FILSAFAT JAWA

0

Filsafat Jawa

 

Filsafat Jawa adalah ilmu yang mempelajari tentang filsafat yang bertumpu pada pemikiran-pemikiran yang berakar pada budaya Jawa. Filsafat Jawa sebenarnya juga tergolong pada filsafat Timur, yang umumnya berdasarkan pada pemikiran para filsuf di India dan Tiongkok, meskipun saat ini filsafat Jawa belum diakui sebagai bagian dari filsafat Timur tetapi pada dasarnya filsafat Jawa memiliki kesamaan dengan prinsip-prinsip yang terdapat dalam filsafat India. Filsafat Jawa seperti halnya filsafat lainnya, pada dasarnya bersifat universal. Jadi filsafat Jawa meskipun dilahirkan dari hasil kebudayaan Jawa tetapi sebenarnya bisa berguna bagi orang-orang di luar Jawa juga. Meski bersifat universal, filsafat Jawa atau filsafat Timur pada umumnya memiliki perbedaan dengan filsafat Barat. Dalam filsafat Timur, termasuk juga filsafat Jawa tujuannya adalah untuk mencapai kesempurnaan, sementara filsafat Barat tujuannya adalah kebijaksanaan.

Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa. Seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut filsuf.

Kata filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab فلسفة. Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan kata aslinya, yang diambil dari bahasa Yunani Φιλοσοφία (philosophia). Arti harafiahnya adalah seorang "pencinta kebijaksanaan" atau "ilmu".

Filsafat Jawa adalah ilmu yang mempelajari tentang filsafat yang bertumpu pada pemikiran-pemikiran yang berakar pada budaya Jawa. Filsafat Jawa sebenarnya juga tergolong pada filsafat Timur, yang umumnya berdasarkan pada pemikiran para filsuf di India dan Tiongkok, meskipun saat ini filsafat Jawa belum diakui sebagai bagian dari filsafat Timur tetapi pada dasarnya filsafat Jawa memiliki kesamaan dengan prinsip-prinsip yang terdapat dalam filsafat India.

 

Filsafat Jawa seperti halnya filsafat lainnya, pada dasarnya bersifat universal. Jadi filsafat Jawa meskipun dilahirkan dari hasil kebudayaan Jawa tetapi sebenarnya bisa berguna bagi orang-orang di luar Jawa juga. Meski bersifat universal, filsafat Jawa atau filsafat Timur pada umumnya memiliki perbedaan dengan filsafat Barat. Dalam filsafat Timur, termasuk juga filsafat Jawa tujuannya adalah untuk mencapai kesempurnaan, sementara filsafat Barat tujuannya adalah kebijaksanaan.

 

TOKOH FILSAFAT JAWA

Ki Ageng Suryomentaram

Ki Ageng Suryomentaram (20 Mei 1892 – 18 Maret 1962) adalah putra ke-55 dari pasangan Sri Sultan Hamengku Buwono VII dan Bendoro Raden Ayu Retnomandojo, putri Patih Danurejo VI. Ki Ageng Suryomentaram memiliki nama bangsawan Bendoro Raden Mas (BRM) Kudiarmadji dan setelah umur 18 tahun diberi nama kebangsawanan Bendoro Pangeran Haryo (BPH) Suryomentaram. Ki Ageng Suryomentaram menjadi guru dari suatu aliran kebatinan yang bernama Kawruh Begja atau Ilmu Begja yang memiliki arti ilmu bahagia. Salah satu ajaran moral dari Ilmu Begja yang sangat populer pada masa itu adalah Aja Dumeh yang artinya jangan menyombongkan diri, jangan membusungkan dada, jangan mengecilkan orang lain karena diri sendiri lebih berpangkat tinggi, berkuasa atau kaya raya, sebab manusia itu pada hakikatnya adalah sama.

Pada awalnya Ki Ageng Suryomentaram bergelar Pangeran Surya Mataram tetapi kemudian ia menanggalkan gelar kepangeranannya itu dan menyebut diri Ki Ageng Suryomentaram. Hal ini bermula ketika BPH Suryomentaram pernah turut dalam rombongan jagong manten ke Surakarta dan dalam perjalanan dengan kereta api melihat petani yang sedang bekerja di sawah. Apa yang dilihat oleh BPH Suryomentaram ini menyentuh hatinya, betapa beratnya beban hidup para petani. Lalu ia sering keluar istana untuk bersemedi di tempat-tempat yang biasa dikunjungi para leluhurnya seperti Gua Langse, Gua Semin dan Parangtritis. Lalu BPH Suryomentaram keluar istana, pergi mengembara di daerah Kroya, Purworejo sambil bekerja serabutan sebagai pedagang batik pikulan, petani dan kuli.

Pada saat itu utusan kraton mencoba mencarinya dan menemukan keberadannya di Kroya ketika sedang bekerja menggali sumur dengan memakai nama samaran Natadangsa. Utusan kraton itu kemudian mengajak Natadangsa untuk kembali ke istana. Hidup BPH Suryomentaram di istana menjadi gelisah, tidak puas dan memuncak ketika kakeknya Patih Danurejo VI dibebaskan dari tugasnya dan ibunya dikembalikan kepada kakeknya. Tidak lama kemudian isteri BPH Suryomentaram sendiri dan meninggal dunia, lalu ia mengambil sikap melepaskan kedudukan kebangsawanannya untuk hidup menjadi rakyat biasa. Ketika Sultan Hamengkubuwono VII telah diganti oleh Sultan Hamengkubuwono VIII, Sultan baru ini mengizinkan BPH Suryomentaram meninggalkan kraton Yogyakarta. BPH Suryomentaram memilih untuk hidup sebagai petani di sebuah desa yang bernama Bringin di daerah Salatiga, Jawa Tengah. Di sana ia menjad guru aliran kebatinan yaitu Kawruh Begja yang berarti ilmu bahagia. Penganutnya cukup banyak dan tersebar di seluruh Jawa, meskipun tanpa ada organisasi atau propaganda seperti yang dilakukan oleh aliran-aliran yang lain.

Sepanjang masa hidupnya, Ki Ageng Suryomentaram mencurahkan daya dan perhatiannya untuk menyelidiki alam kejiwaan dengan menggunakan dirinya sebagai kelinci percobaan. Banyak hasil penyelidikannya tentang diri sendiri yang berupa buku-buku, karangan-karangan atau ceramah-ceramah. Pengajaran Ki Ageng Suryomentaram biasanya berupa ceramah-ceramah yang ditujukan kepada kalangan terbatas dan diberikan dengan cara yang khas yakni dengan duduk di lantai (lesehan). Kebanyakan tulisan yang membahas persoalan kejiwaan dan kerohanian ditulis dalam bahasa Jawa, antara lain: Pangawikan Pribadi, Kawruh Pamomong, Piageming Gesang, Ilmu Jiwa, Aku Iki Wong Apa?. Cara hidup Ki Ageng Suryomentaram cukup menampakkan kesederhanaan dengan mengenakan celana pendek, sarung yang diselempangkan pada pundaknya dan memakai kaos. Rambutnya dicukur sampai pendek dan kepalanya dibiarkan tidak tertutup serta kakinya pun dibiarkan tanpa alas.

Pemahaman Ki Ageng Suryomentaram tentang manusia seluruhnya bertitik tolak dari pengamatannya terhadap dirinya sendiri. Ia menggunakan metode empiris yang didasarkan pada percobaan-percobaan yang dilakukannya pada dirinya sendiri. Dengan cara merasakan, menggagas dan menginginkan sesuatu, menandai adanya gerak kehidupan di dalam batin manusia. Ki Ageng Suryomentaram mencoba membuka rahasia kejiwaan manusia yang dilihatnya sebagai sumber yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya. Dari analisisnya, dihasilkan suatu citra manusia yang lebih menunjukkan seperti apa manusia daripada siapa manusia itu tanpa lepas dari dunia yang melingkupinya. Manusia selalu bergaul dengan dunia di sekitarnya dan selalu terkait dengan dunianya. Ki Ageng juga menunjukkan dasar bagi perilaku manusia dalam dunianya, sehingga antara dirinya dengan dunia yang melingkupinya bisa tercipta keselarasan.

Kemudian Ki Ageng menyelidiki dan mengobservasi apa yang dirasakan orang lain. Hingga pada akhirnya ia menemukan bahwa rasa orang di seluruh dunia ini sama, yaitu sama-sama membutuhkan kelestarian raga dan kelestarian jenis, lestantuning jenis. Ternyata bahwa rasa hidup manusia sedunia ini sama. Yang sama ialah rasa senang-susahnya, baik berat atau ringannya, bahkan lama atau sebentarnya masa berlangsung susah-senangnya. Yang berbeda adalah apa yang disenangi atau disusahi. Meskipun semat, drajat, dan kramat yang telah berhasil di kumpulkan itu berbeda-beda, akan tetapi rasa hidupnya sama. Di sinilah raos langgeng bungah-susah muncul.

Bahagia menurut Ki Ageng Suryomentaram adalah hidup sewajarnya. Yaitu hidup secara tidak berlebih-lebihan dan juga tidak berkekurangan. Dan hidup sewajarnya itu oleh Ki Ageng dirumuskan dalam NEMSA (6-SA) :

1.     Sakepenake.

2.     Sabutuhe.

3.     Saperlune.

4.     Sacukupe.

5.     Samesthine.

6.     sabenere.

Untuk sampai pada itu semua, maka Ki Ageng menawarkan rumusan kawruh jiwa, metode meruhi pribadinipun piyambak, metode untuk mengetahui diri sendiri. Jika kita sebagai manusia mengetahui diri sendiri, memahami dirinya sendiri secara jujur, maka kita akan mengerti orang lain, dan akan paham lingkungannya. Jika sudah demikian, kita akan menjadi orang yang bahagia. Untuk menjadi bahagia, Manusia tahu takarannya, yaitu 6 SA.

Sumber ketidakbahagiaan menurut Ki Ageng Suryomentaram adalah keinginan. Wujud keinginan itu ada semat, drajat dan kramat. Semat itu kekayaan, kesenangan, kecantikan, kegantengan, biasanya sifatnya fisik. Sementara drajat, bisa berupa keluhuran, kemuliaan, keutamaan, status sosial. Dan kramat adalah kekuasaan, kedudukan, pangkat. Keinginan kita wujudnya ketiganya. Ada orang yang terpesona oleh semat, yang terpesona, oleh drajat, atau kramat bisa jadi juga ketiganya.

Apa tidak boleh ? Boleh. Asal jangan mati-matian, kata Ki Ageng. Maka perlu diperhatikan adalah kawruh berikutnya adalah Mulur lan mungkret. Jika kita memahami sifat karep itu mulur dan mungkret, maka bahagia dan susah itu juga mulur dan mungkret. Konsekuensinya apa? Senang atau susah itu sifatnya sementara. Keinginan tercapai kita seneng, lalu akan berganti keinginan berikutnya, dan kita berjibaku untuk memenuhi keinginan tersebut, Jika tidak tercapai kita susah lalu keinginan akan mungkret. Dan seterusnya. Maka susah itu sementara, senang itu juga bersifat sementara. Yang abadi adalah keduanya.

Dengan bekal memahami mulur-mungkret dan senang-susah, kita bisa terhindar dari neraka dunia.

Nerakanya dunia yang pertama adalah Meri (iri) lan pambegan (sombong). Iri adalah tanda level kita lebih rendah dibandingkan dengan orang yang kita irikan. Begitu kita merasa meri, tiap hari akan seperti neraka, tiap hari kita akan memikirkan bagaimana bisa menyamai semat, drajat, dan kramat kita bisa naik dan menandingi orang yang kita irikan.

Neraka dunia kedua adalah pambegan, sombong (merasa tinggi). Merasa menang terhadap orang lain. Orang yang sombong juga neraka bagi dirinya sendiri. Merasa lebih baik, merasa lebih utama, dibandingkan dengan orang lain.

Ketiga, Rasa Getun (kecewa). Takut akan pengalaman yang sudah dialami. Orang yang selalu meratapi masa lalu tidak akan bahagia. “Coba kemarin saya begini, tidak akan seperti ini sekarang.” “Coba kemarin saya begitu, sekarang tidak akan seperti ini” dan seterusnya. Menyesali masa lalu secara terus menerus (getun keduwung) tidak akan membuat kita bahagia.

Keempat, Sumelang (khawatir). Takut akan pengalaman yang akan dialami. Mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi di masa yang akan datang juga menyebabkan kita berada dalam kesusahan bahkan sebelum sesuatu itu terjadi. Ini yang dimaksud magang cilaka. Peristiwanya belum terjadi tapi sudah merasa susah. Kalau keempat itu ada di diri kita, kita akan hidup seperti di nerakanya dunia, kata Ki Ageng. Ini rumus negatifnya. Kempat inilah yang menyebabkan raos tatu dan raos cilaka. Merasa terluka dan merasa celaka yang berkelanjutan. Maka nikmati saja saat ini. Masa depan mungkin akan mengkhawatirkan, tapi akan ada senang dan susahnya.

 

Ki Hajar Dewantara.

Ki Hajar Dewantara adalah salah satu pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara masuk ke dalam filsafat Aliran Idealisme. Aliran ini menyatakan nilai itu bersifat mutlak, benar salah dan baik buruk secara fundamental yang tidak berubah dari generasi ke generasi. Konsep pendidikan budi pekerti yang dikembangkan oleh Ki Hajar Dewantara pada dasarnya mengacu kepada nilai benar dan salah serta baik dan buruk yang bersifat mutlak dan universal. Konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara juga masuk ke dalam filsafat Aliran Rekonstruksionisme. Aliran ini menyatakan tujuan pendidikan adalah membuat aturan sosial yang ideal dan merekonstruksi budaya pada masyarakat majemuk. Konsep Trikon yang dikembangkan Ki Hadjar Dewantara, terdiri dari kontinuitas, konvergensitas, dan konsentrisitas yang pada dasarnya memberi tempat budaya masyarakat lain yang majemuk ke dalam budaya masyarakat setempat sepanjang perpaduan antarbudaya tersebut bersifat akulturatif dan saling mengisi.

 

SOENOTO

Soenoto (EYD: Sunoto; lahir pada tahun 1929) merupakan pengkaji Filsafat Indonesia generasi kedua di era 1980-an.

Pendidikan kefilsafatan pertama kali diperoleh dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta (Sarjana dan Magister Ilmu Sosial dan Politik), lalu Vrije Universiteit Amsterdam (Doktor Ilmu Sosial dan Politik). Jabatan yang pernah dipegang ialah Dosen Tetap UGM (sejak 1958), Dekan Fakultas Filsafat UGM (1967-1979), Peneliti Filsafat Pancasila di Dephankam, Ketua Survei Pengamalan Pancasila di UGM dan Depdagri RI. Karya-karyanya yang langsung berhubungan dengan kajian Filsafat Indonesia ialah: Selayang Pandang tentang Filsafat Indonesia (Yogyakarta: Fakultas Filsafat UGM, 1981), Pemikiran tentang Kefilsafatan Indonesia (Yogyakarta: Yayasan Lembaga Studi Filsafat Pancasila & Andi Offset, 1983), dan Menuju Filsafat Indonesia: Negara-Negara di Jawa sebelum Proklamasi Kemerdekaan (Yogyakarta: Hanindita Offset, 1987).

Dalam ketiga karyanya itu Sunoto menyempurnakan karya rintisan Nasroen dengan menelusuri tradisi kefilsafatan Jawa dan memberikan penjabaran yang amat detail tentang tradisi itu. Tentu saja, walaupun karya ini berhasil menyempurnakan Nasroen, tetapi tetap saja masih memiliki kekurangan, sesuatu yang sangat diakui Sunoto sendiri. R. Parmono, salah seorang dosen UGM pula, akan menyempurnakan kekurangannya tadi.

 

R. PARMONO

R. Parmono (lahir pada tahun 1952), adalah salah seorang pelopor Filsafat Indonesia. R. Parmono menempuh jenjang pendidikan kefilsafatan di Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada Yogyakarta (Sarjana Filsafat), lalu setelah lulus pada 1976, ia meneruskan pendidikan di Program Pasca-Sarjana Jurusan Filsafat Indonesia di UGM pula. Setelah memperoleh gelar Magister, ia diterima sebagai Dosen Filsafat di UGM, bahkan pernah menjadi Sekretaris Jurusan (Sekjur) pada Jurusan Filsafat Indonesia yang dirintisnya bersama-sama dengan Sunoto. Selain mengajar di UGM, ia juga salah seorang anggota Peneliti Filsafat Pancasila (1975-1979) di Dephankam. Karya-karyanya yang membahas Filsafat Indonesia ialah: Menggali Unsur-Unsur Filsafat Indonesia (Yogyakarta: Andi Offset, 1985), Penelitian Pustaka: Beberapa Cabang Filsafat di dalam Serat Wedhatama (1982/1983), dan Penelitian Pustaka: Gambaran Manusia Seutuhnya di dalam Serat Wedhatama (1983/1984).

Dalam Menggali Unsur-Unsur Filsafat Indonesia, R. Parmono menyempurnakan kekurangan kajian Sunoto yang mengkaji sebatas tradisi kefilsafatan Jawa dengan melebarkan lingkup kajian pada tradisi filsafat Batak, Minang, dan Bugis. Dalam buku itu pula Parmono mencoba mendefinisi-ulang istilah ‘Filsafat Indonesia’, sebagai ‘…pemikiran-pemikiran…yang tersimpul di dalam adat istiadat serta kebudayaan daerah…’ (hal. iii). Jadi, Filsafat Indonesia berarti segala filsafat yang ditemukan dalam adat dan budaya etnik Indonesia. Definisi ini juga dianut oleh pelopor yang lain, Jakob Sumardjo.

 

Damardjati Supadjar

Prof. Dr. Damardjati Supadjar (30 Maret 1940 – 17 Februari 2014) adalah seorang ilmuwan, dan guru besar di Universitas Gadjah Mada. Ia merupakan penasihat spiritual Kraton Kasultanan Yogyakarta. Ilmunya banyak dituangkan dalam tulisan-tulisan di berbagai media massa, dalam bentuk tafsir filsafat kejawen, ketuhanan, dan Pancasila. Damardjati juga sering diundang bicara dalam forum-forum seminar kebudayaan. Dia adalah pendiri Pusat Studi Pancasila UGM. Damardjati Supadjar merupakan peletak dasar filsafat Jawa yang berkembang sampai saat ini. Hingga akhir hayatnya, ia masih setia menulis sebagai bentuk pengabdian bagi umat manusia.

Damardjati Supadjar lahir dan dibesarkan di Desa Losari, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Sejak muda dia sudah menekuni dunia pendidikan. Cita-citanya itu terwujud ketika akhirnya ia dapat masuk kuliah di Fakultas Filsafat, Universitas Gajah Mada, sebagai mahasiswa angkatan pertama fakultas itu. Untuk membiayai kuliahnya pada masa sulit, dia terpaksa menjadi sopir angkutan yang menuju kampus UGM.

Setelah lulus, dia diterima mengajar di almamaternya sebagai dosen, kemudian juga pernah menjabat sebagai ketua jurusan, hingga akhirnya mendapat amanat untuk menjadi guru besar. Prof. Damardjati adalah sosok yang gigih untuk selalu mengingatkan banyak pihak agar kembali pada nilai-nilai Pancasila. Tahun tahun 1996 banyak berkiprah pada lahirnya Pusat Studi Pancasila UGM. Dia juga mewariskan pemikirannya dalam berbagai buku, antara lain Filsafat Ketuhanan Menurut Alfred North Whithead, Mawas Diri, Nawangsari dan Sumurupa Byar-e. Pada tanggal 17 Februari 2014, dia meninggal dunia akibat sakit yang dideritanya.

 

SEJARAH

Kemunculan filsafat Jawa juga tidak dapat dilepaskan dari adanya pengaruh ajaran Hindu dan Buddha, oleh karenanya filsafat Jawa tidak dapat dipisahkan dari filsafat India. Filsafat Jawa tumbuh seiring dengan kemunculan Aksara Jawa atau yang juga dikenal sebagai Hanacaraka. Kemunculan Hanacaraka membuat kesusastraaan Jawa juga semakin berkembang. Pada masa-masa itu muncul berbagai pujangga-pujangga hebat seperti Empu Kanwa yang menulis Kakawin Arjunawiwāha, Empu Prapañca yang menulis Kakawin Nagarakretagama, Empu Tantular yang menulis tentang Kakawin Sutasoma, dan masih banyak lagi.

Sejarah Hanacaraka muncul dan terkait dengan kisah Aji Saka dan kedatangannya dari Hindustan. Oleh karena itu maka tidak mengherankan bila ditemukan adanya nama-nama tempan atau nama orang Jawa yang mirip dengan nama-nama tempat atau nama orang India. Kisah Aji Saka ini sampai sekarang masih dipegang teguh oleh Suku Jawa dan menjadi inspirasi bagi kehidupan batin dan rohani orang Jawa.

Seperti halnya filsafat pada umumnya, filsafat Jawa juga memiliki dimensi-dimensi yang meliputinya, antara lain dimensi metafisika, dimensi ontologi, dimensi epistemologi, dan dimensi aksiologi. Penggolongan dari setiap dimensi filsafat tersebut disesuaikan dengan cabang-cabang dalam ilmu filsafat, yakni tentang ilmu pengetahuan, tentang 'ada dan sebab pertama', tentang materi, dan tentang norma-norma.

Seperti yang telah dijelaskan, bahwa filsafat Jawa mengutamakan pada aspek kesempurnaan hidup lebih tepatnya kesempurnaan batin. Dalam filsafat Jawa, kesempurnaan itu bisa didapatkan manusia dengan cara berpikir dan merenungkan kaitan dirinya dengan Tuhan. Karena dalam filsafat Jawa yang menjadi tujuan adalah kesempurnaan hidup, maka setiap bidang dan dimensi yang ada dalam filsafat harus menyatu, tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

 

Nilai-nilai

Dikarenakan filsafat Jawa bertujuan pada kesempurnaan hidup, maka ia memiliki nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Nilai-nilai yang ada dalam filsafat Jawa tidak hanya sebagai ilmu pengetahuan semata, tetapi juga menjadi filosofi dan falsafah dalam menjalani kehidupan.

Berikut ini adalah beberapa nilai yang terkandung dalam filsafat Jawa :

1.     Aja rumangsa bisa, nanging bisa rumangsa, maknanya jangan sombong, harus berempati dan memahami orang lain.

2.     Migunani tumraping liyan, maknanya berbuat baik kepada orang lain, nanti orang lain akan berbuat baik kepadamu.

3.     Eling sangkan paraning dumadi, maknanya selalu ingat asal-usul dan cita-cita dalam hidup.

4.     Urip iku urup, maknanya hendaknya memberi manfaat pada lingkungan sekitar kita.

5.     Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti, maknanya setiap keburukan pasti akan kalah dengan kebaikan.

6.     Ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake, sekti tanpa aji-aji, sugih tanpa bandha, maknanya jangan besar kepala jika sedang beruntung atau menang.

7.     Datan serik lamun ketaman, datan susah lamun kelangan, maknanya jangan mudah tersinggung.

8.     Aja gumunan, aja getunan, aja kagetan, aja aleman, maknanya jangan terkejut, tetap tenang.

 

Filosofi Hidup Orang Jawa  (Ajaran Moral, Kata Bijak)

Banyak yang mengatakan, Wong Jowo Ora Njawani yang artinya orang Jawa tidak menunjukkan tabiat orang Jawa yang sesungguhnya. Tingkah laku, moral dan kepribadiannya sudah bukan orang Jawa yang sesungguhnya.

