(n)cakan tapa,

milih miji di sarira,

ngawastu rasa wisesa,

1310

nurutkeun sakaja(n)tenna,

ha(n)teu kabawa ku warna,

atos ward alot rasa,

laksana mahapurusa,

nya mana pam(i)yaktaan. [ms. nyu}

1315

A(ng)geus ngudian sarira,

rakaki Bujangga Manik

ngaler ngidul marat nimur,

di tengah kapala cakra,

nyiar pigeusaneun matuh,

1320

nyiar lemah pamutian,

nyiar cai / pamorocoan, /24r/

pigeusaneun aing paeh,

pigeusaneun nu(n)da raga.

Di (i)nya aing teu heubeul,

1325

satahun deung sataraban.

Meding katepi ku are,

datang nu ti lala(n)deuhan,

Meding waya na bancana.

Sadiri aing ta inya,

1330

leu(m)pang aing ngaler barat.

Tehering milangan gunung:

itu ta bukit Karesi,

itu ta bukit Langlayang,

ti barat na Palasari.

1335

Ngalalar ka bukit Pala.

Sadatang ka kabuyutan,

meu(n)tas di Cisaunggalah,

leu(m)pang aing ka-baratkeun,

datang ka bukit Pategeng,

1340

sakakala Sang Kuriang,

masa dek nyitu Citarum,

burung te(m)bey kasiangan.

Ku ngaing geus kaleu(m)pangan,

meu(n)tas aing di Cihea,

1345

meu(n)tas aing di Cisokan,

datang ka lurah Pamengker.

Cu(n)duk aing ka Mananggul,

ngalalar ka Li(ng)ga Lemah.

Tuluy datang ka E/ronan, /24v/

1350

na(n)jak ka Le(m)bu Hambalang.

Sadatang ka bukit Ageung,

eta hulu Cihaliwung,

kabuyutan ti Pakuan,

sanghiang Talaga Warna: / /0/ /

1355

‘Euh, kumaha awaking ini!

Mu(ng)ku nyorang tulus datang,

ngahusir ka i(n)dung bapa,

ngahusir ka pa(ng)guruan!’

Awaki(ng) ka Hujung Kulan,

1360

ja rea hadanganana.

Leu(m)pang aing nyangkidulkeun,

ngahusir bukit Bulistir.

Eta hulu Cimari(n)jung,

sakakala Patanjala,

1365

ma(n)ten burung ngadeg ratu.

Di (i)nya aing teu heubeul,

satahun deung sataraban.

Meding katepi ku are,

datang nu ti lala(n)deuhan,

1370

meding waya na bancana.

Sadiri aing ti inya,

leu(m)pang aing ngidul wetan,

meu(n)tasing di Cimari(n)jung,

meu(n)tasing di Cihadea,

1375

meu(n)tasing di Cicarengcang, /25v/

meu(n)tas aing di Cisanti.

Sana(n)jak ka gunung Wayang,

sadiri aing ti inya,

cu(n)duk ka Mandala Beutung,

1380

ngalalar ka Mulah Beunghar,

nyanglandeuh ka Tigal Luar,

katukang bukit Malabar,

kagedeng bukit Bajoge.

Sacu(n)duk ka gunung Gu(n)tur,

1385

ti wetan Mandala Wangi,

nu awas ka gunung Ke(n)dan,

ngalalar ka Jampang Manggung.

Sadatang ka Mulah Mada,

ngalalar ka Tapak Ratu,

1390 datang ka bukit Patuha,

ka sanghiang Ranca Goda.

Dipunar dijian batur,

kapuruyan ku mandala.

Di inya aing teu heubeul,

1395

satahun deung sataraban.

Sadiri aing [ti i] ti inya,

sacu(n)duk ka gunung Ratu,

sanghiang Karang Carengcang.

Eta hulu na Cisokan,

1400 la(n)deuhan bukit Patuha,

heuleut-heuleut Li(ng)ga Payung,

nu / awas ka Kreti Haji. /25v/

Momogana teka waya:

neumu lemah kabuyutan,

1405

na lemah ngali(ng)ga manik,

teherna dek sri ma(ng)liput,

ser manggung ngali(ng)ga payung,

nyanghareup na Bahu Mitra.

Ku ngaing geus dibabakan,

1410

dibalay diu(n)dak-u(n)dak,

dibalay sakulili(ng)na,

ti ha(n)dap ku mu(ng)kal datar,

ser manggung ku mu(ng)kal bener,

ti luhur ku batu putih,

1415

diawuran manik asra.

Carenang heuleut-heuleutna,

Wangun tujuh guna aing,

padangan deung pakayunan,

deungan la(m)bur pameupeuhan,

1420

roma hiang patengtongan.

La(m)bur ta dua ngadengdeng.

Taman mihapitkeun dora,

tajur eukeur ngara(m)pesan,

eukeur dek sereng dibuah.

1425

na keke(m)bangan sariang.

