Kakawin Sumanasantaka

0

Kakawin Sumanasantaka

 


Kerajaan Kediri berdiri pada abad ke-11 dengan Sri Samarawijaya sebagai raja pertamanya. Selama hampir dua abad berkuasa, kerajaan ini mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Raja Jayabaya (1135-1159). Di bawah kekuasaan Raja Jayabaya, bidang sastra berkembang pesat, sedangkan wilayah kekuasaannya meliputi beberapa pulau di Nusantara, bahkan sampai mengalahkan pengaruh Kerajaan Sriwijaya. Pada masa Kerajaan Kediri banyak terlahir karya sastra. Bahkan periode kekuasaannya Kediri disebut sebagai zaman keemasan Jawa kuno. Sebab, dari masa ini dihasilkan karya-karya sastra, terutama dalam bentuk kakawin, yang sangat penting dan bermutu tinggi. Salah satu alasan karya sastra di Kerajaan Kediri berkembang pesat adalah berkat perhatian raja-rajanya terhadap kehidupan kebudayaan kerajaan, terutama dalam hal kesusastraan. Selain itu, para pujangga juga kebebasan berpikir dalam mengembangkan seni sastra oleh rajanya.

Beberapa pujangga terkenal dari Kerajaan Kediri adalah Mpu Sedah, Mpu Panuluh, dan Mpu Tanakung. Berikut ini karya sastra peninggalan Kerajaan Kediri :

1.     Kitab Bharatayuddha Salah satu karya sastra yang terkenal di Kerajaan Kediri adalah Kitab Bharatayuddha, yang ditulis oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh pada zaman kekuasaan Raja Jayabaya (1135-1159). Cerita Kitab Bharatayudha merupakan penggalan dari Kitab Mahabharata, yang mengisahkan tentang perang 18 hari antara Pandawa dan Kurawa di Padang Kuruksetra yang dikenal sebagai Perang Bharatayuddha. Dalam gubahan Kitab Bharatayuddha, nama Jayabaya kerap disebut sebagai bentuk sanjungan terhadap raja. Kitab ini selesai ditulis pada 6 November 1157.

2.     Kitab Kresnayana Kitab Kresnayana ditulis oleh Mpu Triguna pada masa pemerintahan Raja Jayaswara, yang memerintah Kediri antara 1104-1115. Isi kitab ini menceritakan tentang perkawinan antara Kresna dan Dewi Rukmini.

3.  Kitab Smaradahana Karya sastra pada masa Kerajaan Kediri yang berisi tentang pemujaan Raja Kediri adalah Kitab Smaradhana. Kitab ini menceritakan tentang sepasang suami istri, Smara dan Rati, yang menggoda Dewa Syiwa yang sedang bertapa. Smara dan Rati akhirnya terkena kutukan dan mati terbakar oleh api (dahana) karena kesaktian Dewa Syiwa. Akan tetapi, mereka dihidupkan kembali dan menjelma sebagai Kameswara dan permaisurinya. Kitab Smaradahana ditulis pada zaman Raja Kameswara (1190-1200) oleh Mpu Darmaja, yang juga terkenal dengan karyanya Cerita Panji.

4.  Kitab Lubdaka Kitab Lubdaka ditulis oleh Mpu Tanakung pada zaman Raja Kameswara, yang berkuasa antara 1190-1200. Kitab ini bercerita tentang seorang pemburu bernama Lubdaka yang mengadakan pemujaan terhadap Dewa Syiwa sehingga rohnya yang semestinya masuk neraka menjadi masuk surga.

 

Kitab Sumanasantaka

Kitab Sumanasantaka adalah sebuah puisi (kakawin) berbahasa Jawa Kuno yang ditulis oleh Mpu Monaguna pada masa Sri Jayawarsa (1104-1115). Mpu Monaguna menggubah karyanya ini berdasarkan kitab milik penyair terkenal dari India. Kitab Sumanasantaka berisi lebih dari 1.100 bait, yang terdiri atas bait pemujaan, narasi, dan epilog. Kitab Hariwangsa Selain Kitab Bharatayuddha, Mpu Panuluh sendiri juga menggubah Kitab Hariwangsa ketika Raja Jayabaya (1135-1159) berkuasa. Kitab ini menceritakan kisah ketika Prabu Kresna, yang merupakan titisan Batara Wisnu, yang menikah dengan Dewi Rukmini, titisan Dewi Sri. Baca juga: Kitab Mahabharata: Penulis, Isi, dan Kisahnya Kitab Gatotkacasraya Kitab Gatotkacasraya merupakan karya Mpu Panuluh pada masa Raja Kertajaya (1200-1222). Isi kitab ini menceritakan tentang perkawinan putra Arjuna yang bernama Abimanyu dan Siti Sundhari dengan bantuan Gatotkaca. Kitab Wertasancaya Pada masa kekuasaan Raja Kameswara (1190-1200), lahirlah Kitab Wertasancaya karangan Mpu Tanakung. Kitab ini merupakan buku puisi yang berisi petunjuk tentang cara membuat syair yang baik.

 

Kakawin Sumanasantaka (Mati karena Bunga Sumanasa, karya Mpu Monaguna)

Kakawin Sumanasantaka, puisi epik abad ke-13 karya Mpu Monaguna, adalah sebuah gubahan kedalam bahasa Jawa Kuno dari cerita Kalidasa tentang Pangeran Aja dan Putri Indumati yang dikisahkan dalam Raghuvamsa, karya berbahasa Sanskerta yang termasyur. Dalam kakawin ini, sang pujangga memanfaatkan cerita yang menjadi sumbernya untuk melukiskan dan membahas kehidupan di alam Jawa pada masanya.

Dalam buku  Sumanasantaka; Mati karena Bunga Sumanasa karya Mpu Mpu Monaguna ini, para penulis mempersembahkan suntingan dan terjemahan kakawin karangan Mpu Monaguna, dengan menyertakan pendahuluan mengenai penyuntingan naskah-naskah dan sejarah kakawin ini maupun ceritanya, terutama dalam kaitan dengan Raghuvamsa. Teks dan terjemahan dilengkapi dengan komentar berupa keterangan panjang lebar atas masalah-masalah yang dihadapi para penulis dalam menafsirkan teks.