Banyak yang beranggapan, terutama kaum muda bahwa ajaran moral dan filosofi hidup orang Jawa itu sudah tidak relevan lagi dengan kehidupan sekarang yang serba canggih. Sehingga bukan hal yang mustahil kalau ajaran moral dan filosofi hidup orang Jawa yang diturunkan oleh nenek moyang kita itu bakalan lenyap dari bumi tercinta ini.

Padahal, ajaran moral dan filosofi hidup orang Jawa tersebut memiliki makna yang sangat mendalam yang mengarah ke kebahagiaan hidup. Selain itu, jika dicocokkan dengan ajaran agama apa saja juga tidak ada penyimpangan. Artinya ajaran moral dan filosofi hidup orang Jawa itu banyak yang sesuai dengan tuntunan Yang Menguasai Dunia ini. Maka dari itulah tak ada salahnya jika kita menguri-uri ajaran moral dan filosofi hidup orang Jawa ini.

Berikut ini adalah beberapa ajaran moral dan filosofi hidup orang Jawa yang sudah popular di masyarakat Jawa dan sekitarnya :

1.     Sopo Sing Kelangan Bakal Diparingi Sopo Sing Nyolong Bakal Kelangan. Barang siapa yang kehilangan akan dikasih dan barang siapa yang mencuri akan kehilangan. Kita diajarkan untuk tidak mudah mengambil barang milik orang lain. Memang kelihatannya mendapatkan barang baru namun pada suatu saat nanti juga juga akan dibalas dengan kehilangan sesuatu oleh Yang Kuasa. Namun jika kita mau bersedekah (memberikan sesuatu pada orang lain) suatu saat nanti akan dibalas oleh-Nya dengan pemberian yang lebih banyak.

2.     Wong Jowo Iku Gampang Di Tekak Tekuk. Orang Jawa itu mudah di bengkan-bengkokkan. Maksudnya, orang Jawa itu fleksibel, mudah bergaul dan bisa berada di berbagai level masyarakat.

3.     Mangan Ora Mangan Sing Penting Kumpul. Makan tidak makan yang penting kumpul. Hal ini tidak tepat kalu Anda artikan secara leterlek. Tidak harus rumahnya itu kumpul dalam satu kampung melainkan yang lebih utama adalah sering mengadakan pertemuan untuk menjalin persaudaraan.

4.     Alon Alon Waton Kelakon. Pelan-pelan saja asal terlaksana. Bukan berarti menjalani hidup itu tanpa usaha, hanya ngikuti aliran air. Namun tetap berusaha sekuat tenaga tapi tidak memaksa diri.

5.     Nerimo Ing Pandum. Dapat menerima pemberian. Menerima dengan ikhlas apa yang sudah dihasilkan dari jerih payahnya. Baik itu dirasa untung atau rugi sekalipun. Mereka bisa menerima apa adanya tanpa ada perasaan gelisah.

6.     Urip Iku Urup. Hidup itu Nyala. Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain, terutama yang ada di sekitar kita. Semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan semakin baik.

7.     Memayu Hayuning Bawono, Ambrasto dur Hangkoro. Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan / kesejahteraan dan memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak.

8.     Suro Diro Joyo Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti. Segala sifat keras hati, picik, angkara-murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar.

9.     Ngluruk Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorake, Sekti Tanpo Aji-Aji, Sugih Tanpa Bondho. Berjuang tanpa perlu membawa massa. Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan. Berwibawa tanpa mengandalkan kekuatan. Kaya tanpa didasari atas kebendaan.

 

Nampaknya ajaran moral dan filosofi hidup orang Jawa ini aneh, kaya kok tanpa harta benda itu gimana? Maksudnya adalah kaya hati. Kalau seseorang itu sudah merasa kaya dalam hatinya, pasti dia akan merasa tenteram dan sudah cukup dengan semua yang dia miliki, meskipun yang melihatnya serba kekurangan.

1.     Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan. Jangan mudah sakit hati ketika musibah menimpa diri, Jangan sedih ketika kehilangan sesuatu. Ini menunjukkan sifat tidak egois. Apa yang kita miliki sebenarnya ada yang memiliki-Nya. Kita tepatnya hanya pemilik sementara yang harus merelakan semua yang kita miliki diambil oleh-Nya karena memang Dialah yang berhak memiliki.

2.     Ojo Gumunan, Ojo Getunan, Ojo Kagetan, Ojo Aleman. Jangan mudah heran, Jangan mudah menyesal, Jangan mudah terkejut, Jangan mudah manja.

3.     Ojo Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman. Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi.

4.     Ojo Kuminter Mundak Keblinger, ojo Cidra Mundak Cilaka. Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah dan jangan suka berbuat curang agar tidak celaka.

5.     Ojo Milik Barang Kang Melok. Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik dan indah gemerlap.

6.     Ojo Adigang, Adigung, Adiguno. Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti. Kalau diartikan perkata: Adigang artinya membanggakan kekuatan, Adigung artinya membanggakan kebesaran dan Adiguno artinya membanggakan kepandaian.

7.     Ojo Mburu Kidang Mlayu. Jangan memburu atau mencari-cari hal-hal yang sia-sia, carilah sesuatu yang memingkinkan untuk Anda dapatkan.

8.     Ora Obah Ora Mamah. Untuk mendapatkan rijki dari Yang Kuasa harus berusaha dengan sekuat tenaga.

9.     Sak Bejo-Bejone Wong Kang Lali, Isih Bejo Wong Kang Eling Lan Waspodo. Seberuntung-untungnya orang yang lupa, masih beruntung orang yang ingat dan waspada. Jangan sampai karena urusan keduniaan, kita melupakan aturan dan menghalalkan segala cara.

10.                        Akeh Durung Mesti Cukup, Sethithik Durung Mesti Kurang. Banyak belum tentu cukup dan sedikit belum tentu kurang. Sebanyak apapun penghasilan Anda,  kalau Anda tidak dapat mensyukurinya pasti akan merasa kurang salamanya. Intinya ada di dalam hati, bagaimana untuk dapat mensyukuri atas semua pemberian.

11.                        Ojo Mburu Seneng Nanging Mburuo Ayem. Jangan raih senang melainkan raihlah ketenteraman. Dalam mengerjakan sesuatu, jangan berpatokan asal Anda senang saja namun juga pertimbangkan orang lain di sekitar Anda. Karena ketenteraman itu tidak dapat ditentukan dari dalam diri sendiri namun juga lingkungan Anda tinggal.

12.                        Wong Sing Menang Iku Wong Sing Bisa Ngasorake Priyanggane Dhewe. Belum dikatakan menang jika belum bisa mengalahkan dirinya sendiri. Mengalahkan dirinya sendiri maksudnya dapat menahan hawa nafsu, tidak mudah tersinggung, bersabar dan mudah mema’afkan.

13.                        Dadi Manungsa Sing Bisa Ngatur Urip, Aja Gelem Diatur Urip, Nanging Aja Nglalekake Aturane Sing Gawe Urip. Jadilah manusia yang dapat mengatur kehidupan, Jangan mau diatur oleh kehidupan, Tapi jangan melupakan aturan Yang Membuat Hidup.

14.                        Urip Iku Sawang Sinawang, Sing Ketokke Luweh Kepenak Durung Mesti Kepenak, Sing Ketokke Rekoso Durung Mesti Rekoso. Hidup itu adalah melihat terhadap orang lain, orang yang terlihat bahagia belum tentu bahagia, namun orang yang terlihat susah belum tentu susah.

15.                        Urip Iku Ojo Digawe Sambat, Dilakoni Ae Sak Mlakune. Hidup itu jangan dibuat sengsara, dijalankan saja semampunya.

16.                        Urip Iku Ojo Digae Susah, Wahaye Seneng yo Seneng, Wayahe Nyambut Gae yo Nyambut Gawe, Wayahe Leren yo Leren, Wayahe Ngibadah yo Ngibadah. Hidup itu jangan dibuat susah, saatya senang yang senang, saatnya bekerja ya bekerja, saatnya istirahat ya istirahat, saatnya beribadah ya beribadah. Intinya tidak memaksa, jalankan saja sewajarnya.

17.                        Ora Usah Difikir Nganti Sepaneng, Urip Iki Mung Sedelok, Nek Iso Dilakoni yo Dilakoni, Sing Penting Wes Dicobo. Tidak perlu dipikir hingga membebani, hidup itu hanya sebentar. Kalau bisa dijalankan ya dijalankan, tapi yang utama adalah sudah mencobanya. Kalau sudah dipersiapkan dengan matang, jalankan saja dan pasrah pada Sang Pencipta serta yakin akan berhasil.

18.                        Ora Usah Difikir Jero-Jero, Kabeh Wes Ono Dalane, Sing Penting Dilakoni. Jangan dipikir terlalu mendalam, semua sudah ada jalannya, dan yang penting dijalankan, begitu saja.

19.                        Rawe-Rawe Rantas Malang-Malang Putung. Barang siapa yang mengganggu akan lebur, dan yang menghalangi akan hancur. Ajaran ini sangat tepat untuk memberikan semangat dalam perjuangan.

20.                        Holobis Kuntul Baris. Gotong royong dan bekerja sama.

21.                        Obah Ngarep Kobet Mburi. Bersusah dahulu dan bersenang kemudian.

22.                        Rukun Agawe Santosa, Crah Agawe Bubrah. Hidup rukun membuat sentosa (bahagia) dan hidup bermusuhan menjadi sengsara.

23.                        Jerbasuki Mowo Bea. Setiap keberhasilan ada harga yang dibayarkan. Untuk meraih kesuksesan dibutuhkan sebuah perjuangan dan pengorbanan. Tidak mungkin tanpa ada usaha yang keras tiba-tiba Anda mendapatkan kemenangan.

24.                        Becik ketitik olo ketoro. Kebaikan akan tampak dan kejelekan akan terlihat. Perbuatan jelek akan mudah tersebar kemana-mana, tapi kalau perbuatan baik mungkin tidak terlihat untuk sekarang ini namun pada suatu saat nanti pasti akan diakui oleh orang banyak.

25.                        Sapa Weruh Ing Panuju Sasad Sugih Pager Wesi. Siapa saja yang bercita-cita luhur dan mulia, pasti akan tertuntun jalan hidupnya.

26.                        Alang-Alang Dudu Aling-Aling, Margining Keutamaan. Persoalan-persoalan dalam kehidupan bukan sebuah penghambat, namun justru menjadi jalan bagi kesempurnaan. Jadi, jangan sampai ada pemikiran untuk lari dari permasalahan. Hadapilah dan selesaikan secara tuntas. Apa yang sudah Anda lakukan akan menjadi pengalaman yang sangat berharga.

 

Filsafat Jawa Bhinneka Tunggal Ika

Bhinneka Tunggal Ika adalah moto atau semboyan bangsa Indonesia yang tertulis pada lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila. Frasa ini berasal dari bahasa Jawa Kuno yang artinya adalah “Berbeda-beda tetapi tetap satu”.

Diterjemahkan per kata, kata bhinnêka berarti beraneka ragam dan terdiri dari kata bhinna dan ika, yang digabung. Kata tunggal berarti satu. Kata ika berarti itu. Secara harfiah Bhinneka Tunggal Ika diterjemahkan "Beraneka Satu Itu", yang bermakna meskipun beranekaragam tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia tetap adalah satu kesatuan. Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan. Kalimat ini merupakan kutipan dari sebuah kakawin Jawa Kuno yaitu kakawin Sutasoma, karangan Mpu Tantular semasa kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14, di bawah pemerintahan Raja Rājasanagara, yang juga dikenal sebagai Hayam Wuruk. Kakawin ini istimewa karena mengajarkan toleransi antara umat Hindu Siwa dengan umat Buddha.

 

Sajak penuh

Kutipan ini berasal dari pupuh 139, bait 5. Bait ini secara lengkap seperti di bawah ini :

Rwâneka dhâtu winuwus Buddha Wiswa,

Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,

Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal,

Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Terjemahan :

Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.

Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?

Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal

Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.

 

Empan papan

Empan papan dalam kebudayaan Jawa, adalah kesadaran seseorang mengenai kedudukan dan tempatnya dalam masyarakat. Hal ini berhubungan dengan status sosial dan keberadaannya dalam struktur sosial. Orang yang menerapkan empan papan umumnya dianggap sebagai orang yang pandai menempatkan sesuatu pada tempatnya dalam berbagai keadaan dan waktu yang berbeda-beda. Empan papan adalah ungkapan yang diciptakan dari dua kata, yakni empan yang berarti berfungsi atau efektif untuk penerapannya dan papan yang berarti tempat. Empan papan dalam kebudayaan Jawa berhubungan erat dengan unggah-ungguh atau tingkatan-tingkatan sosial dalam masyarakat Jawa. Masyarakat yang memiliki kelas-kelas sosial mengharuskan tiap orang untuk berperilaku sesuai dengan kelas sosialnya masing-masing. Hal ini salah satunya berwujud dalam bahasa Jawa yang memiliki tingkatan-tingkatan penggunaan yang disesuaikan untuk usia atau kedudukan tertentu dalam masyarakat. Orang yang empan papan mampu menempatkan dirinya secara tepat di berbagai situasi sosial.

Estetika Jawa

Estetika Jawa mengenal beberapa konsep ideal yang bersinggungan dengan keindahan, mulai dari yang masih bertalian dengan tradisi Hindu hingga yang unik dalam kebudayaan Jawa.

Sadangga

Candi Jawi, arsitekturnya dapat dibagi menjadi bagian kaki, badan, dan kepala.

Pada zaman kerajaan Hindu-Buddha di Jawa, estetika Jawa berpedoman pada Sad-angga, enam pokok atau enam pegangan keindahan, yaitu :

1.     Rupabheda: keanekaragaman bentuk dan ciri-cirinya

2.     Sadrsya: kemiripan, padanan

3.     Pramuna: ukuran, standar, proporsi ideal

4.     Wanikabangga: warna-warna, pemisahan

5.     Bhawa: suasana hati atau rasa, wujud

6.     Lawanya: pesona, wibawa, kecantikan

7.     Warisan Hindu lainnya dalam estetika Jawa adalah prinsip pembagian tiga, yakni kaki, badan dan kepala dalam arsitektur.

 

Ngrawit

Ngrawit dalam bahasa Jawa (juga bahasa Bali) berarti sangat halus.Ngrawit adalah mutu suatu karya seni yang dihasilkan dari keterampilan tinggi sehingga dapat mencapai tingkat kerumitan ornamen yang sangat halus. Penggunaan ornamen yang rumit ini bisa dilihat pada ukiran-ukiran Jawa.Meskipun demikian, istilah ngrawit juga banyak dipakai untuk mendeskripsikan seni musik Jawa, khususnya karawitan. Kata ngrawit memiliki asal kata yang sama dengan istilah karawitan. Keraton Surakarta disebut pernah menggunakan istilah karawitan sebagai istilah payung untuk beragam cabang seni, seperti musik, tari, ukir hingga pedalangan.

 

Wangun

Penataan berbasis tiga pada muka bangunan Keraton Surakarta

Wangun dalam bahasa Jawa berarti rancangan, tampilan atau bentuk, juga dapat berarti sesuai/patut/pantas. Dalam konsep wangun, dikenal pula istilah ora wangun (tidak pantas) dan aèng / wagu (aneh). Wangun bersumber dari pemikiran Kejawen dan merupakan sebentuk estetika formalisme. Karya seni yang wangun berpedoman pada beberapa penataan yang disebut rupa wangun, yakni :

1.     Manunggaling Kawula Gusti, objek memusat/mengerucut pada satu titik atas

2.     Loro-loroning Atunggal, dua objek, pada sisi kanan dan kiri

3.     Telu-teluning Atunggal, tiga objek yang ditata atas-tengah-bawah atau kanan-tengah-kiri

4.     Papat Keblat Kalima Pancer, empat objek dengan satu pusat

5.     Nawa Rupa, delapan objek dengan satu pusat. Pada dasarnya, ornamen Jawa klasik ditata menggunakan penataan di atas. Sementara itu, percampuran antara ornamen Jawa dan Eropa bisa disebut aèng atau wagu karena dianggap tidak njawani.

 

Rasa

Rasa dalam bahasa Jawa berarti rasa atau sensasi. Dalam estetika musik Jawa, rasa dapat digunakan untuk menjelaskan komposisi sebagai objek musikal, kemampuan mental yang diasah lewat pengalaman, dan indra intuitif bawaan yang bisa dilatih.

 

Hyang

Hyang (dikenal dalam bahasa Kawi, Jawa, Sunda, dan Bali) adalah suatu keberadaan spiritual tak kasatmata yang memiliki kekuatan supranatural yang terdapat dalam mitologi Indonesia kuno. Keberadaan spritual ini dapat bersifat ilahiah atau roh leluhur. Pemuliaan kepada entitas spiritual ini dapat ditemukan dalam ajaran Sunda Wiwitan, Kejawen, dan Hindu Bali. Kini dalam bahasa Indonesia istilah ini cenderung disamakan dengan Dewa, Dewata, atau Tuhan. Tempat para hyang bersemayam disebut Kahyangan, yang kini disamakan dengan konsep surga.

Dalam spiritualisme ajaran Hindu Bali, hyang digambarkan sebagai eksistensi spiritual yang mulia, yang patut mendapat penghormatan khusus. Hyang umumnya digambarkan sebagai bentuk pribadi yang sakral dan bercahaya. Ini adalah nama untuk eksistensi spiritual yang memiliki kekuatan gaib, digambarkan seperti matahari dalam mimpi. Kedatangannya dalam kehidupan seseorang memberikan kepuasan dan kebahagiaan tanpa jeda untuk waktu yang lama, yang tidak bisa dibedakan antara mimpi dan kenyataan. Orang Indonesia pada umumnya mengakui istilah ini untuk merujuk kepada penyebab keindahan, penyebab semua keberadaan (pencipta), atau untuk menyebut Tuhan.

Dalam ajaran spiritualisme Jawa Kejawen, konsep Tuhan Yang Maha Esa digambarkan sebagai Sang Hyang Tunggal atau Sang Hyang Wenang. Raden Ngabehi Ranggawarsita dalam bukunya, Paramayoga, merinci sebutan bagi sesembahan Jawa, antara lain Sang Hyang Suksma Kawekas, Sang Hyang Suksma Wisesa, Sang Hyang Amurbeng Rat, Sang Hyang Sidhem Permanem, Sang Hyang Maha Luhur, Sang Hyang Wisesaning Tunggal, Sang Hyang Wenanging Jagad, Sang Hyang Maha Tinggi, Sang Hyang Manon, Sang Hyang Maha Sidhi, Sang Hyang Warmana, Sang Hyang Atmaweda, dan sebagainya.

Istilah hyang kini lebih sering dihubungkan dengan ajaran Hindu Dharma yang berkembang di Jawa kuno dan Bali, tetapi sesungguhnya kata ini memiliki akar yang lebih tua, yakni kepercayaan animisme dan dinamisme asli masyarakat Austronesia yang memuliakan roh nenek moyang dan roh kekuatan alam yang menghuni pohon, batu, hutan, gunung, atau tempat-tempat tertentu. Konsep "hyang" berasal dari sistem kepercayaan masyarakat Indonesia asli, bukan berasal dari konsep spiritual Hindu-Buddha India.

Masyarakat di kepulauan Nusantara sebelum masuknya ajaran Hindu, Buddha dan Islam, percaya akan keberadaan suatu entitas tak kasatmata yang memiliki kekuatan gaib yang dapat mengakibatkan hal baik maupun buruk dalam kehidupan manusia. Mereka juga percaya bahwa roh leluhur yang sudah meninggal tidak menghilang dan pergi begitu saja, tetapi turut berperan serta dan memengaruhi kehidupan keturunannya yang masih hidup. Leluhur yang sudah meninggal dianggap memiliki kekuatan supranatural yang mendekati kekuatan para dewa. Karena itulah pemuliaan terhadap leluhur menjadi unsur penting dalam kepercayaan masyarakat asli Indonesia, seperti ditemukan dalam sistem kepercayaan suku Nias, Dayak, Toraja, suku-suku di Papua, dan berbagai suku lainnya di Indonesia.

Pada masyarakat Sunda, Jawa, dan Bali kuno, kekuatan alam tak kasatmata dan roh leluhur ini diidentifikasi sebagai "hyang". Roh leluhur ini menghuni tempat-tempat yang tinggi, seperti gunung dan bukit. Tempat-tempat ini disucikan dan dimuliakan sebagai tempat jiwa leluhur bersemayam.

Beberapa prasasti Indonesia kuno yang berasal dari periode Hindu-Buddha (abad ke-8 hingga ke-15), menyebutkan istilah hyang, baik sebagai nama tempat suci atau nama dewa yang dipuja di candi itu.

Dalam bahasa Sunda istilah nga-hyang berarti menghilang atau tak terlihat. Diduga kata ini memiliki kaitan kebahasaan dengan kata "hilang" dalam bahasa Melayu atau bahasa Indonesia. Pada perkembangannya istilah hyang menjadi akar kata beberapa nama, sebutan, dan istilah yang hingga kini masih dikenal di Indonesia :

Gelar. Jika disandingkan dengan kata panggil atau sebutan Sang-, Dang-, Ra-; menjadi kata Sanghyang, Danghyang, atau Rahyang, kata ini menjadi sebutan kehormatan untuk memuliakan dewa atau leluhur yang sudah meninggal. Sebagai contoh kata Sanghyang Sri Pohaci dan Sang Hyang Widhi merujuk kepada dewa-dewi, sedangkan gelaran Rahyang Dewa Niskala merujuk pada nama seorang raja Kerajaan Sunda yang telah meninggal. Disamping itu istilah Danghyang atau Danyang merujuk pada roh-roh penunggu tempat-tempat tertentu. Nama raja pendiri kemaharajaan Sriwijaya, Dapunta Hyang Sri Jayanasa, juga mengandung nama "hyang" yang menunjukkan bahwa ia memiliki kekuatan adikodrati.

Tempat. Ranah tempat para hyang bersemayam disebut Kahyangan yang dibentuk dari susunan kata ka-hyang-an. Kini kahyangan diidentikkan dengan surga. Karena adanya kepercayaan bahwa hyang menghuni tempat-tempat yang tinggi, maka wilayah pegunungan kerap kali dianggap sebagai tempat hyang bersemayam. Nama tempat seperti Parahyangan merujuk pada jajaran pegunungan di Jawa Barat. Berasal dari gabungan kata para-hyang-an; para menunjukkan bentuk jamak, sedangkan akhiran -an menunjukkan tempat, jadi Parahyangan berarti tempat para hyang bersemayam. Kata parahyangan juga dikenal sebagai salah satu jenis pura Hindu Bali, pura parahyangan adalah pura yang terletak di pegunungan sebagai sandingan pura segara yang terletak di tepi laut. Pegunungan Dieng di Jawa Tengah juga memiliki akar kata di-hyang yang juga berarti "tempat hyang". Begitu pula Pegunungan Iyang-Argapura di Jawa Timur.

