SARESMI

0

SARESMI

 











Saresmi atau berhubungan badan alias bahasa modernnya sexual contact dalam alam budaya Jawa mempunyai aturan yang njlimet,di mulai dari sebelum intercouse sampe setelahnya, kitab kitab jawa kuno telah menerangkan dalam bahasa sastra yang tinggi bahwa intercouse adalah simbol bersatunya lingga dan yoni, alam mikrokosmos dan makrokosmos.

Kitab-kitab Jawa kuno yang memuat aturan-aturan saresmi ada dalam kitab atau serat :

1.     Cethini.

2.     Candrarini.

3.     Nitimani dan beberapa kitab yang lain.

Salah satu petikan kidung tentang indahnya budaya jawa dan hal hal diatas adalah dari serat wulang putri dibuat oleh paku buwana ke 9 di serat ini ditunjukan bahwa adanya penhormatan para orang jawa lama terhadap wanita,jadi wanita bukan di tempatkan sebagai object semata, sebagaimana ada kalimat wanita sebagai konco wingking,yang bermakna kalo wannita di konco wingking tentunya sang lelaki ada di depan dan itu berarti keseimbangan alam.

 

dhu ngger purti putrinisun

nadyan wis kanthi pinashi

marang hyang kang murbeng tita

grahitaning para putri

saprahastaning para putra

arantaraning pamikir

 

marmeng ngger aywa sireku

pasang sumeh jroning ati

katitik tyas lan sambada

marang apngaling hyang widhi

kang widagda thu awignya

anyolaken barang maring

 

iya ing manungsa sagung

luwih maning dera kardi

solah bawaning marendra

kang datan sepi pambudi

nggyannya angampil agama

kasucian kang dumadi

 

Budaya Jawa menempatkan aspek cinta asmara dalam bingkai kesucian, seksualitas berkaitan dengan sakralitas. Oleh karenanya dikenal adanya istilah bibit, bebet, bobot yang mengandung makna kualitas mental, moral dan spiritual. Orientasinya adalah untuk mencari wiji sejati, yaitu generasi penerus yang mempunyai keyakinan dan kepribadian.

Masing-masing bangsa mempunyai tradisi yang berkaitan dengan masalah percintaan. India memiliki Kamasutra. Tiongkok mempunyai buku Shu Ni Jing, Hung Lou Meng dan Yin Yuan Thu yang mengupas ajaran seks secara hampir paripurna. Kitab-kitab tersebut selalu menjadi rujukan dan pedoman bagi mereka yang belajar seks sebagai suatu ilmu. Para cendekiawan Jawa mengungkapkan sisi erotis kehidupan manusia dalam bentuk kesusastraan yang bernilai estetis. Disana terdapat keutamaan yang dapat digunakan sebagai kaca benggala atau referensi dalam kehidupan sehari-hari.

 

SEKAR ASMARADANA

Gegarane wong akrami,

dudu bandha dudu rupa,

amung ati pawitane,

luput pisan kena pisan,

yen gampang luwih gampang,

yen angel angel kelangkung,

tan kena tinambak arta.

Sekar asmarandana di atas memuat pesan tentang syarat utama hubungan pria wanita ketika hendak membangun sebuah rumah tangga. Modal utama berumah tangga bukanlah harta maupun benda, namun tekad hati yang bulat. Itulah pedoman hidup yang harus diyakini setiap insan yang akan berkeluarga. Mangun bale wisma, sekali tergores akan terluka. Jika dimulai dengan keutamaan akan berbuah kemuliaan.

 

Kitab Shu Ni Jing memuat tata cara kehidupan seks dan seni ranjang yang tersusun dalam kalimat-kalimat indah penuh nuansa sastra dan simbol-simbol untuk menggambarkan alat kelamin manusia dan kegiatan bersenggama. Buku tersebut merupakan tuntunan yang membawa pada intisari kenikmatan senggama. Dalam buku itu diajarkan teknik-teknik dan rahasia untuk mencapai ke puncak hubungan seksual. Para pasangan akan merasakan bagaimana nikmatnya bersenggama itu, sehingga mereka memahami betapa indahnya bercinta dan kenikmatan hubungan seks.

Hal yang sama juga terdapat di Jawa, yakni Serat Nitimani dan Serat Kamawedha. Kedua kitab tersebut memberikan panduan yang cukup memadai tentang seksualitas Jawa. Sedangkan kaitan seks dengan pengobatan tradisional dapat kita jumpai dalam Primbon Jalu Usada dan Primbon Wanita Usada. Untuk kisah-kisah petualangan seksual yang moderat dapat dibaca dalam Serat Centhini. Sementara, kitab-kitab pelajaran tentang kewanitaan bisa dilihat pada Serat Candrarini, Serat Wulang Putri, Serat Darmarini atau juga Serat Nitisastra dan Serat Yadnyasusila.

 

Serat Nitimani menuturkan bahwa masyarakat Jawa telah lama mengembangkan bentuk-bentuk, teknik, metode, pengobatan, mantra bahkan ilmu pengasihan yang ada kaitannya dengan seksualitas. Dalam Serat Sasana Sunu diajarkan tata krama dan sopan santun ini. Di dalam primbon, masyakarat Jawa menyusun ilmu petung yang berkaitan dengan kehidupan seksual, tentang kalender seksual, waktu-waktu terbaik untuk bercinta, cita rasa perempuan yakni tempat-tempat sensitif di tubuh perempuan dan kenikmatan seks berdasar pada bentuk genetikal perempuan, serta tata krama seksual dan pose-pose yang dapat melahirkan kenikmatan dalam hubungan seks. Semua itu disusun untuk mendapatkan kenikmatan seksual secara optimal.

Dalam kitab-kitab klasik tersebut, hubungan percintaan disebut dengan berbagai macam istilah seperti among tresna, among asmara, among sih, among resmi, among saresmi, among lulut, salulut, saresmi, jimak, andon asmara, andon lulut, andon resmi, awor jiwa, aworsih, karon asmara, karonsih, dan sacumbana. Semua istilah itu mengacu untuk cinta, asmara, kasih, percumbuan dan seks.

Tanda-tanda awal bangkitnya gairah kasih istri dalam menanggapi tantangan awal gairah kasih suami yakni munculnya aroma khas berupa aroma jiwa (yang warna aromanya tidak ada persamaannya dengan aroma apapun), yang merupakan tanda mulai mengalirnya semangat (spirit) istri, yang membukakan seluruh syaraf rasa dan terbukanya alur/lorong kantung sarung janin wanita/saluran telur, dan siap bergeraknya indung telur menuju rahim sebagai tanda siap dimulainya penyatuan dua alat vital suami-istri.

Meruhi merupakan pantangan yang tidak boleh dilanggar, yakni melihat wewadi (rahasia/kemaluan) istri dan melihat air mani sang istri. Kedua hal yang sangat rahasia itu sebaiknya diketahui secara nalar (pengetahuan akal tanpa menyaksikan dengan mata kepala sendiri), yakni melalui sumber bacaan/pustaka yang berkaitan dengan kehamilan dan kelahiran anak manusia. Pantangan tersebut bukan berlandaskan kepada pemahaman rasional, tetapi pada pemahaman rohaniah. Yakni munculnya rasa malu dan kecewa, rasa harga diri yang tergores sebagai bentuk kesadaran moral dan akhlak. Rasa kecewa itu akan membekas dan mempengaruhi emosional wanita sebagai ‘pemegang pintu surga dunia dan akhirat’. Pengaruhnya akan mengotori cipta batin kedua belah pihak.

 

Pengembangan Olah Rasa

Pada masa kejayaan kraton Jawa, seksualitas telah menjadi bagian integral dalam kehidupan dan ekspresi seni-budaya Jawa. Dalam Serat Centhini, masalah seksual menjadi tema-tema sentral yang diungkap secara terbuka tanpa tedeng aling-aling, sangat paradoks dengan etika sosial Jawa yang puritan dan ortodoks.

Dalam serat ini, masalah seksual dibicarakan dalam berbagai versi dan kasus. Seperti misalnya menyangkut masalah pengertian, sifat, kedudukan, etika dan tata cara bermain seks, gaya (style) persetubuhan, dan lain-lain. Selain itu masalah seks juga dibicarakan dalam banyak varian lain, seperti seksual dalam hubungannya dengan perkawinan, kesetiaan pasangan suami istri, kisah-kisah perkosaan. Bahkan seks juga dibicarakan dalam kaitannya dengan penikmatan hidup atau pelampiasan hasrat-hasrat hedonisme. Bahkan sampai masalah teologi seks, yang mengaitkan seks dengan asal usul manusia dan ilmu kasunyatan. Orang Jawa Klasik membagi ajaran bercinta menjadi lima titik perhatian, yakni Asmaratura, Asmaraturida, Asmaranala, Asmaradana, Asmaratantra dan Asmaragama.

 

Asmara Nala

Disebut juga sengseming nala. Kedua insan yang bercinta hendaknya dilandasi cinta kasih dari lubuk hati masing-masing. Ketika dua insan saling tergetar jiwanya, mereka akan mendapati kebahagiaan dalam hubungan karonsih itu. Seks bukan sekedar penyaluran hasrat birahi seorang laki-laki dan perempuan, namun merupakan perpaduan dua hati yang saling mencinta dan mendamba. Makin mendalam cinta keduanya, makin dalam pula rasa kenikmatan seksual yang mereka peroleh. Ketika sepasang mata jejaka membentur pandangan sepasang mata seorang gadis, dan pada hati masing-masing ada getaran aneh yang menyelinap tanpa bisa mereka kendalikan, itulah awal benih cinta bersemi. Cinta akan menimbulkan perasaan gelisah yang indah, yang hanya akan terjawab dengan bertemunya dua hati tersebut dalam kasih sayang.

 

Asmara Tura

Disebut juga sengseming pandulu. Maksudnya, kedua insan yang bercinta hendaknya dilandasi oleh rasa saling tertarik kepada kecantikan dan ketampanan kedua belah pihak. Ketika cinta telah bersemi, semuanya tampak indah. Si cewek yang sebenarnya biasa-biasa saja, dalam pandangan sang jejaka akan tampak cantik bagaikan rembulan purnama. Sang perjaka yang kecil kerempeng sekalipun, akan tampak bagaikan Arjuna sedang memanah dalam pandangan si gadis. Sengseming pandulu arti bahasanya adalah kebanggaan pandangan. Sebuah pasangan yang serasi harus saling memiliki rasa kebanggaan terhadap pasangannya.

 

Asmara Turida

Disebut juga sengseming pamirengan. Maknanya, kedua insan yang bercinta akan semakin larut dalam asyik masyuk dengan sendau-gurau mesra yang membuat rangsangan pada gendang telinga. Suara yang merdu, desah napas yang syahdu akan membuat kedua pasangan terlena. Sepasang suami istri yang sedang bercinta, akan lebih nikmat jika si istri mengimbangi suami dengan desah-desah yang terkendali.

 

Asmara Dana

Disebut juga sengseming pocapan. Syair, puisi dan kata-kata mutiara sering kali dilantunkan oleh sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta. Kata-kata pilihan itu sungguh mempesona dan punya daya magis ajaib yang menimbulkan bukit cinta kasih semakin meninggi. Kelebihan laki-laki biasanya pada sisi rayuan ini. Pihak perempuan yang sudah ada benih cinta, biasanya akan terbius dan menyerahkan jiwa raga sepenuh kasih.

 

Asmara Tantra

Disebut juga sengseming pangarasan. Ciuman merupakan mantik birahi yang paling dahsyat. Kedua insan yang sedang among tresna tidak akan melupakan ciuman, entah itu dahi, pipi, mata, bibir, atau bagian tubuh yang lain. Oleh karena itu, setiap pasangan suami istri hendaknya mempelajari teknik-teknik berciuman. Masing-masing jenis ciuman membawa kenikmatan dan psikologis yang berbeda. Bau tubuh sang kekasih lebih bermakna daripada parfum paling wangi sekalipun. Kecuali tentu saja, seseorang yang memiliki bau badan yang kurang beruntung. Ia harus sadar diri menjaga tubuhnya dengan berbagai cara tertentu agar pasangan tidak muak. Bau badan yang kurang sedap akan menghilangkan gairah berciuman dan gairah seksual yang membara.

 

Asmaragama

Disebut juga sengseming salulut. Puncak dari karonsih adalah salulut, yakni masuknya alat kelamin laki-laki ke dalam alat kelamin perempuan. Alat kelamin laki-laki sebelum masuk ke dalam liang vagina harus dipastikan empat hal, yakni besar, panjang, keras dan hangat. Sedangkan alat kelamin perempuan yang mampu memberikan kenikmatan bagi laki-laki adalah yang hangat, empuk dan menyerah. Dalam hubungan seksual itu, menurut kitab-kitab Jawa Klasik, unsur laki-laki adalah alat mencapai kebenaran yang agung. Sedangkan unsur wanita merupakan prajna atau kemahiran yang membebaskan. Maka, persenggamaan adalah darma seorang istri terhadap suami dan sebaliknya merupakan kewajiban seorang suami terhadap istrinya.

Di India, terdapat ajaran seni bercinta Kamasutra. Kamasutra mengajarkan makna hubungan pria dan wanita secara mendalam. Paham ini menyebar di nusantara maupun di daerah-daerah lainnya yang pernah mendapat pengaruh kebudayaan India. Orang Jawa menganggap karena seksuallah kehidupan di dunia ada. Seks dianggap sumber kehidupan, kunci harmoni rumah tangga dan pencipta keturunan. Maka, seks harus dipahami dan dipelajari dengan sebaik-baiknya. Menurut Asmaragama, semua yang ada itu timbul dari hubungan kelamin. Bahkan seluruh dunia diciptakan oleh senggama dewa pencipta dengan saksinya.

Kama berarti mani, yang merupakan energi cinta. Sedangkan sutra merupakan derivasi dari kata sastra yang bermakna ajaran. Kamasutra berarti ajaran tentang cinta. Dalam dunia pewayangan dikenal dewa dan dewi cinta, Dewa Kamajaya dan Dewi Ratih. Karena merupakan energi cinta, maka kama harus dijaga sebaik-baiknya. Istilah kama berkaitan dengan dunia kesenangan atau kenikmatan. Arti leksikal kama adalah sperma. Kama salah adalah nama kecil Batara Kala yang berarti sperma yang salah alamat. Orang yang suka bermain sperma akan menimbulkan “Batara Kala” berserakan yang merusak harmoni kehidupan.

Dalam kehidupan sehari-hari, hal tersebut mudah diketemukan dalam dunia kewanitaan. Sifat kekanak-kanakan biasanya egois, mau menang sendiri, permintaan harus dikabulkan melebihi keinginan raja. Kalau diingatkan dia akan menangis. Bila perlu dengan mengamuk segala rupa agar diperhatikan kehendak dan keinginannya. Orang yang terjangkit sifat kama atau kekanak-kanakan itu hidupnya ingin selalu bersenang-senang, tak mau susah dan melimpahkan penderitaan pada orang lain dengan tega.

Seorang lelaki perlu menghindari perempuan yang diindikasikan memiliki watak yang buruk, yakni perempuan-perempuan yang memiliki watak sebagai berikut: Perempuan dengan buah dada kecil, sudah kelihatan terurai dan kelihatan membesar tetapi tidak padat berisi. Atau sudah kendur sehingga tidak indah lagi dipandang mata. Di samping itu, pinggulnya juga sudah tampak mekar. Sebab perempuan yang demikian menandakan telah melakukan hubungan seksual. Ia bukan perawan sunthi, rasanya sudah tawar.

Hal yang senada dengan hukum sebab-akibat tersebut di atas adalah dalam hal siapa yang terlebih dahulu berminat untuk melakukan saresmi (nikah rohani). Perlu penghayatan waktu atau kecermatan untuk memahami siapa sebenarnya yang terlebih dahulu merasa kangen itu. Bila dalam hitungan waktu selapan dina (tiga puluh lima hari) di antara mereka (suami/istri) tumbuh rasa rindu dendam terhadap pasangannya, maka bila sang istri yang terlebih dahulu berminat sekali, dapat diamati kemungkinannya kelak akan lahir anak laki-laki. Pengamatan dan pencermatan tersebut dilakukan melalui alusing pandulu (kehalusan daya cipta), yakni kekuatan/kesanggupan perasaan hati (nurani) untuk meraba.

Kehalusan daya cipta ini ada 5 (lima) :

1.     Berdasarkan beninging ati (kejernihan hati/kalbu)

2.     Berdasarkan sirnaning kekarepan (hilangnya kehendak)

3.     Berdasarkan sarehing pangganda (mengendapnya imaji-nasi/angan-angan)

4.     Berdasarkan lereming pancadriya (ketenangan panca-indera)

5.     Berdasarkan jatmikaning solah bawa (santunnya perbuatan/tingkah laku).

Menguasai alusing pandulu, berarti menguasai kemampuan untuk memahami tanda dan sifat benih (manikem) yang sesungguhnya.

Mengenai proses kelahiran manusia, dikenal adanya idiom kakang kawah adi ari-ari. Apakah benar bahwa segala wujud yang keluar bersama sang bayi ketika lahir, yakni: kawah (air ketuban), ari-ari (plasenta), darah dan puser (potongan pusar), adalah kadang tunggal banyu (saudara satu sumber air) yang juga mengandung getar cipta sang ibu, sehingga ia disebut dengan istilah sedulur papat, kalima pancer, yakni ‘Kakang kawah, adhi ari-ari’? Apakah hanya orang Jawa saja yang mempercayai bahwa kadang tunggal banyu tersebut mengandung getar cipta ibu yang memiliki kekuatan gaib sehingga potholan (tanggalan) pusar bayi seringkali dipergunakan untuk mengobati anak-anak yang sakit? Apakah hal tersebut terlalu mengada-ada dan diada-adakan, terlalu di-besar-besarkan maknanya?

Bagi orang tak beriman dan masyarakat modern, masalah tersebut dianggap tidak bermakna. Namun bagi para sesepuh (orang yang tua pemikirannya) yang menerima warisan nasihat-nasihat dari pini sepuhnya (orang yang dianggap dapat memberi nasehat), masalah ini dianggap sebagai suatu bentuk penghormatan kepada Allah atas ‘Karya Cipta’-Nya Yang Agung, yang telah memberikan kepompong gaib (wadah hidup) kepada sang bayi selama dalam kandungan ibu, yang terdiri dari selaput ketuban, air ketuban, ari-ari (plasenta), dan usus penghubung antara plasenta dan sang bayi.

Karena air ketuban keluar mendahului bayi, maka ia disebut Kakang (saudara tua), sedangkan ari-ari yang keluar setelah bayi disebut dhi (saudara muda). Darah ibu yang mengikuti kelahiran bayi, dan potongan puser bayi (pangkal dari usus plasenta/ari-ari) adalah saudara pengiring atau penyangganya. Keempatnya disebut sedulur papat (empat bersaudara), dan kalima pancer (yang kelima adalah pokok pangkal) yakni sang bayi sendiri.

Secara lebih lengkap saudara tua (kakang) adalah terdiri dari :

1.     Selaput ketuban (saput wungkul) yang dinamakan kakang Putih. Ujudnya dapat dilihat setelah bayi lahir dan sisa selaput ketuban yang mengering dan masih lekat pada kulit bayi akan berwarna putih seperti bedak (pupur).

2.     Mar (getar cipta) dan Was (rasa kekhawatiran dan cemas) ibu yang muncul bersamaan saat uwat (mengejan/ mengerahkan semua tenaga fisik dan rohani, untuk mendorong keluar sang bayi dari rahim ibu). Bersamaan dengan tumpahnya Banyu kawah (air ketuban), yang melicinkan jalan keluar sang bayi melewati pintu gerbang Guwagarba (kandungan) ibu.

Sedangkan saudara muda (adik) terdiri dari:

1.     Ari-ari (plasenta).

2.     Getih (darah) ibu saat melahirkan.

3.     Puser (potongan tali pusat bayi), dan.

4.     Pancer (bayang-bayang sang bayi).

Kasih sayang adalah wujud dari perasaan saling mengasihi, saling menyayangi, menghargai, menghormati pasangannya. Sementara nafsu birahi seringkali menjadi nafsu untuk berbuat sekehendak hati demi mengejar kepuasan diri sendiri sehingga melakukan tindakan kasar, brutal, tidak senonoh, asal puas hati karena istri dianggapnya sebagai barang milik pribadi sepenuhnya, yang dapat diperlakukan sekehendak hatinya.