 

Isi dari kitab Sumanasantaka

Kitab Sumanasantaka menceritakan bidadari yang dikutuk lalu menikah dengan seorang raja dan melahirkan seorang putra yang bernama Dasaratha yang kemudian menjadi ayah dari Rama di Ayodya. Kitab ini ditulis oleh Empu Monaguna pada kurang lebih tahun 1104, pada masa pemerintahan Prabu Warsa Jaya di Kediri.

 

Sumanasantaka (versi 2)

Kakawin Sumanasantaka dimulai dengan pemujaan kepada Sang Hyang Hyang yang disthanakan pada lembar tulis Sang Kawi. Sang Hyang Hyang adalah Shiwa yang ‘dialami’ sebagai hakikat Aksara itu sendiri. Bijaksara [benih aksara] tersebar baik di atas lembar tulis maupun di balik keindahan alam.

Setelah pemujaan itu, diperkenalkan tokoh Trnawindu, seorang pandita taruna yang telah menguasai ajaran gurunya, Bhagawan Agastya. Ia menjalankan ajaran gurunya dengan Tapa, yaitu memanaskan dengan menutup semua lubang, dan dengan Japam, yaitu pemusatan pikiran dengan menyebut berulang-ulang silabel suci terpilih yang luar biasa ketatnya. Samadhi, yaitu keheningan Buddhi suci tingkatan tertinggi dalam Yoga telah pula dicapainya. Yoga dijadikan sarana sehingga seluruh indera takluk di hadapannya. Pikiran sebagai raja indera juga telah takluk. Ia pun menguasai Astha Eswarya [delapan jenis kesaktian pikiran]. Dengan delapan kesaktian pikiran itu ia mencapai tingkat kesadaran Sadashiwa.

 

Kehebatan Trnawindu ternyata mencemaskan para dewa di sorga. Dewa Indra kemudian menugaskan bidadari Dyah Harini, yang kecantikan badan kasamya bisa melemahkan pikiran setiap yang melihatnya. Kehalusan bahasa serta keindahan pikirannya menyebabkan orang bisa terperangkap tanpa jaring. Dia juga konon telah mendapatkan delapan kesaktian pikiran itu. Tugasnya satu, menggagalkan tapa Trnawindu. Hanya karena rasa bakti, ia menerima tugas itu walau tahu sangat berbahaya, karena itu bukan Swadharmanya. Swadharma adalah panggilan tugas-kerja (gina) berdasarkan kualitas diri (guna). Sia-sialah orang yang mengerjakan apa yang bukan Swadharmanya walau bhakti sekalipun sebagai alasannya. Maka Dyah Harini pun berangkat diam-diam menyongsong kesia-siaan itu.

Perjalanan Dyah Harini dan alam Dewa menuju dunia manusia melalui angkasa menerobos awan. Sulitnya perjalanan itu, dan membayangkan berbahayanya tugas yang diemban, menyebabkan ia secara diam-diam memohon belas kasihan Sang Hyang Ishwara. Ia melewati puncak Panca Giri [lima gunung] yang terletak di lima arah mata angin langit. Dan puncak gunung Gandhamadana ia melihat sebuah pertapaan di lereng selatan gunung Himawan. Memancar cahaya dan pertapaan itu menandakan pertapanya telah menguasai indera. Asap pahoman menjulang tak putus-putus seperti Ongkara lengkap dengan Windu dan Nada. Dyah Harini bergerak menuju sasaran. Setelah siap mempertontonkan kecantikannya untuk membangkitkan nafsu birahi, ia pun lantas duduk di sebuah balai kecil.

Ketika itu Trnawindu sedang memuja Shiwa denganjapam. Ia mengolah Triguna-Tattwa dengan membasmi Guna-Tamah memakai api Guna-Rajah, sehingga Guna-Satwam terus terjaga. Ia pun mencapai tingkatan Asthaguna. Tingkatan Moksa sudah hampir dicapainya. Ia hanya terpisahkan selembar kelir dengan Shiwa. Kelir itu tiada lain badan jasmaninya sendiri. Setelah usai memuja, ia pun berjalan-jalan di sekitar pertapaan. Dilihatnya Dyah Harini. Ia pun menyapa.

 

Kakawin Sumanasantaka (versi 3)

Kakawin Sumanasantaka atau Kakawin Sumanasāntaka adalah sebuah puisi epik berbahasa Jawa Kuno abad ke-13 karya Mpu Monaguṇa. Pujangga Kediri ini menuliskan kakawin epik karyanya berdasarkan mahākāvya Raghuvaṃśa karya Kālidāsa, seorang penyair terkenal abad ke-5 dari India. Kakawin dari periode Jawa timur ini dimulai dengan bait pemujaan, diikuti narasi, dan diakhiri epilog. Kakawin Sumanasantaka memiliki panjang lebih dari seribu seratus bait. Pemujaan dalam kakawin ini hanya terdiri atas dua bait dan epilog dari tiga bait yang relatif pendek.

Asal-usul penamaan judul puisi ini belum dapat dipastikan. Frase sumanasāntaka berarti 'kematian karena bunga sumanasa', tidak terdapat dalam Raghuvaṃśa, dan juga judul itu tidak dikenal dalam kesusastraan Sanskerta pada umumnya. Akan tetapi, yang dimaksud dengan 'sĕkar sumanasa' kemungkinan besar berasal dari kata sumanas, yang dalam bahasa Sanskerta memiliki beragam arti: 'budiman; ramah; dewa; (jamak) nama golongan tertentu dewa; (jamak atau kata majemuk) bunga-bunga; bunga melati besar, leks'. Zoetmulder menyimpulkan bahwa kata sumanasa muncul untuk menyebut pohon tertentu dan bunganya, sejenis campaka. Hal ini diperkuat oleh penggunaan kata campaka dalam kutipan dari Kidung Sumanasantaka.