Kerja. Kata sembahyang dalam bahasa Indonesia kini disamakan dengan kegiatan ibadah atau salat dalam agama Islam. Sesungguhnya istilah ini memiliki akar kata sembah-hyang yang berarti menyembah hyang. Tari Bali yang sakral Sanghyang Dedari menampilkan gadis muda yang kerasukan hyang.

Hyang dalam agama-agama di Indonesia

Konsep Hyang bagi beberapa agama di Indonesia dapat disimpulkan sebagai berikut :

1.     Kapitayan: Ialah Sang Hyang Taya tuhan yang maha esa yang tidak dapat dirupa namun bisa dirasa dan dinyata.

2.     Hindu: Ialah Sang Hyang Widhi tuhan yang maha esa, sumber dharma yang dibawa dewa-dewa

3.     Buddha: Ialah Sanghyang Adi Buddha hukum alam yang terus ada, tuhan yang tidak dapat dirupa, dimana damma-nya ditemukan oleh Buddha Gautama

4.     Islam: sesuai ajaran Sunan Kalijaga Sang Hyang adalah leluhur orang nusantara dari Sang Hyang Adam, Sang Hyang Esis, Sang Hyang Jawana, Sang Hyang Jawith, Sang Hyang Wanuh, Sang Hyang Bathara Guru, Sang Hyang Ismaya, Sang Hyang Bathara Wisnu, dan lain seterusnya sampai orang tua yang sudah meninggal dipersonifikasi sebagai entitas tunggal Sang Hyang.

 

Manunggaling Kawula Gusti

Manunggaling Kawula Gusti adalah ilmu tingkat tinggi orang Jawa untuk memperoleh derajat kasampurnan. Kesempurnaan hidup (kasampurnan), mati sajroning ngaurip, bisa dicapai dengan menghindari amarah, lawamah, sufiah, dan memupuk nafsu mutmainah. Hal ini dapat dipelajari melalui ilmu Sangkan Paraning Dumadi. Sangkan Paraning Dumadi, yaitu asal mula hakikat kehidupan. Tujuan mempelajari hakikat kehidupan adalah untuk mencapai emating pati patitis, yaitu khusnul khotimah yang bermuara pada kenikmatan surgawi. Konsep Manunggaling Kawula Gusti bagi orang Jawa membawa kesadaran secara teologis, sosiologis dan ekologis bahwa manusia dan alam semesta merupakan kesatuan hakekat Illahi. Dengan berpegang teguh pada ajaran agama manusia akan bersyukur dalam berkemsempatan, dan bersabar dalam berkesempitan, suatu pedoman yang cocok dengan anjuran tembang “Lir-ilir” : mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane. Untuk melaksanakan Manunggaling Kawula Gusti, tidaklah mudah bagi setiap orang. Dalam perjalanannya bukan tanpa tantangan, semakin tinggi ilmu yang dipelajari semakin berat tantangannya. Seperti apa yang ada pada ungkapan : Tumuju marang kamulyan akeh sandhungane, gedhe godha rencanane, nanging sapa temen bakal tinemu, waton gembleng tekade, nyawiji pambudidayane, linambaran tawakal. Inilah konsep manusia yang berusaha Tuhan yang menentukan.

 

Memayu hayuning bawana

Memayu hayuning bawana adalah filosofi atau nilai luhur tentang kehidupan dari kebudayaan Jawa. Memayu hanuning bawana jika diartikan dalam bahasa Indonesia menjadi memperindah keindahan dunia. Orang Jawa memandang konsep ini tidak hanya sebagai falsafah hidup namun juga sebagai pekerti yang harus dimiliki setiap orang. Filosofi memayu hayuning bawana juga kental terasa dalam ajaran kejawen.

Memayu Hayuning Bawana memiliki relevansi dengan wawasan kosmologi Jawa atau kosmologi kejawen. Kejawen memiliki wawasan kosmos yang tidak lain sebagai perwujudan konsep memayu hayuning bawana. Memayu hayunig bawana adalah ihwal space culture atau ruang budaya dan sekaligus spiritual culture atau spiritualitas budaya. Dipandang dari sisi space culture, ungkapan ini memuat serentetan ruang atau bawana. Bawana adalah dunia dengan isinya. Bawana adalah kawasan kosmologi Jawa. Sebagai wilayah kosmos, bawana justru dipandang sebagai jagad rame. Jagad rame adalah tempat manusia hidup dalam realitas. Bawana merupakan tanaman, ladang dan sekaligus taman hidup setelah mati. Orang yang hidupnya di jagad rame menanamkan kebaikan kelak akan menuai hasilnya.

Selain itu, memayu hayuning bawana juga menjadi spiritualitas budaya. Spiritualitas budaya adalah ekspresi budaya yang dilakukan oleh orang Jawa di tengah-tengah jagad rame (space culture). Pada tataran ini, orang Jawa menghayati laku kebatinan yang senantiasa menghiasi kesejahteraan dunia. Realitas hidup di jagad rame perlu mengendapkan nafsu agar lebih terkendali dan dunia semakin terarah. Realitas hidup tentu ada tawar-menawar, bias dan untung rugi. Hanya orang yang luhur budinya yang dapat memetik keuntungan dalam realitas hidup. Dalam proses semacam itu, orang Jawa sering melakukan ngelmu titen dan petung demi tercepainya bawana tentrem atau kedamaian dunia. Keadaan inilah yang dimaksudkan sebagai hayu atau selamat tanpa ada gangguan apapun. Suasana demikian oleh orang Jawa disandikan ke dalam ungkapan memayu hayuning bawana.

Memayu hayuning bawana memang upaya melindungi keselamatan dunia baik lahir maupun batin. Orang Jawa merasa berkewajiban untuk memayu hayuning bawana atau memperindah keindahan dunia, hanya inilah yang memberi arti dari hidup. Di satu fisik secara harafiah, manusia harus memelihara dan memperbaiki lingkungan fisiknya. Sedangkan di pihak lain secara abstrak, manusia juga harus memelihara dan memperbaiki lingkungan spritualnya. Pandangan tersebut memberikan dorongan bahwa hidup manusia tidak mungkin lepas dari lingkungan. Orang Jawa menyebutkan bahwa manusia hendaknya arif lingkungan, tidak merusak dan berbuat semena-mena.

 

Ngudi kasampurnan

Manusia hidup dalam dalam masyarakat yang didalamnya mempunyai nilai dan norma tertentu, dalam beberapa peradaban telah terjadi pengikisan nilai demikian pula pada budaya jawa, tampilnya perguruan jawa setidaknya mengingatkan kembali kepada manusia jawa untuk kembali kepada tatanan awal kehidupan yang ideal yang mempunyai persamaan dengan tatanan hidup ideal dalam islam dan ilmu psikologi, yaitu melalui konsep pelungguhanipun jawa. Penerapan nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat mencapai derajat manusia sampurna dan mendapatkan kebahagiaan hakiki.

 

Pagar mangkuk

Pagar mangkuk (pager mangkok) adalah sebuah metafora dalam masyarakat Jawa yang bermakna perilaku saling berbagi, peduli dan menjaga di antara orang-orang yang hidup bersama dalam suatu lingkungan. Pagar mangkuk disebutkan dalam peribahasa Jawa luwih becik pager mangkok, tinimbang pager témbok yang artinya lebih baik pagar mangkuk daripada pagar tembok. Berbagi dan saling menjaga di antara orang-orang selingkungan dianggap sebagai sistem keamanan yang lebih baik daripada meninggikan atau memperbesar tembok pagar (sesuatu yang bersifat kebendaan).

Hubungan saling menguntungkan antarwarga ini dapat mempererat persaudaraan dan hal itu dipercaya lebih kuat daripada mengamankan rumah dengan sesuatu yang bersifat fisik, seperti tembok bata atau pagar. Mangkuk dalam ungkapan ini adalah simbol memberi sebagaimana mangkuk umumnya digunakan sebagai wadah untuk memberi makanan ke para tetangga.

Pagar mangkuk tidak hanya diterapkan dalam kehidupan bertetangga, tetapi juga dapat diterapkan dalam pelbagai bidang. Sebagai contoh, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memanfaatkan kearifan lokal pagar mangkuk untuk mengamankan situs Sangiran. Hal tersebut dilakukan dengan melibatkan masyarakat secara intensif di area situs Sangiran, baik dalam hal pengangkatan pegawai ataupun penyuluhan dan pemberdayaan masyarakat. Selain itu, Kementerian Kehutanan juga menerapkan kearifan lokal pagar mangkuk untuk menjaga kawasan hutan. Rakyat di sekitar hutan diberdayaan dengan beragam kegiatan perekonomian pengelolaan hutan sehingga menjadi sejahtera. Dengan demikian, rakyat turut menjadi penjaga dan pengawas hutan. Budidaya tanaman hias berharga mahal di lingkungan warga juga dapat menerapkan sistem pagar mangkuk. Warga dilibatkan dalam perawatan dan menjalin hubungan yang saling menguntungkan.

 

Samadya

Samadya (ejaan tidak baku: sak madyo, bahasa Indonesia: tengah-tengah) adalah ajaran atau nilai dalam kebudayaan Jawa yang menekankan pada kehidupan yang sederhana, tidak berlebihan atau mengambil secukupnya.

Samadya sering diucapkan dalam kalimat ungkapan urip prasaja lan samadya yang artinya hidup sederhana dan secukupnya. Istilah samadya sendiri dapat diterapkan untuk berbagai hal, mulai dari makanan, pakaian, jabatan, pekerjaan dan lain sebagainya.

KH. Mustofa Bisri dicatat pernah memberikan nasihat dalam bahasa Jawa, Urip sak madya waé! atau hidup secukupnya saja. Nilai samadya dipandang selaras dengan ajaran Islam yang menekankan pada pertengahan atau sedang-sedang saja dalam mengambil beberapa perkara.

 

Sangkan Paraning Dumadi

Sangkan Paraning Dumadi, merupakan filosofi atau ajaran dalam ilmu Kejawen (kepercayaan tradisional Jawa) tentang bagaimana cara manusia menyikapi kehidupan.

Dalam bahasa Jawa kuno, sangkan  berarti asal muasal, paran adalah tujuan, dan dumadi artinya menjadi, yang menjadikan atau pencipta.  Dengan begitu bahwa yang dimaksud Sangkan Paraning Dumadi  adalah pengetahuan tentang "Dari mana manusia berasal dan akan kemana ia akan kembali."

Keberadaan manusia dan alam semesta merupakan ciptaan Sang Hyang Widhi, yaitu Dzat Pencipta Alam Semesta, Tuhan Yang Maha Esa.   Kelak pada akhirnya seluruh alam semesta akan kembali kepada-Nya.

Sangkan Paraning Dumadi  dalam filosofi Kejawen mengajarkan bahwa tujuan akhir dari kehidupan manusia adalah Tuhan Yang Maha Esa, sehingga dalam menjalani kehidupan ini kita harus mendekati nilai-nilai luhur ketuhanan.  Nilai-nilai luhur ketuhanan antara lain adalah jujur, adil, tanggung-jawab, peduli, sederhana, ramah, disiplin dan komitmen.

Karena itu, ada sebagian orang yang mengidentikkan pengetahuan Sangkan Paraning Dumadi dengan filosofi 'Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rojii'un. Yang artinya Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali. Bacaan tersebut biasa diucapka oleh umat Islam apabila mendengar kabar duka cita kematian atau musibah. 

Dalam al-Quran kalimat tersebut terdapat pada surat Al-Baqarah: 155-157,  Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

 

Filosofi Sangkan Paraning Dumadi

Tubuh manusia terdiri dari dua unsur, yaitu jasmaniah berupa badan tubuh dan ruhaniah sebagai isinya.

1.     Jasmani sebagai materi benda diciptakan dari unsur alam, yaitu tanah, air, udara dan api (panas). Karena asalnya dari bahan sari pati alam, maka kelak jasmani akan kembali ke alam lagi. Yang tanah kembali kepada tanah, yang udara kembali kepada udara, yang api kembali kepada api, dan yang air akan menyatu kembali kepada air.

2.     Ruh yang didalamnya terkandung Jiwa, merupakan sesuatu yang tidak berwujud materi, terdiri dari tiga unsur ruhaniah yaitu akal, nafsu dan hati/perasaan.  Dari unsur2 itulah diri manusia bisa melihat, mendengar, sedih, gembira, marah, benci, cinta, iba, kasih sayang,  berfikir dan sebagainya.

Dalam kitab suci Al-Qur'an, Allah berfirman: "Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ruh (ciptaan) Nya ke dalam (tubuh)nya dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati bagi kamu".(Q.S. As-Sajdah, 32: 9).

Ruh atau jiwa tidak akan bisa hancur seperti jasmani. Ia akan tetap utuh sampai kapanpun. Lantas kemana kembalinya ruh apabila seseorang telah meninggal dunia?  Ilmu Jawa Kuno mempercayai bahwa bila manusia telah meninggalkan kehidupan dunia maka ruhnya akan kembali lagi kepada Sang Hyang Widhi, yaitu Tuhan YME.

Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman: "Wahai jiwa yang tenang.Kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang ridha dan di-ridhai-Nya.Kemudian masuklah ke dalam (golongan) hamba-hamba-Ku,Dan masuklah ke dalam surga-Ku" (QS. Al-Fajr: 27-30)

Ruh dan jiwa memang sejatinya hanya milik Allah semata dan Dia-lah yang menjaganya. Hal ini bisa kita lihat pada kondisi tertidur. Dalam tidur jiwa kita pergi mengembara meninggalkan jasad, sementara ruh tetap tinggal bersama jasad untuk menghidupinya. Kemudian jiwa kembali lagi saat kita terbangun.

Jiwa bisa menjadi kuat dan sehat jika dilatih dan dirawat dengan baik, namun ia juga bisa menjadi rusak, sakit dan lemah jika tidak dirawat dengan baik.  Jiwa bisa mencapai derajat yang tinggi dan mulia, bisa juga jatuh kederajat yang amat hina, lemah tidak berdaya.

 

Sepuluh Filosofi Kejawen

Dalam ajaran ilmu falsafah tradisional Jawa kuno, falsafah Sangkan Paraning Dumadi  disertai dengan falsafah hidup lainnya, antara lain :

1.     Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara (Menebar kebaikan untuk kemakmuran dunia, memberantas kemungkaran).  Maknanya, dalam kehidupan dunia manusia harus menebarkan kemakmuran (kedamaian dan kesejahteraan) bagi alam semesta; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak.  Dalam agama Islam, dikenal dengan "Rahmatan lil alamin" dan Amar makruf nahi munkar.

2.     Urip iku urup (hidup itu menyala).  Maksudnya adalah hidup itu haruslah menjadi penerang   bagaikan lentera. Maknanya dalam hidup orang hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik. Dalam agama Islam, Rasulullah bersabda, khairunnas anfa'uhum linnas , "manusia yang paling baik ialah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.

3.     Ajining raga saka busana, Ajining diri saka lathi lan budi  (Kehormatan raga berasal dari busana, Kehormatan diri berasal dari lisan dan prilaku).  Maknanya, kehormatan luar seseorang bisa dilihat dari cara berpakaiannya. Sedangkan kehormatan diri (akhlak) dilihat dari cara berkomunikasi dan moral prilakunya.   Dalam agama Islam, Rasulullah bersabda, Hiyaa Rukum 'Akhaa Sinukum Akhlaaq, Sebaik-baik orang diantara kalian ialah orang yg baik akhlaknya. (HR. Bukhari & Muslim).

4.     Ngunduh wohing pakarti (Menuai hasil dari perbuatan).  Bahwa setiap perbuatan (baik atau buruk) pasti akan mendapat balasan.  Maknanya semua orang akan mendapatkan kebaikan atau keburukan akibat dari segala perilakunya sendiri. Jadi kita harus ingat untuk berhati-hati dalam bersikap dan bertindak.  Allah SWT berfirman: "Faman ya'mal mitsqaala dzarratin khairan yarah - Wa man Ya'mal mitsqaala dzarratin syarran yarah"  artinya barangsiapa yang mengerjakan kebaikan atau keburukan, meski sebesar zahrah (debu/atom) niscaya akan memperoleh balasan (QS. Al-Zalzalah: 7-8).

5.     Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Landhep tanpa natoni.  (Menyerbu tanpa pasukan, Menang tanpa merendahkan, dan Tajam tapi tak melukai). Maknanya, dalam menghadapi lawan, manusia yang baik adalah yang mampu mengalahkan dengan cara luhur penuh kebajikan.  Mereka mampu melawan tanpa membawa massa atau pasukan (sendirian). Dan mampu memenangkan perang tanpa merendahkan atau mempermalukan lawan, bahkan lawanpun merasa tak terluka.

6.     Sugih Tanpa Bandha, Sekti Tanpa Aji-Aji (Menjadi kaya tanpa harta kekayaan. Menjadi sakti tanpa ajian).  Maknanya bahwa orang kaya itu bukanlah orang yang banyak harta tetapi orang yang besar jiwanya. Sedangkan orang bisa menjadi hebat dan kuat itu tidaklah dengan mantra tetapi dengan ilmu.

7.     Lembah manah lan Andhap asor. Dalam bahasa jawa pengertian "lembah manah" dan "andhap asor"   mempunyai pengertian yang mirip, yaitu bersikap rendah hati dan sopan santun.  Filosofi ini bagai pepatah: "Seperti ilmu padi, kian berisi kian merunduk" artinya: semakin tinggi ilmunya semakin rendah hatinya; kalau sudah pandai jangan sombong, selalulah rendah hati.  Dalam Islam sikap luhur seperti itu dikenal dengan istilah tawadhu.

8.     Mati sakjeroning urip (mati di dalam hidup). Maknanya, jalan menuju pulang (kematian) itu adalah jalan yang harus ditapaki oleh seseorang sejak sekarang. Sejak hidup di dunia ini, kita sudah diseru untuk merenungi (dan mempersiapkan bekal) kematian.   Hal itu bisa dilakukan dengan cara bersemedi, atau dalam khasanah Islam adalah berkhalwat dan berdzikir, yaitu memutuskan hubungan dengan masalah masalah duniawi untuk bertafakur,  tadabur dan tasyakur.

9.     Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan (Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri; Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu).

10.                        Becik ketitik - Ala ketara (Perbuatan baik akan ketahuan, perbuatan buruk akan terungkap).  Maknanya bahwa bagaimanapun juga perbuatan yang baik maupun yang jahat pasti akan terungkap juga. Maka selalulah untuk berbuat baik.

 

Sawang sinawang

Sawang sinawang (bahasa Indonesia: memandang dipandang/saling memandang) adalah sebuah ungkapan bahasa Jawa tentang perilaku membanding-bandingkan kehidupan diri sendiri dengan orang lain. Pepatah ini mengandung ajaran untuk tidak membanding-bandingkan kehidupan seseorang dengan orang lain, karena apa yang dipandang belum tentu seindah atau semudah yang tampak.

Pepatah ini juga mengajak orang untuk tidak iri dengan kesuksesan orang lain, selalu bersyukur dan menerima. Pendapat lain mengungkapkan bahwa sawang sinawang adalah kesempatan untuk saling bercermin, berempati atau mengandaikan apabila dirinya berada di posisi orang yang sedang diperbandingkan. Sawang sinawang juga dapat digunakan sebagai wahana belajar.

Sawang sinawang, dalam keilmuan psikologi, dianggap sepadan atau berhubungan dengan konsep persepsi sebagaimana kita mengenal orang-orang hanya dari yang terlihat atau terdengar mengenai orang tersebut, lantas menduga dan menyimpulkan orang tersebut dari sana.

Dalam era digital, media sosial disebut menjadi ajang sawang sinawang, tempat orang membanding-bandingkan diri mereka dengan orang lain, padahal yang terlihat di layar ponsel belum tentu seindah dan senyata yang sebenarnya di dunia nyata.

Sawang sinawang diambil dari kalimat peribahasa Jawa urip iku mung sawang sinawang hidup itu hanya memandang dipandang atau versi selengkapnya urip iku mung sawang sinawang, mula aja mung nyawang sing kesawang hidup itu hanya tentang memandang dan dipandang, jadi jangan hanya memandang dari apa yang terlihat. Peribahasa ini bisa disejajarkan/berhubungan dengan peribahasa Indonesia rumput tetangga lebih hijau yang bermakna melihat kehidupan orang lain lebih baik.

 

Sedulur Papat Limo Pancer

Bagi sebagian masyarakat Jawa, mungkin istilah sedulur papat limo pancer tak asing lagi karena sering dikenalkan oleh orang tua kepada penerusnya sejak zaman dahulu.

Meskipun istilah sedulur papat limo pancer ini lahir dari bahasa Jawa, namun ternyata konsepnya hampir ada di setiap daerah di Nusantara dengan berbagai sebutan misalnya khodam, pendamping atau apapun yang berkaitan dengan keberadaan makhluk astral.

Secara sudut pandang bahasa, istilah sedulur papat limo pancer berarti empat saudara dan menjadi lima sebagai pusatnya. Sementara berdasarkan konsep Jawa, istilah itu berarti bentuk kesatuan wujud manusia ketika manusia itu lahir ke bumi.

Secara singkat, dalam sejarah Jawa masyarakatnya menggunakan istilah sedulur papat limo pancer untuk menggambarkan bahwa ketika manusia lahir, maka lahir juga lah empat saudara manusia itu.

Istilah sedulur papat limo pancer ini diyakini oleh penganut Kejawen sebagai warisan budaya dari karya Sunan Kalijaga pada abad 15-16. Konon katanya, istilah ini pertama kali ditemukan pada Suluk Kidung Kawedar, Kidung Sarira Ayu, pada bait ke 41-42. Sedulur papat limo pancer dipercaya sebagai satu kesatuan yang saling mempengaruhi dalam diri manusia, terdiri dari empat hal dan ke lima hal sebagai berikut.

Kakang sawah

Kakang sawah atau yang disebut air ketuban adalah air yang membantu manusia untuk lahir ke bumi. Karena air ketuban keluar pertama kali, maka masyarakat Jawa menyebutnya sebagai Kakang, atau yang berarti Kakak.

Adi ari-ari

Adi ari-ari atau disebut plasenta. Adi dalam bahasa Indonesia berarti adik, yakni sebutan untuk ari-ari yang keluar setelah bayi dilahirkan.

Getih

Getih dalam bahasa Indonesia berarti darah. Yakni, hal yang utama pada ibu dan bayi. Dimana saat berada dalam kandungan, bayi juga dilindungi oleh getih.

Puser

Puser atau pusar berarti tali plasenta. Dalam pengertian ini maksudnya, antara ibu dan bayi dihubungkan dengan tali pusar yang membuat mereka semakin kuat. Selain itu, tali pusar juga lah yang menjaga kelangsungan hidup si bayi karena telah menyalurkan nutrisi dari ibu untuk bayinya saat di dalam kandungan.

 

Pancer

Pancer bisa disebut juga sebagai tubuh wadah yang berarti diri sendiri. Hal kelima ini merupakan pusat kehidupan yang utama ketika manusia lahir ke bumi. Masyarakat Jawa percaya bahwa sebagai manusia, kita harus menyelaraskan kelima hal itu agar menjadi satu kesatuan yang utuh.

Tulisan ini hanya sebagai pengenalan tradisi adat Jawa semata dan bukan untuk menyebarluaskan ajaran apalagi mendiskreditkan budaya tertentu. Mungkin tradisi unik dan khas Indonesia juga terdapat di setiap daerah dengan kemasan khasnya masing-masing.