 

Pancaran Kebijaksanaan Hidup

Serat Centhini menguraikan dengan gamblang bab ulah asmara, yang berhubungan dengan letak-letak genital yang sensitif dalam kaitan permainan seks yang dikaitkan dengan sistem kalender, pambukaning rahsaning wanita (cara membuka atau mempercepat organisme bagi perempuan), serta panyegah wedaling rahsa (mencegah atau memperlambat agar sperma tidak cepat keluar), dan lain-lain. Di bawah ini terdapat dialog yang menggambarkan makna seksualitas :

Mereka semua menghormat. Cebolang bertanya lagi, “Apakah wujud aji asmaragama itu? Bagaimana penerapannya, pengunaan dan wujud dan caranya?”

Ki Ajar menjawab dengan manis, Aji itu artinya azimat, sebagai hiasan hati, sedangkan kata asmara artinya sengsem rasa senang dalam hati, sanggama artinya salulut bersama-sama bergelut bercampur atau berkumpul. Jadi asmaragama artinya pergulatan dan berkumpulnya laki-laki dan perempuan dihias oleh rasa senang birahi dan cinta.

Cebolang mendesak dan bertanya lagi, “Mengapa bercampurnya pria dan wanita disertai hiasan? Bagaimana caranya?”

Ki Ajar tersenyum, jawabnya, “Masalah sahwat itu rahasia, tidak pantas bila dijelaskan dengan lugas, karena itu uraian tentang bersanggama digubah dengan bentuk pancakara perkelahian, peperangan. Bila kemaluan laki-laki belum kuat sekali janganlah terburu mengenakannya. Jika tidak sampai demikian barang kali menipu, akibatnya tidak bahagia, akhirnya kecewa, kadang-kadang menjadikan enggan bagi wanita, sebab belum puas padahal telah terlanjur membuka kemaluan. Itu berarti tertimpa bahaya cinta, disebut katitih asmara kalah bercinta sebab belum siap tempur keburu maju menyerang. Oleh sebab itu tidak berdaya lama, merasa lelah payah, kehilangan kekuatan. Hal itu semua karena rahsa dan jiwa belum dikuasai oleh ulah Sanghyang Pramana.”

Ketika mendengar kata-kata sang resi, mereka tertawa dalam hati, cocok dengan semua pengalaman mereka, sulitnya liku-liku bercinta. Cebolang berkata pelan, Hamba berterus terang, sebenarnya kawula kerap kali mengalami hal itu. Oleh karena bodoh, kawula tidak berkeliling dan bertanya mencari sebabnya. Kawula lalu hanya merasa mendongkol, pegal dan sedih tambah-tambah merasa malu, akhirnya marah-marah tanpa tujuan.

Dalam Serat Centhini selain diungkap mengenai resep pengobatan seksual, juga diungkap mengenai doa-doa atau mantra seksual. Itulah salah satu bukti dari ritualisasi pemaknaan dan penandaan seks ala Jawa yang begitu khas, tetapi rumit dan kompleks. Sebuah penyatuan antara seks yang bersifat tindakan praksis dengan seks sebagai pengungkapan emosi dan perasaan, yang berada di ranah esoterik bahkan ideal-spiritual. Karena tanpa laku dan keyakinan, mantra tidak akan memiliki efek dan manfaat apa-apa, baik bagi diri yang merapalnya maupun orang yang ditujunya.

 

Selain itu, Kamasutra juga menampilkan wacana ketubuhan secara agak dominan. Disebutkan beberapa tipe perempuan, seperti tipe perempuan kuda, gajah, dan rusa. Di antara ciri perempuan kuda adalah badannya sedikit tegap, kulit agak gelap, sorot mata tajam, suara agak berat. Perempuan demikian memiliki daya seksual yang kuat. Adapun perempuan gajah memiliki ciri badan subur, bibir tebal, payudara mantak. Perempuan demikian digambarkan dalam permainan seksnya mantap. Sedangkan perempuan tipe rusa digambarkan memiliki tubuh kecil atau sedang. la terkesan genit dan lincah, ramah dan menggoda berahi, serta memiliki daya tarik seksual yang sangat romantis. Sayangnya perempuan jenis ini sulit hamil. Namun jika sekali hamil, anaknya akan beruntun.

Dalam memilih jodoh, sebagaimana kebiasaan yang telah terus-menerus diturunkan dalam tradisi Jawa oleh kalangan para pangerannya, yang dalam sosialitasnya berkembang menjadi orientasi idealitas keperempuanan, terdapat satu anggapan bahwa perempuan yang sebaiknya dipilih menjadi istri adalah perempuan yang benar-benar berwatak. Yang disebut sama, beda, dana, dhendba, guna, busana, dan asana. Kalau bisa laki-laki harus memperoleh perempuan yang memiliki watak sawanda, saekapraya, dan sajiwa.

Adapun maksud dari ungkapan-ungkapan tersebut adalah sebagai berikut :

1.     Sama, watak welas asih kepada sesama makhluk hidup.

2.     Beda, mampu memilah-milah apa yang hendak dilakukan.

3.     Dana, suka memberikan kesenangan kepada sesama.

4.     Dhendha, dapat menggunakan hukum untuk melihat mana yang baik dan yang buruk atas dasar empan-papan (tempat, keadaan, situasi, dan kondisi).

5.     Guna, mengerti wewenang dan kewajiban yang berhubungan dengan perempuan.

6.     Busana (pakaian), bisa sesuai dengan situasi dan kondisinya.

7.     Asana (tempat), bisa mengerti, membangun, menata dan memelihara agar rumah tampak baik dan menyenangkan hati.

8.     Sawanda (serupa atau sewarna), mampu menyelaraskan keinginan lahir dan keinginan batin. Dalam meladeni dan melayani suami laksana memperlakukan diri sendiri.

9.     Saekapraya, mampu menyelaraskan keinginan diri dengan keinginan lelaki yang menjadi suaminya.

10.                        Sajiwa (satu jiwa), memiliki kesetiaan kepada lelakinya, seperti kesetiaannya kepada dirinya sendiri.

Dalam mengolah asmara yang tetap berlandaskan kepada awas lan eling, harus memperhatikan dan memahami segala pertanda dari sikap dan keinginan pasangannya, yakni: bergairah sambil mengheningkan cipta untuk merasakan dengan mata batin apakah benih yang tercurahkan itu nanti benih yang bermutu atau benih yang kurang bermutu dan; apakah rasa dan gairah sang istri sudah bangkit secara seimbang dan membalas segala gairah kasih dari suaminya.

Bangkitnya rasa dan gairah kasih tersebut dapat disebabkan oleh marahi (menuntun atau memulai) yaitu sebelum menyatukan tubuh dalam senggama, sang suami harus terlebih dahulu membuka rasa gairah istri dengan tindak rayuan berupa elusan dan rabaan halus penuh kasih sayang terhadap segala milik istrinya secara bertahap dari bagian atas tubuh sampai ke bagian bawah, tanpa ada penolakan dari istri. Tujuan dan manfaatnya adalah untuk menumbuh dan meningkatkan rasa gairah kasih sang istri. Sekiranya istri sudah menunjukkan puncak gairahnya, barulah persetubuhan dimulai dengan segala hening cipta kedua belah pihak dan bergerak bersama dengan kendali nafsi secara gerak perlahan penuh rasa dan kasih menuju puncak secara bersama-sama. Kepuasan jiwa dan badan muncul dalam bentuk kelegaan, kekenduran syaraf, otot-otot terasa nikmat, senyuman bahagia, sejahtera lahir batin, dan basah kuyupnya seluruh badan oleh keringat yang mengucur deras bersama terbuangnya segala ketegangan, emosional dan rasional.

Tindakan tidak senonoh untuk meruhi (melihat fisik) yang dipantangkan itu, bisa menimbulkan ide-ide gila pada sang suami. Misalnya timbul keinginan untuk mengukur berapa dalamnya atau ingin merasakan seperti apa sebenarnya bentuk permukaan kulit bagian dalam dari vagina wanita/istri yang sebenarnya, dengan cara memasukkan salah satu jari tangannya ke dalam vagina istri. Hal seperti itu sangat melukai perasaan istri dan secara fisik sangat berbahaya karena bisa melukai kulit halus yang penuh dengan ujung-ujung syaraf perasa yang amat peka terhadap benda- benda keras seperti kuku jari misalnya. Luka yang ditimbulkan itu tidak bisa diketahui karena berada pada bagian dalam, tetapi akan sangat dirasakan oleh pemiliknya karena kepekaan syaraf-syaraf perasanya sehingga sangat mengganggu konsentrasi pihak istri dalam kegiatan sehari-harinya. Akibatnya adalah pengalaman buruk pada pihak istri yang bisa menumbuhkan rasa traumatic (keadaan yang menakutkan akibat luka perasaan-nya) sehingga segala upaya untuk mewujudkan kembali konsentrasi cipta batinnya selalu gagal atau membutuhkan waktu yang lama.

Jadi pengungkapan aspek seksualitas dalam kosmologi Jawa dilakukan dengan penuh sopan santun dan tata krama. Hal ini dapat berguna bagi masyarakat yang menghendaki keselarasan dalam berumah tangga. Pasangan suami istri dapat belajar dari kosmologi Jawa untuk mengayunkan langkah kakinya sehingga cita- cita keluarga bahagia dapat terwujud.

Hidup berumah tangga telah diajarkan oleh para pujangga yang sudah terkenal waskitha, wicaksana dan tajam mata batinnya. Olah asmara yang secara simbolik dimuat dalam tembang asmarandana, hulu-hilirnya adalah dana asmara, yakni keselarasan hubungan percintaan sejati suami istri. Lika-liku laki-laki yang teruji mutu ke-lelaki-annya merupakan muara bagi perempuan yang teruji bobot ke-empu-annya.

Dalam berbagai literatur Kejawen terdapat ungkapan yang mengatakan bahwa seberat-berat beban bumi, masih lebih berat kasih sayang seorang wanita yang menjadi ibu. Setinggi-tingginya langit, masih lebih tinggi kehormatan seorang pria yang menjadi bapak. Oleh karena itu hubungan suami dan istri dalam kebudayaan Jawa populer dengan istilah ibu pertiwi bapa angkasa. Keduanya bersatu padu menjadi garwa, sigaraning nyawa, jalinan kasih antara jiwa raga lahir batin.

Perkawinan harmonis adalah perkawinan yang berhasil membina rumah tangga yang langgeng, dan bukan hanya berlandaskan cinta semata. Cinta hanyalah salah satu aspek yang dapat menimbulkan pemahaman bersama untuk saling kasih mengasihi dan menjadi alat yang teguh untuk mengatasi segala kesulitan dalam menempuh hidup bersama, demi masa depan yang lebih baik bagi keturunannya. Begitulah ajaran luhur yang terdapat dalam kosmologi Jawa.

 

Rahasia Ilmu bercinta Kamasutra Jawa

Di dalam Kitab Pangracutan, ada yang memaparkan Ilmu yang dinamakan: Sang Sejati Laki-laki dan Sang Sejati Perempuan” yang sebagian isinya terurai di bawah ini.

Yang disebut roh Idlafi adalah roh perempuan, akan tetapi bertempat pada laki-laki.

Sang sejati perempuan itu roh Kudus mulia, akan tetapi bahwa roh laki-laki, sesungguhnya bertempat pada perempuan, Yang Maha Suci pada Jinem, bertempat di dalam Junub, makanya berkuasa menumbuhkan bergerak sendiri-sendiri saling tarik menarik, karena roh perempuan dipakai oleh laki-laki dan roh laki-laki dipakai oleh perempuan. Sehingga mengakibatkan akan saling berusaha menarik rohnya masing-masing, yang pada akhirnya saling bertukar sari, dengan cara bercinta dan kesudahannya berkuasa mengadakan sifat. Itulah sebabnya disebut sanggama, artinya bersatu menyatukan rasa, atau disebut saresmi, artinya bercampurnya sari berbaur yang menimbulkan saling merasa sama puasnya, karena terpengaruh oleh Dzat Tuhan Yang Maha Suci, dan biji yang dihasilkan akan tercetak atas warna ayah bundanya. Sebagimana rincian berikut :

1.     Yakni dalam kurun waktu 35 hari, di antara laki-laki dan perempuan siapa yang tergerak terlebih dahulu hatinya ingin bersetubuh, jika yang perempuan yang tergerak hatinya terlebih dahulu kepada laki-laki, maka tat kala telah sampai peristiwa menurunkan biji, niscaya akan keluar menjadi biji laki-laki.

2.     Dan jika yang tergerak hatinya terlebih dahulu untuk bersetubuh adalah yang laki-laki, niscaya setelah sampai menurunkan biji, maka akan keluar menjadi biji perempuan. Dengan syarat, keduanya haruslah seimbang. Apabila tidak seimbang dalam hal rasa, meskipun bisa menghasilkan biji, akan tetapi bisa menimbulkan cacat. Sedangkan ujud cacatnya bisa bermacam-macam, di antaranya :

a.     Jika salah satunya ada kesan kecewa atau kurang hasrat untuk bersetubuh, kelak akan memberi kesan kepada perangai sang anak akan mudah kecewa hatinya, kadang-kadang bisa menimbulkan kesengsaraan dan menderita dalam hidupnya bagi sang anak tersebut.

b.     Apabila salah satunya ada yang merasa sedih atau marah dalam hatinya, yang tidak nampak dalam tata lahirnya, maka akan memberi kesan kepada perangai anaknya akan mudah timbul hawa nafsunya, yang bisa mengakibatkan hidupnya menjadi susah dan sengsara.

c.      Jikalau salah satu dari pasangan yang hendak bersetubuh ada rasa kurang pas, maka akan membawa kesan bagi perangai anaknya di kemudian hari. Jika yang merasa kurang pas pihak perempuan maka akan memberi akibat tidak baik kepada anak laki-laki dan sebaliknya bila yang merasa kurang pas pihak laki-laki, maka akan memberi akibat tidak baik terhadap anak perempuan. Kesemuanya itu masuk bilangan tanda pengenal di dalam kurun waktu 35 hari itu wajib di jaga cipta dan rasa perasaan batin dari kedua belah pihak. Oleh karena itu perhitungan umur bayi lahir adalah dengan perhitungan umur setiap 35 hari, yang disebut dalam penanggalan Jawa dengan nama SELAPAN untuk menghitung umur bayi, dan setelah bayi berumur 1 (satu) tahun disebut anak, yang artinya kuat, dan selanjutnya perhitungan umurnya dengan perhitungan tahun.

Bersumber dari pesan wasiat Kanjeng Sunan Kalijaga, tentang hal menjaga olah rasa (lupa dan lengah) atau mensucikan bathin - menjernihkan pikiran; sedapat mungkin  menciptakan ujud yaitu dalam gerak hati  diharuskan dengan rasa timbang terima (ikhlas memberi dan menerima) cipta sasmita dari keduanya sebelum melakukan persetubuhan, serta harus mensucikan badan terlebih dahulu agar supaya baik kejadiannya, atau diharuskan dengan tatacara perilaku yang baik dalam bersetubuh, dan dalam cipta masing-masing keduanya janganlah ada pikiran yang tidak baik agar biji yang akan diturunkan pun baik.

Ada di antaranya, seseorang dalam bersetubuh hanya memikirkan kesenangan dirinya sendiri atau dalam cipta hatinya memikirkan yang tidak-tidak, hal demikian seumpama menjadi biji, maka kelak akan bisa memberi bahaya kepada kedua orang tuanya bahkan bisa memberi bahaya bagi lingkungan bahkan bagi negara.

Sehingga dalam melakukan bersetubuh, sebaiknya diamati dulu dalam kurun waktu sehari seyogyanya atau sebaiknya tidak ada rasa atau kejadian yang tidak mengenakan hati dari keduanya sehingga apabila menjadi biji, akan menjadi biji yang baik, yang akan menjunjung nama kedua orang tuanya, Agama dan Bangsanya.

 

ILMU ASMARA GAMA

Adapun inti atau sari dari Ilmu Asmara Gama ini, adalah satu-satunya teori tenaga pertemuan antara laki-laki dan perempuan, menuju ke arah dua maksud, PETAMA ; Menuruti nafsu keinginan kodrat alam semata, sehingga dapat menyatakan atau mengetahui akan ke indahan rahsa (rasa), dan KEDUA : Memenuhi iradat Tuhan, sehingga dapat menyatakan atau mengetahui akan keluhuran jiwa, yaitu biji manusia. Maka seyogyanya hal ini harus diketahui dan diperhatikan betul-betul oleh para pemuda dan pemudi sebelum dan setelah menikah, karena akan ada banyak sekali bahaya yang akan dapat merusak hidup manusia dari kesalahan yang ditimbulkan oleh akibat kurang sadar dengan angan-angan yang salah terhadap mulianya pertemuan atau seni asmara antara laki-laki dan perempuan yang akibatnya bisa menimbulkan hal negatif terhadap keturunannya yang diakibatkan hanya menuruti hawa nafsu sexnya saja tanpa ingat kepada tujuan yang mulia yaitu akan menurunkan generasi manusia.

Ilmu Asmaragama bisa dikatakan bersifat seni, kesenian alam. Seni di sini mengandung maksud mengikhtiari kodrat (berusaha merobah kodrat). Karena kesenian tidak hanya berbentuk tulisan, gerak atau benda yang sebagaimana yang  telah ada, akan tetapi kesenian berasal dari kodrat sebagaimana uraian selanjutnya.

Kalimat Asmaragama atau asmara dan gama artinya sama saja dengan Asmara = sangat berkehendak, sangat ingin, sangat rindu; Sedangkan Gama sama dengan bersanggama atau bersetubuh melakukan kegiatan sex, yaitu tingkah laku untuk menumbuhkan semangat penarik dan pendorong keluarnya air rahsa yang timbul dari sangat berkehendak tersebut. Air rahsa itu disebut juga mani, yaitu air yang mengandung jiwa berupa biji manusia.

Jadi, Asmaragama berarti meledaknya semangat Roh ke alam nyata, yang ditimbulkan oleh pertemuan antara cipta rasa antara laki-laki dan perempuan, yang tersusun dan dipengaruhi serta  dibatasi oleh kekuasaan kodrat. Rasa di sini adalah suatu daya yang bisa menimbulkan kejadian. Sehingga Cipta rasa perlu diperhatikan baik-baik, karena akan menentukan sifat dari keturunannya kelak, jadi di sini berkenaan erat dengan seni (ikhtiar - usaha). Sebab jika Cipta rasa yang hanya berisi nafsu sex belaka, maka akan berakibat buruk pada keturunan yang akan berpengaruh pada kehidupannya. Maka dari itu, ikhtiar dengan berusaha mengubah kekuatan kodrat nafsu sex dengan ingat akan kejadian biji yang akan di turunkan yang akan menjadi manusia hidup, agar terhindar dari sifat-sifat tidak baik dan berubah menjadi sifat baik dan sempurna.

Asmaragama adalah suatu ilmu umum untuk semua manusia, karena di situ mengandung dua hal yang penting bagi manusia, yaitu kehendak keinginan biasa yang berhubungan dengan kesenangan kenikmatan sex pada bagian sifat kelahiran’ dan juga berkenaan dengan biji keturunan. Hal ini juga berkenaan dengan keluhuran batin manusia demi untuk kebaikan dan kesempurnaan keturunannya. Karena kelahiran manusia yang tidak baik dan jahat akan merusak pergaulan hidup dan malah akan merusak sifat manusia dimana sifat manusia yang seharusnya adalah sebagai makhluk tertinggi derajatnya di alam dunia ini.

Sebagimana telah dijelaskan, maka sudah jelas bahwa keturunan ada hubungan yang sangat erat dengan tata cara senggama. Saat itulah yang akan menentukan jadinya titisan biji yang nantinya akan menjadi jahat atau berbudi luhur. Pertanyaan; apakah tidak ada keturunan yang tidak sama sifatnya seperti sifat  dan pikiran ayahnya ketika melakukan senggama? Jawabnya, ada, akan tetapi kejadian seperti ini adalah suatu kejadian yang amat luar biasa, karena berhubungan erat dengan kodrat Tuhan. Tetapi kita jangan lupa; bahwa kodrat Tuhan adalah kejadian luar biasa, dan di samping kodrat Tuhan, akan menentukan pula Irodat (Usaha -ikhtiar). Jika tidak ada irodat, maka sifat manusia akan sama dengan sifat hewani, dimana manusia akan merosot derajatnya. Sebagaimana keturunan binatang di hutan, bagaimana sifat, wujud dan tabiatnya. Sedangkan bagi manusia, yang menyalahi asal mula keturunan karena tidak seperti tabiat orang tuanya hanya ada seper seribu persen hal itu akan terjadi.