Na wangun teu acan bobo,

balay ha(n)teu / acan urug / 0 / 26r /

Sate(m)bey datang ka masa,

datang ka ukur-ukuran,

1430

ditapa salapan tahun,

kasapuluh pa(n)teg ha(n)ca.

Awak eukeur beurat pading,

eukeur meujeuh ngara(m)pesan.

Lamun bulan lagu tilem,

1435

panon poe lagu surup,

beurang kasedek ku wengi,

tutug tahun pa(n)teg hanca,

nu pati di walang suji,

nu hilang di walang sanga,

1440

awak nya(m)pay ka na balay,

mikarang hulu gege(n?)dis,

paeh nyanghulu ka lancan.

Pati aing ha(n)teu gering,

hilang tanpa sangkan lara,

1445

mecat sakeng kamoksahan.

Diri na ad wisesa,

mangkat na sarira ageung,

ngaloglog a(ng)geus nu poroc.

Atma mecat ti pasa(m)bung,

1450

ad mecat ti na atma,

pahi masah kaleu(m)pangan. /

/26v/

Ragaing nyurup ka petra,

kaliwara jadi dewa,

pasa(m)bung nyurup ka suwung.

1455

Atmaing dalit ka lentik,

sarua deungeun dewata.

Tuluy nyorang jalan caang,

neumu jalan gede bongbong.

U(ng)gal sa(m)pang dila(m)buran,

1460

laun lebak dicukangan,

sumaray ditata(ngga)an,

malereng dipasigaran.

Tapak sapu beres keneh,

bare(n)tik marat nimurkeun.

1465

Golang-golang situ mu(ng)kal,

patali patalu(m)bukan.

Ke(m)bang patah cumare(n)tam,

nambuluk apuy-apuyan,

Tajur pinang pumarasi,

1470

pinang tiwi pinang ading,

pinang tiwi kumarasi,

pinang ading asri kuning.

Di tengah bantar ngajajar,

ha(n)juang sasipat mata,

1475

ha(n)deuleum salaput hulu,

ha(n)dong bang deung ha/ (ndong)

………………..

………………..

1501

 ‘(ha)/at di janma sajagat, / 28v?/

biha(ri) basa ngahanan,

masa di madiapada?’

Rakaki Bujangga Manik

1505

ngarasa maneh ditanya.

Umun teher sia nyebut,

ne(m)balan sakayogyana,

nyarek sakaangen-angen, [ms. se-]

nembalan sang Dorakala:

1510

‘Mumul ma(ng)nyarekkeun maneh,

sugan bener jadi belot,

sugan ra(m)pes jadi gopel,

sugan so(r)ga jadi papa,

sugan pangrasa ku dapet,

1515

sugan pangrasa ku te(m)bey,

[ms. -biy]

Mumul misaksi na janma,

pangeusi buana ini,

janma di madiapada.

Sariwu saratus tu(ng)gal,

1520

kilang sahiji mo waya,

janma nu teteg di carek.

Rea nu papa naraka,

kilang dewata kapapas,

ku ngaing dipajar renyeh,

1525

ja daek milu ngahuru, / /29r/

ja daek dibaan salah,

ku nu dusta jurujana.

Kucawali he(ng)gan hiji:

saksiing sanghiang beurang,

1530

saksiing sanghiang peuting,

candra wulan deungeun we(n)tang,

deungeun (sang)hiang pratiwi.

Itu nu ngingu mireungeuh:

pratiwi nu leuwih ilik,

1535

akasa nu liwat awas,

hidep nu nyaho di bener.

Inya nu ngingetkeun rasa,

itu nu ngingu na bayu,

eta nu milala sabda,

1540

inya nu mireungeuh tineung,

nu milala tua(h) janma,

bisa di belot di bener, [ms. bener]

nyaho di gopel di ra(m)pes.

He(ng)gan sakitu saksitng.’

1545

Carek aki Dorakala:

‘Samapun sanghiang atma.

Mu(ng)ku aing mirebutan,

[ms. -rehut-]

ja na rua mu(ng)ku samar.

Na awak herang ngale(ng)gang,

1550

na rua diga dewata,

kadi asra kadi manik.

Na awak mum ti candu,

mahabara ti candana, / /29v/

amis ti kulit rnasui.

1555

Kitu pamulu nu bener,

eta na ki(ng)kila so(r)ga.

Samapun sanghiang atma,

rakaki Bujangga Manik,

leu(m)pang sakarajeun-rajeun,

1560

sia ka na kaso(r)gaan.

Samu(ng)kur aing ti inya,

leu(m)pang na(n)jak

nyangto(ng)gohkeun,

husir keh na taman herang,

dibalay ku p(e)ramata.

1565

Pa(n)curan ta(m)baga sukia,

cangkorah salaka pirak,

ditungtung ku cudiga,

pesek dipopokan omas,

panyi(m)beuh u(n)dem salaka.

1570

Ma(n)di ngabreseka maneh,

nu ma(n)di ngalaan kesang.

A(ng)geus ma sia nu ma(n)di,

ulah karatakeun teuing,

sia di na taman herang.