Dilihat dari segi bahasa, istilah sedulur papat limo pancer berarti empat saudara dan menjadi lima sebagai pusatnya. Sementara berdasarkan konsep Jawa, istilah itu berarti bentuk kesatuan wujud manusia ketika manusia itu lahir ke bumi. Artinya, dalam sejarah Jawa, masyarakatnya menggunakan istilah sedulur papat limo pancer untuk menggambarkan bahwa ketika manusia lahir, maka lahir juga lah empat saudara manusia itu.

Istilah itu diyakini orang Jawa sebagai bagian dari karya Sunan Kalijaga pada abad 15-16. Diketahui, istilah ini pertama kali ditemukan pada Suluk Kidung Kawedar, Kidung Sarira Ayu, pada bait ke 41-42. Sedulur papat limo pancer dipercaya sebagai satu kesatuan yang saling mempengaruhi dalam diri manusia, terdiri dari empat hal dan ke lima hal sebagai berikut :

1.     Kakang sawah. Kakang sawah atau yang disebut air ketuban adalah air yang membantu manusia untuk lahir ke bumi. Karena air ketuban keluar pertama kali, maka masyarakat Jawa menyebutnya sebagai Kakang, atau yang berarti Kakak.

2.     Adi ari-ari. Adi ari-ari atau disebut plasenta. Adi dalam bahasa Indonesia berarti adik, yakni sebutan untuk ari-ari yang keluar setelah bayi dilahirkan.

3.     Getih. Getih dalam bahasa Indonesia berarti darah. Yakni, hal yang utama pada ibu dan bayi. Dimana saat berada dalam kandungan, bayi juga dilindungi oleh getih.

4.     Puser. Puser atau pusar berarti tali plasenta. Dalam pengertian ini maksudnya, antara ibu dan bayi dihubungkan dengan tali pusar yang membuat mereka semakin kuat. Selain itu, tali pusar juga lah yang menjaga kelangsungan hidup si bayi karena telah menyalurkan nutrisi dari ibu untuk bayinya saat di dalam kandungan.

5.     Pancer. Pancer bisa disebut juga sebagai tubuh wadag yang berarti diri sendiri. Hal kelima ini merupakan pusat kehidupan yang utama ketika manusia lahir ke bumi.

Arah kiblat mata angin

Kelima hal itu lah yang membantu sang ibu melahirkan si bayi ke dunia dari rahimnya. Masyarakat Jawa percaya bahwa sebagai manusia, kita harus menyelaraskan kelima hal itu agar menjadi satu kesatuan yang utuh. Keselarasan itu adalah antara manusia dengan jagat cilik dan jagat gedhe. Pengertian sedulur papat limo pancer jagat cilik (kecil) adalah ketika manusia lahir, maka lahir pula lah lima hal di atas, yakni kakang sawah, adi ari-ari, getih, puser dan pancer.

Sementara istilah itu dalam jagat gedhe (besar) adalah arah kiblat mata angin yaitu timur, barat, selatan, utara, dan tengah dimana manusia berada.

 

Sumarah

Sumarah adalah salah satu cara/metoda (dari berbagai cara yang ada di Kepulauan Nusantara) untuk menuju ketenteraman lahir batin, dengan sujud berserah diri secara totalitas kepada Tuhan Yang Maha Esa / meditasi yang awalnya berasal dari Jawa. Praktik ini didasarkan pada pengembangan kepekaan dan penerimaan melalui relaksasi tubuh, perasaan dan pikiran. Tujuannya adalah untuk menciptakan ruang di dalam diri, batin dan kesunyian, yang diperlukan untuk mencapai kondisi tenteram-damai mewujudkan jati diri.

Sejarah

Sumarah dibentuk oleh seorang pria bernama Raden Ngabei Soekinohartono (Kino) yang tinggal di Wirobrajan, Yogyakarta. Suatu malam, pada tanggal 8 September 1935 beliau mendapatkan wahyu berupa cahaya dari langit, dan terjadi dialog yang diyakini oleh para warga Paguyuban Sumarah adalah Tuhan YMK, yang berisi ajaran-ajaran dari Sumarah. Dari wahyu itu, Kino mulai menyebarkan ajarannya kepada orang terdekat sejak tahun 1935 secara perlahan. Dia tidak berani secara blak-blakan membangun kelompok ini karena bisa saja diciduk Belanda.

Setelah Belanda akhirnya hengkang dari negeri ini, Kino dan beberapa pengikutnya mulai menyebarkan ajarannya ke luar Yogyakarta. Perlu dicatat di sini bahwa Paguyuban Sumarah berkembang sesuai dan mengikuti tuntunan atau petunjuk Tuhan. Hingga sekarang, penghayat dari Sumarah berjumlah 7.200 orang dan menyebar di banyak tempat di Pulau Jawa terutama Madiun dan Jawa Tengah seperti Semarang. Di manca negara sudah ada beberapa warga negara asing, di beberapa negara yang mempelajari metoda sumarah dan mengadakan pertemuan rutin untuk melakukan latihan sujud.

Tidak ada ritual secara khusus yang dilakukan oleh penghayat Sumarah dalam menjalankan ibadah. Apabila umat Islam melakukan salat dan pemeluk Kristen pergi ke gereja, maka penghayat Sumarah akan melakukan sujud bersama-sama di sebuah sanggar yang dijadikan tempat ibadah dan juga pertemuan dengan para penghayat yang lebih banyak menutup diri.

Ibadah yang diajarkan dalam Sumarah hanyalah sujud. Meski demikian, ada beberapa tingkatan dari sujud yang dilakukan penghayat. Semakin tinggi tingkat kebatinan maka akan semakin mudah pula mendapatkan kekosongan pikiran yang merupakan jalan untuk berkomunikasi dengan Tuhan Yang Maha Esa. Sumarah tidak memiliki Kitab, namun pengurus organisasi Paguyuban Sumarah membuat sebuah panduan yang berisi pemikiran Kino dan penjabaran wahyunya.

Sumarah dan Pemeluk Agama

Meski merupakan aliran yang mirip dengan agama, pemeluk Sumarah tidak mau menyebut aliran ini sebagai sebuah agama. Hal ini dilakukan karena ada juga penghayat dari Sumarah yang merupakan pemeluk agama dan tetap menjalankan dua ibadah itu secara bersama-sama tanpa adanya konflik, karena pada intinya sumarah adalah pasrah berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan.

Kebanyakan para penghayat yang masih memiliki agama itu tertarik dengan ibadah dan juga cara mendekatkan diri kepada Tuhan dari Sumarah. Akhirnya mereka ikut melakukan ibadah dengan bersujud lalu mengosongkan pikiran agar bisa mencapai titik tertinggi dari sebuah spiritualitas.

Perlu dijelaskan dan ditegaskan di sini bahwa Sumarah adalah salah satu dari perwujudan Budaya Ketuhanan manusia Indonesia, khususnya Jawa. Sehingga secara konstitusi dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, sumarah seperti juga berbagai aliran penghayat kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, secara nasional dibina, diawasi dan merupakan organisasi yang berada di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Dalam Sumarah tidak dikenal yang namanya dakwah yang secara frontal dilakukan untuk merekrut anggota. Dalam perkembangannya sejak puluhan tahun silam, Sumarah hanya mengajarkan penghayatannya kepada orang-orang yang berminat, yang datang ke tempat latihan sujud warga sumarah, pada prinsipnya sumarah tidak mencari-merekrut anggota. Dengan cara seperti itu dimulailah persebaran Sumarah yang terjadi dengan cepat dan masih bisa bertahan hingga sekarang dengan segala keterbatasannya.

Sumarah tidak pernah memaksa orang untuk bergabung dengan ajarannya. Mereka bahkan membuka lebar kesempatan bagi siapa saja yang berasal dari agama, dan kelompok manapun untuk datang dan ikut bersujud dan melakukan ritual tanpa merusak keyakinan mereka. Inti dari ajaran ini adalah berfokus pada kerohanian dan meninggalkan perlahan-lahan nafsu dunia. Para warga sumarah meyakini bahwa hanya karena Tuhan lah yang menggerakkan seorang manusia untuk tertarik dan menekuni metoda Sumarah.

 

Suwung

Suwung adalah konsep dalam masyarakat Jawa untuk menggambarkan rasa hampa akan kesadaran diri dengan lingkungannya. Hampa di sini dapat diartikan sebagai kondisi kosong yang arupa alias tidak memiliki bentuk. Konsep suwung dipandang sebagai asal-muasal dari alam semesta, hakikat dari segala sesuatu. Suwung adalah kenyataan mutlak yang tidak dapat dijangkau oleh indra manusiawi.

Sementara itu, kelompok beraliran sufisme mengartikan suwung dengan berbeda. Suwung bagi mereka mengandung makna kekosongan yang bernuansa pengendalian diri yang sempurna dan kesadaran sejati akan diri yang berkaitan dengan ketuhanan. Dalam ajaran Suluk Suksma Lelana, suwung adalah tahapan tertinggi, yaitu makrifat. Dalam tahapan ini, seseorang telah berhasil mencapai hakikat ketuhanannya.

Serat Wedhatama membagi alam semesta dibagi menjadi dua, yakni alam yang selalu berubah/fana dan alam yang tetap/abadi. Konsep ini diterangkan antara lain termuat dalam pupuh pangkur bait ke-14 yang berbunyi :

Sejatine Kang mangkana Wus kakenan nugrahaning Hyang Widhi. Bali alaming  nga-Suwung, tan karem karameyan. Ingkang sipat wisesa winisesa wus, Mulih mula mulanira. Mulane wong anom sami.

 

Artinya :

Sebenarnya yang demikian itu sudah mendapat anugerah Tuhan. Kembali ke alam kosong, tidak mabuk keduniawian yang bersifat kuasa menguasai. Kembali ke asal mula. Demikianlah yang terjadi wahai anak muda.

 

Tiji Tibeh

TIji Tibeh adalah semboyan perjuangan Pangeran Sambernyawa yang berarti mati siji, mati kabeh (mati satu, mati semua) atau "mukti siji, mukti kabeh (berjaya satu, berjaya semua). Selain diterapkan dalam bidang kemiliteran atau peperangan, semboyan ini juga diterapkan dalam bidang pemerintahan.

Apabila salah satu orang dalam kelompok mengalami kesulitan, maka semua orang dalam kelompok tersebut akan mengalami kesulitan yang sama pula; apabila salah satu orang dalam kelompok mengalami kebahagiaan, maka semua orang dalam kelompok tersebut juga ikut menikmati kebahagiaan yang sama.

Dalam peperangan, semboyan Tiji Tibeh diterapkan salah satunya dengan membagi rata harta rampasan perang tanpa memandang status prajurit atau pemimpin. Semboyan ini juga diserukan untuk membakar semangat di medan tempur ketika melawan penjajahan Belanda.

 

Tombo Ati

ombo Ati adalah lagu tradisional Jawa yang ditulis oleh Sunan Bonang, salah satu dari Walisongo yang berasal dari Tuban, Jawa Timur. Lagu ini berisi tentang cara-cara seorang Muslim untuk mendapatkan kedamaian dan ketenangan spiritual, dengan melakukan salat tahajjud, membaca Qur'an, berpuasa, berkumpul dengan orang sholeh, dan terus-menerus mengingat Allah, semua itu merupakan Obat Hati.

Lirik Tombo Ati

Tombo Ati iku limo perkorone

Kaping pisan moco Kuran lan maknane

Kaping pindo sholat wengi lakonono

Kaping telu wong kang soleh kumpulono

Kaping papat wetengiro ingkang luwe

Kaping limo zikir wengi ingkang suwe

Salah sawijine sopo iso ngelakoni

Mugi-mugi Gusti Allah nyembadani

Terjemahan bahasa Indonesia

Obat hati ada lima perkaranya

Yang pertama baca Qur'an dan maknanya

Yang kedua sholat malam dirikanlah

Yang ketiga berkumpullah dengan orang sholeh

Yang keempat perbanyaklah berpuasa (perut lapar)

Yang kelima dzikir malam perpanjanglah

Salah satunya siapa bisa menjalani

Moga-moga Allah Ta'ala mencukupi

 

Tridarma

Tridarma (tri: tiga dan darma: pengabdian) adalah filosofi sikap yang pernah dicanangkan oleh Mangkunegara I (Raden Mas Said) untuk dipegang setiap warga negara maupun pemimpin apabila ingin wilayahnya makmur. Motto ini populer di kalangan warga Kota Surakarta dan menjadi pegangan pemerintahan Praja Mangkunegaran hingga sekarang.

Secara lengkap Tridarma berbunyi :

Mulat sarira angrasa wani (berani berintrospeksi/mawas diri)

Rumangsa mèlu andarbèni (atau anggondhèli) (atau merasa ikut memiliki)

Wajib mèlu anggondhèli (berkewajiban ikut membela/mempertahankan)

Pada awalnya, motto ini dipakai oleh Raden Mas Said untuk membina kesatuan gerakan pemberontakan yang dipimpinnya. Setelah ia menjadi Mangkunagara I, Tridarma diterapkannya pula kepada warganya.

Baris terakhir Tridarma sekarang dipakai sebagai motto Kota Surakarta. Soeharto, presiden kedua Indonesia, diketahui juga berusaha mempraktikkan petuah ini meskipun dianggap tidak berhasil.

 

Tridaya

Tridaya adalah kesatuan yang terdiri tiga kekuatan dalam diri yang menentukan segala tindakan seorang manusia. Tridaya terdiri dari cipta, rasa, dan karsa. Cipta bersinggungan dengan kekuatan pikiran untuk merancang atau membuat sesuatu. Rasa bersinggungan dengan kekuatan hati manusia untuk menanggapi sesuatu, sedangkan karsa adalah semangat atau dorongan dalam diri manusia untuk berbuat sesuatu. Dengan menyeimbangkan ketiganya, seorang manusia dipercaya dapat memenuhi keinginan atau tujuan hidupnya.

 

MAKNA HONOCOROKO

Di kehidupan kita yang sudah sangat modern ini mungkin kita hanya menyadari satu jenis aksara, yakni aksara Latin. Namun, perlu diingat kalau Indonesia sebenarnya juga punya jenis aksara khas yang berjumlah 12 aksara, yakni aksara Jawa, Bali, Sunda Kuno, Bugis/Lontara, Rejang, Lampung, Karo, Pakpak, Simalungun, Toba, Mandailing, dan Kerinci/Rencong. Salah satu yang paling kita kenal adalah aksara Jawa.

Menurut perjalanan sejarahnya, aksara Jawa dan beberapa aksara nusantara lainnya sebenarnya merupakan turunan dari aksara Pallawa yang digunakan sekitar abad ke-4 Masehi. Lalu seiring perkembangan zaman pula, aksara Hanacaraka mengalami beragam perubahan bentuk dan komposisi hingga seperti yang kita kenal sampai saat ini.

Aksara Jawa yang sering disebut dengan Hanacaraka merupakan aksara jenis abugida turunan dari aksara Brahmi. Dari segi bentuknya, aksara "Hanacaraka" punya kemiripan dengan aksara Sunda dan Bali. Untuk aksara Jawa sendiri merupakan varian modern dari aksara Kawi, salah satu aksara Brahmi hasil perkembangan aksara Pallawa yang berkembang di Jawa.

Pada masa berjayanya kerajaan-kerajaan Islam, tepatnya dari zaman Kesultanan Demak hingga Pajang, teks dari masa tersebut diwakili dengan serat Suluk Wijil dan serat Ajisaka. Pada masa itu diperkenalkan urutan pangram Hanacaraka untuk memudahkan pengikatan 20 konsonan yang digunakan dalam bahasa Jawa. Urutan tersebut terdiri dari 4 baris dengan tiap baros terdiri dari 5 aksara yang menyerupai puisi.

Namun, ada pula cerita asal-usul aksara Hanacaraka menurut cerita legenda yang kita kenal dengan kisah Ajisaka.

Secara historis, aksara Jawa dan beberapa aksara nusantara lainnya sebenarnya merupakan turunan dari aksara Pallawa yang digunakan sekitar abad ke 4 Masehi. Kemudian seiring dengan perkembangan zaman, bentuk dan komposisi aksara Hanacaraka telah mengalami berbagai perubahan, sejauh yang kita kenal sekarang.

Aksara Jawa (sering disebut Hanacaraka) adalah aksara jenis abugida yang berasal dari aksara Brahmi. Dari segi bentuk, aksara hanacaraka memiliki kemiripan dengan aksara Sunda dan Bali. Aksara Jawa sendiri merupakan varian aksara Kawi modern yang merupakan salah satu aksara Sansekerta yang dikembangkan oleh aksara Pallawa yang dikembangkan oleh Jawa.

Pada masa kejayaan Kerajaan Islam, dari Kesultanan Demak hingga Pajang, penulisan periode ini diwakili oleh Suluk Wijil dan Serat Aji Saka. Saat itu, barisan pangram Hanacaraka diperkenalkan untuk memudahkan pengikatan 20 konsonan yang digunakan dalam bahasa Jawa. Urutannya terdiri dari 4 baris, dan setiap baro terdiri dari 5 karakter yang mirip dengan puisi. Namun menurut legenda yang kita sebut dengan cerita Aji Saka, ada juga cerita tentang asal muasal aksara Hanacaraka.

Legenda Aji Saka Konon Aksara Hanacaraka lahir dari kisah seorang pemuda sakti bernama Aji Saka yang masuk ke kerajaan Medhangkamulan. Raja Dewata Cengkar yang ada di kerajaan itu sangat rakus dan suka makan daging manusia. Banyak orang takut dengan kebiasaan raja. Untuk menghentikan kebiasaan raja, Aji Saka pergi ke sana, Aji Saka memiliki dua orang pembantu yang sangat setia bernama Dora dan Sembada. Alkisah, Aji Saka pergi ke Kerajaan Medhangkamulan dan mengajak Dora untuk menemaninya. Pada saat yang sama, Sembada diperintahkan untuk tetap berada di Pulau Majethi karena harus menjaga kelenjar Aji Saka agar tidak jatuh ke tangan orang lain selain dirinya.

Setelah Aji Saka tiba di Kerajaan Medhangkamulan, ia segera mendatangi Prabu Dewata Cengkar dan menuntut penyitaan sebidang tanah sebesar sorbannya. Syarat ini adalah Aji Saka bersedia menjadi makanan raja selama ia memperoleh tanah yang diinginkannya. Akhirnya Raja Dewata Cengkat menyetujui permintaan Aji Saka. Ia menggunakan kain sorban Aji Saka untuk mengukur permukaan tanah, namun di luar dugaan, kain sorban tersebut semakin melebar hingga membuat Prabu Dewata Cengkar mondar-mandir hingga mencapai tebing di pantai selatan. Sayangnya Prabu Dewata Cengkar tidak bisa menyelamatkan diri dan tewas di tebing. Sejak saat itu, Aji Saka diangkat menjadi raja Kerajaan Medhangkamulan.

Kemudian, Asakasaka teringat akan warisannya di Pulau Majethi. Ia pun mengirim Dora untuk menerimanya dari Sembada. Setelah Dora sampai di Pulau Majethi, ia langsung meminta pusaka Aji Saka yang dijaga Sembada, namun rekannya tersebut tidak menginginkan pusaka tersebut karena teringat akan perintah Aji Saka. Di saat yang sama, Dora berkeras bahwa yang dilakukannya adalah perintah dari Aji Saka. Mereka bertengkar dan berkelahi. Sayangnya, mereka berdua meninggal, dan Aji Saka menyesali perbuatannya setelah mendengar bahwa kedua pembantunya telah terbunuh. Kemudian untuk memperingati, ia menyanyikan Hanacaraka Rhyme yang sarat makna :

Ha Na Ca Ra Ka

Ada sebuah cerita

Da Ta Sa Wa La

Dalam Argumen

Pa Dha Ja Ya Nya

Keduanya kuat

Ma Ga Ba Tha Nga

Akhirnya mereka semua mati

Arti filosofis dari naskah Hanacaraka dari cerita-cerita ini, kita dapat menyimpulkan bahwa Aksara Hanacaraka memiliki makna filosofis yang bijaksana. Makna filosofis tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

1.     Ha-Na-Ca-Ra-Ka berarti utusan, yaitu pembawa pesan kehidupan, yang muncul dalam bentuk nafas dan harus menggabungkan jiwa dengan tubuh manusia. Ini menjelaskan keberadaan pencipta (Tuhan), ciptaan (manusia), dan tugas yang diberikan Tuhan kepada umat manusia.

2.     Da-Ta-Sa-Wa-La artinya manusia tidak bisa menjadi "sawala" atau melarikan diri setelah membuat "data" atau bila disebut "data". Dalam kehidupan ini, manusia harus mau menjalankan, menerima dan menjalankan kehendak Tuhan.

3.     Pa-Dha-Ja-Ya-Ya-nya mewakili kombinasi materi pemberi kehidupan (sakral) dan materi pemberi kehidupan (keberadaan). Dalam pengertian filosofis, pemikiran setiap orang harus sejalan dengan apa yang dilakukannya.

4.     Ma-Ga-Ba-Tha-Nga berarti menerima segala sesuatu yang diperintahkan dan dilarang Tuhan. Artinya kalaupun manusia diberi hak untuk meniru dan berusaha menguasai alam, manusia harus pasrah pada alam.

 

Legenda Aji Saka

Konon, menurut legenda, aksara Hanacaraka terlahir dari cerita pemuda sakti bernama Ajisaka yang pergi mengembara ke Kerajaan Medhangkamulan. Kerajaan tersebut memiliki seorang raja bernama Dewata Cengkar yang amat rakus dan senang memakan daging manusia. Rakyatnya banyak yang ketakutan dengan kebiasaan rajanya tersebut. Demi menghentikan kebiasaan sang raja, Ajisaka pun bertolak kesana.

Ajisaka memiliki dua orang abdi yang sangat setia bernama Dora dan Sembada. Suatu ketika, Ajisaka pergi mengembara ke Kerajaan Medhangkamulan dan mengajak Dora untuk menemaninya. Sementara itu, Sembada diperintah untuk tetap tinggal di Pulau Majethi karena harus menjaga keris pusaka milik Ajisaka agar tidak jatuh ke tangan orang lain selain dirinya.

Sesampainya di Kerajaan Medhangkamulan, Ajisaka segera menghadap Prabu Dewata Cengkar untuk meminta sebidang tanah seukuran kain surban kepalanya. Permintaannya ini adalah sebagai syarat bahwa Ajisaka bersedia menjadi santapan sang Raja asalkan ia mendapatkan tanah yang ia mau. Akhirnya, Prabu Dewata Cengkat mengamini permohonan Ajisaka. Ia mengukur tanah menggunakan kain surban Ajisaka, namun tak disangka kain surban tersebut semakin lama semakin meluas hingga membuat Prabu Dewata Cengkar mundur dan terus mundur sampai mendekati jurang pantai selatan.

Sayang sekali Prabu Dewata Cengkar tidak dapat menyelamatkan diri dan mati terjatuh dari jurang. Sejak saat itu Ajisaka diangkat menjadi raja di Kerajaan Medhangkamulan.