Contoh nyata dari hal tersebut adalah cerita tentang kelahiran Nabi Musa As. Dimana proses kejadiannya tidak sesuai dengan teori yang telah dijelaskan. Karena kejadian tersebut murni atas dasar Kodrat Tuhan.

Sifat tabiat atas dasar pendidikan atau tuntunan dalam olah asmara agar keturunannya mempunyai sifat dan tabiat yang baik, para ahli telah memberi pedoman bahwa kita harus tau sifat dan tabiat yang baik sesuai aturan yang telah digariskan dalam hukum Tuhan, Hukum Negara, Hukum Alam dan Hukum Masyarakat, dan kita harus ingat bahwa dalam melakukan senggama (sex) akan berpengaruh pada sifat dan tabiat dari anak yang akan dilahirkannya kelak.

Contoh sekedar dari cipta  yang salah atas kodrat dan kehendak yang berisi nafsu sex belaka adalah dari cerita Begawan Wisrawa dalam kisah wayang, ketika melakukan senggama dengan Dwi Sukesi, karena terdorong nafsu sex belaka, maka ketika melahirkan putera, puteranya bersifat Raksasa yaitu Rahwana yang bersifat angkara murka, karena cipta yang dikuasai nafsu yang menyalahi hukum alam, dan putera selanjutnya adalah Sang Kumbakarna dan Dewi Sarpakenaka yang keduanya masih bersifat raksasa. Kemudian barulah sadar Begawan Wisrawa, bahwa dalam olah asmara tidak hanya diliputi dan dikuasai oleh nafsu sex belaka, akan tetapi atas dasar daya cipta yang mulia, maka buah hasilnya yang terakhir jadilah lahir putera yang bersifat Satria, gagah dan bijaksana, yaitu Sang Gunawan Wibisana.

Ada contoh lagi menurut catatan yang dikutip dari catatan ilmu nujum dan perbintangan, bahwa di Ingris pada tahun 1703, terlahir dari keluarga ahli hukum, dan dari keturunannya menurunkan :

Sarjana ahli hukum 15% dari 881 orang keturunannya.

Sarjana pandai 35% dari 881 orang keturunannya.

Prajurit  9% dari 881 orang keturunannya.

 

Pada tahun 1720, terlahir dari seorang penjahat besar, dan dari keturunannya menurunkan :

Penjahat  30% dari 1257 orang keturunannya.

Pencuri  5% dari 1257 orang keturunannya.

Pembunuh  0,6% dari 1257 orang keturunannya.

 

Dari contoh tersebut, bisa dijadikan pelajaran, bahwa ketika melakukan asmaragama seperti yang dilakukan oleh Begawan Wisrawa, Ahli Hukum dan Penjahat, tidaklah memperhatikan Irodat (seni) asmara, maka hanya kodratnya saja yang mengalir sehingga terjadi hal demikian itu.

Dalam ilmu Asmaragama terdapat beberapa macam seni yang bisa mendorong semangat bercinta, serta memperoleh hasil keturunan yang sempurna. Kesenian yang demikian adalah pokok dari seni di dalam semua kesenian yang ada di dunia ini, bagi orang yang benar-benar mendalami seni dibanding segala jenis seni yang ada dalam seni hidup di dunia ini, demi untuk membina indahnya dalam membina keluarga yang indah dan bahagia.

Sesungguhnya di jaman sekarang, masih banyak orang yang tidak sadar akan indahnya seni dari seni tersebut. Manusia jaman lampau menganggap bahwa kesenian adalah sebagai alat permainan saja. Maka tidak mengherankan bahwa Ilmu Asmaragama itu dianggap sebagai ilmu untuk bersenang-senang semata. Padahal sebetulnya, Ilmu Asmaragama itu adalah suatu kesenian manusia yang paling tinggi dan terbesar pengaruhnya terhadap susunan masyarakat di dunia ini. Karena segala kesenian yang nampak di dunia ini, hanya sebagian saja dari meledaknya keindahan alam semata-mata, sedangkan sumber kenikmatan rasa keindahan, masih tersimpan di dalam Surga.

Itulah pokok rasa keindahan yang digambarkan dalam Ilmu Asmaragama, tetapi yang bisa menyerap Ilmu Asmaragama ini hanya manusia yang  mendapat rahmat  Tuhan, sebagaimana halnya yang digambarkan dalam kisah Harjuna yang memang sakti dan telah di wejang (diberi ilmu) oleh Hyang Indra dalam merasakan kenikmatan di alam Surga yang indah, yang rasa nikmat keindahannya dibanding rasa nikmat keindahan di dunia satu di banding sepuluh ribu jika di banding nikmat keindahan di alam Surga yang abadi.

Jenis-jenis Ilmu Asmaragama, dibagi beberapa tahapan, yaitu  :

ASMARA  SABDA

Seluruh kehendak manusia yang harus dinyatakan kepada lawan jenisnya, supaya kehendak keinginannya itu dapat sempurna, maka orang harus berlaku dengan cara menyusun kata-kata (Sabda), atau perkataan menjelaskan, untuk menggambarkan sebagaimana sifat dan bentuknya barang yang di kehendakinya itu. Begitu juga dalam berkehendak antara laki-laki dan perempuan, manusia harus bisa menyusun kata-kata indah yang ditujukan kepada lawan jenisnya. Dalam bahasa sekarang, disebut rayuan dan sanjungan yang indah.

Ketahuilah “Asmarasabda Kuna” yang dilakukan oleh para Raja dan Satria di jaman itu disebut bercumbu-cumbuan dalam bahasa Jawa disebut “Ngungrum” dengan kata-kata, lagu yang sangat indah, merdu merayu hingga bisa melambungkan rasa dan mabuk kepayang dan melayang-layang rasanya bagi yang terkena rayuan tersebut.

ASMARA  TURIDA

Sesungguhnya Asmaraturida, adalah suatu Ilmu untuk menghindarkan penolakan oleh pihak wanita, sehingga pemuda yang menginginkan wanita dapat berhasil atas cita-citanya.

Asmaraturida (Hasrat yang menyala) adalah suatu perasaan rindu yang apabila perasaan ini menyerang manusia akan bisa menimbulkan rasa yang sangat menyedihkan bagi penderitanya.

Barangsiapa yang mengalami peristiwa tersebut, tentu akan merasa menderita. Padahal sebenarnya, seseorang yang sedang menderita perasaan rindu tersebut, adalah suatu rasa perasaan yang terjadi dengan sendirinya, yang terbentuk dari terpusatnya tenaga dari : Budi, kehendak, cipta dan pikiran, yang kesemuanya itu bersatu bekerja sama untuk memperoleh sesuatu yang dikehendakinya, maka rasa rindu atau keinginan yang kuat itu adalah tenaga rasa yang teristimewa yang mudah sekali membangkitkan “Tekad Manusia” , untuk memperoleh yang di idam-idamkannya (di inginkannya). Oleh karena kekuatan lahir dan batin itu terletak dalam perasaan rindu dari keinginan yang kuat maka di saat itu manusia akan mencurahkan tenaga sehebat-hebatnya untuk memperoleh yang di inginkannya itu.

Sehingga dengan demikian Asmaratiruda, manusia baru bertindak atas dorongan batin, atau atas dasar “Tenaga Cipta” seperti tersebut di bawah ini :

ASMARACIPTA

Syarat yang pertama unutk menjalankan Asmaracipta, bagi seorang pemuda yang jatuh cinta (rindu) adalah dengan jalan tidak bertemu dengan wanita pujaanya selama 3 hari 3 malam bagi wanita atau laki-laki yang berkulit putih dan kuning, 7 hari dan 7 malam bagi yang berkulit merah atau sawo matang, 7 hari sampai dengan 40 hari/malam bagi yang berkulit hitam. Agar diusahakan nafsu yang berkobar tidak membakar cipta, dan cipta tidak dikuasai nafsu hingga cipta dapat menghela dan menuntun nafsu.

Setelah itu, pada waktu sore hingga tengah malam sekitar jam 12 malam tidak boleh tidur, kemudian duduklah di tengah-tengah halaman dengan konsentrasi mengheningkan cipta (Samadi), yaitu dengan cara kedua tangan bersedakep atau disilangkan di dada, badan bersandar di bawah pohon atau tempat duduk yang telah disediakan, lalu menutup tenaga pancaindra, yaitu tidak mendengarkan suara, tidak melihat apa-apa, tidak membau, merasa dan tidak berbicara, paling sedikit selama 5 menit, dan disaat itu hanya memandang keluar masuknya nafas saja.

Berusaha menguasai pancaindra (lima indra) sampai tenang tidak bertenaga, seolah-olah perasaan setengah tidur, sehingga keluar masuknya nafas teratur dan pendek (sesak). Gerak hati juga demikian, dibuat berhenti juga, yaitu diusahakan kehendak (cita-cita), karsa (kemauan), cipta (budi) pikiran, rasa (menimbang-nimbang) jangan sampai bertenaga apa-apa sempai se tenang mungking. Tapi ingat, jangan sampai tertidur.

Untuk lebih jelasnya, di dalam pemandangan nafas, badan wadag (tubuh) badan Indra dan badan batin tersebut, tiga-tiganya berhenti bersama-sama. Sekarang yang tinggal hanya pemandangan nafas, harus segera dipindahkan ke dalam cipta, yaitu menciptakan gambar orang dan dimasukan ke dalam cipta, karena pandangan cipta bisa menurut sesuai corak kehendak ciptaannya.

Singkat kata, jika gambaran sang kekasih telah menjelma dalam pandangan cipta (pandangan batin), bolehlah gambaran tadi di rasai sepuas-puasnya, laksana pertemuan dalam alam nyata.

Maka akibat yang ditimbulkan, dapat menembus kepada rasa jiwa kekasihnya, walaupun ketika itu sang kekasih sedang tidur nyenyak, maka sang kekasih akan merasakan hal yang sama seperti dalam pertemuan di alam nyata, sehingga ketika itu bisa menimbulkan rasa cinta kepada si pencipta rasa itu.

Jika pihak lawannya itu memang ada rasa cinta, baik pihak wanita ataupun pria tentulah akan berakibat membikin pusing kepala. Hingga akhir yang diharapkan akan sampai pada jenjang pernikahan. Ilmu Asmaracipta juga bisa digunakan di saat ada halangan perpisahan bagi yang telah menikah karena sesuatu hal atau tugas menjalankan kewajiban hidup yang harus terpisah sementara waktu.

ASMARAWANITA

Adapun Asmarawanita, Asmara = kehendak, wanita = perempuan (Istri) dalam arti : “Menunjukan rahsa indah yang terdapat dalam tubuh seorang wanita.” Maka di sini akan di uraikan tanda-tanda yang menunjukan tanggal terbitnya, jalan pindah-pindahnya rahsa indah kepekaan rasa dari seorang wanita dalam tiap-tiap hari setiap bulannya.

Di dalam badan wanita, pangkal rahsa indah kepekaan rasanya  itu tidak tetap dan tidak hanya berpangkal dalam tempat yang tertentu saja, melainkan berpindah-pindah letaknya. Bagian sensitif itu akan berpindah-pindah mengikuti pengaruh peredaran bulan. Puncak rasa asmara wanita itu paling bergairah saat Bulan Purnama dan saat bulan mati. Karena menurut kodral alam Bulan adalah sangat berpengaruh dan mengawasi kepada rasa perasaan manusia terutama wanita. Maka daripada itu, jika pada suatu waktu pengaruh sang bulan bertepatan atau mengenai pada bagian anggota tubuh manusia, maka tempat tersebut besar sekali rasa kepekaannya (sensitif) bila di raba agar menggerakan dan mengobarkan rasa perasaan asmara yang dimaksudkan.

Karena hal itu telah ditetapkan oleh kodrat alam atau hukum alam, bahwa rahsa indah bagian sensitif dalam tubuh seorang wanita itu, tiap-tiap 24 jam berpindah-pindah, maka perlu sekali bagi seorang suami memahami berganti-gantinya letak kepekaan seorang wanita berdasarkan knop kalender yang berdasar peredaran bulan, bukan kalender yang berdasar peredaran matahari, untuk lebih jelasnya, letak kepekaan atau letak sensitif wanita; sebagaimana uraian di bawah :

Tanggal 1, terletak di bagian kepala seluruhnya , diraba dengan belaian lembut di antara dahi dan rambut.

Tanggal 2, terletak di bagian pusar (tengah perut), ciumlah pusarnya, atau raba dan belailah (usap) dengan penuh perasaan.

Tanggal 3, terletak di bagian kedua pahanya, raba dan usap serta belailah terutama bagian dalam dari paha, tentunya dengan belaian lembut tanpa tekanan.

Tanggal 4, terletak di bagian dada (Anggota di atas perut) peganglah dadanya dengan mantap biar wanita merasa nyaman dan juga belailah pipinya.

Tanggal 5, terletak di bagian pucuk atau puting susunya, ciumlah dengan lembut serta digelitik dengan lidah ataupun juga di gelintir dengan gigi seperti mengulum buah anggur (Tapi ingat harus dengan lembut penuh perasaan,  jangan sekali-kali menimbulkan sakit).

Tanggal 6, terletak di bagian kedua bibirnya , ciumlah mulutnya dengan penuh gairah agar wanita merasa dirinya sangat dibutuhkan.

Tanggal 7, terletak di bagian antara kedua belah buah dadanya, rabalah dengan tangan, ingat dengan belaian lembut antara menyentuh dan tidak usapan lembut tentunya.

Tanggal 8, terletak di bagian birit, bukan pantat, peganglah dan dengan di tekan-tekan.

Tanggal 9, terletak di bagian paha bagian atas sampai pinggang, raba dan belailah bisa juga dengan ciuman lembut di bagian bawah pinggang.

Tanggal 10, terletak di bagian perut, rabalah agak keras perutnya.

Tanggal 11, terletak di bagian hidung, cium dengan lembut pipinya.

Tanggal 12, terletak di bagian atas peganglah di atas tulang gandunya (Tulang walikat atau pinggang).

Tanggal 13, terletak di bagian puncak sebelah buah dada, dan rabalah kemaluannya (farjinya).

Tanggal 14, terletak di pantat bagian atas, rayu dan ajaklah bersenggama dengan rayuan dan perkataan lemah lembut serta di belai mukanya.

Tanggal 15, terletak di bagian paha bagian atas (di bawah tulang gandu) dan juga cium pipinya.

Tanggal 16, kembali seperti tanggal satu, dan untuk tanggal selanjutnya seperti urutan di atas.

 

asmaragama  (sanggama)

Menurut uraian dalam Kitab Asmaragama, diterangkan bagaimana cara mengendalikan jalannya rasa; akan tetapi di sini terlebih dahulu untuk diperhatikan : Janganlah bersetubuh setelah makan, paling tidak 3 jam setelah makan, janganlah dalam bersetubuh memikirkan hal yang bukan-bukan. Lebih baik di saat itu memikirkan hal-hal yang positif. Pada saat ingin melakukan Asmaragama atau senggama, hendaklah konsentrasi mengendalikan serta memadamkan panca indranya, sedangkan ciptanya hendaknya konsentrasi dalam hal-hal keutamaan. Setelah 99% ketenangan di capai, barulah Sanggama dimulai.

Adapun sebelum melakukan bersetubuh, hendaklah duduk berhadapan muka, di tempat yang di rasa baik, yaitu di tempat tidur atau tempat lainnya yang di rasa aman. Segala keinginan harus dikendalikan, jangan sekali-kari merasa kurang cinta, takut, heran, benci kepada sesuatu atau orang lain. Tujukan kemauan keinginan itu ke pangkal kenikmatan yang sejati. Tunggulah hingga keduanya telah siap dan kuat betul keinginannya terutama kepunyaan laki-laki haruslah benar-benar telah siap dan menegang keras. Setelah itu, Kemudian peganglah tangan kiri wanita dengan tangan kanan, kemudian tangan laki-laki memeluk wanita, sambil mencium atau apa saja seperti uraian di bab sebelumnya,di atas, jangan tergesa-gesa. Hal ini hanya sebagai syarat untuk menambah birahi keduanya. Sementara itu harus dilakukan bersama-sama beranjak dari tempat duduk ke tempat berbaring, kemudian baringkan sepantasnya. Pakaian usahakan yang longgar agar tidak menghalangi.

Sesudah itu, renggangkanlah (buka)  kedua kaki wanita dan kedua tumit perempuan diletakan pada pangkal paha, yang seolah-olah untuk menyokongnya.

Adapun posisi laki-laki, dengan posisi berjongkok tegak berhadapan muka, dan jangan tergesa-gesa melakukannya bila belum siap betul. Jika telah benar-benar siap dan senjata laki-laki telah mengeras kuat, maka peganglah kepala kemaluan dengan  tangan kanan untuk dimasukan ke lobang kemaluan wanita dengan perlahan-lahan dan sedikit demi sedikit, dan pelan agar wanita makin kuat birahinya. Adapun tangan kiri lebih baik dijadikan bantal di bawah kepala perempuan.

Perbuatan memasukan senjata laki-laki ke dalam lobang perempuan, sebaiknya dilakukan oleh perempuan, yang mana membuktikan bahwa perempuan itu benar-benar cinta dan ingin sekali menikmati kenikmatan sejati itu.

Sesudah dapat masuk sampai pangkalnya, maka letak kaki berubah membujur yang lurus, perut di atas perut, dada lelaki di atas buah dada wanita, tetapi jangan terlalu menekan, sebisa mungkin dengan tekanan lembut dengan tekanan mengambang saja. Kemudian laki-laki mulai bekerja menarik dan memasukan senjata laki-lakinya dengan cara diayun dengan pelan dan lembut seiring keluar dan masuknya pernafasan, yaitu di saat menarik nafas maka masukan ke dalam dan di saat mengeluarkan nafas, tarikan keluar. Begitu berulang-ulang menarik dan memasukan mengayunkan senjata itu dengan secara kesatriya yang selalu ujung senjata laki-laki itu ditujukan ke bagian atas agak ke kiri sedikit, agar mengenai tempat kenikmatan wanita yang sesungguhnya.

Menurut kebiasaan, tidak berapa lama akan keluar lendir yang berguna sebagai minyak pelumas. Ingatlah, ketika laki-laki mengeluarkan minyak serupa ini, maka perbuatan menarik dan memasukan mengayun senjata harus selalu konstan, sehingga ketika tempat kenikmatan wanita yang sering tersentuh kepala senjata laki-laki, maka wanita akan merasa geli dan nikmat yang tiada terhingga. Hal demikian akan nampak pada rona merah di wajahnya serta rintihan lembut dan desahan nafas yang menggebu. Jika sudah demikian agar di percepat keluar masuknya ayunan senjata dengan tekanan yang mantap. Dan biasanya wanita akan bertingkah yang seolah-olah membantu kerja laki-laki. Apalagi jika wanita tersebut adalah wanita yang telah berpengalaman dalam olah asmara, wanita itu mulai sejak awal permainan akan besikap dengan tingkah yang luar biasa, sehingga proses persetubuhan bisa sangat memuaskan pihak laki-laki. Sehingga banyak laki-laki yang tergiur pada kepandaian perempuan pada saat olah asmara di banding pada elok dan cantiknya rupa, dalam hal pada keahliannya menyenangkan pria. Begitu sebaliknya, banyak wanita yang sangat mencintai laki-laki bukan karena ketampanan dan kekayaannya, akan tetapi disebabkan karena sangat pintarnya dalam melakukan olah asmara.

Sedangkan bagi wanita yang belum berpengalaman, maka ia akan malu untuk berbuat demikian yang disebabkan ia takut, jika disangka yang bukan-bukan, padahal aslinya dia ingin sekali bertingkah yang demikian itu.

Jika perempuan sudah menggelinjang dengan sangat hebatnya, diharapkan laki-laki mengimbanginya dengan jalan mempercepat dalam menggerakan keluar masuk ayunan senjatanya dengan tekanan yang mantap. Dimana hal demikian akan menimbulkan rasa nikmat yang tiada tara di pihak perempuan sehingga erangan dan rintihan perempuan akan semakin hebat bahkan kadang ada pekikan kecil, dan jika diperhatikan akan nampak tanda bahwa wanita akan mengeluarkan air rahsa, dimana laki-laki harus waspada dan harus mengimbangi dan menuruti gelagat wanita yang demikian dengan cara makin mempercepat dan mengeraskan keluar masuknya ayunan senjata nya... sampai puncak kenikmatan di kedua belah pihak dapat tercapai bersama-sama.