 

Kakawin Sumanasāntaka (Mati Karena Bunga Sumanasa)

Kakawin Sumanasāntaka (Mati Karena Bunga Sumanasa) merupakan salah satu sumber penelusuran jejak istilah karawitan dari sekitar 22 Naskah kesusastraan berbahasa Jawa Kuno awal. Tulisan ini merupakan bagian dari hasil penelitian yang berjudul “Melacak Jejak Karawitan dalam Naskah Jawa Kuno: Kajian Bentuk, fungsi, dan Makna”. 

Pembahasan ini dimaksudkan untuk memperjelas bentuk dan fungsi instrumen musik pada masa periode Jawa Timur sekitar abad ke-10. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yaitu, melalui tahapan heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi . Pada tahap heuristik ditemukan sebuah kakawin Sumanasantaka yaitu karya Worsley, P., S. Supomo, M. Fletchert dan T.H. Hunter. Tahun 2014, ditemukan juga tulisan berjudul Kakawin Sumanasāntaka, Mati Karena Bunga Sumanasa, Karya Mpu Monaguna. 

Bentuk dan fungsi Instrumen karawitan dalam kakawin Sumanasāntaka, tidak terlepas dari fungsi instrumen musik pada masa Jawa kuno yaitu sebagai sarana upacara dan sebagai pengiring kegiatan kebudayaan.

 

Asal Usul Filosofis Kakawin Sumanasantaka

Suatu tradisi yang menganggap bahwa sastra milik bersama, memberikan peluang besar pada penyalin untuk memasukkan pandangan-pandangannya, atau menafsirkannya seolah-olah bertindak sebagai pengarang. Kajian KakawinSumanasantaka adalah yang disebut  salah  satu  dari  sekitar  dua  puluh puisi  naratif  Jawa Kuno sebagai Kakawin,yang  datang  dari  Jawa masa  lampau. Kecuali Ramayana,yang  kemungkinan  besar  ditulis di Jawa Tengah  pada  pertengahan  abad  ke-9, semua Kakawinadalah  produk  kegiatan sastra pada periode Jawa  Timur dalam  sejarah  Jawa  antara  abad  ke-10  dan pertengahan  abad  ke-16. Hampir  semua Kakawinsecara  langsung atau tidak langsung  meminjam  tema  narasi  dari  berbagai  sumberIndia, sebagian  besar  dari epik Mahabharata dan Ramayana, Purana, serta Mahakavya. Adapun  narasi Sumanasantaka diambil  dari Raghuvamsa,  Mahakavya yang  ditulis  oleh  penyair kondang India abad ke-5 Kalidasa (S. Supomo, 2014:3).Namun  seiring  dengan  perjalanan  waktu  seperti  disampaikan  penyair dalam  bait-bait  penutup  karyanya, KakawinSumanasantaka yang  ditulis  oleh Mpu Monaguna  menggubah  kisah Sumanasantaka, ia mempersembahkan kakawinciptaannya  kepada Sri Warsajaya. Apapun  mungkin  terjadi,  tampaknya pasti bahwa Sumanasantaka telah lama menghilang dari percaturan sastra di tanah Jawa yang sampai kepada kita saat ini. Meskipun di tanah asalnya karya sastra ini telah lama menghilang, namun di Bali semua naskahnya masih  ada dan bertahan menghadapi  perjalanan waktu, berasal dari Bali dan memberikan  kesaksian  yang terang  benderang  tentang  kenyataan  bahwa  para  penyalin Bali dari generasi  ke generasi  terus  menerus  menyalin  kembali puisi ini di seluruh  Bali. (S.Supomo, 2014:25) salah satunya yang telah disalin Drs. I Ketut Sukanthajaya, dengan judul Lontar KakawinSumanasantaka,  jumlah  Lontar 151 lembar, ukuran Lontar : panjang 45 cm, lebar   3,5 cm, dan merupakan milik Pusat Kebudayaan Bali. Adapun ringkasan  isi Sumanasantaka menurut  Zoetmulder (1974  :  298-305), beserta isi dari yang disebut KakawinSumanasantaka memiliki   ciri struktural  dan  tematik, keseluruhan karya ini dibagi menjadi  11  episode, disertai nomor pupuh KakawinSumanasantakadan  diikuti  petikan Raghuvamsa (Rag). Hal tersebut bertujuan untuk memberikan gambaran asal-usul dalam karya ilmiah ini, agar penelitian menjadi lebih jelas dengan dukungan data yang akurat.

 

Sinopsis Kakawin Sumanasantaka

Penyair   memohon   kepadaSang   Mahadewa,   asal   muasal   dan   tujuan terakhir  puisi  ini  agar  berkenan  turun  ke  puisinya  yang  diumpamakan  sebagai candi.  Bercita-cita  menjadi  taruna  dalam  persaudaran  penyair,  sang  penyair mohon restu kepada Dewauntuk memulai ceritanya Sumanasantaka (Mati karena Bunga Sumanasa).

Episode 1: Penggodaan Trnawindu dan kematian Harini (1.3 -9.3)