Lantas Ajisaka teringat dengan pusakanya yang ditinggal di Pulau Majethi. Ia pun mengutus Dora untuk mengambilnya dari Sembada. Sesampainya di Pulau Majethi, Dora segera meminta pusaka Ajisaka yang dijaga oleh Sembada, namun rekannya itu tidak mau memberikan pusaka tersebut karena teringat dengan perintah Ajisaka. Sementara itu, Dora juga bersikukuh bahwa apa yang dilakukannya adalah perintah dari Ajisaka. Merekapun berdebat dan bergelut. Sayang sekali, keduanya akhirnya tewas.

Mendengar kedua abdinya tewas, Ajisaka pun menyesali apa yang telah dilakukannya. Lantas untuk mengenang, ia melantunkan pantun Hanacaraka yang penuh makna :

Ha Na Ca Ra Ka

Ada sebuah kisah

Da Ta Sa Wa La

Terjadi sebuah pertarungan

Pa Dha Ja Ya Nya

Mereka sama-sama sakti

Ma Ga Ba Tha Nga

Dan akhirnya semuanya mati

 

Makna filosofis aksara Hanacaraka

Dari kisah-kisah tersebut, kita bisa menarik simpulan bahwa aksara Hanacaraka memiliki makna filosofi yang bijaksana. Makna filosofis tersebut bisa dipaparkan seperti di bawah ini :

1.     Ha-Na-Ca-Ra-Ka artinya adalah ”utusan” yakni utusan hidup, berupa nafas yang berkewajiban menyatukan jiwa dengan jasad manusia. Hal ini menunjukkan adanya pencipta (Tuhan), ciptaan (manusia), dan tugas yang diberikan Tuhan kepada manusia.

2.     Da-Ta-Sa-Wa-La berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan "data" atau saatnya dipanggil tidak boleh "sawala" atau mengelak. Dalam hidup ini manusia harus bersedia melaksanakan, menerima dan menjalankan kehendak Tuhan.

3.     Pa-Dha-Ja-Ya-Nya menunjukkan menyatunya zat pemberi hidup (Ilahi) dengan yang diberi hidup (makhluk). Makna filosofisnya, setiap batin manusia pasti sesuai dengan apa yang diperbuatnya.

4.     Ma-Ga-Ba-Tha-Nga berarti menerima segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Tuhan . Maksudnya manusia harus pasrah, sumarah pada garis kodrat, meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat, berusaha untuk menanggulanginya.

 

AJISAKA SEBAGAI DEWASISYA

Sĕrat Ajidarma-Ajinirmala adalah karya pujangga R. Ng. Ranggawarsita dari kerajaan Surakarta sekitar tahun 1791 J atau 1862 M. Sĕrat Ajidarma-Ajinirmala merupakan dua buah buku yang menjadi satu.  Keduanya disusun berdasarkan sumber kitab Musarar yang berasal dari Rum. Sĕrat Ajidarma menceritakan ketika pertama kali Jaka Sangkala menginjakkan kakinya di tanah Jawa, tepatnya di gunung Kendheng. Di sini ia mendapatkan berbagai pelajaran dari para dewa, diantaranya: Empu Ramadi, Sang Hyang Guru, Sang Hyang Endra, Sang Hyang Sambo, Sang Hyang Brahma, Sang Hyang Wisnu, Sang Hyang Kala, dan Sang Hyang Kamajaya. Adapun Sĕrat Ajinirmala menceritakan sewaktu Jaka Sangkala (Ajisaka) membuka daerah di gunung Alaulu. Di sini ia mendapatkan pelajaran dari para dewa, diantaranya: Sang Hyang Wenang, Sang Hyang Ening, Sang Hyang Tunggal,  Sang Hyang Siwah, Sang Hyang Pramesthi Guru, Sang Hyang Endra, Sang Hyang Sambo, Sang Hyang Brahma, Sang Hyang Bayu, Sang Hyang Wisnu, Sang Hyang Kala, dan Sang Hyang Kamajaya. Sĕrat Ajidarma-Ajinirmala adalah sebuah kitab yang berisikan ilmu pengetahuan suci, penuh petunjuk dharma, agar manusia dapat membentengi dirinya sehingga selamat dan terbebas dari

pengaruh perbuatan jahat.  Sĕrat ini juga mencoba menerangkan asal-usul manusia yang pertama kali mendiami Pulau Jawa serta menggambarkan peristiwa-peristiwa menggetarkan yang dialami mereka di awal kehidupannya di pulau ini.  Selain itu, dalam sĕrat ini juga diungkapkan nama-nama hari, tahun, windu Jawa dan windu Arab.

 

Suluk Wujil

Suluk Wujil merupakan jenis sastra Jawa yang ditulis dalam bentuk tembang, yang berisi 104 bagian (pupuh), bagian (pupuh) yang ke-55, sekar ageng Aswalalita, yang ke-56 mijil, yang lain-lain Dandanggula. Sekar aswalalita tersebut masih sangat jarang digunakan jalan guru-lagunya (iramanya). Hal ini yang membuktikan bahwa suluk ini sangat tua usianya. Gaya bahasa yang dipakainya menggambarkan suatu dialog antara seorang Guru dengan muridnya yang bernama Wujil seorang bajang yang diceritakan sebagai bekas budak dari raja Majapahit, raja yang ke berapa dan yang mana tidak dijelaskan.

Di antara karya Sunan Bonang, mungkin yang paling dikenal adalah suluk Wujil. Namun yang jelas ajaran-ajaran tersebut berkenaan dengan ilmu kesempurnaan atau mistik.Adapun mistik yang hendak diajarkan oleh beliau melalui suluk Wujil ini tidak jauh berbeda dari ajaran-ajaran yang telah dipaparkan dalam Dewaruci.

Teks suluk Wujil ini dapat dijumpai antara lain dalam MS Bataviasche Genotschaft 54 (setelah RI merdeka disimpan di Museum Nasional, kini di Perpustakaan Nasional Jakarta) dan transliterasinya ke dalam huruf Latin dilakukan oleh Poerbatjaraka dalam tulisannya De Geheime Leer van Soenan Bonang (Soeloek Woedjil) (majalah Djawa vol. XVIII, 1938).

Sebagai karya zaman peralihan Hindu ke Islam, pentingnya karya Sunan Bonang ini tampak dalam dalam suluk Wujil dengan tegas menggambarkan suasana kehidupan badaya, intelektual dan keagamaan di Jawa pada akhir abad ke-15, yang sedang beralih kepercayaan dari agama Hindu ke agama Islam. Di arena politik peralihan itu ditandai dengan runtuhnya Majapahit, kerajaan besar Hindu terakhir di Jawa, dan bangunnya kerajaan Demak, kerajaan Islam pertama. Demak didirikan oleh Raden Patah, putera raja Majapahit Prabu Kertabumi atau Brawijaya V dari perkawinannya dengan seorang puteri Cina yang telah memeluk Islam. Dengan runtuhnya Majapahit terjadilah perpindahan kegiatan budaya dan intelektual dari sebuah kerajaan Hindu ke sebuah kerajaan Islam dan demikian pula tata nilai kehidupan masyarakat pun berubah. Di lapangan sastra peralihan ini dapat dilihat dengan berhentinya kegiatan sastera Jawa Kuna setelah penyair terakhir Majapahit, Mpu Tantular dan Mpu Tanakung, meninggal dunia pda pertengahan abad ke-15 tanpa penerus yang kuat.

Secara keseluruhan jalan tasawuf merupakan metode-metode untuk mencapai pengetahuan diri dan hakikat wujud tertinggi, melalui apa yang disebut sebagai jalan Cinta dan penyucian diri. Cinta yang dimaksudkan para sufi ialah kecenderungan kuat dari kalbu kepada Yang Esa, karena pengetahuan tentang hakikat ketuhanan hanya dicapai tersingkapnya cahaya penglihatan batin (kasyf) dari dalam kalbu manusia. Tahapan-tahapan jalan tasawuf dimulai denganpenyucian diri, yang dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian.

1.     Pertama, penyucian jiwa atau nafs.

2.     Kedua, pemurnian kalbu.

3.     Ketiga, pengosongan pikiran dan ruh dari selain Tuhan.

Istilah lain untuk metode penyucian diri ialah mujahadah, yaitu perjuangan batin untuk mengalah hawa nafsu dan kecenderungan-kecenderungan buruknya. Hawa nafsu merupakan representasi dari jiwa yang menguasai jasmani manusia (diri jasmani). Hasil dari mujahadah ialah musyahadah dan mukasyafah. Musyahadah ialah mantapnya keadaan hati manusia sehingga dapat memusatkan penglihatannya kepada Yang Satu, sehingga pada akhirnya dapat menyaksikan kehadiran rahasia-Nya dalam hati. Mukasyafah ialah tercapainya kasyf, yaitu tersingkapnya tirai yang menutupi cahaya penglihatan batin di dalam kalbu.

Di bagian-bagian akhir, Ratu Wahdat yang diyakini sebagai Guru juga mengajarkan tentang nafi isbat yang berkaitan dengan kalimat tauhid لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. Kalimat ini mempunyai dua bagian. Pertama adalah bagian nafi, yaitu ucapan: لاَ إِلَهَ yang artinya: Tidak ada Tuhan. Dan kedua adalah bagian itsbat, yaitu diucapkan: إِلاَّ اللهُ  yang artinya: Kecuali Allah SWT Jika kalimat nafi dan itsbat diucapkan oleh seorang yang tidak mempersekutukan Allah SWT dengan sesuatu. Maka artinya adalah penafian dan penolakan terhadap dugaan orang musyrikin yang beranggapan bahwa ada tuhan lain bersama Allah SWT dan menetapkan pengertian tauhid di dalam hati, dan pengertian ini makin bertambah teguh dengan diucapkannya kalimat ini berulang kali.

 

Dhandanggula

1

O / Dan warnanen sira ta pun Wujil / matur sira ing sang adinira / Ratu Wahdat pangerane / sumungkem aneng lebu / telapakan Sang Maha Muni / Sang adhekah ing Benang / mangke atur bendu / sawitnya nedha jinarwan / sapratingkahing agama kang sinelir / teka ing rahsa purba //

Tersebutlah seseorang yang bernama Wujil. Dia berujar kepada Sang Panembahan Agung yang bernama Ratu Wahdat. Seraya mohon ampun Ia bersujud di atas debu yang menempel di telapak kaki Sang Mahamuni, yang bertempat tinggal di Benang karena ingin diberi keterangan tentang seluk-beluk agama yang terpilih sampai ke rahasia agama Islam yang sedalam-dalamnya.

2

Sadasa warsa sira pun Wujil / angastu pada sang adinira / tan antuk wara ndikane / ri kawijilanipun / ira Wujil ing Maospait / ameng-amenganira / nateng Majalangu / telas sandining aksara / pun Wujil matur maring Sang adi Gusti / anuhun pangatpada //

Sudah sepuluh tahun Wujil berguru kepada Sang Panembahan Agung, namun selama ini ia belum mendapatkan ajaran yang diinginkannya. Adapun tentang asal-usulnya, Wujil adalah abdi kesayangan raja di Majalangu berasal dari Maospait. Ia telah menamatkan seluruh pelajaran tata bahasa. Kemudian wujil berujar kepada Sang Panembahan Agung yang sangat dihormatinya sambil mohon ampun.

3

Pun Wujil byakteng kang anuhun sih / ing talapakan Sang Jati Wenang / pejah gesang katur mangke / sampun manuh pamuruk / sastra Arab paduka warti / wekasane angladrang / anggeng among kayun / sabran dina raraketan / malah bosen kawula kang angludrugi / ginawe alan-alan //

Hamba Sang Wujil sungguh memohon belas kasih dihadapan telapak kaki Sang Jati Wenang, menyerahkan hidup dan mati. Hamba telah menguasai semua pelajaran sastra arab yang tuan ajarkan. Namun apa yang hamba cari belum kutemukan akhirnya hamba pergi mengembara sekemauan hati. Hamba pergi ke manapun senantiasa mengikuti kemauan hati. Hamba pun rela setiap hari bermain topeng, sampai bosan hamba bertingkah laku sebagai badut dan dijadikan tumpuan ejekan.

4

Ya Pangeran ing Sang adi Gusti / jarwaning wisik aksara tunggal / pangiwa lan panengene / nora na bedanipun / dene maksih atata gendhing / maksih ucap-ucapan / karone puniku / datan pulih anggeng mendra / atilar tresna saka ring Majapahit / nora antuk usada //

Aduhai junjunan Sang Adi Gusti, penjelasan tuan mengenai ajaran rahasia kesatuan yang terdapat dalam aksara tungal (ditafsirkan Schimmel, 1986: 431 sebagai huruf alif pada aksara arab), baik pada waktu sebelum datangnya ajaran Islam maupun pada zaman Islam adalah sama. Antara lain orang masih memperhatikan musik atau nada. Tetapi keduanya tetap hanya dalam kata-kata belaka. Oleh karenanya hamba pergi dari Majapahit dan meninggalkan semua yang hamba cintai karena hamba belum mencapai cita-cita hamba, hamba tidak mendapatkan penawarnya.

5

Ya marma lunga ngikis ing wengi / angulati sarahsyaning tunggal / sampurnaning lampah kabeh / sing pandhita sun dunung / angulati sarining urip / wekasing Jati Wenang / wekasing lor kidul / suruping raditya wulan / reming neta kalawan suruping pati / wekasing ana ora //

Oleh karena itu sesungguhnya pada suatu malam hamba pergi secara diam-diam untuk mencari rahasia yang disebut kesatuan itu, mecari kesempurnaan dalam semua tingkah laku. Hamba menemui tiap-tiap orang suci untuk mencari hakikat hidup, titik akhir dari kekuasaan yang sebenarnya, titik akhir utara dan timur, ke tempat terbenamnya matahari dan bulan untuk selama-lamanya, tertutupnya mata dan hakikat yang sebenarnya daripada mati serta titik akhir dari segala yang ada dan yang tiada.

6

Sang Ratu Wahdat mesem ing lathi / hih ra Wujil kapo kamakara / tan samanya mangucape / lewih anuhun bendu / atinira taha nanagih / dening genging swakarya / kang sampun kalebu / tan pandhitane wong dunya / yen adol warta tuku wartaning tulis / angur aja wahdata //

Mendengar penuturan Wujil, Sang Ratu Wahdat tersenyum simpul, Ah Wujil, betapa nakal kamu ini. Kau katakan hal-hal yang tidak lumrah. Kamu terlalu berani, sehingga ingin memperoleh imbalan untuk hal yang telah banyak kau lakukan untukku. Aku tidak layak disebut Maha Yogi atau orang suci, di dunia ini, apabila aku mengharapkan imbalan bagi ajaran yang telah kusampaikan. Kiranya lebih layak jika aku tidak disebut wahdat.

7

Kang adol warta atuku warti / kumisun kaya-kaya weruha / mangke ki andhe-andhene / awarna kadi kuntul / ana tapa sajroning warih / meneng tan kena obah / tingalipun terus / ambek sadu anon mangsa / lir antelu putihe putih ing jawi / ing jro kaworan rakta //

Siapapun yang mengharapkan imbalan dalam mengajarkan tulisan-tulisan, ia hanya memuaskan dirinya sendiri. Seolah-olah ia mengetahui tentang segalanya dengan tepat. Orang semacam itu dapat diibaratkan seperti seekor burung bangau yang bermenung di tepi danau. Si burung berdiam diri tidak bergerak, pandangannya tajam. Ia ibarat sebutir telur yang tampak putih (suci) di luar, tetapi sesungguhnya di dalamnya bercampur kuning.

8

Suruping arka aganti wengi / pun Wujil anuntumaken wreksa / badhiyang aneng dagane / patapane Sang Wiku / ujung tepining wahudadi / aran dhekah ing Benang / saha sunya samun / anggayang tan ana pala / boga anging jraking sagara nempuhi / parang rong asiluman //

Matahari terbenam, hari berganti malam. Sang Wujil mengumpulkan kayu bakar untuk membuat api unggun di bawah pertapaan Sang Wiku yang terletak di ujung di tepi laut disebuah padukuhan yang disebut Dukuh Bonang. Keadaan di sana sunyi senyap serta gersang tiada tumbuhan atau buah-buahan yang dapat dimakan. Makanannya hanya berupa riak gelombang laut yang menerjang batu-batu karang yang berbentuk gua yang menyeramkan.

9

Sang Ratu Wahdat lingira aris / Hih ra Wujil marengke den enggal / trus den cekel kekucire / sarwi den elus-elus / tiniban sih ing sabda wadi / ra Wujil rungokena / sasmita kateng sun / lamun sira kalebua / ing naraka ingsun dhewek angleboni / aja kang kaya sira //

Mendengar penuturan Wujil, Sang Ratu Wahdat berkata dengan ramah: Hai Wujil, kemarilah segera. Setelah mendekat, maka Wujil pun dipegang kuncungnya sebagai tanda kasih sayang, diusapnya kuncung Wujil. Kemudian Sang Ratu Wahdat mengucapkan kata-kata rahasia: Wujil, dengarkanlah petunjukku. Jika karena kata-kataku ini membuat engkau harus masuk neraka, maka akulah sebagai gurumu yang akan menggantikanmu masuk neraka, bukan kamu yang sebagai muridku.

10

Sigra pun Wujil atur subakti / matur sira ing guru adimulya / sakalangkung panuwune / sampun rekeh pukulun / leheng dasih rekeh pun Wujil / manjinga ing naraka / pun Wujil sawegung / pan sami wruh ing kalinga / guru lan siswa tan asalayah kapti / kapti saekapraya //

Dengan sangat hormat Wujil menyembah seraya mengatakan terima kasihnya kepada Sang Mahayogi. Wujil nerkata : jangan Paduka, lebih baik hamba sang Wujil yang masuk di neraka, biarlah sang Wujil sendiri. karena mereka berdua sudah saling mengetahui maksudnya, maka antara sang guru dengan siswanya itu tidak pernah berselisih paham, keduanya selalu kompak.

11

Pengetisun ing sira ra Wujil / den yatna uripira neng dunya / ywa sumabaraneng gawe / kawruhana den estu / sariranta pan dudu jati / kang jati dudu sira / sing sapa puniku / weruh rekeh ing sarira / mangka sasat wruh sira maring Hyang Widi / iku marga utama //

Aku peringatan kamu, wahai anakmas Wujil, berhati-hatilah dalam menjalankan hidup di dunia, jangan lengah, sembrono dalam tindakan yang kamu lakukan. Dan sadarlah serta yakin, bahwa kau bukanlah Hyang Jati Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa), dan Hyang Jati Tunggal bukanlah engkau. Barangsiapa yang mengenal diri sendiri sekarang, seakan-akan ia mengenal Tuhan. Demikianlah jalan yang sebaik-baiknya.

12

Utamane sarira puniki / angawruhana jatining salat / sembah lawan pamujine / jatining salat iku / dudu ngisa tuwin magrib / sembayang aranika / wenange puniku / lamun ora nana salat / pan minangka kekembanging salat da’im / ingaran tatakrama //

Perihal keunggulan manusia hendaknya mengetahui kesejatian shalat, menyembah dan memuji (berdzikir). Shalat yang sebenarnya bukanlah seperti shalat isya atau maghrib. Shalat seperti itu hanya dapat disebut sembahyang, yang dilakukan seolah-olah ia melaksanakan shalat yang sebenarnya tidak ada dan sekedar kembangnya shalat daim (diterjemahkan Husin Al Habsyi, 1990: 110 sebagai khusuk, yang tetap atau yang kekal), yang dinamakan tatakrama.

13

Endi ingaran sembah sejati / aja nembah yen tan katingalan / temahe kasor kulane / yen sira nora weruh / kang sinembah ing dunya iki / kadi anulup kaga / punglune den sawur / manuke mangsa kena’a / awekasan amangeran adam-sarpin / sembahe siya-siya //

Manakah yang disebut dengan sembahyang yang sebenarnya itu? Sebaiknya, kau tidak menyembah atau memuja, jika kau tidak tahu kepada siapa kamu menyembah atau memuja. Hal itu berakibat akan merendahkan martabat dirimu sendiri. Jika kau tidak tahu kepada siapa kau menyembah di dunia ini. Ibaratnya seperti kau menembak burung tanpa dengan bidikan, pelurunya disebarkan kemana-mana sedangkan burungnya tidak mungkin kena. Jadi, jika kau melaksanalan shalat yang demikian pada hakikatnya kau hanya menyembah kepada adam sarpin (diterjemahkan oleh Poerbatjaraka 1938 : 162 sebagai ketiadaan murni) sembahmu menjadi sia-sia.

14

Lan endi kang ingaranan puji / samya amuji dalu lan siyang / yen ora sarta wisike / tan sampurna kang laku / yen sirarsa weruh ing puji / den nyata ing sarira / panjing wetunipun / kang atuduh ananing Hyang / panjing wetuning napas yogya kawruhi / suksma catur prakara //

Dan manakah yang disebut puji (dzikir). Meskipun orang-orang memuji (berdzikir) siang-malam, namun jika ia tidak pernah memperoleh petunjuk dari pemujaannya itu, tidak akan sempurna tindakannya tersebut. Jika kamu ingin mengetahui apa yang disebut dzikir yang sesungguhnya, keluar-masuknya pada dasarnya ada pada diri kamu, yang mengenal adanya Tuhan, maka harus kau ketahui keluar-masuknya hayat, yaitu lewat pernafasan. Sebaiknya kau ketahui juga perihal anasir halus yang empat jumlahnya.

15

Catur prakara anasirneki / bumi geni angin iku toya / samana duk panapele / sipate iku catur / kahar jalal jamal lan kamil / katrapan sipating Hyang / wowolu kehipun / lampahe punang sarira / manjing metu yen metu ndi paraneki / yen manjing ndi pernahnya //

Keempat macam anasir itu adalah : tanah, api, angin, dan air. Dahulu kala ketika Tuhan menciptakan Nabi Adam, Tuhan menggugunakan empat macam anasir yang disebut kahar, jalal, jamal, dan kamal keempatnya mengandung sifat-sifat Tuhan yang jumlahnya ada delapan. Hubungannya dengan jasmani ialah bahwa sifat-sifat dalam badan itu masuk dan keluar. Kamu harus memahami, jikalau keluar, ke mana perginya, dan jika masuk, di manakah tempatnya?

16

Tuwa anom kang anasir bumi / lakune puniku kawruhana / yen atuwa ndi enome / lamun anom puniku / pundi rekeh tuwanireki / anasir geni ika / apes kuwatipun / yen kuwat endi apesnya / lamun apes pundi nggene kuwatneki / tan sampun kasapeksa //

Adapun anasir tanah menimbulkan adanya sifat tua dan muda. Sifat-sifat yang terkandung di dalamnya pun harus kau ketahui pula. Jika tua di manakah mudanya, jika muda di manakah tuanya. Sedangkan unsur api itu bersifat kuat dan lemah. Jika kuat di manakah lemahnya, jika lemah di manakah kuatnya. Semua itu harus kau ketahui.

17

Miwah ta rekeh anasir angin / lakune iku ana lan ora / yen ora pundi anane / lamun ana puniku / aneng endi oranineki / ingkang anasir toya / pejah gesangipun / yen urip pundi patinya / lamun mati ndi parane uripneki / sasar yen ora wruha //

Selanjutnya unsur angin. Sifat-sifat anasir angin mencakup ada dan tiada. Jika tiada, di manakah letaknya ada, jika ada di manakah letaknya tiada. Anasir air memiliki sifat mati dan hidup. Di manakah adanya mati dalam hidup, dan ke manakah perginya hidup pada waktu mati? Kamu akan tersesat jika kamu tidak mengetahuinya.