 

PERINGATAN

Bila perempuan belum kelihatan tanda-tanda akan mencapai puncak kenikmatan dan pihak laki-laki akan mendahului keluarnya air mani sumber kenikmatan sejati, maka hentikanlah dahulu perlawanan dengan cara tetap di biarkan di dalam atau di bibir kecil kemaluan wanita, dengan dibarengi menahan nafas serta diringi cumbu rayu atau kata hiburan yang indah kepada wanita, sehingga wanita tidak merasa kecewa atau hilang nafsu asmaranya. Sebab apabila laki-laki membiarkan saja keluarnya mani, maka sia-sia saja perbuatannya itu. Karena jika laki-laki telah mengeluarkan air maninya, maka laki-laki akan kehabisan tenaganya. Hal demikian tentunya sangat mengecewakan perasaan wanita dan jika wanita yang melakukan hubungan asmara tidak sampai kepada puncak asmara, maka wanita itu akan mengalami sakit di bagian pinggangnya.

Sebaiknya, diusahakan untuk bersama-sama mencapai puncak kenikmatan dengan di tandai keluarnya pancaran air mani laki-laki dan wanita, dan wanita akan memberi tanda denyutan-denyutan lembut yang menggigit kepala senjata laki-laki, sehingga keduanya merasakan kenikmatan yang luar biasa, yang tentunya dalam puncak rasa kenikmatan yang demikian jangan lupa batin selalu sadar bukan hanya puncak kenikmatan yang di harapkan akan tetapi juga sadar akan terjadinya biji manusia. Terjadinya biji manusia itu lebih mudah prosesnya jika keduanya keluar bersamaan. Bagi laki-laki yang waspada katika puncak rasa kenikmatan dan pancaran air maninya sedang menyembur keluar dengan kuatnya yang jika air mani itu akan berhasil membuahi wanita, maka laki-laki akan melihat pancaran cahaya kehijauan atau kekuningan di antara kedua matanya, apabila seorang laki-laki mau berkonsentrasi untuk memperhatikannya.

Dengan tanda-tanda yang demikian, maka akan dapat diketahui jadinya anak yang akan di lahirkannya. Jika cahaya yang muncul, nampak kehijauan maka anak yang akan dilahirkan akan menjadi anak perempuan. Dan jika cahaya yang muncul berwarna agak kekuningan, maka anak yang akan dilahirkannya akan menjadi anak laki-laki. Selain tanda-tanda tersebut, juga juga ada tanda tanda lainya, yaitu apabila wanita yang lebih dulu sangat bernafsu saat melakukan senggama, maka apabila menjadi anak, akan menjadi anak perempuan, sedangkan bila laki-laki yang lebih dulu bernafsu di banding perempuan, maka akan menjadi anak laki-laki.

Kembali pada topik senggama, apabila wanita sudah sangat bernafsu dengan menggelinjang dan badanya kenyal serta irama rintihan dan erangan semakin merdu, disertai liarnya gerakan tubuhnya, maka laki-laki harus faham dan harus mengimbangi hasrat wanitanya dengan cara semakin mempercepat dan mengeraskan tekanan atau dengan cara menekan keras dengan tulang kemaluan pria dan digeser dengan goyangan melingkar seolah-olah akan di telan semua milik senjata laki-laki, tentunya boleh di tambah dengan dekapan, ciuman dan atau apa saja yang pantas, sehingga akan semakin menambah cita rasa dalam persetubuhan, dan jangan lupa selalu usahakan kepala senjata laki-laki di arahkan mengenai manik letak puncak kenikmatan wanita. Jika wanita telah benar-benar mendekati puncak kenikmatan, maka posisi wanita dirubah dengan posisi lipatan kakinya di luruskan dan di bujurkan dan kedua pahanya dirapatkan. Sedangkan pihak laki-laki pahanya diletakan di atas paha wanita, perut di atas perut, dada di atas dada , denga tungkai kaki berdiri tegak dengan ditopang oleh kedua ibu jari kakinya.

Jika telah demikian, maka wanita akan semakin merasa tidak tahan, menunggu-nunggu mengharap yang juga dapat dilihat dari tingkahnya yang semakin menggeliat mengerang merintih liar, dimana di saat itu air rahsa wanita mulai terayun yang tak lama lagi akan keluar.

Jika sudah demikian, maka pihak laki-laki harus menekankan senjatanya ke dalam yang ditujukan ke arah atas (peranakan) sehingga pangkalnya senjata masuk ke dalam bibir besar kemaluan wanita dengan memusatkan pancaindranya dan menghilangkan segala pikiran dan angan-angan kosong dimana pikiran harus selalu berada di pusat perhatian pada hal-hal yang utama seperti tersebut di atas.

Ada baiknya juga, di saat demikian laki-laki berbuat dan menggosok seluruh tubuh wanitanya dan sedikit menggigit bibir atas atau bawahnya.

Maka tidak berapa lami lagi, keluarlah air rasa sumber kenikmatan sejati seorang wanita dengan di tandai tubuh wanita itu akan kelihatan begitu letih, dengan roman muka yang agak kepucatan, dikarenakan seakan-akan tidak tahan menahan rasa nikmat dari puncak kenikmatan yang tiada bandingnya di atas segala puncak rasa kenikmatan yang ada. Atau tanda tanda lain yang bisa dirasa oleh laki-laki adalah ujung kemaluan laki-laki terasa di denyut-denyut dihisap oleh jepitan siput wanita yang tentunya akan menambah nikmat laki-laki juga.

Di saat puncak persetubuhan yang demikian, kerap juga ada seorang wanita yang mengerang, mengaduh menjerit dengan pekikan kecil atau yang lainnya yang disebabkan oleh rasa nikmat dan rasa puas yang luar biasa, yang mana laki-laki akan merasa kasihan yang luar biasa padanya, sehingga laki-laki akan merasa capai dan kadang hadir pula perasaan lainnya, dan pada saat itu di antara rasa tidur dan jaga atau ngantuk yang luar biasa, biasanya akan muncul cahaya mulia tersebut di atas.

Tata cara persetubuhan seperti ini adalah buat laki-laki yang berukuran sedang kemaluannya, sedangkan bagi laki-laki yang kemaluannya panjang juga dapat melakukan persetubuhan dengan cara ini, pada saat permulaan ketika tumit perempuan masih di pahanya, ketika menarik dan memasukan senjatanya jangan terlalu dalam, yang mana bisa menyebabkan sakit di pihak perempuan. Atau untuk mengetahui hal ini sebaiknya di tanyakan kepadanya, jika perempuan merasa sakit maka terlalu panjanglah kemaluannya. Sebaliknya bila merasa kurang nikmat, maka senjata itu berukuran sedang atau pendek, akan tetapi harus selalu diingat!!! Selalu di tujukan ke arah atas agak ke kiri sedikit atau bisa juga di tanyakan kepada pihak wanita. Memang seharusnya kedua belah pihak harus saling terbuka dan saling berkomunikasi pada awal-awal masa pernikahan, sampai di temukan posisi, cara yang tepat agar keduanya bisa mencapai puncak asmara yang di dambakan.

Adapun cara bersetubuh bagi laki-laki yang kemaluannya (kelaminnya) terlalu pendek, jika memakai cara di atas, maka ketika puncak rasa akan dicapai, kedua kaki wanitanya tidak usah di bujurkan atau diluruskan ke bawah, biarkan tetap terbuka dan tumit wanitanya biarkan di pangkal pahanya. Lebih baik lagi ketika sudah mendekati puncak asmara, maka kaki wanita kedua-duanya di angkat ke atas seolah-oleh dipikul  di pundak laki-laki. Atau lebih sempurna lagi, jika sejak mulai awal senggama, kedua kaki wanitanya di pikul di pundak laki-laki dari mulai awal persetubuhan sampai selesai. Ini berlaku bagi laki-laki yang terlalu pendek senjatanya .Akan tetapi, bagi laki-laki yang terlalu panjang senjatanya jangan melakukan cara seperti ini.

Adapaun tata cara bersetubuh bagi laki-laki yang terlalu panjang senjatanya ialah, terlebih dahulu duduk berhadapan, memegang tangan, memeluk, mencium dan lain-lain, tidak ada bedanya dengan cara-cara di atas. Sikap demikian ini hanya sebagai cara guna menambah gairah atau menguatkan saja agar benar-benar kokoh maka perlu dilakukan pemanasan seperti tersebut di atas, kemudian tangan kanan laki-laki dijadikan bantal bagi wanita dan diatur hingga posisi paling selaras.

Setelah senjata laki-laki masuk pada tempatnya, dan akan memulai mengayunkan senjatanya, maka luruskan kaki perempuan ke bawah hingga kedua pahanya benar-benar rapat, hingga senjata laki-laki terasa terjepit. Jika sudah demikian, maka mulailah mengayunkan senjata dengan cara memasukan dan menarik dengan diimbangi pernafasan seperti sudah dijelaskan di muka. Adapun soal mencium, membelai, meremas buah dada dan membelainya, bisa dilakukan dengan syarat dengan penuh perasaan dan tidak boleh kasar. Karena wanita adalah lembut dan penuh kelembutan. Bila wanitanya sudah mendekati puncak rasa, dengan di tandai erangan, rintihan, desahan dan tingkah polah yang menggelinjang-gelinjang (seolah-olah menggigil), maka laki-laki harus mengimbangi dengan cara mempercepat ayunan menarik dan memasukan senjatanya dengan sedikit di gosokan ke kanan dan ke kiri atau mirip dengan mengaduk minuman. Dengan demikian semakin hebatlah rintihan dan erangan wanitanya serta geliat tubuhnya sebagai tanda bahwa tidak lama lagi akan meledak dan terpancarlah puncak rasa, dimana laki-laki harus selalu mengimbangi gelora wanita yang telah bertingkah demikian hingga benar-benar sudah semakin dekat mencapai klimak, maka tekan dengan kuat senjata laki-laki ke dalam hingga pangkalnya memasuki bibir besar kemaluan wanita, dengan memusatkan pikiran dan pancaindra serta di pusatkan pada hal-hal yang baik dan utama, sampai puncak kenikmatan benar-benar telah dirasa oleh keduanya.

Sehingga jelaslah, bahwa sejak dari awal hingga selesainya bersetubuh, kedua kaki wanita harus tetap membujur lurus dengan merapatkan ke dua buah pahanya, sedangkan yang laki-laki dengan posisi dada di atas dada, perut di atas perut, sedangkan tangan kiri dijadikan bantal, sedangkan kedua kaki direnggangkan dengan posisi seperti katak yang akan meloncat.

Sedangkan bila persetubuhan dilakukan oleh laki-laki yang bentuk senjatanya sedang, maka sebaiknya pantat wanitanya di ganjal dengan bantal kecil ataupun lainnya, sehingga posisi kemaluannya agak terangkat lebih tinggi.

Akan tetapi bagi laki-laki yang bentuk senjatanya terlalu pendek,  maka dalam melakukan bersetubuh sejak mulai awal hingga selesai posisi kedua kaki perempuan di taruh di pundak laki-laki, sedangkan posisi laki-laki sedikit berlutut denga ditahan oleh tumitnya, atau setengah merangkak dan setengah berdiri pakai lutut, hingga bila dilihat dari samping sikap laki-laki mirip dengan sikap kucing sedang duduk.

Demikian sedikit uraian bersetubuh, sedangkan aturan dan tata cara lainnya bisa di pelajari sendiri, asal sepaham dan disepakati oleh kedua belah pihak, dan selalu diingat bahwa :

Usahakan keluarnya air rahsa puncak dari persetubuhan keluar bersama-sama antara laki-laki dan wanita.

Lurus atau tidaknya senjata laki-laki, yaitu bila senjata laki-laki bengkok ke kanan, maka ayunan tekanan ke dalam vagina diusahakan di belokan atau digeyolkan ke kanan, sebaliknya bila bengkok ke kiri, maka ayunan senjatanya harus di geyolkan ke kiri.

 

LARANGAN BERSETUBUH

Bersetubuh semenjak jaman purba hingga kini, adalah suatu adat yang termasuk kehendak Tuhan. Adapun kehendak Tuhan yang dimaksudkan adalah untuk memperbanyak keturunan, demi untuk menyembah Tuhannya.

Sehingga sudah jelaslah di sini, bahwa melakukan persetubuhan tidak diijinkan oleh-Nya hanya digunakan untuk permainan dan memuaskan hawa nafsu sexnya saja. Jika hal demikian tetap dilakukan, Tuhan akan memberikan peringatan berupa penyakit diantaranya : Druiper, Syangker, Syphilis, Raja singa, dan lai-lainya.

Jangan sekali-kali melakukan senggama memakai obat kuat, baik yang berupa tepung, pil, ataupun semacam minyak yang di balurkan di kepala atau seluruh kemaluan ataupun yang di minum. Yang kesemuanya itu bertujuan untuk memperlambat dan tahan lama keluarnya mani dan untuk menolak penyakit.

Perlu di ketahui, bersetubuh itu tidak usah dengan waktu yang lama, karena bukan dengan lamanya persetubuhan yang bisa memuaskan kedua belah pihak akan tetapi adalah kualitas dari persetubuhan itu sendiri. Orang bersetubuh yang tidak memakai aturan, walaupun dilakukan dengan waktu yang lama, tentulah tidak akan memuaskan dan akan terbuang sia-sia biji manusia, sebab mereka tidak saling mengerti pada masing-masing punya gelagat atau kehendak, untuk mencapai puncak kenikmatan.

Untuk lebih menambah wawasan, akan kami terangkan apa sebabnya orang di larang bersyahwat mempergunakan obat-obatan :

Mendorong perbuatan jahat, artinya, mereka lantas melakukan kegiatan sanggama dengan siapa saja, sebab mereka mengira walaupun melakukan dengan banyak orang yang bukan isterinya tidak bakalan diketahui oleh masyarakat karena tak dapat hamil.

Dapat menjadikan angkara murka terhadap persetubuhan, sebab orang yang bersetubuh memakai obat, tentu tidak bisa sepuas apabila dibanding yang dilakukan dengan cara biasa, sehingga semakin murkalah untuk selalu bersetubuh hingga bisa merusak mental dan badan mereka.

Mengganggu kesehatan badan dan otak, oleh karena disebabkan keluarnya air mani tidak sebagaimana mestinya. Sedangkan tenaga yang dikeluarkan adalah tenaga pulasan yang sebetulnya tidak sepadan dengan kekuatan asli dirinya yang tentunya berakibat merusak badannya sendiri.

Sedangkan larangan bersetubuh lainnya, adalah sebagai berikut :

Janganlah sekali-kali melakukan persetubuhan apabila salah satu pihak sedang terganggu kesehatan badannya, ataupun jiwanya sedang sedih, khawatir, taut dan lain-lainnya. Hal ini akan berakibat buruk bagi keturunannya.

Usahakan jangan melakukan persetubuhan pada siang hari (biji dalam keadaan cair), dan waktu terbaik untuk bersetubuh adalah diantara pukul 12 hingga pukul 2 malam, sampai kira-kira hampir pagi, karena di saat itulah keduanya jiwanya dalam keadaan tenang, tenteram, hawa dingin dan sunyi untuk lebih mempermudah konsentrasi.

Jangan bersetubuh dengan wanita yang sedang berpuasa atau wanita yang tidak makan dalam tempo yang lama, dan jangan bersetubuh dengan wanita yang habis makan, karena bisa menyebabkan serangan jantung.

Djangan setelah bersetubuh langsung mencuci kemaluan ataupun di sapu dengan dengan pembersih, tunggulah beberapa saat. Karena hal demikian dapat menyebabkan penyakit kanker dan bila menjadi anak, maka akan menjadi anak yang dungu.

Diusahakan janganlah bersetubuh dengan wanita yang lebih tua dari umur laki-laki, karena dapat menimbulkan cepat berkurangnya zaad, jika tidak berobat atau mengkonsumsi suplement untuk mengembalikan zaad yang terserap.

Jangan bersetubuh sambil mandi atau selepas mandi, dan juga sedang mengeluarkan darah atau sedang nifas atau pun juga karena baru sembuh dari penyakit diare, karena bisa menimbulkan penyakit dalam atau pun bila darah perempuan masuk ke dalam kemaluan laki-laki bisa menimbulkan berbagai macam penyakit, dan bagi perempuan saat yang demikian tidak akan dapat merasakan kenikmatan.

Suatu ajaran yang di ajarkan oleh K.N. Muhammad saw, kepada Sayidina Ali, dilarang bersetubuh dengan memandang kemaluan seorang perempuan, karena dapat menyebabkan muka mudah berkerut, atau jika yang di lihat bagian dalamnya bisa menyebabkan anak keturunannya menjadi buta.

Jatuhnya biji juga akan berpengaruh pada kelahiran seorang anak. Karena dalam ilmu perbintangan ataupun Ilmu Weton Jawa (Perbintangan Jawa), karena saat jatuhnya biji akan mempengaruhi saat kelahiran seorang anak. Ini bisa di pelajari pada buku-buku yang ada.

 

ASMARATANTRA

Yang disebut Asmaratantra adalah  Asmara = Senang sekali; Tantra = mantra atau seribu atau semuanya. Sehingga yang dimaksud di sini adalah melakukan persetubuhan dengan 1 (satu) orang dapat dirasakan oleh semua orang yang pernah di setubuhi. Hal ini bisa terlaksana dan hanya bisa terjadi dengan teraturnya rahsa serta terlaksananya cipta.

Di saat mulai bersetubuh dengan seseorang, haruslah mengheningkan cipta, kemudian menarik rasa bersetubuh (rahsanya sendiri) disatukan dengan cipta, kemudian menciptakan sifat-sifat wanita yang akan diberi bahagia dari rahsanya bersetubuh tersebut. Dan jika telah terwujud dalam cipta gambaran wanita yang di cipta seperti dalam ilmu Asmaracipta, kemudian setubuhilah semua wanita yang telah muncul dalam cipta, sampai dengan keluarnya rahsa nya sendiri. Dengan kekuatan cipta; maka rasa nikmat bisa di kenakan atau ditujukan kepada semua wanita yang telah ada dalam rasa ciptanya, sehingga rasa kenikmatan besetubuh tersebut dapat dirasakan sama persis rasanya kepada semua wanita yang telah di cipta dalam pikirannya.

Jika telah bisa menguasai jalannya Asmaratantra, rasa nikmat bersetubuh bisa dirasakan sampai oleh 100 orang wanita. Dengan melakukan persetubuhan dengan satu orang wanita, rasa nikmatnya bisa dirasakan oleh 100 hingga 1000 orang. Kisah demikian di ceritakan dalam kisah wayang dalam cerita Sri Arjunasasrabahu yang mempunyai istri sebanyak 800 orang wanita. Kisah Harjuna ketika menjadi raja di Kaendran, para bidadari yang berjumlah 7 dapat terkena rasa semua, karena harjuna sangat menguasai Asmara 6 tahap sebagaimana tersebut di atas.

Di dalam Kitab Panitisastra (karangan Empu Widdhayaka) diterangkan perbandingan antara laki-laki dan perempuan adalah 1/8 untuk laki-laki dan 8/8 untuk perempuan. Ini berlaku untuk hal makan dan dalam hal pekerjaan, bahwa perempuan adalah lipat delapan di banding dengan laki-laki. Begitu pula tentang senggama juga lipat delapan. Dewi Drupadi bersabda : Tidak ada perempuan yang akan mendapatkan kepuasan dari laki-laki. Mengetahui hal tersebut, maka Harjuna bertekad untuk mendapatkan cara agar bisa memuaskan perempuan, hingga akhirnya Harjuna mendapatkan kesaktian berupa Pusaka Mantra yang bernama Asmaragama, dimana ilmu ini adalah suatu ilmu untuk bagaimana caranya agar laki-laki bisa memuaskan hasrat asmara wanita.

Sedangkan yang dimaksud ucapan Dewi Drupadi bahwa tidak ada laki-laki yang bisa memuaskan wanita, itu hanya peribahasa saja. Sedangkan makna sesungguhnya adalah bahwa laki-laki adalah badannya rahsa sedangkan wanita adalah tempatnya rahsa. Rahsa itu tempatnya di perut. Jadi maksud yang di kandung adalah : Tidak ada Rahsa yang dapat memuaskan perut, karena rahsa (Umpama rasa dari makanan), itu bukan berupa barang ataupun benda seperti air, ataupun makanan lainnya; akan tetapi rahsa lebih bersifat kehalusan yang hanya lewat sekejap di lidah yang kemudian berjalan melalui tenggorokan, maka habislah sudah. Demikian sekedar gambaran tentang rahsa.