Indra  mengutus  Harini  untuk  menggoda  Trnawindu. Dewa Indra  karena takut  kepada  brahmana  muda,  Trnawindu  yang  terkenal  dengan  keunggulannya dalam  bertapa,  mengutus  Dyah  Harini,  bidadari  paling  jelita  di  Surga  Wisnu, untuk menggoda sang pertapa. Karena rasa hormat dan dharma bakti kepada raja para Dewaitu,  Harini  bersedia  pergi  melaksanakan  titah  Indra.  Dia  berangkat pagi-pagi buta sendirian, dan secara rahasia. Mengetahui bahwa mengganggu tapa brata  pertapa  adalah  perbuatan  nista  yang  mendatangkan  bencana,  dia  tak  henti-hentinya  menangis,  meratapi  nasibnya.  Dia mengarungi angkasa,  menelusuri Sungai  Gangga.  Setelah melewati  pengunungan Windhya,  Gunung  Indrakila, Gunung  Rewataka  dan  Gunung  Gandhamadana,  dia  tiba  di  pertapaan  Trnawindu yang terletak di lereng selatan Himalaya. Di sana ia mandi di telaga.Harini   memasuki   pertapaan,   berjalan   lesu   tertatih-tatih   karena   baru pertama kali menginjakkan kaki di hutan pertapaan. Dia kemudian duduk di balai dan   menunggu   Trnawindu   yang   sedang   semedi   Siwa.   Selesai   bersemedi Trnawindu  keluar.  Ketika  melihat  perempuan cantik  duduk  di  balai  ia  mendekati perempuan itu. Meskipun perempuan itu bertelanjang dada, Trnawindu tak tergiur karena jiwanya telah ditempa oleh tapa yang berat. Tak ada secercahpun nafsu di hatinya.  Dia  menyambut  perempuan  itu  dan  bertanya  siapa  dia  dan  mengapa mengembara  di  hutan  sendirian.  Percaya  bahwa  perempuan  secantik  itu  tidak mungkin manusia, ia bertanya apakah perempuan itu datang dari surga  Indra dan apa   tunuannya.   Harini   menjawab   bahwa   dia  tidak   datang   dari   surge   Indra melainkan  diutus  oleh DewaDharma  untuk  melayani  Trnawindu  sebagai  hadiah atas keberhasilannya menyelsaikan semedi.Setelah  yakin  bahwa  perempuan  itu  datang  untuk  menggodanya  atas perintah  Indra,  Trnawindu  memelototinya  dan  menudingnya  dengan  tangan  kiri, mengutuknya  :  Harini  akan  menjadi  manusia  dan  tidak  akan  pernah  kembali  ke surga.  Menangis  sedih,  Harini  mohon  ampun  kepada  Trnawindu  dan  memohon belas kasihan para Dewa, tapi semua sia-sia. Para Dewadiam saja, takut bernasib sama seperti  Harini. Akhirnya  Bhagawan Trnawindu  merasa  kasihan  kepada Harini dan menetapkan  jangka  waktu  kutukannya.  Diberitahunya Harini bahwa suami  perempuan  itu  dalam  kehidupan  terdahulu  telah  lahir  kembali  sebagai Pangeran Aja, putra Raja Raghu, Harini kelak menikah   dengannya, dan melahirkan  anak. Tetapi bunga Sumanasa akan  menyebabkan kematian Harini dan mengakhiri  kutukannya.  Setelah  delapan tahun aja akan wafat dan mereka akan  hidup  bersama  lagi  di  surga.  Jadi akhirnya Harini menganggap  kutukan  itu sebagai berkah. Setelah menghormat kepada sang Bhagawan, Harini menemui ajal di  tempat ia menggoda  Trnawindu, DewaAgni  muncul  dari  jasad  Harini,  dan jasad itupun terbakar habis.

Episode 2 : Kelahiran dan masa kecil Putri Indumati (10.1 –15.2).

Harini terlahir di Widarbha sebagai  Indumati, anak  perempuan raja  yang memerintah bangsa Krathakesika, dirawat dengan penuh kasih  sayang oleh para dayang, dan para abdi. Ketika berumur dua belas tahun, tibalah  waktunya  tampil di  istana  sebagai  seorang  gadis. Raja sangat menyayanginya dan member apaun yang menyenangkan putrinya dan  memanjakannya. Namun raja sudah tua dan sakit parah. Mengetahui  ajalnya  sudah  dekat  ia  mengumumkan  bahwa  putranya Bhoja,  akan  menggantikan  menjadi  raja  serta  menyuruh  Bhoja  untuk  merawat adiknya dan berpesan kepada Indumati agar berbakti kepada kakaknya.

Episode 3 : Persiapan Swayembarauntuk Putri Indumati (15.3 –21.6).

Pangeran Bhoja naik tahta.  Dibawah pemerintahannya, negeri Widarbha makmur, dan tidak ada kejahatan. Indumati tumbuh Dewasa dan tiba  waktunya menikah. Bhoja memutuskan bahwa Indumati harus   dinikahkan   melalui Swayembara. Raja mempertimbangkan perkara ini  masak-masak  bersama Ratu dan mengumumkan niatnya tersebut kepada kerabat istana. Diminta pula perkenan Raja Raghu agar Pangeran Aja dapat hadir memenuhi undangannya. Kabar bahwa Aja  akan  datang  menyebar dengan cepat kekalangan kerabat istana. Dayang kesayangan  sang  putri, Jayawaspa khusunya menantikan  kedatangan  Pangeran Aja, karena berharap sang pangeran akan hadir ditemani penyair muda, Kawidosa.  Sebelum menjadi abdi sang putri, Jayawaspa dikenal sebagai  Madhudaka,  dan Kawidosa yang dulu dikenal sebagai Madhusudana, adalah kekasihnya. Orang tua Jayawaspa  tidak  merestui  hubungan  mereka, dan ketika mencoba kawin  lari, mereka dipaksa  berpisah.  Madhidhaka dikirim menjadi abdi putri Indumati dan diberi nama  Jayawaspa, sedangkan si penyair muda melarikan diri ke Ayodhya dan menjadi abdi Pangeran Aja.

Episode  4  :  Perjalanan  Pangeran  Aja  ke  Widarbha  untuk  mengikuti Swayembara.

Pangeran  Aja memohon diri kepada orang tuanya sebelum berangkat dari Ayodhya.  Raja  member  wejangan  sementara  ibunya  memberi  semangat  bahwa putranya  pasti  Berjaya  dalam  ajang Swayembara.  Kemudian  sang  pangeran berangkat  diiringi  rombongan  besar  dengan  para  Brahmana,  Resi,  pemuja  Siwa dan  penganut  Buddha  di  barisan  terdepan.  Kawidosa  adalah  abdi  setia  sang pangeran.  Pangeran  Aja  dan  rombongan  meninggalkan  Ayodhya  dan  menempuh perjalanan melalui pedesaan, persawahan dan mengunjungi berbagai pertapaan. Ketika  mereka  tiba  di  sungai  Narmada,  pasukan  diperintahkan  berhenti dan   mendirikan   tenda.   Tiba-tiba   seekor   gajah   meneyerang   mereka.   Dalam pertempuran yang terjadi kemudian, Pangeran Aja memanah kepala gajah itu dan membunuhnya.  Pada  saat  itulah  bangkai  gajah  menjelma  menjadi widhyadara. Namanya Priyambada,  putraCitraratha, raja gandharwa. Sebagai  tanda  terima kasih Priyambada menghadiahi Aja senjata Sangmohana atau “Lelap” panah yang tidak   membunuh,   tetapi   membius   musuh.   Selanjutnya   Pangeran   Aja   dan rombongan melintasi alam liar di pesisir dan pegunungan berhutan. Dan akhirnya sampailah rombongan Pangeran Aja di Widarbha.

