SUGIH TANPA BANDHA, DIGDAYA TANPA AJI, NGLURUG TANPA BANDA, MENANG TANPA NGASORAKE

0

SUGIH TANPA BANDHA, DIGDAYA TANPA AJI, NGLURUG TANPA BANDA, MENANG TANPA NGASORAKE 




Ada empat filosofi kehidupan orang Jawa yang sangat terkenal

Yaitu Sugih tanpa bandha, 

Digdaya tanpa aji, 

Nglurug tanpa bala, dan 

Menang tanpa ngasorake

Yang terakhir ini merupakan konteks kororidor dalam pola relasi dan penyelesaian konflik antarpribadi atau kelompok orang boleh (tidak harus) menang asal tidak dengan menjadikan pihak lain merasa direndahkan

Karena kemenangan dengan merendahkan lawan hakikatnya tidak berarti :

1. Pertama, persaudaraan menjadi bubar. 

Padahal, kita diperintahkan menjaga persaudaraan dan menjalin silaturrahim (hubungan kasih sayang). Bila perlu harus bisa menghapus kesalahan untuk memelihara persaudaraan, bukan sebaliknya menghapus persaudaraan hanya karena satu kesalahan.

2. Kedua, pasti akan kehilangan kawan dan melahirkan musuh

Orang yang merasa direndahkan, pasti akan selalu mencari kesempatan untuk bisa membalas kekalahannya. 

Hal ini tentu tidak membuat tenteram, karena kawan seribu terlalu sedikit, musuh satu terlalu banyak.

Ketiga, kemenangan dengan merendahkan lawan tidak akan membawa kemuliaan

Tidak akan ada orang yang hormat kepada kita karena kemenangan itu

Karena nasihatnya adalah “Wani ngalah luhur wekasane” 

Berani mengalah (bukan kalah) akan mulia akhirnya

Hidup ini sangat singkat

Dan kita tak bisa hidup tanpa orang lain di sekitar kita

Akan sangat rugi bila harus memendam rasa tak suka

Apa lagi sampai menanam bibit permusuhan

Pasti kita tidak akan menuai kedamaian

Dan jauh dari rahmat-Nya


إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. 

Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat (Q.S. Al-Hujurat (49): 10)


Sugih tanpa Bandha, Digdaya tanpa Aji, Nglurug tanpa Bala, Menang tanpa Ngasorake. Secara harafiah dapat diartikan: Kaya tanpa Harta, memiliki Kesaktian tanpa Ilmu/benda pusaka, Menyerang tanpa bala Pasukan, Menang tanpa Merendahkan.

1. Sugih tanpa bandha. Sugih tanpa bandha, kaya tanpa harta. Kaya yang dimaksud sebenarnya adalah tidak berkekurangan, artinya bukan semata-mata harta yang menjadikan tolok ukur. Kaya yang dituju dalam hidup bukanlah pengumpulan harta benda dan uang selama hidup.Tidak berkekurangan karena kita mempunyai relasi yang banyak, pertemanan yang banyak, dimana relasi tersebut membuat kita selalu mudah untuk melakukan segala sesuatu, karena relasi kita, teman-teman kita secara langsung / tidak langsung mau membantu kita, bahkan dengan sukarela / ikhlas. Hal tersebut sebenarnya berawal dari kita sendiri, dimana kita juga dituntut sebelumnya mau melakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati, bahkan tanpa imbalan sekalipun. Dengan demikian, dalam kehidupan kita, budi baik kita, akan senantiasi diingat orang lain, dan suatu waktu kita membutuhkan bantuan / pertolongan orang lain, orang lain yang juga dengan sepenuh hati menolong kita / membantu kita, juga tanpa imbalan.

2. Digdaya tanpa aji Kekuasaan sering kali tercipta karena suatu kemenangan fisik, kemenangan mental. Ungkapan Jawa ' digdaya tanpa aji ' tersebut di atas, kata-kata kekuasaan bukan juga karena kita mempunyai suatu ilmu beladiri / ilmu tenaga dalam / aji-aji. Namun disini, suatu kekuasaan tercipta karena citra dan wibawa seseorang, perkataannya, membuat orang lain sangat menghargainya. Sehingga apa yang diucapkannya, orang lain senantiasa mau mengikutinya.

3. Nglurug tanpa bala Ungkapan Jawa nglurug tanpa bala dapat di artikan secara harafiah ' menyerang tanpa pasukan '. Di sini memiliki arti bahwa kita haruslah menjadi orang yang berani bertanggung jawab, berani untuk beraksi walaupun terkadang tinggal kita sendiri. Sikap ini adalah mencontoh sikap kesatria, yang mana bukanlah orang yang mudah untuk terhasut, ikut-ikutan, tetapi lebih cenderung kepada orang yang berani maju, berani meghadapi masalah, berani untuk bertanggung jawab, walaupun yang lainnya mundur / lari dari masalah tersebut.

4. Menang tanpa ngasorake Ungkapan Jawa menang tanpa ngasorake tersebut memiliki arti bahwa tujuan pencapaian kita yang kita harapkan, kemenangan yang kita inginkan, haruslah tanpa merendahkan orang lain. Secara modern filosopi ungkapan ini sama dengan ' win win solution ', yang memiliki arti semua pihak yang berselisih paham memiliki hasil yang menguntungkan untuk semuanya.

Ungkapan Jawa ( Lokal / Indonesia ) sugih tanpa bandha, digdaya tanpa aji, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake tersebut di atas dapat di jadikan pedoman berperilaku dalam hidup kita. Filosofi yang sangat mendasar, yang akan membuat hidup kita menjadi kehidupan yang lebih indah, tanpa merendahkan orang lain, kehidupan yang di isi dengan sikap-sikap kesatria, kehidupan yang jauh dari keserakahan.


Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)