Sehingga dengan demikian, sangat tepat perumpamaan bahwa perempuan tidak akan dapat terpuaskan oleh laki-laki. Di sini dapat diterangkan bahwa laki-laki adalah badan wadagnya atau alat, bahwa semua alat untuk melakukan asmaragama itu semua adalah wadag. Wadag atau ujud atau benda tidak akan bisa mengenai rasa, sebab rasa bukan wadag. Dengan demikian wadag laki-laki tidak akan dapat memuaskan rasa perempuan; maka RAHSA-lah yang akan memuaskan RASA, Sifat laki-laki hanya sebatas alat atau syarat membuka rasa perempuan, terbuka dan terkenanya rasa perempuan oleh alat atau senjata laki-laki itu yang dapat memuaskan, sehingga lebih tepatnya kepuasan wanita dapat terjadi setelah rasa perempuan tergerak dan bergerak karena tertarik dan terkena senjata laki-laki hingga terjadilah rasa kepuasan perempuan.

Ada juga cara Asmaratantra yang tidak melakukan senggama secara nyata, dan nilainya lebih tinggi dari pada yang telah tersebut di atas, yaitu tidak dengan jalan bersetubuh menggunakan badan kasar, hanya dengan menggunakan daya cipta saja sudah dapat memuaskan wanita. Kekuatan cipta yang demikian dengan menggunakan bacaan mantra ketika cipta sudah terpusat, yang berbunyi :  Aku berniat memadu ajiku Amaratantra, cipta ku yang telah ku persatukan sebulat-bulatnya, dapat menarik khasiatnya pengaruh yang tersembunyi di dalam diriku” (Bersamaan dengan bacaan mantra ini, ujung jari tengah tangan kiri, maraba kemaluan sampai ke tulang ekor) Ku padu sehingga mesra di dalam cipta ku, cipta ku ku padu sehingga mesra dengan rasaku, rasaku mesra dengan rasa mereka itu yang berada di dalam kekuasaan cipta ku (mereka yang sifat-sifat dan gambaran wajahnya telah tercipta dan telah nampak sifat-sifat dan wajah  ciptaan itu di dalam cipta), rasa mereka mesra dengan rasa ku, aku dan mereka serasa, rasa kita ya rasa Tuhan.

Asmaratantra, bagi laki-laki yang hanya beristri satu pun ada gunanya. Hal demikian dikarenakan adakalanya baik laki-laki ataupun wanita dalam berkeluarga ada saat harus terpisah karena keadaan. Jika hanya satu atau dua hari tidak ada masalah. Akan tetapi bila perpisahan itu sampai berminggu-minggu atau berbulan-bulan, disinilah pentingnya Ilmu Asmaratantra tersebut, agar tidak sampai tejadi perselingkuhan ataupun perzinahan.

Sehingga jelaslah bahwa Ilmu Asmaratantra adalah satu-satunya ilmu yang bisa mendampingi  (selain keimanan yang kuat) serta bisa membuat rumah tangga semakin bahagia karena kebutuhan biologis nya selalu dapat terpenuhi. Karena dorongan kebutuhan biologis, sangatlah kuat sekali, andai tidak dapat terpuaskan maka akan berakibat tidak baik.

 

SEKS DALAM PERADABAN & KEBUDAYAAN JAWA

1.     Demikianlah Bhatara Brahma mencari-cari pasangan untuk bersetubuh, maka adalah sepasang pengantin baru, sedang saling mencintai dengan mesra, yang pria bernama Gajahpara, yang wanita bernama Ken Endok, mata pencahariannya bertani. Ken Endok pergi ke sawah mengirim makanan suaminya Gajahpara, nama sawahnya Ayuga, sedangkan tempat kediamannya bernama Pangkur. Turunlah Bhatara Brahma menyetubuhi Ken Endok, tempat persetubuhan itu bernama Tegal Lalateng.Dewa Brahma berpesan kepada Ken Endok, ‘Janganlah engkau bersetubuh dengan suamimu lagi. Jika engkau bersetubuh dengan suamimu, suamimu akan meninggal, karena kecampuran dengan anakku itu. Nama dari anakku nanti Ken Arok. Dialah yang kelak membawa perubahan besar di Pulau Jawa.

2.     Adalah seorang pencari tuak di hutan milik penduduk desa Kapundungan, dia mempunyai seorang anak perempuan cantik. Anak ini ikut ayahnya ke hutan. Oleh Ken Arok gadis ini diperkosa di tengah hutan, nama hutan itu Adiyuga.

3.     Kebetulan bertemulah Ken Arok dengan anak gadis penghulu desa Tugaran yang sedang bertanam kacang di ladang. Maka anak gadis itu diperkosa oleh Ken Arok. Lamalah hal ini berlangsung. Itulah sebabnya biji-biji kacang di Tugaran besar-besar dan enak rasanya.

Petikan di atas mengisahkan tiga peristiwa hubungan seks dari enam masalah yang terkait dengan seks dalam kitab Pararaton, yaitu kitab yang menceritakan tentang Ken Arok, Kerajaan Singasari dan Kerajaan Majapahit, abad XIII sampai dengan XV.

Para sahabat, topik pembicaraan kita kali ini adalah “Seks Dalam Peradaban & Kebudayaan Jawa. ” Pengertian seks di sini tentu bukanlah semata-mata terbatas pada makna jenis atau alat kelamin, melainkan segala hal yang berkaitan dengan masalah seks, baik itu masalah seksual, seksualitas atau pun kehidupan seks masyarakat Jawa, yang sudah menjadi adat istiadat dan membudaya.

Pengetahuan tentang sesuatu budaya dan peradaban yang berlangsung jauh di masa silam, pada umumnya diperoleh dari bukti-bukti sejarah, baik yang tertulis dalam suatu kitab, prasasti, peninggalan benda sejarah seperti relief candi maupun cerita yang dituturkan dari mulut ke mulut. Demikianlah, kisah perilaku seseorang dalam memenuhi hasrat seksualnya di abad XIII, dalam hal ini Ken Arok, Tunggul Ametung dan bahkan Dewa Brahma, dikisahkan dalam kitab Pararaton di atas.

Sejarah tentang seks, adalah sama panjangnya dengan kisah kehidupan dan perdababan manusia, semenjak penciptaan Adam-Hawa, disambung perseteruan Habil dan Khabil putera Adam, dan terus berlanjut sampai sekarang.

 

Kuda liar yang harus dikendalikan.

Ulama-ulama tasawuf menggambarkan hasrat seks sebagai nafsu yang bak kuda perkasa. Nafsu itu diperlukan agar manusia hidup dinamis hamemayu hayuning bawono atau rahmatan lil alamien, namun ia tidak boleh bagaikan kuda liar yang melonjak-melonjak, berlarian tiada arah tujuan menerjang serta merusak apa saja. Oleh karena itu nafsu termasuk nafsu seks harus dikendalikan secara baik lagi tepat guna.

Hasrat seks yang seperti kuda liar di masa Kerajaan Singasari tersebut oleh raja-raja Majapahit yang merupakan keturunan dari Ken Arok, dikendalikan melalui Perundang-Undangan Majapahit (Prof.Dr.Slamet Muljana, penerbit Bhratara, 1967). Ada enam kejahatan yang disebut tatayi, salah satunya adalah merusak kehormatan wanita, yang pelakunya diancam dengan pidana mati. Demikian pula masalah perkawinan, warisan dan gangguan terhadap perempuan yang sudah bersuami, diatur serta dilindungi oleh Undang-Undang.

Bukti sejarah tentang gambaran kehidupan seks dalam peradaban dan kebudayaan Jawa, sudah ada semenjak abad IX, sebagaimana terpahat dalam relief Candi Borobudur di Jawa Tengah. Candi Borobudur memiliki 1460 panel relief dan 504 stupa. Dari panel relief sebanyak itu, ada 160 panel yang sengaja ditimbun tanah karena reliefnya dianggap vulgar dan cabul. Panel-panel itu terletak di bagian paling bawah, yang disebut Kamadhatu, yang sekaligus dijadikan sebagai pondasi candi. Panel relief yang tersembunyi ini menggambarkan adegan Sutra Karmawibhangga atau hukum sebab-akibat kehidupan, yakni gambaran perbuatan yang mengikuti hawa nafsu manusia, seperti bergosip, membunuh, menyiksa dan memperkosa. Juga ada adegan-adegan seks dalam berbagai posisi.

Kehidupan seks di masyarakat mana pun di dunia ini semenjak zaman baheula sampai kini, pada hemat saya sama saja. Ada yang berlangsung bebas, ada yang binal dan liar, namun secara umum dan formal ditempatkan sebagai sesuatu yang sakral. Gambaran campur aduk tersebut dijumpai juga di Jawa, sebagaimana dikisahkan dalam kitab Serat Centhini (Centini) yang oleh para sastrawan dianggap sebagai ensiklopedi Jawa.

Serat Centhini yang ditulis oleh para pujangga Keraton Kasunanan Surakarta selama lima tahun dari semenjak 1809 sampai 1814 setebal lebih 4000 halaman, mengisahkan berbagai aspek kehidupan dengan latar belakang kehidupan masyarakat pada masa kekuasaan Sultan Agung tahun 1613 – 1645.

Sekitar tiga puluh tahun sebelumnya, Raden Rangga Prawiradirja, seorang pejabat Keraton Yogyakarta yang ditugaskan menjadi wedana di Madiun pada 1755 – 1784, menggubah cerita roman sejarah yang menjadi sangat legendaris, dengan latar belakang situasi di kerajaan Majapahit pada sekitar terjadinya Perang Paregreg awal 1400. Cerita roman sejarah itu dinamakan Serat Damarwulan, yang disusun dalam bentuk tembang-tembang macapat nan merdu. Di dalamnya disisipkan sejumlah adegan seks antara lain sebagai berikut :

Swarga nraka sampun pisah gusti, dhuh mas mirah atma jiwaningwang, pupujan ingsun mas angger, sagunging para arum, samya sanget ageng kang brangti, harjasa luwih, Raden Damarsantun, amatek asmaragama, para putri wus marem kadya saresmi, kena asmaragama.

Bait itu mengisahkan bagaimana Raden Damarwulan memenuhi dahaga seks semua isterinya, yaitu permaisuri dan para selirnya sekaligus dengan menggunakan ajian asmaragama, yaitu suatu ajian yang membuat semua isterinya merasa sudah melakukan hubungan seks secara memuaskan, padahal yang disetubuhi hanya salah seorang saja, bahkan bisa tidak seorangpun.

Pada bagian lain dikisahkan pula bagaimana Sang Raja menggauli pertama kali gadis pingitannya dari desa, yang semula agak takut-takut, tapi kemudian berlangsung sampai mandi keringat sambil sang gadis mendesah mesra :

Ken Warsiti mingser semu ajrih, glis sinambut pan kanuswa-kuswa, binekta tilam sarine, Nata ndhatengken kayun, lan Warsiki karon ing resmi, angga tan padya muga, cipta lir binanjut, riwe kumyus aturasan, ngesah asih Warsiki sesambat mati, Sang Nata wlas tumingal.

Meskipun mengisahkan persanggamaan, kedua bait di atas didendangkan dalam irama tembang Dandhanggula yang bernuansa meditatif kontemplatif, sehingga tidak terkesan vulgar.

 

Kitab Kawruh Sanggama yang ditulis oleh Raden Bratakesawa tahun 1926 menyebutkan, salah satu tanda yang menunjukkan seorang wanita mencapai kepuasan seks adalah “pratandhanipun malih manawi wanita wau sampun madhar prasa, sariranipun ngalumpruk marlupa kados oncat yitmanipun sarta asasambat ingkang damel trenyuh ing manahipun priya. Tumrap wanodya ingkang sampun asring-asring leledhang ing taman lambang sari, asring sambat pejah, boten purun pisah, sasaminipun kados inggih-inggiha. Tubuhnya terpuruk tiada daya, nyawanya bagaikan melesat meninggalkan raga, mendesah mengeluh minta pertolongan sehingga membuat terharu hati lelaki. Bagi wanita yang sudah terbiasa melepas birahi di taman cinta, bahkan sering mengeluh rasanya seperti hendak mati, tak mau berpisah seperti sungguh-sungguh saja.”

Cara memuaskan pasangan wanita dan tanda-tanda tatkala mencapai klimaks hubungan seks, menjadi kewajiban dan harus dipahami oleh seorang lelaki. Karena itu maka diajarkan dalam kitab Kawruh Sanggama (Pengetahuan tentang Sanggama) dan Serat Nitimani dengan cara yang indah dan tidak vulgar. Serat Nitimani menurut pengarang kitab Kawruh Sanggama, juga menjadi salah satu sumber rujukannya.

Serat Nitimani, secara kata-kata, apa yang bisa diterjemahkan sebagai Memahami Sperma, ditulis selama tahun oleh Aryasugada dan selesai pada tahun 1888. Meskipun namanya seperti itu, bahkan dalam bahasa Jawa pun terkesan vulgar, namun demikian menurut pendapat tersebut. Bagian yang menjelaskan salah satu tanda yang menunjukkan pasangan wanita mencapai puncak olah asmara, yang sebagian juga dikutip dalam kitab Kawruh Sanggama, Songing adalah,“sinenggol pucuking pasta, ing kono dipun turuta, sakarsanireng wanodya, yen pinareng datan lami, wanita amudar prasa, yekti ana wataranya, gara-gara jroning baga, anyendhol pucuking pasta, iku saka kira-kira laraping reca gupala, kabukaning jenengg wiwara Hyang Kamajaya, aliya tandha mangkana, kang sayekti kawistara, kawawas sawarnanira, ing hangga sakojur wanda, angler kaoncatan yitma, lesu ngalumpruk marlupa, kadi-kadi tan kuwawa, anyandhang enaking rahsa, sesambate melas arsa, karya treny.Sebuah gambaran tentang wanita yang tengah mencapai klimaks hubungan seks, tetapi dalam bahasa Jawa halus atau kromo inggil, melalui berbagai kiasan. Padahal isinya sederhana, pokoknya pada tubuhnya lunglai bagaikan pakaian basah yang jatuh dari jemuran, nglumpruk-nglempreg, mendesah-desah bahkan tidak seolah-olah seolah-olah hendak mati.

Serat Nitimani yang disajikan dalam bentuk jawab, sesungguhnya adalah sebuah ajaran tentang kehidupan manusia yang dimulai sejak alamruh, diturunkan untuk hidup di bumi melalui sepasang manusia, yaitu ibu-bapaknya, untuk suatu tujuan mulia yakni hamemayu hayuning bawana, sekaligus membangun alam raya. Hidup di dunia itu hanya sekedar singgah minum musik. Lebih sepertiga dari isi kitab ini merupakan kajian tasawuf yang sudah pada tahap hakikat dan makrifat. sebagian besar membahas tentang isi kitab Wirid Hidayat Jati karya Raden Ngabehi Ranggawarsita. Sementara itu hampir dua pertiga bagian membahas hubungan pria – wanita. sebagian dari itu pada hemat penulis mengambil dari Serat Centhini yang selesai ditulis 64 tahun sebelumnya. Sebagai kitab tasawuf,

 

Erotika, seks dan mistis.

Perihal Serat Centhini, ini sungguh kitab yang luar biasa, yang berisi tentang berbagai pernik kehidupan masyarakat Jawa, ada tentang penanggalan Jawa, rumah, makanan, obat-obatan, kebiasaan hidup sehari-hari termasuk seks yang dikupas tuntas mulai dari bagaimana mengenal serta memahami perilaku seks seorang perempuan berdasarkan ciri-ciri fisiknya, sampai bagaimana melakukan sanggama secara liar dan nakal dengan berbagai posisi dan cara, adegan sesama lelaki, satu lelaki dengan dua bahkan tiga perempuan sampai ke adegan sanggama secara mistis dan sakral. Karena itu maka banyak para pengamat sastra Jawa yang menyebut Centhini lebih dahsyat dibanding kitab seks Kamasutra dari India yang sangat mendunia.

Memang ada yang menyebut seperti itu, tapi saya kira Centhini bercerita tentang banyak hal. Lebih luas daripada Kamasutra,” kata Elizabeth D. Inandiak, seorang Prancis yang menggubah dan menerjemahkan Serat Centhini ke Bahasa Indonesia dan Perancis. Saya tak pernah membayangkan sama sekali bahwa seks bisa bergabung dengan mistik, dan itu ada di Centhini.

Sebagai lelaki Jawa yang dibesarkan di daerah Pantai Utara, penulis sedari kecil sering mendengar tentang kesenian tayub, ledhek, ronggeng dan sejenisnya, baik di Jawa terutama di daerah Jawa Timur, Blora, Surakarta, Banyumas dan Jakarta.Namun saya belum pernah dengan mata kepala sendiri menyaksikan secara langsung. Saya hanya tahu dari surat kabar dan majalah serta cerita dari mulut ke mulut. Di benak saya, kesenian itu sangat seronok dan biasanya disertai dengan mabuk-mabukan.

Dalam Serat Centhini, pertunjukkan tayub dengan ronggengnya, bahkan kirimi panji dengan iringan rebana di rumah pengede/pejabat waktu itu dan di lingkungan pesantren, tingkah polah beberapa orang untuk mengumbar nafsu seksnya secara menerjang norma-norma kesusilaan dan agama yang berlaku.

Lantaran dalam bentuk tembang-tembang macapat, serta dalam bahasa Jawa Tengahan ke Jawa Baru, bagi masyarakat sekarang, Centhini tidak mudah dijangkau. Namun jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, dan penulis pernah merasakan, sulit membayangkan bagaimana mengungkapkan berbagai macam adegan serta perilaku seks dan sanggama yang benar-benar vulgar sesuai dengan apa yang ada, mudah dipahami oleh orang kebanyakan termasuk anak-anak. anak. Apalagi bila dipenggal-penggal diambil hanya bagian-adegan sanggamanya saja, pasti menjadi bacaan yang sangat porno.

Tetapi bagi orang dewasa, jika disajikan secara utuh disertai ulasan yang membahas segi-segi buruk dan sebaik-baiknya, Centhini patut dibaca. Terutama apabila sesuai dengan keinginan Elizabeth Inandiak, kecabulan dan kekotoran bahasa Serat Centhini terhapus lewat tembang dengan paduan gamelan dan pesinden. “Pembacaan Serat Centhini sejatinya memang ditembangkan. Dengan demikian, para pembaca tak tenggelam ke lautan kata-kata kotor dan cabul sehingga keindahan erotika Serat Centhini tetap dapat ditangkap.”

Beberapa pelajaran dan hikmah akibat seks bebas misalkan, digambarkan pada diri para pelaku seks bebas Kulawirya, yang menderita penyakit kelamin raja atau sifilis. Sementara itu kecerobohan orangtua dalam melakukan hubungan-hubungan seks, sehingga menjadi bahan intipan dan tontonan rutin tiga anak gadisnya yakni Banem, Banikem dan Baniyah, membuat ketiga anak gadisnya pembohong mengenal rasa malu. Sebagai akibatnya, mereka langsung bernafsu mencoba mempraktekkan persanggamaan kedua orangtuanya, tatkala menerima tamu pria yang menginap di rumahnya.

Sebagaimana kelaziman yang berlangsung semenjak runtuhnya Kerajaan Majapahit dan berdirinya Kesultanan Demak, pengajaran-pengajaran dari orangtua ke anak atau dari pandita dan ulama kepada para santrinya, dilakukan dengan menggubah serat atau kitab, bahkan suluk, dalam bentuk tembang-tembang macapat. Isi kandungan serat atau kitab adalah bebas, bisa langsung berupa ajaran-ajaran, tapi bisa pula merupakan kisah roman sejarah seperti halnya Serat Damarwulan. Sedangkan suluk, yang berasal dari bahasa Arab, yang berarti cara atau jalan, berisi tentang cara mendekati diri kepada Gusti Allah (berbagai tulisan mengenai suluk, bisa dilihat dalam https://islamjawa.wordpress.com). Dengan aneka tembang macapat yang digubah oleh para wali, berbagai hal dan tata halus nilai kehidupan, diajarkan kepada masyarakat secara indah lagi, mengikuti rasa seni di kedalaman batin setiap insan.

Kisah asmara paling halus dalam Serat Centhini menjadi milik pasangan Amongraga dan Tambangraras. Amongraga, putra tertua Sunan Giri, duduk berhadapan dengan Tambangraras, istrinya, di kamar pengantin pada malam pertama pernikahannya. Amongraga berada di buritan ranjang ranjang, sedangkan Tambangraras duduk di haluan. Jarak antara keduanya cukup jauh. Riuh-rendah tetamu yang masih berpesta dan mabuk di luar kamar masih terdengar, sedangkan suasana di kamar sangat tenang dan damai.