Episode  5  :   

Dalam  episode  5  dilakukan  upacara pidudukan yaitu  suatu upacara   pranikah   untuk   Indumati   dilakukan   di   bagian   dalam   istana.   Dia mengenakan   busana   lengkap   nan   indah   dan   duduk   di   balai pamidudukan, dikelilingi  para  kerabat  istana  mereka  menari  dan  menyanyi  serta  sang  putrid menghadiahkan berbagai lencana kepada para abdinya.

Episode 6 : SwayembaraPutri Indumati.

Dalam Swayembaraini semua peserta berkumpul di pelataran pertemuan. Satu  demi  satu, tujuh raja dan Pangeran Aja datang  ke  sana.  Kemudian  Putri Indumati  mendekati mula-mula Raja Magadha, lalu Raja Angga, Raja Aswanti,Raja Pratipa, Raja Susena, Raja Hemanggada, Raja Pandya, dan akhirnya Putri Indumati memilih Pangeran Aja sebagai suami.

Episode   7   :   Pernikahan   Pangeran   Aja   dan   Putri   Indumati.  

Prosesi pernikahan  Pangeran  Aja  dan  Putri  Indumati  dimulai  dari  upacara  ritual tawur, selanjutnya mengelilingi Agni, DewaApi, ritual peras, persenggamaan pengantin, upacara kraban  kalasa,maka berkahirlah  semua  prosesi  upacara  pernikahan Pangeran Aja dan Putri Indumati.

Episode  8  : 

Menceritakan  perjalanan  Pangeran  Aja  dan  Putri  Indumati  ke Ayodhya  setelah  menghadap  kepada  Raja  Widarbha  untuk  kembali  ke  Ayodhya namun di tengah perjalanan tujuh raja yang ditolak lamarannya  mencegat Aja dan Indumati, dengan mempergunakan panah api-Rudra dan tujuh Raja menembakkan panah-api  Durga.  Panas  yang  terpancar  dari  senjata  itu  menyebabkan  Narada meminta  kepada  sang  Pangeran  mematikan  api  senjatanya  dan  menggunakan senjata pemberian Priyambada, Sangmoghana. Akhirnya  Aja menang dan semua raja kembali ke kerajaan mereka masing-masing. Perjalanan dilanjutkan kembali.

Episode  9  :  Pangeran  Aja  dan  Putri  Indumati  akhirnya  tiba  di  Ayodhya.

Kepulangan Aja disambut raja dan ratu Ayodhya dengan senang sekali  melihat putra  mereka  memenangkan Swayembara.  Mereka  menyambut  Indumati  sebagai menantu. Dia istri yang cocok untuk Aja, bukan saja cantik tetapi juga keponakan mereka  sendiri.  Selanjutnya  Pangeran  Aja  naik  tahta mengganti raj yang sudah tua.  Raja Aja dan ratu Indumati  dikaruniai  seorang  putrabernama  Dasaratha. Kawidosa  dan  Jayawaspa  hidup  bahagia  sebagai  suami  istri dan menduduki jabatan tinggi.

Episode 10 :  Indumati kembali ke Surga (164.1-172.10).

Pada suatu hari Aja dan Indumati bersantai  di  taman  kerajaan,  sambil menikmati  keindahan taman yang  tampak asri bagai surge Dewa Kama. Mereka manndi  di  danau, setelah keluar dari air mereka menyusuri taman, kemudian beristirahat di balai mahari. Disana mereka membaca sajak yang ditulis oleh raja pada papan bambu. Ratu sangat terharu, dia menjadi cemburu tapi raja menenangkannya.  Dalam perjalanan   kembali   ke istana, mereka melewati lembah, jurang dan gua sepi.  Ketika tiba  di  istana,  mereka  beristirahat  di  bawah pohon karang. Sementara Raja dan Ratu menikmati kelezatan cinta, Dewa Siwa bersenang-senang  menghibur diri di Gunung Gokarna.  Itulah saatnya Siwa akan mengakhiri  kutukan  Bhagawan  Trnawindu  kepada  Dyah  Harini.  Tujuh  resi, Narada  yang  utama,  memohon  kepada  Siwa  agar  Harini  dapat  kembali  ke  Surga sebagai  bidadari.  Sangat  terharu  Siwa  memanggil DewaKama  (Madamastra), memasangnya  pada  tangkai  bunga sumanasa, dan  melepaskannya  ke  istana Ayodhya.  Terbawa  angin,  panah  itu  jatuh  ke  payudara  Indumati.  Ia  meninggal dipangkuan  Aja.  Tenggelam  dalam  keputusasaan,  Aja  pingsan.  Ketika  siuman  ia sangat   sedih   dan   mencaci   maki   bunga sumanasa. Mendengar   ratapan   raja, Indumati  hidup  lagi  dan  pamit mati  serta  mengungkapkan  harapan  semoga  kelak mereka  bersatu  kembali.  Setelah  melakukan  sembah  hormat  kepada  raja,  dia ambruk  di  pangkuan  suaminya  dan  mati. Jayawaspa  menyusul  Indumati  pergi  ke alam  baka  dengan  menikamkan  belati  ke  tubuhnya  sendiri.  Raja  menangis  dan berusaha membangunkan Indumati tetapi sia-sia.Ketika Raja sedang berduka, datanglah seorang resi tua utusan Bhagawan Wasista.  Dia  memberitahu  raja  penyebab  kematian  mendadak  Indumati,  bahwa dulu Dyah Harini diutus DewaIndra mengganggu tapa Bhagawan Trnawindu, san bhagawan  murka  dan  menjatuhkan  kutukan  bahwa  Dyah  Harini  akan  menjadi manusia  dan  tidak  akan  pernah  menjadi  Dewi lagi.  Dyah  Harini  menangis  dan memohon agar sang bhagawan bermurah hati kepadanya. Sang bhagawan iba dan menganugrahinya penawar kutukan berwujud bunga sumanasa. Dyah Harini mati di  pertapaan  itu  dan  terlahir  kembali  sebagai  Indumati,  putri  kerajaan  Widarbha. Dalam swayambarayang digelar untuknya, dia ingat pernah menikah dengan Aja di  surga.  Maka  dia  memilih  Aja  sebagai  suami.  Sekarang  karena  kutukan  telah berakhir, dia menjadi putri Dewalagi dan kembali ke surga Indra. Jasad sang ratu diperabukan dan Aja ditinggalkan di dunia selama delapan tahun.