1575

Aya ra(m)pes na husireun:

husir la(m)bur ngurung jalan,

dilulurung beusi wulung,

diselang deung purasani,

dipaseuk ku beusi kebel,

1580

tihang gading beunang ukir,

tatapa / kan goong Jawa, / 30r /

dibalay ku kaca Cina,

diselang ku batu kresna,

……………..

1585

diselang deungeun pramata,

mipainikul pirak apu,

dilayeusan ku aduan,

mihateup sirap ta(m)ba(ga),

mipamaras omas ngora,

1590

disarean ku panamar,

dipiwaton omas kolot,

diselang ku pirak apu,

dijeujeutan omas Cina,

diselang deung kawat Jawa.

1595

Eu(n)teun Jawa dipaheutkeun,

u(ng)gal tihang lambur eta.

Dinya paranti dihias,

memeh nyorang kasorgaan,

Di inya na pihiaseun,

1600

naha ngaran(n)a ku ha(n)teu?

Eu(n)teung Jawa pinarada,

sisir gading batri ngukir,

paminyakan kaca Cina,

eusina lenga wangsana,

1605

kapur Barus di na cupu,

bunga resa di na juha,

dedes di na u(ng)keb gading,

candana mum sacupu,

pucuk / ………………… /30v

………………..

1701

 ……………………./ tresna. /31v?/

Rakaki Bujangga Manik,

tuluy dirawu dipangku,

diais dipagantikeun,

1705

diu(ng)gahkeun ka sudangan,

ti sudangan ka wangsana,

wangsana carana gading,

tu(m)pak di camara putih,

camara lili(ng)ga omas,

1710

dikikitiran ku mirah,

diwe(n)tang-we(n)tang ku omas,

dipuncakan manik[a] asra,

dibalay ku mutenghara,

diselang pramata mirah,

1715

pramata ko(m)bala hi(n)ten,

sarba e(n)dah sagala.

Pakarang cacaritaan,

Carita Darma Kancana,

ti manggung kula(m)bu hurung,

1720

ti ha(n)dap kulambu le(ng)gang,

paheutna naga pateungteung,

di tengah naga werati,

ti handap naga paheu(m)pas,

Werak ngigel di puncakna,

1725

na sarba e(n)dah sagala,

liwat na sarba mulia,

atita amahabara,

murug mu(n)car pakatonan,

branang siang sarba warna,

1730

gumilap luma / rap-larap. /32r/

Sarua sekar pamaja,

ruana sanghiang atma,

diwereg ku tatabeuhan,

goong ge(n)ding diba(n)dungkeun,

1735

gangsa pabaur deung caning,

tatabeuh(an) sareana,

sanghiang pabura(n)caheun,

gangsa rari dirindukeun,

sa(m)peuran aluy-aluyan,

1740

payung hapit sutra Keling,

tunggul bungbang kiri kanan,

lu(ng)sir putih ngaba(n)daleuy,

unyut mungpung sama dulur,

bitan ku(n)tul sri manglayang,

1745

Payung lu(ng)sir puncak gading,

payung ke(r)tas puncak omas,

payung hateup sutra Keling,

galewer parada Cina,

na banteuleu ratna ureuy,

1750

taluki ratna kancana,

camara lili(ng)ga omas,

tapok terong omas ngora,

pu(n)cak mirah naga ra(n)tay,

pajale ratna sumanger,

1755

kilat padulur deung teja,

diliung nu kuwung-kuwung,

di i/(nya?) …………… /32v/

Topografi Jawa dari Noorduyn

 

 

Lampiran 2

Daftar Pustaka

Ekadjati, Edi S. 2005 (cet. II), Kebudayaan Sunda 1: Suatu Pendekatan Sejarah, Pustaka

Jaya, Jakarta

——————– 2005, Kebudayaan Sunda 2: Zaman Padjadjaran, Pustaka Jaya, Jakarta

Noorduyn, J 1984, Perjalanan Bujangga Manik Menyusuri Tanah Jawa: Data

Topografis dari Sumber Sunda Kuno, terj. Iskandarwassid, Koninklijk Instituut voor

Taal-, Land- en Volkenkunde dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Noorduyn, J dan Teeuw, A. 2006, Three Old Sundanese Poems, KITLV, Leiden

Rosidi, Ajip 1973, “My Experiences in Recording „Pantun Sunda‟” dalam jurnal

Indonesia No. 16, hal. 105-111, Cornel University

Sumardjo, Jakob 2000, Filsafat Seni, Penerbit ITB, Bandung

——————– 2003, Simbol-simbol Artefak Budaya Sunda: Tafsir-tafsir Pantun Sunda,

Kelir, Bandung

——————– 2004, Hermeneutika Sunda: Simbol-simbol Babad Pakuan/Guru

Gantangan, Kelir, Bandung

——————— 2006, Khazanah Pantun Sunda: Sebuah Interpretasi, Kelir, Bandung

——————– 2006, Estetika Paradoks, Sunan Ambu Press, Bandung

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)