Amongraga tak lantas bersanggama dengan istrinya. Dan terus begitu hingga malam keempat puluh. Selama itu, Amongraga mengajarkan sejumlah rahasia kepada istrinya agar persanggamaan mereka mencapai penyatuan sejati. Sebelum tiba-tiba malam itu, keduanya hanya saling mengungkapkan dan berbicara. Mereka bertelanjang secara bertahap sesuai dengan tingkatan mistiknya. Semakin tinggi tingkat mistiknya, semakin tinggi pulalah ketelanjangannya.

Tingkatan mistik tercapai berkat ajaran-ajaran Amongraga yang diambil dari mistisisme Islam dan asmaragama (seni bercinta Jawa). Ajaran Islamnya bersumber dari buah pikir sufi Timur Tengah seperti Al-Jili, Abdul Qadir al-Jailani, Al-Ghazali, dan Rumi. Sedangkan ajaran asmaragama bersumber dari tradisi tantrisme dan falsafah Jawa Kuno. Karena asmaragama, banyak yang menganggap Serat Centhini sebagai Kamasutra Jawa. “Memang ada yang menyebut seperti itu, tapi saya kira Centhini bercerita tentang banyak hal. Lebih luas dari Kamasutra.

Amongraga telah sepenuhnya menyadari apa yang diajarkan selama empat puluh malam, pun juga dengan Tambangraras. Jiwa mereka terbakar dalam api asmara. Dan mencapai puncaknya pada malam ke empatpuluh. Saat itulah, mereka tanpa tubuh. Tak ada laki-laki, tak ada perempuan. Manunggal. Demikian puncak erotika. Inandiak menyebut itu sebagai paduan sir (nafsu dalam bahasa Jawa) dan sir (rahasia dalam bahasa Arab). “Nafsu yang mengangkat asmaragama ke alam gaib (rahasia),”. sesuatu yang pada hematnya menjadi padanan kata paling tepat untuk erotika dan tidak ditemukan dalam alam pikiran orang Barat melalui membacanya terhadap karya sastra mereka. “Sepanjang pengetahuan saya, mudah-mudahan saya salah, tak ada kesusastraan Eropa yang menggabungkan seks dan mistik seperti ini,” tutupnya menutup diskusi.

 

Puncak hubungan seks dan pengaruhnya pada sang anak.

Selain menggambarkan perilaku seks binal, Serat Centhini dan sejumlah kitab lain menguraikan pula betapa sakral masalah hubungan seks bagi para priyayi Jawa. Begitu Tambangraras menyerahkan kegadisannya misalkan, maka segera sesudah selesai melakukan hubungan suami – isteri untuk pertama kalinya, keluarganya langsung mengadakan kenduri dan meracik segala macam jamu, sebagaimana diungkapkan antara lain dalam dua bait ini:

Tan cinatur langening pulang sih, sabab puniku kandha uliya, saru yen kinarya wadheh, yata wau kang ibu, ngrukti titigasan ireki, sakeh kang ila-ila, sadaya rinamut, sarta lan kendhurinira, Nyai Daya sampun reracik ajampi, pentil delima pethak.

Inguregan ingisenan ganthi, mesoyi pucuk lawan majakan, kapulaga lawan cengkeh, isine cubung wulung, mrapat lawe wenang ginodhi, sawuse ingubedan, pan pinipis lembut, slasih ireng jinantonan, myang pon-emponan panginang ketemu giring, ring bathok pauyupan.

Masalah seks dalam makna memahami dan mempersiapkan hubungan harmonis pria wanita supaya bisa menurunkan anak yang baik, juga banyak dikupas dalam berbagai kitab Primbon Jawa, terutama yang bersumber dari babon atau kitab induk karangan Kanjeng Pangeran Harya (KPH) Cakraningrat patih Kasultanan Yogyakarta di masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono V (tahun 1820 – 1855). Sayang sekali kitab primbon seperti itu sekarang sulit dicari, disamping banyak ditulis ulang secara sembarangan oleh siapa saja, juga lebih dikesankan unsur-unsur mistis dan tahayulnya, sehingga tidak menarik bagi generasi muda sekarang.

 

Satu hal yang seyogyanya perlu dipahami, sebagaimana diajarkan oleh leluhur penulis, yang dalam versi lain bisa dijumpai pula dalam Serat Centhini, Serat Nitimani, Serat Kawruh Sanggama dan Primbon KPH Cakraningrat tersebut, adalah bagaimana sepasang suami-isteri mempersiapkan diri menjelang berhubungan badan, dan apa yang harus dilakukannya pada saat sanggama, terutama apabila mengharapkan keturunan. Secara hakikat, ajaran ini sama dengan ajaran di dalam Islam, namun rukun dan tatacaranya berbeda.

Inti ajarannya adalah hubungan sanggama tidak boleh dipaksakan, dilakukan dalam kondisi badan sehat, sebelumnya mandi dan gosok gigi atau bersih-bersih badan supaya aroma tubuhnya harum, serta dilangsungkan dalam suasana yang tenang dan nyaman. Selanjutnya berdoa atau shalat hajat dua rekaat, memohon ijin dan pertolongan Gusti Allah, agar hubungan suami isteri yang akan dilakukan diridhoi, dirahmati dan diberkahi, diberi kekuatan lahir batin sehingga berlangsung harmonis, serta dijadikan sebagai bekal ibadah dan amal saleh. Yang lebih penting lagi, selama bersanggama, hawa nafsu tidak boleh dibiarkan melesat lepas bebas tanpa kendali agar pada saat mencapai orgasme, baik tatkala terjadi pada isteri atau pun suami, masing-masing syukur jika bisa keduanya, hening sejenak sembari berdoa di dalam hati, agar benih yang dipancarkan bisa menjadi anak yang soleh atau solehah dan sejumlah harapan baik lainnya bagi sang anak.

Suasana batin pasangan pria  wanita pada detik-detik saat mencapai orgasme itulah yang diyakini akan menentukan watak anak yang lahir dari persetubuhan tadi. Apatah berwatak ksatria Pandawa seperti Puntadewa, Bima, Arjuna dan Kresna ataukah para Kurawa seperti Duryudana, Dursasana, Burisrawa dan Sengkuni bahkan Rahwana; berwatak Gajah Mada, Sunan Kalijaga, Bung Karno, ulama, seniman, pedagang ataukah Ken Arok, Damarwulan ataukah berandal ataukah koruptor ?

Ibarat sebuah lukisan, suasana batin orang tua sewaktu mencapai puncak hubungan seksual sangat menentukan kualitas kain bahan lukisan. Adapun cat, corak, jenis dan gambar lukisan tergantung pada orangtua, guru dan masyarakat setelah sang anak lahir. Maka seperti suasana batin Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi yang lupa diri lantaran nafsu syahwatnya berkobar tanpa kendali menerjang pagar ayu atau kesusilaan, lahirlah raksasa perkasa nan angkara murka yakni Rahwana atau Dasamuka.

Di dalam legenda dan kepercayaan masyarakat Jawa, ada sejumlah tokoh besar yang lahir akibat hubungan gelap atau pun pemerkosaan. Orang yang melanggar kesusilaan dengan melakukan hubungan gelap, pada umumnya dikuasai dorongan nafsu, semangat dan tekad atau lebih tepat nekad dengan sangat kuat terutama pihak lekaki, sehingga lahirlah anak yang memiliki semangat dan berani nekad. Lebih-lebih apabila setelah lahir, anak hasil kumpul kebo ini bisa dibesarkan serta dididik oleh ibunya selaku orangtua tunggal dengan keprihatinan tinggi. Maka jadilah tokoh-tokoh hasil lembu petengyang mengukir sejarah seperti halnya Ken Arok dan Bondan Kejawan, serta sejumlah tokoh lainnya yang diyakini masyarakat memiliki latar belakang hasil hubungan seks yang sama.

Tentu saja penulis tidak menganjurkan para sahabat melakukan hal yang seperti itu demi memiliki keturunan yang perkasa dan bisa menjadi penguasa ternama. Karena toh kalau anggapan seperti itu benar, berapa persen dari anak-anak hasil hubungan gelap yang bisa berkuasa, dan berapa persen yang gagal total dalam kehidupannya. Saya yakin yang gagal jauh lebih banyak. Lagi pula, keberhasilan menjadi penguasa, tidaklah menjamin yang bersangkutan mencapai ending yang baik.Bahkan tidak jarang kehidupannya berakhir dengan tragis.

 

Rahasia Keperkasaan Raja-Raja Jawa di Ranjang

Raja bagi masyarakat Jawa dahulu dianggap setara dewa atau titisannya. Raja dengan kekuasaannya menentukan nasib negeri.

Dalam kekuasaan tidak ada persaingan, tidak terkotak-kotak atau tidak terbagi-bagi dan bersifat menyeluruh. Kekuasaan raja seperti kekuasaan dewa, yang agung dan binathara," begitu G. Moedjanto menulis dalam bukunya, Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-Raja Mataram (Yogyakarta, 1987).

Raja-raja juga identik dengan banyaknya selir. Masing-masing raja jumlah selirnya bisa sampai belasan, bahkan puluhan. Selir-selir itu juga jadi semacam simbol bagi kuasanya sang raja kala memerintah kerajaannya.

Selir itu bisa dikatakan perempuan-perempuan yang terikat hubungan dengan raja tanpa status pernikahan. Karena keterikatan itu, selir juga harus melayani raja dalam segala hal yang menyenangkan, termasuk urusan di atas ranjang.

Soal urusan di atas ranjang, tentu banyak yang heran bagaimana para raja Jawa dulu mampu perkasa dalam urusan bercinta dengan selir-selir yang sampai berjumlah puluhan.

Misalnya Raja Kasunanan Surakarta (Solo), Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Pakubuwono X. Raja Kasunan Surakarta yang memerintah tahun 1893-1939 itu konon memiliki 40 sampai 45 orang selir.

Sejumlah literatur menyebutkan, Sinuhun Pakubuwono X mampu mengatur waktu ketika berhubungan intim dengan para selirnya itu.

Rahasia keperkasan ala raja Jawa di atas ranjang salah satunya pada ramuan khusus. Ramuan itu yang digunakan para raja Jawa untuk menggauli para selirnya yang sampai puluhan orang tersebut.

Ramuan itu merupakan minuman yang harus diminum secara rutin setiap hari. Ramuan itu campuran dari 40 butir merica, 40 lembar daun sirih, dan 40 bawang lanang yang dihaluskan bersama menggunakan layah dari batu.

Usai dihaluskan, lalu direbus dan disaring. Selanjutnya air hasil penyaringan itu diembunkan semalaman. Pagi harinya air itu diminum. Begitu terus setiap hari.

Selain ramuan, para raja Jawa juga memegang ilmu Asmaragama sebagai pedoman dalam bercinta. Aji Asmaragama itu dibeberkan oleh Dhamar Sasangka dalam bukunya Gatholoco, Rahasia Ilmu Sejati dan Asmaragama (Jakarta, 2013).

Tak cuma soal gaya bercinta, dalam Amaragama juga terdapat sejumlah ajaran cinta yang memiliki filosofi Jawa. Pertama, Asmaratantra. Ajaran ini mengajarkan pada pasangan suami istri, saat mau bercinta harus ada perasaan berbeda saat saling bersentuhan.

Saat itu, pasangan suami istri harus ada getaran di hati masing-masing, misalnya saat berciuman. Getaran itu harus tetap ada dan dipertahankan.

Lalu Asmaraturida. Asmarturida mengajarkan pasangan suami istri tidak boleh kaku, sesekali satu sama lain harus mengeluarkan guyonan lucu yang mengundang tawa hingga bisa mencairkan suasana. Tak jarang guyonan bisa berakhir di ranjang.

Selanjutnya Asmaranala. Ajaran ini mengajarkan tentang saling memberi dan saling menerima, disenangkan, dan menyenangkan. Harus ada pengertian. Wujud keterikatan batin bisa terbangun dari sini.

Kemudian ada Asmaradana yang mengajarkan kepada setiap pasangan agar mampu saling menyentuh hati pasangannya. Sentuhan untuk hati tak sebatas kata-kata manis, tapi juga bisa hal lain, misalnya memberi bunga dan hadiah kecil.

Terakhir, Asmaratura. Ajaran ini mengajarkan puji dan rayu satu sama lain dari pasangan suami istri. Pujian dan rayuan di sini sangat penting untuk menjaga keharmonisan hubungan.

Adapun sebelum melakukan hubungan seks, raja-raja Jawa harus melakukan semedi dan membersihkan diri. Ritual itu dilakukan raja sebagai bentuk persiapan sebelum bercinta, baik dengan permaisuri maupun selirnya.

Selagi raja bersemedi, permaisuri maupun selir juga mempersiapkan diri, mulai dari mandi, dandan, dan memakai wewangian. Hal itu harus dilakukan, sebab dalam Asmaragama, kedua pihak, baik suami maupun istri, harus saling menjaga kebersihan diri.

 

SERAT NITIMANI

Dalam Serat Nitimani dilakukan akibat kondisi masyarakat yang mengalami degradasi moral. Perlu diketahui bagaimana etika melakukan hubungan seksual serta kriteria istri idaman orang Jawa dikaji dari Serat Nitimani. Penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi ini bertujuan untuk mengungkap pendidikan seks yang bermoral sesuai etika Jawa dalam Serat Nitimani serta kriteria istri idaman. Hasilnya didapatkan nasihat tentang cara memilih wanita untuk dijadikan istri dengan memperhatikan bobot, bibit, bebet dengan watak sama, beda, dana, denda; kewajiban istri dengan sifat gemi, nastiti, ngati-ati, tengen, rigen, mugen, serta titi, rukti, dan rumanti. Ajaran paling penting mengenai pendidikan seks adalah etika berhubungan badan yang sesuai dengan tatanan moral masyarakat Jawa, seperti dilakukan dalam kondisi sadar, tenang, bersungguh-sungguh, sabar, hati-hati, mampu mengendalikan diri, dilakukan di tempat semestinya, serta dimulai dengan kondisi bersih dan niat suci.

Serat Nitimani adalah Naskah Jawa sebagai warisan nenek moyang bangsa Indonesia mengandung nilai-nilai yang cukup baik diteladani dan disebarluaskan yang terkandung di dalamnya masih cukup relevan dan bermanfaat bagi kehidupan di masa sekarang. Salah satu lini kehidupan yang

dianggap sebagai sesuatu yang penting dalam budaya Jawa adalah

tentang pendidikan seks. Tema tentang seks ini banyak digunakan sebagai tema besar dalam penulisan suatu karya sastra. Ada beberapab karya sastra yang bahkan secara khusus mengupas tentang ajaran seksologi, seperti :

1.     Serat Nitimani, Serat.

2.     Centhini.

3.     Serat Darmogandhul.

4.     Serat Gatholoco.

Setiap teks memiliki sudut pandang yang berbeda dalam pemaparan seksologi. Serat Darmogandhul dan Serat Gatholoco menggunakan seks sebagai analogi

dari proses manunggaling kawula gusti. Serat Centhini pada bab XIV membahas tema seks antara Syekh Amongraga dan Tambangraras, sedangkan Serat Nitimani menjadikan teks sebagai pembahasan utama dalam karya

sastranya. Serat Nitimani menyajikan ajaran seksologi Jawa secara murni, artinya di dalamnya disajikan secara menyeluruh tentang ajaran moral dan

pedoman bagaimana melakukan hubungan seksual secara benar.

Ditinjau dari namanya, Nitimani berasal dari kata niti dan mani. Kata niti berarti pranatan pedoman, sedangkan kata mani berarti wijining manungsa kang saka wong lanang, benih manusia dari lakilaki’(Poerwadarminta, 1939). Kata Nitimani berarti pedoman untuk memasukkan benih manusia dari lakilaki atau dengan kata lain pedoman untuk berhubungan badan.

Berdasarkan keterangan yang terdapat pada bagian manggala dapat diketahui bahwa Serat Nitimani ini ditulis sekitar tahun 1816, kemudian diubah kata-katanya oleh Raden Mas Aryasuganda pada taun 1821. Serat

Nitimani merupakan terjemahan dari Aji Asmaragama, yang banyak mengulas rahasia hubungan suamiistri, termasuk membahas lika-liku bersenggama. Teknik hubungan suami-istri itu digambarkan di Serat Nitimani seperti berikut ini :

Lamun trĕsna, den murina labĕtira, mrih santosa, widadaning abipraja.Yen suwita, den sĕdya apuruhita, mrih binuka, uninga tata silaraja. (Pupuh II pada 7).

Jika cinta, saling berbelas kasihlah kalian, agar sentosa, selamat tujuannya.Jika mengabdi, sempurnakanlah niat untuk berguru, agar terbuka, ketahuilah

tata cara yang baik.

Serat Nitimani ditulis dalam 32 pupuh dengan wujud tanya  jawab antara seorang pemuda yang kemudian disebut Juru Patanya dengan seorang guru laki laki yang disebut Sang Murwenggita. Akan tetapi, sebelumnya dalam dua pupuh awal diberikan keterangan mengenai penulisan Serat Nitimani (terletak pada pupuh I) kemudian dibuka dengan petikan saloka dan wangsalan hanya

untuk memperindah bahasa teks yang ada. Secara keseluruhan isi teks

membahas tentang pendidikan seks bagi pria Jawa yang akan berumah

tangga dan penjelasan tentang ilmu kesempurnaan.

 

Serat Nitimani merupakan salah satu naskah Jawa yang memiliki ciriciri sebagai teks piwulang. Banyak sekali nasihat yang termuat dalam teks ini, baik bagi para wanita maupun untuk pria. Salah satu ajaran yang sangat penting diketahui adalah ajaran tentang cara melakukan hubungan badan antara suami istri yang sesuai dengan etika, bahwasanya dalam berhubungan seks hendaknya manusia

selalu ingat kepada Sang Pencipta, Allah Swt. Selain itu, terdapat pula

ajaran mengenai kewajiban wanita dalam melayani suami, pergaulan, dan

teladan perbuatan baik, serta kriteria wanita idaman para lelaki yang seperti

apa. Kandungan yang terdapat dalam Serat Nitimani secara tersurat maupun

tersirat merupakan pesan-pesan moral yang patut diketahui, diamalkan, dan

diteladani dalam kehidupan seharihari. Diharapkan dengan mempelajari

karya ini akan terungkap keutamaankeutamaan moral yang sudah ada sejak masa lalu kemudian menjadi norma dan pandangan hidup masyarakat sejak dulu kala. Kajian tentang pendidikan seks ini perlu dipelajari oleh khalayak umum sebagai bagian dari penyebarluasan kesehatan masyarakat. Memang masyarakat Jawa pada dasarnya menganggap pemaparan tentang pendidikan seks sebagai suatu hal yang tabu. Akan tetapi, pemikiran tersebut harus sudah mulai ditinggalkan. Orang Jawa perlu mengenali banyaknya aspek positif dari seksualitas. Masyarakat harus memahami bahwa seksualitas mencakup lebih dari sekadar perilaku seksual. Bahwa seksualitas tidak hanya mencakup aspek fisik, tetapi juga aspek mental dan spiritual. Seksualitas harus dipahami secara menyeluruh bukan sebatas kebutuhan fisik semata, tetapi juga kesatuan emosional sert sosial (Foster, 1968). Seksualitas adalah bagian penting dari eksistensi manusia dan elemen kepribadian yang mendasar (Rahiem, 2004). Oleh karena itu, kesehatan seksual perlu dipahami seutuhnya oleh masyarakat sebaga sarana preventif terjadinya perilaku seksual yang menyimpang. Dalam budaya Jawa, seorang anak belum dianggap dewasa ketika ia belum memahami tata krama secara baik. Kenyataan yang terjadi dewasa ini bahwa rasa sungkan dari orang tua untuk mengajarkan pendidikan seks kepada anak-anaknya membuat mereka menjadi lebih liar ketika dilepas dari lingkungan keluarga. Kini, banyak orang tua yang berbondong-bondong menyekolahkan anaknya ke kota-kota besar.