Episode 11 : Raja mangkat dan bersatu kembali dengan Indumati.

Setelah kematian Indumati, Raja Aja menjadi murung karena merindukan mendiang  istrinya.  Sesudah  delapan  tahun  berlalu,  Pangeran  Dasarata  naik  tahta. Tak lama kemudian Aja beserta Kawidosa mengakhiri hidup dengan mencebur ke pertemuan  Sungai  Gangga  dan  Sungai  Sarayu.  Dengan  mengikuti  petunjuk  yang terkandung dalam sebuah puisi yang ditinggalkan Indumati untuk mereka, roh Aja dan  kawidosa  menemukan  jalan  ke  surga  dan  bertemu  dengan  instri  tercinta  di taman Nandana. Di sana Aja dan Indumati hidup bahagia bersatu dalam cinta satu sama lain.

 

Epilog (182.3-183.2)

Tamatlah kisah Sumanasantaka sebagaimana yang diceritakan dalam kitab Raghu. Kitab ini telah digubah ke dalam bahasa pribumi dalam   bentuk kakawinuntuk dipersembahkan kepada raja seperti layaknya air suci. Inilah upaya pertama untuk menulis puisi naratif oleh Mpu  Monaguna, murid  Sri Warsajaya, guru terkenal dalam seni syair. Akhirnya pengarang memohon berkah bagi semua orang yang membaca,  mendengarkan, menyalin dan memiliki kitab Sumanasantaka. Semua  uraian diatas, untuk  memberikan gambaran mengenai ringkasan cerita tersebut sesuai dengan sumber cerita aslinya.

 

1. Ajaran Tatwa Dalam Kakawin Sumanasantaka

Intisari dan dasar dari keyakinan umat Hindu adalah Panca Sradha. Dalam ajaran  agama  Hindu  Panca  Sradha  merupakan  lima  dasar  keyakinan  umat  Hindu yang terdiri dari Widhi Sradha,  Atma Sradha, Karmaphala Sradha, Punarbhawa Sradha, dan Moksa Sradha. Adapun  pokok-pokok  ajaran  agama  Hindu  yang terdapat dalam KakawinSumanasantakaadalah sebagai berikut :

Ajaran Karmaphala Sradha Karmaphala adalah keyakinan tentang kebenaran adanya karmaphala atau hasil perbuatan. Setiap perbuatan baik(susila) atau perbuatan buruk (asusila) yang kita lakukan pastinya nanti akan mendapatkan hasil yang sesuai dengan yang kita perbuat, perbuatan baik yang kita tanam maka hasil yang dipertik pun adalah hasil yang  baik  pula  begitu  juga  sebaliknya.  Karmaphala  inilah  yang  akan  membawa roh  kita  setelah  meninggal  akan  mendapatkan  tempat  yang  bagaimana. Sang Hyang Yamadipati sebagai Dewa Dharma tentunya akan mengadili setiap manusia sesuai  dengan  perbuatnnya  selama  hidup  di  dunia,  apakah  akan  mendapat  sorga atau  neraka.  Tetapi  sebagai  umat  Hindu  tujuan  kita  mendapat  sorga  atau  neraka kita  akan  dilahirkan  kembali  di  dunia  tetapi  jika  kita  bisa  mencapai  moksa  kita akan  mengalami  kebahagiaan  yang  tertinggi  karena atma telah  bersatu  dengan Brahman / Ida  Sang Hyang Widhi  Wasa. Ada  cara  untuk  membebaskan  diri  dari hukum karma yang selalu mengikat  diri  kita  oleh ikatan duniawi yaitu dengan cara mengubah perbuatan dan hasilnya  menjadi  yoga, maksudnya   segala perbuatan  dan  hasil yang  kita lakukan  dan kita  peroleh wajib dipersembahkan dahulu kepada Ida  Sang Hyang Widhi Wasa, karena kita yakin semua yang ada dan aka nada berasal dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa.Adapun  pembagian Karmaphalaadalah  sebagai  berikut  : 

(1) Sancita Karmaphala, yaitu phala dari perbuatan kita terdahulu yang belum habis dnikmati dan   masih   merupakan   benih-benih   yang   menentukan   kehidupan   kita   yang sekarang;  

(2) Prarabda   Karmaphala, yaituphala   dari   perbuatan   kita   pada kehidupan   ini   tanpa   ada   sisanya;  

(3) Kriyamana   Karmaphala, yaitu   hasil perbuatan yang tidak sempat dinikmati pada saat berbuat sehingga harus diterima pada kehidupan yang akan datang. Keyakinan terhadap adanya karmaphala dalam KakawinSumansantaka dinyatakan  dalam  pupuh  7  wirama Jagadnathabait  20, 21, adalah sebagai berikut :

Nahan rasa ni de nikanangis aminta winaluyaken ing kaDewatan,Udhani bhagawan pangawruhana de nira mulat amanis wawang lipur,Apuy siniram ing jawuhpada ni sungsut ira tan agegeh wawang padem,Sereh wangi lawan duh ing wwah arames ri waja pada ni de nirangucap.(Sumanasantaka, 7: 20)