18

Kawruhana tatalining urip / ingkang aningali ing sarira / kang tan pegat pamujine / endi pinangkanipun / kang amuji lan kang pinuji / sampun ta kasapeksa /marmaning wong agung / padha angluru sarira / dipun nyata ing uripira sejati / uripira neng dunya //

Hendaknya diketahui pula bahwa pedoman hidup adalah mengetahui akan dirinya sendiri, sambil tidak pernah melupakan sembahyang secara khusyuk. Harus kau ketahui juga, dari mana datangnya si penyembah dan yang disembah. Oleh sebab itu, maka orang-orang yang agung mencari pribadinya sendiri untuk dapat menemukan hidup mereka yang sebenarnya dengan tepat. kehidupan mereka di dunia ini.

19

Dipun weruh ing urip sejati / lir kurungan raraga sadaya / becik den wruhi manuke / rusak yen sira tan wruh / Hih ra Wujil salakuneki / iku mangsa dadiya / yen sira yun weruh / becikana kang sarira / awismaa ing enggon punang asepi / sampun kacakrabawa //

Kau harus mengetahui hidup yang sebenarnya. Tubuh ini seluruhnya bagaikan sangkar. Akan lebih baik jika kau mengenal jenis burungnya. Oh, Wujil, dengan tindakan-tindakan yang selama ini telah kau lakukan, kau akan jatuh sengsara tanpa hasil jika tak kau ketahui. Dan jika kau ingin mengetahui, kau harus membersihkan dirimu. Tinggallah di suatu tempat sunyi, sepi dan jangan menghiraukan keramaian dunia ini.

20

Aja doh dera ngulati kawi / kawi iku nyata ing sarira / punang rat wus aneng kene / kang minangka pandulu / tresna jati sariraneki / siyang dalu den awas / pandulunireku / punapa rekeh pracihna / kang nyateng sarira sakabehe iki / saking sipat pakarya //

Kamu tidak perlu pergi jauh mencari pujangga. Karena pujangga yang sesungguhnya itu telah berada di dalam dirimu sendiri. Bahkan seluruh dunia ini berada di dalam dirimu sendiri. Maka jadikanlah dirimu sebagai penerang cinta sejati, untuk dapat melihat dunia. Arahkanlah wajahmu dengan tajam dan hening kepadanya, baik siang maupun malam, karena sesungguhnya apapun yang tampak ditubuh semuanya ini pada kesunyataannya adalah hasil dari sifat tingkah laku dan perbuatan.

21

Mapan rusak kajatinireki / dadine lawan kaarsanira / kang tan rusak den wruh mangke / sampurnaning pandulu / kang tan rusak anane iki / minangka tuduhing Hyang / sing wruh ing Hyang iku / mangka sembah pujinira / mapan awis kang wruha ujar puniki / dahat sipi nugraha //

Perbuatanmu yang terjadi karena kehendakmu ini, menimbulkan kehancuran. Harus kau ketahui apakah yang tidak mengalami kehancuran, yakni pengetahuan yang sempurnala yang keadaannya tidak mengalami kehancuran. Pengetahuan itu meluas sampai kepada derajat mengenal adanya Tuhan (Ma’rifat). Dengan mengenal Tuhan, maka akan menjadi bekal bagi seseorang untuk menyembah dan memuji-Nya. Namun tidak banyak orang yang mengenal kata itu. Siapa yang mampu mengenal-Nya, ia akan mendapat anugrah yang besar.

22

Sayogyane mangke sira Wujil / den nyata sireng sariranira / yektya angayang temahe / raraganira iku / lamun Wujil dera lalisi / kang nyata ing sarira / solahe den besur / amurang raraganira / kang dadi tingal anging kainaneki / kang den liling nityasa //

Seyogyanya kelak Wujil, kamu harus mengetahui dirimu sendiri. Nafsumu akan terlena jika kamu membalikkan punggung. Mereka yang tahu akan dirinya, hawa nafsunya tidak binal untuk menelusuri jalan yang salah. Oleh karena yang diperhatikan dan yang diingat terus menerus hanyalah kekurangannya.

23

Wujil kawruh ing sariraneki / iya iku nyataning pangeran / tan angling yen tan ana wadine / dene wasitanipun / ana malih kang angyakteni / samya luruh sarira / sabdane tanpa sung / amojok saking susanta / tanpa sung kaliru saking pernah neki / iku kang aran lampah //

Oh, Wujil! Barang siapa yang mengenal diri sendiri, adalah dia yang mengenal tuhan. Dan orang yang mengenal Tuhan tidak sembarang bicara, kecuali jika kata-katanya mempunyai maksud penting. Ada pula orang lain yang berusaha mengenal dirinya, karena kesungguhannya mencari maka ia menemukan dirinya. Mereka tahu, bahwa seseorang tidak boleh terlempar ke luar dari kehalusan, dan merka pun mengetahui bahwa ia tidak boleh memilih tempat yang keliru. Demikianlah yang disebut jalan kesucian (lampah).

24

Pan nyata ananing Hyang aneng sih / ening kasucianing pangeran / ana ngaku kang wruh mangke / laksanane tan anut / raga sastra tan den gugoni / anglalisi subrata / kang sampun yekti wruh / anangkreti punang raga / paningale den wong-wong rahina wengi / tanpa sung agulinga //

Oleh karena itu jelaslah, bahwa keadaan Tuhan (diterjemahkan Poerbatjaraka 1938 : 150 sebagai Tuhan beserta kesucian yang suci berada dalam kecintaan). Tuhan jelas berbeda dengan keadaan manusia, jernihkanlah Tuhan itu. Ada pula orang yang mengaku mengenal Tuhan tetapi perilakunya tidak mengikuti kaidah. Ia tidak patuh terhadap ajaran tentang pengendalian hawa nafsu, mengesampingkan kehidupan yang saleh. Sesungguhnya orang yang mengenal Dia, ia akan mampu mengekang hawa nafsunya. Siang malam ia mengatur indera penglihatannya, dan dicegahnya untuk tidur.

25

Iku tapakane hi ra Wujil / tan bisa sira mateni raga / aja mung angrungu bae / den sayekti ing laku / ayun sarta lawan pandeling / yen karone wus nyata / panjing wetunipun / tan ana pakewuhira / tikeling pikulan saros samineki / beneh kang durung wikan //

Demikianlah, seharusnya yang menjadi dasarnya hai anak mas Wujil supaya dapat mematikan hawa nafsumu, dan jangan hanya dibatasi mendengarkan saja. Bersungguh-sungguhlah dalam kesucian, kehendak dan keyakinanmu. Apabila keduanya telah jelas masuk dan keluarnya, maka kamu tidak akan menemukan kesulitan lagi seperti halnya memotong seruas bambu pikulan, lain halnya dengan orang yang belum mengerti.

26

Kasompokan denira ningali / karane tan katon pan kaliwat / tanpa rah-arah rupane / tuwin si ananipun / mapan wartaning kang utami / yen ta ora enggona / pegat tingalipun / tingal jati kang sampurna / aningali nakirah yakti dumeling / kang sajatining rupa //

Penglitannya tentang hal ini sangat terbatas. Sebabnnya adalah Dia terlalu tidak berbentuk oleh karena Dia tidak tampak oleh orang biasa, tetapi Dia tetap ada. Sesungguhnya menurut ajaran orang-orang yang unggul, Dia tidak mempunyai tempat tertentu. Bagi orang yang berhenti menglihatnya, malah ia akan memiliki penglihatan sejati yang sempurna. Dan ketika dilihatnya wujud itu secara umum, maka akan tampak membayang Wujud yang sejatinya dengan jelas

27

Mapan tan ana bedane Wujil / dening kalindhih solahe ika / bedane tan seng purbane / Wujil sampun tan emut / lamun anggung tinutur Wujil / nora na kawusannya / siyang lawan dalu / den rasani wong akathah / kitabipun upama perkutut adi / asring den karya pikat //

Antara Dia dan wujud ini, Oh, Wujil, Sesungguhnya tiada berbeda. Hanya Dia tidak tampak oleh karena tertutupi oleh oleh gerakan-gerakan (dari alam semesta). Jadi bedanya tidak tampak (terletak) pada sumbernya. Jangan kau lupakan selama-lamanya Wujil. Bahwa setelah kita bicarakan tentang hal itu, tidak akan pernah ada habisnya. Siang dan malam banyak orang berbicara mengenai Dia. Kitab-kitab-Nya yang Suci dapat diumpamakan sebagai burung perkutut yang bersuara merdu, yang kerap kali digunakan orang untuk memikat orang lain kepada-Nya.

28

Raosana ing rahina wengi / yen ora lawan wisik utama / mapan ora na gawene / lewih wong meneng iku / yen kumedal lidhahireki / uninipun punapa / pan saosikipun / ing kalbu nyateng aksinya / wedharing netra sara’ widya nampani / meneng muni den wikan //

Walaupun siang dan malam orang membicarakan-Nya, tetapi jika ia belum pernah memperoleh Ajaran Rahasia yang terbaik, tetap saja tidak ada manfaatnya. Lebih baik kita tutup mulut tentang Dia. Betapapun orang ingin membicarakan-Nya, apa yang akan dibicarakan tentang Dia? Karena sesungguhnya isi hati seseorang yang mengenal-Nya sebenarnya tercermin jelas dalam matanya. Pancaran matanya menunjukkan bahwa ia telah menerima inti pengetahuan. Maka pahamilah arti diam dan bicara.

29

Den wruh suruping meneng lan muni / yen tan wruha iku tanpa pala / sampun tan mesi enenge / yen muni away umung / kokila neng kanigara njrit / puniku saminira / nora tegesipun / yen ujar kang ginedhongan / sira Wujil aja kaya bisa angling / lingira kang sampurnan //

Hendaknya kamu ketahui tentang hakikat diam dan bicara. Jika kau tidak mampu, semuanya tidak ada gunanya. Diamnya tidak ada isinya dan bicara tidak boleh dengan suara keras. Jika tidak demikian, orang berbuat seperti itu dapat diumpamakan seperti burung beo, ia berteriak-teriak tanpa makna di atas pohon kanigara. demikianlah perumpamaannya, tiada artinya. jika menyangkut perkataan rahasia, hai Wujil jangan berbuat seperti orang yang dapat berbicara. demikian kata orang yang telah sempurna.

30

Ndi rupane wong melek ing wengi / sampun kadi andha tingalira / karoneku tanpa gawe / yen ora lan tinuntun / ing paningal ing hakul yakin / paran margane wruha / ing sariranipun / pangrungunisun saking a- / sale sampurna iku kalawan muni / tanpa sung yen menenga //

Bagaimanakah manfaatnya orang yang gemar berjaga malam hari? Sebaliknya kau tidak boleh menutup mata seperti orang yang buta. Kedua-duanya tiada manfaatnya. Apabila seseorang tidak diberi petunjuk untuk melihat kebenaran yang sesungguhnya, bagaimana mungkin bisa mengenal diri sendiri? Aku pernah mendengar bahwa kesempurnaan itu timbul karena berbicara. Oleh karena itu, orang tidak boleh diam.

31

Ora meneng ora muni Wujil / Hih ra Wujil atakona sira / kang ateki-teki kabeh / sembah puji den weruh / sembah akeh warnane malih / lingira sang utama / wong amuji iku / sanalika keh sawabnya / padha lan wong asembayang satus riris / yen weruh parantinya //

Tetapi Wujil, begitu percaya, bukan karena diam ataupun karena berbicara, kesempurnaan tidak terjadi begitu saja. Sebaliknya mengenai hal itu, bertanyalah kepada orang yang bertapa, Wujil. Harus kau ketahui juga, sembah itu bermacam-macam, apakah memuji itu dan apakah shalat itu? Sebab banyak orang yang memuja. Seorang terkemuka mengatakan bahwa orang yang memuji walaupun sekejap saja itu banyak menimbulkan pengaruh baik. Shalat itu pada lahirnya sama dengan sembahyang seratus tahun, asal saja mengetahui saranya.

32

Kang sampun weruh parantineki / pujinipun iku nora pegat / nora kalawan wektune / wong agung lyan amuwus / padha lawan sawidak warsi / pan sampun amardika / purna raganipun / ing wektu tan kabandana / kapradana solahe aneng jro masjid / apindhah manuk baka //

Barangsiapa yang mampu mengarahkan sembahyangnya dengan tepat, ia akan sembahyang secara terus menerus, bahkan pada waktu yang tidak ditentukan. Orang shaleh yang lain mengatakan, bahwa shalat seperti itu sama dengan shalat selama enam puluh tahun. Orang yang bersembahyang dengan cara yang tepat, ia telah bebas, tubuhnya sempurna dan tidak terikat oleh waktu-waktu yang telah ditentukan. Perilakunya di dalam masjid merupakan contoh. Bukan seperti sembahyangnya burung bangau.

33

Tan kena pinaido ra Wujil / wuwusing nayaka dipaning rat / Wujil atakena mangke / ana muji ing dalu / ing rahina gung sawabneki / kalamun kena tata / ing sasaminipun / padha lan rowelas warsa / yogya wenang ra Wujil ataki-taki / sampun tan kapanggiha //

Tidak boleh tidak mempercayai, hai Wujil, kamu harus mempercayai sabda dari Pemimpin Cahaya Dunia ini (Nabi Muhammad saw). Kau bertanyalah tentang hal itu kini. Ada orang yang bersembahyang pada malam hari dan siang hari, hal itu akan memberikan pengaruh baik yang sangat besar, asal saja dilakukan menurut aturan. Shalat seperti itu derajatnya sama dengan shalat zhahir selama dua belas tahun. Untuk mecapai hal seprti itu sebaiknya kamu melakukan tapa, jangan sampai tidak tercapai.

34

Ana malih kang wong angabekti / sanalika gung sawabe ika / yen wikana ing tuduhe / padha rowelas tangsu / ingaranan tafakkur iki / yen meneng ndi parannya / takokena iku / sapa kang atuduh ika / unggah turuning meneng kalawan muni / iku dipun waspada //

Ada juga orang yang hanya sebentar saja melakukan darma bakti, namun pengaruh baiknya (pahalanya) sangat besar, asalkan diarahkan sesuai dengan petunjuknya. Jika sembahyang dilaksanakan dengan sesuai petunjuk maka kebaikannya akan sama dengan melaksanakan shalat dua belas tahun. Sembahyang seperti ini disebut tafakur. Dan selanjutnya kau harus bertanya, ke manakah orang harus mengarahkan batinnya di dalam berdiam diri? Siapa yang akan menerangkan naik turunnya diam dan bicara, itu harus diketahui.

35

Hih ra Wujil ing wong meneng lewih / iku sembayang tanpa pegatan / iku nora na wektune / sampurna ta wong iku / raragane nora na kari / tekeng purisa turas / satuhuning laku / pagurokena den nyata / ing sira sang kawi-man sampurneng jati / wekasing duta tama //

Hai Wujil, bagi manusia, orang yang diam itu lebih baik. Ialah shalat tanpa perantara, tanpa terputus tanpa terikat waktu. Orang seperti itu adalah orang yang sempurna. Dari tubuhnya, termasuk kotoran dan air kencing, tidak tersisa apa-apa lagi. Inilah perilaku yang utama. Maka bergurulah secara jelas, pada sastrawan kawi yang benar-benar mengetahui (tentang) kebenaran, yang mengetahui benar-benar tentang kebenaran. Itulah pesan utusan Sang Utusan Yang Unggul (Nabi Muhammad SAW).

36

Aja nyembah hih sira Wujil / yen iku nora katon sawahnya / sembah puji tanpa gawe / pan kang Sinembah iku / aneng ngarsa wahya dumeling / ananta minangka a- / nanira kang agung / ananing dhawak pan sunya / iya iku enenge ing wong amuji / nyata kang sadya purba //

Sebaiknya janganlah kau menyembah, Wujil, jika tidak tahu kepada siapa kamu menyembah. Karena pemujaanmu dan shalatmu tiada gunanya bila kamu tidak merasakan yang kamu sembah itu seperti hadir di hadapanmu. Tetapi, karena Dia tidak pernah hadir di hadapan siapa pun juga, maka anggaplah kehadiranmu juga kehadiran Yang Maha Agung. Bahkan keadaanmu harus kau anggap tidak ada (fana). Itulah yang dinamakan Diam dari orang-orang yang tengah shalat, yang terbuka sumber kehendaknya menjadi nyata kehendak purba.

37

Lawan atakona sura malih / mapan awis kang sayaktanira / sakwehning punang punggawe / yen tan ingulah iku / pundi rekeh nggene kepanggih / kang aulah tan lepyan / iku wus atuduh / nugrahaning Jati-Wenang / kang tan molah atuduh dosanireki / keneng papa cetraka //

Mengingat tidak setiap orang mengerti keadaan yang sebenarnya, maka selanjutnya bertanyalah kamu lagi mengenai hal berikut, yaitu bagaimana semua tindakan bisa diselesaikan apabila tindakan itu tidak dikerjakan? Bagaimana pula jika melakukan sesuatu, namun tanpa diselesaikan, sedangkan ia tidak melupakan Tuhan? Tindakannya itu telah merupakan tanda, bahwa ia mendapat ampunan dari Yang Maha Kuasa. Siapa yang tidak bertindak untuk menyatakan dosanya, akan ditimpa oleh kemalangan dan kesengsaraan.

38

Lawan malih sira ta ra Wujil / atakona sajanining niyat / aja mungaken ciptane / kang anyipta anebut / dudu iku niyat sejati / ewuh kang aran niyat / sembah puji iku / tan wrung punan pangurakan / kang atampa dhendha kisas lawan jilid / ramya padu giliran //

Selanjutnya, Wujil, bertanyalah tentang hakikat yang murni dari kemauan (niat). Orang tidak boleh terbatas pada gagasan dalam memikirkan sesuatu, baik memikirkan maupun menyebut sesuatu, adalah kemauan yang sejati (niat yang ikhlas). Tidak mudah untuk mengetahui apa yang disebut tidak mudah yang disebut dengan shalat, sembah, dan pujian itu. Pemujaan dan shalat tidak mengenal hal-hal yang kasar, demikian juga tidak benci kepada orang-orang yang didenda, di-qishash dan dihukum jilid (hukuman karena perzinahan), juga kepada orang-orang yang selalu bertengkar.

39

Pangabaktine ikang utami / nora lan waktu sasolahira / punika mangka sembahe / meneng muni punika / sasolahe raganireki / tan simpang dadi sembah / tekeng wulunipun / tinja turas dadi sembah / iku ingaranan niyat kang sejati / puji tanpa pegatan //

Persembahan bagi orang yang utama (sufi, ulama, kaum shalihin) tidak mengenal batas waktu. Semua gerak lakunya adalah demikianlah sembahyangnya. Sikap diam dan bicara serta segala ulah gerak tubuhnya, bahkan bulu romanya, dmikian pula kotoran dan air kencingnya jadi sembah. demikianlah yang dikatakan niat yang sejati, pujian yang tak putus putusnya.

40

Hih ra Wujil niyat iku luwih / saking amale punang akathah / nora basa swara reke / niyating pingil iku / kang gumelar nyananireki / sajatine kang niyat / nora niyatipun / nyataning pingil gumelar / niyating sembahyang nora bedaneki / lan niyat ambebegal //

Hai wujil, niat (kemauan), adalah lebih penting daripada perbuatan umumnya. Sebab kemauan (niat) itu tidak dapat dinyatakan dengan bahasa maupun suara, bukan! Kemauan (niat) untuk berbuat sesuatu merupakan ungkapan suatu pikiran. Kemauan (niat) untuk melakukan perbuatan ialah ungkapan perbuatan itu sendiri. Jadi, kemauan (niat) untuk melakukan sembahyang yang tiada bedanya dengan kemauan (niat) untuk merampok.

41

Hih ra Wujil marmane wong sirik / kufur kinufuraken ing lafal / agunggungan sa-elmune / pijet-pinijet iku / aksarane asru den pidi / sawusing asembayang / magerib punika / rame samya kabarangan / awekasan malik kebyok lan kulambi / dhastar akuleweran //

Hai wujil, oleh karena itu, bagi manusia adalah sesuatu perbuatan syirik (kesesatan), yaitu saling kafir mengkafirkan sesama, punya anggapan bahwa kepandaiannya itu yang terpenting, kepandaian yang oleh orang-orang untuk saling meyakinkan (bahwa dirinya yang paling benar) karenanya orang menjadi sirik kafir karena dikafirkan oleh aturan. karena ia selalu berpegang teguh pada bunyi kata-kata (huruf)-nya. Dan sehabis shalat maghrib orang-orang ramai saling bertengkar mulut. Akhirnya saling pukul dengan (menggunakan) bajunya sehingga ikat kepalanya terlepas.

42

Kepet kinepetaken ing masjid / awekasan padha pepurikan / asembahyang dhewek-dhewek / puniku palanipun / sirik gugon ujaring tulis / tan wruh jatining niyat / palaning wong bingung / lanang wadon padha ngrarah / angulati niyat kang sejati-jati / tan wruh ing dedalannya //

Sorban yang dipakainya itu digunakan untuk pukul memukul di dalam masjid akhirnya saling marah satu sama lain, dan bersembahyang sendiri-sendiri. Demikianlah hasil dari syirik (kesesatan), hasil memegang teguh bunyi tulisan sebab menganggap bahwa kepandaian masing-masing adalah yang terpenting. demikianlah akibat dari orang yang bingung, laki laki dan perempuan saling berusaha mencari niat yang sebenarnya, tetapi tidak tahu jalannya.

43

Aningsetana raganireki / hih ra Wujil yen wus kabandana /aywah’keh ingucap mangke / ujar ngedohken kayun / angiyaken karsa pribadi / iku marganing sasar / nyanane kang den gung / angagungaken trebangan / tan wande yen trebangan den gawe undhi / dadi ababagelan //

Sebaiknyalah mengendalikan hawa nafsumu, hai Wujil. Setelah kau ikat nafsumu, janganlah terlalu banyak bicara. Kata-kata yang kau gunakan untuk terlalu memaksakan kemauan, serta untuk menegaskan bahwa pendapat sendiri yang benar, dapat menyeret ke arah kesesatan, akibat mendewa-dewakan pendapat sendiri. Maka orang itu berbuat tidak lain kecuali bagaikan memainkan rebana yang kemungkinan berakhir rebananya dibuang ke atas dan akan saling melempar rebana.

44

Meh rahina Hyang aruna mijil / tatas wetan ndan Sang Ratu Wahdat / angling pun Wujil kinengken / Haih ra Wujil sun utus / mara sira ta den agelis / mara eng pawadonan / si Satpada iku / aglis kenen marengkeya / pun Wujil mangkat lampahira agelis / prapta mring pawadonan //

Saat itu siang hampir tiba, matahari yang terbit bagian ufuk timur bumi menjadi terang. Kemudian Sang Ratu Wahdat memerintahkan Wujil, Hai Wujil, segeralah kemari, kamu kuutus untuk pergi ke asrama (pondokan) putri dan panggillah Satpada. Cepat-cepat Wujil berangkat, sesampainya di pondok putri.