Tentu dalam rantauannya itu, anakanak harus menyewa tempat indekos dan terlepas dari pengawasan orang tua. Di sinilah titik balik kepercayaan orang tua teruji. Anak-anak harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru dengan model pergaulan yang beraneka ragam. Anak yang sejak awal tidak dibekali pengetahuan yang cukup tentang tata krama bergaul yang baik tentu akan semakin mencari tahu hal-hal yang belum diajarkan oleh orang tuanya ketika ia berada di rumah. Maka, timbullah kemudian  rasa ingin mencoba sesuatu yang baru dari pribadi anak yang membuat terjadinya perilaku seksual yang menyimpang dari norma-norma kehidupan. Memang bukan perkara mudah

melakukan diskusi secara terbuka tentang seksualitas dalam maysarakat Jawa modern. Dalam pandangan khalayak umum, pembicaraan mengenai seksualitas masih terbatas pada domain keluarga di rumah antara suami dan istri, sehingga tidak bisa dibicarakan antara orang tua dan anak mereka. Pada umumnya ketika harus berbicara tentang seks, orang Jawa akan memperhalus pengungkapan tersebut menggunakan kata hubungan seksual, seksualitas, atau seksologi untuk membuat kata tersebut terdengar lebih sopan (Rahiem, 2004). Sejatinya, kata seks maupun seksualitas memiliki arti masing-masing dan itu bukan merupakan kata yang buruk. Justru yang membuat kata-kata itu terdengar tidak baik karena hilang kemurnian kata tersebut ketika dihubungkan dengan imajinasi erotis dan ideologi yang tidak sempurna (Archard, 2000). Tentu hal tersebut membuat pencitraan tentang pendidikan seksual menjadi tidak sempurna dan mengalami pengurangan makna. Pembicaraan mengenai hubungan seksual pun disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu. Dalam pembahasannya juga tetap ada peraturan, batasan-batasan nilai dan moral yang harus dijaga. Hal ini dikarenakan pembicaraan mengenai hubungan seksual akan menimbulkan berbagai macam ekspresi serta imajinasi yang harus tetap dikawal dengan kontrol nafsu yang baik. Selain itu, pembicaraan mengenai seks ini memiliki konsekuensi mendalam bagi diri sendiri, orang lain, dan masyarakat (Lickona, 2013). Oleh  karena itu, pendidikan seks menjadi bagian yang penting dalam pembentukan suatu karakter. Seksualitas merupakan sebuah misteri dan bagian yang kompleks dari diri kita (Foster, 1968). Hal ini merupakan sesuatu yang sangat pribadi dan berkonotasi pada implikasi sosial yang luas. Akan tetapi, hal ini harus dipandang secara positif bukan sebaliknya. Berbicara tentang seksualitas maka hal ini harus sejalan dengan pemahaman yang matang

tentang peran seks dalam kehidupan. Pemahaman tentang filosofi pendidikan seks harus dijiwai secara matang dan menyeluruh sehingga nantinya mampu menentukan persepsi diri yang bijak akan hal tersebut.

Semua remaja perlu mengetahui tentang seksualitas dan pengambilan keputusan seksual yang tepat di dalam hidupnya. Remaja yang tidak mengerti bagaimana seharusnya ia mengambil keputusan tentang hubungan seksual layaknya gajah yang terkurung dalam suatu ruangan. Walaupun pada akhirnya pengambilan keputusan mengenai hubungan seksual merupakan permasalahan intrinsik

suatu moral yang memiliki konsekuensi bagi dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya. Akan tetapi, pengambilan keputusan seksual yang tepat merupakan kunci dari perkembangan karakter seseorang (Lickona, 2013). Selaras dengan Lickona, Balanko juga menyebutkan bahwa ada asumsi yang berkembang

di masyarakat bahwa pendidikan seksual dapat membentuk kepribadian serta nilai-nilai seksualitas para remaja sehingga dapat mencerminkan nilai moral dalam suatu kelompok masyarakat (Pittman & Gahungu, 2006).

Pengendalian diri tentang seksualitas sudah dianggap sebagai tanda kepemilikan karakter yang baik sejak dahulu kala sehingga bukan hanya suatu kebetulan belaka. Bagi orang tua, seksualitas merupakan bagian dari kehidupan yang menjadi petunjuk kebijaksanaan (Lickona, 2013). Pendidikan seksual pun

sejatinya memiliki etika tersendiri. Etika seksualitas terjadi ketika seseorang mampu mengendalikan hasrat seksualnya dan mampu bertindak secara bertanggung jawab, baik dengan cara menghormati diri sendiri maupun orang lain (Williams, 2000). Di sinilah tujuan paling penting dari pendidikan karakter.

Proses hubungan seksual tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Ada etika yang harus diperhatikan dalam pelaksanaannya. Dibutuhkan pengetahuan mengenai segala hal tentang seks ketika akan melakukan hubungan seksual. Hal ini dikarenakan proses pelaksanaan hubungan seksual itu bukan sematamata untuk pemenuhan nafsu pribadi, tetapi juga akan mempengaruhi kehidupan selanjutnya. Jika proses yang dilakukan salah maka akan menimbulkan dampak buruk bukan hanya bagi anak yang akan lahir tetapi juga bagi keseimbangan, keselarasan, serta keberlangsungan kehidupan selanjutnya. Akibat fatal yang terjadi dari proses berhubungan badan yang keliru seperti menurunnya moral masyarakat saat ini. Banyak orang yang mulai melakukan proses hubungan badan tanpa mengindahkan etika yang berlaku. Kejadian hamil di luar nikah, pemerkosaan, pencabulan, banyaknya anak yang terlantar, serta meningkatnya kriminalitas merupakan beberapa dampak yang muncul akibat proses hubungan badan yang keliru pada mulanya. Jika kejadian ini tidak segera diatasi, kualitas bibit generasi  yang akan lahir selanjutnya tentu tidak akan baik. Permasalahan pokok yang akan dianalisis dalam penelitian ini adalah mengenai bagaimanakah ajaran yang terdapat dalam Serat Nitimani tentang etika melakukan hubungan seksual serta seperti apa istri idaman orang Jawa? Pengkajian Serat Nitimani ini bertujuan untuk mengetahui kearifan

budaya mengenai pedoman cara melakukan hubungan seks yang tepat antara wanita dan pria sesuai dengan etika Jawa. Termasuk di dalamnya adalah kriteria memilih wanita idaman orang Jawa serta pemaparan tentang kewajiban seorang istri. Berbagai pedoman yang diajarkan dalam Serat Nitimani ini dapat dijadikan sebagai sumber kearifan membentuk moral laki-laki dan perempuan yang ingin berhubungan badan dengan cara yang baik sesuai etika. Baik buruknya benih manusia yang tercipta akibat Etika Berhubungan Badan Hubungan seksual adalah kebutuhan setiap insan. Sudah menjadi kodrat manusia dibekali hawa nafsu. Hanya saja pelampiasan nafsu birahi harus pada tempat yang tepat dan bukan kepada sembarang orang. Perilaku seksualitas yang terjadi pada masyarakat Jawa zaman dahulu dengan berganti-ganti pasangan, tidak  Nur Hanifah Insani: Sérat Nitimani: Pendidikan Seks berdasarkan Etika Jawa 79 sepantasnya untuk ditiru. Hal ini karena perbuatan seksual di atas berlawanan dengan moralitas masyarakat Jawa yang terkenal santun dengan perilakunya. Hubungan seksual memang boleh dilakukan, tetapi dengan syarat hanya dilakukan oleh pasangan suami istri yang sah, tidak untuk mengumbar hawa nafsu. Ketika hubungan seks itu dilakukan dengan mengumbar hawa nafsu maka yang terjadi bukanlah kebaikan melainkan keburukan pada keduanya. Apalagi jika yang melaksanakan hubungan seks itu pasangan belum menikah atau bukan suami istri yang semestinya. Jika sampai si wanita hamil maka pertanggungjawabannya akan susah dan pasti mencoreng citra baik wanita itu.

Hubungan seksual memang merupakan masalah yang sangat penting dalam budaya Jawa karena hasilnya adalah sebuah kehidupan baru. Oleh sebab itu, perlu diajarkan agar sebelum melakukan hubungan seksual haruslah disiapkan

segalanya agar hasilnya juga sempurna dan mengerti asal kemana ia akan berakhir. Seperti aturan yang telah ditetapkan baik itu oleh ajaran agama maupun ketetapan para leluhur, bahwasanya orang yang boleh melakukan persetubuhan hanyalah orang yang sudah menikah, itu artinya seorang laki-laki hanya boleh bersetubuh dengan istrinya sendiri, bukan orang lain. Hubungan seksual juga harus dilaksanakan secara benar agar mendapat rida dari Tuhan dan diberikan hasil yang baik pula. Dalam hal hubungan seksual maka yang paling penting adalah peranan alat kelamin sebagai media utama. Budaya Jawa mengajarkan mengenai konsep alat kelamin pria sebagai sesuatu yang penting karena merupakan bagian dari tempat persemayaman juga. Ajaran mengenai konsep seks juga menerangkan apa sebenarnya alat kelamin itu sebagai sarana utama dalam hal seks. Di situ diterangkan bahwa tubuh manusia adalah manifestasi dari Tuhan itu sendiri dan alat kelamin milik pria dalam setiap bagiannya adalah perwujudan dari unsur ketuhanan sehingga tidak boleh digunakan sembarangan karena suci sifatnya.

 

Yen priya lan wanita anggenipun sami sahresmi pamudharin prasa

sesarengan, woring kama mangka pinareng dening Pangeran Kang Maha Mulya badhe nitahaken manungsa, punika woring kuma wau lajeng kendel dumunung wonten guwa garbaning wanita, binasakaken garbini inggih punika meteng. (Pupuh 8)

Bila seorang pria dan wanita bersetubuh, pertemuan kama diperkenankan oleh Tuhan Yang Maha Esa, akan ditaksirkan manjadi manusia. Bersatunya kama (sperma dan sel telur) tersebut kemudian akan berdiam diri di rahim wanita yang kemudian disebut hamil.

 

Melihat hal tersebut, maka tujuan dari pelaksanaan hubungan seksual salah satunya yang paling penting adalah untuk menghasilkan keturunan. Benih manusia yang hadir di rahim wanita itu bisa ada hanya karena restu dari Tuhan.

Sesungguhnya dalam bersenggama seorang wanita harus mengikuti

kemauan laki-laki. Hal tersebut adalah ajaran tentang tindakan yang tepat bagi wanita dalam hal berhubungan seksual. Adapun tingkah laku wanita ketika berhubungan badan sebaiknya mengimbangi gerak pria yang bertujuan untuk menumbuhkan rasa nikmat. Ketika berbicara mengenai seks memang terasa tabu bagi sebagian besar orang. Akan tetapi, sebenarnya setiap orang pun berhak untuk tahu moral atau adab yang baik untuk melakukan hubungan seksual itu bagaimana agar prosesnya itu tidak sekadar untuk bermain-main saja.

Dalam Serat Nitimani dijelaskan kaidah-kaidah yang dapat dijadikan

pedoman untuk melakukan hubungan badan seperti berikut ini :

1.     Dilakukan dalam kondisi sadar dengan hati tenang Budaya Jawa mengajarkan bahwa dalam berhubungan seksual haruslah diniatkan dalam hati bahwa tujuannya adalah baik karena akan menghasilkan manusia baru. Oleh karena itu, hubungan seksual haruslah dilaksanakan dengan niat yang sungguh-sungguh karena hal tersebut sama juga dengan beribadah. Ketika sepasang laki-laki dan perempuan melakukan hubungan badan juga diajarkan untuk berada dalam posisi yang serba tenang, baik itu hati maupun pikiran. Segalanya harus dilakukan dalam kondisi baik agar hasil keturunan yang dihasilkan juga baik sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Tidak hanya itu, hati pria dan wanita yang sedang melakukan hubungan seksual juga harus bersih dan bijaksana. Haruslah diingat bahwa munculnya janin merupakan hasil karya Tuhan, sehingga harus dapat dipertanggungjawabkan.  Berikut merupakan petikan ajaran mengenai hal tersebut :

Lamun tandhing, marsudya ing tyas ening, namrih ering, kang supadi tan kajungking. (Pupuh 2).

Apabila sedang bertanding, usahakanlah hati tetap hening, agar konsentrasi terjaga, supaya tidak terkalahkan.

2.     Harus waspada dan hati-hati Etika lain yang harus diperhatikan dalam melakukan hubungan badan adalah tetap waspada selama pelaksanaannya. Tujuannya untuk menghindari hal-hal yang tidak diharapkan, yang dapat menyakiti salah satu pihak sehingga semua tidak menemui maut.  Berikut merupakan petikan ajaran mengenai hal tersebut :

Yen sembrana, den prayitna sampun lena, lampun ina, sayek amanggih weda. (Pupuh 2).

Apabila ceroboh, waspadalah jangan sampai lengah, sungguh sangat menyakitkan. Yen anglaras, panggagas aja sampun kabrangas, dimen awas, ing pamawas datan tiwas. (Pupuh 2). Jika sedang menikmati sesuatu, janganlah kesadaran terlena, agar tetap siaga, kewaspadaan tak akan menimbulkan kematian. Dalam pupuh 6 dijelaskan pula bahwa ketika kedua pihak sudah siap, maka harus segera dimulai proses hubungan badan. Yang tak boleh dilupakan adalah kewaspadaan. Tidak boleh ceroboh ketika menghujamkan serangan kepada lawan.  

Kalamun pasta purusa wus kiyeng kiyat santosa, kwehning daya wus samekta, iku nulya tindakena umangsah ing ranonggana, sayekti datan kuciwa tumempuhing banda yuda. Nanging ta dipunprayitna, ing tindak ajwa sembrana, gyaning bakal nuju prasa, mring wanita mengsahira, supaya leganing driya, wruhanta dipunwaspada. (Pupuh 6).

Ketika senjata pusaka laki-laki telah siap tempur, segenap kekuatan siaga, maka segeralah memulai pertandingan. Niscaya pertempuran tidak akan mengecewakan. Namun tetaplah waspada, jangan ceroboh. Ketika menghujamkan serangan terhadap senjata lawan, hendaklah mengutamakan kewaspadaan.

3.     Harus sabar dan berlapang dada Dalam melakukan hubungan badan tentu ada berbagai macam sensasi yang akan dihadapi oleh setiap pihak. Hal ini karena setiap pihak memiliki kekurangan yang harus diterima oleh pihak lainnya. Jika dalam melakukan hubungan badan salah satu pihak belum mencapai titik kepuasan atau orgasme maka pihak lainnya harus dengan sabar melayani sampai semua pihak merasa terpuaskan. Pelaksanaanya tentu harus dengan sabar, saling membantu satu sama lain.

Berikut merupakan petikan ajaran mengenai hal tersebut :

Lamun cuwa, sampun kawiscareng netya, wrananana, ing suka dhanganing karsa, kang supadya, datan manggih dirgama. Lamun gela, jroning nala sampu daga, sengadiya, langkung condong ing wardaya, pamrihira, kang pinanduk tan legawa. (Pupuh 2).

Apabila tidak puas, janganlah terlihat di wajah, tutupilah dengan wajah ceria, agar tidak mendapat kesulitan. Apabila kecewa, janganlah memberontak dalam hati, niatilah, untuk lebih berlapang dada, dengan harapan, agar ketidakpuasan tidak berlarutlarut.

4.     Mampu mengendalikan diri Ketika laki-laki dan perempuan yang sudah menikah ingin melakukan hubungan seksual maka jangan sampai lepas kendali. Kedua pihak harus tetap memperhatikan etika dan sikap yang luhur, serta tidak boleh serakah. Tujuannya untuk keselamatan kedua pihak tersebut. Berikut merupakan petikan ajaran mengenai hal tersebut :

Lamun harda, sampun dadra murang krama, mrih widada, pakarine kang utama .... Yen cecegah, den betah gonira ngampah, nganggah-anggah, yeku pakarti luamah. (Pupuh 2).Apabila punya keinginan, janganlah lepas kendali menerjang etika, agar selamat, utamakanlah sikap luhur... Selama mengendalikan diri, bersabarlah menahan hawa nafsu, lepas diri tanpa kendali, merupakan perilaku serakah.’ Jika dalam melakukan hubungan badan kedua pihak sudah merasakan kepayahan, hendaknya jangan diteruskan. Lebih baik ditunggu hingga kondisi benar-benar pulih sehingga bisa maksimal dalam penerapan asmaragama.

Kang iku den engetana, tembe sakaro tan kena, yen maning mangsah angayuda, kalamun durung nirmala, kudu temen tinumna, waluya sakalihira, mangkana ujuring salaka……. (Pupuh 6).

Ingatlah, ketika baru setengah perjalanan, janganlah melakukan pertandingan sebelum kondisi benar-benar pulih, demi menghindarkan diri dari hal-hal yang tidak diinginkan. Dalam petikan Serat Nitimani pupuh 23 juga dijelaskan bahwa dalam melakukan hubungan seksual harus dilakukan dengan penuh kesadaran dan diusahakan jangan sampai terseret oleh hawa nafsu. Maksudnya, selama berhubungan seks haruslah tetap diingat bahwa tujuan utama adalah untuk menghasilkan seorang manusia baru yang baik. Dengan demikian, manusia yang berasal dari proses yang  baik maka akan kembali kepada Sang Pencipta dengan keadaan yang baik pula.

Kacariyos bilih kasupen inggih kenging boten dados punapa, sabab sajatosipun ingkang prelu dados awisan amung hawa napsu bilih saged ambirat ing hawa napsu, kacariyos ing adat asring kadunungan awas lan emut, manawi tansah anggenipun awas kaliyan emut, bok manawi estu amanggih kamulyan ing sangkan paran….. (pupuh 23).

Diceritakan bahwa lupa itu bukan suatu masalah, sebab yang seharusnya perlu dihindari hanya hawa nafsu yakni bisa mengendalikan hawa nafsu, diceritakan dalam adat kebiasaan harus selalu waspada dan ingat, jika selalu waspada dan ingat, mungkin akan menemukan kemuliaan sejati.

5.     Tidak boleh tergesa-gesa Pelaksanaan hubungan seksual harus dilakukan dengan baik dan tidak boleh tergesa-gesa untuk segera diselesaikan. Hal ini karena dibutuhkan proses yang tidak sebentar untuk mencapai kepuasaan dalam berhubungan badan. Jika dalam suatu pertandingan saja ada beberapa babak yang dimainkan untuk bisa menentukan pemenang maka begitu pula dalam penerapan asmaragama ini. Siapa yang mampu bertahan lama, maka ia yang akan menjadi pemenang. Sebagai seorang laki-laki, ia harus mampu mengontrol senjatanya agar mampu bertahan lama sehingga tidak merasa malu karena dianggap sebagai laki-laki lemah, loyo, tanpa guna. Jika laki-laki tidak mampu bertahan lama, tentu wanita tidak akan merasa puas dan justru akan tersakiti. Berikut merupakan petikan ajaran mengenai hal tersebut. Lampahing asmaragama, kalamunpasta purusa dereng kiyat lan santosa, ing driya ajwa kasesa, nandukaken pancakara, kang mangkono wau mbok manawa, blenjani neng wiwara, dayane datan widada, temah dela kang wardaya, terkadang amanggih ewa, lan wanita lawannya, marga tan kapadang karsa .... Pameting rahsa mangkana, srana ngagema wisaya, pratingkah ukeling pasta, kacarita solahira, duk murwani lumaksana, karya pepucuking yuda, kwehning daya saniskara, ajwa sineru sarasa, ing tindak kesah saranta, pangangkah amung muriha, keri prasaning wanita.(Pupuh 6). Penerapan asmaragama adalah apabila senjata yang dimiliki lakilaki belum siap tempur maka janganlah terburu-buru melakukan pertandingan, karena pertandingan tentu tidak akan berlangsung seru. Sang laki-laki tentu tidak akan mampu bertahan lama, dan si wanita sebagai lawan bertanding pasti tidak akan merasa puas... Dalam keadaan demikian, kendalikanlah tata gerak senjatamu, janganlah tergesa-gesa untuk lekas selesai, dengan tujuan agar wanita yang menjadi lawanmu merasa terlayani dan hasrat bertempur akan semakin memuncak.

6.     Saling memperhatikan kemauan lawan main. Pelaksanaan asmaragama sudah pasti melibatkan dua pihak, laki-laki dan perempuan. Oleh karena itu, untuk mencapai kepuasan bersama, keduanya harus saling memperhatikan kemauan satu sama lain. Penerapan asmaragama boleh dihentikan ketika semua pihak sudah merasa terpuaskan.

Wondene, menggah patrap salebetipun sanggama wau, priya kedah mawas ulat liringing wanita punapa dene saliranipun piyambak, ten sampun kapanduking panggalih: lega, carem, tuwin marem sesaminipun upami tiyang nenedha, karaos sampun tuwuk. (Pupuh 6).