Terjemahan :

Begitulah ratapannya saat memohon dikembalikan ke alam Dewa. Dilihat dari  tatap  lembutnya  dan  sikapnya  yang  tiba-tiba  tenang,  sang  maha Begawan  pasti  telah  kembali  menguasai  diri.  Bagai  api  tersiram  hujan, amarahnya  berkelip-kelip  dan  padam.  Ketika  ia  bicara,  seolah  daun  sirih wangi dan sari buah pinang berkelindan di giginya. (Sumanasantaka, 2014 : 79)

Paran karika tan sihangkwa ri kitanaku kita karikapan uttama,Manusya tuwi sawakanya yan aton mara-mara hinidep kadang-kadang,Kunang sang agawe laranta paramartha nira sira bhatara Sangkara.Lukat ni kapalang nikang sukrta marga ni kapalang I denta Dewati. (Sumanasantaka, 7: 21)

Terjemahan :

Bagaimana  mungkin  aku  tidak  bersimpati  padamu,  Nak,  karena  kau memang   paling   cemerlang.   Bahkan   kalaupun   kau   menjadi   manusia, apapun  yang  kau  inginkan  akan  terkabul  dan  sanak  kerabatmu  akan mengasihimu. Yang menyebabkan kau berduka, dalam  kenyataannya, DewaSangkara. Kebebasan  dari  kekangan  yang  dikenakan  pada  mereka yang  melakukan  perbuatan  baik  adalah  adalah  alasan  kenapa  kau  tidak diperkenankan menjadi Dewi lagi. (Sumanasantaka, 2014 : 79). Dari  kutipan  di  atas  dapat  disimpulkan  bahwa phala atau  hasil  perbuatan Dyah Harini yang baik akan memperoleh hasil yang baik pula. Begitupun setelah terkena  kutukan  karena  melaksanakan  swadharma  sebagai  seorang  abdi,  beliau akan  memperoleh  kebebasan  dari  perbuatan  yang  buruk  dengan  menggoda  tapa seorang Begawan yang suci dan mulia.

2. Ajaran Punarbhawa Sradha

Punarbhawaatau kelahiran yang berulang-ulang di dunia ini disebut juga penitisan atau samsara. Kelahiran yang berulang-ulang di dunia ini akan berakibat suka dan duka. Punarbhawa atau samsara ini terjadi karena jiwatma terbelenggu oleh maya atau kenikmatan duniawi. Punarbhawa atau Samsara erat sekali kaitannya dengan karma, karena karma itulah  yang menyebabkan  penitisan  dan pembebasan atau Moksa. Dalam KakawinSumansantaka dinyatakan dalam pupuh 7 wirama Jagadnathabait 22, 23, 24 dan 25 adalah sebagai berikut :

Priyanta ring anadijanma dadi manusa lituhayu suryawangsaja,Narendra Raghu rakwa manak aniru prakasitasubhageng purantara, Apanjy Aja dhanurdharanwam isi ning Raghunagara turung smaraturaTuhun kita dine bhatara yugalanya muwah akurenasihe kita. (Sumanasantaka, 7: 22)

Terjemahan :Suamimu dalam kehidupan terdahulu telah menjadi manusia tampan yang lahir  dari  wangsa  Surya.  Konon  Raja  Raghu  memiliki  anak  yang  sebagai dirinya sendiri, terkenal dan ternama di kerajaan lain. Putra Mahkota Aja, seorang pemanah, muda belia dan permata   kerajaan   sesungguhnya mengalami  sakitnya  cinta.  Sesungguhnya Dewa telah  menakdirkanmu menjadi istrinya, dan kau akan menikah dengan orang  yang mencintaimu. (Sumanasantaka, 2014 : 79). Dari  kutipan  di  atas  menyatakan  bahwa  pada  saat  manusia  menjelma dipengaruhioleh   hasil karmabaik   ataupun karmaburuk  terdahulu  yang mempengaruhi  kelahiran  kembali  atau punarbhawa. Adapun Dyah  Harini  yang telah  menerima  kutukan  dari  Bhagawan  Trnawindu  akan  bereinkarnasi  menjadi Indumati dan akan menikah dengan Pangeran Aja. Dia menerima kutukan menjadi sebagai  berkah  berkat  karma  baiknya  taat  akan  swadharmanya  sebagai  seorang bidadari.  Nantinya  setelah  menjalani  reinkarnasi  menjadi  putri  Indumati  dan menjadi  istri  Pangeran  Aja,  dalam  masa  kehidupan  berumah  tangga  beliau  akan mendapatkan kebahagiaan sesuai dengan hasil karmanya terdahulu.

3. Ajaran Tri Hita Karana

Bersahabat  dengan  alam  adalah  satu  unsur  dari  filsafat  tiga  keselarasan (Tri Hita Karana) yang lahir dari perpaduan religiositas Hindu dan kearifan adat-istiadat Bali.  Dua unsur lainnya adalah relasi  berkeseimbangan  antara manusia dan manusia,  serta  hubungan yang  vertical dengan Tuhan. Ketiga unsur itu tidak dapat dipisahkan satu   dengan  lainnya,  tetapi  harus menyatu sebagai suatu kesatuanyang berkeseimbangan. Praktek adaptasi itu di Bali adalah dengan selalu menjaga  keseimbangan antara “pengambilan” dan “pengembalian”.  Artinya pemanfaatan sumber-sumber daya alam harus dikembalikan,     bahkan pengembaliannya dengan jumlah yang lebih banyak. Inilah esensi pelestarian dan pengembangan. Banyak seniman-seniman Bali yang  menggunakan  tema  berdasarkan Tri Hita Karana, hal ini disebabkan karena Tri Hita Karanasecara visual merupakan sebuah  konsep yang  sangat menumental dan bersifat adi  luhung. Pancaran  nilai estetik  yang  sangat tinggi memberikan daya tarik yang sangat kuat bagi para penciptaannya. Pencipta sangat tertarik mengangkat Tri Hita Karanadi  Bali sebagai sumber ide penciptaan karya seni karena upacara-upacaranya sangat unik dan artistik dengan penuh variasi yang ditemukan dalam setiap upacara yang ada di Bali.Dengan  demikian  betapa  perlunya  kita  mengamalkan Tri  Hita  Karana. Untuk menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia   dan   manusia   dengan   lingkungan.   Dalam Kakawin Sumanasantaka terdapat ajaran Tri Hita Karana yaitu :

a. Parhyangan

Hubungan  Manusia  dengan  Tuhan  (Parhyangan)  dapat  dilihat  dari  kutipan KakawinSumanasantaka,  pupuh  3,  Wirama Nawaharsa   bait  1-3,  sebagai berikut :