45

Ling pun Wujil hih manira nini / ingutus angundang mareng tuwan / dening sang adi kang aken / ken Satpada amuwus / Hih ra Wujil punapa wadi / dening enjing ngandikan / maras atiningsun / tan wikan wadining lampah / lah mangkata Satpada dipun agelis / hyun-hyunen kang sinembah //

Berkatalah Wujil kepada Satpada, wahai nona, aku diutus untuk memanggil kamu. Sang Panembahan Agung yang mengutusku. Ken Satpada berujar: Apa maksudnya, pagi-pagi begini memanggil aku? Aku jadi gemetar. Wujil : Aku tidak tahu maksud tugas ini. berangkatlah satpada segera, kedatangannya telah diharap harapkan oleh sang panembahan agung.

46

Mangkat Sartpada den tatakoni / Hih ra Wujil aja salah tampa / Ki Wujil sun atataken / punapa marganipun / oleh aran para Ki Wujil / pun Wujil angling ing tyas / iki wong asemu / patakonipun basaja / wadining basaja anopak ing wuri / liyen sun yen wruhi //

Satpada berangkat sambil bertanya kepada Wujil: hai Wujil, jangan salah paham, mengapa kau dipanggil dengan nama Ki Wujil?. Wujil berfikir di dalam hati, dia ini orang yang cerdik. Pertanyaannya lugu sederhana, tetapi di balik keluguan itu agaknya di balik kesederhanaan itu menyelipkan sesuatu di belakang. Ia menjawab, Baiklah saya (akan mengatakan) jika (kamu) tidak tahu.

47

Karane isun arane Wujil / nenggih kang aran kalawan rupa / datan ana prabedane / tan amindhoni laku / nem prakara rasaning jati / pan wus kajalajahan / dening sun pukulun / pun Satpada ‘smu kemengan / Hih ra Wujil dudu wijile wong mangkin / wijil ing Wilatikta //

Mengapa aku bernama Wujil, begini : bahwa karena antara nama dan rupa tiada perbedaannya. Aku tidak berhenti di tengah jalan karena enam perkara rasa jati sudah hamba jelajahi, Tuan Putri. Wajah Satpada menjadi kemerah-merahan, lalu berkata: Wujil, Anda bukanlah ‘wujil’ seperti orang sekarang ini, melainkan berasal dari Majapahit.

48

Sigra pun Wujil Satpada prapti / alunguh ing ngarsa angabiwada / ingkang sudibya ataken / paran wartanireku / he Satpada duk prapta wingi / sira saking Jawana / pun Satpada matur / Dening rayi pakanira / Seh Malaya angraket wonten ing Pati / lamine sapta dina //

Segera Wujil dan Satpada tiba di hadapan Sang Pertapa. Mereka duduk di hadapan Sang Pertapa kemudian menyembah dan memberi hormat. Yang Mulia bertanya, apa kabarmu wahai Satpada. ketika kamu datang kemarin dari Jawana. Satpada jawab, Ya Paduka, adik Paduka, Seh Malaya (Sunan Kalijaga), bermain topeng di kota Pati selama tujuh hari.

49

Sang Ratu Wahdat angandikani / Hih ra Wujil sira ‘glis ameta / satapatra dipen age / tan kawarna ‘glis rawuh / satapatra mangke tinulis / lawenipun sadaya / ingisen jronipun / rambuyut sinereng laya / aturena satapatra iku Wujil / ing yayi Seh Malaya //

Sang Ratu Wahdat berujar, hai Wujil, segeralah kamu mencari tembang teratai. Wujil pun segera pergi. Tidak dikisahkan, segeralah ia datang. kembang teratai kemudian ditulisi semua daun kembangnya. di dalamnya diisi dengan kembang rambuyut (kembang yang memiliki kesaktian dimana pemiliknya tidak bisa mati yang diwariskan Arjuna kepada putra Parikesit yang bernama Raden Yudhoyono) yang dibentuk menjadi sumping surengpati (semacam hiasan kepala yang diberikan oleh Betari Durga ketika masuk ke dalam ‘bungkus’ Raden Werkudara atau Bima yang saat itu tidak dapat dirobek oleh senjata apapun) berikanlah kembang teratai ini, Wujil kepada adikku Syekh Malaya.

50

Iki susumpinge wong acermin / wong angraket pantes anganggeya / pun Wujil ‘glis mangkat mangke / amit saha wotsantun / lampahira dhateng ing Pati / tan kawarnaeng marga / prapta lampahipun / atataken ing para desa / lamun ana wong anggagambuh linuwih / aran ki Seh Malaya //

Ini adalah anting-anting untuk orang yang bermain sandiwara. Patut dikenakan oleh seorang penari topeng. Sang Wujil segera berangkat, mohon diri sambil menyembah, berangkatlah ia ke Pati. Tidak diceritakan perjalanannya, tibalah ia di tempat yang dituju. Ia bertanya kepada seorang desa, apakah mengetahui adanya pemain gambuh yang luar biasa, namanya Seh Malaya.

51

Kang tinanyan tanggap anauri / singgih wonten aran Seh Malaya / lagya angraket ing mangke / desa Wasana kidul / akeh punang aniningali / pun Wujil lampahira / tan asarag rawuh / Seh Malaya sampun wusan / denya ngraket pun Wujil prapta Wotsari / angaturaken patra //

Orang desa yang ditanya itu segera menjawab: Benar, ada seorang bernama Seh Malaya. Kini ia sedang menari topeng di ujung selatan desa. Banyak orang yang menontonnya. Wujil melanjutkan perjalanannya perlahan-lahan. tidak lama sampailah Ia di tempat Syekh Malaya yang secara kebetulan sudah selesai bermain topeng. Wujil pun menghampiri sambil menyembah dan menyampaikan surat.

52

Satapatra tinampan tumuli / winedhar ing jro mesi kusuma / surengpati panggalange / Seh Malaya amuwus / mara sira ing punang Wujil / dahat dennya murwendah / kang sekar ambuyut / sinurengpati winingan / wohing saga rinawid lawan malathi / langkung sih sang sinembah //

Kembang teratai segera diterima oleh Seh Malaya. Segera dibukanya, dan didapatinya di dalamnya berisi rakitan ‘surengpati’. Syekh Malaya berujar, kermarilah kamu hai anakmas Wujil. sangatlah indahnya kembang rambuyut yang dibentuk menjadi sumping ‘surengpati’, dirangkai dengan biji saga dihias dengan kembang melati. Artinya Sang panembahan Agung sangat sayang kepadaku.

 53

Punapa wadhining surengpati / awoh saga kuneng satapatra / ra Wujil paran karsane / pun Wujil awotsantun / matur Gusti nora saweksi / Seh Malaya lingira / Hih ra Wujil semu / ne sang Sinuhun ing Murya / sagawe aso katarateyan Pati / entingning panarima //

Apakah maknanya ‘Surengpati’, hamba tidak tahu, Gusti.? Biji-biji saga dimasukkan di dalam bunga? Apakah yang dikehendaki Gustimu, hai Wujil?. Sambil menyembah, Wujil menjawab, Hamba tidak tahu, Gusti. Syekh Malaya berujar, Hai Wujil rupanya Sang Panembahan Agung di Muria memiliki maksud begini, segala tindakan akan mencapai istirahat pada ujung kematian sebagai titik akhir penyerahan.

54

Punang tarate ingiling-iling / winaca sira sinuksmeng driya / punang thika sawiyose / tyas ruksa angga trenyuh / rujit dening raosing tulis / aglar punang sasmita / wirasan arja ‘lus / winelan-walen winaca / rarasing thika munya padha kakawin / kidung wekasing patra //

Teratai itupun berkali kali dipandangi, tulisan di atas kelopak bunga teratai pun dibaca berulang-ulang, tulisan dibaca serta dicamkan di dalam hati. Isinya mengharukan, hati Seh Malaya tersentuh karena banyaknya kiasan yang terdapat di dalamnya; lagi pula susunan kata-katanya amat halus dan indah. Berulang-ulang dibacanya. keindahan tulisan, bunyinya berupa bait kakawin, sebagai nyanyian pada akhir surat.

 

Aswalalita

55

Irika Acwalalita ta sang sumitra ri sedeng /

mahas tekap ikang suwesma siwaya /

taki-taki teng tutur-kwa huningan /

ku masku rari yan kaka katawengan /

pilih alupa ing sepet rari baliknya /

harja katuturnya sewaka tular /

trena lata rupa jar kwari sedheng /

katiga wara dibya nungsung (ing) udan //

Penutup surat itu berbunyi sebagai berikut : Ketika Adinda pergi dari rumah sendiri, beribadat(?), bertapa. aku bersungguh-sungguh terhadap kata-kataku, ingatanku, pikiranku, wahai adinda. kalau Kakanda diibaratkan sedang bersembunyi di pohon kelapa, mungkin akan pingsanlah pohon kelapa? sebaliknya kesejahteraanlah yang diingatnya, (untuk) yang sungkem darma bakti berpindah pindah. seperti rumput, tumbuh tumbuhan melata, dan pohonlah sedangkan aku ibarat musim kering yang sangat luar biasa mengharapkan hujan.

 

Mijil

56

Kadi puspita asehen sari / dhuh sumitraningong / iwir bramarengsun tan polih rume / wonten puspita asehen sari / bramara ‘ngrerengih / arsa wruhing santun //

Seperti halnya kembang yang penuh sari wahai sahabatku, wahai sahabatku, aku ibarat seekor kumbang yang yang tidak dapat memperoleh bau wangi dari bunga yang penuh dengan sari. Meskipun ada kembang yang penuh dengan sari, namun kumbang, merintih, ingin mendapatkan tepung sarinya.

 

Dhandhanggula

57

Punang tarate sampun winuning / mangke sinalah punang puspita / meneng anggrahiteng twase / pun Wujil awotsantun / paran marma meneng tanpa ‘ngling / kawula ‘rsa miharsa / wuwus kang minangun / sadalemning walapatra / wiyosing ling kang siniwi ing ki Wujil / donisun maring Mekah //

Sesudah selesai membaca, teratai dengan tertegun kembang tersebut diletakkannya, diam termenung dalam hatinya bertanya Wujil bertanya: apakah karenanya Gusti diam tidak berbicara? Hamba ingin mengetahui kata-kata yang dirangkai dalam surat tersebut. Seh Malaya berkata: Gurumu mengutarakan tentang perjalanan yang kulakukan ke Mekah.

58

Pun Wujil sigra binakta mulih /mantuk sireng dhekeh Pagambiran / punang randha tumut kabeh / pun Wujil tan seng pungkur / tan kawarneng sopana prapti / wus adan kukurenan / pun Wujil ingutus / ananjak pareng akathah / wusing ananjak linorod maring puri / sampun sami anginang.

Selanjutnya Wujil segera dibawa pulang. pulanglah mereka ke Dhukuh Pagambiran. Banyak orang yang telah bercerai, janda, mengikutinya. Wujil berjalan paling belakang. tidak dikisahkan hal ikhwal di jalan, kemudian sampailah di pondok, dan mereka makan siang. Wujil disuruh makan bersama orang banyak. sesudah makan sisanya dibawa kedalam rumah. kemudian mereka bersama-sama mengunyah sirih.

59

Suruping arka Seh Malaya ‘ngling / ra Wujil mbenjang yen sira pulang / matura salingku mangke / sampun rekeh kadulu / dhapur sabda tuturireki / satutur-tuturingwang / den katur punika / dipun katon saking sira / aja katon sabda saking isun Wujil / sakabisaanira //

Ketika matahari terbenam, Seh Malaya berkata: Wujil, besok jika kamu pulang, harus kau sampaikan segala yang kukatakan nanti kepada Gustimu. Sebaiknya jangan diperhatikan bentuk perkataan, segala perkataanku ini sebaiknyalah disampaikan. Sebaiknya buatlah ucapanku ini seolah-olah sebagai perkataanmu. jangan sampai terlihat sebagai perkataanku, hai wujil. Buatlah semampumu.

60

Karaningsun ra Wujil awali / maring Mekah wangsul ing Malaka / guru awangsul ing Pase / marmane kang sinuhun / wangsulira kinen abali / mara ing Nusa Jawa / kang akon awangsul / nenggih pawong-sanakira / pangeran Molana iku Maghribi / kang akon awangsula //

Karenanya, Wujil mengapa aku kembali ketika pergi ke Mekkah pulang di Malaka, sedang Guru besarku kembali pulang di Pase, karenanya Sang Panembahan Agung kembali, karena disuruh ke Nusa Jawa, yang menyuruh pulang adalah saudaranya yang bernama Maulana Magribi.

61

Samana ‘ngling Molana Maghribi / singgih pakanira awangsula / nora’na ing Mekah rekeh / ing Mekah kulon iku / Mekah tiron wastanireki / watu ingkang kinarya / pangadhepanipun / Nabi Ibrahim akarya / Nusa Jawa yen tuwan tinggala kapir / lan tuwan awangsula //

Beginilah kata Maulana Maghribi, Sebaiknya Engkau kembali, sebab apa yang Engkau cari itu tidak ada di Makah. Mekah yang ada di barat itu Mekah tiruan namanya. Benda keramat yang ada di di dalamnya adalah batu, Nabi Ibrahim yang membuatnya. Nusa Jawa jika rngkau tinggalkan, maka tanah air ini menjadi kafir. Oleh karena itu, kembalilah.

62

Nora’na weruh ing Mekah iki / alit mila teka ing awayah / mangsa tekaeng parane / yen ana sangunipun / tekeng Mekah tur dadi Wali / sangunipun alarang / dahat dening ewuh / dudu srepi dudu dinar / sangunipun kang sura legaweng pati / sabar lila ing dunya //

Tidak ada orang yang tahu, di mana Mekah yang sebenarnya, meskipun mereka memulai perjalanannya sejak muda hingga menjadi tua, mereka tidak akan mencapai tujuannya. Apabila orang mempunyai bekal perjalanan yang cukup, ia dapat sampai di Mekah untuk menjadi Wali. Tetapi bekal itu mahal, besar dan sukar diperoleh. Bekal itu bukan berupa uang rupiah atau dinar. Bekal itu adalah keberanian dan kesanggupan untuk mati, kehalusan budi dan keikhlasan dunia.

63

Masjid ing Mekah tulya ngideri / Ka’batullah punika ‘neng tengah / gumantung tanpa cecanthel / dinulu sakung ruhur / langit katon ing ngandhap iki / dinulu saking ngandhap / bumi aneng ruhur / tinon kulon katon wetan / tinon wetan katon kulon iku singgih / tingalnya awalesan //

Mesjid gi Mekah seperti mengelilingi Kabatullah yang berada di tengah-tengah. Singgasana ini menggantung di atas tanpa pengait. Dan jika orang melihatnya dari atas, orang akan melihat langit di bawah. Apabila orang melihatnya dari bawah, maka tampak bumi di atasnya. Jika orang melihatnya ke barat, ia akan melihat timur, dan jika melihat timur, maka akan terlihat barat. Ini sungguh penglihatan yang terbalik.

64

Tinon Kidul katon lor angrawit / tinon lor katon kidul asineng / pepeloking mrak samine / Ka’batullah puniku / lamun ana sembahyang siji / anging kawrat satunggal / yen roro tetelu / anging samono ambanya / yadyan wong salaksa kawrat iku singgih / tungkep rat pan kawawa //

Jika orang melihat ke selatan, yang tampak ialah utara yang indah. Dan jika melihat ke utara, nampak selatan, gemerlapan seperti mata pada bulu burung merak. Kabatullah itu apabila ada seorang yang bersembahyang maka hanya ada ruangan yang cukup untuk satu orang saja. Jika ada dua orang atau tiga orang, maka ruangan itu juga hanya cukup untuk dua atau tiga orang itu. Akan tetapi jika terdapat sepuluh ribu orang yang bersembahyang di sana, maka Ka’bah dapat menampung mereka itu semua. Itu sungguh. Bahkan seandainya seluruh dunia akan bersembahyang di sana, pun akan tertampung juga.

65

Iku tuturingsun hih ra Wujil / tutur Wujil maring kang sinembah / katona saking awake / aja katon yen isun / yen atakon sang Mahamuni / mature : Sahur sembah / sembah ingkang katur / pun Wujil angabiwada / keras saking ngarsanira santri Wujil / lampahnya garawalan //

Itulah pesaku kepadamu wahai Wujil. Sampaikan kepada Sang Sesembahan, hendaklah tampak dari dirimu sendiri, jangan terlihat sebagai kata-kataku. Dan sekiranya Sang Mahamuni bertanya, sampailan dengan segala hormat bahwa aku hanya menghaturkan sembahku. Kemudian Wujil menyembah, segeralah berlalu dari hadapannya. Santri Wujil berjalan dengan tergesa-gesa.

66

Datang kawarnaeng marga prapti / sang kaya lagya pindha niskala / alinggih majeng mangilen / pun Wujil wruh ing semu / nora matur teka alinggih / prayanti kang sinaptan / pun Wujil wus emut / emut asewakeng nata / akit mila angawuleng sri bupati / nora beda mangkana //

Tidak diceritakan hal ihwal perjalanannya. Dia yang sedang berwujud seperti baka duduk menghadap ke barat. Wujil yang tahu perilakunya tidak berkata apa-apa tetapi langsung duduk. Menanti, itulah yang disukainya. Wujil selalu mengingat aturan bagaimana caranya menghadap raja karena sejak kecil telah mengabdi kepada Sang Raja. Tidaklah berbeda dengan keadaan sekarang.

67

Trehing karsa sinapa ra Wujil / bagya ra Wujil asarag prapta / stutinira matur mangke / saksana ‘glis umatur / tanpa ‘nggosthi sang pinaran ling / atur sembah kewala / sudibya anuhun / sawekase Seh Malaya / kang aksama denira sang Maha Muni / wruh wekasing wasita //

Dengan sungguh-sungguh dalam kehendaknya, disapalah Wujil: Selamatlah engkau, wahai Wujil, yang cepat datang.dengan menghaturkan sembah seketika segera ia berkata : Tidak berkata apa-apa beliau yang dikirimi pesan hanya menghaturkan sembah. Sangat pandai Wujil menjunjung segala pesan Seh Malaya. Dimaafkanlah oleh Sang Mahamuni intisari perkataan itu.

68

Wruhanira iku hih ra Wujil / pawong-sanakku ki Seh Malaya / saking Malaka wangsule / ing garage kadunung / amangun reh amanting ragi / ingaran Kalijaga / nggenira mangun kung / laminipun limang warsa / pinondhongan denira nateng ngawanggi / marganira neng Demak //

Ketahuilah wahai Wujil, bahwa saudaraku Seh Malaya itu, sekembalinya dari Malaka, bertempat tinggal di Garage (Cirebon?). Ia berusaha menjalani penyucian diri di tempat yang bernama Kalijaga. Ia menjalani penyucian diri di sana selama lima tahun. Setelah itu ia diboyong oleh Raja Awanggi. Itulah sebabnya ia berada di Demak.

69

Wonten putrane ilang sasiki / lanang sudi (bya) manggeh ing tapa / angirangi pangan kule / yayah rena anapu / sampun gege maksih taruni / dadya rujit tyasira / marma tibra ‘nglamung / putra lunga tan sjarwa / manah lampus lunga angingkis ing wengi / rena dadya sungkawa //

Ada seorang putranya yang hilang, seorang anak lali-laki yang unggul yang gemar bertapa dengan mengurangi makan dan tidur. Ayah dan ibunnya melunakkannya dengan kata-kata, Janganlah tergesa-gesa. Engkau masih muda. Kata-kata itu justru menyebabkan ia sakit hati, akibatnya ia selalu nampak murung. Sang putra pergi tanpa pesan. Hatinya sedih, pergi secara diam-diam pada tengah malam. Ibunya menjadi sedih.

70

Marmane pawong-sanakku Wujil / asalin tapuk araraketan / wetning tresna ing anake / margane anggambuh / singa desa kang den leboni / tan etang sandhang pangan / wirang tan tinutur / Hih ra Wujil ing agesang / mapan ewuh mati sajroning aurip / awis kang lumabuha //

Itulah sebabnya saudaraku itu, Wujil, mengapa kawanku kemudian mengambil peran yang lain, sebagai penari topeng. Bahwa ia memilih menjadi pemain gambuh, di setiuap desa yang dimasuki tanpa mempedulikan pakaian dan pangan, tak mengingat rasa malu. Wahai Wujil, dalam kehidupan ini sukar untuk mati selagi orang tersebut masih hidup, jarang orang yang dapat mencapainya.

71

Pati patitising angabakti / nora etang Wujil wiwilangan / pan mulih maring jatine / yen ana ketang-ketung / yekti sira tan apapunggih / kalawan kang sinadya / yen sira’rsa temu / sirnakena raganira / yen sira wus atemu akaron kapti / kapti anunggal karsa //

Mati merupakan tujuan yang paling tepat bagi orang yang berbakti, tiada lagi yang diperhitungkan, wahai Wujil, sebab kembali ke asalnya jika kau masih memperhitungkan sesuatu, kau tidak akan menemukan apa yang kau idam-idamkan. Jika kau ingin menemukannya, maka hilangkan dulu nafsu-nafsumu. Jika kau telah menemukannya, maka engkau akan menemukan kesamaan kemauan manunggal dengan kehendak.

72

Tunggal rupa saose namaneki / tunggal rasa saos rupanira / tinunggal sarwi-sarwine / sampune tunggal iku / saha satya pati saurip / larangane tan ana / sandhang pangan iku / sakarsane tunggal karsa / wong sinihan tan kena andum amilih / cihna tinunggal karsa //

Tunggal rupa namun beda nama. Tunggal kehendak berlainan rupanya. Manunggal segalanya. Setelah manunggal serta setia dalam mati dan hidup tiada larangan perihal sandang panagan. Semua kehendaknya manunggal dengan kehendakNya. Orang yang dikasihi tidak diperkenankan untuk memilih dan mambagi, itulah tanda manunggalnya kehendak.

73

Punang kang sinung andum amilih / iya iku wong kang aneng jaba / nora weruh ing jerone / sembahipun den sawur / tan wruh rekeh ing dalem puri / anging warta kewala / kang ketang kadhatun / aja sira umung warta / warta iku anasaraken sajati / yen sira sisip tampa //

Mereka yang masih memilih atau membagi ialah orang yang masih berada di luar, mereka tidak tahu keadaan yang ada di dalamnya. Sembahnya disebarkan tanpa arah sebab mereka tidak tahu keadaan di dalam puri. Hanya mendengar kabar berita saja, maka yang diperhatikan hanya keratonnya saja. Janganlah hanya mendengar beritanya saja karena berita itu sesungguhnya menyesatkan jika kau salah mengerti.

74

Hi Satpada aglis amet cermin / mangkatpun Satpada aglis prapta / punang cermin katur mangke / sang guru lingnya muwus / Sandhakena ing kayu tangi / Wujil Satpada padha / angilowa iku / mangkat karo kang inangyan / pun Satpada angling kaca iki Wujil / ambane andhap sira //

Wahai Satpada, cepat kamu ambil cermin. Si Satpada pergi dan segera kembali. Cermin kemudian dihaturkan . Sang Maha Guru berkata, “Gantungkan cermin ini pada pohon wungu itu. Wahai Wujil dan Satpada, bercerminlah bersma-sama di situ. Berangkatlah keduanya menjalankan perintah itu, Satpada berkata : wujil, Cermin ini lebarnya lebih bdaripada tinggi anda.