Padahal, selama proses pertempuran laki-laki wajib memperhatikan lawan main untuk mencapai kepuasan bersama. Ibarat makan, sama-sama merasakan kenyang. Dalam pupuh 19 juga dijelaskan secara rinci kewajiban wanita dalam proses asmaragama ini adalah harus mengikuti kemauan laki-laki. Wanita harus mampu mengimbangi gerak pria untuk menumbuhkan rasa nikmat dalam berhubungan badan. Selain menyeimbangkan gerak, wanita juga harus tanggap dan mengerti apa yang menjadi kehendak laki-laki. Itu semua semata-mata dilakukan sebagai bentuk ibadah

. ….saleresipun tiyang estri ing asmara boten malih, amung kedah anut ing ombak kasagedaning priya… Wonten malih gelaring wanita yen nuju sinanggama ing priya, lajeng ambiyantu ing solah obahing raga raga dadosaken keras maju sunduring pasta, pratingkah makaten wau sedyanipun supados simbuhi sakecaning prasa…. (Pupuh 19). Sesungguhnya dalam berhubungan badan seorang wanita harus mengikuti kemauan laki-laki... Adapun tingkah laku wanita ketika berhubungan badan sebaiknya mengimbangi gerak pria yang bertujuan untuk menumbuhkan rasa nikmat..

7.     Tidak boleh cepat puas. Ketika berhubungan seksual, tentu akan ada kondisi badan mengalami kelelahan. Akan tetapi, jika kelelahan melanda ketika pertandingan belum selesai maka harus dibangkitkan kembali dorongan seksual untuk bisa menyelesaikannya. Tujuannya agar semua pihak bisa terpuaskan dan tidak tersakiti.

Kedah manggen wonten gajeging gela, sampun kadamel lega, prasaning rahsa kawudhara, ing riku wujuding wisaya. (Pupuh 6).

Hendaklah membangun rasa penasaran, jangan merasa puas, bangkitkan kembali dorongan seksual anda, karena di situlah ruang kenikmatan.

8.     Dilakukan dengan sungguhsungguh, tidak boleh main-main Hubungan seksual yang dilakukan oleh suami istri sejatinya merupakan bagian dari ibadah. Oleh sebab itu, sudah semestinya jika dalam beribadah tidak boleh main-main, harus dilakukan dengan serius. Begitu pula ketika melakukan hubungan badan harus dengan serius dan tidak boleh main-main

.….liripun mekaten menggah ing saresmi wau boten kangge pakareman utawi boten kangge memainan, tegesipun boten kangge dedolanan utawi geguyonan…. (Pupuh 26).

Maksudnya dalam hubungan tadi tidak bisa untuk main-main atau bercanda.

9.     Dilakukan pada tempat yang semestinya Jika ingin melakukan hubungan badan, etika lain yang harus diperhatikan berkaitan dengan tempat pelaksanaannya. Penerapan asmaragama hanya boleh dilakukan di tempat sepi yang nyaman, hanya berduaan, dan tidak boleh diperlihatkan di depan orang lain. Hal ini karena proses asmaragama begitu sakral dan bukan untuk main-main.

Ingkang rumiyin nyariosaken tembung upami, wonten sujanma priya kaliyan wanodya, badhe dumugekaken karsa ngulang salulut sami lumebet ing jenem rum, tegesipun dunungin pasareyan, ing riku sandyana amung sakaliyan tur dumunung wonten papaning sepen, liripun boten katingalan dening tiyang kathah, ewa semanten menggah pepantenganing panggalih…. (Pupuh 25).

Yang pertama, menceritakan kalimat seandainya ada manusia laki-laki dan perempuan berkeinginan bercinta, masuk ke dalam ranjang artinya berada di tempat tidur walaupun di situ hanya berdua dan juga berada di tempat yang sepi yang intinya tidak kelihatan orang banyak, walaupun begitu keseriusan perasaan janganlah sampai lupa…….

10.                        Dimulai dengan membersihkan disertai niat yang baik serta doa yang bertujuan untuk membersihkan semua kotoran jasmani dan rohani serta meniatkan sesuatu yang baik dalam hati. Dengan demikian, diharapkan dalam melakukan hubungan seksual, keduanya berada dalam keadaan bersih dan suci sehingga benih yang muncul nanti merupakan buah dari perbuatan yang telah disucikan. Berikut merupakan petikan ajaran yang berkaitan tentang hal tersebut.

Wondene bilih pinuju badhe salulut anggenipun anaji-aji lan angedi-edi ing patrap kapratelaken kados ing ngandap punika : ingkang rumiyin, duk wiwit kagungan karsa badhe apulang asmara lan wanita sakaliyan sami sesucia, inggih punika siram tuwin jamas lajeng ngasta siwur anyiduka toya kaankat celak ing wadana mawi dipundonganana ... Ing sasampunipun rampung sesuciya siram jamas lajeng sami angadi-adi warna, kinarya sarana pangundhaning asmara, liripun menggahing pratingkah sami busana ingkang sarwa pantes, sarta angeganda wida, sasmpunipun samekta ing sakaliyan lajeng reruntunan sami malebet ing papreman ... (Pupuh 26).

Sedangkan ketika ingin memujamuja dan mengindahkan tingkah laku, akan dijelaskan seperti di bawah ini: Pertama, mulai dari punya keinginan senggama dengan wanita, semua harus suci. Harus mandi keramas, lantas mengambil gayung berisi air dan diangkat di dekat muka dengan berdoa...Setelah selesai bersuci mandi keramas (jamas) lantas berpakaian yang rapi untuk mengundang nafsu yang intinya tingkah laku dengan berpakaian yang pantas dan memakai wangi-wangian. Setelah semuanya selesai, lantas bersama-sama masuk ke tempat untuk tidur...

 

Wanita Idaman Laki-laki

Ada sepuluh nasihat moral yang disampaikan oleh Sang Murwenggita dari hasil percakapan antara Sang Murwenggita dengan Juru Patanya. Sepuluh hal tersebut berkaitan dengan bagaimana etika moral yang seharusnya dilakukan ketika melakukan hubungan seksual. Dalam konteks pengajaran seks, hal terpenting yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara memilih wanita yang baik agar kehidupan rumah tangganya berjalan dengan lancar. Para pria zaman dahulu jika ingin memilih wanita untuk diajak menikah pasti akan ditelisik terlebih dahulu kualitasnya. Laki-laki akan mencari wanita terbaik untuk dijadikan istri karena dalam budaya Jawa ada anggapan bahwa wanita dianggap

sebagai wadah dari benih yang akan ditanam oleh laki-laki. Oleh sebab itu, penting untuk memilih wanita terbaik yang dapat dilihat dari tiga hal, yakni bobot, bébét, dan bibit. Pertama, bobot berarti pemilihan wanita dari segi keturunannya. Ada tujuh jenis keturunan dari silsilah bapak

perempuan tersebut menurut isi Serat Nitimani pupuh ketiga :

1.     Darahbangsaning ngawirya, tegesipun trahing pra luhur, ingkang taksih kadrajatan.

Artinya keturunan orang luhur yang memiliki derajat tinggi.

2.     Darahing agama, tegesipun trahing para ngulama, ingkang alim ahli kitab-kitab.

Artinya keturunan para ulama, alim, ahli kitab.

3.     Darahing ngatapa,tegesipun trahing para pandhita ingkang alal brata leksana.

Artinya keturunan para pendeta.

4.     Darahing sujana,tegesipun trahing para linangkung, ing olah pangawikaning budi dhateng kalimpatan utawi kawicaksanan.

Artinya keturunan orang kaya yang memiliki budi yang baik serta bijaksana.

5.     Darahing ngagune, tegesipun trahing para pinter, ingkang olah dhateng kabangkitan.

Artinya keturunan orang pintar, yang ahli dalam kebangkitan.

6.     Darahing prawira,tegesipun trahing para prajurit, ingkang olah dhateng kawanteran, sarta ingkang asub ing kasudiranipun.

Artinya keturunan para prajurit.

7.     Darahing supatya,tegesipun trahing para tani ingkang wekel sarta temening manah.

Artinya keturunan para petani yang rajin serta tulus hatinya.

 

Kedua, bebet yaitu pemilihan wanita berdasarkan kekayaan harta bendanya. Yang ketiga, bibit yaitu pemilihan wanita berdasarkan kecantikan dan kemampuannya. Tanda-tanda wanita yang memiliki bibit yang baik itu berdasarkan Serat Nitimani dijelaskan seperti berikut ini :

1.     Warni bongoh, wanita yang memiliki tubuh gemuk, banyak dagingnya, memiliki rasa yang luas. Wanita seperti itu dapat membuka jalan yang nyaman untuk berhubungan badan.

2.     Sengah, wanita ini memiliki wajah yang bulat, enak dipandang. Wanita seperti ini dapat membuka rasa percintaan yang terpendam.

3.     Dlongeh, (semu tertawa) ini merupakan tanda wajah serta kedipan mata yang memiliki watak baik serta murah hati, tindak-tanduknya menarik hati serta sederhana. Wanita seperti inisangat menarik untuk dilihat tingkah-lakunya.

4.     Ndemenakaken, wanita seperti ini ini raut mukanya menarik diiringi cara bicaranya yang lancar, menandai hati yang senang, dapat membuka kedekatan satu sama lain.

5.     Sumeh, ini merupakan tanda wanita tersebut sabar.

6.     Manis, wanita ini senang bercanda dan indah matanya.

7.     Mrak ati, terlihat dari tindaktanduk serta bicaranya yang enak didengar.

8.     Jatmika, ini merupakan tanda beningnya hati.

9.     Susila, wanita ini kelancaran bicaranya dapat dilihat dari sorot matanya, tindak tanduknya menandakan budi yang suka menerima.

10.                        Kewes, wanita ini cekatan, pintar berbicara.

11.                        Luwes, wanita ini memiliki tutur kata serta tingkah laku yang halus.

12.                        Gandes, tutur kata dan tingkah lakunya memalatsih.

13.                        Demes, tenang bicaranya serta kesopanannya.

14.                        Seded, wanita yang memiliki badan tinggi, gemuk, dikatakan sembada.

15.                        Lecir, wanita dengan perawakan tinggi berisi.

16.                        Wire, wanita dengan badan kecil kurus.

17.                        Gendruk, wanita dengan badan besar yang kendor tetapi berisi.

18.                        Srenteg, wanita dengan badan besar kurang tinggi tetapi berisi dan kencang.

19.                        Lenjang, wanita dengan badan kurus tetapi panjang.

20.                        Rangkung, wanita dengan badan tinggi kurang berisi seperti akan jatuh. Memang akan dirasa berat untuk menemukan kriteria wanita yang ideal berdasarkan bibit, bebet, dan bobot seperti penjelasan di atas. Akan tetapi, tentu saja kriteria tersebut ditentukan sebagai dasar bagi para orang tua untuk memilih calon isteri yang terbaik untuk anaknya. Dari berbagai kriteria di atas yang terpenting untuk memilih calon isteri adalah yang memiliki darah winahyu, artinya wanita yang berbudi pekerti baik, berperilaku sesuai tata krama, sehingga mudah mendapat wahyu Allah. Wanita yang berkarakter baik tentu akan menjadi surga bagi sang suami dikarenakan ketaatannya kepada suaminya tersebut sehingga sang suami rida terhadapnya.

 

Sifat/Watak Wanita Idaman

Wanita yang dicari oleh kaum pria dalam Serat Nitimani dijabarkan memiliki watak sama, beda, dana, denda, dan memperhatikan bab guna, busana, baksana, serta sasana. Kata sama berarti sama, maksudnya memiliki watak welas asih terhadap semua orang. Beda berarti berbeda, bergeser, maksudnya memiliki watak kulina serta dapat mempertimbangkan segala sesuatu dengan keputusan yang tepat. Dana berarti lama, baru jadi, maksudnya memiliki watak suka memberikan kebahagiaan serta kesenangan terhadap semua orang. Denda berarti hukum, maksudnya memiliki watak hati-hati, teliti, dapat membedakan serta menalar masalah yang baik maupun buruk, dapat menempatkan

semuanya dengan benar. Ingkang kaping kalih kala wau sageda uninga panduking guna, busana, baksana lan sasana. (Pupuh 3) Yang kedua, yaitu dapat

memperhatikan bab guna, busana, baksana dan sasana. Guna berarti

kepintaran, harapannya dapat mengerti dan paham terhadap hak dan  kewajiban serta tugasnya sebagai istri. Busana, berarti pakaian, harapannya

dapat memahami dan menerapkan semua yang pantas dan tidak pantas untuk dipakai. Baksana berarti makanan, harapannya dapat mengetahui dan menggunakan semua uang yang telah diberikan suami untuk keperluan makan sehari-hari. Sasana berarti tempat, harapannya dapat mengetahui cara untuk

memperindah rumahnya. Ingkang kaping tiga kala wau ambeging pangrengkuh ingkang sawanda, saeka praya lan sajiwa. (Pupuh 3) Watak yang ketiga yaitu dapat berkeluarga yang sawanda, saeka praya dan sajiwa. Sawanda berarti serupa, sewarna, harapannya mau bersatu badannya. Maksudnya dapat menjaga

badan laki-laki seperti badannya sendiri. Saeka praya berarti menyatu budinya, harapannya memiliki kemampuan untuk bersatu dengan pria setulus-tulusnya. Sajiwa berarti bersatunya nyawa, harapannya memiliki pemahaman terhadap suaminya diibaratkan nyawanya sendiri. Sungguh memang tidak mudah mendapatkan wanita dengan sifat-sifat tersebut. Akan tetapi, tidak mustahil untuk menemukannya bagi seorang pria yang memang sungguh-sungguh

ingin memiliki istri dengan watak penuh kebijaksanaan tersebut. Idealnya memang sifat-sifat tersebut harus dimiliki oleh seorang wanita, tetapi jika memang belum mampu mengolah keseluruhan sifat tersebut setidaknya ada satu sifat kebaikan yang menonjol sehingga mampu memuaskan hati suaminya nanti. Hal yang paling penting adalah seorang wanita mengerti apa yang menjadi tugas dan kewajibannya sebagai seorang istri yang baik.

 

Kewajiban Seorang Istri

Selain memperhatikan dirinya sendiri, seorang wanita yang telah menikah juga memiliki kewajiban lain sebagai seorang istri. Dalam Serat Nitimani, bagi wanita yang sudah menikah harus melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri yang terdiri dari tiga pangkat. Masingmasing pangkat memiliki tiga jenis sifat, yaitu :

1.     Harus memiliki sifat gemi, nastiti, ngati-ati. Gemi berarti tidak boros, hemat. Seorang istri harus memiliki sifat gemi demi menjaga keberlangsungan ekonomi keluarganya. Nafkah yang diberikan oleh suami harus mampu dibelanjakan dengan bijak sesuai kebutuhan rumah tangga. Dalam membelanjakan nafkah sang suami harus dilihat porsi kebutuhannya dan jangan mementingkan nafsu belaka agar suatu saat ketika terjadi suatu hal yang tidak terduga, masih ada nafkah yang tersisa untuk menangani masalah yang terjadi. Kata nastiti berarti tidak menyepelekan suatu urusan. Seorang istri tidak boleh menyepelekan suatu urusan agar tidak menyesal di kemudian hari. Kadangkala akibat dari menyepelekan hal-hal yang dianggap remeh sangatlah fatal sampai membuat goyah kehidupan rumah tangganya. Oleh karena itu, sebagai seorang istri harus mampu berfikir bijak untuk selalu menimbang setiap tindakannya dalam melakukan suatu urusan. Kata ngati-ati berarti hatihati, tidak memberikan adanya kesalahan. Orang yang berhatihati akan selalu waspada terhadap segala sesuatu di sekitarnya. Tindakannya akan selalu memperhatikan aspek kehatihatian demi menjaga keselamatan dirinya maupun orang-orang di sekitarnya. Seorang istri harus bertindak hati-hati terlebih untuk menjaga perasaan suaminya agar tidak merasa dikecewakan.

2.     Harus tengen, rigen, mugen. Tengen berarti tidak membuat kecewa. Seorang istri sebisa mungkin harus berupaya untuk tidak mengecewakan suaminya. Untuk itu ia harus melakukan halhal yang disukai oleh suaminya. Hindari perbincangan atau perbuatan yang kiranya dapat membuat kecewa sang suami. Jika ada permasalahan yang membuat hati sang suami tidak berkenan, berupayalah untuk meminta maaf dan membicarakannya secara baik-baik dengan suami. Rigen berarti membuat nyaman. Kenyamanan dalam suatu hubungan suami istri sangat diperlukan. Pasangan suami istri yang saling merasa nyaman akan lebih awet dalam berhubungan. Untuk mewujudkan kenyamanan itu, perlu kiranya membuang kekakuan di antara sesama. Hidup tidak harus selalu ditanggapi dengan serius. Kadangkala berfikir atau bercanda santai pun diperlukan untuk mencairkan suasana. Mugen dapat dipercaya. Sangatlah penting menjadi seorang istri yang dapat dipercaya. Kepercayaan itu mahal harganya. Ungkapan itu harus diingat dan dicamkan baik-baik oleh seorang istri agar tercipta hubungan yang harmonis bersama pasangannya. Memang tidak semudah membalikkan telapak tangan ketika berbicara mengenai kepercayaan. Akan tetapi, kepercayaan terhadap pasangan itu semestinya dapat dibangun dan harus dibangun seiring berjalannya waktu.

3.     Harus titi, rukti, rumanti. Titi berarti tidak boleh sembrono/ceroboh. Seorang istri tidak boleh sembrono dalam bertindak maupun bertutur kata. Hal ini karena sifat ceroboh sangatlah merugikan. Orang yang ceroboh dalam bertutur kata dapat menyakiti hati lawan tuturnya. Jika istri bertindak ceroboh dalam kehidupan rumah tangganya, banyak akibat buruk yang dapat terjadi. Rukti berarti harus membuat sesuatu bagaimana baiknya. Seorang istri harus berpandangan luas sehingga ia mampu memecahkan berbagai macam persoalan yang muncul dalam rumah tangganya. Jika terjadi masalah maka istri harus berfikir dengan cepat untuk mengubah keadaan yang buruk menjadi lebih baik. Ia harus menata rumah dengan baik, misalnya, agar rumahnya menjadi nyaman ia tempati bersama suami dan anakanaknya. Rumanti berarti harus mencukupi semuanya. Dalam hal ini tidak berarti istri berkewajiban mencari nafkah untuk mencukupi semua kebutuhan rumah tangga karena suamilah yang bertanggung jawab mencari nafkah. Akan tetapi, dalam kondisi darurat, ketika sang suami tidak mampu menjalankan kewajibannya untuk menafkahi keluarganya, peran sang istri untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga harus dilaksanakan. Sebagai seorang istri tidak boleh hanya berpangku tangan membiarkan kondisi ekonomi rumah tangga semakin memburuk. Hal ini demi menjaga keutuhan keluarganya. Dalam mengerjakan setiap pekerjaan, seorang istri haruslah rikat (cepat), cukat (trengginas, serba cepat), cakut (dengan sungguh-sungguh ketika bekerja), prigel (menguasai semua), dan trampil (terampil). Seorang istri haruslah mampummenguasai semua jenis pekerjaan sebagai ibu rumah tangga mulai dari memasak, mencuci baju, piring, membersihkan rumah, dan lain-lain. Semua pekerjaan tersebut harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh secara cepat dengan mempergunakan waktu sebaik-baiknya. Tanpa bekal keterampilan yang mumpuni tentu seorang istri tidak akan mampu menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga dengan efisien. Selain itu, untuk perilakunya juga harus memiliki sifat harus idhep (mengerti), madhep (menghadap), mantep (mantap hati, setia), sregep (rajin) serta wekel (tekun), petel (sungguh-sungguh), mungkul (tidak royal/malas), atul (terbiasa). Seorang isteri idaman tentu harus memiliki sikap setia dengan penuh kemantapan dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Walaupun pada awalnya akan merasa canggung, tetapi dengan penuh ketekunan dalam mempelajari kewajibannya sebagai seorang istri tentu ia akan terbiasa untuk memahami segala macam kondisi yang terjadi dalam biduk rumah tangganya. Syarat untuk mewujudkan itu hanya satu, yakni rajin dan bersungguh-sungguh untuk mau belajar dan terus belajar selama menjalani rumah tangga diri terlebih dahulu Adab yang tak kalah penting diperhatikan ketika akan melakukan hubungan badan, yaitu dengan bersuci terlebih dahulu. Alangkah baiknya jika sebelum berhubungan badan kedua pihak mandi kemudian merias diri atau memakai wangi-wangian untuk membangkitkan hasrat masingmasing. Bersuci di sini tak hanya sekadar membersihkan fisik saja, tetapi juga membersihkan hati dan jiwanya, meluruskan niat bahwa tujuan melakukan hubungan badan semata-mata sebagai bentuk ketaatan kepada Sang Pencipta. Mandi harus hubungan seksual di antara keduanya merupakan cerminan dari niat yang baik ketika melakukan hubungan badan. Jika niatnya baik maka manusia baru yang akan terlahir nanti juga baik.

 

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)