Bhagawan Trnawindu sedeng ajapa nitya Siwasmarana, Asamadhi kumol katemu hening I buddhi nira n humeneng, Dwija sukla susila sira pinakadarsana ring patapan,Kadi Waisnawawimba pawulatan ira n pamuter guduha.( Sumanasantaka, 3: 1)

Terjemahan :

Begawan  Trnawindu  tak  henti  menggumamkan  doa  dalam  semedi  Siwa. Pikirannya  terpusat,  inderanya  terkendali.  Kesadarannya  bening  dalam hening.  Ia  Brahmin  berjiwa  suci  dan  mulia,  teladan  bagi  semua  penghuni pertapaan.  Saat  memutar  tasbih,  ia  mirip patung  Wisnu.  (Sumanasantaka, 2014 : 61).

Dari kutipan kakawindi atas dapat disimpulkan bahwa hubungan manusia dengan Tuhan  dapat  dilihat  dari  bakti  sang  Brahmin  muda  yang  bernama  Bhagawan Trnawindu    yang    sangat    khusuk    bertapa    memuja DewaSiwa,    dengan menghilangkan   segala   hawa   nafsu   sehingga   tapa   beliau   tidak   tergoda   oleh bidadari sebagaimanapun cantiknya Dyah Harini yang dititahkan oleh DewaIndra untuk  menggoda  tapa  beliau,  tetap  tidak  bergeming,  bahkan  saking  marahnya beliau  mengutuk  Dyah  harini  untuk  menjelma  menjadi  manusia  selamanya  di bumi.

b. Pawongan

Hubungan  Manusia  dengan  manusia  (Pawongan)  dapat  dilihat  dari  kutipan KakawinSumanasantaka,  pupuh  16,  Wirama Sardulawikridita   bait  4 –5, sebagai berikut :

Yawat dharma ngaranya ring dadi manusyawashiweh yan pinet,Lwir suksma maganal bhatara gumawe tingkahnya yan mangkana,Yadyastusn jalu-jalw amerta swawanyeng janma haywasali,Byakteweh niki kimpunah kita yan ing stri-stri n mameta priya.( Sumanasantaka, 16 : 4)

Terjemahan :

Berusaha menjalankan kewajiban jelas tak mudah bagi seorang manusia.Dalam   bentuk   materi   atau   non   materi, Dewata   telah   menggariskan semuanya.Jika pria mencari pasangan yang sederajat, ia tidak perlu ragu.Jelas lebih sulit bagimu sebagai wanita untuk mencari suami.(Sumanasantaka, 2014 : 115)

Dari kutipan kakawindi atas dapat disimpulkan bahwa hubungan manusia dengan manusia dapat dilihat dari adanya janlinan hubungan kekerabatan antara kakak Sri Indumati  yang  akan  menikahkan  adiknya  dengan  para  raja  atau  pangeran  dariseluruh  kerajaan,  dan  Sri  Indumati  disuruh  untuk  memilih  suami.  Dari  hubungan tersebut  akan  terlihat  adanya  hubungan   yang  harmonis  antara  manusia  dan manusia dengan ikut sertanya para raja mengikuti swayambara.

c. Palemahan

Hubungan  manusia  dengan  lingkungan  (  Palemahan  )  dapat  dilihat  dari kutipan   KakawinSumanasantaka,  pupuh  30,  Wirama Basantatilakabait  2 –6, sebagai berikut :

Lwah Narmada katemu de naranathaputra,Sang brahmanasabha –sabha ri ya sari-sari,Atyanta nirmala pangawruhane suciya,Marmanya n uttama wijilnya sakeng sasangka.( Sumanasantaka, 30 :2)

Terjemahan :

Pangeran tiba di Sungai Narmada. Tempat Brahmin berkumpul setiap hari. Tanda kemurniannya ialah bahwa sungai ini benar-benar tanpa cela. Sungai ini begitu mulia karena lahir dari bulan. (Sumanasantaka, 2014 : 161)


Hangsaputih ri tengah adyus angumbang-umbang, Kombak tinub ing angin adres anginggek-inggek,Mogararas-raras arum karengo swaranya,Kady awarah yan alango ri hananya ring wwai.( Sumanasantaka, 30 :6)

Terjemahan :

Angsa-angsa putih mandi, mengambang di tengah sungai.Mereka   bergoyang   di   gelombang   yang   diaduk   angin   kencang   dan mengombak.Tiba-tiba seruan mereka yang lembut menawan bisa didengar,Seolah mereka mengabarkan betapa indah berada di air. (Sumanasantaka, 2014 : 161). Dari  kutipan di atas dapat  disimpulkan,  bahwa  ajaran Tri  Hita  Karanapada bagian Palemahan yang terdapat dalam KakawinSumanasantakadilihat dari menceritakan  keindahan alam  di  Sungai  Narmada pada cerita pertemuan antara Pangeran Aja dengan  Pryambada di Sungai Narmada. Begitu  keindahan yang terdapat di Sungai Naramada sehingga menyebabkan adanya  hubungan  yang harmonis  antara  makhluk  hidup  dengan  alam  di  sekitarnya.  Dengan terjalinnya hubungan yang harmonis antara manusia dengan    lingkungan sekitar mengakibatkan  tumbuhnya  bunga-bunga  yang  indah  sehingga menarik perhatian bagi orang melihat dan berteduh di sekitar Sungai Narmada.

 

 

 

 

 

 

 

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)