75

Kawan kilan ambane kang cermin / paran dene amba punang kaca / ra Wujil lawan dedege / punang Wujil ingutus / angadega hih ra Wujil / sang kinon sampun mangkat / pun Wujil kadulu / kakar sakukuncitira / kadi rare wedana anjeruk wangi / dening sampun atuwa //

Empat jengkal lebarnya cermin ini, meskipun demikian masih lebih lebar cermin ini daripada tinggi badsan Wujil. Wujil kemudian diperintahkan: Berdirilah wahai Wujil di depan Cermin. Yang disuruh telah melakukan perintah. Wujil kelihatan menyenangkan. Kuncirnya tampak seperti anak-anak yang berwajah seperti jeruk wangi karena sudah tua.

76

Pun Satpada angling hih ra Wujil / sira angadeg isun asila / paran dene padha mangke / lir rare yen dinulu / wadanane anjeruk wangi / mesem sang Adigarwa / ra Wujil sireku / amalesa dipun enggal / Uni enjing kawula lagi den sapih / dening pun ra Satpada //

Si Satpada berkata, Wujil, kau berdiri dan aku bersila, tetapi kita sama tingginya. Anda tampak seperti anak-anak jika dilihat, tetapi berwajah penuh keriput seperti jeruk wangi. Sang Guru Besar yang agung tersenyum, Wujil, kau harus membalas, cepat. Wujil berkata, Tadi pagi, baru saja hamba disindir oleh Satpada.

77

Pun Satpada ‘ngling angalesani / guguyone ra Wujil kakarsa / atutug pabanyole / sang sinuhun amuwus / siswa kalih sinungan tuding / ra Wujil awasena / jroning kaca iku / karo sira si Satpada / ling pun Wujil puniki rupa kakalih / tan sah tinunggal karsa //

Satpada berkata sambil mencari alasan untuk menghindar, canda Wujil memang menyenangkan dan lucu lawakannya. Sang Sesembahan, kedua orang murid itu diberi petunjuk, Wujil dan Satpada, perhatikan di dalam cermin itu, demikian pula engkau Satpada. Wujil berkata, di situ ada dua bayangan yang selalu bersatu dalam kehendak.

78

Pun Satpada ‘ngling hih kaki Wujil / karsaningsun lawan karsanira / pun endi rekeh tunggale / sira kalawan isun / mapan jalu kalawan istri / pundi tunggale ika / pun Wujil amuwus / nora beda ing jalu ka- / lawan istri pan sira tinunggal cermin / lir rupa ‘nang papreman //

Satpada berkata, Wahai Wujil, kehendakku dan kehendakmu di manakah bersatunya? Bukankah engkau dan aku adalah wanita dan laki-laki Wujil menyahut, Tidak ada perbedaan antara lelaki dan perempuan, karena mereka dipersatukan di dalam cermin seperti layaknya di dalam ranjang.

79

Pun Satpada nora wruh tumuli / pundi tunggale gusti kawula / ra Wujil sasar idhepe / pun Wujil glis sumahur / Nora beda jalu myang istri / kang aneng jro pahesan / tunggal rupanipun / lanang wadon yen wus tunggal / ing pahesan tan kocap jalu myang istri / pan iku rasa tunggal //

Satpada tidak segera dapat mengerti bagaimana manunggalnya antara Gusti dengan Kawula. Wujil menyadari pendapatnya keliru. Wujil segera menyahut, Tidak ada perbedaan antara lelaki dan perempuan yang berada di dalam cermin satu wujudnya. Lelaki dan wanita jika sudah manunggal di dalam cermin tidak lagi dikatakan laki-laki dan manita karena itu adalah rasa tunggal.

80

Pun Satpada sira aglis aris / kalingane Wujil anjajawat / lir wong awulus rupane / ra Wujil glis sumahur / Nora nyana ujar puniki / pan sira salah tampa / mesem sang sinuhun / lah Wujil sira menenga / awasena rupa kanf aneng jro cermin / teka lunganing rupa //

Perlahan-lahan Satpada berkata, Perkataan Wujil bermaksud menuentuh-nyentuh (dalam hal asmara), seperti orang yang mulus wajahnya. Wujil cepat-cepat menjawab, Tidaklah bermaksud demikian perkataanku ini. Engkau salah paham. Sang Sesembahan tersenyum berkata, Wujil, engkau diamlah, perhatikan bayangan rupa yang ada di dalam cermin, dan lihat datang dan perginya (bayangan itu).

81

Rupa kang aneng sajroning cermin / lamun manjing punendi enggenya / yen lunga endi parane / hih ra Wujil sireku / angerana wurining cermin / ra Satpada ‘wasena / rupa roro iku / rupane si Wujil ika / ingkang ana ing cermin enggene mangkin / Ken Satpada kemengan //

Bayangan yang ada dalam cermin, jika datang di manakah tempatnya dan jika bayangan itu pergi ke mana arahnya? Wahai Wujil, engkau pergilah ke belakang cermin. Satpada, perhatikan kedua bayangan itu, rupa Wujil yang tadi ada di dalam cermin, di manakah kini? Satpada kebingungan.

82

Singgih pukulun rupa sawiji / pun Wujil wonten wurining kaca / nora katingal rupane / kang katingal pukulun / anging rupa kawula singgih / ra Satpada lungaha / anggonana iku / enggone si Wujil ika / Hih ra Wujil, metuwa sira den aglis / dulunen rupanira //

Betul tuanku, hanya ada satu bayangan. Wujil ada di belakang cermin, jadi tidak kelihatan rupanya. Yang terlihat, Tuanku hanya rupa saya saja. Sang Maha Guru berkata : Satpada, Pergilah dan berdirilah di tempat di mana Wujil sekarang berdiri. Kepada Wujil, sang Guru berkata , Wijil, enhkau keluarlah segera lihat rupamu.

83

Rupane pun Wujil den tingali / si Satpada Wujil ana ora / rupane iku samangke / ndan pun Wujil umatur / boten wonten rupaning isteri / anging rupa kahula / punuika pukulun / aneng ngendi si Satpada / ing rupane pun Wujil matur abakti / suhun sembah kahula //

Wujil melihat rupa dirinya di dalam cermin. Sang Maha Guru bertanya, Wujil, di dalam cermin itu sekarang ada tidak rupa Satpada? Kemudian Wujil menjawab, Hamba tidak melihat bayangan seorang wanita dalam cermin, hamba hanya melihat bayangan hamba sendiri. Tuanku. Sang Maha Guru berkata, Di manakah bayangan Satpada? Wujil menjawab, Maafkanlah hamba

84

Pun Wujil matur asahur bakti / panggrahitaning kawula mindha / tunggaling roro karsane / orane ananipun / ananipun oranireki / Sang Guru adi lingira / unggahe lingiku / pun Wujil asahur sembah / tan kena munggah raos kadi uniki / anuhun pangandika.

Wujil datang bersembah, Menurut pendapat seorang dungu seperti hamba, yang dimaksudkan dengan manunggalnya dua kehendak adalah : adanya adalah tidak adannya, dan tidak adanya adalah adanya. Sang Guru Unggul berkata, Bagaimana penjelasannya perkataanmu itu selanjutnya? Wujil menjawab sambil menyembah, tidak dapat dijelaskan lagi arti hal seperti ini. Mohon penjelasan Gusti.

85

Sang Ratu Wahdat lingira aris / hih ra Wujil bener ujanira / samene iku unggahe / LAA ILLAHA puniku / amot Itsbat kalawan Nafi / Jatine ana ora / iku tegesipun / Pangeran asipat ora / ing orane amput awit ananeki / anane’ku nakirah //

Sang Ratu Wahdat berkata perlahan-lahan, Wahai Wujil, benar kata-katamu. Hal ini hanya dapat dijelaskan demikian. Laa iIlaha meliputi Itsbat (konfirmasi) dan Nafi (negasi, penyangkalan), adalah ada dan tidak ada. Itulah artinya : Hakikat dari Tuhan adalah ada dalam ketiadaan, dan di dalam ketiadaan-Nya itu Dia mulailah ada itu. Dan ada-Nya itu terletak di dalam nakirah.

86

Nafi Nakirah lan Nafi Jinis / mapan iku jinising Pangeran / kang Nafi nyateng Itsbate / Nafi lan Itsbat iku / nora pisah pan ora tunggil / Nafi kalawan Itsbat / Nafi karoni pun / Nafi roro winaleran / dining Illa karone tan kena manjing / maring lafal Illallah //

Adapun nafi nakirah dan nafi jinis karena menyangkut jenis (wujud) Tuhan. Nafi itu sesungguhnya Itsbat (konfirmasi, pengakuan). Nafi dan Itsbat itu tidak terpisah, dan juga tidak manunggal. Akan tetapi nafi dan itsbat, juga kedua macam nafi (nafi nakirah dan nafi jinis) kedua-duanya dibatasi oleh kata Illa (pengecualian, pembatasan), dan karenanya keduanya tidak dapat masuk kedalam lafazh Illa’llah.

87

Hih ra Wujil kawruhana malih / kang Itsbat iku rekeh den nyata / atuduh marang Mutsbate / dalil kalawan mad-lul / iki rekeh saminireki / ingkang lafal Illa’llah / Mutsbat aranipun / mutlak iku Ismu’llah / tan kena liyanena Pangeran kalih / anging lafal Illa’llah //

Selanjutnya wahai Wujil ketahuilah lagi bahwa yang namanya Itsbat (pengakuan : Ke-ada-anNya) betul-betul harus menunjuk kepada Mutsbat (segala sesuatu yang dianggap Ada), seperti suatu Dalil (petunjuk) terhadap Madlulnya (yang ditunjuk). Rumus Illa’allah dinamakan Mutsbat (yang dianggap ada), yakni secara mutlak merupakan Ismu’llah (nama pribadi Allah). Tuhan lain tidak boleh ditempatkan di samping-Nya. Tidak boleh ada dua Tuhan. Maka lafalnya adalah illallah.

88

Hih ra Wujil eweh ujar iki / mapan eweh rekeh ing panarima / pan eweh lalabuhane / marmane wong puniku / kudon-kudon ujungan liring / sami amijet lafal / tartibe den lembut / bayan mani’ lawan sharaf / Nahwu den gulang-gulang rahina wengi / kawruh kandheg ing lafal //

Baiklah Wujil, pernyataan ini memang sukar, sebab selain susah dipahami, juga sukar untuk dilaksanakan. Itulah yang menyebabkan orang-orang saling bertengkar, karena keinginannya yang keras untuk memaksakan pendapatnya. Mereka saling mempertahankan lafalnya, mengikuti kaidah-kaidah yang haruslah diteliti, bayan mani’, sharaf dan nahwu (tatabahasa). Akan tetapi pengetahuannya terhenti pada hurufnya.

89

Meh sumurup mangke sang hyang rawi / awatara tunggang ing acala / matur pun Wujil ndan linge / Singgih rekeh pukulun / wonten rekeh ngaturi ringgit / wesma ing pananggungan / wastane pun santun / tilikana panggungira / gebogane yen ala Wujil salini / noli konen aleksa //

Matahari hampir tenggelam, kira-kira sudah berada di puncak gunung. Wujil berbicara, maka katanya : Ya Tuanku, Ada seseorang yang akan mementaskan pertunjukan wayang. Ia tinggal di Penanggungan dan bernama si Santun. Sang Pertapa berkata, Lihatlah sebentar pentasnya. Jika batang pisanya tidak dapat digunakan lagi, harus kau ganti, dan sekalian suruhlah ia untuk segera mulai.

90

Mantuk ing gedhong sang mahamuni / sampun atatalu kang awayang / saha nitir gegembinge / tan angangge pupucuk / dhalang Sari tumulya angringgit / angangge Bratayudha / ing kawitanipun / bikseka Sang Nateng Daha / kalaning amuja ‘ngglar palane dadi / ra Aji Jayabaya //

Sang Mahamuni yang agung segera kembali ke dakam rumah, yang mempertunjukan wayang telah dimulai dengan bermain gending, talu serta gembingnya dipukul terus menerus. Tidak dipertunjukkan permainan permulaan. Dalang si Sari telah mulai pertunjukan wayang dengan Lakon Bratayudha yang konon asalnya merupakan penobatan dar Yang Mulia Sang Raja Daha. Tatkala Raja memuja kemudian menguraikan keberhasilannya yang menyebabkan raja itu diberi nama Sang Raja Jayabaya.

91

Panerus tinggal tataning Nabi (tahun 1529) / sasangkala kawitan angripta / babakane pawayange / duk jawata tumurun / sang Narada Janaka nadwu / bagawan parasu kang / tumut ing salaku / laku sang nararya Kresna / sigra mijil saking gedhong kang siniwi / glis Seh Malaya teka //

Tulisan ini digubah pada cendrasengkala Panerus Tinggal Tataning Nabi (tahun Saka 1529 atau tahun 1607 M). Adegan wayang yang dimainkan ialah ketika para dewa turun dari kayangan, mereka adalah Narada, Janaka dan Bagawan Parasurama, yang terus mengikuti perjalanan Sang Raja Kresna sebagai duta dari Pandawa ke Hastina. Segera keluar Sang Sesembahan dari dalam rumah dan Seh Malaya segera datang juga.

92

Sisya kakalih ingkang umiring / ken Lawungsalawe Wanakarta / katur sang adi tekane / ingaturan glis rawuh / sami sira sareng alinggih / ingaturan adhahar / tan arsa sang tamu / sang guru adi awasita / sun pariksa sampun tekeng Mekah yayi / Singgih sampun Pangeran //

Dua orang siswa yang mengiringi adalah, Lawungsalawe dan Wanakarta. Kedatangan Seh Malaya beserta dua orang siswanya diberitahukan kepada Sang Pertapa. mereka dipersilahkan dan segera datang menghadap. Setelah bertemu, mereka duduk bersama. Makanan dihidangkan, akan tetapi tamunya menolak. Sang Maha Guru berkata (setengah menyindir), Seperti kuketahui, Dinda telah pergi ke Mekah, bukan? Jawab Tamu, Benar, paduka, aku telah ke sana.

93

Kahula duk teka’ng Mekah singgih / amangun reh duk ing Kalijaga / ing Mekah liwat rusite / ombaking sagara gung / jukung rekeh kang sun titihi / margane maring Mekah / toyane sumurup / palwa sumurup ing toya / maring bumi pandoman malim tan kari / malim saking jengira //

Aku pergi ke Mekah waktu aku sedang bertapa di Kalijaga. Mekah sukar dicapai; gelombang-gelombang lautan amat besar, dan aku berada di atas perahu. Air dari jalan ke Mekah menggenangi (permukaan laut). Dan perahuku juga masuk kedalam air, bahkan kedalam bumi. Akan tetapi pedoman penunjuk jalan sebagai kompas tidak ketingalan, pedoman penunjuk jalan yang kuperoleh dari Paduka.

94

Sampun liwat saking toya asin / prapteng sagara wedya awalikan / lir rat sangara ombake / gek gra nggurnita guntur / lindhu sayat belah kairing / wukir pating gulimpang / umumbul mring dhuwur / atarung ing awang-awang / surya wulan tan ana cahyanireki / kang lintang sumamburat //

Setelah aku melintasi laut asin, aku sampai di padang pasir, yang ombaknya bergulung-gulung menggelora seakan-akan dunia ini akan kiamat. Guntur pun menggelegar gemuruh laksana gunung berjatuhan, bumi berguncang-guncang, terbelah dan miring; gunung-gunung terguncang jauh dan melayang-layang di udara untuk saling berbenturan di sana. Matahari dan bulan tidak memancarkan cahayanya, sedangkan bintang-bintang bertebarann ke segala penjuru.

95

Duk liwat saking sagara wedhi / sagara geni mangka andungkap / kadi ndaru ombake / sindhung wukir kaguntur / agni rupa muntap lir thathit / kukusnya awalikan / gandhanya mis arung / ambune kadi sundawa / lir walirang sumuking geni awalik / lir gelap sasra laksa //

Setelah aku melewati padang pasir, aku sampai pada lautan api, yang gelombang-gelombangnya seperti meteor (bintang jatuh). Karena angin yang kencang, gunung-gunung terlempar jauh. Gunungan-gunungan api menyala seperti kilatan halilintar. Asapnya beterbangan naik turun, mengeluarkan bau busuk dan tidak sedap seperti mesiu dibakar. Uap api berbau belerang, menggelegar bagaikan seribu, ya selaksa, halilintar bersama-sama.

96

Angin malim saking jengireki / datan sah kacekel aneng tangan / lulusing lampah tekane / liwat saking iriku / dennya ngaji basa alami / ewahing basa Mekah / tan sasaminipun / nora mambu tutulisan / marmanipun wong ngaji akeh kabali / pilih wong wruheng Mekah //

Akan tetapi penunjuk jalan yang hamba terima dari Paduka, kugenggam selalu dalam tanganku, sampai perjalananku dikaruniai keberhasilan. Setelah aku melewati lautan api (aku sampai di Mekah), di mana aku masih harus mempelajari bahasa Arab agak lama. Mempelajari bahasa arab itu sulit tiada bandingnya, karena tidak ada sedikitpun yang mirip tulisan. Itulah sebabnya orang yang mengaji banyak ysng berhenti di tengah jalan. Tidak banyak orang yang mengetahui Mekah.

97

Punang awayang babakanneki / kalane teka ing jajabelan / kinon awusana mangke / Seh Malaya winuwus / sigra mangke ingajak mulih / maring gedhong pasunyan / sisyane tan kantun / lawungsalawe kalawan / wanakarta katiga lawan ra Wujil / sami ababar-babar //

Adapun babak permainan wayang sekarang sudah sampai pada bagian jabelan (minta kembalinya separuh negara). Waktu itu pertunjukan disuruh berhenti. Tersebutlah Seh Malaya segera diajak oleh Sang Pertapa masuk kedalam sanggar pamujan (tempat bersemedi); para siswa juga mengikuti: yaitu Lawungsalawe, Wanakarta dan bertiga dengan si Wujil. Mereka akan bersama-sama bertukar pikiran.

98

Sasampunira sami alinggih / Hih yayi Malaya nedha padha / winicara iki mangke / punang awayang wahu / lalakone punang angringgit / angangge Kresna Duta / semune ki empu / nedha sami winicara / sinemoke Agama Islam puniki / padha turuna sabda //

Setelah semua duduk, Sang Ratu Wahdat berkata, Adinda Malaya, marilah kita membicarakan kembali pertunjukan wayang yang baru saja dimainkan. Lakon yang telah dipilih oleh yang memainkan wayang adalah Kresna Duta (Kresna sebagai utusan). Marilah kita berbicara tentang maksud yang terdalam dari penggubah syair, diambil kiasannya untuk Agama Islam. Keluarkanlah pendapat kalian masing-masing.

99

Seh Malaya sahur sembah angling / datan wikan patemoning basa / arab kalawan jawane / aksara ‘rab pukulun / boten bisa sisya kakalih / tan asawala karsa / ing aturireku / sang Ratu Wahdat lingira / pasemone Nafi Isbat iku yayi / wayang tengen lan kiwa //

Seh Malaya berkata sambil menyembah, Aku tidak dapat menghubungkan bahasa Arab dengan Jawanya. Juga karena kedua muridku tidak mengenal sastra arab. Mereka hanya mengikuti pendapat seperti perkataan Paduka. Sang Ratu Wahdat berkata, Wayang yang ada di sebelah kiri dan kanan merupakan perlambang (ibarat) dari Nafi – Itsbat, Dinda.

100

Kang kiwa puniku maring Nafi / kang tengen puniku maring Itsbat / pandhawa maring Nafine / Itsbat karowa ikut / Itsbat iku pan asal Nafi / Nafi pan asal Itsbat / mutsbat kang den rebut / Kresna kang dadi pahesan / Kresna kaca pahesaning ringgit kalih / kalah menang ing kaca //

Wayang-wayang yang berada di sebelah kiri menunjuk ke Nafi, sedangkan yang di sebelah kanan menunjuk pada Itsbat. Para Pandawa memerankan Nafi, para Korawa memerankan Itsbat. Timbulnya Nafi disebabkan oleh Itsbat, akan tetapi juga sebaliknya timbulnya Itsbat disebabkan oleh Nafi. Sekarang mereka berperang memperebutkan Mutsbat, sedangkan Kresna pegang peranan sebagai cermin dari kedua belah pihak. Menang atau kalah tergantung dari cermin itu.

101

Mulaneku arebat nagari / iya Mutsbat iku kang den rebat / mulane perang dadine / nagara kang den rebat / Korawandra rebut nagari / lan jenenging Pandhawa / iku semunipun / mulane wong asawala / Nafi-Itsbat kang den rebut iku yayi / ing mangke tekeng kina //

Sebabnya mereka memperebutan negara adalah sama dengan perebutan Mutsbat antara Nafi dan Itsbat. Sebabnya terjadi peperangan adalah memperebutkan negara. Raja Korawa melawan golongan Pandawa memperebutkan negara, itulah kiasannya. Maka sejak dahulu hingga sekarang manusia berselisih, nafi dan itsbatlah yang diperebutkan, Dinda.

102

Mapan angeling ujar puniku / nora kena ngukuhi aksara / kang aksara kadadine / dadining nyana iku / nyana nora amung sawiji / nyana awarna-warna / dadine kapahung / akeh anyembah ing nyana / paksa hresthi sarira bisa angaji / ujare nyananira.

Persoalan tersebut memang sangat sukar. Orang tidak boleh berpegang teguh pada aksaranya (huruf, ajaran yang tertulis). Karena lahirnya aksara itu berkat adanya faham (= nyana, gagasan, dugaan). Dan tidak ada satu faham, akan tetapi banyak faham, hal mana menyeret ke arah kesesatan, karena banyak orang yang mendewa-dewakan fahamnya. Orang sudah merasa senang, menyadari bahwa dia sudah dapat mengaji (membaca Al-Qur’an, kitab atau buku lainnya), akan tetapi itu adalah bisikan dari faham kita.

103

Yen sira ‘yun yayi wruhing wadi / ujar iku anduluwa surya / hih yayi paran rupane / sampun ta kakduk semu / padha pisan dennya aningali / atining wuluh wungwang / ilir gigiring punglu / sanepa purusing ayam / kuda ‘ngrap ing pandengan punika yayi / kembang lo tanpa wigar //

Jika ingin mengerti persoalannya, Adinda, lihatlah wajah Dinda sendiri. Bagaimana rupa-bentuknya? Jangan membuat banyak komentar. Dinda harus melihat tengah-tengahnya bambu yang terbuka kedua ujungnya; atau melihat garis punggung peluru; atau melihat anggota rahasia seekor ayam jantan; atau melihat seekor kuda yang berlari kencang, sedangkan binatang itu tetap berdiri di bawah atap; atau melihat bunga Lo, yang tidak pernah layu.

104

Mereneya yayi den agelis / isun kangen yayi maring sira / apepekulan karone / susu adu lan susu / netra karna grana pan sami / suku lan suku padha / Sang Ratu amuwus / maring sira Seh Malaya / padha merem aja ’na winalang ati / sakedhap tekeng Mekah //

Kemarilah segera, Dinda. Aku rindu dan telah menantimu sejak lama. Keduanya saling berpelukan, dada beradu dada, muka beradu muka, hidung beradu hidung, kaki beradu kaki, Kanjeng Sunan Bonang berkata kepada Seh Malaya, Mari kita memejamkan mata dan jangan ada keraguan dalam hatimu. Dan sekonyong-konyong mereka berdua sampai di Mekah.

 

 

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)